Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 09

Mode Malam
JILID: IX

TERPAKSA Ban Hun Shia Kwan Hu Thong menarik pulang tangannya membatalkan serangannya. Dan dia melompat mundur dengan muka berubah merah padam, berubah lagi pucat, lalu kehijau-hijauan, karena dia gusar sekali, sampai dadanya dirasakan ingin meledak. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, Tat Mo Cauwsu selalu bergerak dengan seenaknya, bahkan sama sekali dia tidak menggerakkan tangan dan tubuhnya berlebihan, merupakan gerakan yang ayal-ayalan, namun setiap sasaran yang di incarnya merupakan sasaran yang memaksa Kwan Hu Thong selalu membatalkan serangannya. Dengan demikian Tat Mo Cauwsu belum pernah membalas menyerang, justru Kwan Hu Thong sendirilah yang takut akan akibat dari serangannya sendiri yang bisa mencelakai dirinya, jika memang dia terlalu mendesak dan memaksa dengan serangannya itu, dan selalu dia terpaksa membatalkan serangannya dengan penjagaan yang begitu hebat oleh Tat Mo Cauwsu.

Hal ini juga memperlihatkan bahwa Tat Mo Cauwsu benar2 memiliki kepandaian yang benar2 sempurna sekali.

Tiat Tauw Kie sendiri berulang kali melihat gurunya membatalkan serangannya. Padahal dilihatnya bahwa gurunya itu sama sekali tidak diserang hebat oleh Tat Mo Cauwsu.

Diam2 Tiat Tauw Kie jadi terheran2, dia tidak mengerti, mengapa gurunya yang biasanya tangguh, kini dihadapan Tat Mo Cauwsu seperti berobah jadi seorang pengecut, dan setiap kali dia menyerang dan belum lagi serangannya itu mencapai sasarannya, dia selalu menarik puiang kembali serangannya tersebut. Dengan demikian, Tiat Tauw Kie jadi geregetan sendirinya.

Sama sekali Tiat Tauw Kie tidak mengetahui bahwa gurunya beberapa kali bagaikan lolos dari lubang jarum. Jika saja kepandaian Ban Hun Shia kurang sempurna, tentu ia akan menjadi korban yang mengecewakan sekali di tangan Tat Mo Cauwsu. Dan berkat memang kepandaian Ban Hun Shia yang sempurna, sehingga membuat dalam pertarungan beberapa jurus dia tidak menjadi korban kesembronoannya itu. Bakan main penasarannya Ban Hun Shia, dia berdiri tertegun sejenak untuk mengatur jalan pernapasannya. Dilihatnya beberapa manusia tengah mendatangi dengan cepat dan ringan.

Ternyata Toajing bersama beberapa orang Persia  lainnya telah datang ke tempat tersebut. Mereka terkejut, tapi melihat Tat Mo Cauwsu sang Buddha Hidup Kedelapan itu, tetap tenang dengan senyum yang sabar, mereka tidak berkuatir untuk Tat Mo Cauwsu, karena mereka memang mengetahui akan kesempurnaan ilmu Buddha Hidup Kedelapan tersebut. Lalu menyusul Sam Liu Taisu, Sin Ceng Taisu. dan murid2 Siauw Lim Sie lainnya telah berdatangan.

Melihat itu, Tat Mo Cauwsu merangkap sepasang tangannya, dia memberi hormat kepada Ban Hun Shia.

“Siancail Siancai! Maafkan Loceng tidak bisa menemani Siecu main-main lebih lama. Dan jika memang Siecu telah kembali ke tempat Siecu, nanti Siecu pikirkan perlahan lahan akan apa yang Loceng katakan tadi, tentu kepandaian Siecu akan jauh lebih sempurna!” 

Baru saja Tat Mo Cauwsu berkata sampai disitu, justru Ban Hun Shia mengeluarkan suara bentakan yang bengis sekali, ia melompat sambil menghantam dengan mempergunakan delapan bagian tenaga dalamnya.

Tat Mo Cauwsu tidak menyangka orang akan menyerang dengan cara setengah membokong. Bukankah Ban Hun Shia merupakan seorang datuk persilatan yang namanya sangat harum? Inilah yang membuat Tat Mo Cauwsu jadi kurang senang.

“Orang ini benar2 tampaknya tersesat, jurus2 ilmu silatnya itupan merupakan aliran sesat!” berpikir Tat Mo Cauwsu, dilihatnya serangan lawannya sudah dekat sekali, maka pendeta sakti Siauw Lim Sie tersebut mengibaskan lengan jubahnya.

Luar biasa sekali. Cepat bukan main terjadi benturan yang keras dan kuat. Tubuh Tat Mo Cauwsu tergetar sedikit, tapi pendeta sakti Siauw Lim Sie ini berdiri tegak ditempatnya tanpa bergeming, dan diapun masih tersenyum sabar, wajahnya juga tidak berubah.

Yang hebat adalah Ban Hun Shia. tubuhnya terpental empat tombak lebih. Dia berjumpalitan sambil menahan napas, agar tidak perlu sampai terbanting. Tubuhnya meluncur turun dan dia bisa berdiri tegak kembali. Di tangan kanannya tampak tercekal ujung lengan jubah sipendeta Siauw Lim Sie, sedangkan ditangan Tat Mo Cauwsu sendiri tampak tercekal secarik potongan kain dari baju didekat dada Ban Hun Shia!

Rupanya dalam waktu beberapa detik itu, yang terjadi benturan tersebut, baik Tat Mo Cauwsu dan Ban Hun Shia telah saling mengeluarkan kepandaian mereka. Tangan mereka bergerak begitu cepat, sehingga selain Sam Liu Taisu maupun Sin Ceng Taisu, yang lainnya tidak melihat gerakan kedua orang itu. Mereka masing2 ternyata berusaha mencengkeram waktu tangan mereka saling bentur. Ban Hun Shia berusaha mencengkeram bagian ketika dari pendeta sakti Siauw Lim Sie itu, dia berhasil. Untuk menghindarkan diri Tat Mo Cauwsu sudah tidak keburu, karena jubah dibagian dadanya telah kena dicengkeram seperti itu, didekat ketiaknya.

Satu2nya jalan, Tat Mo Cauwsu terpaksa membalas menyerang juga, mencengkeram bagian lengan dari Ban Hun Shia. Tapi Ban Hun Shia mengeluarkan seruan kaget, dia menarik pulang tangannya, yang dijadikan sasaran adalah lengan jubah Tat Mo Cauwsu yang kena dicengkeram robek karenanya. Sedangkan Tat  Mo Cauwsu berhasil cengkeramannya menyebabkan baju didekat dada dari lawannya kena dirobek pecah dan potongan kain itu berada di tangannya.

Ban Hun Shia tertawa dingin, katanya “Bagus, sekarang kita masing2 telah melihat siapa yang lebih unggul. Nah, dilain kesempatan kita bertemu '*'

Setelah berkata begitu, sengaja Ban Hun Shia melemparkan cabikan kain dari ujung lengan jubah Tat Mo Cauwsu ketanah, dengan maksud mengejek pendeta sakti itu.

Tetapi Tat Mo Cauwsu tetap bersikap sabar, dia masih tersenyum dengan wajah tidak berobah sama sekali. Pendeta inipun telah membuang potongan kain baju lawannya, hanya waktu melihat Ban Hun Shia mengajak Tiat Tauw Kie untuk berlalu, Tat Mo Cauwsu telah berseru “Tahan!”

Ban Hun Shia tercekat hatinya, tapi kemudian dia gusar, karena menganggap Tat Mo Cauwsu ingin merintangi kepergiannya. “Oh, kau menghendaki kita mengadu jiwa sampai salah seorang diantara kita terbinasa?”

Tat Mo Gauwsu menggeleng sabar. “Siecu salah paham lagi!” katanya “Ada, sesuatu barang yang terlupa oleh Siecu, nah Siecu terimalah!” Sambil berkata begitu, Tat Mo Cauwsu mengeluarkan dari dalam lengan jubahnya sebatang kipas lipat diangsurkannya.

Muka Ban Hun Shia berobah hebat, jadi pucat.

Jika sebelumnya dia masih beranggapan bahwa kepandaiannya setaraf deagan Tat Mo Cauwsu, mereka setingkat, sebab Tat Mo Cauwsu dapat merobek sepotong kain bajunya, juga dia berhasil merobek sepotong ujung lengan jubahnya. Namun siapa tahu, Tat Mo Cauwsu benar benar liehay. Kipas itu selalu diletakkan didalam, dan tadi tidak merasa tangan Tat Mo Cauwsu telah mengambil kipasnya waktu tangannya belum merobek baju di dadanya, dengan demikian, jika saja ia tadi bermaksud jelek padanya menurunkan tangan maut, berarti dia telah dapat mencelakainya. Dengan muka yang berobah merah, Ban Hun Shia menyambuti kipas yang dilontarkan Tat Mo Ca- uwsu, dia telah menerimanya dengan tangan kanan, dimasukkan ke dalam saku, dengan muka yang merah karena malu dan tanpa mengatakan suatu apapun juga, dia memutar tubuhnya melompat meninggalkan Siauw Lim Sie. Tiat Tauw Kie sendiri juga telah mencelat ikut pergi bersama gurunya.

Tat Mo Cauwsu tersenyum, kepada kedelapan Pelaksana Istana Awan dan murid2nya, ia menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Dan semua orang segera menduga, tentunya kebakaran di belakang kuil Siauw Lim Sie disebabkan oleh Ban Hun Shia yang sengaja menimbulkan kebakaran itu untuk mengalihkan perhatian murid2 Siauw Lim Sie. Bukan main mendongkolnya mereka. Namun Tat Mo Cauwsu justru telah menghibur mereka, dan juga dia mengatakan kerusakan akibat kebakaran itupun tidak terlalu hebat, dan mudah untuk diperbaikinya.

-oodwoo-

BAN HUN SHIA Kwan Hu Thong berlari dengan gesit sekali menuruni gunung Siauw Sit San, dibelakangnya tampak mengikuti muridnya yang nomor tiga, yaitu Tiat Tauw Kie. Waktu itu Ban Hun Shia tengah diliputi kegusaran dan penasaran yang sangat, karena Tat Mo Cauwsu telah merubuhkannya begitu mudah, tanpa bertempur   berTsungguh2,   dimana   tampaknya   Tat   Mo Cauwsu sama sekali tidak memberikan perlawanan, namun akhirnya justru dirinya yang telah dirubuhkan begitu mudah. Dan hal itu memang hati kecil Kwan Hu Thong mengakuinya bahwa kepandaian Tat Mo Cauwsu benar2 luar biasa dan memiliki kehebatan yang tidak pernah dimiliki orang lain.. Kelebihan lainnya adalah kesabaran Tat Mo Cauwsu yang memiliki kesabaran tidak pernah tergoyahkan walaupun telah diserang seperti itu oleh Ban Hun Shia, sama mudahnya seperti juga pendeta itu hanya membalikkan telapak tangannya.

Namun, walaupun telah menyaksikan bahwa Tat Mo Cauwsu tidak percuma memakai gelar Guru Besar, sebab kepandaiannya yang luar biasa itu, namun Ban Hun Shia tetap penasaran dan mendongkol sekali.

Di hati kecilnya telah tersimpan rasa dendam, dan dia ingin pergi kesuatu tempat, untuk mengurung diri dan berlatih sekuat tenaga guna mencapai puncak kesempurnaan yang lebih tinggi lagi. Dia digelari Ban Hun Shia atau Selaksa Arwah Sesat, karenanya pikirannyapun selalu diliputi oleh kesesatan. Diapun telah berpikir, jika memang ia menghubungi datuk2 lainnya, untuk bantu mengepung Tat Mo Cauwsu, maka Guru Besar itu tidak berdaya. Memang Ban Hun Shia dirubuhkannya dengan mudah, namun dia hanya seorang diri. Jika memang ia ber- sama2 keempat datuk lainnya mengepung Tat Mo Cauwsu, walaupun bagaimana tingginya kepandaian Guru Besar itu, tidak nantinya Tat Mo Cauwsu bisa sekaligus menghadapi mereka berlima. Datuk2 persilatan yang masing2 memiliki kepandaian yang sempurna.

Tiat Tauw Kie menyaksikan gurunya berlari seperti itu, telah mengikuti dengan mengempos seluruh kekuatannya. Karena dia telah berusaha menyusul gurunya, namun sia2 belaka,  selalu  tertinggal  dibelakang,  napasnya  juga  telah memburu keras sekali, karena waktu itu dia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat berlari secepatnya, namun tetap ia tidak bisa mengimbangi lari gurunya yang begitu cepat dan gesit, malah akhirnya Tiat Tauw Kie sendiri yang menderita, napasnya memburu, sepasang kakinya letih bukan main, keringat telah mengucur deras dari sekujur tubuhnya.

Jika saja dalam keadaan biasa, tentu dia akan meneriaki gurunya, agar berhenti sebentar, supaya dia bisa beristirahat. Namun Tiat Tauw Kie mengetahui gurunya waktu itu tengah gusar sekali, penasaran karena dirubuhkan Tat Mo Cauwsu, dan ia kuatir, jika ia meminta gurunya berhenti untuk beristirahat, ia bisa dilimpahkan penasaran gurunya itu, di mana ia akan dijadikan sasaran gurunya melampiaskan kemarahannya itu. Karena Tiat Tauw Kie telah berdiam saja, hanya dia mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya untuk berlari lebih cepat, walaupun telah lelah, namun dia terus juga berusaha untuk mengejarnya.

Ban Hun Shia rupanya mengetahui juga muridnya yang tertinggal jauh. Akhirnya ia berhenti berlari ditepi samping gunung yang curarn sekali. Dijalan kecil itu, jika seseorang, tergelincir dan masuk kedalam jurang, walaupun kepandaiannya tinggi luar biasa, jangan harap orang tersebut bisa selamat, tentu akan menemui ajalnya didasar jurang yang curam dan sangat dalam itu.

Tiat Tauw Kie tiba dihadapan gurunya dengan napas yang memburu, mukanya merah-padam, keringat memenuhi wajah dan tubuhnya, sehingga  pakaiannya basah kuyup.

“Suatu saat kita harus kembali kemari, untuk mengadakan perhitungan dengan pendeta keparat itu” menggumam Ban Hun Shia. Tiat Tauw Kie mengiyakan.

“Jika memang aku hari ini dirubuhkan oleh pendeta keparat itu, hal itu diperolehnya karena dia memiliki semacam ilmu sihir jadi ia mengaku sebagai Guru Besar dari pintu perguruan yang lurus, namun kenyataan yang ada, ia seorang pendeta yang sesat, dan juga memiliki ilmu sihir yang akan dipergunakan terhadap lawan2nya. Jika tadi ia mengadakan perlawanan padaku dengan mempergunakan ilmu silat biasa saja, tentu aku tidak mungkin rubuh ditangannya'! Nah, Tauw Kie, kau tentu melihatnya, bukan bahwa pendeta itu sama sekali tidak berusaha untuk memberikan perlawanan, hanya setiap kali dia menggerakkan tangannya, maka tenagaku seperti lenyap, dan itu berarti dia telah mempergunakan ilmu sihirnya. Dengan demikian, aku jadi tidak berdaya untuk mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenagaku. Dan jika aku harus bertempur terus dengannya, jelas aku akan dirugikan tidak sedikit olehnya. Karena itu aku memutuskan untuk berlalu dulu. Nanti aku akan membicarakan perihal pendeta India yang keparat itu, yang ingin menjagoi Tienggoan dengan mempergunakan bantuan ilmu sihirnya itu pada keempat Datuk lainnya. Jika memang pendeta itu membahayakan, maka lebih baik kami berlima memberantasnya”

Tiat Tauw Kie mengangguk, “Ya suhu. seperti suhu lihat, kepandaian silat dari pendeta itu dan murid-muridnya tidak terlalu hebat, tetapi yang sulit dihadapi adalah ilmu sihirnya! Seperti tecu telah katakan, bahwa tecu telah dirubuhkan dengan ilmu sihir dari murid Tat Mo Cauwsu” kata Tiat Tauw Kie.

Ban Hun Shia mengangguk. “Ya, jika memang demikian, kita harus berusaha mencari pemecahannya, guna  menghadapi  ilmu  sihir  dari  pendeta  keparat  itu, setelah itu barulah kita berusaha merubuhkan dan menumpasnya!”

Tiat Tauw Kie mengiyakan.

Begitulah, mereka guru dan murid telah menuruni gunung Siauw Sit San.

Tetapi belum lagi mereka tiba dikaki gunung, waktu itu tampak dua orang tengah mendatangi kearah mereka. Tampaknya kedua orang itu ingin mendaki gunung Siauw Sit San tersebut.

Ban Hun Shia perintahkan muridnya berhenti, dia mengawasi dengan tajam, katanya “Yang seorang adalah pendeta asing, sama seperti Tat Mo Cauwsu, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang Han. Siapa mereka? Atau mereka murid2 Tat Mo Cauwsu? Jika mereka memang murid Tat Mo Cauwsu, biarlah aku permainkan mereka untuk melampiaskan, kemendongkolanku”

Setelah berkata begitu, tanpa menantikan jawaban dari Tiat Tauw Kie, tampak Ban Hun Shia telah melompat dengan gesit sekali, guna memapak kedua orang yang ingin mendaki gunung Siauw Sit San atau Siong San itu.

Kedua orang yang tengah mendatangi itu memang seorang pendeta dan seorang lainnya adalah seorang Han. Yang pendeta, dilihat dari pakaiannya, raut mukanya, maupun hidung dan matanya, menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendeta India. Mereka berdua tampaknya heran melihat seseorang dengan gerakan ringan dan lincah sekali telah menghadang dihadapan mereka. Semula waktu mereka melihat Ban Hun Shia bersama muridnya, mereka menyangka bahwa Ban Hun Shia dan muridnya itu baru saja berkunjung ke Siauw Lim Sie untuk bersembahyang, atau memang juga penghuni di Siauw Lim Sie juga. Namun setelah  Ban  Hun  Shia  menghadang  di  hadapan  mereka dengan wajah yang bengis, mata yang memancarkan sinar yang tajam mengandung permusuhan, seketika mereka mengetahui bahwa Ban Hun Shia tidak mengandung maksud baik Karenanya orang Han itu telah maju kedepan dia merangkapkan tangannya: ”Kami ingin pergi ke Siauw Lim Sie, harap Siecu membuka jalan buat kami”

Bola mata Ban Hun Shia mencilak. Dia mendengus tertawa mengejek, katanya ”Kalian sahabat-sahabat Tat Mo Cauwsu?”

Pendeta India itu tersenyum, dia mewakili orang Han  itu menyahuti ”Bisa disebut begitu, bisa juga tidak. Sebelum kami bertemu dengan Tat Mo Cauwsu, kami belum bisa mengatakan apakah kami ini sahabat Tat Mo Cauwsu atau bukan! Harap Siecu mau membuka jalan buat kami! Lolap Bianlu Syamar dan sahabat Lolap ini Thio Yang Lin, ingin pergi menemui Tat Mo Cauwsu! Atau memang Siecu merupakan sahabat dari Guru Besar itu?”

Ban Hun Shia memang sedang uring-uringan, dia tengah mengumbar kemendongkolannya dan penasarannya, dan sekarang melihat pendeta itu adalah seorang pendeta India, sama halnya seperti Tat Mo Cauwsu, Ban Hun Shia berpikir bahwa ini adalah suatu kesempatan yang sangat baik sekali baginya. Karena itu dia ingin menimpahkan kemendongkolannya dan kemarahannya hatinya pada pendeta India yang seorang ini, yaitu Bianlu Syamar.

“Hemm, aku tidak perkenankan kalian mendaki Siauw Sit San, jika memang kalian ingin pergi ke Siauw Lim Sie, kalian harus memberikan penghormatan kepadaku dengan cara berlutut dan menganggukkan kepala kalian sampai tiga belas kali, memberikan penghormatan besar. Barulah aku bersedia mengijinkan kalian mendaki Siauw Sit San!” Muka Thio Yang Lin berobah, dia jadi tidak senang, sedangkan Bianlu Syamar tampak tenang2 saja. Dia bilang dengan suara sabar: ''Jika memang demikian, harap Siecu menjelaskan apa alasan-alasannya untuk pergi ke Siauw Lim Sie harus menjalankan penghormatan besar kepada Siecu, atau memang Siecu memiliki tugas untuk menyambut tamu dengan cara seperti itu atau memang jika ingin bertemu dengan seorang Guru Besar seperti Tat Mo Cauwsu, maka orang yang akan mengunjunginya atau bertemu dengannya, harus memberikan penghormatan besar pada penyambut tamunya?”

Ban Hun Shia telah tertawa mengejek, katanya dengan bengis kasar: “Kau tidak perlu mengoceh panjang lebar. Jika memang kalian mematuhi perintahku, berlutut memberikan penghormatan besar padaku, kalian boleh mendaki terus mendatangi Siauw Lim Sie, tetapi jika tidak, hemmm, hemmm, aku tidak akan membiarkan siapapun berlalu dari tempat ini!”

“Oh, begitu hebat keangkeran Tat Mo Cauwsu, sehingga menempatkan seorang penyambut tamu disini untuk melakukan penghormatan besar” kata Thio Yang Lin yang sudah tidak bisa menahan kemarahannya.

Seharusnya, jika Ban Hun Shia dalam keadaan biasa dan bukan dalam keadaan gusar, juga penasaran seperti itu. tentu dia akan menyadari bahwa kedua orang ini sama sekali bukan sahabat Tat Mo Cauwsu. Seperti apa yang dikatakan Bianlu Syamar maupun Thio Yang Lin, mereka memang belum dan bukan, saling kenal dengan Tat Mo Cauwsu. Akan tetapi justru Ban Hun Shia tengah murka dan penasaran, perkataan Bianlu Syamar dan Thio Yang Lin telah disalah tafsirkan, malah Ban Hun Shia jadi gusar bukan main. “Baik. Memang Tat Mo Cauwsu seorang Guru Besar yang angker, seorang Guru Besar yang sangat hebat dan luar biasa kepandaiannya. Memang kalian pendeta-pendeta dari Thian Tiok memiliki kepandaian yang hebat l Aku Ban Hun Shia Kwan Hu Thong ingin melihat berapa kehebatan kau ini, keledai gundul”

Ternyata Ban Hun Shia telah salah paham. Justru dia menduga kedua orang ini mengagulkan dan membangga- banggakan Tat Mo Cauwsu, karenanya dia jadi tambah murka. Dan disebabkan itu pula, dia telah mengumbar ke- marahannya tersebut.

Bianlu Syamar dan Thio Yang Lin terkejut dan heran, tetapi melihat sikap Ban Hun Shia merekapun menyadari bahwa Ban Hun Shia tidak bermaksud baik pada mereka. Malah, belum lagi mereka sempat berkata-kata lagi. Ban Hun Shia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat dengan gerakan yang gesit bukan main, dia telah mengulurkan tangan kanannya, menghantam kepada Bianlu Syamar

Pukulan yang dilakukan oleh Ban Hun Shia merupakan pukulan yang luar biasa dan bisa mematikan, karena itu Bianlu Syamar terkejut juga. Semula dia menduga Ban Hun Shia dan muridnya itu, Tiat Tauw Kie, hanya orang-orang yang berkepandaian biasa saja. Siapa tahu, begitu dia membuka serangan justru tenaga serangan yang dilakukannya itu luar biasa hebatnya.

Bianlu Syamar tetap bersikap tenang walaupun hatinya tercekat, dia berpikir “Orang ini tampaknya bukan orang sembarangan, kepandaiannya hebat sekali. Namun, mengapa sifatnya begitu ugal-ugalan, terlalu urakan sekali?” Dan sambil berpikir begitu, Bianlu Syamar telah mengegos kesamping, menghindarkan diri dari pukulan Ban Hun Shia. Tetapi Ban Hun Shia yang dalam keadaan gusar itu, menyerang hebat sekali. Dia memang memiliki kepandaian yang tinggi sekait dia gagah dan juga didalam rimba persilatan dia memiliki kedudukan sebagai salah seorang Datuk dari kelima Datuk yaug ada, tidak terlalu mengherankan dalam kemarahan yang meluap seperti itu, Selaksa Arwah Sesat tersebut benar-benar jadi berbahaya sekali.

Bianlu Syamar yang memang selalu bersikap tenang, kali ini jadi berpikir dua kali untuk menghadapi Ban Hun Shia dengan biasa2 saja, karena jika dia tidak segera memberikan perlawanan, dan hanya berkelit kesana kemari, dirinya bisa dirugikan. Setelah dua jurus lewat, dimana Ban Hun Shia dua kali gagal dengan serangannya, Bianlu Syamar juga balas, menyerang. Tetapi pendeta ini menyerang dengan menepukkan tangannya, begitu kedua tangannya saling bentur, menimbulkan suara yang nyaring, diapun berseru: “Ornitohud!” membarengi dengan mana tubuhnya tahu2 berkelebat, dia telah melompat kebelakang Ban Hun Shia, tangan kanannya menepuk, dia menepuk ingin melumpuhkan tenaga Ban Hun Shia dan setelah itu baru memberikan penjelasan padanya.

Ban Hun Shia mengetahui datangnya serangan tersebut, dia tidak berkelit, manda membiarkan punggungnya ditepuk Bianlu Syamar hanya saja dia telah mengerahkan tenaga dalamnya melindungi punggungnya dan juga ia memperkuat kuda2 kedua kakinya.

Begitu punggung terhantam, tanpa menoleh lagi Ban Hun Shia telah menghantam kebelakang, tangannya mengibas dengan kekuatan lwekang yang sangat dahsyat.

Akibat gempuran Bianlu Syamar sebetulnya tidak hebat, dia tidak bermaksud buruk, dan hanya sekedar menepuk beberapa  jalan  darah  dipunggung  Ban  Hun  Shia, dengan maksud agar tenaga Ban Hun Shia lumpuh dan punah dengan demikian dia tentu lebih mudah untuk diberikan pengertian.

Tetapi Bianlu Syamar tidak pernah bermimpi bahwa yang tengah dihadapinya ini adalah seorang Datuk dari kelima Datuk yang menjagoi Rimba Persilatan di Tionggoan ini. Begitu dia berhasil menepuk, dia jadi kaget sendirinya. Punggung Ban Hun Shia lunak sekali selunak kapas, dengan demikian tenaga tepukan itu seperti amblas dan lenyap sendiri.

Sedangkan yang membuat Bianlu Syamar lebih terkejut lagi, belum dia menarik pulang tangannya, justru diwaktu itu Ban Hun Shia telah menghantamnya tanpa menoleh lagi.

Bianlu Syamar cepat2 mengempos semangatnya yang tadi ditepukkan pada punggung Ban Hun Shia tidak ditarik pulang, karena jika dia menarik pulang tangannya yang kanan untuk dipergunakan menangkis kibasan tangan Ban Hun Shia, dia akan terlambat, disaat itu tentunya hantaman Ban Hun Shia telah mengenainya terlebih dulu sebelum tangannya sempat untuk menangkis. Disebabkan itulah Bianlu Syamar telah menangkis dengan tangan kirinya. Tangkisan Bianlu Syamar juga bukan tangkisan biasa karena tenaga menangkisnya itu kuat sekali, untuk mengimbangi kekuatan tenaga dalam yang dipergunakan Ban Hun Shia dalam menyerangnya.

Dua kekuatan raksasa yang luar biasa hebatnya beradu, dimana waktu tenaga dari Bianlu Syamar berhasil membendung tenaga serangan Ban Hun Shia, terjadi ledakan yang dahsyat sekali, tanah di sekitar mereka bukan hanya tergetar saja, melainkan tanah itu seperti tergempur sesuatu dan telah muncrat kesana kemari, dengan batu2 kerikil   yang   berterbangan!   Itulah   suatu   tanda   betapa hebatnya tenaga gempuran dan tenaga menangkis dari kedua orang itu, karena yang satu telah menyerang dengan lwekang yang sudah luar biasa kuatnya, sedangkan Bianlu Syamar telah menangkis dengan kekuatan lwekang yang juga sangat hebat. Dengan demikian, yang menjadi korban adalah tanah itu yang seperti terbongkar dan berhamburan, sedangkan mereka masih tetap berdiri ditempat mereka masing2 dengan tegak, hanya tubuh mereka telah kotor sekali oleh tanah2 dan batu yang berterbangan itu, muka mereka juga kotor sekali.

Ban Hun Shia kaget bukan main. Dia tidak menyangka bahwa Bianlu Syamar demikian lihai. Memang dia menyadarinya, bahwa Bianlu Syamar tidak selihai Tat Mo Cauwsu, namun kepandaian pendeta India yang seorang ini tidak berada dibawah kepandaiannya sendiri.

Ban Hun Shia telah merasakan hebatnya Tat Mo Cauwsu, dimana pendeta yang menjadi cikal bakal Siauw Lim Sie itu hanya dengan gerakan yang mudah sekali berhasil merubuhkannya. Dan Bianlu Syamar ini, hanya memiliki kepandaian yang berimbang dengannya, sebab Bianlu Syamar menghadapi tenaga serangannya yang hebat itu perlu dengan mempergunakan tenaga kekerasan juga.

Sedangkan Tat Mo Cauwsu dengan mempergunakan kelunakan dan tenaga lembek, berhasil merubuhkan Ban Hun Shia.

Dengan demikian Ban Hun Shia mengetahui, Bianlu Syamar tidak sehebat Tat Mo Cauwsu, namun diapun  harus waspada, karena untuk dirinya, Bianlu Syamar merupakan lawan yang berat, karena kepandaian Bianlu Syamar tidak berada disebelah bawahnya. Sebagai salah seorang Datuk dari kelima Datuk yang menjagoi Rimba Persilatan, dengan sendirinya ia menyadari bahwa Bianlu Syamar ini seorang pendeta India yang lwekangnya tidak bisa diremehkan.

Tadi saja waktu tenaga dalam mereka saling bentur, telah membuat Ban Hun Shia merasakan dadanya menyesak. Dengan demikian dia segera dapat mengukur berapa kehebatan kepandaian lawannya.

Tampak Bianlu Syamar telah melompat mundur sambil merangkapkan kedua tangannya, dia juga berseru memuji akan kebesaran Sang Buddha: “Siancai! Siancai, ternyata Siecu merupakan seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali! Mengapa Siecu dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi perlu membawa sikap seperti anak2? Bukankah jika kita bicara secara baik2 kita dapat menyelesaikan kesalah pahaman ini? Jika kita bersikeras terus dengan mengukur kepandaian, tentu kita berdua akan menjadi korban nafsu kita sendiri! Sadarlah Siecu. Kepandaian Siecu mungkin jauh lebih tinggi dari kepandaian Lolap” Sabar sekali waktu Bianlu Syamar berkata begitu.

Ban Hun Shia tengah gusar bukan main, dia sedang ber- siap2 hendak mengadu jiwa. Namun ia jadi tertegun waktu mendengar perkataan Bianlu Syamar yang begitu sabar, dimana seperti juga Bianlu Syamar tidak mau memperlihatkan kecongkakannya, dia malah lelah memuji bahwa kepandaian Ban Hun Shia mungkin berada diatas kepandaiannya, padahal kepandaian dari Bianlu Syamar tidak berada dibawah kepandaiannya. Dalam satu kali benturan yang terjadi seperti itu saja telah memperlihatkan bahwa kepandaian dan lwekang dari pendeta Thian-tok itu tidak berada dibawah tenaga dalamnya. Sebab jika memang Bianlu Syamar berada dibawahnya, tentu pendeta itu sudah siang2 terluka didalam yang parah. Justru kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa mereka berimbang, bukankah setelah terjadinya benturan itu, mereka tidak ada yang terluka?

Tapi mengapa Bianlu Syamar bicara merendah seperti itu?

Untuk sejenak lamanya Ban Hun Shia berdiri tertegun, tetapi kemudian ia tertawa dingin. Setelah ia berpikir sejenak, justru kembali dia salah menafsirkan arti dan maksud perkataan dari pendeta India itu. Bianlu Syamar mengakui bahwa kemungkinan kepandaiannya berada di bawah kepandaian Ban Hun Shia, namun Ban Hun Shia menafsirkan perkataan itu malah sebagai ejekan buatnya. Karenanya dia bertambah gusar, diiringi suara bentakan yang bengis, dia telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya melompat lagi dengan kedua tangan terjujurkan kedepan, dia menghantam saling susul, gerakannya itu di sertai dengan kekuatan Iwekang yang sangat dahsyat sekali.

Bianlu Syamar semula menduga dengan dilawan sabar seperti itu Ban Hun Shia akan menjadi tenang. Siapa tahu, justru si Selaksa Arwah Sesat itu malah samakin ganas. Kedua tangannya yang menyerang itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang bukan main hebatnya, disamping memang angin serangan itu berkesiuran sangat hebat sekali, menimbulkan deru bagaikan angin topan, menerbangkan tanah dan batu2 kecil, menunjukkan betapa hebatnya tenaga serangan tersebut!

Bianlu Syamar juga tidak berani berayal lagi, dia membentak nyaring, karena ia ingin mengerahkan seluruh kekuatan Iwekangnya untuk menyambuti serangan itu. Dan waktu tangan kiri dari Ban Hun Shia meluncur kearahnya, dengan cepat Bianlu Syamar telah menghantam dengan tangan kanannya, tenaga hantamannya itu berhasil juga untuk membendung tenaga serangan Ban Hun Shia yang satu itu. Namun belum lagi Bianlu Syamar bisa bernapas, di waktu itu Ban Hun Shia telah menyerang lagi dengan cepat dan kuat sekali dengan mempergunakan tangan yang satunya, dan tenaga serangan yang dilakukannya itu tidak kalah kuatnya dibandingkan dengan serangannya yang terlebih duhulu tadi.

Bianlu Syamar diam2 memuji akan kebesaran Sang Buddha, karena pendeta dari India ini berpikir, jika melihat cara menyerang dari Ban Hua Shia, maka merupakan cara bertempur yang bisa membahayakan mereka berdua. Karena dari itu Bianlu Syamar telah mengerahkan kekuatan lwekangnya yang tertinggi, pada tingkat kedelapan, jika dia menyambuti dengan lwekang yang lemah dan tidak sepenuhnya, niscaya dirinya sendiri yang akan terbinasa ditangan Ban Hun Shia.

Sedangkan Ban Hun Shia sendiri merasa yakin bahwa serangannya kali ini tentu tidak bisa dihadapi oleh Bianlu Syamar, karena tampaknya Bianlu Syamar memiliki kedudukan yang tidak baik. kuda-kuda kedua kakinya belum lagi bisa berdiri dengan tetap ditempatnya.

Tetapi siapa tahu, begitu tenaga serangan Ban Hun Shia telah menyambar datang, Bianlu Syamar menangkis lagi, tangkisan itu memang tampaknya dilakukan perlahan dan tidak ter-gesa-geia, namun kesudahannya membuat Ban Hua Shia tercekat hatinya. Tenaga tangkisan Bianlu Syamar bukan main hebatnya. Tenaga itu saling bentur dengan kuat ditengah udara.

Kembali terulang, tanah seperti terbangkar oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, dan suara menggeletar yang kuat sekali membuat sekitar tempat itu tergetar. Tubuh Ban Hun Shia tergoyahkan bergoyang-goyang beberapa kali.

Sedangkan Bianlu Syamar sendiri hampir saja tergempur kuda-kuda kedua kakinya. Untung dia masih dapat cepat2 memusatkan tenaga dalamnya pada kedua kakinya, dengan demikian tidak sampai dia terhuyung mundur. Hanya tubuhnya doyong satu kali kebelakang dan telah berdiri tetap lagi.

Waktu itu, tampak Ban Hun Shia menyerang lagi. Kuat bukan main cara menyerang Ban Hun Shia, disamping dia memang mempergencar dan mempercepat setiap serangan yang dilakukannya. Dengan demikian, dia tak mau memberikan kesempatan sedikitpun juga kepada pendeta India itu, guna mengadakan perlawanan.

Melihat dirinya didesak seperti itu oleh lawannya, Bianlu Syamar juga tidak berani berayal. Dengan cepat dia menangkis, mengelakkan dan juga balas menyerang. Setiap serangan yang dilakukannya itu merupakan perlindungan diri yang rapat sekali, sehingga Ban Hun Shia tidak bisa terlalu mendesak.

Begitulah kedua orang itu telah bertempur dengan seru, keduanya terlibat dalam pertempuran tingkat tinggi diantara jago-jago yang memang nyata memiliki kepandaian telah mahir dan mencapai puncak kesempurnaannya dengan demikian tanah dan batu kerikil telah terbongkar dan rusak oleh kekuatan tenaga Iwekang, dari kedua orang yang tengah saling mengukur tenaga, serang menyerang dengan dashyat bukan main.

Berbeda dengan pertempuran antara jago-jago yang memiliki kepandaian yang biasa saja. karena kedua orang ini, Ban Hun Shia dan .Bianlu Syamar, bertempur dengan menggunakan lwekang kelas satu dan mereka juga telah mempergunakan kepandaian yang aneh dan luar biasa.

Tiat Tauw Kie dan Thio Yang Lin yang menyaksikan jalannya pertempuran itu jadi memandang dengan takjub, karena mereka benar2 tidak mengerti bahwa didalam dunia sesungguhnya terdapat kepandaian yang demikian hebat.

Buat Tiat Tauw Kie sendiri memang dia telah mengetahui bahwa gurunya seorang Datuk didalam Rimba Persilatan, seorang Datuk dari kelima Datuk Rimba Persilatan yang ada dan kepandaiannya memang telah mencapai puncak kesempurnaan, namun ia belum pernah menyaksikan gurunya bertempur dengan jago2 yang berarti kepandaiannya.

Tadipun waktu Ban Hun Shia bertempur dengan Tat Mo Cauwsu, justru tampaknya Ban Hun Shia sama sekali tidak berdaya untuk mempergunakan kepandaiannya, sehingga dengan mudah, dan tanpa mempergunakan kekerasan Tat Mo Cauwsu berhasil merubuhkan lawannya itu. Dan Ban Hun Shia seperti juga tidak berdaya mengeluarkan kepandaiannya yang sebenarnya.

Kini menghadapi Bianlu Syamar, Ban Hun Shia telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang ada padanya, dengan demikian Tiat Tauw Kie bisa melihatnya dengan jelas bahwa kepandaian gurunya memang benar2 hebat sekali.

Yang membuat Tiat Tauw Kie jadi heran adalah kepandaian dari Bianlu Syamar, yang tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan kepandaian gurunya sendiri.

“Hemmmm, apakah semua pendeta2 dari India memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan sempurna? Bukankah Tat Mo Cauwsu itu juga seorang pendeta dari India? Dia memiliki kepandaian yang begitu hebat. Sedangkan pendeta India yang seorang ini juga memiliki kepandaian yang demikian hebat. Dengan demikian, jika dihari-hari mendatang aku bertemu dengan pendeta India, aku harus berwaspada, karena selain ilmu silat mereka yang liehay juga tentunya ilmu sihirnya yang luar biasa. Entah pendeta India yang seorang ini, yang menjadi lawan guruku ini memiliki dan pandai akan ilmu sihir atau tidak?”

Sambil berpikir begitu, Tiat Tauw Kie sama sekali tidak lepas mengawasi jalannya pertempuran antara gurunya dengan Bianlu Syamar, karena dia terpukau dan takjub sekali, dan seumur hidupnya, baru kali ini dia menyaksikan pertempuran sehebat itu yang lebih luar biasa, baik batang pohon, batu-batu gunung yang terdapat disekitar tempat itu, telah hancur porak poranda jika terkena pukulan2 dari kedua orang yang tengah saling mengadu ilmu tersebut.

Thio Yang Lin sendiri menggidik, ngilu sekali hatinya menyaksikan pertempuran kedua orang itu, diapun telah berpikir: “Bagus waktu aku bertempur dengannya beberapa waktu yang telah lampau, untunglah dia tidak menurunkan tangan yang terlalu keras. Tidak tahunya kepandaian sipendeta ini memang sangat hebat bukan main!”

Karena berpikir begitu Thio Yang Lin te Sah menghela napas berulang kali. Telah puluhan tahun ia mempelajari ilmu silat, dimana dia berlatih giat sekali, namun kenyataannya memang terlihat jelas dia tidak sanggup memiliki kepandaian yang terlalu luar biasa. Sekarang melihat kepandaian Bianlu Syamar dan Ban Hun Shia, membuat dia semakin tersadar bahwa kepandaian yang dimilikinya itu masih jauh lebih sempurna.

Bianlu Syamar yang waktu itu.tengah saling tempur dan mengukur tenaga dan kekuatan dengan Ban Hun Shia, telah merasakan kalau lawannya ini memang merupakan seorang yang hebat dan tangguh sekali, diam diam si pendeta India ini juga berpikir ”Ternyata di Tionggoan memang terdapat banyak sekali jago-jago Rimba Persilatan yang memiliki kepandaian  yang  tinggi  bukan  main  dan  sempurna. Apa yang pernah kudengar ternyata tidak salah, bahwa orang- orang Tionggoan tidak bisa diremehkan!!”

Karena berpikir begitu Bianlu Syarnar telah mengempos semangatnya, dia pun segera menyadarinya, tidak dapat dia berlaku sungkan, satu kali saja dia kena dirubuhkan oleh Ban Hun Shia, niscaya akan membuat dia bercelaka.

Memang maksud Bianlu Syamar untuk menyudahi pertempuran itu, maksudnya agar mereka berdua tidak mengalami bahaya dan tak menjadi korban dari pertempuran itu sendiri. Namun justru Ban Hun Shia selalu menyerangnya dan mendesaknya dengan hebat, membuatnya harus bertahan dengan kuat dan balas menyerang dengan dahsyat.

Ban Hun Shia waktu itu telah melihatnya bahwa Bianlu Syamar memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dia juga melihat jika memang dia tidak bisa mendesak dan merebut waktu untuk memperoleh kemenangan, niscaya akan membuat dirinya sendiri yang bercelaka. Itulah sebabnya, semakin lama Ban Hun Shia menyerang semakin hebat, setiap kali dia menambah kekuatan tenaga dalamnya, akhirnya dia telah menyerang Bianlu Syamar dengan serangan2 yang seperti juga ingin mengadu jiwa. Dan tidak ada satu serangannya yang lemah, karena dia telah mempergunakan seluruh kekuatan lwekang yang dimilikinya. Malah tubuhnya telah ber-kelebat2 dengan cepat sekali, menyerupai bayangan belaka. Buat orang yang memiliki kepandaian biasa saja tentu akan kabur  pandangan matanya dan tidak bisa melihat jelas Ban Hun Shia maupun Bianlu Syamar.

Thio Yang Lin dan Tiat Tauw Kie sendiri vang menonton pertempuran kedua orang itu merasakan mata mereka ber-kunang2, dimana mereka tidak bisa melihat dengan jelas. Mereka hanya melihat bayangan kedua  orang itu yang berkelebat kesana kemari dengan gesit sekali, sehingga membuat mata mereka tidak bisa mengikuti dengan jelas gerak gerik kedua orang itu.

Sedangkan Bianlu Syamar masih bertempur dengan tenang, walaupun dia telah mempergunakan seluruh kepandaiannya dalam menghadapi setiap terjangan Ban Hun Shia.

Berbeda dengan Bianlu Syamar, justru Ban Hun Shia sendiri mulai tidak sabar, dimana kemarahannya dan penasarannya telah meluap, dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat bengis, suatu kali dia menggerakkan kedua tangannya, dia menyerang dengan hebat sekali, tenaga serangannya itu mengandung kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, karena ia menyerang kali ini seperti juga dia memang, ingin mengadu jiwa.

Bianlu Syamar menghela napas. Dia mengetahui bahwa Ban Hun Shia yang lihai ini. memiliki adat yang aseran dan keras sekali, dia memang berusaha untuk merebut kemenangan. Buat Bianlu Syamar sebenarnya tidak keberatan untuk memberikan kesempatan pada Ban Hun Shia yang muncul sebagai pemenang dalam pertempuran itu. Hanya sayang sekali, Bianlu Syamar pun tidak bisa meloloskan diri dan mengalah, karena begitu dia mengalah, niscaya dirinya sendiri yang akan bercelaka di tangan Ban Hun Shia.

Waktu itu Ban Hun Shia dengan serangan nekadnya itu telah menerjang maju, dan tampak kedua tangannya telah disalurkan seluruh kekuatan Iwekang yang ada padanya, karena pada kedua telapak tangannya itu berobah warnanya, merah ke-hitam2an, dan angin yang kesiuran dari kedua telapak tangan tersebut juga sangat kuat sekali. Jubah Bianlu Syamar sendiri berterbangan dengan tanah disekitarnya seperti terbongkar dengan paksa, berterbangan ber sama2 batu kerikil kecil maupun daun2 kering disitu, tempat itu menjadi bersih.

Ban Hun Shia yang memang telah nekad, meneruskan serangan itu tidak tanggung2, dia memang telah berlaku dengan sikap yang ke pala batu, untuk terluka ber-sama2. Tidak puas hatinya jika dalam pertempuran kali ini dia tidak bisa merebut kemenangan dari Bian lu Syamar.

Waktu pertempurannya dengan Tat Mo Cauwsu, dia telah dirubuhkan begitu mudah. Sebagai salah seorang Datuk dari kelima Datuk yang menjagoi Rimba Persilatan, tentu saja pamornya telah runtuh, dan membuat hatinya tidak puas. Dan sekarang, berhadapan dengan seorang pendeta India juga, dimana ia tetap tidak berdaya menghadapinya untuk segera merubuhkannya. Sama halnya dengan Bianlu Syamar, Tat Mo Cauwsu juga seorang pendeta India. Maka bisa dibayangkan betapa rasa penasaran hati Ban Hun Shia.

Hal itulah yang telah menyebabkan Ban Hun Shia jadi bertekad walaupun harus mengadu jiwa dengan Bianlu Syamar, dia harus berhasil merebut kemenangan dari tangan pendeta India yang seorang ini.

Kalau sampai dia gagal merebut kemenangan, bahkan jika dia dirubuhkan, maka nama besarnya didalam Rimba Persilatan, akan runtuh dan dia menderita malu yang bukan main, menjadi bahan tertawaan dari seluruh jago2 Rimba Persilatan, selanjutnya diapun tidak bisa angkat kepala lagi memandang jago-jago Rimba Persilatan. Hal itulah yang membuat Ban Hun Shia jadi nekad.

Tenaga gempurannya itu disertai tenaga Iwekang yang dahsyat sekali, tetapi yang lebih berbahaya dan luar biasa adalah cara menyerangnya yang mempergunakan gerakan yang begitu aneh. Dengan demikian telah membuat Bianlu Syamar harus berhati-hati dalam menghadapinya. Setiap serangan dari Ban Hun Shia telah dihadapinya dengan tenang dan waspada, disertai dengan pengerakan tenaga dalam yang hebat sekali, seluruh kekuatan sinkangnya telah disalurkan pada kedua tangannya, diapun bukan hanya menangkis belaka. Setiap ada kesempatan Bianlu Syamar telah balas menyerang.

Keringat telah membasahi tubuh mereka berdua, tenaga yang mereka pergunakan pun meletihkan sekali, karena mereka berdua telah mengeluarkan dan mempergunakan tenaga yang berlebihan dan melewati takaran.

Pertempuran seperti itu, antara dua orang jago yang memiliki kepandaian telah mencapai puncak kesempurnaan, sebenarnya dapat membahayakan mereka berdua. Jika mereka berhasil merebut kemenangan, itu pun belum berarti salah seorang diantara mereka yang utuh kesehatannya, sebab mereka bisa terluka didalam yang hebat. Jelas kemenangan yang mereka peroleh belum tentu mutlak merupakan kemenangan. Mereka memiliki kepandaian dan tenaga dalam yang berimbang, dengan sendirinya mereka merupakan orang2 yang telah mempergunakan seluruh kepandaian mereka, salah sedikit saja atau meleset perhitungan mereka, maka mereka akan terluka hebat, karena dari itu, tampak Bianlu Syamar bersikap hati-hati sekali.

Namun pendeta ini tampaknya telah letih sekali. Dia sebenarnya ingin menyudahi pertempuran mereka, sebab Bianlu Syamar beranggapan bahwa pertempuran diantara mereka berdua ini tidak membawa keuntungan buat mereka berdua. Namun Ban Hun Shia telah mendesaknya begitu hebat,    membuat    Bianlu    Syamar    harus    memberikan perlawanan terus. Dengan demikian mereka berdua terlibat terus dalam pertempuran itu, dan walaupun Bianlu Syamar berusaha menghentikan pertempuran itu, tokh dia tidak memiliki kesempatan sama sekali.

Pertempuran kedua orang itu masih juga berlangsung, sampai meliputi ratusan jurus lagi. Tetapi mereka tetap berimbang, tidak ada yang terdesak dan-tidak ada yang berada diatas angin. Karena itu, memperlihatkan bahwa baik ilmu silat mereka, pun juga lwekang mereka memang terlihat jelas berimbang.

“Jika memang kami berdua bertempur dengan cara demikian terus menerus, tentu akhirnya kita berdua akan bercelaka” berpikir Bianlu Syamar. “Lebih baik kuusahakan untuk mempergunakan ilmu sihir mempengaruhinya, agar orang ini bisa dilumpuhkan dulu”

Bianlu Syamar bermaksud untuk mempergunakan ilmu sihirnya karena ia telah lelah, Jika memang pertempuran seperti itu di teruskan niscaya mereka akan terluka bersama. Karena hal itulah, akhirnya dengan tidak memperdulikan apakah lawannya akan puas atau tidak, Bianlu Syamar mulai membaca manteranya. dia berusaha mempergunakan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi lawannya ini.

Semula Ban Hun Shia tidak merasakan pengaruh ilmu sihir itu, tetapi setelah lewat lima jurus lagi, waktu mana Bianlu. Syamar mutlak hanya berkelit dan mengelakkan diri saja maka dia merasakan matanya pedas dan sulit dibuka.

Dan di kala dia memicingkan kedua matanya sejenak, dia tambah terkejut.

Karena dihadapannya, di belakang Bianlu Syamar, dia seperti melihat gumpalan asap tebal sekali, dari balik tirai asap itu seperti melompat seekor harimau putih yang besar sekali, menubruk kepadanya! Ban Hun Shia mengeluarkan seruan kaget dia melompat mundur dengan segera.

Namun biarpun begitu, kedua tangannya telah disampokkannya menghantam batok kepala binatang buas itu. Dia berhasil menghantamnya, hanya saja sayang, justru dia menghantam tempat kosong, dimana dia telah memukul angin saja, harimau putih yang besar itu seperti juga tidak dapat dipukulnya dan merupakan bayangan belaka.

Sebagai seorang yang cerdik, seketika Ban Hun Shia menyadarinya bahwa lawannya telah mempergunakan ilmu sihirnya. Karenanya dengan gusar dia berseru: “Memang kalian dari Thian-tiok selalu merupakan manusia-manusia yang licik, yang hanya pandai merebut kemenangan dengan mempergunakan ilmu sihirnya”

Karena gusar dan penasaran bukan main menduga Bianlu Syamar ingin merebut kemenangannya itu dengan mempergunakan ilmu sihirnya, membuat Ban Hun Shia semakin nekad. Ia membentak tanpa memperdulikan harimau putih yang akan menubruk padanya. Malah Ban Hun Shia seperti menubruk harimau putih itu, dia telah menerjang lagi kepada Bianlu Syamar, kedua tangannya di hantamkan dengan kuat sekali.

Ilmu sihir memang hanya dapat menggertak lawannya, tentu saja harimau ciptaan itu tidak bisa mencelakai lawan, maksud Bianlu Syamar hanya untuk memecahkan perhatian Ban Hun Shia saja.

Sekarang Ban Hun Shia berlaku nekad seperti itu, tidak mengacuhkan harimau putih itu yang diciptakan oleh pendeta India tersebut dan telah menyerang kepada si pendeta, dengan demikian terlihat jelas sekali bahwa serangan yang dilakukan Ban Hun Shia merupakan serangan yang membahayakan Bianlu Syamar. Maka cepat2 Bianlu Syamar menarik pulang ilmu sihirnya, dia menangkis gempuran dari Ban Hun Shia,

“Bukkkk!” kuat bukan main tenaga mere ka saling bentur.

Karena sekarang keduanya memang telah kehabisan tenaga, mereka sangat letih, walau pun memang mereka berdua merupakan manusia-manusia yang memiliki kepandaian hebat sekali, toh waktu itu tenaga mereka seperti telah habis dipergunakan, dengan sendirinya, mereka sudah tidak kuat mempertahankan diri. Terlebih lagi tenaga mereka yang saling bentur saat itu merupakan seluruh sisa kekuatan yang ada pada mereka, waktu terjadi benturan yang kuat, mereka jadi terhuyung2 lima langkah ke belakang.

“Tahan! Hentikan dulu!” mempergunakan kesempatan itu Bianiu Syamar telah berusaha-mencegah Ban Hun Shia menyerang lebih jauh

Ban Hua Shia memang tidak segera menyerang, dia berdiri dengan muka yang merah padam, mata terpentang lebar2, bengis sekali. Dia tengah mengerahkan hawa murninya untuk mengendalikan napasnya, yang memang saat itu sangat memburu sekali. Dan juga dia telah barusaha untuk beristirahat beberapa saat, guna memulihkan kekuatannya.

Sedangkan Bianlu Syamar sendiri setelah mengatur pernapasannya, dengan sabar berkata ”Siecu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, mengapa harus berlaku nekad seperti itu? Jika memang kita berdua bercelaka dalam pertempuran ini, bukankah hal itu harus dibuat sayang? Ilmu yang begitu hebat tentunya diperoleh Siecu dengan bersusah payah dan melewati latihan yang memakan waktu yang sangat lama bukan main. Maka, apakah Siecu tidak bisa bertindak lebih tenang, agar kita bisa membicarakan persoalan apakah sesungguhnya yang membuat hati Siecu tidak puas? Bukankah sebelumnya kita tidak saling kenal, di antara kita juga tidak terganjal oleh sesuatu permusuhan atau dendam? Mengapa kita harus bertempur dengan sikap mengadu jiwa secara nekad seperti ini?”

Ban Hun Shia tidak segara menyahuti, setelah napasnya lancar, dengan muka yang bengis dia menyahuti: “Jika hari ini aku tidak bisa membinasakan kau, pendeta keparat, aku tidak akan menyudahi pertempuran ini! Mari kita bertempur terus, sampai salah seorang di antara kita ada yang mampus!”

“Mengapa harus begitu?” tanya Bianiu Syamar dengan suara yang sabar.

Muka Ban Hun Shia tetap merah padam karena gusar, dia telah mendengus dengan bengis, katanya: “Jika memang manusia seperti kau dibiarkan malang melintang didalam Rimba Persilatan di Tionggoan ini, tentu akan banyak yang menjadi korbanmu, karena engkau seorang pendeta busuk yang mengandalkan ilmu sihirmu untuk merebut kemenangan! Seperti tadi saja, engkau telah berusaha mempengaruhiku dengan ilmu sihirmu itu! Hemm hemmm, perlu kuberitahukan, bahwa orang! Tionggoan tidak jeri berurusan dengan ilmu sihir seperti yang kau perlihatkan itu! Memang telah kuduga sebelumnya, bahwa semua pendeta dari Thian-tiok bukan sebangsa manusia baik2! Seperti Tat Mo Cauwsu, diapun seorang pendeta keparat dari Thian-tiok, dia pun bukan sebangsa manusia baik2, dimana ia selain bermaksud busuk, juga telah mempergunakan ilmu sihirnya untuk, mempengaruhi lawan-lawannya! Jika manusia2 seperti kalian dibiarkan malang melintang didaratan Tionggoan, tentu akan membawa   malapetaka   yang   tidak   kecil   buat   kami  di Tionggoan! Bersiaplah, mari kita bertempur terus sampai salah seorang diantara kita mampus!” Dan setelah berkata begitu, Ban Hun Shia bersiap-siap hen dak menerjang lagi.

Bianlu Syamar tersenyum sabar, katanya: “Ternyata Siecu telah salah paham. Jika memang Siecu tidak juga bersedia mendengar keterangan Lolap, tentu selamanya Siecu akan menaruh syak wasangka yang tidak-tidak terhadap kami dari Thian-tiok!”

Ban Hun Shia Kwan Hu Thong mana mau mendengarkan perkataan Bianlu Syamar? Dia tengah gusar bukan main, karenanya sekarang mendengar perkataan Bianlu Syamar seperti itu, dia mendengus mengejek, karena menduga mungkin juga pendeta dari India ini telah kehabisan tenaga dan terlalu letih, sehingga dia berusaha untuk menyudahi saja pertempuran mereka. Semangat Ban Hun Shia jadi terbangun, ia malah tambah bersemangat untuk bertempur dengan pendeta India ini, karena ia beranggapan inilah kesempatan yang terbaik untuk merubuhkan Bianlu Syamar.

Karena itu Ban Hun Shia tidak membuang buang waktu lagi menghampiri Bianlu Syamar, dia bermaksud untuk menyerangnya lagi Tetapi dia baru melangkah beberapa tin- dak, justru dari arah kaki gunung telah mendatangi dua orang yang menggotong sesuatu sambil ber-lari2, mereka bergerak tidak gesit, menunjukan bahwa mereka tidak memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang ber- arti. Namun, mereka berusaha untuk mendaki dengan cepat. Ternyata kedua orang itu menggotong sesosok tubuh.

“Siapa mereka?” Tiat Tauw Kie menggumam. Sedangkan Thio Yang Lin juga telah melihat kedua orang yang telah menggotong sesosok tubuh itu, dia memandang heran. Ban Hun Shia yang telah melihat kedua orang tersebut, jaga telah memandang heran, sehingga batallah dia menghampiri Bianlu Syamar.

Kedua orang yang tengah berlari-lari mendatangi sambil menggotong sesosok tubuh, yang seorang memegang kedua kaki sosok tubuh itu, sesosok tubuh tersebut, telah tiba di hadapan Bianlu Syamar, Ban Hun Shia dan Thio Yang Lin berdua dengan Tiat Tauw Kie.

“Kami membawa titipan untuk Tat Mo Cauwsu!“ berseru orang yang menggotong di sebelah depan, sambil berhenti berlari, napasnya memburu.

Bianlu Syamar, Ban Hun Shia jadi saling pandang. Mereka bukan orang-orang Siauw Lim Sie, karena itu tidak ada sesuatu yang bisa mereka katakan. Demikian juga halnya dengan Tiat Tauw Kie dan Thio Yang Lin.

Namun waktu mereka berempat bisa melihat jelas sosok tubuh yang di gotong oleh kedua orang tersebut, merasa jadi miris dan hati mereka ngilu.

Ternyata sosok tubuh yang digotong ke dua orang itu adalah seorang yang keadaannya benar benar sangat luar biasa sekali. Sepasang matanya berlubang berlumuran darah, memperlihatkan bahwa kedua biji mata orang itu di korek keluar, dengan sepasang daun telinga yang sapat buntung menguncurkan darah yang mulai mengering, hidungnya juga telah lenyap dengan bibir berlumuran darah juga, karena mulut orang itu telah dirobek pecah!

Didada orang tersebut terdapat sebatang pisau yang tertanam tidak dalam, pisau itu bergoyang-goyang waktu kedua orang penggotongnya berlari-lari, dada itu melesak, membuktikan juga bahwa tulang tulang dada orang itu telah hancur remuk! Itulah keadaan yang mengenaskan sekali. Melihat keempat orang itu tidak ada seorangpun diaatara mereka yang menyahuti, orang yang menggotong disebelah depan, seorang laki-laki berusia empat puiuh tahun lebih, berpakaian sebagai orang desa telah bertanya lagi “Apakah diantara kalian tidak ada seorangpun yang berasal dari Siauw Lim Sie!”

“Kami tidak ada hubungan apa-apa dengan Sutuw Lim Sie!” Sahut Ban Hun Shia dengan suara yang dingin.

“Baiklah! Masih jauhkah untuk mencapai kuil Siauw Lim Sie?” tanya orang itu lagi.

“Kuil Siauw Lim Sie berada di puncak gunung ini, jika kalian dengan keadaan seperti ini, tidak mahir ginkang yang baik, mungkin setengah harian baru akan tiba disana”

“Terima kasih, kami harus cepat-cepat menyampaikan bingkisan ini kepada ketua Siauw Lim Sie itu, yang katanya bergelar Tat Mo Cauwsu” Dan orang itu bersiap-siap ingin, berlari lagi.

“Tunggu dulu!” panggil Bianlu Syamar yang melihat keadaan orang yang digotong itu dan hatinya jadi tertarik sekali ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Sedangkan kedua penggotong sosok tubuh itu memang telah menahan langkah kaki mereka, tanyanya yang disebelah depan: “Ada yang. ingin Taisu tanyakan?”

“Ya. Apa yang telah terjadi pada orang tarsebut?” tanya Bianlu Syamar.

“Kami hanya diberi upah oleh seseorang untuk menyampaikan bingkisan ini kepada ketua Siauw Lim Sie. Apa yang terjadi sebenarnya pada orang ini, kami tak begitu mengetahui!”

“Siapa yang melukainya?'“ “Kami juga tidak mengetahuinya! Kami perlu cepat- cepat menyampaikan orang ini kepada ketua Siauw Lim Sie, karena orang yang memberi upah kepada kami mengatakan, kalau disore hari kami belum tiba di Siauw Lim Sie, kami berdua yang akan dibunuhnya! Maka dari itu, maafkan kami tidak bisa terlalu lama disini, kami harus cepat-cepat tiba di Siauw Lim Sie”

Bianlu Syamar sebenarnya masih ingin menanyakan sesuatu, namun mengingat bahwa orang yang tengah terluka parah itu mungkin memerlukan pertolongan secepatnya dari ketua Siauw Lim Sie, maka dia tidak berani menahannya lagi kepergian kedua orang itu.

Ban Hun Shia sendiri telah menoleh kepada Tiat Tauw Kie, katanya: “Mari kita pergi ke Siauw Lim Sie lagi, untuk melibat apa yang sebenarnya telah terjadi!”

Tiat Tauw Kie mengiyakan.

Begitulah, setelah melirik sejenak pada Bianlu Syamar dengan sikap bermusuhan, Ban Hun Shia telah mengajak muridnya untuk mendaki gunung itu, guna pergi ke Siauw Lim Sie lagi.

Sedangkan Bianlu Syamar juga telah menoleh pada Thio Yang Lin, katanya: “Thio Siecu, tampaknya terjadi sesuatu yang hebat dan aneh pada Tat Mo Cauwsu, kita memang ingin pergi ke Siauw Lim Sie, dengan adanya peristiwa ini, kita harus cepat2 tiba disana. Entah apa maksudnya orang yang melukai orang yang digotong dalam keadaan separah itu dan mengirimkannya ke Siauw Lim Sie?”

“Mungkin juga ingin meminta agar ketua Siauw Lim Sie menyembuhkan orang tersebut” kata Thio Yang Lin.

“Mana mungkin begitu!” kata Bianlu Syamar. “Jika orang  yang  mengirim  orang  terluka  itu  bermaksud  baik, tentunya dia akan turut serta, guna memohon kepada ketua Siauw Lim Sie itu menolongi orang terluka tersebut, tetapi kenyataan yang ada, dia hanya memberi upah kepada kedua orang itu, untuk mengirimkannya ke Siauw Lim Sie. Dengan demikian, tentu orang itu sama sekali tidak mengandung maksud baik! Mari kita cepat2 pergi ke sana untuk melihat apa sesungguhnya yang telah terjadi”

Thio Yang Lin setuju, merekapun telah mendaki terus. Di sebelah depan tampak Ban Hun Shia tengah ber-lari2 dengan muridnya, mereka tidak terlalu cepat berlari mendaki, karena justru kedua orang yang menggotong orang yang terluka itupun tidak memiliki ginkang yang berarti, sehingga kedua orang itu berlari dengan perlahan. Dengan sendirinya Ban Hun Shia telah mengikuti perlahan saja.

Bianlu Syamar dan Thio Yang Lin pun tidak ter gesa2 dan mengikuti perlahan saja.

Lewat beberapa saat, akhirnya kedua orang yang menggotong orang yang terluka itu telah tiba didepan kuil Siauw Lim Sie. Salah seorang diantara mereka telah mengetuk pintu kuil, dan tidak lama kemudian pintu kuil telah terbuka. Seorang pendeta telah keluar menerima mereka.

Sambil merangkapkan kedua tangannya pendeta tersebut telah bertanya: “Ada urusan apakah Jiewie datang kemari? Apakah Jiewie memang ingin bersembahyang?”

Salah seorang dari kedua orang itu telah menghampiri, dia membalas hormat dari si pendeta, baru kemudian berkata setelah napasnya lebih teratur: “Sebenarnya kami tidak memiliki hubungan apa-apa dengan orang yang terluka ini.....” Dan dia menunjuk kepada orang yang terluka parah itu, yang diletakkan ditanah. Pendeta penyambut tamu itu memandang heran dan terkejut, dia melihat orang itu terluka demikian hebat, karenanya dia pun merasa miris dan bercuriga, dia bertanya dengan suara ragu2: “Apa yang telah dialami oleh orang itu. Mengapa dia terluka begitu hebat?”

Orang yang tadi menggotong orang terluka tersebut telah merogoh sakunya, dia mengeluarkan sepucuk surat, yang digulung dan kemudian memberikannya kepada pendeta penyambut tamu tersebut, katanya: “Seseorang telah meminta pada kami agar membantunya mengantarkan orang ini kepada ketua Siauw Lim Sie, yaitu Tat Mo Cauwsu, juga menitipkan surat ini!”

Pendeta penyambut tamu itu tambah bimbang, dengan mata bercuriga dia telah mengawasi kedua orang penggotong sosok tubuh itu dengan sinar mata ber-tanya2, diapun kemudian berkata bimbang: “Jika demikian, sesungguhnya persoalan apakah yang telah terjadi?”

“Kami tidak tahu-menahu, tetapi kami hanya dititipkan orang ini. Dan harap Taisu menerimanya, untuk menyampaikannya nanti kepada Tat Mo Cauwsu!”

Pendeta tersebut menyambuti surat yang diangsurkan kepadanya, dia melihat surat itu dialamatkan memang benar untuk Tat Mo Cauwsu. Akhirnya pendeta tersebut meminta kedua orang penggotong orang terluka itu menanti, dia masuk kedalam. Tidak lama kemudian pendeta itu telah keluar pula bersama Sam Liu Taisu.

Dengan sabar dan tenang Sam Liu Taisu merangkapkan kedua tangannya, tanyanya: “Apakah Jiewie orang2 dikampung yang terletak dikaki gunung ini?”

Kedua orang itu mengangguk hampir berbareng. “Ya. memang kami penduduk kampung Su-kingcung, kebetulan tadi  pagi  kami  telah  diminta  oleh  seorang  lelaki  berusia tujuh puluh tahun, katanya dia memiliki titipan buat Tat Mo Cauwsu dikuil Siauw Lim Sie dan meminta agar kami mau membantunya untuk menyampaikan titipannya itu. Sebagai upahnya diberikan kepada kami dua puluh tail perak. Kami pikir, inilah rejeki yang baik sekali buat kami. Paling lama kami memerlukan waktu satu harian guna pulang pergi turun naik di gunung Siauw Sit San. Kami menerima permintaannya itu. Tapi ternyata barang titipan itu luar biasa sekali, yaitu seorang yang terluka hebat seperti ini. Kami telah terlanjur menerima permintaannya, dan kami tidak bisa membatalkannya. Karena itu kami telah memenuhi janji kami untuk mengantarkan orang terluka ini kepada ketua Siauw Lim Sie. Dan memang kini kami telah melakukan tugas kami dengan baik. kami telah mengantarkannya sampai disini. Dan tugas kami ini telah selesai, harap Taisu yang menyampaikannya pada ketua Siauw Lim Sie!”

Sam Liu Taisu tersenyum sabar, lalu tanyanya ”Apakah orang yang mengirimkan titipan istimewa, itu tidak menyebutkan namanya?”.

Kedua orang itu menggeleng. “Dia hanya berkata pada kami, bahwa nama dan gelarnya telah tertulis didalam suratnya itu!” sahut yang seorang.

Sam Liu Taisu mengangguk,

“Baiklah, bingkisan istimewa ini kami terima. Terima kasih atas jerih payah kalian berdua” kata Sam Liu Taisu sambil memberi hormat.

Kedua orang itu mengangguk. Mereka telah memutar tubuhnya untuk berlalu.

Sam Liu Taisu telah menoleh kepada pendeta penyambut tamu, diperintahkannya agar orang yang terluka itu dibawa masuk kedalam kuil. Pendeta penyambut itu telah memanggil seorang saudara seperguruannya dan membawa masuk orang terluka tersebut. Mereka membawanya ke sebuah kamar dan diletakkannya di pembaringan yang cukup bersih,

Orang yang terluka parah itu sama sekali tidak sadarkan diri, namun diapun belum putus jiwa, karena dia masih bernapas lemah sekali.

Sam Liu Taisu telah menghadap Tat Mo Cauwsu dan segera melaporkan apa yang telah terjadi itu, dia menceritakan perihal adanya titipan atau tegasnya kiriman yang luar biasa itu. Lalu memberikan surat titipan dari orang yang mau mengirim orang terluka parah itu ke Siauw Lim Sie.

Tat Mo Cauwsu menyambuti surat itu, dia membuka dan membacanya, ternyata isi surat tersebut singkat saja, bunyinya antara lain:

“Orang ini kupersembahkan buat Tat Mo Cauwsu Siauw Lim Sie. Sembuhkanlah jika kau memang benar2 memiliki kepandaian tinggi dan sempurna! Dari Beng Sam Cie!”

Tat Mo Cauwsu terkejut. Dia mengetahui siapa adanya Beng Sam Cie. Walaupun belum, pernah bertemu dengannya, tetapi Tat Mo Cauwsu mengetahui Beng Sam Cie adalah salah seorang datuk dari Ngo-ok. kelima datuk lainnya dan memang Beng Sam Cie merupakan Ngo-ok, datuk kelima yang menduduki daerah kekuasaan di Timur. Dia bisa mengirimkan bingkisan istimewa ke Siauw Lim Sie ini benar2 merupakan ha! yang sangat luar biasa sekali yaitu Beng Sam Cie bermaksud untuk mencari urusan dengan pihak Siauw Lim Sie!

Belum lama yang lalu justru Sam Ok yaitu Ban Hun Shia Kwan Hu Thong telah datang ke Siauw Lim Sie, dan kini telah datang Ngo Ok Datuk kelima itu. Dengan demikian membuat Tat Mo Cauwsu jadi berpikir keras. Karena melihat keadaan seperti ini, tentu akan membuat dirinya menghadapi hal-hal yang tidak ringan, dimana Ngo Ok, kelima Datuk nampaknya memang ingin mencari urusan dengannya. Bukankah Sam Ok saja masih penasaran dan suatu waktu kelak tentu akan menyatroni lagi Siauw Lim Sie.

Kelima datuk itu merupakan datuk2 yang memiliki kepandaian sama sempurnanya dan merekapun sama-sama tangguhnya, tidak ada salah seorang dari kelima datuk itu yang kepandaiannya lebih tinggi atau lebih rendah. Namun yang membuat Tat Mo Cauwsu kurang gembira, justru Ngo Ok ini tampaknya memiliki tangan yang telengas sekali, karena selain melukai seseorang, justru dia menganiaya demikian hebat, sehingga orang itu terluka dengan sebutan mati tidak hiduppun tidak. Inilah yang membuat Tat Mo Cauwsu tidak senang. 

Dan yang dipikirkan oleh Tat Mo Cauwsu entah apa maksud dari Datuk nomor lima itu mengirimkan bingkisan istimewa ini. Sedangkan Ngo Ok sendiri tidak ikut serta.

“Baiklah, raari kau ikut denganku antuk melihat keadaan orang itu!” kata Tat Mo Cauwsu sambil bangkit dari duduknya, ber-sama2 Sam Liu Taisu telah pergi ke kamar dimana berada orang yang terluka itu, kemudian memeriksanya.

Waktu melihat keadaan orang itu, Tat Mo Cauwsu menghela napas berulang kali dengan wajah  muram, diapun telah berkata dengan suara yang perlahan: “Tampaknya Ngo Ok seorang yang sangat telengas sekali! Hemm,, Beng Sam Cie! Beng Sam Cie! Rupanya memang keadaan ini akan memancing sesuatu kerusuhan yang tidak kecil! Belum lama yang. lalu Sam Ok Ban Hun Shia Kwan Hu Thong, telah mencari urusan di Siauw Lim Sie, seka- rang menyusul Datuk nomor lima ini. Dilihat demikian memang Siauw Lim Sie akan menghadapi hal-hal yang kurang menggembirakan sekali”

-oodwoo-
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 09"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close