Puteri Es Bab 06 : Lagu sedih tukang dayung

Mode Malam
BAB 6 Lagu sedih tukang dayung

Orang-orang yang berada di atas rakit mulai bercerita, "Aku teringat pada jaman dahulu, dengan sebuah kail ikan aku bertarung dengan 2 pesilat tangguh dari perkumpulan Tang. Mereka bernama Tang Bing dan Tang Jun. Tang Jun dijuluki sebagai 'senjata rahasia tidak ada tandingannya' dan Tang Bing dijuluki sebagai 'tidak mengeluarkan jurus, begitu mengeluarkan tidak ada yang bisa menahannya'. Dalam pertarungan itu, dengan keranjang dan jala ikan aku menerima 84 macam senjata rahasia. Dengan senar kail aku mengikat mereka dan mempermainkan mereka seperti bola kapas.... Semenjak pertarungan itu terjadi sampai hari ini mereka masih bersembunyi di dalam perkumpulan Tang dan tidak berani keluar lagi!"

Wo Shi Shui berkata, "Kau melupakan satu orang lagi, yaitu Tang Yue Liang."

"Siapa itu Tang Yue Liang...dia tidak penting," kata Shen Tai Gong.

Malam itu Wo Shi Shui sangat banyak bercerita. "Kau jangan mengira Xiao Xue tidak tahu apa-apa, kau sembarangan mengaku- aku sebagai pahlawan, kau memang memukul Tang Bing dan Tang Jun hingga mereka seperti anjing yang jatuh ke dalam air, tapi begitu Tang Yue Liang keluar, dengan 13 batang sutranya dia berhasil membuatmu terjatuh dan dengan senjata rahasianya dia mencabut rambut dan jenggotmu untuk membalaskan dendam kedua adiknya. Kau telah dipukulnya, kau berlari ke pasar dan tidak ada tempat bersembunyi di sana!"

Dengan khawatir Xiao Xue bertanya, "Apakah akhirnya kakek bisa melarikan diri. "

Dengan malu Shen Tai Gong berkata, "Aku? Aku tidak melarikan diri, aku tidak bisa mengalahkannya, terpaksa aku hanya bisa marah kepadanya, kemudian dia berkata, jika aku memanggilnya buyut, maka dia akan memaafkanku, tapi aku sudah tua bagaimana mungkin bisa memanggilnya dengan sebutan buyut. He, he, he!" Shen Tai Gong melihat Xiao Xue. Dia berharap Xiao Xue setuju dengannya. Xiao Xue terlihat terus mengangguk.

"Siapa yang memukul kakek, dia pasti orang jahat." Dia selalu berpihak pada kakek ini.

Shen Tai Gong melihat Xiao Xue mengangguk. Dia sangat senang, "Karena itulah aku tidak mau memanggilnya dengan sebutan buyut. Kemudian Tang Yue Liang menyuruhku menangis. Aku bertanya untuk apa aku harus menangis? Katanya dia suka melihat laki-laki sejati di dunia persilatan menangis. Aku marah dan mengatakan, 'jika kau senang melihatku menangis, aku sengaja tidak akan menangis'. Kemudian dengan senjata rahasia yang sangat beracun yang bernama 'Meng Shang' diapun rhenghadapiku. Aku mengatakan, jika aku kalah dari lawan, dan aku bisa kabur, aku akan berteriak, mengaku kalah, tapi tidak akan pernah menangis atau menyerang orang secara diam-diam. Juga tidak akan memanggil bantuan.... Kau lihat, aku tidak pernah memanggil Cai Shen Ye dengan nama sebenarnya, mengapa aku harus memanggilnya buyut? Itu hanya mimpi!"

Xiao Xue bertanya, "Kalau Kakek tidak mau memanggilnya buyut, apakah dia akan berbuat ganas kepada Kakek?"

Wo Shi Shui segera menjawab, "Waktu itu aku tepat sedang lewat dan bertemu dengannya, aku membantu Shen Tai Gong memukul perempuan itu."

Dengan senang Xiao Xue berkata, "Pasti Kakak berhasil mengusirnya!"

Kali ini giliran Shen Tai Gong yang tertawa terbahak-bahak, "Dia? Dia juga dipukul oleh Tang Yue Liang sampai jatuh bangun. Perempuan jahat itu masih memanggilnya dengan beruang besar. Julukan itu memang datang dari perempuan itu!" Shen Tai Gong benar-benar merasa senang, dia lupa kalau dia juga kalah.

Xiao Xue benar-benar tidak percaya, kakek yang menggendongnya terbang ke sini dan ke sana seperti dewa dan kakak yang tinggi, besar juga gagah bisa kalah dari orang itu. Dia bertanya, "Kalau begitu, apakah perempuan itu berhasil dipukul hingga lari oleh kalian?"

"Belakangan," Shen Tai Gong menunjuk hidung Fang Zhen Mei dan berkata, "dia datang."

Begitu mendengar Fang Zhen Mei datang, Xiao Xue berpikir, "Tadi begitu Fang Zhen Mei datang, bisa membuat biksuni itu terkejut dan terpaku. Kali ini Fang Zhen Mei pasti berhasil mengusir perempuan jahat itu." Dia bertepuk tangan dan tertawa, "Paman Fang datang, 3 lawan satu, pasti menang."

Pada saat dia bicara seperti itu, wajah mereka bertiga berekspresi malu. Orang-orang dunia persilatan paling tidak senang main keroyokan, banyak orang mengeroyok seorang musuh, apalagi lawan mereka hanya seorang perempuan. Walaupun menang tapi menang tidak dengan hasil bagus.

"Jangan memanggilku Paman Fang, panggil aku seperti mereka memanggilku dengan sebutan Cai Shen Ye. Itu lebih enak didengar."

Mata hitam Xiao Xue tampak terus berputar, dia tidak mengerti, gambar Cai Shen Ye yang biasa dilihatnya apa miripnya dengan Fang Zhen Mei?

"Aku datangpun sudah tidak ada gunanya," Fang Zhen Mei tertawa kecut. "Bukan begitu lahir aku sudah bisa ilmu silat, aku sama dengan yang lain, setahap demi setahap kemampuan ilmu silatku naik. Walaupun waktu itu ilmu silatku sudah lumayan tinggi, tapi aku tidak berpengalaman, apalagi bertemu dengan pesilat tangguh seperti Tang Yue Liang. "

"Karena itu," Wo Shi Shui dengan susah payah baru mendapat kesempatan menyindir Fang Zhen Mei, "Dia tidak bisa mengalahkan Tang Yue  Liang,  tapi  dia  malah mendapatkan sebuah cara  jitu"

"Cara jitu apa?" tanya Xiao Xue. Dengan malu Fang Zhen Mei berkata, "Sudahlah, jangan menertawakan orang lain!"

Kata Shen Tai Gong sambil tertawa, 'Yang namanya Fang Zhen Mei, dia lari ke tempat ayam, bebek, dan babi buang air besar. Dia berguling-guling kemudian bertarung lagi dengan Tang Yue Liang. Ternyata Tang Yue Liang paling benci dengan yang kotor-kotor, apalagi dia takut dengan hawa laki-laki. Katanya dalam sehari dia 5 kali mandi dan harus menggunakan 7 macam bunga merendam badan, dia tidak pernah mau memegang benda yang sudah dipegang oleh laki-laki walaupun benda itu sudah dipegang ayahnya. Karena bau Cai Shen Ye yang sangat memuakkanmembuat Tang Yue Liang ketakutan dan melarikan diri!"

Xiao Xue ingin tertawa, dia melihat Fang Zhen Mei yang terlihat sangat bersih, tidak terbayangkan jika dia sampai berguling-guling di tempat begitu kotor. Mereka berempat tertawa terbahak-bahak sampai pada saat Fang Zhen Mei dan Wo Shi Shui sudah berhenti tertawa, sedangkan Xiao Xue masih belum berhenti tertawa. Akhirnya diapun berhenti tertawa. Tapi begitu teringat cerita tadi, dia tertawa lagi sampai mengeluarkan air mata.

Wo Shi Shui, Shen Tai Gong, dan Fang Zhen Mei melihat Xiao Xue bisa tertawa, mereka merasa sangat tenang. Sebenarnya mereka sengaja memilih kejadian dulu yang lucu yang bisa diceritakan, maksud mereka tidak lain adalah untuk membuat gadis kecil ini merasa senang dan berharap untuk sementara waktu bisa melupakan kesedihannya karena telah kehilangan neneknya dan tinggal sebatang kara di dunia ini.

Wo Shi Shui melihat ada air yang berkilau, dengan penuh perasaan dia berkata,".. .waktu itu kita belum saling kenal. "

Sebenarnya Fang Zhen Mei dan Wo Shi Shui karena bertarunglah baru bisa saling mengenal.

Xiao Xue mendengar Wo Shi Shui menarik nafas. Dia berpikir, "Mengapa orang-orang ini belum saling kenal tapi bisa bertarung?" Dia berpikir lagi, perlakuan mereka kepada dirinyapun demikian. Nenek telah dibunuh, mereka melindunginya.... Mengingat nenek lagi, dia merasa sedih.

Fang Zhen Mei dengan tenang berjongkok, melihat aliran air sungai dan berkata, "Kata orang-orang dulu, jika kaki sudah menginjak air, maka dia harus mengikuti arus air dan terus berjalan ke depan...dulu kita tidak saling mengenal tapi sekarang kita menjadi sahabat...," Tiba-tiba kedua tangannya diangkat. Dia mengangkat 2 orang dari bawah air seperti mengangkat 2 ekor ayam kecil. Fang Zhen Mei bertanya, "Apakah kalian berdua juga ingin berkenalan dengan kami?"

Kedua orang ini diangkat ke atas perahu. Mereka tidak bisa bergerak karena Fang Zhen Mei sudah menotok nadi mereka. Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong melihat mereka berbaju hitam, pandangan mata mereka sangat dalam. Kelihatannya mereka bukan orang Zhong Yuan. Tangan mereka memegang pisau pemenggal sapi. Mereka sepertinya ingin memutus tali pengikat rakit. Di sungai dengan gelombang begitu besar, walaupun mereka bertiga mempunyai ilmu silat tinggi tetap sulit untuk bertahan hidup.

Shen Tai Gong sangat marah. Dia mengangkat salah satu orang dan bertanya, "Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?" tapi setelah ditanya beberapa kalipun dia tetap tidak mau menjawab, hal ini membuat Shen Tai Gong bertambah marah. Shen Tai Gong menampar orang itu berkali-kali!

Kata Wo Shi Shui, "Apakah kau tidak melihatnya dia ditotok?" Shen Tai Gong ingin membukanya, tapi Fang Zhen Mei berkata,

"Tidak perlu, masih ada seseorang yang belum ditotok."

Tidak ada yang mengerti dengan maksud Fang Zhen Mei.

Setelah lama Fang Zhen Mei baru bertanya, "Pendayung rakit, kau akan membawa kami ke mana?"

Kata-kata ini membuat Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong terkejut dan segera tersadar. Ternyata sungai ini bukan sungai yang mereka seberangi tadi, sekarang mereka berada di tengah-tengah sungai. Di kejauhan ada sebuah perahu layar berwarna hitam dan di atas tiang perahu terpasang panji berwarna hitam juga. Di atas panji hitam disulam sesuatu, tapi di bawah cahaya bulan sabit yang redup tidak bisa terlihat dengan jelas. Perahu layar berwarna hitam itu dengan cepat mendekati rakit.

Pendayung itu berhenti mendayung. Pelan-pelan dia meletakkan dayungnya dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, semua gerakan dilakukannya dengan sangat perlahan.

Sambil main-main Fang Zhen Mei sebenarnya bisa mengalahkan musuh, kata-kata ini tidak salah, kedua orang yang ditotok oleh Fang Zhen Mei adalah dua marga Man ular ini sangat paham  dengan keadaan air.

"Aku sudah mendayung selama bertahun-tahun, entah bagaimana caranya supaya bisa membuat Pendekar Fang lengah." kata pendayung itu

Xiao Xue ingin melihat orang yang berbicara dengan suara rendah itu tapi Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong sudah berada di depan dan di belakangnya, apalagi tubuh Wo Shi Shui yang tegap seperti seekor sapi menghadang di depannya, sedikit celah untuk melihatpun tidak ada.

— Yang penting bisa menghindar orang yang akan menyerangnya.

"'Pembunuh perahu', Zhang Hen Shou adalah pembunuh nomor satu di sungai dan laut. Sedang dua ular marga Man ini sangat menguasai keadaan air, aku tidak bisa melihat ada tanda-tanda yang patut dicurigaihanya saja tadi ketika Tuan berada di tengah- tengah sungai sengaja tidak ingin terburu-buru membawa kami menyeberangi sungai, ketika Shen Tai Gong berteriak, kau berpura- pura tidak mendengar teriakannya. Pada saat Wo Shi Shui memanggil untuk kedua kalinya kau baru mendengar. Tenaga dalam Shen Tai Gong memang tidak sekuat A Shui, tapi panggilannya lebih panjang dari A Shui. Seharusnya meskipun jauh Tuan tetap bisa mendengar...jadi Tuan kelihatan berpura-puranya, akupun jadi memperhatikan keadaan sekitar ini. Maka sebelum dua ular marga Man itu memotong tali rakit, aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan."

"Baiklah," pendayung itu pelan-pelan membuka bajunya yang berbentuk seperti jas hujan. Di bawah baju itu tampak sebilah pedang. Pedang itu sangat aneh, besar, kasar, lebar, panjang. Pedang dibawa dengan aneh. Orang normal biasanya meletakkan pedang di sebelah kanan di pinggang atau digantung di belakang punggung, tapi pedang lebar milik orang itu hanya diselipkan di tali pinggang di tengah. Sarung pedang lurus menempel dari dada hingga ke perut bawah. Bagian atas pedang hampir mengenai dagu. Pedang digantung dengan cara seperti itu, tentu akan sulit untuk mencabutnya.

Shen Tai Gong melihat cara orang itu menggantung pedang, dari kiri merasa tidak nyaman, dari karian melihatpun tidak nyaman. Dengan tertawa dia berkata, "Mengapa pedangmu digantung di tenggorokan, seperti kain penutup perut saja"

Kata-kata Shen Tai Gong belum habis, pendayung itu sudah melenting ke belakang. Gerakannya sangat aneh karena bagian belakang kepalanya hampir mengenai tanah dan terdengar suara CHANG. Di dalam kegelapan terlihat cahaya berkilau. Kilauan itu meluncurk ke arah Shen Tai Gong.

Hanya dalam waktu singkat orang itu sudah mencabut senjatanya. Cepat seperti kilat dan sudah menyerang. Wo Shi Shui yang berada di depan, Xiao Xue berdiri di tengah. Shen Tai Gong berada di belakang. Tapi begitu orang itu mengeluarkan jurus, dia bisa melewati Wo Shi Shui, menghindari Xiao Xue dan menyerang Shen Tai Gong!

Tiba-tiba Shen Tai Gong terdiam dan melayang keluar!

Baju panjangnya yang berwarna abu tampak berkibar sebentar di atas permukaan air, setelah itu Shen Tai Gong kembali turun ke atas rakit.

Cahaya sudah tidak terlihat, cahaya itu sudah kembali ke dalam sarungnya.

Pedang tetap tergantung di dalam baju ketat itu, hampir mengenai tenggorokan dan tepat di bawah lutut.

Shen Tai Gong melayang kemudian kembali, tapi pembawaannya yang selalu bercanda sekarang tidak terlihat lagi.

Janggutnya yang mencapai panjang 3 kaki lebih, terpotong hingga satu kaki, waktu kilauan itu terbang, dia melenting ke belakang, dia menghindari pedang yang akan menusuknya dengan cara meloncat, tapi senjata lawan yang keluar bukan sebuah pedang melainkan sebuah golok.

Beruntung Shen Tai Gong bisa terhindar dari tusukan itu tapi punggung Shen Tai Gong sudah berkeringat dingin.

Tiba-tiba Fang Zhen Mei berkata dengan dingin, tidak seperti biasanya dia yang sangat ramah dan sopan, "Zhang H eh Shou, untuk apa kau datang ke sini?" Siapapun orang yang telah menghina temannya dia tidak akan berbuat sopan dan sungkan kepada orang itu.

Di dalam kegelapan, nada bicara Zhang Hen Shou membuat orang teringat pada wajahnya yang selalu datar, "Kau tahu bukan kalau aku adalah seorang pembunuh?"

"Akupun tahu kalau kau seorang manusia," kata Fang Zhen Mei.

Zhang Hen Shou berkata dengan pelan, "Tujuanku...." dia menunjuk dua ular marga Man yang berada di rakit dan berkata lagi, "Sama dengan mereka."

"Membunuh?" tanya Fang Zhen Mei.

Zhang Hen Shou menggelengkan kepalanya.

Walaupun Shen Tai Gong masih kaget tapi dia tetap tertawa, "Sangat aneh, pembunuh Zhong Yuan yang bernama Zhang Hen Shou datang bukan untuk membunuh, apakah dia mau menjadi mak comblang?"

Kedua mata Zhang Hen Shou tampak bercahaya menyeramkan.

Segera Fang Zhen Mei bertanya, "Apakah kau bisa memberitahu tujuanmu?"

"Untuk membeli barang," jawab Zhang Hen Shou. "Kau akan membeli apa?" tanya Fang Zhen Mei.

"Dengan sebuah perahu Cai Lian, sebilah pisau Qie Ming, 100 butir batu mata kucing, ditambah lagi dengan tempat yang ada di Gu Shan Duan Qiao dengan luas kurang lebih 45 kilometer persegi."

"Perahu Cai Lian juga disebut Xiao Jin Ku (xiao=hilang jin=emas ku=lubang), gadis cantik yang ada di perahu Cai Lian sangat banyak, kecantikan, uang banyak susah dibeli dalam waktu semalam. Perempuan yang ada di perahu itu adalah perempuan tercantik juga tercabul, apalagi biasanya barang yang susah didapat, makin banyak orang berusaha untuk mendapatkannya. Mendapatkan sebuah perahu Cai Lian berarti mendapatkan 30  orang perempuan cantik dan genit, masih ada sebuah golok Que Meng. Golok ini adalah pusaka yang paling diinginkan oleh orang dunia persilatan. Karena orang yang memiliki Que Meng Dao ilmu silatnya akan bertambah beberapa kali lipat dan masih ada mitos yang mengatakan, 'barang siapa yang  memiliki  Que  Meng   Dao ini maka perempuan-perempuan cantik yang berperasaan lembut akan jatuh cinta kepada si empunya Que Meng Dao, sekalipun dengan golok itu tidak akan bisa memutuskan cinta yang lembut ini."

— Bukankah hal ini adalah hal yang paling diinginkan oleh seorang laki-laki muda?

'Mata kucing' adalah berlian dengan kualitas tinggi, biasanya 10 butir berlian biasa tidak akan bisa ditukar dengan setengah 'mata kucing' ini. Tapi sekarang 'mata kucing' ini berjumlah 100 butir!

Mengenai tanah dengan luas 45 kilomter persegi, tanah dan sawah selalu melambangkan kekayaan dan kemakmuran. Lebih hebat daripada emas atau cek. Apalagi tanah ini terletak di Gu Shan Duan Qiao, tempat itu adalah tempat wisata di Shui Zhou dan Hang Zhou, kalau di sana dibangun sebuah rumah, cukup membuat hati orang lain menjadi iri, kalau bisa membangun sebuah usaha di sana, benar-benar seperti membangun tempat untuk naga.

Perahu Cai Lian, Que Meng Dao, mata kucing, Gu Shan Duan Qiao— Fang Zhen Mei tertawa, "Siapa yang bisa mengeluarkan uang begitu banyak?"

Zhang Hen Shou melihatnya, di dalam kegelapan wajahnya tidak bisa terlihat jelas tapi dia bisa melihat pandangan matanya yang kuat, membuat hati orang dingin hingga menusuk ulu hatinya.

"Apakah kau ingin tahu?"

"Perahu Cai Lian, mata kucing, ditambah lagi dengan tanah di Shu Zhou, harta yang begitu melimpah terdengar seperti mimpi, kalau tidak memberitahu siapa pembelinya, kami tidak tahu apakah itu nyata atau sekedar ilusi?"

"Baiklah, aku akan mengatakannya," kata Zhang Hen Shou, "Setelah aku memberitahu kalian harus menjualnya."

Dia tidak membalikkan tubuh tapi dia menunjuk dan berkata, "Ren Tou Fan." kemudian dia menunjuk ke belakang, perahu berwarna hitam itu sudah mendekat, panji yang berada di atas tiang perahu itu semua berwarna hitam kadang terlihat kilauan berwarna hijau. Gambar tengkorak yang berada di layar perahu berwarna hitam itu mulai terlihat. Xiao Xue terkejut hingga hampir berteriak.

Fang Zhen Mei melihat, layar perahu terus berkibar tertiup angin, tapi di atas perahu tidak terlihat ada seorangpun.

"Apakah Ren Tou Fan yang datang dari Si Kong Tai?"

Zhang Hen Shou tidak menjawab, dia balik bertanya, "Apakah kau akan menjualnya?"

"Menjual apa?" "Seseorang." "Siapa?"

"Dia." Zhang Hen Shou menunjuk seseorang.

Xiao Xue terkejut dan bersembunyi di balik tubuh Shen Tai Gong.

Ternyata yang ditunjuk oleh Zhang Hen Shou adalah dia.

Fang Zhen Mei tertawa, "Dia?"

"Bagaimana? Kau antar dia ke atas perahu, maka kau akan menjadi pemilik perahu Cai Lian, Que Meng Dao, 100 butir mata kucing, dan Gu Shan Duan Qiao."

Fang Zhen Mei berkata, "Terima kasih. Sampai bertemu lagi!" "Apa maksudmu?" Zhang Hen Shou marah.

"Artinya aku tidak akan menjualnya!" jawab Fang Zhen Mei.

Tangan Zhang Hen Shou pelan-pelan mulai memegang pegangan pedang, gerakannya sangat lambat, tapi terlihat kalau dia sedang berusaha menguasai emosinya, dia bertanya, "Apa hubungan antara dia dan dirimu?"

"Kami bukan saudara juga bukan kenalan lama, dia hanya seorang teman, kenalanku berarti temanku juga."

Shen Tai Gong tertawa, "Aku menjual ikan juga menjual udang, kadang-kadang menjual burung, tapi aku tidak menjual  teman. Yang tua dan muda, laki-laki atau perempuan, bisa ilmu silat atau tidak, semua tidak akan kujual."

Wo Shi Shui hanya dengan dingin berkata, "Pergi kau!"

--ooo0dw0ooo--

Zhang Hen Shou tertawa dingin. Angin yang berhembus di atas sungai sangat kencang, dia hanya mengatakan satu kalimat, "Kalau kau tidak mau menjual teman, kau harus menjual barangmu satu macam lagi." dia berkata kepada Fang Zhen Mei. "Apa?" tanya Fang Zhen Mei dengan tertarik.

"Jarimu," Zhang Hen Shou dengan pelan, "jari tengah tangan kananmu, aku hanya ingin jari itu."

"Bila kau mau menjual jari itu, semua barang itu tetap menjadi milikmu." Semua menjadi terdiam.

--ooo0dw0ooo--

Kemudian suasana hening pecah karena Wo Shi Shui tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggetarkan air sungai, dan sepertinya gelombang air sungai bertambah tinggi.

"Semua orang tahu ilmu silat Fang Zhen Mei yang paling lihai adalah jari tengah tangan kanannya, kalau kau membeli jari itu, artinya kau membeli nyawa kami semua."

"Benar!" suara Zhang Hen Shou berat seperti lonceng besar, "aku memang ingin membeli nyawa kalian."

Fang Zhen Mei berkata, "Di dunia ini tidak ada benda hidup bisa dibeli dengan benda hidup lainnya, nyawa adalah milik kita sendiri, kita berhak untuk hidup!"

Zhang Hen Shou berkata, "Sekarang kau hanya seekor tikus, sedangkan aku adalah seekor kucing, aku akan sekaligus menggigitmu atau menangkapmu, lalu melemparmu, atau menjadikanmu mainan. Yang kuat memakan yang lemah, yang kuat akan tetap hidup sedangkan yang lemah akan mati, ini adalah hukum alam, dari dulu memang seperti itu."

Shen Tai Gong tertawa dingin, "Aku takut kau malah yang menjadi tikus, dan kamilah yang kucing "

Kata-kata Shen Tai Gong baru selesai, Zhang Hen Shou mengangkat kepalanya, pedang sudah dikeluarkan menjadi kilauan golok dan menyerang Shen Tai Gong! t

Golok bergerak sangat .cepat, hanya dalam sekejap sudah berada di depan dada Shen Tai Gong, goloknya bergerak dengan cepat, walaupun tubuh Shen Tai Gong bergerak terus tapi ujung golok terus menempel dekat dengan bajunya.

Waktu itu terdengar suara TANG, golok Zhang Hen Shou patah menjadi dua bagian. Jari tengan Fang Zhen Mei mengetuk golok Zhang Hen Shou seperti es lilin yang terkena api maka dengan sendirinya akan putus.

Zhang Hen Shou terpaku, di tangannya hanya tersisa sepotong golok.

Dia melihat golok yang masih berada di tangannya, wajahnya tampak datar.

Shen Tai Gong tertawa, dia menyipitkan matanya dan berkata, "Walaupun kau adalah seekor kucing, kali ini kau sudah bertemu dengan anjing----seekor anjing pemburu yang bagus..."

Fang Zhen Mei menarik lengan baju Shen Tai Gong dan memberitahu, "Jangan bergurau lagi." terdengar Zhang Hen Shou membuka mulut dan menyanyikan sebuah lagu, nada lagu itu sangat rendah dan kuat, tapi juga terdengar sedih.

Tiba-tiba Wo Shi Shui berkata, "Hati-hati, setelah dia bernyanyi dia akan bunuh diri." dia mengerti di dunia ini ada semacam orang, sekalipun dia adalah seorang pembunuh atau pendekar, mereka tidak mau dikalahkan, kalau sekali memukul tidak mengenai sasaran, cahayanya akan seperti bintang jatuh, golok terakhir pasti akan diarahkan kepada dirinya sendiri.

Shen Tai Gong sudah tidak sabar dan berkata, "Kalau kucing di dunia ini sudah digigit anjing, dia akan malu bertemu dengan kucing-kucing lainnya, dan dia akan bunuh diri, dan sepertinya kucing di dunia ini akan musnah."

Zhang Hen Shou tidak meladeni ucapannya, dia masih terus bernyanyi, lagunya sudah separuh dinyanyikan.

Kata Fang Zhen Mei, "Kalau menyuruhnya jangan mati masih ada cara lain." "Cara apa?" tanya Shen Tai Gong.

Fang Zhen Mei menunjuk ke perahu hitam yang semakin mendekat dan berkata, "Kita harus dengan cepat naik ke sana, sebelum dia selesai bernyanyi, kita tangkap majikannya—kalau majikannya tidak bisa melawan kita, untuk apa anak buahnya mati?"

Kata-kata Fang Zhen Mei yang terakhir dikatakan dengan jelas karena suararrya besar, "Kalau dia adalah majikan yang baik, dia tidak akan membiarkan anak buahnya yang baik ini mati dengan sia-sia."

Terdengar suara tawa yang seram dan berkata, "Rencana yang bagus, supaya dia tidak mati, satu-satunya cara adalah kalian naik ke atas perahu ini dan bertarung."

--ooo0dw0ooo--
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Puteri Es Bab 06 : Lagu sedih tukang dayung"

Post a Comment

close