Puteri Es Bab 04 : Penari jaman dulu

Mode Malam
BAB 4 Penari jaman dulu

Dengan langkah besar Wo Shi Shui berjalan ke arah Ling Yin Si, tiba-tiba dia merasa hatinya sedih. Dia selalu merasa satu orang mempunyai satu nyawa dan sepasang kepalan, demi membela kebenaran harus berani menghadapi semua ini, benar-benar hal yang sangat menyedihkan. Tapi dia menyukai perasaan seperti ini, demi hal inilah dia rela mengorbankan nyawanya.

Sewaktu dia berjalan ke arah kuil ini, dalam hati dia memiliki perasaan aneh.

Kuil itu berbentuk pagoda terbuat dari batu besar dan putih. Tanaman rambat memenuhi dinding kuil, karena itu dinding menjadi terbelah-belah. Biksuni yang berada di dalam kuil terdengar sedang membaca ayat kitab suci. Wajah mereka sama sekali tidak berekspresi. Di tengah-tengah mereka ada sebuah kobaran api. Api menyala bercampur dengan asap hijau. Asap ini terus naik ke atas pagoda, diatas pagoda tidak tertutup tapi di sana tergantung sesuatu seperti kelelawar. Orang yang datang sembahyang seperti sangat menghormati benda itu. Mereka menundukkan kepala membakar uang-uang sembahyang, tidak lupa dengan kayu memukul boneka-boneka yang terbuat dari kain yang disebut Xiao Gui (Setan kecil).

Kecuali kobaran api itu, masih ada 7 buah lampu, tempat sembahyang sangat gelap, hanya ada api dupa yang terpasang, di dalam kegelapan terlihat titik-titik merah.

Tiba-tiba Wo Shi Shui membalikkan kepalanya untuk melihat. Dia merasa ada sepasang mata yang terus melihatnya tapi begitu dia membalikkan kepala, sepasang mata itu sudah menghilang, hanya ada sebuah patung dewa.

Dengan bantuan cahaya dari lampu redup Wo Shi Shui melihat keadaan di sana. Ternyata patung dewa itu adalah patung seorang perempuan yang diukir sangat mirip manusia dan tawanya terlihat agak genit.

Hati Wo Shi Shui merasa tidak enak. Dia merasa di ruangan di mana para biksuni sedang membaca kitab suci secara berulang- ulang seperti sebuah mantra yang bisa membuat orang mati kaku. Dia ingin berteriak, "Di mana pengurus kuil ini?" Tiba-tiba api itu berkilau sebentar, seperti ada orang yang menaruh sesuatu ke dalam api. Di bawah api itu Wo Shi Shui melihat patung dewi yang ada di sebelahnya, wajahnya seperti sangat sedih seperti ingin menangis.

Hal ini membuat bulu kuduk Wo Shi Shui merindingi. Patung dewi yang ada di sisinya hegitu cepat berubah dan dia sama sekari tidak merasakannya. Apakah patung dewi ini adalah manusia?

Karena itu dia mulai meraba patung dewi itu. Patung itu terbuat dari tanah liat. Hanya saja di luarnya diberi semacam bubuk berwarna emas. Wo Shi Shui tidak mengerti.

Dia hanya merasa ruangan ini sangat gelap, penuh rahasia dan tenaga gaib. Seperti ada sesuatu yang sedang melihat ke arahnya, walaupun matanya melotot dengan besar tapi dia tetap tidak bisa melihat ada apa di balik tirai itu.

Setelah lama dia baru menarik kembali sorot mata dan berniat akan meninggalkan tempat ini. Sewaktu dia berniat meninggalkan tempat ini, dia menoleh lagi untuk melihat patung dewi ini. Kali ini dia benar-benar kaget dan bergetar karena patung dewi ini sudah berubah, wajah patung itu tertawa!

Karena terkejut tanpa sadar Wo Shi Shui mundur selangkah. Sesudah mundur dia maju lagi, karena Wo Shi Shui tidak percaya pada kekuatan gaib juga tidak takut pada setan. Tapi keadaan tadi membuatnya terkejut maka tanpa terasa dia mundur. Sifat Wo Shi Shui sangat keras. Setelah mundur dia maju untuk lebih dekat lagi. Dia maju dengan langkah besar, karena dilihat dari sudut yang berbeda membuatnya bisa melihat lebih jelas patung dewi itu. Temyata patung dewi ini diukir dengan sangat aneh dan khusus. Sebelah kiri berwajah sedih, sebelah kanan berwajah tertawa. Dari tengah seperti sedang tertawa. Karena 3 kali mengangkat kepala dan melihat dari sudut tidak sama maka dia salah melihat kalau patung terus berubah ekspresinya. .

Karena dia terkejut sendiri, di dalam hati dia malah sudah menyusun rencana. Tadinya didatang untuk mencari pengurus Ling Yin Si Sekarang dia merasa kuil ini sangat misterius.

Karena itu dia bertekad menyelinap masuk dan menyelidiki keadaan sebenarnya kuil ini.

Dia seperti seekor kucing menyelinap masuk ke dalam tempat sembahyang. Jika sekarang ada orang yang melihatnya, maka orang itu tidak akan bisa percaya kalau seorang laki-laki tinggi, besar juga gagah bisa berjalan tanpa bersuara, dibandingkan dengan seekor cecak.

--ooo0dw0ooo--

Wo Shi Shui melewati beberapa tempat di belakang pagoda itu. Semakin berjalan tempatnya semakin gelap dan sepi. Memang dia belum menemukan sesuatu, dari jauh terdengar ada suara orang membaca kitab suci, suaranya terdengar sangat misterius. Sekarang hari sudah gelap, sinar matahari hanya tersisa sedikit masuk melalui jendela, seperti sebuah buku tua yang menjadi kusam dan kotor.

Penyelidikan Wo Shi Shui tidak menghasilkan apa-apa, jika ada yang bertanya padanya, terpaksa dia akan mengatakan dia hanya menemukan sebuah kamar untuk membaca kitab suci. Di kamar itu tergantung banyak boneka kain, orang-orangan kertas dan orang- orangan yang terbuat dari rumput dan ditusuk dengan jarum. Sepertinya jika tidak menggunakan cara kejam seperti itu, orang- orangan kecil itu akan keluar dan melakukan kejahatan. Kecuali ada beberapa kamar lagi, di dalam sana ada para biksuni yang tidak berekspresi. Mereka seperti hantu gentayangan yang duduk tegak dan diam. Wo Shi Shui melubangi kertas jendela untuk melihat ke dalam. Ada seorang biksuni yang sedang duduk di tengah. Bibirnya merah. Wo Shi Shui seperti mengenali biksuni itu.. .tapi siapakah dia?

Pada saat Wo Shi Shui sedang berpikir dan terpana, kedua mata biksuni itu seperti pisau melihat ke arah lubang kertas yang dibuat Wo Shi Shui.

Wo Shi Shui terkejut, dia segera meninggalkan jendela itu dan naik ke atas atap. Hanya sebentar dia sudah melewati 3 atap dan sampai di sebuah halaman.

Halaman itu berada di belakang pagoda, halaman itu terlihat lebih kotor dan tua lagi, langit hampir gelap semua. Kamar-kamar yang ada di sekitar halaman dikunci dengan rapat, di sana sepi hingga tidak terdengar suara orang yang membaca kitab suci.

Wo Shi Shui ingin segera berlalu dari sana tapi tiba-tiba terdengar suara kecapi. Wo Shi Shui masuk seperti seekor kucing. Dia melewati beberapa kamar kemudian berhenti di depan sebuah kamar karena suara kecapi itu berasal dari sana.

Sewaktu Wo Shi Shui akan mencari tahu diapun berhenti, suara kecapi yang melantun dengan sedih tiba-tiba berhenti.

Begitu suara kecapi berhenti, halaman itu kembali sepi dan sedih.

Wo Shi Shui ingin memprotes suasana sepi dan sedih itu. Tapi suara kecapi terdengar lagi, seperti jauh tapi juga seperti dekat.

Wo Shi Shui tetap mendengar suara itu. Dengan cepat dia melewati beberapa kamar dan sampai di sebuah kamar kecil dan dicat dengan warna hitam. Karena suara kecapi itu keluar dari kamar itu. Di dalam hati dia berpikir, "Kali ini aku tidak akan membiarkan kau lolos begitu saja."

Hari sangat gelap. Baju hitam Wo Shi Shui seakan sudah menyatu dengan kegelapan malam, dia melihat ke dalam kamar, di dalam terpasang sebuah lampu kecil, di sisi lampu ada seseorang yang duduk memakai baju hitam. Wajahnya kuning dan pucat, dahinya agak menonjol, dia duduk di sana diam seperti patung, ternyata yang memainkan kecapi itu adalah dia.

Kecapinya sangat tua dan berwarna hitam, hanya ada beberapa tempat berwarna merah seakan mengeluarkan api.

Nada kecapi itu pelan dan kuno seperti suara seorang perempuan yang sedang pelan-pelan menceritakan riwayat hidupnya.

Yang paling membuat Wo Shi Shui terkejut adalah di dalam kamar itu ada seorang perempuan yang sedang menari.

Salah satu sifat Wo Shi Shui adalah tidak sabaran, dia melihat orang yang sedang menari rasanya tidak sabar. Katanya jika seorang laki-laki sejati melihat perempuan berputar ke sana kemari seperti siput, laki-laki itu paling tidak suka. Tapi sekarang begitu melihat perempuan itu menari, dia merasa tertarik.

Dia tidak pernah melihat tarian seperti itu rambut perempuan itu disanggul tinggi. Antingnya panjang mencapai leher. Lehernya putih hingga anting giok putih yang dipasangpun tidak terlihat. Tubuhnya langsing dan semampai. Dia belum pernah melihat hidung begitu mancung dan bagus, tapi juga terlihat sombong. Dagu yang sedikit terangkat, gerakan yang anggun seperti seekor burung phoenix sombong yang sedang menikmati kecantikannya. Diapun seperti keluarga raja yang sedang memegang kaca menikmati tariannya sendiri.

Kecapi tua mengeluarkan nada begitu pelan, perempuan itu bergerak dengan ringan, ringan seperti seekor anak ayam yang baru menetas dan mematuk kulit telur ingin keluar dari sana. Tapi ujung suara kecapi terdengar seperti suara perang. Perempuan itu seperti menghadapi puluhan ribu prajurit gagah yang sedang menghadapi musuh. Mereka sangat pemberani, jarinya yang panjang terkadang seperti air mengalir, kadang-kadang seperti prajurit yang memakai baju dan senjata lengkap sambil mengibarkan panji besar. — Siapakah orang itu? Tapi Wo Shi Shui lupa untuk berpikir, dia diam di sana bukan karena takut ketahuan melainkan takut mengganggu orang yang sedang menari itu.

Tiba-tiba perempuan itu bertanya, "Ada apa?"

Laki-laki itu menjawab, "Hamba salah memainkan satu nada."

Perempuan itu melihatnya, wajahnya tidak terlihat sedih dan tidak senang dia berkata, "Kau, kau masih ingat pada apa yang telah terjadi...?"

Wajah laki-laki itu segera mengeluaran ekspresi menahan kemarahan dan berkata, "Hamba benar-benar merasa tidak bisa menerima. "

Perempuan itu tersenyum. Dengan santai dia berkata, "Apa gunanya kau tidak bisa menerima...besok adalah hari ulang tahunnya. Saat itu. "

Wo Shi Shui sedang berkonsentrasi ingin mendengar kelanjutan kata-katanya tiba-tiba ada yang memanggil, "Wo Shi Shui, kau ada di mana?"

Suara itu seperti terdengar dari jauh tapi dia tetap masih bisa mendengar jelas. Pelan-pelan suara itu masuk ke telinganya. Wo Shi Shui bergetar. Dia tahu itu adalah suara Shen Tai Gong. Tapi dia tidak mau menyahut karena takut orang yang ada di dalam kamar mendengarnya, dia melihat lagi ke dalam.

Tapi kenyataan yang terjadi membuat dirinya bengong. Lampu kecil itu masih ada.

Tapi di dalam kamar sudah tidak ada siapapun hanya ada sebuah kecapi yang sudah tua. Kecapi yang sudah menghitam dan ada beberapa tempat berwarna merah seperti darah!

— Mana orang tadi?

— Ke mana perginya mereka?

Kabut malam semakin tebal. Wo Shi Shui mengusap-usap matanya supaya bisa melihat lebih jelas lagi tetap tidak ada siapapun di sana. Hari begitu gelap. Malam berkabut apakah tadi yang dilihatnya bukan nyata, hanya ilusi? Apakah teriakan Shen Tai Gong tadi telah menariknya keluar dari pengaruh setan?

Tapi mana perempuan itu? Perempuan yang sedang menari itu? Apakah ini nyata atau hanya sekedar ilusi? Wo Shi Shui berharap itu bukan sekedar ilusi dan berharap semua adalah kenyataan. Tapi kehidupan orang selalu seperti nyata juga seperti ilusi. Hanya sekali berkedip semua sudah berubah. Wo Shi Shui berharap dia bisa terus bermimpi. Tapi yang disebut mimpi pasti akan ada sadarnya juga.

Wo Shi Shui dibangunkan oleh suara yang memanggilnya dengan dingin.

Begitu dia tersadar, ternyata dia sudah dikelilingi oleh banyak orang. Orang-orang yang mengelilinginyapun seperti berada dalam mimpi, mereka seperti hantu gentayangan.

Orang-orang itu mengenakan baju panjang berwarna putih. Di dalam kegelapan mereka seperti salju yang bertumpuk—pedang yang mereka pegangpun mengeluarkan cahaya berkilau seperti salju tampak begitu dingin. "Apakah Tuan tahu ini tempat apa?" Sewaktu Wo Shi Shui ditanya seperti itu, dia sama sekali tidak tahu sekarang ini dia berada di mana.

--ooo0dw0ooo--

Tampak biksuni yang berdiri paling depan dengan pandangan galak melihatnya dan bertanya, "Siapa kau? Mengapa kau bisa ke sini?"

Dengan bingung Wo Shi Shui balik bertanya, "Apakah...di sini adalah...Ling Yin Si. "

Biksuni yang berbibir merah itu berkata, "Kalau kau sudah tahu...itu lebih baik...Ling Yin Si tidak mengijinkan orang luar membuat keributan di sini. Apalagi kau masuk ke tempat terpenting di kuil ini."

Wo Shi Shui teringat itu adalah biksuni pada saat dia mengintip ke dalam kamar dan melihat biksuni itu. Tapi dia tetap merasa sangat mengenal biksuni itu, entah di mana dia pernah bertemu dengan biksuni itu. "Aku...sepertinya, sepertinya pernah bertemu denganmu."

Kata-kata Wo Shi Shui belum selesai, biksuni itu tampak marah dan berkata, "Dasar gila! Kau berani berbuat kurang ajar kepada guru kami!"

"Dasar tidak tahu malu, apakah menurutmu Ling Yin Si adalah tempat di mana kau bisa berbuat keributan seenaknya?"

"Orang gila tidak tahu diri! Cepat tampar dirimu sendiri!"

Karena terus dimarahi, Wo Shi Shui menjadi marah dan kesal, "Dia memang guru kalian, bukan diriku!... Aku hanya ingin bertanya, di mana kalian menyembunyikan penari itu? Dan kalian juga yang mencabut nyawa nenek tua itu, di mana keempat pembunuh itu bersembunyi?" Semakin bicara nada Wo Shi Shui semakin marah, sampai masalah penari hilang, mencabut nyawa nenek tuapun dikatakan semuanya kepada para biksuni itu.

Para biksuni itu terpaku, "Apa maksud orang ini?" "Sepertinya dia sudah gila!"

"Usir dia dari sini!" "Jangan ladeni dia lagi!"

Wo Shi Shui sendiripun tidak mengerti perkataan para biksuni itu, maka diapun membentak. "Siapa yang bertanggung jawab di sini? Suruh dia keluar dan bicara denganku!"

Biksuni itu tertawa dingin, sepasang matanya yang lincah melihat Wo Shi Shui dan berkata, "Sejak tadi orang itu sudah berada di depanmu."

Wo Shi Shui terkejut, "Kau...kau...kau adalah—-"

Biksuni itu mengangguk, sambil tertawa dia melihat Wo Shi Shui, "Aku adalah kakak tertua di You Ling San Si, aku juga penanggung jawab Ling Yin Si "

"Aku adalah Si Kou Xiao Dou!"

--ooo0dw0ooo--

Setelah lama Wo Shi Shui baru mengerti, "Kau.. .kau adalah Si Kou Xiao Dou? Aku memang sedang mencarimu!"

Dia melihat lurus ke arah bola mata Si Kou Xiao Dou, mata itu seperti sebuah sumur tua yang airnya sangat bening. Dia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, tapi anehnya dia selalu ingin melihat mata itu.

Sambil tertawa Si Kou Xiao Dou bertanya, "Ada apa kau mencariku ?"

Wo Shi Shui ingin menjawab, tapi lidahnya seperti kelu, dia tidak dapat menjawab, Wo Shi Shui merasa dia sudah meloncat masuk ke sebuah sumur tua. Tubuh yang tadinya terapung sekarang terus tenggelam dan tenggelam....

Si Kou Xiao Dou tertawa, dia maju selangkah, "Kau mencariku, ingin mencoba menundukkan ku ? Apakah benar?"

Wo Shi Shui ingin menjawab, "Bukan, bukan seperti itu!" tapi sifatnya yang jantan dan keras seperti sudah masuk ke dalam tanah, dia tidak bisa memperlihatkan sifatnya lagi.

Dengan lembut Si Kou Xiao Dou berkata, "Kalau kau tunduk kepadaku, berlututlah!"

Wo Shi Shui merasa seperti ada tenaga besar yang menyuruhnya berlutut, otaknya terus memerintahkan dia supaya berlutut, berlutut, berlutut.... Tapi hatinya memberontak dan menolak, dia tidak mau berlutut! Tidak sudi berlutut! Karena itu kakinya menjadi gemetar seperti terkena penyakit ayan yang sedang kambuh, dia berusaha untuk tidak berlutut.

Wajah Si Kou Xiao Dou tampak sedikit berubah, baginya ini adalah untuk pertama kalinya dia bertemu dengan lawan yang memiliki tenaga begitu kuat. Semenjak dia menguasai ilmu guna- guna, dia tidak pernah gagal mempergunakan ilmu itu, karena itu dia segera meengganti dengan cara lain.

"...kalau kau tidak mau berlutut berarti kau tidak tunduk kepada perintahku, kau datang untuk tunduk kepadaku, tapi kau sudah melanggar aturanku, untuk apa kau hidup?...lebih baik kau mati saja." Kata-katanya terdengar sangat lembut, dia berjalan mendekati Wo Shi Shui, tangan kanannya diangkat hingga setinggi dada, tangannya putih seperti salju, telapak tangannya seperti ada es yang membeku.

Wo Shi Shui masih tampak kebingungan dan ragu-ragu dia masih berpikir, "Berlututlah...." tapi kekuatan yang datang dari luar terus berteriak di telinganya memerintahkan dia supaya jangan berlutut! Dia tidak boleh berlutut.

"Aku adalah Wo Shi Shui, kalau aku berlutut lebih baik aku mati...." begitu pikiran mati terlintar di kepalanya, dia segera mengangkat tangan kanannya, siap memukul dirinya sendiri.

Begitu melihat Wo Shi Shui mengangkat tangannya mata Si Kou Xiao Dou memancarkan cahaya senang.

Di dalam otak Wo Shi Shui hanya berpikir, "Lebih baik mati, lebih bagus memilih mati. "

Hatinya masih sedikit sadar, pikirannya bergejolak dan memberontak.... Waktu itu tiba-tiba di tengah udara ada yang membentak, "Beruang besar, kau sedang apa?"

Masih terdengar suara seorang gadis kecil yang berteriak, "Kakak, kau tidak boleh mati. "

Setelah mendengar suara itu, Wo Shi Shui seperti disambar geledek, tangannya berhenti di tengah udara. Terlihat dari atas turun seseorang dengan rambut dan kumis berwarna putih. Dia menggendong seorang gadis kecil. Gadis itu menurut seperti seekor kucing yang lincah dan cantik. Si Kou Xiao Dou marah, "Siapa kau "

Orang itu tertawa dan menjawab, "Aku bapakmu!"

Dia membalikkan tubuh, ditamparnya Wo Shi Shui kemudian dia menendang Si Kou Xiao Dou yang telah datang menghadangnya.

--ooo0dw0ooo--

Ternyata orang yang datang adalah Shen Tai Gong dan Xiao Xue. Setelah Shen Tai Gong mengeluarkan 'guna-guna dingin' dari tubuh Xiao Xue, gadis itu merasa tubuhnya lebih enak, ternyata Shen Tai Gong telah memindahkan sebagian tenaga dalamnya ke tubuh Xiao Xue.

Xiao Xue melihat Shen Tai Gong kelelahan hingga nafasnya terengah-engah dan wajahnya merah. Hatinya merasa tidak tenang, dia tahu kalau kakek ini sangat baik kepadanya.

Shen Tai Gong mengatur nafasnya, begitu dia membuka matanya, dia melihat Xiao Xue yang juga sedang menatapnya.

Matanya sudah penuh dengan air mata, hatinya merasa terhibur sekarang.

Shen Tai Gong tertawa kepadanya, dia berusaha membuat keadaannya jauh lebih baik, "Siapa namamu, gadis kecil?"

"Namaku adalah Xiao Xue." "Xue apa yang dimaksud?" "Xue yang artinya salju." "Apa nama margamu?"

"Dulu kakekku bermarga You."

"Kalau begitu namamu You Xiao Xue?" "Benar!"

"Nama yang bagus, orang yang memiliki nama yang indah janganlah terus bersedih, ayo, aku akan menggendong mayat nenekmu. Kita ke atas mencari temanku yang bernama beruang besar—Kalau tempat ini adalah kuil yang baik, kita akan menguburkan nenekmu di sini, kalau kuil ini jahat, kita akan bakar kuil ini setelah itu baru menguburkan nenekmu, bagaimana?"

"Baiklah!" Xiai Xue tetap menundukkan kepalanya, karena itu Shen Tai Gongpun menggendong gadis itu, tangannya mengangkat mayat nenek itu, lalu merekapun naik tangga menuju Ling Yin Si. Karena para pesilat tangguh melihat Wo Shi Shui naik menuju Ling Yin Si, maka merekapun berkumpul di dalam kuil. Jejak kaki Shen Tai Gong yang menggendong Xiao Xue tidak ada yang memperhatikan. Dia mencari Wo Shi Shui tapi tidak menemukannya, karena itulah Shen Tai Gong berteriak memanggilnya. Setelah sampai di atas pagoda dia melihat Wo Shi Shui berada dalam keadaan setengah sadar, dan pastinya sedang berada dalam keadaan berbahaya. Segera Shen Tai Gong meletakkan mayat nenek Xiao Xue dan hanya dengan menggendong Xiao Xue dia lari ke arah Wo Shi Shui. Dia bertekad akan membuat Ling Yin Si terguling.

--ooo0dw0ooo--

Tendangan Shen Tai Gong ke belakang benar-benar tepat, membuat tubuh Si Kou Xiao Dou menabrak kakinya! Tapi tubuh Si Kou Xiao Dou yang melaju tiba-tiba berubah seperti menjadi

sehelai kertas yang melayang dengan ringan, dia tampak melayang-layang di tengah udara. Tendangan Shen Tai Gong tidak mengenai sasaran. Si Kou Xiao Dou sudah berada di tengah udara, dia turun sambil membawa kemoceng yang berbentuk seperti jala dan menutup ke bawah.

Sebenarnya bisa saja Shen Tai Gong bergeser ke depan atau ke belakang untuk menghindarinya tapi karena dia takut kalau Xiao  Xue yang berada di punggungnya akan terluka, maka diapun berganti posisi menjadi telentang. Kumisnya yang putih dilempar ke atas dan membelit kemoceng yang sedang turun itu.

Shen Tai Gong membentak dan menarik, dia berniat menarik Si Kcu Xiao Dou turun, karena saat itu Si Kou Xiao Dou sedang berada di tengah-tengah udara, Shen Tai Gong tidak bisa mengeluarkan tenaga, karena dia tidak ada pertahanan maka diapun ditarik turun oleh Shen Tai Gong.

Shen Tai Gong dengan kumis putihnya tampak berputar-putar, Si Kou Xiao Dou bergerak seperti kincir angin mengikuti gerakan Shen Tai Gong. Si Kou Xiao Dou tahu dengan jelas kalau Shen Tai Gong berhenti, maka dia akan terlempar jauh, karena itu dia mulai melonggarkan tangannya.

Hal ini seperti tangan seseorang yang memegang tali dengan ujung tali diikat pada sebuah bola, dan bola itupun berputar, kalau ujung tali yang berada pada bola itu terlepas, maka bola tersebut akan terlempar jauh.

Walaupun Si Kou Xiao Dou bisa terbang ke atas, ke bawah, atau melayang, tapi secara tiba-tiba dia membalikkan badan dan dengan cepat lari ke belakang Shen Tai Gong.

Begitu Shen Tai Gong merasa kalau janggutnya menjadi ringan, dia tahu kalau Si Kou Xiao Dou sudah terbang keluar, dia segera menghentikan tubuhnya yang berputar.

Waktu itu Shen Tai Gong merasakan kalau di belakang tubuhnya ada angin kencang yang datang. Kalau dalam keadaan biasa dia akan membalikkan tubuh dan menyambutnya, tapi sekarang Xiao Xue berada di punggungnya, tubuhnya tidak bisa bergerak selincah biasa.

Kesepuluh jari Si Kou Xiao Dou siap menusuk belakang tubuh Shen Tai Gong bagian kiri dan kanan. Xiao Xue berada di punggungnya, tapi sisi kiri dan kanan tidak tertutup oleh tubuh Xiao Xue—kesepuluh jari dengan kuku panjang yang dikutek merah, panjangnya mencapai hampir 25 sentimeter seperti 10 pisau tajam!

Kuku Si Kou Xiao Dou bukan senjata untuk membunuh orang tapi kalau Shen Tai Gong tertusuk, walaupun dia tidak mati tapi hidupnya akan lebih sengsara daripada mati. Karena Shen Tai Gong akan terkena guna-guna Si Kou Xiao Dou, guna-guna ini bisa membuat seorang laki-laki akan setia seumur hidup kepadanya.

--ooo0dw0ooo--
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Musuh Dalam Selimut (Hui Hong Tjiam Liong)] akan diupload pada pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Puteri Es Bab 04 : Penari jaman dulu"

Post a Comment

close