Pendekar Sejagat Bab 15 : Menerjang Wisma

Mode Malam
BAB 15 Menerjang Wisma

Ketua ketiga Wisma Shi Jian yaitu si Kepalan Sakti Lei Shan, Yin Yang Hei, dengan termenung menatap langit dengan awan yang berwarna merah dan juga awan hitam yang ditutupi oleh awan merah, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

Dia adalah si Kepalan Sakti Lei Shan, Yin Yang Hei, biasanya jarang diam dan berpikir seperti sekarang, dia bertemperamen cepat marah, jarang mempunyai waktu untuk diam dan duduk dengan tenang, karena sifatnya yang selalu terburu-buru maka itu dari pagi hingga malam dia tidak mempunyai waktu untuk diam beristirahat.

Tapi hari ini entah mengapa, tiba-tiba dia teringat dengan masa lalunya, pada saat hujan badai, di Wisma Shi Jian, Ketua Shi Tu ke

12 selalu mendidiknya, membuatnya dengan tenang belajar ilmu silat dan menjadi ternama di dunia persilatan, dia teringat dengan kehidupan masa lalunya yang menyedihkan, begitu dia lahir dia sudah dibuang oleh orang tuanya dia tinggal di tempat kumuh yang gelap, badannya kurus dan lemah. Kemudian ada seorang tuan muda yang kaya dan melihatnya, kemudian mendidiknya, mengajarinya ilmu silat, membantunya berkelana di dunia  persilatan. Orang yang membantunya itu tak lain adalah Lao Da nya, ketua wisma yang sangat dihormati oleh orang-orang, Shi Tu ke 12.  

Dengan sebenarnya Shi Tu ke 12, He Bu Le, dan dia menjadi saudara angkat, disusul Lu Ying Feng masuk ke Wisma Shi Jian, lalu Ma Er dan Yin Jie Ya. Dia teringat dengan perubahan-perubahan yang terjadi selama beberapa tahun ini di dunia persilatan, mereka berenam bersama-sama membunuh lawannya, mereka tidak pernah merasa takut Mereka tidak pernah berpisah. Tapi keadaan sekarang membuatnya merasa sedih, orang yang selama ini selalu bersama dan cocok dengannya, telah mati terbunuh di Chang Xiao Bang.

Dia ingin segera pergi ke Chang Xiao Bang untuk membalaskan dendam Ma Er.

Dia tahu Shi Tu ke 12 dan He Bu Le pasti tidak akan mengyinkannya, beberapa tahun ini Yin Yang Hei tahu dia selalu berbuat sesuatu dengan tergesa-gesa dan mulutnya pun tidak bisa direm bila sudah bicara, karena itu kata-katanya selalu membuat orang-orang merasa sakit hati. Sehingga masalah pun berubah menjadi rumit, hal ini membuat kakak tertuanya, dan kakak keduanya selalu bersusah payah membereskan masalahnya, semua ini mereka lakukan untuk melindungi dirinya. Tapi karena mereka sudah berkawan selama 22 tahun, kesalahan ini akan terlupakan bersama berlalunya angin.

Tapi ada satu-satunya angin yang tidak bisa hilang, angin macam apakah itu?

Yin Yang Hei menatap matahari terbenam, dia sulit mendapatkan jawabannya.

Persahabatan.

Persahabatan membuat hidupnya menjadi lebih berarti, dia melihat langit yang luas, sinar matahari yang terbenam membuatnya merasa silau, seperti darah yang bercampur dengan awan, bulan mulai muncul, tapi belum berbentuk bulat, dia masih bersembunyi di langit yang biru, ada seekor burung yang terbang, sepertinya burung itu tertinggal dari kawan-kawannya, dia berteriak sambil terbang melewati langit sore, juga bulan yang akan segera muncul, burung itu terbang ke arah matahari yang terbenam.

Dia menatap langit, mata Yin Yang Hei mulai basah, orang-orang hanya tahu sifatnya yang keras, perasaannya pun pasti seperti itu, keras. Tidak disangka dia pun bisa bingung. Dia menertawai dirinya sendiri.

Waktu itu dia mendengar sada suara aneh, suara itu adalah suara orang terjatuh,dan roboh, walaupun suara itu jaraknya sangat jauh, tapi dia bisa mendengarnya, dengan cepat dia mencari sumber suara itu, dia bergerak seperti seekor cheetah.

Selama puluhan tahun ini tidak ada yang bisa memburu cheetah yang sedang marah ini.

Setelah dia menemukan sumber keributan itu, ternyata itu adalah suara 6 orang yang roboh.

Begitu Yin Yang Hei melihat, ternyata ada seseorang yang berbaju biru, bentuknya seperti mayat kering, kesepuluh jarinya penuh dengan darah. Dia sedang tertawa, di bawahnya tampak 6 orang murid Wisma Shi Jian yang roboh, tubuh mereka terdapat 5 lubang jari, darah masih keluar dari lubang itu.

Waktu itu sudah ada 7-8 orang murid-murid Wisma Shi Jian yang datang untuk membantu, wajah mereka tampak marah dan mereka siap mengayunkan golok masing-masing, ada yang berteriak, "Cepat beri tanda bahaya!"

Dengan dingin Yin Yang Hei berkata, "Tidak perlu, biar aku yang mengurus semua ini!"

Begitu murid-murid Wisma Shi Jian melihat Yin Yang Hei mereka langsung menjadi tenang, Selama mereka ikut Yin Yang Hei menjaga Wisma Shi Jian, belum pernah melihat ada orang yang tidak bisa dibereskan oleh Yin Yang Hei.

Bila ada ketua ketiga, semua masalah akan beres!

Dengan dingin Yin Yang Hei melihat mayat murid-murid Wisma Shi Jian yang bergelimpangan, dia bertanya, "Apakah kau berlatih ilmu setan?"  

Si Mayat Kering, Qu Li Ren segera tertawa dan menjawab, "Ternyata kau sudah tahu, lebih baik sekarang kau bunuh diri saja  di depanku."

Yin Yang Hei bertanya lagi, "Apakah mereka dibunuh olehmu?"

Si Mayat Kering, Ou Li Ren tertawa da menjawab, "Benar, aku membunuh 3 orang, sedangkan yang 3 lagi tidak tahu diri berani melawanku, lalu kubunuhjuga menurutku, melawan atau tidak, toh hasilnya sama saja, mereka akan mati."

Kata Yin Yang Hei, "Bagus!"

Qu Li Ren terpaku dan bertanya, "Bagus apanya?"

"Karena kau sendiri pun akan mati!" Dia sudah memukul dengan kepalan tangannya.

Jarak mereka hanya beberapa meter, kepalan tangan sudah digerakan, Qu Li Ren merasa ada angin kencang, dia menundukkan kepalanya, pukulan itu mengenai dinding di belakangnya, dinding itu berlubang dan batu pun tampak hancur.

Qu Li Ren sangat terkejut, seumur hidupnya belum pernah dia melihat kepalan tangan yang begitu kuat, dia ingin mundur dari sana tapi semua sudah terlambat. Yin Yang Hei seperti seekor cheetah mengamuk dan akan membunuhnya.

Qu Li Ren segera meloncat dan melayang keluar tembok, tapi Yin Yang Hei sempat menarik kakinya, membuat Qu Li Ren kembali lagi ke tempat semula, dia terkena satu kali pukulan.

Tenaga yang mengenainya terasa meledak di dalam perutnya, si Mayat Kering, dari mulut, telinga, dan hidung Qi Li Ren mengeluarkan darah, dia mati seketika.

Begitu dilepaskan mayat Qu Li Ren terlempar dan jatuh di luar tembok Wisma Shi Jian. Tanya seseorang, "Ketua Ketiga, mengapa tidak menangkapnya hidup-hidup? Biar kita bisa menanyakan dia diperintahkan oleh siapa datang ke Wisma Shi Jian." Kata Yin Yang Hei, "Siapa pun yang menyuruhnya, bila dia membunuh anak buah Wisma Shi Jian, dia harus mati dan tidak perlu ditanya lagi."

Matahari terbenam, dinding yang tinggi, rumput liar tumbuh di mana-mana, matahari sore menyinari Wisma Shi Jian yang kuno dan megah, semua menjadikan wisma itu terlihat misterius, tapi juga tampak anggun dan suci. Orang-orang pun tidak berani menyerang ke sana.

---ooo0dw0ooo---

Qu Lei dan Fang Zhong Pin melihat Qu Li Ren memanjat dinding tembok yang tinggi, kemudian dalam waktu yang singkat terlihat dia terjatuh kembali....

Si Mayat Kering, Qu Li Ren jatuh terbanting, seperti seekor anjing.

Qu Lei marah dan berkata, "Kelihatannya ilmu silat Yin Yang Hei sangat kuat."

Fang Zhong Pin tertawa dan berkata, "biarpun ilmu silatnya lebih tinggi, pun percuma, Tuan Lu, maaf jadi merepotkanmu ke sana."

Lu Ying Feng menjawab, "Siap!

---ooo0dw0ooo---

Yin Yang Hei menatap matahari terbenam, dia kembali terdiam, tidak mengatakan apa pun, tiba-tiba di bawah dinding yang tinggi terdengar ada orang yang bicara, Yin Yang Hei mngerutkan dahi dan bertanya, "Apakah Tuan Muda Fang sudah kembali?"

Jawab seorang murid Wisma Shi Jian dengan hormat, "Bukan, yang datang adalah ketua keempat, Lu Ying Feng dan ada 3 orang lainnya yang tidak kami kenal."

Kata Yin Yang Hei, "Oh!" Si Panah Besi dan Peluru Perak, Lu Ying Feng naik tangga dan masuk, begitu melihat Yin Yang Hei dia segera tertawa dan memanggil, "Kakak Ketiga."

"Lao Si, ada apa?"

Lu Ying Feng mendekat dan menjawab, "Mereka bertiga berasal dari Perkumpulan Qing Zheng, mereka ingin merundingkan suatu rahasia dengan kita."

Yin Yang Hei melihat ketiga orang itu, yang pertama masuk terlihat kuat dan gagah, sikapnya tenang. Yang kedua terlihat sangat santai, dan sedikit sombong. Orang yang ketiga, tidak mirip laki-laki dan juga tidak mirip perempuan. Setelah Yin Yang Hei menatap dengan tatapan selidik, dia berkata, "Kalau bukan hal yang penting, jangan membuatku pusing."

Dengan suara kecil Lu Ying Feng berkata, "Mereka benar-benar ada perlu, katanya semua ini ada hubungannya dengan Pedang Sakti Xue He."

"Baiklah, kita bicarakan sekarang."

Kata Lu Ying Feng sambil tertawa, "Karena ini sangat rahasia, lebih baik kita bicara di hutan Tao (semacam bunga)."

"Baiklah!"

Di depan Wisma Shi Jian adalah kebun Tao yang luas. Terllihat di sana sini adalah hamparan berwarna merah muda, di sebuah pohon Tao tampak sebuah tunas berwarna hijau, kebun Tao itu luasnya ada puluhan kilometer persegi, bila musim semi tiba, semua bunga Tao akan mekar, bila bunga Tao mekar di dekat sungai, kelihatannya air sungai pun berubah menjadi merah muda, bila mekar di gunung, maka gunung itu pun akan terlihat menjadi merah muda.

---ooo0dw0ooo---

Yin Yang Hei mengenakan baju berwarna hitam seperti besi yang kokoh, berjalan di hutan Tao Hua yang bunganya sedang mekar.

Matahari terbenam, sinarnya tertinggal di ufuk barat. Berpuluh bunga Tao diam dan menunggu di bawah matahari yang akan tenggelam, seperti sedang menikmati saat dia akan mekar setiap menit dan setiap saat.

Tampak sebagian bunga sudah gugur, dengan ringan terjatuh dari pohonnya dan mengenai bahu Yin Yang Hei.

Yin Yang Hei segera merasa ada dua jari yang mengambil bunga Tao yang gugur itu dan dia tertawa kepada Lu Ying Feng, "Tak disangka, hari ini Tao Hua akan jatuh ke pundakku."

Lu Ying Feng tidak membalas tawanya, dengan dingin dia berkata, "Tak disangka orang yang hitam dan jelek seperti dirimu bisa juga memegang Tao Hua!"

Yin Yang Hei terpaku, di belakangnya terasa ada satu tenaga Yin dan satu tenaga Yang yang menyerangnya. Ketua panji merah, Ties Jiao Jiao yang adalah setengah laki-laki dan perempuan sudah menyerangnya.

Yin Yang Hei yang merasa, segera dia membalikkan badan untuk menyambut serangan itu, karena hal ini terjadi begitu tiba-tiba, tenaga yang dikeluarkan Yin Yang Hei tidak sepenuhnya, akhirnya dia tergetar dan mundur satu langkah.

Yin Yang Hei membalikkan badan dengan marah dia berkata, "Boleh juga, coba kau _ menyambut seranganku."

Dia maju selangkah, jurus Kepalan Sakti Lei Shan dikeluarkan. Seperti langit yang dihiasi dengan guntur berbunyi dua kali,

tenaga kepalan tangannya menerjang Tie Jiao Jiao.

Tie Jiao Jiao terkejut, dia mengeluarkan keahliannya dengan sepenuh hati.

PENG.

Terdengar bunyi yang sangat keras, Tie Jiao Jiao digetarkan oleh tenaga itu, dia melayang beberapa meter jauhnya, kemudian dia terjatuh dengan posisi duduk.

Yin Yang Hei tertawa dan berkata kepada Lu Yin Feng, "Kau tertipu, mengapa bisa membawa orang-orang seperti itu ke sini?"

Lu Yin Feng menjawab dengan tertawa, "Benar, aku sudah salah membawa mereka ke sini."

Kemudian dengan gerakan yang tidak diduga-duga cepat dia mencabut pisau belati, dan menusukkannya di tulang rusuk  Yin Yang Hei, seluruh mata pisau itu masuk ke tubuh Lu Yin Feng.

Yin Yang Hei berteriak, dalam mimpi pun dia tidak menyangkanya sama sekali, bahwa Lu Ying Feng akan mengkhianatinya, dia mundur beberapa langkah, dengan suara serak dia berkata, "Kau...kau. "

Di belakangnya segara ada sunar pedang tampak berkilauan, pedang bergerak secepat kilat menusuk Yin Yang Hei kembali.

Ini adalah gerakan Fang Zhong Pin.

Tapi sambil menahan rasa sakit, Yin Yang Hei masih bisa menghindari tusukan ini.

Muka Lu Ying Feng memancarkan hawa membunuh, dua pisau belatinya dicabut.

Qu Lei mendekat, dia langsung memukul. PENG, PENG.

Punggung Yin Yang Hei menjadi gepeng dan dia terlempar jauh, menabrak pohon Tao Hua. Baju hitam yang berwarna besi penuh dengan darah, di bawah pohon pun tampak darah yang mengalir, sekali lagi Yin Yang Hei terlempar dan menabrak pohon Tao Hua, terlihat darah yang menempel di pohon itu dan tampak berkilat.

Tubuh Yin Yang Hei gemetar, dia memberontak, kemudian dia membalikkan kepala, darah sudah memenuhi bajunya yang berwarna hitam. Tao Hua berguguran ke atas tubuhnya, Tao Hua berguguran karena Yin Yang Hei menabrak pohonnya, sekarang Tao Hua dengan ringan melayang lepas dari pohonnya, semua itu tampak seperti salju, walaupun Tao Hua indah tapi bunga yang gugur tetaplah bunga gugur, tak lama bunga pun akan layu.

---ooo0dw0ooo---

Bunga layu seperti matahari terbenam, walaupun matahari terbenam tapi semua itu terlihat sangat indah, tapi malam yang gelap akan segera datang, Shi Tu ke 12 duduk sendiri di halaman yang luas, dia sedang berpikir dan dahinya tampak berkerut. Lipatan kekhawatiran di dahinya bertambah lagi.

Shi Tu ke 12 teringat pada temannya, saudaranya. Begitu memikirkan mereka, dia merasa sangat senang. Yang dia miliki hanya saudara dan teman, karena dia orang-orangn ini rela mati, demi orang-orang itu pula dia melakukan semua hal untuk kepentingan mereka, walaupun entah hari ini matahari akan terbenam atau tidak, tapi dia tetap akan berkilau.

Malam sudah tiba, di sekeliling'Wisma Shi Jian sangat sunyi. Malam ini suasana sangat aneh, sepi dan sunyi. Suara serangga pun tidak terdengar di halaman, hanya terdengar suara daun yang dihembus angin, bulan berada di atas langit. Orang berada di halaman.

Di kedua sisi kursi Shi Tu ke 12 ada dua orang murid Shi Tu ke 12 yang berbaju putih, mereka mengenakan baju berwarna putih, mereka tampak gagah dan tampan. Mereka duduk dengan diam di sisi orang tua itu. Mereka kagum dan hormat kepada orang tua ini.

Dan pak tua yang rambutnya mulai memutih itu masih tampak sedang berpikir. Memikirkan saudaranya, teman-temannya.

Seperti tuan rumah Han Bi Lou, Ou Yang San Yue, ketua Biao Qing Yun, Hu Yan Yi Ding, ketua Han Ying Bao, Guo Tian Ding, si Pedang Sakti, Jiang Qing Feng, si Kaki Seribu Terbang, Cui Yi Zhi, Naga Melewati Sungai, Yang Ku Wei, dan Kipas Terbang, Shen Fei Fei. Mereka adalah teman seperjuangan, tapi sayang saudara angkatnya, Tuan Ma Er, demi dirinya, mati di Chang Xiao Bang,

Bila kembali mengingat hal ini hatinya merasa sedih, bulan mulai terbentuk di kegelapan malam, dan bayangan-bayangan yang nampak seperti perangkap yang dipasang, menyerang orang- orang.Tapi pak tua yang kesepian dan sombong ini tidak akan pernah tunduk apalagi dia mempunyai teman baik seperti Fang Zhen Mei, Pendekar Muda Guo Ao Bai...Tiba-tiba ada terdengar suara langkah, terdengar seorang pemuda sedang tertawa kepadanya dan berkata, "Paman, maaf aku ganggu sebentar—"

Shi Tu ke 12 tidak membalikkan kepalanya, setelah tertawa dia berkata, "Keponakan Guo, kau tidak perlu merasa sungkan, duduklah di sini."

Guo Ao Bai sambil tertawa dia duduk dan berkata, "Tadi aku mengobrol dengan Pendekar He, aku baru tahu Pendekar He adalah tetua yang menguasai ilmu yang sangat tinggi, dia baru mengeluarkan sebuah jurus pisau, aku baru mengerti apa yang disebut dengan Yi Dao Duan Hun (pisau pemutus nyawa), kelihatannya Qi Chong Tian Jian Fa yang kumiliki masih kalah jauh dengan jurus beliau "

Shi Tu ke 12 memotong kata-katanya dan berkata, "Keponakan Guo, mengapa kau begitu rendah hati? Ilmu silat Adik He memang sudah mencapai tingkat tinggi. Sewaktu dia masih muda dia memang sudah terkenal, tapi bila dibandingkan dengan Keponakan Guo, dia masih kalah jauh. "

Guo Ao Bai juga tertawa dan berkata, "Aku ingat ayah pernah bercerita kepadaku, semenjak Pendekar He mulai berkelana di dunia persilatan, memasuki tahun ketiga, dia sudah berhadapan banyak penjahat yang berada di golongan hitam, pesilat golok nomor satu Hong Bi Ming yang dijuluki Jue Xin Tian Mo Dao (Setan Golok Langit Pemutus Hati) sempat bertarung dengannya, akhirnya mereka bertarung sebanyak 300 jurus, Pendekar He hanya menyerang satu jurus, dalam satu jurus dia bisa mengalahkan lawannya, benar- benar sangat hebat, hebat sekali!" Kata Shi Tu ke 12, "Benar, waktu aku baru bertemu dengannya, dia berada dijalan San Gan. Waktu itu di sana ada 3 orang penjahat, yang pertama ada Yu Yu Tian, yang kedua ada Yu Fei Tian, dan yang ketiga adalah Yu Guan Tian. Mereka bertiga sedang berbuat kekacauan, namun tak ada seorang pun yang berani memprotes atau melawan mereka. Tapi Pendekar He malah mendatangi mereka, dia tidak gentar sedikit pun walau waktu itu lawannya adalah tiga orang yang lihai, namun Adik He sangat yakin dengan kelincahannya, dia sanggup menghadapi mereka hingga 300 jurus tanpa mengalami kekalahan sedikit pun. Waktu itu kebetulan aku lewat di sana dan menghentikan pertarungan itu."

Kata Guo Ao Bai sambil tertawa, "Pendekar He sangat berpengalaman, sangat pintar, dan banyak akal. Aku sudah mendengarnya sejak dulu. Menurut cerita ayah, Pendekar Yin Yang Hei juga adalah pesilat tangguh dan terkenal tapi selama ini kami selalu tidak sempat mengobrol, apakah dia "

Shi Tu ke 12 tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Adik Yin Yang sifatnya memang keras, mungkin Keponakan Guo sudah mengetahuinya. Sifatnya memang seperti itu. Kepalan Sakti Lei Shan miliknya benar-benar dahsyat—"

"Oh, apakah semua itu benar?" Dalam gelapnya langit dan bumi dan sinar bulan tidak bias menembusnya. Di halaman sangat sepi. Di luar dinding tembok yang tinggi tiba-tiba ada suara yang dingin.

Tidak ada angin, pohon pun tidak bergoyang, rumput pun tidak bergerak sama sekali. Sunyi dan sangat sepi.

Guo Ao Bai melihat kepada Shi Tu ke 12. Dengan suara keras Shi Tu ke 12 berkata, "Siapa dan berasal dari mana? Pesilat tangguh sudah masuk ke wismaku, aku belum melihat bahkan belum mempersilakannya masuk, mohon maaf!"

Tidak ada yang menjawab.

Tiba-tiba dari luar tambok, melayang 2 benda panjang yang berwarna hitam. Lemparan yang kencang dan melayang ke arah Shi Tu ke 12. Mata Shi Tu 12 berkilau, baju panjangnya yang berwarna putih tampak melambai. Dua benda itu sudah disambar oleh lengan bajunya.

Di bawah sinar bulan, Shi Tu ke 12 melihat benda itu dengan teliti. Dua buah benda yang berwarna hitam dan panjang, ternyata itu adalah 2 buah tangan orang. Tangan itu memegang baju hitam berwarna seperti besi, hitam dan kurus, tapi kedua tangan ini masih meneteskan darah dan sepertinya baru dipotong.

Bukankah itu adalah tangan Yin Yang Hei? Terdengar suara dari luar yang dingin dan sadis, dan berkata, "Si Kepalan Sakti Lei Shan pun berakhir nasibnya seperti ini, apa yang harus ditakuti dari Pedang Sakti Xue He?"

Air mata Shi Tu ke 12 sudah menetes. Dia hanya terpaku melihat sepasang tangan hitam ini.

Begitu Guo Ao Bai melihat tangan ini, dia marah dan berteriak, "Tikus dari mana? Cepat keluar!"

Di luar pagar ada suara tawa dingin dan berkata, "kau pernah dikalahkan olehku, kau masih mengaku pahlawan?"

Begitu mendengar suara ini, ternyata itu adalah musuh yang Guo Ao Bai sangat benci dan musuh yang dalam tidurnya pun tidak pernah akan terlupakan. Dia berteriak, "Fang Zhong Pin."

Dia tahu ilmu silat Guo Ao Bai berada di bawahnya tapi dia tetap bersemangat. Guo Ao Bai tertawa dingin dan berkata, "Fang Zhong Pin, aku memang pernah kalah darimu dan kekalahan ini aku terima dengan rela. Tapi hari ini kau berani masuk ke Wisma Shi Jian. Aku, Guo Ao Bai, tetap akan bertarung denganmu. Bila kau tidak mati, aku tidak akan membiarkannya!*'

Guo Ao Bai benar-benar seorang pendekar muda yang menonjol. Dia dengan jujur berani mengakui kekalahannya tetapi dia tetap ingin melawan Fang Zhong Pin. Shi Tu ke 12 menahan kesedihannya dan dengan tangan menghalangi keinginan Guo Ao Bai. Dia terbatuk dan berkata, "Teman yang berada di luar pagar, adik ketigaku, Yin Yang Hei memiliki ilmu silat begitu tinggi, sepasang kepalan besinya dini sak oleh kalian. Sekarang dia berada di mana? Aku harap kalian bisa melepaskannya. Dia terluka berat jangan membunuhnya, berilah dia kesempatan, aku akan merasa sangat berterima kasih." Sesudah mengatakan hal itu, Shi Tu ke 12 tidak berkata apa-apa lagi.

Terdengar dari luar dinding tembok ada suara seseorang yang berwibawa, dan berkata, "Kau inginkan dia? Boleh, aku akan memberikannya kepadamu!"

Terdengar suara PENG, ada seorang berbaju hitam melayang masuk dan terjatuh di hadapannya. Shi Tu ke 12 terkejut dan secara refleks dia meloncat. Terlihat punggung orang yang berbaju hitam itu hancur, tubuhnya bermandikan darah. Shi Tu ke 12 membalikkan tubuh orang itu. Terlihat orang itu mati dengan mengenaskan, sampai mati pun dia tidak menutup matanya. Antara perut dan dada ditusuk hingga menimbulkan 2 lubang besar. Kedua tangannya terpotong, dia sudah mati.

Shi Tu ke 12 berdiri di bawah sinar bulan. Sinar bulan membuat bayangan badannya menjadi pendek dan menutupi mayat Yin Yang Hei. Hanya Shi Tu ke 12 yang bisa melihat wajah dan mata Yin Yang Hei yang sakit hati karena tertipu, antara kaget dari tidak percaya.

Tubuh Shi Tu ke 12 gemetar.

Dari luar tembok, terdengar suara tawa, masih terdengar dengan jelas, mereka benar-benar seperti sudah gila.

Guo Ao Bai marah dan akan bergerak, dia berkata, "Orang jahat yang tidak tahu malu, mereka berani membunuh Pendekar Yin Yang. Jika berani keluarlah dan bertarung denganku!" "

Ada suara tawa yang lain bercampur dengan suara tawa yang pertama. Tawa mereka seperti setan yang keluar di malam hari membuat pohon dan rumput yang berada di halaman ikut bergerak. Sambil tertawa dia berkata, "Kalian dengar, orang itu masih tidak tahu diri, masih berani berteriak-teriak. Ayo, kita berikan kepala ayahnya supaya dia bisa melihatnya." HUO, terdengar suara benda yang terbang. Kali ini yang menyambut benda melayang itu adalah Guo Ao Bai. Segera matanya membelalak kaget dan terbengong-bengong karena ternyata benda itu adalah kepala ayahnya, Guo Tian Ding.

Sepasang tangan Guo Ao Bai tampak gemetar, dia tidak sanggup memegang kepala orang itu. Akhirnya kepala itu jatuh terguling dari tangannya. Rasa sakit dan sedih membuat Guo Ao Bai mencakar rambutnya sendiri dan juga menjambaknya.

Dua suara itu terdengar sangat senang dan tertawa sekeras- kerasnya. Shi Tu 12 melihat kepala Guo Tian Ding. Hatinya seperti diiris pisau. Dengan suara berat dia berkata, "Kalian melakukan apa kepada Han Ying Bao?"

Suara yang berwibawa itu berhenti tertawa dan berkata, "Sebenarnya bukan Han Ying Bao saja yang kami gasak, masih ada Han Bi Lou, markas Biao Qing Yun. Sekarang mereka sudah tidak bisa menolongmu lagi. Temanmu Guo Tian Ding yang berada di Han Ying Bao, Ou Yang Sao Yue dari Han Bi Lou, kakak beradik Jing  Jian, Gong Sun Yue Lan dan Gong Sun You Lan. markas Biao Qing Yun, Jin Bian Wu Di dan Hu Yan Yi Ding. markas Biao Fei Yun, Xue Zheng Yin. markas Biao Chi Yun, Jiang Qing Feng. Perkumpulan Dan Feng, si Kapas Terbang, Shen Fei Fei. Perkumpulan Kong Dong, si Kaki Seribu Terbang, Cui Yi Zhi. markas Biao Feng Yun, Naga Melewat Sungai, Yang Ku Wei dan keluarga mereka sudah menunggumu di jalan kematian."

Setelah mengatakan semua itu, suara tawa mereka semakin lama semakin keras. Suara orang-orang pun semakin banyak. Suara itu datang dari luar tembok yang tinggi, seperti air bah dan juga seperti suara binatang buas datang menerjang wisma itu.

Tubuh Shi Tu ke 12 seperti bertambah gemetar tapi bila mendengar dengan benar baru diketahui bahwa dia bukan gemetar melainkan tulang-tulangnya berderak. Dia sedang mengumpulkan tenaga. Sekali mengeluarkan tenaga itu, maka kekuatannya akan seperti sungai seperti gelombang laut, tidak akan ada yang bisa menahan gelombang kekuatan ini. ---ooo0dw0ooo---

Fang Zhen Mei sudah tiba di kaki gunung. Dia segera bertemu Shi Tu Qing Yan yang sedang celingak celinguk melihat ke sana sini. Hari sudah gelap. Angin malam menghembusi Shi Tu Qing Yan yang saat itu seperti seekor walet putih yang terbang di dalam hembusan angin. Melihat Fang Zhen Mei segera dia tertawa.

"Paman...kau benar-benar kembali. Pendekar Wo Shi Shui mengatakan bahwa orang itu bukan lawanmu...aku sangat khawatir. Paman apakan orang itu?"

Fang Zhen Mei melihat Shi Tu Qing Yan, melihat kelembutannya yang seperti angin malam. Matanya penuh dengan tawa tapi Fang Zhen Mei tetap menarik nafas dan berkata, "Jangan bicarakan itu lagi. Mana Wo Shi Shui? Bagaimana keadaan adikmu?"

Mata Shi Tu Qing Yan segera memerah dan menjawab, "Menurut Pendekar Wo Shi Shui karena tenaga dalam adik tidak terlalu dalam, nyawanya hampir malayang karena dipukul oleh Chen Guan Cai. Untung Pendekar Wo Shi Shui segera mengobatinya dan itu juga merupakan suatu kebetulan. Chen Guan Cai tadinya berhasil dipukul dan ditotok dengan waktu yang cukup lama, yang dia inginkan hanya bertarung dengan Wo Shi Shui. Karena itu dia tidak memukul dengan seluruh kekuatannya. Tidak masalah besar bagi adikku...hanya saja dia terlalu ceroboh dengan melepaskan orang jahat dan dia tidak meminta ijin kepadaku terlebih dulu "

Fang Zhen Mei menghiburnya dan berkata, "Asalkan dia tidak mati, yang lain pasrahkan saja. Wo Shi Shui berada di mana?"

Shi Tu Qing Yan menghapus air matanya dan menjawab, "Dia berada di bawah gunung. Pendekar Wo sudah mengeluarkan racun yang berada di dalam tubuh adik. Menurut Pendekar Wo paling sedikit membutuhkan beberapa jam baru dia bisa pulih kembali."

Kata Fang Zhen Mei sambi tertawa, "Bila sudah memulai pengobatan harus meneruskan, bila dia merasa lelah akan kugantikan. Kami berdua akan secara bergiliran mengobati adikmu."

Shi Tu Qing Yan dengan khawatir mengatakan, "Apakah terjadi sesuatu di wisma Shi Jian?"

"Bila adikmu sudah agak sembuh, aku akan mengantarkan kalian pulang dan Pedang Sakti Xue He akan kukembalikan kepada ayahmu. Sekarang Chang Xiao Bang sedang melakukan tindakan bermacam-macam, kapanpun bisa terjadi pertarungan berdarah. Bila tidak ada Pedang Sakti Xue He, ketua Wisma Shi Jian akan berada dalam bahaya..."

---ooo0dw0ooo---

Tulang-tulang Shi Tu ke 12 terus berderak. Dari tawa yang terdengar sepertinya di luar wisma ada banyak orang, paling sedikit mungkin ada 300-400 orang yang berbaju merah, hijau, biru, hitam dan putih. Mereka sudah berdiri di atas tembok dinding dan mengacung-acungkan senjata sambil berteriak. Mereka benar-benar terlihat ganas.

Shi Tu ke 12 melihat keadaan itu. Ada seorang laki-laki yang sangat gagah berdiri di atas tembok pagar. Angin menghembusi bajunya. Baju itu melambai tertiup angin benar-benar seperti seorang monster yang membuat orang menjadi takut. Yang berdiri di pinggirnya adalah seorang pemuda berbaju merah, sikapnya santai, wajahnya tampan. Matanya terlihat sangat cabul dan sombong. Dia memimpin banyak orang datang ke sana dan terlihat sangat berlagak.

Qu Lei melihat Shi Tu ke 12 dan tertawa, "Bagaimana dengan ke

41 orang prajuritmu yang menjaga wisma ini? Sekarang mereka berada di mana? Nih semua aku kembalikan kepada ketua wisma."

Terdengar suara yang benda dilempar. Sebanyak 40 lebih mayat sudah dilempar ke halaman dan bertumpuk menjadi satu. Mereka semua sudah mati. Terlihat cara kematian mereka sangat mengenaskan membuat orang tidak tega melihatnya. Dua kepalan tangan Shi Tu ke 12 terus berbunyi, dia menahan amarahnya.

Fang Zhong Pin tertawa seperti orang gila dan berkata, "Sekarang semua penjaga wisma sudah mati semua. Secara diam- diam kami sudah mengambil alih wismamu, tapi dasar kau memang sudah pikun masih belum tahu keadaan ini. Jangan harap ke 52 orangmu bisa menolongmu sekarang ini. Mereka semua sudah dibunuh oleh murid-murid Chang Xiao Bang yang berjumlah 300 orang lebih. Ha...ha...ha. "

Qu Lei tertawa lebih gila lagi, "Apakah kau merasa aneh? Mengapa kami bisa diam-diam masuk ke sini dan tidak diketahui olehmu? Tenang saja aku akan membuatmu mati dengan tenang! Ini adalah rahasia yang akan kau bawa sampai mati, dan rahasia ini tidak akan tertebak olehmu. Sekarang di luar pagar sudah ada 460 orang yang sedang menunggumu. Aku ingin lihat dengan cara apa kau bisa keluar dari kepungan kami?"

Tawa Fang Zhong Pin terdengar aneh dan dia berkata, "Kami masih tahu asistenmu yang paling kuat yaitu Yi Dao Duan Huan, He Bu Le, berada^di luar kota untuk melatih murid-murid Wisma Shi Jian bagian kelompok elang. Dia tidak akan pulang dalam waktu dekat ini. Begitu dia kembali ke wisma, dia akan segera membereskan mayatmu. Dia pun tidak perlu terburu-buru melakukan semua itu sebab kami akan menunggunya karena sesudah membunuhmu, dia adalah sasaran berikutnya."

Kata Qu Lei lagi, "Shi Tu ke 12, jangan berharap kau bisa keluar dari sini, kecuali 464 orang Chang Xiao Bang, masih ada 74 orang pemanah yang sedang menunggumu!"

Shi Tu ke 12 hanya terpaku di halaman wisma yang luas. Sinar bulan menyinari badannya, bayangannya tampak pendek. Angin malam yang dingin terus menghembusi dirinya, membuat pak tua itu sangat bingung dan juga sedih. Dalam keadaan seperti itu Shi Tu ke 12 tidak perlu bertarung lagi karena, dia pasti akan kalah.

Bila Shi Tu ke 12 kalah, bukankah Wisma Shi Jian pun akan segera hancur? Shi Tu ke 12 tidak bergerak. Dia menundukkan kepalanya seperti sedang menunggu sesuatu—apakah dia sedang menunggu  kematian yang akan dating menjemputnya?

Di dalam hembusan angin dingin itu, Qu Lei mengerutkan dahi dan memerintah, "Pemanah! Siapkan panah!"

Di malam yang sepi itu, tidak terdengar ada suara sedikit pun hanya terdengar suara Qu Lei. Qu Lei melihat Fang Zhong Pin. Mata Fang Zhong Pin mengeluarkan sorot ingin membunuh. Dia membentak, "tujuh puluh empat orang pemanah mengapa belum muncul mendengar perintahku?"

Tidak ada yang menjawab Qu Lei dan Fang Zhong Pin saling memandang. Wajah mereka berubah. Tiba-tiba terdengar keributan kecil tapi hanya berlangsung sebentar. Di atas tembok muncul 60-70 orang pemanah. Mereka mengarah pada Shi Tu ke 12 dan Guo Ao Bai serta 2 orang murid Wisma Shi Jian yang tersisa.

Semua panah mengarah pada mereka. Meskipun Shi Tu ke 12 mempunyai kepandaian yang luar biasa, tapi dia juga tidak akan bisa menghindari semua panah itu. Shi Tu ke 12 terlihat waspada tapi juga seperti yang sudah putus asa. Dia ingin meminta mati.

Fang Zhong Pin tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Shi Tu ke 12, semua ini adalah murid-murid

Chang Xiao Bang yang berada di bawah pimpinan panji hijau. Mereka berumlah 74 orang pemanah, mereka semua adalah pemanah jitu, mereka tidak pernah meleset dalam menembak panah. Sekarang pun bila kau mempunyai sayap, akan sulit untuk terbang.

Qu Lei dengan dingin memerintahkan, "panah!"

Shi Tu ke 12 sepertinya akan mati di bawah hujan panah ini.

---ooo0dw0ooo---

Zheng Bai Shui menatap langit. Dia berpesan kepada satu- satunya orang yang bersamanya yaitu Hei Sha (Pasir Hitam), Mu Shan Lu, "Sepertinya sekarang Qu Lei dan yang lainnya sedang bertarung dengan Shi Tu ke 12."

Mu Shan Lu menjilat Zheng Bai Shui dan berkata, "Ya, ya, kekuatan Chang Xiao Bang sangat hebat. Bila Pak tua Shi Tu ke 12 berani bertarung dengan wakil ketua Chang Xiao Bang berarti dia hanya akan mengantarkan nyawanya saja."

Zheng Bai Shui marah dan berkata, "jangan sembarangan bicara! Siapa itu Shi Tu ke 12 dari Wisma Shi Jian? Bila dia adalah orang yang mmiliki ilmu silat tidak tinggi, aku tidak akan mencuri Pedang Sakti Xue He. Aku juga tidak perlu menghabisi Han Bi Lou, Han Ying Bao, markas Biao Qing Yun, lalu Wisma Shi Jian. Ini benar-benar sangat merepotkan. Walaupun Pedang Sakti Xue He tidak berada di tangan Shi Tu ke 12, belum tentu Qu Lei bisa mengalahkannya—"

Mu Shan Lu terkejut dengan cepat dia berkata, "Betul, betul, Shi Tu ke 12 tidak bisa dianggap sebelah mata. Kecuali Qu Lei masih adat Fang Zhong Pin, mungkin dia bisa—"

Zheng Bai Shui berkata, "Betul bila Qu Lei dan Fang Zhong Pin bergabung, mungkin mereka bisa mengalahkan Shi Tu ke 12. Tapi di Wisma Shi Jian masih ada Yi Dao Duan Hu, He Bu Le, mungkin Tie Jiao Jiao bisa meladeninya. Masih ada Yen Jie Ya dan Kepalan Sakti Lei Shan, Yin Yang Hei. Dia akan dihadang oleh

Chen Guan Cai dan Zhao Liao Fen dan yang penting kita mempunyai bidak catur andalan—Lu Ying Feng. Orang-orang Wisma Shi Jian bukan lawan Ou Li Ren dan Shang Bu Yun."

Hei Sha, Mu Shan Lu tersenyum dan berkata, "Betul, bila ada mereka Ketua tidak perlu turun tangan. Wisma Shi Jian dengan mudah jatuh ke tangan Anda."

Dengan dingin Zheng Bai Shui bertanya, "Siapa yang  mengatakan aku tidak perlu ke sana?"

Mu Shan Lu terkejut dan berkata, "Anda...ada apa.. .kenapa. "

Jawab Zheng Bai Shui, "Sekali Chang Xiao Bang bertarung harus menang. Walaupun Qu Lei dan Fang Zhong Pin sudah berada dalam posisi menang tapi mereka belum tentu menang. Bila aku tidak pergi ke sana, mereka akan merasa hidup, mati, mulia, dan hina, semua bercampur menjadi satu. Kalau secara kebetulan mereka gagal, maka aku akan datang membantu mereka. Ini sebabnya jalan kita terbagi dua."

Mu Shan Lu baru mengerti strategi Zheng Bai Shui dan tertawa, "Ketua sangat pintar dan bisa menyusun taktik dengan sangat bagus. Kalau begitu, anak buah yang tersisa di sini sebanyak 80 orang, apakah aku harus membawa mereka ke sana?"

"Tidak perlu, kau pun tidak perlu ke sana. Kau jaga Chang Xiao Bang saja."

Mu Shan Lu kaget dan bertanya, "Tapi...Ketua apakah  ketua yang akan pergi sendiri. "

Zheng Bai Shui tertawa dan menjawab, "Betul, aku akan pergi sendiri."

Tiba-tiba Zheng Bai Shui berteriak, Mu Shan Lu tergetar hingga tidak bisa berdiri. Dengan sombong Zheng Bai Shui berkata, "Lihat dengan jelas, orang yang bisa bertarung denganku sebanyak kurang lebih 300 jurus, sekarang sudah tidak banyak lagi maka itu aku harus pergi ke sana!"

Mu Shan Lu menjawab, "Betul, betul."

---ooo0dw0ooo---

Fang Zhong Pin tertawa seperti orang gila. Qu Lei dengan dingin memerintah, "Lepaskan panah!" Walaupun Shi Tu ke 12 berilmu silat tinggi, tapi dia juga tidak akan bisa menahan 74 buah panah.

Terlihat Shi Tu 12 akan mati di bawah panah-panah itu. Tapi ?

Tidak ada panah, sebuah panah pun tidak ada. Bahkan suara kentut pun tidak ada. Wajah Qu Lei tampak berubah, tiba-tiba dengan ringan Shi Tu ke 12 berkata, "lepaskan panah!"

Wajah Qu Lei seperti disiram dengan air es. Dia benar-benar sangat kaget.

Fang Zhong Pin berteriak, "Hati-hati!"

Tujuh puluh empat panah itu bukan diarahkan kepada Shi Tu ke 12 melainkan ke arah Qu Lei dan kawan-kawannya.

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Sejagat Bab 15 : Menerjang Wisma"

Post a Comment

close