Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 02

Mode Malam
Jilid II

MING KANG Hweshio waktu itu telah berkata dengan suara yang tawar: “Kalian memiliki kepandaian yang demikian tinggi, tapi sayangnya kalian membantu manusia manusia rendah, sungguh sayang! sungguh sayang!”

Sambil berkata begitu, Ming Kang Hwesio juga tidak berdiam diri saja, karena dia telah membalas menyerang kepada kedua lawannya setiap kali berhasil mengelakkan diri atau berkelit dari serangan Sim Toako dan Sim Jieko itu, maka Ming Kang Hwesio selalu rnembarengi dengan serangan balasan. Luar biasa tenaga lwekang itu yang menderu deru hebat sekali, sehingga membuat Sim Toako dan Sim Jieko itu harus mengelakkan diri berulang kali. Tubuh mereka berkelebat kelebat diantari menderu-derunya angin pukulan mereka masing-masing.

Cara bertempur mereka bukan cara bertempur biasa, sebab jika sampai salah seorang diantara mereka lengah dan terserang, niscaya akan membuat mereka terluka berat dan juga tulang tulang sekujur mereka kemungkinan besar akan patah, sehingga mereka bisa menjadi manusia bercacad.

Karena itu, beberapa kali Sim Toako juga harus menarik pulang pukulannya, jika diwaktu itu Ming Kang Hweshio telah membalas memukulnya dengan hebat, maka jika Sim Toako itu meneruskan pukulannya, mereka akan terluka bersama,  yang  berarti  juga  hal  itu  membuat  Sim  Toako menderita luka didalam, kalau saja kedua tenaga yang memiliki kekuatan raksasa itu saling bentur. Itulah sebabnya Sim Toako selalu menghindarkan bentrokan tenaga mereka yang memaksanya harus menarik pulang pukulannya.

Ming Kang Hweshio sendiri sekarang telah bertempur tidak tanggung-tanggung, karena dia telah menyerang dengan beruntun dan cepat sekali, disamping tenaga Lwekang yang dipergunakannya itu tidak pernah menurun kekuatannya.

Pelayan, juga Thian San Ngo Hauw yang menyaksikan pertempuran tersebut, telah bengong. Terutama sekali Thian San Ngo Hauw, karena mereka menyaksikan suatu pertempuran yang benar benar menakjubkan.

Jika dibandingkan dengan kepandaian mereka, maka Thian San Ngo Hauw memperoleh kepandaian Sim Toako, Sim Jieko dan Ming Kang Hweshio memang menang setingkat dari mereka.

Waktu itu, Ming Kang Hweshio telah berseru sambil tertawa “Tong Loyacu, telah kujanjikan kepadamu, bahwa aku hendak membalas budi kebaikan Tong Loyacu. Sekarang perhatikanlah baik-baik, Pinceng akan menghajar kedua manusia rendah ini!”

Setelah berkata begitu, Ming Kang Hweshio mendadak berhenti menyerang, tubuhnya doyong ke depan, membarengi dengan itu, tahu-tahu kedua telapak tangannya mendorong sangat kuat sekali.

Sim Toako dan Sim Jieko sama sekali tidak menyangka- nyangka perobahan cara lawannya bertempur, bahkan yang mengejutkan mereka, tenaga dorongan kedua telapak tangan dari Ming Kang Hweshio bukan main hebatnya, angin  dorongannya  itu  menderu  deru  dan  menyambar- nyambar dengan hebat sekali, sehingga membuat Sim Toako dan Sim Jieko harus melompat mundur empat langkah ke belakang, untuk menghindarkan diri dari terjangan itu.

Ming Kang Hwesio tidak mau sudah sampai disitu saja, karena ia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring, membarengi dengan mana tampak kedua tangannya telah bergerak mendorong lagi dengan kuat.

“Weeerrr,” angin dorongan kedua telapak tanginnya menggempur Sim Toako dan Sim Jieko.

Kedua orang itu sekarang sudah tidak memiliki kesempatan untuk menghindarkan diri, karena tampak mereka berdua terpaksa harus menangkis gempuran itu dengan kekerasan, yaitu dengan mempergunakan juga kekuatan tenaga dalam mereka, mendorong juga kedepan maka tiga kekuatan tenaga yang hebat telah saling bentur, terdengar bentrokan yang nyaring sekali.

Tubuh Ming Kaig Hweshio bergoyang-goyang namun tidak sampai mundur, sedangkan Sim Toako dan Sim Jieko telah tergeser setengah langkah.

Muka Sim Toako dan Sim Jieko tampak berobah pacat dan merah bergantian, sampai akhirnya keduaanya mengeluarkan suara bentakan mengguntur, mereka menerjang lagi sambil menggerakkan kedua kepalan tangan mereka.

Rupanya Sim Toako dan Sim Jieko malu diri mereka telah tergeser oleh dorongan Ming Kang Hweshio, dari malu akhirnya menjadi murka, dan kini mereka telah menyerang dengan mempergunakan seluruh kekuatan tenaga lwekang yang mereka miliki. Diwaktu itu terlihat Tong Miauw Liang telah berdiri mematung, karena sekujur tubuhnya telah terluka. Dia memang merasa sakit pada luka-lukanya itu namun akhirnya setelah berdiri diam sejenak lamanya, dengan mata yang agak berkunang-kunang, disaat itulah tampak Tong Miauw Liang telah memutar tubuhnya, untuk pergi ke kamar Auwyang Toanio dan Sung-jie, guna melihat keadaan mereka.

Muka Auwyang Toanio pucat pias waktu membukakan pintu untuk Tong Miauw Liang Dan Sung-jie telah terbangun dari tidurnya. Anak itu tengah bertanya-tanya kepada ibunya, keributan apa yang terjadi diluar, dan mengapa ayahnya tidak datang untuk melakukan perjalanan bersama-sama dengan mereka,

Auwyang Toanio sendiri waktu Tong Miauw Liang mengetuk pintu kamar mereka, tengah menitikkan air mata yang tidak hentinya, menangis menyesali nasib mereka yang buruk

Tong Miauw Liang telah menghibur Auwyang Toanio, bahwa mereka tidak perlu berkuatir lagi, karena sekarang telah ada seorang Kuijin tuan penolong, yang membantu mereka. Dengan demikian mereka tentu akan terhindar dari bencana ditangannya orang2 im-mo-kauw. 

Diwaktu itulah terdengar suara bentakan nyaring dari Sim Toako, yang kala itu tengah berteriak dengan suara yang keras seperti petir, menerjang kepada Ming Kang Hweshio dengan gerakan yang luar biasa kuatnya, karena dalam keadaan kalap, Sim Toako telah menerjang untuk mengadu jiwa dengan Ming Kang Hweshio.

Sim Jieko tidak berdiam diri, karena dia pun telah membentak sama kerasnya seperti Sim Toako, pukulan yang   dilakukannya   pun   sangat   hebat   sekali.   Dengan demikian Ming Kang Hweshio jadi dikepung dua jurusan oleh dua kekuatan raksasa.

Ming Kang Hweshio tidak jari manghadapi serangan seperti itu, kedua tangannya tahu tahu telah didorong ke kiri dan ke kanan, maka dengan segera dia menyambuti tenaga gempuran kedua lawannya itu dengan keras dilawan keras.

“Buukkkkk! Buukkkkk!” dua kali terdengar suara benturan yang keras sekali, disusul juga dengan terpentalnya tubuh Sim Toako dan Sim Jieko. Kedua orang itu telah terlempar sejauh dua tombak lebih.

Rupanya Ming Kang Hweshio telah mempergunakan lwekang dan tenaga simpanannya.

Dengan demikian, kedua bersaudara Sim itu telah terpental dengan menderita luka di dalam, walaupun tidak parah. Itu disebabkan tenaga dalam mereka tergoncang, oleh gempuran yang dilakukan oleh Ming Kang Hweshio.

Sedangkan Ming Kang Hweshio telah mengetuk perlahan-lahan Bokkienya, dia juga telah berkata: ”Omitohud! Omitohud! Sungguh merupakan hal yang patut disesalkan, di mana Pinceng harus menurunkan tangan keras melukai kalian berdua.... tetapi ini demi untuk kebaikan jiwa manusia juga”

SimToako dan Sim Jieko telah mengawasi dengan mata mendelik. Sesungguhnya mereka penasaran sekali, dan hendak menerjang lagi untuk bertempur dengan Ming Kang Hweshio. Namun mereka merasakan napas mereka sesak. Oleh karena itu, mereka tidak segera menerjang lagi, melainkan berdiri ditempat masing-masing dengan sikap bengis sekali. Ming Kang Hweshio telah merangkapkan kedua tangannya, katanya: “Dengan memandang muka kotor Pinceng, sudilah kiranya kalian angkat kaki dari tempat ini, jangan sampai memaksa Pinceng turunkan tangan yang lebih keras lagi, sehingga meminta korban jiwa!”

Sim Toako dan Sim Jieko telah mendengus Malah Sim Toako telah berkata “Baiklah!! Kami suatu saat tentu akan datang mencarimu.... heemmmmm, sekarang memang kami tidak bisa berbuat banyak, malah urusan kami telah terlantar olehmu! Urusan ini tidak akan habis sampai disini saja, Ming Kang Hweshio!!” Dan setelah berkata begitu, Sim Toako telah memberi isyarat kepada Sim Jieko mereka kemudian telah memutar tubuh masing-masing untuk meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Thian San Ngo Hauw yang melihat Sim Toako, Sim Jieko akan pergi meninggalkan tempat itu, telah ikut keluar juga dari ruangan tersebut, setelah mendeliki Ming Kang Hweshio. Mereka juga bermaksud pergi, karena merasa tidak akan memperoleh suatu keuntungan apapun jika mereka meneruskan pertempuran dengan pendeta itu.

Ming Kang Hweshio berdiam diri saja, dia tidak mencegah kepergian Thian San Ngo Hauw, hanya tersenyum-senyum saja. Setelah semua orang itu berlalu, Tong Miauw Liang turun ke ruang bawah untuk mengucapkan terima kasih kepada sipendeta.

Ming Kang Hweshio tersenyum katanya: “Jangan Tong Loyacu berkata begitu, bukankah pernah Pinceng katakan, bahwa Pinceng ingin sekali membalas budi kebaikan Tong Loyacu jika memang memiliki kesempatan? Dan sekarang, memang terdapat kesempatan itu, karenanya Pinceng tidak sia-siakan. ” “Tapi memang Siauwte merasa berhutarg budi pida Taisu, tanpa adanya Taisu tentu jiwa kami telah melayang.... manusia manusia rendah tadi memang menginginkan jiwa kami!“ kata Tong Miauw Liang.

Ming Kang Hweshio telah menggeleng perlahan. “Walaupun mereka menginginkan jiwa kalian, namun jika memang takdir belum menentukan begitu, tentu tidak dapat terjadilah itu, dimana keinginan mereka tidak akan tercapai. Seperti terjadi sekarang, disaat Tong Loyacu terancam, bukankah kebetulan adanya Pinceng....! Hmmmm, mereka merupakan orang-orang Im-mo-kauw, jelas mereka bukan manusia baik-baik, karenanya Pinceng juga tidak ragu-ragu untuk membantu dan menolongi Tong Loyacu!”

Tong Miauw Liang menghela napas, katanya “Tadi Siauwte cepat mendengar bahwa-Taisu tengah memiliki tugas untuk melindungi seseorang.... jika boleh, apakah Taisu tidak keberatan memberitahukan, siapakah orang yang tengah dilindungi oleh Taisu?”.

Ming Kang Hweshio menghela napas, ke mudian katanya: “Sesungguhnya orang yang perlu dilindungi oleh Pinceng adalah Tong Loyacu. !”

“A.... apa?!” tanya Tong Miauw Liang terkejut, karena dia tidak menyangka akan mernperoleh jawaban seperti itu.

Ming Kang Hweshio menghela napas lagi kemudian katanya lagi: “Tong Loyacu, engkau tidak perlu kaget, karena memang sesungguhnya Pinceng telah menerima perintah dari seseorang, yang tidak bisa Pinceng sebutkan sekarang ini namanya, bahwa orang itu telah meminta kepada Pinceng untuk melindungi Tong Loyacu berikut Auwyang Toanio dan seorang anak kecil yang berada bersama kalian, yaitu Sung-jie. !” Tong Miauw Liang jadi semakin heran. Dia merasa heran dan aneh sekali, karena pendeta ini bisa mengetahui jelas bahwa dia bersama dengan Auwyang Toanio dan Sung-jie. Yang membuat lebih heran lagi adalah orang yang telah perintahkan Ming Kang Hweshio untuk melindungi dirinya serta Auwyang Toanio dan Sung-jie. Siapakah orang itu, yang tidak ingin diberitahukan namanya oleh Ming Kang Hweshio?

Waktu itu Tong Miauw Liang telah berkata dengan ragu ragu “Jika memang Taisu tidak keberatan, dapatkah Taisu memberitahukan, siapakah adanya orang yang telah meminta kepada Taisu untuk melindungi kami?!”

Ming Kang. Hweshio tersenyum sambil menggeleng, “Sayang sekali aku tidak bisa menjelaskannya. !” katanya.

“Pinceng juga yakin, tentu hal itu tidak begitu penting buat Tong Loyacu, mengetahui nama orang tersebut tidaklah begitu berarti jika dibandingkan dengan keselamatan kalian agar dapat tiba di Kangciu dengan selamat....! Menyesal sekali, Pinceng juga baru dapat bertemu dengan kalian sekarang ini, jika memang bertemu beberapa hari sebelumnya, tentu kalian tidak perlu kuatir dan diliputi perasaaan takut, disamping itu pula, kau tidak perlu sampai terluka seperti sekarang ini, Tong Loya”

Mengetahui bahwa Hweshio itu memang mempunyai kesulitan untuk menyebutkan atau memberitahukan nama orang yang telah perintahkan padanya untuk melindungi Tong. Miauw Liang bersama Auwyang Toanio dan Sung- jie, Tong Miauw Liang juga tidak mendesaknya.

Sedangkan Ming Kang Hweshio telah menyirnpan Bokkienya dan kemudian tanyanya: “Dapatkah Pinceng bertemu dengan Auwyang Toanio? Ada sesuatu yang ingin Pinceng sampaikan padanya. !” Tong Miauw Liang mengangguk, diapun telah  mengajak Ming Kang Hweshio ke kamarnya Auwyang Toanio.

Auwyang Toanio yang mendengar bahwa Hweshio itu adalah penolong mereka, cepat-cepat Auwyang Toanio telah berlutut untuk menyampaikan terima kasihnya.

Ming Kang Hweshio telah menghindar ke samping, dia tidak mau menerima pemberian hormat dari Auwyang Toanio.

“Janganlah Toanio berlaku demikian sungkan”, katanya. “Berdirilah Toanio ada sesuatu yang hendak Pinceng sampaikan kepada Toanio. !”

Auwyang Toanio telah berdiri dengan hati bertanya- tanya heran entah apa yang ingin disapaikan oleh pendeta ini. Karenanya Auwyang Toanio hanya mengawasi saja pada sipendeta.

Ming Kang Hweshio tidak segera berkata-kata, hanya saja pendeta ini telah merogoh saku jubahnya, dia mengeluarkan sesuatu.

Ketika barang itu telah diperlihatkan, ternyata sebatang bendera kecil, yang terbuat dari sutera merah, dan dibendera berbentuk segitiga itu,, yang terbuat dari sutera merah, dan di bendera berbentuk segitiga itu, terlukis seekor naga yang tengah melingkar diatas awan.

“Sin Kie (Bendera Sakti) ini merupakan benda mustika, jika memang kalian memegang bendera ini, dan dalam keadaan terancam bahaya, kalian bisa memanfaatkannya, karena bendera ini tentu akan dapat meloloskan kalian dari ancaman maut. !” menjelaskan pendeta tersebut.

Tong Miauw Liang dan Auwyang Toanio memandang heran dengan tatapan mata yang tajam kepada bendera itu, mereka pun tidak mengetahui entah apa manfaat dan faedahnya bendera tersebut.

“Kalian tentu tidak yakin” kata Ming Kang Hweshio kemudian sambil senyum waktu melihat sikap Auwyang Toanio dan Tong Miauw Liang. “Sesungguhnya Sin Kie ini merupakan bendera pusaka yang memiliki pengaruh di lima propinsi. jika memang bendera ini berada ditangan kalian,

kemungkin besar marabahaya akan berobah menjadi keberuntungan. !”

Setelah berkata begitu, Ming Kang Hweshio mengangsurkan bendera tersebut kepada Auwyang Toanio dia juga telah melanjutkan perkataannya lagi: ”Dan semua ini tentu saja untuk kepentingan anakmu Toanio, yaitu Sung-jie, semoga saja sepanjang dalam perjalanan kalian akan selamat! Mengenai peristiwa kematian suamimu, Toanio, telah Pinceng ketahui dengan jelas. Memang itulah perbuatan terkutuk dan keterlaluan dari im-mo-kauw! Tapi jika kalian telah tiba di Kangciu, tentu kalian akan mengetahui duduk persoalannya dengan jelas, mengapa Pinceng menerima tugas untuk melindungi kalian! Nah, sekarang Toanio terimalah bendera ini!”

Auwyang Toanio telah menyambnti bendera berukuran kecil dan dalam beituk segitiga itu. Kemudian disimpannya baik-baik di dalam sakunya.

Tong Miauw Liang sendiri telah berkata: “Taisu, jika tidak salah, itulah lambang dari Naga Sejati. benarkah itu.

Taisu?!”

Ming Kang Hweshio memandang heran ke pada Tong Miauw Liang, namun akhirnya dia telah bersenyum. “Sungguh tajam mata Tong Loyacu....!” katanya. “Memang benar, bahwa bendera itu adalah milik dari Naga Sejati Locianpwe!” Tong Miauw Liang jadi girang luar biasa Naga Sejati merupakan satu-satunya tokoh rimba persilatan yang sangat hebat kepandaiannya. Sejauh cerita yang tersiar didalam kalangan Kangouw, bahwa Naga Sejati merupakan tokoh yang tanpa tanding, tidak ada lawannya, karena memang benar-benar Naga Sejati merupakan jago yang sakti sekali. Diapun terkenal akan ilmu sihirnya. Lalu apa hubungannya dengan Ming Kang Hweshio, dan mengapa dia perintahkan Hweshio itu melindungi Tong Miauw Liang, Auwyang Toanio dan juga Sung-jie.

Namun Tong Miauw Liang tidak berani banyak bertanya, karena dia hanya menantikan keterangan sipendeta saja.

Waktu itu Ming Kang Hweshio berkata dengan suara yang sabar “Sesungguhnya Naga Sejati bermaksud untuk melindungi langsung kepada kalian namun ada suatu urusan penting yang mau atau tidak harus diselesaikan olehnya, karena itu Naga Sejati telah perintahkan aku untuk melindungi kalian, mewakilinya! Dan tugas itu memang merupakan tugas yang tidak ringan, sebab terus terang kita harus mengakui bahwa Im-mo-kauw merupakan sebuah perkumpulan yang memiliki anggota terdiri dari jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Jika Thian San Ngo Hauw, Sin Toako dan Sim Jieko itu merupakan orang- orang yang menduduki tingkat ke delapan didalam Im-mo- kauw. Karenanya jika memang dari tingkat ketujuh, keenam kelima, keempat, mereka itu tentu jauh lebih liehay dari Thian Sam Ngo Hauw dan kedua sahabatnya itu....!”Hemmmm tapi Pinceng telah berkeputusan untuk tetap melindungi kalian, walaupun Pinceng mengetahui, bahwa orang-orang Im-mo-kauw dari tingkatan yang lebih tingi lagi akan datang memusuhi kita. !” Tong Miauw Liang menghela napas. “Memang waktu orang-orang Im-mo-kauw mencelakai suhengku, Auwyang Fung Tang, aku tidak berdaya untuk membantuinya, karena waktu itu aku menyadari bahwa kepandaianku tidaklah cukup untuk menandingi mereka. Karenanya, aku hanya bisa membantunya deigan menyingkirkan putera dan isterinya, agar mereka dapat diselamatkan, sedang kari Auwyang Fung Tang, suhengku itu telah, terbinasa ditangan orang-orng Im-mo-kauw. Namun mereka, orang orang Im-mo-kauw tersebut tidak mau melepaskan kami, karena mereka memang menginginkan jiwa kami, mereka terang melakukan pengejaran! Untung saja,, sekarang ada Taisu yang telah melindungi kami, dengan demikian, teitu kami jauh lebih tenang dibawah perlindungan Taisu. !”

Dan setelah berkata begitu, tampak Tong Miauw Liang menghela napas dalam dalam.

Ming Kang Hweshio juga telah menghela napas, katanya “Walupun Pinceng tidak jeri berurusan dengan orang-orang Im-mo-kauw, namun walaupun bagaimana kira tidak bisa memungkirinya bahwa orang-orang Im-mo- kauw tersebut memiliki kepandaian yang tinggi dan belum tentu Pinceng dapat menghadapi dengan baik. Namun Pinceng telah bertekad untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Naga Sejati dengan sebaik mungkin! Dan jika memang Tong Loyacu bersama Toanio tidak keberatan, lebih bijaksana jika kita melakukan perjalanan sekarang saja, karena semakin cepat kita tiba di Kangciu,  itu semakin baik, sebab Naga Sejati telah menjanjikan, begitu kalian tiba di Kangciu, disana telah ada orang- orangnya yang akan melindungi kalian, sehingga tidak  perlu kuatir lagi terhadap ancaman orang-orang Im-mo- kauw. Auwyang Toanio ragu-ragu, karena mengingat cuaca yang begitu buruk dan dinginnya udara yang menusuk ketulang dan sumsum. Sedangkan Tong Miauw Liang menganggap usul dari Ming Kang Hweshio memang baik, karena dengan demikian, berarti sipendeta hendak membawa menyingkir mereka dari tempat ini secepatnya, sebelum orang-orang Im-mo-kauw sempat kembali  kerumah penginapan ini dengan jumlah yang lebih banyak lagi, yang tentu akan sulit dihadapi oleh mereka,

“Baiklah!” kata Tong Miauw Liang kemudian. “Jika memang Taisu beranggapan itu» lebih baik dibandingkan jika memang kita harus berdiam satu malam disini, adalah lebih, baik kita menyingkirkan diri dari tempat ini, secepat mungkin, kami hanya menurut saja setiap petunjuk Taisu.”

Ming Kang Hweshio telah mengangguk. “Pinceng menantikan diluar selama kalian tengah membereskan buntalan kalian” kata Ming Kang Hweshio,

Auwyang Toanio juga telah menyadari, semakin cepat mereka menyingkirkan diri dari rumah penginapan ini dan tiba di Kangciu dalam beberapa hari mendatang, tentu keselamatan mereka lebih terjamin. Memang suaminya yang telah almarhum itu sebelum menghembuskan napasnya, masih sempat untuk berpesan agar mereka segera menuju ke Kangciu,

Itulah sebabnya Tong Miauw Liang membawa Auwyang Toanio dan Sung-jie dalam perjalanan secepat mungkin.

Setelah mempersiapkan buntalan mereka dan Tong Miauw Liang menemui diluar kereta, mendesak She Toan agar melanjutkan perjalanan lagi, kusir itu keberatan. Dia ingin mengaso satu malaman dulu di kampung ini. Walaupun Tong Miauw Liang telah menjanjikan tambahan upah lagi buat si kusir, namun kusir itu tetap menolak. Sampai akhirnya Tong Miauw Liang habis sabar. “Apakah engkau menghendaki aku memaksa menabas kutung tanganmu dulu?!”

Kusir itu jadi ciut nyalinya, karena dia telah menyaksikan bahwa Tong Miauw Liang bukan orang sembarangan. Demikian juga halnya dengan Ming Kang Hweshio. yang waktu itu sipendeta hanya mengawasi sikusir dengan berdiam diri saja.

Akhirnya kusir itu telah mengangguk, dia mempersiapkan kereta kudanya dengan menggerutu panjang pendek tiada hentinya.

Begitulah, dibawah derasnya hujan salju, rombongan, Tong Miauw Liang telah melanjutkan perjalanan mereka. Auwyang Toanio telah menggendong Sung-jie, dimana anak tersebut telah bertanya-tanya mengapa mereka selalu harus melakukan perjalanan yang tergesa-gesa seperti itu.

Auwyang Toanio hanya dapat mengatakan bahwa mereka memiliki urusan penting yang harus cepat-cepat tiba di Kangciu, dia tidak menjelaskan persoalan yang sebenarnya, karena nyonya ini yakin bahwa anaknya yang masih berusia sekecil itu tentu tidak akan paham akan duduknya persoalan tersebut, walaupun dia menceritakannya.

Waktu itu, Ming Kang Hweshio juga telah ikut bersama dikereta tersebut.

Perjalanan yang mereka tempuh sangat sulit sekali, karena tidak jarang roda kereta itu terbenam dalam tumpukan salju, sehingga kereta tersebut sulit sekali untuk maju. Dalam keadaan seperti itulah Sie Toan selalu menggerutu mencaci maki kudanya. Walaupun demikian, tokh terpaksa Sie Toan harus berusaha untuk dapat menjalankan keretanya itu, untuk meneruskan perjalanan mereka. Malamnya gelap, namun dibawah bantuan cahaya salju yang memutih, tidaklah membawa kesulitan apa-apa buat Sie Toan, hanya tumpukan salju dan dinginnya hawa udara, yang telah membuat Sie Toan menggigil tidak tahan dan letih sekali. Memang dia bermaksud untuk meminta kepada Tong Miauw Liang, agar mereka singgah disebuah perkampungan, guna beristirahat, dan mengaso selama satu maiaman agar tenaganya dapat, pulih pula dan lelahnya berkurang. Namun Tong Miauw Liang tetap mendesak Sie Toan agar meneruskan perjalanan mereka tanpa singgah, karena memang Tong Miauw Liang berkeinginan mencapai Kangciu secepat mungkin.

Ming Kang Hweshio sepanjang perjalanan lebih banyak berdiam diri mendengarkan cerita Auwyang Toanio mengenai peristiwa yang membawa kematian buat suaminya, yaitu Auwyang Fung Tang, ditangan orang orangnya Im-mo-kauw.

Auwyang toanio menceritakan, betapa pada mlalam itu, belasan orang Im-mo-kauw telah mendatangi rumah mereka. Suaminya, Auw-yang Fung Tang bertengkar dengan mereka, sampai akhirnya terjadi pertempuran.

Namun kepandaian orang2 Im-mo-kauw itu tidak bisa menandingi kepandaian Auw-yang Fung Tang, Namun disebabkan jumlah mereka yang sangat banyak, dan Auwyang Fung Tang hanya seorang diri, setelah bertempur semalaman, akhirnya Auwyang Fung Tang terluka parah. Orang2 Im-mo-kauw pun banyak pula yang telah dapat dibinasakan oleh Auwyang Fung Tang, namun jumlah mereka  bukannya  berkurang,  malah  semakin  bertambah banyak juga, karena dalam waktu2 berikutnya telah berdatangan jago2 yang lebih hebat lagi dari Im-mo-kauw.

Waktu itu Tong Miauw Liang berkunjung kerumah Suhengnya ini, sehingga dia menyaksikan peristiwa itu. Dia telah membantui suhengnya untuk menghadapi orang2 Im- mo-kauw tersebut. Namun kepandaian Tong Miauw Liang masih jauh dibawah kepandaian Auwyang Fung Tang, karenanya, dia terdesak hebat sekali dibawah keroyokan orang-orang Im mo-kauw.

Auwyang Fung Tang yang melihat pihaknya berada dalam kedudukan tidak menguntungkan, telah perintahkan Tong Miauw Liang menyelamatkan isteri dan anaknya, yaitu Auwyang Toanio dan Sung-jie. Dia juga berpesan agar pedang dikamar perpustakaannya, sebilah pedang pusaka diselamatkan juga

Begitulah, dengan seorang diri, Auwyang Fung Tang telah mendesak lawan2nya, lihat mereka dalam suatu pertempuran yang menentukan antara mati dan hidup. Bagaikan seekor naga yang terluka, Auwyang Fung Tang telah mengamuk hebat sekali dengan mempergunakan pedangnya. Karenanya Tong Miauw Liang dapat meloloskan diri dengan mengajak Auwyang Toanio serta Sung-jie menyingkirkan diri

Mereka menggunakan dua ekor kuda yang dilarikan keras sekali dibawah derasnya hujan salju. Namun kuda itu mungkin terlalu lelah, yang ditunggangi oleh Tong Miauw Liang bersama Sung-jie, telah mati kehabisan napas. Dengan mempergunakan seekor kuda saja, mereka bertiga melarikan diri terus dimana perjalanan mereka dilakukan dengan lambat sekali dengan tiga orang penunggang diatas punggungnya, membuat kuda itu tidak bisa berlari cepat, terlebih  lagi  disaat  itu  hujan  salju  sangat  deras  sekali, jalanan licin dan juga banyak bukit-bukit salju dalam bentuk kecil yang mengganggu perjalanan.

Setelah dapat melarikan diri lebih dari lima puluh lie, akhirnya ditengah jalan mereka bertemu dengan sebuah kereta berkuda, yang kosong dan tidak berpenumpang. Maka mereka telah menyewa kereta berkuda itu, untuk melanjutkan perjalanan ke Kangciu. Semula memang kusir kereta itu, Sie Toan, menolak keinginan Tong Miauw Liang yang hendak menyewa kereta berkudanya, sebab diapun tengah melakukan perjalanan untuk pulang ke kampung halamannya menjenguk anak isterinya. Namun Tong Miauw Liang telah mendesaknya,, dengan upah yang besar sekali. Akhirnya kusir kereta berkuda itu tertarik, dia menerima desakan penumpangnya, dengan demikian segera juga Sie Toan melarikan keretanya menuju ke Kangciu.

Namun, perjalanan tidak mudah, sangat sukar sekali, karena salju yang turun terus menerus. Lagi pula, Song Miauw Liang selalu mendesak agar kereta dilarikan dengan cepat sekali.

Tong Miauw Liang mengajak Auwyang Fung Tang. Menurut Aawyang Fung Tang, di sana mereka akan dapat dibantu oleh seseorang.

Memang selalu Tong Miauw Liang heran, menduga- duga entah siapa orang yang dimaksudkan oleh Auwyang Fang Tang, karena waktu itu. dibawah gencarnya serangan lawan-lawannya, Auwyang Fung Tang tidak sempat mengatakan siapa adanya orang yang harus mereka temui.

Tapi sekarang setelah bertemu dengan Ming Kang Hweshio, barulah Tong Miauw Liang dapat menduga-duga, tentunya orang yang dimaksudkan oleh Auwyang Fung Tang itu adalah si Naga Sejati. Tapi itu hanya merupakan rabaannya belaka, dia belum begitu pasti, sebab Ming Kang Hweshio sendiri belum mau menceritakan keadaan yang sebenarnya. Hanya sipendeta itu menjanjikan untuk melindungi mereka.

Sedang Ming Karg Hweshio setelah mendengar cerita Auwyang Toanio, menghela napas dalam-dalam.

“Entah bagaimana keadaan Auwyang Fung Tang sekarang, apakah ia masih hidup atau memang telah terbinasa ditangan orang2 Im-mo-kauw itu” mengguman Ming Kang Hwe shio.

Auwyang Toanio juga telah menghela napas sambil menyusut air matanya yang memang sejak tadi telah mengucur turun.

“Menurut dugaanku” kata Tong Miauw Liang yang ikut bicara, “Auwyang Suheng tentunya telah terbinasa ditangan orang2 Im-mo kauw itu karena waktu kami tinggalkan, keadaan Auwyang Suheng telah dalam keadaan terluka parah, dan dia masih bertahan terus menghadapi lawan2nya. Aku yakin, Auwyang. Suheng tentu tidak akan mau menyerah untuk ditawan oleh orang-orang Im-mo- kauw. Setelah kami berhasil meloloskan diri, tentunya Auwyang Suheng telah mempertaruhkan jiwanya itu!”

Ming Kang Hweshio menghela napas dalam-dalam, wajahnya guram, “Sayang, sayang sekali!” kata pendeta ini “Seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian sehebat Auwyang Fung Tang Taihiap, ternyata harus  binasa dengan cara begitu mengecewakan sekali!” gumam pendeta ini. “Dan terbunuhnya juga ditangan manusia manusia rendah seperti. orang2 Im-mo-kauw''

Tong Miauw Liangpun menghela napas dalam-dalam. Memang suhengnya itu sebelumnya merupakan seorang tokoh persilatan yang sangat disegani oleh orang2 rimba persilatan.  Kepandaiannya  begitu  tinggi,  Auwyang  Fung Tang demikian gagah. Berbeda dengan dirinya yang memiliki kepandaian beberapa tingkat dibawah suhengnya itu, maka Auwyang Fung Tang merupakan seorang pendekar yang gagah perkasa yang sulit dicari bandingannya.

Jika sekarang Auwyang Fung Tang dapat dicelakai oleh orang2 Im-mo-kauw, itulah di sebabkan dia dikeroyok oleh musuhnya yang berjumlah banyak sekali. Dan disamping itu walaupun dia harus membuang jiwa, tohk ia mati tidak kecewa, karena diapun tentunya, telah berhasil membinasakan belasan orang lawannya.

Kereta itu telah meluncur terus dengan pelahan sekali, karena hujan salju bukannya mereda, malah telah semakin deras dan besar, di mana salju telah turun dengan ganas sekali, menyebabkan jalanan dipenuhi oleh tumpukan salju yang membukit, menghambat perjalanan kereta berkuda itu....

Tubuh Auwyang Toanio, Sung-jie, Ming Kang Hweshio dan Tong Miauw Liang terguncang kekiri dari ke kanan tiada hentinya, karena goncangan kereta yang dihela kedua ekor kuda itu. terutama sekali disebabkan banyaknya gundukan salju. Sie Toan juga telah berusaha untuk memilih jalan yang terhindar dari tumpukan salju yang tebal.

Hal ini untuk memperlancar jalannya kereta tersebut. Tapi memang tidak kecil kesulitan yang dialami oleh Sie Toan, dengan turunnya hujan salju yang semakin deras, dengan demikian telah membuat jalanan yang tertutup salju itu selain licin, pun sulit dilalui, juga gangguan cuaca dan hawa udara yang dingin dan buruk sekali Namun, dalam keadaan terpaksa, disamping upah yang besar beberapa kali lipat dari biasanya, juga dibawah ancaman Tong Miauw Liang yang akan membuntungi tanganya jika kusir  tersebut tidak mau meneruskan perjalanan mereka, maka Sie Toan telah mengendalikan sedapat mungkin keretanya tersebut. Memang dia telah empat puluh tahun bekerja sebagai kusir kereta, dengan sen dirinya dia merupakan kusir yang berpenga laman sekali. Tapi sekarang ini, dia tidak kuasa menentang pengaruh dan kekuasaan alam, sehingga keretanya itu berjalan bagaikan me rangkak, bagaikan seekor siput belaka, dimana kedua kudanya sering tergelincir dan juga melangkah dengan tindakan yang perlahan sekali, tidak bisa berlari sebagaimana mestinya.

Satu malam satu hari mereka melakukan perjalanan tanpa beristirahat, yang payah sekali adalah Sie Toan, yang jadi lelah bukan main, sampai akhirnya dia sudah tidak tahan waktu sampai di sebuah perkampungan kecil, Sie Toan bersikeras ingin beristirahat satu malaman di perkampungan tersebut.

Tong Miauw Liang dan yang lainnya juga tidak bisa mendesak lebih jauh. apalagi kusir kereta itu telah berkata: “Jika memang tuan Tong ingin membuntungi tanganku, buntungilah aku tak berdaya untuk melakukan perjalanan terus, terus terang saja, jika memang aku memaksakan diri untuk mengendalikan kereta itu terus, tentu kita salah-salah bisa celaka, dimana kereta itu tidak terkendalikan oleh keadaanku seperti sekarang ini! Aku perlu tidur untuk satu malaman saja, besok kita melanjutkan perjalanan kita lagi

....!”

Tong Miauw Liang dan yang lainnya menyetujui dengan terpaksa. Mereka juga memaklumi keadaan kusir tersebut. Sedangkan Ming Kang Hweshio sendiri mengatakan, jika keadaan kusir seperti itu dipaksakan terus, tokh perjalanan dilakukan tidak bisa dengan cepat, salah- salah kusir tersebut jatuh sakit dan akan menambah kerepotan mereka. Tong Miauw Liang mengambil kamar bersama Ming Kang Hweshio disebuah rumah penginapan, sedangkan Anwyang Toanio bersama Sung-jie mengambil kamar satunya lagi, yang letaknya sebelah menyebelah satu dengan yang lainnya.

Malam itu, banyak yang dibicarakan Tong Miauw Liang dengan Ming Kang Hweshio, terutama sekali mengenai perkembangan dunia Kangouw, dan juga mengenai perkumpulan Im-mo-kauw, yang merupakan sebuah perkumpulan yang sekarang ini tengah mengembangkan sayap dan kekuasaannya, dengan mempengaruhi berbagai pintu perguruan dan aliran silat, jago-jago yang liehay dipengaruhi mereka dengan berbagai cara agar masuk ke dalam Im-mo-kauw sebagai anggotanya.

“Menurut pendengaranku, yang menjadi Kauwcu dari perkumpulan tersebut seorang aneh, yang tidak pernah ada yang melihat wajahnya karena selain jarang keluar berkelana didalam rimba persilatan, juga dia selalu me- makai topeng menutupi mukanya. Dengan demikian, jarang sekali orang mengetahui bagaimana macamnya Kauwcu dari im-mo-kauw, mereka hanya mengetahui bahwa Kauwcu dari perkumpulan tersebut bertubuh tinggi kurus dan memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Yang selalu menyelesaikan urusan diluar Im-mo-kauw, adalah anak buahnya, dan mereka pun terdiri dari orang- orang yang memiliki kepandaian yang hebat serta liehay dimana Kauwcu mereka boleh dibilang jarang sekali turun tangan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi pada Im-mo-kauw....!” Sambil menjelaskan begitu, Ming Kang Hweshio menghela napas dalam2. “Sayang sekali,” melanjutkan Ming Kang Hweshio setelah berdiam diri  beberapa  saat.  “Semua  perbuatan  dan  tindakan yang dilakukan oleh orang-orang Im-mo-kauw merupakan perbuatan busuk yang diluar garis kepantasan, mereka selalu melakukan kejahatan dan tidak jarang pula, mereka melakukan berbagai perbuatan yang hina dina, karena sebagian dari anggota perkumpulan tersebut dari tokoh- tokoh Lioklim (Rimba Hijau, kaum penjahat) yang umumnya memiliki sifat yang ganas dan kejam!”

“Tadi Taisu mengatakan bahwa pemimpin Im-mo-kauw itu seorang yang bertubuh tinggi jangkung dan mukanya selalu ditutup oleh kain pelindung muka, dengan demikian jarang sekali orang yang bisa melihat mukanya. Lalu, apakah tidak ada orang yang mengetahui juga siapa nama atau gelaran Kauwcu Im-mo kauw tersebut?!”

Ming Kang Hweshio mengangguk. “Soal nama dan gelaran dari Kauwcu Im-mo-kauw tersebut masih terdapat kesimpang siuran, karena ada orang yang mengatakan dia she Mo, tapi ada juga yang bilang dia she Thio atau she Wang. Entah yang mana yang benar. Hanya satu keseragaman terdapat dalam kalangan Kangouw, mengenai gelaran Kauwcu dari Im-mo-kauw itu, yaitu Loa Jiu Giam Ong (Raja Akherat Bertangan Panas)”

“Luar biasa gelarannya itu” kata Tang Miauw Liang.

Ming Kang Hweshsio mengangguk. “Ya seperti gelarannya itu, maka dia memang memiliki telapak tangan yang mengandung maut yang selalu membinasakan lawan- lawannya atau korbannya dengan cara yang mengerikan sekali! Namun karena jarangnya dia tampi! didalam kalangan Kangouw, disebabkan itu pula jarang orang yang bisa menjelaskan secara terang sampai di tingkat mana kepandaian yang dimiliki oleh Loa Jiu Giam Ong”

Setelah berkata begitu, Ming Kang Hweshio mengawasi Tong  Miauw  Liang  beberapa  saat,  katanya  lagi:  “Tong Loyacu, sesungguhnya ada sesuatu yang hendak Pinceng tanyakan kepada Tong Loyacu, dan harap Loyacu menjawabnya dengan terus terang. !”

Tong Miauw Liang jadi heran melihat si kap si pendeta, dia mengangguk cepat. “Dihadapan Taisu kukira tidak perlu ada yang disembunyikan!” sahutnya. “Katakanlah apa yaag hendak Taisu tanyakan!”

“Disaat Loyacu telah membawa Auwyang Toanio dan Sung-jie meninggalkan rumah Auwyang Fung Tang, apakah Loyacu telah membawa sebilah pedang pusaka....

yang bernama Thiam Sim Kiam (Pedang Pusat Bumi) itu?”

Tong Ming Liang mengangguk. Dia membenarkan bahwa mereka membawa pedang itu.

“Itulah merupakan pedang pusaka yang menurut keterangan Auwyang Toanio merupakan pedang pusaka milik suaminya. Hanya saja, yang cukup mengherankan sekali, Suheng-ku itu tidak pernah mempergunakan pedang pusaka itu. Demikian pula dengan keterangan Auwyang Toanio, dia mengatakan memang suaminya itu belum pernah mempergunakan satu kalipun pedang pusaka Thiam Sim Kiam tersebut. Entah mengapa sebabnya Auwyang Toanio tidak menyebutkan alasannya. Tetapi yang jelas bahwa pedang pusaka itu sangat disayang oleh Auwyang Suheng dan juga dia selalu mengatakan bahwa pedang itu adalah titipan seseorang”

“Ya, memang Pincengpun telah mendengar perihal pedang Thiam Sim Kiam tersebut, dan juga memang orang2 Im-mo-kauw memusuhi suhengmu itu karena mengincar pedang mustika itu!”

“Itulah urusan yang belum kuketahui dengan jelas, karena Auwyang Toanio sendiri belum lagi mengetahui entah   permusuhan   apa   yang   terdapat   antara suaminya dengan orang orang Im-mo-kauw itu....!” menyahuti Tong Miauw Liang.

“Dapatkah Pinceng melihat sebentar pedang mustika yang kabarnya merupakan pedang mustika yang terhebat di dalam dunia ini?” tanya Ming Kang Hweshio lagi.

“Pedang itu dipegang oleh Auwyang Toanio. Jika memang Taisu ingin melihatnya, biarlah aku pergi mengambilnya untuk meminjam dari Auwyang Toanio!” sambil berkata begitu Tong Miauw Liang telah bangun dari duduknya,

Ming Kang Hweshio mengangguk dengan wajah berseri- seri, diapun telah mengucapkan terima kasihnya.

Namun ketika Tong Miauw Liang melangkah kedekat pintu, waktu itulah terdengar suara seseorang berkata dengan nada yang perlahan sekali dari luar jendela: “Jangan mempercayai lidah berbisa dari pendeta busuk itu. !”

Tong Miauw Liang dan Ming Kang Hweshio jadi kaget bukan main, keduanya segera melompat bersiap siaga untuk menghadapi sesuatu. Sedangkan Ming Kang Hweshio dengan gesit sekali telah meniup mati api penerangan di atas meja.

Dalam keadaan gelap didalam kamar seperti itu dan cahaya rembulan yang tampak menerobos masuk kedalam kamar melalui sela-sela jendela, terdengar suara dari luar kamar itu lagi, yang cukup terang dari merupakan suara yang halus seorang wanita: “Janganlah kalian mempercayai keterangan si kepala gundul keparat itu, dia merupakan seorang pendeta busuk. !”

Ming Kang Hwesio tidak membuang waktu lagi melompat kedekat jendela, tangannyapun telah bergerak menghantam    daun    jendela    sampai    menjeblak.    Dia menghantam seperti itu, juga untuk mencegah serangan membokong dari luar. Dan ketika daun jendela terbuka, Ming Kang Hweshio pun mencelat keluar, Gerakannya gesit sekali.

Tong Miauw Liangpun telah melompat ke luar dari jendela itu, namun gerakannya tidak segesit Ming Kang Hweshio karena bekas luka2 disekujur tubuhnya, yang telah mengering rapat itu, jadi pedih sekali waktu dia bergerak dengan menggunakan tenaga yang berlebihan.

Waktu Ming Kang Hweshio dan Tong Miauw Liang tiba diluar, ditaman dirumah penginapan itu, yang penuh dengan pohon-pohon Yangliu dan Haytang (pirus spectabilis), mereka tidak melihat sesosok tubuhpun juga. hanya kegelapan malam dan bayangan pohon yang bergerak-gerak. Disamping itu, tumpukan-tumpukan salju yang memenuhi pada sekitar tempat tersebut. Walaupun waktu itu hujan salju telah mereda, toh hawa udara masih dingin menusuk tulang.

Ming Kang Hweshio penasaran bukan main, dia telah melompat kedekat batang-batang Yangliu, yang disekiiar tempat tersebut dipenuhi oleh tumpukan salju. Batang- batang yang-liu itu telah digerak-gerakkannya, dengan kedua tangannya yang diliputi oleh kekuatan lwekang yang luar biasa besarnya, sehingga salju-salju yang memenuhi dibatang-batang po hon tersebut berjatuhan. Namun tidak ada seorangpun yang bersembunyi diantara batang-batang Yang-liu.

Penasaran sekali Ming Kang Hweshio, waktu itu dia masih mencari-cari disekitar tempat tersebut, sampai diapun melompat tembok pekarangan rumah penginapan, untuk melihat keadaan diluar. Waktu itu, disekitar tempat tersebut hanya warna putih juga yang terlihat. Tong Miauw Liang telah menyusul keluar dia menghampiri sipendeta.

“Aneh, kemana bersembunyi orang itu?” mengguman Ming Kang Hweshio dengan mendongkol, dia rupanya masih penasaran sekali.

Tong Miauw Liang juga tidak mengerti, mengapa orang itu memiliki gerakan yang demikian gesit dan cepat sekali, hanya dalam waktu sekejap mata saja telah lenyap dari tempat itu.

Sedangkan waktu itu keadaan mudah dilihat, karena sekeliling tempat itu hanya berwarna putih, dan jika ada seseorang yang bersembunyi, tentu akan mudah sekali tampak. Namun kenyataannya, orang yang telah berkata- kata itu tidak juga terlihat.

Diatas tumpukan salju memang terlihat beberapa tapak kaki, namun kemudian sudah tidak terlihat waktu tiba didekat kaki tembok rumah penginapan itu. Dan demikian juga di luar penginapan itu, sudah tidak tampak lagi tapak tapak kaki itu.

Tong Miauw Liang telah mengajak Ming Kang Hweshio untuk kembali kekamar meru ka. Namun pendeta ini rupanya masih penasaran, telah melompat keatas genting, dia mengawasi sekitar tempat itu. Namun tidak ada sesuatu yang dicurigakan.

Dengan masih diliputi tanda tanya, kedua orang ini telah kembali ke kamar mereka.

Namun disaat itulah, waktu Ming Kang Hweshio dan Tong Miauw Liang duduk, terdengar lagi seseorang telah berkata dengan suara yang halus, suara seorang wanita: “Kau  jangan  percaya  pendeta  gundul  itu,  dia  seorang ranusia busuk, pedang Thiam Sim Kiam harus dilindungi baik-baik...!”

Bukan main terkejutnya Ming Kang Hwe shio dan Tong Miauw Liang, keduanya telah melompat lagi keluar  jendela. Dan kali ini usaha mereka tidak sia-sia, karena mereka melakukannya jauh lebih cepat dari yang semula, maka segera juga terlihat sesosok bayangan yang berkelebat kearah kanan rumah penginapan. Didekat tempat itu, dibalik dinding pekarangan yang berbelok, tampak gundukan salju yang cukup tinggi, sosok tubuh yang berpakaian baju putih itu, ingin menyembunyikan dirinya ditempat tersebut.

Ming Kang Hweshio yang tengah dongkol dan penasaran menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat gesit sekali, sehingga dia bisa tiba ditempat itu cepat sekali, sambil tangan kanannya telah mengebut menyerang dengan pukulan udara kosong, angin pukulannya itu menerjang ke punggung sosok tubuh tersebut.

Namun sosok tubuh itu, yang ternyata seorang gadis yang bermuka bersemu merah sehat serta cantik sekali, hanya menyentil dengan jari telunjuknya, angin pukulan yang dilakukan oleh Ming Kang Hweshio telah bisa dipunahkan, dan diwaktu itu tubuhnya telah melompat pergi dengan gesit melompati tembok pekarangan rumah penginapan itu. Gerakannya lincah sekali.

Ming Kang Hweshio tertegun sejenak tenaga pukulannya dipunahkan dengan cara begitu mudah, dia mengejarnya.

Namun setelah dua tiga lie dia mengejarnya ternyata dia kehilangan jejak sigadis.

Setelah mencari-cari disekitar tempat itu, akhirnya Ming Kang Hweshio kembali kerumah penginapan dengan hati diliputi penasaran. Tong Miauw Liang yang luka-luka disekujur tubuhnya belum sembuh benar, tidak ikut mengejar dan hanya menantikan di pekarangan rumah penginapan tersebut. Melihat sipendeta telah kembali. Tong Miauw Liang segera menanyakan hasil dari pengejaran sipendeta.

“Dia dapat menghindarkan diri.... Gin-kang gadis itu memang agak luar biasa!” kata Ming Kang Hweshio. “Hm, entah siapakah dia?”

Tong Miauw Liang juga jadi bingung, dia tidak mengetahui apakah gadis itu lawan atau kawan, dan  apakah kata2nya tadi merupakan bisikan atau merupakan gurau belaka? Namun dengan adanya peristiwa seperti ini, dan mengingat pentingnya pedang Thiam Sim Kiam, Tong Miauw Liang tidak berani berlaku ceroboh lagi, dan dia batal meminjam pedang itu dari Auwyang Toanio untuk diperlihatkan kepada sipendeta, walaupun pendeta ini memang pernah menolongnya.

Sedangkan Ming Kang Hweshio sendiri, sejak terjadinya hal itu, tidak meminta untuk melihat pedang Thiam Sim Kiam, melainkan duduk terpekur dengan wajah yang guram.

Tong Miauw Liang setelah menemani pendeta itu bercakap-cakap beberapa saat, akhirnya merebahkan diri untuk tidur.

Keesokan harinya, waktu matahari memancarkan sinarnya dengan lemah dan salju tidak turun seperti kemarin, Tong Miauw Liang bersama Auwyang Toanio, Sung-jie dan Ming Kang Hweshio melanjutkan perjalanan mereka.

Kali ini kereta berkuda itu bisa melaku kan perjalanan yang cukup cepat. Dan Sie Toan pun cukup gembira dan segar, karena semalaman dia telah dapat tidur dengan nyenyak, sehingga semangat dan tenaganya pulih kembali. Sambil melarikan keretanya, kusir inipun selalu bersiul-siul melagukan lagu kanak-kanak asal Kanglam.

Tetapi baru saja kereta itu melakukan perjalanan belasan lie, tiba-tiba dari arah depan berlari mencongklang seekor kuda berbulu coklat tua, kuda itu berlari dengan cepat sekali, seperti tidak memperdulikan jalan yang sangat licin tertutup salju. Penunggang kuda itu ternyata seorang pemuda berpakaian Siucai, usianya mungkin dua puluh tahun lebih. Waktu melewati kereta, dia telah menoleh sambil tersenyum.

Tong Miauw Liang bertiga dengan Ming Kang Hweshio dan Auwyang Toanio jadi curiga.

Tetapi berjalan lagi dua lie, tiba-tiba dari depan mereka telah berlari lagi seekor kuda dengan cepat sekali, dimana kuda itu berbulu kuning emas, penunggangnya seorang wanita setengah baya, berbaju hitam. Waktu melewati kereta, wanita setengah baya itupun telah menoleh dan tersenyum.

Tentu saja hal ini menambah kecurigaan Tong Miauw Liang, dia membisiki Auwyang Toanio: “Kita harus waspada, rupanya kita tengah diincar oleh serombongan perampok!”

Ming Kang Hweshio juga mengangguk mengiyakan sambil katanya menambahkan perkataan Tong Miauw Liang: “Ya, kita harus waspada, entah dari golongan mana mereka itu!”

Baru saja Ming Kang Hweshio berkata begitu, dari arah belakang mereka terdengar suara mencongklangnya kuda, dan pemuda berpakaian siucai itu rupanya telah melarikan kembali    kudanya    mengambil    jurusan    searah  dengan mereka. Disaat melewati kereta Tong Miauw Liang, pemuda itu telah menoleh dan tersenyum lagi.

Tong Miauw Liang tambah yakin, bahwa pemuda berpakaian siucai dan wanita berpakaian baju hitam itu tentunya mengandung maksud tidak baik, tentunya mereka mata-mata yang biasa dikirim oleh pemimpin mereka untuk mengawasi “barang” yang hendak dirampok!

“Tentu tidak lama lagi didepan kita akan menemui rintangan!” kata Tong Miauw Liang perlahan kepada Auwyang Toanio “Kau jagalah Sung-jie baik-baik...!”

Auwyang Toanio mengangguk, ia memeluk Sung-jie dipangkuannya dan buntalannya yang berisi pedang mustika Thiam Sim Kiam itu dicekalnya kuat-kuat. Tampaknya Auwyang Toanio tidak tenang dan bergelisah skali.

“Mereka tentunya para perampok.... kita tidak perlu jeri!” kata Ming Kang Hweshio. “Biarlah nanti Pinceng memberikan hajaran pada para perampok itu jika memang mereka berani mengganggu kita!”

Namun baru saja Ming Kang Hweshio berkata begitu, didepan mereka, didekat seturh tikungan dari bukit-bukit salju yang tebal, terdengar suara orang tertawa keras sekali, suara tertawa yang seakan juga menggetarkan sekitar tempat itu, disusul dengan kata-katanya yang keras nyaring: “Ming Kang Hweshio kau pendeta keparat dengan pura- pura menjadi seorang pendeta alim saleh melindungi seseorang yang tengah dalam kesulitan, namun sesungguhnya engkau seorang pendeta bermata bangsat. !

Kami tahu, engkau mengincar pedang Thiam Sim Kiam itu, untuk direbut dengan cara diam2. Hahahahahahaha!”

Ming Kang Hweshio berobah mukanya, dia melongok keluar   dari   jendela   kereta.   Waktu   itu   Sie   Toan telah menahan larinya kereta karena didepan mereka, ditikungan itu tampak belasan orang penunggang kuda, yang duduk dikuda berbulu putih, yang berdiri paling depan, adalah seorang lelaki bertubuh pendek gemuk, dengan jidat yang lebar dan mata yang lebar. Dialah seorang yang memiliki muka bengis dan mata yang memancarkan sinar yang sangat kejam sekali.

“Tok Liong Pian Kwee Cai In?!” berseru Ming Kang Hweshio waktu melihat orang itu.

“Tepat! Memang kini Tok Liong Pian (Cambuk Naga Berbisa) Kwee Cai In ingin meminta petunjuk darimu, Ming Kang Hweshio!” menyahuti orang itu dengan sikap mengejek, suaranya pun sangat keras sekali. Diapun telah melompat turun dari kudanya, gerakannya sangat gesit sekali, demikian lincah, bagaikan sehelai daun karing yang jatuh ketumpukan salju tidak menerbitkan suara.

Muka Ming Kang Hweshio berobah jadi tidak enak dilihat. “Apakah engkaupun mengincar Thiam Sim Kiam?!” tegur Ming Kang Hweshio sambil melompat keluar dari kereta itu. “Dan memang telah kuduga, bahwa Tong Loyacu menghadapi banyak rintangan, di mana banyak orang-orang yang busuk dan rendah seperti kalian mengincar pedang itu! Tidak percuma Naga Sejati telah perintahkan aku untuk melindungi Tong Loyacu, karena memang benar terdapat manunia-manusia seperti kau yang angin merampas pedang itu. !”

“Eangkau jangan pura-pura saleh dan alim, sesungguhnya engkau sendiri ingin merampas dan memiliki pedang mustika itu! Mengapa engkau harus pura-pura jadi tuan penolong dari orang she Tong itu? Mengapa engkau tidak segera turun tangan untuk merampas pedang Thiam Sim Kiam? Kau kira aku tidak mengetahui, bahwa engkau akan turun tangan merampas pedang Thiam Sim Kiam itu setibanya di Kangcia, dimana ditempat itu telah berkumpul kaki tanganmu!”

Muka Ming Kang Hweshio jadi berobah hebat, bentaknya bengis: “Kau jangan bicara ngaco balau. Lihatlah serangan!” Sambil membentak begitu, tubuh Ming Kang Hweshio telah mencelat melayangkan kedua tangannya serentak, tangan kanannya akan mencengkeram pundak lawannya, Tok Liong Pian dan tangan satunya akan menghantam dadanya Tok Liong Pian Kwe Cai In.

Tapi Kwe Cai In tenang saja berdiri mengawasi datangnya serangan dari sipendeta, dia menantikan sampai sipendeta telah dekat dengan sasaran, diwaktu itulah dia mengebut dengan tangan kanannya, menderu-deru angin yang kuat sekali.

Tubuh Ming Kang Hweshio yang tengah menerjang maju itu, jadi seperti dibendung oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, hampir saja pendeta itu terpental.

“Ming Kang Hweshio,” kata Tok Liong Pian dengan suara yang dingin. “Engkau tidak perlu jual lagak dihadapan kami! Kami telah mengetahui belangmu, telah mengetahui siapa dirimu, dan apa yang kau inginkan dengan pura-pura bersikap alim dan membantui orang she Tong itu” Dan setelah berkata begitu, Tok Liong Pian tertawa dingin beberapa kali.

Sedangkan kawan-kawan dari Tok Liong Pian, yang masih duduk dipunggung kuda masing-masing, yang terdiri dari berbagai macam orang dan bentuk muka yang aneh- aneh, ada yang memandang dengan mata yang picak ada yang dimukanya terdapat bekas luka bacokan yang melintang antara kening ke rahangnya. Mereka umumnya memiliki    muka    yang,    bengis    sekali,    kala    itu  telah memperdengarkan suara tawa yang menyeramkan, mengejek Ming Kang Hweshio.

Muka Ming Kang Hweshio berubah tambah merah padam. Dia memang mengetahui siapa adanya Tok Liong Pian, namun, dia tidak mau jika Tok Liong Pian bicara terus menerus, karena Ming Kang Hweshio kuatir kalau- kalau rahasia hatinya akan dibuka oleh orang she Kwee itu. Karena itulah dia segera menyerang lagi dengan pukulan yang gencar dan bertubi-tubi.

Namun Tok Liong Pian tidak tinggal diam saja, sebab diapun telah menyambuti pukulan pukulan dari Ming Kang Hweshio. Setiap kali Ming Kang Hweshio menyerang, dia tentu mengelakannya atau memunahkannya, yang disusul dengan serangan balasan yang hebat.

Dengan demikian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran selama beberapa jurus.

Tong Miauw Liang dan Auwyang Toanio telah menyaksikan jalannya pertempuran itu dengan hati tidak tenang. Mereka melihat bahwa kepandaian Tok Liong Pian sangat tinggi sekali, merupakan kepandaian yang benar- benar sulit untuk ditandingi oleh Ming Kang Hweshio. Sebagai orang yang memiliki ilmu silat, tentu saja Tong Miauw Liang mengetahui dengan melihat beberapa jurus dari pertempuran kedua orang itu, bahwa kepandaian Ming Kang Hweshio masih berada dibawahnya kepandaian Tok Liong Pian.

Waktu itu tampak jelas Tok Liong Pian beberapa kali telah menyerang mendesak hebat pada Ming Kang Hweshio, sehingga pendeta itu main mundur dan kelit saja. Dan ketika suatu kali, setelah berkelit Ming Kang Hweshio berusaha menyerang pada lawannya. Tok Liong Pian Kwee Cai In telah mendengus tertawa dingin, katanya: “Kukira telah cukup kita adu tangan....!” dan membarengi dengan perkataannya, tahu2 tubuh Cai In berkelebat dengan gesit sekali, dan kedua tangannya telah bekerja. Sebat sekali dia telah berhasil mencengkeram baju dipunggung Ming Kang Hweshio, disertai dengan seruan: “Pergilah kau menggelinding, pendeta busuk. !”

Tubuh Ming Kang Hweshio telah terlambung ke tengah udara, melayang sejauh tiga tombak le bih dan kemudian ambruk ditumpukan salju, bergulingan beberapa kali, ketika dia bangkit maka disaat itulah tampak dia telah berdiri dengan muka yang merah padam dan juga wajah yang meringis. Rupanya lemparan yang dilakukan Tok Liong Pian menyebabkan dia merasakan sakit bukan main pada dadanya.

Tok Liong Pian telah berkata dengan suara yang tawar: “Jika engkau tidak cepat-cepat menyingkir, jangan mempersalahkan diriku yang tidak akan sungkan-sungkan lagi menghantam hancur batok  kepalamu  yang  gundul  itu. !”

Ming Kang Hweshio yang mengetahui dirinya bukan menjadi tandingan Tok Liong Pian Kwee Cai In, telah memandang dengan sikap gusar, namun tidak berdaya untuk menerjang lagi, karena jika sampai kaki tangannya Kwee Cai In turun tangan mengeroyoknya, itulah lebih hebat lagi

“Baiklah! Tapi terus terang saja, sebelum menyingkir pergi, ingin kukatakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya tugasku melindungi Tong Loyacu dan Auwyang Toanio bersama puteranya itu, adalah atas perintah Naga Sejati! Atau memang kalian tidak mau memberi muka pada Naga Sejati?!” “Hemmm, kau hendak menggertak kami dengan nama busuknya Naga Sejati itu? Ha hahahaha. aku tidak perduli dengan Naga Sejati! Yang kuperintahkan, agar kau segera menyingkir!”

Muka Ming Kang Hweshio berobah merah padam, namun dia tahu dirinya tidak berdaya. Dia telah merangkapkan kedua tangannya disaat mana dia telah merogoh saku jubahnya, dan tahu-tahu dengan sikap seperti memberi hormat begitu, tangannya bergerak.

Tok Liong Pian memang melihat gerakan Ming Kang Hweshio namun belum lagi dia sempat ambil tindakan, diwaktu itulah telah terlihat beberapa benda bulat sebesar telur yang berwarna hitam telah meluncur menyambar kearah Tok Liong Pian. Kwee Cai In menduga bahwa itu adalah senjata rahasia, dia mengibas dengan lengan bajunya. Tapi kesudahannya dia jadi kaget sendirinya, belum lagi lengan bajunya dapat menyampok benda2 bulat itu, terjadi suatu peristiwa yang tidak disangka-sangkanya, ketiga benda bulat itu telah meledak ditengah udara, mengeluarkan asap yang tebal sekali, yang menyelubungi sekitar tempat tersebut, menyiarkan bau harum semerbak.

Tok Liong Pian terkejut, dia melompat mundur sambil berseru: “Awas asap beracun.....!” dan diapun bersama kawan-kawannya, mundur lebih jauh.

Ming Kang Hweshio tidak mensia-siakan kesempatan itu, dia telah mencelat kesamping Sie Toan, mengambil alih tali kendali kereta dia menghentakkan dan kuda dilarikan cepat sekali, roda-roda kereta menggelinding dengan bunyi yang gemuruh terobos tumpukan salju.

Tong Miauw Liang dan Auwyang Toanio jadi terkejut, mereka berdiam diri dengan penuh berkuatiran. Telah terjadi  dua  peristiwa  yang  membuat  Tong  Miauw Liang- ragu-ragu terhadap pendeta Ming Kang Hweshio ini karena seperti yang pernah terjadi dirumah penginapan, dimana Tong Miauw Liang seperti menerima bisikan dari gadis aneh yang sepak terjangnya diliputi tanda tanya itu, bahwa Ming Kang Hweshio bukanlah manusia baik baik dan tengah mengincar pedang Thiam Sim Kiam, dengan berpura-pura, membantui Tong Miauw Liang dan Auwyang Toanio serta puteranya itu. Namun sesungguhnya, pendeta inipun tengah mengincar pedang mustika itu yang ingin dirampasnya jika terdapat kesempatan.

Dan sekarang Tok Liong Pian pun mengatakan hal yang sama mengenai maksud Ming Kang Hweshio. Malah tadi Tong Miauw Liang telah melihat sikap Ming Kang Hweshio yang, mencurigakan yang tidak bisa membantah tuduhan Tok Liong Pian.

Maka sekarang Tong Miauw Liang tidak bisa mempercayai sepenuhnya pada pendeta itu. Jika sebelumnya memang Tong Miauw Liang telah mengkisik Auwyang Toanio agar menyimpan pedangnya itu didalam buntalannya lebih baik dan jangan sekali2 dikeluarkan selama dalam perjalanan dan sekarang dikala kereta dilarikan oleh Ming Kang Hweshio pemegang tali kendali kereta tersebut, Tong Miauw Liang kembali mengkisikkan Auwyang Toanio agar nyonya itu selain baik2 menjaga anaknya, pun pedang mestikanya itu.

''Menurut yang kulihat Pendeta inipun bukan sebangsa manusia baik2!” kata Tong Miauw Liang.

Auwyang Toanio mengangguk saja, sedang diliputi kegelisahan. Terlebih lagi, sekarang Ming Kang Hweshio seperti kalap, dimana dia telah melarikan kereta dengan cepat sekali tanpa memperdulikan kereta itu, niscaya kereta akan terbalik karenanya. Sedang Tok Liong Pian yang menyaksikan Ming Kang Hweshio ingin melarikan diri bersama kereta itu dan seisi penumpangnya setelah menjauhi asap yang mengandung racun yang tadi di lepaskan oleh Ming Kang Hwesio, segera ia melakukan pengejaran. Mereka menunggang kuda dengan cekatan, kuda itu bisa dilarikan dengan cepat, karenanya dalam waktu yang singkat kereta itu telah berhasil di susul dan dikepung oleh orang2 itu Ming Kang Hweshio sendiri melihat keadaan demikian mengancam sekali, belum lagi dia mengambil keputusan dan tengah menghentak hentak tali kendali kereta tersebut, agar kuda penghelanya dapat berlari lebih cepat.

Tok Liong Pian telah berseru dengan suara yang nyaring: “Ming Kang Hweshio, cepat kau berhenti dan turun dari kereta itu! Atau memang kami akan segera turunkan tangan kejam padamu!”

-oodwoo-
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Musuh Dalam Selimut (Hui Hong Tjiam Liong)] akan diupload pada pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 02"

Post a Comment

close