Pendekar Bloon Jilid 42 Berangkat

Mode Malam
Jilid 42 Berangkat

Menuju Hongsan Blo'on mencelat dan terlempar ke udara sampai dua tombak.. Tetapi ia dapat meluncur turun dan berdiri tegak tak kurang suatu apa.

Liok ci sin-kay atau Pengemis-sakti-berjari-enam Hoa Sin dan rombongannya terkejut dan mengikuti gerak tubuh Blo'on yang melayang di udara itu. Mereka menghela napas longgar melihat anakmuda itu tak kurang suatu apa.

Kemudian mereka berpaling kearah orang aneh tadi, ternyata orang itu terhuyung-huyung dua tiga langkah sebelum dapat berdiri tegak. Kini dia tegak seperti patung.

Sekalian tokoh terkejut.

Mereka tahu apa yang terjadi. Blo'on terpental ke udara tetapi tak kurang suatu apa. Orang itu terhuyung ke belakang wajahnya pucat lesi seperti menderita luka-dalam.

Sesaat kemudian, wajahnya mulai tenang kembali dan membuka suara :

“ Hai, siapakah engkau? "

“Dia bernama Blo'on, cucuku! " sebelum Blo'on menyahut, kakek Lo Kun sudah mendahului!

Orang itu terkejut heran.

“Blo’on? " ia mengulang seraya kerutkan dahi. Rupanya ia sedang menggali ingatan untuk mengingat-ingat siapakah Blo'on itu.

“Bu Ban lojin, sudahlah. Tak perlu engkau bersusah payah menggali ingatanmu. Dia memang seorang pemuda yang tak terkenal dalam dunia persilatan," tiba2 ketua Kay-pang, Hon Sin, bersuara. Terkejut sekalian orang, terutama ketua2 partai persilatan dan tianglo dari Hoa-san pay ketika mendengar kata2 ketua Kay-pang itu.

Sebagai ketua partai persilatan, mereka sudah berusia hampir setengah abad, terutama tiang-lo dari Hoa-san, umurnya sudah hampir tujuhpuluh tahun. Mereka pernah mendengar juga tentang tokoh yang bernama Bu Bin lojin atau orangtua Tanpa Wajah.

Sepanjang pengalaman mereka, dahulu di dunia persilatan pernah muncul tiga serangkai tokoh aneh, Bu Bin atau Tanpa- wajah, Bu Jia atau Tanpa tangan dan Bu Kak atau Tanpa-kaki.

Mereka tiga saudara seperguruan dan termasyhur sebagai Sam-bu Koay-mo atau Tiga iblis aneh yang cacad. Bu Bin yang terbesar, lalu kedua Bu Jiu dan ketiga Bu Kak.

Bu Bin, memang tak punya wajah. Wajahnya bagaimana, tiada seorangpun yang tahu. Dan setiap orang yang melihat wajahnya tentu dibunuhnya. Bu Jiu, tak punya tangan tetapi kedua kakinya dapat bergerak luar biasa. Banyak jago2 silat kelas satu yang rubuh di bawah tendangannya. Bu Kak, walaupun tak punya kaki tetapi dapat berjalan seperti biasa bahkan dapat berlari lebih cepat dari orang biasa. Dia menggunakan tiang besi untuk menyanggah tubuhnya.

Bu Bin terkejut mendengar pertanyaan Hoa Sin, segera ia balas menegur :

“Siapa engkau? "

"Aku Hoa Sin ketua Kay-pang!"

"Kau Hoa Sin? Ketua Kay-ping? Ngaco! " bentak orang  aneh itu.

Hoi Sin terkejut, serunya: . Mengapa? " “Yang kukenal ketua Kay-pang itu adalah Han-jiat-sin git Suma Kian. Mana ada Hoa Sin!" seru orang aneh itu.

“Oh, Han jiat sin git Suma Kian adalah ketua Kay-pang yang terdahulu "

“Mana dia sekarang? "

Hoa Sin menghela napas: “Entah. Seluruh anak buah Kay- pang telah dikerahkan untuk mencarinya tetapi sampai saat belum juga berhasil menemukan jejak beradanya.”

"Kepada dia aku sih masih sungkan karena pernah menerima budi pertolongannya. Tetapi dengan engkau apa2!"

Belum Hoa Sin menjawab, Lo Kun sudah menyeletuk: “Tidak apa2, terserah. Walaupun kumpulan pengemis, tetapi Kay-pang tentu tak sudi mengemis kepadamu."

"Sudahlah, jangan mengurusi yang lain2”, tiba2 Blo'on berseru, "bagaimana urusan kita hendak diselesaikan? "

"Rupanya engkau murid dari seorang tokoh sakti. Siapakah nama gurumu? Dan dari aliran partai manakah engkau ini? " tanya Bu Bin lojin.

"Aku bukan murid siapa2, aku tak punya guru dan tak tergolong aliran partai apapun," sahut Blo'on.

"Tetapi apa yang engkau gunakan menyambut pukulanku tadi? "

"Entah, aku sendiri tak tahu karena aku tak mengerti ilmu silat," jawab Blo'on.

"Hm, jangan mentang2 engkau mampu menyambut pukulanku tadi," seru orang itu dengan marah karena mengira Blo'on berolok-olok, “mari kita lanjutkan lagi. Kalau engkau mampu terlepas dari tiga buah seranganku, aku akan pergi dan takkan mengganggumu lagi."

"Jangan banyak mulut, hayo seranglah!" seru Blo'on seraya maju menghampiri. Karena sudah merasakan betapa keras pukulan orang itu maka Blo'onpun mau juga bersiap-siap. Ia tak tahu bagaimana cara mengerahkan tenaga-dalam maka ia hanya mengencangkan urat2 tubuhnya saja. Tetapi tanpa disadari, karena tenaga-dalam yang dimilikinya itu disebut Ji ih sin-kang atau tenaga-dalam sakti yang dapat digerakkan menurut kehendak hatinya.

"Jurus pertama ini disebut Gunung-rubuh-laut-terbalik!" seru Bu Bi lojin.

"Baik," seru Blo'on. Timbul seketika untuk mengimbangi kecongkakan orang, serunya, "dan jurus yang hendak kugunakan untuk menyambut seranganmu itu disebut Kakap- goreng-masuk-perut!”

Bu Bin lojin terkesiap.

"Gila," serunya, "itu bukan nama jurus ilmu silat tetapi nama masakan."

"Peduli apa," teriak Bio'on, "yang penting bukan nama tetapi kehebatannya. Aku memang suka dengan jurus yang mudah namanya dan enak didengar.

"Hm," dengus Bu Bin lojin lalu mengerahkan tenaga- dalamnya, "baik, terimalah!"

Sepasang tangan orang tanpa wajah itu segera berayun. Lebih dulu tangan kanan menghantam lalu disusul dengan tangan kiri. karena cepatnya, gerakan kedua tangan itu  hampir bersamaan waktunya. Blo'on tak mengerti bagaimana harus memulai dengan pembukaan dari jurus yang dinamakan Kakap-goreng-masuk- perut itu. Ia hanya julurkan kedua telapak tangannya ke muka dada seperti hendak mengaling diri.

Dar, dar.....

Terdengar suara tamparan yang keras sekali. Blo'on terpental tiga langkah ke belakang tetapi Bu Bin lojin mencelat sampai setombak jauhnya.

“Aneh, aneh gumamnya pelahan, mengapa dia dapat memancarkan sepenuh dengan tenaga-dalam yang kusalurkan dalam pukulanku. Tetapi ketika melihat bagaimana potongan wajah Blo'on dan sikapnya yang ketolol-tololan, penasaranlah hati Bu Bin lojin. Ia hendak mencoba sekali lagi.

“Jurus kedua ini disebut Matahari-rembulan-merangkap- satu, awas!" serunya segera bersiap.

“Bagus," sahut Blo'on, “akan kusambut dengan jurus Babi- panggang bertemu-ayam-panggang dalam satu piring atau Ko-Io-bak. "

“ Gila! " teriak Bu Bin lojin, "mengapa semua jurusmu menggunakan nama masakan? "

“Biar engkau makan dengan lezat, " sahut Blo'on.

Tiba2 Bu Bin lojin memutar sepasang tangannya makin lama makin deras sehingga menimbulkan kisaran angin hebat yang melanda Blo'on.

“Kurang ajar, dia main kitiran angin," kata Blo'on. Seketika timbul keinginannya untuk menirukan gerak lawan. Dan timbulnya keinginan itu segera memancarkan ilmu aneh dari kitab Bu ji-cin-kang. Ilmu dalam kitab itu, dapat membuatnya menirukan semua gerakan lawan, baik dari jurus aliran persilatan manapun juga. Dari yang sederhana sampai yang luar biasa.

Seketika berputarlah tangan Blo’on menirukan gerak tangan Bu Bin lojin. Blam .... tiba2 Bu Bin lojin hantamkan kedua tangannya ke arah kepala Blo'on. Tetapi saat itu Blo'onpun bergerak sama. Terjadi benturan keras. Blo'on terpental sampai tiga langkah tetapi Bu Bin lojin mencelat sampai dua tombak.

Huak.....

Bu Bin lojin muntah darah lalu berputar tubuh dan terus melarikan diri.

“Hai, tunggu! " teriak kakek Lo Kun, "engkau belum memperlihatkan mukamu! "

Tetapi Hoa Sin mencegah kakek itu: “…Tak usah diburu, paman Lo Kun. Dia sudah menderita luka parah. "

“Tetapi aku ingin melihat bagaimana tampang mukanya," kakek Lo Kun bersungut-sungut.

“ Dia tak punya tampang muka, mengapa engkau hendak melihatnya? "

“Huh, tak mungkin. Masakan manusia tak punya tampang," bantah Lo Kun.

“Punya tapi sudah merata datar. "

“Oh, aneh. Mengapa begitu? " tanya Lo Kun.

“Menurut cerita, mereka terdiri dari tiga saudara seperguruan. Kabarnya guru mereka amat sakti tetapi aneh sekali. Orang sakti itu mau menerima mereka sebagai murid asal mereka bersedia untuk merusak anggauta tubuhnya. Akhirnya Bu Bin merusak tampang mukanya, Bu Jiu mengutungi kedua tangan dan Bu Kak memotong kedua kakinya."

"Ah, mengapa orang tergila gila sekali akan ilmusilat sehingga rela merusak tubuhnya? ” Blo'on menyeletuk, "dan kalau sudah memperoleh ilmusilat tinggi, hasilnya hanya mempunyai banyak musuh saja."

Menyaksikan ilmu kepandaian Blo'on waktu berhadapan dengan Bu Bin lojin, Pui Kian tianglo dari Hoa-san-pay diam2 leletkan lidah karena ini rasa ngeri. Ternyata pemuda yang Blo'on itu memiliki ilmu kepandaian yang begitu luar biasa hebatnya.

Timbul dua buah kesan dalam hati Pui Kian. Pertama, dengan kesaktian itu, jelas Blo'on tentu mampu membunuh Kam Sun Hong. Dengan demikian, tuduhan pemuda itu sebagai pembunuhnya makin berat. Kemudian yang kedua, menghadapi pemuda Blo'on yang begitu sakti, ia kuatir tak mampu untuk menangkapnya, kecuali pemuda itu rela menyerahkan diri.

"Bagaimana sekarang langkah kita, Hoa pangcu? " seru Sian

Li.

"Lanjutkan perjalanan ke Hongsan untuk membereskan

Seng-lian-kau dan menolong keempat pangcu," kata Hoa Sin.

Hari kedua ketika memasuki wilayah Kangse, mereka tiba di gunung Tay-keng san. Mereka terkejut ketika melihat orang bertempur. Lebih terkejut pula ketika didapatinya bahwa yang bertempur itu rombongan paderi Siau lim. Sedang lawannya seorang manusia aneh, manusia yang buntung kedua tangannya. Walaupun hanya seorang dan bertubuh cacad tetapi rombongan paderi Siau-lim yang berjumlah pilihan orang itu, kewalahan juga. Beberapa paderi telah rubuh.

Hoa Sin cepat mengenali bahwa salah seorang paderi jubah kuning yang memimpin pertempuran itu adalah Goan Hong taysu.

“Berhenti! " teriak Hoa Sin kepada orang2 itu.

Melihat munculnya serombongan orang2 persilatan lalu salah seorang berseru menghentikan pertempuran itu, rombongan paderi Siau-lim menurut juga. Mereka segera hentikan serangan.

“Goan Hong siansu." kata Hoa Sin serasa maju memberi hormat, “maaf, tentulah taysu tak lupa kepadaku.”

Paderi Siau lim itu sejenak menatap Hoa Sin lalu berseru: “ Omitohud, bukankah sicu ini Hoa pangcu dari Kay-pang? "

“Benar, " sahut Hoa Sin, “lalu hendak kemanakah taysu sekarang? "

Goan Hong taysu menghela napas.

“Pin-ni sekalian hendak menyusul Hui Gong supeh ke Hongsan." katanya. Dengan menyebut supeh, Goan Hong itu tingkatannya lebih rendah setingkat dengan Hui Gong siansu, ketua Siau-lim-si yang sekarang.

“Adakah sesuatu yang terjadi pada Hui Gong siansu? " Hoa Sin terkejut.

"Bukan," kembali Goan Hong menghela napas, "melainkan vihara Siau-lim yang mengalami peristiwa yang tak diharapkan.

"O, peristiwa apakah? " "Vihara Siau-lim telah diobrak-abrik oleh kaki tangan pemerintah Goan yang dipimpin oleh seorang tokoh muda tetapi sakti sekali kepandaiannya. "

Hoa Sin dan rombongannya terkejut. "Siapakah tokoh muda itu? "

"Siapa namanya yang benar, dia tak mau bilang tetapi hanya menyebutkan gelarannya sebagai Bu-lim thayswe."

" Bu-lim thayswe? " Hoa Sin mengulang.

"Ya, Bu-lim thayswe yang maksudnya Pangeran-dunia- persilatan," kata Goan Hong.

"Para paderi vihara Siau-lim benar2 tak berdaya menghadapi serbuan mereka dan terpaksa melarikan diri. Ada yang ke utara ke timur dan pin-ni bersama rombongan menuju ke barat hendak menyusul Hui Gong hongtiang, " Goan Hong melanjutkan.

“Hai, pengemis tua. jangan engkau mengganggu kesenanganku! " tiba2 lelaki tangan buntung yang menjadi lawan rombongan paderi Siau-lim itu berteriak marah.

“Apakah berkelahi dengan paderi itu merupakan kesenanganmu? " seru Hoa Sin, "tidakkah kita wajib menghormat kaum vihara? "

“Kurang ajar, engkau berani memberi pelajaran kepadaku? " teriak si Tangan buntung itu, "siapa engkau? "

“Aku pengemis tua Hoa Sin. Kuminta perkelahian ini diselesaikan saja secara baik. Siapa yang salah wajib meminta maaf dan setelah itu kita saling bersahabat." “Sudah menjadi peraturan di gunung Tay-lang-sau sini," kata Tangan-buntung, "paderi dan imam maupun pertapa, tak boleh lewat di sini."

“Eh sahabat, rupanya engkau membenci kaum paderi? " “Mereka pembohong, penipu!” teriak orang itu.

“Dalam hal apa sicu dapat menuduh begitu? " tanya Goan Hong taysu.

“Jika benar2 suci, paderi2 Siau-lim itu harus hanya mengutamakan ajaran-ajaran suci. Tetapi apa nyatanya? Paderi-paderi di vihara Siau-lim dan imam-imarn di kuil-kuil  itu, ngotot belajar ilmu silat dan ngotot pula hendak menjagoi dunia persilatan. Tidakkah ganjil apabila kaum paderi dan imam itu ikut berlumuran darah, bunuh membunuh dalam dunia persilatan. Itulah sebabnya aku benci terhadap manusia2 yang berpura-pura suci tetapi sebenarnya nafsunya besar untuk mengurus dunia persilatan. Jelas? "

“Engkau salah, sicu," seru Goan Hong taysu, "Tat Mo cousu, cikal bakal pendiri vihara Siau-lim si memang mengajarkan ilmusilat kepada para paderi vihara Siau lim karena melihat tubuh mereka lemah dan tak bersemangat. Ilmusiiat itu diajarkan untuk memperkuat tubuh, menambah semangat. Karena kesehatan raga itu mempunyai akibat tali temali dengan pikiran dan jiwa. Juga ilmusilat itu dimaksud untuk bela diri saja."

“Mengapa harus bela diri kalau tak merasa bersalah atau punya musuh? "

“Buktinya pada waktu pemerintah Goan berdiri mereka berusaha untuk menghancurkan vihara Siau-lim dan lain2 biara yang menjadi sumber llmu silat. Jika para pideri atau imam tak memiliki ilmusilat, bukankah sudah sejak lama vihara Siau lim itu terhapus dari muka bumi? "

“Pertanyaanmu itu sudah engkau jawab sendiri," seru orang buntung itu," jika vihara Siau-lim dan lain2 biara tak mengajarka ilmusilat kepada anakmuridnya dan hanya melulu mengajarkan kitab suci, tentulah pemerintah Goan takkan mengutik-ngutik mereka. Sudah tentu pemerintah Goan mempunyai alasan untuk membasmi kaum gereja yang membahayakan keamanan pemeriatah mereka."

“Perkembangan hidup telah membawa keadaan baru dalam pandangan vihara Siau-lim. Agama hanya dapat berkembang di dalam negara yang aman dan sejahtera. Di alam keadilan dan kebenaran bertahta di mahkotanya. Di alam di mana manusia telah menyadari akan harkat dan nilai2 kemanusiawiannya. Selama negara kacau, kehidupan tak aman dan manusia2 diburu oleh kekotoran nafsu keduniawian maka kejahatan dan kelalimanpun merajalela. Kesucian diinjak-injak, agama dijadikan bulan2 tertawaan," seru Goan Hong taysu dengan berapi-api.

“Oleh karena itu, pandangan vihara Siau lim pun juga ikut serta memikirkan kepentingan negara dan kesejahteraan hidup. Dan bekal ilmusilat itulah yang dijadikan alat untuk menegakkan keamanan, keadilan, kesejahteraan negara dan bangsa, melindungi yang lemah dari tindasan yang kuat. membela yang salah dari ancaman yang jahat," seru Goan Hong pula.

“Keledai gundul, di sini adalah daerahku, bukan di vihara atau biara. Tidak perlu engkau berkotbah terlalu panjang lebar begitu!" hardik tangan buntung itu. “pokoknya, engkau dan rombonganmu harus kembali. Tidak boleh melintasi gunung ini." "Eh, buntung," tiba2 kakek Lo Kun yang sejak tadi diam saja, tak kuat menahan kemarahannya, “apa engkau kira gunung ini milikmu? Awas kedua tanganmu sudah buntung, kalau kakimu juga kukutungi. bukankah engkau akan menjadi manusia gembung saja? *

Marah orang buntung itu bukan kepalang. la paling pantang kalau orang mengatakan dia si orang buntung.

"Kakek bangsat!" tiba2 orang buntung itu menendang dengan kaki kanan kearah kakek Lo Kun.

Kakek Lo Kun terpisah setombak dari orang buntung itu. Maka Lo Kunpun diam saja ketika melihat kaki orang buntung itu masih jauh jaraknya. Tetapi apa yang terjadi benar2 mengejutkan hatinya.

Wut …

"Bangsat buntung! Aduh.....," kakek Lo Kun menjerit dan terus berjongkok memegang betis kakinya.

Ternyata dari kaki orang buntung itu telah meluncur sebatang pisau kecil. Lo Kun terkejut dan hendak menghindar tetapi daging betisnya telah keserempet ujung pisau hingga berlumur darah.

Blo'on dan Sian Li terkejut. Buru2 dua anak muda itu loncat menghampiri Lo Kun.

"Bagaimana kakek? Apakah engkau terluka? " seru keduanya.

"Untung hanya sekelumit daging betisku yang hilang," kakek Lo Kun bersungut-sungut, ”kalau kakiku sampai buntung, wah, celaka, akupun jadi orang buntung seperti dia." Blo'on tak mau mengurus kakek itu lagi. Setelah mengetahui kakek itu tak kurang suatu apa, ia segera menghampiri orang bertangan buntung itu.

"Hai, manusia buntung," tegurnya marah, “kalau melihat tingkah lakunya yang begitu kejam, pantaslah kiranya kalau engkau diganjar buntung kedua tanganmu!"

"Bangsat tengik engkau!" orang buntung itu marah, "mengapa engkau hendak ikut campur dalam urusan ini? Aku hanya berurusan dengan kawanan kepala gundul dari Siau- lim? Eh, menilik kepalamu juga gundul, apakah engkau juga paderi Siau lim? "

"Kepalaku gundul adalah milikku sendiri. Peduli apa engkau? Aku seorang paderi atau bukan, itupun bukan urusanmu! Tetapi tingkah lakumu melarang orang jalan di pegunungan sini, benar2 seperti seorang raja. Apa gunung ini milikmu? ”

Sebelum orang buntung itu sempat menjawab tiba2 dua sosok bayangan manusia berlari-lari dari puncak gunung. Cepat sekali kedua orang itu udah tiba di tempat situ.

Blo'on dan rombongannya terkejut. Ternyata yang datang itu, yang seorang mukanya bertutup kain kerudung, dan yang seorang bertubuh pendek mengenakan jubah pendek dan berjalan dengan menggunakan dua tonggak besi.

“Hola, engkau datang lagi, Bu Bin lojin!” teriak kakek Lo Kun serta melihat orang berkerudung muka itu, "sungguh kebenaran sekali, karena aku kepingin melihat bagaimana sesungguhnya wajahmu itu."

Habis berkata kakek Lo Kun terus hendak maju menghampiri tetapi dicegah Hoa Sin: “Jangan totiang, dia membawa saudaranya, Bu Kak lojin,” “O, Bu Kak manusia tak berkaki, maksudmu? " tanya kakek Lo Kun.

“Ya," jawab Hoa Sin, "dan yang tak bertangan itu tentulah Bu Jiu lojin."

“Lo-ji, " seru orang berkerudung muka selekas tiba, "hati- hatilah, pemuda gundul itu hebat sekali."

Memang ketiga orang itu adalah Bu-li sai koat atau Tiga- tokoh-cacad dalam dunia persilatan yang termasyhur.

“O, apakah lo-toa sudah pernah berhadapan dengan dia? " tanya Bu Jiu yang disebut lo-ji atau saudara nomor dua.

“Ya," sahut lo-toa atau saudara paling besar, Bu Bin lojin, "dia bertaruh dengan kawan-kawannya tentang wajahku."

“Hm, memang bangsat semua, pemuda gundul dan rombongannya itu. Mereka juga menghina aku sebagai manusia buntung."

"Kita bertiga maju serempak untuk menghajar pamuda gila itu," seru Bu Bin lojin.

"Ah, tak perlu, " sahut Bu Jiu, "biar aku menghadapinya sendiri saja."

Kemudian tokoh tanpa tangan itu berseru ke pada Blo'on : "Setan gundul, makanya engkau begitu sombong kepadaku, kiranya engkau pernah bertempur dengan lo-toa."

"Engkau sudah diganjar cacad, masih suka memutar balikkan keadaan. Yang congkak itu engkau, mengapa mengatakan aku congkak! "

“Blo'on, " tiba2 kakek Lo Kun melangkah maju ke muka Bu Jiu, "manusia buntung ini serahkan saja kepadaku. Dia tadi mencelakai aku, sekarang aku hendak membalasnya." Bu Jiu tertawa gelak2 :

"Siapapun mau maju dulu, boleh saja. Karena itu hanya  soal waktu saja. Akhirnya kalian satu demi satu tentu akan mati juga."

“Setan buntung, kakimu akan kupotong sekali," teriak kakek Lo Kun seraya menerjang.

Tetapi dengan suatu gerakan menendang, tubuh Bu Jiu sudah mencelat ke samping lalu tanpa berhenti kakinya menendang pula pantat Lo Ku plak, plak.....

Dua buah tendangan kaki kanan dan kiri Bu-jiu dengan tepat mengenai pantat Lo Kun. Kakek itu mencelat dan menjerit kaget dan kesakitan, ia terdampar jatuh sampai dua tombak jauhnya.

Bu Jiu hendak mengejar tetapi Sian Li cepat putar pedangnya menerjang.

"Ho, bagus budak perempuan," seru Bu Jiu "kiranya engkau juga jagoan wanita? "

Menghindar ke samping, kedua kaki Bu jiu pun sekaligus menendang. Gerak tendangannya itu menyerupai ilmu menendang Lian-hoan-thui yang Iihay.

"Ih ..... " Sian Li manjerit kaget ketika siku lengannya terkena tendangan. Lengannya terasa kesemutan dan pedang Pek-liong-kiam yang dicekalnyapun terlempar jatuh.

Melihat itu Hong Ingpun cepat loncat hendak memungut pedang Pek-liong kiam tetapi dia dihalangi dua buah tendangan oleh Bu Jiu. Bahkan tendangan yang ketiga dan keempat kalinya memaksa nona itu harus loncat mundur sampai setombak jauhnya. Tendangan Bu Jiu memang luar biasa. Selain keras sekali, pun cepatnya bukan kepalang. Dia dapat melepaskan tendangan berturut-turut sampai delapanbelas kali. Ilmu tendangan itu disebut Sip-pat-lian-hoan-thui. Jarang lawan yang mampu terhindar dari ilmu tendangan luar biasa itu.

Saat itu kakek Lo Kun pun maju, demikian pula Sian Li.  Baru kedua orang itu maju menerjang, Hong Ing pun juga memburu. Dengan demikian Bu Jiu lojin diserang dari tiga jurusan.

"Bagus, kalian boleh serempak maju bertiga atau berempat dengan pemuda gundul itu sekali. Agar dapat menghemat waktuku," seru Bu Jiu dengan tertawa congkak.

Sebenarnya ketiga orang itu tak sengaja saling mengajak. Tetapi karena sudah terlanjur mereka maju bertiga apalagi diejek oleh Bu Jiu, merekapun tak mau mundur lagi. Diserangnya orang tanpa tangan itu dengan hebat.

Bu Jiu lojin pun segera mengembangkan ilmu tendangan Sip-pat-lian-boan-thui yang lihay. Sambil berjumpalitan, kedua kakinya melancarkan tendangan2 yang berbahaya. Setiap kali berputar dan berbalik tubuh, ia tentu melepaskan tendangan berganda.

“Krakk. ”

Karena selalu terancam oleh tendangan yang mengarah perut dan paha, kakek Lo Kun sangat marah. Ia menangkis dengan gerak menebaskan tangannya ke arah kaki lawan. Benturanpun terjadi. Kakek Lo Kun terkejut ketika tangannya serasa membentur kaki yang sekeras besi. Selain itupun mengandung tenaga yang kuat sekali sehingga Lo Kun terpaksa meringis kesakitan dan menjurut mundur. Kini setelah tinggal berhadapan dengan Sian Li dan Hong Ing, gerak serangan Bu Jiupun makin gencar sehingga dalam waktu yang singkat saja, kedua nona itu sudah kewalahan.

“Jangan menggila! " teriak Lo Kun yang kini sudah mencekal ular thiat-bi-coa di tangannya. Kakek itu segera menyerang.

Tetapi menghadapi tendangan yang luar biasa dari Bu Jiu, ular thiat-bi-coa tak dapat berbuat banyak. Sekali terkena, siku lengan Lo Kun termakan ujung kaki Bu Jiu sehingga kakek itu harus terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Lengannya kesemutan sehingga tak dapat memainkan ular thiat-bi-coa lagi.

Hoa Sin dan kawan-kawannya, demikian pun Pui Kian tianglo dari Hoa-san-pay, terkejut menyaksikan kesaktian orang buntung itu. Walaupun tak mempunyai tangan tetapi Bu Jiu tetap sakti.

"Ih .... " tiba2 Sian Li menjerit ketika kakinya terserempet tendangan. Nona itu terhuyung-huyung. Dan serempak pada saat itu, Hong in pun mencelat karena termakan tendangan.

Memperoleh hasil, Bu Jiu terus hendak menyelesaikan kedua nona itu tetapi secepat itu pun Blo'on sudah menghadangnya.

"Setan engkau!” Bu Jiu terus lepaskan dua buah tendangan berantai mengarah ke perut Blo'on.

"Uh …, " karena tak mengira tendangan Bu Jiu sedemikian cepat, tubuh Blo'on mencelat ke udara. Secara kebetulan tubuhnya melayang kearah Bu Kak.

Prak...... Bu Kak segera menendangkan ujung kakibesinya ke tubuh Blo'on. Memang hebat sekali tiga serangkai manusia cacad itu. Bu Kak lojin walaupun kakinya disambung dengan tongkat besi tetapi dia mampu menendang, berjalan dan bahkan dapat  pula lari secepat angin. Dengan sepasang kaki-besinya itu dia dapat melambung ke udara sampai lima tombak, kemudian meluncur turun untuk mengarahkan ujung kaki-besinya kepada musuh.

Blo'on mencelat dan secara kebetulan melayang kearah tempat Bu Bin lojin. Bu Bin gemas sekali terhadap Blo'on yang mengalahkannya. Maka kali ini mendapat kesempatan yang bagus, dia terus menghantam, duk.....

Tubuh Blo'on melayang pula ke tempat Bu Jiu. Bu Jiu menyambutnya dengan tendangan lagi. Demikian tubuh Blo'on seperti dibuat bal-balan kian kemari. Dari Bu Jin ditendang ke tempat Bu Kak. Bu Kak menampar dengan kaki tongkat besi ke tempat Bu Bin dan Bu Bin menghantamnya ke tempat Bu Jiu lagi.

Hoa Sin dan sekalian rombongannya terkejut sekali melihat keadaan Blo’on. Bahkan Sian Li menjerit dan terus hendak menerjang tetapi kakek Lo Kun mencegahnya.

"Jangan," kata kakek ini, " biarlah sukomu digembleng kulitnya. Biar tulangnya keras. Kalau, tidak dia tentu tetap blo'on saja.”

Sian Li terlongong memandang kakek itu. Ia heran mengapa mendadak kakek Lo Kun berkata begitu. Pada hal biasanya kakek itu paling marah lebih dulu apabila melihat Blo`on manderita dicelakai orang. Memandang kepada Hoa tampak ketua Kay Pang itupun tenang2 saja, maka terpaksa Sian Li pun bersabar menunggu perkembangan selanjutnya.

Memang benar. Walanpun dijadikan bola oleh ketiga tokoh cacat tetapi Blo‘on tak merintih kesakitan ataupun meronta- ronta. Dia tetap tenang2 saja.

Setelah tiga kali berputaran, tampak ketiga tokoh cacat itu makin lemah gerakannya.

Satelah meningkat berputaran yang ketujuh tiba2 Bu Jiu terpelanting seperti dibanting ke tanah. Dia menggeliat bangun lalu duduk pejamkan mata. Rupanya dia tengah menyalurkan pernapasan.

Kemudian tokoh yang ketiga atau Bu Kak lojinpun terpelanting jatuh dari kaki tongkat besinya yang setinggi dua meter. Dia pun duduk berdiam diri seperti menyalurkan tenaga-dalam.

Sementara Bo Bin atau si manusia tanpa wajah mencelat sampai setombak jauhnya. Dia tertahan oleh sebatang pohon sehingga terduduk bersandar batang pohon itu.

Blo’on masih berlari berputar-putar seperti orang main udak. Satelah tiga kali berputar-putar barulah dia dapat berdiri tegak.

“Gila," serunya seraya masih terhuyung-huyung kian kemari.

Melihat itu kakek Lo Kun cepat loncat menyambar tubuhnya: "Blo'on, mengapa engkau? ”

"Aku terseret angin yang dahsyat sekali," kata Blo’on.

Ternyata ketika ketiga tokoh cacat itu membuat bal-balan tubuh Blo'on, diam2 mareka terkejut ketika tubuh pemuda gundul itu dapat memancarkan tenaga-tolak yang hebat. Tenaga, baik tendangan maupun pukulan dan gerakan kaki besi, tertolak balik kepada pengirim masing2. Bermula mereka penasaran sekali. Tetapi makin menambah tenaga dalam, mereka makin menderita. Barapa besar tenaga-dalam yang mereka gunakan, sebesar itu pula yang mereka terima. Akhirnya mereka tak kuat lagi menahan lebih lama.

Ketiga tokoh cacad itu memiliki tenaga-dalam yang hebat sekali. Itulah sebabnya walaupun berkat memiliki keadaan tubuh yang luar biasa. Blo’on mampu memancarkan tenaga- tolak tetapi dia pun terbawa juga oleh kisaran tenaga-dalam yang dipancarkan ketiga tokoh cacad itu. Akibatnya dia seperti gangsingan yang berputar-putar kencang.

"Jangan kakek!" teriak Blo'on serta melihat Lo Kun hendak menghampiri Bu Jiu. Rupanya kakek itu hendak menghajarnya.

Lo Kun paling taat kepada Blo'on. Blo'on melarang, lapun menurut.

"Mengapa engkau melarang aku menghajar mereka? ” seru kakek itu.

"Biar mereka mengisi tenaga dalamnya dulu, baru kita tantang berkelahi lagi," kata Blo'on.

Beberapa saat kemudian, Bu Jiupun sudah membuka mata, disusul Bu Kak lalu Bu Bin. Mereka memandang Blo'on dengan heran2 kejut.

"Gila rupanya anak gundul itu." pikir mereka "mengapa tubuhnya dapat memancarkan tenaga-tolak yang begitu hebat? " Mereka benar2 merasa aneh mengapa seorang pemuda gundul yang blo'on, memiliki tenaga-tolak yang begitu sakti. Pada hal tenaga-tolak semacam itu, hanya dapat dipancarkan oleh orang yang sudah sempurna tenaga-dalamnya.

Namun kenyataan itu, tertindih oleh rasa heran. Dan rasa heranpun menimbulkan rasa penasaran. Mereka tak percaya bahwa pemuda semacam Blo'on memiliki tenaga-dalam tataran tinggi.

Bu-Jiu bangun, memandang Blo'on.

"Eh, apakah engkau masih mau melanjutkan pertempuran lagi? " tegur Blo'on.

"Ya. " sahut Bu Jiu.

"Baik, " kata Blo'on, "tetapi aku hendak bertanya kepadamu. Sebenarnya antara kita, tiada dendam permusuhan apa2. Mengapa engkau ngotot hendak memusuhi kami?

"Karena daerah ini adalah milik kami, " sahut Bu Jiu, "tiada seorangpun dibenarkan melalui tempat ini. Jika kalian mau mengundurkan diri, kamipun takkan menarik panjang urusan ini."

"Aneh," gumam Blo'on, "mengapa engkau membuat peraturan begitu? Bukankah gunung ini milik negara dan rakyat? "

"Benar," jawab Bu Jiu, "tetapi kami telah mendapat perintah dari suhu supaya melarang setiap orang yang lalu di tempat ini."

" Siapa suhumu? Di mana dia sekarang? ” teriak Blo'on. "Suhuku adalah To bi jin, saat ini sedang bertapa di puncak

Tay-keng San ini. " "Apa itu To bi jin? " "Manusia-kulit-perut."

"Apa Manusia kulit-perut itu? " Blo'on meminta penjelasan lagi.

"Tentulah manusia yang hanya terdiri dari perut saja! " tiba2 kakek Lo Kun menyelutuk.

"Bagaimana kakek tahu? " Blo'on berpaling.

"Bukankah ketiga muridnya itu juga manusia2 cacad semua? Kalau gurunya tidak lebih cacad muridnya tentu tak mau, " kata kakek Lo Kun.

Ternyata dalam kelimbungannya, kakek itu telah menebak dengan tepat. Bu Jiu hanya mendengus saja.

"Mengapa gurumu bertapa? " tanya Blo'on.

"Suhu sedang meyakinkan ilmu Ceng gi-sin-kang yang dapat membuatnya melayang-layang di udara."

"Aku ingin melihatnya! " teriak kakek Lo Kun serentak, "akupun ingin juga menjadi manusia terbang."

"Mudah saja," kata Bu Jiu, "asal engkau mau menerima syaratnya."

"Bagaimana syaratnya? " seru kakek Lo Kun.

"Kedua kaki dan tanganmu harus dikuturg semua, hanya tinggal gembung badan saja!"

"Gila! " teriak kakek Lo Kun.

"Tanpa menerima syarat itu tak mungkin terima sebagai murid suhu."

"Lalu setelah dapat terbang, mau kemana suhumu itu? " tegur Blo'on. "Suhu akan mendirikan Jan-hwi-pang atau partai orang cacad. Hendak menguasai dunia persilatan dan menjadikan semua orang persilatan manusia-manusia cacad! "

"Gila! " teriak Blo'on.

Tiba2 Hoa Sin maju selangkah menghampiri dan berkata : "Tetapi mampukah suhu lojin melawan kekuatan Seng-lian

kau di gunung Hongsan itu? "

"Jangankan hanya Seng-lian-kau, seluruh partai persilatan akan dikuasainya," sahut Bu Jiu lojin.

"Memang tujuan lain dengan kenyataan," kata Hoa Sin, "rasanya Jan-hwi-pang tak mungkin mengalahkan Seng-lian kau."

"Tutup mulutmu! " bentak Bu Jiu marah, "apa itu Seng lian- kau gunung Hongsan? Jangan lagi hanya suhu, sedang aku dan kedua saudaraku itu saja, sudah cukup untuk menumpasnya."

"Sombong!" teriak kakek Lo Kun, "hayo, coba saja engkau ke Hongsan, tentu nyawamu amblas! "

Bu Jiu makin marah tetapi sebelum ia membuka suara, Blo’on sudah mendahului : “Kita bertaruh, beranikah engkau?  "

Bu Jiu mengerut dahi : "Bertaruh? "

"Ya, bertaruh begini," kata Blo’on, "kita sama-sama menuju ke Hongsan. Nanti siapa yang dapat mengalahkan Seng-lian- kau, dialah yang menang.”

Bu Jiu termenung. Saat itu Bu Bin dan Bu Kak pun menghampiri. Bu Jiu marundingkan hal itu kepada mereka berdua. Rupanya mereka mencapai persepakatan. "Baiklah," kata Bu Bin, "tetapi apa taruhannya? "

"Kalau rombonganku yang kalah, kami ikut menjadi anggauta Jan hwi-pang. Tetapi kalau kalian bertiga yang kalah, kalian harus ikut pada fihakku," tiba2 kakek Lo Kun menyelutuk.

"Ah, mana mereka berani, lopeh," seru Hoa-Sin tertawa sinis.

Mendengar itu serentak ketiga manusia cacat itupun menjawab : "Baik, kami menerima pertaruhan itu."

"Jika demikian, harap suka memberi jalan kepada kami,” kata Hoa Sin pula.

"Tidak bisa! " teriak Bu Jiu, "pertaruhan tetap pertaruhan tetapi peraturanpun tetap peraturan. Kalau mau ke Hongsan, ambillah jalan lain jangan meliwati gunung itu."

"Apa yang engkau minta supaya kami dapat lewat di sini," teriak Lo Kun.

"Kalau salah seorang yang memimpin rombonganmu itu mampu menerima tiga jurus tendanganku, tiga jurus tusukan kaki besi suteku dan tiga jurus pukulan dari suhengku, kalian boleh liwat, takkan kami ganggu lagi."

"Blo'on, apa engkau tak sanggup menerima tantangannya itu. Dia kurang ajar sekali, hayo tunjukkanlah bahwa dirimu benar2 cucu dari Lo Kun yang tersohor itu," seru kakek Lo Kun.

"Hamba menurut titah paduka, baginda,” sahut Blo'on.

"Eh, engkau hendak ingkar janji? " teriak kakek Lo Kun dengan deliki mata.

Sudah tentu Blo' on pun terbeliak : "Ingkar janji apa? " "Engkau mengatakan hendak meletakkan jabatanmu sebagai menantu raja dan hendak mengembalikan puteri. Engkaupun sudah setuju kalau aku yang mewakili kedudukanmu. Mengapa sekarang engkau berlatih tata bahasa keraton? Bukankah engkau bermaksud hendak mengingkari janjimu? "

Rupanya Bu Jiu tak sabar lagi mendengar ocehan kakek Lo Kun yang tak dimengerti artinya. Apa itu berhenti sebagai menantu raja dan mengembalikan puteri?

"Sudahlah, hai, engkau orang tua," teriaknya, "kalian sanggup menerima syaratku atau tidak? Kalau tidak berani, lekaslah kalian enyah dari sini! "

"Baik, mulailah, " kata Blo’on seraya memberi isyarat agar Lo Kun menyingkir ke samping.

Bu Binpun tak mau banyak bicara lagi. Serentak ia lepaskan tendangan dalam jurus pertama dari Sip-pat-lian-hoan-ihui. Plak, plak…... sedemikian cepat tokoh tangan buntung itu menggerakkan kedua kakinya sehingga Blo'on tak sempat berbuat apa2. Tubuhnya terlempar ke udara sampai dua tombak tingginya.

Digetar oleh rasa kejut yang besar dan tendangan yang mengenai pantat, mereganglah tubuh Blo'on. Seketika darahnya bergolak keras dan tenaga-dalam Ji-ih sin-kangpun berkembang memancar.

Ia ingin berjumpalitan seperti roda dan menukik turun. Dan keinginan itupun segera menggerakkan tenaga-dalam sakti Ji- ih-sin-kang. Dia benar2 dapat berjumpalitan seperti roda.

Bu Bin segera menyongsong dengan ilmu tendangan berantai pula. Cepat dan dahsyatnya bukan kepalang. Plak, plak.....

Seketika sekalian orang berseru tertahan ketika menyaksikan apa yang terjadi pada saat itu. Tubuh Blo'on memang melambung lagi keatas tetapi ia dapat menangkap kaki Bu Bin lalu ditariknya ikut serta ke udara.  Kemudian ketika ia berjumpalitan seperti roda meluncur turun, Bu Binpun ikut dibawa berjumpalitan.

Memang sama sekali tak terduga oleh Bu Bin bahwa tendangan Lian-hoan thui yang tiada tandingannya selama berpuluh tahun ia malang melintang dalam dunia persilatan, ternyata saat itu dapat disambar Blo'on. Alangkah kejutnya ketika kakinya ditarik keatas. Ia hendak meronta tetapi karena kedua kakinya ditangkap tangan Blo'on dan diseret ke udara, ia tak mampu berbuat apa2. Lebih celaka lagi ketika dalam usahanya untuk menyalurkan tenaga dalam kearah kaki, ternyata makin meronta keras, kakinya makin tertarik keras.

Bu Bin, tokoh tak bertangan yang termasyhur sebagai salah seorang Bu-lim Sam-coat, harus menyerah ketika tubuhnya dibawa berjumpalitan dan berputar-putar seperti roda.

Pada saat hampir tiba di tanah, timbullah rasa kasihan dalam hati Blo'on. Betapapun, dia seorang pemuda dan Bu Jiu seorang manusia cacat yang sudah tua. Ia malu kalau dikata menghina seorang tua cacat. Maka ia meluncur dan tiba Iebih dulu ditanah, kemudian melemparkan tubuh Bu Jiu ke udara.

Setelah bebas dari cekalan tangan Blo'on, Bu Jiupun dapat mengerahkan tenaga-dalam untuk berjumpalitan dan meluncur turus ke tanah. Ia hanya mengalami terhuyung selangkah dan setelah itu dapat berdiri tegak.

Bu Jiu termenung diam. Rupanya ia tengah menyalurkan bernapasan dan tenaga dalam. "Bagaimana, apa masih hendak melanjutkan? " tegur Blo'on.

Bu Jiu mendengus dan gelengkan kepala.

Melihat itu Blo’on pun segera memberi isyarat kepada rombongannya untuk melanjutkan perjalanan lagi.

Tetapi secepat itu Bu Kakpun menghadang "Eh, mau apa engkau? " tegur Blo'on.

"Engkaupun harus memenuhi syaratku," sahut tokoh tanpa kaki itu.

"Syarat apa? "

"Seperti Bu Jiu suheng tadi. "

"Eh, bukankah suhengmu sudah memberi ijin kepada rombonganku untuk melanjutkan perjalanan. Mengapa engkau masih hendak mengganggu lagi.”

"Yang memberi ijin adalah suhengku. Silahkan kalian jalan tetapi akupun berhak untuk menghadang karena aku belum memberi ijin! "

"Kurang ajar! " teriak Lo Kun, " engkau hendak mempermainkan rombonganku! "

Kakek itu terus hendak maju tetapi dicegah Blo'on : "Biar aku yang melayanimu.”'

"Baik, aku akan memenuhi syaratmu!" kata Blo’on.

Wut, tiba2 tokoh tanpa kaki itu mencelat udara sampai dua tombak, kemudian menukik turun seraya menggerakkan sepasang kaki besinya ke arah Blo'on. Gerakan sepasang kaki besi dari tokoh itu berubah seperti serangan sepasang tongkat besi yang gencar. Masih dia menambah lagi dengan menghantamkan kedua tangannya.

Bio'on cepat loncat menghindar. Selekas lawan tiba di tanah, dia berbalik loncat ke udara dan berjumpalitan.

Letak kesaktian dari Bu Kak adalah pada sepasang kaki yang terbuat dari tongkat besi setinggi dua meter. Kini karena Blo'on melambung ke udara, Bu Kakpun mati langkah. Dia tak dapat menggerakkan kaki besinya.

Terpaksa dia loncat ke samping, setelah itu hendak melambung ke udara. Tetapi alangkah kejutnya ketika Blo'on sudah bergeliatan melayang ke arahnya. Tanpa turun ke tanah, Blo'on dapat bergeliat sehingga tubuhnya seperti mencelat di atas kepala lawan. Dengan demikian tak mampulah Bu Kak untuk melonjak ke udara lagi.

Wut.....

Karena marah Bu Kak tak mau menghindar melainkan dorong sepasang tangannya ke atas. Tetapi alangkah kejutnya ketika ia tertolak oleh tenaga yang amat kuat sekali sehingga ia terdorong ke belakang hampir rubuh. Sementara Blo'onpun mencelat lagi ke udara.

Ternyata dorongan kedua tangan Bu Kok itu tertolak oleh tenaga-dalam sakti Ji-ih sin-kang, sehingga Blo’on terlempar makin tinggi tetapi dia sendiripun dilanda oleh badai yang dahsyat sehingga terjungkir balik.

Blo'on meluncur ke tanah dan berdiri tegak Ia menunggu setelah Bu Kak berdiri jejak, baru menegur: "Bagaimana? Apa masih dilanjutkan? " Ternyata Bu Kak lebih lunak dan lebih kenal gelagat daripada Bu Jiu. Ia tahu bahwa selama Blo'on menguasainya dari udara tadi andaikan anakmuda itu mau menghantam, tentu dia sudah celaka. Hal itu dapat dibuktikan dengan tenaga-dalam yang luar biasa dari anak itu.

"Hm, baiklah," kata Bu Kak, "mengingat kita masih ada janji pertaruhan, maka untuk sementara ini engkau boleh lanjutkan perjalanan ke Hong san."

"'Hm, baiklah," kata Blo'on.

"Tetapi ingat, kalau engkau kalah bertaruh di Hongsan, engkau harus membayar apa yang engkau lakukan hari ini," untuk menutupi gengsinya Bu Kak menyusuli kata2 pula.

"Huh, jangan mengancam dulu, bung,” seru Lo Kun, "siapa yang akan menang dan kalah dalam pertaruhan itu belum ketahuan. Masih terlalu pagi engkau berkokok!"

Pada saat Blo'on bertempur dengan Bu Kak, Bu Bin masih tampak ikut menyaksikan. Tetapi setelah pertempuran selesai, ternyata Bu Bin sudah tak berada di situ lagi. Rupanya tokoh pertama dari Bu-Iim-sam-coat itu sudah ngacir pergi. Dia tak mau kehilangan muka lagi dengan Blo'on.

Demikian Blo'on dan para ketua partai persilatan dan rombongan paderi Siau-lim segera melanjutkan perjalanan ke Hongsan.

Memasuki wilayah Hopak, mereka bertemu pula dengan rombongan murid Bu-tong-pay yang dipimpin oleb Ang Hwat tojin, sute dari Ang Bin tojing ketua Bu-tong pay.

Menurut keterangan Ang Hwat tojin, Bu-tong-sanpun diobrak-abrik oleh pasukan Beng yang dikepalai seorang jago muda yang menyebut dirinya sebagai Bu-lim Thay-swe (Pangeran Dunia persilatan), dibantu oleh beberapa paderi baju kuning dari Tibet.

Ilmu kepandaian dari Bu-lim Thay-swe itu hebat sekali sehingga pertahanan Bu tong-san berantakan dan dihancurkan. Demi mengingat keselamatan sisa anakmund Bu- tong-pay maka Ang Hwat tojin segera memimpin mereka untuk melarikan diri. Merekapun hendak menuju ke Hongsan guna menemui ketua mereka, Ang bin tojin.

"Bu-lim Thay-swe? " kata Hoa Sin seorang diri kemudian berpaling dan bertanya kepada Hong Hong tojin ketua Go bi pay dan Ceng Siau suthay ketua Kun-lun pay.

"Hong Hong totiang dan Ceng Sian suthay adakah pernah mendengar tentang tokoh Bu-lim Thay-swe itu? "

Kedua ketua partai persilatan itu gelengkan kepala : " Rasanya tokoh itu baru saja muncul dewasa ini. Kecuali kita berhadapan muka barulah kita dapat menentukan ciri2 orang dan perguruannya. "

"Ya, benar ", kata Hoa Sin, "rupanya pemerintah  Beng mulai giat lagi melakukan pemberantasan terhadap orang persilatan. "

"Hal itu aneh rasanya " kata Ceng Sian Suthay, "sebenarnya kaisar Beng yang sekarang sudah hampir tak mengurus soal pemerintahan. Selama aku berada di kotaraja untuk mencari jejak Kim kongcu tempo hari, dapatlah kukumpulkan berita2 tentang keadaan keraton. Yang berkuasa dalam keraton boleh dikata adalah Gui thaykam. Dia mempunyai pengaruh besar sekali “.

" O, orang kebiri itu? ” tiba2 Blo'on menyelutuk, "pernah kuhajar dia ketika di keraton.” "Ya, ya, thaykam itu mempunyai hubungan rapat dengan Cian bin-long-kun di kotaraja. Kabarnya harta pusaka yang ditanam Ciau-bin-long kun di pulau kosong itu, berasal dan keraton. Gui thaykam mencuri dari gudang simpanan harta benda istana, lalu bersekongkol dengan Ciau-bin long kun untuk menyingkirkan harta karun ke suatu tempat yang aman."

"Ya, memang aneh,” kata Hoa Sin, "sepanjang yang kuketahui kaisar Ing Lok sudah lemah dan kabarnya menderita sakit. Kekuasaan boleh dikata berada dalam tangan Gui thaykam yang bersekutu dengan seorang dayang pengasuh dari putra mahkota yang masih kecil. Rasanya tokoh yang menyebut dirinya sebagai Bu lim Thay-swe itu tak mungkin bekerja dengan pasukan Beng."

"Hoa pangcu benar," kota Hong Hong totiang, "memang sebelum terlibat dalam peristiwa meninggalnya Kim Thian Cong tayhiap, kudengar di daerah Sanse telah muncul seorang gagah bernama Li Hong Cang. Dia mengumpulkan banyak pemuda2 dan membentuk suatu gerombolan besar. Kabarnya dia tak puas melihat kekacauan dalam pemerintah Beng yang jelas dikuasai orang2 kasim ( kebiri ) . Mungkinkah tokoh Bu- lim Thay-swe itu kawan dari Li Hong Ciang? "

"Hm, mungkin juga," kata Hoa Sin, "tetapi mengapa Bu-lim Thay-swe itu mengobrak-abrik vihara Siau-lim, markas Bu- tong-pay dan beberapa markas partai-persilatan? "

Hong Hong totiang tak dapat menjawab. Memang aneh. "SoaI itu tentu sukar kita ketahui sebelum kita berhadapan

dengan Bu-lim Triay-swe dan gerombolannya," kata Ceng Sian

suthay, "tetapi merurut dugaan, kemungkinan merekapun hendak berberbuat seperti gerombolan gunung Thay san dan gunung   Hongsan,   yang   memalsukan   diri   Kim   tayhiap, mendirikan perkumpulan agama baru, menekan pada partai dan tokoh2 persilatan supaya mau masuk menjadi anggauta. Barang siapa menolak akan dihancurkan. "

Hoa Sin mengangguk.

"Ya, kemungkinan itu memang besar," katanya, "di mana keadaan negara kacau maka di sana sini timbul pemberontak2 yang hendak memancing di air keruh."

"Tetapi mereka mempunyai dalih kuat juga,” sambung Hong Hong totiang ketua Kong tong-pay "mereka tak puas dengan kaum kebiri yang menguasai istana dan menjalankan pemerintahan. Mereka hendak menyelamatkan rakyat dari tindasan yang dilakukan oleh pemerintah orang kebiri itu. Dengan begitu mereka dapat memperoleh banyak pengikut.

"Memang kenyataan juga begitu," kata Ceng Sian suthay, "juga di kalangan pangeran2 istana tampaknya sudah mulai bersiap-siap menyusun kekuatan menghadapi saat2 kaisar Ing Lok sakit. Apabila kaisar mangkat, tentu akan terjadi perebutan kedudukan."

"Tetapi bukankah kaisar sudah menetapkan puteranya yang diangkat sebagai putera mahkota? tanya Hoa Sin.

"Benar," kata Ceng Sian suthay, "tetapi kaisar mempunyai banyak putera2. Tentu tak terhindar dari peristiwa berebut tahta."

Demikian setelah menempuh perjalanan beberapa hari akhirnya mereka tiba di kaki gunung Hongsan.

Apa yang mereka bayangkan bahwa di gunung yang dijadikan pusat markas partai Seng-lia-kau itu tentu tampak kesibukan2 yang ketat, ternyata tak benar. Ketika tiba di kaki gunung, mereka melihat suasana gunung itu sepi2 saja. Di kaki gunung situ terdapat sebuah rumah penginapan. Kebiasaan pada waktu Itu, rumah makan sering pula menjadi rumah penginapan.

Rombongan Blo'on segera singgah di rumah makan itu. Rombongan paderi Siau lim dan anak murid Bu-tong pay tak ikut masuk.

Saat itu menjelang sore. Beberapa tetamu tampak sedang makan di situ. Makin malam makin ramai dengan pengunjung2 yang ingin mengisi perut.

Karena rombongannya berjumlah besar, Hoa Sin memecah rombongannya dalam dua meja. Hoa Sin, Ceng Sian suthay, Lo Kun, Blo'on dan Sian Li satu meja. Sedang pada lain meja duduk Pui Kian, tianglo Hoa-san-pay, Hong Ing dan beberapa murid Hoa-san-pay.

Mereka pesan hidangan dan minuman dan suruh pelayan segera menyediakan. Blo'on dan kakek Lo Kun lapar sekali.

“Lekas, jangan lama2, kalau perutku kempes susah mengembalikan. Jangan lupa pesananku tadi! " teriak Lo Kun.

Jongos terkesiap.

"Hidangan apakah yang loya pesan? ” tanyanya "Tolol! " bentak Lo Kun, "mengapa engkau masih bertanya lagi? " bentak Lo Kun.

Jongos itu makin melongo.

"Tetapi loya, aku benar2 lupa. Kalau tak salah loya tadi belum pesan apa2."

"Kurang ajar! " teriak Lo Kun, "bukankah aku sudah memesan masakan yang paling enak sendiri di rumah makan ini? " “Oh, " jongos itu mendesuh, "tetapi rumah makan kami mempunyai persediaan banyak sekali hidangan yang enak. Harap loya katakan namanya agar tidak keliru."

“O, apakah aku tadi belum mengatakan nama hidangan yang kupesan? " Lo Kun kerutkan dahi.

"Belum. "

"Tolol! " bentak Lo Kun, " mengapa engkau tak mengatakan itu sedari tadi? Masa perut sudah merintih-rintih, engkau tak menanyakan apa hidangan yang kupesan! "

"Jangan lupa, buatkan juga Liong-gan theng tiba2 empat orang tetamu yang duduk tak jauh dari tempat Lo Kun, memberi pesanan pada jongos lain.

" Hai, jongos! " tiba2 Lo Kun memanggil jongos yang menerima pesanan tetamu itu, “apa itu Liong gan-theng? Apa bukan buah Mata-naga? "

Rupanya jongos yang melayani meja kakek Lo Kun tak puas mengapa kakek itu bertanya pada lain jongos yang melayani lain meja. Segera ia menyahut: "Benar, Liong gan memang mata naga. Rumah makan kami menyediakan beberapa masakan mata. Mata sapi, mata naga, mata babi, mata ayam.

"Bagus!" teriak Blo'on tiba2, "kalau dapat menyediakan mata naga berarti di sini mempunyai persediaan naga. Hayo, buatkan aku otak naga! "

Sebenarnya jongos tadi hendak menumpahkan kemengkalan hatinya karena tak ditanya oleh kakek Lo Kun maka dia hendak unjuk kebolehannya. Tak disangkanya, pemuda gundul itu telah memintanya pesanan otak naga.

"Celaka, " jongos itu menggerutu, "mengapa dia tak tahu apa yang disebut liong-gan? " "Lekas!" bentak kakek Lo Kun karena jongos itu terlongong- longong, "sediakan pesanan cucuku itu. Catatlah, otak-naga! "

Entah bagaimana karena melihat kakek itu juga tak mengerti apa yang disebut liong gan, jongos itu tertawa.

"Setan! " bentak kakek Lo Kun, "mengapa tertawa? Apa engkau anggap aku ini orang gila? "

Jongos terkejut dan berhenti tertawa, serunya: "Bukan loya. Kami tidak menganggap loya gila. Bukankah loya memang tidak gila? "

"Keparat," tiba2 Lo Kun menampar mulut jongos itu sehingga jongos mengaduh kesakitan! Mulutnya mengucurkan darah.

Agak ribut suasana pada saat itu. Saorang lelaki setengah tua segera menghampiri dan menanyakan urusannya. Dia adalah pemilik rumah makan itu "

"Jongos itu menertawakan aku sebagai orang gila." Lo Kun bersungut-sungut.

"Tidak. ciangkui." kata jongos itu kepada majikannya, "aku tertawa karena tuan yang gundul kepalanya itu memesan hidangan otak-naga."

“O," pumilik rumah makan itu terkesiap dan memandang kearah Blo'on.

"Dia mengatakan punya persediaan liong-gat maka akupun minta otak naga. Bukankah liong-gan itu berarti mata naga? ” kata Blo'on.

"Benar," seru Lo Kun pula, "jongos ini tadi mengatakan kalau punya beberapa persediaan hidangan mata sapi, mata naga, mata babi dan mata ayam. Apa salah kami kalau pesan otak naga? ” Pemilik rumah makan itu tahu duduk persoalannya. Ia memberi penjelasan : "Lo tiangke, yang disebut liong-gan thong itu bukan kuah matanaga, tetapi kuah buah kelengkeng. Liong-gan adalah kelengkeng."

"Tidak bisa!" bantah Lo Kun, "siapa yang kasih nama liong- gan itu untuk buah kelengkeng? ”

"Ha, ha, ha." tiba2 ketiga tamu di meja lain tertawa gelak2. "Ha, ha, ha," tiba2 kakek Lo Kun tertawa juga sehingga

ketiga tetamu itu berhenti tertawa.

"Hai, kakek tua, mengapa engkau tertawa? " seru salah seorang yang bermuka brewok, dada penuh bulu. Dia bertubuh perkasa sekali, sekujur badannya penuh ditumbuhi bulu lebat.

"Mengapa engkau juga tertawa? " balas kakek Lo Kun. 'Karena mendengar orang setua tak tahu apa yang disebut

liong  gan  itu.  Mata-naga,  ha,  ha,  itu  hanya  bentuk  dan

besarnya buah kelengkeng itu menyerupai mata naga."

"Sekarang akupun hendak menjawab pertanyaanmu tadi, mengapa aku tertawa," kata kakek Lo Kun, “aku tertawa karena melihat seekor kera bisa tertawa. ha, ha. "

Kedua kawan lelaki brewok itu terbeliak dan pucat wajahnya. Tetapi diluar dugaan lelaki brewok itu malah tertawa.

"Jangan heran, kakek," serunya, "memang manusia itu menyerupai kera. Coba engkau lihat wajahmu di cermin, tentu juga seperti monyet, ha, ha…"

"Tidak!" bantah kakek Lo Kun. "monyet binatang yang berbulu. Aku tak berbulu, beda dengan engkau, ha, ha " "Kalau begitu engkau monyet gundul ha, ha, ha ...” lelaki brewok itu tertawa keras.

"Hai, bung, kasih tahu kepadaku, di mana tempat naga itu? " tiba2 B!o'on berseru.

"Naga? " lelaki brewok itu terbeliak, "siapa bilang aku tahu tempat naga? "

"Eh, bukankah engkau tadi dapat mengatakan bahwa kelengkeng itu bentuk dan besarnya seperti mata naga. Kalau engkau dapat mengatakan begitu, tentu engkau sudah pernah melihat naga,” kata Blo'on.

Orang bermuka brewok itu terkesiap.

"Hai, mengapa terlongong seperti monyet berak? " seru Blo'on.

"Monyet berak? Ha, ha, ha. benar, benar, cucuku, dia memang seperti monyet ..... eh, apakah engkau sudah pernah melihat monyet berak? ” tiba2 kakek Lo Kun bertanya.

"Sudah, aku kan punya monyet peliharaan yang beranak si Hitam itu? "

"O, benar, benar. Kalau begitu dia memang seperti monyet berak, ha "

"Tunggu! " tiba2 Blo'on berteriak sehingga mulut Lo Kun yang tengah tertawa itu, menganga, "aku sekarang ingat kepada si Hitam, di manakah monyet dan burung Rajawali kita itu? "

Tiba2 serombongan tetamu yang terdiri dari empat orang masuk ke dalam rumah makan itu. Yang satu, setengah tua, memelihara jenggot kambing. Yang satu berhidung bengkok seperti paruh burung kakaktua. Yang seorang bertubuh pendek kecil mirip kera. Dan yang satu, tubuhnya kurus mukanya putih seperti memakai bedak, lagak lagunya seperti seorang banci.

"Ho, dunia penuh aneka warna. Setan, katak kucing, monyet, tikus berkumpul jadi satu," seru si Hidung-kakaktua. Matanya yang juling celingukan memandang kian kemari mencari meja yang kosong.

Pemilik rumah makanpun segera menyambut mereka dan tinggalkan Lo Kun. Ia mempersilahkan rombongan baru itu duduk di meja yang kosong, letaknya di belakang dari lelaki yang bermuka brewok tadi.

Lo Kun terlongong-Iongong memandang keempat tetamu itu. Sesaat kemudian ia garuk2 kepalanya yang gundul: "Aneh, aneh "

Melihat itu Blo'onpun bertanya: "Apa yang aneh, kakek Lo?

"

"Walaupun hidungnya bengkok tetapi dia tepat sekali

bicaranya. " "Siapa? "

"Tetamu yang masuk tadi, " kata Lo Kun, "dia mengatakan dunia ini penuh aneka warna. Memang tepat. "

"Hai, mana pelayan? " tiba2 si hidung bengkok tadi berteriak.

"Lekas bawakan dulu arak panas! " teriaknya, “eh, dengan sepiring daging ayam gepuk tulang, daging babi gepuk gajih, en, apa sedia daging anak anjing? "

Jongos tertegun : "Mungkin masih. Kemarin kami mendapat empat ekor anak anjing. Mudah-mudahan belum laku semua." "Bagus,” seru si hidung bengkok, "kalau masih, kasih seekor anak anjing gepuk tulang."

Dalam pada itu jongos telah membawakan hidangan ke meja kakek Lo Kun.

"Bagus, jongos," seru kakek Lo Kun berseri, "kalau hidanganmu enak, tentu akan kuberi persen juga."

Jongos itu menghaturkan terima kasih.

"Rupanya rumah makan ini lengkap sekali, ya? " kata Lo Kun.

"Benar, loya, " kata jongos itu dengan tertawa, "memang rumah makan kami penuh dengan dikunjungi tetamu. Ada sebuah masakan yang menjadi keistimewaan rumah makan kami. Mungkin di seluruh kota manapun juga, tak ada hidangan semacam itu.

"Kurang ajar, mengapa engkau tak bilang? ” kata Lo Kun, "apakah namanya? "

"Sian-jim-som-ya. "

"O, apakah istimewa sekali? "

"Tanggung jawab, loya," seru jongos itu. "sekali mencicipi masakan itu tentu takkan lupa rasanya seumur hidup."

"Bawa kemari! " teriak Lo Kun.

Sesaat jongos berlalu, masuklah seorang tetamu. Seorang lelaki berwajah putih bersih dan berdandan seperti seorang sasterawan. Melangkah masuk sambil mencekal kipas.

Ketika dia lewat di sisi kakek Lo Kun dan Blo’on, dia berkipas-kipas seperti orang yang kepanasan. Entah bagaimana saat itu Lo Kun sedang melahap sebutir bakso, tiba2 ia berbangkis sekeras-kerasnya, ajngngng'.... ajingng ....

Blo'on-pun demikian. Disusul Sian Li.

Sian Li untung sedang mengantar supitnya yang berisi sekerat daging ayam ke mulut, sebelum mencapai mulut dia sudah berbangkis. Hanya air hidung yang menyembur ke arah kakek Lo Kun yang duduk berhadapan.

Tetapi Blo'on dan Lo Kun lebih tidak beruntung Ia sedang menyuap nasi, karena berbangkis, nasipun muncrat ke muka, tepat menghambur ke arah tetamu muka brewok dan kedua kawannya.

Demikian pula kakek Lo Kun. Dia sedang menyosor sebutir bakso ke mulut. Karena berbangkis, bakso itu meluncur ke arah kawan si brewok, yakni si lelaki yang bermata satu.

"Aduh .... bangsat! " si brewok tertabur hamburan nasi dari mulut Blo' on. Ia masih sempat miringkan kepala hingga sebagian dari hujan nasi itu terus meluncur ke belakang.

Meja di belakang yalah rombongan keempat orang. Mereka adalah lelaki berjenggot kambing, lelaki berhidung bengkok, lelaki berwajah seperti kera dan lelaki yang betingkah seperti banci.

Karena si muka brewok menjerit kesakitan dan cepat2 miringkan kepala, maka hujan nasi itupun melanda tetamu berwajah kera.

"Aduh, bangsat brewok engkau! " karena mukanya tertabur nasi, si muka kera itu memaki.

Sedangkan bakso yang meluncur dari mulut Lo Kun, melayang menyambar mata lelaki bermata satu. Untung orang itu dapat menghindar tetapi tak urung daun telinganya terlanggar juga. Karena bakso masih panas, ia menjerit kesakitan.

“Bangsat mata satu”, tiba2 dari arah belakang terdengar orang memaki dan mengaduh. Ternyata bakso itu terus  melaju dan menghantam si hidung bengkok. Dia sebenarnya duduk membelakangi rombongan tetamu brewok. Tetapi karena mendengar tetamu mata-satu menjerit, ia berpaling ke belakang dan jadilah hidungnya yang bengko itu sasaran bakso.

Suasana gaduh seketika.

"Bangsat kunyuk! " tetamu brewok cepat bangkit dan balas mendamprat tetamu berwajah kunyuk, "mengapa engkau memaki aku? "

"Bajingan hidung bengkok! " teriak tetamu mata-satu seraya melenting dari kursi, " mengapa engkau memaki aku! "

" Orang-utan, mengapa engkau menghamburkan nasi ke mukaku? " balas si wajah kunyuk. 'Siapa orang-utan? "

“Muka dan badanmu penuh bulu, apa bukan orang-utan? " seru lelaki berwajah kunyuk.

"Engkau sendiri seperti kunyuk, masih berani mengatai orang.

"Eh, mata-satu, engkau, berani memaki aku? ' hidung bengkokpun menuding kearah lelaki bermata-satu.

“Hidung bengkok, kalau engkau tak memaki dulu, tentu aku tak mau memakimu!" sahut Mata satu.

"Kalau engkau mengatakan orang bermata-satu seperti engkau itu, enak saja hidupnya maka akupun akan mengatakan bahwa kalau hidungku tertimpa bakso panas itu juga tak apa2!” "Tetapi bukan aku yang melakukan! Mengapa engkau tak mencari pada orang yang melontarkan bakso itu melainkan memaki aku? Aku sendiripun jadi korban!"

Hidung bengkok segera mengalihkan pandang kearah Lo Kun, serunya :

"Hai, kakek gila, mengapa engkau muntahkan bakso dari mulutmu yang seperti pantat kucing itu sehingga mengenai orang? ”, teriaknya.

“Engkau tolol hidung bengkok!" kakek Lo Kun balas mendamprat lagi.

"Jangan ngoceh seperti orang gila!" teriak hidung bengkok makin marah," mengapa aku tolol? "

"Orang tolol yang tak mengerti ketololannya dia adalah bapaknya tolol!" teriak kakek Lo Kun. "Coba engkau pikir, kalau si Mata-satu itu tidak menghindar, tentu bakso tertahan padanya, tak sampai mengenai hidungmu!"

"Setan tua!" bentak Hidung-bengkok, "engkaulah yang menimpuknya."

"Benar, eh, salah!" teriak kakek Lo Kun, “engkau memang tolol. Aku tidak menimpuk bakso itu. Mengapa harus menimpuk? Bukankah lebih enak kumakan? Tetapi karena hidungku gatal seperti dikili-kili maka aku berbangkis dan bakso itu mencelat."

Hidung bengkok diam merenung. Memang kalau berbangkis, bukan sengaja menyemburkan bakso.

"Aku tak sengaja," kata kakek Lo Kun, "dan kedua kali bokso itu hanya melayang kearah mata-satu, Dialah yang berhak marah kepadaku. Mengapa engkau ikut-ikutan marah kepadaku? ” Hidung bengkok tertegun.

“Jadi karena perbuatan si mata-satu yang menyingkirkan mukanya ke samping, maka bakso melayang ke hidungmu. Engkau harus mencari nyelesaian kepadanya, bukan kepadaku!"

Selama memperhatikan kakek Lo Kun bicara, lelaki bermata satu itu mendapat kesan bahwa kakek itu kurang waras pikirannya. Diam2 timbul rencananya untuk mengocok kedua orang itu.

"Hai, kakek kepala kucing," teriak si Mata-satu, "engkau maksudkan, engkau berhutang kemarahan kepadaku dan aku berhutang kemarahan kepada orang itu, bukan? "--ia menunjuk si Hidung bengkok.

"Tepat!" teriak Lo Kun. "Engkau pandai berhitung? "

"Aku sudah tua, mengapa tak pandai? " "Mana lebih sedikit, dua dengan tiga? "

"Tentu saja dua! Jangan engkau mengolok aku seperci anak kecil, mata satu!"

"Jika begitu, urusan ini baik diperkecil saja Hutangmu kepadaku, akan kubayarkan hutangku kepada orang itu. Lunas. Jadi berikanlah kemarahan yang engkau pinjam

.kepadaku itu, kepadanya. Dia berhak menagih hutang kemarahan itu kepadamu!"

Lo Kun tertegun seperti berpikir. Sesaat kemudian berseru : "Bagus, engkau memang cerdik. Kalau begitu aku harus membayar hutang kepada hidung bengkok ini. Nah. hidung bengkok, sekarang engkau boleh menagih kepadaku. Apa yang engkau kehendaki? " Hidung bengkok merenung sejenak lalu berka ta : "Alasanmu bahwa engkau tiba2 berbangkis sehingga tanpa sengaja bakso itu meluncur dari mulutmu, memang dapat diterima. Tetapi cobalah engkau ulangi lagi bagaimana peristiwa itu sampai terjadi, agar aku dapat memutuskan, engkau memang sengaja berbangkis atau tidak!"

"Setuju!" teriak kakek Lo Kun lalu menyumpit sebutir bakso yang masih panas. Ketika hendak dimasukkan kedalam mulut, tiba2 ia bertanya, "apakah aku harus menirukan berbangkis lagi? "

"Tentu," sahut Hidung bengkok.

"Tidak mau!” teriak Lo Kun, "kalau memangnya tidak berbangkis, bagaimana aku harus disuruh berbangkis."

"O, ya, baiklah," kata Hidung bengkok, "cukup engkau ngangakan mulut dan seringaikan hidung seperti gaya orang berbangkis sajalah."

"Ya," kata Lo Kun lalu memasukkan bakso itu kedalam mulutnya. Kemudian ia mulai menyeringaikan hidung dan membuka mulut.

Haup.....uk, uk, uk.....

Pada saat Lo Kun ngangakan mulut, Hidung bengkok menghambur napas dan tahu2 bakso itu meluncur ke kerongkongan Lo Kun. Karena bakso masih panas dan tak dapat menggelinding kedalam perut, Lo Kun menjerit dan menguak-nguak kesakitan. Kerongkongannya seperti tersumbat benda panas.

Tiba2 pemuda cakap berdandan seperti sasterawan tadi berbangkit seraya berkipas-kipas agak keras : "Hai, jongos, kemarilah, aku hendak pesan… ” Ah….ah….aaah.....rupanya Lo Kun hendak berbangkis. Hidungnya seperti dikili-kili. Melihat itu Hidung bengkokpun menghembuskan hidungnya.

Kini keadaan kakek Lo Kun benar2 seperti monyet ketulangan. Hidung mengajak berbangkis tapi bakso tertahan di kerongkongan.

"Ha, ha, ha ..... monyet makan tulang!" si Mata-satu tertawa gelak2. Sekalian orangpun ikut tertawa geli.

Sekonyong-konyong masuk pula seorang tua yang berpakaian kumal penuh tambalan. Macam seorang pengemis. Punggung orangtua itu menyanggul sebuah buli2 arak. Sambil berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, dia masuk. Tiba2 ia terhuyung dan membentur tubuh kakek Lo Kun.

“Auh....." hidung bengkok menjerit ketika hidungnya tersambar bakso yang berada dalam mulut kakek Lo Kun.

Tanpa minta ijin kepada yang punya mulut, orang aneh pemabuk itu terus mengambil buli2 araknya dan mencekik tengkuk Lo Kun lalu memiringkan mulut buli2 kemulut Lo Kun.

"Aaaahhhh ...' fingng!” seketika kakek Lo Kun berbangkis dan arak yang diminumnya itupun muncrat kearah pemuda berkipas.

Pemuda sasterawan itu terkejut dan cepat menghindar ke samping.

"Jahanam!" Lo Kun marah setelah tahu dirinya dicekoki arak oleh pemabuk itu. Ia menyambar leher baju orang dan hendak di cekiknya.

Tetapi sekonyong-konyong ia dicekik dari belakang oleh si Hidung Bengkok. Dengan demikian, terjadilah cekik mencekik antara ketiga orang itu. Kakek Lo Kun mencekik leher si pemabuk, tengkuk leher Lo Kun pun dicekik dari belakang oleh si Hidung Bengkok.

Tetapi anehnya si pemabuk itu tenang2 dan tersenyum mengekeh. Bahkan ia mengambil buli2 araknya, minum seteguk lalu diulurkan buli2 itu ke mulut Lo Kun hendak diminumkan.

Lo Kun mendelik. Ia tak kenal siapa kakek pemabuk itu. Ia marah karena tadi mulutnya dijejali buli2 arak. Sekarang mau diulang lagi. Sudah tentu dia marah. Tetapi heran. Ia hendak menarik tangannya yang mencekik itu, tak bisa. Mau miringkan atau tundukkan kepala untuk menghindari mulut buli2, juga tidak bisa. Tubuhnya serasa kaku tak dapat digerakkan. Akhirnya arak dalam buli2 itupun masuk juga kedalam mulutnya.

Jika tadi ia hendak menghindar tetapi kini setelah menikmati arak yang wangi dan lezat, dia malah terus hendak menyedotnya.

"Eh, bung, dikasih sedikit masakan terus mau dihabiskan," kakek pemabuk itu menarik pulang buli2 araknya.

"Kakek Lo Kun, lepaskanlah cekikanmu," seru Sian Li seraya maju menghampiri dan hendak menarik tangan Lo Kun. Tetapi alangkah kejut Sian Li ketika saat itu tangannya seperti tersedot oleh tenaga yang kuat sekali. la hendak kerahkan tenaga-dalam tetapi terlambat. Tangannya melekat kencang pada tangan Lo Kun.

Juga lelaki berwajah kunyuk karena melihat kawannya, si hidung bengkok, tetap mencekik tengkuk Lo Kun, padahal Lo Kun tak kurang suatu, iapun segera berbangkit hendak melerai. Tetapi alangkah kejutnya begitu  tangannya menempel tangan si hidung bengkok, ia seperti tersedot dan melekat kencang. la hendak kerahkan tenaga-dalam untuk melepaskan tangannya, tetapi terlambat.

Melihat Sian Li tak melepaskan cekalannya pada lengan Lo Kun, Blo'on heran. Demikian Hoa Sin, Ceng Sian dan Hong Hong. Hanya apabila Blo'on terus berbangkit dan menghampiri Sian li, ketiga ketua partai persilatan itu terbatas pada menduga dalam hati. Ketiga ketua itu terkejut menyaksikan peristiwa seaneh itu. Mereka menarik kesimpulan bahwa kakek pemabuk itu tentu seorang tokoh sakti. Rupanya dia hendak mempermainkan Lo Kun dan si hidung bengkok dengan memberi saluran tenaga-dalam sakti.

Ketiga ketua itu legah karena melihat Blo’on maju. Mereka ingin menyaksikan dan membuktikan tenaga-aneh yang tersimpan dalam tubuh anak itu.

"Sian Li, engkau kenapa? ” seru Blo'on seraya menarik tangan sumoaynya. Tetapi seketika itu diapun tertegun seolah terkena aliran tenaga penyedot yang keras. Ia tak dapat melepaskan tangannya dan tangan Sian Li.

Blo'on ikut berdiri tegak seperti patung. Melihat itu, Hong Hoa totiang mengeluh: "Ah, rupanya Kim kongcu juga terkena tenaga-dalam yang dipancarkan pemabuk itu."

Hoa Sin tersenyum : "Kita nantikan saja. Kalau memang begitu, terpaksa kita harus turun tangan menyerang kakek pemabuk itu."

Kakek pemabuk itu tampak tenang2 dan tersenyum walaupun leher bajunya dicengkeram kedua tangan Lo Kun. Tetapi beberapa saat kemudian setelan Blo'on ikut maju dan terlekat, tiba2 wajah kakek pemabuk itu tampak terkejut dan muka mengerut tegang. Bahkan pada lain saat setelah wajahnya merah padam, kakek pemabuk itu terpental ke belakang dan terhuyung-huyung jatuh terduduk di kursi.

Matanya memandang tak berkedip kearah Blo’on. Wajahnya mengerut keheranan dan kekagetan.

Sebelum ia sampat berbuat sesuatu, tiba2 masuk pula seorang gadis bersama seorang nenek. Gadis itu cantik berseri laksana bunga mekar di pagi hari. Tetapi nenek itu penuh dengan keriput pada dahinya. Membawa sebatang tongkat bambu warna kuning.

Mata sekalian tetamu mencurah ruah pada gadis cantik itu. Namun gadis itu tak menghiraukan. Bersama si nenek bertongkat bambu kuning dia mencari sebuah meja di ujung.

"Kakek Lo, jangan memandang begitu rupa. Malu, ah." kata Blo'on seraya menarik lengan baju Lo Kun diajak duduk.

Rupanya kemunculan nona cantik itu telah menyirap suasana ketegangan. Hidung bengkokpun tak menghiraukan lagi pada Lo Kun, dia duduk di mejanya. Tetapi ia sengaja mengambil duduk di kursi yang mengarah ke tempat nona cantik itu.

Belum puas mata sekalian tetamu memandang nona cantik itu, tiba2 masuk pula seorang wanita cantik bersama dua orang gadis yang mengiring di belakangnya. Mereka bertiga mengenakan pakaian serba putih.

" Hurah! " tiba2 kakek Lo Kun memekik gembira, "hari ini aku akan makan dan minum sampai puas," kemudian ia berkata kepada Blo’on, "jangan buru2 tinggalkan rumah makan ini. Kalau engkau tetap memaksa hendak pergi, aku akan tinggal sendiri di sini."

"Mengapa? " tanya Blo’on. "Sialan," gerutu Lo Kun, "bukankah engkau tahu, di sini banyak wanita2 cantiknya? Kan sayang kalau kita  buru2 pergi? "

Tampak wanita cantik beserta dua orang gadis itu memandang ke arah meja Blo'on. Mereka bicara bisik2.

Tiba2 salah seorang dari gadis baju putih yang cantik itu berbangkit dan menghampri ke meja Lo Kun.

" Rasanya aku pernah kenal dengan kakek ..."

Belum gadis itu selesai bicara, Lo Kun sudah berbangkit dan menyahut : "Tentu, tentu. Aku kenal banyak sekali nona cantik, termasuk nona. Silahkan, duduk, silahkan duduk." Lo Kun terus memberikan kursinya.

"Ah, di sini penuh, lebih baik kakek pindah ke tempat kami saja," kata nona itu dengan tersenyum manis.

"Boleh ..... , " Lo Kun melangkah tetapi berhenti lagi, "eh, tetapi harap nona jangan sebut aku kakek? "

"Lalu? " nona itu kerutkan alis.

"Panggil saja paman atau. engkoh,” kata Lo Kun.

"Ih gadis itu mendesis lalu ayunkan langkah. Kakek Lo Kun mengikutinya.

Tiba2 Sian Li menggamit tangan sukonya: “Suko, apakah nona itu bukan anakmurid Partai Melati? "

Blo'on kerutkan dahi lalu menggeleng: "Entahlah, mana aku bisa ingat lagi? "

“Ya, kalau tak salah dia adalah murid dari Hu-yong pang yang pernah kita obrak-abrik dan bakar markasnya tempo hari." "Kakek Lo Kun memang gila paras cantik. Kalau melihat nona cantik, dia kelabakan setengah mati," ujar Blo'on.

"Tetapi yang ini lain, suko,” kata Sian Li, mereka tentu akan mencari balas kepada kita."

Tiba2 pandang mata Sian Li yang mengikuti langkah kakek Lo Kun, terbeliak : " Suko, lihatlah "

Blo'on berpaling memandang ke belakang. Ternyata ketika Lo Kun berjalan lewat di meja tempat kakek pemabuk tadi. tiba2 kakek pemabuk itu menyambar tangan Lo Kun dan diajak duduk.

"Mau ke mana engkau? Tua duduk sama tua. Muda sama muda," kakek pemabuk itu mengeluarkan buli2 arak, "nih, engkau boleh minum sepuasmu."

Lo Kun sebenarnya hendak membentak karena diganggu itu tetapi ketika melihat buli2 arak, ia diam saja. Bahkan terus menyambarnya dan meneguk.

Nona baju putih itu terkejut ketika mendapatkan kakek Lo Kun singgah di tempat seorang kakek berpakaian kumal.

Ia terus melangkah menghampiri ke tempat kedua kakek itu. Tiba2 sastrawan muda tadi pun berbangkit dan menghampiri ke tempat kedua kakek.

Sambil berkipas-kipas, ia memberi hormat pada nona baju putih itu : "Maaf, nona, apabila nona tak keberatan, biarlah aku saja "

Aaaajingngng .....

Tiba2 kakek Lo Kun berbangkis. Karena mulutnya penuh arak, arak itupun menyembur ke arah si nona baju putih dan tepat mengenai mukanya yang cantik. Belum sempat nona itu berbuat apa2, kembali ia sudah disembur pula oleh mulut Lo Kun yang berbangkis untuk kedua kalinya.

Sekalian tetamu terbeliak kaget. Aaahhjingng !
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 42 Berangkat"

Post a Comment

close