Pendekar Bloon Jilid 10 Teratai - Melati

Mode Malam
Jilid 10 Teratai - Melati

Kakek Lo Kun tak menghiraukan perobahan wajah Bloon yang menyeringai seperti monyet mencium terasi dan wajah kakek Kerbau Putih yang menyengir kuda.

"Hayo kita beristirahat dibawah pohon itu," kakek Lo Kun terus menyeret tangan Blo'on diajak menuju kebawah sebatang pohon besar.

Saat itu matahari sudah mulai condong ke-sebelah barat.

Hari sudah sore. Dan mereka berada di sebuah hutan.

Setiba di bawah pohon, kakek Lo Kun segera mendorong Blo'on rebah di tanah. Sudah tentu Blo'on terkejut.

"Mau apa engkau ?" serunya.

"Membuka kepalamu." kata kakek Lo Kun seraya mengeluarkan sebatang pisau dan secepat kilat tangan kirinya menekan kepala Blo'on dan tangan kanan mengangkat pisau.

"Tulung . . !” Blo'on menjerit sekeras-kerasnya dan meronta-ronta, Huk, huk . . . jeritan Blo'on itu telah membangkitkan kemarahan anjing kuning dan kedua kawannya. Bermula mereka diam saja karena sudah kenal siapa kakek Lo Kun. Dan merekapun tak berbuat apa-apa karena melihat Bloon rebah di tanah. Bahkan anjing Kuningpun ikut rebahkan diri, rajawali dan monyet hinggap di atas pohon.

Tetapi mendengar Blo'on menjerit minta tolong dan meronta-ronta, anjing Kuning serentak berbangkit. Demi melihat kakek Lo Kun hendak membelah kepala Blo'on dengan pisau, anjing Kuning terus loncat menerkam punggung kakek itu. Dan serempak dengan itu, dari atas burung rajawali serta monyet hitam berhamburan melayang turun. Rajawali mencengkeram kepala dengan cakarnya yang tajam. Monyet mencemplak tengkuk terus menggigit daun telinga..

"Aduh . . aduh . . jahanam . . keparat . !" karena diserang oleh tiga binatang yang nakal, ka kek Lo Kun menjerit-jerit seperti babi hendak disembelih.

Ia melonjak-lonjak seperti orang menginjak api dan bingung untuk menghalau binatang-binatang itu. Kalau menampar burung rajawali, anjing masih menerkam punggung. Kalau menghalau anjing, kepalanya masih diterkam rajawali. Kalau dengan kedua tangannya menampar rajawali dan memukul anjing, monyet hitam masih hinggap ditengkuknya dan tak henti-hentinya menggigiti daun telinga.

"Blo'on, lekas suruh mereka berhenti !" teriak kakek itu sambil melonjak-lonjak dan menampar-nampar ketiga binatang itu.

Rupanya ketiga binatang itupun tak mau sungguh-sungguh melukai si kakek. Mereka rupanya tahu kalau kakek itu sahabat dari Blo'on. Mereka hanya menggoda kakek itu. Blo'on tertawa terpingkal-pingkal. Demikian pula dengan kakek Kerbau Putih.

"Blo'on, kalau engkau tak mau menghentikan anakbuahmu, aku tak mau mengobati kepalamu " teriak Lo Kun pula.

"Hi, hi," Blo'on tertawa, "aku tak mau dengan cara pengobatan yang begitu gila. Masa kepala mau engkau belah!"

"Ya, ya, tidak, tidak jadi!" seru kakek Lo Kun, "dengan lain cara saja."

Karena melihat kakek itu sudah tobat. Blo'on kasihan dan berseru suruh ketiga binatang itu pergi. Rupanya binatang itu memang taat kepada tuannya. Mereka berhamburan melepaskan si kakek Lo Kun.

Sambil mengemasi rambutnya yang morat-marit diobrak- abrik rajawali, telinganya yang berdarah karena digigit monyet dan bajunya yang robek karena diterkam anjing Kuning, kakek Lo Kun mengomel dan memaki-maki.

"Sudahlah, setan pendek," bentak kakek Kerbau Putih, "jangan mengomel seperti orang perempuan tua begitu. Engkau memang gila, masakan kepala anak itu hendak engkau belah.

"Bukankah otaknya sakit ?" sahut kakek Lo Kun, "kalau kepalanya tak dibuka bagaimana tahu otaknya masih ada atau tidak ?"

"Sudah, jangan gila-gilaan. Engkau bukan tabib, bagaimana engkau berani membuka kepala orang. Apakah engkau mampu mengembalikan lagi? Dan kalau kepalanya engkau belah, dia tentu mati. Kalau tak percaya, boleh coba. Kepalamu kubelahnya," geram kakek Kerbau Putih.

Lo Kun diam tak menyahut. "Sekarang sambil beristirahat kita rundingkan bagaimana kita hendak menuju. Kegunung Bu-tong san atau ke kota raja atau ke lain tempat lagi," kata kakek Kerbau Putih pula.

"Ke Bu-tongsan !" seru Blo'on.

"Tahu jalannya?" tanya kakek Kerbau Putih. "Tidak."

"Ke kota raja saja!" teriak Lo Kun.

"Tahu jalannya ?" tanya kakek Kerbau Putih Kakek Lo Kun gelengkan kepala.

"Hm, kalian memang hanya menggoyangkan! lidah tetapi tak tahu apa-apa. Ke Bu-tong-san, kekota raja, tetapi tak tahu jalannya," gumam Kerbau Putih

"Apakah engkau tahu jalannya ?" kakek Lo Kun bersungut.

Jawab kakek Kerbau Putih : "Aku sendiri juga tidak tahu maka sebaiknya kita putuskan begini saja. Kita terus jalan menuju ke muka sana. Entah nanti sampai dimana. Kalau sampai di Bu-tong-san ya kita terus mencari ketua Bu-tong- pay, kalau sampai di kotaraja ya kita menghadap raja'"

"Setuju !" teriak kakek Lo Kun tetapi pada lain kilas ia menjerit pula, "cara macam apa itu ? Bagaimana kalau kita ketemu sungai dan gunung?

"Itu bukan halangan ! sahut kakek Kerbau Putih, "ketemu sungai kita seberangi, ketemu gunung kita lintasi, ketemu hutan kita terobos !"

"Ya. kalau begitu aku mau", kata kakek Lo Kun. Dan Blo'onpun menurut. Kakek Kerbau Putih tak tahu arah yang ditunjuk itu sebelah mana. Pokoknya ia menunjuk kesebelah muka. Dan kebetulan arah yang ditunjuk kakek itu ialah menuju ke utara.

"Lalu bagaimana sekarang ini ? Matahari sudah hampir silam, apakah kita melanjutkan perjalanan atau tidur disini?" tanya kakek Kerbau Putih

"Tidur disini atau melanjutkan perjalanan, bagiku sama saja." kata kakek Lo Kun, "pokok asal engkau dapat menjamin perutku yang sudah kosong ini !"

"Huh, kakek pendek, kemana-mana engkau selalu mementingkan perutmu saja. Ingat, apakah engkau tidak kapok mengalami kejadian seperti di gereja Siau-lim-si itu ? Karena kekenyangan dan terlalu kekenyangan dan banyak minum arak, sehing ga perutmu sampai meletus"

"Hi, hi," kakek Lo Kun geli sendiri, "itu bukan salahku. Masakan perutku sedang mulas, kawanan kepala gundul itu terus menyerang. Karena kaget, isi perutkupun terus berhamburan keluar".

Bloon geli-geli mendongkol, serunya: "Ya, enak saja engkau mengosongi perut, tetapi kita yang celaka aku mau muntah. Eh, mengapa baunya begitu luar biasa busuknya ? Apakah yang engkau makan selama dalam guha ?"

"Seadanya," sahut kakek Lo Kun, "kalau dapat kijang, ya makan kijang, Kalau harimau, ya makan harimau. Dan kalau tak dapat apa-apa, bangsa cecak, kadal, cengkerik, ular, tenggoret, uh, apa saja perutku mau menerima."

"Uh, kalau begitu perutmu itu merupakan kuburan bangkai- bangkai binatang," Blo'on tertawa, "jangan kualir, kakek. Nanti akan kusuruh binatangku itu mencarikan makan untukmu." "Bagus, Blo'on !" tiba-tiba kakek Lo Kun melonjak bangun, "hayo kita jalan lagi. Mudah-mudahan bertemu dengan desa,"

Demikian ketiga manusia aneh dan binatang luar biasa itu melanjutkan perjalanan pula. Mereka berjalan menurutkan jalan yang terbentang dimuka. Entah sampai dimana, mereka tak mempedulikannya.

Haripun makin gelap dan malam mulai tiba.

"Hai, apakah itu ?" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru sembari menunjuk ke balik sebuah gerumbul pohon yang masih sepemanah jauhnya.

Ketika Blo'on dan kakek Kerbau Putih memandang ke muka, tampaklah segunduk benda hitam di balik gerumbul pohon.

"Rumah," seru kakek Kerbau Putih, "hai . . ia berteriak kaget ketika kakek Lo Kun sudah lari mendahului.

Rupanya begitu mendengar kata-kata 'rumah' Lo Kun terus tancap gas, lari kencang. Terpaksa kakek Kerbau Putih dan Blo'on mengikuti.

Setelah melintasi gerumbul pohon yang merentang cukup panjang ditepi jalan, Blo'on dan kakek Kerbau Putih melihat kakek Lo Kun sudah menerobos masuk ke dalam sebuah bangunan rumah. Rumah itu gentingnya dicat merah.

Dan setelah tiba, barulah kakek Kerbau Putih dan Blo'on tahu kalau rumah itu sebuah kuil gunung yang sudah tak terurus. Sebuah kuil tua untuk memuja para malaekat gunung di daerah si tu.

"Gila !" begitu kakek Kerbau Putih dan Blo'on melangkah masuk, kakek Lo Kun sudah menyambut dengan makian keluh kemarahan, "masakan rumah ini kosong. Tiada orang, tiada makanannya. Di meja hanya terdapat beberapa patung Saja." Memang kuil itu kecil, hanya mempunyai sebuah ruangan depan untuk sembahyangan. Di meja sembahyang terdapat sebuah patung yang di cat dengan warna kuning emas. Di kanan kiri meja pun terdapat dua buah patung setinggi orang. Menilik keadaannya yang kotor dan penuh debu, tentulah kuil itu jarang dikunjungi orang. Tetapi bangunannya masih cukup kokoh.

Tiba-tiba kakek Lo Kun menghampiri patung yang berdiri di kanan meja, terus ditaboknya, plak.... "Hai, patung, mana makanan di meja itu? Engkau seorang penjaga yang rakus, masakan sedikitpun tiada sisa makanan. Semua engkau habiskan !"

"Sudahlah, kakek." kata Blo'on "jangan kualir, nanti akan kusuruh binatang itu mencari makan untukmu."

Mendengar itu, kakek Lo Kun baru tak marah. Kakek Kerbau Putih mengambil korek lalu menyalakan sisa lilin yang masih terdapat di atas tatakan lilin.

"Kita tidur disini, besok kita lanjutkan perjalanan." kata kakek Kerbau Putih.

Untunglah lantai tak berapa kotor. Setelah agak dibersihkan, dapat dibuat tidur. Blo'onpun segera suruh anjing Kuning, burung rajawali dan monyet mencarikan makanan dan minuman.

Tak berapa lama setelah ketiga binatang itu pergi, mendadak hujan turun. Memang sejak sore langit gelap dengan awan hitam yang tebal.

Tiba-Tiba mereka mendengar suara derap kuda lari mendatangi. Menilik riuhnya, tentulah bukan hanya seekor tetapi tentu beberapa ekor kuda. "Celaka, ada orang datang," kata kakek Kerbau Putih. "Peduli apa ?" sahut kakek Lo Kun, "tempat ini sudah lebih

dulu kita tempati. Kalau mereka mau tidur disini, tak bisa. Harus tidur di luar."

"Tunggu, jangan bicara," kakek Kerbau Putih terus loncat  ke pintu kuil dan melongok keluar. Dilihatnya tiga orang penunggang kuda tengah lari mendatangi. Mata kakek Kerbau Putih yung tajam segera dapat melihat bahwa ketiga penunggang kuda itu terdiri dari seorang pemuda cakap, seorang lelaki setengah tua yang bermuka brewok dan seorang imam tua.

Kakek Kerbau Putih terkejut melihat ketiga orang itu membekal senjata tajam. Cepat ia lari masuk lagi.

"Tiga orang penunggang kuda yang membawa senjata tajam. Tentu bukan orang baik." kata kakek Kerbau Putih kepada Blo'on dan Lo Kun.

"Hajar saja," seru kakek Lo Kun.

"Jangan." cegah kakek Kerbau Putih, "kita belum tahu pasti mereka itu orang jahat atau orang baik. Lebih baik kita tunggu dulu. Mereka tentu akan meneduh di sini karena hujan."

"Tetapi mereka tentu akan mengetahui kita disini ?" kata Blo'on.

Kakek Kerbau Putih merenung lalu berseru: "Kita pura-pura jadi patung, tak mungkin mereka tahu"

"Jadi patung ?" kakek Lo Kun melongo.

"Sudahlah, jangan banyak mulut," bentak ka kek Kerbau Putih, "lekas lumuri mukamu dengan debu kotoran dimeja itu. supaya mereka mengira engkau benar-benar sebuah patung. Dan berdirilah disisi patung itu." , Kakek Kerbau Putih memberi contoh. Ia merangkum debu yang menebal di atas meja lalu dilumurkan pada mukanya. Kakek itu segera berobah hitam mukanya. Ia terus melangkah dan berdiri tegak di samping patung yang berada di sebelah kanan meja.

Kakek Lo Kun terpaksa menurut. Seketika ia berobah seperti setan hitam. Blo'onpun juga. Dia berobah menjadi setan gundul. Kakek Lo Kuu dan Blo on berdiri di sebelah patung yang berada di samping kiri meja.

Kini kuil itu mempunyai enam buah patung. Patung dewa penunggu hutan berada ditengah meja. Tiga patung berdiri disamping kiri meja dan dua patung berada disamping kanan meja.

"Huuhhh . . " kakek Kerbau Putih cepat meniup padam lilin.

Seketika ruang kuilpun gelap.

Seiring dengan padamnya lilin, di luar kuil terdengar bunyi kuda berhenti. Lalu derap kaki orang melangkah masuk. Seorang pemuda, seorang setengah tua dan seorang imam tua.

"Hujan terkutuk," gumam lelaki setengah tua "menghalang perjalanan saja. Untung di sini bertemu kuil gunung kalau tidak, kita tentu basah kuyup."

"Hm, tak apa," kata imam tua itu, "sebentar hujan tentu berhenti dan rembulan akan bersinar terang malam ini."

"Ah, didalam gelap sekali," kembali lelaki setengah tua itu berseru.

"Ya, memangnya kuil gunung, tentu tak ada yang mengurusi," kata imam tua pula. Lelaki setengah tua itu mengambil korek lalu menyulutnya. Ia maju ke muka meja sembahyang, memandang ke sekeliling.

"Hai, kuil sekecil ini mengapa terdapat banyak patungnya ?" seru lelaki setengah tua itu agak heran. Tiba-Tiba ia melihat sisa kutungan lilin yang masih sedikit, "kebetulan masih ada sisa lilin."

Ia terus menyulut lilin, lalu mengajak kedua kawannya duduk. Tiba-Tiba ia lari keluar lalu masuk pula dengan membawa guci arak dan buntalan makanan.

"Mari kita makan. Untung ketika lewat di kota tadi, aku membeli arak dan kuweh bakpau. Kalau tidak, malam ini kita bisa kelaparan." kata lelaki setengah tua itu dengan tertawa.

"Minum dulu untuk menghangatkan badan." kata lelaki setengah tua itu. Ia menuang arak ke dalam sebuah cawan lalu diangsurkan kehadapan si imam tua : "Maaf totiang, tentulah totiang tak pantang minum arak, bukan ?"

"Aku seorang bebas, tak mau mengikat diriku pada suatu pantangan. Yang penting hatinya harus bersih," kata imam tua itu sambil menyambuti cawan arak terus diteguknya, "wah, enak juga" Ketika arak tertuang di mulut si imam, maka berhamburanlah hawa arak yang wangi. Demikian pula ketika lelaki setengah tua itu meneguk cawannya. Seluruh ruang kuil penuh bertaburan hawa arak yang wangi.

"Saudara Liok, hayo minumlah," kata lelaki setengah tua seraya mengangsurkan cawan arak.

"Maaf, Bok kausu, aku tak biasa minum." kata pemuda cakap itu dengan suara yang halus. "Eh, aneh," seru lelaki yang disebut Bok kausu itu. Kausu artinya guru silat, la tertawa, "seorang lelaki harus bisa minum arak. Saudara Liok belum tahu bagaimana rasanya arak itu. Sekali coba pasti akan ketagihan."

"Terima kasih, Bok kausu," kata pemuda itu tersenyum, "sudah terlanjur aku tak pernah minum, biarlah tak minum saja agar jangan ketagihan."

Walaupun ditawari dan didesak berulang kali pemuda itu tetap menampik, akhirnya Bok kausu pun minum sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara berkerucukan yang aneh

"Hai, suara apakah itu '?' serentak Bok kausu berteriak lalu berbangkit memandang ke sekeliling ruang. Suara aneh itupun berhenti.

"Aneh, seperti suara perut orang berkerucukan , karena lapar." kata Bok kamu pula, "tetapi siapa? Patung-patung itu masih berdiri ditempatnya dan masakan perutnya bisa berbunyi ?"

"Ah, tentu suara tikus," kata imam tua sambil tertawa. "Tidak, totiang," bantah Bok Kausu. "bukan tikus, karena

kalau tikus tentu lari. Tetapi tadi aku tak mendengar lain suara lagi."

Imam tua tertawa : "Kalau begitu, tentulah patung dewa penunggu kuil ini. Mungkin karena sudah lama tak mendapat kunjungan orang, mereka tak pernah disembahyangi. Tak heran kalau mereka memperdengarkan bunyi aneh untuk minta minum”

"O, mungkin benar begitu," kata Bok kausu lalu menuang arak ke dalam cawannya dan ditaruh dimeja didekat patung bercat kuning emas, "maafkan, sin-beng (malaekat), hamba Bok Kiang kebetulan lalu dan meneduh di kuil ini. Hambu haturkan arak untuk sin-beng. Mohon sin-beng suka memberi restu agar tugas hamba untuk mencari putera ti-hu (residen) yang diculik gerombolan Hu-yong-pang itu dapat hamba ketemukan ..."

Demikian Bok kausu bersembahyang dan berdoa dihadapan patung. Tak lupa iapun menaruhkan tiga biji bakpau di meja.

Setelah itu maka ia duduk pula. Setelah bersama kedua kawannya makan bakpau dan minum arak, mereka mulai bercakap-cakap. Hujan belum berhenti terpaksa mereka harus menunggu.

"Apakah lembah Hu-yong-koh itu masih jauh ?" kedengaran pemuda cakap itu bertanya.

"Sudah dekat," kata Bok kausu, "lembah itu berada di gunung Bik nui san Dan saat ini kita sudah masuk daerah gunung itu."

"Apakah paman tahu letak lembah Hu-yong koh itu ?" tanya sipemuda cakap pula.

"Aku belum pernah kesana,"kata Bok kausu " dan lembah itu memang baru sekarang terkenal. Sejak dahulu belum pernah kudengar nama lembah yang begitu aneh."

"Benar, Bok kausu," sambut imam tua, "memang sejak berpuluh tahun berkelana di dunia persilatan, belum pernah kudengar nama itu. Hu-yong koh, uh. aneh juga nama itu . . ."

Hu-yong-koh artinya Lembah Melati.

"Sesuai dengan namanya, tentulah lembah itu menjadi markas dari Partai Melati," kata si pemuda cakap "Benar," sahut Bok kausu, "memang Partai Melati itu baru saja berdirinya. Murid-muridnya terdiri dari gadis-gadis cantik. Demikian pula dengan ketuanya,"

"Siapakah nama ketuanya?" tanya si pemuda

"Kabarnya bernama Hu Yong Sian-cu atau Dewi Melati," kata Bok kausu lalu menatap imam tua, tanyanya : "Totiang, apakah totiang pernah mendengar nama itu ?"

Imam tua kerutkan dahi, merenung. Sesaat kemudian berkata : "Tidak pernah. Sepanjang ingatanku, di dunia persilatan Tiong-goan ini hanya terdapat dua tokoh wanita sakti yaitu Hiang Hiang niocu dan Lam-hay Bi Jin atau Ratu cantik dari Laut Kidul. Tetapi Ratu Laut Kidul itu kabarnya sudah meninggal. Dan kini hanya tinggal Hiang Hiang niocu saja. Dewi Melati ini, tentulah seorang tokoh baru."

Bok Kiang mengiakan : "Memang baru lebih kurang dua tahun ini dunia persilatan gempar dengan kemunculan sebuah partai baru yang menamakan dirinya Hu-yong-pang atau Partai Bunga Melati."

"Tentulah kegemparan itu disebabkan karena ketua dan murid-murid Partai Melati mempunyai ilmu kepandaian yang sakti," kata si pemuda tampan.

"Mungkin begitulah."

"Ih, mungkin ? Adakah mereka belum pernah bertempur dengan orang-orang persilatan ?" tanya pemuda itu heran.

Bok Kausu menghela napas : "Memang pernah kudengar kabar-kabar tentang kesaktian partai baru itu. Tetapi yang menggemparkan bukan ilmu kesaktian mereka ..."

"Lalu ?" pemuda tampan makin heran. "Begini hiante," kata Bok kausu, "yang menimbulkan kegemparan dunia persilatan setelah kemunculan Partai Melati, ialah adanya peristiwa-peristiwa yang aneh."

"Peristiwa aneh bagaimana, kausu, "makin meluaplah keinginan tahu dari pemuda cakap itu.

"Sejak munculnya Partai Melati, baik dalam kalangan partai- partai maupun perguruan silat, banyak yang kehilangan murid- muridnya yang muda. Demikian pula sering terjadi lenyapnya pemuda-pemuda dari rumah. Tanpa bekas dan tak diketahui jejaknya sama sekali."

"Lalu apa hubungan Partai Melati dengan hilangnya pemuda-pemuda itu ?" tanya pemuda tampan.

"Memang bukti belum nyata. Tetapi kecurigaan patut dilontarkan kepada mereka. Setiap kali disuatu kota atau tempat muncul seorang atau dua orang bahkan serombongan nona-nona cantik yang berkendaraan kereta, tentulah keesokan harinya atau beberapa hari kemudian, beberapa pemudanya terutama yang cakap-cakap wajahnya, lenyap tanpa diketahui bekasnya."

"O," desuh pemuda cakap itu.

"Demikian pula yang terjadi pada beberapa kalangan anak murid perguruan dan partai persilatan. Banyak murid-murid yang gagah dan berwajah tampan, hilang atau menghilang dari rumah perguruannya."

"Apakah Kho sute juga mengalami nasib begitu ?" tanya pemuda tampan.

"Benar, hiante," kata Bok kausu, "sudah dua tahun ini aku diundang Kiio tihu menjadi pengawal gedung karesidenan Siang yang bu. Dua hari yang lalu penduduk bersuka ria merayakan hari Pesta Air. Telaga Thay-cu penuh dengan perahu pesiar yang warna warni. Bermacam-macam hiasan kertas lentera dan panji-panji membentuk perahu-perahu itu menjadi berbagai, rupa. Ada yang menyerupai liong, ikan hiu, ikan paus dan sebagainya.

Lelaki perempuan, tua muda, besar kecil, seolah membanjiri telaga itu. Kho Pik giam kongcu putera tihu pun tak ketinggalan. Dengan beberapa pemuda kawannya, dia naik sebuah perahu berbentuk seekor Naga hijau. Tengah bercengkerama dengan gembira diantara beratus-ratus buah perahu yang hilir mudik, tiba-tiba Kho kongcu tertarik akan sebuah perahu yang berbentuk seperti burung Hong (cenderawasih).

Tetapi yang menarik perhatian putera tihu itu bukanlah bentuk perahunya karena di telanga pada saat itu tak kurang berpuluh macam perahu yang bentuknya lebih indah. Melainkan yang berada dalam perahu itu ... "

Selama ketiga orang itu duduk mendengarkan cerita orang yang disebut Bok kausu, adalah Blo’on dan kedua kakek itu yang menderita. Mereka harus berdiri tegak menjadi patung. Tak boleh bergerak. Lebih celaka adalah waktu Bok kausu mengeluarkan arak. Baunya yang begitu wangi hampir membuat kakek Lo Kun yang doyan arak, mengiler. Untung Bloon yang berdiri dekat, tahu hal itu.

Entah bagaimana kali ini kakek Lo Kun cepat dapat mengerti maksud orang. Ia menahan nafsu ketagihan arak. Tetapi celaka ! Mulut berhasil dibendung supaya jangan ngiler tetapi perutnya berontak. Dan berkerucukan bunyinya.

Jadi yang berbunyi berkerucukan itu bukan lain ialah perut kakek Lo Kun. Untung ketiga pendatang itu tak mau menyelidiki lebih lanjut. Karena menahan napas supaya mulut jangan ngiler dan perut jangan berbunyi, merah padamlah muka kakek pendek itu. Hampir saja ia menjerit karena tak kuat harus menahan napas sampai sekian lama.

Untunglah pada saat itu, Bok kausu menghidangkan arak dihadapan patung sin-beng dan tiga biji bak-pau. Karena girangnya, kakek Lo Kun tak jadi memekik. Kini mata kakek pendek itu tercurahkan kearah cawan arak dan bak-pau.

Tengah ia berpikir keras bagaimana caranya untuk minum arak dan makan bak-pau itu, tiba-tiba kakek Kerbau Putih meniup lilin hingga padam. Rupanya kakek Kerbau Putih juga tergoda oleh wanginya arak dan sedapnya bak-pau.

Habis meniup padam lilin, dengan cepat kakek Kerbau Putih ulurkan tangan hendak meraih cawan. Uh . . lenyap. Ya, cawan arak yang jelas berada di atas meja telah lenyap. Apa boleh buat. ia terus meraih bak-pau. Uh , . . juga lenyap.

"Jahanam, tentu setan pendek itu yang mengambil,” kakek Kerbau Putih memaki dalam hati seraya menarik pulang tangannya dan tegak seperti patung lagi.

"Hai, lilin padam," seru Bok kausu seraya hendak  berbangkit untuk menyulutnya.

"Biarlah, Bok kausu, "cegah imam tua, "tak perlu disulut lagi. Tadi lilin itu hanya tinggal sedikit. Percuma saja, sebentar lagi tentu juga habis."

"Ya, paman, biarlah," kata pemuda tampan, "lebih baik paman melanjutkan cerita tadi." Bok kausu mengiakan.

"Perahu burung Hong itu berisi empat orang gadis jelita. Itulah yang mempesonakan hati Kho kongcu Rupanya ia tersengsam sekali dengan kecantikan keempat jelita itu. Segera Kho kongcu perintahkan tukang perahu untuk menyusul perahu empat dara jelita itu. Tukang perahupun segera memutar haluan dan mulai mendayung untuk menyusul perahu burung Hong."

"Ai, Kho suko itu memang tak kena melihat paras cantik. Sudah berulang kali suhu memberi pesan agar dia dapat menjaga diri jangan mudah terpincut dengan paras cantik," kata pemuda tampan setengah menyesali putera tihu. Dengan menyebut putera tihu sebagai suko (engkoh seperguruan), jelaslah kalau dia itu saudara seperguruan dengan Kho Pik- giam.

"Ah, memang Liok hiante," kata Bok kausu.

"selama aku menjadi guru silat di gedung karesidenan, kutahu bagaimana tingkah laku Kho kongcu. Tetapi aku hanya seorang pengawal, bagaimana aku berani melarangnya ?”

"Lalu bagaimana kelanjutannya ?" tanya pemuda tampan itu.

"Seperti telah kututurkan, di permukaan telaga Thay-ou saat itu penuh sesak dengan perahu pesiar. Ketika perahu Naga Hijau hampir berhasil mendekati perahu burung Hong, tiba-tiba perahu Kho kongcu ditubruk dari belakang oleh sebuah perahu besar. Rupanya tindakan tukang perahu dari perahu Naga Hijau yang mernbilukkan haluan perahu dan mendayung dengan laju itu, telah menimbulkan kemarahan orang. Banyak perahu kecil yang terbentur dan terlanda gelombang dari perputaran perahu putera tihu itu. Bahkan ada yang tenggelam juga. Itulah sebabnya maka ada beberapa perahu yang dinaiki oleh pemuda-pemuda segera membentur perahu Naga Hijau itu dari belakang." Sejenak berhenti, Bok kausu melanjutkan pula : "Karena ditubruk dari belakang, perahu Naga Hijau terdorong kemuka dengan cepat sekali dan membentur perahu burung Hong. Perahu burung Hong bergoncang keras dan condong ke samping hampir terbalik. Keempat gadis jelita itu menjerit ketakutan. Melihat itu Kho kongcu terus loncat ke perahu burung Hong. Dengan gunakan tenaga injakan kaki Cian-kin- tui (injakan seribu kati), Kho kongcu dapat menguasai keseimbangan perahu lagi. Dan diapun segera berkenalan dengan keempat jelita itu.

Perahu hilir mudik tak henti-hentinya. Kawan-kawan Kho kongcu sibuk untuk menyusul perahu burung Hong. Tetapi sukar karena terhalang oleh ratusan perahu. Dan akhirnya mereka kehilangan jejak perahu burung Hong itu. Sore harinya, mereka masih mencari perahu burung Hong itu dan akhir nya berhasil. Tetapi perahu itu sudah kosong. Menurut tukang perahu, Kho kongcu dan keempat jelita itu telah pergi entah kemana.

Ternyata Kho kongcu tak pulang. Tihu dan ibu Kho kongcu sibuk bukan kepalang. Sampai dua hari lamanya belum juga Kho kongcu pulang. Tihu lalu memerintahkan aku supaya mencari Kho kongcu. Kebetulan engkau datang, Liok hiante. Dan Soh Hun ki-siupun diminta bantuannya oleh tihu agar membantu aku. Ternyata bersama dengan hilangnya Kho kongcu, pun dalam kota Siangyang orang gempar karena beberapa pemuda telah lenyap. Tentulah kawanan Partai Melati itu yang membuat gara-gara."

"Apakah kausu tahu, mengapa Partai Melati itu gemar menculik pemuda-pemuda cakap ?" tanya pemuda tampan yang disebut Liok hiante itu. "Menurut keterangan yang kuperoleh." kata Bok kausu, "rupanya ketua Partai Melati ialah Hu Yang Sian-cu seorang wanita yang membenci kaum lelaki terutama yang berparas tampan ..."

"Ih ..." pemuda Liok mendesah.

Rupanya Bok kausu teringat kalau keterangannya itu dapat mengguncangkan perasaan pemuda Liok. Buru-Buru ia menghibur : "Ah, tetapi tak perlu Liok hiante takut. Untuk menghadapi kawanan gadis-gadis cantik itu, senjata yang paling utama ialah keteguhan hati. Jangan sampai terpikat oleh kecan tikan mereka. Soal adu kepandaian silat, kurasa Liok hiante tentu dapat mengatasi mereka."

"Terima kasih, kausu." kata pemuda Liok.

"Kabarnya Hu Yong sian cu memang sakti. Dia memilih murid-murid gadis yang jelita. Murid-Murid itu tak boleh menikah tetapi diizinkan untuk bermain cinta dan bebas melakukan hubungan dengan lelaki. Asal jangan sampai menikah."

"Hm, kalau begitu gadis-gadis cantik itu cabul semua," kata pemuda Liok.

"Cabul dan kejam " kata Bok kausu, "karena setelah pemuda yang diculik itu tak dapat melayani keinginan mereka, pemuda itu lalu dibunuh..."

"Hai!" teriak pemuda Liok terkejut, "benar-benar tak dapat dibiarkan saja gerombolan ular-ular cantik itu hidup di dunia. Mereka harus dibasmi !"

"Ya, tetapi harus hati-hati, hiante," kata Bok kausu tersenyum, "aku sih orang tua tetapi engkau masih muda dan tampan. Mereka tentu jatuh hati kepadamu dan berusaha untuk mendapatkan engkau.”

"Ah, mudah-mudahan aku diberi kekuatan batin dan keteguhan imam untuk menghadapi kawanan ular cantik itu," kata pemuda Liok dengan wajah penuh kebulatan tekad.

Saat itu hujanpun sudah berhenti. Dan tiba-tiba imam yang disebut Soh Hun ki-siu atau imam Pencabut Nyawa, berseru : "Rupanya hujan sudah berhenti. Mari kita lanjutkan perjalanan lagi."

Bok kausu berbangkit lalu menyulut korek, menyuluhi meja.

Ia hendak mengambil cawan arak

"Hai . . , " tiba-tiba ia berteriak kaget, "mengapa bak-pau dan arak sudah kosong? Kemanakah”

Soh Hun ki-siu dan pemuda Liok memandang cawan yang dipegang Bok kausu. Memang isinya sudah kosong. Dan bakpau yang terletak di meja sembahyangan lenyap.

"Hai, siapakah yang berani bermain-main dengan Bok Kiang?” seru guru silat itu dengan nada tegang, "kalau benar- benar seorang jantan, silahkan keluar berhadapan muka. Jangan main sembunyi seperti kura-kura "

Tetapi tiada jawaban suatu apa. Bahkan suara gerak dari sesuatu benda atau angin, pun tak terdengar.

Bok kausu penasaran. Ia maju menyuluhi patung-patung yang berada di kedua samping meja.

"Hai, mengapa patung yang gundul itu tertawa menyeringai?" tiba-tiba Bok kausu berteriak kaget ketika pandang matanya melihat wajah patung Blo'on.

Memang saat itu seekor nyamuk telah hinggap di pipi Blo'on dan menggigit. Karena tak berani gerakkan tangan, terpaksa Blo'on hanya mengerenyutkan daging pipi dan dahinya agar nyamuk itu pergi. Tetapi tepat pada saat ia menyeringai, tiba- tiba Bok kausu sedang memandangnya. Sudah tentu Blo'on harus tetap menyeringai seperti kucing tertawa.

"Nyamuk bangsat, aduh . . ." nyamuk tetap menggigit dan Blo'on benar-benar setengah mati. la hanya dapat menyeringai dan menyumpahi dalam hati.

"Hai, patung pendek itu ! Mengapa mulutnya menggelembung seperti mengulum bak-pau ?" tiba-tiba Bok kausu yang beralih memandang kakek Lo Kun, berteriak kaget.

Memang yang mengambil bak-pau dan arak itu kakek Lo Kun. Ia dapat bergerak lebih cepat dari kakek Kerbau Putih, Secepat meneguk habis arak, ia terus menyambar bak-pau.

Dua buah bak-pau cepat pindah kedalam perutnya. Tetapi ketika ia sedang memasukkan bak-pau yang ketiga kedalam mulut. Bok kausu memandangnya.

Apa boleh buat. Daripada diketahui kalau bukan patung sesungguhnya, terpaksa kakek Lo Kun mengatupkan mulut. Dan karena mulut masih berisi bak-pau maka mulut Lo Kun mecucu alias

menggelembung besar ....

Ketika menyulut korek maka menjeritlah Bok kausu : "Hai, mengapa patung yang gundul itu menyeringai ? Hai, mengapa patung yang pendek mecucu mulutnya? .. . Hai, mengapa patung yang bungkuk bisa menari. .

"Hai . . . !" terdengar pula Bok kausu menjerit kaget, "mengapa patung disamping kanan meja itu mengangkat tangannya seperti orang hendak berjoged ?"

Kiranya karena Bok kausu menyulut korek dan memandang kepada Bloon dan kakek Lo Kun, kakek Kerbau Putih terkejut dan siap hendak memukul. Tetapi karena Bok kausu sudah lebih cepat memandang kepadanya, agar jangan disangka patung palsu terpaksa kakek Kerbau Putih hentikan gerakan tangannya ditengah jalan. Dengan begitu ia masih dalam sikap seperti menari.

Rupanya pemuda cakap itu juga melihat keanehan pada ketiga patung itu : "Benar, aneh juga ketiga patung itu . . . "

Dan saat itu Bok kausupun maju menghampiri untuk memeriksa. Melihat itu Blo’on makin tegang. Dan celakanya kini nyamuk beralih hinggap diujungnya lalu menggigit, aduh .

. .

Rasanya tiada siksaan yang lebih hebat seperti yang diderita Blo’on saat itu Ia harus menyeringai, tertawa seperti kuda menyengir, ujung hidungnya digigit nyamuk tetapi ia tak dapat menghalaunya karena takut ketahuan belangnya.

Karena tak tahan siksaan itu, Bloon meniup dengan mulutnya, untuk menghalau nyamuk celaka itu, hefff ...

Berkat makan rumput Kumis-naga dan darah Ki-lin, Blo'on telah memiliki tenaga dalam yang kokoh. Tetapi dia tak tahu bagaimana cara untuk mengerahkan tenaga-dalam itu dan lagi memang dia tak menyadari kalau mempunyai tenaga-dalam hebat. Saat itu karena jengkel ujung hidungnya digigit nyamuk, Blo'on empos semangatnya dan meniup. Maksudnya hendak mengenyahkan nyamuk tetapi tak dinyana-nyana korek yang dipegang Bok kausu itupun padam. ,

"Hai, patungnya dapat bernapas . . " Bok kausu terkejut dan menyurut mundur.

Tiba-Tiba terdengar anjing menyalak keras dan kuda rombongan Bok kausu yang tertambat diluar kuil meringkik- ringkik sekuatnya.

"Ada orang !" cepat imam Soh Hun berseru seraya melesat kepintu, "Hai, kuda kita lepas . . !"

Mendengar teriakan itu, pemuda cakappun cepat menyusul keluar. Bok kausu terkejut. Terpaksa ia batalkan niatnya untuk menyulut korek lagi lalu lari ke pintu.

"Hai, tunggu dulu totiang . . . !" teriak pemuda cakap dan Bok kausu. Ternyata imam tua sudah lari mengejar kuda yang lari. Pemuda Liok dan Bok kuusupun segera cepat-cepat menyusul. Tak selang berapa lama merekapun sudah lenyap dari pendengaran.

Sebagai gantinya dari ketiga orang itu. muncullah tiga ekor binatang. Anjing Kuning, burung rajawali dan monyet hitam.

"Ternyata ketiga binatang itulah yang berjasa menolong Blo'on dan kedua kakek dari kesukaran. Ketika mereka kembali dengan membawa makanan tiba-tiba mereka melihat tiga ekor kuda di luar kuil. Rupanya ketiga ekor binatang itu memang cerdik dan mendapat latihan yang baik sehingga naluri merekapun amat tajam. Monyet hitam yang paling cerdik dan nakal, cepat melepaskan tali penambat kuda, sedangkan burung rajawali menyambar muka dan anjing Kuning menggigit pantat. Karena terkejut ketiga kuda itu meringkik keras dan binal dan lari sekencang-kencangnya.

"Bangsat benar engkau, kakek Kerbau !" tiba-tiba kakek Lo Kun mendamprat ."karena gara garamu suruh jadi patung, mulutku sampai kaku begini. Masa orang disuruh mengulum bak-pau terus-terusan"

"Setan pendek, siapa suruh engkau menyambar bak-pau? Bukankah aku yang meniup padam lilin, mengapa engkau mendahului aku mengambil arak dan bakpau ?" balas kakek Kerbau Putih, "masih enak engkau makan dua biji bak-pau dan secawan arak. tetapi aku ? Gila betul . . . masakan aku harus mengacungkan kedua tangannya seperti orang berjoged ? Huh

..."

"Hai, mengapa engkau Blo'on ?" tiba-tiba kakek Lo Kun berseru karena melihat anak itu sedang mengusap-usap kedua belah pipinya. Dan mulut-nyapun menganga.

"Rahangku kesemutan ..." sahut Blo'on. "Kenapa ?"

"Mulutku tak dapat ditutup ..."

"Kenapa ?" teriak kakek Lo Kun karena pertanyaannya tak dijawab

"Ho, ho . . mulutku ini, aduh . . tak dapat ditutup”

Kakek Lo Kun menghampiri. Setelah mengintai kedalam mulut Blo'on yang ternganga itu, ia berkata : "Tak apa, biar terus menganga. Nanti kucarikan penutupnya !"

Kakek Lo Kun terus hendak melangkah keluar tetapi dicekal tengkuknya oleh kakek Kerbau Putih : "Jangan gila-gilaan engkau, setan pendek Mau kemana engkau ?" "Uh, cari bonggol kayu untuk menutup mulut anak itu." sahut kakek Lo Kun.

"Setan," kakek Kerbau Putih mendorongnya dengan geram, "masakan mulut menganga mau disumpal bonggol kayu !"

Ia terus menghampiri Blo'on, katanya: "Mungkin engkau tertawa terlalu lama, tulang rahangmu jadi kaku sehingga mulutmu tak dapat dikatupkan"

"Aku tidak tertawa " Blo'on deliki mata kepada kakek itu. “Lalu apa yang engkau lakukan selama jadi patung tadi ?" "Menyeringai ..."

"O, apa itu menyeringai ?" "Tertawa seperti kucing."

"Ho, kucing itu bisa tertawa ?”

"Jangan banyak mulut, lekas tolong mulutku” Bloon marah. "Eagkau tahan sakit ?"

"Sudahlah, lekas kerjakan !" teriak Blo'on.

Plak . . plak . . . tiba-tiba kakek Kerbau Putih menampar kedua belah pipi Blo’on.

Aduh . . . anak itu menjerit kesakitan. Kepalanya serasa pusing tujuh keliling. Beberapa jenak kemudian setelah sembuh. Ternyata rahangnya sudah dapat dikatupkan.

"Kakek gila " Bloon menggeram, "engkau memang yang cari gara-gara. Masakan orang disuruh jadi patung tertawa "

"Siapa suruh engkau tertawa ?" bantah kakek Kerbau Putih.

"Habis, kalau hidung gua digigit nyamuk apa guna bisa menampar dengan tangan ? Kan terpaksa harus menyeringai supaya nyamuk itu pergi, tetapi nyamuk celaka itu tak mau pergi malah menggigit sekeras-kerasnya ..."

"Engkau masih mending hanya tertawa, aku? Aku harus berjoged tadi” kakek Kerbau Putih bersungut.

“Sudah, jangan ribut-ribut, hayo kita makan," seru kakek Lo Kun seraya menyambut makanan yang dibawa oleh ketiga binatang piaraan Blo’on.

Demikian ketiga orang Itupun terus makan. Selesai makan, berkata kakek Kerbau Putih : "Kemana kita sekarang ?"

“Mengejar ketiga orang tadi," seru kakek Lo Kun. "Buat apa ?" tanya kakek Kerbau Putih.

"Lihat-Lihat lembah Melati yang aneh itu. Bukan kah disitu ada Dewi Melati dan gadis-gadis cantik ?" kata kakek Lo Kun.

"Tua bangka," damprat kakek Kerbau Putih "tua-tua keladi, makin tua makin menjadi jadi. Tidak aku tak mau lihat gadis cantik, nanti bisa terkenang pada kekasihku dulu "

Kakek Lo Kun membelalak, serunya : "Kalau engkau mau pergi, pergilah. Aku tetap hendak melihat-lihat ke Lembah Melati itu."

"Uh ..." kakek Kerbau Putih garuk-garuk kepala, "sekarang kita ambil suara. Engkau setuju, aku tidak setuju. Sekarang tinggal Blo'on. Kalau Blo'on setuju aku kalah suara dan ikut engkau. Kalau Blo'on tak setuju, engkaupun harus ikut aku."

"Ya."

Kakek Kerbau Putih lalu bertanya kepada Blo'on : "Bagaimana, engkau setuju ke Lembah Melati atau melanjutkan perjalanan ?"

"Melanjutkan perjalanan." kata Blo'on. "Benar !" seru kakek Kerbau Putih girang lalu berpaling kepada kakek Kerbau Putih, "nah, dengar tidak ? Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan.”

Demikian ketiga orang itu, walaupun hari malam, tetap melanjutkan perjalanan. Belum berapa lama berjalan tiba-tiba dari sebelah muka tampak sebuah kereta meluncur datang. Kereta itu ditarik empat ekor kuda.

"Aneh. mengapa pada malam hari begini, ada kereta berjalan di tempat pegunungan ini ?" kata kakek  Kerbau Putih.

"Ah, kalau menempuh perjalanan dengan naik kereta tentu kita tak usah berjalan kaki, "kata Bloon.

"Setuju !" teriak kakek Lo Kun, "kita sewa saja kereta itu.

Atau kita beli !"

Saat itu keretapun sudah tiba. Kusirnya seorang lelaki setengah tua.

"Hai, minggir, jangan menghadang di tengah jalan !" teriak kusir kereta seraya lambatkan kudanya karena melihat tiga orang, menghadang di muka.

"Berhenti dulu, bung kusir," seru kakek Kerbau Putih. Kusir terpaksa hentikan kudanya.

Kakek Kerbau Putih menghampiri ke tempat kusir, katanya : "Hendak kemana kereta ini ?"

"Jangan banyak tanya, lekas pergi !" bentak kusir dengan bengis.

"Eh, jangan bengis-bengis begitu," kata kakek Ker bau Putih, "aku hendak memberi kabar baik kepadamu." kusir itu memandang lekat-lekat. Ia terkejut ketika melihat seorang manusia bungkuk yang mukanya berlumuran debu. "Hai, engkau manusia atau setan ?" seru kusir itu heran- heran kaget.

"Edan, masakan begini, bukan manusia ?" damprat kakek Kerbau Putih.

"Astaga . . ' kembali kusir menjerit kaget ketika melihat Blo'on dan kakek Lo Kun muncul. Malam hari di tengah pegunungan sepi, mendadak muncul tiga manusia yang aneh, membuat kusir itu terlongong longong . . .

"Itu juga manusia ?" tanya sesaat kemudian sambil menunjuk Bloon dan kakek Lo Kun.

Karena dirinya dianggap aneh, kakek Lo Kun marah :  "Kusir, jangan banyak mulut. Kalau engkau  berani mengatakan aku bukan manusia, nanti kurobek mulutmu !"

Mendengar mulutnya hendak dirobek, kusir itupun marah : "Hm, manusia pendek, apakah kalian hendak membegal ?"

"Tidak !" sahut kakek Kerbau Putih, "kami bertiga ini bukan bangsa penyamun tetapi orang baik-baik. Jangan salah faham."

"Lalu apa maksudmu menahan kereta ini?"

"Kami bertiga hendak mengadakan perjalanan jauh menuju ke kotaraja. Aku senang melihat kereta dan kuda yang tegar ini maka kami akan membeli keretamu ini. Tetapi ingat,  jangan pasang harga tinggi, percuma saja, karena aku tak punya banyak uang ..."

"Tidak, aku tak mau menjual kereta ini !" teriak kusir.

"Hm, kusir, engkau minta berapa ? Jangan takut tentu akan kubayar !" seru kakek Lo Kun.

"Tidak!" kusir itu menjerit, 'tidak kujual !" "Kalau tidak boleh dibeli, kami hendak menyewa saja. Berapa engkau minta untuk pergi ke kotaraja '. tanya kakek Kerbau Putih.

"Ya, bilang saja, tentu kubayar. Tetapi engkau harus menjalankan dengan baik, jangan main kebut. Kalau engkau menyenangkan hatiku, nanti kuberi ekstra lagi," kata kakek Lo Kun.

"Ya, benar, kalau engkau menjalankan dengan baik, nanti pulang dari kotaraja kami tetap menyewa keretamu lagi," kakek Kerbau Putih menambahi kata-kata.

"Dan kalau engkau dapat membawa kami ke tempat-tempat yang indah pemandangannya, eh . . juga rumah makan yang jual arak wangi dan makanan lezat, engkau akan menerima hadiah lagi," seru Lo Kun.

Selama mendengar ocehan kedua kakek itu. kusir hanya melongo saja. Sesaat kemudian baru ia menyadari kalau sedang berhadapan dengan dua orang kakek limbung. Tiba- tiba ia mendapat akal.

"Ya, baiklah," katanya, "tatapi aku harus mengantarkan penumpangku dulu. Kalian tunggu disini, setelah aku kembali baru nanti kita rundingkan sewanya lagi."

"O, siapakah penumpangmu ?" tanya kakek Kerbau Putih. "Seorang gadis ..."

"Seorang gadis ?" cepat kakek Lo Kun menanggapi, "siapa namanya ?"

"Gila, mengapa tanyakan nama orang ? Kakek pendek, engkau harus tahu aturan. Jangan sembarangan menanyakan nama seorang gadis. Dia bisa marah !"

"Kemana tujuannya ?" tanya kakek Kerbau Putih. Kusir itu gelengkan kepala : "Aku sendiri juga tak diberi tahu, pokoknya hanya disuruh jalan. Kalau nanti tiba ditempatnya, nona itu tentu akan memheritahu sendiri."

"Aneh . . aneh . . " kata kakek Lo Kun dan Kerbau Putih serenpak.

"Sudahlah, hayominggir, aku hendak melanjutkan perjalanan' seru kusir.

"Tunggu sebentar lagi," cegah kakek Kerbau Putih, "kereta ini dari mana ?"

"Sudahlah, jangan banyak bicara . . " baru kusir berkata begitu, tiba-tiba pintu kereta terbuka dan sebuah wajah dari seorang gadis yang cantik melongok keluar berseru : "Hai, mengapa kereta berhenti begini lama ? Apa ada yang rusak '

Mendengar suara seorang gadis yang merdu,

"Hai, apakah engkau bukan. . bukan Sun Li hea, puteri Sun tihu yang dinikahkan dengan aku dahulu ?" teriak kakek Lo Kun.

Gadis cantik itu memandang Lo Kun, terkesiap lalu merogoh baju dan lemparkan sekeping uang perak : "Pengemis jembel. ambillah uang itu dan lekas pergi, jangan mengganggu kereta ini "

Lo Kun terbelalak. Memandang kepingan perak lalu memandang si jelita : "Apa katamu? . . . Engkau anggap aku ini pengemis jembel?"

"Lekas enyah !" teriak nona cantik itu. Tiba-Tiba kakek Kerbau Putihpun datang. Kakek Lo Kun segera berkata : "Kerbau tua, coba lihatlah nona itu. Apakah bukan puteri Sun tihu dulu" Kakek Kerbau Putih maju kemuka pintu kereta, memandang dengan penuh perhatian kepada sinona lalu memekik : "Astaga ! Engkau benar setan pendek. Dia memang puteri tihu kekasihku dulu" Kakek Kerbau Putih terus berlutut di depan pintu kereta : "Oh, kekasihku yang kucintai mati- matian. Apakah dikau lupa kepadaku ?"

Nona itu tercengang. Sesaat kemudian merah lah selebar wajahnya : "Pengemis bungkuk, jangan kurang ajar. Kalau mau minta uang, nih, ambillah" ia lemparkan sekeping uang perak kehadapan kakek Kerbau Putih.

"Engkau lupa kepadaku, manis ? Aduh, masakan sampai hati engkau menghina kekasihmu sebagai seorang pengemis

..."

Merah padam wajah nona cantik itu karena dianggap kekasihnya si kakek bungkuk. Tetapi belum sempat ia bertindak, tiba-tiba kakek Lo Kunpun berlutut di sisi kakek Kerbau Putih.

"Oh, Sun Li-hoa isteriku yang kucintai setengah mati," Lo Kun merintih-rintih, "walaupun pada hari pernikahan engkau melarikan diri, tetapi aku tak marah, sayang ! Aku tetap mencintai engkau ..."

Serasa dada gadis cantik itu mau meledak. Sama sekali ia belum pernah kenal dengan kedua kakek bungkuk dan pendek itu. Mengapa tahu-tahu mereka muncul dan yang satu bilang kekasihnya, yang satu mengaku isteri kepadanya.

Serentak nona cantik itu membuka pintu kereta dan turun. Serangkum hawa wangi berhamburan dari pakaian si jelita. Sanggulnya berhias serangkai bunga melati. Ditingkah sinar rembulan, tampaklah kecantikannya yang gilang - gemilang.

"O, kekasihku, betapa rindu aku mengenangkan engkau . .  " kakek Kerbau Putih serentak berseru seraya merentang kedua tangan seperti hendak menyambut. "Duhai, isteriku, akhirnya kita bersatu lagi. Memang kalau jodoh, masakan mau lari kemana ..." seru kakek Lo Kun dengan songsongkau kedua tangannya ke muka.

"Tutup mulutmu!" bentak gadis itu dengan ma rah.

"Ya, ya, kekasihku. Aku akan menutup mulut. Apapun perintahmu, tentu kulakukan," seru kakek Kerbau Putih.

Kakek Lo Kun tak mau kalah, serunya : "Oh, isteriku. jangankan hanya mulut, mata dan telingapun akan kututup kalau engkau yang suruh"

Gadis itu tiba-tiba mendapat pikiran. Mengapa ia harus melayani dua kakek limbung ? Lebih baik ia menggunakan akal untuk menghindari mereka

"Hayo, kalian tutup mata dan mulut!" serunya

Kedua kakek limbung serentak melakukan apa yang diperintah si jelita.

Setelah melihat kedua kakek itu menutup mata. si jelita terus maju menghampiri lalu mengangkat tangan hendak memukul.

"Tunggu dulu " tiba-tiba Blo'on mencegah seraya menghampiri.

Nona itu terkesiap melihat perwujutan Blo'on Seorang pemuda, kepalanya gundul tetapi pada ke dua sisi kepalanya tumbuh rambut lebat dan diikatnya macam kuncir. Dan yang lebih mengejutkan, pemuda itu juga dengan kedua kakek, muka nya bercontrengan debu kotor. "Mengapa engkau hendak memukul kedua kakek itu ?" sebelum si jelita membuka mulut, Blo'on sudah mendahului bertanya.

"Dia kakek kurang ajar, berani mengaku-aku diriku ini kekasihnya dan isterinya.”

"Engkau benar kekasihnya atau bukan “ Blo’on menunjuk kakek Kerbau Putih.

"Cis, siapa sudi menjadi kekasih seorang kakek bungkuk semacam itu !"

"Lho, jangan menghina!" bantah Blo'on, "sebelum bungkuk, dia dulu putera seorang tikoan, seorang pemuda yang bagus. Engkau tentu tergila-gila melihatnya ..."

"Bangsat, jangan banyak mulut !" bentak jelita itu.

"Lalu engkau benar isteri kakek itu atau bukan ?" Blo'on menuding kakek Lo Kun.

"Cis, isterinya ? Menjadi budakku pun dia tak terpakai, masakan menjadi suamiku !"

"Hus, jangan kemayu ! Jelek-Jelek begitu, dia dahulu berpangkat jenderal pasukan pengawal istana raja !"

"Jenderal pengawal istana ? Hi, hi, hi . .” sebenarnya jelita itu marah, demi mendengar ocehan Blo’on, hatinya seperti digelitik sehingga ia tertawa jengkel.

"Budak hina, tutup mulutmu" bentak Blo'on

Jelita itu serentak hentikan tertawa. Dia benar-benar terkejut karena pemuda itu berani memakinya begitu. Belum pernah selama ini, ada lelaki yang berani memakinya. Setiap pemuda yang melihatnya pasti akan berlutut dan merintih- rintih mengemis cinta. Jelita itu memandang Blo'on sejenak

"Hai, bung, engkau benar seorang jantan " seru si jelita, "Memang," kata Blo'on, "siapa bilang aku ini betina !" "Engkau berani memaki aku, ya ?"

"Mengapa tidak berani ?" jawab Blo'on. "Apa engkau tidak melihat aku ini cantik?" "Ya, memang ayu."

"Lalu ?" tanya si jelita.

"Lalu bagaimana ?" tanya Blo'on.

"Apa engkau tak ingin merebut hatiku ?" tanya jelita itu pula,

"Perlu apa? Aku kan sudah punya hati sendiri”.

Jelita itu terbeliak, ujarnya : "Maksudku, apakah engkau tak ingin mendapat cintaku ?”

"Tidak."

"Mengapa ?" si jelita mengerut alis.

"Memberatkan beban saja. Gadis cantik seperti engkau ini tentu minta pupur yang mahal, gincu, pakaian dan perhiasan yang mahal-mahal. Bukan kah lebih bebas kalau aku seorang diri saja ?"

"Aneh," gumam jelita itu, "padahal setiap pemuda yang berjumpa dengan aku pasti berlutut dibawah kakiku dan merengek-rengek supaya aku mau menerima cintanya."

"Itu pemuda tolol ! Perlu apa harus merengek-rengek kepada anak perempuan ? Coba kalau tidak ada lelaki, masakan engkau tak kelabakan?" Gadis itu merah mukanya.

"Jangan menghina kaum wanita !" bentak jelita itu "tuh lihatlah kaummu sendiri. Walaupun sudah kakek-kakek tua dan jelek, tetapi kalau melihat nona cantik lantas menjadi seperti orang gila !"

"O, kedua kakek itu ?" tanya Blo'on, "memang keduanya kakek gila !" Lo Kun deliki mata, kakek Kerbau Putih pun memberingas.

"Hai, Blo'on, jangan memaki sesukamu sendiri," kata Lo Kun, "aku tidak gila wanita. Tetapi nona itu memang Sun Li- hoa yang dikawinkan dengan aku dulu !"

"Bloon, aku juga tidak gila ! Kalau nona ini bukan Sun Li- hoa kekasihku yang dulu, masakan aku sudi berlutut dihadapannya ?" teriak kakek Kerbau Putih pula.

"Tetapi Sun Li hoa kan masih didalam guha dijaga Somali ?" teriak Blo on.

"O. benar," teriak kakek Lo Kun, "kalau begitu Somali tentu ikut serta ..." ia terus bangun dan loncat masuk kedalam kereta.

"Ini dia Somali . . " sesaat kemudian tiba-tiba sesosok tubuh seorang lelaki dilempar keluar oleh kakek Lo Kun. Dan kakek itupun terus loncat ke luar menyusul.

Bluk . . . seorang pemuda cakap terbanting di tanah.

Sejenak meringis, pemuda itupun terus bangun.

Gerak gerik kakek Lo Kun itu memang dilakukan cepat sekali dan tak terduga-duga sehingga si jelita tak keburu mencegah, Alangkah kejut nya ketika pemuda dalam kereta itu dilempar ke luar oleh kakek pendek. "Kakek bangsat ..." jelita itu marah sekali terus hendak naik ke dalam kereta tetapi saat itu kakek Lo Kunpun sudah loncat turun.

Si jelita tetap menyerang kakek Lo Kun  untuk melampiaskan kemarahannya.

Duk, plak . . sebuah pukulan tendangan jelita itu membuat kakek Lo Kun jungkir balik.

Ternyata Lo Kun memang tak mau menghindar maupun menangkis. Terhadap nona cantik yang dikiranya Sun Li-hoa puteri tihu Hong yang hu, ia memang mandah diapakan saja.

"Bangsat Lo Kun, mengapa engkau berani mengganggu kekasihku ?' tiba-tiba saja kakek Kerbau Putih menghampiri. Bukan untuk menolong tetapi malah ikut menyepak kakek Lo Kun.

Plak . . .

"Aduh, kurang ajar, mengapa engkau ikut menyepak aku ?' teriak Lo Kun lalu loncat bangun dan balas memukul kakek Kerbau Putih. Demikian kedua kakek linglung itu berkelahi sendiri.

Si jelita segera alihkan perhatian kepada pemuda cakap. Dipandangnya pemuda itu lekat-lekat sampai beberapa jenak. Setelah itu dengan suara lembah lembut dan merdu ia berkata: "Koko, apakah engkau menderita luka ?"

Si jelita menghampiri lalu mengusap-usap pipi pemuda bagus itu dengan mesra. Entah bagaimana setelah dilempar oleh kakek Lo Kun keluar kereta. bermula pemuda itu loncat bangun dan mem beringas seperti orang yang tersadar dari kelimbungan. Tetapi begitu beradu pandang dengan mata si jelita, semangatnya hilang dan kesadaran pikirannyapun lenyap lagi.

"Ah, tak apa-apa, manis ..." katanya sambil memeluk jelita itu, "siapakah kakek pendek yang melempar aku tadi ?"

"O, dia orang gila, koko," kata si jelita dengan penuh rayu, "mari silahkan naik ke dalam kereta lagi ..."

Dengan saling berpelukan mesra, si jelita dan pemuda bagus itu terus menghampiri pintu kereta. Pada saat keduanya hendak naik, tiba-tiba kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih berteriak : "Hai, Somali. jangan gila-gilaan membawa Sun li- hoa pergi , . . "

Berhamburan kedua kakek linglung itu menyerbu hendak menarik pemuda cakap, Tetapi secepat itu, si jelita sudah menyambutnya dengan dua buah tendangan yang menyebabkan Lo Kun dan kakek Kerbau Putih terlempar jatuh

. . ,

"Budak hina, jangan menganiaya kawanku!" tiba-tiba Blo'on maju mencekal lengan si jelita.

"Uh, jangan pegang aku, bangsat !" teriak si jelita seraya meronta. Tetapi alangkah kejutnya ketika ia rasakan tangan Blo’on itu seperti jepifan besi kokohnya. Diam-diam ia kerahkan tenaga-dalam untuk meronta tetapi aneh, mengapa tak juga dapat terlepas. Geram, marah dan kesakitan membuat wajah si jelita mengerut sengit.

"Hai, anak Blo'on, jangan kurang ajar kepada isteriku," serentak memekiklah kakek Lo Kun mendamprat Bloon.

"Ya. lepaskan cekalanmu itu," teriak kakek Kerbau Putih pula. "Tetapi kalau kulepas, dia tentu akan memukul engkau berdua." sahut Blo'on.

"Biar !" seru kakek Lo Kun. "dipukul isteri cantik, jauh lebih nyaman daripada dipijati."

"Ya, biar dia memukul aku tetapi itu urusan kami berdua. Engkau orang luar tak boleh campur tangan !" kakek Kerbau Putih tak kalah suara

Blo'on terpaksa lepaskan cekalannya.

"Ai, isteriku sayang, apakah engkau kesakitan ?" seru kakek Lo Kun.

Merahlah muka gadis cantik itu dipanggil isteri oleh seorang kakek pendek. Baru ia hendak mendamprat, tiba-tiba kakek berambut putih atau kakek Kerbau Putih sudah berseru : "Li- hoa. apakah engkau lupa kepadaku. Akulah kekasihmu dahulu, pemuda cakap putera tikoan itu. Bukankah kita pernah merangkai janji sehidup-semati dibawah sinar bulan purnama? O aku masih ingat sumpah mu kala itu bahwa tiada kekuasaan manusia di dunia yang dapat memisahkan kita. Sckalipuu sudah mati, kita tetap akan bersama-sama di akhirat."

Mimpipun tidak jelita itu bahwa hari itu ia bakal berjumpa dengan dua orang kakek gila basa. Yang satu mengakunya sebagai isteri yang satu sebagai kekasih. Kedua kakek itu jelas orang gila, pikirnya. Kalau ia melayani berarti hanya membuang waktu sia-sia saja.

"Hai. kalian berdua." serunya setelah memperoleh akal. "siapakah yang sebenarnya berhak mengaku aku sebagai isteri dan kekasih itu ?"

"Aku " teriak kakek Lo Kun serentak.

"Sudah tentu aku, Bi-nio," seru kakek Kerbau Putih. "Hm baik," kata si jelita, "sekarang begini saja. Aku hanya seorang, sudah tentu tak bisa menjadi isterimu dan sekaligus menjadi kekasihmu" kata gadis itu seraya menunjuk pada kakek Lo Kun lalu beralih menunjuk kakek Kerbau Putih, "aku akan menentukan begini. Siapa yang lebih sakti ilmu kepandaiannya, dialah yang berhak mengambil diriku "

'O" seru kakek Lo Kun, "maksudmu suruh aku berkelahi dengan si Kerbau Putih ini ?"

"Ya"

"O." seru kakek Kerbau Putih pula, "apakah tidak ada lain jalan lagi kecuali berkelahi ?"

"Tidak," sahut si jelita, "seorang cantik harus mendapat jodoh sebrang ksatrya yang sakti. Kalau kalian tak mau. tak usah kalian mengharap diriku lagi."

Habis berkata jelita itu teras berputar tubuh melangkah ke arah kereta.

"Tunggu." teriak kakek Lo Kun "Ya. aku akan menuruti permintaanmu. Lihat saja bagaimana aku nanti mengalahkan si Kerbau Putih dengan mudah."

Kemudian kakek Lo Kun menantang kakek Kerbau Putih : "Hayo. kerbau tua. kitu berkelahi. Siapa yang menang boleh mendapatkan jelita itu."

Kakek Kerbau Putih tak menyahut melainkan malah berteriak : "Hai, Bi-nio. hendak kemana engkau ? Bukankah engkau suruh kami berkelahi ? Mengapa engkau hendak pergi?”

Memang saat itu si jelita sudah naik ke dalam kereta Dari lubang pintu, ia melongok keluar dan berseru : "Akan kutunggu di lembah sana .Siapa yang datang lebih dulu, dialah yang menang."

Si jelita terus perintahkan kusir untuk menjalankan kereta lagi. Ketika melirik dari pintu, didapatinya kakek Lo Kun memang sudah berkelahi dengari kakek Kerbau Putih.

"Hm, kedua kakek gila itu tentu akan berkelainan mati matian sehingga kehabisan tenaga," diam-diam ia tersenyum.

Saat itu Blo'on masih tegak terlongong-longong. Ia tak tahu bagaimana harus bertindak. Kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih sudah berhantam, saling pukul memukul, tendang menendang.

Kedua kakek itu sudah bertahun-tahun melakukan pertempuran adu kesaktian. Tetapi selama ini tentu tanpa kesudahan. Tak ada yang menang dan kalah. Maka kalau mereka saat itu disuruh berkelahi, berarti suatu latihan saja.

Beberapa saat kemudian Blo'on berteriak : "Hai. kamu kedua kakek, kapankah kamu akan selesai berkelahi ?"

"Sudah tentu sampai ada yang rubuh," sahut kakek Lo Kun. '"Berapa lama ?" tanya Blo'on.

"Tidak terbatas." sahut kakek Lo Kun pula, "entah sampai pagi, entah sampai besok malam, dua hari lagi. tiga empat sampai lima hari "

"Celaka !" Blo'on memekik seraya banting-banting kaki ke tanah.

"Mengapa ?" kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih melongo.

"Kalian goblok !" damprat Blo'on. 'Goblok bagaimana?" kata kakek Lo Kun dengan masih tetap bergelut dengan kakek Kerbau Putih Sambil menuding kakek Lo Kun dan Kerbau Putih, Blo'on menjerit : "Kalian disuruh berkelahi tetapi gadis itu enak-enak naik kereta bersama Somali. Bukankah kalian seperti ditipu mentah- mentah ?"

"Hai . . . hai . . !" kakek Lo Kun dan Kerbau Putih serentak loncat mundur beberapa langkah. Yang satu ke utara, yang satu ke selatan.

"Apa katamu ?" teriak Lo Kun seraya menghampir ke tempat Blo'on.

"Dengarkan," teriak Blo'on dengan keras "engkau disuruh berkelahi dengan kakek Kerbau Putih tetapi Somali diajak in- de-hoy dengan gadis itu !"

"In-de hoy ? Apa itu ?" tanya Lo Kun.

"Kata orang sekarang, in-de-hoy itu artinya berpacaran," kata Blo on.

"O, macam-macam saja," kakek Lo Kun menggerutu, "Dulu jaman aku masih muda, tidak pernah ada kata-kata semacam itu".

"Engkau benar, Blo'on!" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru, "ya, kupikir-pikir aku dan setan pendek itu memang goblok. Kita disuruh berkelahi tetapi Somali diajak naik kereta. Hayo, kita kejar “

Demikian kedua kakek itu segera lari menge jar kereta yang saat itu sudah tak kelihatan lagi. Blo'on terpaksa mengikuti. Anjing kuning, burung rajawali dan monyet hitarnpun segera mengikuti. Mereka menyusur jalan yang membentang lurus kearah lereng gunung. Kemudian menurun kebawah. Saat itu haripun sudah mulai terang tanah Namun belum juga dapat menyusul kereta itu.

"Aneh. kemanukah gerangan kereta itu ?" akhirnya Blo'on tak dapat menahan kesabarannya. Ia hentikan larinya, "kalau terus menerus lari begini, kakiku bisa lemas."

Kedua kakekpun ikut berhenti. Mereka berada di tepi sebuah hutan yang sunyi.

"Hm. bangsat Somali," kakek Lo Kun menggeram, "kalau ketemu tentu akan kurobek-robek badannya. Disuruh tunggu di dalam guha masakan malah mengajak Sun Li-hoa pesiar kemana-mana"

“Ho. itu masih ringan," kata kakek Kerbau Putih, "kalau ketemu aku tentu akan kukorek hatinya dan kubakar. Orang yang tak punya hati tentu tak dapat main cinta lagi."

Mendengar ocehan kedua kakek itu, rupanya Blo'on muak. serunya : "Sudahlah, jangan banyak bicara. Yang penting kita berusaha mencari kereta itu."

"Ya. benar," seru kakek Lo Kun lalu ayunkan langkah, "hayo kita turun ke bawah sana."

Di sebelah bawah hutan itu terbentang sebuah lembah. Ketika ketiga orang dan tiga ekor binatang tiba di mulut lembah, keadaan sekeliling tempat itu sunyi senyap.

Lembah penuh ditumbuhi pohon melati. Dan pohon-pohon itu tengah rnerekahkan bunga. Sesaat angin berhembus maka berhamburan bau bunga melati yang harum memenuhi seluruh lembah.

"Harum sekali tempat ini !" teriak kakek Lo Kun. "Ha, kalau begitu kita tiba di lembah Melati Menurut cerita Bok kausu tadi, lembah ini menjadi tempat kediaman gerombolan Partai Melati." kata kakek Kerbau Putih.

"Ho, bagus, bagus !" teriak kakek Lo Kun.

Kakek Kerbau Putih terlongong, tegurnya : "Apa yang bagus?"

"Bukankah Bok kausu itu menceritakan kalau anakmurid Partai Melati itu terdiri dari gadis-gadis yang cantik ?"

"Setan pendek," damprat kakek Kerbau Putih '"ingat engkau sudah tua bangka, jangan gila-gilaan seperti anakmuda."

"Kerbau goblok," kakek Lo Kun balas mendamprat, "bukan salah seorang kakek tua seperti aku kalau bersantai dengan gadis-gadis cantik. Tetapi bukankah Bok kausu itu mengatakan bahwa anak buah Partai Melati memang mencari kaum lelaki untuk diajak bersenang-senang ? A-ha ..."

"Kakek edan " seru kakek Kerbau Putih, "memang benar begitu tetapi yang dicari oleh Anak buah Partai Melati itu adalah pemuda-pemuda cakap, bukan kakek pendek semacam engkau "

"Mati aku !" kakek Lo Kun mengeluh' "kalau begitu si Blo'on yang bakal mendapat rejeki besar !"

"Ha ?" Bloon melongo.

"Kalau engkau dikerumuni gadis cantik, jangan lupa. kasih aku seorang" pesan kakek Lo Kun.

"Mengapa mereka memilih aku ?"

'Gadis-gadis Partai Melati itu mencari pemuda-pemuda cakap. Bukankah engkau juga . . . ea." Lo Kun berpaling, “hai kakek Kerbau, apakah wajah seperti Blo-on ini akan diterima mereka ?"

"Tergantung dengan mereka, Kalau mereka menganggap Blo'on cakap, tentu akan diterima. Kalau tidak, tentu akan digebuk seperti anjing buduk."

"Wah, celaka," kata k kek Lo Kun. "kalau begitu Blo'on harus dihias dulu supaya cakap."

Kemudian kakek Lo Kun memandang Blo'on serunya: "Blo’on engkau harus memelihara rambut seperti aku. Mukamu harus dicuci yang bersih dan dibedaki . . ."

Selama kedua kakek itu bicara, Blo'on hanya mendengarkan saja. Ia menyeringai, menyengir dan mendelik ketika mendengar kata-kata kakek Lo Kui.

"Tidak sudi ! Aku anak lelaki, bukan banci Mengapa harus pakai pupur segala. Akupun tak mau memelihara rambut. Lebih enak gundul begini. Ho kakek Lo Kun. engkau memang gila perempuan. Tetapi kalau aku. huh, sekalipun gadis-gadis Partai Jelita itu cantik-cantik, aku juga tak mau !"

"Goblok" teriak Lo Kun, "mengapa anak lelaki takut pada gadis cantik? Itu banci namanya"

"Persetan dengan gadis cantik" teriak Blo'on.

"Sudahlah, jangan ribut-ribut," akhirnya kakek Kerbau Putih menyelutuk, "hayo kita menyelidiki lembah ini.

Mereka menjelajahi lembah itu. Tetapi tak menemukan suatu apa. Hanya ketika tiba di ujung lembah, mereka terkejut karena mendapatkan sekeping papan besi warna hitam menjulang tinggi. Bentuknya menyerupai sebuah pintu,

Dung. dung . . , kakek Lo Kun menghampiri dan mendebur pintu itu. Tetapi segera ia menarik pulang tangannya dan meringis kesakitan karena pintu itu terbuat dari baja yang keras dan tebal.

"Keparat," damprat kakek pendek itu. "terang didalam pintu ini tentu terdapat rumah manusia. Mungkin tentu markas dari partai Melati."

Dung, dung . . . kembali ia menghantam pintu baja itu, bahkan kali ini dengan menggunakan batu seraya berteriak- teriak: "Hayo, buka pintu !"

Tetapi tetap tiada penyahutan suatu apa. Kakek Kerbau Putihpun memeriksa. Pintu itu menjulang tinggi sampai tiga tombak. Di bagian atas diberi pagar besi runcing. Ia gelengkan kepala dan menghela napas.

Blo’on juga ikut memeriksa. Untuk suruh burung rajawali membawanya terbang keatas, tentulah burung itu tak kuat.

"Bagaimana nih?" tanyanya kepada kedua kakek yang terlongong-longong saling berpandangan.

Kakek Lo Kun mondar-mandir sambil meng gendong kedua tangannya. Kakek Kerbau Putih duduk pejamkan mata. Rupanya sedang memeras otak mencari daya.

Blo'onpun terpaksa diam saja.

Sesungguhnya sebelum Blo'on dan kedua kakek datang kesitu. Bok kausu, imam Soh Hun kausu dan pemuda cakap she Liok. sudah datang lebih dulu ke lembah itu.

Merekapun berhadapan dengan pintu baja warna hitam itu. Tetapi mereka tak cepat putus asa seperti kedua kakek dan Blo'on. Bok kausu segera mengeluarkan tali dan kait. Setelah mengikat kait dengan ujung tali lalu dilontarkan ke atas pagar besi. Kait itu tepat menyusup di antara celah besi. "Hayo, kita naik," kata Bok kausu seraya mendahului naik keatas pintu dengan menggunakan tali. Setelah tiba diatas, ia lemparkan tali tali kebawah lagi dan orangnyapun melayang turun ke dalam.

Yang kedua ialah si imam Soh Hun. Diapun mulai merayap keatas Setelah diatas, ia lemparkan tali kebawah lagi.

Lalu yang terakhir pemuda Liok. Dengan hati-hati pemuda cakap itu merayapi pintu baja. Setelah tiba diatas. dia tak melemparkan ujung tali keluar melainkan kebagian dalam pintu. Maksudnya apabila perlu, tali itu dapat digunakan untuk keluar dari pintu.

Disebelah dalam dari pintu itu merupakan sebuah halaman yang luas, Sekeliling halaman ber tumbuhan pohon-pohon melati yang lebat dan tinggi sehingga menyerupai sebuah hutan.

Ada suatu perasaan aneh menghinggap! pikiran pemuda Liok. Ialah kedua orang tadi. Bok kausu dan imam Soh Hun. Mengapa kedua orang itu tak tampak sama sekali ? Bukankah baru berselang beberapa kejab saja keduanya itu melayang turun ke dalam?

Pemuda itu memandang kemuka. Tampak pada ujung, halaman luas itu sebuah jalan yang berakhir pada bangunan gedung yang besar. Mungkinkah kedua orang itu sudah masuk ke dalam gedung itu ?

"Ah. tak mungkin." ia membantah dugaannya Sendiri, "pertama, tak mungkin dalam waktu secepat itu mereka sudah berada digedung yang jaraknya beratus-ratus langkah dari pintu. Dan kedua, mereka tentu akan menunggu kedatanganku dulu baru bersama-sama menuju ke gedung itu." Pemuda itu benar-benar heran. Namun karena ia sudah terlanjur berada dialas pintu, terpaksa ia harus  turun kebawah. Tetapi begitu tiba di tanah, iapun mengalami nasib serupa dengan kedua kawannya. Hilang lenyap.

Untung pemuda itu tak melemparkan ujung tali keluar pintu. Andaikata ia berbuat demikian, tali itu pasti terlihat oleh kedua kakek dan mereka tentu akan memanjat ke atas pintu dengan tali itu.

Demikian sampai lama sekali Bloon dan kedua kakek itu belum juga mendapat akal untuk memasuki pintu hitam itu.

Tiba-Tiba mata Blo'on tertumbuk pada gerak gerik anjing kuning yang tengah mencakar-cakarkan kakinya pada tanah.

"Ada akal !" serentak anak itu berteriak gembira "pokoknya, bereslah "

"Bagaimana ?' kakek Lo Kun dan Kerbau Putih serentak bertanya.

"Engkau kakek tua tetapi masih kalah dengan anjing saja " kata Bloon seraya menunjuk pada anjing kuning, "coba  lihatlah apa yang dilakukan si Kuning itu."

"Hai, benar !" teriak kakek Lo Kan.

"Ya, cara itu memang satu-satunya cara untuk masuk kedalam," seru kakek Kerbau Putih pula

"Nanti dulu," tiba-tiba Blo'on berkata, "tetapi dengan cara menggali lubang kedalam pintu itu apakah tidak makan waktu lama'1"

"Goblok!" seru kakek Lo Kun, "masakan menggali lubang beberapa depa saja, merasa susah. Sudah tentu kita tak perlu membuat lubang yang panjang. Cukup asal bisa masuk kedalam pintu." BIo'on terpaksa mengalah. Demikian mereka bertiga mulai bekerja untuk membuat lubang yang tembus ke dalam pintu. Walaupun lubang tidak panjang tetapi karena tanahnya batu padas, mereka harus peras keringat juga. Dan hampir tengah malam mereka baru berhasil menembus kedalam pintu

Untunglah lubang itu menembus pada gerumbul pohon melati. Begitu keluar dari lubang, merekapun berada dalam hutan melati. Beberapa belas langkah dari tempat mereka bersembunyi, terbentang.sebuah halaman luas.

"Rupanya tempat ini kosong," kata kakek Lo Kun seraya hendak merangkak keluar. Tetapi cepat kakinya ditarik kakek Kerbau Putih : "Jangan bergerak dulu. Kita tunggu sampai beberapa saat lagi."

Memang yang dikatakan kakek Kerbau Putih itu tepat, Beberapa jenak kemudian tiba-tiba terdengar suitan nyaring memecah kesunyian malam. Dan susul menyusul dari segenap penjuru terdengar suitan pula.

Seiring dengan kumandangnya suitan yang membelah angkasa malam, sesosok tubuh berpakaian putih muncul dan tegak berdiri di halaman. Kemudian berturut-turut pula dari segenap penjuru bermunculan tubuh-tubuh langsing dalam pakaian serba putih.

Saat itu bulan bersinar terang. Tubuh-Tubuh berpakaian putih itu makin jelas. Mereka adalah gadis-gadis cantik. Jumlahnya tujuhbelas orang. Yang enambelas segera berjajar- jajar merapat dalam formasi barisan. Sedang yang seorang, ialah yang muncul pertama kali tadi, tegak berdiri di hadapan barisan itu. Rupanya dia pemimpin barisan.

Ketujuh belas gadis berpakaian putih itu cantik sekali. Hampir sukar dibedakan satu dengan lain. Rambutnya menyanggul untaian bunga melati. Perbedaan yang dapat diketahui ialah gadis jelita yang menjadi pemimpin itu leher bajunya berlapis warna merah jambon. Sedang keenambelas barisan gadis-gadis cantik itu pada tepi leher bajunya berlapis warna kuning. Umur merekapun hampir merata, di sekitar 17 sampai-sampai 20 tahun.

Menyaksikan pemandangan itu, kakek Lo Kun gemetar, kakek Kerbau Putih terlongong dan Blo’on terbelalak.

"Bidadari ..." bisik kakek Lo Kun. Tetapi ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena mulutnya segera didekap oleh kakek Kerbau Putih: "Jangan bicara keras-keras !"

Terdengar si jelita pemimpin barisan berseru nyaring : "Murid-Murid Partai Melati, dengarkanlah !"

Terdengar sambutan mengiakan dari barisan gadis-gadis cantik itu.

"Pagi tadi suhu telah berangkat ke pulau Lam-hay untuk suatu urusan penting. Segala urusan markas, diserahkan kepadaku. Suhupun meninggalkan pesan, supaya selama beliau pergi kita tak diperbolehkan keluar ..."

"Dalam waktu akhir-akhir ini, suhu mendapat berita bahwa di dunia persilatan timbul kegemparan besar. Di daerah selatan dan di daerah utara telah muncul dua orang Kim Thian-cong. Padahal jelas Kim Thian-cong telah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu. Tetapi mayatnya telah hilang.!"

Suasana hening lelap. Rupanya barisan gadis-gadis anakmurid Partai Melati itu mencurahkan perhatian sepenuhnya. "Kim Thian-cong di daerah selatan hendak membentuk partai baru yang diberi nama Song-lian-kau atau Teratai Suci. Dia mengundang semua partai-partai persilatan dan tokoh- tokoh terkemuka, supaya datang ke gunung Hong-san. Partai- Partai persilatan diharuskan membubarkan diri dan menggabung pada partai Teratai Suci . . , "

Terdengar desah desuh pelahan dari mulut anakbuah Partai Melati,

"Dan Kim Thian-cong di utara itupun juga sama sepak terjangnya, Dia hendak membentuk partai Thian-tong-pay atau partai Nirwana, juga dia telah mengirim utusan untuk menyampaikan undangan kepada partai-partai dan tokoh- tokoh persilatan supaya menghadiri peresmian berdirinya partai baru itu ke gunung Thay-san. Semua partai harus menggabungkan diri !"

Terdengar pula desis memberisik dari barisan murid-murid Partai Melati.

"Oleh karena itu. suhu pesan agar kita semua mempertinggi kewaspadaan, menjaga markas dan menolak utusan-utusan itu baik dari Teratai Suci maupun dari Partai Nirwana !"

Terdengar suara kesediaan dari gadis-gadis cantik itu. "Sekarang kuberi kesempatan pada kalian untuk memberi

laporan  dan  mengajukan  pertanyaan,”  kata  jelita pemimpin

barisan pula.

"Toa-suci" tiba-tiba salah seorang gadis cantik berseru, "kemarin aku telah menawan seorang pemuda."

"Baik." sahut nona yang menjadi pemimpin barisan, Dengan disebut sebagai 'toa suci' atau ta-ci pertama, jelas nona itu adalah murid pertama dari Hu Yong sian-cu atau Dewi Melati pemimpin partai Melati. Oleh karena Dewi Melati pergi, maka urusan markas diserahkan kepada nona i-tu.

"Toa-suci" kata seorang gadis lain. 'bagaimana dengan tawanan-tawanan yang sudah berada dalam markas kita ?"

"Oleh karena suhu melarang kita keluar, maka tawanan yang sudah ada dalam markas, tetap berjalan sebagaimana peraturan yang telah diberikan suhu."

"Tetapi toa-suci." kata seotang nona pula, "oleh karena diadakan larangan keluar, bagaimana dengan kita yang tak mempunyai tawanan ?"

Terdengar suara berisik dari beberapa nona lain yang mendukung pernyataan nona itu.

Nona pemimpin barisan itu cepat menjawab "Oleh karena ada larangan itu maka lebih baik kita hentikan saja kesenangan-kesenangan itu. Tawanan-tawanan supaya ditempatkan di tempat yang aman dan kita harus setiap hari berlatih ilmu kepandaian, mengadakan ronda setiap malam. Tunggu setelah suhu pulang, baru nanti kulaporkan tentang hal itu lagi."

Terdengar beberapa keluhan tertahan dari rombongan anakmurid Partai Melati itu.

"Sumoay sekalian." kata pemimpin barisan itu pula, "kutahu bagaimana perasaan sumoay sekalian. Tetapi pertimbanganku untuk mengambil langkah begitu adalah : Kesatu, saat ini  suhu sedang tak ada di markas dan setiap saat kita akan menerima kunjungan utusan dari kedua Kim Thian-cong itu. Apabila kita tolak, utusan itu tentu marah. Dan kuyakin utusan itu tentu tokoh yang sakti. Kedua kalinya, kita harus memikirkan sumoay-sumoay yang kebetulan tak mempunyai tawanan. Padahal Suhu melarang kita untuk keluar. Agar jangan menimbulkan iri hati dan keluhan di antara sumoay- sumoay, maka lebih baik kita untuk sementara waktu ini meniadakan segala kesenangan."

"Setuju," seru seorang nona dari rombongan barisan. "Tetapi kapankah kiranya suhu akan pulung'' tiba-tiba

terdengar seorang nona bertanya.

"Ya, toa suci, apabila suhu sampai setengah tahun tak pulang, lalu bagaimana ?" seru pula seorang nona lain.

"Baik." kata gadis wakil ketua Partai Melati itu "suhu mengatakan bahwa paling lama dalam waktu sebulan tentu sudah pulang. Nah, apabila sebulan kemudian beliau tetap belum datang, kita nanti bicarakan lagi soal itu,"

Sekalian anak murid Partai Melati mengiakan. Walaupun ada beberapa yang dalam hati mengeluh tak puas tetapi mereka tak berani menyatakan.

"Akhirnya, dengarkanlah murid-murid Hu-yong-pang." berseru pula gadis pemimpin barisan, "mulai malam ini kita mengadakan ronda. Dari jam delapan sampai jam satu. Lalu diganti orangnya, dari jam satu sampai jam enam pagi, Tiap peronda terdiri dari dua orang. Nah sekarang dimulai empat orang. Yang dua orang melakukan ronda pertama. Nanti jam satu diganti dengan dua orang yang melakukan ronda kedua. Karena kalian berjumlah enambelas orang, tiap orang akan mendapat gilir ronda pada tiap lima hari. Dan apabila hari ini mendapat gilir ronda pertama, besok lima hari kemudian gilir ronda kedua."

Sekalian gadis-gadis itu mengiakan.

"Sekarang kutunjuk saja." kata gadis pemimpin barisan, "malam ini Swat-hong dan Lian-hoa berdua sumoay yang meronda pertama. Nanti ronda kedua Giok-yan dan Lin-lin sumoay."

Empat orang nona berseru mengiakan "Siapa yang akan ronda besok malam, besok sore akan kuberitahu." kata gadis pemimpin itu, "Sebelum pertemuan ini kububarkan, lebih dulu aku ingin mengetahui sampai dimana latihan yang kalian lakukan untuk pelajaran terakhir dari suhu ialah barisan "Melati menolak kumbang" itu. "Hayo, lekaslah kalian membentuk diri dalam barisan itu dan akulah yang akan menyerang sebagai kumbangnya."

Keenam belas gadis jelita itu segera berpencaran dan dalam sekejab saja mereka sudah berjajar-jajar dalam beberapa lapis lingkaran. Sepintas pandang barisan itu menyerupai bentuk sekuntum bunga melati yang terdiri dari empat lingkaran setiap lingkaran empat orang. Lingkaran tuu dimaksud sebagai kelopak bunga.

"Awas. aku mulai menyerang." seru gadis pemimpin itu terus bergerak menyerang.

Gerakan gadis itu ternyata gesit sekali. Gerakannya mirip dengan seekor kumbang yang berlincahan hendak menyusup kedalam kelopak bunga.

Tetapi barisan Melati itu ternyata memiliki gerakan yang aneh tetapi rapi. Setiap diserang, mereka menyurut mundur merapat seraya serempak menghantam. Apabila penyerangnya mundur, merekapun berkembang menduduki tempatnya semula lagi. Sudah tentu tenaga seorang penyerang betapapun saktinya, tentu tak kuat melambang gelombangan pukulan dari enambelas orang. Apalagi keenambelas murid-murid Partai Melati itu memiliki tenaga dalam yang hebat, Terpaksa gadis pemimpin itu loncat melambung keudara dan melayang turun beberapa langkah dari barisan. Secepat kaki menginjak bumi, iapun terus mencabut pedang lalu loncat menerjang lagi.

Tetapi tiba-tiba keenambelas gadis cantik itu serempak menaburkan tangannya. Beratus-ratus benda kecil warna hitam segera mencurah ke tubuh gadis penyerang itu,

Tring. tring. tring, gadis itu memutar pedang untuk menghalau taburan benda kecil itu.

"Aduh ..." tiba-tiba Blo'on mengaduh. "Mati aku ..." kakek Lo Kunpun merintih "Haup ..." kakek Kerbau Putih menguak

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Pahlawan Gurun (Han Hay Hiong Hong)] akan diupload pada jam 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 10 Teratai - Melati"

Post a Comment

close