Pendekar Bloon Jilid 44 Suasana mencengankan

Mode Malam
Jilid 44 Suasana mencengankan

Pikiran menyerap bahwa daging manusia itu tidak layak harus dimakan. Hanya manusia liar yang makan daging manusia. Dan perasaanpun menolak, sesuai dengan pikiran itu.

Demikian Blo'on. Ketika mendengar bahwa daging yang dijadikan hidangan dalam rumah makan itu terdiri dari daging manusia, seketika muallah perut Blo'on. Ia muntah2.

Karena muntah2 maka meluaplah hawa murni dalam perut Blo’on. Dan karena marah maka memancarlah darah anak itu. Hawa murni yang terbaur dalam darah bergolak, menimbulkan tenaga-dalam Ji-ih sin-keng yang dahsyat sehingga seperti orang yang terkena penyakit tekanan darah tinggi, Blo'on kehilangan kesadaran pikirannya. Ia mengamuk seperti orang gila. Hanya dengan menghantam semua benda yang dilihatnya, perasaannya terasa longgar.

Jika Blo'on mengamuk, wah, kacaulah orang2 itu. Tiada seorang pun dari ketua partai persilatan dan tokoh2 persilatan ternama yang mampu menghentikan.

Rumah makan diobrak-abrik dan tiang serta dindingnya dihantam sehingga rumah makan itu ambruk. Memang khayal kedengarannya, tetapi kenyataan memang begitu.

Ji-ih-sin-kang atau tenaga sakti yang dapat digerakkan menurut sekehendak hatinya. Memang Ji-ih-sin-kang itu termasuk tenaga-dalam yang jarang sekali dapat dicapai oleh orang persilatan.

Untuk belajar ilmu silat diperlukan tiga syarat: Bakat, guru dan ketekunan. Bakat bukan suatu kegemaran melainkan perangkat tulang2 pada tubuh yang memungkinkan untuk menyerap ilmu si!at yang sukar. Guru, apabila mendapat yang kurang tinggi ilmunya, tentu tak dapat menempa muridnya menjadi seorang jago silat sakti. Dan ketekunan, harus tak boleh tiada. Ilmu silat merupakan gerak, baik ke luar mau pun ke dalam. Ke luar, berupa gerakan tubuh, kaki dan lengan. Ke dalam, pernapasan dan pangerahan tenaga-dalam serta hawa murni. Kesemuanya itu harus tekun berlatih setiap hari sampai bertahun-tahun sehingga setiap gerak2 dalam jurus ilmu silat itu merupakan gerak yang otomatis, dengan atau tanpa dikendalikan oleh pikiran.

Tetapi di dunia ini memang sering terjadi hal yang luar biasa, luar dari kewajaran. Seperti misalnya yang terjadi pada diri Blo'on. Dia tak nengerti ilmusilat karena memang tak mau belajar silat. Tetapi berkat suatu kejadian dan rejeki yang luar biasa, ia telah minum darah naga, makan buah som dari dasar laut yang berumur seribu tahun sehingga hawa-murni dalam tubuhnya berkembang dan tenaga-dalam mengumpul kemudian apa yang disebut Ji-ih-sin-kang.

Sebenarnya untuk mencapai tataran sampai pada penguasaan tenaga-dalam yang sempurna, barulah jalan- darah Seng-si-hian-kwan dalam tubuh dapat ditembus. Untuk menembus jalan-darah itu memang bukan sembarang tokoh silat dapat mencapainya.

Blo'on berkat daya dari beberapa buah dan darah ajaib yang diminumnya, telah tertembus jalan-darah Seng-si-hian kwannya sehingga dia memiliki tenaga sakti Ji-ih-sin-kang. Dan dapatkah setiap orang meniru seperti dia? Rasanya  dalam dunia persilatan hanya Blo'on seorang saja yang menemukan rejeki semukjijat itu.

Sekalian orang terkejut ketika rumah-makan itu rubuh. Mereka mengira Blo'on tentu kerubuhan. Tetapi berkat tenaga sakti Ji-ih-sin-kang dapatlah ia terhindar dari malapetaka. Dia gerakkan kedua tangannya untuk menyongsong, menghantam dan menampar runtuhan puing, ganteng dan tiang2 yang menimpah dirinya. Kemudian ia ke luar dan runtuhan puing2 itu dengan selamat.

"Suko .......!” Sian Li menjerit kegirangan seraya lari menyongsongnya, "engkau tak kena apa2? "

Blo'on hanya gelengkan kepala. Tetapi kini sikapnya sudah tenang kembali. Hoa Sin, Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin dan Lo Kun pun menghampirinya.

"Blo'on, mengapa engkau mengamuk? " tegur kakek Lo Kun.

" Aku merasa mual karena mendengar kalau hidangan yang kita makan tadi terdiri dari daging manusia. Tahu2 pikiranku gelap dan kepala panas sekali lalu aku mengamuk," kata Blo'on.

Semua orang heran mendengar cerita itu. Mereka pun tak tahu mengapa Blo'on memiliki tubuh yang sedemikian aneh.

"Hoa pangcu," seru Blo’on, nadanya garang seperti seorang pemimpin, ke mana orang2 yang berada dalam rumah-makan tadi? "

"Mereka telah sama naik ke gunung Hong-san," kata Hoa sin, ketua Kay-pang.

"Di manakah orangtua yang berpakaian seperti pengemis tadi? " tiba2 Blo'on teringat.

“Entah ke mana dia," kata Hoa Sin, "aku pun curiga pada orang itu. Dia memang aneh sekali.”

"Tak perlu hiraukan pemabuk tua itu," kakek Lo Kun menyelutuk, "yang penting ayo kita lekas naik ke gunung Hong-san agar dapat menyusul rombongan nona2 cantik itu." Karena setiap kata selalu menuju kepada gadis cantik, Blo'on mendongkol juga.

"Kakek Lo," serunya, "kuberitahu kepadamu, ya. Orang sudah tua semacam engkau, patutnya sudah punya cucu .......

"

"Tidak mungkin!" kembali kakek limbung itu menyelutuk, "sedang isteri saja tidak punya bagaimana disuruh punya cucu? "

Blo'on terperangah.

"Itulah sebabnya aku hendak mencari isteri agar punya anak, punya cucu," kata Lo Kun pula.

"Tidak mungkin! " teriak Blo'on.

"Mengapa tidak mungkin? " Lo Kun kerutkan dahi.

"Karena sebelum anakmu besar, engkau sudah masuk ke liang kubur!" seru Blo'on.

"Jika begitu, apakah aku tak boleh menikah? " tanya kakek Lo Kun.

"Di dunia banyak orang yang tak menikah Hong Hong tojin, Hui Gong taysu, Ceng Si suthay dan masih banyak tokoh2 yang tak menikah seumur hidup!" seru Blo’on.

"Karena mereka tak mampu mencari jodoh,” bantah  Lo Kun.

Mendengar itu, Hoa Sin segera menengahi: "Bukan begitu," katanya,"aku sendiri juga tidak menikah. Setiap orang mempunyai pendirian sendiri. Para paderi, rahib dan orang2 suci juga tak menikah. Mereka mengabdikan diri mencari jalan kesempurnaan. " "Tunggu," teriak kakek Lo Kun, "apakah jalan kesempurnaan itu? "

“Menurut kepercayaan mereka, hidup ini suatu derita. Orang harus menghindari supaya kelak jangan menitis kembali. Caranya adalah membuat karma hidup yang baik. Jika kita sendiri sudah penuh dengan lumpur dosa, mengapa harus menciptakan keturunan lagi? "

"Habis, kalau tidak punya keturunan, kita kan tidak berbakti? ”

"Itu kata orang," sahut Hoa Sin, "berbakti itu hanya ditujukan pada orang2 tua yang menurunkan kita, bukan terhadap kewajiban dharma seseorang. Dalam tataran lingkungan Karma, tidak ada yang disebut berbakti atau tidak berbakti.. Yang ada hanya karma yang baik dengan yang buruk. Selama orang masih melakukan karma buruk,, dia tentu tetap akan dijelmakan lagi di dunia yang penuh derita ini. Oleh karena itu mereka, yang percaya akan ajaran2 itu, mencari jalan untuk kebebasan dari penderitaan itu. Caranya dengan membuat karma yang baik.”

"Kalau tak punya anak yang banyak, kelak kalau sudah tua tentu tak ada yang merawat," seru kakek Lo Kun pula.

“Nah, di situlah tampak belangnya manusia, yang berpikiran semacam itu. Mereka menciptakan anak, dengan dalih berbakti kepada orangtua, tetapi pada hakekatnya mereka mempunyai maksud yang terselubung, agar kelak di hari tuanya mereka tidak kapiran. Jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri untuk mencari keenakan pada hari  tuanya. Tujuan murni bahwa manusia diwajibkan untuk mengembang-biakkan keturunan, tercemar dengan kepentingan peribadi. Mempunyai anak, bukan lagi wajib dari seorang manusia tetapi merupakan keuntungan2 yang diperhitungkan demi kepentingan orang itu di hari tuanya. Adakah tujuan yang sudah tidak bersih itu akan membuahkan karma yang baik? Adakah dengan nafsu keinginan dan cita2 itu, nyawa mereka kelak dapat tenang dan ikhlas meninggalkan raganya apabila mereka sudah tiba janjinya mati? Tidakkah mereka akan terbelenggu oleh beban2 hidup dalam dunia? "

"Aku tak mengerti Hoa pangcu,” seru Lo Kun.

"Saat ini memang lopeh tak mengerti, tetapi kelak lopeh tentu akan merasakan sendiri apabila sudah tiba waktunya,” kata Hoa Sin.

"Hoa pangcu," kata Blo’on, " mumpung masih belum terlalu malam, mari kita berangkat mendaki ke puncak Hong-san."

Sekalian ketua partai persilatan dan tokoh2 setuju. Segera mereka tinggalkan tempat itu.

Ada suatu perobahan dalam sikap Blo'on. Sejak kerubuhan rumah-makan, sikapnya tampak lebih tenang dan bicaranya pun lebih tegas dan tidak ngelantur. Memang pada saat rumah-makan itu rubuh, genteng dan tiang usuk menimpa kepala dan tubuh Blo'on. Walau pun dia menggunakan Ji-ih- sin-kang untuk menghalau, tetapi tak urung masih banyak puing2 yang menghantam kepalanya.

Dan ada suatu perasaan aneh padanya. Ia merasa kepalanya agak terang, pikirannya tenang. Ia sendiri tak tahu apa sebabnya, yang nyata, pikiran lebih terang dari semula.

Malam pun makin tinggi. Langit pun gelap tertutup mendung hitam. Tiba2 hujan pun turun. Untung mereka melihat sebuah kuil tua yang didirikan di lereng gunung. Bergegas mereka menuju ke kuil itu. Walau pun keadaannya sudah rusak dan tak terpelihara, tetapi dapat juga digunakan untuk meneduh.

Dalam kuil itu ternyata dipuja tiga patung dari tiga orang saudara-angkat yang termasyhur pada jaman Sam Kok  dahulu. Mereka yalah Lau Pi, Kwan Kong dan Thio Hwi. Lau Pi berwajah tenang dan agung, di kemudian hari dia memang menjadi raja. Kwan Kong berwajah merah, gagah perkasa. Sedang Thio Hwi bermuka brewok, sangat bengis.

Aneh juga. Biasanya dalam kuil yang dipuja tentulah arca malaekat atau pun dewa2. Tetapi arca dalam kuil itu ternyata memuja patung dari tiga tokoh ternama pada jaman Sam Kok.

Hoa Sin telah memecah rombongannya menjadi tiga. Rombongan pertama berangkat dulu, terdiri dari Hoa Sin sendiri, Hong Hong tojin, Ceng Sian suthay, Blo'on dan Sian Li serta kakek Lo Kun.

Rombongan kedua, yalah ketiga tokoh dari gunung Tay- swat-san yakni si brewok Bo Kian, si tinggi Liong Kim Tong dan si mata-satu Pa Kim. Ketiga tokoh itu diminta mengambil jalan dari lamping gunung bagian kanan.

Sedang rombongan ketiga terdiri dari Pui Kian, tianglo Hoa- san-pay, Hong Ing dan beberapa anak murid Hoa-san-pay. Mereka diminta memimpin murid2 dari Siau lim-pay dan Bu- tong-pay. Mereka diminta mengambil jalan dari belakang gunung. Kepada mereka diperintahkan supaya mengobrak- abrik markas Seng-liau-kau. Jika perlu boleh dibakar saja.

Demikian keenam orang rombongan Blo'on itu terpaksa berteduh di kuil tua itu.

"Sial dangkal," Lo Kun menggerutu panjang pendek, "dapat tempat meneduh saja di kuil bobrok begini." "Sudahlah, lopeh,” Hoa Sin menghibur “dari pada  kehujanan di jalan, lebih baik kita meneduh di sini."

Karena perut kenyang dan suasana sepi, tak terasa mereka tertidur. Hoa Sin, Hong Hong tojin dan Ceng Sian suthay tidak tidur, melainkan pejamkan mata bersemedhi, memulangkan tenaga. Memang bagi tokoh2 semacam mereka, bersemedhi memulangkan tenaga itu sudah sama dengan tidur.

Tetapi tidak demikian dengan Blo'on dan Sian Li, terutama kakek Lo Kun. Mereka tidur pulas.

Karena tidak ada tempat yang bersih, kakek Lo Kun mencari akal. Dia duduk bersandar pada patung Thio Hwi yang bermuka bengis. Blo'on juga meniru. Dia memilih patung Kwan Kong yang berwajah merah Sedang Sian Li bersandar pada patung Lau Pi yang berwajah agung.

Tiba2 terdengar suara orang mengerang dan mendesuh keras seperti sesak napasnya. Dan menyusul tubuh kakek Lo Kun pun meronta-ronta, kedua tangannya mendekap leher dan berusaha untuk menyiak sesuatu.

Blo'on yang berada di samping, terperanjat. Ia melihat kedua tangan patung Thio Hwi itu tengah mencekik leher kakek Lo Kun. la hendak menolong tetapi … uh ....... tiba2 ia merasa tubuhnya kaku tak dapat digerakkan.

Sian Li juga mendengar. Tetapi ia juga tak dapat berkutik. Bahkan menggerakkan tubuh saja pun tak mampu. Ia hanya dapat melihat keadaan kakek Lo Kun yang keroncalan meronta-ronta. Yang membuatnya lebih terkejut lagi, ketika ia hendak berteriak memanggil ketiga ketua persilatan supaya menolong kakek Lo Kun, ternyata la tak dapat mengeluarkan suara. Rupanya Hoa Sin, Hong Hong dan Ceng Sian mendengar juga desuh napas kakek Lo Kun yang memburu keras seperti kuda lari. Mereka serempak membuka mata. Demi melihat keadaan kakek Lo Kun, cepat Hong Hong tojin loncat menghampiri.

"Lotiang, mengapa engkau? " tegur ketua Go-bi pay itu. "Aku dicekik patung ini," saat itu Lo Kun sudah dapat

bergerak karena tiba2 tangan patung itu pun melepaskan cekikannya.

Memandang ke arah patung Thio Hwi itu, Hong Hong tojin berkata : "Ah, jangan tergurau, totiang. Jelas sebuah patung bagaimana dapat mencekik engkau? Mungkin engkau bermimpi.”

Habis berkata ketua Go-bi-pay itu pun kembali ke tempatnya lagi seraya bergumam: "Orang tua itu memang rewel dan selalu ada2 saja. Masakan mengatakan kalau lehernya dicekik patung? "

Mendengar ocehan Hong Hong tojin, Hoa Sin dan Ceng Sian percaya. Keduanya segera pejamkan mata melanjutkan semedhinya lagi.

"Kurang ajar, masakan orang tidur enak2, engkau cekik leherku" gumam Lo Kun lalu berbangkit dan balas mencekik leher patung itu.

Sekonyong-konyong kedua tangan patung itu memeluk tubuh Lo Kun kencang2. Lo Kun terkejut dan meronta sekuatnya tetapi ia tak mampu melepaskan diri. Pelukan itu makin lama makin kencang sehingga Lo Kun sukar bernapas. Blo on dan Sian Li meiihat kejadian itu tetapi mereka tak dapat berbuat apa2. Blo'on rasakan tubuhnya lunglai sedang Sian Li tak dapat berkutik.

"Heh..... heh... , heh.....," karena napasnya sesak, Lo Kun hanya dapat mendesuh-desuh seperti orang bertele-tele.

Hong Hong tojin tak mau membuka mata. Ia tahu kakek itu seorang kakek sinting, hanya cari gara2 saja. Tetapi Hoa Sin terpaksa membuka mata. Ketika melihat kakek Lo Kun berpelukan dengan patung Thio Hwi, dia cepat berbangkit dan menghampiri.

“Mengapa lopeh mencekik leher patung itu? " tegurnya ketika melihat tingkah Lo Kun yang tengah mencekik leher patung.

Saat itu tangan patung sudah melepaskan pelukannya dan kembali seperti sikapnya semula, berdiri dengan tegak.

"Dia kucekik lehernya tetapi dia pun balas memeluk aku sekuatnya sehingga aku sampai tak dapat bernapas," kata Lo Kun seraya menarik tangannya, "Sudahlah, lopeh," kata Hoa Sin yang paham akan kelimbungan Lo Kun, "tidur saja, nanti pagi2 kita harus sudah berangkat."

"Aku memang mau begitu tetapi patung ini selalu mengganggu aku saja."

Tetapi Hoa Sin tak mau meladeni dan terus kembali ke tempat duduknya.

"Patung, jangan gila-gilaan," gumam Lo Kun, "kalau engkau terus menerus mengganggu aku, terpaksa engkau akan kuhajar." Habis berkata ia terus sandarkan diri pada kedua kaki patung itu, belum berapa lama kembali terdengar suara Lo Kun mendesah-desah seperti orang gelagapan terminum air.

Hong Hong tojin dan Hoa Sin karena sudah melihat sendiri bagaimana tingkah laku kakek itu, diam saja. Tetapi karena suara itu makin keras, Ceng Sian suthay terpaksa membuka mata. Ketika melihat kakek itu keroncalan tak henti-hentinya,, terpaksa ia berbangkit dan menghampiri.

Ternyata kepala Lo Kun telah terjepit kedua lutut patung itu. Begitu keras jepitan patung itu hingga kepala Lo Kun terasa pening. Dan celakanya pula, tiba2 tangan patung itu memijat hidung kakek Lo Kun sehingga kakek itu tak dapat bernapas. Itulah sebabnya mulut kakek itu mendesah-desah dan tubuhnya keroncalan. Dia bingung untuk melepaskan  yang mana du'u. Kalau hendak menyiak tangan patung yang memijat hidungnya, kepalanya makin terasa sakit dijepit lutut patung. Tetapi kalau hendak menyiak lutut patung, hidungnya yang dipencet tangan patung itu tak tertolong dan ia harus bernapas dengan mulut.

Tetapi begitu Ceng Sian suthay datang, maka lutut patung itu pun menyiak sendiri, demikian tangannya juga melepaskan hidung kakek Lo Kun.

"Kenapa lopeh menyusup ke bawah selakang kaki patung itu? " tegur Ceng Sian.

"Siapa yang berobos ke bawah selakangnya? Kepalaku dijepit lutut patung itu dan hidungku di pencet sampai tak dapat bernapas," kakek Lo Kun bersungut-sungut marah.

"Ah, sudahlah," karena mengetahui kakek itu tak kurang suatu apa, Ceng Sian suthay pun berkata, "baiklah lopeh tidur saja yang tenang." Tanpa menunggu jawaban orang, Ceng Sian suthay pun segera kembari ke tempat duduknya.

Dalam pada itu Blo'on tahu semua yang terjadi. Tetapi ia merasa tak dapat berbuat apa2.

"Ah, kenapa aku ini? " katanya dalam hati. Ia berusaha untuk menggerakkan tangan dan kaki tetapi tak dapat. Gila, pikirnya. Dan karena berulang kali tak dapat bergerak, akhirnya ia marah. Ia menahan napas beberapa saat, kemudian bersiap-siap mengumpulkan tenaga dan pada akhirnya ia memekik sekuat-kuatnya seraya berontak.

Brakkkkk ....

Kekuatan yang dihimpun Blo'on itu merupakan tenaga-sakti Ji-ih-sin kang. Dan sekali berhasil menghimpun dan memancarkannya, maka bebaslah dia dari pengaruh jalan- darahnya yang tertutuk. Bahkan karena dia menggerakkan tangan dan kakinya, maka patung Kwan Kong itu pun terlanggar tangannya. Patung itu ternyata terbuat dari perunggu. Tetapi tangan Blo'on yang bergerak dengan tenaga- sakti Ji-ih sin-kang telah menghantamnya hingga rubuh ....

"Hai, " serentak Blo'on melenting bangun dan kesima melihat sesosok tubuh manusia menyelinap ke luar dari pintu belakang. Pada lain saat ia pun terus loncat mengejar.....

Di luar gelap gulita. Hujan sudah mulai reda. Tetapi Blo'on tak menghiraukan. Ia panas hatinya karena sejak tadi telah dilumpuhkan orang itu.

Orang itu rupanya terkejut sekali melihat Blo'on dapat mengejarnya. "Gila benar, anak ini," gumamnya dalam hati. Saat itu jaraknya hanya tinggal tiga tombak. Tiba2 ia berhenti menunggu Blo'on.

"Siapa engkau! " bentak Blo'on setelah berhenti berhadapan dengan orang itu.

Dari sinar cuaca yang remang2, Blo'on melihat yang dihadapinya itu seorang tua bermuka tertawa.

"Bagaimana engkau lihat wajahku? " orang tua itu balas menegur.

"Engkau selalu tertawa saja, " sahut Blo'on.

"Nah, karena itu orang menyebutku sebagai Siau Bin lojin si orangtua berwajah tertawa. "

"Mengapa engkau mengganggu tidurku dalam kuil itu? " "Bodoh! " seru Siau Bin lojin, "jika aku tak mengganggumu,

mungkin engkau sudah mati. "

"Jangan bicara sembarangan saja! " bentak Blo'on.

"Kalau aku bohong, engkau boleh memaki atau pun menghajar aku," kata Siau Bin lojin, "jika engkau kembali ke kuil dan memeriksa patung itu baru engkau dapat membuktikan aku berbohong atau tidak. "

"Baik, " sahut Blo'on, "tetapi sekarang aku hendak menyelesaikan dirimu. Mengapa engkau mengganggu aku? Kalau engkau memang bermaksud baik, mengapa tak mau bilang dengan terus terang tetapi engkau telah melarikan diri seperti orang ketakutan? . Bukankah tingkahmu itu membuat orang curiga? "

"Goblok!" seru Siau Bin lojin, "kalau aku tak melarikan diri, mereka tentu dapat mengetahui diriku? " "Siapa mereka? " tegur Blo'on. "Jago2 Seng-lian kau!"

"Apa? " teriak Blo'on. "jago2 Seng-lian-kau? Mengapa aku tak melihat barang seorang manusia dalam kuil itu? "

"Memang tidak," sahut Siau Bin lojin,"tetapi patung2 itulah." Blo’on terbelalak, serunya : "Jangan mengoceh tak keruan.

Masakan patung2 itu engkau katakan jago2 Seng lian-kau!"

"Sudahlah, jangan banyak bicara!" bentak Siau Bin lojin, “lekas engkau kembali ke dalam kuil, mungkin saat ini kawan- kawanmu sedang menderita."

"Engkau ………. tiba2 Blo'on tak dapat melanjutkan kata- katanya karena orangtua itu sudah loncat dua tombak jauhnya dan terus melenyapkan diri dalam kegelapan gerumbul pohon. Gerakannya yang begitu tangkas, membuat Blo'on tertegun heran.

"Hm, kalau engkau berani membohongi aku, kelak kalau bertemu lagi tentu tak kuberi ampun," kata Blo’on lalu berputar tubuh dan terus lari kembali ke dalam kuil.

Bukan kepalang kejut Blo'on ketika saat itu kakek Lo Kun telah digepit dalam ketiak patung Thio Hwi, sedang patung Kwan Kong bertempur dengan Hong Hong tojin.

Ruang kuil amat sempit sehingga Hong Hong tojin terdesak menghadapi senjata pedang panjang dari patung Kwan Kong itu.

"Hong Hong kaucu." teriak Hoa Sin, "kita keluar saja!”

Ketua-ketua partai persilatan itu serentak Ioncat berhamburan keluar. Mereka siap menunggu di halaman kuil.

Tetapi sampai beberapa saat belum juga patung itu keluar. "Hoa pangcu, mengapa? Apa yang terjadi? " saat itu Blo'on lari menghampiri dan bertanya kepada Hoa Sin.

"Celaka, kongcu," kata Hoa Sin, "entah apa sebabnya tiba2 kedua patung itu dapat bergerak dan menyerang Hong Hong kaucu."

"Dimana kakek Lo Kun? “

"Dia ditawan oleh patung Thjo Hwi." "Sumoayku Sian Li? "

"Juga masih didalam dan ditawan oleh patung Kwan Kong" "Kita serbu!' teriak Blo'on terus lari masuk ke dalam kuil.

Dia melihat kedua patung itu masih tegak berdiri di tempat masing-masing. Dilihatnya kakek Lo Kun dan Sian menggeletak di bawah kaki mereka.

"Setan, engkau berani mencelakai kakekku." Blo'on terus menyerbu patung Thio Hwi.

Tiba2 patung itu gerakkan tangan kanan menyongsong ke muka dan Blo'on menjerit. Ia terlempar mundur membentur dinding tembok.

Blo'on tak mengira kalau patung itu dapat bergerak dan bahkan dapat memancarkan tenaga yang kuat sekali. Dia tak bersedia maka dia pun menderita.

Sebelum ia sempat berdiri tegak, patung Thio Hwi yang bersenjata tombak itu sudah mengenplangkan tombaknya ke kepala Blo'on. Untung Blo'on menyadari bahaya dan cepat melambung ke samping.

Bum .... Lintai hancur lebur dihantam tombak dari patung Thio Hwi itu. Debu bertebaran memenuhi ruang.

Patung Thio Hwi itu tak menghiraukan. Seolah dia tak tergetar dan tak terpengaruh akan debu yang bertebaran itu. Dia terus maju menusuk Blo'on lagi, krak.....

Blo'on dapat menghindari dan tombak pun menusuk dinding tembok. Hebat sekali tenaga patung Thio Hwi itu. Tembok kuil yang cukup tebal, dapat ditembuskan dan berlubang besar.

Dengan gagah perkasa patung Thio Hwi itu mengamuk. Dia menyerang Blo'on habis-habisan.

Blo'on heran. Bermula ia agak gentar menyaksilan keperkasaan patung itu. Tetapi beberapa waktu kemudian timbullah rasa penasaran dalam hatinya.

"Hai, engkau ini patung atau manusia? ” teriaknya sehabis menghindari sebuah tusukan tombak patung itu.

Namun patung Thio Hwi ini tak menghiraukan. Dia hanya menjawab dengan sebuah serangan yang lebih dahsyat. Memang serangannya yang satu lebih dahsyat dari yang lain.

Ketika tombak patung Thio Hwi menghantam dinding lagi, cepat Blo'on menyambar tombak itu. Kini terjadilah tarik menarik diantara keduanya.

Dengan menggerung keras, patung Thio Hwi menarik tombak sekuat-kuatnya. Tetapi dia terbelalak kaget ketika tarikan itu berhasil karena Blo’on memang melepaskan cekalannya. Patung Thio Hwi tersurut setengah langkah ke belakang.

Saat itu tak disia-siakan Blo'on. Ia loncat maju dan menghantam dada patung Thio Hwi, duk..... "Aduh, " Blo'on menjerit kesakitan tetapi patung Thio Hwi itu pun terjerembab ke belakang.

Dengan menahan kesakitan, Blo’on terus Ioncat menerjang lagi. Ia merampas tombak patung itu.

Rupanya patung itu bukan patung sesungguhnya tetapi seorang manusia. Begitu melihat Blo'on menerjang, ia terus dorongkan kedua tangannya menyongsong.

Blo'on juga songsongkan kedua tangannya ke muka. Dan manusia patung itu pun mendesuh keras lalu terpelanting ke belakang lagi.

Rupanya manusia patung itu masih belum puas. Ia bergeliat bangun lalu perlahan-lahan mengangkat tangan kanan ke atas.

" Kim kongcu, awas, dia hendak melancarkan pukulan Hong-im-ciang! " tiba2 terdengar Hoa Sin ketua Kay-pang menerobos masuk dan berseru memberi peringatan kepada Blo'on.

Terapi Blo'on tak tempat menghiraukan. Ia pun perlahan- lahan mengangkat tangannya, persis menirukan gerak manusia patung yang berbentuk seperti Thio Hwi itu.

Thio Hwi adalah seorang panglima perang yang gagah perkasa pada jaman Sam Kok (Tiga Negeri ) dahulu.

Ketika manusia patung itu menyorongkan tangannya ke muka, Blo’on pun juga. Dessss .... terdengar bunyi macam api tersiram air. Dan ketika itu manusia patung yang berbentuk seperti panglima Thio Hwi pun menjerit dan meraung keras. Dia terseok-seok ke belakang membentur meja dan terus rubuh. Ternyata pukulan sakti Hong im ciang atau pukulan Im merah yang mampu membakar sasaran, telah tertolak oleh tenaga sakti Ji-ih-sin-kang yang dimiliki Blo'on. Memang rasanya tiada tenaga yang lebih aneh dan sakti dari tenaga Ji- ih sin-kang itu. Ji ih-sin kang mampu mengikuti kemudian menolak segala jenis tenaga-dalam yang bagaimana sifatnya, panas, dingin, keras mau pun lunak.

Karena tenaga-sakti Hong im-ciang yang dilancarkan manusia patung itu tertolak balik, dia termakan sendiri oleh tenaga saktinya dan akibatnya ia rubuh menderita luka dalam yang parah.

Melihat kawannya rubuh, patung Kwan Kong yang berwajah merah segera menuding ke arah Blo’on dengan sebuah jari telunjuk. Singgg .... terdengar bunyi desis tajam melanda Blo'on. Blo'on terkejut. Buru2 ia menghindar ke samping tetapi tak urung bajunya telah berlubang juga. Juga dinding tembok yang di belakangnya ikut berlubang.

"Kek-gong-it-ci kang!" teriak Hoa Sin terkejut. Kek-gong-it- ci-kaag artinya dengan sebuah jari dapat menutuk dari jarak jauh.

"Siapa? " seru Ceng Siau suthay.

"It-ci-sin-kang Jui Pok, tokoh dari gunung Se-gak yang sudah tak terdengar selama empatpuluh tahun."

"Benarkah dia? " Ceng Sian suthay makin tegang.

"Dalam dunia persilatan rasanya tiada tokoh yang mampu melepaskan tutukan sebuah jari dengan hasil yang begitu dahsyat," sahut Hoa Sin.

"Dia orang baik atau jahat, Hoa pangcu? " tanya Blo'on. “Dia memang seorang tokoh yang berwatak aneh. Sepak terjangnya hanya menuruti sekehendak hatinya. Dia tak tergolong aliran Hitam juga bukan tokoh aliran Putih," jawab Hoa Sin, "kong-cu. engkau harus hati2 benar terhadap dia."

"Tetapi dia seperti manusia patung. Tak dapat bicara dan menyerang dengan kalap," kata Blo'on.

"Mungkin seperti manusia patung yang menyerupai Thio Hwi tadi, dia juga sudah hilang kesadaran pikirannya. Rupanya dia tentu telah dikuasai Seng-liau kau."

"Kim kongcu, kasihlah aku yang menghadapinya, " kata Hoa Sin.

"Hoa pangcu, " seru Ceng Sian suthay, "jika manusia patung itu benar lt-ci-un kang Jui Pok, jangankan Hoa pangcu sekali pun kita bertiga maju berbareng, rasanya masih belum dapat menandingi kesaktian orang itu. Dahulu mendiang sukuku pernah menceritakan tentang tokoh itu. Suhu pesan, apabila bertemu dengan dia supaya berhati-hati dan jangan sampai menimbulkan kemarahannya."

"Terima kasih, suthay, " jawab Hoa Sin, “tetapi aku sudah mempunyai cara untuk menundukkannya."

Kemudian ketua Kay pang itu membisiki beberapa patah kata ke telinga Blo’on. Blo'on mengangguk-angguk.

Hoa Sin terus loncat ke muka manusia patung itu dan sebelum orang sempat menggerakkan jarinya, Hoa Sin menyerangnya.

Berulang kali orang itu mendesuh kejut karena hantamannya selalu salah dan dia berbalik terancam oleh pukulan Hoa Sin. Ternyata Hoa Sin telah mengeluarkan ilmu silat yarg baru saja diciptakannya. Ilmu silat itu diberi nama Joh bong-siang atau pukulan berlawanan arah. Kalau suaranya menyerang kiri, pukulannya datang dari kanan, demikian sebaliknya.

Rupanya siasat Hoa Sin itu memberi hasil. Manusia patung yang berujud Kwan Kong itu agak bingung. Dia tak sempat mempergunakan jarinya untuk melukai lawan.

Dan sebagai ketua partai Kay-pang sudah tentu Hoa Sin memiliki kepandaian yang tinggi disamping itu Hoa Sin memang cerdas sekali. Hasilnya selama berkelana mencari jejak Blo'on dia telah mencintakan ilmusilat Salah-arah itu.

Dia memang sengaja menyerang rapat pada lawan agar orang itu tak sempat melancarkan pancaran jari-saktinya.

Kek-gong-it ci-kang Jui Pok memang hebat sekali. Walau pun dia kehilangan kesadaran pikirannya tetapi ilmusilatnya masih hebat. Dalam beberapa waktu ia sudah dapat menyesuaikan diri dengan gaya serangan lawan.

Krak ....

Terdengar bentrokan keras ketika Jui Pok menangkis pukulan Hoa Sin. Hoa Sin tak mengira kalau lawan sudah dapat mengimbangi permainannya, ia hanya mengerahkan sepertiga bagian tenaga dalamnya, sedang Jui Pok hampir tiga bagian. Sudah tentu Hoa Sin menderita. Ia rasakan lengannya kesemutan dan tersurut mundur. Melihat itu Jui Pok pun cepat hendak gerakkan jarinya untuk menutuk .,..

Sekonyong-konyong seutas benda panjang macam tali meluncur menyerang ke muka Jui Pok hingga tokoh itu gelagapan untuk menampar. Dan pada saat perhatiannya ditujukan pada benda yang menyambar mukanya itu, tiba2 ia mendengus tertahan ketika sebuah benda keras membentur perutnya.

"Hekkk .. Jji Pok kontal ke belakang. Sebelum ia dapat berdiri tegak, kakinya telah disapu orang, blus .... tak ampun lagi tokoh yang termasyhur pada empatpuluh tuhun berselang, terbanting jatuh ke lantai. Sebelum ia sempat bangun, dadanya sudah dicemplak orang dan kakinya pun diringkus.

Ternyata benda macam tali tadi adalah ular Thiat-bi-coa milik kakek Lo Kun. Memang kakek itu sudah sadar. Ketika melihat Jui Pok hendak menutuk Hoa Sin, kakek itu segera lontarkan ular Thiat-bi coa lalu membenturkan kepalanya ke perut orang itu. Dan yang menyapu kaki Jui Pok tak lain adalah Blo'on. Kemudian Lo Kun terus mencempiak dan menindih perut, sedang Blo'on yang meringkus kaki Jui Pok.

Jui Pok mati kutu. la menggerung sekuat-kuatnya dan meronta, Tenaga dalam yang terpancar dari seorang tokoh macam Jai Pok, bukan alang-kepalang hebatnya.

Seketika kakek Lo Kun mencelat ke atas dan kepalanya membentur genteng, brak ....

"Celaka!" teriaknya. Kepalanya telah terjepit pada genteng sehingga tubuhnya terkatung-katung di atas, tidak dapat menerobos ke atas, juga tak dapat meluncur ke bawah. Dengan sekuat tenaga kakek itu meronta, dan berhasillah ia meluncur ke bawah.

Beda dengan Blo'on, Ketika Jui Pok meronta den menendangkan kakinya, tenaga Ji-ih-sin kang Blo'on memancar sehingga tubuh Jui Pok ikut melambung ke atas kemudian meluncur ke lantai lagi, duk.... duk .... Selekas tubuh Jui Pok membentur lantai, Lo Kun yang meluncur dari atas genteng tadi pun tepat jatuh di perut Jui Pok. Seketika Jui Pok tak ingat diri Iagi.

"Hendak diapakan manusia patung ini? * tanya Lo Kun. "Lebih baik diikat. Tunggu setelah kita dapat menyelesaikan

kawanan Seng-lian-kau, baru kita tolong lagi dia. Rasanya dia

tentu diracuni orang Seng lian-kau sehingga kesadaran pikirannya hilang," kata Hoa Sia.

Sementara itu Sian Li pun telah disadarkan.

"Rupanya pihak Ssng-Iian-kau telah memasang beberapa rintangan di sepanjang jalan ke atas puncak," kata Ceng Sian suthay.

"Sungguh tak kuduga kalau patung ternyata manusia hidup," Lo Kun menggerutu, “mereka dapat menggangu tidurku seenaknya seja."

Mereka beristirahat beberapa waktu sampai hari terang tenah barulah mereka berangkat mendaki lagi.

Tak berapa Iama mereka sudah melihat bangunan gedung yang menjulang tinggi di kejauhan muka.

"Gedung itu mirip sebuah vihara," seru Sian Li, "apakah markas Seng-liau-kau? "

"Kita obrak-abrik saja sarang mereka," seru Lo Kun.

Mereka makin dekat. Tetapi alangkah kejut mereka ketika jalanan terputus oleh sebuah jurang yang tak kurang dari tiga tonbak lembarnya.

"Ah," Hoa Sin mendesuh kejut, “hebat benar Seng-liau-kau membangun markasnya." Ternyata jurang yang curam itu mengelilingi sebuah tanah lapang yang luas dimana gedung vihara itu didirikan. Dengan begitu apabila hendak mencapai daerah markas itu, harus menggunakan jembatan atau alat lain2. Tetapi sekeliling jurang itu tak tampak barang sebuah jembatan maupun tali yang menghubungkan pada kedua tepi.

"Ah, bagaimana kita harus mencapai tepi seberang sebelah sana? ” Lo Kun bersungut-sungut.

"Tunggu,” seru Blo'on lalu menghampiri ke dekat tepi jurang lalu menahan napas dan terus menghamburkan teriakan yang nyaring sekali:

"Hai, orang Seng-lian kau, kami datang memenuhi undanganmu "

"Mereka tidak mengundang kita, kongcu.” tukas Hoa Sin, " undangan waktu mereka mengadakan upacara merayakan berdirinya partai Seng-lian-kau sudah lama lampau."

"Orang Seng-Iian-kau," mengapa kalian tak berani unjuk diri?  Kami datang ke mari untuk mengabrak-obrik sarangmu! " tiba2 Lo Kun berteriak.

Walau pun, kumandangnya kalah nyaring dengan teriakan Blo'on tetapi cukup keras juga.

Tiada penyahutan apa2, juga tak seorang pun muncul dari vihara itu. Keadaan di sekeliling vihara dan tanah  lapang, sunyi senyap.

"Mungkin mereka masih tidur," kata Lo Kun, "lalu bagaimana kita ini? "

Hoa Sin tertawa kecil : "Hanya dua buah jalan. Kita tunggu sampai nanti ada orang yang muncul atau kita loncat melintasi mulut jurang ini! " "Huh, " kakek Lo Kun mengeluh ngeri, "siapa yang mampu melompati jurang begini lebar? "

"Hanya suko seorang, " seru Sian Li.

"Aku? " Blo’on terkejut, "mana aku bisa? "

Hoa Sin mengakui memang di antara rombongan nanya Blo’on yang dapat melompati mulut jurang itu. Tiba2 ia mendapat akal. Ia segera meninggalkan mereka dan menuju ke sebuah hutan bambu. Di situ dia menebang beberapa puluh batang bambu lalu dijalinnya menjadi tali bambu yang cukup kokoh. Dengan membawa berpuluh utas tali bambu ia kembali lagi.

"Kim kongcu. mari kita buat jembatan dari tali bambu ini, " katanya.

"Bagus, Hoa pangcu," seru Blo'on gembira.

"Tetapi kongcu yang harus membuat," kata Hoa Sin pula. "Aku? " Blo'on heran, "bagaimana caranya? "]

"Kongcu dengan membawa ujung tali bambu, loncat ke seberang tepi sana "

" Mana mungkin aku dapat melakukan, pangcu? " Blo'on memprotes.

"Kongcu memiliki tenaga sakti yang luar biasa, tetapi kongcu tak menyadari dan tak tahu bagaimana harus memancarkannya."

"Ya, memang aku sendiri juga aneh. Entah bagaimana cara untuk memancarkan tenaga itu,” kata Blo'on.

"Mudah," kata Hoa Sin, "silahkan kongcu berdiri di tepi jurang ini dan pejamkan mata." "Lalu? "

"Kongcu tentu dapat melayang sendiri ke seberang sana. " “Benar? "

"Benar. "

"Baiklah, " Blo'on terus berdiri tegak menghadap ke seberang di muka. Ia pejamkan mata.

" Lopeh, “ tiba2 telinga Lo Kun terngiang oleh suara macam nyamuk mendenging, "lekas engkau dorong tubuh Blo’on sekeras-kerasnya. Dia tentu dapat melompati jurang itu.”

Lo Kun menurut. Segera ia lari dan terus mendorong tubuh Blo'on.

" Huh ....... " Blo'on menjerit kaget. Ketika membuka mata ia makin terkejut karena saat itu ternyata tubuhnya sedang melayang turun ke dalam jurang.

"Celaka ..." cepat ia meronta dan bergeliatan. Aneh juga. Seketika tubuhnya melayang ke atas dan dapat mencapai tepi di seberang muka.

"Kim kongcu, sambutilah ujung tali ini, " seru Hoa Sin seraya melemparkan ujung tali yang sudah diikat dengan batu. Blo’on pun menyambuti. Berturut-turut. beberapa tali itu dilontarkan Hoa Sin dan disambut Blo:on. Dan dapatlah terbentuk sebuah jembatan tali yang terdiri dari berpuluh tali bambu.

Sian Li, Hong Hong tojin, Ceng Sian suthay, Lo Kun lalu Hoa Sin, mereka segera melintasi jembatan gantung itu.

Pada saat mereka masih di tengah-tengah jembatan, tiba2 dari arah vihara terbang seekor burung besar, burung garuda. Burung itu segera menyerang rombongan Hoa Sin. "Jahanam!" teriak Lo Kun. Karena rombongan harus bergerak menghindari serangan garuda, jembatan itu pun berguncang guncang keras, maka Lo Kun menjerit-jerit.

Melihat itu Ceng Sian suthay segera taburkan dua biji senjata rahasia Thi-lian-cu atau teratai-besi ke arah mata garuda. Tetapi burung itu lihay sekali. Dia dapat mematuk jatuh thi-lian-cu itu dengan paruhnya yang keras.

Sian Li menggunakan pedang Pek-liong-kiam untuk melindungi diri. Kakek Lo Kun mengeluarkan ular thiat-bi coa dan Hoa Sin pun terpaksa memakai tongkat penggebuk anjing atau bak-kau-pang.

Berulang kali tubuh burung itu tersabat dan terhantam tongkat tetapi rupanya burung itu keras sekali tubuhnya. Dia seolah tak mempan, badannya sekeras besi. Walau pun tak kalah tetapi kelima orang itu sibuk juga menghadapi serangan garuda.

" Nona Liok, jangan berhenti, terus berjalan menghampiri tepi dan dengan secepatnya terus naik ke daratan." seru Hoa Sin.

Mereka bergerak pelahan dan akhirnya dapat menoapai daratan tepi.

"Pengecut sekali orang2 Seng-lian-kau itu," teriak Lo Kun marah2, "didalam kuil kita diganggu si Jui Pok, sekarang disambar burung garuda keparat."

Tiba2 burung garuda itu lepaskan serangannya dan terbang ke atas lalu hinggap pada sebuah batu tak jauh dari tempat mereka.

Hoa Sin terkesiap. "Apakah dugaanku benar? " pikirnya. Ia terus berteriak sekeras-kerasnya : "Hai garuda Sin-eng, bukankah engkau ini burung piaraan Kek-gong-it-ci kang Jui Pok? Dia sekarang sedang tidur dalam kuil, hayo, engkau lekas menjemput tuanmu ke sana! “

Aneh sekali. Diluar dugaan, garuda sakti yang tadi menyerang begitu ganas, ketika mendengar Hoa Sin  menyebut nama Jui Pok, terus terbang menuju ke kuil.

"Hai, apa-apaan burung gila itu? " teriak Lo Kun sembari mengacungkan tinjunya dengan geram. Rupanya dia masih marah kepada burung itu.

"Sudahlah, lopeh," kata Hoa Sin, "dia burung piaraan Jui Pok yang jadi patung Kwan Kong tadi. Yang kuherankan mengapa tokoh sakti semacam Jui Pok dapat dikuasi orang Seng-Iian-kau? "

"Kita tanya saja pada ketua Seng-lian-kau," seru Lo Kun seraya ayunkan langkah.

Suasana vihara itu masih sunyi. Tiada penjaga sama sekali, Dung ..... dung ..... dung ....

Kakek Lo Kun terus mendebur pintu sekeras-kerasnya seraya berkaok-kaok: "Hai, buka pintu, lekas buka pintu! "

Pintu terdengar berderak derak dan pelahan-lahan terbuka.

Seorang lelaki tua bungkuk muncull dan memaki-maki :

"Hai, orang gila manakah yang pagi2 sudah menggembrong pintu? "

"Aku bukan orang gila....., " baru Lo Kun berteriak demikian, tiba2 matanya terbelalak, " engkau .... engkau .......

" ia tergagap-gagap ketika melihat penjaga pintu itu. Tiba2 penjaga pintu itu bersuit dan seekor anjing bulu kuning segera berlari-lari muncul dari dalam vihara.

"Kuning, gigitlah pantat orang gila itu, " teriak penjaga pintu sambil menuding kepada kakek Lo Kun.

Anjing Kuning itu menggereng buas lalu menerjang tetapi secepat itu Sian Li pun berteriak: "Kuning !"

Anjing itu berhenti, memandang Sian Li lalu menggereng pula. Pada lain saat dia loncat menerkam Sian Li. Nona itu terkejut. Ia tak menyangka maka tak bersiap. Untung pada saat yang berbahaya itu Blo'on loncat dan menampar kepala anjing itu : " Jangan mengganggu sumoayku, anjing gila!"

Anjing-itu terlempar dan berguling-guling ke tanah. Meraung-raung kesakitan. Beberapa saat kemudian tiba2 binatang itu bangkit lalu menghampiri Blo'on. Melihat itu Blo'on siap hendak menamparnya lagi tetapi Sian Li mencegahnya: "Jangan suko, dia sudah jinak ”.

Memang sinar mata anjing itu tidak sebuas tadi, ia menghampiri Blo'on dan menjilat-jilat kaki pemuda itu. Sikapnya seperti sudah kenal lama.

"Suko, itulah anjing Kuning suko, " seru Sian Li.

" O, ya, ya, aku ingat sekarang," kata Blo'on, "mengapa dia di sini? "

"Suko, " seru Sian Li pula. " bukankah kakek penjaga pintu kakek Kerbau Putih? "

" Apa iya? " seru Blo'on terkejut, "mengapa dia menjadi penjaga pintu vihara Seng-lian-kau? ”

"Memang benar, dia si Kerbau Putih yang hilang itu," kata Lo Kun seraya menghampiri. " Hai, Kerbau Putih, ternyata engkau masih hidup? " tegurnya.

"Orang gila, jangan ngoceh tak keruan! Siapa yang engkau panggil Kerbau Putih? Aku seorang manusia, bukan kerbau. Aku manusia hidup mengapa engkau terkejut? ” penjaga pintu marah.

"Gila," balas kakek Lo Kun. "baik2 kutegur engkau, mengapa engkau malah marah2 seperti orang gila? Bukankah engkau Kerbau Putih dulu? "

"Kakek edan," teriak penjaga pintu itu, "aku bukan terbau, aku manusia!"

"Manusia bungkuk," teriak Lo Kun mulai penasaran, "bukankah namamu Kerbau Putih? "

"Bangsat gundul!" penjaga pintu itu balas memaki, "biar bungkuk aku seorang manusia. Namaku bukan Kerbau Putih, aku penjaga pintu vihara agung Seng-lian-kau."

"Siapa namamu? "

"Gu Mo Ong, pangkat Sin-bun-su vihara Seng-Iian-kau.

Hayo lekas beri hormat kepadaku!" teriak penjaga pintu itu.

Sian Li heran. Jelas penjaga pintu itu adalah kakek Kerbau Putih, mengapa dia menyangkal? Apakah didunia ini terdapat dua orang yang sama rupa dan perawakannya?

"Kakek Kerbau Putih," akhirnya ia coba menjelaskan, "memang kakek ini adalah kakek Kerbau Putih dalam rombongan kami yang dipimpin sukoku Blo'on."

Penjaga pintu itu deliki mata kepada Sian Li, serunya : "Budak liar, siapa kakekmu itu? Engkau cantik, sayang

kalau engkau ikut-ikutan seperti kakek jelek itu." Dikata kakek jelek, marahlah Lo Kun.

"Hai, orang bungkuk." teriaknya seraya menuding penjaga pintu itu, "engkau memang Kerbau Putih yang pernah jadi kawanku tempo dulu. Kalau engkau menyangkal dirimu sendiri, pun boieh saja. Kita putus hubungan, juga tak apa2. Tetapi janganlah engkau memaki aku kakek jelek. Apakah engkau ini tak lebih jelek dan aku? "

''Orang gila, enyahlah engkau!" penjaga pintu balas memaki dan mengusir. Disini vihara Seng-lian-kau yang suci, tidak kuijinkan manusia gila seperti engkau mengotori vihara ini!"

Lo Kun makin marah Ia terus maju dan menjotos penjaga pintu itu. Penjaga pintu juga tak mau mandah begitu saja dipukul. Ia menangkis lalu balas memukul.

Kedua kakek itu segera berhantam. Makin lama makin seru. Dari serang-menyerang dengan jurus ilmusilat mereka terus bergelut. Ternyata kepandaian mereka memang seimbang. Sampai beberapa saat belum ada yang menang dan kalah.

"Suko, lerailah mereka," Sian Li meminta kepada Blo'on "tentulah kakek Kerbau Putih itu sudah kehilangan ingatannya hingga dia lupa kepada kita"

"Ya, memang kakek Kerbau Putih itu aneh,” kata Blo'on, “tetapi apakah dia benar kakek Kerbau Putih kita itu? "

"Eh, engkau ini bagaimana suko. Jelas dia itu memang kakek Kerbau Putih dulu. Sedangkan kakek Lo Kun pun ingat, masakan engkau lupa."

"Kalau begitu, tunggulah," seru Blo'on. Dia terus maju dan membentak : "Hai. kamu kedua kakek limbung! Ayo, berhenti dulu!" Namun kedua kakek itu tak menghiraukan. Mereka masih bergulat, cengkram mencengkram, tindih, bahkan gigit- menggigit.

"Hai, kakek gila, kalian mendengar tidak? " teriak Blo'on, "berhenti, aku mau bicara!"

Namun kedua kakek itu tak menggubris. Melihat itu Blo'on jengkel. Ia terus mencengkeram bahu kakek Lo Kun dan ditarik ke atas.

„Aduh, aduh ..." Lo Kun menjerit-jerit kesakitan, "kakiku digigit kakek edan itu!"

Blo'on memang melihat kakek penjaga pintu masih mendekap kaki Lo Kun dan menggigitnya. Ia merasa kasihan pada kakek Lo Kun yang ditariknya itu. Maka segera ia lepaskan cekelannya dan berganti menyeret tubuh kakek penjaga pintu.

"Aduh, keparat, bedebah .....!" sekarang kakek penjaga pintu yang berkaok-kaok kesakitan. "Aduh. hih, geli juga .....

ketiakku dicengkeram kakek gila!”.

Memang pada saat Blo'on menyeret tubuh kakek penjaga pintu, kakek Lo Kun terus menerkam ketiak orang dan diremasnya keras2.

Terpaksa Blo’on lepaskan kakek penjaga pintu lalu beralih memeluk tubuh kakek Lo Kun dan ditariknya ke belakang. Kesempatan itu digunakan kakek Kerbau Putih untuk balas dendam. Disambarnya kaki kakek Lo Kun lalu ditekuknya keras2.

"Aduh , kakinya putus," Lo Kun kesakitan. Tetapi kali ini Blo'on tak mau melepaskan tubuh kakek Lo Kun. Mengisar langkah ia mendupak kakek Kerbau Putih sekeras-kerasnya.

'Uh....." kakek Kerbau Patih terlempar sampai beberapa langkah ke belakang. Dengan begitu dapatlah Blo'on melerai mereka. Kemudian ia melangkah ke tengah mereka.

"Hai. dengarkan. Aku mempunyai cara untuk menemukan siapakah dtantara kalian berdua yang lebih sakti," kata Blo'on.

"Katakan," teiiak Lo Kun.

"Akan kuuji kalian dengan dua buah kepandaian. Pertama, angkatlah tubuhku Barangsiapa yang kuat mengangkat tubuhku sampai ke atas kepala, dia menang. Dan kedua, pukullah aku, siapa yang dapat memukul aku sampai rubuh, dia yang menang. Mau? "

"Setuju." seru kakek penjaga pintu, "siapa yang mulai memukul dulu? "

"Engkau," seru Blo'on kepada penjaga pintu itu.

"Baik," sahut kakek Kerbau putih seraya singsingkan lengan jubah dan menghampiri ke muka Blo’on. Terus memegang tengkuk dan pantat Blo'on lalu diangkatnya.

"Huh ... huh .....," tiba2 kakek itu mendesuh desuh. Sampai mukanya merah dan keringat bercucuran, tetapi dia tak mampu mengangkat tubuh Blo'on.

“Engkau menggunakan ilmu setan," akhirnya karena tak berhasil dia marah2.

“Sudahlah, engkau menyisih saja ke samping, biar kakek Lo Kun yang mencobanya,” seru Blo'on. Lo Kun pun segera singsingkan lengan baju lalu mengangkat.

"Hek .... hek ....," meski pun sudah berulang kali kakek Lo Kun kerahkan tenaga, tetap dia tak mampu mengangkat tubuh Blo'on. Dia rasakan tubuh Blo'on. memancarkan tenaga-tolak sebesar tenaga yang dikerahkannya untuk mengangkat tubuh Blo'on. Sampai merah padam mukanya tetapi kakek itu tak mampu mengangkat tubuh Blo'on.

“Engkau curang," teriak kakek penjaga pintu, "engkau pinjam tenagaku untuk menahan tenagaku. Sudah tentu aku tak. dapat mengangkat."

"Lalu bagaimana maksudmu? " tanya Blo'on.

"Eugkau naik dulu ke atas punggungku lalu kuangkatmu ke atas. Kalau aku tak mampu, aku menyerah kalah, berani? "

"Setuju! " sambut Bio'oa serentak.

Kakek penjagu pintu ilu terus berjongkok dan Blo'on pun terus mencemplak dan menginjak benjolan daging pada punggung kakek itu.

Kakek penjaga pintu berdiam diri sejenak. Rupanya dia sedang kerahkan tenaganya. Pada lain saat ia berteriak keras : " Naik !"

Tubuh Blo'on memang terangkat naik bersama punggung kakek penjaga pintu. Tetapi pada saat penjaga pintu itu hampir berdiri tegak, tiba2 dia terperosok ke bawah Iagi.

Dia penasaran sekali. Dihimpunnya segera tenaga lalu dengan menggembor keras ia melonjak sembari menyangga tubuh Blo'on. Memang seketika Blo'on ikut terangkat naik tetapi sesaat kemudian kakek penjaga pintu itu menjerit rubuh. Kali ini memang sakit sekali dia.

Bukan saja kakinya tergempur sehingga terkapar ke lantai, pun punggungnya masih terinjak kaki Blo'on.

"Tobaaat .....!" ia menjerit dan pingsan. Rupanya dia tak tahu apa yang terkandung dalam tubuh Blo'on. Ji ih sin-kang merupakan tenaga sakti yang aneh, dapat mekar dan melingkup seperti karet. Makin keras menerima pukulan orang makin keras dia akan memantulkan tenaga-tolak.

Kakek penjaga pintu mengerahkan seluruh tenaga- dalamnya dan akibatnya dia telah ditindih oleh tenaga-tolak yang mengembalikan tenaganya itu.

Melihat kakek penjaga pintu pingsan, Blo'on segera turun dari punggungnya. Tetapi secepat itu kakek Lo Kun terus menghampiri dan memeluk tubuhnya.

"Sekarang giliranku yang akan mengangkat tubuhmu! " teriak kakek Lo Kun.

"Gila, " Blo'on menjerit karena tubuhnya terangkat.

"Jangan kakek Lo, tak usah mengangkat tubuh suko," teriak Sian Li seraya menarik baju Lo Kun.

Juga Blo'on meronta sehingga Lo Kun terlempar dan terhuyung dua langkah!..

" Tidak bisa, " teriak Lo Kun, "kita sudah berjanji hendak adu tenaga mengangkat tubuh anak muda itu. Kakek penjaga sudah mengangkat, aku pun harus pegang janji."

"Ah, lopeh, tak usahlah, " Hoa Sin ikut mencegah, "katakan saja kalau engkau sudah berhasil mengangkatnya." "Bohong! Engkau berani mengajari aku berbohong. Tidak bisa! " Lo Kun deliki marah kepada ketua Kay-pang. itu.

Kemudian ia berkeras juga hendak mengangkat tubuh Blo'on.

"Kim kongcu, turuti saja kemauannya dan biarkanlah dirimu diangkatnya. Jangan menggunakan tenaga dalam untuk meronta," tiba2 telinga Blo'on terngiang suara macam nyamuk. la menurut dan biarkan dirinya diangkat kakek Lo Kun.

"Ya, engkaulah yang menang karena dapat mengangkat tubuhku," kata Blo’on tertawa.

Lo Kun terus menghampiri ke tempat kakek penjaga pintu : "Hai, kerbau tua, hayo bangun.”

Tetapi diguncang dan ditarik berulang kali ternyata kakek penjaga pintu itu diam saja. Dia masih pingsan. Tetapi pijakan Blo'on pada daging benjol di punggungnya itu memberi akibat yang hebat. Kakek itu pingsan berat.

" Ah, dia mati!" teriak Lo Kun.

Sian Li terkejut dan memeriksa : "Ah, tidak, dia belum mati, musih bernapas.”

Blo'on kasihan. Dialah yang menyebabkan kakek itu pingsan dan menderita luka parah. Dia harus dapat menyembuhkan. Ia teringat masih mempunyai beberapa biji buah som seribu tahun (Hay-te cian-han-som). Ia mengambil dua butir dan menyusupkan ke dalam mulut kakek itu.

Belum kakek itu siuman, tiba2 dari dalam ruang muncul dua orang kacung berpakaian paderi.

"Hai, siapa kalian ini? Hai, mengapa tukang jaga pintu itu?  " teriak kedua paderi anak itu seraya lari menghampiri. Saat itu kakek Lo Kun sedang mengusap-usap dada kakek tukang jaga pintu supaya lekas siuman. Tahu2 telinganya dijiwir oleh kedua anak itu dan terus dilempar ke belakang.....

" Aduh. " Lo Kun menjerit kesakitan.

Kedua daun telinga merah dan panas sekali.

"Bangsat, engkau berani menjiwir telingaku? " ia terus lari menubruk kedua anak itu, maksudnya hendak dihajar.

Tetapi kedua anak itu bergerak lincah sekali. Setelah masing2 menghindar, dengan cepat mereka meringkus Lo Kun lalu dilemparkan, bum ....

Jatuh ke lantai sampai tiga tombak jauhnya menyebabkan Lo Kun meringis kesakitan. Terpaksa ia harus bangun dengan merangkak.

"Kunyuk cilik, berani benar engkau melemparkan kakekmu? ” ia terus lari hendak menerkam kedua anak itu tetapi kedua anak itu lincah sekali.

Melihat itu Blo'on merasa sebal. Dengan sebuah gerak yang tak disangka-sangka ia menyambar tangan kedua anak itu: "Jangan kurang ajar engkau!”

Kedua anak itu terkejut. Mereka meronta dan menghantam Blo'on. Tetapi mereka menjerit karena pukulan yang dilontarkan itu memancarkan tenaga tolak yang mendampar mereka sendiri. Kedua anak itu terlempar. Lo Kun menyambut mereka dengan tamparan pada kepalanya dan mereka pun terus jatuh ke lantai.

"Omitohud!" tiba2 terdengar suara orang berseru dan muncullah tiga orang lelaki tua terdiri dari seorang paderi, seorang imam dan seorang pertapa. “Hui Gong siansu ..... Ang Bin tojin .... Sugong pangcu!" serentak berserulah Hoa Sin ketika melihat ketiga orang itu..

Ceng Sian suthay, Hong Hong tojin pun terkejut. Mereka berseru menegur dan segera menghampiri.

"Ah, siapakah kalian ini? " paderi tua itu terkejut, “kami baru saja bertemu kali ini, bukan? ''

Hoa Sin, Ceng Sian dan Hong Hong tojin terbelalak. “Bukankah taysu ini Hui Gong siausu, Ang Bin totiang dan Sugong In pangcu? Mengapa taysu sekalian lupa kepada kami? "

Ang Bin tojin terkejut: "Ah, mungkin saudara salah lihat. Jelas kami tak pernah bertemu dan belum pernah mengenal saudara2 ini semua."

"Hui Gong taysu. Ang Bin totiang, Sugong losu, mengapa taysu sekalian lupa kepada kami? ” teriak Sian Li yang heran atas sikap mereka.

"Li-sicu, harap jangan bicara seenakmu sendiri. Kami adalah Ti-khek-ceng (paderi2 penerima tetamu) dari vihara agung Seng-lian-kau, harap jangan mengatakan yang bukan-bukan," seru Ang Bin tojin.

Hoa Sin dan kedua ketua partai persilatan benar2 terbeliak heran. Mereka saling bertukar pandang. Akhirnya Hoa Sin mengangguk :

"Kakek Kerbau Putih tadi pun bersikap demikian kepada kita," katanya dengan berbisik, "jelas ketika taysu ini juga terkena racun pelelap pikiran dari orang Seng-lian-kau."

Kakek Lo Kun belum begitu kenal dengan Hui Gong bertiga, dia terus maju dan menegur. "Hai, paderi, hai, imam dan pertapa tua," serunya, "kalian jangan main2. Kalau Hoa pang Ceng Sian suthay dan Hong Hong tojin kami bukan orang sembarangan. Mereka adalah ketua partai Kay-pang, partai Kun lun dan partai Go-bi yang termasyhur. Kalau mereka mau kenal kepadamu, itu sudah suatu rejeki besar bagi kalian. Mengapa kalian berani menolak? ”.

"Kakek gila." bentuk Ang Bin tojin, "siapa yang kenal dengan segala macam ketua partai persilatan itu. Dalam dunia persilatan yang ada hanya Seng lian-kau dan yang layak disebut kaucu hanyalah kaucu dari Seng-lian-kau."

"Apa itu sih, Seng-lian kau,? " dengus kakek Lo Kun, "imam hidung kerbau, sudahlah, jangan banyak bicara. Katakan engkau mau mengaku atau tidak!"

"Mengaku apa? "

"Mengaku kalau kenal dengan ketiga sahabat ku itu!” "Kakek gila!" bentak Sugong In seraya menampar.

Karena tak menduga, kakek Lo Kun tersurut beberapa langkah ke belakang.

"Eh, pertapa gila, engkau berani turun tangan memukul aku? " Lo Kun penasaran dan terus menyerang.

Melihat itu Hoa Sin hendak melerai. Ia tahu memang bukan atas kehendaknya sendiri Sugong ln itu menyangkal melainkan karena kesadaran pikirannya telah hilang. Entah dengan menggunakan obat apakah Seng liang kau sehingga dapat membuat tokoh2 sakti seperti ketiga paderi itu sampai lupa diri.

Tetapi baru ia hendak melangkah, tahu2 Arg Bin tojin sudan menyerangnya. "Totiang, aku Hoa Sin, masakan totiang lupa kepadaku? " seru Hoa Siu seraya menghindar mundur.

Tetapi Ang Bin tojin benar2 lupa segala apa. Ia menyerang Hoa Sin sehingga ketua Kay-pang itu pun terpaksa harus melayani. Namun ia lebih banyak menghindar dan tak mau balas menyerang.

Melihat itu Ceng Sian suthay, berseru : "Harap taysu sekalian berhenti. Kita adalah orang sendiri, mengapa harus saling bermusuhan."

"Hm, jika engkau tahu gelagat. harap engkau segera ajak kawan-kawanmu enyah dari sini," tiba2 Hui Gong taysu mendengus.

Ceng Sian suthay pun tahu bahwa Hui Gong taysu telah kehilangan kesadaran pikirannya. Ia tak mau menggubris. Maksudnya ia hendak menghentikan pertempuran itu agar jangan sampai terjadi akibat2 yang tak diharapkan. Tetapi baru ia hendak melangkah, Hui Gong sudah menghadangnya seraya kebutkan hudtim:

“Sekali lagi kuperingatkan engkau supaya kalian enyah.

Jangan bikin onar di sini!"

Ceng Sian suthay terkejut. Taburan hudtim ketua Siau-lim si itu menimbulkan deru angin yang tajam sekali. Ceng Siau cepat2 lepaskan pukulan Hian-ciaug (kapas) untuk menghalau lalu dia loncat menghindar.

Bian-ciang atau pukulan kapas, mengandung tenaga-dalam yang bersifat lunak, Tampaknya gerak pukulan rahib dari Kun- lun-pay itu tak berapa keras dan bertenaga, tetapi pukulan itu dapat menyerap tenaga-keras dan menariknya ke samping. Hui Gong taysu terkejut ketika kebutan hudtimnya seperti terseret oleh segulung angin yang mengandung tenaga lembut.

Tetapi dia adalah ketua Siau-lim-si yang berilmu tinggi. Saat itu pikirannya memang linglung, seperti hilang. Dia tak ingat lagi ketiga ketua partai bersilatan yang menjadi rekan perjuangannya. Tetapi dalam llmusilat, dia masih dapat memainkan dengan hebat seperti sediakala.

Melihat Ceng Sian suthay dapat menghalau  hud-timnya, Hwi Gong penasaran. Segera ia menyerang dengan hudtim. Kali ini disaluri dengan tenaga dalam Toa-lat-kim-kang. Tenaga dalam itu bersifat keras dan dahsyat, mampu menghancurkan batu karang.

Hoa Sin terkejut. Pukulan itu teramat dahsyatnya. Ceng Sian suthay tentu terpaksa akan menangkis dengan pukulan yang sakti juga. Akibatnya salah seorang tentu akan menderita.

Cepat Hoa Sin memutuskan untuk menyongsong dengan pukulan agar dapat mengurangi kedahsyatan pukulan Hui Gong taysu. Tetapi sebelum ia sempat bertindak, Hong Hong tojin sudah mendahului gerakkan tenaganya.

Ketua Go-bi pay itu telah melepaskan pukulan Gun-goan- ciang. Tetapi agar jangan menimbulkan akibat2 yang tak diinginkan dia hanya menggunakan lima bagian tenaganya.

Dalam pada itu ternyata Ceng Sian suthy pun melepaskan pukulan Hian ciang pula. Ketika toa-lat kim-kong ciang melanda di tengah jalan telah disambut oleh dua buah  pukulan sakti. Dari muka dibentur pukulan Bian-ciang dan dari samping dilanda pukulan Gun-goan-ciang. Karena toa-lat kim- kong ciang itu hanya menggunakan tiga bagian tenaga saja, maka pukulan itu pun terdampar ke samping, bum....

akibatnya dinding yang terlanggar hancur berguguran.

Melihat itu Ang Bin tojin marah Ketua Bu-tong-pay itu tanpa berkata apa2 terus menyerang Hong Hong tojin.

Demikian pula Hui Gong taysu. Dia pun menyerang Ceng Sian suthay. Dan tak ketinggalan pula Sugong In ketua Kong tong pay, dia menerjang Hoa Sin.

Suasana gaduh dan hiruk. Enam orang ketua partai persilatan telah saling bertempur sendiri.

Ceng Sian suthay terpaksa tumpahkan seIuruh kepandaiannya untuk menghadapi Hui Gong taysu.

Hong Hong tojin juga harus peras keringat untuk melayani serangan Ang Bin tojin ketua Bu-tong-pay yang lihay itu.

Hanya Hoa Sin ketua Kay-pang yang agak ringan. Dengan mengeluarkan ilmusilat Joh-siang-ciang atau pukulan Salah- arah yang baru saja diciptakannya, dia berhasil mendesak Sugong In ketua Kong-tong-pay.

Sementara itu kakek Lo Kun bingung tak keruan. Sambil lari mondar-mandir ia menggerutu : “Gila, gila, mengapa kawan sendiri harus bertempur "

Plak ....

Tiba2 kepalanya ditampar orang dari belakang dan lehernya disekap orang dengan kencang sehingga Lo Kun tak dapat bernapas. Dia meronta-ronta hendak melepaskan diri sehingga terjadilah adegan seperti orang bergumul.

"Hai, kakek, mengapa engkau!" teriak Sian Li yang terkejut dan terus menarik tubuh kakek penjaga pintu. Ternyata yang menyekap leber Lo Kun dan menampar kepalanya, adalah kakek penjaga pintu. Disekap sekuat tenaga sehingga tak dapat bernapas dan ditampar sekerasnya sehingga kepalanya pening, Lo Kun terkulai tak ingat diri.

"Mengapa engkau mencelakai kakekku Lo Kun" tegur Sian Li dengan marah.

"Budak perempuan, apakah aku bukan kakekmu juga si Kerbau Putih itu? " kakek penjaga pintu itu balas berteriak.

"Oh," Sian Li berseru kejut2 girang, "apakah engkau sudah ingat dengan kami? "

"Uh, siapa bilang aku lupa kalian. Bukankah kalian ini budak, perempuan Sian Li yang menjadi sumoay dari pemuda gundul Blo’on itu? " kata kakek Kerbau Putih sembari menuding ke arah Blo’on.

"Bagus, kakek Kerbau Putih," teriak Sian Li girang sekail, "tetapi mengapa engkau menampar kepala kakek Lo Kun itu, uh celaka mengapa dia? '

Sian Li terkejut ketika melihat Lo Kun masih menggeletak di lantai. Buru2 ia menghampiri Lo Kun, Kakek Kerbau Putih pun ikut menghampiri.

"Hai, Lo Kun, mengapa engkau tidur saja? Hayo bangun," kakek Kerbau Putih itu menggoIak-golek kepala Lo Kun berulang kali namun Lo Kun tetap tak membuka mata.

"Kurang ajar, masakan baru bertemu saja sudah minta dimanjakan," kakek Kerbau Putih merogoh ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebuah buli2 kulit lalu disusupkan ke dalam mulut Lo Kun. Aneh, sekalipun pingsan tetapi mulut Lo Kun dapat meneguk isi buli2 itu. Beberapa saat kemudian, kakek Kerbau Patih berteriak :

"Hai, sudah. Jangan engkau habiskan arak Swat-som-ciu ini," ia terus hendak menarik buli2 itu tetapi tiba2 tangan Lo Kun mendorongnya hingga kakek Kerbau Putih terjerembab ke belakang.

"Nikmat sekali, benar2 nikmat." Lo Kun bergeliat bangun setelah menghabiskan arak dalam buli2 itu semua.

"Setan Macan Hitam, mengapa engkau habiskan arakku? " kakek Kerbau Putih marah.

"Bangsat kerbau, mengapa engkau menampar kepala dan menyekap leherku begini keras? " Lo Kun balas deliki mata.

"O, kakek gila, masakan orang menumpahkan rasa rindu kepadamu, engkau malah pingsan? " sahut kakek Kerbau Putih.

Ternyata tindakan kakek Karbau Putih tadi, setelah pikirannya sadar dengan gembira memeluk sahabatnya karib. Tetap dia tak menyadari kalau pelukannya itu terlalu keras. Bukan memeluk lagi tetapi seperti orang mencekik. Dan celakanya yang dipeluk itu bagian leher. Sudah tentu Lo Kun tak dapat bernapas dan pingsan.....

"Kakek Lo, " cepat2 Sian Li menerangkan, "kakek Kerbau Putih sudah ingat kita. Setelah makan dua butir Hay te-cian- lian som, rupanya pikirannya sudah tersadar."

"O, Kerbau Putih, apa engkau sudah tidak gila lagi sekarang? " tegur Lo Kun.

"Siapa bilang aku gila? " Kerbau Putih deliki mata. Sementara itu pertempuran antara keenam ketua persilatan tadi sudah berlangsung sampai seratusan jurus. Ceng Sian suthay makin sibuk untuk menghadapi serangan Hui Gong taysu. Demikian pula Hong Hong tojin sudah mulai mandi keringat melayani serangan Ang Bin tojin. Hanya Hoa Sin yang masih lincah dan dapat membuat Sugong In kewalahan.

"lh ..... , " tiba2 kedengaran Ceng Sian suthay mendesis kaget dan loncat mundur. Ketika pukulan Hui Gong yang menimpah ke arah kepala tiba2 diganti dengan tusukan jari, walau Ceng Sian suthay sempat loncat mundur tetapi rambutnya kena tertowel sehingga terurai.

Ceng Sian suthay marah. Sebagai seorang rahib, sebagai ketua Kun-lun-pay ia merasa terhina atas tindakan Hui Gong taysu. Serentak ia mencabut pedang Ceng-Iui kiam. Seketika terdengar bunyi macam halilintar meletus dan cahaya yang berkilat-kilat menyilaukan mata.

Ceng-lui-kiam atau pedang Halilintar-biru memiliki perbawa dan cahaya yang sesuai dengan namanya. Pedang pusaka yang diperolehnya dari Lam-hay siang-jin dahulu, jarang sekali digunakan oleh Cen Sian. Kini suthay itu lupa bahwa Hui Gong taysu bukan Hui Gong taysu yang semula tetapi Hui Gong yang sudah terbius hilang kesadaran pikirannya. Dia hanya menuruti rangsang kemarahannya.

"Suthay, jangan," tiba2 Blo'on mencegah, "pedang tak bermata, apabila sampai melukai kawan sendiri, tentu akan menimbulkan dendam yang parah. Lebih baik aku saja yang menghadapinya."

Blo'on terus maju ke hadapan Hui Gong.

"Taysu, " serunya, "mengapa taysu lupa kepada kami? " "Aku adalah Ti khek-ceng (paderi penyambut tetamu) dari vihara Seng lian di sini. Lekas kaIian enyah atau terpaksa akan kugunakan kekerasan mengusirmu," seru Hui Gong.

"Taysu, apakah benar2 taysu sudah lupa kepadaku?  " tanya Blo'on pula.

"Buka dadamu!" teriak Hui Gong taysu. Blo'on terbeliak.

"Setelah melihat bagaimana dadamu, baru aku dapat mengatakan kenal atau tak kenal kepadamu," kata Hui Gong.

Untuk menghindari pertempuran, terpaksa Blo'on menurut. Ia membuka bajunya sehingga dadanya yang bidang kelihatan jelas.

Hui Gong menghampiri, memandang lekat pada dada anak itu. Kemudian ulurkan telapak tangan kanannya, melekat pada dada Blo'on. Blo'on diam saja.

"Suko, awas, dia hendak mencelakai engkau!" menyadari bahwa dengan melekatkan telapak tangan, ke dada Sukonya, Hui Gong dapat memancarkan tenaga-sakti untuk menghancurkan dada Blo'on, Sian Li cepat2 berteriak memberi peringatan. Dan habis berteriak, ia terus mencabut pedang lalu hendak menerjang.

Tetapi sebelum sempat bergerak, ia terkejut menyaksikan pemandangan yang aneh. Apa yang diduganya memang benar. Tiba2 Blo'on mendesuh kaget dan mencelat sampai tiga langkah ke belakang. Tetapi Hui Gong taysu sendiri lebih menderita. Dia terhuyung-huyung ke belakang sampai beberapa langkah dan jatuh ngelumpruk ke lantai.

Bloon terlongong-longong heran. Ia tak mengerti mengapa tiba2 Hui Gong taysu mendorongnya. Dan dari telapak tangan taysu itu memancarkan tenaga arus yang kuat sekali. Blo'on terkejut dan ingin berontak untuk menahan arus kuat itu. Akibatnya Blo'on terpental sampai tiga langkah tetapi Hui Gong taysu terkena tenaga-tolak dari Ji ih-sin kang sehingga ia harus menerima akibat dari tenaga-dalam yang dilancarkan itu.

"Taysu bagaimana, apakah engkau kenal kepadaku? " Blo'on maju menghampiri. Seolah-olah tak terjadi apa2.

"Aku tak kenal kepadamu," seru Hui Gong taysu, "engkau bukan anggauta Seng-lian-kau."

"Memang, eh, bagaimana taysu tahu? " sahut Blo'on. "Setiap dada anggauta Seng-lian-kau tentu mempunyai

tanda cap bunga Teratai "

“O, apakah taysu juga? "

"Nih, lihatlah! " tanpa sungkan2 lagi seperti sikap seorang yang tak sadar, Hui Gong taysu lalu menyingkap dada bajunya. Dan tampak sebuah torehan yang berlukiskan sekuntum teratai.

Sayang Blo'on tak dapat meneliti bunga itu lebih lanjut. Sebenarnya lukisan bunga teratai itu bukan dicacah melainkan terbuat dari bahan campuran perak putih dengan ramuan obat. Setelah ditancapkan pada dada orang, maka orang itu akan kehilangan daya kesadarannya. Dia seperti kosong pikirannya, lupa segala. Yang diketahuinya dia hanya harus menurut perintah pimpinan Seng lian kau.

Andaikata Hoa Sin atau Ceng Sian suthay atau Hong Hong tojin yang melihat pertandaan gambar teratai itu, mereka tentu dapat memikirkan lebih lanjut. "Kakek Kerbau butih," tiba2 Sian Li mendapat pikiran, "apakah dadamu juga berhias gambar bunga teratai? "

"Huh, budak perempuan, mengapa engkau hendak melihat dadaku? Apakah engkau tak malu? "

Sian Li tersipu-sipu merah mukanya. Sebenarnya hampir saja ia dapat memecahkan persoalan itu tetapi karena disemprot begitu oleh kakek Kerbau Putih, dia pun malu.

Sementara itu pertempuran Hong Hong tojin lawan Ang Bin tojin pun mencapai ketegangan.

Ang Bin tojin telah melancarkan pukulan Poh giok-ciang atau pukulan Pembelah kumala, sebuah ilmu pukulan yang istimewa dari partai Bu tong pay. Perbawa pukulan itu mampu menghancurkan batu karang, seperti terbelah dengan senjata tajam.

Hong Hong tojin terkejut. Jika ia melayani dengan ilmu pukulan Gun-goan-ciang, jelas tentu akan terjadi suatu akibat yang tak diharapkan. Namun apabila ia lemah, jelas pula ia akan menderita.

Tetapi angin pukulan dari Ang Bin tojin cepat melanda dan Hong Hong tojin gugup lalu mengangkat tangan. Tiba2 sebelum ia sempat mengayunkan tangannya, sesosok tubuh telah melesat di hadapannya dan menyongsongkan kedua tangannya untuk menahan pukulan Ang Bin tojin.

Dessss.....

Orang itu mencelat ke belakang untung dapat disanggah Hong Hong tojin, tetapi Ang Bin tojin mencelat sampai setombak jauhnya dan jatuh terduduk ....

Yang melesat untuk menyambuti pukulan ketua Bu tong- pay itu adalah Blo'on. Dia kencangkan tangan untuk menerima pukulan. la tak tahu bagaimana harusnya mengerahkan tenaga. Tetapi keinginannyalah yang menggerakkan tenaga- sakti Ji-ih sin-kang. Akibatnya ketua Bu-tong-pay yang memiliki tenaga-dalam hebat dan melancarkan pukulan Poh- giok-ciang, menderita sekali.

Kali ini karena telah mengalami kegagalan yang pertama, maka Ang Bin tojm menambahkan tenaga-dalam sebesar  tujuh bagian dalam pukulannya itu. Tetapi akibatnya makin runyam. Dia menderita tenaga dalamnya yang terpancar oleh daya tolak tenaga-sakti Ji ih sin-kang.

Ang Bia tojin cukup parah menderita luka. Ia mutah darah lalu pejamkan mata. Blo'on kesima. Diam2 ia menyesal karena telah melukai ketua Bu tong-pay itu. Ia maju menghampiri dan meminta maaf".

"Totiang "

Baru dia berkata sepatah-tiba2 Ang Bin tojin meraung dan terus melenting bangun seraya menghantam Blo'on.

Jarak mereka hanya terpisah dua tiga Iangkah dan gerakan Ang Bin tojin itu dilakukan secara cepat dan tak terduga-duga. Sudah tentu Blo'on sukar untuk menghindar.

Melihat itu Sian Li pun menjerit :

"Suko. ! "
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 44 Suasana mencengankan"

Post a Comment

close