Pendekar Bloon Jilid 21 Ooops

Mode Malam
Jilid 21 Ooops

Dengan berlincahan loncat dari satu ke lain buaya, akhirnya Blo'on dapat juga mendekati tempat Gok ciangkun atau si Raja Buaya.

Tetapi alangkah kejut Blo'on ketika ia tak melihat raja buaya itu. Yang ada hanya sebuah bukit buaya. Beribu ribu ekor buaya saling tindih menindih membentuk diri menjadi sebuah tumpukan buaya yang setinggi dua meter. Tumpukan buaya itu melingkari sekeliling rajanya.

"Mengapa kawanan buaya itu bertumpuk-tumpuk begitu tinggi ?" kata Blo'on seorang diri.

"Oho, rupanya mereka membentuk dinding untuk melindungi rajanya," sesaat kemudian ia menjawab sendiri.

"Hai, kawanan buaya, menyingkirlah, "dia berteriak keras, "aku tak akan menganggu rajamu tetapi akan menolongnya. Aku sudah merasa bersalah, sekarang aku hendak minta maaf kepada rajamu."

Sudah tentu kawanan buaya itu tak dapat menangkap Bahasa manusia. Mereka hanya tahu bahwa seorang manusia datang dan serempak merekapun merentang mulut  lebar2 siap hendak menerkam.

"Kurang ajar," bentak Bloon, "mengapa kalian hendak mencaplok aku ? Aku akan menolong rajamu, tahu !"

Tetapi kawanan buaya itu tak mau menghiraukan dan memang takdapat menghiraukan omongan Blo'on. Mereka tetap siap mengangakan mulut dan merentang mata memandang Blo'on. "Hai, buaya gila, mengapa engkau memandang aku begitu rupa ? Apakah engkau marah ke padaku ? Tulikah engkau bahwa aku akan menolong rajamu ?" Blo'on berteriak-teriak seperti orang gila.

Namun kawanan buaya itu tetap tak merobah sikapnya. Bahkan seekor buaya yang besar segera meluncur turun ke tanah dan maju menghampiri Blo'on.

Tiba2 buaya itu merangkak cepat sekali terus menyambar kaki Blo’on.

"Huh ... !" Blo'on berteriak dan melambung ke atas lalu meluncur turun hendak menginjak kepala buaya itu.

Tetapi buaya besar itu beda dengan buaya2 yang dibuat jalan Blo'on tadi. Begitu Blo'on hendak meluncur keatas kepalanya, buaya itupun cepat menyurut mundur, ngangakan mulut lebar2 untuk menyambut kaki Blo'on.

"Celaka ... " Blo'on mengeluh kejut. Cepat ia bergeliatan, membuang kakinya keatas sehingga tubuhnya melambung ke udara lagi.

Dia tak menyadari mengapa dia dapat mengayunkan kakinya ke udara sehingga tubuhpun ikut melambung keatas lagi. Dia hanya merasa bahwa tubuhnya ringan sekali.

Ketika meluncur turun, kembali ia menjerit: "Celaka, buaya itu masih ngangakan mulut saja"

Kembali ia ayunkan kedua kakinya ke atas dan tubuhnyapun ikut melambung ke udara lagi. Sampai tiga empat kali ia terpaksa harus berbuat begitu karena mulut buaya masih tetap terpentang lebar.

"Wah, kalau terus menerus berjumpalitan begini, aku bisa lemas" ia mengeluh. Ia mencari akal bagaimana menghadapi buaya itu. Pikirnya

: "Aku harus dapat menundukkan buaya itu tetapi tak boleh membunuhnya. Aku sudah bersalah kepada rajanya, janganlah sampai membunuh seekor buaya lagi... "

Akhirnya ia mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu yang nekad dan berbahaya.

"Apa boleh buat, tiada lain jalan lagi, kecuali dengan gerak tipuan itu," katanya.

Setelah mengayun kaki keudara membawa tubuh naik ke atas, ia meluncur ke bawah. Tetapi tiba2 ia berjumpalitan sehingga kaki melayang keatas dan kepala dibawah. Dalam keadaan itulah ia menukik ke bawah, ke arah mulut buaya yang menganga itu.

Blo'on tak memperhitungkan lagi adakah ia mampu melakukan hal itu atau tidak. Dalam pikirannya hanya tercantum bahwa ia hendak mengatupkan mulut buaya itu.

Dengan gerak kecepatan yang tak disadarinya ia merentang kedua tangannya, mencengkeram kedua mulut buaya lalu cepat2 dikatupkan rapat2.

Plok .....

Rupanya buaya itu terkejut ketika mulutnya ditutup. la meronta, menyabatkan ekornya keras2 Maksudnya hendak menyabat Blo'on. Tetapi walaupun ekornya dapat bergerak, mulutnya tetap tak dapat terlepas dari cengkeraman Blo'on.

"Hem, buaya ini memang bandel sekali. Baiklah kuberinya hajaran" kata Blo'on.

Tanpa menyadari bahwa apakah ia kuat atau tidak, seketika itu juga ia mengangkat buaya itu keatas, lalu dilontarkan kedalam sungai byurrr. lapun tak terkejut mengapa ia mampu melakukan hal itu. Pada hal buaya itu beratnya ratusan kati. Ia hanya merasa bahwa ia harus menghajar buaya itu dengan melemparkannya ke dalam sungai.

Dan setelah berhasil melemparkan buaya besar itu, timbullah keinginannya untuk melemparkan kawanan buaya yang menganak bukit itu.

Tetapi tidaklah mudah untuk melemparkan mereka: Kawanan buaya itu mengangakan mulut semua, siap untuk menerkam.

"Kurang ajar," damprat Blo'on. Ia merenung untuk mencari akal. Tetapi karena tak mendapat akal, iapun jengkel.

Wut, wut ..... Segera ia ayunkan tangannya menampar tumpukan buaya itu. Sesungguhnya ia tak tahu apakah tamparannya itu akan dapat merobohkan dinding buaya yang sedemikian rapat dan tinggi. Tetapi ia tak mau banyak pikir. Ia tak dapat menemukan jalan lain kecuali begitu dan cepatlah ia mengerjakannya.

Terdengar suara macam batu roboh ketika buaya yang mendekam pada lapisan atas, berhamburan jatuh menimpah raja buaya yang rebah telentang di dalam lingkungan pagar buaya itu.

Blo'on tidak heran mengapa ia memiliki tenaga sedemikian hebat. Ia anggap, pukulannya itu sudah wajar kalau dapat merobohkan kawanan buaya.

Sedangkan sisanya, berupa pagar buaya yang tinggal semeter tingginya itupun berhamburan ke empat penjuru.

"Hai, kemanakah raja buaya itu ?" teriaknya ketika melihat di tengah tingkatan pagar itu tak tampak raja buaya yang diterbalikkan tadi, melainkan hanya gundukkan buaya yang malang melintang tumpang tindih.

Rubuhnya pagar dibagian muka, menyebabkan seluruh pagar buaya itu kacau. Beberapa buaya yang marah segera berhamburan menyerang Blo'on tak tahu apa sebab ia tak takut menghadapi sekian puluh buaya yang marah. Ia hanya merasa bahwa kawanan buaya itu harus disapu bersih agar ia dapat menolong raja buaya.

Maka berloncatan ia kian kemari untuk menghindar sambaran mulut buaya. Secepat menghindar ia terus menyambar ekor lawan lalu dilemparkan ke arah sungai.

la tak tahu mengapa ia kuat menarik ekor buaya dan melemparkannya ke sungai. Ia hanya merasa bahwa buaya2 itu tak berapa berat.

Demikian terdengar suara air mendebur keras, setiap kali seekor buaya terlempar jatuh ke sungai. Kini Blo'on dapat melihat si raja buaya masih telentang.

"Raja buaya, maafkan kesalahanku tadi," katanya, "sekarang aku hendak menolongmu."

Segera ia mendorong tubuh buaya itu dan dapatlah buaya itu tengkurap lagi. Buaya itu diam saja. Tiba2 binatang itu membuka kedua matanya dan memandang Blo'on.

"Maafkan aku, raja," seru Blo'on gopoh ketika melihat mata buaya itu seperti menitikkan airmata.

Buaya itu tidak menjawab melainkan mengatupkan mata lalu membukanya lagi.

"O, engkau sudah terlalu lama berada di darat, marilah kuangkat ke dalam sungai," kata Blo'on lalu mengangkat buaya itu dan dibawanya ke tepi sungai. Aneh tetapi memang nyata. Buaya yang panjangnya hampir lima meter itu diam saja ketika diangkat oleh Blo'on.

Dengan hati2 sekali Blo'on meletakkan buaya itu di dalam air .....

Seketika muncullah ratusan buaya yang dilempar Blo'on tadi. Mereka berbaris dipermukaan sungai untuk menyambut dan mengiringkan raja mereka kembali ke dalam dasar laut.

Blo'on tak sempat memperhatikan barisan buaya itu lagi. Cepat ia lari menghampiri raja kura2 Tetapi alangkah kejutnya ketika di tempat itu pun telah dijaga ketat oleh barisan kura2. Rupanya barisan itu mempunyai pemimpin juga. Sepasang kura2 hitam dan putih yang lebih besar dari kura2 lain.

Begitu Blo'on datang, kedua kura2 itupun segera menjulurkan kepalanya, menengadah tegak dan memandang Blo’on dengan bengis.

"Jangan marah kepadaku, aku bukan musuh tetapi hendak menolong rajamu," kata Blo'on dengan nada ramah.

Tetapi kedua kura2 besar itu diam saja

"Huh, mengapa engkau masih memandang aku begitu rupa

?"' seru Blo'on pula, "apakah engkau tak mendengar omonganku ? Dengarkan yang terang, aku tak memusuhi kalian tetapi akan menolong rajamu."

Namun kura2 itu tetap memandangnya.

Melihat itu Bloon jengkel, la tak menghiraukan lagi sikap kedua kura2 itu lalu terus melangkah maju.

Ngokkk .....

Tiba2 kura2 putih mendengkung keras sekali sehingga Blo'on terkejut mundur selangkah. "Kurang ajar, engkau membikin aku kaget ” teriak Blo'on. Ia melangkah maju lagi.

Kali ini bukan saja mendengkung keras, pun kura2 putih itu menyemburkan segumpal asap putih.

"Kurang ajar, berani menyembur aku ?" teriak Blo'on lalu.balas menyembur dengan mulutnya. Sudah tentu bukan asap yang keluar melainkan angin doang. Tetapi angin bukan sembarang angin karena angin itu sampai menimbulkan suara menderu. Seketika asap putih itupun tertiup lenyap.

Kura2 putih itu marah. Berulang kali ia mendengkung dan menyembur asap putih tetapi tiap kali itu pula Bloon dapat meniupnya lenyap.

Demikian terjadi adu semburan mulut antara seekor kura2 putih yang besar dan Blo'on. Padahal Blo'on tidak menyadari mengapa semburan mulutnya itu dapat menghembuskan angin kuat yang mampu membuyarkan gumpalan asap putih. Dalam pikirannya hanyalah, karena kura2 putih menyembur maka iapun harus balas menyembur. Tanpa diketahui bahwa semburannya itu mampu juga untuk menghamburkan batu dan pasir di sekeliling tempat itu.

Ngokkkk

Sekonyong konyong kura2 hitam mendengkung dan terus loncat menyambar Blo'on. Sudah tentu Blo'on terkejut sekali. Ia tak pernah menyangka bahwa kura2 hitam dapat loncat menyambarnya.

Karena terkejut, ia tamparkan tangan2-nya, Prak ... kura2 hitam itu terlempar sampai setombak jauhnya. Melihat itu, kura2 putihpun loncat menyambar juga. Tetapi secepat itu Blo'on ayunkan tangan kirinya. Prak kura2

putih terlempar sampai beberapa meter.

"Kurang ajar, masakan kalian hendak menyambar perutku" teriak Blo'on tanpa menyadari mengapa ia memiliki tenaga pukulan yang dapat melemparkan kura2 besar yang berumur ratusan tahun. Dalam pemikirannya, karena dirinya hendak disabar, ia harus menghalau.

Kura2 hitam dan putih tidaklah jera karena terlempar itu. Setelah mendengkung, mereka merayap dengan cepat ke tempat Blo'on lagi.

Entah bagaimana ketika kedua kura2 itu mendengkung dengkung maka puluhan ekor kura2 segera mengepung Blo'on di tengah2. Sementara kura2 putih tetap berada di muka, adalah kura2 hitam lalu merayap menyelinap kebelakaug Blo'on.

"Eh, kurang ajar, mereka hendak mengepung aku," kata Blo'on seorang diri, "kalau mereka menyerang serempak, celakalah aku".

Tetapi Blo'on tak mempunyai banyak waktu untuk mengoceh seorang diri. Saat itu terdengarlah kura2 hitam dan kura2 putih mendengkung keras dan serempak pada saat itu; berhamburanlah berpuluh-puluh kura itu menerjang Blo'on.

Prak ...-.

Yang paling ditakuti Blo'on hanya kedua ekor kura besar hitam dan putih itu. Karena kedua binatang itu dapat loncat menerkam. Maka ketika kura putih loncat ke arahnya, Blo'on pun cepat loncat melambung ke udara. Kemudian dia melayang dan meluncur sampai beberapa belas langkah dari kawanan kura2 itu. Ternyata pada saat kura2 putih loncat, kura2 hitampun juga loncat. Karena yang diserang melambung tinggi ke udara, kedua ekor kura2 saling berbentur sendiri lalu jatuh menimpali kura2 yang berada di bawah.

Seketika terjadilah kekacauan dalam kawanan kura2 itu. Karena tertimpah oleh dua ekor kura2 yang besar dan berat maka kawanan kura2 itu menjadi macet. Beberapa kura2 yang tertindih tak dapat berkutik lagi. Bahkan ada yang terpental dan terbalik badannya hingga tak dapat berbuat apa2 lagi.

Melihat itu timbullah pikiran Blo'on. Kini ia tahu bagaimana untuk menyelesaikan kawanan kura2 itu. Cepat2 ia mulai bekerja untuk menterbalikkan kura2 itu semua. Setelah mereka tak dapat berkutik barulah Blo*on melemparkannya ke dalam sungai. Dalam beberapa kejab saja, bersihlah tempat itu dari kawanan kura2.

Kini barulah Blo'on dapat melihat Kui ci-ciangkun atau panglima Kura2 yang masih terbalik badannya menelentang di tanah.

"Raja Kura2" kata Bloon, "jangan marah. Karena badanku seperti dibakar maka tadi aku telah mengamuk dan menterbalikkan engkau. Sekarang aku hendak menolongmu".

Blo'on terus maju menghampiri.

"Eh, mengapa bibirmu begitu merah?" tiba2 ia menegur, "eh, engkau bisa tertawa ?"

Ternyata kura2 yang berumur seribu tahun itu mempunyai mulut yang merah. Dalam anggapan Blo'on, raja kura2 itu seperti tertawa. Blo'on mendorong totok kulit kura2 itu dan dapatlah binatang itu tengkurap lagi. Setelah tengkurap, kura itu menjulurkan kepalanya memandang Bloon.

"Ha, ha" Blo'on tertawa, "mengapa engkau selalu menyungging senyuman ?"

"Baiklah kukembalikan kura ini ke dalam air lagi." pikir Blo'on. Segera ia mengangkat badan kura yang beratnya beberapa ratus kati lalu diangkatnya dan dimasukkan ke  dalam air lagi.

Setelah itu ia kembali ke istana karang.

Ia heran mengapa si Liok yang berdiri diatas batu titian dimuka halaman istana tadi, tak tampak lagi.

Sambil melangkah masuk kedalam ruang, ia berseru : "Liok sumoay, dimanakah engkau ?"

Ruangan itu kosong melompong, sunyi senyap. Tiada tampak orangtua tadi, maupun putera mahkota.

"Hai, kemanakah gerangan mereka?" teriak Blo'on lalu berulang kali memanggil Liok.

Setelah kerongkongannya hampir pecah, barulah Blo'on berhenti. Ia mulai menyelidiki tempat itu. Sebuah ruangan, batu karang yang buntu, tiada pintu dan jalanan ke belakang.

Blo'on keluar dari istana itu menuju kehalaman. Memandang kesekeliling, dilihatnya empat penjuru pulau karang itu dikelilingi oleh sungai.

"Ah, tak mungkin sumoay tinggalkan tempat ini. Dia tentu tak dapat menyeberangi sungai yang penuhi dengan buaya dan kura2. Dia tentu masih berada dalam istana karang sini," ia menimang-nimang. "Tetapi aneh. kemanakah dia ? Dan kemana pula orangtua yang mengaku sebagai menteri kerajaan Song itu?" kembali timbul pertanyaan dalam hatinya.

Segera ia berjalan jalan meagelililingi istana karang itu. Tetapi tiada, juga ia melihat barang sebuah pintu atau terowongan, Istana itu seolah-olah merupakan segunduk batu karang yang pepat.

Dengan bersungut sungut dan berulang kali berkata aneh. Blo'on terpaksa kembali ke dalam ruang depan istana itu. Ia tahu apakah saat itu malam atau siang hari. Karena hatinya kesal tak berhasil mencari Liok, iapun rebahkan diri diatas lantai karang. Tak berapa lama ia terlena tidur.

Entah berapa lama ia tertidur, ketika membuka mata ia terkejut karena dataran pulau karang itu penuh dengan bermacam-macam binatang laut. Mereka berkerumun menurut jenisnya masing2 dan menyerupai sekelompok barisan.

Udang, kepiting, katak, ular, kuda laut, beberapa jenis ikan. Bahkan buaya dan kura2 seperti kemarin itu, pun tampak lagi. Dan yang mengerikan ikut hadirnya barisan gurita.

"Hai, mengapa mereka muncul disini ?" Bio’on terkejut, "apakah mereka hendak menyerangku?”

Cepat Blo’on melonjak bangun dan lari keluar halaman.

"Ah, apa ini ?" tiba2 tangannya menyentuh sebuah benda pada pinggangnya. Cepat ia mengambilnya.

'Hai. sebuah pedang ?' serunya heran ketika ia mencabut benda itu.

Seperti telah dikatakan dibagian muka. keadaan Blo'on saat itu berbeda dengan di waktu ia belum tenggelam ke dasar laut. Kalau dulu ingatannya blo'on, sekarang tidak. Tetapi dia merasa seperti orang baru. Tidak ingat apa yang telah terjadi dulu. Yang diingatnya hanyalah apa yang diketahuinya sekarang.

Demikian pula dengan pedang yang berada pada pinggangnya itu. Ia tak ingat lagi bahwa pedang itu disebut Ceng-liong-kiam atau pedang Naga Hijau pedang pusaka dari partai Kay-pang yang dititipkan kepadanya oleh seorang desa (bacalah jilid 17).

Ia merasa senang karena mendapat pedang tanpa menghiraukan darimanakah asal pedang itu. Baginya, yang penting mendapat pedang, perlu apa harus mengingat-ingat dari mana asalnya pedang itu.

"Dengan memiliki sebuah pedang, rasanya aku dapat lebih baik menjaga diri apabila kawanan binatang laut itu menyerang."

Tetapi ditunggu sampai beberapa saat, ternyata kawanan binatang itu tak bergerak menuju ke tempatnya.

"Kurang ajar, mengapa mereka tak mempedulikan aku ?” akhirnya ia mulai jengkel lalu ayunkan langkah menuruni batu titian.

Ia menghampiri barisan udang. Barisan itu diam saja, lalu beralih menghampiri barisan kura2. Juga diam saja. Dari satu ke lain barisan, kawanan binatang laut itu tidak menghiraukan kedatangan Blo'on.

Blo'on makin heran. Mengapa binatang2 itu diam saja dan memandang ke muka ? Apakah yang mereka perhatikan ?

Karena tertarik hatinya, Blo'on mengikuti arah yang dihadap dan dipandang oleh kawanan binatang laut itu. Seketika ia terkesiap. Pada samping istana ruang, tampak dua ekor binatang tengah mendekam di kedua sisi sebuah lubang besar. Yang satu seekor gurita dan yang satu seekor ular.

Tertarik perhatiannya, Blo'on secara menghampiri ke tempat itu.

"Ah, sebuah pintu," serunya terkejut. Karena tadi waktu menyelidiki sekeliling istana karang, ia tak melihat barang sebuah lubang pun.

Melihat kedatangan Blo'on, gurita dan ular segera meregang tegakkan kepalanya, bersikap hendak menyerang.

"Mengapa mereka ini ?" kata Blo'on dalam hati. Serentak timbul keinginannya untuk masuk kedalam lubang pintu itu.

Tetapi ketika hampir dekat, tiba2 ular itu segera menyambarnya.

Uh ,. cepat Blo'on loncat menghindar mundur.

"Eh, rupanya mereka menjaga lubang itu dan melarang orang masuk," pikir Blo'on.

Tetapi dengan rintangan itu bukan menyebabkan takut, bahkan kebalikannya ia malah ngotot ingin tahu dalam lobang pintu itu.

Sekali ayunkan tubuh, iapun sudah tiba di-hadapan gurita. Gurita cepat rangsangkan tangannya untuk melibat tubuh Blo'on tetapi dengan sebat sekali, Blo'on membabatkan pedangnya. Cres, cres.....

Sebuah jari gurita itu kutung seketika. Darah berwarna hitam segera membasahi tanah.

Melihat itu gurita gerakkan salah sebuah tangannya lagi untuk memeluk kepala Blo'on tetapi tangkas sekali Blo'on melangkah maju dan membabat tangan binatang itu. Cres.... kali ini darah makin deras karena yang terbabat itu pangkal targan yang besar.

Rupanya kali ini gurita tampak kesakitan. Jika tadi hanya semacam jarinya yang hilang sekarang ini tangannya. Dan marahlah gurita itu. Serentak ia gerakkan semua tangannya untuk menerkam.

Di lain fihak karena mendapat hasil semangat Blo'on tambah besar. Melihat dirinya hendak ditelungkupi oleh berpuluh tangan gurita, cepat berputar-putar diri seraya ayunkan pedangnya.

Cres, c es, cres .....

Terdengar bunyi macam besi panas dibenam dalam air ketika pedang Naga Hijau membabat kutung puluhan jari2 tangan gurita itu.

Blo'on tak menyadari bahwa gurita yang menjaga lubang pintu itu bukan sembarang gurita! Badannya yang lbesar dan umurnya yang jauh lebih tua dari gurita2 yang berkerumun dalam barisan itu, menyebabkau gurita itu terpilih sebagai kepala barisan. Dalam istilah ketentaraan adalah seorang senopati atau panglima.

Badannya terbunuh oleh bulu hitam, demikian pula dengan jari2 tangannya. Kulitnyapun tebal, dan keras sekali.

Adalah karena Naga Hijau itu merupakan pedang pusaka yang tajam sekali, dapatlah jari2 tangan gurita itu terbabat.

Blo'on tak menyadari hal itu. Tidak pula ia menyadari  bahwa gerak perputaran tubuhnya tadi ternyata, merupakan suatu gerak yang luar biasai cepatnya. Andaikata orang biasa, walaupun membekal pedang pusaka semacam pedang Naga Hijau, tetapipun tentu kalah cepat dengan gerakan jari2 tangan gurita yang berpuluh-puluh buah jumlahnya.

Gurita ngelumpruk di tanah. Namun binatang itu masih nekad hendak menelan Blo'on. Melihat gurita terbenam dalam darah hitam, Blo'on tak sampai hati membunuhnya. Ia lepaskan sebuah hantaman lalu loncat mundur.

"Hai, kemanakah gerangan ular tadi ?" serunya heran ketika tak melihat ular itu berada di samping pintu.

Memang ia tak memperhatikan apa yang terjadi sekeliling ketika ia sibuk berhantam dengan gurita.

Pada waktu jari2 tangan gurita terbabat pedang, ada sebuah jari yang terlempar dan melayang jatuh tepat mengenai kepala ular itu. Sebenarnya ular tak mungkin mati karena terlimpah benda semacam itu. Tetapi darah yang mengucur dari kutungan jari gurita itu telah mengucur ke mata ular. Seketika ular itu merontak sekuat-kuatnya. Kedua matanya serasa gelap karena darah hitam gurita. Binatang itu tak dapat melihat apa lagi. Dia buta. Rasa sakit dan mata buta telah menyebabkan ular mengamuk. Dengan buas ia hendak menerjang Blo'on. Tetapi pada saat itu Blo'on tengah loncat mundur sehingga yang diterjang adalah gurita tanpa jari itu.

Dengan buas, ular itu menyeret gurita dibawa lari Sekuat- kuatnya tanpa arah tujuan yang tertentu.

Barisan binatang2 laut geger. Yang diterjang segera lari berhamburan bubar dan masuk ke dalam sungai.

Blo'on tak mengacuhkan kekacauan itu. Ia terus melangkah masuk pintu itu. Ah, akhirnya ia tiba disebuah ruang yang besar dan indah. Dikata indah karena ruang itu penuh dengan sinar bergemerlapan dan batu2 mutiara yang sebesar telur itik. Bahkan ada yang besarnya hampir segenggam largan orang. Dan yang lebih mengherankan pula, mutiara2 itu memancarkan sinar warna-warna. Hijau, biru, putih, kuning, ungu.....

Blo'on tertegun dan terhenti langkahnya. Ketika memandang ke muka, hampir ia menjerit kaget.

Seekor buaya raksasa, kura raksasa, udang raksasa, ikan raksasa dan gurita besar tengah berjajar menghadap sebuah altar yang agak tinggi. Diatas batu altar itu tampak seorang tua tengah berlutut kearah dua buah kursi berhias mutiara. Kursi itu diduduki oleh seorang anak lelaki dan seorang dara.

"Hai, itulah si kakek tua !" teriak Blo'on ketika mengenali kakek itu sehagai orangtua yang berada dalam ruang, depan istana.

Ia melangkah maju dan : "Hai, putera mahkota!" serunya pula.

Ia maju dua tiga langkah lagi dan seketika berteriaklah ia sekeras-kerasnya.

'"Liok sumoay engkau ,....!" teriaknya seraya lari menghampiri.

Tetapi secepat itu udang raksasa melenting, menghadang jalan.

"Apakah artinya ini ?" teriak B'n'on.

Namun udang raksasa itu diam saja dan hanya menegakkan sepasang sungutnya yang tajam.

"Liok sumoay, mengapa engkau diam saja " teriak Blo'on pula seraya hendak menerjang. Udang raksasa itu mempunyai sepasang supit yang amat besar dan beberapa sungut yang runcing. Begitu Blo'on melangkah maju, cepat udang raksasa itu layangkan sungutnya untuk menusuk tubuh Blo'on.

Blo'on loncat ke atas tetapi secepat itu ia segera disambut oleh supit kiri udang raksasa itu.

Cret ... untunglah Blo'on merundukkan kepala sambil menekuk kedua kaki lalu mengayunkan tubuhnya berjumpalitan melayang.

"Berhenti ... !" tiba2 orang tua itu bersuit nyaring seraya berteriak.

Blo'on tegak memandang orangtua yang saat itu berpaling kebelakang.

"Orangtua, apa maksudmu ?" teriak Blo'on.

"Aku hanya melaksanakan perintah putera mahkota untuk meminang dara itu sebagai permaisurinya."

"Apa ?" teriak Blo'on.

"Saat ini istana Hay-te kiong sedang merayakan pernikahan agung dari putera mahkota kerajaan Song dengan nona Liok."

"Apa ? Bukankah putera mahkota itu sudah meninggal ?" Blo'on berseru kaget, "bagaimana orang mati hendak menikah dengan manusia hidup!”.

"Aku hanya melakukan perintah putera mahkota saja.

Sebagai seorang menteri tua, aku terpaksa harus menurut."

"Bohong !" teriak Blo'on. "dia sudah mati, bagaimana dapat memberi perintah kepadamu ?”

"Yang mati adalah jasadnya tetapi jiwanya masih hidup. Melalui mimpi yang memancar dalam tidurku kemarin malam maka putera mahkota memerintahkan supaya beliau dijodohkan dengan gadis Liok, sumoaymu itu. Bukankah engkau setuju ?"

"Tidak !" bentak Blo'on. "aku tidak setuju!" "Mengapa ?"

"Karena tak mungkin kalau Liok sumoay bersedia menikah dengan orang yang sudah mati berpuluh-puluh tahun !"

"Yang menikah itu engkau atau sumoaymu tanya orang tua itu pula.

"Sumoay !"

"Kalau dia setuju lalu engkau bagaimana''" "Tidak mungkin I" teriak Blo'on.

"Kalau dia setuju T'

"Tidak mungkin, jangan ngaco belo !"

"Hm, engkau tidak percaya ?” orangtua itu menegas, "silahkan engkau bertanya kepadanya. Tetapi sebelumnya aku hendak minta janjimu, bagaimana kalau dia setuju ?"

"Tidak mungkin "

“Blo'on, jangan selalu mengatakan tidak mungkin saja.

Bagaimana kalau mungkin ?" "Maksudmu ?"

"Begini " kata orangtua itu. "kalau sumoaymu tidak setuju, silahkan mengajaknya pergi. Aku takkan mengganggunya. Tetapi kalau setuju, engkau harus merelakannya. Bagaimana?"

Karena yakin bahwa sumoaynya tentu tak setuju, tanpa banyak pikir lagi Blo'on terus menyanggupi : "Baik, aku terima perjanjian apapun yang hendak engkau ajukan " "Aku tak menghendaki apa2 dari engkau kecuali hanya minta supaya engkau jangan menganggu pernikahan ini" kata orang tua itu. "nah, silahkan engkau bertanya kepadanya"

"Liok sumoay " seru Blo'on dengan lantang.

Tampak gadis Liok mengangkat muka dan memandang Blo'on dengan terlongong.

"Liok sumoay ... "

"Siapa engkau ?" tukas gadis itu.

"Engkau lupa kepadaku ? Ah, aku suhengmu si Bloon.” "O ... " gadis Liok mendesuh.

"O. bagaimana ? Engkau ingat sekarang ?" "Ya ... " sahut gadis Liok singkat.

"Aku hendak bertanya kepadamu, sumoay. Apakah benar engkau setuju dijadikan isteri oleh putera mahkota itu ?"

"Mengapa tidak ?"

Mendengar penyahutan itu Blo'on melonjak kaget. "Apa katamu ? Cobalah engkau ulangi sekali lagi?” "Apa yang harus kuulangi ?" seru gadis Liok. "Jawabanmu atas pertanyaanku tadi ?"

"O, engkau bertanya ? Apakah yang engkau tanyakan kepadaku ?"

Blo'on makin terbelalak. Mengapa mendadak Liok sumoaynya yang biasanya lincah dan tangkas bicara, menjadi seperti seorang gadis pelupa !.

"Aku tadi bertanya, apakah engkau mau di peristeri putera mahkota itu ?" "Mengapa tidak mau ?" balas gadis Liok.

"Engkau gila, Liok sumoay " teriak Blo'on, bukankah dia sudah mati ? Apakah engkau mau menikah dengan orang mati?"

"Terserah ..."

"Terserah ? Terserah kepada siapa ?" teriak Blo'on.

"Cukup !" tiba2 orangtua itu mengerat kata "pertanyaanmu sudah dijawabnya, jangan engkau bertanya macam2 lagi."

"Tidak !" tenak Blo on, "kurasa ada sesuatu yang tidak wajar pada diri sumoay. Akan kuperiksanya."

"Jangan," seru orang tua gopoh. "Mengapa ?"

"Ketahuilah bahwa saat ini engkau berada dalam istana Hay te-kiong tempat kediaman putera mahkota kerajaan Song. Dan saat ini sedang dilangsungkan pernikahan agung dari putera mahkota. Mentri dan seluruh panglima kerajaan sedang hadir lengkap. Bahwa engkau berani sembarangan masuk saja, sudah melanggar dan seharusnya dihukum. Mengapa engkau masih berani hendak mendekati permaisuri ?"

"Kentut!" teriak Blo'on, "aku tak peduli engkau ini menteri atau kakek sinting. Aku tak peduli tempat ini istana atau karang. Aku pun tak peduli anak lelaki itu putera mahkota itu mayat, pokoknya aku hendak membawa sumoayku tinggalkan tempat ini. Kalau engkau menghalangi, aku terpaksa akan mengamuk."

"Hm, engkau ingkar janji ,. "

"Aku tidak ingkar tetapi jelas ada sesuatu yang tidak wajar pada Liok sumoay. Aku hendak bicara dengan dia secara empat mata. Mengapa engkau berani menghalangi ?" balasnya pada orangtua itu.

"Ketahuilah, bahwa menurut undang2 kerajaan Song, pergaulan antara wanita dan pria itu mempunyai batas. Seorang pria tidak boleh bicara sendirian dengan seorang wanita yang sudah menjadi isteri orang.”

"Persetan !" teriak Blo'on, "dia adalah sumoayku. Menurut keterangannya sejak kecil dia sudah bergaul dan bermain- main dengan aku. Hubungan kita sudah seperti saudara. Mengapa sekarang engkau berani menghalangi ?"

Habis berkata Blo'on terus ayunkan langkah.

"Berhenti !" teriak orangtua itu pula, "hm, engkau kira tempat ini sebuah guha karang yang boleh engkau masuki sekehendak hatimu. Sekali kuberi perintah maka keempat ciangkun istana Hay - te - kiong segera akan menghancurkan engkau."

"Kakek tua," seru Blo'on. "engkaupun harus tahu, bahwa menurut keterangan sumoayku, aku ini orang yang tak senang setori maupun berkelahi. Tetapi kalau terpaksa harus berkelahi... selalu tentu menang,"

"Hm, jangan bermulut besar…. "

"'Kalau tak percaya, boleh cobalah!" sambut Blo'on.

"Baik," kata orangtua itu, "engkan boleh pilih salah satu di antara jenderal2 istana Hay-te-kiong itu menjadi lawanmu. Kalau engkau menang, engkau boleh minta apa saja. Kalau kalah engkau harus tinggal di sini selama-lamanya ..”

"Tinggal disini?" Bio’on menegas," kerja apa aku disinl ?" "Menjadi wakilku dan kelak menggantikan aku melayani

putera mahkota apabila aku sudah mati." "Tidak sudi!”, teriak Blo'on.

"Kalau, begitu engkau menangkan pertandingan itu." "Tentu." sahut Blo'on. "silahkan mereka maju. Engkau boleh

tentukan sendiri."

"Mengingat engkau seorang tetamu, dan memandang muka sumoaymu, maka kuberi kamu kelonggaran untuk memilih lawan," kata orangtua itu.

Blo'on tak mau banyak bicara lagi. Segera ia menuding Gurita : "Itu ...!"

Orangtua itu terkejut: "Jenderal Gurita ! Ho, mengapa engkau memilih jenderal yang paling kuat?''

"Makin kuat makin menyenangkan," sahut Blo'on, "dan lagi kalau dengan jendral Kura2 atau jenderal Buaya, aku sudah pernah bertempur. Mungkin mereka tak mau berkelahi dengan sepenuh hati karena merasa telah kutolong."

"Ah," orangtua itu menghela napas, "baiklah karena engkau memilih sendiri, silahkan engkau menghadapinya."

'Ya." iahut Blo'on lalu bersiap.

"Nanti dulu," tiba2 orangtua itu berseru. "Apa lagi ?"

"Hati-hatilah kalau menghadapinya,” seru orang tua itu.

Blo'on kerutkan alis. Bukankah orangtua itu lebih suka kalau dia kalah dengan jenderal Gurita? Mengapa dia masih memesan supaya berhati hati? Huh, pura-pura, pikirnya.

"Ya," sahutnya, "kalau menghadapi bangsa gurita atau binatang yang ganas, aku tak tak takut. Tetapi kalau menghadapi manusia, aku paling takut." "Mengapa ?" orangtua itu karutkan alis.

"Karena manusia itu mahluk yang paling licin dan licik.

Mulutnya semanis madu, tetapi hatinya semaut tuba." "Ho, engkau menyindir aku "

"Bukan menyindir tetapi engkau memang termasuk salah satu dari manusia yang kumaksudkan itu."

"Dalam laut dapat diduga, hati manusia siapa yang tahu," orangtua itu bersenandun sendiri.

Blo'onpun tak mau menghiraukan melainkan terus berdiri dihalaman tengah dari ruang itu.

Orangtua itu bercuit-cuit aneh seperti orang bersuit dan segera Gurita itupun merayap menghampiri ke muka Blo'on.

Blo'on terkejut melihat perwujudan gurita raksaan itu. Besarnya hampir tiga kali dari dirinya. Kepalanya hitam kelam, penuh dengan bulu2 yang panjang, kaku, keras dan lebat. Demikian pula beratus ratus akar jari tangannya.

Tiba2 pula Blo'on terbeliak kejut ketika memperhatikan bahwa gurita itu hanya mempunyai sebuah kelopak mata. Kelopak mata yang sebelah kanan telah kosong.

"Apakah dia buta sebelah matanya ?" pikir Blo'on.

Tetapi Blo'on tak mempunyai waktu untuk melanjutkan pematangannya karena saat itu sebuah tangan gurita mulai terangkat dan menjulur ke arahnya.

Pertempuran dengan gurita yang menjaga pintu tadi telah memberi pelajaran pada Blo'on. Paling tidak ia sudah memiliki pengetahuan bagaimana cara untuk menghadapi binatang itu.

Ia tak berani memandang ringan lawan. Karena menilik besar dan pangkatnya, jelas gurita itu tentu raja gurita. Sebagaimana halnya dengan kura2 dan buaya yang ia terbalikkan kemarin.

Segera ia mencabut pedang Naga Hijau dan siap menghadapinya. Tetapi raja gurita itu pun tak mau bergerak melainkan hanya menarikan jari-jari tangannya kian kemari sehingga saat itu Blo'on merasa seperti dilanda oleh ribuan jari hitam.

Blo'on memusatkan seluruh perhatiannya.

Tanpa disadarinya ia telah memiliki suatu perasaan bahwa lebih baik jangan bergerak menyerang dulu. Tetapi selekas lawan bergerak, ia harus cepat2 mendahului untuk menindasnya.

Sebenarnya itulah suatu inti rahasia dari ilmu Thay-kek-kun yalah. Dengan ketenangan menghadapi gerakan lawan. Musuh diam kitapun diam Musuh menyerang, kita mendahului menindas gerakannya.

Tetapi Blo'on tak mengerti apakah hal itu termasuk inti rahasia suatu ilmu silat yang sakti atau bukan. Pokoknya, ia merasa saat itu harus bersikap demikian untuk menghadapi seekor gurita raksasa.

Seperti telah dikatakan, sejak sadar dari pingsannya karena terlalu banyak makan buah som laut yang berumur ribuan tahun, maka jadilah blo'on seorang manusia baru tidak ingat lagi apa yang telah terjadi pada masa yang lalu. Termasuk ilmu musilat Hang-liong-sip-pat pat ciang atau Delapan belas tamparan menundukkan naga, yang diajarkan kepadanya oleh kakek Kerbau Putih ketika menghadapi barisan Lo han kun  dari paderi Siau lim-si tempo hari, ia juga lupa. Demikian jalur2 jari tangan gurita itu berayun-ayun bagaikan orang menari, makin lama-lama dekat dan makin penuh membayangi sekeliling penjuru tempat Blo'on berdiri.

Namun Blo'on tetap diam saja. Bahkan sampai ujung jari gurita itu menyentuh-nyentuh tubuhnya, ia tetap diam. Adalah setelah ujung jari binatang itu mulai meraih lalu hendak melibat, sekonyong-konyong Blo'on berputar-putar amat deras sekali, cres, cres, cres .... ujung jari gurita berhamburan rontok terpapas pedang Naga Hijau.

Gurita itu menyurutkan tangannya. Rupanya dia merasa kesakitan juga. Sesaat kemudian ia gerakkan tangannya pula untuk melibat Blo'on.

Cepat Blo'on ayunkan kaki melambung ke udara dan hinggap diatas kepala Gurita itu.

Memang apabila didalam laut atau air, tak mudahlah Blo'on hendak melawan gurita itu. Pertama, karena gurita itu dapat menyelam kebawah laut dan lincah pula gerakannya. Sedangkan Blo'on tentu tak dapat tahan lama berada dalam air.

Tetapi keadaan di dalam ruang itu memang lain dan menguntungkan Blo'on. Gurita tak dapat bergerak lincah. Yang diandalkannya hanya jalur2 jari tangannya yang berjumlah banyak dan keras itu.

"Cep .....” Blo'on dapat berdiri diatas kepala gurita itu. Gurita berusaha untuk menkepak-kepakkan kepalanya agar Blo'on jatuh. Tetapi Blo'on cukup cerdik. Cepat ia mencengkeram bulu2 hitam yang tumbuh melebat diatas kepala gurita itu.

Gurita tetap berusaha keras menggerak-gerakkan dan menggentak-gentakkan kepalanya supaya Blo'on jatuh. "Huh," Blo'on mendesah kaget ketika tangannya terlepas karena bulu yang dicengkeramnya itu tercabut. Namun cepat pula Bloon mencengkeram lagi lalu ayunkan pedang pusaka menghantam kepala gurita

itu.

Crek, crek .

Blo'on terkejut. Ternyata pedang itu tak mampu melukai kepala gurita. Tulang kepala guna itu laksana baja kerasnya.

Karena sampai sekian lama belum berhasil menggelincirkan Bio'on dari atas kepalanya, rupanya gurita itu mulai tak sabar. Ia menggeliatkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri

dengan keras dan cepat sekali. Hasilnya, Blo'on tergelincir jatuh.

Kali ini gurita memang sudah bergerak dengan sungguh2. Sebelum Blo'on sempat bangun, tubuhnya sudah dilibat oleh tangan gurita. Makin lama libatan itu makin mengencang keras.

"Celaka, mati aku sekarang ... " diam2 Blo’on mengeluh dalam hati. Karena merasa sakit dan membayangkan bahaya tubuhnya akan remuk digenggam jari2 gurita. Blo'on kerahkan tenaganya untuk memperkeras badannya agar dapat menahan cengkeraman lawan. Guritapun penasaran Ia memperkeras cengkeramannya. Dan terjadilah adu kekerasan tenaga antara Gurita lawan Blo'on.

Tanpa disadari, Blo'on telah mengembangkan daya khasiat dari buah cian lian hay-te-som atau buah som laut yang berumur ribuan tahun. Paling tidak sepuluh butir buah som yang dimakannya sehingga badannya panas seperti dibakar dan akhirnya dia pingsan.

Lima enam butir makan buah som itu maka jalan darah Seng-si hian kwan dalam tubuh orang tentu terbuka dan berarti dia akan memiliki ilmu tenaga dalam yang sama dengan seorang tokoh sakti yang telah meyakinkan ilmu Iwekang selama tiga empatpuluh tahun.

Tetapi karena makan lebih dari takeran maka terjadilah suatu keajaiban dalam tubuh Blo'on. Dia memiliki suatu tenaga-dalam yang aneh dan belum pernah terdapat dalam dunia persilatan. Kosong2 isi, demikian sifat tenaga-dalam yang mengeram dalam tubuhnya. Artinya, kosong tetapi isi, isi tetapi kosong. Kosong atau isi, hanya menurut sekehendak pikiran Blo'on.

Jika ia merasa bahwa dia tak kuat menahan pukulan lawan ataupun takut terkena pukulan, maka tubuhnyapun lemas lunglai seperti daging tak bertulang. Dipukul, rubuh. Ditendang mencelat.

Tetapi kalau perasaannya mengatakan bahwa ia sanggup melawan pukulan lawan yang dahsyat, bahwa ia mampu menahan gunung rubuh, seketika tenaga dalamnyapun mengembang dan meluap-luap setingkat seperti yang dikehendaki. Ia menghendaki menghantam hancur segunduk batu dan ia percaya tentu mampu, maka batu itupun tentu hancur dipukulnya. Jadi dia memiliki suatu ilmu tenaga-dalam yang aneh dan luar biasa. Mungkin tiada keduanya dalam dunia persilatan sehingga sukar untuk menggolongkan nama ilmu tenaga- dalam yang dipunyai Blo'on itu.

Andaikata Blo'on tahu dan menyadari, mungkin dia akan menyebut tenaga-dalam itu dengan nama Songsi atau kosong isi.

Orangtua menteri kerajaan Song itupun tak menyangka akan timbulnya suatu tenaga-dalam istimewa dalam tubuh Blo'on. Karena ia sendiri tak tahu bagaimana akibatnya orang yang makan buah som laut sampai lebih dari sepuluh butir.

Jangankan orangtua itu, bahkan Blo'on sendiripun tak menyadari hal itu. Mengapa ia mampu melempari kawanan buaya dan kura2 kedalam sungai, mengapa ia mampu mengangkat raja buaya dan raja kura2 yang beratnya ribuan kati. ia lak mengerti sebabnya. Hanya dalam perasaannya ia kasihan dan harus memindahkan kedua raja binatang itu kedalam sungai.

Karena sampai sekian jenak belum juga raja gurita mampu meremas hancur tubuh Blo'on, dia tampaknya marah sekali. Tangannya yang menyerupai belalai keras itupun segera bergerak-gerak membawa tubuh Blo'on kearah mulutnya. Rupanya dia hendak menelan saja manusia yang bandel itu.

"Tidak !" teriak Blo'on ketika mengetahui apa maksud gurita itu. Serentak hatinyapun berontak dan meluaplah seluruh tenaga-dalamnya.

Saat itu ia memperhatikan dirinya sudah hampir tiba dimulut gurita. Sejak tadi ia sudah memperhatikan bahwa sebelah mata gurita itu kosong melompong. Maka bersiap- siaplah ia. Begitu terangkat naik ke muka gurita, dan pada saat genggaman tangan gurita itu agak mengendor, secepat kilat Blo’on pun segera taburkan pedang pusaka Naga Hijau ke mata kiri gurita itu.

Tar …..!

Terdengar bunyi keras macam bola meledak ketika biji mata gurita itu pecah berhamburan karena tertabur pedang pusaka Naga Hijau.

Rasa sakit dan karena tak dapat melihat, raja gurita itu berontak sekuat-kuatnya. Bum, bum, … tangannya menghantam dinding dan lantai ruang.

Puing dan debu serentak berhamburan memenuhi ruang dan ruang itupun bergetar keras seperti dilanda gempa bumi.

Orangtua cepat bersuit keras dan bercuit-cuit aneh. Rupanya, dia memberi perintah kepada gurita itu. Tetapi raja gurita tampaknya sudah kalap dan tak mau menghiraukan lagi. Dia tetap mengamuk hebat. Sambil merayap keluar, ia menampar-namparkan tangannya kian kemari. Bum ... ! pintupun ambrol dan raja gurita itu terus mengamuk di luar terus menuju ke sungai. Ketika terjun ke dalam sungai, air muncrat tinggi dan warnanya pun berobah hitam.

Orangtua itu memburu sampai diluar pintu. Setelah raja gurita lenyap ke dalam air, ia berlutut, merentang kedua tangan dan tengadahkan kepalanya ke langit.

"O. Thian, adakah ini merupakan alamat kehancuran istana Hay-te-kiong ?" ia meratap dengan suara rawan, "jenderal Naga telah mati di tangan anak itu sekarang jenderal Gurita. Adakah Thian memang mengutus anak itu untuk menghancurkan sisa keturunan raja Song .. ?" Setelah bermenung diri bebetapa saat, ia berjalan masuk kedalam ruang lagi.

Alangkah kejutnya ketika ia melihat apa yang berlangsung dalam ruang itu. Blo'on tengah berdiri di belakang kursi batu yang diduduki putera mahkota. Sedang gadis Liok tegak termangu memandangnya dengan mencekal sebatang pedang bersinar putih.

"Awas, jika engkau tak melemparkan pedangmu itu, anak lelaki ini tentu kuhancurkan" seru Blo'on sambil mengacungkan tinju keatas kepala putera mahkota,

"Berhenti !" cepat orangtua itu berseru gopoh dan lari menghampiri.

"Berhenti !" bentak Blo'on kepada orangtua, "selangkah lagi engkau berani maju, anak ini tentu kupukul kepalanya !"

Orangtua itu terpaksa berhenti. Ia memandang Blo'on lalu beralih memandang gadis dengan terlongong-longong heran.

Ternyata ketika raja gurita mengamuk, diam2 Blo’on telah menyelinap ke sudut ruang lalu maju menghampiri ke altar. Maksudnya hendak menepuk bahu Liok lalu hendak diajaknya lari.

"Siapa engkau !" bentak dara itu ketika bahu ditepuk, "hayo, pergi !"

Blo'on terkejut.

"Eh, engkau ini bagaimana, sumoay ? Bukankah aku Blo'on suhengmu sendiri?" kata Blo'on ramah. "Marilah kita cepat tinggalkan tempat ini.”

"Tidak" bentak gadis Liok pula, "hayo, enyah dari sini orang gundul !" "Eh. kurang ajar, masakan engkau berani memaki aku ?" Blo'on deliki mata.

"Siapa engkau ! Bukankah kepalamu gundul. Hayo pergi, kalau tetap membangkang terpaksa kuhajar," bentak gadis Liok.

Blo'on makin terkejut.

"Eh, sumoay, apakah engkau benar2 tak kenal lagi kepadaku ? Bukankah kemarin engkau mengatakan  bahwa aku ini Blo'on suhengmu. Mengapa sekarang engkau bilang  tak kenal ?"

"Sudah, jangan banyak bicara ! Engkau mau pergi atau tidak !" bentak Liok pula.

Blo'on terkejut ketika memandang wajah dara itu memberingas bengis sekali. Dan lebih terkejut pula ketika gadis itu sudah menghunus pelang.

"Celaka, rupanya dia benar2 hendak membunuh aku. Aku harus mendahului untuk meringkusnya" pikir Blo'on.

Tetapi Bloon terlambat. Saat itu juga gadis Liok sudah loncat menerjangnya. Untunglah Blo'on masih dapat loncat mundur.

Rupanya gadis Liok terkejut melihat ketangkasan Blo’on. Segera ia mainkan pedang segencar angin puyuh untuk memburu Blo'on.

Suatu peristiwa aneh terjadi. Pedang yang dipegang gadis Liok yalah pedang Pek-Iiong-kiam atau pedang Naga Putih, pusaka kerajaan Song. Pada saat pedang itu berhamburan menjadi segulung sinar putih yang menyilaukan mata, ruangan itupun berobah dingin hawanya. Dan tiba2 jenderal2 istana Hay-te-kiong yalah Udang raksasa, Buaya raksasa, Kura2 raksasa dan Ikan raksasa, segera berhamburan lari keluar.

Blo’on tak sempat memperhatikan mereka karena ia harus menyelamatkan diri dari serangan sumoaynya. Untunglah ia masih mempunyai keinginan untuk hidup. Dan keinginan2 itulah yang merangsang tenaga-dalamnya untuk mengantarkan tubuh Blo'on berloncat ke kiri kanan dan ada kalanya melambung ke udara.

"Wah, kalau terus menerus begini, tenagaku tentu makin habis. Apabila terbabat pedang sumoay, aku tentu mati" pikirnya.

Tiba2 ia melihat jenazah putera mahkota ke-rajaan Song masih duduk dikursinya. Cepat ia mendapat akal. Sekali ayunkan tubuh ia melayang ke atas altar lalu secepat kilat menyelinap kebelakang tempat duduk putera mahkota itu.

"Berhenti, kalau tidak anak ini tentu kuhancurkan," serunya memberi perintah kepada Liok seraya mengangkat tinju ke atas kepala putera mahkota.

Gadis Liok tertegun; Dan pada saat itu kakek tuapun masuk.

"Apa kehendakmu ?" seru orangtua itu, "kalau engkau berani menganggu tubuh putera mahkota, aku tentu mengadu jiwa dengan engkau !"

"Mengadu jiwa itu urusan nanti. Tetapi yang jelas, putera mahkota ini tentu lenyap," seru Blo'on;

"Katakan permintaanmu !"

"Tidak banyak dan tidak sulit." kata Blo'on, "kembalikan sumoayku dalam keadaan seperti semula. Kulihat dia jelas telah menderita sakit ingatan. Jika tidak, putera mahkota ini ...

, ."

"Tentu saja kuterima permintaanmu itu," kata orangtua itu.

Kemudian ia berpaling memandang gadis Liok.

"Anak perempuan, lepaskan pedangmu !" serunya memberi perintah.

Aneh benar. Dengan serta merta gadis Liok masukkan pedangnya ke pinggang lagi. Setelah itu si orangtua lalu mengeluarkan lima biji buah som laut dan diberikan.

"Anak perempuan, makanlah habis," serunya. Gadis itu benar2* menurut kata. Ia segera menelan kelima butir buah som laut itu.

Orangtua itu menyuruh Liok duduk dikursi dan tak berapa lama gadis Liok pun jatuh pulas.

"Blo'on sumoay tak kurang suatu apa. Apabila ia bangun, tentu sudah akan sembuh ingatannya," kata orangtua itu tertawa.

"Engkau tidak bohong ?' Blo'on menegas.

"Kalau aku bohong, silahkan engkau menghancurkan putera mahkota," kata kakek itu”.

Mendengar nada dan sikap orangtua itu berobah ramah, Blo'onpun turunkan tinjunya dan melangkah ke hadapan orangtua itu.

Orangtua itu tertawa dan mempersilahkan Blo'on duduk. "Semua rencana telah berjalan lancar," katanya dengan

nada riang.

"Apakah artinya ucapanmu ?' tanya Blo'on. "Ketahuilah," kata orangtua itu." sesungguhnya semua ini telah kami rencanakan."

"Kami siapa ?" tanya Bln'on. "Aku dan anak perempuan itu." "Apakah rencana kalian ?"

"Apa yang kukatakan kepadamu bahwa putera mahkota telah memberi titah melalui mimpi dalam tidurku, memang benar," orangtua itu menerangkan, "seketika itu timbullah gagasanku untuk melakukan suatu rencana yang akan rnembawa kebaikan kedua belah fihak."

Blo'on diam mendengarkan.

"Sebagai seorang mentri, aku harus melaksanakan titah putera mahkota, "kata orangtua itu lebih lanjut," tetapi disamping itu aku ingin memberi kebaikan kepada sumoaymu."

"Kebaikan apa ?"

"Kutahu bahwa sumoaymu pasti menolak apabila akan kujodohkan dengan putera pangeran," kata orangtua itu, “padahal putera mahkota ingin memperisterinya. Karena itu terpaksa kugunakan tipu."

"Bagaimana ?"

"Telah kurenungkan, kuputuskan. Sumoaymu tentu tak mau maka terpaksa harus ditundukkan. Segera kupanggil raja Gurita. Kuceritakan tentang perintah putera mahkota dan kuminta kesediaannya untuk menyerahkan sebuah biji matanya untuk kujadikan obat bius. Agar sumoaymu menjadi hilang ingatan dan menurut semua perintahku …."

"O, itulah sebabnya," tukas Blo'on. "Raja Gurita itu dengan sukarela menyerahkan sebuah biji matanya. Biji itu kutumbuk halus lalu kuminumkan kepada sumoaymu."

“Tidak mungkin!" bantah Blo'on, "mana sumoay begitu menurut kata kepadamu ?"

"Memang," sahut orangtua itu, "maka sebelumnya kuambil sejemput bubuk mata itu lalu kubakar dan kumasukkan kedalam kamar sumoaymu."

"O, apakah ia engkau masukkan kedalam kamar rahasia ?" Orangtua itu mengangguk.

"Setelah dia pingsan barulah kuminumkan bubuk hitam itu. Dan sejak saat itu dia hilang ingatannya dan menurut perintahku."

"Mengapa engkau melakukan hal itu?" Blo'on deliki mata, "bukankah apabila aku mati ditelan gurita itu, sumoayku tetap engkau jadikan istri bocah lelaki itu ?"

"Benar," dengan jujur orangtua itu mengakui, "memang hal itu hanya tergantung pada nasib kalian berdua. Bukankah engkau sendiri yang memilih bertanding lawan gurita itu ? Nah, diam2 kuserahkan hal itu kepada Thian Yang Maha Kuasa. Apabila engkau menang, jelas engkau bakal menjadi seorang manusia yang sukar dilawan."

"Apa sebabnya ?" tegur Blo'on.

"Kerena belasan butir buah som laut yang telah engkau makan itu, belum kuketahui batas mana khasiatnya," kata orangtua itu, "dan kemenanganmu itu akan kujadikan suatu pegangan bahwa Thian memang tak mengizinkan perjodohan itu.” "Ternyata engkau menang," kata orangtua itu pula, "aku harus taat pada takdir. Sumoaymu kuberi minum lima butir som laut. Kelak ia pun akan menjadi seorang pendekar wanita yang sukar dilawan."

"Hm," dengus Blo'on.

"Masih ada pula sebuah keuntungan bagi kalian,” kata orangtua itu, "seluruh rakyat dalam lautan mengetahui bahwa sumoaymu menjadi permaisuri raja dari istana Hay-te-kiong. Oleh karena itu, mereka akan melindungi sumoaymu untuk selama-lamanya".

"Selama-lamanya ?" Blo'on berseru kaget. "Ya."

"Walaupun sumoay sudah berada didaratan?"

"Ya," orangtua itu mengangguk "setiap kali sumoaymu berlayar di laut, rakyat lautan tentu akan melindunginya."

"Ah, jangan omong melantur," kata Blo'on. "bagaimana binatang laut kenal akan diri sumoay?

"Akan kuberikan bubuk mata gurita itu kepadanya. Tiap waktu apabila sejemput bubuk ini dilemparkan ke dalam laut, maka rakyat laut seluruhnya akan tahu."

"Baiklah." kata Blo'on, "tetapi kalau ketentuanmu itu bohong, aku terpaksa tak sungkan2 kepadamu dan akan menghancurkan istana ini"

"Anakmuda " kata orangtua itu tersenyum, "jangan suka membiasakan dirimu dengan ucapan yang tekebur. Aku sudah amat tua, matipun tak sayang. Engkau kira apabila kuperintahkan seluruh jenderal2 istana Hay-te-kiong untuk menyerang, engkau takkan binasa ? Tetapi aku tak mau karena kulihat engkau harus hidup untuk melakukan pekerjaan besar dan berguna di dunia daratan. Dan mengapa aku harus berkata bohong kepadlamu ? Tunggulah setelah sumoaymu sadar, engkau tentu akan tahu sendiri "

Blo'on terpaksa menunggu di dekat tempat duduk sumoaynya. Entah sampai berapa lama Blo'on sendiri tertidur, ketika ia membuka mata dilihatnya gadis Liok sudah menunggu disampingnya.

"Engkau sudah bangun engkoh Blo'on“ tegur gadis itu.

Blo'on terkejut : "O, engkau sudah dapat mengenali aku lagi?"

Gadis Liok mengangguk : "Ya, orangtua tadi telah menuturkan semua yang terjadi disini kepadaku."

Tiba2 Blo'on melonjak bangun dan memandang kian kemari: "Hai. dimanakah kakek tua dan putera mahkota itu ?"

"Mereka sudah kembali ke dalam istana." "Hayo, kita cari !" teriak Blo'on.

"Tak perlu, suheng," kata Liok, "orangtua itu sudah memberi petunjuk kepadaku."

"Petunjuk apa ?"

"Cara kita akan keluar dari istana ini, dipersilahkan memilih dua jalan. Pertama, melalui perjalanan air, diantar oleh buaya atau kura2. Dan kedua, melalui sebuah terowongan yang tembus ke daratan."

"O," desah Blo'on, "apakah kawanan binatang laut Hu mau mengantar kita ?"

"Asal aku yang memberi perintah, mereka tentu tunduk semua," kata gadis Liok. Blo'on diam merenung.

"Bukankah tujuan kita hendak kembali ke daratan ?" katanya, "daripada harus menempuh jalan air, lebih baik kita langsung tiba di daratan saja dengan melalui terowongan itu !"

Gadis Liok mengangguk: "Memang benar. Tetapi resikonya lebih berat."

"Mengapa ?"

"Menurut keterangan orangtua itu, ada sebuah jalan terowongan yang menembus ketepi laut. Tetapi dalam terowongan itu terdapat seekor binatang yang mengerikan."

"Binatang apa ?" "Kelelawar."

"O, apakah kelelawar itu ?" tanya Blo'on.

"Kelelawar sejenis binatang yang bentuknya menyerupai tikus tetapi bersayap sehingga dapat terbang."

"Jika sebesar tikus saja, mengapa kita takut," kata Blo'on. "Ah, menurut keterangan orangtua itu, kelelawar yang

tinggal dalam terowongan, bukan kelelawar biasa melainkan seekor kelelawar raksasa yang besarnya menyamai burung garuda. Dan yang mengerikan, kelelawar itu suka menghisap darah manusia atau binatang yang menjadi korbannya."

Blo'on merenung diam lagi. Sesaat kemudian ia berseru : "Lebih baik kita coba menempuh jalan terowongan itu"

Gadis Liok mengiakan.

Sesuai yang ditunjukkan oleh orangtua itu maka tibalah Liok dan Blo'on di sebuah lubang yang berada dibelakang istana karang Hay te-ki-ong. "Berapakah panjangnya terowongan itu sampai mencapai tepi laut ?" tanya Blo'on.

"Menurut keterangan orangtua itu, panjangnya antara dua tiga li." kata gadis Liok.

Demikian kedua suheng dan sumoay itu segera menyusup kedalam terowongan.

"Ah, makin lama makin gelap. Bagaimana kita mampu melanjutkan perjalanan ?" teriak Blo'on.

"Jangan kuatir." sahut gadis Liok. "aku membawa obor dan korek."

''Dari mana engkau memperolehnya ?"

"Pemberian dari orangtua itu," jawab gadis Liok, "pun dia juga memberi aku sebutir mutiara besar yang dapat memancarkan cahaya terang."

"O, kalau begitu pakailah mutiara itu saja,” seru Blo'on,

Liok mengambil sebutir mutiara yang besarinya humpir menyerupai telur ayam. Benar juga, dalam terowongan yang gelap, dapatlah mutiara itu memancarkan penerangan.

"Ah dunia ini memang penuh keajaiban. Begitu pula kita manusia sering mengalami peristiwa2 aneh yang tak terduga- duga," kata Liok memecah kesunyian perjalanan.

"Apa yang engkau alami ?'' tiba2 Blo’on bertanya.

"Ih, engkau ini bagaimana suheng ?” Liok terbeliak heran, “masakan engkau lupa..... tiba2 ia hentikan kata-katanya karena teringat bahwa saat itu Blo'on memang menjadi seorang manusia baru. Apa yang dideritanya pada waktu lalu, tak teringat lagi, "Misalnya seperti dirimu sendiri, suheng," kata Liok mengalihkan pe,bicaraannya, "dulu sebelum masuk kedalam istana dibawah laut itu, engkau seorang Blo'on, seorang tolol yang linglung pikiran. Tetapi setelah engkau keluar dari istana dibawah laut, engkaupun menjadi manusia yang aneh. Otakmu tidak blo'on tetapi engkau lupa apa yang telah engkau alami pada masa lampau "

"Entah," sahut Blo'on, "aku memang merasa begitu.”

"Dan lagi, sskarang ini engkau memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Engkau mampu melemparkan raja buaya dan raja kura2. Lalu engkau dapat mengalahkan raja gurita. Apabila engkau mau belajar ilmusilat, wah, dunia tak ada yang sanggup melawan engkau !"

"Belajar ilmusilat ? Untuk apa harus berlajar ilmusilat itu ?" teriak Blo'on.

"Ilmasilat yalah ilmu bela diri. Disamping untuk menyehatkan badan, pun engkau dapat memiliki suatu ilmu tata-kelahi yang hebat."

"Liok sumoay, jangan engkau bicara seenak lidahmu bergoyang," tegur Blo'on.

Gadis Liok atau lengkapnya Liok Sian terbelalak : "Apa kesalahanku ?"

"Engkau menceritakan bahwa ayahku seorang jago silat yang tiada lawannya di dunia persilatan "

"Ya. benar."

"Tetapi mengapa ayah meninggal secara begitu mengenaskan ? Bukankah jenazahnya telah curi orang ?"

"Ya." "Dengan begitu, seorang jago silat itu lebih malang nasibnya dari orang biasa. Orang biasa kalau meninggal masih dapat dikubur baik2 tapi kalau jago silat mengapa tidak ?"

"Ah, tidak semua jago silat bernasib seperti suhu," bantah Liok Sian-li, "ada juga yang dikubur secara meriah."

"Mengapa jenazah ayah hilang ? Tentu dicuri orang dan orang itu tentu musuh2 ayah. Jadi makin seorang jago itu tinggi kepandaiannya, makin banyak dia akan mengikat permusuhan. Bukankah begitu sumoay ?"

Liok Sian li agak terkejut. Tetapi diam2 ia girang bahwa nyata pikiran Blo'on sekarang sudah mulai terang.

"Ya, memang demikian," sahut gadis itu, “tetapi'dapatkah engkau melihat dengan berpeluk tangan apabila ada seorang yang jatuh ? Engkau diamkan saja orang itu ataukah engkau menolongnya ?"

"Akan kutolong," sahut Bloon.

"Jika engkau melihat seorang yang bertenaga kuat memukuli seorang lemah, apakah engkau tinggal diam ?"

"Tidak."

"Kalau engkau melihat seorang penjahat menganiaya orang atau merampas harta bendanya, apakah engkau berpeluk tangan melihati saja?"

"Tidak !"

"Kalau engkau melihat seorang wanita diganggu lelaki yang kurang ajar bahkan hendak merusak kehormatan wanita itu, apakah engkau pejamkan mata saja ?"

"Akan kulemparkan lelaki kurang ajar itu." "Kalau eugkau melihat seorang diperlakukan tidak adil, misalnya, dia dituduh mencuri atau membunuh, pada hal tidak melakukan perbuatan itu, apakah engkau diam saja?"

"Akan kubela orang itu."

"Bagus, bagus, suheng," seru Liok Sian li, "ternyata engkau seorang pemuda yang memiliki hati budi yang luhur dan jiwa ksatrya."

"Tidak, sumoay," bantah Blo'on, "aku bukan seorang manusia berbudi luhur bukan pula seorang ksatrya perwira. Tetapi namaku Blo'on, Bagi B'o'on, bukan soal budi luhur atau jiwa ksatrya yang dipentingkan, tetapi mata dan perasaan. Apabila mataku melihat sesuatu yang menurut perasaan  hatiku tidak baik, aku akan berusaha untuk menolong."

Sian-li tertawa.

"Mengapa engkau tertawa, sumoay ?" tegur Blo'on. "Memang sederhana sekali keteranganmu itu suheng.

Tetapi ketahuilah, bahwa manusia didunia dengan segala tingkah laku dan warna warni hatinya itu, sukar diduga dengan penglihatan mata saja. Kelak apabila engkau berkelana didunia persilatan, engkau tentu akan banyak menderita kecela dan kekecewaan. Yang engkau lihat benar itu, belum tentu benar. Yang engkau rasakan baik, belum tentu baik. Demikian yang jahat itupun belum tentu jahat."

"Aneh, mengapa begitu ?" Blo'on heran.

"Ya, karena manusia itu pandai menggulai racun menjadi manis rasanya. Pandai menyelimuti kebencian dengan senyum tawa. Dan pandai menghias keculasan hati dengan budi bahasa yang memikat. Manusia itu serigala berselubung ..." "Kalau begitu kita bunuh saja semua manusia di dunia ini !" teriak Blo'on serempak.

Sian-li tertawa

"Membunuh mereka ? Apakah modalmu, apakah kepandaianmu untuk membunuh manusia di dunia ini ? Dunia persilatan penuh dengan tokoh yang berilmu silat sakti. Dapat menutuk jalan udarahmu sehingga engkau tak berkutik. Dapat melepaskan pukulan yang menghancurkan batu. Dan engkau ? Hi. hi. hi ... "

"Sumoay, jangan mengejek aku," kata Blo'on "aku tak percaya hanya dengan ilmusilat saja manusia itu akan menjadi sakti. Aku ingin menguji tokoh silat yang engkau sebutkan paling sakti itu"

"Tidak usah yang paling sakti" kata Sianli. "tetapi dengan manusia yang paling culas saja".

"Siapa ?"

"Toa-suheng ..." "Siapa toa-suheng ?”

"Toa-suheng adalah engkoh seperguruan kita yang nomor satu.

"O, kita masih mempunyai seorang engkoh perguruan ?" "Ya," Sian-li mengangguk.

"Siapa namanya ?" "Tio Goan pa ... "

"Dimana dia sekarang ?" "Mungkin masih dipuncak Giok-li-nia, tetapi entah kalau sudah pergi ... " berkata sampai di situ suara Sianli tampak rawan.

"Mengapa engkau katakan dia seorang culas,” tanya Blo'on pula.

Sian-li menunduk diam.

"Sumoay, mengapa engkau diam saja ?" tegur Blo'on. Sian-li menghela napas.

"Mungkin aku yang salah ...

"Engkau salah apa ?" seru Blo'on makin heran, "hayo, sumoay katakanlah yang jelas".

"Baiklah " kata Sian-li dengan nada sayu. Lalu ia mulai menutur.

"Semasa masih belajar silat di gunung, kami bertiga bergaul erat seperti saudara sekandung.”

“O, kalau begitu aku juga pernah belajar silat?" tukas Blo'on.

"Ah, ada sedikit yang belum kuceritakan padamu", buru2 Sian-li menerangkan "yang dimaksudkan kita bertiga itu ialah Tio Goan, Kwik Ing dan aku. Engkau sendiri tak mau belajar silat dan akhirnya minggat"

"Hm, kalau begitu kita mempunyai dua suheng" kata Blo'on. "Ya, tetapi Kwik suheng sudah meninggal.

"Kwik suheng sudah meninggal ? Kenapa ?” Blo'on terkejut.

"Dia meninggal waktu menjaga jenazah suhu dalam sebuah kamar rahasia ... "

"Siapa yang membunuhnya !" teriak Blo'on. ”Suheng meninggal dan jenazah suhupun hilang dicuri orang ... "

"Hai !" teriak Blo'on, "kalau begitu tentu dibunuh orang. Siapakah pembunuh Kwik suheng dan siapakah yang mencuri jenazah ayahku ?"

"Itulah yang menjadikan rahasia besar yang menghebohkan para ketua partai persilatan. Mereka sedang mencari pembunuh dan pencuri itu. Begitu juga mencari engkau ..."

"Mencari aku ?" Blo'on. makin kaget.

"Ya, karena engkau menghilang tanpa jejak. “Lalu kemanakah sajakah engkau selama ini ?" tanya Sian-li, "dan kalau tidak salah, waktu engkau masih tinggal di gunung, engkau tidak begitu Bloon melainkan hanya bandel saja. Mengapa setelah aku ketemu dengan engkau, engkau berobah menjadi orang blo'on ? Siapakah yang membuat engkau sampai begitu ?"

"Uh. uh," desuh Blo'on, "jangan engkau tanyakan hal itu. Karena sama sekali aku tak ingat apa2 lagi kecuali sekarang ini."

"Aneh….. aneh…" gumam Sian li.

"Sudahlah, sudahlah, jangan mengungkat hal itu' seru Bloon, "sekarang ceritakan bagaimana dengan diri Tio suheng yang engkau katakan itu."

"Baiklah, tetapi engkau jangan memutus ceritaku lagi" kata Sian li lalu melanjutkan ceritanya.

"Oleh para ketua partai persilatan kami berdua, aku dan Tio suheng, ditugaskan untuk menjaga markas Wisma Perdamaian dan rumah suhu di gunung itu. Aku sangat berduka sekali atas kematian ji-suheng. Karena dengan dia aku lebih erat daripada dengan toa-suheng. Kwik suheng memang kalah cakap dan kalah cerdas dengan suheng. Tetapi Kwik suheng seorang pemuda yang jujur dan setya ... "

Sian-li berhenti sejenak lalu meneruskan:

"Berulang kali Tio suheng menghibur hatiku supaya jangan kelewat berduka atas kematian Kwik suheng. Tio suheng tanpa memperhatikan sekali diriku. Bahkan pada suatu hari ia memberanikan diri untuk … "

"Untuk apa ?" Bloon menegas karena Sian li tak melanjutkan kata-katanya.

"Untuk meminang aku"

"Apakah meminang itu ?" tanya Blo'on. "Meminta aku suka menjadi isterinya ...

"O, dia suka kepadamu bukan ?" tanya Bloon. Sian-li tersipu-sipu merah mukanya.

"Entah bagaimana, aku mempunyai perasaan tak suka kepadanya. Dengan halus kuperingatkan kepadanya bahwa hubungan kita ini hendaknya hanya terbatas sebagai kakak adik saja. Apalagi kita masih menghadapi tugas berat untuk mecari pencuri jenazah suhu.

Bermula ia menerima baik jawabanku itu. Bahkan dia memuji aku sebagai seorang murid yang setya kepada suhu dan seorang gadis yang baik.

Pada suatu hari ia mengatakan hendak turun gunung menyelidiki seseorang yang patut dicurigai dan suruh aku tinggal di gunung. Mungkin tiga empat hari baru dia pulang. Demi kepentingan suhu, akupun tak mencurigainya. Tepat pada malam ketiga, muncullah seorang yang mencurigakan. Dia mengenakan, pakaian serba hitam dan mukanyapun mengenakan topeng hitam. Karena dia berani masuk kedalam kamar tempat tinggal suhu, maka kuserangnya. Dan terjadilah pertempuran seru."

"Dia tentu toa-suheng!" tukas Blo'on.

”Bermula akupun menduga begitu." kata Sian-, "tetapi ternyata bukan."

"Bagaimana engkau tahu kalau bukan toa-suheng?" tanya Blo’on.

"Karena jurus ilmu silatnya bukan dari ajaran suhu. Dia menggunakan ilmusilat yang aneh dan lihay sehingga aku dapat dikalahkan. Aku rubuh karena jalandarahku tertutuk jarinya , ..."

"Lalu ?" desak Blo'on.

"Walaupun tak dapat berkutik tetapi aku masih dapat melihat dan mendengar." kata Sian "kudengar dia tertawa iblis lalu mengangkat aku kedalam kamar dan ... "

"Dan bagaimana " tanya Blo'on. Tiba2 Sian-li menangis.

"Hai, mengapa engkau sumoay?" Blo'on terkejut.

"Dia ... dia telah membuka seluruh pakaianku dan hendak merusak kehormatanku …."

"Hai !" Blo'on melonjak kaget tetapi ia segera mengaduh kesakitan karena gundulnya terbentur langit2 terowongan.

"Mengapa engkau diam saja ?" teriak anak itu, "apakah engkau tak malu dirimu dilihat dalam keadaan telanjang ?" Merah padam selebar muka Sian-li. Dengan  menggigit bibir, ia berseru : "Jalan darahku telah tertutuk, aku tak dapat berkutik."

"O, apakah jalan darah itu dapat ditutuk”, Blo'on terlongong.

"Dapat" kata Sian-li, "ilmu menutuk jalan darah termasuk salah sebuah dari ilmu silat".

"Hm, lagi2 ilmusilat," gerutu Blo'on, "seolah-olah ilmusilat itu rajanya ilmu."

"Habis kalau kenyataannya memang begitu,” sahut Sian-li. "Sudahlah, lanjutkan saja ceritamu".

"Karena tak dapat berkutik, akupun tak dapat berbuat apa2, ketika ia ..." merahlah muka gadis itu.

"Ia bagaimana ?" desak Blo'on.

"Sudahlah, jangan tanya melilit begitu," bentak Sian-li, "pokoknya, ia telah bertindak kurang ajar sekali kepadaku. Setelah puas, dia terus hendak mencemarkan kehormatanku. Aku tak dapat berbuat apa2. Karena malu dan marah, aku hampir pingsan. Tiba2 sayup2 kudengar suara orang berseru": "Hai, jangan menikmati gadis itu dulu. Engkau harus menepati janjimu sebelum engkau bersenang-senang... "

Karena suara itu, orang berkerudung terkejut dan buru2 keluar. Tetapi bagaimana selanjutnya aku tak tahu karena aku pingsan ... .

Pada saat membuka mata. kudapatkan diriku berada dalam sebuah guha di tengah hutan yang tak kuketahui namanya. Guha itu rupanya dihuni orang. Keadaannya bersih dan terdapat juga beberapa sisa makanan kering dan minuman, Kulihat di atas meja terdapat sepucuk surat yang berbunyi: Anak perempuan,

Tinggallah dalam guha ini sampai aku kembali. Aku hendak menghukum murid yang murtad itu .....

Setelah sampai tiga hari belum juga pemilik guha itu pulang, akupun segera pergi."

"Nanti dulu," tiba2 Blo’on menyelutuk, ”engkau bilang kalau pakaianmu ditelanjangi orang berkerudung itu. Bagaimana engkau pergi dari guha itu.”

Sian-li tersipu-sipu merah.

”Sudah tentu waktu aku membuka mata kudapatkan aku sudah berpakaian lagi. Mungkin penolongku, si pemilik guha itu yang memakaikan.”

”Siapakah pemilik guha itu?” tanya Blo’on

”Mana aku tahu ?” Sian-li mendesuh, ”surat itu tidak diberi nama penulisnya.”

”Lalu siapa murid yang murtad itu ?”

”Bagaimaga aku tahu ?” Sian li makin mengkal, ”entah muridnya entah murid ..... eh .....

”Mengapa?” seru Blo’on.

”Apakah dia maksudkan murid itu ..... ya murid itu murid dari suhu, ya?” kata Sian-Li seorang diri.

”Murid dari suhumu ?” Blo’on menegas.

“Ya, siapa tahu kalau yang dimaksudkan itu yalah murid dari suhu.”

”Kalau begitu engkau sendiri!” seru Blo’on ”Gila engkau !” bentak Sian li, ”masakan aku hendak merusak kehormatanku sendiri ? Tentulah murid yang lain atau suheng kita.”

”Kwik suheng sudah mati !” seru Blo’on.

”Tio suheng masih hidup dan dia ..., dia pernah menyatakan hatinya padaku tetapi kutolak !” kata Sian-li,

”Benar, benar!” teriak Blo’on.

Sian-li tercengang : ”Apanya yang benar ?”

”Eh, bukankah tadi engkau mengatakan hendak mengadu aku dengan Tio suheng karena suheng itu seorang yang culas

?” Blo’on balas tanya.

”O. Ya, memang dia jahat”, kata Sian-li. ”ketika dia hendak merusak kehormatanku, aku dapat menggigit sebuah kancing bajunya. Inilah kancing baju itu.”

Ia mengeluarkan sebuah kancing baju dari tulang.

”Kelak pada suatu ketika akan kupadu apakah kancing baju ini miliknya,” kata Sian-li. ”tetapi kurasa aku pernah melihat baju suheng memang mempunyai kancing baju seperti ini.”

”Itulah maka engkau menuduh dia culas ?” tanya Blo’on. ”Sejak Kwik Ing suheng mati terbunuh dalam ruang jenazah

suhu,  aku  sudah  curiga  kepada  Tio  suheng”  kata  Sian-li.

”tetapi karena tiada buktinya maka aku tak berani menuduhnya”

”Siapakah orang yang memanggilnya pada saat itu ?” tanya Blo”on.

”Entahlah, karena aku terus pingsan dan ketika membuka mata sudah berada dalam guha.” ”Ya, baiklah sumoay.” Kata Blo’on, ”apabila Tio suheng itu memang seorang manusia jahat aku terpaksa harus mewakili ayah untuk menghukumnya.”

Sian-li tertawa hambar.

”Mengapa engkau tertawa ?” tanya Blo’l

”Sudahlah, jangan engkau mencari balas kepada Tio suheng.”

”Mengapa ?” Blo’on membelalak.

”Karena engkau pasti bukan tandingannya. Tio suheng cerdas dan berbakat. Dia murid yang paling disayang oleh suhu. Hampir seluruh kepandaian suhu telah diberikan kepadanya. Dan engkau ? Tiap kali suhu hendak mengajar ilmu silat kepadamu, engkau tentu menangis sehingga subo (ibu guru) turun tangan dan menasehati suhu supaya jangan memaksa engkau belajar silat.”

”Apakah ibuku sayang sekali kepadaku,” tanya Bloon.

”Subo seorang wanita yang sabar, seorang isteri yang bijaksana dan seorang ibu yang penuh kasih sayang kepada puteranya. Sayang subo sudah terburu-buru meninggal sebelum melihat engkau dewasa ... ”

”Oh. Mamah ... ” tiba2 pecahlah tangis Blo’on demi mendengar keterangan tentarg lbunya.

’Sst, jangan menangis !” serentak Sian membentak, “lihat di sebelah muka itu. Kita tiba di sebuah tempat yang luas”.

”Eh, apa hubungan tempat luas dengan keharuan hatiku ? Apakah engkau melarang aku menangis karena terkenang pada mamahku ?” ”Subo sudah meninggal dan mengasoh di alam baka yang tenang. Perlu apa engkau menangis ? Apakah kalau engkau menangis, subo akan hidup kembali ?”.

”Huh, habis kalau aku terharu dan menyesal karena dulu tak menurut kata2”

”Menyesal tiada gunanya. Yang penting engkau harus dapat merobah perbuatanmu dan menjadi manusia baik. Dan caranya, bukan hanya dengan menangis. Tetapi harus dengan perbuatan dan amal hidup yang luhur”.

”Ya,” sahut Blo’on, ”eh, apakah mendiang Ibuku pernah memberi pesan begitu kepadamu ?”

”Tidak.”

”Kalau tidak, mengapa engkau memberi nasehat kepadaku seolah olah aku ini seorang anak kecil ? Bukankah engkau ini sumoay dan aku suheng?”

”Ya,” sahut Sian-li. ”biarpun suheng, tetapi engkau bloon”. ”Memang aku sendiri heran mengapa tiba2 saja aku

menjadi bloon dan tak ingat apa2 lagi. ” Bukankah engkau mengatakan bahwa semasa kecil berdiam di gunung aku belum blo’on ?”

Sian-li mengiakan.

”Benar, engkau memang tidak blo’on masa itu. Entah bagaimana setelah engkau mengembara tiba2 engkau berobah blo’on”.

”Hai, apakah itu !” sekonyong-konyong Blo’on berteriak keras.

”Mana ?” ”Itu !” Blo’on menunjuk ke arah langit2 ruang terowongan, “benda hitam besar yang bergelantungan itu !”

”Ah ... ” Sian-li menjerit tertahan ketika pandang matanya tertumbuk pada sebuah benda hitam yang ditunjukkan Blo’on.

Benda itu sebesar anjing. Tetapi tubuhnya terbungkus dengan selimut hitam dan bergelantungan pada langit2 terowongan.

Tiba2 Sian-li teringat sesuatu. Cepat ia beteriak ? ”Suheng siapkan pedangmu !”

”Mengapa ?” tanya Blo’on. ”Kita tiba di guha kelelawar ”” ”Kelelawar?”, seru Bloon’.

”Ya,… yang..bergelantungan itu yalah kelelawar raksasa yang suka menghisap darah manusia.”

“Siluman !” teriak Blo’on.

-oo0dw0ooo-
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 21 Ooops"

Post a Comment

close