Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 13

Mode Malam
JILID: XIII

WAKTU itu Koko Timo juga telah melihat penolong Su Tianglo, ia mengawasi sejenak pada pendeta itu, sampai akhirnya dia mengeluarkan seruan tertahan. “Bukankah  kau Tat Mo Cauwsu?” tanyanya dengan suara tergagap.

“Benar memang Loceng Tat Mo Cauwsu” menyahuti pendeta itu, yang memang tidak lain adalah Tat Mo Cauwsu.

Sin Han sendiri sudah mengenali pendeta Siauw Lim Sie itu, pendiri dari kuil Siauw Lim Sie. cepat ia melompat maju untuk memberi hormat kepada Tat Mo Cauwsu.

“Boanpwe menghadap Siansu” kata Sin Han.

Tat Mo Cauwsu juga mengenali pada pemuda itu, dia tersenyum sabar. “Kau telah semakin gagah saja, Siecu” pujinya.

Koko Timo waktu itu sudah tidak sabar. “Hemmm, kau selalu meng-ejar2 diriku,, apakah memang sesungguhnya kau menduga bahwa aku jeri berurusan denganmu? Baiklah sekarang kita telah bertemu muka, apa yang kau inginkan dariku?” tanya Koko Timo dengan suara yang bengis.

Tau Mo Cauwsu tetap membawa sikap yang tenang dan sabar. “Sesungguhnya, diantara kita tidak terdapat ganjalan apapun juga akan tetapi, telah banyak yang Loceng dengar, bahwa tindakan Siecu selama berada di Tionggoan memang kurang begitu baik, karenanya Loceng bermaksud untuk meminta kesadaran Siecu, agar mau kembali ke Persia saja” Sabar bukan main waktu Tat Mo Cauwsu berkata seperti itu. Muka Koko Timo berobah. “Hemm, kau ingin memberikan pengajaran kepadaku?” katanya dengan suara yang tawar. “Baiklah, baiklah Marilah kita bukti kan, sesungguhnya siapakah diantara kita berdua yang merupakan jago berkepandaian tinggi” Dan setelah berkata begitu, cepat sekali Koko Timo melangkah maju mendekati Tat Mo Cauwsu.

Akan tetapi Tat Mo Cauwsu tetap tenang ditempatnya. Memang walaupun selama ini si pendeta telah berhasil mendirikan kuil Siauw Lim Sie, akau tetapi hatinya masih saja belum puas, karena dia tetap ingin mencari jejak Koko Timo.

Itulah sebabnya, sering kali dalam segala kesempatan pendeta ini berkelana didalam rimba persilatan dan juga perintahkan murid2nya untuk bantu melakukan penyelidikan sebenarnya dimana Koko Timo berada.

Sampai akhirnya waktu Tat Mo Cauwsu turun gunung berkelana, dan tiba dikota ini, justeru dia telah mendengar perihal tindak tanduknya Koko Timo, jago Persia tersebut. Jelas hal inipun menggembirakan sekali hati si pendeta ini. Karena jejak Koko Timo, tohk akhirnya dapat ditemukannya juga.

Kedatangannya ditempat itu justru menyelamatkan jiwa Su Tianglo dari Kay-pang, yang dilihatnya waktu itu Su Tianglo terpental oleh sampokan tangan Koko Timo yang mengandung Lwekang luar biasa hebatnya. Karenanya. Tat Mo Cauwsu tanpa mem-buang2 waktu lagi telah keluar dari tempat bersembunyinya dan menolongi Su Tianglo.

Koko Timo yang telah menghampiri Tat Mo Cauwsu lebih dekat, dengan mata yang memancarkan sinar tajam mengandung kemurkaan, telah menggerakkan kedua tangannya. Tanpa banyak bicara lagi dia menyerang hebat bukan main kepada Tat Mo Cauwsu.

Koko Timo seorang tokoh rimba persilatan yang jarang sekali ada tandingannya, kini dia menyerang dengan si pendeta dengan pukulan yang mengandung tenaga lwekang luar biasa besarnya, angin dari serangannya itupun berkesiuran sangat hebat sekali.

Si pendeta tetap berdiri ditempatnya, tanpa bergerak sama sekali.

Tat Mo Cauwsu ini hanya mengawasi saja dalangnya serangan dari lawannya, dan dia telah tersenyum dengan sikapnya yang sangat sabar Matanya saja yang tampak sejenak memancarkan sinar yang sangat tajam.

Koko Timo bukan lawan sembarangan, kepandaiannya juga luar biasa.

Jika memang Tat Mo Cauwsu tidak menghadapinya dengan ber-sungguh2 dan lengah, niscaya ia akan dapat dicelakai oleh Koko Timo, sebab kepandaian yang mereka miliki tidak terpaut begitu jauh.

Begitu kepalan tangan dari Koko Timo hampir tiba, Tat Mo Cauwsu tersenyum. “Rupanya memang Siecu bermaksud ingin main2 beberapa jurus, bukan? Baiklah Loceng akan menemani” Waktu berkata seperti itu, Tat Mo Cauwsu melihat kepalan tangan lawannya telah datang dekat sekali.

Tat Mo Cauwsu menggerakkan kedua tangannya, tangan kanan menyampok tenaga serangan dari lawannya, sedangkan tangan yang satunya lagi dipergunakan untuk mencengkeram tulang pergelangan tangan lawannya.

Ancaman dan gerakan yang dilakukan Tat Mo Cauwsu sesungguhnya merupakan gerakan yang biasa saja dan juga setiap jago rimba persilatan yang memiliki kepandaian rendahpun dapat melakukannya. Akan tetapi karena gerakan seperti itu dilakukan oleh Tat Mo Cauwsu, yang ilmunya telah mencapai puncak kesempurnaan, dengan demikian membuat serangan itu menjadi luar biasa hebatnya.

Koko Timo sendiri sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan sempurna, juga tidak berani meremehkan serangan dari lawannya itu. Cepat2 ia menarik pulang pukulannya, tubuhnya mencelat lewat disamping Tat Mo Cauwsu, dia telah berada dibelakang pendeta tersebut, tanpa membuang waktu lagi ia telah menyerang lagi ke arah punggung pendeta tersebut.

Tenaga serangannya itu, jangankan tubuh manusia, sedangkan batu atau baja akan hancur jika kena dilanggarnya.

Tat Mo Cauwsu sendiri merasakan sambar an tenaga serangan itu bukan main hebatnya. Dengan cepat ia merobah kedudukan kedua kakinya. Gerakan yang dilakukannya sesungguhnya memang mengandalkan kesempurnaan dari ginkangnya. Tanpa membalas menyerang atau menangkis, serangan yang hebat seperti itu dapat dielakkannya dengan mudah, hanya mengandalkan langkah kakinya.

Sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian sempurna dan juga dia memang mengetahui kini tengah berhadapan dengan seorang tokoh rimba persilatan seperti Tat Mo Cauwsu tentu saja Koko Timo tidak berani berlaku ayal.

Setiap serangan yang dilancarkannya itu mengandung kekuatan yang dahsyat, karena ia telah mempergunakan tujuh bagian dari tenaga dalam yang dimilikinya. Sebenarnya, seumur hidupnya Koko Timo tidak pernah mempergunakan tenaga dalamnya lebih dari empat bagian. Hanya saja sekarang ini dia tengah berhadapan dengan Tat Mo Cauwsu, yang ilmunya juga sempurna sekali, dengan sendirinya membuat dirinya tidak berani memandang remeh, dan bertempur dengan seluruh kepandaiannya.

Angin dari serangan itu berkesiuran sangat hebat sekali dan setiap serangan yang di lancarkan oleh Koko Timo telah berhasil dielakkan oleh pendeta Siauw Lim Sie tersebut

Selama itu Tat Mo Cauwsu tak pernah membalas menyerang lawannya. Setiap kali Koko Timo menyerang dengan dahsyat padanya,, Tat Mo Cauwsu hanya mengelakkan diri atau berkelit saja dengan mudah, sedangkan bibirnya tetap bersenyum dengan sabar dan ramah tidak terlihat perasaan gusar atau tidak senang dibawahnya.

Koko Timo jadi penasaran, dia beranggapan bahwa hal ini seperti juga Tat Mo Cauwsu memang bermaksud ingin mempermainkannya.

Dengan tubuh yang ber-kelebat2, gesit sekali Ta 'Mo Cauwsu telah mengelakkan diri belasan jurus banyaknya, dan membuat Koko Timo semakin gusar dan penasaran.

Setelah lewat lagi beberapa jurus tampak Koko Timo telah membentak nyaring sekali, tubuhnya melesat ketengah udara, dimana tampak tubuh Koko Timo seperti juga burung rajawali yang menyambar mangsanya, telah menghantam kepada Tat Mo Cauwsu dengan dahsyat sekali.

Dalam keadaan seperti ini, tampak Tat mo Cauwsu tidak bisa berdiam diri saja, kedua tangan Tat Mo Cauwsu telah bergerak kearah atas, dia menangkisnya dengan perlahan.

Hebat kesudahannya dari benturan yang terjadi dari dua kekuatan raksasa itu.

Karena begitu terdengar suara menggelegar yang memekakkan anak telinga, tampak lah tubuh Tat Mo Cauwsu ber-goyang2, dia tidak terhuyung dari tempatnya berdiri, akan tetapi kedua kakinya telah melesak masuk ke dalam lantai, sebatas lututnya.

Itulah disebabkan tekanan yang kuat sekali dari tenaga lwekang Koko Timo.

Akan tetapi Koko Timo sendiri bukannya tidak mengalami sesuatu apapun juga. Karena saat itu, ketika tubuhnya terpental akibat benturan tenaga mereka berdua, seketika itu juga tubuhnya menerjang langit2 ruangan tersebut, terus menghantam genting bangunan, tubuhnya terpental sampai ke udara bebas diluar genting jtu.

Hancuran genting meluruk jatuh ke lantai.

Semua orang yang menyaksikan hal itu, lebih2 anak buahnya Kodo Timo, mereka jadi memandang tertegun melihat ketua mereka terpental seperti itu.

Keadaan yang langgeng seperti itu tidak berlangsung lama, karena tampak tubuh Koko Timo telah melesat masuk lagi dengan gerakan yang gesit.

Dan Koko Timo sambil menerobos masuk dia juga telah menghantam lagi kepada Tat Mo Cauwsu. Rupanya dia masuk dengan membarengi untuk menyerang lawannya itu.

Waktu itu Tat Mo Cauwsu, tengah menarik keluar kedua kakinya dari lantai yang melesak itu. Rupanya Tat Mo Cauwsu sendiri merasa kagum atas kepandaian yang dimiliki Koko Timo. Selain dia dapat mendesak dirinya, sampai kakinya melesak, juga Koko Timo sendiri tampaknya tidak mengalami luka apapun ditubuhnya walaupun telah terpental begitu hebat, menerjang keluar menerjang genting bangunan tersebut.

Karenanya, sekarang waktu dia tengah menarik kedua kakinya dari lantai tersebut, dan melihat Koko Timo telah menerjang masuk lagi, menerjang pula padanya dengan serangan yang hebat, Tat Mo Cauwsu juga tidak berani ayal.

Tanpa menantikan tibanya tubuh dan serangan Koko Timo, pendeta itu telah jejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat mundur untuk menjauhkan diri.

Kebetulan sekali Tat Mo Cauwsu melompat kedekat dua orang anak buah dari Koko Timo. Kedua orang anak buah yang melihat pendeta itu melompat mundur dan menghampiri mereka, rupanya mereka tidak mau membuang2 kesempatan yang ada senjata mereka telah menyambar ke arah punggung si pendeta.

Mereka beranggapan, waktu itu si pendeta tidak bersiaga, dan jika memang mereka menyerang secara membokong seperti itu, niscaya Tat Mo Cauwsu akan dapat mereka serang binasa dengan bacokan golok mereka.

Akan tetapi rupanya mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya Tat Mo Cauwsu. Begitu golok mereka menyambar, Tat Mo Cauwsu lanpa menoleh lagi telah menyampok kebelakang, karena dia merasakan menyambarnya angin serangan dari arah belakang badannya.

Hebat kesudahannya. Dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan hati, kedua orang itu telah terpental keras sekali.

Rupanya akibat sampokan tenaga dalam Tat Mo Cauwsn membuat kedua batang golok yang lengah menyambar kepada pendeta ini malah jadi berbalik dan telah menyambar kepada pemiliknya, dengan demikian kepala mereka masing2 terbelah menjadi dua.

Yang lebih hebat justru tenaga sampokan tangan Tat Mo Cauwsu membuat kedua orang itu terpental dan menghantam dinding.

Hebat benturan itu, mereka seperti juga dilontarkan oleh kekuatan tenaga melempar yang ribuan kati.

Seketika tulang-2 didalam tubuh mereka telah hancur dan remuk, waktu rubuh terkulai mereka sudah tidak bernapas. Jika tadi mereka tidak terkena bacokan golok sendiri akibat sampokan tenaga dalam Tat Mo Cauwsu, tohk me rekapua akan terbinasa, karena benturan tubuh mereka kepada dinding yang begitu kuat sekali membuat tulang-tulang disekujur tubuh mereka hancur dan remuk.

Menyaksikan keadaan kedua kawan mereka yang begitu mengenaskan hati, semua anak buah KokoTimo jadi berdiri tertegun dengan hati yang bergidik.

Mereka rupanya ngeri dan takjub menyaksikan betapa dahsyatnya tenaga dari pendeta tersebut. Pecah pula nyali mereka. Dan untuk selanjutnya tentu tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani coba2 menyerang secara membokong kepada Tat Mo Cauwsu.

Sedangkan Koko Timo yang melihat nasib kedua orang anak buahnya seperti itu, berdiam diri tertegun ditempatnya. Begitu dia tersadar, gusarnya bukan main. Dengan cepat ia menerjang maju lagi dengan gerakan yang sangat cepat sekali, dimana sepasang tangannya telah ber- tubi2 melancarkan pukulan.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu sendiri tidak tinggal diam. Karena dia menyadari bahwa lawannya ini merupakan seorang yang memiliki kepandaian, mungkin tidak berada disebelah bawah kepandaiannya, lagi pula lawannya saat itu tengah gusar sekali, dia menyerang dengan mempergunakan seluruh kekuatan yang ada padanya, dengan sendirinya telah membuat Tat Mo Cauwsu tidak bisa meremehkannya.

Tat Mo Cauwsu sendiri terkejut, “Hemmm, rupanya dia telah memperoleh kemajuan yang demikian  pesat” pikirnya.

Sedangkan waktu itu Koko Timo sendiri telah berpikir juga: “Hemmm. si gundul ini rupanya memang telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali, tampaknya aku berada satu tingkat dibawah kepandaiannya, dan aku harus berlaku hati2 dan waspada” karena berpikir begitu, tampak Koko Timo telah merobah cara bertempurnya.

Jika tadi dia menyerang dengan sekaligus mempergunakan kedua tangannya, sekarang ia menyerang dengan mempergunakan kedua tangannya itu bergantian. Namun Tat Mo Cauwsu dapat menghadapinya dengan tenang.

Sin Han menyaksikan jalannya pertempuran itu jadi berdiri tertegun ditempatnya.

Seumur hidupnya baru kali ini dia menyaksikan pertempuran yang sehebat itu.

Yang menarik sekali perhatiannya justeru ilmu kedua orang itu yang luar biasa dan juga memang tampaknya Tat Mo Cauwsu bertempur jauh lebih tenang dari Koko Timo. Sedangkan Koko Timo sendiri selalu bertempur dengan sikap yang bengis dan berangasan, sehingga terlihat jelas betapa besar nafsu membunuhnya.

Akan tetapi sikapnya yang berangasan itu merupakan suatu kelemahan buat Koko Timo sendiri. Dengan bernafsu seperti itu membuat Koko Timo terpecah perhatiannya, dia sering kali alpa dalam pembelaan dirinya.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu yang telah bersikap tenang luar biasa malah memperoleh keuntungan yang tidak kecil, dikala mana tampak Tat Mo Cauwsu bukan saja selalu dapat menghindarkan diri dari setiap serangan yang dilakukan lawannya, diapun berulang kali dapat mendesak Koko Timo.

Keadaan seperti ini membuat Koko Timo selain penasaran, juga dia jadi berpikir: “Jika aku sampai rubuh di tangannya, runtuhlah kewibawaanku dan perkumpulanku tidak bisa kupimpin terus. hmmm. aku akan mengadu jiwa dengannya”

Karena berpikir seperti itu, dengan gerakan yang sangat cepat sekali tampak Koko Timo telah merobah lagi cara bertempurnya.

Tat Mo Cauwsu tersenyum tawar, katanya,”Koko Timo, tampaknya sejak dari Persia dan juga di Tionggoan ini, kau memang tidak pernah mau merobah kelakuanmu yang buruk. Omitohud Omitohud. Baiklah, Loceng akan membuka pantangan untuk membunuh. Ini memang sangat terpaksa sekali, demi kebaikan umat manusia umumnya”

Setelah berkata begitu, setiap gerakan dari. kedua tangan pendeta itu, kelihatannya lebih lambat, namun berisi tenaga Lwekang yang lebih dahsyat dari pada tadi. Sin Han dan Su Lian yang menyaksikan keadaan pertandingan itu, diam2 ia jadi kebat kebit hatinya dan telah mementang mata mereka lebar2.

Sekarang mereka telah menyaksikan betapa si pendeta memang telah menyerang hebat sekali. Tenaga serangannya itu juga telah menyambar silih berganti mendesak pada lawannya.

Akan tetapi Koko Timo sediri juga tidak mau kalah, memang kepandaiannya tidak berada dibawah Tat Mo Cauwsu, hanya kalah sedikit oleh Lwekang Tat Mo Cauwsu yang lebih murni dari dia. Hanya itu saja.

Tubuh Koko Timo berkelebat-kelebat ke sana kemari, sedangkan tubuh Tat Mo Cauwsu juga tidak hentinya bergerak kesana kemari dimana gerakan tubuh mereka laksana bayangan saja.

Sedangkan anak buah Koko Timo yang memiliki lwekang tidak seberapa itu telah mundur menjauhkan diri. Sebab mereka tidak bisa bertahan dari desakan angin serangan kedua orang yang sedang bertanding itu.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu yang memang telah bertekad tidak mau berlaku sungkan lagi dan telah membuka pantangan untuk membunuh, setiap serangan yang dilancarkannya, selain mengandung tenaga iwekang yang telah terlatih sempurna sekali, juga selalu mengincar bagian2 berbahaya ditubuh Koko. Timo.

Agak repot juga Koko Timo menghadapi serangan2 yang dilakukan Tat Mo Cauwsu. Akhirnya, karena sudah tidak memiliki kesempatan lagi buat menangkis atau mengelakkan diri dari serangan si pendeta. maka Koko Timo telah memusatkan seluruh kekuatannya. Benturan yang terjadi benar2 sangat luar biasa, karena diwaktu itu tampak tubuh kedua orang itu masing2 telah mundur beberapa langkah.

Akan tetapi wajah Tat Mo Cauwsu tetap tidak berobah. Dia masih tersenyum tenang saja, karena seperti juga pukulan dari Koko Timo tidak memberikan reaksi apa2 buatnya.

Yang hebat adalah Koko Timo sendiri, dia menangkis dengan mempergunakan seluauh tenaga dalamnya dan kesudahannya dia sendiri yang menerima kepahitan dari akibat benturan tenaga dalam mereka.

Tubuh Koko Timo yang terhuyung mundur itu akhirnya tidak bisa dipertahankan lagi, karena kuda2 kedua kakinya telah tergempur dan tubuhnya seketika terguling.

Waktu melompat bangkit, maka tampak wajah dari Koko Timo memucat.

Malah setelah berdiam diri sejenak, seketika Koko Timo memuntahkan darah empat kali, yang sangat banyak sekali. Dikala itu, anak buah Koko Timo terkejut sekali, akan tetapi tidak seorangpun diantara mereka ada yang berani maju untuk menyerang Tat Mo Cauwsu dan membantui Kauwcu mareka.

Tat Mo Cauwsu telah tertawa tawar, katanya ”Baiklah. mari kita meneruskan permainan ini” Dan tanpa membuang waktu pula, tampak Tat Mo Cauwsu telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya mencelat ketengah udara dengan gerakan bagaikan burung garuda sedang terbang, itulah salah satu gerakan dari ilmu simpanan cakal bakal Siauw Lim Sie tersebut.

Sedangkan Koko Timo yang melihat ancaman buat keselamatan dirinya, juga tidak berani berayal. Walaupun dia telah terluka didalam dan baru saja memuntahkan darah segar, akan tetapi dia tetap berlaku tenang. Dengan cepat sekali, tampak Koko Timo telah berusaha mengempos seluruh sisa tenaganya, dia berusaha untuk hadapi lagi pada pendeta Siauw Lim Sie.

Akan tetapi, dia kembali gagal.

Waktu tenaga mereka saling bentur, justru tubuh Koko Timo terpental lagi.

Rupanya pendeta Siauw Lim Sie memang tidak berlaku sungkan2 lagi, dia menyerang dengan hebat.

Dua kali beruntun Koko Timo memuntahkan darah segar lagi, SedangkanTat Mo Cauwsu sambil merangkapkan kedua tangannya, dia telah berkata: “Maaf seluruh kepandaian Siecu harus dilenyapkan, barulah Siecu boleh dibiarkan hidup terus”

Setelah berkata begitu, sambil memperlihatkan wajah mengandung sesal yang tidak terkira, maka tampak, dia melangkah menghampiri Koko Timo yang waktu itu tengah merangkak bangun.

Hati Koko Tirao tercekat, karena jika seluruh kepandaiannya dipunahkan, apa arti hidupnya selanjutnya? Maka mati2an dia mengempos sisa kekuatan tenaga dalam yang ada padanya, dan dia berusaha berdiri kembali.

Disaat mana Tat Mo Cauwsu telah menghampiri dekat sekali dan terlihat betapa si pendeta juga telah menggerakkan tangan kanannya dengan jari telunjuk dia bermaksud untuk menotok beberapa jalan darah di tubuh Koko Timo,

Gerakan yang dilakukan oleh Tat Mo Cauwsu itu sangat cepat sekali, namun disebabkan memang Koko Timo tidak mau    dipunahkan    ilimunya,    cepat    sekali    dia    telah menggerakkan tangannya, memaksakan diri buat menangkis totokan yang tengah dilancarkan oleh Tat Mo Cauwsu.

Akan tetapi si pendeta memang telah mengetahui bahwa lawannya itu telah kehabisan tenaga dan terluka dalam, itulah sebabnya pula Tat Mo Cauwsu tidak yakin bahwa Koko Timo akan berhasil menangkis totokannya.

Sambil tersenyum lebar, Tat Mo Cauwsu masih tetap meneruskan totokannya tanpa merobah sasaran. Dan tangkisan Koko Timo membuat tangan Tat Mo Cauwsu tergetar. Diluar dugaan, ternyata Koko Timo mengeluarkan sisa tenaga simpanannya.

Ada satu hal yang dilupakan oleh Tat Mo Cauwsu. Sesungguhnya seseorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian sesempurna Koko Timo tentu dia memiliki ilmu simpanan dan tenaga simpanan yang baru akan dipergunakannya jika dia benar2 tengah berada dalam ancaman bahaya maut.

Dan sekarang, memang disaat jiwanya terancam maut yang tidak ringan, Koko Timo telah mempergunakan sisa tenaga simpanannya untuk menangkis serangan yang dilakukan Tat Mo Cauwsu.

Waktu tangan mereka saling bentur, si pendeta merasakan tangannya tergetar kesemutan nyeri sekali, seperti juga pergelangan tangannya dihantam oleh besi. Disamping itu, dia juga merasakan getaran tenaga dalam dari Koko Timo seperti juga menyelusup masuk lewat tangan terus ke dadanya, sehingga ia merasakan dadanya itu sakit sekali.

Dia telah mundur beberapa langkah, wajahnya berobah, akan tetapi disaat itu dia tidak sampai terluka didalam, karena cepat sekali ia dapat menyalurkan hawa murninya melindungi dadanya. Cuma saja, kejadian seperti ini telah membuat pendeta itu jauh lebih ber-hati2 lagi dan kini ber- siap2 hendak menyerang lawannya pula.

Di waktu itu Koko Timo telah berkata: “Hemm, aku tidak menyangka sama sekali bahwa seorang Tat Mo Cauwsu yang memiliki nama menggetarkan rimba persilatan hanya merupakan seorang pengecut dan kependetaannya hanya dipergunakan untuk kedok belaka”

Dingin sekali suara Koko Timo.

“Mengapa Siecu mengatakan begitu?” tanya Tat Mo Cauwsu kemudian.

“Hemmmmm, apakah disaat lawan terluka didalam yang parah sekali, dia telah diserang terus, dimana kau bermakud untuk merebut kesempatan ini untuk dapat merebut kemenangan. Apakah hal ini dapat disebut tindakan seorang Hohan? Disamping itu apakah memang kau dapat disebut sebagai seorang pendeta yang alim dan saleh? Hemm, hemm, majulah, mari aku akan melayaninya. Mari maju”

Muka Tat Mo Cauwsu jadi berobah merah. Walaupun bagaimana sindiran dari Koko Timo memang mengenai hatinya. Sebagai seorang pendeta Siauw Lim Sie, yang merupakan bakal pintu perguruan itu dan memiliki nama yang sangat dihormati orang2 seluruh rimba persilatan, memang tidak dapat disaat lawannya terluka didalam seperti itu didesak terus olehnya. Karenanya Tat Mo Cauwsu jadi berdiam diri beberapa saat. Walaupun bagaimana memang kenyataan yang ada Tat Mo Cauwsu tidak bisa mendesak Koko Timo lebih dalam keadaan lawannya terluka parah seperti itu.

Akan tetapi memang diapun bertindak untuk keselamatan  orang2  rimba  persilatan  umumnya.  Dengan demikian telah membuat Tat Mo Cauwsu berada dalam keadaan serba salah. Sebagai seorang pendeta yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, dengan sendirinya telah membuat Tat Mo Cauwsu tidak bisa menuruti hati kecilnya.

Dikala itu, dengan gerakan yang cepat sekali,  KokoTimo telah menggerakkan kedua tangannya yang dilintangkan didepan dadanya, katanya dengan sikap menantang: “Nah, kau majulah mari kita teruskan permainan ini”

Setelah berkata begitu, dengan sikap yang beringas sekali dan siap2 hendak mengadu jiwa, tampak Koko Timo menantikan serangan dari si pendeta.

Waktu Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya, berkata: “Jika memang Siecu berkata begitu, dimana Siecu beranggapan disaat Siecu tengah terluka akibat pertempuran kita tadi, maka Loceng juga tidak bermaksud mendesak lebih jauh, mempergunakan, kesempatan dalam keadaan itu guna merebut kemenangan sehingga kelak Siecu akan mengatakan bahwa Loceng merebut kemenangan dengan mengandalkan kesempatan ini sehingga Siecu menjadi tidak puas karenanya Nah, jika demikian baiklah Loceng akan memberikan kesempatan kepada Siecu buat beristirahat dulu. Dalam beberapa hari mendatang kelak nanti, Loceng akan berkunjung pula kemari”

Koko Timo sesungguhnya murka bukan main dan penasaran, akan tetapi jika dia bersikeras, dia tidak menyadarinya, tentu dirinya yang akan rugi.

Itulah sebabnya, akhirnya dengan menindih kegusarannya, dia telah menyahuti: “Tiga hari mendatang aku menunggu kedatanganmu” katanya. Tat Mo Cauwsu telah menoleh kepada Su Lian, Sin Han dan Su Tianglo, yang waktu itu telah tersadar dan telah dipayang oleh Sin Han “Apakah Siecu bertiga ingin ber- sama2 Loceng meninggalkan tempat ini?” tanya Tat Mo Cauwsu.

Sin Han girang bukan main. Ini jeJas merupakan kesempatan buat mereka meninggalkan tempat ini. Bukankah jika mereka tidak ikut serta bersama Tat Mo Cauwsu buat meninggalkan tempat ini, jelas mereka akan di persulit oleh orang Koko Timo? Karenanya cepat sekali Sin Han mengiyakan.

Koko Timo sebenarnya bermaksud ingin menahan Sin Han bertiga, akan tetapi disebabkan si pendeta yang mengajak pemuda dan kedua kawannya itu meninggalkan tempat ini, maka dia membiarkan saja kepergian mereka, karena didalam tiga hari dia akan mengusahakan buat menangkap mereka semua dan membinasakannya.

Anak buah dari Koko Timo tidak seorang pun yang berani merintangi kepergian Tat Mo Cauwsu berempat.

Begitulah, Sin Han telah mengajak gurunya untuk singgah di rumah penginapan mereka, di mana mereka juga telah bercerita banyak sekali.

Tat Mo Cauwsu sendiri memuji berulang kali, bahwa tidak disangkanya Sin Han kini telah menjadi seorang pemuda tangguh dan gagah. Malah yang membuat dia gembira sekali, justeru pemuda ini telah menjadi Pangcu dari Kay-pang.

“Hemmm, jika saja Loceng mengetahui siang-siang, tentu Loceng sudi akan datang mengujungi markas Kay- pang, guna memberikan ucapan selamat pada Siecu”

Sin Han mengucapkan terima kasih berulang kali. Waktu itu tampak betapa Su Lian tengah sibuk berusaha mengobati Su Tianglo.

Tat Mo Cauwsu yang menyaksikan hai itu cepat2 telah menghampirinya. Ditotoknya beberapa jalan darah Su Tianglo, agar Tianglo Kay-pang itu tidak menderita kesakitan oleh luka didalamnya itu.

Setelah memeriksa keadaan tubuh Su Tianglo maka tahulah akan keadaannya yang terluka didalam yang berat.

Sedangkan waktu itu Sin Han telah menghampiri dan berdiri disampingTat Mo Cauwsu.

Setelah memeriksa beberapa saat lamanya, Tat Mo Cauwsu menguruti tubuh Su Tianglo pada jalan-2 darah terpentingnya, dan dia juga telah berusaha untuk memperlancarkan kembali jalan darah di tubuh Su Tianglo.

Selama itu Su Tiangio dalam keadaan pingsan, namun ber-angsur2 pipinya berobah memerah kembali menunjukkan bahwa kesehatannya itu mulai pulih.

Sedangkan Sin Han yang melihat Tat Mo-Cauwsu berkeringat, karena cakal bakal Siauw Lim Sie tersebut mengurut sambil memusatkan dan mengerahkan semua tenaga Lwekang-nya maka dia telah mengambilkan sebuah saputangan dan menyusutkan ke diri pendeta.

Masih juga Tat Mo Cauwsu meneruskan usahanya dalam menolong jiwa Su Tianglo, dia masih mengurut disana sini tubuh pengemis itu, juga diapun menotok beberapa jalan darah terpenting ditabuhnya. Sampai akhir- nya Tat Mo Cauwsu telah mengeluarkan sebotol kecil berwarna merah, dan dari dalamnya dituangkan dua butir pil berwarna merah. Di masukkan ke dalam mulut Su Tianglo. Dengan dipijit rahangnya, maka kedua butir pil yang berwarna merah itu telah tertelan oleh Su Tianglo. Tidak lama kemudian dia tersadar dari pingsannya. Pertama kali dia membuka mulutnya dan memuntahkan darah yang telah menghitam bergumpal.

Tiga kali banyaknya Su Tiangio memun tahkan darah seperti itu, sampai akhirnya waktu dia memuntahkan buat yang keempat kalinya, dia memuntahkan darah yang segar, menunjukkan ia tertolong dari. ancaman bahaya maut.

Tat Mo Cauwsu telah berhenti dari usahanya menolongi Su Tianglo, karena jiwa dari Tianglo Kay-pang itu memang telah dapat diselamatkan,

Cakal-bakai Siauw Lim Sie inipun telah duduk bersemedhi, dia menyalurkan pernapasannya, mengalirkan hawa murninya, sehingga tenaga dan kesegarannya pulih kembali.

Diwaktu itu tampak Sin Han dan Su Lian berdiam diri saja.

Setelah beristirahat sejenak lamanya, Tat Mo Cauwsu telah pulih kesegarannya. Dan ia mengajak Sin Han dan Su Lian bercakap-cakap lagi.

Tiga hari lamanya Tat Mo Cauwsu mengobati Su Tianglo, dan dihari ketiga kesehatan Su Tianglo memang telah pulih, sehingga dia telah bisa bangkit dari pembaringan dan ikut duduk ber-cakap2 dengan Tat Mo Cau w-su, Sin Han dan Su Lian.

Su Tianglo memuji dengan sejujurnya akan kepandaian Tat Mo Cauwsu. Demikian juga ia menyatakan sesungguhnya kepandaian yang dimiliki oleh Koko Timo luar biasa, jarang sekali ada orang yang bisa menandinginya. “Sejujurnya aku menyatakan bahwa aku sangat kagum pada kepandaian Koko Timo. Sayangnya dia bertindak dijalan yang salah” Dan setelah berkata begitu, Su Tianglo menghela napas dalam-dalam.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya, dia memuji kebesaran Sang Budhha, kemudian katanya: “Harapan agar dia merebah kelakuannya dan sifatnya yang kejam dan bengis, sulit sekali. Di mana boleh jadi tidak ada harapan lagi. Jalan satu-satunya hanyalah memunahkan kepandaiannya”.

Su Tianglo mengangguk. “Jika saja waktu tiga hari yang lalu, di waktu dia terluka Siansu menotok memunahkan kepandaiannya, tentu Koko Timo selanjutnya tidak bisa melakukan kejahatan lagi” ikut bicara Sin Han. “Dia menjanjikan dalam tiga hari buat bertemu lagi dengan Siansu, akan tetapi Koko Timo bukan sebangsa manusia baik2 yang bisa dipegang perkataannya, karena itu, dengan demikian jelas hanya memberikan kesempatan padanya untuk meloloskan diri. Siapa tahu, sekarang ini Koko Timo telah menyingkirkan diri ke tempat lain, guna menghindarkan pertemuan dengan Siansu lagi? Bukankah dengan demikian Siansu jadi gagal untuk memusnahkan kepandaian Koko Timo?”

Waktu bicara seperti itu, Sin Han melihat Tat Mo Cauwsu tetap bersenyum saja.

Disaat itu, Su Lian juga telah ikut bicara “Benar Siansu, waktu dia dalam keadaan terluka seperti itu, tentu dengan mudah Siansu dapat memunahkan kepandaiannya, sehingga di-waktu2 selanjutnya dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi”

“Omitohud” puji Tat Mo Cauwsu akan kebesaran Sang Budha dengan suara yang sabar, lalu dia melanjutkannya: “Sesungguhnya Loceng tidak bisa bertindak seperti itu. Walaupun bagaimana Loceng tidak dapat untuk menurunkan tangan lebih keras dalam keadaan dia terluka parah seperti itu. Dalam tiga hari ini, dia tentu telah beristirahat cukup banyak, sehingga tenaga dan kesegaran tubuhnya telah pulih, dimana kami dapat mengadu ilmu dengan secara jantan. Jika memang kali ini Loceng menurunkan tangan keras dan memunahkan kepandaiannya, tentu ia tidak akan menyesali tindakan Loceng”

Sin Han mengangguk, “Siansu, memang apa yang Siansu maksudkan dimengerti oleh Boanpwe. akan tetapi Koko Timo bukan sebangsa manusia baik2, karena dari itu, terhadap dia Siansu tidak perlu berlaku sungkan,  karena jika kita salah sedikit saja dalam perhitungan, manusia seperti Koko Timo dapat menimbulkan kesulitan yang tidak kecil”

Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya dan memuji kebesaran Sang Budhha lagi, katanya: “Baiklah, nanti kita lihat saja apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Koko Timo. Seperti yang diduga oleh Siecu bahwa kemungkinan dia meloloskan diri dan bersembunyi disebuah tempat, hal itu bisa terjadi. Namun, tentu saja Loceng tidak akan melepaskannya begitu saja. Hemm. Loceng akan tetap mengejar dan mencari jejaknya”

Setelah berkata begitu, Tat Mo Cauwsu menghirup air teh dicawannya, diapun berkata lagi setelah meletakkan cawannya itu: “Sekarang memang telah tiba tiga hari dari waktu yang diminta oleh Koko Timo. Sore ini kita akan mendatangi markasnya lagi. Jika memang Koko Timo seorang manusia pengecut dan menyembunyikan diri, tentu dia tidak bisa menyingkir terlalu jauh, dimana Loceng yakin akan dapat mencari jejaknya dan selanjutnya, jika memang dia masih melakukan per buatan2 jahat, Loceng juga tidak perlu berlaku sungkan2 lagi padanya. Loceng dapat saja membunuhnya”

Dan setelah berkata begitu. Tat Mo Cauwsu menghela napas sambil memuji akan kebesaran Sang Buddha. sedangkan diapun telah melanjutkan perkataannya lagi dengan suara menggumam, dan perlahan:”Sebenarnya, untuk soal ini memang dapat diselesaikan dengan berdua saja antara Koko Timo dan Loceng. Akan tetapi jika memang dia memperalat anak buahnya untuk mencelakai mereka belaka, hal inilah yang membuat Loceng jadi tidak gembira dan terpaksa membuka pantangan membunuh” Dan pendeta tua cakal bakal Siauw Lim Sie ini menghela napas berulang kali.

Sin Han dau Su Lian girang mendengar sore ini mereka akan menyatroni markas Koko Timo.

Dengan demikian mereka juga akan dapat menyaksikan suatu keramaian pula.

Akan tetapi, Su Tianglo sendiri telah berdiam diri dengan wajah yang murung. Walaupun bagaimana, dia belum pulih kesehatannya secara menyeluruh.

Dan juga, jika dia ikut ke markas Koko Timo, Su Tianglo kuatir nanti orang akan menyebut bahwa pihak Kay-pang memperalat pendeta Siauw Lim Sie untuk menindas Koko Timo

Setelah merenung sejenak, Su Tianglo berkata ”Pangcu, jika diperbolehkan, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepada Pangcu”

“Silahkan Su Tianglo” menyahutlah Sin Han cepat sambil tersenyum. “Sebenarnya, alangkah baiknya jika kita bertiga tidak ikut serta Siansu pergi ketnarkas Koko Timo karena kelak orang bisa saja mengatakan bahwa pihak Kay-pang memperalat Tat Mo Cauwsu. Dimana kita hendak me- numpas Koko Timo, akan tetapi tidak memiliki kesanggupan dan akhirnya meminta bantuan pada Siauw Lim Sie. Akibat yang muncul dari tanggapan seperti itu sangat luas sekali karenanya, jika memang Pangcu tidak berkeberatan, maukah sekiranya kita menantikan Tat Mo Cauwsu disini saja”

Sin Han ragu2, dia tidak segera menyahuti sedangkan Tat Mo Cauwsu tersenyum, “Apa yang dipikirkan Su Tianglo memang baik, karena menyangkut nama baik dari Kay-pang maupun nama baik Siauw Lim Sie. Dimana oleh Koko Timo bisa saja dia mengatakan bahwa Kay-pang bekerja sama dengan Siauw Lim Sie untuk merubuhkan dengan cara yang demikian jelas akan menimbulkan tanggapan2 yang salah buat orang2 rimba persilatan Bukankah begitu apa yang dimaksudkan oleh Su Tianglo?”

Su Tianglo cepat-cepat mengangguk. “Memang Siansu seorang yang bijaksana dan memiliki pikiran yang luas sekali” memuji Su Tianglo sambil merangkapkan kedua tangannya memberi hormat. “Dengan demikian, tentunya Siansu mengerti akan maksud perkataanku sipengemis tua, bukan?”

Tat Mo Cauwsu mengiyakan.

“Akan tetapi.” kata Tat Mo Cauwsu lagi kemudian. “Jika memang Su Tianglo bermaksud menantikan Loceng di rumah penginapan ini bersama Sin Pangcu dan nona ini ada sesuatu yang sangat Loceng kuatirkan”.

“Apakah itu, Siansu?” tanya Su Tianglo. Tat Mo Cauwsu tidak segera menjawab, ia hanya batuk beberapa kali. Sampai kemudian katanya: “Jika memang kalian berdiam disini, tentu akan mudah sekali kalau sampai orang2 Koko Timo datang kemari dan mengganggu kalian. Dan bukannya Loceng tidak percaya akan kepandaian kalian, akan tetapi mereka dapat mempergunakan jumlah banyak buat mengeroyok kalian. Itulah yang Loceng kuatirkan.... Nah. silahkan kalian bertiga berunding, apakah ada baiknya ikut bersama Loceng, atau berdiam disini. Karena justeru yang dikuatirkan oleh Loceng adalah keselamatan kalian jika saja Koko Timo bermaksud busuk pada kalian.”

Su Tianglo mengangguk. “Ya” katanya kemudian. “Apa yang dikatakan oleh Siansu memang benar”

Sin Han tersenyum, “Su Tianglo, apa yang dikatakan Siansu memang tepat sekali. Bukan kita mau menyombongkan diri, Walaupun kenyataannya kepandaian kita tidak rendah. Namun harus diingat Su Tianglo baru saja sembuh, dan tinggal aku berdua nona ini, jika memang orang2 Koko Timo mempergunakan kesempatan disaat Siansu ini tengah pergi berurusan dengan Koko Timo, mereka datang kemari beramai-ramai untuk mengeroyok kita. bukankah kita akan memperoleh kesulitan?”

Su Tianglo mengiyakan. Begitulah, mereka telah mengatur segalanya dengan cermat, sore ini mereka akam menghadapi Koko Timo dan orang-2nya. Disamping itu juga, Tat Mo Cauwsu mempergunakan kesempatan tersebut untuk memberikan petunjuk2 kepada Sin Han, Su Lian dan Su Tianglo mengenai ilmu silat mereka dan bagian2 mana yang lemah dan harus diperbaiki.

Demikian juga Tat Mo Cauwsu telah memberikan cara berlatih Lweekang untuk tingkat tinggi, dan semua itu telah membuat Sin Han bertiga tidak hentinya mengucapkan terima kasih.

Memang benar si pendeta hanya mempergunakan waktu yang singkat sekali buat memberikan penjelasan kepada mereka, akan tetapi justru keterangan2 dan penjelasan yang diberikannya itu merupakan penjelasan2 dari seorang guru besar seperti dia, dengan sendirinya memiliki arti yang sangat berguna sekali buat Sin Han bertiga.

Setelah hari mendekati sore, mereka berempat ber-siap2 untuk datang kemarkas Koko Timo. Sebagai seorang beribadah yang memiliki kepandaian sempurna, sikap Tat Mo Cauwsu tenang sekali, dan sabar setiap perkataan dan tindakannya. Dia memang tidak lama lagi tentu akan bertempur dengan Koko Timo, seorang tokoh yang memiliki kepandaian sangat tinggi, namun Tat Mo Cauwsu tidak sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan tegang, malah sambil tersenyum cerah dia pun bercerita, barangkali dalam satu tahun dua tahun lagi Tat Mo Cauwsu akan kembali ke India, karena adik seperguruannya telah memanggilnya.

Sin Han bertiga yang mendengar hal itu terkejut sekali. Mereka berusaha membujuk pada Tat Mo Cauwsu agar tetap berdiam di Tionggoan, sebab jika pendeta itu kembali ke India, Tionggoan akan kehilangan seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali seperti Tat Mo Cauwsu.

Akan tetapi Tat Mo Cauwsu telah tetap dengan keinginannya untuk kembali ke India.

“Ada urusan penting yang harus diselesaikan disana, karenanya tak bisa membatalkan maksud Loceng. mudah2au saja urusan itu dapat di selesaikan dalam beberapa tahun dan Loceng masih memiliki usia panjang sehingga hemm, dapat ke Tionggoan kembali untuk berkumpul lagi dengan semua sahabat di tempat seindah ini”

Dan setelah berkata begitu, Tat Mo Cauwsu merangkapkan sepasang tangannya, dia memuji akan kebesaran Sang Buddha,

Begitulah setelah ber-cakap2 sesaat lagi, mereka berangkat menuju ke markas Jie Liong Kauw.

Ketika mereka sampai didepan markas Jie Liong Kauw tampak anak buah Jie Liong Kauw telah mengadakan penjagaan yang ketat sekali. Diantara mereka tampak Jiauw Hoat, Koat Jie, Cin Liang dan Siangkoan Jie. Keempat orang ini tampak memandang bengis dengan senjata masing2 tergantung di pinggang.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu dengan tersenyum lebar telah menghampiri gerbang markas Jie Liong Kauw tersebut, pendeta tua itu dengan sabar merangkapkan kedua tangannya memberi hormat dan katanya: ''Apakah Loceng dapat bertemu dengan Kauwcu Siecu kalian, untuk melanjutkan pertemuan kita tiga hari yang lalu?”

Koat Jie yang memang memiliki adat sangat keras, sebenarnya ingin membentak dan menyerang pendeta ini. Akan tetapi mengingat bahwa Tat Mo Cauwsu memiliki kepandaian sangat tinggi, dia tidak berani bertindak gega- bah. Sedangkan Jiauw Hoat, sisembrono dan pemberang itupun telah memperdengarkan suara mendengusnya beberapa kali, tampaknya ia sudah tidak sabar dan tangannya telah mencekal gagang senjatanya, ber-siap2 untuk menyerang Tat Mo Cauwsu begitu saudara2nya menyerang.

Siangkoan Cie yang dapat bersabar, telah melangkah maju   dua   tindak,   katanya:”Kauwcu   kami   tengah  ada urusan yang penting dan harus diselesaikannya dengan segera, karena itu maafkanlah Kauwcu kami tidak dapat menemui Siansu”

Tat Mo Cauwsu tersenyum. “Bukankah Kauwcu kalian yang telah men janjikan Loceng untuk bertemu lagi sekarang ini, dan untuk menepati janji, Loceng telah datang kembali kemari. karena itu, walaupun alasan apa saja yang kalian kemukakan, hal itu tidak akan dapat menolong muka terang Kauwcu kalian”

Sedangkan Jiauw Hoat yang mendengar perkataan Tat Mo Cauwsu telah naik darahnya, dia membentak keras setelah mengerang gusar “Kau kepala gundul, mulutmu terlalu jahat sekali. Hemm apakah kau kira Kauwcu kami jeri berurusan denganmu? Hemmm, sebenarnya jika Kauwcu kami menginginkannya, hanya dalam beberapa jurus kau telah dapat dibinasakannya Akan tetapi Kauwcu kami mengatakan, karena kau sigundul pelontos ini seorang cikal bakal dari sebuah pintu perguruan didaratan Tionggoan. Kauwcu kami jadi merasa sayang jika kau harus dikirim ke Giam Lo Ong Ternyata kau seorang yang tak tahu diri. Nah, baiklah, kami yang akan menghadapimu kami akan memperlihatkan kepadamu, agar matamu terbuka, bahwa Jie Liong Kauw bukanlah sebangsa perkumpulan yang mudah untuk dihina oleh siapapun  juga”

Setelah berkata sampai disitu, sebat sekali tangan Jiauw Hoat mencabut keluar senjatanya, yang dibolang balingkannya beberapa kali. Senjatanya itu adalah sebatang golok dengan bentuk dipunggung senjatanya itu bergigi-gigi. tak ubahnya seperti gergaji.

Sedangkan Siaugkoan Cie telah mengangkat tangannya mengisyaratkan, kepada Jiauw Hoat, jangan bertindak sendiri2 seperti itu. Setelah dapat menenangkan Jiwa  Hoat, Siangkoan Cie berkata lagi dengan suara yang lantang: “Tat Mo Cauwsu, sebagai seorang cukai bakal Siauw Lim Sie, seharusnya kau memiliki harga diri yang besar sekali. Seorang lawan sedang terluka, tentu kau tidak akan mendesak dan mempergunakan kesempatan itu guna memperoleh kemenangan. Jika memang kau yakin bahwa dirimu memiliki kepandaian yang tinggi datang saja kemari dua bulan kemudian, di mana Kauwcu kami tentu akan sembuh dari lukanya dan dapat pula berurusan denganmu. Hemmm. jika sekarang kau tetap mendesaknya, berarti kau iagin memperoleh kemenangan dengan memanfaatkan guru kami dalam keadaan lemah tidak berdaya seperti itu”

Tat Mo Cauwsu tersenyum lebar, katanya: “Baiklah, karena kata2 itu diucapkan oleh kalian, tidak dapat Loceng menerimanya begitu saja. Siapa yang yakin bahwa Kauwcu kalian dalam keadaan yang terluka atau tidak berdaya untuk mengadakan suatu pertempuran. Hemmu, siapa yang berani pula untuk menduga bahwa Kauwcu kalian itu merupakan seorang pengecut yang tidak punya guna, sehingga hanya pandai memajukan murid2nya belaka? Jika memang Kauwcu kalian yang keluar sendiri, dan dia yang mengatakan bahwa dirinya tengah dalam keadaan terluka parah, dan kenyataan memperlihatkan bahwa Kauwcu kalian itu tidak dapat melakukan suatu pertempuran, Loceng kira akan mengerti duduknya persoalan”

“Pendeta gundul keparat” bentak Cin Liang dengan murka, dimana rupanya dia sudah tidak bisa menguasai diri lagi, tubuhnya telah menerjang maju, dan ditangannya tercekal sebatang pedang, senjata mana telah menyambar menikam kearah ulu hati dari pendeta tersebut. Dengan demikian, tampak jelas betapa dia dan bermaksud untuk menikam  binasa  Tat  Mo  Cauwsu,  tanpa memperdulikan lagi bahwa Tat Mo Cauwsu sesungguhnya seorang -pendeta yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.

Sedangkan Koat Jie yang melihat saudara sepeguruannya telah menyerang Tat Mo Cauwsu  seperti itu, juga tidak tinggal diam. Ia tahu jika saja Cin Liang dibiarkan menyerang seorang dici kepada si pendeta, niscaya akan menyebabkan jiwa Cin Liang terancam baha- ya yang tidak kecil.

Melihat saat itu Tat Mo Cauwsu masih tetap berdiri ditempatnya. Koat Jie juga telah melompat kesamping Tat Mo Cauwsu, dimana senjatanya bergerak untuk menabas batang leher pendeta tua itu. Dengan begitu, Cin Liang bersama Koat Jie telah menyerang si pendeta Siauw Lim Sie itu dari dua jurusan

Siangkoan Cie dan Jiauw Hoat juga tidak tinggal diam. Waktu melihat kawan mereka telah menyerang Tat Mo Cauwsu, mereka juga telah menyerang cakal bakal Siauw Lim Sie tersebut. Gerakan yang telah dilakukan oleh mereka sangat cepat dan gesit sekali, karena memang sebelum Tat Mo Cauwsu datang, mereka telah merencanakan untuk mengadakan penyerangan yang hebat bukan main padanya

Dalam keadaan seperti itu Tat Mo Cauwsu sama sekali tidak berkisar dari tempatnya, dia mengawasi dengan tajam, dan keempat senjata yang tengah menyambar kearah dirinya dari berbagai jurusan itu terus juga meluncur pesat.

Ketika senjata2 itu hampir mengenai sasarannya, dengan gesit Tat Mo Cauwsu telah berkelebat ringan, tahu2 tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata keempat lawannya. Sehingga serangan keempat orang Jie Liong Kauw tersebut jatuh ditempat kosong. Kiranya Tat Mo Cauwsu dengan mengandalkan kesempurnaan ginkangnya, telah melompat dan melewati kepala mereka dan telah berada di luar kalangan.

Tat Mo Cauwsu juga tidak bertindak sampai disitu saja, sebab dia telah menepuk pundak Jiauw Hoat.

Tepukan itu perlahan, akan tetapi Jiauw Hoat merasakan tangannya seperti mati dan kaku tidak bisa digerakkan lagi, senjatanya terlepas dan jatuh berkontrangan.

Sedangkan ketiga saudara seperguruannya yang lainnya terkejut, mereka memutar tubuh masing2, sambil disertai dengan suara bentakan bengis, tampak mereka telah meluruk menyerang pada si pendeta lagi.

Tat Mo Cauwsu hanya menggerakkan tubuhnya kekiri dan kekanan, maka senjata ketiga orang penyerangnya itu telah mengenai tempat kosong. Hanya saja, disebabkan mereka menyerang dengan bernafsu dan mempergunakan tenaga yang berlebihan, dengan sendirinya senjata mereka telah melukai kawan mereka masing-masing.

Mereka bertiga mengeluarkan jerit kesakitan dan melompat mundur. Sedangkan si pendeta masih tetap berdiri tenang-tenang ditempatnya dengan bibir tersenyum sabar.

Sin Han yang menyaksikan cara Tat Mo Cauwsu menghadapi keempat orang murid Jie Liong Kauw tersebut, diam2 dihatinya sangat kagum pada cikal-bakal Siauw Lim Sie ini. Karena dengan demikian memperlihatkan bahwa kepandaian pendeta ini memang hebat luar biasa dan telah sempurna tiada tandingannya, hanya dengan gerakan yang begitu mudah dan tanpa membalas menyerang, dia telah berhasil merubuhkan lawan2nya. Su Tianglo sendiri telah berseru memuji: “Bagus” Sedangkan Su Lian menepuk-nepuk tangan.

Dengan meringis menahan sakit, tampak keempat orang murid Jie Liong Kauw itu telah ber-siap2 hendak menyerang lagi. Hampir seratus lebih murid2 Jie Liong Kauw yang lain2 nya telah mencabut senjata mereka, dan hanya menantikan perintah dari Siangkoan Cie untuk menyerbu mengeroyok Tat Mo Cauwsu.

Siangkoan Cíe sendiri, kecuali terkejut melihat hebatnya kepandaian Tat Mo Cauwsu, juga penasaran. Dengan diiringi dengan bentakan yang mengguntur, tampak ia membacok lagi dengan goloknya. Namun belum lagi golok itu tiba menyambar pundak Tat Mo Cauwsu, cakal bakal Siauw Lim Sie itu telah mengkibaskan lengan jubahnya, tidak ampun lagi Siangkoan Cie terpental dan tubuhnya terbanting keras sejauh lima tombak lebih.

Ketiga saudara seperguruannya menjadi memandang bengong, dan murid2 Jie Liong Kauw yang lainnya telah memandang dengan mata terpentang lebar2, diarn2 nyali mereka juga jadi ciut melihat kehebatan pendeta tua itu.

Koat Jie, Jiauw Hoat dan Cin Liang waktu melihat keadaan Siangkoan Cie seperti itu, mereka telah tersadar dengau cepat dari tertegunnya hampir berbareng ketiganya telah berteriak. “Maju, bunuh pendeta keparat ini” ketiganya telah menerjang lagi, diikuti oleh seratus orang lebih anak buah Jie Liong Kauw yang lainnya.

Mereka menyerang dengan mempergunakan cara mengeroyok seperti ini merubuhkan Tat Mo Cauwsu, jika memang memungkinkan juga untuk membinasakan pendeta yang menjadi cikal bakalnya Siauw Lim Sie itu.

Hal ini memang sengaja diatur oleh Koko Timo, dimana dia tidak keluar dari markasnya itu, karena dia tidak ingin melibatkan diri dalam hal pengeroyokan seperti itu. Dengan tidak munculnya dia, jelas hal ini telah membuat Koko Timo dapat melepaskan tanggung jawabnya, tanpa perlu kelak ditertawai oleh orang-orang rimba persilatan, jika Koko Timo muncul dari markasnya membiarkan murid2nya itu main keroyok seperti ini.

Tat Mo Cauwsu yang berdiri tenang ditempatnya sama sekali tidak memperlihatkan pera saan gugup, karena diwaktu itu dia telah menyaksikan bahwa murid2 dari Koko Timo tersebut, walaupun mereka berjumlah sangat banyak, toh mereka bukan merupakan lawan yang berarti, karenanya, Tat Mo Cauwsu mengawasi saja mereka yang menerjang maju dengan tidak mengadakan suatu gerakan apapun juga. Cuma saja, begitu senjata lawar.2nya itu hampir tiba, dengan gerakan yang ringan dan luar biasa cepatnya Tat Mo Cauwsu telah melompat kesana-kemari. gerakannya itu menyebabkan murid2 Koko Timo itu jadi kacau, karena mereka kehilangan sasaran, dan jika saja mereka meneruskan serangan dan pengeroyokan seperti itu, niscaya akan menyebabkan mereka menyerang satu sama lain sesama kawan.

Dikala murid2 dari Koko Timo itu bingung tiba2 terdengar suara jeritan yang nyaring sekali.

Kiranya Sin Han yang melihat Tat Mo Cauwsu dikeroyok seperti itu, tidak bisa berdiam diri saja. Dia telah melompat ketengah gelanggang dan mengulurkan tangan kanannya, menjambak punggung seorang murid Jie Liong Kauw, kemudian melemparkannya. Tubuh murid Jie Liong Kauw itu terbanting keras sekali ke tanah, dan tidak beruntung justeru perutnya menghantam mata pedangnya, sampai mata pedang itu telah menumblas masuk menembus perutnya terus kepinggangnya. Tidak ampun lagi Jie Liong Kauw yang seorang itu putus napas. Dan sebenarnya Sin Han sama sekali tidak ingin menurunkan tangan kematian kepada murid2 Jie Liong Kauw kematian murid Jie Liong Kauw tersebut hanyalah kebetulan sekali dia tidak bisa menguasai tubuhnya ketika terbantting, sehingga mata pedangnya sendiri makan tuan.

Murid2 Jie Liong Kauw yang lainnya terkejut melihat keadaaan seperti itu. Mereka mengeluarkan seruan gusar ketika tersadar dari tertegunnya, masing2 melompat untuk menyerang dengan senjata tajam mereka. Sebagian menyerang Tat Mo Cauwsu, sebagian lagi dari mereka telah menyerang kepada Sin Han, Su Lian dan Su Tianglo.

Dengan demikian, pertempuran jadi kalut,.

Jika Tat Mo Cauwsu, memang cikal bakal Siauw Lim Sie ini sama sekali tidak memperoleh kesulitan apa juga dalam menghadapi orang2 itu, dimana dia telah membuat kocar-kacir setiap kali cikal bakal Siauw Lim Sie tersebut menggerakkan tangan dan kakinya. Namun, Su Lian dan Su Tiangio sendiri, walaupun memiliki kepandaian yang tinggi, namun tetap saja mereka kewalahan juga menghadapi pengepungan seperti itu, sehingga murid2 dari Jie Liong Kauw dapat mendesak mereka. Itulah disebabkan jumlah mereka yang terlalu banyak.

Sin Han sendiri dengan mengandalkan kelincahannya, tubuhnya berkelebat kesana kemari-dengan gerakan yang sangat cepat, sepasang tangannya telah bergerak, dia dapat merampas senjata lawannya.

Gerakan yang dilakukan oleh Sin Han merupakan gerakan sekadar membela diri belaka jadi bukanlah bermaksud untuk membinasakan atau mencelakai lawan- lawannya. Jika memang keadaan memaksa dan mendesak, barulah Sin Han menurunkan tangan yang Jauh lebih keras lagi, sehingga ada salah seorang lawannya yang terbanting pingsan.

Akan tetapi murid2 Jie Liong Kauw seperti juga telah nekad sekali, karena mereka tanpa memperdulikan keselamatan jiwa masing2 telah menyerang dengan gencar, sehingga membuat Sin Han agak sibuk juga untuk berkelit kesana kemari. Dan suatu kali dengan disertai oleh seruan yang nyaring, Sin Han menggerakkan sepasang tangannya, tampak tiga orang murid Jie Liong Kauw terpental dan tubuh mereka terbanting bergulingan ditanah.

Kemudian kedua tangannya bergerak pula menghantam kekiri dan kekanan, tampak lima orang lawannya telah dibuat terpental olehnya

Sin Han tidak berhenti sampai disitu saja karena beberapa kali dia telah berhasil merubuhkan beberapa orang murid dari Jie Liong Kauw, dengan demikian telah membuat murid murid Jie Liong Kauw lainnya tidak berani terlalu mendesaknya.

Tat Mo Cauwsu seorang beribadah yang saleh, maka setiap kali merubuhkan lawannya dia, mempergunakan cara yang sekiranya tidak membahayakan orang2 yang dirubuhkannya situ. Dia hanya melontarkan mereka, sehingga, akhirnya tidak ada seorangpun dari murid2 Jie Liong Kauw yang berani terlalu mendesak.

Jiauw Hoat, Cin Liang, Siangkoan Cie dan Koat Jie waktu itu juga telah berdiri berendeng. Mereka serba salah, karena maju salah mundurpun tidak dapat, sebab walaupun bagaimana mereka telah memperoleh perintah dari Kauwcu mereka untuk membendung keempat orang tersebut. Dengan demikian, keempat orang Jie Liong Kauw serta saudara2 seperguruannya yang lain, telah berdiri mematung mengawasi ragu kepada Tat Mo Cauwsu dan yang lainnya.

Tat Mo Cauwsu merangkapkan kedua tangannya memberi hormat, katanya: “Silahkan kalian meminta Kauwcu kalian menemuiku” kata-katanya itu sabar sekali.

Sedangkan Siangkoan Cie jadi bingung juga, dia cepat- cepat menyahuti dengan suara tidak lancar. “Jika memang. memang kau ingin bertemu dengan Kauwcu kami, datang saja kemari dua bulan mendatang, kelak tentu Kauwcu bersedia menerimamu untuk bertemu muka”

Tat Mo Cauwsu tersenyum, “Sekarang kau jawablah yang jujur Siecu Sebenarnya Kauwcu kalian berada disini, atau memang dia telah menyembunyikan diri di sebuah tempat lain?” tanya si pendeta.

“Ini.... ini....'' Siangkoan Cie tidak dapat menjawab dengan segera.

“Jawablah yang jujur” kata Tat Mo Cauwsu sambil memperlihatkan senyum bibirnya, akan tetapi sikapnya itu berwibawa dan angker sekali.

“Janganlah menakut nakuti anak2 seperti itu” Tiba2 dari pintu gerbang markas Jie Liong Kauw terdengar seseorang berkata dengan suara yang dingin sekali, tidak enak didengar karena suaranya yang nyaring itu cempreng sekali seperti banci.

Semua orang menoleh, tampak dimuka pintu gerbang dari markas Jie Liong Kauw berdiri seorang tua yang bertubuh kurus jangkung, matanya bersinar tajam, hidangnya mancung sekali, bahkan melebihi dari kemancungan yang wajar, hidungnya sampai bengkok karena  terlalu  mancung,  bibirnya  lebar,  seperti  juga bibir nya itu terpecah sangat lebar. Dilihat dari ke adaannya dia memang bukan seorang Han, tentunya seorang asing.

Tat Mo Cauwsu tersenyum, katanya: “Siapakah Siecu?”

“Hemmm” mendengus dingin orang itu, “Aku adalah sute dari Koko Timo. Namaku Tangki Lalang Hemmm, sejak tadi kulihat bahwa engkau memang mengandung maksud tidak baik, pendeta gundul Kau telah menimbulkan kekacauan disini. Menurut apa yang kudengar dari kakak seperguruanku, bahwa dia terluka olehmu beberapa hari yang lalu, dan sekarang muridnya itu telah kau acak-acak sedemikian rupa,”

Tat Mo Cauwsu tersenyum, katanya: “Jika memang Koko Timo bersedia menemui Loceng, tentu tidak akan terjadi urusan yang tidak menggembirakan ini” Sambil berkata, begitu, Tat Mo Cauwsu juga berpikir: “Hemm tampaknya adik seperguruan Koko Timo ini bukan orang sembarangan, dia tampaknya memiliki kepandaian yang tinggi sekali.”

Tangki Lalang tertawa dingin, dia melangkah menuruni undakan tangga dan kemudian katanya: “Baiklah Karena kau selalu memaksa ingin bertemu dengan kakak seperguru- anku itu, sedangkan kakak seperguruanku tidak dapat menemui, maka biarlah aku yang mewakilinya. nah, sesungguhnya ada sangkutan dan dendam apakah antara kalian?”

Murid2 Jie Liong Kauw waktu itu telah mundur menjauh, mereka sangat girang dengan munculnya Tangki Lalang, karena dengan demikian mereka tidak perlu berkuatir lagi menghadapi Tat Mo Cauwsu berempat, karena merekapun telah memiliki tulang punggung yang kuat, dimana mereka mengetahui bahwa kepandaian yang dimiliki Tangki Lalang tidak berada disebelah bawah kepandaian Koko Timo

Karena itu, cepat sekali mereka hanya mengambil sikap mengurung saja dalam jarak yang cukup jauh dari kalangan itu. Sedang kan JiauwHoat berempat dengan Cía Liang, Síangkoan Cíe dan Koat Jíe teíaht mengawasi bengis dengan bibir tersenyum mengejek. Mereka yakin, jika memang Tangki Lalang bisa menghadapi Tat Mo Cauwsu, maka Sin Han Su Lian Tan Su Tiangío tentu dapat mereka hadapi.

Tai Mo Cauwsu waktu itu telah merangkapkan sepasang tangannya, katanya: “Sesungguhnya Loceng telah mencari Koko Timo sejak beberapa tahun yang lalu, dimana sejak masih berada di Persia Locengpun telah mencari jejaknya. hemmmm, hemmmm, jika Siecu memang adik seperguruannya, tentu Siecu telah mengetahui urusan itu se- jelas2nya”

Tangki Lalang tertawa dingin, katanya: “Sejak puluhan tahun yang lalu kita berpisah karena itu apa yang dilakukan oleh kakak seperguruanku tidak diketahui dengan jelas Hemmm, jika memang demikian baiklah Kalau saja dalam urusan ini dapat di selesaikan dengan cara yang baik, itu lebih bagus lagi. Akan tetapi jika kau terlalu mendesak kepada kakak seperguruanku itu, biarlah aku mewakili menerima satu dua pukulan dari kau, wahai pendeta yang sombong”

Waktu berkata begitu, Tangki Lalang memperlihatkan sikap yang keras, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sekali.

Tat Mo Cauwsu dengan sabar mengangguk, “Jika saja memang Koko Timo bersedia kembali ke Persia dan berjanji tidak akan melakukan kejahatan pula selama sisa hidupnya, tentu Loceng juga tidak akan memusingi diri dengan urusannya Akan tetapi kejahatan?, yang dilakukannya sanga ber-tumpuk2, dimana jiwa manusia dianggapnya sebagai jiwa kecoa. Jika memang Siecu ingin mewakilinya, mungkin hai itu bukan berdasarkan keinginan yang tulus dari hati Siecu, melainkan untuk memenuhi permintaan Koko Timo yang mungkin telah meminta bantuan dan pertolongan kepada Siecu Bukankah begitu?”

Muka Tangki Lalang berobah merah padam, dia menjadi gusar, “Aku tidak perlu berdebat-bicara dengan sebangsa manusia keparat seperti kau” kata Tangki Lalang dengan suaranya yang keras sekali, kedua tangannya mendadak sekali menyambar dengan gerakan luar biasa, dimana dia telah menyampok dengan kekuatan Lwekang yang menyesakkan napas Tat Mo Cauwsu

Diam2 Tat Mo Cauwsu jadi terkejut, karena dia melihat bahwa Tangki Lalang memang bukan sebangsa manusia yang lemah, tenaga Iwekangnya itu sangat kuat, juga memiliki sifat yang aneh, yaitu panas seperti juga me- nyambarnya api.

Diantaranya menderu-derunya angin serangan dari Tangki Lalang, tampak Tat Mo Cauwsu telah mengelakkan diri kesamping kanan kemudian mengibas tangan kanannya diiringi seruannya: “Siecu ternyata memiliki ilmu silat yang sesat”

Tangki Lalang telah tertawa dingin: “Sesat atau tidak, yang terpenting bisa atau tidak kau menandingi kepandaianku”

Tat Mo Cauwsu sendiri merasa heran, mengapa setiap kali menyerang, tenaga dari Tangki Lalang semakin kuat dan semakin hebat. Jika serangannya tidak mengenai sasarannya, Tangki Lalang akan menyusuli pula dengan serangan berikutnya, dan serangannya ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.

Hal ini membuat Tat Mo Cauwsu benari tidak mengerti. Semula dia menduga bahwa Tangki Lalang memang mempergunakan taktik menyerang dengan bertahap, yaitu semula dia mempergunakan empat bagian dari tenaga serangan Lwekangnya, kemudian meningkat menjadi lima bagian, enam bagian dan seterusnya. Akan tetapi setelah bertempur sekian lama, akhirnya Tat mo Cauwsu melihat bahwa tenaga serangan itu memang semakin hebat juga, tentu didalam ini terdapat sesuatu yang tidak beres.

Cepat sekali Tat Mo Cauwsu telah mengerahkan tenaga dalamnya, waktu sewaktu kali Tangki Lalang menyerangnya, dia telah menangkis dengan memusatkan enam bagian dari tenaga dalamnya, gerakannya itu telah menyebabkan tenaga serangan yang dilakukan oleh Tangki Lalang terbentur hebat, dan mereka berseru kaget, karena dia merasakan tubuhnya seperti juga terdorong dengan kuat oleh suatu tenaga raksasa.

Tubuh Tangki Lalang telah terhuyung satu langkah. Walaupun hanya satu langkah, akan tetapi ini memiliki arti yang sangat besar sekali, karena disaat mana telah dipergunakan oleh Tat Mo Cauwsu untuk mendesaknya.

Diantara men-deru2nya angin serangan kedua orang itu, tubuh mereka juga berkelebat kesana kemari dengan gerakan yang eepat sekali, setiap kali serangan yang dilakukan Tat Mo Cauwsu maupun Tangki Lalang telah menyebabkan batu2 kerikil yang kecil dan pasir beterbangan.

Murid2 Jie Liong Kauw malah telah mundur jauh sekali membuka kalangan lebih luas karena mereka tidak sanggup berdiri diam ditempat mereka terkena dorongan angin serangan Tat Mo Cauwsu maupun Tangki Lalang.

-oodwoo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 13"

Post a Comment

close