Pendekar Bloon Jilid 04 Aneh bin ajaib

Mode Malam
Jilid 4 Aneh bin ajaib.

Walaupun menderita penyakit aneh sehingga pikirannya terasa hampa namun Blo'on mengerti apa yang dihadapinya saat itu. Ia hanya tak dapat mengingat apa yang telah terjadi pada masa yang lampau, bahkan apa yang terjadi pada hari kemarin. Oleh karena itu ia tak mengenali dirinya sendiri, tak tahu siapa namanya.

Tetapi apa yang dialami saat itu, yang dilihat dan dirasakan saat itu, ia tahu dan mengerti. Demikianpun ketika keempat kakek Hoa-san-pay dan berpuluh-puluh murid Hoa-san-pay menghampiri ketempat ia berdiri dengan wajah bengis dan mata berapi-api. Blo'onpun tahu bahwa ia hendak dibunuh.

Namun apa guna ia tahu? Karena sekalipun tahu ia juga tak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa tak mengerti ilmusilat. Bagaimana mungkin ia dapat menghadapi serbuan mereka

Sekalipun daya ingatannya hilang, namun nalurinya sebagai seorang manusia yang sayang akan jiwanya tetap masih dimiliki Blo'on. Tak dapat melawanpun harus mencari daya upaya. Dan satu-sa-tunya dava hanialah melarikan diri. Ya, lari paling selamat.

Tepat pada saat ia mempunyai keputusan begitu, tiba-tiba dua orang murid Hoa-san-pay yang menjaga pintu markas berlari-lari dan menjerit-jerit :

"Haya, anjing gila . . . monyet gila . . . burung gila..”

Baik keempat Tiang-lo maupun murid-murid Hoa-san-pay yang hendak menyerbu Blo'on, terpaksa harus berhenti dan memandang kepada kedua orang yang berlari-lari mendatangi itu. Mereka heran mendengar teriakan kedua anak murid itu. Kalau anjing gila, itu masih dapat diterima. Tetapi monyetpun gila, burung juga gila, ah, benar-benar mengherankan sekali !

Cepat sekali kedua murid Hoa-san-pay itu tiba di hadapan keempat Tiang-lo dengan napas terengah-engah mereka berkata :  "Tianglo . . kami diamuk . . . diamuk anjing,  monyet dan burung rajawali ..."

Naga-besi Pui Kian suruh kedua orang itu tenangkan diri dulu. Setelah itu baru bicara.

Beberapa saat kemudian barulah kedua murid Hoa-san-pay itu dapat memberi laporan yang jelas "Ketika tecu (murid) sedang berjaga di pintu, tiba-tiba muncullah tiga ekor binatang, seekor anjing bulu kuning yang besar dan galak, seekor monyet yang kutang ajar dan seekor burung rajawali yang ganas. Ketiga binatang itu menyerang tecu berdua se hingga tecu kalang kabut dan terpaksa melarikan diri masuk kemari ..."

"Hm, tak malu engkau melapor !” dengus Naga-besi Pui Kian, "masakan manusia kalah dengan binatang begitu saja !"

"Harap lo-cianpwe sudi memberi ampun. Tecu berdua sudah melawan sekuat tenaga, tetapi ketiga binatang itu hebat sekali. Mereka dapat bersatu dan bekerja-sama dengan bagus. Kalau yang satu diserang, yang dua tentu akan menyerbu."

Naga-besi Pui Kian memberi perintah kepada dua orang murid Hoa-san-pay tingkat dua untuk memperkuat penjagaan pintu markas. Belum ke empat murid Hoa-san-pay itu melangkah, sekonyong lonyong dari arah pintu markas, tampak Gui Tik dan Li Cong-bun berlari-larian kencang seperti orang dikejar setan. Mereka cepat menghampiri ke hadapan keempat Tiang-lo.  "Tianglo . . tianglo . . ce . . cela . celaka.." Keempat Tiang-lo itu terkejut.

"Mengapa ?" tegur Naga-besi Pui Kian.

"Suhu . . suhu . . "

"Jangan bicara dulu sebelum engkau tenang," lentak Naga- besi kepada kedua murid itu.

Gui Tik dan Li Cong-bun berusaha untuk menenangkan diri tetapi sampai sekian saat belum juga berhasil. Dada mereka masih tampak bergelombang naik turun, wajah pucat lesi.

"Mengapa engkau ?" tegur Naga-besi pula. "Ketika tecu masuk kedalam guha, ternyata . . . jenazah suhu . . hilang . . "

"Hai . . !" keempat Tiang-lo serempak berteriak dan melonjak kaget seperti mendengar halilintar berbunyi disiang hari.

"Apa katamu ?" teriak Naga-besi.

"Jenazah suhu . . lenyap . . " Gemparlah sekalian murid Hoa-san-pay demi mendengar berita itu.

Sesaat kemudian Naga-besi Pui Kian memanggil si Walet- kuning Hong-ing : "Hong-ing, apakah engkau tahu jelas bahwa suhumu telah binasa didalam guha itu ?"

"Benar, sucou," sahut Hong-ing. Ia berbahasa sucou atau kakek guru kepada keempat tianglo.

"Mengapa Gui Tik dan Li Cong-bun mengatakan jenazah suhumu hilang ?"

"Benar, Hong-ing su-ci. Kami berdua tak melihat suatu apa didalam guha itu," seru Gui Tik. "Hm, aneh," gumam sidara, "apakah engkau sudah menyelidiki keadaan guha itu ?"

"Sudah."

"Apa yang engkau ketemukan dan lihat ?"

"Darah merah yang sudah mengental dan bercampur dengan tanah. Hanya itu. Tetapi jenazah suhu tak ada ..."

"Aneh sekali !" lengking Hong-ing, "jelas jenazah suhu masih berbaring di tanah ..." cepat ia berpaling memandang “Blo'on, hai, Blo'on, bukankah mayat orangtua itu masih berada didalam Goha?”

"Ya, memang masih menggeletak di guha itu," sahut Blo'on, "kalau begitu, biarlah kuambilnya kemari ..."

Habis berkata ia terus hendak melangkah. "Hai, jangan gila- gilaan!" teriak murid-murid Hoa-san-pay seraya acungkan senjata memagari Blo'on.

"Heh, kurang ajar," teriak Blo'on, "aku hendak menolong mengambilkan jenazah suhumu, mengapa kalian malah hendak menusuk perutku”

"Jangan banyak mulut !" bentak Seng-tik. Tampak Naga- besi Pui Kian kerutkan jidat, merenung. Sesaat kemudian ia berpaling kearah su lenya : "Bok sute, mari ikut aku meninjau ke guha. lan sute dan Lim sute harap menjaga disini jangan sampai budak gila itu lolos !"

Demikian Naga-besi Pui Kian dan Serigala-Kigi-perak Bok Jiang segera menuju ke guha. Gui k dan Cong-bunpun diajaknya.

Setelah kedua Tiang-lo itu pergi maka Beruang-sakti Han Tiong bertanya kepada Blo'on : Hai, anak Blo'on, kemana engkau bawa mayat Kam sutit itu ?" "Apa ? Aku membawa mayat orangtua itu ? Huh, jangan engkau menuduh semena-mena, kakek tua !" marahlah Blo'on karena disangka begitu,"tanyakan pada budak perempuan itu!"

"Kurang ajar, engkau berani menyebut aku budak perempuan !" teriak Walet-kuning Hong-ing, "awas kutampar mulutmu kalau berani menyebut sekali lagi !"

"Bilang, kemana engkau menyembunyikan mayat itu !" bentak Beruang-sakti Han Tiong yang sudah hilang sabar.

"Aku tidak mencuri mayat itu, mau apa ?" Blo'on juga marah dan bercekak pinggang.

"Bukan engkau, tetapi konco-koncomu !" "Konco ? Huh, apa itu konco ?"

"Setan, konco ialah kawan !"

"O, kalau bicara jangan gunakan bahasa daerah aku tak mengerti, eh . . kawan? Aku tak punya kawan. Kalau punya dia tentu akan datang ke mari menolong aku."

"Hm, kawanmu itu tentu bersembunyi. Walau dia mempunyai delapan tangan pun, tak nanti dia berani masuk ke dalam markas Hoa-san-pay !"

"Mengapa tak berani ? Bukankah aku juga berani ?" "Kawanmu  tentu  seorang  yang  berotak.  Beda  dengan

engkau yang tak punya otak sehingga tak tahu kalau Hoa-san-

pay itu sarang naga dan harimau yang tak boleh dibuat main- main."

"Itulah, mengapa aku datang kemari. Disini sarang naga dan aku butuh otak naga “ baru ia berkata begitu, tiba-tiba Beruang-sakti ayunkan tangan. “Uh . . .” Blo'on menjerit dan terjungkal kebelakang. tetapi secepat itu juga iapun sudah melonjak bangun.

"Kakek, mengapa engkau menampar aku ?" teriaknya. "Maka engkau harus jaga mulutmu jangan sembarangan

bicara kepadaku!" seru Naga-besi.

"Sekarang engkau harus menjawab pertanyaanku yang benar, jangan bicara yang tak keruan!" kata Naga-besi pula.

"Hm ..."

"Mengapa engkau membunuh Kam sutit ?" Naga-besi mulai mengajukan pertanyaan.

"Aku tidak membunuh. Aku bangun, tahu-tahu aku berada dalam guha itu dan kulihat sesosok mayat disitu."

"Bukankah engkau makan rumput Liong-si itu ?" "Tidak."

"Apakah rumput itu diambil kawanmu ?" "Aku tak punya kawan."

"Hm, cukup, engkau harus mati !" "Tidak mau !"

"Mau atau tidak mau, engkau harus mati. hanya sebelum mati, engkau kuberi kelonggaran untuk melawan, agar jangan mati sia-sia."

"Tidak cukup ! Aku minta kelonggaran lagi!" seru Blo'on. "Apa ?"

"Mengajukan pertanyaan."

"Hm, tanialah !" dengus Beruang-sakti. "Nanti dulu," kata Blo'on, "bagaimana kalau engkau tak mampu menjawab pertanyaanku ?”

Beruang-sakti kerutkan alis : "Maksudmu suruh aku bagaimana ?”

"Harus malu ! Seorang kakek yang. sudah begitu tua, tentu harus malu kalau tak dapat menjawab pertanyaanku."

"Hm, mulai mengoceh lagi, ya ?" dengus Beruang-sakti, "kalau malu lalu bagaimana ?"

Blo'on tertawa : "Ai, ai, engkau seorang kakek tua, mengapa suka marah ? Maksudku begini, kalau engkau dapat menjawab pertanyaanku itu, cukup sebuah pertanyaan saja, engkau boleh membunuh aku. Tetapi kalau tidak bisa, bagaimana ?"

Beruang-sakti anggap dirinya sudah tua, banyak pengalaman, luas pengetahuan. Dan anak yang berada dihadapannya itu seorang anak blo'on. Ah, masakan ia tak dapat menjawab pertanyaannya !

"Terserah, engkau menghendaki bagaimana?" katanya. "Baik," seru Blo'on, "aku tak menghendaki apa-apa

melainkan engkau harus suruh anak murid Hoa-san-pay mundur dan membebaskan aku."

"Jangan sucou!" tiba-tiba Ang Hin-liong berseru "dia hendak main gila mempermainkan kita. Ha-lap sucou jangan memberi hati."

"Ha, ha," Blo'on tertawa, "kalau memang tak berani, akupun tak memaksa. Karena orang Hoa-san-pay itu memang bodoh-bodoh, ha, ha !"

"Budak liar, sebutkanlah pertanyaanmu, lekas!" teriak Beruang-sakti Han Tiong. Walaupun sudah tua, tetapi mendengar ejekan si Blo'on, meluaplah kemarahannya. Andaikata yang mengejek itu lain orang, mungkin dia masih dapat menahan diri. Tetapi karena yang mengejek itu seorang anak blo'on, Tianglo nomor dua dari Hoa-san-pay itu-pun malu.

Tetapi Blo'on tak segera mengeluarkan pertanyaan, melainkan berseru kepada murid-murid Hoa-san-pay : "Hai, kamu murid-murid Hoa-san-pay, aku hendak bertaruh dengan tianglo perguruanmu. Kalau dia dapat menjawab pertanyaanku, aku boleh dibunuh. Tetapi kalau dia tak dapat menjawab, aku bebas. Bagaimana kalian setuju atau tidak ?"

Karena Beruang-sakti sudah menerima tandingan itu, murid-murid Hoa-san-paypun terpaksa mendukung. Mereka setuju karena percaya Tiang-lo itu tentu dapat menjawab pertanyaan si Blo'on.

"Baik," kata Blo'on, "sekarang aku hendak mulai bertanya.

Lo-cianpwe, siapakah diriku ini ?"

Seketika gemparlah murid-murid Hoa-san-pay mendengar pertanyaan yang diajukan si Blo'on. Sejak tadi hal itu sudah ditanyakan oleh Naga-besi tapi tiada seorang murid Hoa-san- pay yang tahu dan kenal si Blo'on.

Beruang-sakti Han Tiongpun berobah wajahnya. Sebagai tiang-lo, ia menempati kedudukan yang tinggi dalam perguruan Hoa-san-pay. Apabila tak dapat menjawab pertanyaan itu, bukankah ia akan kehilangan muka ? Namun untuk menjawab, pun benar-benar ia tak tahu. 

"Aku tahu!" tiba-tiba sidara Walet-kuningHong-ing melengking.

Blo'on berpaling kearah dara itu, serunya : "Yang harus menjawab ialah lo-cianpwe ini. Engkau tak berhak menjawab." "Kalau begitu, akupun tak berhak ikut bertanggung jawab membebaskan engkau. Kalau aku disuruh bertanggung jawab membebaskan engkau, aku harus boleh memberi jawaban."

"Ya, boleh dah," seru si Blo'on, "bukan hanya engkau tetapi semua murid-murid Hoa-san-paypun boleh ikut menjawab. Kalau ada seorang yang dapat menjawab tepat, bolehlah aku dibunuh !"

"Baik, akulah yang akan menjawab," kata Hong-ing, "engkau bertanya, siapa dirimu ?"

"Ya."

"Engkau seorang manusia, seorang anak laki-laki. Benar tidak ?" tanya Hong-ing.

"O, benar," jawab Blo'on, "tetapi siapa namaku?” "Namamu Blo'on, benar tidak ?"

“O, ya, ya, tidak benar "

Waktu mendengar Blo'on mengatakan 'ya’, si dara gembira. Tetapi alangkah kejutnya ketika pernyataan 'ya' itu ditutup dengan kata-kata 'tidak benar' la kecele.

"Mengapa tidak benar ?" ia menegas.

"Karena namaku tentu bukan Blo'on. Nama itu nama baru, engkau yang memberi. Tetapi masakan sebelumnya aku tak punya nama ?"

Hong-ing tak dapat membantah. Sekalian murid-murid Hoa- san-paypun terdiam.

"Bagaimana lo-cianpwe ? Bukankah aku boleh bebas sekarang ? Atau lo-cianpwe menyesal karena terlanjur menerima pertanyaanku itu ?" seru Blo'on kepada Beruang- sakti. "Ya, engkau menang dan pergilah !" seru Beruang-sakti. "Sucou !" teriak Ko Seng-tik.

"Mengapa ?" sahut Beruang-sakti, "apakah engkau menghendaki sucoumu ini dihina orang karena tak pegang janji ?"

"Bukan begitu, sucou," kata Seng-tik, "tetapi bukankah Pui sucou tadi sudah memesan supaya anak itu jangan sampai lolos ?"

"Benar".

"Lalu ?"

"Hm, aku yang bertanggung jawab ..."

Baru Beruang-sakti berkata begitu. Naga-besi Pui Kian, Serigala-gigi-perak Bok Jiang dan kedua murid tingkat dua Gui Tik dan Li Cong-bun bergegas masuk kedalam markas. Telinga Naga-besi yang tajam dapat menangkap pembicaraan yang berlangsung dengan Blo'on.

"Tak perlu sute bertanggung jawab !" teriak Naga-besi yang saat itu sudah tiba ditempat Beruang-sakti. Kemudian Tiang-lo pertama dari Hoa-san-pay itu berpaling memandang Blo'on. "Hai, jelas engkau yang mencuri mayat Kam sutit ! Hayo kembalikan !"

"Apa ? Aku mencuri mayat ? Buat apa ?"

"Tanya pada dirimu sendiri buat apa engka mencuri mayat itu."

Blo'on rentangkan kedua mata lebar-lebar: "Ketika aku menggendong murid Hoa-san-pay yang terluka, kutinggalkan guha itu bersama eh . . . siapa namanya tadi. Ya, bersama murid perempuan dari perguruan ini. Sampai kita datang kemari, aku tak pernah kembali ke guha itu."

"Jangan banyak mulut !" bentak Naga-besi Pui Kian, "pokoknya engkau harus pilih, kembalikan mayat itu atau kuhancurkan tubuhmu !"

"Nanti dulu, kakek," seru Blo'on, "tadi kakek yang berada disini, telah kalah janji dengan aku. Kalau dapat menjawab pertanyaanku, aku boleh dibunuh. Kalau tak dapat, aku dibebaskan. Dan ternyata dia tak mampu menjawab maka akupun dibebaskan. Mengapa sekarang engkau hendak mengganggu aku lagi ?"

"Aku tak terikat dengan perjanjian itu. Lekas beri keputusan."

"Aneh, aneh engkau tetua Hoa-san-pay dia pun tetua Hoa- san-pay. Dia sudah membebaskan, engkau tak boleh. Dia pegang janji, engkau pungkir janji." .

"Siapa berjanji kepadamu ? Bukankah aku tak pernah berjanji ?"

"Cianpwe yang itu ! " Blo'on menunjuk Beruang-sakti Han Tiong.

"Ya, baiklah," kata Naga-besi Pui Kian, "karena dia sudah berjanji maka dia berhak membebaskan engkau. Tetapi karena aku tak berjanji maka akupun bebas untuk membunuhmu."

"Jadi engkau tak mau ikut dalam perjanjian itu?" "Tidak !"

"O, aneh, mengapa ?"

"Karena hendak mencabut nyawamu!" kata Naga-besi dengan geram lalu melangkah maju menghampiri Blo'on. Wajahnya seram, sinar matanya berkilat-berkilat. Rupanya Tiang-lo pertama dari Hoa-san-pay itu sudah memutuskan untuk meremuk Blo'on.

Blo'on menggigil, la tahu terhadap kakek yang satu ini, ia tak dapat menyiasati. Satu-satunya jalan, ia harus meloloskan diri. Memandang ke sekeliling, tampak berpuluh-puluh murid Hoa-san-pay menghunus senjata, memagari ketat sekali.

Tiba-Tiba Naga-sakti memekik. Nadanya mirip dengan ringkikan naga. Karena terkejut, Blo'on hampir terjungkal

jatuh.

Tiba-Tiba Naga-besi Pui Kian loncat, menerkam. Karena kejutnya, Blo'onpun loncat menghindar. Di luar kehendaknya, loncatannya itu hebat sekali. Tubuhnya melambung keudara sampai dua tombak tingginya.

"Hai, hendak lari kemana engkau budak hina!" teriak kakek Naga-besi seraya enjot tubuh melambung keudara untuk menyambar

tubuh Blo'on. Cret, lengan baju Blo'on tercengkeram. Terus ditarik kebawah. Maksudnya supaya jatuh terbanting ditanah.

Tetapi saat itu, karena lengan bajunya terasa kaku sekali sehingga lengannya tak dapat digerakkan, Blo'on meronta sekuat-kuatnya. Brat, lengan bajunya robek memanjang sampai kebahu di orangnyapun bergeliatan meluncur turun. Kebetulan sekali ia jatuh disamping Walet-kuning Hong-Hong ing. Nona itu cepat hendak tusukkan pedangnyi Tetapi entah bagaimana, melihat wajih Blo'on yang lucu dan kasihan, kepalanya gundul, alis hilang dan lengan baju rompal, dara itu agak bersangsi.

Melihat dara itu hendak menusuknya, Blo’on cepat menampar tangan dara itu. Plak, pedang Hong-ing terpental jatuh dan lengannyapun dicekal erat-erat oleh Blo'on, Hong- ing hendak meronta tetapi cengkeraman Blo'on pada pergelangan tangan, membuat dara itu tak dapat berkutik karena tenaganya terasa hilang.

Pada lain kejab, kakek Naga-besi Pui Kian pun melayang turun kehadapan Blo'on, terus hendak merangsang anak itu.

"Berhenti, atau gadis ini kubunuh !" teriak Blo'on seraya mengangkat tangan kanannya ke atas kepala Hong-ing. Memang setiap manusia, blo’on sekalipun dia, tetapi dalam detik-detik menghadapi bahaya maut, tentu timbul dayanya untuk membela diri. Demikian dengan Blo'on. Entah bagaimana, tiba-tiba saja ia mendapat akal begitu.  Menjadikan Walet kuning Hong-ing sebagai sandera atau tawanan.

Kakek Naga-besi tertegun. Melihat cara Blo' on melayang diudara sampai begitu tinggi dan cara ia dapat menguasai Walet-kuning begitu mudah, mau tak mau tiang-lo Hoa-san- pay itu harus menarik kesimpulan bahwa Blo'on itu benar- benar seorang pemuda yang sakti. Kalau ia lanjutkan serangan, pasti Blo'on nekad akan membunuh Hong-ing.

Naga-besi merenung beberapa saat. Akhirnya ia berseru : "Bagaimana kehendakmu ?"

"Bebaskan aku dari sini. Jangan ada murid Hoa-san-pay yang berani mengganggu kalau aku pergi dari markas ini !"

"Hm, baiklah.” Blo'on mencekal lengan Hong-ing, tangan kanan.

"Setelah pengalaman tadi, aku tak dapat mempercayai orang Hoa-san-pay. Terpaksa nona ini hendak kubawa," sahut Blo'on.

"Engkau pengapakan ?"

"Apabila ada murid-murid Hoa-san-pay yang berani menyerang aku, nona ini terpaksa kuhancurkan lebih dulu."

"Engkau cerdik juga !" dengus Naga-besi dengan nada menghina.

Blo'on tak mau meladeni bicara. Ia terus membawa Hong- ing menuju ke pintu markas. Keempat Tiang-lo dan murid- murid Hoa-san-pay mengikuti dari belakang. Setelah tiba dipintu markas, Naga-besi berseru : "Nah, sekarang engkau sudah melewati pintu markas Hoa-san-pay, lepaskan nona itu."

"Tidak !" sahut Blo'on, "daerah ini masih dalam kekuasaan Hoa-san-pay. Bagaimana kalau nona ini kulepas, kalian terus menindak aku? Siapakah yang akan menjamin keselamatanku?"

"Lalu ?"

"Nona ini tetap akan kubawa bersamaku melanjutkan perjalanan."

"Kemana ?”

“Ke Laut Hitam mencari otak naga” "Buat apa otak naga itu ?" "Mengobati otakku yang hilang !"

"Ha, ha, ha . . . , " tiba-tiba kakek Naga-besi tertawa lebar. "Mengapa engkau tertawa ?" tegur Blo'on

"Siapa yang memberitahu di Laut Hitam terdapat naga ?" "Gadis ini."

"Siapa yang memberitahu otak naga dapat menyembuhkan otakmu yang hilang ?"

"Juga gadis ini."

"O." seru kakek Naga-besi. Ia tertawa: "Baiklah. Tetapi ingat, jangan sekali-kali engkau ganggu murid Hoa-san-pay itu. Sehelai rambutnya saja engkau ganggu, engkau tentu akan kami cincang jadi bakso !"

"Aku bersumpah !"

"Baik, pergilah," kata kakek Naga-besi. Tetapi baru Blo'on berjalan beberapa langkah, Naga-besi sudah berseru lagi : "Hai, tunggu dulu ! Apakah setelah tiba di Laut Hitam engkau terus membebaskan dia pulang ?"

"Ya."

"Engkau berani menghadapi naga itu sendirii?" "Ya," sahut Blo'on.

Demikian Blo'on segera mengajak Hong-ing keluar dari markas Hoa-san-pay, menuruni gunung Hoa-san dan melanjutkan perjalanan.

"Pui suheng," tiba-tiba Beruang-sakti Han Tiong bertanya kepada Naga-besi, "mengapa suheng melepaskan anak itu membawa Hong-ing ? Apakah tidak membahayakan jiwa Hong-ing ?"

Naga-besi tersenyum: "Tak perlu kuatir, Tak berapa lama anak itu tentu akan kembali ke sini sebagai tangkapan." Beruang-sakti terbeliak : "Bagaimana hal itu dapat terjadi ?" "Hong-ing yang akan menangkapnya dan membawa

kemari."

"O. adakah suheng sudah memberi perintah kepadanya ?" "Ya,  ketika  pemuda  itu  menyatakan  hendak  membawa

Hong-ing  sebagai  tanggungan,  diam-diam  kugunakan   ilmu

menyusup suara Coan-im-jip-bi untuk memberi bisikan kepada Hong-ing agar dia menurut saja Tetapi nanti ditengah jalan begitu ada kesempatan, supaya pemuda itu ditutuk jalan darah nya dan dibawa kembali ke markas kita."

Beruang-sakti masih cemas: "Apakah kita perlu suruh murid lain untuk membayangi mereka, memberi bantuan apabila Hong-ing sampai gagal ?"

Naga-besi Pui Kian menyatakan tak perlu. Karena pemuda itu blo'on dan Hong-ing seorang dara yang cerdik. Tentu dapat mengatasinya.

Kemudian Beruang-sakti meminta keterangan bagaimana hasil peninjauan suhengnya ke guha.

"Memang mayat Kam sutit hilang. Telah kuteliti keadaan dalam guha itu tetapi tak terdapat  bekas-bekas  jejak binatang buas. Pencurinya tentu seorang tokoh silat yang sakti," kata Naga besi.

"Lalu apakah tujuannya mencuri mayat Kam sutit ?" tiba- tiba Kilin-Emas Lim Ping bertanya

"Justeru itulah yang masih belum dapat kita ketahui," jawab Naga-besi Pui Kian.

"Lalu menurut pendapat suheng, bagaimanakah tindakan kita sekarang ?" tanya Beruang-sakti. Sejenak merenung, tetua pertama dari Hao san-pay yang sudah berusia lanjut itu berkata: “Urusan ini gawat sekali karena menyangkut nama Hoa san-pay. Tindakan yang pertama, harus menutup rapat-rapat agar peristiwa ini jangan sampai tersiar ke luar. Karena kalau sampai dunia persilatan mendengar berita ini, nama Hoa-san-pay pasti akan menjadi buah pembicaraan dan bulan-bulan tertawaan."

Beruang-sakti Han Tiong, Kilin emas Lim dan Serigala-gigi- perak Bok Jiang menjetujui.

"Untuk melaksanakan hal itu, kita harus Mengumpulkan segenap anakmurid Hoa-san-pay untuk memberi pesan kepada mereka agar jangan membocorkan peristiwa ini. Barangsiapa yang membocorkan dianggap mengkhianati perguruan dan akan dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan Hoa san pay kepada murid yang berhianat." kata Naga besi Pui Kian.

"Tetapi itupun masih belum sempurna," katanya lebih lanjut, "dikuatirkan apabila ada tetamu dari lain perguruan yang berkunjung kemari tak bertemu dengan Kam sutit, mereka tentu akan curiga..”

"Benar," Beruang-sakti Han Tiong menanggapi "memang kemungkinan semacam itu bisa saja terjadi."

"Lalu bagaimana langkah kita?" tanya Serigala gigi-perak Bok Jiang, "apakah suheng bermaksud hendak mengadakan seorang Kam sutit tiruan ?"

"Tepat, Bok sute," sahut Naga-besi Pui Kian, "memang aku merencanakan hal itu. Tetapi tertumbuk pada kesulitan orangnya yang dapat menyamar sebagai Kam sutit." "O rasanya tiada seorang yang dapat menyamar sebagai Kam sute, kecuali Pang To-tik sutit," seru Beruang-sakti Han Tiong.

"Hai, benar." seru Naga-besi Pui Kian, "ya, memang dialah yang paling tepat untuk menyamar sebagai Kam sutit. Baik dalam perawakan maupun nada suara dan kepandaiannya, keduanya memang hampir menyerupai satu sama lain."

"Tetapi bukankah dia sedang mewakili perguruan Hoa-san- pay menghadiri pemakaman Kim Thian-cong tayhiap ?” kata Naga-besi Pui Kian

"Ya, tetapi tentulah dia sudah pulang. Aneh, mengapa dia tak datang melapor kemari ?" kata Naga-besi Pui Kian.

"Ya, benar," sambut Beruang-sakti Han Tiong, "seharusnya dia datang kemari untuk membeli laporan."

"Adakah dia belum pulang ?" tanya Kilin-emas Lim Ping.

Setelah merenung, Naga-besi Pui Kian mengambil keputusan : "Mengingat urusan ini penting sekali, akan kusuruh salah seorang murid untuk meninjau ketempat kediaman Pang sutit. Tunggu sampai dia pulang, supaya terus diajak kesini."

Ketiga Tiang-lo Hoa-san-pay setuju. Mereka lalu mengutus Ko Seng-tik murid kedua dari Hom san-pay dan sutenya Tan Hui-beng menuju ketempat kediaman Pang To-tik di gunung Hong-san.

Setelah itu, Naga-besi Pui Kian melanjutkan perundingan lagi. Katanya: "Dan tindakan kedua kita harus mencari pencuri jenazah Kam sutit."

"Bagus." seru Serigala-gigi-perak Bok Jiang "biarlah aku yang melakukan tugas itu.” "Rasanya belum cukup kalau hanya seorang Dan akupun bersedia melakukan tugas itu juga” seru Beruang-sakti Han Tiong.

"Tetapi menurut hematku," tiba-tiba Kilin-emas Lim Ping yang tak banyak bicara tetapi setiap kali membuka suara tentu mengandung pendapat yang tepat, menyelutuk, "Lebih baik kita tunggu dulu sampai Hong-ing pulang membawa anak blo’on itu. Kita bisa mengorek keterangan lebih lanjut dari anak itu. Setelah mendapat keterangan yang diperlukan barulah kita dapat bertindak mencari pembunuh itu. Dengan begitu kita dapat menghemat tenaga dan waktu, pula dapat bertindak secara terarah."

Naga-besi Pui Kian mengangguk: "Ya, pendapat Lim sute benar juga. Lebih baik kita tunggu dulu kedatangan budak perempuan itu."

Demikian para Tiang-lo itu menunggu pulangnya Walet- kuning Hong-ing yang telah diberi kisikan oleh Naga-besi Pui Kian, supaya meringkus si Blo'on dan membawanya pulang ke markas.

Sehari dua hari, tiga, empat dan akhirnya hampir tujuh hari lamanya, belum juga murid-murid itu pulang. Waelet-kuning Hong-ing belum datang dan Ko Seng-tik serta Tian-Hui- bengpun tak kunjung pulang.

Keempat Tiang-lo makin sibuk. Akhirnya diputuskan mengirim Serigala-gigi-perak Bok Jiang menuju ke Hong-san untuk meninjau Pang To-tik. Dan Beruang-sakti Han Tiong diberi tugas menyusul perjalanan Walet-kuning Hong-ing karena di-kuatirkan terjadi sesuatu dengan gadis itu.

Sepanjang sejarah berdirinya perguruan Hoa-san-pay belum pernah mereka mengalami kehebohan seperti saat itu. Kam Sian-hong, ketua angkatan ke duabelas dari Hoa-san- pay telah mati dibunuh orang. Kemudian mayatnyapun hilang dicuri orang. Siapa pembunuhnya, menurut dugaan tentulah pemuda blo'on, tetapi merekapun tak berani memastikan. Diam-Diam merekapnn meragukan bahwa seorang pemuda yang begitu blo'on dapat membunuh Kam Sian-hong, ketua Hoa-san-pay yang berkepandaian sakti.

Dan siapakah yang mencuri mayat itu ?

---ooo0dw0ooo---

Sial dangkal.

"Hendak engkau bawa kemana aku ?" tanya Hong-ing setelah jauh dari markas Hoa-san-pay.

"Ke Laut Hitam mencari otak naga," sahut Blo'on.

Hong-ing terkejut. Laut Hitam, hanya nama yang dibuatnya untuk mengelabuhi anakmuda itu. la sendiri tak tahu apakah di dunia ini terdapat laut yang hitam. Bahkan ia sendiri belum pernah melihat laut biasa, apalagi laut yang hitam.

"Celaka, rupanya anak blo'on ini percaya sungguh akan keteranganku, "diam-diam ia mengeluh, "ah, bagaimana kalau dia memaksa aku harus membawanya ke Laut Hitam itu ?"

Setelah memutar otak, akhirnya dara itu tertawa mengikik. "Hai, mengapa engkau tertawa?" tegur Blo'on,

"Apakah tidak boleh aku tertawa ?" balas dara.

"O, boleh saja. Tetapi mengapa engkau tertawa seorang diri?" Blo’on menyeringai, "Eh, apakah engkau merasa sakit karena aku tertawa itu ?" sahut sidara pula.

"O, tidak, tidak sakit, "hanya heran. "Mengapa heran ?"

"Biasanya kalau aku tertawa, tentu ada sesuatu yang menggelikan hatiku."

"Hm, apakah engkau anggap aku tertawa karena tak ada sesuatu yang menggelikan hatiku ?”

"Apa yang menggelikan hatimu ?" "Sudah tentu ada, bahkan banyak." "Apa ?" tanya Blo'on.

"Misalnya, kalau melihat tampang mukamu, perutku seperti dikili-kili."

"Karena kepalaku gundul ?" "Ya."

"Alisku hilang ?" "Ya."

"Lalu tampangku seperti setan ?” "Ya."

"Aneh !" gerutu Blo'on. "Apa yang aneh ?" "Engkau !" kata Blo'on.

"Aku ? Mengapa ?" Hong-ing kerutkan dahi.

"Sudah pernahkah engkau melihat setan ? Apakah setan itu benar seperti tampangku ini ?" Hong-ing terkesiap, la seorang dara yang lincah bergerak dan tangkas bicara. Tetapi entah bagaimana, beberapa kali ia selalu terpukul diam, oleh kata-kata si Blo'on.

"Ya, benar," untuk menutupi kekalahannya bicara, Hong-ing menjawab sekenanya saja.

"Tidak, aku tak percaya !"

"Hm, kalau tak percaya engkau boleh berkaca !" "Dimana kaca itu ?"

"O," Hong-ing mendesuh karena menyadari hampir kalah bicara lagi. Tetapi cepat ia dapat menjawab, "nanti apabila tiba di telaga yang bening, airnya, engkau tentu bisa mengacai mukamu."

"O, dimanakah telaga itu ?"

"Dua tiga li dibawah sana, ada sebuah telaga yang bening airnya," jawab Hong-ing.

Demikian keduanya berjalan menuruni gunun sambil bercakap-cakap. Dalam pada itu, Blo'on tetap mencekal tangan si dara. Rupanya ia kuatir kalau Hong-ing akan melarikan diri kembali kemarkas Hoa-san-pay.

Hong-ing memang sudah beberapa kali berusaha untuk melepaskan diri dari cekalan Blo'on. Tetapi selalu gagal, ia merasa cekalan tangan Blo’on itu tak ubah seperti jepitan baja.

Demikian mereka tiba di telaga dan Blo’on pun bergegas membawa sidara ke tepi telaga.

"Aduh mati aku . . ," tiba-tiba Blo'on menjerit keras, ia kaget sendiri ketika melihat dirinya berubah begitu aneh. Kepalanya gundul, alisnya hilang bajunva robek dan mukanya kotor.

"Blo'on, lepaskanlah tanganku !" seru si dara "Mengapa? Apakah engkau hendak pulang?"

"Pulang atau tidak, itu sesukaku. Engkau tak perlu mengurus !"

"Aku harus mengurus," jawab Blo'on. "karena kalau engkau pulang engkau tentu memanggil keempat kakek tua dan murid-murid Hoa-san-pay untuk mengejar aku !"

"Itu tidak termasuk dalam perjanjianmu. Pokok aku mengantar engkau keluar dari markas Hoa-san-pay. Setelah itu aku bebas pulang."

"Hm, tempat ini masih belum jauh dari markas Hoa-san- pay. Kalau kubebaskan, engkau tentu memanggil orang-orang Hoa-san-pay."

"Habis, kapankah engkau melepaskan aku ?"

"Nanti setelah jauh dari Hoa-san-pay, ditempat yang kuanggap sudah aman bagiku."

Tiba-Tiba nona itu tertawa.

"Eh, mengapa engkau tertawa lagi ?" tegur si Blo'on. "Karena aku geli melihat tingkahmu yang sebenarnya blo'on

tetapi bertingkah sok !" "Mengapa ?"

"Walaupun engkau tak mau melepaskan aku tetapi engkau terpaksa harus melepaskan juga."

"Mengapa ?" "Lihatlah bahumu yang kain penutupnya robek itu. Bukankah terdapat guratan merah yang memanjang kebawah?"

Blo'on memandang bahu kanannya. Dan apa yang dikatakan Hong-ing memang benar. Luka itu tampak membiru dan gatal.

"Ah, hanya luka kena cengkeraman kuku kakek tua tadi," kata Blo'on.

Hong-ing tertawa : "Hm, engkau kira luka biasa ?" Blo'on mengiakan.

"Salah, luka itu beracun. Bermula lengan kananmu akan terasa lunglai, kaku. Setelah itu sekujur tubuhmu akan tak dapat digerakkan semua."

"Benarkah ?"

"Ya, sejak tadi kurasakan cekalan tanganmu sudah mulai berkurang tenaganya. Engkau tak percaya, lihatlah ..." tiba- tiba Hong-ing meronta dan terlepaslah ia dari cekalan Blo'on.

Blo'on terkejut. Cepat ia hendak menubruk dara itu tetapi si dara dengan lincah menghindar ke samping lalu mencabut pedang : "Berani maju tentu kutusuk !" serunya mengancam.

Blo'on kesima. Memang diam-diam ia merasakan lengan kanannya terasa lunglai tak bertenaga.

"Engkau benar," serunya, "mengapa lengan ku terasa lemas?"

"Itulah racunnya sudah mulai bekerja !" "Racun ?'

"Ya, kuku dari Pui sucou itu mengandung racun." "Bohong !" teriak Blo'on.

"Kalau kukunya mengandung racun, bagaimana dia dapat menyuap makanan dengan tangannya '"

Hong-ing tertawa : "Engkau memang blo'on. Pui sucou itu mempunyai sebuah ilmu yang disebut Tok-jiau-kang."

''Apa Tok-jiau-kang itu ?'

"Ilmu cengkeraman beracun. Kalau tidak dipancarkan, racun itupun tak bergerak. Dia dapat makan dan mengambil barang seperti biasa Tetapi begitu dipancarkan, racun pada kukunya akan berhamburan masuk ketubuh lawan. Tadi  sucou memberi tahu kepadaku, engkau sudah terkena Tok- jiau-kang, tentu mati. Maka diapun rela saja melepas engkau pergi dengan membawa aku karena akhirnya engkau tentu mati kaku."

"O, kejam benar ..."

"Tak lebih kejam dari engkau yang membunuh suhuku itu !"

Blo'on deliki mata kepada nona itu. Ia hendak marah dan membantahnya tetapi pada lain saat tiba-tiba ia tenang kembali : "Ah, sudahlah Kalau engkau mengatakan begitu, terserah. Tetapi aku merasa tak membunuhnya "

Hong-ing hanya mendengus.

"Pergilah, aku tak membutuhkan engkau lagi," tiba-tiba Blo'on berseru.

"Engkau melepaskan aku pulang?" Hong-ing menegas. "Pergilah, jangan banyak bicara !" teriak Blo'on. "Tidak " seru Hong-ing. Blo'on terbeliak : "Mengapa? Bukankah engkau sudah bebas? Pulanglah, pulanglah! Panggillah kakek-kakek itu dan kawan-kawanmu kemari membunuh aku!"

"Tak perlu," sahut Hong-ing, "tanpa memanggil mereka, engkaupun tentu mati juga."

"Biar, biar!" teriak Blo'on, "pergilah engkau, biar aku mati sendiri."

"Tidak !"

"Mengapa ?" kembali Blo'on heran.

"Engkau sudah menolong suhengku yang pingsan engkau bawa pulang ke markas. Untuk kebaikanmu itu akan kubalas. Kalau engkau mati, akan kukubur dalam sebuah liang agar mayatmu jangan dimakan burung."

"Tidak!" teriak Blo'on makin kalap, "hayo pergilah engkau ! Aku lebih suka mayatku dimakan burung daripada engkau jamah. Orang-Orang Hoa san-pay memang jahat-jahat semua!"

"Cis, engkau tak berhak mengusir aku. Daerah ini masih termasuk lingkungan Hoa-san. Aku yang menjadi tuan rumah dan engkau orang luar. Masakan orang luar berani mengusir tuan rumah” balas Hong-ing.

"Persetan dengan tuan rumah atau tetamu “ makin kalap Blo'on berteriak, "pendek kata engkau mau pergi atau tidak. Aku tak suka melihatmu di sini ! Aku benci dengan orang- orang Hoa-san-pay "

"Tidak !"

"Hm, kalau engkau membangkang, terpaksa tentu kuhajar " "Penipu !" teriak Hong-ing. “engkau bilang tak mengerti ilmusilat, ternyata sekarang engkau hendak menghajar aku."

"Uh, untuk menghajar seorang anak perempuan; mengapa perlu belajar ilmusilat ?”

"Ha, ha," Hong-ing tertawa, "itu kalau anak perempuan biasa. Tetapi aku seorang anak perempuan persilatan. Apa engkau mampu mengalahkan aku ?"

"Kalau mau coba, bolehlah'" habis berkata . Blo'on terus lompat menubruk Hong-ing. Ia tak mengerti ilmusilat. Tetapi karena terdorong oleh kemarahan, ia nekad menyerang  sidara. Hanya saja caranya menyerang bukan dengan memukul atau menampar melainkan dengan menubruk. Ya, ia hendak mendekap dara itu.

Sudah tentu mudah sekali Hong-ing menghindar ke samping. Diam-Diam dara itu memperhatikan gerakan Blo'on. Kalau Blo'on yang berada di guha tadi, tak mungkin ia dapat menghindar terkamannya. Tetapi saat itu Blo'on tampak lamban gerakannya. Tentulah karena racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.

Terkaman pertama luput, Blo'on menyusuli lagi dengan terkaman kedua, ketiga, keempat dan terus saja selama terkamannya itu masih belum berhasil mendekap si dara.

Walet-kuning Hong-ing sesungguhnya tinggi juga ilmusilatnya. Tetapi karena ia tahu bahwa pemuda blo'on itu memiliki tenaga-dalam yang hebat, terpaksa ia tak berani adu kekerasan dan melainkan menghindar saja. Tetapi setelah memperhatikan gerak pemuda itu makin lamban tahulah ia bahwa racun dalam tubuh pemuda itu sudah mulai bekerja. Dan memang dugaannya tepat. Hampir tiga jam menuruni gunung, karena tak mengerahkan tenaga racun itu pelahan sekali jalannya. Tetapi kini karena Blo'on mengeluarkan tenaga menyergap Hong-ing maka racun itupun bekerja cepat. Hampir separoh tubuh Blo'on terasa kaku tak dapat  digerakkan lagi.

„Uh . . , " tiba-tiba Blo'on mendesuh kaget ketika luput menubruk Hong-ing, kakinya terantuk pada segunduk batu dan tak ampun lagi. ia jatuh terguling di tanah dan meluncur ke dalam telaga . . .

"Hai !" Hong-ing memburu hendak menyambar kaki si Blo'on tetapi terlambat. Tubuh Blo'on sudah tenggelam kedalam telaga.

Karena gugup, Hong-ing lari kian kemari, sejenak memandang ke permukaan telaga, sejenak memandang ke sekeliiing penjuru seperti hendak mencari orang yang dapat memberi pertolongan, Ia sendiri tak bisa berenang. Paling- Paling ia akan minta tolong orang untuk menyelam ke dasar telaga Tetapi sekeliling tempat itu sunyi senyap.

"Blo'on . . ! Blo'on ..!" berulang kali la meneriaki pemuda itu tetapi tiada bersahut. Blo'on seolah-olah lenyap di dasar telaga.

Entah bagaimana Hong-ing merasa menyesal atas terjadinya peristiwa itu. Memang bukti amat kuat bahwa Blo'on berada di dalam guha di mana suhunya terdapat menggeletak tak bernyawa. Tetapi menilik wajah dan sikap pemuda yang blo'on itu, masih ada sepercik kepercayaan dalam hatinya bahwa Blo'on bukan pembunuh suhunya. Selama belum menemukan jejak yang menyatakan bahwa Blo'on tak bersalah, rasa benci dan dendam terhadap pemuda itu tetap membara dalam hati Hong-ing. Betapapun ia benci pada setiap pembunuh. Apalagi yang dibunuh itu suhunya . . . Namun dibalik rasa dendam itu, tersembul pula rasa kasihan atas nasib Blo'on yang dideritanya ketika berada dalam markas Hoa-san-pay. Blo'on diperlakukan sebagai seorang terdakwa, dijadikan bulan-bulan tertawa dengan digunduli rambut dan alisnya, dihajar sana dipukul sini seperti seekor anjing Bahkan tak segan-segan pula keempat Tiang-lo itu beramai-ramai hendak membunuh Blo'on. Hong-ing benci kepada Blo'on tetapi iapun merasa kasihan atas nasibnya.

Rasa kasihan dari Hong-ing bukan tak beralasan, la merasa bahwa kesalahan Blo'on itu walaupun jelas tetapi belum meyakinkan, la merasa bahwa pemuda itu memang blo'on, linglung dan seperti orang yang kehilangan kesadaran pikirannya. Buktinya, begitu ia mengatakan soal otak naga di Laut Hitam, pemuda itu terus percaya seratus persen. Begitu pula ia merasa bahwa pernyataan Blo-on yang lupa pada diri dan namanya, memang sungguh-sungguh bukan pura-pura. Setolol-tolol dan seblo'on-blo’on seorang anakmuda, namun tak mungkin dia mau menerima pemberian nama Blo'on itu. Dan akhirhya wajah serta bicara pemuda itu, mengunjukkan kejujuran hatinya.

Itulah sebabnya, Hong-ing mandah saya ketika ditawan si Blo'on dan dijadikan sandra lalu diajak lari dari markas Hoa- san-pay. Pun dalam perjalanan, ia makin mendapat kesan bahwa Blo'on itu seorang pemuda yang polos hati. Oleh karena itu, walaupun beberapa kali mendapat kesempatan baik, tetapi dara itu tetap tak mau melarikan diri. Ia ingin menemani si Blo'on mencari obat penyembuh otaknya.

Dan rasa kasihan itu meledak menjadi rasa gugup dan gelisah ketika melihat Blo'on tenggelam dalam telaga. Karena tak mendapat jalan untuk menolong, akhirnya dara itu duduk numprah di tepi telaga dan menangis. "Maafkan aku, Blo'on. Sebenarnya aku tidak mempunyai maksud hendak membunuh atau mencelakai engkau. Tetapi mengapa engkau mengusir aku ? Bukankah aku ingin menemani engkau mencari obat ? Andai engkau tak sebengis itu mengusirku, tentu akan kuberimu pil pencegah racun untuk mencegah menjalarnya racun pada lukamu itu . . . " Hong-ing menghela napas.

"Blo'on, kalau engkau mati, kudoakan supaya arwahmu dalam beristirahat tenang di alam baka .., " Hong-ing menutup doanya dengan menangis terisak-isak. Puas menangis, ia berbangkit. la tetap tak terima kalau belum menemukar mayat Blo'on. Ia hendak pergi kesebuah perumahan yang terdekat untuk minta tolong pada beberapa penduduk, mencari mayat Blo'on. Sekalipun mati, namun ia hendak mengubur mayat Blo'on secara baik.

Maka ia segera tinggalkan telaga dan mencari rumah penduduk.

Haripun kian tinggi dan akhirnya matahari mulai rebah dipunggung gunung sebelah barat. Tiba-tiba muncullah seorang aneh. Seorang lelaki tinggi besar yang mukanya penuh dengan rambut, memelihara kumis lebat dan jenggot panjang. Kepalanya terbungkus kain putih yang dilingkai- Iingkar keatas macam bentuk seekor kerucut. Pakaiannya jubah merah yang penuh berhias tanda-tanda swastika.

Setiba di tepi telaga, ia berdiri tegak menghadap kepermukaan air. Kedua tangannya ditengadahkan di muka dada dan mulutnya mulai berkemak kemik. Tiba-tiba tangan kanan dijulurkan kemuka menghadap ke permukaan telaga laluu mulai digerakkan seperti menarik kebelakang Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang sambil mulutnya melantang ucapan-ucapan seperti doa mantra. Tetapi tak dapat dimengerti artinya karena menggunakan bahasa asing.

Aneh benar ! Tak berapa lama tampak sesosok tubuh menyumbul ke permukaan air lalu pelahan-lahan tubuh itu hanyut dibawa air ketepi tempat orang aneh itu berdiri. Dan lebih aneh pula, walaupun sudah berada di daratan, tubuh yang masih rebah di tanah itu dapat meluncur ketempat orang aneh. Setelah tiba dibawah kaki orang itu baru berhenti.

Ternyata sosok tubuh itu bukan lain adalah mayat Blo'on yang terbungkus dengan benda hitam macam lumpur. Orang aneh berjongkok memeriksa Ia kerutkan alis ketika mengetahui bahwa benda yang menyelubungi muka dan badan si Blo-on iitu bukan lumpur melainkan kawanan binatang lintah. Orang aneh itu segera membersihkan tubuh Blo’on dari kerumunan lintah. Setelah itu ia memeriksa baju si Blo'on.

"Kurang ajar, kemanakah rumput mustika itu?" tiba-tiba ia berkata seorang diri dengan nada marah. "apakah dimakannya sendiri ? Dan sarung dang itu . . ?”

"Ah." pada lain saat ia menghela napas panjang, "celaka, kemungkinan rumput mustika dan sarung pedang tentu ikut tenggelam kedasar telaga. Celaka, kalau benar begitu, sungguh sulit. Untuk mencari sarung pedang, sih masih mudah. Tetapi bagaimana untuk mencari rumput Jenggot- naga yang begitu kecil dan halus ? Bukankah sesukar orang mencari jarum dalam laut ? Ah ..."

Sejenak merenung, orang aneh itu mengingau pula : "Terpaksa aku harus bersemedhi nanti malam untuk mengetahui apakah kedua benda itu memang masih di dasar telaga atau dilempar kelain tempat oleh anak itu ... . Kemudian ia memeriksa keadaan mayat Blo'on Setelah memegang pergelangan tangan, ia berkata seorang diri pula : "Denyut jantungnya masih terasa, anak ini belum mati ..."

Ia mengeluarkan sebuah botol kumala, menuang sebutir pil merah dan disusupkan kemulut Blo'on, lalu ditinggal pergi : "Hm, dalam waktu duapuluh empat jam, dia tentu sadar ..."

Orang aneh itu tak menghiraukan Blo'on. Ia masuk kedalam hutan untuk mencari tempat yang sesuai dimana ia akan melakukan semedhi untuk meneropong keadaan dalam telaga.

Malampun makin merayap, menebarkan selimut hitam kepermukaan alam. Suasana sekeliling telaga makin dibenam dalam kesunyian lelap.

Blo'on masih menggeletak dalam keadaan tak sadar. Entah dia dapat hidup lagi atau tidak.

---ooo0dw0ooo---

Korban kedua.

Keesokan harinya, Hong-ing membawa dua orang penduduk ketepi telaga. Dara itu berhasil mengupah kedua orang itu untuk menyelam ke dasar telaga, mencari mayat si Blo'on.

"Wah, celaka," seru salah seorang penduduk itu, "telaga ini disebut Telaga-lintah, boleh dikata menjadi sarang lintah. Maka walaupun airnya bening, tetapi jarang sekali orang yang berani mandi disini."

"O," Hong-ing mendesuh kejut, "lalu bagaimana cara kalian hendak menyelam ?" Kedua lelaki itu tersenyum. Mereka melepaskan bungkusan yang dibawa lalu mengeluarkan dua buah botol. Yang satu diserahkan kepada kawan nya. Mereka lalu melumuri tubuh dengan isi botol itu.

"Apakah itu ?" tanya Hong-ing "Minyak dari ikan paus. Bangsa lintah tak suka baunya dan tak mampu hinggap pada badan orang yang dilumuri minyak ini."

Demikian kedua orang itupun lalu menyelam kedalam telaga. Tetapi hampir setengah hari mereka mencari, Blo'on tetap tak dapat diketemukan. Akhirnya setelah sore, mereka naik ke daratan.

"Sia-sia," kata mereka, "mayat kawan nona itu tak berhasil kami ketemukan."

"Aneh," sahut Hong-ing, "jelas dia terjatuh kedalam telaga ini mengapa mayatnya tak dapat diketemukan ?"

Kedua orang itu kerutkan dahi. Diam-Diam mere kapun heran juga. Tiba-Tiba salah seorang bertanya : "Apakah nona tak keliru melihat ?"

"Keliru bagaimana ?" tanya Hong-ing.

"Kalau kawan nona itu benar-benar jatuh ke dalam telaga ini ?'

"Gila ! Masakan aku bisa keliru ? Sudah jelas kulihat dengan mata kepala sendiri, dia terantuk batu lalu terguling jatuh kedalam telaga !" seru Hong-ing agak penasaran.

"Hm, kalau begitu tentu hanya satu kemungkinan," kata mereka.

"Bagaimana?” "Mayat itu telah habis dilahap kawanan ikan lele-macan di telaga ini."

"Hah?" Hong-ing terbeliak kaget, "lele-macan?"

"Ya," sahut salah seorang, "selain lintah pun telaga ini penuh dengan sejenis ikan lele yang oleh penduduk disebut lele-macan. Ikan itu ganas sekali, suka makan ikan lain yang bukan jenisnya."

"Ah . . ," Hong-ing hempaskan diri duduk ditepi telaga. Hatinya sedih, semangatnya lunglai. Rasa kasihan atas nasib Blo'on, membuat ia seperti orang yang kehilangan semangat.

"Apakah nona tak kembali ke desa kami ?” tanya salah seoracg penyelam.

"Tidak, kalau kalian mau pulang, pulanglah” sahut Hong ing.

Setelah menerima upah, walaupun merasa heran, namun kedua orang itupun segera pergi.

Berjam-jam lamanya Hong-ing duduk memandang ke permukaan telaga. Mataharipun mulai turun ke balik gunung. Cuaca mulai gelap. Namun Hong-ing tetap tak berkisar dari tempatnya. Matanya memandang ke air telaga yang jernih.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ia terkesiap Samar- Samar pada permukaan air, muncul sebuah wajah orang. Hong-ing mengebas-kebaskan kepala lalu mengusap-usap mata. la kuatir kalau kalau mata nya yang kabur. Tetapi ketika memandang ke permukaan air lagi, bayangan wajah orang itu tetap tampak, bahkan kali ini tersenyum menyeringai Dan karena wajah orang itu penuh ditumbuhi rambut, maka tampaknyapun menyeramkan. Dia tertawa malah seperti serigala menguak. "Hai . . . setan'" teriak Hong-ing seraya! loncat bangun dan hendak mencabut pedang. Tetapi tiba-tiba pedangnya itu sukar dicabut, seolah-olah seperti melekat pada kerangkanya.

Hong-ing makin karet. Dicobanya pula untuk mencabut sekuat tenaga. Tetapi tetap gagal karena jengkel kerangka yang masih berisi pedang itu dibanting ketanah, tringg..

"Hai," ia menjerit ketika melihat pedang itu meluncur keluar dari kerangkanya. Pada hal tadi walaupun ditarik sekuat- kuatnya pedang itu tak mau keluar.

Cepat dara itu menghampiri hendak mengambilnya lagi. Tetapi tepat pada saat tangannya menjamah tangkai pedang, tiba-tiba sebuah kaki menginjak batang pedang

"Ih..”Hong-ing mendesis dan memandang keatas; Dan seketika ia menjerit, loncat, loncat ke belakang.

Ternyata yang menginjak batang itu seorang lelaki tua yang aneh. Ialah berpakaian jubah merah berhias swastika yang kemarin datang ke tepi telaga, menarik keluar mayat si Blo’on.

Dalam persemedian malam tadi, ia mendapat kisikan halus, bahwa pedang dan rumput mustika Liong-si-jau tidak jatuh di dasar telaga tetapi masih berada pada si Blo'on. Maka pada siang itu ia segera menuju ke tepi telaga tempat Blo'on diletakkan kemarin. Ia hendak menunggu si Blo’on sadar dan menanyainya tentang rumput mustika itu.

Tetapi alangkah kejutnya ketika tubuh Blo'on tak berada ditempatnya dan sebagai gantinya tampak seorang gadis tengah duduk termenung-menung memandang permukaan telaga. Orang aneh itu gunakan ilmu meringankan tubuh, menghampiri ke belakang sigadis atau Hong-ing. Dan akhirnya terjadilah peristiwa itu.

"Siapa engkau!" teriak Hong-ing seraya siapkan tinju.

"Ha, ha, baru ini kali sepanjang hidupku, seorang anak perempuan berani bertanya begitu kasar kepadaku. Biasanya tak pernah orang berani bertanya kepadaku karena aku yang selalu bertanya kepada orang !" sahut orang aneh itu.

"Lekas bilang, siapa engkau !" Hong-ing mengulang pertanyaan.

"Akan kuberitahu namaku apabila engkau mau memberi sedikit keterangan," sahut orang aneh itu.

"Soal apa ?"

"Sudah lamakah engkau berada di tepi telaga ini ?" "Sejak pagi tadi."

"Ho, kalau begitu engkau tentu melihat sesosok mayat di tepi telaga ini ?"

"Mayat ? Mayat siapa ?" "Mayat seorang anakmuda ?" "Si Blo'on ?"

"Apa itu Blo'on ?"

"Bukankah nama anak itu si Blo'on ?'

"Ngaco !" bentak orang aneh itu. "apa itu Blo'on-blo'on. Aku tak mengerti. Jawablah yang betul, mengaku tahu atau tidak mayat seorang anak muda disini ?” Hong-ing marah karena sikap orang yang begitu kasar seolah-olah seperti memberi perintah. Ia menjawab getas : "Kalau tahu bagaimana, kalau tak tahu bagaimana ?"

"Kalau tahu, lekas tunjukkan dimana mayat itu?”

"Ih garang benar engkau. Kalau aku tak mau menunjukkan, bagaimana ?"

"Akan kupaksa sampai engkau mau ?" "Kalau tak tahu ?”

"Engkau jelas bohong !" kata orang aneh itu, "karena jelas malam tadi mayat itu berada di sini."

"Aku tak tahu, engkau mau apa!" Hong-ing melengking. "Engkau bohong “

Sebenarnya Hong-ing berkata dengan sesungguhnya tapi karena ia marah atas sikap orang aneh itu, iapun menantang: "Ya, aku memang bohong, engkau mau apa ?"

"Ho, budak perempuan, rupanya engkau belum kenal kelihayanku!" kata orang aneh itu seraya ulurkan tangan hendak menyambar tangan Hong-ing. Tetapi dara itu cepat menyurut mundur.

"Uh, engkau pandai silat juga?"dengus orang aneh itu agak terkejut karena sambarannya luput. Lalu ia ulangi lagi dengan sebuah lompatan seraya menerkam. Tetapi tetap Walet-kuning Hong-ing dapat menghindar.

"Eh, engkau benar-benar pandai ilmu silat ? Siapakah perguruanmu ?" orang aneh itu berhenti dan berseru.

"Perlu apa engkau bertanya perguruanku?” "Agar dapat kupertimbangkan langkah, cara hukuman apa yang layak kuberikan kepadamu !"

"Wah besar sekali mulutmu, orang brewok!" seru Hong-ing, "aku murid Hoa-san-pay ..."

"O, murid Hoa-san-pay ?" teriak orang aneh itu. Sepasang matanya tampak berkedip-kedip, "kalau engkau murid perguruan lain, mungkin masih dapat kuampuni. Tetapi karena engkau murid Hoa-san pay jangan harap engkau mendapat pengampunanku!"

"Cis ! Siapa yang sudi minta ampun kepadamu !" lengking si dara.

"Kurang ajar !" orang itupun terus loncat menubruk. Kali ini Hong-ing sudah siap. Menghindar kesamping ia terus ayunkan sebelah kakinya menendang. Plak . . orang itu jatuh terguling- guling ditepi telaga. Hampir saja dia terguling jatuh kedalam air.

Cepat ia berbangkit lalu melangkah pelahan-lahan menghampiri Hong-ing, berdiri tiga langkah dihadapannya.

Orang aneh itu tegak berdiri memandang lekat pada Hong- ing. Pada lain saat, tiba-tiba ia julurkan kan dua buah jari tangannya kearah Hong-ing : "Lihatlah . . , "

Hong-ing terkejut dan tanpa sadar terpengaruh oleh kata- kata orang aneh itu. Cepat ia mencurah pandang mata kearah jari orang itu. Tiba-Tiba ia rasakan aliran hawa dingin melanda dadanya, menebarkan keseluruh urat-urat tubuhnya. Ia hendak bergerak tetapi tak mampu menggerakkan tubuh. Lemas lunglai . . . "Ho, budak perempuan, engkau sudah terkena ilmuku Jit- poh-sip-hun-ci. Ha, ha sekarang engkau sudah dalam kekuasaanku!" seru orang aneh itu.

Hong-ing terkejut tetapi tak dapat berbuat suatu apa. Jit- poh-sip-hun-ci, ia tahu juga artinya, Ialah Jari-pelenyap- sukma-tujuh-langkah. Dalam jarak tujuh langkah, ilmu gerakan jari itu dapat melenyapkan sukma, membuat orang lemas tak berkutik.

"Engkau man apa ?" serunya dengan mata menghambur kemarahan.

"Katakan dimana mayat anakmuda itu !" seru siorang aneh. "Siapa yang engkau maksudkan anakmuda itu?

"Masakan engkau tak tahu ? Dia yang membunuh ketua perguruan Hoa-san-pay itu !"

''Ih . . , " Hong-ing terbeliak kaget, "engkau tahu peristiwa pembunuhan itu ?"

"Kalau tak tahu masakan aku bisa berkata, "jawab orang aneh itu, "lekas bilang yang betul “

"Dia kecemplung dalam telaga ini !" "Lalu, mana mayatnya ?"

"Justeru akupun hendak mencari mayatnya”

"Ngaco ! Mayat itu sudah kuangkat kesini tetapi sekarang lenyap. Kalau bukan engkau yang mengambil, siapa lagi ?"

"Hai, benarkah mayat itu sudah berada ditepi telaga sini ?" teriak Hong-ing.

"Jangan berpura-pura!" hardik orang aneh itu "lekas katakan dimana engkau menyembunyikannya “ Cepat Hong-ing hendak menyangkal tetapi pada lain kilas tiba-tiba ia mendapat pikiran. "O, sudah kukubur !" serunya.

"Dimana ?"

"Diujung hutan sana !" "Bawa aku kesana !"

"Tidak !" sahut Hong-ing getas.  "Mengapa?" orang aneh itu terkesiap heran. "Aku tak dapat berjalan."

"O," rupanya orang aneh itu teringat kalau dara itu terkena tutukan jarinya, "tak apa, akan kupondong engkau kesana."

"Tidak sudi, tidak sudi !" teriak Hong-ing

"Masakan engkau mampu meronta kalau ku pondong ..." "Kalau engkau berani menjamah tubuhku, lebih baik aku

bunuh diri menggigit lidahku sendiri!"

"Lalu maksudmu ?"

Halaman 51-58 sobek

"Kenal baik sekali. Mereka sering berkunjung kemari," kata Him Pa.

Blo'on terbelalak : "Kalau begitu paman tentu akan menangkap dan menyerahkan aku ke markas Hoa-san-pay ?"

"Tidak," sahut Him Pa.

"Tidak ? Mengapa ? Bukankah paman bersahabat baik dengan mereka ?" tanya Blo'on. "Kutahu engkau jujur," jawab Him Pa, "karena dengan terus terang engkau menceritakan tentang pembunuhan yang terjadi pada diri Kim kaucu. Tetapi apakah engkau benar- benar tidak membunuhnya?

"Sungguh mati, paman. Aku berani bersumpah kalau tak merasa membunuh ketua Hoa-san-pay."

"Baiklah, aku percaya padamu . . , " baru Him Pa berkata sampai disitu tiba-tiba ia terkejut bangun, "ada orang datang. Ah, kemungkinan tentu orang Hoa-san-pay yang hendak mencarimu."

"Celaka !" Blo'on mengeluh, "bagaimana aku dapat lolos ?" Sejenak kebaikan pandang mata, Him Pa cepat menyuruh

Blo on : "Lekas engkau menjadi harimau kumbang itu . . . "

"Hah?" Blo-on terbelalak kaget, "bagaimana aku dapat menjadi harimau ?"

Sambil mendorong Blo'on ketempat harimau kumbang, Him Pa berjongkok, membuka kulit harimau. mengambil rumput dan cepat suruh Blo'on memakai kulit harimau dan mendekam disudut bilik.

Him Pa tak tunggu Blo'on melakukan perintah, ia terus keluar karena pintu diketuk orang.

"Ah, kiranya Han lotiang yang datang," sen Him Pa ketika melihat tetamu itu atau Beruang-sakti Han Tiong, tetua nomor dua dari Hoa-san-pay.

Sambil mengiakan, Beruang-sakti Han Tionj melangkah masuk : "Bagaimana Him Pa, banyak memperoleh binatang buruan ?"

"Lumayan, lotiang," sahut Him Pa seraya membawa tetamunya masuk kedalam bilik. Mereka duduk dikursi. "Tak sari-sarinya lotiang berkunjung kemari pada saat hari semalam ini. Tentulah lotiang mempunyai urusan yang penting," Him Pa membuka pembicaraan.

"Benar, Him Pa, aku hendak mencari seorang anakmuda." Him Pa tahu siapa yang dimaksud orangtua dari Hoa-san-

pav itu. Namun ia tetap tenang, tanyanya pula : "Mengapa

dia, lotiang ?"

"Hm, anak itu kurang ajar sekali, berani masuk kedalam markas Hoa-san-pay dan melukai beberapa anakmurid. Hendak kuringkus dan kubawa nya naik ke markas untuk menerima hukuman. Mendengar itu Blo'on menggigil. Kalau Him Pa menunjukkan dirinya, tentu ia akan tertangkap orang Hoa-san-pay lagi.

"Apakah engkau tak melihatnya? Apakah datang kemari “ tanya Beruang-sakti.

"Akupun baru saja pulang dari berburu, lo tiang. Dan dirumah ini tiada orang yang datang."

"Aneh," gumam Beruang-sakti Han Tiong, "padahal jelas dia membawa Walet-kuning Hong-ing, murid perempuan Hoa-san- pay turun gunung."

"Walet-kuning Hong-ing dibawanya? Aneh, bagaimana hal itu dapat terjadi ?" seru Him Pa.

"Ketika kami kepung anak liar itu, tiba-tiba saja dia mendapat akal untuk menawan Hong-ing dijadikan sandera."

"Dan keempat lo-tiang membiarkan saja ?" tanya Him Pa. "Ya, karena menurut Pui suheng, anak itu telah terkena

cengkeraman Tok-jiau-kang yang beracun Dalam beberapa jam dia tentu mati. Mengapa ia tak kelihatan, pun Hong-ing juga tak tampak" "Ah, kemungkinan nona Ci telah sengaja menunjukkan jalan yang salah kepadanya. Kalau tidak mereka tentu lewat disini. Eh, maaf, taruh kata lewat, apabila pada siang hari, jelas kalau aku tak melihat mereka karena sejak pagi aku sudah keluar berburu dan petang ini baru pulang"

"Kalau begitu, apabila engkau melihatnya, supaya engkau tahan dan antarkan ke atas gunung."

"Baiklah, lo-tiang, apa pesan lo-tiang tentu akan kulakukan dengan sungguh hati," kata Him pa lalu menuju ke dapur dan tak lama masuk kembeli membawa hidangan arak: "Maaf, lotiang, hanya dapat menghidangkan arak dingin, untuk sekedar penghilang-haus saja."

Jika kedua orang itu enak-enak menikmati arak, adalah Blo'on yang setengah mati. Mendekam dan memakai kulit hariamau, ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Panasnya bukan kepalang sehingga keringatnya bercucuran deras membasahi sekujur tubuh.

Tiba-Tiba saja ia ingin kencing. Perutnya yang penuh terisi air sekendi dan bubur cair sepanci mulai kembung dan hendak mintn keluar. Celaka, bagaimana nih ? Kalau ia kencing, airnya tentu mengalir dan tentu diketahui Beruang-sakti. Namun kalau ditahan, perutnya terasa mulas. Dalam hati tak henti- hentinya ia memaki dan menyumpahi kakek Beruang-sakti mengapa tak lekas pergi.

"Hm, mungkin pemburu itu memang sengaja hendak menyiksa aku. Kalau tidak mengapa ia terus menerus mengajak bicara kakek itu ? Bukankah lebih lekas disuruh pergi, lebih baik bagiku?" gumamnya panjang pendek dalam hati. Blo'on benar tak kuat menahan keluarnya air kencing. Pada detik-detik yang tegang sehingga wajahnya merah padam, tiba-tiba Beruang-sakti Han Tiong berkata : "Him Pa, karena sudah malam, aku terpaksa pamit".

"Lotiang hendak pulang ke markas ?"

"Mungkin tidak. Aku hendak melanjutkan pengejaran kepada anak liar itu. Tolong saja sewaktu-waktu melihat mereka supaya engkau bawa kemarkas kami."

"Baik, lotiang, "kata Him Pa-seraya ikut berbangkit hendak mengantarkan tetamunya keluar. Tiba-Tiba tetua nomor dua dari Hoa-san-pay itu berhenti, memandang kesudut. ruangan : "Eh, Him Pa, itu hari-mau hidup atau mati ?"

Sambil berkata, rupanya karena tertarik akan harimau yang mendekam itu, Beruang-sakti Han Ti ong segera menghampiri.

"O, itu kulit harimau yang sengaja kuutuhkan dan kuisi dengan rumput kering," kata Him Pa tertawa cemas.

"Buat apa ?"

"Selain untuk hiasan, pun dengan adanya harimau itu, rupanya tikus-tikus tak berani datang. Begitu pula untuk menakuti apabila ada pencuri masuk."

"Ah, benar-benar seperti hidup, " Beruang-sakti Han Tiong hendak mendekati dan julurkan tangannya hendak mengelus- elus kepala harimau itu.

Jika ada petir berbunyi saat itu, tidaklah lebih mengejutkan hati Blo'on daripada ketika tangan Beruang-sakti hendak mengelus kepalanya. Rasa ingin kencing yang sudah tak kuasa ditahannya tadi tiba-tiba lenyap seketika.

Prang . . tiba-tiba terdengar suara berkerontangan dan tiba- tiba ruanganpun gelap gelita. Lampu yang terletak di atas meja, mencelat jatuh ke lantai dan padam. Dan serentak terdengar suara Him Pa berseru kaget : "Ai, sial. tanganku

membentur lampu. Maaf, lotiang, kamar menjadi gelap."

Rupanya Beruang-sakti tak pernah menyangka bahwa jatuhnya lampu kelantai itu karena sengaja ditampar Him Pa. Agar dapat membatalkan niat Beruang-sakti mengelus   kepala harimau. Dan memang Beruang sakti terkejut lalu  urungkan

keinginannya. Ia melangkah kepintu dan keluar   dari   bilik. Ketika

pamit, ia mengulangi pula permintaannya supaya Him Pa memperhatikan anak liar yang melarikan Hong-ing itu.

Setelah tetamu pergi, barulah Him Pa masuk kedalam bilik lagi. Ia memperbaiki lampu lalu di-sulutnya pula. Ketika memandang ke sudut ruang, ia berteriak kaget : "Hai, kemana harimau itu . . ?"

Ternyata kulit harimau yang berisi Blo'on, lenyap dari sudut bilik. Him Pa cepat mencari ke belakang. Juga tak ada. Keluar halaman muka, pun tak tampak. Ia mencari kesekeliling pondok tetap tak ketemu. Akhirnya ia kembali masuk ke dalam bilik dan astaga . . . harimau itu sudah berada dalam bilik tetapi tidak lagi mendekam melainkan duduk di ranjang kayu.  "Hai, kemana engkau tadi ?" tegur Him pa. "Ke sumur di belakang rumah."

"Mengapa ?" Him Pa heran.

"Maaf, paman, karena perut penuh air dan bubur cair, tadi aku hendak kencing. Ketika kakek Hoa san-pay hendak mengelus kepalaku. Karena ta kut, aku sampai terkencing di celana. Celana terpaksa kucuci di sumur dan aku harus pinjam kulit harimau untuk malam ini . . .

Him Pa hanya tertawa. Demikian dalam pembicaraan selanjutnya, Blo'on mengatakan tentang penyakit aneh yang dideritanya. Him Pa juga heran.

"Di kota Song-hian-koan kudengar ada seorang imam yang pandai mengobati' segala penyakit aneh, dapat mengusir setan dan lain-lain ilmu yang aneh. Cobalah engkau kesana, barangkali penyakitmu yang aneh itu dapat disembuhnya," kata Him Pa.

"Jauhkah tempat itu dari sini?" tanya Blo'on

"Tidak," sahut Him Pa. "begitu turun kaki gunung, berjalan ke utara kira-kira sepuluh li, tentu sudah tiba di kota itu."

"Lalu siapakah nama imam itu ?"

"Tanya saja pada penduduk disitu. Setiap orang tentu kenal pada imam sakti itu."

"Paman, mengapa engkau melindungi aku dari kejaran kakek Hoa-san-pay tadi ?" tanya Blo'on pula, "Bukankah paman bersahabat baik dengan mereka dan baru saja kenal padaku ?”

Him Pa berkata : "engkau terluka dan kutolong kemari. Kalau menolong orang, aku tak mau kepalang tanggung. Maka engkau kusembunyikan Tetapi ingat ! Apabila terbukti bahwa memang engkau yang membunuh ketua Hoa-san-pay itu, aku tentu akan menangkapmu "

Tengah malam ketika sedang pulas tidur, Blo'on dikejutkan oleh suara aum harimau yang dahsyat. Cepat ia bangun dan mencari Him Pa tetapi pemburu itu tak berada dalam rumah.

"Paman, kemana engkau? Ada harimau hendak menyerbu rumah ini !" serunya. Tetapi Him Pa tak menyahut, entah kemana.

"Celaka harimau suka makan orang. Apakah paman pemburu itu sudah dimakan harimau?"pikirnya

Aum . . . aummmm, harimau makin dekat dan masuk kedalam halaman.

"Mati aku . . . !" Blo'on makin ketakutan. Ia lari kian kemari kebingungan. Tiba-Tiba ia teringat kalau masih memakai kulit harimau, "ah, terpaksa aku harus menjadi harimau juga. Harimau bertemu harimau, tentu tak mau memakan ..."

Karena kulit harimau itu dibuat sedemikian utuh maka seluruh kepala dan tubuh Blo'on dapat tertutup rapat dan jadilah ia seekor harimau.

Aum . . . harimau yang sungguh itu pun masuk kedalam pondok ....

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Pahlawan Gurun (Han Hay Hiong Hong)] akan diupload pada jam 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 04 Aneh bin ajaib"

Post a Comment

close