Pendekar Sejagat Bab 22 : Penutup

Mode Malam
BAB 22 Penutup

Di dalam keadaan mabuk terasa ada yang menggelitik sehingga ingin tertawa, sepertinya ingin merasa khawatir pun tidak ada waktu lagi. Sekarang membaca buku karangan orang jaman dulu sepertinya semua sudah tidak ada artinya. Kemarin mabuk di bawah pohon cemara. Aku bertanya kepada pohon cemara, aku harus mabuk sampai pada keadaan seperti apa? Aku mengira pohon cemara ingin aku sampai di tingkat apa. Dengan kibasan tanganku, aku berkata kepada pohon cemara, "Pergi. "

Menggoyangkan kepala, tubuh pun ikut bergoyang. Wo Shi Shui telah menghabiskan 2 gentong arak. Satu kaki ditumpangkan ke meja. Satu kakinya ditumpangkan ke atas bangku. Wajahnya penuh dengan cambang. Dia melemparkan sebutir kacang dan mulutnya dibuka dengan lebar supaya kacang itu bisa masuk ke dalam mulutnya— Tiba-tiba ada seseorang yang menyambar kacang itu dengan tangannya lalu dimasukkan ke mulutnya. Tapi mulut itu bukan mulut Wo Shi Shui melainkan mulut Guo Ao Bai. Melihat Guo Ao Bai yang memakan kacangnya, Wo Shi Shui marah karena makanan yang sudah hampir masuk ke dalam mulutnya disambar oleh orang lain. Ini adalah hal yang membuat orang marah. Kacang itu seharusnya masuk ke mulutnya sendiri sebaliknya malah masuk ke mulut orang lain. Untung hari ini Wo Shi Shui sedang bergembira dan dia mau mengupas lagi kacang untuk makan. Biasanya dia sangat malas untuk mengupas kacang, Dia akan memakan kacang dengan kulitnya.

Wo Shi Shui bangun. Tiba-tiba Farig Zhen Mei tertawa dan berkata, "Kau sedang membaca puisi apa? Kemarin malam kau mabuk tapi bukan di bawah pohon cemara? Tapi di...." Fang Zhen Mei tertawa dan tidak bicara lagi. Wo Shi Shui menjadi malu. Kemarin malam dia memaksa Fang Zhen Mei minum arak, yang mabuk malah dia. Dia tidak ingin dipapah oleh orang lain. Dia berkata bisa kembali ke penginapan sendiri. Begitu bangun dia baru tahu dia mabuk dan tertidur di kamar mandi di sisi jalan, benar- benar hal yang memalukan.

Guo Ao Bai juga ikut tertawa dan berkata, "Kau mengatakan sekarang kau merasa bahwa buku karangan orang jaman dulu tidak ada artinya lagi. Sebenarnya kau sudah membaca buku tentang apa? Mengapa begitu sombong?"

Wo Shi Shui menggaruk-garuk kepalanya. Dia seperti teringat pada sesuatu dan berkata, "Baiklah, bocah tengik kau menghinaku seakan-akan aku belum pernah sekolah. Aku membaca cerita Kong Rong Rang Li apakah kau sudah pernah mendengarnya?" (Kong Rong Memilih Buah Pir).

Fang Zhen Mei terpaku, dia tidak menyangka bahwa buku yang dibaca oleh Wo Shi Shui adalah Kong Rong Rang Li. Dia ingin tertawa, tidak disangka Guo Ao Bai pun mempunyai perasaan yang sama dengannya. Dia berkata, "Betul, betul, dulu aku pernah berpikir bila aku adalah Kong Rong, aku pasti akan memilih buah pir yang besar. Kalau ada orang yang berada di sisi kita dan dia adalah seorang tetua, dia juga pasti akan memberikan buah pir yang besar untukku, mengapa kita harus berpura-pura?"

Tapi Wo Shi Shui membantah, "Tidak benar, itu tidak benar."

Guo Ao Bai merasa aneh dan bertanya, "Apakah jika dirimu memilih, maka kau akan memilih buah pir kecil untuk dirimu sendiri?"

Wo Shi Shui marah dan berkata, "Aku tidak mau tahu apa itu buah pir yang besar atau kecil, aku tetap akan memakan semuanya."

Kali ini Guo Ao Bai juga tidak tahan lagi, dia tertawa terbahak- bahak. Fang Zhen Mei tertawa dan berkata, "Untung aku bukan kakaknya Kong Rong."

Wo Shi Shui juga menjawab, "Untung aku juga bukan Kong Rong."

Guo Ao Bai dengan serius berkata, "Untung aku bukan buah pir." Mereka bertiga tertawa dengan senang dan gembira. Orang lain yang tidak tahu pasti mengira mereka bertiga adalah pemabuk atau orang gila. Tapi mereka adalah laki-laki sejati. Mereka tahu bila membicarakan hal yang serius mereka pun akan serius. Tapi pada saat santai, mereka pun akan bersikap santai. Mereka membuat diri mereka menjadi senang dan juga membuat orang lain merasa senang. Bila tidak seperti itu, hidup mereka akan tertekan oleh dunia persilatan yang selalu bergejolak. Penuh dengan darah, air mata, dan juga banyak angin dan gelombang. Mereka dengan cepat akan tua dan cepat marah, dan cepat merasa bosan atau merasa lelah.

Mereka adalah pendekar dan juga manusia yang hidup, mereka juga teman yang penuh darah panas (suka membantu) karena itu mereka tertawa dengan sangat senang dan gembira.

Mungkin juga karena hitam tidak bisa mengalahkan putih. Di dunia ini kebenaran tetap ada. Mereka harus menjaganya semampu mereka karena itu mereka tertawa dengan senang. Sebenarnya di lubuk hati mereka yang paling dalam, hati mereka pun tertusuk sangat dalam hingga merasa sakit.

Ayah Guo Ao Bai meninggal dibunuh oleh Chang Xiao Bang, Wo Shi Shui kehilangan kekasih yang sangat dia cintai. Luka-luka ini sulit dilihat dari wajah mereka yang muda dan ceria.

Sesudah puas tertawa Guo Ao Bai berkata, "Kakak Fang dan Kakak Wo, nanti siang aku akan kembali ke Han Ying Bao. Semenjak ayahku terbunuh, keadaan di sana sangat berantakan, aku harus pulang untuk menjalankan upacara duka. Setelah Duan Yang (bulan

5 tanggal 5 tahun China) aku akan terjun kembali ke dunia persilatan dan aku akan pergi mengunjungi kalian bedua."

Wo Shi Shui terdiam dan tidak bicara, Fang Zhen Mei pun diam. Kemudian dia tertawa dan berkata, "Baiklah, kau harus jaga diri. Kita berkelana di dunia persilatan suatu waktu kita pasti akan bertemu lagi." Wo Shi Shui terus minum arak. Dia bersulang untuk Guo Ao Bai dan berkata, "Aku nasehati Tuan, lebih baik minum arak dulu, kalau sudah keluar dari sini kau sudah tutuk ada kenalan lagi untuk menemanimu minum... Ayu, mari...kita minum sampai mabuk, setelah itu lumi bubar."

Fang Zhen Mei tertawa dan berkata, "Adik Ouo sedang berduka, tidak boleh banyak minum. Kau pun sama. Kau jangan membuat keributan di sini. Malam n n kita harus lebih awal beristirahat. Besok pagi kita Akan pergi ke Shu Zhou, bagaimana?"

Wo Shi Shui meloncat tinggi dan berkala, "Membuat keributan? Aku adalah Wo Shi Shui, jika tidak membuat keributan, aku tidak bisa hidup. Ke Shu Zhou ada keperluan apa?"

Fang Zhen Mei tertawa dan menjawab, "Yang paling penting, dunia persilatan selalu timbul banyak masalah. Apalagi selama beberapa tahun ini, banyak terjadi hal yang aneh-aneh di dunia persilatan. Banyak orang jahat yang datang dari perbatasan. Mereka muncul di dunia persilatan dan sering membunuh orang yang tidak bersalah. Beberapa hari yang lalu, sewaktu aku berada di Wisma Shi Jian, ada yang mengirim surai untuk Ketua Shi Tu. Mereka tidak tahu bahwa Ketua Shi Tu sudah meninggal. Begitu Qing Yan membuka surai itu dan membacanya, ternyata itu adalah surat dari markas Biao Feng Yun. Yang menulis surat itu adalah Tetua Long Fei Hua (Nama orang), di surat itu pun dia menanyakan apakah Ketua Shi Tu bisa berhadapan dengan Ketua Zheng? Dia tidak bisa datang karena diganggu oleh orang-orang Qian Shou Wang (Raja Tangan Seribu). Dia tidak bisa meninggalkan markas Biao "

Wo Shi Shui dan Guo Ao Bai terkejut dan berkata, "Apa? Qian Shou Wang? Zhuo Qian Zhen keluar lagi mengacaukan dunia persilatan?" .

Fang Zhen Mei mengangguk dan berkata, "Benar, Zhuo Qian Zhen sangat jahat dan kejam tapi dia juga seorang pesilat tangguh. Dua puluh lima tahun yang lalu dia diburu oleh pendekar-pendekar Zhong Yuan. Dia melarikan diri. Tidak disangka 25 tahun kemudian dia muncul lagi di dunia persilatan. Katanya ilmu silat yang dia miliki sekarang sudah maju pesat. Anak buahnya Qiu Da Gui (Sembilan Setan Besar) semuanya berilmu silat sangat tinggi. Bila dia muncul lagi di dunia persilatan, maka ini akan menjadi musibah besar lagi"

Wo Shi Shui marah. Dia menggebrak meja dan berkata, "Baiklah, aku akan membuat dia tahu siapa itu Wo Shi Shui."

Fang Zhen Mei dengan berat berakta, "Katanya sewaktu Chang Xiao Bang menyerang Wisma Shi Jian, Zheng Bai Shui juga pergi ke Wisma Shi Jian nntuk bertarung tapi dia bertemu dengan seorang pemuda yang sangat mahir menggunakan senjata rahasia, karena itu dia terlambat datang jadi Qu Lei dan Fang Zhong Pin kalah dalam bertarung. Jika Zheng Bai Shui ikut dalam pertarungan waktu itu, akhir dari pertarungan antara Chang Xiao Bang dan Wisma Shi Jian pasti tidak seperti sekarang. Orang itu sanggup menahan Zheng Bai Shui dengan senjata rahasia dan dia masih muda, di dunia persilatan itu belum pernah mendengar namanya. Waktu itu Chang Xiao Bang dan Wisma Shi Jian sedang bertarung, kalangan dunia persilatan belum tahu bagaimana kekuatan Wisma Shi Jian. Mereka menyangka Chang Xiao Bang pasti akan menang karena itu aku curiga bahwa pemuda itu pasti adalah salah satu di antara dua pemuda pengikut Qian Shou Wang. Tujuannya muncul di sekitar Wisma Shi Jian adalah untuk menghalangi Chang Xiao Bang menang dan mereka membiarkan Ketua Zheng dan Shi Tu ke 12 bertarung, membiarkan mereka berdua mati. Setelah itu Qian Shou Wang baru memiliki kesempatan untuk menguasai dunia persilatan. Aku mempunyai pikiran ini karena pemuda itu mahir menggunakan senjata rahasia. Alasan yang kedua adalah jurus pentungan. Pemuda ini sepertinya adalah murid dia. Muridnya saja begitu lihai, apalagi gurunya?"

Wo Shi Shui berkata, "Pergi! Ayo pergi!"

Tanya Fang Zhen Mei dengan aneh, "Pergi ke mana?"

Wo Shi Shui berteriak, "Bila di dunia persilatan ada kesulitan, kita harus menunggu apalagi? Aku sudah tidak sabar, sekarang kita segera pergi ke markas Biao Feng Yun."

Guo Ao Bai juga berkata, "Kalau saja aku bisa pergi, aku juga akan ikut sekarang!"

Fang Zhen Mei menghela nafas dan melihat kedua temannya ini. Hatinya berpikir, "Di dunia tidak perlu khawatir tidak ada laki-laki sejati." Dengan tertawa senang dia berkata, "Kita minum arak dan membaca puisi lagi."

Wo Shi Shui tertawa dan dia membaca puisi, "Melewati sungai dan langit bagian selatan. Apakah beberapa orang benar-benar pernah melakukan ini? Penduduk Chang An dan pemandangan dulu masih tetap ada. "

Fang Zhen Mei juga ikut membaca puisi. "Dulu lahir di sini, sekarang melihat awan dan angin yang lewat.

Pohon yang hijau, angin dan asap, rumput dan air, gunung pun berjanji.

Begitu keadaan sudah aman dan selesai, baru kita bersulang untuk Tuan." Mereka bertiga saling memandang dan tertawa. Mereka adalah tiga orang pendekar muda.

Tamat
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Sejagat Bab 22 : Penutup"

Post a Comment

close