Pendekar Bloon Jilid 11 Pungguk merindukan bulan

Mode Malam
Jilid 11 Pungguk merindukan bulan

Ternyata pada saat barisan Melati-menolak-kumbang dari keenam belas gadis-gadis cantik murid Partai Melati menaburkan benda-benda kecil warna hitam kearah gadis pemimpin barisan, gadis itupun cepat memutar pedangnya untuk menghalau.

Sebagai murid pertama dari Hu-Yong sian-cu atau Dewi Melati ketua Partai Melati, ternyata nona itu memiliki ilmupedang yang hebat. Ratusan benda-benda hitam yang mencurah bagai hujan itu dapat dihalaunya sehingga tak sebuahpun yang mengenai tubuhnya.

Tetapi karena jumlahnya sekian banyak,maka ada juga berpuluh benda kecil yang tak mengenai tubuh si nona, melainkan terus melayang jauh ke belakangnya. Dan kebetulan pula tempat persembunyian Blo'on dan kedua kakek itu terletak di belakang nona itu.

Benda-Benda kecil hitam itu ternyata biji-biji buah kelengkeng. Tetapi dilontarkan oleh keenam belas murid- murid Partai Melati, biji-biji kelengkeng itu berobah seperti batu kerasnya. Derasnyapun seperti anak panah yang dilepaskan dari busur.

Kakek Lo Kun yang sejak tadi memandang barisan gadis- gadis cantik itu dengan gemetar, hidungnya kena tersambit sebutir biji kelengkeng itu. Semangatnya yang sedang terbang melayang dibuai kecantikan gadis-gadis itu. serentak masuk kembali ke dalam dadanya dan karena hidungnya terasa sakit seperti ditembak peluru, kakek itupun menjerit lalu mendekap hidungnya.

Blo’on yang juga kesima melihat pemandangan aduhai itu. terkejut mendengar jeritan tertahan dari Kakek Lo Kun. Tetapi saat itu juga dahinya tertimpah sebutir biji kelengkeng. Serentak ia menjerit : "Aduh, mak ..." lalu cepat mendekap dahinya.

Kakek Kerbau Putih melihat barisan gadis-gadis jelita itu dengan mulut melongo atau terbuka. Mendengar kedua orang itu menjerit tertahan, ia terkejut dan hendak mendamprat mereka supaya jangan mengeluarkan suara keras. Tetapi belum sempat ia mengatupkan mulut, sebutir biji kelengkeng telah nyasar masuk, haup ....

Kakek Lo Kun dan Blo'on masih mending. Kakek Kerbau Putih yang paling sial. Biji kelengkeng masuk kedalam mulutnya, menghantam dinding kerongkongan, Haup . . dan rubuhlah kekek itu ke tanah. Karena dirinya sendiri sedang sibuk kesakitan maka kakek Lo Kun dan Blo’on tak sempat mengurus kakek Kerbau Putih yang sudah menggeletak di tanah itu. Kakek Lo Kun bingung mengusap-usap hidungnya yang mengucurkan darah. Blo'on sibuk mengelus-elus dahinya yang membenjul

Karena masih tegang dengan latihan barisan Melati- menolak-kumbang. maka gadis-gadis murid Partai Melati itu tak sempat memperhatikan hiruk pikuk yang timbul dari hutan pohon melati.

Saat itu setelah hujan biji kelengkeng selesai gadis pemimpin lalu menerjang ke dalam barisan. Tiba-Tiba lapisan terdepan dari barisan itu berhamburan menurut ke arah dua samping sehingga gadis itupun menyerang angin dan meluncur maju. Lapisan kedua dari barisan, juga memecah diri seolah-olah membuka jalan kepada penyerang itu. Tetapi setelah penyerang itu berada di tengah barisan, sekonyong- konyong anggauta barisan itu berhamburan maju dan membentuk diri sebagai kelopak-kelopak bunga melati. Dengan demikian maka terkurung gadis penyerang itu di tengah-tengah barisan ... .

Beberapa saat kemudian, Blo'on sudah lebih cepat hilang sakitnya. Melihat kakek Kerbau Putih masih menggeletak, ia memeriksanya. Ternyata kakek Kerbau Putih itu pingsan. mulutnya mengumur darah ....

"Kakek, engkau bagaimana ?" seru Blo'on seraya mengguncang guncang tubuh kakek Kerbau Putih, tetapi kakek itu tetap tak menyahut. Kedua matanya terpejam rapat.

"Mungkin dia mati” seru kakek Lo Kun seraya masih mendekap batang hidungnya. "Mati ?" Blo'on mengulang. Sebenarnya kakek Lo Kun hanya menduga tetapi Blo'on menganggap memang kakek Kerbau Putih sudah mati sesungguhnya. Serentak anak itu loncat bangun terus loncat keluar dari dalam tempat persembunyiannya dan lari kearah rombongan murid-murid Partai Melati yang tengah berlatih itu.

"Hai. budak-budak perempuan hina ! Gantilah jiwa sahabatku !" teriaknya seraya kepalkan tinju dan mengacungkan ke atas.

Saat itu barisan sedang melancarkan serangan untuk menghancurkan gadis penyerang atau toa -suci mereka. Mendengar munculnya seorang pemuda yang lari berteriak- teriak dan memaki-maki, serempak mereka berhenti.

Betapalah kejut ke tujuhbelas gadis-gadis cantik itu ketika melihat seorang pemuda yang aneh potongan mukanya berlarian mendatangi dengan diiring oleh seekor anjing, burung rajawali dan monyet hitam.

Gadis murid pertama dari Partai Melati cepat menyusup keluar dan maju kemuka, serunya "Hai, siapa engkau !"

Saat itu Blo'onpun sudah tiba dan berhadapan dengan gadis itu, Ia menudingnya : "Itu tidak penting ! Yang penting engkau harus bertanggung jawab atas kematian kakekku !"

Gadis itu melongo : "Siapa yang mati ?"

"Kakek Kerbau Putih !" dengus Bloon "hm jangan engkau pura-pura berlagak pilon !"

"O, kakekmu seekor kerbau putih ?" tanya gadis itu keheranan.

"Gila engkau !" damprat Blo'on. "kerbau pu tih itu bukan binatang tetapi seorang manusia." "Seorang manusia ?" gadis itu makin heran.

"Yaaaa !" teriak Blo'on marah, "apakah engkau tuli ?"

"Eh, bung. engkau ini orang gila atau waras ?" bentak sigadis.

"Jangan banyak mulut !" Bloon balas membentak, "lekas engkau mengganti jiwa kakekku"

"Mengapa aku yang harus mengganti jiwanya?

"Karena dia mati terkena taburan biji-biji hitam dari barisan anak-anak perempuan itu !"

"O," teriak gadis itu, "seharusnya memang begitu. Bahkan engkaupun harus ikut mati dengan kakekmu itu."

"Gila !"

"Engkau tahu tempat apa ini ?" tanya sigadis mulai marah. "Tahu. Tempat ini tempat menculik pemuda-pemuda

bagus." sahut Blo’on.

"Jahanam, jangan omong sembarangan !" bentak gadis itu dengan merah padam mukanya "siapa bilang tempat ini tempat untuk menculik pemuda-pemuda cakap ?"

"Bok kausu !'

"Bok kausu ? Siapa Bok kausu itu ?" tanya si gadis makin keheranan.

"Bok kausu itu guru silat pada tihu Hong-yang-hu, Katanya anak tihu itu juga diculik kemari !”

Gadis itu berkilat-kilat matanya. Wajahnya mulai menampil hawa pembunuhan : "Engkau tahu apa nama tempat ini ?"

"Tidak tahu jelas. Tetapi kuduga tentu Lembah Melati ?

Karena disini banyak tumbuh hutan melati," sahut blo'on. "Dan siapa yang memiliki lembah ini ?'

"Gerombolan anak-anak perempuan yang menamakan dirinya Partai Melati !"

"Jahanam !" karena tak dapat menahan kemarahannya gadis itu terus loncat memukul muka Bkon. Tetapi seketika itu anjing Kuningpun terus loncat menyongsongnya. Begitu pula rajawali lalu terbang menyambar mukanya.

Gadis itu kaget dan loncat menghindar ke samping.

"Ho, bilang saja terus terang. Engkau mau mengganti jiwa kakekku atau tidak. Kata orang, hutang uang bayar uang, hutang jiwapun harus bayar jiwa !" teriak Blo'on.

"Siapa yang hutang jiwa !" bentak gadis itu pula, "barangsiapa berani masuk ke dalam markas Partai Melati tanpa izin, tentu akan lenyap jiwanya. Bagaimana engkau dapat masuk ke dalam sini ?"

"Dari bawah bumi !"

"Ngaco !" gadis itu marah, "engkau harus serahkan jiwamu!"

Blo'on garuk-garuk kepalanya yang gundul : ''Siapa yang harus menyerahkan jiwanya itu ? Kawan-kawanmu telah membunuh kakekku, mengapa engkau malah hendak minta jiwaku '

"Karena engkau berani masuk ke dalam markas kami " "Bukankah engkau malah mencari lelaki-lelaki dari luar ?"

tanya Blo’on.

"Buat apa pemuda semacam engkau ? Pantasnya engkau hanya patut menjadi tukang rumput disini". Bloon berjingkrak marah : "Apa?.Engkau berani menghina aku? Kata Somali, aku ini putera raja Apa engkau ini. hanya gadis gunung yang cabul "

Gadis itu tak dapat menahan kemarahannya. Serentak ia mencabut pedang dan terus menyerang Bloon.

Blo'on terpaksa berloncatan menghindar.

Gadis itu diam-diam heran. Kalau melihat orangnya, pemuda itu seperti orang blo'on. Dan kalau melihat gerakannya, pemuda itupun seperti tak mengerti ilmusilat. Tetapi mengapa gerakannya tubuhnya begitu gesit sekali. Berulang kali ia melancarkan serangan yang berbahaya, selalu pemuda itu dapat menghindari.

"Hai. berhenti Blo'on !" tiba-tiba kakek LoKun berlari-lari menghampiri dan berseru kepada Blo' on

"Ya, aku mau berhenti tetapi anak perempuan itu tetap menyerangku saja" kata si Blo'on.

'Nona cantik, berhentilah, aku hendak bicara." seru kakek Lo Kun kepada gadis itu.

Memang gadis itupun terkejut karena muncul nya kakek Lo Kun. Ternyata pemuda blo'on itu membawa teman. Ia segera loncat mundur.

"Nona manis, ai. sayang" kata kakek Lo Kun. "mengapa engkau menyerang cucuku ini ?”

"Siapakah engkau ini !"

"Aku Lo Kun, dahulu menjabat kepala pasukan bhayangkara istana raja." Nona cantik itu terbeliak. Memandang kakek Lo Kun beberapa saat lalu berseru: "Mengapa engkau berani menyelundup masuk ke markas ini?"

"Aku hendak mencari isteriku yang hilang"

"Oh." desuh nona itu. "isterimu hilang ? Siapakah isterimu itu ? Mengapa engkau mencarinya kemari ?

"Karena anakbuah disini melulu wanita semua. Dia tentu lari kemari."

"Eh. kakek, jangan bicara seenakmu sendiri saja, Bagaimana engkau bisa mengatakan tentu ke mari ?" nona itu mulai merah mukanya.

"Karena tadi di tengah jalan aku sudah bertemu dengan dia

..."

"Bertemu dengan dia ?" nona itu makin kaget, "siapa namanya ?"

"Sun Li-hoa."

"Gila !" bentak nona itu, "disini tak ada anak murid yang bernama begitu '

"Dia tentu ganti nama. Aku sudah tua tetapi mataku masih awas, tidak kalah dengan engkau nona manis. Jelas aku tadi bertemu dia naik kereta,"

"Menuju kemari ?"

"Kemungkinan besar karena dia terus melarikan diri kedalam hutan ini dan hilang," kata kakek Lo Kun terus melangkah maju.

"Hai, hendak kemana engkau ?" nona itu cepat menghadang, lintangkan pedangnya. "Tentulah isteriku itu berada dalam rombongan nona-nona cantik itu karena isteriku juga cantik.”

Belum nona itu menyahut, tiba-tiba dari belakang kakek Lo Kun terdengar langkah kaki orang berlari mendatangi seraya berseru "Hai, setan pendek, mengapa engkau tinggalkan aku?"

Ketika Lo Kun berpaling ternyata yang berlari mendatangi itu kakek Kerbau Putih.

"Hai, kerbau, mengapa engkau tidak jadi mati ?" seru kakek Lo Kun,

"Siapa bilang aku mati ?"

"Kakek Lo Kun !" seru Blo'on yang juga maju menyongsongnya, "karena mengira engkau benar sudah mati aku terus minta ganti jiwa kepada anak perempuan itu." ia menunjuk pada sinona yang menjadi wakil pimpinan lembah Melati.

Kakek Kerbau Putih tak menghiraukan si Blo'on. Begitu matanya tertumbuk pada seorang nona cantik, ia terus langsung menghampiri. Berdiri di hadapannya dan memandangnya lekat-lekat.

"Kakek gila, mengapa engkau memandang aku sedemikian rupa ?" bentak nona itu.

"Kukira engkau ini kekasihku Sun Li hoa yang naik kereta tadi. Ternyata hanya mirip saja tetapi bukan." kata kakek Kerbau Putih.

"Gila !" bentak nona itu pula. "masakan kakek tua seburuk engkau mempunyai kekasih seorang nona cantik"

Kakek Kerbau Putih hendak menyahut tetapi tiba ia melihat kakek Lo Kun lari menyelinap dari samping si nona. Cepat ia meneriakinya: "Hai, kakek pendek, hendak kemana engkau ini?"

"Akan mencari Sun Li-hoa ditempat rombongan nona-nona cantik itu." seru si kakek Lo Kun. Tetapi pada saat itu juga nona yang mengetuai barisan itu. cepat loncat menghadang. Bahkan menyahat dengan pedangnya.

"Huh, engkau hendak membunuh aku ?" kata kek Lo Kun loncat menghindar.

"Disini adalah markas Partai Melati. Tidak boleh orang bertingkah semaunya sendiri"

"Tetapi aku hendak mencari isteriku.” bantah Lo Kun "Ngaco" bentak nona itu. "disini tak ada Sun Li-hoa"

"Belum tentu," bantah kakek Lo Kun, "aku akan memeriksa rombongan nona-nona cantik itu."

"Hm, berani maju selangkah saja, engkau tentu kutabas" Kakek Kerbau Putih menghampiri, serunya : "Setan pendek,

benarkah nona yang naik kereta itu berada dalam rombongan nona-nona cantik itu ?"

"Ya, tentu,"

"Kalau begitu, aku saja yang akan menelitinya" kata kakek Kerbau putih terus lari maju.

Nona itupun cepat loncat menghadang dengan sebuah tabasan : "Berhenti"

Tetapi disana kakek Kerbau Putih berhenti maka kakek Lo Kun pun terus memberosot lari. Nona itu tinggalkan kakek Kerbau Putih dan loncat menyerang Lo Kun. Begitu terlepas, kakek Kerbau Putihpun terus lari maju lagi. Demikian sinona dibuat menjadi pontang panting. Kalau menghadang Lo Kun, kakek Kerbau Putih lari maju. Kalau mencegah Kerbau Putih, kakek Lo Kun yang maju. Jarak kedua kakek itu beberapa belas langkah. Maka sibuk juga nona itu dibuatnya.

Diam-Diam nona itupun merasa aneh. Jelas diketahuinya bahwa kedua kakek pendek dan bungkuk itu seperti orang linglung, Tetapi mengapa serangannya selalu dapat dihindari mereka?

Pelahan-lahan kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putihpun makin mendekati ke tengah lapangan dimana barisan murid- murid Partai Melati masih tegak menunggu. Mereka tahu bagaimana toa-suci mereka telah dibuat kewalahan oleh dua orang kakek aneh. Tetapi karena tak diberi perintah, rombongan nona-nona cantik itupun tak berani bergerak membantu.

Dalam pada itu Blo'onpun mengikuti maju, diiring ketiga binatang peliharaannya. Melihat perwujutan kedua kakek dan Blo'on, rombongan murid-murid Partai Melati itu tak dapat dan menahan gelinya. Mereka tertawa mengikik.

Akhirnya kakek Lo Kun dan Kerbau Putih berhasil mendekati barisan nona-nona cantik itu. Dan merekapun berhenti. Diam- Diam nona pemimpin barisan itu menimang, la teringat akan kata-kata suhunya bahwa dalam dunia persilatan ini memang banyak tersembunyi tokoh-tokoh sakti, Dan pada umumnya orang-orang sakti macam begitu tentu berwatak aneh.

"Hm, mungkin kedua kakek ini orang-orang sakti yang berwatak aneh." pikir si nona, "baiklah kuganti siasat saja supaya dia lekas pergi dari lembah ini." "Baik, silahkan engkau meneliti murid-murid Partai Melati," kata nona itu, "tetapi ada syaratnya."

"Syarat apa ?" tanya kakek Lo Kun,

"Bila ternyata isterimu tak ada disini. engkau harus menerima hukuman seperti yang telah ditetapkan oleh Partai Melati"

"Bagaimana hukumannya itu ?"

“Kepala, kedua tangan dan kedua kakimu diikat dengan tali lalu diseret oleh lima ekor kuda "

"Huh. ngeri benar !" teriak kakek Lo Kun, "mengapa sekejam itu orang-orang Partai Melati. Bukankah kalian ini anak perempuan semua ? Mengapa berhati sedemikian kejamnya ?"

"Itu peraturan untuk menjaga jangan sampai orang luar dan orang-orang gila atau iseng berani sembarangan mengotori markas kami !"

"Siapa yang membuat peraturan sekejam itu?” masih kakek Lo Kun bertanya pula.

"Ketua kami Hu Yong sian-cu !" "Suruh ketuamu itu keluar kemari !"

Nona itu kerutkan dahi, bentaknya : "Ngaco Suhu kami tentu tak sudi menemui manusia semacam engkau. Dan saat ini beliau sedang pergi."

"Lalu siapa yang mengurus lembah ini ?" "Aku."

"O. engkau ? Mengapa engkau begitu kejam?”

"itu sudah peraturan disini. Aku hanya menjalankan saja" Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih menyelutuk : "Setan pendek, jangan enak-enak engkau bicara dengan nona cantik itu. Hayo. lekas engkau beri keputusan. berani atau tidak menerima syaratnya ?"

Kemudian kakek Kerbau Putihpun berkata kepada nona itu : "Nona manis, aku saja yang memeriksa mereka. Aku berani menerima syaratmu itu.

Habis berkata ia terus melangkah maju ke barisan gadis cantik.

"Hai, kerbau goblok, aku juga berani !' ka kek Lo Kun terus menyusul.

Dipandang dan diawasi oleh dua orang kakek pendek dan bungkuk, sudah tentu keenambelas gadis-gadis cantik itu risih dan malu.

"Kakek, engkau ini bangsa manusia atau setan ?" seru salah seorang gadis yang diatas mulutnya mempunyai tahi lalat.

"Aku ini manusia !" sahut kakek Lo Kun.

"Kalau manusia mengapa melihat orang begitu rupa seperti tak pernah melihat saja ?" kata nona bertahi lalat itu.

Kakek Lo Kun garuk-garuk kepala: "Karena aku bingung menghadapi kalian ini. Mengapa hampir sama cantiknya? Dan mengapa seperti isteriku semua ?"

"Siapakah isterimu '

"Sun Li-hoa, muda dan cantik seperti kalian ini," kata Lo Kun. "lalu apakah kalian ini Sun Li-hoa semua? Ya. apa boleh buat. Kalau memang begitu, akupun harus mengambil kalian semua" "Untuk apa engkau hendak mengambil kami?” tanya nona itu pula.

"Sun Li-hoa itu isteriku. Kalau kalian ini Sun Li-hoa semua, berarti akan jadi isteriku semua.”

Serentak pecahlah gelak tawa dari keenambelas gadis cantik murid-murid Partai Melati. Salah seorang gadis yang bertubuh padat dan genit segera berseru : "Kakek, engkau sudah begitu tua. masakan engkau sanggup mempunyai isteri muda sekian banyak!"

"Apa maksudmu, manis?" tanya kakek Lo Kun

"Apakah engkau dapat memenuhi kewajiban seperti seorang suami ?" tanya gadis montok itu pula.

"Mengapa tidak ?" seru kakek Lo Kun.

''Engkau mampu memenuhi kebutuhan jasmaniah dari enam belas gadis-gadis yang masih muda seperti kami ? Apakah engkau sanggup "bekerja” enambelas kali dalam satu malam?"

Serentak pula pecah gelak tawa mengikik dari saudara- saudara seperguruannya mendengar kata-kata itu. Memang mereka gadis-gadis cabul,

"Eh, jangan main-main engkau,' Kakek Lo Kun tersipu-sipu "kalian enambelas orang itu akan kubagi jadi empat sehingga tiap orang mendapat giliran empat hari satu kali. Apakah itu tidak cukup ?"

"Ai, empat hari terlalu lama. Kami tak mau disuruh kesepian sampai empat hari. Kami minta tiap hari atau paling lama dua hari sekali," seru nona yang mulutnya menyungging tahi lalat itu Kakek Lo Kun garuk-garuk kepala. Belum ia membuka mulut, tiba-tiba kakek Kerbau Putih sudah berteriak : "Ha. inilah kekasihku Sun Li-hoa yang sejati . . . " ia terus menghampiri seorang nona cantik yang bertubuh langsing.

Nona itu bernama Pek Lian-Iian. Diantara ke enam belas anakmurid Partai Melati, dialah yang tercantik sendiri.

"Kakek gila !" bentaknya dengan muka kemerah-merahan, "siapa sudi jadi isterimu ?"

"Oh, Sun Li-hoa kekasihku yang cantik manis seperti bunga," kakek Kerbau Putih setengah meratap dan merayu, "berpuluh tahun aku mencarimu, siang dan malam aku mengenang wajahmu yang cantik, mengapa sekarang engkau tak mau mengaku aku sebagai kekasihmu lagi ?"

"Kakek edan !" damprat Lian-lian, "aku bukan Sun Li-hoa, aku Pek Lian-lian murid Partai Melati. Engkau salah lihat. Matamu sudah kabur !"

"O. kekasihku," masih kakek Kerbau Putih meratap-ratap rayuan, "aku tak keberatan engkau berganti nama dengan Pek Lian lian atau siapa lagi. Yang penting dirimu,, bukan namamu. Lebih penting lagi, engkau jangan mengingkari aku .

. "

Karena marah dan malu Pek Lian-lian sampai tak dapat bicara.

"Nah, begitulah baru hatiku senang, kekasihku," kata kakek Kerbau Putih lalu berpaling kepada gadis pemimpin barisan.

"Inilah Sun Li-hoa. kekasihku itu " serunya dengan tertawa gembira.

Nona itu terkesiap. Tetapi ia cepat menyadari bahwa kakek Kerbau Putih itu seorang kakek yang limbung. "Bagaimana engkau dapat mengatakan kalau dia kekasihmu yang dulu ? Berapa umurmu sekarang ?" serunya.

"Aku ?" kakek Kerbau Putih menghitung-hitung jarinya lalu menjawab, "lebih dari seratus tahun."

"Hm. dan berapakah umur nona yang engkau katakan sebagai kekasihmu dahulu itu ?"

"Paling banyak tentu . . eh, berapa? Aku tak tahu !"

"Dia baru berumur 17 tahun" seru si nona, "pada waktu engkau masih muda, dia belum lahir sama sekali, Mungkin orangtuanyapun juga belum lahir. Dia pantasnya menjadi cucumu !"

"Aku tak butuh segala hitungan umur. Pokok, dia itu adalah Sun Li-boa kekasihku yang dulu" kakek Kerbau Putih gelengkan kepala.

Nona itu hampir marah tetapi tiba-tiba ia bertanya : "Bagaimana engkau tahu kalau Sun Li-hoa itu berada disini ?"

"Lho. engkau ini bagaimana ?" seru kakek Kerbau Putih, "semalam dia naik kereta dengan Somali. Aku disuruh berlutut meramkan mata lalu dia terus melarikan keretanya !"

"Aku tidak naik kereta tadi malam. Aku tetap berada di dalam asramaku" seru Pek Lian-li-an.

Nona pemimpin barisan kerutkan dahi, serunya : "Siapakah diantara sumoay sekalian yang tadi malam keluar dan pulang dengan naik kereta"

"Aku," sahut seorang gadis bertubuh semampai.

'O. engkau Hun-hun sumoay," seru nona pemimpin banssn, "apakah engkau berjumpah dengan kakek ini?" Ong Hun-hun mengiakan : "Dia menghadang keretaku dan seperti orang gila mengaku aku ini kekasihnya. Dia sungguh memuakkan sekali"

"Siapa yang memuakkan ?" seru kakek Kerbau Putih. "Engkau !"

"Betul ! Betul Dia memang memuakkan, seorang kakek bungkuk yang tahu diri. Beda dengan aku. bukan ?" tiba-tiba kakek Lo Kun menyelutuk seraya maju menghampiri.

"Ya, engkau memang beda dengan dia. . "

“Terima kasih nona manis." kata kakek Lo Kun dengan tertawa tawa.

"Kalau kakek bungkuk itu memuakkan, tetapi engkau menyeramkan seperti setan"

Seketika pecahlah tawa sekalian gadis-gadis cantik itu mendengar kata-kata Ong Hun-hun.

"Ho, ho," kakek Kerbau Putih tertawa meloroh, "setan pendek, sekarang baru engkau ketemu batunya.”

Kakek Lo Kun menyeringai : "Hai, tak apa, nona manis.

Pokoknya, engkau mencintai aku!"

Kemudian kakek pendek itu berpaling kepada nona pemimpin barisan dan berkata :"Sekarang aku sudah menemukan Sun Li-hoa isteriku. Ternyata dia memang berada disini."

"Yang mana ?" tanya nona itu.

"Sudah tentu yang ini " kakek Lo Kun menunjuk kepada sinona bertubuh semampai yang mengaku tadi malam pulang naik kereta. "Dia bukan Sun Li-hoa tetapi Ong Hun-hun" seru nona itu. "Memang setan pendek itu salah lihat. Sun Li-hoa yang aseli

ialah ini." tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru dan menunjuk pada Pek Lian-lian.

"Tidak" seru Lo Kun, "bukan itu tetapi ini" Kedua kakek itu mulai berbantah.

"Hi. hi, hi. hayo. terus hantam si pendek itu" teriak beberapa gadis cantik.

"Balas, kakek pendek, pukullah kakek bungkuk itu supaya mati " teriak gadis yang lain.

Mereka bersorak-sorak, menganjurkan supaya kedua kakek itu berhantam sekuat kuatnya. Dan ternyata kedua kakek limbung itu memang seperti cengkerik yang dikili. Keduanya makin bertempur seru.

'Berhenti" tiba-tiba Blo'on berteriak membentak supaya mereka berhenti. Dan rupanya kedua kakek itu memang taat kepada Blo'on. Merekapun serentak berhenti berkelahi.

"Mengapa engkau berkelahi sendiri ? Engkau seperti cengkerik yang kena diadu saja" bentak Blo'on. Kemudian ia mendamprat kepada rombongan gadis-gadis Partai Melati : "Hai, anak perempuan, jangan kalian mencelakai kedua kakekku ini"

Lalu Bloon mengisar tubuh menghadap ke arah nona pemimpin barisan : "Hai, kawanmu mengaku kalau semalam pulang dengan naik kereta. Di dalam kereta itu terdapat seorang pemuda Lalu dimanakah pemuda itu ?"

"Cis, itu urusanku, jangan coba engkau campur tangan" balas nona itu. "Siapa bilang itu urusanmu? Apakah pemuda itu anggauta Partai Melati ?" seru Blo’on pula.

"Benar," tiba-tiba kakek Lo Kun ikut berteriak, "yang berada dalam kereta itu Somali, kawan kita Lekas bawa dia keluar "

'Ya, dimana Somali? Kalau engkau tak mau membawanya keluar, terpaksa aku hendak mencari kedalam markasmu sendiri." seru kakek Kerbau Putih.

Nona pemimpin barisan itu bernama Ting San-hoa. murid pertama dari Hu Yong sian-cu si Dewi Melati yang mendirikan perkumpulan Partai Melati dan bermaskas di Lembah Melati. Dia adalah murid yang paling cerdas dan setia serta  terpercaya dari Dewi Melati.

Bermula ia hendak gunakan siasat untuk mengusir rombongan kakek-kakek gila itu. tanpa mengeluarkan tenaga. Tetapi demi mendengarkan pembicaraan mereka berloncat- loncat menurut angin, sebentar membicarakan soal isteri, kekasih. Sebentar lagi mengurus orang yang disebut-sebut bernama Somali. Seenaknya sendiri mereka mengoceh sehingga San-hoa tak sempat mengurus mereka Bukan fihak Lembah Melati yang akan menjatuhkan hukuman kepada mereka karena berani menyelundup masuk kedalam markas. Tetapi kebalikannya rombongan kakek itu yang menuntut ini itu kepada Lembah Melati. Kalau dibiarkan begitu terus menerus, tentu kalang kabut.

"Keadaan ini harus segera kuakhiri dan kedua kakek itu harus kuhentikan kegilaannya," akhirnya ia mengambil keputusan.

"Hai, kamu kakek-kakek gila dan pemuda blo'on" katanya dengan garang, "disini tak ada Somali, tidak ada Sun Li-hoa pula. Yang ada hanya dua orang kakek linglung dan seorang pemuda bloon yang sebentar lagi akan ditarik tubuhnya oleh lima ekor kuda "

"Siapa ?" serempak kakek Lo Kun dan Kerbau Putih berseru.

"Kalian berdua dan pemuda itu !" kata Ting San-hoa. "sekarang tinggal kalian boleh pilih sendiri Menyerah dan nanti hukumannya kuringankan. Atau melawan dan nanti hukumannya lebih berat?"

"Coba katakan dulu bagaimana hukuman yang ringan dan bagaimana yang berat itu ?" seru kakek Lo Kun.

"Yang ringan, akan kuperintahkan supaya ke lima ekor kuda itu menarik tubuhmu cepat-cepat agar engkau tak usah lama- lama menderita kesakitan. Dan hukuman yang berat, akan kusuruh kelima kuda itu menarik tubuhmu pelahan-Iahan sehingga engkau nanti akan merasakan suatu penderitaan yang luar biasa sakitnya "

"Aduh mati aku . , . " kakek Lo Kun men jerit ngeri, "mengapa anak perempuan sekejam engkau? Engkau cantik tetapi hatimu kejam sekali"

"Lembah Melati bukanlah tempat yang boleh sembarangan dimasuki oleh orang terutama orang-orang tak waras seperti kalian ini !"

"Ya kalau tak boleh, akupun segera akan membawa isteriku pergi dari sini," sahut kakek Lo Kun.

"Ngaco !" bentak San-ho marah sekali.

"Dan akupun akan membawa kekasihku pulang," kata  kakek Kerbau Putih.

"Edan engkau!" bentak San-hoa makin marah "Aku hendak membawa Somali pergi dari neraka ini." seru Blo'on.

"Gila !" bentak San-hoa pula seraya deliki mata kepada Blo’on

Blo’on terbeliak dan tutupi matanya : "Uh, jangan pandang aku sebuas itu !"

"Lekas bilang, kalian menyerah atau mau melawan ?" teriak San-hoa.

"Nanti dulu " tiba-tiba kakek Lo Kun berseru pula. "tadi aku sudah menerima syaratmu dan berhasil menemukan Sun Li- hoa. Engkau hanya mengatakan kalau aku tak dapat menemukan isteriku aku harus menerima hukuman mati. Tetapi sekarang aku menemukannya lalu bagaimana ?"

"Serahkan dirimu supaya diseret lima ekor kuda tegar !" "Ngaco !" teriak kakek Lo Kun.

"Edan !" pekik kakek Kerbau Putih.

"Gila !" seru Blo'on, "aku anak laki masakan sudi menyerah pada anak perempuan. Tidak uku tak mau serahkan diri !"

"Hm, baiklah," kata San hoa. "sekarang kalian boleh bersiap melawan." Habis berkata ia terus memberi isyarat kepada barisan Melati untuk mengepung ketiga orang itu.

Lo Kun, kakek Kerbau Putih dan Blo'onpun berunding bagaimana untuk menghadapi barisan nona-nona cantik itu.

"Apakah kita menggunakan cara seperti waktu berhadapan dengan barisan Lo-han-tin di Siau-lim-si ?" tanya kakek Lo Kun.

"Apakah perutmu bisa meledak lagi seperti tempo hari ?" tanya kakek Kerbau Putih. "Edan," gumam kakek Lo Kun. "saat ini perutku tak apa- apa. Masakan suruh mengeluarkan kotoran lagi ..."

"Tetapi kotoran perutmu itu benar-benar hebat, dapat membuat paderi-paderi Siau limsi muntah-muntah dan bubar," kata kakek Kerbau Putih.

"Tetapi aku malu," kata kakek Lo Kun, "dulu didepan kawanan kepala gundul. Itu tak apa. Sekarang kalau suruh aku begitu lagi dihadapan nona-nona cantik, aku malu !"

"Ada akal," tiba-tiba Blo'on menyelutuk. "mereka tentu akan bubar dan lari.”

"Apa ?" tanya kakek Kerbau Putih.

"Akan kusuruh anjing, burung dan monyet untuk ikut menyerang mereka."

"Ya, itupun boleh juga," kata kakek Kerbau Putih.

Perundingan itu dilakukan dengan bisik-bisik. Dalam pada itu barisan Partai Melati sudah bersiap, Tiba-Tiba San-hoa, sinona pemimpin barisan, tak sabar menunggu.

"Hayo. sekarang kita mulai akan menyerang” serunya.

"Hm, terhadap nona-nona cantik, tak perlu kita atur siasat apa-apa lagi. Masakan kita kalah," kata kakek Lo Kun, "tetapi ingat engkau, Blo’on. Kalau memukul jangan keras-keras !"

Lapisan pertama dari barisan murid Partai Melati segera menyerang. Ketika kakek Lo Kun. kakek Kerbau Putih dan Bloon hendak menghindar, ternyata keempat nona itupun loncat mundur. Sehingga kedua kakek dan Bloon tercengang.

Lapisan keduapun serentak maju. Ketika kedua kakek dan Bloon menghindar lagi. nona-nona itupun menyurut mundur. Untuk kedua kalinya Blo'on dan kedua kakek meringis. Karena mereka bergerak sendiri, tak ada yang mengejar.

Lapisan ketiga, maju menyerang. Pun Blo'on dan kedua kakek itu mengalami nasib serupa. Ketika menghindar ke samping, ternyata keempat nona itupun tak mengejar melainkan menyurut mundur. Hanya saja pengunduran ketiga lapis barisan itu berlainan arahnya. Lapisan pertama, mundur ke sebelah timur. Lapisan kedua kesebelah barat dan lapisan ketiga ke sebelah utara. Sedang lapisan ke empat tak bergerak melainkan tetap berada di sebelah selatan. Dengan demikian barisan itu ibarat bunga yang merekah, menempatkan korbannya di tengah-tengah.

"Hm. mereka mengepung kita dari empat jurusan," bisik kakek Kerbau Putih, "kitapun harus menghadapi empat jurusan. Aku yang menghadap selatan. Lo Kun utara. Blo'on timur dan ketiga binatang itu ke sebelah barat !"

Dalam menghadapi pertempuran, ternyata kakek Kerbau Putih tidak limbung. Ia dapat mengatur orang untuk melawan musuh Seperti di kala berada dalam Siau-lim-si dulupun juga dia yang memegang komando.

Demikian pertempuran segera dimulai. Blo'on bersilat dengan ilmu pukulan Hang-liong-sip pat-ciang ajaran kakek Kerbau Putih, Wut, wut, tamparannya menimbulkan deru angin yang hebat.

Kelompok barisan gadis cantik yang berada disebelah timur terkejut. Mereka tak menyangka bahwa pemuda yang rampaknya seperti orang blo'on itu, ternyata memiliki tenaga pukulan yang hebat. Dan ilmusilat yang dimainkan itu juga luar biasa. Tetapi keempat nona itu juga memiliki ilmu silat yang tinggi Mereka berlincahan menghindar dan merapat lalu balas menyerang. Beberapa jurus kemudian keempat nona itu heran. Apabila mereka menyingkir ke samping. Blo'on masih tetap melanjutkan gerakannya, entah memukul entah menendang, ke muka. Padahal jelas di sebelah muka itu sudah kosong. Dan apabila nona-nona itu menghindar ke selatan, ada kalanya Blo'on malah berputar tubuh menyerang ke utara. Setelah melakukan beberapa gerakan memukul dan menendang baru dia berputar tubuh lagi.

Keempat nona itu "saling berpandangan. Kemudian saling memberi isyarat anggukan kepala. Mereka tak mau bertindak gugup dan gopoh. Mereka hanya memperhatikan ke arah mana Blo’on menyerang. Kalau Blo'on menyerang ke selatan ke empat nona itupun segera memecah diri. Yang dua. menghindar ke barat yang dua ke timur. Lalu dari kedua samping, mereka tinggal mengerjakan si Blo'on dengan

seenaknya saja.

Ada yang menabok kepalanya, ada yang menampar punggung ada yang menyelentik telinganya ada yang menendang pantatnya.

Tetapi keempat nona itu heran, Mengapa Blo'on tetap bersilat terus seperti seorang yang sedang berlatih saja. Dia tidak menghiraukan kepala dan tubuhnya habis menjadi sasaran tangan keempat nona itu.

Akhirnya keempat nona itu jengkel. Salah seorang segera mengeluarkan sapu tangan dan terus menamparkan ke muka Blo'on.

"Ah. harum sekali ..." Blo'on berseru kaget tetapi tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena saat itu pikirannya terasa hilang, tubuhnya lunglai dan bluk . . rubuhlah ia pingsan di tanah.

Seiring dengan jatuhnya tubuh Blo on, terdengar pula dua buah suara tubuh rubuh ke tanah. Ternyata kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih juga rubuh. Kedua kakek itupun kena ditampar dengan saputangan wangi dari gadis-gadis lawannya.

Yang beda hanya kelompok gadis yang berhadapan dengan si Kuning, rajawali dan monyet. Karena ngeri dan gilo melihat monyet hitam, keempat gadis itu cepat mengeluarkan saputangan te rus ditaburkan. Tetapi rupanya ketiga binatang itu mempunyai naluri yang lebih tajam dari manusia Mereka cepat dapat mencium bahwa bau harum itu tidak sewajarnya. Cepat mereka berhamburan loncat keluar dari gelanggang dan terus melarikan, diri.

Saat itu barisan anakmurid Partai Melati mulai mengikat tubuh Bloon dan kedua kakek, Setelah itu mereka tegak berdiri menunggu perintah toa-suci mereka.

"Bawa mereka ke dalam ruang Tawon-hitam-kata San-hoa "Toa-suci." tiba-tiba salah seorang gadis berkata "apakah

tidak lebih baik buang saja mereka keluar ? Bukankah hanya mengotori tempat kita saja mereka itu ?" "Ya, toa-suci," seru lain gadis pula, "perlu apa menawan mereka ? Bukankah kita harus memberi makan ?"

Tetapi San-hoa menjawab: "Mengenai orang kecuali dia sudah terbunuh mati, apabila kita tawan, harus kita jebloskan dulu diruang Kumbang Hitam. Nanti setelah suhu pulang, barulah kita memberi laporan. Terserah bagaimana keputusan beliau."

Keenam belas nona atau sumoay dari San-hoa tak berani membantah. Mereka segera mengangkut Blo’on dan kedua kakek itu kedalam markas.

Markas Partai Melati memang bagus dan strategis sekali. Sekeliling lembah dikitari oleh batu karang yang menjulang tinggi dan lurus tegak keatas sehingga sukar orang hendak menurumnya.

Kemudian oleh Dewi Melati, lembah itu dijadikan markas, dibangunnya beberapa gedung yang mewah, diperlengkapi dengan alat-alat dan pekakas-pekakas rahasia.

Pada dasarnya, bangunan markas Partai Melati itu dibagi menjadi dua bagian. Bangunan bagian Nirwana ialah tempat bersenang-senang diri. Penuh dengan taman bunga yang indah, kolam mandi dan ruangan-ruangan mewah dan romantis.

Dewi Melati mempunyai murid duapuluh satu gadis cantik. Terbagi menjadi tujuh kelompok. Kelompok pertama terdiri dari tujuh gadis, merupakan murid angkatan pertama. Kelompok kedua, merupakan murid tingkat kedua dan kelompok ke tiga murid tingkat ketiga.

Saat itu Dewi Melati sedang menuju kepulau Lam-hay untuk mengurus peninggalan dari suhunya yang meninggal dunia. Ia hanya membawa muridnya nomor dua bernama Ki Lan hong. Ketujuh murid tingkat pertama dari Partai Melati ialah Ting San-hoa. Ki Lian-hong, Sui Kim lian, Ho Siu-lan, Lim Siang. Lo Kwi-hoa dan Seng Bi-kiok, Ketujuh gadis itu sejak kecil ikut dan diasuh dah dididik ilmusilat oleh Dewi Melati sehingga, hubungan antara guru dan murid itu tak ubah seperti ibu dengan anak. Namun mereka taat dan takut kepada Dewi Melati, Dewi Melati ilu seorang wanita yang cantik dan periang. Tetapi apabila dia marah, jangan harap orang dapat meminta ampun kepadanya. Dia cantik bagai bunga melati tetapi ganas seperti ular berbisa.

Sementara bangunan kedua yang disebut Neraka hitam itu. merupakan tempat hukuman dan tempat menyiksa orang tawanan. Pada umumnya ialah lelaki-lelaki yang tak mau menurut kehendak Dewi Melati tentu akan dilempar kedalam Neraka Hitam.

Disebut neraka hitam karena tempat itu merupakan ruangan-ruangan yang diisi dengan binatang beracun. Antara lain, ular berbisa, kumbang beracun burung garuda pemakan orang, harimau buas dan orang utan yang liar. Dan masih banyak lagi jenisnya.

---ooo0dw0ooo---

Kumbang hitam

Ketika-tersadar dan membuka mata, Bio’on dapatkan dirinya berbaring diatas sebuah bale-bale. Dari memandang ke sekeliling ternyata dia berada dalam sebuah ruang yang belum pernah diketahuinya Serentak ia berbangkit bangun. Ternyata kaki dan tangannya sudah tak diikat lagi hingga ia dapat bergerak bebas. Memandang kedalam, tampak kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih tidur diatas bale-bale juga. Di ruang itu terdapat sebuah jendela terali besi yang letaknya tinggi sehingga sukar dicapai. Tetapi dari sinar terang yang masuk dari lubang jendela itu, jelas kalau sinar matahari. Dengan demikian saat itu tentu sudah pagi hari.

Ia turun dari pembaringan, menghampiri ke tempat kakek Lo Kun. Diguncang-guncangkannya tubuh kakek pendek itu : "Kakek Lo Kun, bangunlah. Hari sudah siang !"

Tetapi jangankan bangun, berkutikpun kakek Lo Kun itu tidak sama sekali. Blo'on makin mengguncang tubuh kakek itu keras : "kakek Lo Kun, hayo bangun, sudah siang!"

Tetap kakek Lo Kun tak bergerak. Blo'on jengkel. Diguncangnya tubuh kakek itu makin keras, bahkan begitu keras sehingga bluk . . . tubuh kakek Lo Kun tergelincir jatuh dari tempat tidurnya

"Aduh . . " kakek Lo Kun menjerit dan terus melonjak bangun lalu menyambar rambut Blo’on terus ditamparnya gundul anak itu ? "kurang ajar, engkau berani mendorong aku jatuh ke dalam jurang. Engkau hendak merebut isteriku, ya ?"

Walaupun meringis kesakitan karena gundulnya ditampar tetapi mau tak mau Blo'on heran juga mendengar kata-kata kakek itu.

"Siapa mendorongmu ke dalam jurang ? Siapa yang merebut isterimu? Lihatlah, aku ini siapa!”

"Oh. engkau . . " kakek Lo Kun lepaskan cekalan tangannya, "kukira engkau penjahat yang mengganggu kesenanganku. Aku sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan alam pegunungan yang indah dengan Sun Li- hoa. Tetapi muncul seorang lelaki besar terus mendorong aku hingga jatuh kedalam jurang . , . huh. untung aku tak mati !"

"Lalu dimana isterimu sekarang ini ?" tanya Bloon.

Lo Kun mengusap-usap pelapuk matanya dan memandang kian kemari seperti mencari seseorang. Seraya heran : "Aneh, jelas tadi aku sedang berjalan jalan dengan isteriku mengapa sekarang aku berada di kamar ini ?"

"Tetapi kulihat engkau memang tidur mendengkur diatas tempat tidur itu" kata Blo’on,

"O, benarkah itu ?" kata kakek Lo Kun. "aneh. Hidup ini memang aneh Sebentar berada di pegunugan. sebentar sudah berada disini,"

Tetapi Blo'on yang diajak bicara sudah tak mau  menggubris, anak itu menghampiri ketempat kakek Kerbau Putih yang masih tidur lalu dibangunkannya : "Bangunlah, kakek Kerbau Putih, hari sudah siang !"

Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih melonjak bangun terus mencekik leher Blo’on : "Nah. sekarang kucekik lehermu bangsat ! Mengapa engkau berani melarikan kekasihku ? Hayo. lekas kembalikan,"

Karena tak menduga-duga bakal dicekik Blo'on tak dapat menghindar ataupun menangkis. Lehernya seperti dijepit dua buah tangan besi sehingga ia hampir tak dapat bernapas. Ia meronta-ronta berusaha menyiak tangan kakek Kerbau Putih, namun sia-sia.

"Lepaskan !" tiba-tiba kakek Lo Kun mencengkeram tengkuk kakek Kerbau Putih, "mengapa engkau hendak menyiksa kawan sendiri Kalau tak mau lepaskan, batang lehermu tentu kupatahkan." Karena tak dapat bernapas, terpaksa kakek Kerbau Putih lepaskan cekikannya.

"Engkau gila barangkali," kakek Lo Kun lepas tangannya dan deliki mata kepada kakek Kerbau Putih "mengapa engkau mencekik leher Blo'on

"Dia berani mengganggu kekasihku ,dan melarikannya'" teriak kakek Kerbau Putih masih penasaran.

"Siapa yang melarikan kekasihmu ?" Blo'on menggeram. "Engkau !" kata kakek Kerbau Putih, "tadi aku sedang

duduk bersanding dengan Sun Li-hoa dibawah sebatang pohon. Tahu-Tahu engkau datang dari belakang, mendorong aku jatuh lalu membawa lari Sun Li-hoa."

"Ngaco !" bentak Blo'on. "aku tak merasa mendorongmu juga tak merasa membawa lari kekasih mu. Bukankah engkau tidur pulas di tempat tidurmu"'

"Ya. engkau memang kakek edan. Kerbau !" kakek Lo Kun ikut mendamprat, "memang anak itu tak pergi kemana-mana dan kulihat sendiri engkau masih tidur melingkar di atas bale- bale itu. Tidak ada seorang wanitapun dalam ruang ini"

"O, aneh," kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepalanya, "apakah aku bermimpi ? Aneh, mengapa kalau bermimpi benar-benar seperti sesungguhnya. Apakah kalau begitu, hidup dan mimpi itu tak ada bedanya

"Celaka" tiba-tiba kakek Lo Kun berteriak kaget. "Mengapa?" kakek Kerbau Putih ikut terkejut

"Kalau begitu . . kalau begitu, aku tadipun juga bermimpi," kakek Lo Kun menggerutu. "Hai, engkau juga bermimpi ? Apakah mimpimu itu?” tanya kakek Kerbau Putih.

"Aku tadi seperti berjalan jalan dengan isteriku Sun Li hoa menikmati keindahan alam pegunungan. Tiba-Tiba Blo'on datang dan aku membuka mata. eh . . . isterikupun lenyap !”

"Engkau berjalan jalan dengan Sun Li-hoa?" kakek Kerbau Putih menegas."

"Ya, berjalan-jalan dengan bergandengan tangan, lho !" kata kakek Lo Kun bangga.

"Tidak mungkin ! Engkau bohong, setan pendek !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih memekik.

Kakek Lo Kun terbeliak, kerutkan dahi: "Apa ? Aku bohong?"

"Ya. memang engkau membual!" kata kakek Kerbau Putih. '"Ho, kerbau tua, mengapa engkau dapat mengatakan aku

membual ?"

"Kapankah engkau berjalan-jalan dengan Sun Li-hoa itu ?" tanya kakek Kerbau Puth.

"Tadi barusan saja !"

"Kentut !" teriak kakek Kerbau Putih, "jelas engkau bohong! Karena barusan tadi juga, Sun Li-hoa itu berada dengan aku, duduk di bawah po hon rindang, ia sandarkan kepalanya ke bahuku.”

"Bangsat, engkau yang bohong ! Sun Li-hoa itu isteriku, bagaimana mungkin dia berada dengan engkau !" kakek Lo Kun marah. "Ho, setan pendek, Sun Li-hoa kekasihku itu jelas duduk sandarkan kepalanya kedadaku engkau yang bohong" teriak kakek Kerbau Putih.

"Kerbau, mari kita latihan lagi !" habis berkata kakek Lo Kun terus menubruk kakek Kerbau Putih. Keduanya segera bergumul.

Blo'on tertegun. Sesaat kemudian ia baru menyadari keadaan kedua kakek itu, Plak. plak . . . dua kali ia ayunkan kakinya Menendang pantat kakek Lo Kun dan punggung kakek Kerbau Putih. Tendangan itu cukup membuat kedua kakek itu marah, Mereka lepaskan diri terus loncat bangun

'"Kurang ajar, mengapa engkau berani menendang pantatku ?" teriak Lo Kun, "setelah menyelesaikan si kerbau tua. tentu akan giliranmu yang akan kuhajar? Mengapa engkau tak sabar menunggu”

"Benar" seru kakek Kerbau Putih "setelah setan pendek kuringkus, engkaulah yang akan kuhajar. Tunggu saja, jangan terburu-buru !"

"Kalian memang kakek edan" karena tak tahan kemengkalan hatinya, Blo'on mendamprat kedua kakek itu "bukankah tadi engkau mengatakan kalau sedang bermimpi ? Begitu terjaga, sudah tentu mimpi itu akan hilang. Bagaimana kalian menganggap mimpi itu benar-benar terjadi ?"

"Ooo." seru kakek Lo Kun, "kalau begitu lebih baik aku membuat mimpi lagi."

Habis berkata kakek pendek itu terus naik keatas tempat tidurnya dan meramkan mata, Blo’on terus menarik kaki kakek itu : "Jangan gila-gilaan kakek. Hayo. bangun. Tak mungkin engkau dapat bermimpi seperti tadi lagi"

Kakek Lo Kun marah-marah : “Lho, engkau berani mengganggu kesenanganku ?"

"Kakek Lo Kun" kata Blo'on. "sekarang sudah siang. Dan entah kita ini berada dimana ? Mengapa bisa berada di tempat ini ? Mari kita ke luar saja. Kalau engkau hendak mencari isterimu. carilah orangnya yang sungguh. Jangan di dalam impian !"

"O. benar, benar." seru kakek Lo Kun girang, "ternyata engkau anak pintar juga. ya".

Kakek Kerbau Putih tak mau menghiraukan kedua kawannya itu. Ia memeriksa ruangan itu. Menghampiri dinding tembok, kemudian berseru : "Mengapa ruang ini tak ada pintunya ?"

Blo’on dan kakek Lo Kun terkejut. Mereka-pun lalu memeriksa kamar itu. Dindingnya terbuat dari batu karang yang tebal. Ruang berbentuk bui dan panjang, cukup luas dan tinggi.

"Mungkin diatas itu." Blo'on seraya menunjuk pada sebuah lubang yang terdapat di atas ruang itu. Kira-Kira dua tombak tingginya.

Lo Kun dan kakek Kerbau Putih, serentak memandang keatas lalu berteriak : "Hai. mengapal begitu tinggi dan kecil ? Bagaimana kita dapati mencapai ke sana ?" seru kakek Lo Kun.

'Goblok." tiba-tiba kakek Kerbau Putih membentak "itu kan bukan pintu. Mungkin jendela.” "Lalu dimanakah pintu ruang ini ?” tanya Blo'on.

"Ya, memang aneh," gumam kakek Kerbau Putih, "kalau ruang ini tak ada pintunya, bagaimana kita bisa masuk kemari?"

"Ya, aneh, aneh " kata Blo'on lalu bertanya "kakek Lo Kuu. apakah engkau masih ingat, bagai mana cara kita  berada disini ?"

Lo Kun garuk-garuk kepalanya lalu berjalan mondar mandir seraya menggendong kedua tangannya.

"Oh." tiba-tiba kakek Kerbau Putih menghela napas panjang, "ya, sekarang aku ingat, aku ingat"

"Bagaimana ?" tanya Blo'on gopoh.

"Kalau tak salah, kita bertempur dengan barisan gadis-gadis cantik, tiba-tiba gadis-gadis itu mengeluarkan saputangan yang harum dan ditebarkan ke arah muka kita. Dan akupun terus tidur tak ingat apa-apa lagi, Ya. tidur pulas sekali sehingga bermimpi ketemu kekasihku. Setelah engkau bangunkan, ternyata aku berada dalam kamar tanpa pintu ini"

"Benar, benar." serentak kakek Lo Kunpun berseru dan loncat menghampiri, "ini tentu perbuatan mereka. Kita dimasukkan disini."

"Kalau bisa masuk, tentulah harus ada pintu. Tetapi mengapa sama sekali ruang ini tak ber pintu ?" bantah kakek Kerbau Putih.

"Jangan kuatir, kerbau tua." kata Lo Kun.

Kakek pendek itu terus mencari-cari kesegenap ruang itu. "Engkau cari apa ?' tegur Blo'on. "Pukul besi atau palu," sahut kakek Lo Kun "hendak kuhantam dinding karang ruang ini supaya kita bisa keluar."

"Disini tak ada pukul besi dan palu. Yang ada hanya pedang," kata Blo'on.

"O, baiklah, pinjam pedangmu," kata Lo Kun lalu mulai menebas dinding karang dengan pedang. Tetapi ternyata dinding karang itu amat keras. Pedang hanya dapat menebas sedikit sekali. Dia tak tahu berapakah tebal dinding karang itu.

"Celaka." seru kakek Lo Kun, "dengan pedang ini entah sampai berapa lama baru dapat membobolkan dinding ?"

"Sampai engkau menggeletak pingsan dinding karang yang begitu tebal tentu belum juga tembus” seru kakek Kerbau Putih.

"Lalu bagaimana ?" seru kakek Lo Kun. "Kita cari akal lain," kata kakek Kerbau Putit

"Bagaimana kalau kita memanjat keatas dan menyusup keluar dari lubang itu ?" tanya Blo'on

Kakek Kerbau Putih memandang keatas. katanya "Wah, susah juga, Untuk mencapai keatas saja tidak mudah caranya. Disini tak ada tangga. Memanjat juga tak mungkin. Loncat, kita tak mampu”

"Kita coba !" seru kakek Lo Kun.

"Tidak." sahut kakek Kerbau Putih, "itu berarti sekali melambung keatas kita harus terus menyusup ke dalam lubang itu. Dan masih disangsikan, apakah lubang itu cukup untuk dimasuki tubuh orang"

Kakek Lo Kun garuk-garuk kepalanya. Diam-Diam ia membenarkan keterangan kakek Kerbau Putih. Demikian untuk beberapa saat. mereka berdiam diri tengah mencari akal untuk keluar dari ruang tahanan mereka.

Tetapi betapapun mereka memeras otak, tetap tak dapat menemukan cara untuk keluar dari ruang tahanan itu.

Sepeminum teh lamanya, tiba-tiba terdengar bunyi berderak-derak dan dindingpun bergetar. Sesaat kemudian dari keping dinding karang yang bergerak gerak, merekah sebuah lubang besar, menyerupai sebuah jendela.

Dari lubang itu muncul sebuah wajah wanita tua : "Hai, apakah kalian masih bernapas ?" tegurnya dengan suara parau.

Blo'on cepat menghampiri : "Siapa engkau nenek ?"  "Bujang tua yang bertugas mengantar makanan untUK

kalian." sahut perempuan itu.

"O, bagus, bagus." seru Bloon, “silahkan masuk "

"Tidak," kata perempuan itu, "cukup kuberikan dari lubang ini."

la segera menyodorkan bakul nasi, tiga mangkuk sayur, tiga mangkuk kosong dan sebuah guci isi minuman : "Inilah makanan siang, nanti malam kuantar lagi."

Habis berkata wanita tua itu terus menutup pintu.

"Tunggu dulu !" teriak Blo'on "mengapa aku berada disini ? Siapa yang suruh engkau mengantar makanan kepada kami bertiga ?"

"Huh, kalian ini dijebloskan dalam kamar tahanan Kumbang Hitam. Tentu kalian salah besar Yang menyuruh mengantar makanan kesini. sudah tentu nona Ting yang menyuruh."

"Siapa nona Ting itu ?" tanya Blo'on pula. "Nona Ting ialah murid pertama dari Hu Yong siancu yang mewakili memimpin markas ini selama siancu pergi."

"Uh." kata Blo'on "lalu siapakah nama bibi ini.”

Tiba-Tiba wanita itu cemberutkan muka : "Siapa bibimu?,, "Engkau" kata Blo-on.

"Kurang ajar. aku masih gadis, belum bersuami, masakan engkau panggil bibi. Aku bukan isteri pamanmu !"

Blo'on melongo. Ia tak kira kalau bakal menerima semprotan begitu dari wanita yang sudah berumur lebih dari empatpuluh tahun itu.

"Maaf, nyonyah." kata Blo'on.

"Hus, nyonyah? Nyonyah siapa? Aku toh belum bersuami ' lengking wanita setengah tua itu.

"Oh," Blo'on mendesuh "lalu harus memanggil bagaimana?" "Nona"

"Nona ?" Blo’on garuk-garuk kepala, "nona siapa" "Nona Gu"

"Nona ku ?" Blo'on kaget, "wah, celaka. Aku bukan tunanganmu. Mengapa suruh mengaku engkau ini nona-ku. Tidak, tidak !"

"Hush, engkau edan. Telingamu tentu sudah rusak.

Dengarkan, nona Gu, bukan nona ku !" "Gu siapa ?" tanya Blo"on.

Tetapi bujang setengah tua itu sudah menukas : "Sudahlah, aku sudah terlalu lama disini. Mereka tentu akan mencariku. Kalau tahu aku omong-omong dengan tawanan, mereka tentu marah" "Siapa mereka itu ?"

"Nanti malam saja ku beri tahu lagi," kata bujang perempuan seraya mengatupkan pintu lagi.

"Kurang ajar, genit betul perempuan itu. Masakan perempuan setua itu masih minta dipanggil nona. huh !" Blo’on menggerutu.

"Biar dia nona atau nyonyah, gadis atau sudah janda, pokok kita mendapat makanan. Yang penting perutku sudah minta diisi" kata kakek Lo Kun seraya mengambil hidangan.

Sambil makan mereka bercakap-cakap.

"Kita harus cari akal untuk keluar dari kamar tahanan ini" kata kakek Lo Kun.

"Ya. benar," kata Blo'on " lalu bagaimana caranya ?”

"Justru itu yang harus kita cari ?" kata kakek Lo Kun, "selama tak punya akal. jangan harap kita dapat keluar dari kamar tahanan ini selama-lamanya"

"Selama-lamanya ?" Blo'on menegas, "celaka aku bisa jadi tua disini nanti"

"Itu masih mending kalau menjadi tua saja" sahut kakek Lo Kun, "tetapi aku ? Aku akan mati disini "

"Astaga !" Blo'on menjerit kaget, "kalau engkau mati. akan dikubur diraana ? Apakah dikubur didalam ruang ini juga ?'

Kemudian Blo'on memandang kakek Kerbau Putih yang masih enak-enak melahap makanan.

"Celaka, kakek Kerbau Putih juga tentu mati, wah. aku yang disuruh mengubur dua mayat nanti." Blo'on masih bingung tak keruan sendiri. "Sudahlah, jangan ribut-ribut tak keruan, "bentak kakek Kerbau Putih, "habis makan aku tentu mendapat akal".

Demikian terpaksa Blo'on melanjutkan makannya. Beberapa saat kemudian selesailah mereka.

"Sekarang harap kakek memberitahu akal daya kakek itu, " Blo’on segera meminta kepada kakek Kerbau Putih.

"Ya, dengarlah, "kata kakek Kerbau Putih, "kita harus menggunakan siasat Bi-jin-ke"

"Bi-jin-ke ? Apa itu ?" Bloon kerutkan alis.

"Bi-jin-ke artinya Siasat-wanita-cantik. Ialah menggunakan wanita cantik untuk menyiasati musuh."

"O. maksudmu kita gunakan saja gadis-gadis cantik itu untuk keluar dari tempat ini ?" tanya Blo’on pula.

"Tolol !" bentak kakek Kerbau Putih, "gadis-gadis cantik itu anakmurid Partai Melati. Dan partai Melati itu musuh kita. Bagaimana mungkin gadis-gadis itu akan membantu kita."

"Habis bagaimana maksudmu ?' seru Bloon

"Bukan gadis-gadis cantik itu tetapi bujang perempuan tadi

. . "

"Amboi !" Bloon menjerit, "engkau hendak menggunakan bujang tua yang genit itu ?"

"Apa boleh buat" sahut kakek Kerbau Putih.

'Tetapi itu tak sesuai dengan nama Bi jin-ke. Dia bukan wanita cantik !”

"Ya, boleh saja diganti namanya dengan Jo-jin-ke atau siasat Wanita-buruk," kakek Kerbau Putih menggeram. "Ya, itu bagus." kata Blo'on. "lalu bagaimana engkau hendak mengatur siasatnya ?"

"Begini." kata kakek Kerbau Putih, "kita harus merayu wanita itu agar mau masuk ke dalam kini. Begitu masuk, kita sergap lalu kita . . . " katanya karena kuatir terdengar orang kakek Kerbau Putih membisiki telinga Blo’on.

Blo on kerutkan dahi.

"Setan kerbau, mengapa engkau hanya membisiki Blo’on ? Apa engkau anggap aku ini tak perlu tahu ?" kakek Lo Kun marah karena ia tak dapat mendengarkan pembicaraan kakek Kerbau Putih kepada Blo'on,

"Jangan kuatir, setan pendek. Majulah kemari." kata kakek Kerbau Putih. Dan setelah kakek Lo Kun mendekati dan ajukan telinganya kakek Kerbau Putihpun lalu membisikinya.

„Hola, bagus, bagus, aku setuju . . eh tetapi," tiba-tiba kakek Lo Kun deliki mata, "mengapa harus aku )ang menjalankan siasat itu. Kenapa tidak engkau sendiri setan kerbau ?"

"Sebab wajahnya dan tingginya seperti engkau, lebih tepat engkau yang menjalankan siasat itu" kata kakek Kerbau Putih.

"Tidak " bantah kakek Lo Kun, "nanti kita lihat dulu bagaimana keadaannya. Kalau memang mirip aku ya apa boleh buat, aku terpaksa mau.Tetapi kalau mirip engkau, engkaulah yang jadi."

Kakek Kerbau Putih mengiakan.

Demikian mereka sudah mengambil keputusan untuk menjalankan siasat menjebak bujang perempuan yang genit tadi. Tak lama malampun tiba. Terdengar karang bergetar dan berderak-derak, lalu merekah sebuah lubang sebesar jendela. "Hai, apa kalian sudah tidur?" seru seorang perempuan.

Blo’on masih mengenal suara itu sebagai suara bujang perempuan setengah tua yang mengantar makanan siang tadi. buru-buru ia menghampiri.

"Makanan malam, kuberi istimewa. Banyak ikan dan masakannya yang lezat," kata bujang perempuan itu,

"Percuma," kata Blo'on tak acuh.

Bujang perempuan itu heran : "Kenapa ?"

"Satelah makan siang kedua kawanku sakit. Yang satu sakit perut, yang satu sakit kepala. Tentu engkau beri obat dalam makanan itu."

"Gila !" bujang perempuan itu menjerit, "tidak, aku tak mencampuri obat apa-apa dalam makanan siang tadi."

"Ah, tentu !" Blo'on tetap menuduh, "bukti nya mereka sakit semua,"

"Tetapi aku benar-benar tak memberi obat !"

"Huh, kalau tak percaya, masuklah Periksa tendiri dia memang sakit sendiri atau karena makanan siang tadi"

"Tetapi aku tak dapat membuka pintunya" "Mengapa ?" tanya Blo'on.

"Pintu ini sebuah pintu rahasia. Ada alat penutup dan pembukanya tetapi aku tak mengerti bagaimana cara membukanya," kata bujang perempuan itu.

"Putar saja kian kemari, gerakkan kesana kesini, tentulah pintu akan terbuka." kata Bloon. Padahal ia sendiri tak tahu apakah cara itu akan berhasil atau tidak. "Hm. baiklah." kata bujang perempuan lalu menuju ke samping pintu. Disitu memang terdapat sebuah alat, terbuat dari baja dan berbentuk bundar. Tetapi diputar putar dan digerak-gerakkan ke kanan kiri, naik turun, tetap tak mau jalan. Karena jengkel, bujang perempuan itu mengambil batu dan memukulnya, tung . . . hai ia menjerit kaget ketika alat itu menyusup masuk kedalam karang dan serempak dengan itu terdengarlah bunyi berderak-derak dari batu karang yang terbuka.

"Pintunya buka." ia berseru girang lalu melangkah masuk. Ternyata dia seorang perempuan bertubuh pendek. Sudah tua tetapi masih genit,

Melihat bujang itu masuk, Blo'on berdebar. Ia hendak meringkusnya tetapi tadi kakek Kerbau Putih pesan supaya jangan bertindak sendiri. Terpaksa ia tahan sabar,

"Ai. ternyata engkau masih muda." kata perempuan genit itu kepada Blo’on, "siapa namamu engkoh?"

Blo'on mendelik, Masakan perempuan yang pantasnya menjadi mamahnya, memanggil dia engkoh

"Aku?" tanya Blo’on "aku lupa siapa namaku Terserah engkau mau panggil apa saja."

"Aneh, mengapa orang tak punya nama" perempuan itu kerutkan dahi, "kalau begitu apa mau kukasih nama ?"

"Hm." dengus Blo’on.

"Bagaimana kalau kupanggil Ah-siu saja" "Mengapa Ah siu?" tanya Blo'on mendongkol,

"Ah-siu itu dahulu bekas kekas'hku. Dia o-rangnya cakap seperti engkau. Sayang sebelum kita menikah, dia terserang penyakit dan meninggal dunia. Engkau mirip dengan dia, engkoh Ah-siu"

Karena kontan dirinya dinamakan Ah-siu, Blo'on mendelik. Tetapi ia masih ingat akan pesan kakek Kerbau Putih supaya jangan bertindak sendiri.

"Ya, sudah. Ah-siu ya Ah-siu. " karena mengkal Blo'on cepat-cepat mengakhiri percakapan itu, "apakah engkau dapat mengobati kedua kawanku yang sakit itu ?"

"Tentu saja dapat." kata bujang perempuan genit itu."tetapi ada syaratnya."

"Syarat apa ?" Blo’on kerutkan alis.

"Asal engkau mau jadi engkoh Ah-siu yang sesungguhnya." "Aneh, aku tak mengerti maksudmu"

"Engkoh Ah siu itu dahulu adalah kekasihku Dia sudah meninggal dan engkau kuminta supaya jadi gantinya."

"Astaga “ Blo'on melonjak kaget seperti digigit ular. "tidak, tidak ! Aku tak mau jadi kekasihmu,"

"Mengapa ? Apakah aku tidak cantik ?" tanya perempuan genit itu.

"Cobalah engkau lihat dirimu di cermin sendiri"

"Hm. engkau menghina aku. Kalau begitu engkau tentu mati ngeri " kata bujang perempuan itu,

"Mati ? Siapa yang akan membunuh aku ?" tanya Blo’on. "Siapa lagi kalau bukan perintah Hu Yong siancu. Engkau

tahu ruang apa ini ?"

"Siapa yang tahu?" Blo'on menggeram, "aku tak takut apapun dalam ruang ini i" "Benar ?"

"Mengapa tidak ?' Blo'on busungkan dada.

"Dengarkan." kata bujang perempuan itu, "ruang ini adalah salah sebuah tempat penyiksaan yang ngeri. Disebut ruang Kumbang Hitam. Apabila pekakas rahasia dalam ruang ini dibuka, maka beribu-ribu kumbang hitam akan berhamburan menyerang engkau dan kedua kawanmu. Kumbang Hitam itu besarnya sama dengan burung pipit, sengatnya beracun."

"Huh, ngeri !" Blo'on bergidik.

"Itulah kalau engkau tak mau menerima syaratku. engkau tentu mati disengat ribuan ekor kumbang raksasa yang beracun"

Blo'on merenung. Sesaat kemudian ia bertanya : "Kalau aku menurut ?"

"Engkau tentu takkan mati." "Dan kedua kawanku itu ?" "Juga akan hidup."

"Bagaimana mungkin? Apakah engkau berani menentang perintah majikanmu Hu Yong siancu?'' tanya Blo'on.

"Tak ada seorangpun yang berani menentang perintah siancu." kata bujang perempuan itu "aku pun takut kepadanya."

"Habis bagaimana engkau hendak menolong aku ?" tanya Blo'on heran.

"Hi.hi," wanita setengah umur itu tertawa genit. "sudah tentu aku ada akal, engkoh Ah-siu. Akulah yang diserahi untuk memelihara kawanan kumbang raksasa itu. Engkau tahu siapa diriku ini ?" Blo'on gelengkan kepala.

"Namaku Gu Bwe. asal dari daerah Sin-kiang. Ayahku seorang ahli memelihara tawon. Kepandaian ayah diturunkan kepadaku dan orang lalu memberi gelaran Ratu Kumbang kepadaku. Pada suatu hari aku bertempur dengan Hu Yong siancu dan dikalahkan. Aku tak dibunuh tetapi harus ikut ke padanya tinggal di markas Partai Melati ini. Sudah tentu aku tahu bagaimana untuk menjinakkan kumbang-kumbang raksasa itu karena binatang itu adalah peliharaanku."

"O." desuh Blo'on, "baiklah, aku mau menjadi Ah-siu tetapi engkau harus mengajarkan dulu bagaimana cara menundukkan kumbang raksasa itu.”

"Ya, baiklah," bujang perempuan itu girang, la mengeluarkan sebuah botol kecil dari bajunya. Botol itu berisi cairan warna hitam, "cairan dalam botol ini adalah dzat kumbang. Asal ambil beberapa tetes dan taburkan pada mereka, kumbang-kumbang itu tentu ketakutan dan melarikan diri"

"Ah. begitu mudah," kata Bloon.

"Itu baru cara untuk menghalau mereka saja. Kalau engkau ingin menguasai mereka, engkau dapat menyuruh mereka melakukan perintahmu."

"O, hebat" seru Blo'on "apakah ada ilmu untuk menguasai kumbang?"

"Sudah tentu ada," kata perempuan itu. "tetapi apakah engkau sungguh-sungguh suka menjadi pengganti Ah siu kekasihku yang sudah meninggal itu?

"Ya," sahut Bloon, "asal engkau mau mengajarkan aku ilmu untuk menguasai kumbang." "Baiklah," kuta bujang perempuan itu lalu membisiki beberapa patah kata kedekat telinga Blo’on, "nah, apakah engkau sudah jelas ?"

Blo’on mengiakan. Tetapi bujang perempuan itu minta supaya Blo on mengulangnya : "Cobalah engkau membisiki telingaku mantra untuk menundukkan kumbang yang kuajarkan tadi."

Blo'on meringis, Ia bergidik apabila harus dekat dengan perempuan setengah tua yang berbedak tebal itu. Tetapi ia terpaksa harus melakukan juga Dengan menahan napas, ia membisiki telinga bujang perempuan itu.

"Bagus, engkau harus ingat baik-baik mantra itu. Kawanan kumbang raksasa itu pasti akan menurut perintahmu," kata bujang perempuan.

"Sekarang, cobalah engkau periksa penyakit kedua kakek kawanku itu," kata Bloon seraya menuding pada Kakek Lo Kun yang tidur meringkuk diatas bale-bale.

Bujang perempuan itu mencekal pergelangan tangan kakek Lo Kun untuk memeriksa detak jantungnya. Ia kerutkan dahi. Lalu menyiak kelopak mata si kakek lalu suruh kakek itu ngangakan mulut dan julurkan lidah. Terakhir ia suruh kakek Lo Kun tidur telentang. Bajunya disingkap dan bujang perempuan itu mulai mendebur-debur perut kakek Lo Kun buk. buk ....

"Ah, penyakitnya di perut" kata bujang perempuan itu seraya merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan sebilah pisau.

"Mau engkau apakan kakekku itu ?" Blo'on terkejut melihat perempuan itu siap dengan pisau di tangan. "Penyakitnya berada dalam perut, terpaksa harus dikeluarkan" sahut bujang perempuan itu.

"Maksudnya engkau hendak membelek perut kakekku ?" Blo'on menegas tegang.

"Apa lagi kalau tidak begitu" kata bujang perempuan "kalau tidak dibelek perutnya bagaimana dapat mengeluarkan penyakitnya ?"

Mendengar perutnya hendak dibelek. kejut kakek Lo Kun bukan alang kepalang. Serentak ia meronta. Tetapi . . ,

"Jangan bergerak kakek jelek !" bentak bujang perempuan terus mencekik leher kakek Lo Kun dengan tangan kiri. lalu tangan kanan yang mencekal pisau terus hendak ditusukkan ke perut kakek Lo Kun. Sudah tentu kakek itu terkejut bukan kepalang.

Sudah menjadi naluri setiap insan, bahwa apabila menghadapi maut, tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan jiwanya. Demikian pula dengan kakek Lo Kun Tahu kalau dirinya bakal disembelih, kakek Lo Kunpun mengamuk. Dengan menggerung keras, ia meronta Kakinya bergeliatan lalu tiba-tiba mendupak dada bujang perempuan itu,

"Jangan membunuh kakekku .. ." Blo-onpun menjerit terus hendak mencekal tangan bujang perempuan itu. Tetapi sebelum ia sempat bergerak, bujang perempuan itu sudah terdupak rubuh kebelakang Duk . . . kepalanya membentur lantai dan pingsanlah bujang itu tak kabarkan diri lagi.

Kakek Lo Kun terus melenting bangun dan me maki-maki : "Kurang ajar, ia hendak menyembelihku” Karena masih mendongkol, kakek itu hendak menghajar bujang itu tetapi dicegah kakek Kerbau Putih : "Sudahlah, dia sudah pingsan. Sekarang kita harus lekas-lekas menjalankan rencana kita."

''blo'on," kata kakek Kerbau Putih, "engkau harus memakai pakaian bujang ini dan menyarapi jadi dia."

"Tidak mau" sahut Blo’on "dia seorang perempuan pendek, lebih tetap kalau kakek Lo Kun yang menyaru jadi dia."

"Aku . . . ?" kakek Lo Kun, deliki mata.

"Benar," kata kakek Kerbau Putih, "memang lebih tepat kalau engkau yang menyaru jadi dia. Potongan tubuh dan umurmu memang mirip dengan dia, Kalau Bloon yang menyaru, tentu mudah di kenal orang.

Bermula kakek Lo Kun hendak membantah tetapi kakek Kerbau Putih berkata : "Kita pancing supaya kawannya datang kemari ..."

"Masakan mereka mau?" bantahkakek Lo Kun

"Begini," kata kakek Kerbau Putih "setelah engkau menyaru jadi bujang perempuan ini, engkau harus pura-pura berkasih kasihan dengan Blo'on. Kalau kawan dari bujang perempuan itu datang, ia tentu marah dan masuk kemari. Nah, saat itu kita boleh ringkus sekali . . ."

"Dan engkau harus menyaru juga jadi kawan nya itu !" kata kakek Lo Kun.

Kakek Kerbau Putih terpaksa mengiakan.

Demikian kakek Lo Kun segera memakai baju bujang Gu Bwe. Rambutnya pun diikat dan dikonde oleh kakek Kerbau Putih. Muaknya dipupuri dengan kapur tembok. "Aduh. engkau benar-benar mirip dengan bujang perempuan ini," kata Bloon

"Setan, engkau jangan tertawa ya," kata kakek Lo Kun.

Bujang perempuan Gu diikat tangannya dan mulutnyapun disumbat dengan kain.

Tak berapa lama benar juga terdengar seruan orang memanggil nama Gu Bwe : "Hai, taci Bwe mengapa begitu lama engkau berada disitu . . " tiba-tiba suara itu berhenti ketika seorang bujang perempuan tua tiba dipintu "hai. mengapa pintunya terbuka ?"

Ia melongok kedalam dan berjingkrak kaget: "Masya Allah, Gu Bwe itu memang terlalu ! Mengapa dia berpelukan dengan seorang tawanan. Kalau tahu nona Ting, tentu dia dihukum .”

Ia melangkah masuk dan memandang keadaan dalam ruang itu. Ternyata Gu Bwe sedang berpelukan dan berciuman hangat sekali dengan seorang anak muda yang rambutnya gundul tetapi memelihara dua kuncir.

"Hm. Gu Bwe itu memang besar sekali nafsunya. Tak pandang orang, asal lelaki dia tentu menyerbunya. Hm, Hu Yong siansu sedang pergi dan nona-nona muridnya sedang sibuk berunding di paseban gedung Nirwana, Memang pintar sekali Gu Bwe hm. kurang ajar akupun harus minta bagian"

Ia terus melangkah menghampiri: "Taci Bwe jangan ambil sendiri, bagi dong kepadaku . . . "

"Aduh , .. mengapa engkau menggigit hidungku?” tiba-tiba Lo Kun menjerit dan lepaskan pelukan.

Ternyata waktu dipeluk kakek Lo Kun, Blo'on hampir tak dapat bernapas. Dan bau mulut kakek itu hampir membuatnya mau muntah. Tiba-Tiba kakek Lo Kun mencium bibirnya. Aduh, mak .. karena tak tahan baunya, Blo'on gigit hidung kakek itu.

"Aduh . . . hekkk ..." karena dipeluk oleh si kakek sekencang-kencangnya sehingga tak dapat bernapas, Blo’on marah lalu menggigit hidung kakek itu dan menusuk perut si kakek dengan jarinya ....

Hal 6-6-63 ga ada

"Ya, engkau," kata kakek Kerbau Putih, "engkaupun harus jadi perempuan"

"Tidak mau," bantah Blo'on.

"Tolol !" bentak kakek Lo Kun, "ingat, markas ini penghuninya semua orang perempuan. Kalau engkau tetap menjadi orang lelaki, tentu engkau akan ditangkap"

"Benar, engkau memang goblok!" kakek Kerbau Putih ikut berkata "tadi aku memang tak mau tetapi kupikir-pikir, memang lebih enak jadi perempuan saja."

"Mengapa ?" Blo'on makin heran.

"Sudah tentu lebih enak jadi perempuan," kata kakek Kerbau Putih, "kalau jadi lelaki, kata setan pendek tadi memang benar, engkau tentu akan ditangkap dan dijebluskan dalam tahanan. Tetap kalau jadi perempuan, huh, kita kan bisa bergaul dengan gadis-gadis cantik itu."

"Oh, engkau benar setan kerbau." seru Lo Kun berjingkrak kegirangan "tadi aku memang sedih tetapi sekarang aku gembira sekali. Karena nanti bisa dekat dengan gadis-gadis cantik itu."

"Aku tak mau berkawan dengan gadis-gadis itu.' Blo'on tetap membantah.

"Ai. mengapa ? Apakah engkau seorang pemuda banci ". tanya kakek Lo Kun, "seorang lelaki yang wajar tentu suka dengan wanita."

"Betul." sahut Blo'on, "tetapi gadis-gadis di sini itu berbahaya sekail. Buktinya yang sudah tua saja masih begitu genit seperti kedua bujang perempuan tadi".

"Ya. tak apa kalau engkau tak suka kepada gadis-gadis cantik itu Nanti berikan saja semua kepadaku," kata kakek Lo Kun.

"Setan pendek, jangan rakus sekali. Aku juga minta bagian," seru kakek Kerbau Putih

Kakek Lo Kun tak mau melayani melainkan berrkata pula kepada Blo'on: "Soal engkau tak mau dengan gadis-gadis cantik itu tak mengapa Tetapi engkau menyaru jadi anak perempuan juga, agar jangan diganggu mereka."

Belum Bloon menjawab, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang perempuan berseru : "Hai, bibi Bwe dan bibi An, kemanakah engkau . . ? Hai, mengapa pintu ruang Kumbang Hitam ini terbuka?”

Seorang bujang perempuan yang masih muda.. lebih kurang berumur tigapuluhan tahun tiba di pintu dan ketika memandang kedalam ruang, serentak ia berteriak kaget : "Astaga ! Kiranya kedua bibi itu sedang asyik masyuk dengan pemuda yang ditawan tadi , . . "

"Bibi Bwe, bibi An" seru bujang perempuan muda itu, "ingat, kalau samyai nona Ting datang, nanti celaka kalian !"

"Uh, biar dihukum aku puas karena mendapatkan pemuda yang begini hebat. Mari sini engkau kita berdua sudah tua dan dia masih muda. Kita sudah payah, dia masih kuat. Kuberimu bagian..."

Tersiraplah darah bujang muda itu. Memang sejak Hu Yong siansu pergi dan melarang anakmuridnya keluar, sepilah markas itu dengan tawanan orang lelaki. Biasanya gadis-gadis murid Partai Melati itu suka membawakan 'buah tangan’ berupa laki-laki yang jelek tetapi kuat untuk bujang-bujang perempuan,

"Ai. jangan main-main bibi," kata bujang perempuan muda itu masih ragu-ragu.

"Siapa main-main," kata kakek Lo Kun. "engkau buktikan sendiri, tanggung puas !"

Bujang perempuan muda itu terus maju menghampiri dan kakek Lo Kun serta kakek Kerbau Putihpun segera menyingkir ke samping.

Bujang perempuan muda itu, agak tinggi dan kurus. Rupanya juga lumayan. Tetapi seperti kedua bujang perempuan tua tadi, diapun juga memakai bedak tebal dan pipinya diberi gincu.

Blo’on gemetar ketika dipandang lekat-lekat oleh bujang perempuan muda itu. Mata bujang perempuan itu berkilat-kilat seperti harimau lapar melihat anak kambing. Sebelum Blo'on sempat berbuat apa-apa, sekonyong-konyong bujang muda itu terus memeluknya dan cup, cup. cup . . . muka Blo'on dihujani ciuman bertubi-tubi.

Karena terkejut tangan Blo'on menyiak bahu bujang muda itu. Tetapi karena gemetar, bukan bahu melainkan baju bujang itu yang tersiak lepas.

"Ai, engkoh ini mengapa begitu tak sabar ?' kata bujang muda itu dengan tertawa genit lalu melepas kancing dan membuka bajunya, "apakah engkau senang melihat aku buka baju begini ?'

"Mari engkoh, kita hangatkan diri dulu," kata bujang perempuan muda terus memeluk Blo’on sehingga muka Blo'on menyusup kedadanya. Seketika panaslah darah Blo'on ketika mukanya terbenam dalam buah dada bujang genit itu.

"Hayo, engkoh, engkau juga harus buka baju mu." kata bujang muda itu lalu melepaskan baju Blo'on. Blo'on terlongong-longong seperti patung.

"Ai, mengapa engkau diam saja ? Apakah engkau tertarik dengan buah dadaku ? Mari. nanti engkau tentu akan lebih tersengsam lagi." kata bujang perempuan muda terus menarik tangan Blo'on diajak ke tempat pembaringan.

Entah bagaimana Blo’on seperti orang yang kehilangan semangat. Seumur hidup belum pernah ia menyaksikan pemandangan seperti itu.

Begitu tiba di bale-bale bujang perempuan itu, ia terus msndorong Blo'on tidur dan ia sendiripun rebah di sampingnya memeluk Blo'on,

Rupanya bujang perempuan muda itu sudah terangsang sekali nafsunya. Ia tak peduli sikap lloon yang sepsrti patung. "Engkoh, bukalah celanamu . . " tanpa tunggu Blo'on bergerak, ia terus membuka celana Bloj on.

Saat itu Blo'on benar-benar seperti disambar petir kejutnya. Wajahnya merah padam karena malu Masakan celananya mau dibuka oleh bujang muda itu. Ah. terlalu . . .

Jika tadi waktu dipeluk dan mukanya terbenam buah dada perempuan muda itu, darah muda Blo’on tersirap. Sekarang serta celananya hendak dibuka, karena malu. berontaklah Blo'on.

"Perempuan cabul . . . !" ia mendorong perempuan muda itu sekuat-kuatnya sehingga terlempar jatuh dari atas bale.

Bluk . . . bujang perempuan genit itu jatuh ketanah dan kebetulan kepalanya membentur lantai batu karang yang keras. Ia menjerit dan terus pingsan . . .

Blo'on tersipu-sipu mengancingkan celananya yang terbuka.

Wajahnya merah padam . . . ,

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 11 Pungguk merindukan bulan"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close