Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid ke 27 Perang ....

Mode Malam
Jilid ke 27 Perang ....

Ah Liong memang mengkal melihat sikap dan tingkah laku yang baru datang itu. Waktu pertama kali nona itu mengerlingkan mata memandang sekalian orang, waktu tiba pada gilirannya, Ah Long sudah menyengirkan hidung. Tetapi tupanya Ma Giok Cu tak sempat memperhatikan.

Waktu kedua kalinya Ma Giok Cu mengeliarkan pandang lagi, Ah Liong sengaja deliki mata dan leletkan lidahnya seperti setan. Dan ternyata memang Ma Giok Cu terkejut dan tertarik perhatiannya.

"Hai, apa-apaan engkau, setan cilik!" teriak Su Hong Liang makin marah.

"Kenapa sih?" balas Ah Liong.

"Mengapa engkau berani menyengir kepadaku?"

"Lho, aku kan menggunakan hidungku sendiri untuk menyeringai, apa tidak boleh?" "Itu berarti menghina aku!"

"Aneh," gerutu Ah Liong, "orang menyeringai dengan hidungnya sendiri, dituduh menghina. Apa engkau merasa terhina?"

"Tentu!"

"Engkau merasa terhina bagaimana?"

"Engkau seorang bocah liar berani menghina aku dan nona Ma, puteri mentri besar dari kerajaan Beng."

"Aku tidak memaki dan tidak mencelah ke padamu dan kepada nona itu. Aku menyeringai dengan hidungku sandiri. Uh, bung, jangan main kuasa seperti pembesar saja!"

"Rangket bangsat cilik itu!" teriak Su Hong Liang kepada kedua pengawalnya. Dan Hun Ti Siang yang tadi belum selesai perkelahiannya, dengan Ah Liong, maju menghampiri lagi.

"Berhenti tiba2 Huru Hara membentak "Jangan main sewenang-wenang!"

“O, engkau hendak membela adikmu?" seru Hun Ti Siang.

"Ya," sahut Huru Hara, "jika tadi engkau hendak melawannya, aku sih tak keberatan Tetapi kalau sekarang, lain halnya."

"Mengapa lain ?"

"Kalau tadi, itu soal mengadu kegagahan, siapa yang lebih sakti. Tetapi sekarang, engkau bukan lagi seorang jago, melainkan seorang alat dari tuanmu yang sewenang- wenang itu. Coba bilang, apakah orang yang menyeringai dengan hidungnya seudiri itu melanggar undang2. Kalau melanggar, aku ingin tahu, undang2 kerajaan manakah itu

!"

"Bagussss . !" tiba2 terdengar lengking seorang dara. Dan ketika sekalian orang memandang kearahnya, ternyata yang berseru memuji itu adalah Ah Liu, pelayan Su Tiau Ing.

Ma Gioa Cu deliki mata kepada dara itu, lalu bertanya kepada Su Hong Liang, "Eagkoh Liang, siapakah orang yang dandanannya seperti pendekar kesiangan itu ?"

"Dia adalah engkoh dari bocah liar itu," sahut Su Hong Liang.

"O, pantas," kata Ma Giok Cu," adiknya kuncung, engkohnya punya rambut seperti dua buah tanduk, hi, hi, hi

..... "

"Dengar ! Bukankah nona itu menghina aku? Ai mengapa engkau tak berani menindaknya tetapi hanya berani menindak adikku,” tegur Huru Hara.

"Jangan banyak mulut!” Hun Ti Siang terus memukul, krak .....

Huru Hara tak senang melibat tingkah Hun Ti Siang yang berandalan itu. Maka ditangkisnya pukulan orang she Hun itu, Akibatnya Hun Ti Siang menjerit keras, terhuyung-huyung sambil mendekap lengan kanannya yang tulangnya patah.

Su Hong Liang terkejut. Kedua pengawalnya, si tinggi besar Thay-san dan kini si Pasir-api Hun Ti Siang, telah dirubuhkan oleh Huru Hara dalam sekali gebrak saja. Dia marah. Tetapi sebelum sempat bertindak, Bok Kian sudah menyelutuk, "Su-heng, sudahlah, kita ini kan orang sendiri, mengapa harus saling bermusuhan ? Yang penting kita harus lekas mengerjakan tugas kita masing2." Kemudian dia terus hendak mengajak Huru Hara berangkat. Tetapi tiba2 Ma Giok Cu mencegahnya, "Tunggu dulu !"

"O, apakah Ma siocia ada keperluan dengan kami ?" tanya Bok Kian.

"Ya, tetapi bukan dengan engkau. Kalau engkau hendak pergi, silakan pergi saja," kata Ma Giok Cu, "aku perlu dengan pendekar kesiangan itu."

Mendengar itu Huru Hara segera melangkah maju ke hadapan Ma Giok Cu, "Baik, aku pendekar Huru Hara, akan menunggu apa saja yang hendak engkau katakan !"

“Pendekar Huru Hara ?" Ma Giok kaget. "Hm," dengus Huru Hara.

"Apa engkau membuat huru hara ?" "Ya, aku memang pencari huru hara."

"Kalau begitu engkau seorang pemberontak.” "Ya, memang aku seorang pemberontak." "Jangan guyon,” teriak Ma Giok Cu.

"Siapa yang ada waktu guyon ? Aku memang tukang membuat huru hara. tukang berontak. Tetapi yang kuberontak adalah peristiwa2 ketidak-adilan, manusia2 yang jahat dan lalim!”

"Hai, bung, jangan kurang ajar. Ma su Ing adalah puteri dari mentri tay- haksu Ma Su Ing tayjin," seru Su Hong Liang.

"Kalau dia seorang puteri tay-haksu. lalu engkau suruh aku bagaimana ? Pay kui atau menyembah dibadapannya ? Seperti halnya dengan kau sendiri. Engkau adalah keponakan dari mentri pertahanan Su Go Hwat tayjin. Tetapi yang mentri itu adalah Su tayjin, bukan engkau. Engkau bukan orang berpangkat, jangan main kuasa, jangan seperti seorang pembesar !"

Marah padam wajah Su Hong Liang disemprot begitu tajam oleh Huru Hara.

"Kuperingatkan, engkau masih mempunyai perhitungan yang belum selesai dengan aku. Engkau berani membunuh penjahat yang kutangkap. Padahal dari mulut panjahat itu tentu dapat kuketahui siapa yang menyuruh membunuh Bok kong ," kata Huru Hara lagi.

Belum Su Hong Liang menyahut, Ma Giok Cu sudah berteriak, "Apa ? Engkau hendak mengganggu engkoh Liang ?

"Ya," sahut Huru Hara, "apa hubungan dengan engkau

?"

"Kalau tak ada hubungannya masakan aku mau turut

campur, Engkau boleh mengganggu siapun kecuali engkoh Liang!” !"

Mendengar itu tersipu-sipulah Su Hong Liang. Tampak Su Tiau Ing melengos.

“Soal itu, jangan kita bicarakan dulu," ka Huru Hara," sekarang apa yang nona hendak katakan kepadaku ?"

"Sekali tepuk dua lalat," seru Ma Giok Cu, "aku memang hendak menjajal kepandaianmu. Menilik engkau berdandan sebagai seorang pendekar nyentrik dan bernyali besar kalau bicara, tentulah engkau memiliki kepandaian sakti. Dan kebetulan pula engkau hendak mengganggu engko Liang. Maka ingin aku mencoba kepandaianmu.” "O, begitu," kata Huru Hara, "aku tidak cari huru hara, tetapi huru hara yang mencari aku. Baiklah, nona, aku menurut saja."

"Lau-ma, silakan menghajar adat kepada pendekar kesiangan iau," seru Ma Giok Cu seraya berpaling kepada wanita setengah tua.

"Baik," kata wanita itu seraya maju kehadapan Huru Hara.

"Apakah wanita ini yang nona perintahkan untuk menguji aku?" seru Huru Hara terkejut. Ma Giok Cu mengiakan.

"Maaf aku tak mau," kata Huru Hara terus berputar tubuh dan hendak melangkah.

"Tunggu!" teriak Ma Giok Cu, "mengapa engkau menolak bertempur dengan Lau-ma?"

"Aku paling segan bertempur dengan wanita. kalau nona mengajukan jago lelaki, biarpun berapa orang maju, aku mau melayani. Tetapi kalau wanita, maaf saja "

"Eh, bung, jangan menghina aku," seru wanita yang dipanggil Lau-ma itu, "apa engkau kira aku tak mampu menghajar engkau?"

"Aku tidak mengira begitu. Hanya aku memang segan bertempur melawan wanita."

"Hm, jangan menghina!" seru Lau-ma, "kalau dalam sepuluh jurus aku tak dapat merubuhkan engkau, engkau boleh bebas!"

"Ah , " Huru Hara mendesah.

"Lekas bersiap!" bentak Lau-ma. Kemudian ia mulai membuka serangan. Gayanya lemah gemulai seperti tak bertenaga ketika sepasang tangan Lau-ma menari-nari mengarah kepada Huru Hara. Tetapi ternyata Huru Hara terteliak kaget ketika ia merasa keduabelas jalandarah tubuhnya yang penting seperti dibayangi oleh jari jemari wanita itu.

Beberapa tokoh yang berada ditempat itu terkejut menyaksikan permainan yang aneh dari wanita yang disebut Lau-ma. Tetapi tiada seorang pun yang tahu ilmusilat apakah yang dimainkan Lau-ma.

"Sin-ci-kui-ing!" tiba2 salah seorang yang datang bersama Su Hong Liang, yalah seorang lelaki setengah tua yang bermata tajam, berseru tertahan.

Sin-ci-kui-ing artinya Bayangan-jari- setan. Sebuah ilmusilat yang hampir sudah tak ada lagi dalam dunia persilatan.

Crek, crek . . . . dua buah jalandarah pada bahu dan pinggang Huru Hara tertutuk sehing Huru Hara terhuyung. Tetapi Lau-ma sendiri juga mengerut dahi.

Walaupun tusukan jarinya dapat mangenai jalandarah tubuh orang, tetapi Lau-ma rasakan jarinya itu seperti terlanda oleh suatu arus tenaga yang kuat sehingga lengannya hampir lunglai. Ia benar2 terkejut.

Dan lebih terkejut pula ketika maju manyerang lagi, ternyata Huru Hara juga sudah siap tempur pula.

"Ih, jelas dia terkena tutukan jariku, mengapa dia masih tetap segar bugar?" pikir Lau-ma.

Cret, cret .....

Kembali dua buah tutukan jari Lau- ma nyasar pada dada dan iga Huru Hara. Huru Hara mendesis dan terhuyung mundur. Tetapi Lau-ma pun tertegun. "Aneh, aneh benar," gumamnya dalam hati. Mengapa setiap kali jarinya mengenai tubuh Huru Hara tentu tubuh orang itu memancarkan arus tenaga refleks.

"Baru dua jurus," seru Huru Hara, hayo lanjutkan lagi sampai sepuluh jurus."

Lau-ma makin penasaran. Jarinya menari-nari bagaikan beratus bayang2 setan menyambar maut. Huru Hara tetap tak membalas menyerang, hanya menghindar saja. Namun cara menghindar setelah melalui dua jurus serangan lawan, sudah mulai teratur.

"Siocia, ilmusilat apakah yang dimainkan wanita itu?" tanya Ah Liu kepada Su Tiau Ing. Ah Liu sejak kecil ikut pada keluarga Su. Walau pun seorang pelayan tetapi dalam pergaulan sehari-hari dia lebih menyerupai seorang kawan daripada dajang. Dan memang Su Tiau Ing tidak menganggapnya sebagai pelayan tetapi seorang kepercayaan. Oleh karena Tiau Ing tak punya saudara laki ataupun perempuan, dia sayang pada Ah Liu.

Sebenarnya mentri Su Go Hwat tak mempunyai pikiran untuk memberi pelajaran ilmusilat kepada puterinya. Apalagi sebagai seorang mentri pertahanan, dia sibuk dengan tugas2 negara.

Tetapi pada suatu hari datanglah seorang rahib yang hendak minta idin dan sumbangan pada mentri Su guna membangun sebuah vihara. Kebetulan mentri Su tak dirumah. Penjaga2 menolak kedatangan rahib itu secara kasar. Terjadi ribut2. Kebetulan Su Tiau Ing yang waktu itu baru berumur 10-an tahun lari dari dalam. Dia tidak melihat ada ribut2 di depan pintu itu. Entah karena apa, kaki Tiau terselimpat dan jatuh. Rupanya keras juga jatuhnya itu hingga dia pingsan. Melihat itu rahib memaksa hendak maju untuk menolong tetapi penjaga tetap merintangi. Rupanya rahib itu hilang kesabarannya. Sekali dorong beberapa penjaga yang bertubuh kekar terpelanting jatuh mencium lantai. Rahib mendukung Tiau Ing dibawa masuk.

Sebenarnya rahib itu hendak menyembuhkan Tiau Ing yang menderita gegar otak tetapi penjaga2 yang dihajar tadi datang pula dengan membawa belasan prajurit. Mereka hendak menahan rahib itu. Rahib terpaksa menghajar mereka sampai pontang panting. Kemudian rahib itu memberi pertolongan pada Tiau Ing, meminumkan obat dan mengurut-urut tubuhnya.

Dua jam kemudian datanglah mentri Su heran melihat keadaan rumahnya yang kacau seperti habis dijadikan gelanggang pertempuran. Bujang tua memberi laporan tentang peristiwa yang terjadi di gedung kediamannya mentri. Mentri terkejut dan gopoh menuju ke kamar putri. Dilihatnya Tiau Ing sedang tidur dan dijaga oleh seorang rahib setengah tua yang tengah bersemedhi..

Setelah Tiau Ing sembuh, mentri Su Go Hwa berterima kasih kepada rahib itu dan menyerahkan Tiau Ing supaya diambil anak-angkat karena rahib itulah yang telah menyelamatkan jiwa Tiau Ing.

Mendengar keterangan rahib bahwa Tiau Ing sesungguhnya mempunyai bakat tulang yang bagus untuk mempelajari ilmusilat, mentri pun mengijinkan. Sejak itu Tiau Ing diberi pelajaran ilmusilat oleh rahib itu. Ah Liu juga gemar dan dia sering mengikuti latihan2 yang dilakukan Tiau Ing. Tiga tahun kemudian rahib itu baru meninggalkan rumah kediaman mentri. Hanya kadang dia datang untuk menjenguk kemajuan ilmusilat yang dipelajari Tiau Ing. Mendengar pertanyaan Ah Liu, Tiau Ing kerutkan dahi, "Entahlah, aku juga tak tahu. Suhu pun tak pernah menceritakan tentang ilmusilat semacam itu."

"Tetapi pendekar aneh itu lebih istimewa siocia," kata  An Liu, lihattah, dia tak mau balas menyerang dan membiarkan dirinya diserang oleh wanita itu. Dan anehnya diapun dapat mengikuti segala gerak dan gaya serangan lawan. Hm, ilmusilat wanita itu aneh tetapi gerak gerik pendekar itu lebih aneh lagi."

"Ya, kini kita baru mendapat pengalaman bahwa ilmu silat itu tak terbatas tingginya alirannyapun bermacam- macam. Engkau harus berlatih pelajaran silat yang engkau miliki itu, Liu," kata Tiau Ing.

"Tentu, siocia," kata Ah Liu, "atau memang berpendapat bahwa penting bigi kita kaum wanita yang dianggap lemah itu memiliki ilmu - untuk bela diri. Kalau perlu untuk menyikat orang jahat,"

"Ah Liu, lihatlah ," tiba2 Tiau Ing berseru supaya Ah

Liu memperhatikan gelanggang pertempuran.

Ternyata pada waktu keduanya bercakap-cakap itu pertempuran sudah mencapai delapan jurus. Wanita itu tetap tak mampu merubuhkan Huru Hara.

"Masih dua jurus lagi," seru Huru Hara, "hayo, keluarkanlah semua kepandaianmu !"

Tiba2 wanita itu hentikan serangannya. berdiri tegak, pada lain saat dia mulai menjambaki rambutnya sendiri, menarik-narik telinga dan hidungnya. Sepasang matanya berobah mengerikan dan sekonyong- konyong dia meringkik-ringkik seperti setan kelaparan. Sekalian orang yang berada di tempat itu seketika seperti orarg yang kena pesona. Mereka terlongong-longong kehilangan semangat dan kesadaran pikirannya.

Tampak Huru Hara sesaat juga kesima. Wajahnya kosong. Tetapi beberapa saat kemudian air mukanya mulai merah berseri lagi.

Melihat itu wanita Lau-ma menerjangnya lagi dengan masih meringkik-ringkik seperti binatang buas.

Rupanya Huru Hara mengkal. Diapun menirukan gaya orang, ikut meringkik-ringkik. Sepinlas pandang, kedua orang itu mirip dengan dua sosok setan yang sedang bercanda.

Bluk , . beberapa saat kemudian tiba2 wanita itu jatuh terduduk dan pejamkan mata. Mukanya pucat lesi.

Huru Hara juga pejamkan mata tetapi masih berdiri tegak.

"Lau ," baru Ma Giok Cu hendak memanggil wanita

itu mengangkat tangan memberi isyarat supaya gadis itu jangan menganggunya dulu.

Ma Giok Cu terkejut. Ia tahu kalau Lau-ma itu menderita luka- dalam, atau paling tidak kehabisan tenaga.

"Hm, bangsat itu harus kuhajar. Mumpung dia sedang pejamkan mata memulangkan tenaga, harus kudahului," pikir Ma Giok Cu. Diam2 dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan senjata rahasia yang bentuknya seperti biji teratai, namanya thi-lian-cu. Sekali ayun, ia taburkan thi- lian-cu kearah Huru Hara.

Tetapi serempak dengan itu sesosok tubuh kecil berayun ke tempat Huru Hara dan menyeruduk kaki Huru Hara hingga Huru Hara terpelanting. "Gila engkau, Ah Liong ! Mengapa engkau menanduk aku ?" teriak Huru Hara serta tahu apa yang membentur kakinya itu.

"Jangan salah faham engkoh: Gadis itu, lempar benda kecil kepadamu, lihatlah buktinya.” Ah Liong lari menjemput sebatang thi-lian-cu yang jatuh di tanah, diberikan kepada Huru Hara.

"Hm, siapakah yang hendak menyerang secara menggelap kepadaku itu ?" tanyanya.

"Gadis itu !" Ah Liong menuding kearah Giok Cu. "Benarkah itu, nona ?" tegur Huru Hara

"Ya," jawab Ma Giok Cu, "siapa suruh kau melukai Liu- maku ?"

''Siapa yang melukainya ?" 'Engkau !"

"Hm, mentang2 engkau ini puteri seorang mentri lalu seenakmu sendiri saja menuduh orang. Engkau dan sekalian orang yang berada tentu tahu, bahwa wanita itu yang menyerang aku hanya bertahan. Dia terluka karena ulah-tingkahnya sendiri yang hendak mempertunjukkan ilmu Setan-meringkik."

"Hm, engkoh Liang, tolong tangkapkan pendekar liar itu," tiba2 Tiau Ing berseru.

Setelah menyaksikan kepandaian Huru Hara menghadapi Thay-san. Hun Ti Siang dan terakhir Lau-ma, tergetarlah hati Su Hong Liang. Ia tahu kenapa Thay-san yang bertenaga seperti gajah, ia-pun kenal siapa Hun Ti Siang yang punya pukulan berhawa panas seperti api. Ia pun pernah mendengar bahwa Lau-ma, inang pengasuh yang memomong Ma Giok Cu sejak kecil, adalah suhu dari Ma Giok Cu. Memang kabarnya Lau-ma itu dulu berasal dari isteri seorang ketua perguruan silat dan memiliki kepandaian tinggi. Apa yang di lihatnya tadi, membuktikan bahwa kabar2 tentang diri Lau-ma itu memang sungguh terbukti kebenarannya .

Setelah tiga jago itu berturut-turut dikalahkan Huru Hara, Su Hong Liang sadar kalau Huru Hara itu selain pendekar aneh memang seorang jago silat yang luar biasa anehnya.

Sebenarnya seruan Ma Giok.Cu itu membuat Su Hong Liang salah tingkah. Kalau ia menurutinya, ia sungkan kepada Su Tiau Ing. Tentulah Tiau Ing akan menuduh dia menerima cinta Ma Giok Cu. Padahal, diam2 dia suka kepada Tiau Ing yang lebih cantik.

Dengan modal wajahnya yang tampan dan pandai bicara, Su Hong Liang memang banyak menjadi rebutan para siocia2 (gadis2 orang berpangkat), termasuk Ma Giok Cu puteri dari mentri tay-haksu (perdana mentri) Ma Su In yang paling berkuasa di kerajaan.

Su Tiau Ing lebih halus dan ramah, Ma Giok Cu manja dan berhati tinggi. Tetapi karena takut dan perlu menggunakan kekuasaan ayahnya (Ma Su Ing), Su Hong Liang memerlukan Ma Seng Ing juga.

"Engkoh Liang, jangan, orang itu hebat sekali kepandaiannya.," Su Tiau Ing mencegah. Mendengar itu marahlah Ma Giok Cu," Apa? Engkau berani melarang engkoh Liang ? Hm, kalau aku yang minta tolong, engkoh Liang tentu bersedia, Kutahu bagaimana hati engkoh Liang terhadap diriku."

"Terserah, itu urusan kalian," sahut Tiau Ing," tetapi sebagai saudara. aku berhak untuk memikirkan kepentingan engkoh Liang." "Saudara ? Hm, kalau engkau tahu bagaimana janji engkoh Liang kepadaku, engkau tentu malu mengatakan begitu. Apa sih hak seorang saudara saja ?" bantah Ma Glok Cu.

Su Hong Liang terkejut. Ia hendak membantah. Karena selama ini tak pernah ia memberi satu janji kepada Ma Giok Cu, walaupun hubungannya baik. Ia tahu puteri mentri tay- hak Ma Su Ing itu memang jatuh hati kepadanya.

Mendengar perang mulut antara kedua sio-cia itu, Su Hong Liang makin bingung. Untung saat itu salah seorang dari kawannya yang bertubuh kecil tegap, segera berseru. "Su kong-cu, serahkan manusia itu kepadaku , ..."

"O, terima kasih Ciong wisu," sahut Su Hong Liang legah.

Orang itu bernama Ciong Wi Ho, menjabat angkat wi-su (pengawal keraton). Sebenarnya sebagai wi-su, dia harus menjaga keselamatan raja tapi ternyata dia diambil oleh Ma Su Ing untuk menjaga pengawal peribadinya.

Tak mudah menjadi anggauta wi-su dalam keraton. Tentu jago yang berkepandaian tinggi baru dapat diterima. Dan Ciong Wi Ho itu memang hebat kepandaiannya. Dia seorang jago ilmusilat kun (kera) yang tiada tandingannya.

Rupanya Su Hong Lang masih kuatir kalau-kalau Ciong Wi Ho kalah. Dia segera suruh kedua pengwalnya, Thay- san dan Hun Ti Siang untuk membantu. Hun Ti Siang terus saja maju ke tempat Huru Hara tetapi Thay-san menolak.

"Hai, kenapa engkau ?" tegur Su Hung Liang.

"Dia seorang pendekar yang jempol. Aku kagum kepadanya," sahut si tinggi besar. "Lalu engkau takut ?"

"Bukan takut tetapi aku memang harus menghormati seorang jago yang hebat."

"Lho, engkau ini kan orangku. Mengapa kau tak mau kuperintah ?" seru Su Hong Liang.

"Banat., kongcu," sahut si tinggi besar Thian san," tetapi dulu kan aku sudah berjanji. Aku minta kebebasan untuk memilih musuh. Dan lagi, sewaktu-waktu aku dapat minta berhenti. Bukan kongcu meluluskan ?"

"Gila I" teriak Su Hong Liang, "saat ini justeru tenagamu diperlukan mengapa engkau hendak membelot ?"

"Suruhlah aku menempur siapa saja tapi jangan dengan pendekar itu."

"Engkau takut. bukan? Cis, pengecut !"

"Bukan takut tetapi aku kagum kepadanya. Terhadap orang yang kukagumi aku tak bisa menyerangnya."

"Apa yang engkau kagumi ? Kepandaiannya? Huh, apa arti kepandaian seseorang ,saja ? Aku lebih punya kekuasaan dari dia, Aku mempunyai paman seorang mentri pertahanan. Dan ayah Ma Giok Cu siocia itu adalah mentri yang paling berkuasa. Kalau engkau mau kerja kepadaku, kelak engkau tentu akan mendapat pangkat yang tinggi."

"Terima kasih, kongcu," sahut si tinggi besar, "aku sudah biasa hidup berkeliaran di hutan gunung Thay-san. Aku tak menginginkan pangkat yang tinggi. Aku bingung kalau menjadi pembesar "

'Hi, hi, hi ..... ," tiba2 terdengar suara yang tertawa mengikik.

Ketika Hong Liang berpaling ternyata yang tertawa itu adalah si dara Ah Liu. "Engkau budak gila ! Mengapa tertawa ?" seraya deliki mata.

"Geli kongcu," sahut Ah Liu. “Geli apa ?"

"Bahwa ternyata di dunia ini masih terdapat orang yang berhati polos seperti si tinggi besar itu. Orang lain berlomba- lomba hendak mencari pangkat dia malah tak mau mendapat pangkat karena bingung kalau menjadi pembesar, hi, hi, ”

"Itu baru seorang yang perwira !" tiba2 pula teriak melengking. Ketika Hong Liang waling ternyata yangberseru itu adalah sisetan kuncung, Ah Liong.

"Bangsat cilik, jangan ikut campur!" teriak Su Hong Liang.

"Aku punya mulut, punya telinga. Siapa yang larang aku tertawa dan bicara ?" sahut Ah Liong sembari bercekak pinggang.

“Jahanam engkau !” Hong Liang menuding bocah itu. "Hai. cici engkau boleh tertawa mengikik mengapa aku

dilarang oleh tuanmu itu ?" teriak Ah Liong kepada Ah Liu.

"Kalau engkau merasa bebas, silakan tertawa, "seru Ah Liu."

"Apa engkau senang kalau aku tertawa "Mengapa tidak senang ?"

"Jadi engkau setuju kan ?"

"Lho, orang senang tentu setuju," seru Ah Liong. "Belum tentu," bantah Ah Liu," aku sering mendengar orang tertawa karena tertawa itu buat orang sehat. Tetapi belum tentu aku setuju.”

"Jangan cerewet saja !" bentak Su Hong Liang. "Tuh, rasain sekarang engkau, cici !" Ah Liong. "Engkau juga, setan cilik !" bentak Hong Liong.

"Eh, hak apa engkau melarang aku tertawa dan bicara ?" Ah Liong tak sabar juga.

"Thay-san, hajar bocah liar itu !" kembali Hong Liang berseru memberi perintah. Tetapi si tinggi besar menolak lagi, "Dia tak bersalah.”

"Lho, engkau berani membantah lagi ?”

"Mengapa tidak engkau sendiri yang menghajar aku ?" lengking Ah Liong.

"Bajingan cilik, engkau kira aku tak berani?” Su Hong Liang terus maju menghampiri. "Berhenti !' tiba2 Huru Hara maju.

"Aku hendak menghajar bocah itu, bukan engkau !" "Lebih baik engkau menghajar aku saja, kalau engkau

berani. Jangan musuhi anak kecil.

"Engkoh Hok, biarkan dia maju," seru Ah Long.

"Ah Liong, jangan cari perkara," seru Huru Hara," kalau tidak mengingat pamannya, Su Go Hwat tayjin itu seorang yang bijaksana, mungkin dia sudah kuremuk tulangnya."

"Engkoh Liang, sudahlah, jangan melayani dia," seru Thu Ing. Dia kuatir akan keselamatan Hong Liang kalau bertempur melawan Huru Hara "Engkoh Liang, jangan takut. Kalau dia berani mengganggumu akan kulaporkan kepada ayah biar dia ditangkap,” Ma Giok Cu tak mau ketinggatan. Bahkan dia menunjukkan kekuasaan ayahnya.

Huru Hara tertawa, "Ho, engkau kira aku takut dengan kekuasaan ayahmu. Aku bukan bawahan ayahmu. Aku tak bersalah melanggar undang-undang, mengapa aku takut ?"

"Hai, mengapa sama dengan pendirianku ?" tiba-tiba si tinggi besar Thay-san melengking,

Ciong Beng Ho, wisu (pengawal istana) yang menyertai perjalanan Su Hong Liang, ikut bicara, "Su kongcu, kongcu masih punya tugas penting. “Kurasa tak perlu meladeni segala orang liar disini….”

Su Hong Liang memang cerdik. Dia tahu gelagat tak menguntungkan apabila tetap berkeras hendak menghadapi Huru Hara. Kedua kalinya, ia sudah mendapat firasat bahwa kemunculan ke dua gadis, puteri mentri tay-haksu Ma Su In dan puteri mentri pertahanan Su Go Hwat itu tentu akan menimbulkan kesulitan kepadanya. Ia tahu bahwa Ma Giok Cu jatuh hati kepadanya. Begitu pula Su Tiau Ing juga lebih tertarik kepadanya daripada kepada Bok Kian. Kalau nanti ia pergi bersama Ma Giok Cu, Tiau Ing tentu tak senang. Tetapi kalau dia pergi bersama Ma Tiau Ing, Ma Giok Cu tentu marah. Lebih baik ia lekas2 pergi meninggalkan kedua gadis itu.

"Baik, Ciong wisu, mari kita Ianjutkan perjalanan lagi," kata Su Hong Liang terus manceplak kudanya.

"Engkoh Liang, mengapa lama engkau tak pulang?" seru Tiau Ing.

"Engkoh Liang, ayah sangat mengharap kedatanganmu.

Ada urusan penting," kata Ma Giok Cu tak mau kalah. "Maaf, Ing moay dan nona Ma, aku masih ada suatu tugas penting yang harus kuselesaikan,” kata Su Hong Liang seraya mencongklangkan kudanya. Hong Ti Siang dan kedua wisupun mengikutinya.

"Hai, mengapa tidak ikut?" teriak Ah Liu kepada si tinggi besar Thay-san.

"Kongcu marah kepadaku. Dia tak mengajak aku," kata si tinggi besar.

Bok Kian menganggap bahwa saat itu dia harus lekas2 berangkat juga. Ia mengajak Huru Hara dan Ah Liong.

Setelah ketiga pemuda itu pergi maka Ah Liong bertanya lagi, "Hai, bung tinggi, mengapa engkau tak ikut?"

"Mengapa harus ikut? Aku belum kenal dan merekapun tidak mengajak," sahut Thay-san.

Kini yang masih berada di tempat ini Su Tian Ing bersama Ah Liu dan Ma Giok Cu bersama Lau ma yang masih duduk memulangkan tenaga.

"Mengapa engkau tidak ikut pada kongcu?" tegur Ma Giok Ca kepada Ah Liu. Sebenarnya ucapannya itu ditujukan kepada Su Tiau Ing.

"Ikut atau tidak, aku hanya mendengar perintah siociaku," sahut Ah Liu.

"Uh, silakan ajak siociamu ikut dia. Toh tak lama lagi, dia akan menjadi menantu dari mentri haksu," gumam Ma Giok Cu.

Su Tiau Ing tetkesiap. Tetapi sebelum ia membuka mulut, Ah Liu yang tahu akan isi hati tuannya segera mewakili bertanya, "Mentri taykaksu? Apakah bukan Ma Su Ing tayjin?" "Hm, apakah didalam kerajaan Beng terdapat mentri tay- haksu yang lain?"

"Ah, aku hanya bertanya, siocia. Harap jangan marah," kata Ah Liu, "jika begitu bukankah Ma Su Ing tayjin itu ayah siocia sendiri?"

"Kalau sudah tahu, mengapa harus bertanya lagi?" balas Ma Giok Cu, "engkau seorang budak mengapa mau tahu aja? Apakah engkau merasa sakit kalau Su kongcu akan menikah dengan aku?"

"Ah Liu, kita pergi . .. , " Su Tiau Ing terus loncat keatas pelana kudanya dan segera kaburkan binatang itu. Ah Liu juga mau ikut tetapi dia berpaling kepada si tinggi besar Thay-sa "Hai, bung, engkau hendak kemana?"

"Entah, aku sendiri juga tak tahu," sahut Thay- san. "Bagaimana kalau ikut pada siociaku?"

"Terserah kalau begitu," sahut Thay-san, “tapi aku tak mau terikat. Kalau perintah siociamu aku tak setuju, aku tak mau melakukan. Juga setiap kali aku hendak pergi, aku harus diidinkan pergi, jangan dihalangi. Pendek kata, aku mau ikut tetapi tak mau terikat."

"Lekas engkau lari di belakangku!" seru Ah Liu seraya mencongklangkan kudanya. Dan si tinggi besar Thay- sanpun segera lari mengikuti di lakang kuda Ah Liu.

Tetapi Ah Liu heran dan terkejut. Dia hanya terlambat beberapa saat karena harus mengurus Thay-san. Tetapi ternyata sudah melarikan kudanya sampai beberapa li, dia tak melihat Su Tiau Ing.

"Siocia! Siocia .... ! " teriak Ah Liu ketika ia berhenti disebuah hutan yang sepi. "Hai, siocia siapa yang engkau teriaki itu?" tiba2 si tinggi besar Thay-san yang tiba, segera menyeru.

"Limbung engkau! Siocia siapa lagi kalau bukan siociaku sendiri!"

"Kalau begitu engkau salah cara memanggilnya." "Salah bagaimana?"

"Beginilah caranya," kata Thay-san lalu menarik napas dan sesaat kemudian menghambur teriak, "Siociaku . . . ! Siociakuuuuu .... ! " Suara keras seperti geledek sehingga gemanya sampai bertebaran di empat penjuru.

"Engkau gila!" teriak Ah Liu, "berhentil" "Kenapa?" si Thay- san terlongong.

"Masakan meneriaki begitu macam?" seru Liu, "sudahlah, jangan seperti orang gila! Engkau ke timur, aku ke barat. Nanti kita kembali di sini lagi . . . " — habis berkata Ah Liu terus larikan kudanya menuju ke barat.

Thay-san juga lantas lari ke timur. Beberapa saat kemudian dia berhenti, "Dia suruh aku ke timur ini untuk apa? Dia tak bilang apa2. Celaka!"

Dia terus berputar diri dan balik ketempat jang tadi  untuk mencari Ah Liu. Tetapi baru beberapa langkah. dia terkejut, "O, tentulah dia cari nonanya. Ya, benar ," dia

berputar dan terus lari ke timur.

Thay-san memang agak tolol dan pelupa. Tadi Ah Liu pesan, setelah lari ketimur, bertemu atau tidak dengan Tian Ing, harus kembali lagi ke tempat semula. Tetapi Thay-san lupa. Dia lari ke timur tanpa berhenti. Pokoknya asal lari saja.

Entah sudah berapa puluh li dia berlari tak tahu. Pokok selama napasnya masih kuat akan tetap lari. Haripun pelahan-lahan mulai gelap tetapi dia tak menghiraukan. Sepanjang jalan dia terus lari, melintas lembah, naik gunung.

Akhirnya ketika fajar menyingsing lagi, kehabisan napas dan jatuh tersungkur ke tanah. "Wah, ngantuk sekali nih . ..

, " dia terus mendengkur.

Entah berapa jam dia tidur. Ketika ia buka mata ternyata hari sudah sore. Lebih terkejut lagi ketika ia merasa berada di sebuah ruangan.

"Gila, dimana aku ini?" dia bangun hendak lari. Tetapi empat penjuru ruangan terbuat daripada tembok. Dia tak dapat keluar. Tiba2 ia melihat pintu lalu dihampirinya dan dihantamnya, bam . . . .

Terdengar bunyi macam meriam berdentum. Pintu itu terbuat daripada besi. Suaranya seperti gunung roboh tetapi tetap tak pecah.

Dia marah. Dengan singsingkan lengan baju, dia mulai menghimpun tenaga dan dihantamnya pintu itu sekuat- kuatnya, huhhhh dia menjerit sekeras-kerasnya karena

hantamannya itu. mengenai tempat kasong sehingga tinju terus meluncur menghantam tanah dan diapun ikut jatuh menyusur tanah.

Pada lain saat dia rasakan punggungnya diinjak oleh beberapa kaki orang dan diringkus.

"Hai, apa salahku?" teriaknya ketika diangkat berdiri  oleh beberapa orang.

Ternyata ketika ia menghantam pintu tadi kebetulan dari luar, beberapa orang telah memburu pintu itu sehingga hantamannya mengenai angin Dan dia terus diringkus oleh beberapa orang. "Siapa engkau ini!" bentak salah seorang dari kawanan lelaki yang meringkusnya itu.

"Aku Thay- san!"

"Hus, Thay-san itu gunung!' bentak salah seorang lelaki. "Itu memang namaku," seru si tinggi besar.

"Ha, ha, ha," beberapa lelaki itu tertawa geli, "namamu Thay-san? Lalu mengapa engkau tidur di tengah jalan?"

"Aku ngantuk sekali."

"Apa engkau tak punya rumah?" "Punya tetapi jauh di Thay-san sana."

"Engkau dari mana dan hendak kemana?" "Aku bersama dengan Su kongcu .. . .

"Siapa Su kongcu itu?"

"Su kongcu adalah putera keponakan mentri Su Go Hwat tayjin."

"Siapa nama yang lengkap dari Su kongcu itu?"

"Eh, mengapa engkau bertanya begitu melilit sekali?

Siapa kalian ini?"

"Jika engkau mau menjawab dengan jujur akan kubawamu kehadapan pimpinan kami. Mungkin engkau akan mendapat kebebasan."

"Kebebasan? Apakah aku tak bebas?"

"Tergantung dari sikap dan keteranganmu. Engkau bisa bebas, pun bisa tidak."

"Huh!" seru Thay-san, "tempat apa ini?" "Inilah markas besar dari barisan Sukarela." "Barisan apa itu?"

"Barisan orang2 terutama kaum pendekar yang secara suka rela akan berjuang."

"O, kalian ini anggauta barisan itu?" "Ya."

"Mengapa kalian menangkap aku?"

"Karena engkau tidur mendengkur di tengah jalan maka kubawa engkau kemari untuk di periksa. Mungkin engkau ini seorang mata-mata.”

"Hus! Aku dijadikan pengawal dari Su kong-cu. Barisan Suka Rela itu membantu kerajaan Beng atau kerajaan Ceng?"

"Yang berhak menjawab pertanyaan itu adalah pimpinan kami."

"Siapa pimpinan kalian?" "Engkau akan tahu sendiri nanti."

“O, apakah kalian hendak menghadapkan aku kepada pimpinan kalian?"

"Ya," sahut penjaga, "mari ikut."

Thay-san dibawa ke sebuah ruangan yang menyerupai sebuah guha. Ketika hendak memasuki guha itu, matanya ditutup dengan kain hitam.

"Nah, sudah sampai," kata penjaga seraya membuka  kain penutup mata Thay-san.

Thay-san dibawa masuk kedalam sebuah tempat. Disitu terdapat sebuah patung yang berwajah seram. Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda yang gagah, diiring oleh dua orang pengawal bersenjata pedang panjang. "Siapa namamu?" tegur pemuda itu. "Thay-san."

"Itu nama gunung!" "Bukan, itu namaku."

"Hm, mengapa engkau berada ditengah jalan. Apa engkau tak tahu bahwa jalan itu sudah termasuk wilayah kekuasaan kami?"

"Kuanggap jalan diseluruh negeri ini adalah milik negara. Mengapa aku harus tahu jalan mana yang dikuasai oleh orang orangmu?"

"Jangan bandel."

"Hus, aku bicara secara terus terang. Apanya yang bandel."

"Katakan mengapa engkau tidur di jalan." "Ngantuk."

"Hanya orang sinting kalau ngantuk terus tidur di sembarang tempat."

"Hus! Ngantuk itu ibarat orang yang hendak buang hajat.

Kalau sudah menyerang, wah, tak dapat ditahan lagi."

Pemuda itu terpaksa tersenyum mendengar kata2 Thay- san. Diam2 ia tahu bahwa Thay-san itu seorang yang polos setengah linglung.

"Apa pekerjaanmu?" "Pengawal." "Pengawal siapa?

"Su kongcu, putera keponakan mentri Su Go Hwat.” "Jangan bohong!" bentak pemuda itu terkejut. "Hus! Siapa yang bohong? Aku memang pengawal dari Su kongcu. Tak percaya? Panggil Su kongcu kemari untuk dipadu."

"Mana Su kongcu sekarang?"

"Entah, dia mengatakan hendak menyelesaikan tugas yang penting."

"Mengapa engkau tak diajaknya?"

"Aku sendiri juga tak tahu mengapa tiba2 dia tak mengajakku."

"Kan kemana engkau sekarang ?"

"Aku bertemu dengan pembantu Su siocia. Ia menawarkan aku kalau-kalau mau ikut pada siocia. Akupun mau saja."

“Siapa yang engkau sebut Su siocia itu?"

"Engkau memang geblok," gumam Thay-san sehingga orang itu merah mukanya, "siapa lagi Su-siocia itu kalau bukan puteri dari mentri Su Go Hwat."

"Gila !" teriak orang itu, "puteri dari Su Go Hwat peng- poh-siang-si itu ?"

"Apa engkau tuli ?" balas Thay-san.

Orang yang sikap dan wibawanya seperti pimpinan disitu, memang bermula terkejut karena si tinggi besar sering menyemprotnya dengan kata ‘hus’. Tetapi setelah tahu bahwa si Thay-san memang kurang waras. dia pun tak marah. Bahkan dimaki `goblok. dan `tuli`, diapun tak marah.

"Dimana Su siocia itu ?" tanya pimpinan itu,

"Gila !" teriak Thay-san, "kalau aku tahu dimana Su siocia, tentu aku sudah ikut." "Apa engkau hendak mencarinya ?" "Apa engkau tahu ?" balas Thay-san.

Orang itu kerutkan kening. Pada lain saat memberi perintah kepada kedua pengawalnya.

"Bawa dia ke kamar tahanan nona itu. Suruh dia mengenalnya siapa," katanya.

Thay- san terus dibawa ke sebuah tempat yang lebih dalam. disitu terdapat sebuah bangunan. Pada tiap ruangan, pintunya bukan kayu tetapi terali besi.

Thay- san diajak menghampiri sebuah ruangan dan dari pintu terali besi ruang itu, kedua pengawal menunjuk kedalam seraya bertanya, "Apa engkau kenal dengan nona itu ?"

Thay-san memandang kesebelah dalam. Dilihatnya seorang nona sedang duduk diam, bertopang dagu. Nona itu cantik tetapi wajahnya tampak murung dan kecewa.

"Nona Su !" tiba2 Thay-san berteri memanggil.

Nona itu terhenyak.

"Nona Su, ? Apakah engkau bukan nona Su Tiau Ing ?" teriak si tinggi besar.

Nona itu agak terkejut.

"Nona Su, mengapa engkau diam ? Apa engkau tak dapat bicara lagi teriak si tinggi besar tanpa menghiraukan suatu apa.

"Siapa nona itu," tanya kedua pengawal. "Ini kan nona Su Tiau Ing."

"Siapa nona Su Tiau Ing itu ?" "Puteri dari mentri Su Go Hwi." “Uh...," kedua pengawal itu terkejut.

"Hai, lekas keluarkan nona itu," bentak Thay-san. "Gila, mana aku berani ?"

"Hus, .mengapa takut ?"

"Pemimpin kamilah yang berhak mengeluarkannya. Sebelum mendapat perintahnya, kami berdua tak berani. Mari kita laporkan kepada pimpinan."

"Tidak !" tiba2 Thay-san menjambak kepala pengawal itu, "lekas buka atau tidak !"

Tindakan si tinggi besar itu tak diduga-duga sehingga kedua pengawal itu harus meringis kesakitan karena rambutnya dijambak sekeras-kerasnya.

"Engkau gila !" teriak mereka. "Lekas buka !"

"Kami tak punya anak kuncinya." "Bohong !"

PLakkkkk tiba2 si tinggi besar membenturkan kepala

kedua pengawal itu sekerasnya sehingga menimbulkan suara seperti buah kelapa pecah.

Tak ampun lagi kedua pengawal itupun rubuh ke tanah. "Nona Su, nona Su, lekas buka pintu !" tek Thay-san

seraya mengguncang-guncang terali sekuat-kuatnya.

Nona itu berbangkit dan berseru penuh keheranan, "Siapa yang engkau panggil nona Su itu ? Disini tak ada  lain orang kecuali aku !"

“Ya, memang engkau sendiri !” "Aku ?" nona itu menegas. "Ya," sahut Thay-san, "bukankah engkau nom Su Tiau Ing, puteri mentri Su yang masyhur itu ?"

“Gila !”

"Siapa yang gila ?" “Engkau."

"Kenapa ?"

"Aku bukan Su Tiau Ing, puteri mentri Go Hwat tayjin." "Tidak bisa !” teriak si tinggi besar, "engkau ini nona Su

Tiau Ing. M:ngapa engkau menolak dirimu sendiri." "Ah engkau memang limbung !"

"Tidak, aku tidak limbung. Aku masih waras. Barusan kemarin aku bertemu dengan engkau dan dara yang menjadi pembantumu itu. Masa engkau sudah lupa ? Aku kan orang yang datang bersama dengan Su kongcu yang katanya cngkoh misanmu."

Nona itu tercengang.

"Aku mempunya engkoh ? Ah, engkau bukan limbung tetapi benar2 sudah gila !"

"Lekas buka pintu !” teriak Thay-san. "Tidak bisa. Pintu dikunci dari luar."

“O, kalau begitu tunggu dulu," Thay-san terus lari menuju ke ruang tempat pemimpin. Pemimpin itu masih duduk menunggu laporan. Dia terkejut ketika melihat Thay- san kembali seorang diri.

"Mana kuncinya," begitu datang Thay-san terus berseru. "Kunci apa?"

"Kunci ruang berpintu terali besi itu." "Buat apa engkau minta kunci?"

"Aku hendak melepaskan nona itu. Mengapa engkau menahannya disitu?"

"Siapa nona itu?"

"Engkau tidak tahu siapa dia?" Pemimpin itu gelengkan kepala.

"Goblok!" damprat Thay-san, "dia adalah nona Su Tiau Ing."

“Su Tiau Ing? Siapa Su Tiau Ing itu?"

"Puteri mentri Su Go Hwat yang termasyhur.”

"Hai!" pemimpin itu berseru kaget, "puteri mentri pertahanan Su Go Hwat tayjin?"

“Jangan ribut! Lekas serahkan kuncinya," bentak Thay- san.

Pemimpin itu kerutkan dahi, "Tidak, aku tidak membawa kuaci. Yang membawa kunci adalah pimpinan kami yang nomor satu."

"Mana dia?"

"Dia sedang keluar."

"Kalau begitu, pintu itu harus kujebol," kata Thay-san seraya lari keluar lagi.

"Orang itu terpaksa menyusul.

"Nona Su, celaka, kuncinya dibawa kipala mereka. Tetapi jangan kuatir, akan kujebol pintu ini," seru Thay-san ketika tiba di depan ruang tahanan. Dia terus kerahkan tenaganya untuk menarik terali besi itu. "Hai, jangan gila-gilaan engkau!" bentak pemimpin yang tiba disitu dan melihat tingkah Thay san.

"Apa? Engkau berani melarang aku hendak mengeluarkan nona Su?"

"Gila! Yang berkuasa disini adalah aku. mengapa engkau berani berbuat seenakmu sendiri?

"Hus! Nona Su kan puteri mentri, mengapa engkau jebluskan dalam ruang tahanan?" .Thay san balas membentak.

"Jangan lancang!" orang itu ulurkan tangan mencengkeram bahu Thay san. Entah bagaima Thay-san, seperti tak bertenaga lagi. Dia hendak meronta tetapi tak mampu.

"Kalau kuremas tulang pi-peh-kutmu, engkau pasti cacat seumur hidup!" bentak orang itu.

Merah padam muka Thay-san. Dia heran mengapa tenaganya hilang sama sekali. Bahkan untuk menendang saja dia tak kuat.

"Apa engkau mau membunuh aku?" teriak orang tinggi besar itu.

"Belum perlu," kata pemimpin, "tergantung  dari sikapmu. Kalau engkau menurut, bukan saja jiwamu selamat, pun engkau akan kuangkat sebagai pengawalku."

'Siapa engkau?"

"Aku adalah pimpinan barisan Suka Rela." "Tidak sudi!"

"Apa? Tidak sudi? Mengapa?"

“Engkau jahat karena menahan nona Su. Kalau engkau mau mengeluarkan dia, baru aku mau tunduk." “Stt,” desis pemimpin seraya menarik tubuh Thay-san ke dekatnya dan lalu membisiki ke dekat telinganya, "dia adalah puteri mentri pertahanan kerajaan Beng. Dia akan kujadikan sandera.”

"Hah?" Thay-san terbeliak, "mengapa akan engkau jadikan sandera? Bukankah barisan Suka Rela itu berjuang membantu kerajaan Beng?"

"Jangan bicara keras2," kata pemimpin itu, Barisan Suka Rela bekerja bebas. Kita nanti lihat pihak mana yang besar dan kuat, kita bantu."

"Kalau fihak kerajaan Ceng yang menang?" "Kita bantu mereka."

"Penghi . . . auhhhhh," sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya, Thay-san sudah menjerit kesakitan karena bahunya diremas.

"Kalau engkau berani menentang aku, tulang bahumu tentu kuremuk!"

"Aduh," Thay-san bernapas longgar setelah cengkeraman orang itu dikendorkan, "aku tak ngerti mengapa engkau hendak menyandera nona Su."

"Dengarkan," kata orang itu, "dengan mempunyai sandera nona Su, kita dapat menekan mentri Su Go Hwat agar menurut permintaan kita.”

"Engkau hendak minta apa?"

"Tergantung pada keadaan nanti. Pokoknya kita punya sandera yang berharga maka jangan engkau lepaskan dia, tahu?"

Kedua orang itu berada tepat dimuka pintu terali karena tadi Thay-san habis berusaha untuk menjebol pintu, tahu2 dia sudah dicengkeram bahunya oleh pemimpin barisan Suka Rela itu.

"Ketahuilah," bisik pemimpin itu pula, bahwa Su kongcu

. . . . "

"Su kongcu siapa!” tukas Thay-san. "Su kongcu yang engkau kawal itu."

"Dia putera keponakan mentri Su Go Hwat.”

"Benar, memang dia adalah Su Hong Liang kongcu, keponakan dari mentri Su Go Hwat."

"O, lalu?"

"Dia adalah pimpinan kami yang tertinggi "

"Bagus!" teriak Thay-san. "Apanya yang bagus?"

"Kalau dia tahu nona Su berada disini, engkau tentu dihajar Su kongcu dan diperintahkan mengeluarkan nona Su."

"Hi, hi, hi," pemimpin itu tertawa geli.

"Apa-apaan engkau tertawa !" bentak Thay-san,

"Engkau tak tahu, goblok," kata orang itu tetengah berbisik, "Su kongcu adalah pemimpin kami. Tak mungkin dia marah kepadaku dan tak mungkin dia mau mengeluarkan nona Su."

"Apa katamu, bang " baru Thay-san hendak memaki,

cengkeraman orang itu ciperkeras lagi sehingga si tinggi besar menguak kesakitan.

Tetapi entah bagaimana tiba2 tangan orang itu terasa mengendor dan makin mengandor, Ketika Thay-san meronta, orang itupun terdorong mundur. "Jangan meliar !' seru orang itu dengan masih tegak seperti patung.

"Engkau kira aku takut kepadamu ? Nih, terimalah, plok

..... ," Thay-san menampar mulut orang itu sekeras- kerasnya sehingga sebuah giginya sampai tanggat dan mulutnya menghambur darah. Tetapi orang itu tetap tegak diam tak mau membalas.

"Hai, mengapa engkau tak mau membalas ?" seru Thay- san.

"Dia tertutuk jalandarahnya " tiba2 terdengar sebuah

suara lembut. Ketika Thay-san berpaling, dia berjingkrak kaget.

Ternyata yang bicara itu adalah si gadis cantik yang berada dalam ruangan. Gadis itu entah kapan sudah berdiri dibelakang pintu terali.

"Siapa yang menutuknya ?" seru Thay-san

“Ini,” gadis itu acungkan sebuah benda lipatan yang terbuat daripada kulit.

"Itu kan payung !"

"Ya, memang ini payung. Di kututuk punggungnya dengan ujung payung ini."

"Oh, engkau hebat nona Su …." puji Thay-san.

"Dalam sejam kemudian, dia tentu dapat bergerak lagi," kata gadis itu.

“O, kalau begitu dia harus kuringkus dulu,” kata Thay- san terus menghampiri orang itu.

"Jangan kurang ajar ! Kalau aku berteriak anakbuahku tentu ..... haup……. ," dia tak dapat melanjulkan kata2nya karena mulutnya didekap tangan Thay san dan dengan sebuah tebasan tangan kearah lehar, orang itupun pingsan.

"Bagus!" seru si gadis itu, "lekas buka pintu.” tu."

"Tak ada kuncinya."

"Goblok ! Geledah badan mereka bertiga.”

"O, benar nona Su," seru Thay-san terus menggeledah baju pemimpin barisan Suka Relu itu dan, "hola, inilah kuncinya. Dia membohongi aku !"

Setelah pintu dibuka, keluarlah nona itu, “Lekas ikat orang itu dan masukkan kedalam ruangan," perintahnya.

Dengan cepat Thay-san melaksanakan perintah. Bukan saja kaki dan tangan orang itu diikat, dan mulutnya disumbat dengan robekan bajunya, setelah itu pintu dikunci lagi.

"Berikan kuncinya kepadaku," kata si nona. Ia menyimpan kunci itu dalam bajunya.

"Sekarang kita hendak kemana,. nona Su ?". tanya Thay- san.

Nona itu cepat dapat mengetahui bahwa Thay-san itu seorang pcmuda tolol tetapi limbung. bahkan dia dianggap sebagai Su Tiau Ing, Tetapi tak apa, pikirnya. Yang penting Thay-san itu memang bermaksud baik hendak menolongnya. Masalah nama, biarlah saja.

"Kita harus cepat2 keluar dari tempat ini," kata gadis itu seraya ayunkan langkah.

Beberapa saat berjalan, nona itu berhenti. Thay-san menegur, "Kenapa berhenti nona Su ?" "Jalanan keluar hanya melalui pintu depan dan disana dijaga orang. Kita harus cari akal,” nona itu mengerut dahi, "apa engkau membawa korek ?"

"Aku tidak merokok mengapa bawa korek,” sahut Thay- san.

Nona itu terus ayunkan langkah.

"Hai, kemana engkau ?" seru Thay-san seraya menyusul. "Cari korek ke dapur," sahut nona itu. Setelah melalui

beberapa ruangan, akhirnya mereka berhasil menemukan tempat itu. Dan mereka berhasil mendapatkan korek serta minyak,

"Buat apa ?" tanya Thay-san.

"Bakar sarang ini," sahut nona itu dengan ringkas.

"Ho, bagus nona Su," sambut si tinggi besar dengan gembira.

Mereka membakar dapur setelah itu menggeratak ke lain ruangan dan membakar baberapa tempat. Api cepat berkobar besar. Tak berapa lama terdengarlah hiruk pikuk orang berlari kian-kemari untuk memadamkan kebakaran.

Nona itu bersama Thay-san lari ke pintu luar. Disitu masih terdapat empat penjaga. Dengan mudah keempat orang itu dapat dibekuk dan dibanting si tinggi besar hingga tak berkutik. Maka dapatlah si nona dan Thay-san keluar.

"Kita hendak kemana rona Su ?" Thay-san dalam perjalanan.

"Mencari orang," kata si nona.

"Siapa? Apakah gadis yang . . . hai, kemana dia?" tiba2 Thay-san menjerit kaget sehingga nona itupun ikut terkejut, "Siapa?" tegurnya. "Dia," sahut Thay-san terus lari kembali. "Hai, kemana engkau?" tanya si nona. "Kembali tempat kita berjanji."

"Dengan siapa engkau berjanji?" seru sinona, tapi si tinggi besar sudah lari jauh. Nona itu geleng2 kepala, "Ah, tambah seorang limbung lagi. Rupanya dunia ini penuh dengan orang linglung dan limbung. Kakek Lo Kun limbung, Uk Uk pengung dan ini tambah lagi seorang linglung.

Siapakah nona itu?

Ternyata dia adalah Liok Sian Li. Mengapa dapat tertawan dalam markas barisan Suka Rela. Baiklah kita mundur sebentar.

Bersama kakek Lo Kun dan si Uk Uk, Sian Li menuju ke Shoa-tang untuk mencari Blo`on. Tapi ternyata saat itu Shoa-tang sudah geger karena diserang pasukan Ceng.

"Ah, lebih baik ke San-se saja," kata Sian Li.

Entah bagaimana ketika tiba disebuah hutan dan bermalam di sebuah kuil tua, Sian Li mendengar derap orang berlari-lari. Karena Lo Kun dan Uk Uk sudah tidur, Sian Li keluar seorang diri.

Dalam kegelapan malam ia melihat sesosok tubuh sedang berlari dan dikejar oleh beberapa be!as orang.

Tiba2 orang itupun berhenti dan menghadapi pengejarnya, “Ho, engkau kira aku takut kepada kalian?"

"Kakek cebol, engkau berani lari?" teriak kawanan orang yang mengejarnya itu. Ternyata mereka adalah sekelompok orang2 yang bersenjata. "Lekas tangkap!" teriak salah seorang yang menjadi pimpinan mereka.

"Hai, tunggu!” tiba2 Sian Li lari menghampiri. Orang2 itupun terkejut.

"Mengapa kalian hendak mengeroyok seorang kakek tua?' seru Sian Li. Dia tak senang menyaksikan perbuatan yang tak adil semacam itu.

"O, budak perempuan, mengapa engkau malam2 keluar rumah?" seru salah seorang.

"Mungkin bukan manusia tetapi bargsa jin.”

"Ya, tentulah kuntilanak yang suka keluar malam mencari mangsa orang lelaki ……”

"Bangsat!” teriak Sian Li marah seraya menampar orang itu.

Terjadi pertempuran. Kawanan orang bersenjata itu pontang panting menghadapi Sian Li dan si kakek. Akhirnya mereka mundur.

"Kakek, tunggulah disini," Sian Li terus mengejar kawanan orang itu. Rupanya dia masih belum puas.

Tetapi bala bantuan orang itu, muncul. Bahkan jumlahnya lebih banyak lagi. Walaupun Sian Li cukup tangguh tetapi karena dikeroyok berpuluh orang yang bersenjata, dia kewalahan juga. Dan celakanya ternyata salah seorang dari kawanan pengeroyok itu menggunakan jaring untuk menjaring. Akhirnya Sian Li dapat ditangkap.

"Tangkap kakek cebol itu," seru pimpinan mereka.

Tetapi kakek pendek itu sudah tak ada di tempatnya lagi.

Demikian asal mula maka Sian Li tahu2 dapat berada dalam ruang tahanan di markas pasukan Suka Rela. Siapakah kakek itu? Dia tak lain adalah kakek Cian-li-ji yang ditangkap oleh anakbuah barisan Suka Rela. Setelah tenaganya pulih, dia dapat meringkus seorang penjaga dan meloloskan diri. Tetapi belum berapa lama diapun dikejar.

Sebenarnya dia hendak mencegah agar Sian Li jangan mengejar tetapi Sian Li sudah lari jauh. Cian-li ji hendak menyusul tetapi tiba-tiba mendengar suara orang yang menangis.

Dia terus mencari ke tempat orang, itu. Maka ketika kawanan anakbuah barisan Suka Rela mencarinya, Cian-li- ji sudah tak ada ditempat tadi.

Cian- li-ji memiliki telinga yang luar biasa tajamnya. Dia dapat menangkap suara sampai jarak satu li. Setelah melintasi beberapa bukit, akhirnya tibalah ia disebuah lembah yang curam. Ia turun kedalam lembah dan akhirnya mendapatkan bahwa suara tangis itu berasal dari sebuah guha batu yang telah tertutup. Tetapi ia tahu jelas bahwa suara tangis itu berasal dari seorang wanita.

“O, apakah nona yang menolong aku tadi,” pikirnya. Dia juga seorang kakek yang sederhana cara berpikirnya. Karena tadi bertemu dengan orang nona maka dia terus menarik kesimpulan kalau yang menangis itu tentulah nona itu. Padahal kalau pikirannya agak waras, dia tentu sudah dapat mengetahui kalau Sian Li sedang mengejar kawanan anakbuah Suka Rela, tak mungkin ia berada dalam sebuah guha dan menangis.

"Nona, mengapa engkau menangis disitu,” serunya dari celah lubang gunduk batu yang menutup pintu guha.

Suara tangis itu berhenti tetapi tak ada nyahutan. "Nona mengapa engkau berada disitu?" Cian li-ji mengulang pula, "dan mengapa engkau menangis ? Apakah engkau terluka ?"

"Siapa itu ?" tiba2 terdengar suara dari dalam guha. "Aku kakek yang engkau bantu tadi."

"Kakek siapa ?" "Cian-li-ji."

"Cian-li-ji ? Siapa itu ?"

"Eh, engkau ini bagaimana nona ? Barusan saja engkau melihat aku dikejar kawanan anakbuah barisan Suka Rela, mengapa engkau sudah lupa?”

"Aku tak tahu siapa engkau, pergilah ! Jangan ganggu aku !" teriak orang dalam guha itu.

"Eh, jangan marah," kata Cian-li-ji, "bukalah pintu dan engkau tentu tahu siapa diriku ini.”

"Tidak ! Jangan ganggu aku !"

Cian-li ji terkejut, Mengapa tiba2 saja nona iru begitu ketus kepadanya. Pada hal baru beberapa saat dia menolongnya. Sian-li-ji terus angkat kaki tetapi baru beberapa langkah dia berhenti, “ah dia sudah membantu aku, akupun harus membantunya. Mungkin dia ditangkap kawanan berandal Suka Rela itu lalu dimasukkan dalam guha dan menutup dengan batu besar. Dia menangis lantaran tak mampu keluar. O, benar, benar. Aku harus menolongnya "

Dia terus lari kembali ke guha dan berusaha untuk membuka pintu guha.

"Hai, apa-apaan itu?" tegur suara dari dalam guha, Tetapi Cian-li-ji tak mau menghiraukan. Dia terus mendorong dan mendorong sehingga akhirnya batu itu dapat terkisar ke samping.

"Nona keluarlah . .. , " Cian-li-ji terus maju hendak mengajak orang dalam guha itu keluar. Tetapi alangkah kejutnya ketika orang itu menusuknya dengan pedang.

"Haya, celaka . . . " Cian-li- ji loncat keluar, "mengapa engkau malah menyerang aku?”

Orang dari dalam guha itupun melesat keluar dan menyerang Cian li-ji. Sudah tentu Cian-li-ji sibuk bukan kepalang. Dia berloncatan kian kemari untuk menghidar.

Orang itupun diam2 heran. Dia tak kenal siapa kakek pendek itu. Tetapi dia kagum gerakan kakek itu. Diserangnya dengan ilmu pedang Gwat-li- kiam-hwat yang lihay namun kakek itu tetap dapat menghindar.

"Nona, tunggu dulu, kita bicara secara baik2," seru Cian- li-ji.

Melihat kakek itu tak mau balas menyerang timbullah rasa kasihan dalam hati nona itu. Ia hentikan serangannya.

"Mau bicara apa engkau?" tegurnya. "Mengapa engkau menyerang aku?" "Mengapa engkau mengganggu aku?"

"Ih, aku tidak mengganggu. Aku hendak menolongmu karena mendengar engkau menangis."

"Aku tidak minta pertolonganmu."

"Eh, engkau memang aneh nona. Barusan engkau telah membantu aku waktu aku dikejar anakbuah barisan Suka Rela. Mengapa sekarang engkau bersikap begitu ketus kepadaku?" "Ngaco! Siapa yang membantumu?"

"Uh, bagaimana engkau ini. Siapa lagi bukan engkau.

Masa baru beberapa menit engkau sudah lupa." "Apa engkau waras?"

"Lho, aku tidak gila."

"Kalau pikiranmu waras mengapa engkau mengoceh tak keruan. Aku tak pernah bertemu dengan engkau apalagi membantumu."

"Ah, jangan begitu dong, nona. Walaupun sudah tua tetapi pikiranku masih belum pikun. Jelas engkaulah yang menolong aku menghajar kawanan anakbuah barisan Suka Rela tadi,"

Nona itu banting2 kaki karena jengkel. Dia tak lain adalah Su Tiau Ing yang dicari Ah Liu dan si tinggi besar Thay-san tadi.

Memang peristiwa dalam dunia ini kadang aneh dan tidak diduga- duga. Seperti apa yang terjadi dalam peristiwa Tiau Ing. Ah Liu dan Thay-san mencarinya. Thay san yang mencari ke timur, karena ngantuk terus tidur di tengah jalan dan ditangkap kawanan anak buah barisan Suka Rela lalu dibawa kedalam markas mereka. Secara kebetulan dia bertemu dengan Sian Li. Tetapi Thay-san yang limbung menganggap Sian Li adalah Tiau Ing. Bagaimanapun Sian Li heran menjelaskan, tidak dianggap oleh orang tinggi besar itu.

Dan sekarang kebalikannya, Cian-li-ji yang berhasil meloloskan diri dari tawanan barisan Suka Rela karena dikejar anakbuah barisan Suka Rela telah bertemu dengan Sian Li. Sian Li mengejar kawanan anakbuah barisan Suka Rela itu tetapi ditangkap dan ditawan. Lalu Cian-li-ji mendengar suara orang nangis. Didapatinya yang menangis itu berada dalam guha. Dia mendoroug batu penutup guha menemukan seorang nona dalam guha itu. Ternyata nona itu adalah Tiau Ing tetapi Cian li-ji keras menganggapnya sebagai San Li, nona yang membantunya tadi.

Jadi Thay-san menganggap Sian Li itu Tiau Ing dan Cian- li-ji menganggap Tiau Ing itu Sian Li. Ahhhhhh

………….

Mengapa Tiau Ing berada dalam guha ?

Ternyata waktu mendengar kata2 Ma Giok Cu bahwa Su Hong Liang akan menikah dengan puteri mentri tay-haksu Ma Su Ing, serasa gelap pandang mata Su Tiau Ing.

Diam2 Su Tiau Ing memang lebih menaruh perhatian kepada Su Hong Liang daripada kepada Bok Kian. Su Hong Liang lebih tampan. lebih pandai bicara dan lebih pandai memikat dari Bok Kian. Dan tampaknya Su Hong Liang memang berusaha untuk merebut hati Tiau Ing. Tetapi Su Tiau Ing masih ragu2. Su Hong Liang itu putera dari peh-hu (empeh) Tiau Ing atau engkoh dan Su Go Hwat. Keduanya tunggal she yaitu sama2 she Su. Menurut adat istiadat pada masa itu, perkawinan antar she yang sama, tidak dibenarkan.

Tetapi entah bagaimana ketika mendengar ucapan Ma Giok Cu bahwa Su Hong Liang bakal menikah dengan Ma Giok Cu, kepala Su Tiau Ing menjadi pusing seketika. Dia merasa dunia itu kosong melompong. Hidup itu tiada artinya hambar. Dia terus mencongklangkan kuda sekencang-kencangnya. Dia membiarkan dirinya hendak dibawa kemana oleh kudanya.

Setelah beberapa waktu menyerahkan diri dalam ketidak- ketentuannya, maka akhirnya dia tiba di sebuah lembah. Tiba2 ia mendapat pikiran. Ia loncat dari kudanya dan menuruni lembah. Ia mendapatkan sebuah guha. Ia menutup diri dalam guha itu. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya. Hanya ia merasa bahwa hidup itu sudah terasa hampa baginya. Ia hendak mengunci diri dalam kesunyian. Entah sampai berapa lama ia sendiri tak tahu.

Memang apabila Su Tiau Ing mempunyai perasaan demikian, dapat dimaklumi. Ia puteri seorang mentri besar. Hidupnya serba kecukupan dan manja. Sejak kecil ia sudah ditinggal ibunya maka sang ayah dalam kesibukan tugas2 negara masih tetap menyelinapkan waktu khusus untuk memberi perhatian dan kasih sayang kepada puterinya.

Seorang gadis yang berangkat dewasa dalam curahan kemewahan dan kemanjaan, seorang gadis remaja yang baru mulai mengenal apa yang disebut asmara, tiba-tiba segala impiannya yang indah telah hancur berantakan bagai kaca dibanting ke batu. Sudah barang tentu hal  itu membuat dia menderita shock yang menggoncangkan jiwanya.

Memang dalam soal asmara, pikiran dapat peka tetapipun juga dapat gelap. Sebenarnya Su Tiau lng itu cerdas pikirannya. Seharusnya dia meminta keterangan kepada Su Hong Liang tentang kebenaran dari ucapan Ma Giok Cu. Tetapi kecerdasannya itu sedanng ditelan amukan pikirannya yang gelap.

Diganggu kakek Cian-li-ji, dia marah dan menyerangnya. Setelah menumpahkan kemarahan dan tak berhasil melukai Cian li-ji, akhirnya kemarahan yang meluap-luap itu mulai menurun. Dan turunnya kemarahan pun mulai menyiak kegelapan pikirannya.

Pelahan-tahan pikirannya mulai tenang dan jernih. Ia menilai kakek Cian-li-ji bukan orang jahat. Jelas kakek itu hendak memberi pertolong kepadanya. Mungkin kakek itu salah faham atau salah lihat. Tadi mungkin kakek itu bertemu dengan seorang nona yang membantunya maka kakek itu lalu mengira kalau dia (Su Tiau Ing) adalah nona itu. Ya, benar, tentulah demikian.

"Hm, engkau mengatakan tadi bertemu dengan aku." kata Tiau Ing, "di mana engkau bertemu dan itu waktu aku sedang mengapa, coba engkau ceritakan."

"Ih, engkau masih muda mengapa engkau begitu pelupa

?"

"Sudahlah, tolong ceritakan bagaimana duduk

perkaranya tadi.,"

Cian-li-ji lalu bercerita. Mulai dari dia disekap orang- orang barisan Suka Rela sampai dia berhasil meloloskan diri, dikejar pasukan Suka Rela dan muncullah seorang nona yang membantunya, "Engkaulah nona itu. apa engkau lupa ?"

Yah, bagaimana lagi. Kalau berhadapan dengan kakek selimbung itu, apa mau dikata. Apa ruginya kalau dia mengiakan saja, Tiau Ing.

Timbul suatu keheranan dalam hati Ing mengapa barisan Suka Rela malah menahan kakek itu. Dan heran pula ia, siapakah sesungguhnya nona yang muncul membantu kakek Cia-li ji untuk menghajar anakbuah barisan Suka Rela itu.

Dalam diri kakek itu banyaklah Su Ing menghadapi rahasia-rahasia yang aneh. Apakah pendekar Huru Hara itu

? Apakah rasanya ia pernah mendengar juga tentang pendekar semacam itu. "Paling baik aku mengakui saja sebagai nona yang membantunya itu, mungkin nanti dapat mengetahui lebih banyak persoalan aneh dari dia," pikir Su Tiau Ing.

"O, ya, aku memang lupa." katanya.

"Nah, itu baru seorang nona yang baik, kata Cian-li- ji, "tetapi siapakah engkau ini ? kenapa engkau membantu aku

?"

Su Tiau Ing gelagapan. Apakah mengakui siapa dirinya? ''Sudah kakek, engkau boleh panggil siapa saja," katanya.

"Dan mengapa engkau menangis dalam gua? Apakah kawanan anakbuah barisan Suka Rela itu menghina engkau?" tanya Cian-li-ji.

"Ah, tidak apa2, aku menangis karena jengkel, " kata Su Tian Ing.

"Jengkel? jengkel kepada siapa?" "Jengkel kepada manusia di dunia ini."

“Lho, kalau begitu engkau juga jengkel kepadaku.”

"Bukan engkau tetapi kepada seorang pemuda yang tak tahu membalas budi orang."

"Siapa dia? Bilanglah, akan kucari pemuda itu dan kuhajarnya!"

"Kakek,” kata Tiau Ing, “apakah engkau pernah beristeri?”

"Ya, dulu, pernah satu kali." “Lalu dimana isterimu?” “Sudah meninggal.” “O,” seru Tiau Ing, “apakah engkau setia kepada isterimu itu?”

“Sudah tentu setia. Mengapa?”

"Apakah dulu sebelum menikah, engkau pernah pacaran dengan isterimu?”

"Ah. jaman dulu tidak ada model pacaran. Aku melihat, aku terus suka dan diapun kebenaran juga suka, lalu kita menikah. Itu saja aku sudah beruntung. Banyak pemuda2 jamanku yang tak dapat memilih jodoh, tetapi dipilihkan oleh orangtuanya.”

"Andaikata engkau berjanji kepada seorang gadis untuk menikahinya, apakah engkau harus menetapi janji atau engkau boleh mengingkari janji dan kawin dengan lain gadis?"

"Aku tak mengerti maksudmu."

"Maksudku, apakah lelaki itu mempunyai hak untuk mengingkari janji?"

“Kurasa tidak."

"Apakah lelaki itu tidak punya kesetiaan terhadap wanita?”

“Kurasa juga tidak."

"Apakah lelaki itu boleh mempermainkan wanita?" "Kurasa tidak."

"Kalau ada lelaki yang berbuat begitu, apa katamu, kakek?"

"Sebagai sesama lelaki, aku tak suka terhadap lelaki semacam itu. Lelaki yang suka memainkan hati wanita, patut dihajar." "Hm," desuh Su Tiau Ing.

"Eh, tetapi siapakah lelaki itu? Apakah engkau dipermainkan oleh seorang lelaki? Siapa namanya? Aku bersumpah akan membalaskan sakit hatimu, nona."

“Lho, mengapa kakek sampai bertindak begitu?”

"Setiap kebaikan yang diterima Cian-li-ji tentu akan dibalas. Setiap hinaan tentu akan dihimpaskan. Engkau membantu aku dan akupun harus membantumu."

Su Tiau Ing sebenarnya masih ragu2 untuk mengatakan. Bagaimanapun juga, Su Hong Liang itu masih engkoh sepupuhnya. Tetapi tiba2 kakek Cian-li-ji membantah, "Lekas bilang, siapa dia ? Awas, kalau engkau tak mau bilang !"

Sudah tentu Su Tiau Ing tercengang berhadapan dengan kakek yang begitu limbung pikirannya.

"Ih, mengapi engkau malah mengancam aku," tegurnya. “Engkau menghina aku !"

Su Tiau Ing makin heran. Ia merasa tak menghina mengapa kakek itu marah, “siapa yang menghina engkau, kakek ?"

"Engkau," sahut Cian li ji, "engkau telah membantu aku tetapi engkau tak mau memberi kesempatan kepadaku untuk balas membantu engkau. Apakah itu bukan berarti menghina aku. Mentang2 aku ini sudah tua, dikira tak mampu membantumu. Hayo, lekas sebutkan siapa nama orang itu. Kalau bertemu, tentu kupelintir batang lehernya

...."

Pikir Su Tiau Ing, jelas kalau Cian-li-ji seorang kakek linglung. Masakan dia sempat bertemu dengan Su Hong Liang. Dan kalau toh bertemu, juga tipis, kemungkinan kakek itu mampu berbuat apa2 terhadap Su Hong Liang. Biar kukatakan, agar hatinya puas,” pikir Tiau Ing.

"Dia seorang pemuda yang bernama Hong Liang, keponakan dari menteri Su Go Hwat.”

"Cukup!" tukas Cian- ji, "kalau aku ketemu orang yang bernama Su Hong Liang tentu kan kuhajar sampai minta ampun."

"Hm," dengus Su Tiau Ing dalam hati.

"Nona hendak kemana kita sekarang?" tanya Cian-li-ji. “Kita?" Su Tiau Ing menegas.

"Ya, kita berdua."

"Engkau sendiri hendak kemana?" tanya Tiau Ing.

"Aku hendak mencari keponakanku pendekar Huru Hara," sahut Cian-li-ji, "dan engkau?”

"Aku sih tak punya tujuan."

“Jika begitu mari kita bersama-sama. Kalau nanti engkau hendak menuju ke lain tempat, silahkan."

Akhirnya Su Tiau Ing kena dibujuk Cian li ji. Keduanya segera tinggalkan lembah itu.

Sekarang kita ikuti perjalanan si An Liu menuju ke barat. Setelah beberapa saat berjalan dan tepat tak mendapatkan Tiau Ing dia heran, "In, kemanakah siocia?"

Dia kembali ketempat ia berjanji akan bertemu Thay-san.

Tetapi ternyata orang tinggi besar itu tak tampak.

"Ih, kemana saja orang tinggi besar itu ?" pikirnya. Hari itu sudah hampir gelap, "ah, tak baik kalau bermalam  disini. Aku harus cari tempat untuk bermalam." Dia terus ayunkan langkah menuju ke timur. Ia harus dapat berjumpa dengan Thay-san yang tadi juga menuju ke timur.

Tak berapa lama berjalan, dari jauh ia melihat sebuah kuil tua. Dia segera mempercepat langkah menuju ke kuil tua itu.

"Ah, lumayan juga tempat ini. Malam ini baik aku tidur disini saja," katanya. Dia lalu membersihkan tempat  disudut ruang dan terus rebahkan diri.

Belum lagi mata dapat dipejamkan. Tiba2 ia mendengar suara orang berteriak, "Hai, kemana Sian-li ?"

Dan menyusul kedengaran suara orang mengomel, "Huh, jangan mengganggu orang tidur !"

"Tetapi kakek, ci Sian Li tak ada," kata yang pertama yang nadanya seperti seorang anak. "Dia kan seorang gadis, tentu tak mau tidur bersama kita. Sudahlah, hayo tidur lagi," kata orang yang nadanya seperti orang tua.

Memang kedua orang itu tak lain adalah Uk Uk dan Lo Kun. Semula mereka bertiga dengan Sian Li. Adalah karena Sian Li mendengar suara orang berlari diluar kuil ( Clan-li-ji

) maka dia terus keluar meninggalkan kedua kawan yang masih mendengkur.

Kini Uk Uk bangun karena hendak kencing. Dia terkejut karena Sian Li tak ada maka dia membangunkan Lo Kun. Lo Kun masih segan bangun. Dia terus memejamkan mata lagi.

"Ih, ada suara napas orang," pikir Uk Uk. Dia terus merangkak dan menuju ke ruang sudut. Ternyata ia melihat sesosok tubuh sudah rebah.

"O, engkau disini ci Sian Li," serunya kepada orang itu. Sudah tentu Ah Liu yang baru liyer-liyer hendak jatuh pulas, terkejut mendengar suara itu. Dia membuka mata dan menggeliat duduk.

"Siapa engkau!" tegurnya ketika melihat seorang bocah laki sedang memandangnya dari jarak beberapa meter.

“Eh, ci Sian Li, mengapa? Aku kan Uk Uk,” seru Uk Uk. "Siapa Uk Uk? Itu bukan nama. Itu anjing

menggonggong," seru Ah Liu.

"Lho, aku kenapa? Mengapa aku lupa kepada engkau?" seru Uk Uk. Dia kumat lagi tentang memutar-balikkan dari istilah aku dan engkau. Baginya aku herarti engkau. Dan engkau berarti aku. Kalau menyebut dirinya dia bilang kau. Dan kalau menyebut orang lain, bukan bilang 'engkau ' , tetapi aku.

"Hai, engkau ini manusia atau setan?" teriak Ah-Liu. "Lho, aku ini kenapa? Mengapa aku lupa kepada

engkau?" Uk Uk mengulang teriakannya.

"Gila!" Ah Liu melonjak bangun, "siapa engkau?" "Aneh sekali aku ini, ci Siang Li "

"Aku bukan Sian Li!" seru Ah Liu.

"Eh, mungkin aku sedang kemasukan setan penunggu kuil tua ini. Masakan aku lupa diriku sendiri. Bukankah aku ini Sian Li?"

"Setan!" Ah Liu makin keras dugaannya bahwa bocah kuncung yang omongannya tak keruan itu tentu bangsa setan. Bahkan dia terus menghantam Uk Uk.

Karena mengira Sian Li yang memukul, Uk diam saja. Akibatnya, kepalanya kena terpukul dan menjeritlah Uk Uk sekeras kerasnya, "Aaaaaahhhhh…………. mengapa aku ini ci Sian Li? Apa engkau bersalah kepada aku?"

“P.ok . . . “. karena gemas Ah Liu menendang hingga Uk Uk terguling-guling ke lantai.

Uk Uk lari menghampiri Lo Kun dan menguncang tubuh kakek yang masih enak-enak mendenngkur itu, "Kakek Lo, kakek Lo, ci Sian Li .ngamuk. Dia kesurupan setan kuil ini. Masakan engkau ditendang dan ditempeleng sekeras-keras. Nth lihat, kepala engkau sampai benjut "

"Tidur saja Uk Uk, jangan mengurus Sian Li " Lo

Kun beringsut lalu tidur lagi.

"Lho, kakek Lo, kenapa aku ? Ci Sian kemasukan setan dan mengamuk, mengapa aku diam srja ?" teriak Uk Uk.

"Sudahlah Uk, jangan mengganggu lain orang. Tidur sajalah." kata Lo Kun.

Uk Uk tak puas. Dia terus menyeret tubuh kakek itu keluar ruang depan, "Tuh lihatlah, kakek Lo, ci Sian Li masih marah ”

Ah Liu makin heran. Melihat perwujudan kedua orang itu dia makin keras menduga. kalau Lo Kun dan Uk Uk itu tentulah bangsa setan penunggu kuil disitu.

"Huh, apa engkau kira aku takut pada setan cebol dan setan kuncung semacam kalian ?" seru A Liu.

Dia maju dan ayunkan tangannya ....

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid ke 27 Perang ...."

Post a Comment

close