Pertemuan di Kotaraja Bab 19 : Bertempur melawan sepasang iblis

Mode Malam
19. Bertempur melawan sepasang iblis.

Tongkat milik Si Ku-pei berat lagi kasar, paling tidak bobotnya mencapai tujuh puluhan kati, ketika diputar bagaikan gangsing, sulit bagi siapa pun untuk menangkis maupun menghadapinya. Apalagi serangan itu datangnya sedemikian cepat, baru saja badannya melambung, tahu-tahu serangan itu sudah langsung menumbuk ke badan si Tanpa Perasaan.

Di tengah kegelapan malam, tampak sesosok bayangan putih melayang ke bawah, dengan posisi tegak lurus si Tanpa Perasaan langsung melayang turun dari atas dinding.

"Blam!", batu dan pasir beterbangan di udara, dinding bekas tempat duduk si Tanpa Perasaan sudah terhajar telak oleh pukulan tongkat, sebuah lubang amat besar segera muncul di situ.

Sementara Tanpa Perasaan sendiri sudah melayang turun melewati atap tandu, kemudian menerobos masuk ke balik tandunya.

Tubuh Si Ku-pei ibarat sebuah piringan yang sedang berpusing kencang, baru selesai tongkatnya menyentuh tanah, kembali badannya meluncur balik dengan kecepatan tinggi, waktu itu tubuh si Tanpa Perasaan belum menyusup ke dalam tandu, tiba-tiba dia ayunkan telapak tangan, lima titik cahaya bintang segera melesat ke depan dengan kecepatan tinggi.

Dua titik cahaya bintang langsung menghajar dada dan perut Si Ku-pei.

Tampaknya si Tanpa Perasaan telah memanfaatkan peluang yang terbaik untuk melancarkan serangannya.

Tubuh Si Ku-pei yang sedang meluncur balik segera melakukan perubahan di udara, secara beruntun dia bersalto hampir tujuh-delapan kali, biarpun sedang berada di udara yang tak bertenaga, namun dia dapat berjumpalitan secara mudah dan lincah, bahkan tubuhnya melambung semakin tinggi, tak ubahnya seperti seekor kutu loncat!

Sehebat-hebatnya senjata rahasia, sulit juga untuk menghajar seekor kutu loncat.

Kelima titik cahaya bintang itu melesat lewat di samping tubuh Si Ku-pei, begitu kelima titik cahaya itu berlalu, si Pentolan iblis kembali memutar tongkatnya seperti gangsingan, desingan angin berpusing sekali lagi menggerakkan badannya melayang ke samping arena, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan.

Begitu bayangan tubuh Si Ku-pei lenyap, tiba-tiba saja keheningan yang luar biasa mencekam seluruh jagad.

Apakah pertempuran sengit yang baru saja berlangsung akan diakhiri begitu saja? Apakah Si Ku-pei ketakutan dan melarikan diri?

Jelas mustahil, tidak mungkin!

Keheningan yang mencekam arena pertarungan justru membuat seluruh jago yang hadir merasa semakin tegang, peluh dingin mulai bercucuran membasahi jidat mereka.

Yang terlihat saat ini hanya bintang yang bertaburan di angkasa, tak ada suara, tak ada kehidupan di sekeliling dinding kota, begitu juga dengan tandu itu, tak ada suara, tak ada gerakan, entah apa yang sedang dipikirkan penghuni tandu itu?

Semua orang tahu, Si Ku-pei pasti sedang mempersiapkan serangan berikutnya, dan serangan itu dapat dipastikan jauh lebih dahsyat dan hebat ketimbang serangan sebelumnya.

Biarpun Ui Thian-seng sudah lama berkelana dalam dunia persilatan dan mempunyai banyak pengalaman, saat ini tak urung bermandikan keringat dingin juga.

Pada saat itulah desingan angin tongkat kembali bergema membelah keheningan.

Desingan angin tajam itu berasal dari luar pintu gerbang kota, ketika semua orang mulai mendengar suara itu, desingan angin tajam telah menerobos masuk ke balik pintu kota dan mendekati punggung Pedang bunga bwe, Pedang anggrek serta Pedang bambu.

Kebetulan ketiga orang dayang itu berdiri persis di belakang tandu.

Tandu itu menghadap ke dalam kota, ketika si Tanpa Perasaan melayang masuk ke dalam tandu, dia pun menghadap ke arah kota, berada pada posisi membelakangi pintu kota.

Padahal serangan dahsyat itu datangnya dari luar pintu kota, yaitu datang dari punggungnya.

Baru desingan angin tajam berkumandang, serangan sudah tiba di depan mata. Tanpa Perasaan tidak memiliki kungfu hebat, tentu saja dia tak sanggup menangkis datangnya ancaman, kecuali dia segera melepaskan senjata rahasianya. Kalau tidak, jika Si Ku-pei sampai menempel di hadapan tandunya, dia akan kehilangan kesempatan untuk hidup.

Tapi kini Si Ku-pei menerjang tiba dengan mendekati punggung si Pedang bunga bwe, Pedang anggrek serta Pedang bambu, sekalipun Tanpa Perasaan masih sempat membalikkan badan, mustahil baginya untuk menyerang dengan senjata rahasia ... tentu saja kecuali dia membunuh dulu ketiga orang dayang itu.

Tentu saja Tanpa Perasaan tak boleh bertindak begitu. Peluang yang sangat baik berlalu dalam waktu singkat, kini

Si Ku-pei sudah muncul di depan mata.

Bersamaan dengan gerak tubuhnya menghampiri punggung ketiga orang dayang itu, tongkat Si Ku-pei langsung menyodok pula ke tengah tirai yang menutupi tandu itu.

Dalam keadaan seperti ini tak mungkin lagi bagi si Tanpa Perasaan melepaskan senjata rahasianya, seandainya sempat menyerang pun, dapat dipastikan senjata rahasia yang dilontarkan akan menghajar punggung beberapa orang korban tak bersalah. Tubuh Si Ku-pei sudah menerjang hingga menempel kayu pengusung di belakang tandu, pada saat itulah mendadak dari balik tandu muncul dua bilah pisau yang sangat tajam.

Kedua bilah pisau tajam itu ditembakkan keluar, sepintarpintarnya Si Ku-pei, dia tak menyangka kalau kedua belah kayu pengusung tandu itu ibarat dua belah tangan manusia yang bisa menembakkan pisau tajam, dalam keadaan seperti ini bila dia tetap menerjang maju ke depan, sebelum tongkatnya sempat menghabisi nyawa penghuni tandu itu, bisa jadi dadanya sudah ditembusi kedua bilah pisau tajam itu.

Ujung pisau telah menembus pakaian yang dikenakan Si Ku-pei, dalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak tubuh si Pentolan iblis yang sedang menerjang maju itu berubah melambung ke atas, sedemikian cepatnya perubahan itu terjadi seakan sejak awal dia memang berniat melakukan hal itu.

Bagaikan seekor rajawali raksasa Si Ku-pei melambung ke udara, kemudian meminjam tenaga tembakan dari pisau itu, tubuhnya melambung lebih tinggi lagi ... meski begitu, semua orang sempat melihat dengan jelas, pada ujung pisau yang ditembakkan keluar dari kayu penggotong tandu itu lambatlamat telah dibasahi oleh bercak darah.

Tubuh Si Ku-pei melambung dengan cepat, waktu merosot turun ke bawah pun sangat cepat... sedemikian cepatnya seolah sejak dari atas dia telah mengeluarkan jurus Thay-sanya-teng (bukit Thay-san menindih kepala) untuk mempercepat daya luncurnya.

Begitu ayunan tongkat dibabatkan ke bawah, bukan saja jalan menuju ke atas si Tanpa Perasaan tertutup, mau maju, mundur, ke samping kiri ataupun ke kanan, hampir dapat dipastikan semuanya berada dalam jangkauan ancaman lawan, apalagi yang lebih hebat dari serangan itu adalah bukan saja dipenuhi jurus serangan bahkan disertai pula pertahanan yang kokoh, seandainya ada serangan senjata rahasia yang diarahkan ke tubuhnya, boleh dibilang Si Ku-pei sudah melindungi seluruh badannya, dari atas hingga ke bawah sedemikian rapatnya hingga air pun sulit untuk menembus.

Serangan itu dilancarkan Si Ku-pei dalam suasana hati yang amat gusar, tampaknya ayunan tongkat itu segera akan menghancurkan tandu itu.

Secara tiba-tiba dia merasa pemuda pucat tanpa kaki ini merupakan musuh bebuyutannya dalam penitisan yang lalu, bila dia tak berhasil menghabisi nyawanya, besar kemungkinan dialah yang akan mati di tangannya.

Pada saat itulah si Tanpa Perasaan menampakkan diri.

Ia tidak melambung ke udara, juga tidak menerjang keluar dari tandunya, ternyata pemuda itu menggelinding keluar dari dasar tandu ... sekali menggelinding, sejauh tujuh-delapan depa lebih hingga berada pada posisi serong dari sudut Si Kupei berada, dan pada saat yang bersamaan dia mengayunkan tangannya, tiga titik cahaya putih langsung melesat ke depan menghajar tubuh bagian bawah si Pentolan iblis.

Tubuh bagian atas Si Ku-pei tentu saja dalam perlindungan yang kokoh dan rapat, berbeda dengan tubuh bagian bawahnya.

Saat itu tubuh Si Ku-pei sedang berada di udara dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas, serangan itupun dia lancarkan dengan sepenuh tenaga, rasanya mustahil bagi gembong iblis ini untuk menghindarkan diri dari sergapan ketiga senjata rahasia itu. 

Si Ku-pei memang jagoan tangguh, dalam keadaan begini mendadak tongkatnya diputar bagaikan kitiran dan dilontarkan ke bawah.

Ujung tongkat dengan tepat menghajar ketiga batang pisau terbang itu, terbentur oleh kekuatan yang besar, Hui-to itu kehilangan arah dan mencelat ke empat penjuru.

Ketika tongkat itu melejit balik ke tangan Si Ku-pei, gembong iblis ini kembali berjumpalitan dan melayang turun di atas dinding kota, sementara si Tanpa Perasaan entah sedari kapan telah balik kembali ke dalam tandunya. Berada di atas dinding kota yang tinggi, Si Ku-pei berdiri dengan posisi Kim-ke-tok-lip (ayam emas berdiri di satu kaki), setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, mendadak bagaikan sebuah layang-layang dia melesat menuju ke bagian kota yang lebih tinggi.

Ketika sang rase bertemu kelinci, biasanya korban tak akan dilepaskan begitu saja, tapi begitu berjumpa dengan serigala, siapa pun tentu akan kabur lebih cepat daripada yang lain.

Namun biasanya serigala dapat melakukan pengejaran jauh lebih cepat lagi.

Baru saja Si Ku-pei menggerakkan tubuhnya, tandu itu ikut bergerak, ternyata pada tandu itu terdapat dua buah roda besar terbuat dari kayu yang bisa berputar cepat dan lincah, ketika tubuh Si Ku-pei melayang turun lagi ke bawah dinding kota, tandu itu telah menerjang keluar dari pintu gerbang.

Semua kejadian berlangsung dalam waktu singkat, membuat semua orang merasakan pandangan matanya kabur, ternyata belasan jago yang hadir di arena tak seorang pun yang sempat ikut ambil bagian, hingga suara roda tandu semakin menjauh, baru semua orang tersadar dari lamunannya.

Jelas Si Ku-pei telah melarikan diri dengan membawa kekalahan besar, sebelum meninggalkan tempat itu dia sempat membawa ketiga siluman yang tersisa dari Siu-Io-suyau dalam keadaan terluka, ketiga orang siluman itu saling bertukar pandang sekejap, lalu secara tiba-tiba kabur dari situ dengan berpencar ke tiga penjuru.

Yang satu kabur ke arah kiri, yang satu ke kanan dan orang ketiga kabur menuju ke dalam kota ... tentu saja mereka tak berani menerjang ke arah luar, karena Ui Thian-seng dan kawan-kawan berada tepat di depan pintu gerbang kota.

Begitu mereka bergerak, Ui Thian-seng dan lainnya ikut bergerak.

Ketika melihat 'Nyo Su-hay’ kabur menuju ke dalam kota, Ui Thian-seng segera mengejar ke dalam kota. Sementara Kim-gin-su-kiam-tong (empat bocah pedang emas dan perak) menghadang jalan pergi 'Tiau Sin', mereka pernah merasakan cambuk kuda 'Tiau sin', maka sebagai bocah yang rasa ingin menangnya besar, mereka tak ingin membiarkan orang itu kabur.

Khong Bu-ki, Ci Yau-hoa, Chin Ang-kiok, Yau It-kang beserta si Pedang bambu, Pedang bunga bwe dan Pedang anggrek serentak melompat naik ke atas dinding kota dan mengejar lelaki bergolok itu ... hampir saja mereka jadi korban terguyur minyak mendidih, tentu saja amat mendendam terhadap lelaki itu, kalau bukan dia yang jadi sasaran, lalu siapa pula yang akan dikejar?

Ternyata lelaki itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, tapi sayang di empat penjuru ada musuh yang mengejarnya, bicara soal kepandaian silat, kemampuannya sama sekali tidak di bawah Khong Bu-ki, Ci Yau-hoa maupun Chin Ang-kiok, tapi bila harus tiga melawan satu, lelaki bergolok itu sadar, sulit baginya untuk lolos dengan selamat, apalagi di sana masih ada Yau It-kang serta tiga orang budak pedang.

Dalam keadaan begini, terpaksa lelaki bergolok itu harus berusaha keras meloloskan diri, dia berlarian di atas dinding kota dan sedapat mungkin menghindari pertarungan secara langsung dengan musuh.

Sayang sejauh-jauhnya dia melarikan diri, akhirnya sampai juga di ujung jalan.

Tempat yang paling jauh nampaknya memang jauh sekali, tapi suatu ketika kemungkinan akan terdampar di sana, menjelajahi setiap jengkal tanahnya. Sebaliknya tempat yang paling dekat, belum tentu pernah kau jelajahi untuk selamanya.

Biasanya orang memang tak pernah menghargai benda yang ada di sekelilingnya, orang selalu berharap bisa mendapatkan sesuatu yang mustahil diperoleh, mengharapkan sesuatu yang ada di tempat jauh, ketika tersadar kembali dan mengharapkan barang yang ada disekitarnya, seringkali benda itu justru telah berubah jadi amat jauh sekali.

Oleh sebab itu, yang jauh seringkali justru dekat, sebaliknya yang dekat justru seringkali malah jauh sekali.

Si Ku-pei menuju ke tempat yang jauh sekali, maka tibalah dia di atas sebuah tebing curam yang dikelilingi jurang.

Si pentolan iblis menengok sekejap ke bawah, seakan yakin tiada jalan lain untuk melarikan diri, pelan-pelan dia membalikkan tubuh.

Dalam pada itu suara roda kayu yang menggelinding makin lama semakin dekat, makin lama semakin menghampiri tempatnya berdiri.

Bila Si Ku-pei tidak memilih arah itu untuk melarikan diri, mustahil tandu beroda itu dapat menyusulnya.

Tapi sayang, kota Pak-shia memang dikelilingi tiga tebing curam di sekitarnya, Si Ku-pei hanya memiliki sedikit kesempatan untuk lolos dari kejaran lawan.

Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan tiga puluh tahun berselang, belum pernah gembong iblis ini mengalami nasib setragis ini, dikejar orang hingga terdesak ke tebing buntu.

Suara roda tandu sudah semakin dekat, akhirnya tandu itu berhenti. Di bawah cahaya rembulan, tandu itu mirip dengan sebuah patung pemujaan, hanya saja tak ada yang melihat jelas patung pemujaan itu merupakan Sin-beng yang mana.

Dengan menggenggam kencang tongkatnya, Si Ku-pei berdiri tegak di tempat, serunya kemudian dengan suara menyeramkan, "Tanpa Perasaan, kalau kau memang bernyali ayo cepat menggelinding keluar, mari bertempur habishabisan!"

Jelas dia mulai menaruh perasaan ngeri dan seram terhadap tandu kayu yang penuh misteri itu.

Terdengar orang yang berada di balik tandu berkata dengan suara yang lebih dingin dari salju, "Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu."

"Tanyakan saja!" sahut Si Ku-pei setelah tertegun sejenak. "Enam belas tahun berselang, di desa Pek-pok-cun, kota Wei-yang propinsi Kang-siok terdapat seorang yang bernama Seng Teng-thian, dia disebut juga Seng Pang-gan, orang persilatan menyebutnya Bun-bu-pang-gan (sastra dan silat menyolok mata), kau kenal dengan orang ini?"

"Seng Pang-gan ... Seng Pang-gan ... bukankah dia mempunyai seorang bini yang dijuluki Giok-li-juan-soh (gadis suci menembus jarum) Cheng Siu-gi?"

"Benar!"

Si Ku-pei segera mendongakkan kepala dan tertawa panjang, "Hahaha ... benar, waktu itu aku sudah belasan tahun terjun ke dalam dunia persilatan, selama itu tak pernah ada orang yang berani merecoki mereka ... seorang saudaraku yang melakukan suatu perbuatan di luar desa Pek-pok-cun telah diketahui olehnya, maka dia gunakan jarum sulam untuk membutakan sebelah matanya, tapi kemudian aku bersama dua belas orang jago lainnya berhasil membantai seluruh keluarganya dan memperkosa semua wanita yang ada di sana

... satu pun tak ada yang kami lepas”

Berbicara sampai di sini ia berhenti Sejenak, kemudian tegurnya, "Apa hubunganmu dengan Seng Teng-thian dan Cheng Siu-gi?"

"Aku adalah putranya," jawab Tanpa Perasaan sepatah demi sepatah.

Si Ku-pei agak tertegun, ujarnya setelah termenung sejenak, "Bukankah keluarga Seng hanya berputra satu?"

"Benar!"

"Tapi aku masih ingat dengan jelas, bocah itu sudah dibantai bahkan terbakar hangus dalam kebakaran besar."

"Aku pun masih ingat peristiwa itu dengan jelas, hanya ... aku berhasil merangkak keluar dari kobaran api."

"Dan kakimu ” Si Ku-pei seakan menyadari sesuatu.

"Inilah hadiah yang kau berikan untukku," tukas Tanpa Perasaan dingin.

"Hahaha Si Ku-pei tertawa seram, "kukira siapa kau, rupanya kita adalah sobat lama." ......... (hal 211 tidak ada)

*****

..........apapun, malah pisau yang ternoda darah pun sama sekali tak kelihatan.

Kayu pengusung tandu memang tiada gerakan, namun sisi tandu justru ada.

Mendadak dari kedua sisi tandu itu terbuka dua buah lubang, dari balik lubang muncul dua bilah penggaet yang langsung mencengkeram tongkatnya dan mencekalnya kuatkuat.

Si Ku-pei amat terperanjat, lekas dia berusaha menarik senjatanya ke belakang, namun penggaet itu telah mencengkeram senjatanya.

Dalam panik dan kagetnya, cepat Si Ku-pei menarik sekuat tenaga, demikian kuat tenaga tarikannya sehingga membuat tandu itu ikut terseret maju, namun penggaet itu masih tetap mencengkeram tongkatnya.

Si Ku-pei bukannya tidak tahu, jalan terbaik dan tercerdas baginya saat ini adalah melepaskan tongkatnya sambil mundur, namun dia pun sadar, begitu dia melepaskan tongkatnya, maka jangan harap ilmu tongkat iblis gilanya bisa digunakan lagi.

Sementara dia masih ragu, terlihat tiga titik cahaya merah meluncur keluar dari balik kayu pengusung tandu.

Si Ku-pei enggan melepaskan tongkatnya, cepat ujung bajunya digulung ke atas untuk melindungi wajahnya, tiga titik cahaya merah itu seketika menghajar di atas baju itu.

Menggunakan kesempatan di saat lawan menutup wajahnya dengan ujung baju, si Tanpa Perasaan segera memanfaatkan dengan melancarkan serangan sekali lagi.

Tujuh buah cahaya kebiru-biruan melesat keluar dari tangannya, langsung mengancam tujuh buah jalan darah penting di tubuh Si Ku-pei. Menanti si Pentolan iblis menyadari datangnya bahaya, ujung baju yang dipakai menutupi wajahnya itu mendadak mulai terbakar hebat.

Ternyata ketiga titik cahaya merah yang dilontarkan pertama kali tadi adalah peluru api.

Dalam posisi terbakar, biarpun Si Ku-pei tak ingin melepaskan tongkatnya pun tak mungkin lagi, tapi biarpun dia melepaskan cekalannya, ketujuh titik cahaya biru itu telah menyambar tiba, untuk menghindarkan diri rasanya juga sudah terlambat.

Sambil mengerutkan badan, sekuat tenaga Si Ku-pei beringsut mundur ke belakang.

Dia mundur dengan cepat, namun cahaya biru itu mengejar jauh lebih cepat lagi. Akhirnya si Pentolan iblis tetap tak sempat menghindarkan diri maupun menyambut datangnya serangan itu.

Tiba-tiba tubuh Si Ku-pei terjun ke bawah diikuti jeritan ngeri yang memilukan hati.

Ketujuh titik cahaya biru memang melintas persis di atas batok kepalanya, tapi tubuh Si Ku-pei sudah terpelanting hingga tercebur ke dalam jurang.

Rupanya dia mundur terus dan lupa kalau di belakang tubuhnya merupakan jurang yang amat dalam

Sehebat-hebatnya kungfu yang dimiliki Si Ku-pei, dia tetap seorang manusia, jika seorang manusia terpeleset jatuh ke dalam jurang maka tubuhnya pasti akan hancur lebur.

Tampak segulung bola api yang makin membara meluncur ke dasar jurang dengan kecepatan luar biasa, bayangan itu makin lama makin mengecil sebelum lenyap dari pandangan.

Kini yang terdengar hanya jeritan ngeri yang menyayat hati, jeritan yang makin sayup sebelum akhirnya hilang sama sekali.

Sebuah tangan yang putih memucat pelan-pelan menyingkap tirai yang menutupi tandu.

Sinar rembulan yang redup memancar di atas wajah si Tanpa Perasaan yang pucat, tidak nampak rasa sedih atau duka di atas wajahnya yang kaku, juga tak nampak rasa gembira, yang tersisa hanya lamunan yang lama ....

Ketika Tanpa Perasaan kembali ke Pak-shia, suasana dalam kota Wu-yang-shia masih sepi bagai kota mati, seluruh kota dicekam kegelapan, tiada cahaya lentera yang menerangi tempat itu, pintu gerbang kota setengah terbuka, di situ pun tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Kemana perginya Ui Thian-seng sekalian?

Diam-diam si Tanpa Perasaan mulai berpikir, dengan kekuatan yang dimiliki rombongan Ui Thian-seng untuk menghadapi ketiga siluman Siu-lo-sam-yau, mustahil mereka dipecundangi lawannya.

Tapi kemana perginya kawanan jago lihai itu? Tanpa sebab mustahil mereka lenyap begitu saja.

Sekalipun ada urusan penting mereka terpaksa harus pergi, paling tidak harus meninggalkan orang untuk menyampaikan berita ini kepadanya, atau paling tidak harus meninggalkan kode rahasia sebagai petunjuk.

Tapi sekarang, tak ada manusia, juga tak ada kode rahasia.

Tanpa Perasaan segera merasa seakan ada sebuah jaring raksasa dari laut yang sedang menghimpit dirinya, padahal dia belum tahu siapa yang telah menyebar jaring raksasa itu.

Mendadak Tanpa Perasaan teringat Ci Yau-hoa, setiap kali terbayang senyuman wanita itu, ia merasa pikiran dan perasaan hatinya jadi kacau.

Perlahan-lahan si Tanpa Perasaan menjalankan kereta tandunya memasuki pintu kota, pada saat itulah tiba-tiba dari atas dinding kota meluncur sebuah benda yang langsung mengincar tandunya, bersamaan dengan terjatuhnya benda itu, terlihat selapis cahaya golok menggulung ke empat penjuru.

Yang meluncur ke bawah tentu saja sesosok manusia, di tangannya tergenggam sebilah golok, golok itu terarah dari atas menuju ke bawah langsung menusuk tubuh si Tanpa Perasaan. Bokongan ini munculnya sangat tiba-tiba, tatkala Tanpa Perasaan menyadari akan hal itu, sang pembokong sudah berada di atas atap tandu.

Tampaknya orang itu cukup menyadari akan kelihaian ilmu silat yang dimiliki orang dalam tandu, dia lebih suka menerobos masuk ke dalam tandu terlebih dulu, kemudian baru mengajak Tanpa Perasaan berduel mati hidup.

Tanpa Perasaan tidak memiliki ilmu silat, tentu saja dia tak ingin berbuat demikian.

Tangannya segera menekan ke atas sebuah tombol rahasia, sementara tubuhnya langsung roboh ke belakang.

Ketika orang itu tiba di dalam tandu, Tanpa Perasaan sudah menyusupkan badannya ke dasar tandu.

Orang itu segera mencabut goloknya siap menusuk ... menusuk dasar lantai tandu, langsung mengancam tubuh musuh.

Tapi baru saja orang itu menerobos masuk ke dalam tandu, jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan.

Tahu-tahu si Tanpa Perasaan sudah menggelinding keluar dari dasar tandu, kemudian tanpa merasa jeri atau was-was dia menyingkap tirai yang menutupi tandu itu ke samping.

Orang yang menyerbu ke dalam tandu masih berada pada posisi semula, namun di atas dinding tandu telah bertambah dengan tiga bilah pisau, semua pisau itu bersama-sama menghujam punggung, dada kiri dan dada kanannya.

Dengan tusukan yang mematikan semacam ini, tentu saja orang itu sudah tidak bernyawa lagi.

Melihat tampang orang itu, perasaan hati si Tanpa Perasaan seketika serasa tenggelam ke bawah.

Ternyata orang itu tak lain adalah lelaki kekar bersenjata golok, salah satu dari tiga siluman sakti yang tadi akan menyiram minyak mendidih dan berhasil menghindar dari sergapan pisau terbangnya, Ternyata Siu-lo-sam-yau masih ada yang hidup, kalau begitu apakah rombongan Ui Thian-seng telah mendapat celaka?

Tanpa Perasaan tak sempat berpikir panjang lagi, dia segera memencet lagi tombol rahasianya untuk menarik kembali ketiga bilah pisau itu, lelaki itu segera roboh terkapar ke tanah, dia menarik keluar mayat itu kemudian balik lagi ke dalam tandu.

Tempat paling aman yang dia miliki sekarang adalah tandu itu, hampir semua tombol rahasia yang ada di dalam maupun di luar tandu merupakan hasil karyanya, dia sendiri yang merancang dan memasangnya, oleh sebab itu dia paling percaya dengan kemampuan tandunya.

Kehebatan yang dimiliki tandu itu bukan saja terkadang bisa menutup kelemahannya karena tak berkaki, bahkan kadangkala menjadi sahabat karibnya dalam menghadapi pertempuran sengit.

Sayang tandu itu bukan manusia, namun karena bukan manusia, orang lain tak pernah mewaspadainya, dengan sendirinya makin banyak korban yang tewas olehnya.

Selain itu, lantaran tandu bukan manusia maka tak akan terjadi jurang pemisah dalam hubungan antara mereka, juga tak mungkin akan dikhianati. Justru karena 'dia' bukan manusia, dia jauh lebih bisa dipercaya dan diandalkan.

Terhadap tandu ini, si Tanpa Perasaan menaruh perasaan sayang dan akrab.

Dia masih ingat, suatu ketika sewaktu dia dibokong lima puluh tiga orang jago kalangan hitam di puncak gunung Kunlun, tak seorang pun di antara kelima puluh tiga orang itu berhasil menembus garis pertahanan tandu itu, sampai orang terakhir roboh, tandu itu masih tetap tegap seperti sedia kala.

Tandu ini bukan hanya sahabat seperjuangannya, dia pun tuan penolongnya sekaligus rumahnya.

Sejak kecil dia telah kehilangan sanak keluarga, kecuali sewaktu berkumpul bersama Cukat-sianseng serta ketiga orang saudara seperguruannya, hanya tandu itu merupakan tempat yang paling nyaman baginya.

Teringat sanak keluarga, tanpa sadar Tanpa Perasaan teringat juga akan Ci Yau-hoa.

Pada saat itulah dia pun telah melihat Ci Yau-hoa!

Perempuan itu tergeletak di atas tanah, sama sekali tak bergerak, tapi ujung bajunya nampak bergerak, bergerak karena hembusan angin malam yang dingin, ujung baju Ci Yau-hoa bergerak karena digerakkan oleh angin.

Tiba-tiba saja Tanpa Perasaan merasa seolah dadanya kena sebuah tonjokan yang sangat keras, seluruh tubuhnya jadi kaku, tangannya terasa sangat dingin, begitu dingin hingga merasuk ke tulang sumsum.

Kegelapan yang mencekam jagad semakin tebal, rembulan lagi-lagi bersembunyi di balik awan tebal, saat itu dia tak berani memastikan apakah Ci Yau-hoa masih hidup atau tidak.

Sambil menggigit bibir Tanpa Perasaan pelan-pelan menggeser tandu berodanya mendekati tempat itu, sudah kelewat banyak kekecewaan yang dialaminya sepanjang hidup, sedemikian banyaknya hingga membuat dia memiliki keberanian untuk menghadapi kekecewaan yang lebih banyak, bahkan lebih berat sekalipun.

Tandu itu sudah tiba di hadapan Ci Yau-hoa, namun perempuan itu masih juga belum bergerak, Tanpa Perasaan masih belum bisa memastikan mati hidupnya, maka dia pun melayang keluar dari balik tandunya.

Di bawah sinar beribu bintang, manusia mengenaskan tanpa kaki ini tak lain adalah Tanpa Perasaan, opas kenamaan yang tadi sempat menggetarkan hati kawanan 'iblis'.

Tanpa Perasaan sudah merangkak keluar dari tandunya, dengan tangan sebelah ia memeriksa hembusan napas Ci Yauhoa, tangannya menyentuh kulit pipi yang kenyal dan halus, bahkan hembusan napasnya masih terasa begitu hangat.

Saking girangnya hampir saja si Tanpa Perasaan menjerit tertahan, dengan cepat dia menggerakkan tangannya untuk memeriksa denyut nadi wanita itu. Mendadak tangan Ci Yau-hoa melakukan gerakan menggunting, dia berbalik mencengkeram urat nadi tangannya, membuat tubuh pemuda itu tiba-tiba jadi kaku dan kesemutan.

Sambil berjumpalitan Ci Yau-hoa melompat bangun dari atas tanah, dengan gerakan yang cepat, lincah tapi indah dia melancarkan sebuah tendangan, membuat tandu yang berada di hadapannya terpental sejauh beberapa kaki dari posisi semula.

Semua perubahan ini terjadi sangat mendadak dan mimpi pun si Tanpa Perasaan tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa semacam ini, tapi sekarang, biar sudah tahu pun keadaan sudah terlambat.

Ia sangat gusar bercampur malu, malu dan gusar lantaran ditipu mentah-mentah.

Dalam waktu singkat suasana pulih kembali dalam keheningan, Ci Yau-hoa masih menggenggam tangan si Tanpa Perasaan, sikapnya persis seperti sepasang kakak beradik yang saling menyayang.

Perlahan-lahan Ci Yau-hoa berpaling dan memandang wajah Tanpa Perasaan, senyumannya indah dan manis bagai sekuntum bunga.

"Kau tahu, siapakah aku?" tegurnya.

"Mo-kouw, si Bibi iblis!" sorot mata Tanpa Perasaan begitu dingin, begitu beracun, seolah sedang memandang seseorang yang sangat asing.

Gelak tawa Ci Yau-hoa semakin melengking tapi merdu, merdu bagai suara keleningan yang terbuat dari perak.

"Betul!" jawabnya, "akulah si Bibi iblis Ci Yau-hoa!"

Tanpa Perasaan menutup mulutnya rapat-rapat, bagaikan sebongkah batu karang, ia tidak bersuara lagi.

Ci Yau-hoa memandang sekejap ke arahnya, seakan merasa geli dan terhibur, bagaikan seorang kakak sedang menggoda adiknya, ia bertanya, "Kau ingin tahu tidak Ui Thian-seng sekalian berada dimana?" Tanpa Perasaan menggeleng ketus, jika Ci Yau-hoa terbukti adalah 'Bibi iblis', apa lagi yang bisa dibicarakan tentang Ui Thian-seng sekalian?

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan," ujar Ci Yau-hoa kemudian sambil menggeleng kepala berulang kali, "kau tak usah kuatir, aku tidak membunuh mereka, sekarang hanya jalan darahnya saja yang kutotok, tapi bila jalan darah itu dibiarkan tertotok lebih dua jam, peredaran darah dalam tubuh mereka lambat-laun akan semakin melamban, nah, saat itulah mereka akan berwujud 'manusia obat' ciptaanku."

Rupanya setelah Tanpa Perasaan berlalu untuk mengejar Si Ku-pei si Pentolan iblis, Khong Bu-ki, Chin Ang-kiok, Yau Itkang beserta tiga dayang pedang yang melakukan pengejaran terhadap lelaki bergolok itu tiba-tiba merasa pinggangnya jadi kaku, kemudian badannya roboh terjungkal ke atas tanah dalam kondisi lemas.

Setelah lelaki bergolok itu melarikan diri, diam-diam dia menyusup balik ke dalam kota Pak-shia, sebenarnya ia bertujuan menanti kedatangan Si Ku-pei, ternyata yang muncul adalah si Tanpa Perasaan, maka memanfaatkan kesempatan itu dia pun melancarkan serangan bokongan, daripada dia yang mati di tangan pemuda itu, lebih baik ia turun tangan terlebih dulu.

Menyusul kemudian empat bocah pedang emas dan perak pun muncul di sana.

Waktu itu ke empat bocah pedang sedang bertarung sengit melawan 'Tiau Sin', mendadak salah seorang di antara mereka roboh lemas, bocah yang lain jadi tertegun melihat kemunculan Ci Yau-hoa, tidak sempat melakukan sesuatu tindakan, dia menyusul rekannya roboh lemas ke tanah.

Memanfaatkan kesempatan ini, 'Tiau Sin' melarikan diri dari tempat itu.

Dua orang bocah yang tersisa, tentu saja bukan tandingan Ci Yau-hoa, tidak selang berapa saat kemudian mereka berdua berhasil ditaklukkan. Di pihak lain, Ui Thian-seng sedang mengejar ketat 'Nyo Su-hay', ketika tiba-tiba ia merasa di samping tubuhnya telah bertambah dengan seorang, ketika berpaling dan melihat orang Hu adalah Ci Yau-hoa, tanpa terasa pikirnya, "Sungguh apes kalau mesti mengejar musuh bersama kaum wanita”

Baru saja pikiran itu melintas, tahu-tahu jalan darah Giok seng-hiat sudah kaku dan tubuhnya seketika roboh lemas ....

Sambil tertawa genit Ci Yau-hoa pun berkata, "Sekarang mereka sudah terjatuh ke dalam genggamanku, tak sampai sebulan lagi, mereka akan menjadi 'manusia obat', anak buah andalanku, inginkah kau mengetahui kemana saja perginya penghuni kota Pak-shia?"

Tanpa Perasaan mendengus dingin, sikapnya kaku dan keras, sekeras batu karang.

"Kau memang keras kepala," kembali Ci Yau-hoa berkata sambi) tertawa, "tapi aku tetap akan memberitahu kepadamu, seperempat bagian penghuni kota Pak-shia telah mati di tangan kami, yang mati kelaparan atau mati lantaran sakit ada seperempat, yang berhasil kami tangkap dan dijadikan 'manusia obat' ada seperempat bagian, sisanya yang seperempat sudah kabur ke bukit Cay-kwan-leng lantaran kota Pak-shia sudah tak dapat dipertahankan lagi, namun sayang mereka pun terkepung rapat, jangan harap bisa kabur dari situ dalam keadaan selamat."

Setelah memandang Tanpa Perasaan sekejap, Ci Yau-hoa berkata lebih jauh, "Kau tentu merasa heran bukan? Padahal aku berada bersama kalian, sedang si Pentolan iblis, Dewa iblis serta Malaikat iblis sudah mampus, siapa lagi yang sanggup mengepung mereka? Terus terang saja kukatakan, kecuali Ciu Pek-ih dan Pek Huan-ji, mereka sudah tak punya kemampuan untuk bertarung lebih jauh, maka aku pun memerintahkan Peronda selatan, Peronda barat serta Peronda utara untuk mengawasi gerak-gerik mereka aku dengar kau

berhasil membantai si Peronda timur, mungkin saja orangorangku tak sanggup menahan dirimu, tapi untuk menahan kawanan prajurit yang sudah cidera parah itu rasanya tidak susah."

Melihat si Tanpa Perasaan tertawa dingin, Ci Yau-hoa segera menegur, "Apa yang kau tertawakan?"

"Hm, jika ketiga perondamu punya kemampuan untuk menahan mereka, kenapa tidak langsung saja menyerbu ke dalam kuil dan meringkus mereka!" jengek Tanpa Perasaan ketus.

Dengan wajah sungguh-sungguh Ci Yau-hoa mengangguk. "Ternyata rahasiaku berhasil kau bongkar! Betul, kami

memang tidak kuatir dengan kemampuan orang-orang itu, tapi mereka telah sesumbar, katanya jika kami bersikeras menyerbu masuk, bukan saja mereka tak bakal menyerah bahkan mereka mengancam akan bunuh diri masal, agar niat kami menciptakan 'manusia obat' gagal. Tentu saja aku tak boleh bertindak gegabah, yang kuinginkan adalah manusia hidup, sebab hanya manusia hidup yang bisa dipakai untuk menciptakan 'manusia obat'!"

Tiba-tiba si Tanpa Perasaan menatapnya tanpa berkedip. Ci Yau-hoa tertawa cekikikan, serunya manja, "Ada apa?

Kau sudah tidak mengenali aku?"

"Bukan," tukas Tanpa Perasaan dingin, "aku hanya merasa tak habis mengerti, buat apa kau menciptakan begitu banyak manusia obat?"

Mendadak Ci Yau-hoa tertawa terbahak-bahak, seakan baru saja ia mendengarkan lelucon yang paling menggelikan di dunia ini, tertawa sampai terbungkuk-bungkuk dan badannya gemetar keras, namun cekalannya pada urat nadi di pergelangan pemuda itu sama sekali tidak mengendor.

"Buat apa menciptakan begitu banyak manusia obat? Tentu saja untuk merajai kolong langit! Di bawah pimpinanku sekarang, ada begitu banyak jagoan tangguh yang rela dan ikhlas mengorbankan nyawa demi diriku, seperti Jian-li-it-tiamheng (ribuan li hanya setitik noda) Chin Sam-kang, Leng-siauhui-to-jiu (tangan golok terbang) Wu Si-hiong, Tiang-siu Tojin dari Bu-tong-pay, Thiat-cing Taysu dari Siau-lim-pay ... bila aku berhasil mengobrak-abrik Tang-po, Lam-ce dan Say-tin, maka akulah jago nomor wahid di kolong langit. Hahaha...”

Tanpa Perasaan mengawasi wajahnya, seakan-akan sedang mengawasi seekor hewan buas yang mengenakan topeng kulit manusia, sampai lama sekali dia termenung, kemudian dengan nada setajam sembilu ia bertanya, "Lantas kemana perginya kawanan manusia obat itu?"

"Sebuah pertanyaan yang sangat bagus," mendadak Ci Yau-hoa bersikap jauh lebih tenang, "selama beberapa waktu terakhir, aku memang belum pernah menggunakan kekuatan mereka, tapi mulai sekarang, setiap saat aku bakal mengundang mereka dan memanfaatkan kekuatan mereka."

Tanpa Perasaan mendengus dingin, kembali ia berkata, "Dulu kau keberatan menggunakan kawanan 'manusia obat' lantaran si Pentolan iblis, Dewa iblis maupun Malaikat iblis mengerti juga cara pemakaian kawanan manusia itu, bahkan merekalah yang telah membantumu menawan kawanan manusia itu, sedang kau hanya berpikir bagaimana bisa menguasai kolong langit ini, kau tak rela berbagi kekuasaan dengan orang lain, kau ingin mengangkangi semua itu seorang diri, bukankah begitu?"

Berubah hebat paras muka Ci Yau-hoa, tapi sejenak kemudian sahutnya sambil tertawa, "Ternyata kau sangat teliti! Betul, aku memang punya pemikiran begitu! Akulah yang sengaja mengatur siasat agar keempat iblis Su-toa-thianmo menghadapi kalian satu per satu sehingga akhirnya satu demi satu pula berhasil kalian musnahkan. Memancing amarahmu dan amarah Cukat-sianseng di Pakkhia pun merupakan usul dan gagasanku. Aku memang berniat meminjam kekuatanmu untuk memusnahkan Cun Yu-siang, Lui Siau-jut serta Si Ku-pei, coba kalau aku tidak sengaja mengatur rencana ini, memangnya kekuatan kalian mampu menghancurkan kerja sama mereka?"

Kemudian dengan wajah amat kereng dan serius dia tatap wajah si Tanpa Perasaan lekat-lekat, kemudian dengan sepatah demi sepatah dia melanjutkan, "Padahal biarpun aku hanya seorang diri, aku tetap sanggup merobohkan kalian. Sebab sejak awal hingga akhir, kalian tak lebih hanya alat atau kekuatan yang kumanfaatkan demi mencapai tujuan."

Tanpa Perasaan merasakan timbulnya hawa dingin yang merasuk ke tulang sumsumnya, namun penampilan ia tetap bersikap tenang seolah sama sekali tak terpengaruh oleh perkataan itu, katanya setelah menghela napas panjang, "Ai, sungguh tak nyana manusia macam Cun Yu-siang, Lui Siau-jut dan Si Ku-pei pun telah kau peralat untuk mencapai tujuan dan ambisimu, kasihan mereka, sampai ajalnya pun mereka masih belum tahu apa gerangan yang telah terjadi."

Tiba-tiba Ci Yau-hoa tertawa lagi, suara tawanya amat merdu bagai keleningan perak, cantik bagaikan sekuntum bunga di musim semi.

"Kami berempat mengetahui cara dan mengendalikan 'manusia obat', tapi kini, hanya aku seorang yang mengetahui dan menguasai ilmu rahasia itu. Terus terang, semua kawanan 'manusia obat' yang kami ciptakan kini tersimpan rapi dalam sarang kami di gua Hian-thian-tong, bukit Kiu-liong-san.

Akulah yang mengusulkan agar sementara waktu jangan menggunakan 'manusia obat' lebih dahulu, sebab semakin lama tersimpan, daya kerja obat dalam tubuh kawanan 'manusia obat' semakin berkhasiat dan aman dipakai ... padahal alasan seperti ini sesungguhnya bohong, hanya bertujuan membohongi mereka. Aku paling benci menggunakan barang yang sama dengan orang lain, bagiku, daripada digunakan bersama, lebih baik aku musnahkan saja”

"Sekarang kau sudah cukup puas memperalat diriku, biarkan aku segera mati," ujar Tanpa Perasaan kemudian dengan tenang.

Kembali Ci Yau-hoa tertawa, sambil menatap pemuda itu katanya, "Bagaimana mungkin aku tega melihat kau mati?"

"Memangnya kau akan menciptakan 'manusia obat' dengan tubuhku?" jengek Tanpa Perasaan sambil tertawa dingin.

"Sayang kawanan 'manusia obat' memiliki sebuah penyakit." Perempuan itu mengira Tanpa Perasaan pasti akan bertanya penyakit macam apa yang dimaksud, siapa tahu pemuda itu sama sekali tak bertanya, bukan saja mulutnya terkatup rapat bahkan seakan masalah itu sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Sekali lagi Ci Yau-hoa menghela napas panjang. "Walaupun kawanan 'manusia obat' itu sangat taat dan setia, namun otak mereka jadi bebal dan tak sanggup memikirkan persoalan apapun Kejadian pertama yang akan mereka alami karena

pengaruh obat adalah kehilangan daya ingatan, membuat bebal kepintaran dan kecerdasan berpikir, setelah orang kehilangan akal budi, dengan sendirinya ilmu silatnya juga jadi bebal dan kaku, kemampuan bertarungnya pasti berkurang banyak”

Setelah bertukar napas, kembali terusnya, "Bila kau kujadikan 'manusia obat', sudah pasti kau tak bisa lagi menaiki tandumu itu, bahkan akan kehilangan seluruh kepintaran serta daya pikirmu, kemampuanmu melepaskan senjata rahasia juga bakal terpengaruh, apalagi kau memang tak pandai bersilat terus terang, setelah berkelana selama puluhan

tahun dalam dunia persilatan, aku mulai merasa kesepian ...

mulai merindukan seorang pendamping ”

Berbicara sampai di sini, dia menghela napas sedih, katanya setelah menarik napas panjang, "Sejak perbincangan kita di atas bukit malam tadi, aku mulai menyukai dirimu. Bila nanti aku telah menjadi manusia nomor satu di kolong langit, kau adalah suami dari si manusia nomor wahid itu, kesempatan semacam ini tak nanti bisa diperoleh orang lain kecuali kau. Aku memang sangat membutuhkan manusia secerdas dirimu, untuk membantu aku mewujudkan ambisiku menguasai seluruh jagat!."

Mimik muka si Tanpa Perasaan saat ini ibarat seorang yang menelan sebutir telur ayam sebutir telur ayam berikut

cangkang luarnya begitu terkesima, tertegun bercampur

keheranan. "Kau butuh kecerdasanku untuk menyelesaikan ambisimu menguasai jagad? Masa kau tidak melihat kalau sepasang kakiku lumpuh, tanpa senjata rahasia di tangan, aku tak punya kemampuan apapun, sesuaikah manusia macam diriku sebagai calon pendampingmu?"

"Ketika berada di puncak bukit tadi, aku telah menyelidiki latar belakang kehidupanmu secara jelas," ujar Ci Yau-hoa dengan nada mesra, "aku tahu, kau sudah tak punya sanak keluarga, manusia seperti inilah yang paling cocok dengan pilihanku. Apalagi dengan posisi dan kedudukanmu sekarang, aku akan memperoleh banyak kemudahan ketika menaklukkan ketiga opas lainnya bahkan termasuk Cukat-sianseng sekalipun. Ketika orang Pak-shia melihat kemunculanmu, mereka pun pasti akan menyambut kedatanganmu dengan riang gembira, asal kau berhasil menguasai Ciu Pek-ih dan Pek Huan-ji dalam sekali gebrakan, mungkin kesempatan bagi mereka untuk bunuh diri pun akan hilang...”

Sekali lagi Ci Yau-hoa tertawa terkekeh-kekeh, dibelainya rambut si Tanpa Perasaan dengan tangannya yang lain, kemudian bisiknya lagi, "Biarpun usiamu sedikit lebih muda dan lagi tidak memiliki sepasang kaki ... namun aku tak bakal menyia-nyiakan dirimu." 

Mendadak Tanpa Perasaan tertawa, selanya, "Sebetulnya biarpun kau sedikit rada jelek, aku pun tidak keberatan, tapi sayangnya kau sudah kelewat tua, sedemikian tuanya hingga lebih cocok jadi ibuku."

Tangan Ci Yau-hoa yang sedang membelai rambut Tanpa Perasaan tiba-tiba berubah jadi kaku dan tegang bagaikan baja, secepat kilat dia tampar wajah pemuda itu sambil menghardik, "Kau sudah bosan hidup?"

Bekas lima jari membekas di wajah Tanpa Perasaan yang pucat, bercak darah membasahi ujung bibirnya, namun ia berbicara lagi sambil tertawa, "Memang paling baik kalau kau membiarkan aku mati duluan, kalau tidak, beberapa tahun lagi aku mesti hidup menduda ... kalau kau keburu mati duluan lantaran tua, bukankah posisi manusia nomor wahid di kolong langit akan jadi bagianku?"

Ci Yau-hoa mementang kesepuluh jari tangannya siap menghajar batok kepala Tanpa Perasaan, mendadak paras mukanya yang telah hijau membesi itu mulai mengendor kembali, sambil tertawa katanya, "Aku tahu, kau memang sengaja memanasi hatiku agar kau bisa mati duluan, hm, aku justru sengaja tidak membiarkan keinginanmu terpenuhi ... sekarang aku akan membiarkan kau menyaksikan raut mukaku yang sesungguhnya, aku ingin tahu apakah kau tidak menyesal lantaran telah menolak pinanganku tadi!"

Sambil berkata Ci Yau-hoa membalikkan tubuh sambil mengusap wajah beberapa kali, mendadak bentaknya, "Lebih baik kau jangan sembarangan bergerak, mungkin aku tak akan membiarkan kau mati, tapi membuat lumpuh sepasang tanganmu bukan pekerjaan yang sulit bagiku!"

Tak selang lama, Ci Yau-hoa kembali membalikkan badan. Kini dia tampil dengan wajah aslinya, sebuah wajah yang jauh lebih matang ketimbang tadi, bahkan paras mukanya jauh lebih cantik dan menawan hati, apalagi sewaktu tersenyum, kecantikan wajahnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Sekalipun Ci Yau-hoa telah melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan, namun raut mukanya tidak jauh berbeda dengan wajahnya sekarang, karena sehebathebatnya ilmu menyaru muka yang dimiliki seseorang, mustahil baginya untuk merubah orang tinggi jadi pendek dan gemuk jadi kurus, orang yang teramat jelek jadi orang yang teramat cantik, mustahil ada kepandaian ilmu menyaru muka semacam ini di kolong langit, sebab bila ada yang mampu, di dunia ini tak mungkin lagi ada orang bertampang jelek.

"Bagaimana?" seru Ci Yau-hoa lagi dengan penuh rasa bangga.

"Aku hanya ingin kau secepatnya mampus," jawab Tanpa Perasaan hambar.

"Masa tak ada pilihan lain?" seru Ci Yau-hoa sambil tertawa manis. "Tidak ada!"

Ci Yau-hoa termenung sambil berpikir sejenak, akhirnya setelah menghela napas dia mengangkat telapak tangannya seraya berkata, "Tampaknya terpaksa aku harus membunuhmu!"

Tanpa Perasaan tidak berkata apa-apa, pelan-pelan dia memejamkan sepasang matanya

Mendadak Ci Yau-hoa menurunkan kembali tangannya, lalu berseru keras, "Peronda Ma, bukankah kau ingin membalas dendam atas kematian Peronda Cong? Kuserahkan orang ini kepadamu."

Dari atas tembok kota terdengar seorang menyahut.

Ci Yau-hoa segera berpaling dan bisiknya kepada si Tanpa Perasaan dengan suara lirih, "Kau tahu, kenapa aku serahkan kau kepada si Peronda barat Ma Kok-kong? Sebab dia punya julukan Lak-jiu-jui-hun-ciam (Tangan ganas jarum penghancur sukma), caranya membunuh orang paling keji, paling telengas dan tak kenal ampun, hubungan batinnya dengan Peronda Cong paling dekat, sedang si Peronda timur telah tewas di tanganmu, maka dia pasti akan menusuk seluruh badanmu hingga mirip seekor landak, membuat sepasang tanganmu lumpuh kemudian baru mati secara perlahan-lahan”

Ketika berbicara sampai di sini Ci Yau-hoa sengaja berhenti sejenak, kemudian baru tertawa cekikikan. Mendadak serunya lagi, "Peronda Ma, kuserahkan orang ini kepadamu."

Tampak seorang berbaju biru perlahan-lahan berjalan mendekat, langkah kakinya yang berat dan kaku sudah lebih dari cukup membuat perasaan hati orang bergidik.

Bagaikan sesosok sukma gentayangan yang muncul dari balik kegelapan, orang itu berjalan mendekat, Tanpa Perasaan merasa hatinya seakan tenggelam ke bawah.

Pada saat itulah tiba-tiba Tanpa Perasaan mengendus sejenis bau hangus yang sangat aneh dan menusuk penciuman.

Baru saja Ma Kok-kong berjalan mendekat, sambil tertawa Ci Yau-hoa sudah bertanya, "Menurut pendapatmu, lebih baik kita cabuti dulu otot-otot tangannya, atau lebih baik kita tusuk matanya agar menjadi buta duluan?"

"Orang buta!" sahut Ma Kok-kong dengan suara berat, begitu selesai bicara sebatang jarum emasnya sudah menusuk ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Pada saat bersamaan, dengan wajah berubah hebat Ci Yauhoa sudah menghardik keras, "Kau bukan ”

Jarum emas itu menyambar tiba dengan kecepatan luar biasa, bukan Tanpa Perasaan yang dijadikan sasaran, melainkan alis mata Ci Yau-hoa yang diarah.

Bersamaan waktu Tanpa Perasaan yang semula bertangan kosong, secepat kilat telah mencabut pula sebilah pisau belati dan langsung dibabatkan ke arah iga kanan perempuan iblis itu.

Baru saja dua serangan itu berkelebat, dari sisi utara kota Pak-shia muncul lagi dua sosok bayangan, dua bilah kapak tajam langsung membabat punggung Ci Yau-hoa, sementara sebuah cambuk langsung menggulung tenggorokannya.

Dalam waktu singkat Ci Yau-hoa telah menjadi sasaran orang banyak, berbagai macam senjata tajam yang berbeda bersama-sama menyambar mengancam sekujur tubuhnya, sedemikian hebatnya serangan itu membuat perempuan iblis ini tak berani turun tangan secara gegabah.

Ci Yau-hoa kembali membentak nyaring, sementara tangan kirinya melancarkan cengkeraman, kepalanya sedikit dimiringkan ke samping, begitu tangan kanan mengendor, sebuah tendangan kaki kanan telah dilontarkan, lalu tangan kanannya kembali dibalik, kali ini mencengkeram dua bilah kapak tajam yang menyambar tiba.

Tangan kirinya yang melancarkan cengkeraman segera berhasil menangkap cambuk kuda yang menyambar tiba, tendangan kaki kanan membuat tubuh Tanpa Perasaan terpental sejauh beberapa kaki, dengan demikian sabetan belati yang dilancarkan anak muda itupun mengenai tempat kosong. Dalam situasi yang serba ruwet dan kalut, Ci Yau-hoa miringkan kepalanya menghindari ancaman yang mengarah alis mata, jalan darah kematiannya, mendadak mata sebelah kirinya terasa sakit sekali, kemudian secara tiba-tiba segala sesuatunya berubah menjadi hitam.

Ci Yau-hoa menjerit ngeri, suaranya tinggi melengking menyayat hati, ibarat lolongan serigala atau jeritan kuntilanak, membuat siapa pun yang mendengar merasa badannya menggigil dan hatinya bergidik.

Rupanya gagal mengancam nyawa Ci Yau-hoa, secara tibatiba 'Ma Kok-kong' telah melepaskan jarum emasnya.

Jeritan ngeri Ci Yau-hoa segera berubah jadi pekikan nyaring yang sangat dahsyat, ketika sepasang tangannya direntangkan ke depan, orang yang bersenjatakan cambuk kuda dan sepasang kapak segera terpental jatuh ke belakang, dengan satu sambaran Ci Yau-hoa mencabut keluar jarum emas yang menancap di mata kirinya lalu dengan tangan yang lain dia tekan kelopak matanya yang berdarah itu.

Kini rambutnya sudah awut-awutan terurai ke bawah, dengan mata kanannya yang melotot besar dia mengawasi jarum emas yang masih berlepotan darah, darah yang bercucuran dari mata kirinya.

Dua orang jago yang mencelat karena dorongan tangan lawannya tadi, kini sudah merangkak bangun dan melakukan pengepungan, tapi rasa takut bercampur ngeri telah mencekam perasaan mereka, karenanya tak seorang pun berani turun tangan secara gegabah.

Dalam pada itu, entah sejak kapan 'Ma Kok-kong' telah menggenggam sebuah tongkat dan mengawasi si Bibi iblis Ci Yau-hoa dengan pandangan dingin.

"Hah, kamu!" terdengar Ci Yau-hoa menjerit kaget, "kau ... kau belum mati?"

'Ma Kok-kong' tertawa seram, "Hehehe ... tentu saja belum mati, kalau aku mati, kau pasti akan merasa sangat gembira”

Sementara itu si Tanpa Perasaan yang tertendang hingga mencelat sejauh beberapa kaki, hingga kini belum sanggup merangkak bangun, tenaga dalamnya memang sangat cetek, tendangan itu membuatnya amat kesakitan hingga untuk beberapa saat dia kehilangan tenaga untuk melakukan sesuatu.

Walaupun begitu, ketika ia mengendus bau sangit karena barang yang hangus tadi, dia segera tahu kalau orang yang muncul pasti bukan si Peronda barat Tangan ganas jarum penghancur sukma Ma Kok-kong.

Sebab dari bau hangus itu, dia dapat memperkirakan bau itu berasal dari sesuatu benda yang terbakar karena serangan peluru phospor ciptaannya.

Memang tak salah, orang itu memang tak lain adalah si Pentolan iblis Si Ku-pei yang terlempar hingga terjatuh ke dasar jurang tadi.

Bagaimanapun juga, rase memang sangat licik dan banyak akal, bukan saja gembong iblis itu pandai melakukan kejahatan, dia pun sangat pintar meloloskan diri bahkan berpura-pura mati.

Dan seandainya orang itu memang Si Ku-pei, berarti semua pembicaraan Ci Yau-hoa pun sudah terdengar olehnya, bagaimana mungkin dia rela melepaskan perempuan iblis itu?

Maka Tanpa Perasaan segera mengambil keputusan, inilah satu peluang emas baginya, bila dia tidak memanfaatkan peluang ini untuk meloloskan diri, dapat dipastikan dia bakal mati di tangan Ci Yau-hoa, bahkan seandainya perempuan iblis itu bersedia mengampuni nyawanya pun, belum tentu Si Ku-pei bersedia melepaskan dirinya.

Dia pun tahu, kedatangan Si Ku-pei kali ini bertujuan membunuh Ci Yau-hoa, tentu saja dia bukan muncul untuk menyelamatkan nyawanya.

Sementara itu Si Ku-pei telah tertawa seram, suara tertawanya selicik lolongan rase, ujarnya, "Ci Yau-hoa, biarpun kau pintar, sayang aku pun tidak bodoh, boleh saja Lui-losam dan Cun-yu Losu tergila-gila oleh kecantikan wajahmu, namun aku selalu berada dalam keadaan sadar dan jernih pikiran." "Selama ini aku selalu heran, kenapa kau sengaja memisah kekuatan menjadi beberapa rombongan, mula-mula kau beralasan buat apa membunuh ayam menggunakan pisau penjagal sapi, tapi Cun-yu Losu telah mati, bahkan Lui-losam pun ikut tewas, sedang kau tetap bersikeras ingin menggunakan cara begini. Akhirnya mau tak mau timbul juga kecurigaan dalam hatiku ”

"Sewaktu aku bertarung melawan Tanpa Perasaan di atas tembok kota, aku sempat melihat ada seorang yang selalu bersembunyi di belakang orang lain, karena kuanggap Ui Thian-seng dan rombongannya tak mungkin berbuat demikian, tanpa sadar aku sempat memperhatikan lagi beberapa kejap, meski wajahmu telah berubah, namun aku masih mengenali potongan tubuhmu aku segera tahu kalau

orang itu adalah kau....

"Aku semakin curiga ketika melihat kau belum juga turun tangan membantuku, maka aku pun menggunakan alasan kabur karena desakan lawan, aku berusaha melarikan diri dari situ agar bisa lolos dari kejaran Tanpa Perasaan, kemudian aku pun sengaja terjun ke dalam jurang, padahal aku tahu di sisi jurang terdapat sebuah pohon besar dengan akar yang kuat, aku pun tahu dengan gerak-gerik Tanpa Perasaan yang tidak leluasa, mustahil dia akan menengok ke tepi jurang ...

tapi hebat juga serangan bocah monyet itu, dia sempat membakar badanku hingga hangus sebagian!"

Sambil berkata, Si Ku-Pei pelototi Ci Yau-hoa dengan mata mendelik, kembali bentaknya, "Setelah balik kemari, aku segera mengumpulkan kedua orang sisa anak buahku untuk menyusup dan bersembunyi di sini, menggunakan kesempatan di kala kau berbincang-bincang dengan Tanpa Perasaan, kurobohkan dulu Ma Kok-kong, ketika kau memanggil keluar aku tadi, kukira rahasiaku sudah ketahuan aku pun tahu,

sekali aku unjuk diri maka cepat atau lambat penyamaranku pasti akan ketahuan, apalagi dengan ketajaman matamu itu, daripada mati konyol lebih baik turun tangan duluan. Hm, Yau-hoa, selama ini aku Si ku-pei selalu bersikap ramah dan baik kepadamu, aku selalu menganggap kau bagaikan putri kandungku sendiri, bukan saja menyayangimu, bahkan mengajarkan ilmu silat kepadamu, agar kau ternama dan hebat. Tapi sekarang, setelah kungfumu jauh lebih hebat dari aku, setelah nama dan pamormu jauh mengungguli aku, bukan saja kau telah membantai yang lain, termasuk aku pun tidak kau lepas, kau ... sungguh kejam hatimu!"

Ci Yau-hoa masih mengawasi jarum emas dalam genggamannya dengan matanya yang sebelah, noda darah telah membasahi seluruh wajahnya, ia nampak sangat menakutkan dan menggidikkan hati. Sehebat-hebatnya ilmu menyaru muka yang dia miliki, mustahil bisa menyembuhkan kembali matanya yang sudah buta.

Sambil tertawa dingin kembali Si Ku-pei berkata, "Hm, coba kalau bukan lantaran tidak terbiasa dengan senjata tadi, mungkin saat ini kau bukan hanya buta, mungkin nyawamu sudah melayang sejak tadi."

Mendadak Ci Yau-hoa berteriak keras, "Coba kalau senjata yang kau gunakan adalah senjata lain, bukan saja tak akan mampu mendekati aku, yang mampus sudah pasti kau!"

Si Ku-pei tertawa tergelak, "Hahaha ... Ci Yau-hoa, orang lain mungkin takut kepadamu, tapi aku tidak takut, apalagi matamu sudah buta sebelah, sekarang kau lebih mirip seorang nenek sihir."

Ci Yau-hoa mendongakkan kepalanya, dalam waktu singkat wajahnya seolah menjadi tua tiga puluh tahun, raut mukanya penuh keriput dan amat mengerikan, mendadak sambil menjerit ia menerjang ke muka.

Jeritan lengking itu amat aneh, dari kejauhan sana segera berkumandang dua kali jeritan lengking yang mirip dengan jeritan itu.

Sementara itu Ci Yau-hoa sudah bertempur sengit melawan Si Ku-pei, seluruh angkasa seakan diliputi bayangan tongkat yang berlapis-lapis serta bayangan kuning yang menyambar kian kemari, sedemikian cepatnya jurus serangan yang digunakan hingga nyaris sulit diikuti. .......... (halaman 233 tidak ada)

***

............ru, ”Ui-lopocu, saudara Khong, Chin-lihiap, apakah kalian berada di sana?”

Tak ada jawaban, suasana tetap hening.

Tanpa Perasaan mencoba memasang telinga dan memperhatikan dengan seksama akhirnya ia mendengar suara dengusan napas yang sangat lirih, bahkan suara napas itu rasanya berasal dari dengusan napas tiga empat orang.

Kembali Tanpa Perasaan berkata dengan suara berat, ”Jika Ui-lopocu yang ada di dalam dan jalan darah tertotok, harap gunakan ilmu pernapasan ikan paus untuk membuktikan identitasmu.”

Benar saja, dari dalam gua segera terdengar suara dengusan napas yang sangat berat dan dalam.

Ketika jalan darah seorang tertotok, bukan saja dia tidak leluasa untuk bergerak, bahkan napas pun ikut tersendat dan kurang lancar, maka bila seorang memiliki tenaga dalam sempurna dan bertemu dengan penotok jalan darah yang agak lemah tenaga dalamnya, seringkah jalan darah yang tertotok dapat dijebol sendiri dengan kekuatan hawa murninya.

Tanpa Perasaan segera menerjang masuk ke dalam, mengeluarkan geretan dan menyulutnya, betul juga, ia saksikan Ui Thian-seng, Chin Ang-kiok, Khong Bu-ki, Yau Itkang, Pedang anggrek, Pedang bunga bwe, Pedang bambu beserta empat bocah pedang emas dan perak tergeletak tak keruan di atas permukaan gua, jalan darah mereka telah tertotok.

Menyaksikan kemunculan Tanpa Perasaan di situ, semua orang segera memandang ke arahnya dengan sinar mata berterima kasih bercampur malu.

Dengan cepat pemuda itu berjalan menghampiri dan berniat membebaskan dulu mereka dari pengaruh totokan, namun dia segera menjumpai masalah, tenaga dalam yang dia miliki sangat lemah, sekalipun dia hapal di luar kepala seluruh letak jalan darah penting di tubuh manusia, namun kawanan jago itu ditotok jalan darahnya oleh Ci Yau-hoa, dengan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Tanpa Perasaan sekarang, masih belum mampu untuk membebaskannya.

Karena tak sanggup membebaskan pengaruh totokan mereka, sudah tentu dia pun tak mampu membawa kabur kawanan jago itu, terpaksa dia hanya berdiri di tempat dengan wajah tertegun.

Saat ini Tanpa Perasaan tahu hanya ada satu cara untuk mengatasinya, pikirnya, ”Segera pergi ke kuil Liu-ho-an, mencari Ciu Pek-ih dan menghubungi kawanan jago dari Pakshia dan minta tolong mereka untuk datang menyelamatkan kawanan jago itu.”

Setelah mengambil keputusan, pemuda itupun segera keluar dari gua. Dia yakin kuil Liu-ho-an pasti terletak tidak jauh dari tempat itu, karena Ci Yau-hoa, si peronda berbaju hijau dan putih selalu berjaga-jaga di seputar tempat itu.

Dia harus berhasil menjumpai para jago Pak-shia sebelum pertarungan antara Ci Yau-hoa melawan Si Ku-pei berakhir.

Begitu keluar gua, Tanpa Perasaan segera memeriksa permukaan tanah dengan seksama, begitu bertemu dengan jalanan yang dipenuhi bekas telapak kaki manusia, dia pun bergerak mengikuti jalanan itu, betul juga, tak selang lama ia telah melihat sebuah bangunan kuil kuno berdiri di hadapannya.

Kuil itu besar, luas dan sangat kuno, dipandang dalam kegelapan, bangunan itu terasa sangat menyeramkan.

Tanpa Perasaan menarik napas panjang, baru saja hendak bicara, mendadak ia saksikan banyak mayat bergelimpangan di depan bangunan kuil itu, bau busuk mayat, anyir darah berhembus datang dari seputar tempat itu.

Ketika ia mencoba untuk memeriksa lebih seksama, dijumpai tumpukan mayat tergeletak dalam kondisi yang sangat mengenaskan, kutungan kepala, kaki dan tangan berserakan di sana sini, pemandangan sangat mengerikan dan menggidikkan hati.

Pada saat itulah dari empat sudut bangunan kuil melayang turun empat sosok bayangan, keempat orang itu muncul dari arah yang berbeda, belum lagi orangnya tiba, mereka sudah mengayun tangan masing-masing, tujuh-delapan titik cahaya bintang segera melesat membelah angkasa langsung menyerang si Tanpa Perasaan yang berada di dalam tandu.

Dengan satu gerakan cepat Tanpa Perasaan melambung ke udara, seluruh serangan senjata rahasia itu langsung menghajar ke dalam tandu.

”Tahan!” bentak Tanpa Perasaan dari tengah udara.

Namun keempat orang jago itu sama sekali tidak menanggapi, dua bilah pedang langsung menusuk tenggorokan pemuda itu sementara dua bilah pedang yang lain menusuk dadanya.

Berada di tengah udara si Tanpa Perasaan berjumpalitan beberapa kali, sambil melayang turun di depan pelataran kuil Liu-ho-an, kembali ia menghardik, ”Tahan! Dengarkan dulu perkataanku”

Empat bilah pedang dengan membawa desingan angin tajam menyambar dari arah belakang, terpaksa si Tanpa Perasaan membalikkan tubuh, cahaya golok berkelebat lewat, secepat sambaran petir dia lepaskan sebuah babatan di tengah kegelapan malam.

Keempat orang lelaki kekar itu hanya merasakan pandangan matanya berkunang-kunang, tahu-tahu genggamannya jadi ringan, keempat bilah pedang di tangan mereka telah terpapas kutung jadi dua bagian.

Kembali Tanpa Perasaan berseru, ”Maaf, aku datang kemari karena ingin menjumpai ”

Belum habis dia bicara, seorang telah menukas dengan suara nyaring, ”Bangsat, kami sudah bosan mendengar ocehan kalian!”

Seorang rekannya menambahkan pula, ”Gara-gara Ting tua percaya omongan kalian, dia harus mengorbankan nyawanya!” Seorang yang lain berseru pula, ”Mau bunuh mau bantai silakan dilakukan, kami tak bakal menyerah, sudah, jangan banyak bacot lagi!”

Orang terakhir sambil mengayunkan kutungan pedangnya menerjang ke muka sambil berteriak kalap, ”Bangsat, aku akan mengadu nyawa denganmu!”

Sekali lagi keempat orang itu menerjang ke depan menghampiri si Tanpa Perasaan, karena tak sanggup membendung terjangan itu, lagi pula tak mungkin melukai orang-orang itu dengan senjata rahasianya, terpaksa pemuda itu mundur dari situ.

Begitu mundur, dia malah memasuki bangunan kuil. Segera terdengar desingan angin tajam menderu, tujuh-delapan belas lelaki kekar dengan aneka senjata kembali bermunculan dari balik kegelapan dan segera mengepungnya rapat.

”Bagus sekali!” terdengar seorang berseru, ”ternyata punya nyali untuk menerjang masuk seorang diri, ayo teman-teman, kita kepung dia dan cincang tubuhnya!”

”Berani menerjang masuk seorang diri, bagus, punya nyali!

Sayang kau bisa masuk dengan mudah tapi susah untuk keluar lagi

”Akan kubunuh dia untuk membalas dendam bagi kematian Siau-sam-cu!”

”Maknya! Tidak nyana orang ganteng macam dia pun ternyata anak cecunguk kaum iblis laknat!”

”Ya, dia anggap kita orang Pak-shia betul-betul tak punya jagoan!”

Tanpa Perasaan berusaha memberi keterangan, namun lantaran tenaga dalamnya tidak cukup sempurna, suaranya tenggelam di balik hiruk pikuknya suara teriakan orang-orang itu.

Sementara itu beberapa buah obor telah dipasang di sekeliling ruang kuil, membuat suasana di situ nampak jadi terang benderang.

Tampak ada dua-tiga puluhan orang perempuan tua muda dan anak-anak dengan tubuh berlepotan darah berbaring atau bersandar di situ, mereka sedang memandang ke arahnya dengan sinar mata kebencian.

Diam-diam Tanpa Perasaan mengeluh, pikirnya, ”Wah, bisa gawat jika mereka maju menyerang secara bersama-sama, padahal jalan mundurku sudah tersumbat, bila tidak melukai orang dengan senjata rahasia, bisa jadi malah aku sendiri yang bakal mampus.”

Mendadak terdengar bentakan nyaring berkumandang, bersama dengan berkelebatnya sesosok cahaya bianglala berwarna putih, tampak seorang gadis berbaju putih menerjang ke muka sambil melepaskan tusukan, serangan itu dilancarkan dengan cepat dan keji, membuat orang sulit menghindarkan diri.

Lekas Tanpa Perasaan menggebrak lantai sambil melompat bangun, dengan cekatan dia meloloskan diri dari tusukan itu dan mundur hingga ke sudut ruangan.

Gagal dengan serangannya yang pertama, gadis berbaju putih itu membalik pedangnya lalu tanpa menimbulkan suara sedikitpun merangsek lebih ke depan dan kembali melepaskan sebuah tusukan kilat.

Karena tak ada jalan lain untuk mengundurkan diri, Tanpa Perasaan segera menekan permukaan tanah dengan sepasang telapak tangannya dan berjumpalitan persis di atas sambaran pedang gadis berbaju putih itu, teriaknya keras, ”Aku datang untuk berjumpa dengan Ciu-shiacu ”

Gagal dengan tusukan pedangnya, gadis berbaju putih itu kembali mengungkit ke atas dengan ujung pedangnya, sementara badannya ikut pula bersalto dengan gerakan yang sangat indah, lagi-lagi dia mengejar pemuda itu sambil melepaskan satu tusukan ke punggung lawan.

Berada di tengah udara, sulit bagi Tanpa Perasaan untuk! Mengerahkan tenaga, sambil membentak nyaring dia segera berbalik, cahaya emas berkilauan di antara gerak tangannya, satu babatan maut dilontarkan ke depan.

Merasa gelagat tidak menguntungkan, lekas gadis berbaju putih itu melintangkan pedangnya untuk menangkis, ”Trang!”, benturan nyaring bergema memecah keheningan, meminjam tenaga benturan itu, lagi-lagi Tanpa Perasaan melesat ke samping naik ke atas dinding pekarangan.

Tak terlukiskan rasa kaget gadis berbaju putih itu, dia tak menyangka secepat itu pihak lawan melancarkan serangan balasan yang nyaris membabat sebagian rambutnya, paras mukanya berubah memucat.

Sementara itu Tanpa Perasaan bersiap untuk bicara lagi, begitu kakinya melayang turun ke atas tanah, belum sempat buka suara tiba-tiba muncul lagi tiga orang jagoan, seorang menggunakan tombak berantai, seorang menggunakan trisula dan seorang lagi menggunakan golok besar, langsung menerjang datang dan tanpa bicara melepaskan serangan maut ke arah anak muda itu.

Dalam keadaan begini, Tanpa Perasaan hanya bisa menghela napas panjang, kini jiwanya terancam dan posisinya terdesak hebat, bila dia tidak mau melukai lawan, berarti dia sendiri yang akan terluka, maka tangan kirinya segera dikebaskan ke depan, tiga batang paku tulang putih segera melesat keluar dan menyambar ke tubuh lawan.

Biarpun ketiga batang senjata rahasia itu dilepas hanya untuk melukai lawan dan sama sekali tak berniat menghabisi nyawa orang-orang itu, bukan berarti serangannya mudah dihindari, namun ketiga orang itu sungguh hebat, yang memakai lombak berantai segera memutar senjatanya sedemikian rapat hingga paku tulang putih yang tertuju ke arahnya seketika terpental jatuh, sementara orang yang bersenjata golok segera melambung ke udara dan membacok paku tulang putih yang mengarah badannya hingga terpapas kutung jadi dua bagian, sementara orang yang bersenjata trisula dengan gerakan keledai malas berguling, menghindarkan diri dari sambitan senjata rahasia itu, bahkan menggunakan kesempatan itu merangsek lebih ke depan dan menggunakan gerakan burung hong mengangguk, kembali ia menusuk si Tanpa Perasaan. Cukup melihat kemampuan ketiga orang itu dalam melancarkan serangan, dia tahu mereka bukanlah kawanan jago sembarangan, tiba-tiba Tanpa Perasaan teringat kembali perkataan ’Tiau Sin’ gadungan,

”Kota Pak-shia sudah hampir jebol, pertahanan kami sudah hampir jebol, sudah tiga kali empat iblis Su-toa-thian-mo dengan memimpin enam belas orang jagoannya menyerang kota, kekuatan kami bertambah lemah, dari sepuluh pelindung hukum sudah tiga orang menemui ajalnya, tiga orang tertangkap dijadikan ’manusia obat’ dan berbalik menyerang kota, sisanya yang dua orang pun sudah terluka parah”

Kini Tanpa Perasaan melihat dari ketiga orang itu, tubuh si lelaki bersenjata golok sudah dipenuhi balutan kain perban dan bercak darah, jelas dia telah menderita luka cukup parah, tapi sebelum dia berpikir lebih jauh, tusukan trisula kembali sudahi menyambar tiba, dalam keadaan begini dia hanya bisa menghela napas panjang seraya berkelit.

Tiba-tiba satu ingatan melintas, pikirnya, ”Kenapa aku tidak berusaha menangkap seorang di antara mereka hingga serangan brutal bisa dihentikan sementara waktu? Aku bisa menggunakan kesempatan itu untuk memberi penjelasan kepada mereka”.

Berpikir begitu dia segera melambung lagi ke udara.

Gagal dengan tusukannya, lelaki kekar itu siap melancarkan serangan untuk kesekian kalinya, siapa tahu belum sempat dia bergerak, tiba-tiba terlihat cahaya tajam berkilauan di seluruh udara, dua-tiga puluh batang senjata rahasia serentak meluruk tiba dan mengurung tubuhnya rapat-rapat.

Lelaki itu memang tak malu menjadi salah seorang di antara sepuluh jagoan paling tangguh ilmu silatnya di kota Pak-shia, biar terancam bahaya dia sama sekali tak panik, trisulanya diayunkan berulang kali kian kemari, ternyata kedua-tiga puluhan batang senjata rahasia itu berhasil ditangkis semua, jangar lagi melukai badannya, menyentuh pun tak mampu. Tapi sayang waktu itu Tanpa Perasaan sudah melayang turun di belakang tubuhnya, di saat lelaki kekar itu sedang sibuk menyampuk runtuh senjata rahasia yang mengancam tubuhnya, pisau belati yang sudah siap di tangan langsung dilintangkan di belakang lehernya.

Golok pembabat kuda dan sepasang tombak berantai dari dua orang rekannya cepat menyambar tiba, maksudnya untuk menolong rekannya, tapi si Tanpa Perasaan kembali menggetarkan tangannya, dua belas senjata rahasia kembali memancar ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Dalam keadaan begini, kedua orang lelaki itu terpaksa harus berkelit ke samping untuk menghindarkan diri, dengan demikian mereka pun tak sempat lagi menyelamatkan lelaki bersenjata trisula itu.

Saat itulah dari sudut kuil kembali muncul seorang, dia menggunakan gada berkepala harimau sebagai senjata, sambil meraung gusar, dengan membawa luka di badan dia langsung menyerbu ke dalam arena pertarungan.

Melihat itu Tanpa Perasaan segera membentak nyaring, ”Kalau kalian berani maju selangkah lagi, akan kubunuh dulu orang ini!”

Begitu ancaman itu diuarkan keluar, seketika lelaki bersenjata gada itu menghentikan gerak serangannya, dengan sorot mata kuatir bercampur cemas dia mengawasi lelaki bersenjata trisula itu tanpa berkedip.

Kawanan jago yang lain pun berbondong-bondong maju mengepung, tapi mereka tak berani maju secara gegabah, hanya teriaknya penuh amarah, ”Cepat bebaskan dulu pelindung hukum Ko!”

”Jika kau berani mengusik pelindung hukum Ko barang seujung rambutnya, akan kubikin kau mampus tanpa liang kubur!”

”Bajingan cilik, kau ingin mengadu jiwa!” ”Bangsat, bebaskan pelindung hukum Ko dan kuampuni nyawa anjingmu!” Mendengar teriakan yang simpang siur itu. Tanpa Perasaan hanya bisa menghela napas panjang, baru saja dia akan memberi penjelasan, mendadak terdengar lelaki kekar bersenjata trisula telah berteriak dengan suara parau, ”Aku rela mati daripada harus memenuhi permintaan kawanan tikus itu.”

Begitu selesai bicara, sepasang trisulanya dibalik dan langsung ditusukkan ke jalan darah Thay-yang-hiat di kening kiri dan kanannya.

Tanpa Perasaan terkesiap, dia tak menyangka lelaki kekar itu mempunyai watak begitu keras dan tegas.

Kalau tadi dia berhasil menguasai lelaki itu dan mengancamnya dengan pisau belati, semuanya lantaran pihak lawan terpecah konsentrasinya karena harus menghadapi ancaman senjata rahasia, tapi sekarang lelaki itu berniat bunuh diri, dengan kepandaian silat yang dimiliki Tanpa Perasaan jelas dia tak sanggup menyelamatkannya.

Padahal bila orang ini sampai mati, maka biarpun Tanpa perasaan menjelaskan semua hal dengan gamblang dan jelas pun belum tentu perselisihan itu bisa diselesaikan secara gampang.

Pada saat itulah mendadak dari sudut kuil berkumandang dua dentingan nyaring diikuti melesatnya dua kilatan cahaya pedang, secara beruntun kilatan cahaya pedang itu menghajar di atas sepasang trisula itu hingga miring ke samping dan menyambar lewat dari sisi kening lelaki itu.

Ternyata kedua kilatan cahaya pedang itu berasal dari sebilah pedang yang berada dalam genggaman seorang pemuda berbaju putih, pemuda itu berwajah tampan tapi dingin dan serius, ia berdiri di ujung kuil dengan penuh keangkeran.

Gadis berbaju putih itu segera menghampiri pemuda itu sambil berbisik, ”Hati-hati, senjata rahasia milik orang ini sangat lihai!” Tanpa Perasaan menghela napas panjang, dia segera mendorong lelaki bersenjata trisula itu hingga mundur dari arena pertarungan.

Pemuda berbaju putih nampak tertegun, agaknya dia tidak menyangka kalau Tanpa Perasaan akan melepaskan pelindung hukum Ko.

”Terima kasih!” ucap Tanpa Perasaan kemudian.

”Kenapa berterima kasih kepadaku?” pemuda berbaju putih balik bertanya dengan wajah tertegun.

”Terima kasih kau telah selamatkan nyawa Toako itu!” ”Menolong dia merupakan kewajibanku, kenapa kau mesti

berterima kasih kepadaku?”

”Seandainya kau tidak menyelamatkan jiwanya, aku akan susah untuk menjelaskan duduknya persoalan!”

”Kau juga yang menguasai dirinya, kenapa kau bilang akan susah untuk menjelaskan duduknya persoalan?”

Sementara itu lelaki bersenjata gada sudah berteriak dari sisi arena, ”Tidak usah banyak bicara lagi dengan bajingan macam dia, biar Locu bantai dulu dirinya!”

”Him-huhoat, kau jangan ribut dulu, biar aku tanyai dulu sampai jelas,” tukas pemuda berbaju putih.

”Aku bukan berasal dari komplotan empat iblis langit Sutoa-thian-mo!” Tanpa Perasaan segera menjelaskan.

”Oya?”

Dengan gemas penuh kebencian lelaki bersenjata golok itu menyela, ”Jangan percaya dengan omong kosongnya, kalau bukan berasal dari komplotan empat iblis langit, buat apa di tengah malam buta begini dia seorang diri menyelundup masuk ke dalam kuil Liu-ho-an?”

”Bagaimana penjelasanmu?” pemuda berbaju putih itu kembali bertanya.

”Aku kemari untuk mencari kau.”

”Oh, mencari aku? Jadi kau tahu siapakah aku?” ”Tentu saja tahu.”

”Tapi aku belum pernah berjumpa denganmu.”

”Tapi aku tahu, kau adalah Pak-shia Shiacu, Ciu Pek-ih!” ”Benar!” pemuda berbaju putih mengakui sambil tertawa. ”Mau apa kau datang kemari?” kembali lelaki bergolok itu

menegur.

”Pocu dari benteng Tang-po, Ui Thian-seng telah tiba, namun sekarang telah dikuasai si Bibi iblis dan nyawanya berada di ujung tanduk, aku tak mengerti cara membebaskan totokan jalan darahnya, maka aku datang kemari untuk minta bantuan kalian.”

”Hm, barangkali hanya setan yang mau percaya dengan omonganmu,” sekali lagi lelaki bergolok menyindir.

”Tio-huhoat, aku percaya dengan perkataannya,” tiba-tiba Ciu Pek-ih berkata.

”Apa? Kau percaya dengan perkataannya?” teriak lelaki bergolok itu tercengang.

”Benar,” sahut Ciu Pek-ih sambil tertawa, ”sebab aku pun sudah tahu siapakah dia.”

”Siapakah dia?”

”Dia tak lain adalah si Tanpa kaki menempuh ribuan li, ribuan tangan susah dibendung ... si Tanpa Perasaan dari empat opas yang termashur,” ujar Ciu Pek-ih kata demi kata.

”Apa? Dia adalah si Tanpa Perasaan?” seru Tio-huhoat dan Him-huhoat sekalian dengan perasaan terkejut.

”Apakah bala bantuan kita akhirnya tiba juga?” seru lelaki bersenjata tombak itu pula dengan wajah kegirangan.

”Benar, kami telah datang,” ujar si Tanpa Perasaan, ”tapi kerugian yang kami derita pun cukup parah, kecuali diriku, yang lain telah dikuasai musuh, namun si Dewa iblis, Malaikat iblis beserta kedelapan orang anak buahnya juga berhasil kami bunuh, empat di antara delapan anak buah si Bibi iblis dan Pentolan iblis pun sudah tewas. Kita harus segera berangkat untuk menolong mereka, kalau tidak, keadaan akan terlambat.”

”Baik, kita segera berangkat,” Ciu Pek-ih berseru tegas. ”Ciu-shiacu, kau percaya dengan perkataannya?” seru le

laki bertombak itu ragu. ”Orang lain sudah menempuh perjalanan ribuan li untuk datang menolong kita, kedatangan mereka pun hanya berbekal ’percaya’ dan ’setia-kawan’, masakah sekarang kita tak percaya kepada mereka dan tidak menunjukkan kesetiakawanan kita? Kalau hal ini sampai ketahuan orang, apakah perbuatan kita tak akan jadi bahan tertawaan umat persilatan?”

”Shiacu, aku akan berangkat bersamamu,” lelaki bersenjata trisula segera berseru.

”Jangan, Phang-huhoat, kau bersama Tio-huhoat, Himhuhoat dan Ko-huhoat tetap berjaga di sini, para korban terluka butuh perawatan kalian. Cukup aku pergi seorang diri saja, daripada orang lain memanfaatkan kesempatan untuk menyerang tempat ini.”

”Baik!” serentak keempat orang pelindung hukum itu menyahut dengan sangat hormat.

”Pek-ih, aku ikut denganmu,” seru gadis berbaju putih itu tiba-tiba.

Ketika si Tanpa Perasaan melihat di wajah Ciu Pek-ih menampilkan perasaan serba salah, dia pun segera berkata, ”Aku tahu, bukankah kau adalah calon istri Ciu-shiacu yang dijuluki pendekar dewi Pek Huan-ji? Aku tahu ilmu pedangmu sangat bagus, bagaimana kalau kau pun ikut serta membantu kami?”

”Akan kubantu sebisa mungkin,” jawab Pek Huan-ji kemudian dengan wajah bersemu merah.

”Urusan ini tak bisa ditunda lagi, mari kita segera berangkat.”

”Baik, kita teruskan pembicaraan sambil berjalan.”

Sepanjang perjalanan secara ringkas Tanpa Perasaan menceritakan kembali kisah Ui Thian-seng sekalian hingga ditangkap Bibi iblis.

Sebaliknya Ciu Pek-ih juga menceritakan bagaimana dia bersama kesepuluh orang pelindung hukumnya bertarung sengit mempertahankan kota Pak-shia dari ancaman kawanan iblis Su-ioa-thian-mo. Selama ini Su-toa-thian-mo sudah tiga kali menyerang kota Pak-shia yang terkepung, lambat-laun persediaan ransum di dalam kota makin menipis, sementara korban yang berjatuhan pun semakin banyak, dari kawanan pelindung hukum itu ada tiga orang yang telah tewas dan seorang terluka parah.

Dalam keadaan begitu, Ciu Pek-ih berusaha menjebol pertahanan untuk keluar dari kota, tapi akibat usahanya ini, kembali dua orang pelindung hukumnya tertawan dan seorang lainnya terluka, sebaliknya kawanan ’manusia obat’ yang digunakan empat iblis untuk menyerang kota pun ada tujuh delapan orang yang berhasil dibantai.

Gagal keluar dari kota, salah seorang pelindung hukumnya kembali terperangkap hingga dijadikan ’manusia obat’, kemudian bersama tiga orang pelindung hukum lainnya yang sudah dijadikan ’manusia obat’, mereka menyerang kota.

Dibantu tujuh delapan orang ’manusia obat’ ditambah kawanan iblis dari empat iblis langit, akhirnya serangan mereka berhasil menjebol pertahanan kota, terpaksa Ciu Pekih dengan membawa seratusan pengikutnya yang tersisa mundur ke kuil Liu-ho-an di belakang bukit dan menjadikan tempat itu sebagai tempat pertahanannya yang terakhir.

Dalam pertempuran terakhir, tiga orang pelindung hukumnya kembali jadi korban, tewas dalam keadaan mengenaskan.

Oleh sebab itu Ciu Pek-ih bersikeras untuk tetap bertahan di kuil Liu-ho-an, sesaat sebelum mundur ke sana, kembali mereka memperoleh tambahan ransum sehingga membuat semangat kembali berkobar.

Kemudian ketika melihat nasib tragis yang menimpa ketiga orang rekannya yang dijadikan ’manusia obat’, mereka pun bersepakat lebih baik tewas hingga titik darah penghabisan ketimbang tertangkap lawan.

Menghadapi musuh yang semakin nekad, empat iblis langit Su-toa-thian-mo pun tak berani bertindak secara gegabah, di samping karena ’manusia obat’ andalan mereka sudah semakin berkurang jumlahnya, keempat iblis langit pun sangat berharap bisa menawan para jago dari Pak-shia dalam keadaan hidup sehingga bisa dijadikan ’manusia obat', karenanya mereka tak ingin melakukan tekanan yang berlebihan sehingga membuat rencana mereka malah gagal.

Walau begitu, Ciu Pek-ih sekalian pun sadar bahwa dengan mengandalkan kekuatan mereka, mustahil bisa lolos dari kepungan itu, sebab dari seratusan orang yang berkumpul saat itu, kaum wanita, anak dan orang tua sudah menempati tiga puluh persen, belasan orang sudah tak punya kekuatan untuk bertarung lagi, berarti tinggal enam puluhan orang jagoan saja yang masih bisa bertarung.

Namun bila ingin bertarung melawan empat iblis langit hanya dengan mengandalkan kekuatan seperti ini, jelas kerugian besar berada di pihaknya, bisa jadi kekuatan mereka malah akan musnah sama sekali.

Dalam keadaan demikian mereka malah merasa bertahan di dalam kuil jauh lebih menguntungkan ketimbang menyerbu keluar, maka mereka pun memutuskan untuk tetap bertahan sembari menunggu tibanya bala bantuan.

Keempat iblis langit tidak menyerang lagi, selain karena jumlah 'manusia obat' andalan mereka sudah semakin melemah sehingga tak bisa diandalkan lagi untuk melancarkan serbuan, ternyata di antara mereka berempat juga telah terjadi saling gontok di antara kalangan sendiri, ditambah lagi serangan Ui Thian-seng sudah memperlemah daya serang keempat iblis itu sehingga mereka tak sanggup lagi menghimpun kekuatan besar untuk melancarkan gempuran.

Sesudah melalui pertempuran berbulan lamanya, kekuatan kota utara atau Pak-shia boleh dibilang sudah semakin lemah, selain jumlah jagoannya makin berkurang, kebanyakan pun sudah letih, Ciu Pek-ih sebagai seorang Shia-cu pun sudah terdesak hingga mesti mundur dari kota dalam keadaan mengenaskan, selain rasa benci dan sedih, baginya peristiwa ini sangat memalukan nama serta pamornya, paling tidak dia jadi malu karena tak mampu mempertahankan jerih payah leluhurnya. Kini masalah paling sulit yang dihadapi tinggal dua, pertama jika pertarungan antara Bibi iblis melawan Pentolan iblis sudah berakhir, semisalnya Ci Yau-hoa yang menang, maka dia pasti akan tahu dimana Ui Thian-seng disembunyikan, besar kemungkinan dia segera akan balik ke gua itu dan mencelakai rombongan Ui Thian-seng, paling tidak si Tanpa Perasaan bertiga harus bertarung sengit lebih dulu melawan Ci Yau-hoa.

Kedua, terlepas Ci Yau-hoa atau Si Ku-pei yang menang, mereka pasti akan menghimpun kembali semua 'manusia obat' yang belum digunakan, yang jumlahnya masih ada sekitar empat lima puluhan orang untuk sekali lagi menyerang Pakshia, waktu itu, sekalipun rombongan Ui Thian-seng berhasil lolos dalam keadaan selamat, bukan berarti serangan kawanan jago yang kehilangan ingatan itu mudah dibendung, apalagi baik Si Ku-pei maupun Ci Yau-hoa, mereka termasuk jagoan tangguh yang sangat memusingkan kepala.

Yang lebih penting lagi, bila saat ini rombongan Ui Thianseng sudah jadi 'manusia obat', maka biarpun kekuatan yang dimiliki Ciu Pek-ih tiga kali lipat lebih banyak pun, pada akhirnya pasti akan menderita kekalahan yang mengenaskan.

Setelah berbulan-bulan bermuram durja, untuk pertama kalinya Ciu Pek-ih dan Pek Huan-ji memperlihatkan senyuman di wajah.

Bahkan si Tanpa Perasaan yang selalu berwajah serius pun, kini nampak berseri.

Rupanya mereka telah berjumpa dengan Ui Thian-seng, bahkan mereka telah membebaskan jalan darah sendiri yang tertotok.

Begitu melompat bangun, Khong Bu-ki langsung mencacimaki Ci Yau-hoa habis-habisan, sementara Chin Ang-kiok, si Pedang bambu, si Pedang bunga bwe, si Pedang anggrek beserta keempat bocah pedang emas dan perak segera menghembuskan napas panjang.

Menggunakan kesempatan itu Yau It-kang menceritakan kisah yang mereka alami hingga tertangkap. Ternyata setelah tertangkap, mula-mula Ci Yau-hoa berusaha menjejalkan sejumlah obat ke dalam mulut mereka, namun karena kawanan jago itu mati-matian menutup mulut, sekalipun sudah terjejal pun segera dimuntahkan kembali, maka dalam keadaan apa boleh buat terpaksa untuk sementara waktu perempuan iblis itu meninggalkan mereka di sana.

Sebelum pergi dia memerintahkan dua orang manusia aneh, seorang berbaju hijau dan yang lain berbaju putih untuk mengawasi mereka, pesannya, biarkan mereka kelaparan selama beberapa hari, ketika kondisi tubuh mereka mulai melemah karena kelaparan, maka obat-obatan itu akan dijejalkan kembali.

ooOOOoo
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pertemuan di Kotaraja Bab 19 : Bertempur melawan sepasang iblis"

Post a Comment

close