Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 45 Darah dan air mata (Tamat)

Mode Malam
Jilid 45 Darah dan air mata (Tamat)

Huru Hara menyadari bahwa saat segenting seperti yang dihadapinya itu, harus bertindak dengan penuh pertimbangan. Setiap tindakan yang ceroboh dan keliru akan membawa kehancuran yang mengerikan.

Memang jika menuruti suara hatinya, ingin ia menempur pasukan Ceng yang mengepung itu dan membasmi kawanan kaki tangan musuh. Tetapi keinginan itu harus terbentur dengan lain kenyataan. Kenyataan yang menuntut pertanggungan jawabnya terhadap keselamatan mentri Su Go Hwat dan anak2.

Ia mencari akal bagaimana dapat menghindari bahaya yang mengancam saat itu.

Akhirnya ia menemukan suatu cara. Dan segera ia tampil dua langkah kemuka lalu berseru dengan lantang, "Hai, orang2 Boan dan antek anteknya, dengarkanlah !"

Perwira Gotay terkesiap, Ko Cay Seng dan kawannya tersipu-sipu malu.

"Kalau kalian tak tahu malu dan hendak menyerbu kami, silakan," kata Huru Hara, "tetapi kalau kalian masih mempunyai rasa malu dan perwira, hayo, kita bertempur secara ksatrya jaman dulu."

"Apa maksudmu ?" seru Gotay.

"Kita sama2 saling mengajukan jago untuk bertempur mengadu kepandaian. Kalau kami kalah, akan kami serahkan Su tayjin, Tetapi kalau kalian kalah, kalian harus menyingkir dari sini !"

"Huh," dengus Gotay.

"Gotay ciangkun, jangan meladeni ocehan pemuda sinting itu. Dia memiliki kepandaian sakti. Kalau adu kepandaian satu lawan satu, dikuatirkan kita akan kalah. Lebih baik kita serbu mereka dan tangkap saja mati atau hidup,” Ko Cay Seng membisiki Gotay.

Gotay tertegun. Ia belum pernah bertempur melawan Huru Hara. Dilihatnya pemuda itu hanya seorang pemuda biasa, tiada sesuatu yang luar biasa. Tetapi mengapa Ko Cay Seng begitu ketakutan melawan pemuda itu ? pikirnya. "Uh, kalau takut bertempur dengan engkohku, boleh pilih yang lain," seru Ah Liong sambil bercekak pinggang.

Ko Cay Seng seorang tokoh ternama dan berpangkat tinggi dalam pasukan Ceng. Dia adalah tangan kanan dari panglima- besar Torgun. Bahwa tadi dia dipermainkan begitu rupa oleh kawanan anak2 itu, sebenarnya dia hendak mengamuk. Tetapi karena dihadapan perwira Gotay dan kawan-kawannya, ia terpaksa menahan diri dan menganggap apa yang dideritanya dari anak2 itu, seperti tak penting.

Tetapi kini serta mendengar ocehan Ah Liong yang begitu mengejek. Ko Cay Seng tak dapat menguasai diri lagi.

"Bajingan cilik, aku menghendaki engkau yang melawan aku !" serunya. Tanpa disadari dia telah menyetujui tantangan Huru Hara untuk bertanding satu lawan satu. Pada hal baru saja dia menganjurkan agar Gotay menolak tantangan Huru Hara.

"Boleh boleh," sahut Ah Liong seraya terus hendak maju. "Tunggu," Huru Hara mencegah, "bawalah bekal senjata

semut dari anakbuahmu."

Ah Liong menurut. Dia menerima sebuah kantong kulit yang berisi semut merah. Setelah itu baru dia maju...........

Saat itu Ko Cay Seng sudah terus melangkah maju. Karena marah hendak menghajar Ah Liong, dia sampai lupa kepada Gotay dan kawan-kawan.

"Mau bertanding dengan pit ? Baik, kalau engkau memakai pit akupun mempunyai supit," kata Ah Liong seraya mencabut sepasang supitnya, Ko Cay Seng tak mau bicara apa2 lagi, dia terus menyerang anak itu dengan taburkan permainan pit besinya.

Cret …… Ah Liong berhasil menyupit ujung pit dan terjadilah tarik menarik. Tetapi karena kalah tenaga-dalam, Ah Liong tak mampu menangkap lebih lama dan terpaksa melepaskannya. Bahkan akibat gentakan tenaga-dalam dari Ko Cay Seng, tubuh Ah Liong sampai terhuyung-huyung kebelakang beberapa langkah.

Huru Hara terkejut. Ia kuatir Ah Liong tak mampu menghadapi Ko Cay Seng. Namun karena dia yang menantang supaya bertanding satu lawan satu, terpaksa dia tak dapat berbuat apa2 untuk menolong Ah Liong.

Beberapa kali hal itu terjadi. Tetapi Ah Liong dapat menyupit ujung pit lawan, lawan tentu mampu melepaskan dan menggentakkannya sampai mencelat ke belakang.

Sebenarnya Ah Liong bukan tak mengerti hal itu. Tetapi dia memang sedang cari akal bagaimana dapat mengatasi lawan.

Sebenarnya diam2 Ko Cay Seng juga terkejut dan heran atas kepandaian anak itu. Dia taburkan pit dengan cepat. Tetapi setiap kali ujung pit hendak menutuk tubuh, tentulah bocah kuncung itu dengan jitu dapat menyupitnya. Dia memang tak tahu bahwa dalam ilmu supit, Ah Liong memang mempunyai keistimewaan sendiri.

Dia makin gemas. Diam2 dia merencanakan suatu gerak tipu yang akan menghancurkan bocah itu.

"Mampus lu !" teriaknya sembari melancarkan tutukan pit ke mata Ah Liong. Dengan gagah sekali Ah Liong dapat menyupit ujung pit. Tiba2 Ko Cay Seng ayunkan tangan kini melepaskan sebuah hantaman ke batok kepala Ah Liong.

"Uh ," Ah Liong menyurut mundur tetapi pada saat

itu Ko Cay Seng rasakan tangannya kini seperti ditabur benda lunak dan aduh .... .hampir saja ia menjerit karena benda2 itu ternyata menggigit tangan dan lengannya bahkan ada yang masuk kedalam ketiak dan menggigit sekuat-kuatnya.

Terpaksa ia menarik tangan kini dan sibuk menggosok- gosokkan ke lengan dan ketiaknya. Tindakan itu hanya berlangsung beberapa sekejap mata dan tiba2 pula ia menjerit kaget setengah mati, Uhhhhh "

Cepat tangan kirinya mendekap perut untuk menjaga agar celananya tidak sampai meluncur turun, karena  talinya putus.

Dalam keadaan seperti itu, takut akan ditabur dengan serangga yang dapat menggigit panas seperti api, dan kuatir Ah Liong akan menyerang dengan supitnya maka tanpa berkata suatu apa. Ko Cay Seng terus loncat mundur dan menyusup kebelakang anak pasukan.

Gotay melongo. Dia tak tahu apa yang telah terjadi pada Ko Cay Seng. Ia melihat Ko Ca Seng jauh lebih kuat dari Ah Liong. Dan Ko Cay Sengpun tidak menderita luka suatu apa. Tetapi mengapa muka orang she Ko itu berobah merah padam, mendekap perut dan terus loncat mundur.

"Horeeee .. . . hidup jenderal Kuncung” teriak kawanan anak2 dari pasukan Bon-bin.

Huru Hara geleng2 kepala. Walaupun gembira tetapi diapun gemas karena menganggap Ah Liong terlalu gegabah. Dalam pertempuran yang begitu berbahaya, anak itu masih sempat untuk mengolok lawannya. Memang memutus tali celana, termasuk salah satu dari kepandaian Ah Liong yang istimewa.

Hong-hay ji dan pendekar Tengkorak-pencabut nyawa Ang Kim yang pernah merasakan kopi pahit dari Ah Liong dan kawan2nya, serentak lon-cat maju. Sebenarnya hanya satu lawan satu tetapi karena sama2 bernafsu hendak menghajar Ah Liong, walaupun tanpa ajak-ajakan, kedua tokoh itu terus loncat berbareng.

"Hola jenderal yang sudah pecundang masih berani unjuk muka lagi," seru Ah Liong.

"Bangsat, kalau tak dapat mencincang tubuhmu, aku bersumpah tak mau jadi orang," pendekar Tengkorak- pencabut-nyawa berteriak seraya terus menerjang.

Tetapi pada saat itu berhamburanlah dua tiga anak sambil taburkan beberapa kantong kulit.

Kembali pendekar Tengkorak-pencabut-nyawa yang namanya sangat ditakuti itu, harus berjingkrak-jingkrak seraya menggosok dan mengusap muka, dada, perut dan kakinya yang dikerumuni oleh barisan semut merah.

"Hai, kalian curang !" teriak perwira Gotay tetika mehhat kawan Ah Liong sama maju.

"Siapa yang curang lebih dulu ?" teriak Ah Liong, "bukankah fihakmu yang serempak maju dua orang itu ?"

Hong- hay-ji segera berkata kepada pendekar Tengkorak- pencabut-nyawa, memintanya supaya istirahat dulu, "Biarlah kunyuk kecil itu aku yang membereskan," katanya.

"Ho setan cebol, engkau masih berani maju ke muka lagi

?" ejek Ah Liong.

Namun Hong-hay-ji terus saja menerjang. Dia tak mau adu lidah lagi. Terjangan Hong-hay ji atau bocah kuning itu memang istimewa sekali. Ah Liong memang gesit tetapi Hong-hay-ji lebih cepat lagi.

"Uh .... ," tiba2 Ah Liong menjerit tertahan karena bahunya kesamber tangan Hong-hay-ji. Ah Liong terhuyung-huyung mau jatuh.

Melihat itu Hong-hay-ji tak mau memberi ampun lagi. Dia terus loncat menerkam. Ah Liong belum sempat berdiri tegak atau Hong-hay-ji sudah ulurkan tangan untuk mencengkeram uluhati. Kejut Ah Liong bukan kepatang. Dalam keadaan terdesak tiada lain jalan baginya kecuali harus rubuhkan diri ke tanah.

Ah Liong terhindar tetapi dia harus terlentang di tanah.

Memang anak itu masih kalah sakti dengan Hong-hay-ji.

Huru Hara terkejut sekali. Apalagi ketika dilihatnya Hong-hay-ji sudah bergerak untuk menerkam Ah Liong lagi. Dia segera hendak loncat kemuka.

Tetapi tepat pada saat kakinya sudah terangkat, dia mendengar suara teriakan kaget dan kesakitan. Tahu2 Hong-hay-ji sudah terhuyung-huyung mundur sambil mendekap tangan kanannya.

Wajahnya pucat lesi.

Karena sudah terlanjur bergerak, Huru Hara tak dapat menghentikan tubuhnya. Terpaksa dia membuang kedua kakinya berayun ke muka dan berjumpalitan kembali ke tempat semula.

Apa yang telah terjadi pada Hong-hay-ji ? Kiranya pada saat Ah Liong terpojok dalam bahaya, dia melihat Hong- hay-ji rentang kelima jari tangan kanannya untuk mencengkeramnya. Dalam keadaan yang berbahaya itu. Ah Liong teringat akan sepasang supitnya. Cepat dia mencabut dan dengan sisa tenaganya dia tusukkan ke telapak tangan orang. Dan tanpa sengaja tusukannya itu tepat mengenai jalan-darah Lo-kiong-liwat di tengah telapak tangan Hong- hay-ji. Seketika Hong-hay-ji merasa seperti disengat stroom listrik atau dipagut ular. Arus stroom cepat mengalir kejantungnya sehingga karena tak kuat menahan takit, Hong-hay-ji menjerit.

Jalandarah Lo-kiong-hwat merupakan jalan darah yang berbahaya. Apabila tertutuk maka tenaga-dalam orang tentu merana. Demikian pula Hong-hay-ji. Dia menderita luka- dalam yang cukup parah. Itulah sebabnya dia terpaksa harus mundur.

Kemenangan Ah Liong itu direbut dalam kekalahan. Walaupun tak sengaja tetapi kemenangan itu cukup berarti sekali. Kalau tidak terjadi hal yang kebetulan itu, tentulah Ah Liong sudah remuk.

"Ah Liong, mundur," seru Huru Hara karena kuatir dari fihak lawan akan maju tokoh yang hebat lagi.

Begitu Ah Liong mundur maka loncatlah sosok tubuh langsing ke tengah gelanggang.

"Aku minta supaya manusia yang bernama Su Hong Liang maju melawan aku !"

Huru Hara terkejut. Demikian pula dengan rombongan lawan. Ternyata yang maju itu adalah Su Tiau Ing.

Perwira Boan dan beberapa jago fihak Ceng mencurah pandang kepada Su Hong Liang.

"Ko tayjin, bukan karena aku takut tetapi aku sungkan melawan adik sepupuku sendiri,. harap tayjin maafkan," kata Su Hong Liang kepa Ko Cay Seng. Memang Ko Cay Seng heran mengapa Tiau Ing menantang Su Hong Liang. Tetapi dia anggap tentulah nona itu marah karena engkoh misannya telah berhianat. Lain2 hal dia tak dapat menduga.

Ko Cay Seng dapat menyelami perasaan Hong Liang, "Baiklah, jika begitu aku saja yang menghadapi," katanya.

"Jangan," seru To Thian, "biarlah pinto saja yang menemani nona itu bermain-main.

"Baiklah," kata Ko Cay Seng, "tetapi hati2 taysu jangan sampai melukainya, Kita memerlukan mentri Su."

Setelah mengiakan, paderi itupun melangkah ke tengah gelanggang.

"Ih, mengapa seorang paderi yang maju ? Mana Su Hong Liang," tegur Tiau Ing.

"Dia tak mau bertanding dengan nona. Eh, mengapa engkau pilih pemuda cakap saja ? Apakah aku kurang cakap

? Walaupun tua begini, tetapi aku masih dapat melayani nona sampai puas, Oa, ha, ha "

Merah muka Tiau Ing mendengar perkataan yang cabul dari paderi itu, "Paderi jahanam, kupotong lidahmu !"

Giok-h-ktam-hwat merupakan ilmu pedang dari partai Kun-lun-pay, yang hebat. Dalam ilmu pedang itu Su Tiau Ing memang sudah mencapai tingkat tertentu, walaupun belum sempurna tetapi sudah cukup tinggi.

Namun sayang yang dihadapinya itu adalah To Thian taysu, bekas murid partai Siau-lim yang murtad. Tiau Ing tak dapat berbuat banyak menghadapi paderi yang murtad tetapi berkepandaian hebat itu.

"Ai, nona cantik, mengapa ngotot hendak membunuh aku ?" masih paderi itu ceriwis menggoda Tiau Ing. Memang kalau melihat gadis cantik, mata paderi itu tentu berminyak. Dia tak mau menggunakan seluruh kepandaiannya.

Tiau Ing makin marah. Sampai ilmu pedang Giok-li- kiam-hwat itu selesai dimainkan. tetapi belum mendapat hasil suatu apa.

"Ah, rupanya paderi Siau-lim ini memang hebat," pikirnya, "aku harus cari akal untuk mengatasinya."

Segera dia robah permainan pedangnya dalam ilmu Co- kut-hun-kin-kiam. Co-kut-hun-ki artinya melepas tulang menebarkan urat. Sebetulnya merupakan suatu ilmu pukulan yang ampuh. Apabila ia mengenai sasaran, tulang dan urat2 tubuh lawan tentu berhamburan lepas dari tempatnya.

Oleh Ceng Sian suthay, ilmu pukulan itu dimainkan dengan pedang. Dan setelah disana-sini mengalami perobahan dan penyempurnaan, akhirnya berhasillah Ceng Sian suthay menciptakan sebuah ilmu pedang yang dasarnya bersumber pada ilmu pukulan Co-kut- hun-kiu- ciang itu.

Ceng Sian suthay telah mewariskan ilmu pedang itu kepada Su Tiau Ing murid kesayangannya, Tiau Ing cerdas dan berbakat maka ilmu pedang itupun dapat dipelajarinya dengan baik.

Kini Tiau Ing telah mengunakan ilmu pedang itu untuk menghadapi To Thian. Paderi agak bingung menghadapi serangan yang serba tak terduga arahnya. Bergerak ke kanan tetapi menusuk kekiri, bergerak ke kiri tetapi menusuk ke kanan. Dalam beberapa jurus, To Thian memang kelabakan. Tetapi dasar dia memang murid Siau-lim yang hebat, dalam waktu beberapa jurus dia sudah dapat menghadapi lawan.

Tiau Ing semakin marah. Tiba2 dia mendapat akal. Kalau toh-kut-hun-kin-kiam itu serba terbalik gerakannya, sekarang dia tak mau membalik gerakan itu. Misalnya, kalau bergerak ke kanan dia tak mau menyerang ke kiri tetapi benar2 menyerang ke kanan.

Wut, uh ..... tiba2 paderi To Thian terkejut ketika dadanya hampir tertembus ujung pedang. Untung dia masih sempat miringkan tubuh kesamping sehingga hanya bahunya saja yang terkelupas sedikit.

"Ai, nona manis, mengapa engkau tegah melukai calon suamimu ?" masih To Thian menggodanya.

Tiau Ing makin marah sekali. Dia terus menyerang dengan hebat. Kini dia mempunyai akal yang cerdik sekali. Setempo ilmu pedang Coh-kut-hun-kin-kiam dimainkan dengan jurus yang sewajarnya yaitu bergerak kekiri menyerang ke kanan. Tetapi lain kali jurus itu dibalik. bergerak ke kanan tetapi menyerang ke kanan.

To Thian memang hebat. Tetapi karena akal Tiau Ing yang cerdik itu, mau tak mau dia kelabakan juga.

Sebenarnya kalau dia memang mau berkelahi dengan sepenuh tenaga, tentulah dia dapat mengalahkan Tiau Ing. Tetapi dasar dia seorang paderi mata keranjang. Karena terpikat oleh kecantikan Tiau Ing yang gilang gemilang, dia terus main ecoh-ecoh dan sengaja memperlambatkan pertempuran itu agar lebih lama menikmati kecantikan nona itu. Tetapi setelah menghadapi serangan jurus Coh-kut-hun- kin-kiam yang diputar-balik tak keruan oleh Tiau Ing, mau tak mau To Thian men jadi kelabakan juga.

Kalau tadi bahunya yang tertusuk, kini lengannya yang kena. Darahpun mengalir membasahi jubahnya.

"To Thian taysu, lebih baik lekas2 menangkap nona itu," seru Ko Cay Seng dengan menggunakan ilmu Coan-im-jip- bi atau Menyusup-suara.

To Thian gelagapan. Dia malu juga kalau sampai tak dapat menangkap nona itu. Segera dia robah gerakannya sedemikian rupa sehingga tubuhnya seperti pecah menjadi beberapa orang mengurung Tian Ing.

"Ayo, menyerah tidak nona manis," dengan sebuah  gerak Toa-kin-na-jiu atau dengan tangan kosong merebut senjata, ia berhasil memegang tangan Tiau Ing dan terus hendak dipeluknya.

Tetapi pada saat itu juga, sesosok tubuh menerobos dari kerumunan pasukan Ceng dan terus menerjang.

"Uhhhh ..... anjing lu !" teriak To Thian yang gentayangan ke belakang karena bahunya di cengkeram dan disentak ke belakang sekuat-kuatnya oleh orang itu.

Tetapi orang itu tak menghiraukan. Dia malah menghampiri Tiau Ing, "Bagaimana adik Ing, apakah engkau tak terluka ? Maaf, karena aku terlambat "

"Awas, belakangmu Bok-ko,” teriak Tiau Ing seraya menuding ke belakang.

Ternyata yang datang menyentakkan tubuh To Thian itu tak lain adalah Bok Kian, engkoh misan dari Su Tiau Ing. Dia marah sekali karena Tiau Ing dipeluk seorang paderi. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, dia menerjang gerombolan prajurit Ceng dan langsung mencengkeram bahu paderi dan disentakkan ke belakang.

Bok Kian terkejut waktu mendengar peringatan Tiau Ing. Cepat dia berpaling. Betapa kejutnya ketika kepalan tangan To Thian sudah mengancam ke mukanya. Dia berusaha untuk menghindar ke samping tetapi tak urung bahunya terkena pukulan paderi itu.

"Uhhhhh ...... ," Bok Kian mengeluh ketika tubuhnya

,terhuyung-huyung seperti layang2 putus tali. Untung ditolong oleh beberapa anak.

Tiau Ing yang masih mencekal pedang, langsung membacok tangan paderi itu. Tetapi To Titian memang lihay. Cepat ia menekuk siku lengannya ke atas lalu menutukkan jarinya ke batang pedang Tiau Ing, tring……..

tangan Tiau Ing tergetar dan hampir saja pedang terlepas.

Tetapi Tiau Ing juga lihay. Dia adalah murid kesayangan dari Ceng Sian suthay, ketua partai Kun-lun-pay.

Plak……. tiba2 Tiau Ing ayunkan kakinya dalam jurus tendangan Soan-hong-tui atau Tendangan-angin-puyuh.

Karena mengira nona itu tentu akan lepaskan pedang maka To Thian terus merapat maju untuk menerkam lengan Tiau Ing. Tetapi dia tak menduga sama sekali kalau nona itu masih dapat mengirim tendangan yang istimewa. Karena jarak teramat dekat, dia tak sempat menghindar lagi, Lambungnya kena dan paderi itupun menyurut mundur selangkah.

"Ah, mengapa nona berani sama calon suami ?" kembali paderi itu mulai menggoda lagi. lalu maju lagi untuk membayangi Tiau Ing dengai sepasang tangannya.

"Padri busuk, jangan menghina seorang gadis !" tiba2 Bok Kianpun menerjang dan membabat kaki paderi itu. Kini To Thian diserang dari muka dan balakang oleh Bok Kian dan Tiau Ing. Bok Kian, khusus membabat kaki dan Tiau Ing menyerang dada. Dengan demikian, tanpa ajak- ajakan, keduanya telah membentuk suatu permainan gabungan yang cukup merepotkan To Thian.

Sebenarnya To Thian dapat menguasai kedua anakmuda.itu. Tetapi karena dia terpancang oleh peringatan Ko Cay Seng supaya jangan melukai Tiau Ing dan kedua kalinya karena Bok Kian bertempur dengan nekad, maka To Thian menjadi kelabakan juga.

Diam2 To Thian menimang. Karena Tiau Ing tak boleh dilukai maka lebih baik dia mengerjai Bok Kian saja.

Saat itu dia sedang menghindari tabasan pedang Tiau Ing tetapi diam2 diapun tahu kalau Bok Kian juga sedang melancarkan serangan untuk membabat kakinya dari belakang. Sengaja dia diam saja,

Pada saat pedang Bok Kian sudah hampir dekat, tiba2 dengan sebuah gerak membalik tubuh yang indah, To Thian menghantam Bok Kian.

"Uh. ," Bok Kian mandesuh kaget. Tetapi dia tak

menghiraukan. Dia tetap melanjutkan gerak babatan pedangnya.

Terhantamnya dada Bok Kian dan terbabatnya kaki To Thian hampir terjadi pada saat yang bersamaan. Bok Kian terlempar sampai dua tiga meter ke belakang dan muntah darah. Tetapi betis To Kianpun termakan pedang sehingga dagingnya terkelupas dan darah mengalir deras.

Tiau Ing, menggunakan kesempatan itu untuk menabas kepala To Thian. Untunglah To Thian masih dapat loncat ayunkan tubuh ke belakang, Sesosok tubuh melayang ke tempat Bok Kian, "Bok- heng, bagaimana engkau ?"

Sambil membuka mata. Bok Kian hanya geleng- geleng kepala. Orang itu tak lain adalah Huru Hara. Dia kuatir kalau musuh akan maju untuk mengganggu Bok Kian maka cepat2 dia meloncat untuk melindunginya. Dia menggandeng tangan Bok Kian diajak ketempat rombongannya lalu mengeluarkan dua butir pil Cian-lian- hay- te-som (so berumur seribu tahun yang tumbuh di dasar laut) suruh Bok Kian meminumnya dan beristirahat.

Setelah itu Huru Hara maju ke tengah gelanggang. "Nona Su, silakan beristirahat dan melindungi Su tayjin. Biarlah aku yang menghadapi mereka."

Setelah Tiau Ing pergi, Huru Hara lalu berseru kepada rombongan Ceng, "Silakan maju."

Perwira Gotay memang ingin bertempur juga. Dia belum tahu siapa dan bagaimana Huru Hara. Tanpa banyak bicara dia terus melangkah maju Ko Cay Seng hendak mencegah tetapi sudah terlambat. Terpaksa dia hanya berseru, meminta agar perwira Boan itu berhati-hati.

Bukan berterima kasih atas peringatan Ko Cay Seng, kebalikannya diam2 perwira Gotay itu kurang senang dalam hati. Ia menganggap Ko Cay Seng memandang rendah kepadanya.

"Hm, akan kutunjukkan kepadanya bahwa orang Boan itu tidak kalah dengan orang Han," batinnya.

Selekas berhadapan dengan Huru Hara, terus saja perwira Gotay itu menantang, "Hayo, engkau menghendaki bertanding dengan cara apa ? Pakai senjata atau tangan kosong ?"

"Terserah kepadamu !" jawab Huru Hara. Gotay mendapat akal. Kalau dengan ilmusilat kemungkinan lawan akan mampu menandinginya. Tetapi kalau dengan cara bertempur di medan perang, tentulah lawan akan keok.

"Beranikah engkau bertempur secara ksatrya di medan perang ?" tanyanya.

"Apa yang engkau maksudkan ?"

"Aku kubirimu seekor kuda. Kita masing2 naik kuda, Dan akan kuberimu juga tombak dan busur. Kita nanti bertanding dengan tombak dan saling memanah. Bagaimana ?"

"Boleh," sahut Huru Hara tanpa banyak pikir.

"Jangan Loan-heng," tiba2 Bok Kian bersetu mencegah.

Rupanya dia sudah sembuh,

"Tak apa, Bok-heng," kata Huru Hara.

"Baik," sambut Gatay, "engkau memang seorang pemuda Han yang gagah perwira."

Kemudian dia kembali kepada rombongannya minta supaya disediakan dua ekor kuda, tombak dan busur lengkap dengan auakpanah.

Setelah perlengkapan itu disediakan maka Huru Harapun menerima kuda, tombak dan busur.

"Hati-hati Loan-heng," seru Bok Kian.

Sementara itu Ah Liongpun berunding dengan anakbuahnya. kasak kusuk Rupanya mereka hendak merencanakan suatu daya upaya untuk bantu Huru Hara.

Huru Hara sudah menaiki kuda dan Gotay pun sudah siap. Dia memegang tombak. Sesaat kemudian dia memberi tanda mengacungkan tombak maka kudapun segera dilarikan menerjang ke arah Huru Hara.

Tring . . . . Huru Hara menangkis. Gotay rasakan tangannya gemetar. Diam2 dia terkejut. Ternyata lawan yang bertubuh kurus dan seperti tak bertenaga itu, mempunyai tenaga yang hebat

Tetapi Gotay seorang perwira yang banyak pengalaman dalam medan peperangan. Dia pandai sekali bertempur dengan naik kuda.

Serangan yang kedua, dia bersikap seperti hendak menusuk. Tetapi pada waktu merapat tiba2 dia meluncur kebawah perut kuda dan terus menusuk kaki Huru Hara.

Huru Hara terkejut. Cepat dia menggerakkan kakinya ke muka, cret . , kuda meringkik keras sambil berjingkrak mengangkat kaki keatas.

Huru Hara terkejut ketika tahu2 dia meluncur ke belakang dan jatuh ke tanah. Untung dia masih sempat mencekal kuda. Salekas kuda itu hendak mencongklang ke muka, Huru Hara menarik ekornya sehingga kuda itu terhenti dan dengan meminjam tenaga tarikan itu, Huru Hara berayun lagi ke punggung kuda.

Ternyata tusukan tombak Gotay itu, walaupun tidak mengenai kaki, tetapi menembus celananya terus menusuk ke perut kuda. Celana Huru Hara robek sampai ke lutut.

Terdengar sorak sorai dari pasukan Ceng melihat perwira mereka mendapat kemenangan.

Karena belum pengalaman dalam bertempur naik kuda, Huru Hara menderita kerugian. Tetapi diam2 dia memuji kepandaian perwira Boan itu. Kembali Gotay melarikan kuda untuk manyerang, Huru Hara menusuk tetapi Gotay kembali menghilang dari punggung kuda. Tahu2 dia muncul dari bawah perut kuda dan terus menusuk perut Huru Hara.

"Uhhhh," kali ini yang terkejut adalah Gotay. Tusukannya mengenai tempat kosong dan tahu2 ia rasakan kakinya yang masih mengait pada besi pijakkan kuda, dicengkeram orang lalu di lontarkan. Kini dialah yang terancam jatuh ke tanah.

Tetapi Gotay memang jago dalam- hal naik kuda. Dalam keadaan tubuhnya berada diperut kuda tanpa suatu pegangan, dia masih dapat ayunkan kakinya ke muka dan tahu2 sudah naik dipunggung kuda Huru Hara. Kini mereka tukar kuda Huru Hara naik kuda Gotay dan Gotay naik kuda Huru Hara.

"Bagus, bagus !" kali ini pasukan anak kecil anakbuah Ah Liong yang bertepuk tangan.

Gotay makin penasaran. Dia memutar kuda dan berganti mencabut busur dan anakpanah. Dia larikan kuda, setelah terpisah dua tombak dari lawan, diapun melepaskan anakpanah.

Huru Hara tak sempat berganti busur. Terpaksa dia menangkts dengan tombaknya, tring ……… tepat sekali anakpanah itu dihantamnya jatuh.

Gotay memutar kuda lalu menerjang lagi. Kali ini dia tidak hanya melepas sebatang anak-panah tetapi sekaligus tiga batang yang ditujukan pada kepala, dada dan perut lawan.

Srut, srut, srut ……….. ketiga batang anakpanah itu berhamburan melaju kemuka karena tidak menemui sasaran, Huru Hara loncat ke udara sampai dua tombak tingginya lalu berayun meluncur lagi ke punggung kuda.

"Hm, hebat juga," dengus Gotay. Diam2 dia akan melancarkan serangan yang jauh lebih dahsyat lagi.

Setelah melarikan kuda dan terpisah dua tombak dari Huru Hara, Kembali Gotay melepas tiga batang  anakpanah. Dan pada saat ia melihat Huru Hara hendak bergerak, Gotay pun cepat menyusuli pula dengan tiga batang anakpanah lagi, "Hm, masakan engkau mampu menghindar sekarang," pikirnya.

"Celaka, aku tertipu," diam2 Gotay mengeluh dalam hati ketika menyaksikan apa yang dilakukan Huru Hara.

Ternyata Huru Hara tidak melayang ke udara tetapi menggelincir kebawah perut kuda, seperti yang dilakukan Gotay tadi. Memang Hutu Hara heran dan memperhatikan cara2 Gotay waktu menggelincir kebawah perut kuda tadi. Setelah tahu baru ia menirukannya dan ternyata mampu juga.

Gotay gemas sekali. Dihadapan pasukan Ceng dan beberapa jago2 yang menjadi kaki tangan panglima Torgun ternyata dia tak mampu mengalahkan seorang pemuda nyentrik, Pada hal Gotay termasyhur sebagai seorang perwira yang selalu menang dalam setiap peperangan.

Cepat dia mengganti busur dengan tombak lalu merunduk kebawah dan menusuk Huru Hara yang bergelantungan dibawah perut kuda. Tetapi pada saat dia merunduk kebawah, tiba2 kuda yang dinaikinya itu rubuh menggelpar ketanah. Sudah. tentu diapun ikut terbanting.

Kiranya kuda yang dinaiki Gotay, adalah kuda yang semula dipakai Huru Hara. Kuda itu tadi terkena tusukan tombak Gotay. Mengapa tadi masih dapat dinaiki Gotay lalu sekarang roboh?

Memang fihak pasukan Ceng bermain curang. Waktu Gotay meminta disediakan kuda, tombak dan anakpanah tadi, diam2 atas perintah Ko Cay Seng, tombak dan anakpanah yang akan dipakai Gotay telah dilumuri racun. Karena terkena tombak beracun yang bekerjanya lambat, maka baberapa waktu kemudian barulah kuda itu roboh. Karena tak diberitahu, dalam hal ini Gotay memang tak tahu.

Gotay memang hebat. Begitu jatuh ditanah dia terus bergelundungan dan menyambar tubuh Huru Hara. Kini keduanya bergumul. Kedua ekor kuda sudah mencongklang pergi.

Gotay mahir dalam ilmu gumul. Akhirnya dapat meringkus Huru Hara terus diangkat hendak dibanting, Tetapi dia terkejut ketika secara tiba2 saja, tubuh Huru Hara mendadak berobah berat sekali. Lengan Gotay terasa linu karena hampir tak kuat menahan tekanan tubuh Huru Hara.

"Uhhhhh," akhirnya Gotay harus menyerah juga dan lepaskan tubuh Huru Hata. Pada saat dia masih belum sempat menggerakkan kedua tangannya dari rasa linu, Huru Hara ganti mencekal tengkuknya dan terus diangkat dan diputar-putar sederas kitiran.

Terdengar pekik teriak gemuruh dari pasukan Ceng ketika menyaksikan adegan itu. Mereka tak dapat ditahan lagi dan serempak menyerbu. Melihat itu, terpaksa Ko Cay Seng juga memberi perintah kepada kawan-kawannya untuk menyerang.

Huru Hara makin penasaran. Tubuh Gotay diayun- ayunkan kian kemari sebagai senjata untuk menghantam setiap prajurit musuh yang hendak mendekatinya. Suasana menjadi kacau dan pertempuranpun berlangsung secara acak-acakan.

Tiau Ing, Bok Kian, Ah Liong dan pasukan Bon-bin, menyambut serangan mereka.

Diam2 Ko Cay Seng telah membisiki beberapa kawannya untuk menyerang anak2 muda itu dan memencilkan mentri Su. Dialah yang akan merangkap mentri itu.

Memang tak mudah untuk mendekati rombongan Bok Kian-Tiau Ing. Kedua muda mudi itu bertempur seperti kesetanan. Juga anakbuah Ah Liong mulai malepaskan kantong2 semut dan tawon. Prajurit2 yang memang menjerit-jerit dan berjingkrak- jingkrak seperti kerangsokan setan karena digigit semut dan disengat tawon. Tetapi karena jumlah mereka besar, maka merekapun tetap dapat mengurung anak2 muda itu sehingga terpisah dari mentri Su.

Huru Hara sendiri tak sempat memperhatikan mentri karena saat itu dia sedang dikepung oleh empat orang jago yaitu Amita lhama, Hong-hay- ji, pendekar Tengkorak- pencabut-nyawa dan To Thian. Keempat orang itu adalah tokoh2 persilatan kelas satu. Agak sukar dan lama, Huru Hara harus melayani mereka. Untunglah dia memakai senjata istimewa yakni tubuh Gotay sehingga lawan2-nya jeri juga. Tetapi diapun sukar untuk lolos dari kepungan.

Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Ko Cay Seng. Dia berhasil menyelundup di-antara rombongan prajurit Ceng dan mendekati mentri Su.

"Su tayjin, harap ikut aku," cepat ia menyambar lengan mentri Su tetapi mentri dengan sigap menusuk tangan Ko Cay Seng. "Uh," Ko Cay Seng mendesuh karena hampir saja telapak tangannya tertusuk. Untung dia dapat menggelincirkan tangannya ke bawah sehingga hanya lengan bajunya yang robek.

Pada saat dia memandang kemuka ternyata mentri sudah meloloskan diri.

"Hm, hendak kemana engkau," Ko Cay Seng terus mengejar.

Mentri berhasil lolos dari medan pertempuran menyusup kedalam hutan. Ko Cay Seng terus mengejarnya.

Tiba2 muncul seorang kakek pendek yang menghadang jalan Ko Cay Seng, "Hai, stop! Mengapa engkau lari seperti dikejar setan?"

Ko Cay Seng berhenti. Dia teringat bahwa kakek itu adalah dari rombongan Huru Hara. Dan diapun tahu kalau kakek itu seorang limbung. Kalau dihadapi dengan kekerasan tentu akan memakan waktu lama. lebih baik diakali saja.

"Apakah engkau tahu seorang lelaki yang lari kedalam hutan?" balas Ko Cay Seng.

"Kurang ajar, engkau menghina aku!" bentak kakek itu yang tak lain adalah kakek Cian-li-ji.

Ko Cay Seng terbeliak, "Siapa yang menghina engkau? Aku kan bertanya apakah engkau melihat seorang lelaki lari kedalam hutan ini?"

"Ya, "sahut Cian-li-ji, "inilah!" dia menunjuk pada dirinya.

"Ah,” Ko Cay Seng geleng2 kepala, "bukan engkau tetapi lain orang."

"Ya, memang ada tetapi dia terus lari saja." "Wah, kalau sampai mentri Su tayjin menderita sesuatu yang tak diinginkan, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab kepada pendekar Huru Hara nanti?" kata Ko Gay Seng.

"0, dia mentri Su? Dan engkau diperintah keponakanku Huru Hara untuk "

"Ya, untuk menyelamatkannya," cepat Ko Cay Seng menukas.

"Akan kutangkanya,” teriak Cian-li-ji terus masuk kedalam hutan.

"Ko Cay Seng tertawa dalam hati. Dia memang tahu kalau kakek itu seorang limbung. Dia segera menyusul. Tak berapa lama, dilihatnya kakek itu tengah mendekap tubuh seseorang. Dan orang itu tak lain, adalah mentri Su Go Hwat.

"Bagus, kakek yang pintar,” puji Ko Cay Seng seraya menghampiri.

"Celaka! jangan tertipu. Dia adalah kaki tangan pasukan Ceng yang hendak merangkap aku!' teriak mentri Su.

"Hah?" Cian-li-ji terbelalak, "benarkah itu?'

Ko Cay Seng tertawa dan geleng2 kepala "Jangan percaya,” katanya, "memang Su tayjin mendetita goncangan batin yang hebat sehingga tak kenal lagi kepadaku."

"0, benar, benar, "teriak Cian-li-ji, "karena kalah perang Su tayjin menjadi kacau pikirannya. Bukankah begitu, Su tayjin?"

"Tidak! "teriak mentri Su, "aku tak apa2. Jangan percaya kepadanya." "Kakek yang pintar. "seru Ko Cay Seng "serahkan Su tayjin kepadaku dan lekaslah engkau membantu pendekar Huru Hara. Dia sedang menghadapi serangan tentara Ceng."

"0, apakah sudah terjadi pertempuran?" tanya Cian-li-ji. "Benar,” sahut Ko Cay Seng, "itulah sebabnya maka

Huru Hara suruh aku melindungi Su tayjin."

"Baik, sambutilah," Cian-li-ji terus melemparkan Su tayjin kepada Ko Cay Seng dan Ko Cay Sengpun segera menyambutinya.

Cian-li-ji terus lari hendak mencari Huru Hara. Belum berapa lama menyusup hutan dia bertemu dengan Tiau Ing, "Hai. engkau Ing?" tegurnya.

"Kakek Cian,” seru Tiau Ing gembira, "kemana saja engkau tadi?"

"Aku terpaksa melarikan diri. Bangsat she Ko itu memang lihay sekali,” kata Cian-li-ji.

"Engkau tentu tak kena suatu apa, bukan?" "Ya."

“Hendak kemana engkau.?"

“Huru Hara memanggilku suruh membantunya menghadapi pasukan Ceng. Aku harus lekas2 datang."

Tiau Ing kerutkan alis, "Siapa yang suruh engkau?" "Huru Hara?"

"Aneh, dia sedang bertempur mengapa dia dapat menyuruhmu datang?"

"Aku bertemu dengan seorang sasterawan, dialah yang menyampaikan pangilan Huru Hara itu kepadaku." Tiau Ing makin heran, "Siapa nama sasterawan itu?"

"0, celaka, aku lupa bertanya. Tunggu, aku hendak mencarinya,” Cian-li-ji terus hendak lari masuk kedalam hutan lagi.

"Tunggu,” cegah Tiau Ing, "apakah sasterawan itu tidak mirip dengan Ko Cay Seng?"

"Siapa Ko Cay Seng?"

"Lawan kakek bertempur. Orang yang pandai menggunakan senjata pit itu.”

"Pakaiannya sih sama tetapi wajahnya berbeda. Ko Cay Seng masih agak muda."

"Lalu kemana orang itu."

'Dia menerima Su tayjin untuk dilindungi.”

"Apakah Su tayjin mandah saja ditangkap orang itu?" "Bemula Su tayjin kusekap lalu kuserahkan kepada orang

tadi."

"Mengapa kakek serahkan kepadanya?" "Karena dia mengaku kawan dari Huru Hara.”

"Celaka,” teriak Tiau Ing seraya banting2 kaki, “jelas dalam rombongan kita tak terdapat lawan yang menyerupai Ko Cay Seng. Jangan2 Ko Cay Seng menyaru jadi orang lain dan mangelabuhi engkau."

"Bangsat, akan kuhajar manusia itu," Cian-li-ji terus loncat kedalam hutan. Tiau Ing terpaksa menyusul. Ia kuatir dugaannya itu tepat. Jika demikian. jelas ayahnya terancam bahaya. Beberapa saat kemudian, Tiau Ing melihat Cian-li-ji sedang berhadapan dengan seorang sasterawan yang tengah memanggul sesosok tubuh manusia.

"Hai, engkau berani menipu aku ?" tegur Cian-li-ji. "Menipu apa ?"

"Engkau bukan utusan Huru Hara. Jelas engkau bermaksud hendak mencelakai Su tayjin. Hayo serahkan Su tayjin !"

"Siapa yang aku menipu engkau. Kalau tak percaya mari kita bersama-sama datang dan tanya kepada Huru Hara.”

"Jangan percaya kakek Cian," tiba2 Tiau Ing berseru dari belakang, "Dia adalah Ko Cay Seng yang pernah bertempur melawan engkau tadi."

"Tetapi wajahnya tadi tidak begitu. Mengapa sekarang berobah seperti orangtua ?"

"Dia memang pandai ilmu menyaru jadi apa saja. Tentulah dia merobah wajahnya agar engkau tak mengenalinya."

"Hm, benar juga," sahut Cian-li-ji, "kalau begitu, lekas berikan Su tayjin kepadaku."

“Paman Cian, mengapa engkau tak perraya kepadaku ? Kalau tak percaya kepadaku berarti tak percaya kepada Huru Hara," seru Ko Cay Seng dengan nada akrab.

"Lho, kapan aku menikah dengan bibimu ?" teriak Cian- li-ji heran, "mengapa engkau juga ikut memanggil paman kepadaku ?"

Ko Cay Seng melongo,

"Ya, ya, memang benar. Kalau tak percaya kepadamu berarti tak percaya kepada keponakanku Huru Hara. Ah. tidak," Cian-li- ji berpaling kepada Tiau Ing, "dia memang benar2 disuruh Huru Hara !"

"Ai, kakek limbung," Tiau Ing banting2 kaki karena kheki. Dia tak mau menghiraukan kakek itu lagi dan terus maju menghampiri Ko Cay Seng," orang she Ko. lepaskan ayah dan engkau boleh pergi.”

'Siapa nona ini ?" masih Ko Cay Seng pura2 berlagak pilon.

"Jangan banyak mulut ! Engkau mau serahkan ayah atau tidak !" bentak Tiau Ing seraya mencabut pedang.

"Ho, engkau mau main paksa ? Silakan!” Ko Cay Seng menantang seraya mengisar mentri Su kemukanya sebagai perisai. Saat itu walaupta dapat bergerak tetapi Su Go Hwat tak dapat bicara. Tentulah jalandarahnya telah ditutuk Ko Cay Seng sehingga tak dapat bicara,

Tiau Ing terkesiap. Dia menyadari apa yang akan dilakukan Ko Cay Seng. Ko Cay Seng seorang ganas, apa yang dikatakan tentu dikerjakan. Kalau ia menyerang, tentulah Ko Cay Sang akan menggunakan Su tayjin sebagai perisai.

"Orang she Ko," seru Tiau Ing, "mengapa engkau bernafsu sekali untuk mencelakai ayah ? Kalau engkau berhamba kepada orang Boan, itu urusanmu. Tetapi adakah sudah hilang sama sekali rasa kebangsaanmu sehingga engkau harus perlu mencelakai seorang mentri yang berjuang untuk menyelamatkan rakyat kerajaan Beng ?"

"Engkau keliru," sahut Ko Cay Seng, "aku bukan bermaksud mencelakai ayahmu tetapi kebalikannya justeru untuk membahagiakannya. Kerajaan Ceng sangat menghargai ayahmu dan ingin mengangkatnya sebagai mentri maka hendak kubawa ayahmu kepada panglima Torgun agar dia mendapat pangkat yang tinggi."

"Hm, ayah adalah seorang ksatrya. Jangan engkau samakan dengan dirimu. Ayah tidak menginginkan pangkat tinggi tetapi hendak mengabdi kepada negara dan rakyat !"

"Bekerja pada kerajaan Ceng, juga suatu pengabdian. Karena kita dapat menyalamatkan atau setidak-tidaknya dapat mencegah tindakan orang Ceng yang hendak menindas rakyat," bantah Ko Cay Seng.

"Jangan mengukur baju orang dengan ukuran badaranu

!" bentak Tiau Ing dengan marah, "ayah akan lebih suka mati daripada harus menjadi budak orang Boan."

"Hm, coba saja "

"Lepaskan !" Tiau Ing coba mencuri kesempatan yang baik untuk menusuk Ko Cay Seng tetapi Ko Cay Seng lebih cepat lagi. Dia segera menarik tubuh mentri untuk menyambut ujung pedang Tiau Ing. Sudah tentu Tiau Ing harus berusaha untuk menghentikan. Karena tak sempat, dia hanya menggeliatkan ujung pedang kesamping agar jangan mengenai tubuh ayahnya.

"Kurang ajar, engkau hendak menguasai Su tayjin ?" tiba2 Cian-li-ji loncat terus menerkam Ko Cay Seng.

Ko Cay Seng dorongkan tangan kiri untuk menolak tubuh Cian-li-ji tetapi pada saat itu juga Tiau Ingpun menusuknya. Karena harus mengisar tubuh mentri untuk menyambut ujung pedang, maka dia tak sempat memperhatikan Cian-li ji.

"Aduhhhhh ...." sekonyong-konyong Ko Cay Seng menjerit kesakitan dan meronta sekuat-kuatnya untuk melepaskan tangannya yang tengah digigit Cian-li-ji. "Bangsat tua !" karena masih belum dapat melepaskan mulut Cian-li-ji, terpaksa Ko Cay Selig menghantam dengan tangan kanannya, prok .....

Cianli-ji agak puyeng. Dia menyurut dua langkah. Tetapi Ko Cay Sengpun heran mengapa batok kepala kakek itu tidak remuk. Tiba2 ia terkejut ketika teringat akan mentri Su yang dilepaskannya tadi. Dan ah .... mentri itu sudah ditarik oleh Tiau Ing.

Ko Cay Seng marah sekali. Dia mencabut senjata pit dan terus menyerang Tiau Ing. Dia tak mau sungkan memberi ampun lagi. Diserangnya nona itu dengan ilmu simpanannya yang disebut Pitseng- poan- wi atau Tujuh- bintang- pindah- tempat. Seketika tampak tujuh titik sinar putih yang berputar-putar tak henti- hentinya, mengatah enambuah jalandarah tubuh Thiau Ing.

Memang dalam ilmu menutuk pit, dalam jaman itu kiranya hanya Ko Cay Seng yang paling menonjol. Belum ada lagi jago lain yang mampu menandinginya.

Tring, tring, tring .... Tiau Ing juga memainkan pedangnya, membentuk suatu lingkaran sinar pedang untuk melindungi diri. Tetapi rupanya pit Ko Cay Seng lebih tangkas dan lincah. Berulang kali pedang Tiau Ing kena ditutuk sehingga tangan nona itu terasa linu.

"Lepaskan !" beberapa saat kemudian kedengaran Ko Cay Seng membentak dan benar juga, pedang Tiau Ingpun terlepas jatuh.

Ko Cay Seng tak man menyia-nyiakan kesempatan itu, terus melanjutkan hendak menutuk tenggorokan Tiau Ing. Untung Tiau Ing dapat menghindar tetapi lengannya kena tertutuk. Seketika itu Tiau Ingpun rubuh. Melihat puterinya rubuh Su Go Hwat kalap. Dengan memberingas dia menikam Ko Cay Seng. Ko Cay Seng menghindar,  menebas  tangan  mentri  itu,  tring  .............

pedang  pandak  Su  Go  Hwat  terlepas  dan…. dan............

tepat jatuh kedadanya

"Ahhhhhh," terdengar mentri itu mendesuh seraya merdekap pedang yang menancap didada lalu dicabutnya. Darah mengalir membasahi baju mentri itu.

Bagaikan kalap, mentri nekad maju menusuk Ko Cay Seng lagi. Ko Cay Seng terkejut melihat kenekadan mentri. Dia berusaha menghindar tetapi bahunya kena tertusuk juga.

Darah dan rasa sakit memancing kemarahan Ko Cay Seng. Memang dalam hati kecilnya, dia sudah merencanakan untuk membunuh mentri Su. Dia takkan menyerahkan mentri itu kepada panglima Torgun karena kuatir dia akan kalah. Torgun tentu akan lebih menghargai dan memberi pangkat serta kekuasaan yang lebih tinggi kepada mentri Su.

Tepat pada saat itu mentri Su sudah menyerangnya lagi dengan bengis, "Aku akan mengadu jiwa kepadamu, anjing

!" teriak mentri kalap.

Tetapi mentri itu tidak pandai dan yang dihadapinya adalah seorang Ko Cay Sing. Memang dengan kekalapan dan kemarahan yang berkobar, secara tak terduga-duga jalandarah pembisu dari tubuh mentri Su yang tertutuk telah dapat melancar lagi sehingga dia dapat berkata-kata. Tetapi bagaimanapun dia tetap kalah sakti dengan lawan.

"Uh .... ," mentri Su mendesuh kaget karena tikaman pedangnya luput dan kakinya terasa dikait orang. Dia kehilangan keseimbangan tubuh dan terus jatuh ..... Melihat itu Ko Cay Seng memberingas, Dia maju untuk menusuk. Tetapi sebelum dia sempat bergerak, terjadilah dua buah peristiwa yang berlangsung hampir berbareng saatnya.

"Lebih baik aku bunuh diri daripada engkau tangkap, anjing !" kata Su Go Hwat terus menikamkan pedang ke dadanya sendiri.

Tetapi tepat pada saat itu, Cian-li-jipun loncat dan menyundul Ko Cay Seng dengan kepalanya. dukkkk Ko

Cay Seng yang tak menyangka akan diserang dari belakang oleh kakek itu tak sempat menghindar. Dia terpelanting sampai setombak jauhnya. Dadanya serasa pecah dan darah berhamburan melancar binal, huak ……..

Dia muntahkan segumpal darah segar. Kepala Cian-li-ji memang bukan sembarang kepala. Kerasnya melebihi batu. Dan karena marah melihat Su tayjin berlumuran darah, dia menyeruduk pinggang Ko Cay Seng sekuat-kuatnya. Apabila bukan Ko Cay Seng tentulah dadanya sudah sempal.

Ko Cay Seng menderita luka-dalam yang parah sekali. Dia sedang memusatkan tenaga dan perhatian untuk membunuh Su Go Hwat sehingga dia lengah untuk menjaga serangan Cian-li-ji. Ia menyadari bahwa jika dia masih tetap disitu, tentulah Cian-li-ji akan membunuhnya. Jalan yang paling selamat adalah melarikan diri.

Tepat beberapa saat setelah Ko Cay Sen ngacir, muncullah Huru Hara. Demi melihat keadaan Su tayjin dia terus lari dan menubruknya, 'Su tayjin, mengapa engkau ?"

Diangkatnya tubuh mentri itu dan dibaringkan diatas kaki Huru Hara, Huru Harapun berusaha untuk meminumkan beberapa butir pil Cian lian-hay-te-som kemulut mentri. Dan memang benar, beberapa saat kemudian tampak mentri membuka mata. Serta melihat Huru Hara dia paksakan diri bersenyum sayu.

"Hiantit............ .. engkau "

"Benar, tayjin. Bagaimana keadaan tayjin ?” "Aku sudah tak ada harapan lagi hiantit.”

"Tayjin, siapakah yang mencelakai tayjin?”

"Aku .. . tak sudi . . . ditangkap Ko Cay Seng aku

bunuh diri sendiri "

"Ah, mengapa tayjin mengambil keputusan begitu? Apabila tayjin dalam bahaya, kami sekalian tentu akan berusaha untuk menolong."

"Ah, terlambat .. .. hiantit "

"Tayjin , " Huru Hara tak dapat melanjutkan kata-

katanya karena tersekat oleh rasa haru.

"Jangan bersedih . .. hiantit        mumpung masih ada be .

.  .  berapa  waktu  ..  .  aku  hendak  memberi  pesan  .  .  .  .

kepadamu "

"Baik, tayjin, silakan. "

"Kesatu, teruskan perjuangan melawan penjajah Boan . .

. . "

"Baik tayjin."

"Kedua, bersihkan kaum durna dan kaum penghianat .. .

. "

"Baik."

"Ketiga . . . ketiga .. . aku tit . . . tit ... . Tiau, Tiau Ing . . .

• " "Tayjin!" Huru Hara berseru kaget karena Su Go Hwat tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ketika diraba hidungnya ternyata napas mentri itu sudah berhenti.

Huru Hara mengucurkan airmata. Baru pertama kali itu sejak dia dewasa, dia mengucurkan airmata. Bahkan ketika ayahnya meninggal, setelah dia mendengar kabar, diapun tak menangis. Tetapi entah bagaimana, kali ini dia benar2 menitikkan airmata.

Dia tak dapat berkata apa2. Dia ingin dengan cucuran airmata itu mempersembahkan rasa hormat yang setinggi- tingginya dan rasa bakti yang setulusnya terhadap seorang pahlawan bangsa yang telah berjasa besar kepada nusa dan bangsanya.

Ia tak dapat menghaturkan sesuatu kecuali dengan airmata. Airmata dari seorang ksatrya diperuntukkan kepada seorang ksatrya yang telah mendahului gugur di medan bakti.

Huru Hara menangis. Suatu peristiwa yang luar biasa. Karena selama ini walaupun menghadapi derita kesakitan yang bagaimana parahnya menderita kesedihan yang betapa besarriya dan menghadapi bahaya yang betapa gawatnya, dia tetap tak berkedip, tak menitikkan airmata.

Pelahan-lahan Huru Hara meletakkan jenasah Su tayjin lalu dia berlutut dan memberi hormat sampai tujuh kali.

"Selamat jalan, tayjin. Apa yang tayjin pesan pasti akan kulakukan. Harap tayjin beristirahat tenang di alam baka .. .

. , " mulut Huru Hara berkomat-kamit mengucap doa.

Tepat pada saat itu didengarnya suara bergemuruh dan pada lain saat muncullah rombongan jago2 kaki tangan kerajaan Ceng yang terdiri dari To Thian hweshio, Amita lhama, Hong-hay ji dan pendekar Tengkorak-pencabut- nyawa. Ko Cay Seng tak tampak.

Memang waktu bertempur dengan mereka tadi, Huru Hara sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dia terkejut ketika melihat mentri Su tak ada. Dan cepat ia mengarahkan perhatiannya kepada Ko Cay Seng. Ternyata orang she Ko itu juga tak tampak. Diam2 dia mulai gelisah.

"Bangsat, terimalah kawanmu!" dengan menggembor keras Huru Hara lemparkan tubuh Go-tay ke arah Amita lhama dan kawan-kawannya.

Pada saat mereka sibuk menyanggapi tubuh Gotay, Huru Hara terus loncat dan lari mencari Su tayjin. Dia memang dapat menemukan Su tayjin tetapi terlambat. Mentri itu sudah dalam keadaan kritis. Walaupun diberinya pil buah som yang istimewa, tetapi jiwanya tak tertolong lagi.

Kini Huru Hara melihat lagi kedatangan kawanan kaki tangan musuh yang tadi bertempur dengannya.

"Kedua ..... basmilah kaum durna dan penghianat "

tiba-tiba terngiang pula pesan mentri Su tadi. Serentak memberingaslah Huru Hara.

"Aku hendak membalaskan dendam Su tayjin," katanya dalam hati.

Serentak dia mencabut pedang Thiat- Cek kiam dan berdiri tegak menyongsong mereka.

"Hayo, kawanan anjing busuk, majulah!" riaknya.

Amita Ihama dan kawan2 terkesiap melihat penampilan Huru Hara yang begitu menyeramkan. Tetapi karena mereka berjumlah banyak dan dibantu dengan pasukan yang bersenjata lengkap, merekapun tak gentar. Segera mereka menyerbu dengan serempak. Pada saat Huru Hara maju tadi, sebenarnya Cian-li-ji hendak mendampingi tetapi dicegah, "Jangan paman, bawalah nona Tiau Ing dan jenasah Su tayjin ketempat yang aman!"

Oleh karena Cian-li-ji terus melakukan perintah maka sekarang yang menghadapi musuhnya Huru Hara seorang diri.

"Bunuh bangsat itu!" teriak kawanan prajurit yang menyerbu dengan gembira. Mereka mengira dengan kekuatan yang besar apalagi ditambah dengan beberapa jago sakti, tentulah mereka dapat menghancurkan pemuda itu.

Seperti berlomba-lomba untuk mendahului mencari jasa kalau dapat lebih dulu membunuh Huru Hara maka berhamburan kawanan prajurit Ceng itu menyerbu Huru Hara.

Huru Hara tak gentar. Dia memang sudah bertekad bahwa hari itu dia akan melakukan pembasmian sepuas- puasnya untuk menyembayangi arwah mentri Su.

Laksana harimau mencium darah maka mulailah Huru Hara mengamuk. Satiap prajurit yang datang tentu di hancurkannya. Walaupun yang datang sekaligus sampai duapuluhan orang, tetapi dalam beberapa kejap saja sudah dapat dibasmi Huru Hara.

Mayat2 mulai bertumpukan darah bergelimpangan menggenangi tanah. Huru Hara sudah bukan lagi seorang pemuda yang nyentrik tetapi seorang hantu pencabut nyawa yang ganas.

Melihat dalam waktu beberapa kejab saja berpuluh-puluh prajurit Ceng mati, Amita lhama dan kawan-kawan barteriak suruh prajurit2 itu mundur. Huru Hara dikepung oleh empat jago sakti yani Amita lhama, paderi To Thian, Hong-hay- ji dan pendekar Tengkorak-pencabut-nyawa. Mereka juga memakai senjatanya masing2.

Walaupun tidak mengerti ilmusilat tetapi gerakan permainan pedang Huru Hara benar2 menakjubkan sekali. To Thian dan Amita yang tergolong jago kelas satu, tetap kalah cepat dengan gerakan Huru Hara.

Cret tasbih Amita Ihama melengket pada pedang Hum Hara ketika saling berbentur. Di kala Ihama itu hendak menarik tasbihnya, secepat kilat Huru Hara ayunkan kakinya, plok . . . . lhama itu terpental melayang sampai dua tombak jauhnya dan tak dapat bangun lagi untuk selama-lamanya karena alat vitalnya pecah berantakan .....

Pada saat itu Hong-hay-ji membacok dari belakang. Huru Hara cepat berputar tubuh dan inenghantamkan pedangnya. Tring . .. Hong-hayji terpental dua langkah, pedangnya jatuh. Waktu Huru Hara hendak menghabisi, To Thian sudah menyerang dari samping.

Tring .. .. kembali terjadi benturan antara pedang Huru Hara dengan To Thian. Memang Huru Hara sudah tak mau mengnindar lagi. Dia akan mengadu kekerasan pada setiap penyerangnya. Akibatnya, To Thian terdorong selangkah, tangannya gemetar .....

Pendekar Tengkorak-pencabut-nyawa ayunkan ruyungnya. Tring . . . . kembali Huru Hara membabatkan pedangnya. Ujung ruyung melilit pedang dan pendekar Tengkorak berusaha untuk menariknya. Tetapi sampai wajah merah padam dia tetap tak mampu,

Kali ini Huru Hara hendak melakukan suatu gerak serangan yang dahsyat. Dia enjot tubuh ke atas dan menjejak dada lawan. "Auhhhhh . . . . , " pendekar Tengkorak menjerit ketika tubuhnya terdorong jatuh ke belakang dan masih diinjak Huru Hara. Sekali ayunkan pedang, terbelahlah tubuh tokoh hitam itu menjadi dua.

Hong-hay-ji dan To Thian terkesiap menyaksikan kesaktian Huru Hara. Mereka kenal siapa Amita dan pendekar Tengkorak-pencabut-nyawa. Tetapi kedua tokoh itu toh tak dapat apa2 terhadap Huru Hara.

To Thian terkejut ketika Huru Hara melayang menabas kepalanya. Dia terpaksa menyongsong dengan pedangnya. Tring . .. auh .. . pada saat To Thian tergetar tangannya, tahu-tahu perutnya terasa seperti disusupi benda tajam yang dingin rasanya. Pada lain saat ia rasanya darahnya bergolak, pandang mata gelap dan robohlah dia dengan perut pecah dan usus berhamburan ke luar.

Luar biasa sekali cepatnya gerakan Huru Hara sehingga tokoh seperti To Thian, toh tak kuasa lagi menahan serangannya.

"Hai, hendak lari kemana engkau setan tua!" teriak Huru Hara  seraya  lontarkan pedangnya, cret punggung

Hong-hay-ji yang hendak melarikan diri itu tertancap pedang magnit, seketika jago tua yang berwajah seperti kanak2 itu rubuh tak bernyawa lagi.

Sekalian prajurit Ceng kesima. Tetapi mereka tiba-tiba menjadi gelagapan setengah mati ketika Huru Hara mengangkat tubuh To Thian dan dilemparkan kearah mereka.

Kemudian mayat pendekar Tengkorak dan terakhir setelah mencabut pedang Thia-cek- kiam, mayat Hong-hay- jipun dilemparkan kearah kawanan prajurit Ceng. Ditengah hiruk pikuk dari mulut prajurit yang berusaha untuk menghindari timpukan mayat2 itu, tiba2 Huru Hara sudah menerjang mereka.

Huru Hara benar2 kalap. Dia tak ingat apa2 lagi kecuali hanya bertujuan untuk membalaskan dendam kematian Su Go Hwat.

Terjangan Huru Hara yang dahsyat itu tiada seorangpun yang mampu membendung. Dalam beberapa kejab saja lebih dari seratus prajurit rebah menjadi mayat yang bertumpang tindih. Tak seorang pun musuh yang dapat lolos dari amukan Huru Hara.

Beberapa saat keadaan menjadi sunyi senyap. Hanya mayat2 yang berserakan memenuhi tanah.

Huru Hara benar2 haus darah. Setelah tak ada musuh yang hidup lagi, dia terus menuju ke tempat Ah Liong dan kawan-kawannya bertempur.

Saat itu Ah Liong dan pasukan Bon-bin serta Bok Kian masih dikepung rapat oleh berlapis-lapis prajurit Ceng, Bahkan ada beberapa anak dari pasukan Bon- bin yang roboh berlumuran darah.

Bagai harimau menyerbu kawanan domba maka Huru Hara terus menerjang.

Gemparlah pasukan Ceng ketika diserbu Huru Hara. Sedemikian cepat dan gesit serta dahsyat Huru Hara memainkan pedangnya sehingga tak sempat lagi kawanan prajurit itu hendak menghindar. Tahu2 mereka menjerit dan rubuh. Ada yang sempat menangkis, hasilnya juga runyam. Begitu terbentur dengan pedang magnit, prajurit itu terlempar dan termakan senjata kawannya sendiri. Mendapat tambahan Huru Hara, Bok Kian, Ah Liong dan kawan2 yang masih hidup, makin bersemangat. Merekapun mengamuk.

Lapis demi lapis pasukan Ceng yang sedang mengepung. mulai berantakan. Mayat menganak bukit, darah seperti banjir.

Huru Hara tidak menghiraukan segala apa. Dia terus menyerang dengan kalap. Tak seorangpun musuh yang mampu menahannya. Dalam beberapa kejab berantakan pasukan Ceng yang terdiri dari dua ratusan orang itu. Seumur hidup dan sepanjang pengalaman mereka dalam peperangan selama ini, belum pernah mereka menghadapi seorang manusia yang begitu dahsyat seperti Huru Hara.

Ada beberapa yang hendak melarikan diri tetapi dapat dibabat Bok Kian atau Ah Liong.

Rupanya Huru Hara tak mau melepas mereka, walaupun seorang saja. Bok Kian, Ah Liong dan kawan2 sampai kesima menyaksikan amukan Huru Hara.

Huru Hara mengamuk dan mengamuk, dia terus menerjang kemuka. Ketika pasukan Ceng sudah habis dia terus lari mengejar.

"Engkoh Hok, musuh sudah habis !" teriak Ah Liong, "hendak kemana engkoh ?"

Huru Hara mendengar juga teriakan Ah Liong tetapi dia sudah tak menghiraukanrya lagi. Dia terus memutar-mutar pedangnya seperti menyerang musuh. Pohon dan gerumbul yang kebetulan terbentur tentu terbabat habis. Bahkan beberapa gunduk batu karang pun tertabas hancur lebur berhamburan ke mana2.

Dia terus tak henti2nya menggerung dan menyerang. Terus, terus maju ke muka, entah sampai kemana. Pokok, dia merasa harus membasmi setiap prajurit Ceng yang dijumpainya.

Hari mulai gelap. Ah Liong gelagapan, "Hai, kemana engkoh Hok tadi ?" serunya.

Beberapa kawannya asyik, menolong kawannrya yang rebah terluka ditanah. Memang berat bagi pasukan Bon-bin. Mereka adalah anak2 laki yang tak pandai ilmusilat tetapi hanya didorong rasa ingin membantu negara penghalau musuh sa ja maka mereka membentuk pasukan anak2. Untung mereka mendapat senjata yang istimewa, yakni semut merah dan tawon. Tetapi itupun karena persediaannya tak banyak, akhirnya habis juga, Sedang pasukan musuh lebih banyak sehingga akhirnya musuh dapat menghajar pasukan anak2 itu.

Penutup

Ah Liong mendapatkan bahwa kawan2 dalam pasukan Bon-bin itu yang masih hidup hanya dua orang, yani bocah yang gendut dan yang paling kecil.

Bocah gendut itu bernama Ko Ko dan si kecil bernama Sian Ling. Yang Iain2 terpaksa harus rela menjadi korban keganasan prajurit2 Ceng.

Ko Ko coba menangkis bacokan seorang prajurit tetapi dia terlempar dan diterjang oleh serbuan prajurit2 Ceng yang lain hingga rubuh dan diinjak-injak. Ko Ko pingsan. Karena dikira sudah mati maka tak dibunuh lagi.

Sedang Siau Ling juga pintar. Dia ikut terdampar diantara sosok2 tubuh yang rubuh sehingga dia ikut tertindih di tanah. Karena menyadari bahwa tak mungkin dia dan kawannya melawan arus serbuan pasukan musuh yang jauh lebih besar dan kuat, Siau Ling memutuskan untuk pura2 mati saja.

Dengan peristiwa itu maka kedua anak itupun dapat selamat. Memang suatu hal yang luar biasa bahwa dalam pertempuran yang begitu dahsyat dan ganas, keduanya masih dapat hidup.

"Jenderal Kuncung, kemana sekarang kita hendak  pergi?" tanya Ko Ko.

"Ko Ko,” kata Ah Liong, "mulai sekarang untuk sementara, baik kita bubarkan dulu kesatuan Bon-bin itu."

"Lho, bagaimana? Peperangan toh masih belum selesai?"

"Ya, benar, tetapi kita kan tidak punya anak-pasukan lagi? Dan lagi lebih enak kalau kita ber-gerak secara bebas. Nanti setelah dapat menghimpun kekuatan lagi barulah kita hidupkan pasukan Bon- bin."

"Baik, "sahut Ko Ko dan Siau Ling.

"Oleh karena itu janganlah kalian memanggil aku jenderal Kuncung, Ah Liong tersipu-sipu malu, "Kuncung sih boleh karena rambutku memang kuncung, tapi tak usah pakai gelar jenderal segala."

"Baik, Ah Liong, "akhirnya Ko Ko setuju, "lalu apa yang harus kita kerjakan sekarang?"

"Kita rawat dan tanam baik2 jenasah dari kawan2 kita dulu," kata Ah Liong.

Mereka bertiga lalu melakukan pekerjaan itu. Airmata ketiga anak itu tak henti2nya bercucuran mana kala mereka mengangkat dan mengubur seorang kawan yang telah meninggal.

"Kawanku yang gagah perwira," kata Ah Liong bersama Koko dan Sian Ling selesai mengubur dan berdoa dihadapan makam mereka, "kami akan pergi untuk melanjutkan perjuangan. Bantu-lah kami apabila bertempur dengan musuh. Cekik lah leher mereka agar kami dapat membalaskan sakit hati kalian "

Setelah puas menangis dan bersembahyang, Ah Liong mengajak kawan-kawan meninggalkan tempat.

Dia agak bingung menentukan, mencari kakek Cian-li-ji, Tiau Ing dan Su tayjin atau mencari Huru Hara.

"Lebih baik mencari engkoh Hok," seru Ko Ko dan Siau Ung, "dia mengejar musuh dan menyerbu ke daerah mereka, Tentu penuh bahaya. Kalau kakek Cian, cici Tiau Ing dan Su Tayjin, tentu sudah dapat menyelamatkan diri."

Demikian ketiga anak itu lalu mencari Huru Hara. Tetapi sampai keesokan harinya, mereka tetap tak dapat menemukan jejak Huru Hara.

Dilain bagian, Cian-li-ji yang melakukan perintah Huru Hara untuk menyelamatkan Tiau Ing dan jenasah mentri Su Go Hwat, pun dapat melakukan tugas dengan baik.

"0, benar, walaupun sudah mati, tetapi kalau jenasah Su tayjin sampai ditemu musuh, mereka tentu akan menyiksanya lagi," pikir kakek yang limbung itu.

Tetapi dia agak bingung. Tiau Ing masih pingsan. Dia dapat memanggul nona itu tetapi bagaimana cara dia membawa jenasah Su tayjin? Kalau membawa jenasah Su tayjin, diapun sukar untuk membawa Tiau Ing. Habis bagaimana nih? Pikirnya.

Setelah mondar mandir mencari akal, tiba2 dia berjingkrak, “O, ada.!”

Dia terus mengeluarkan buli2 anak dan diminumkan sedikit ke mulut Thiau Ing. Benar juga tak barapa lama Tiau Ingpun siuman. Dia berseru, "Apa yang terjadi..........

kakek Cian?"

Cian-li-ji geleng2 kepala, "Sudahlah Ing, jangan mikirkan apa2, mari kita berangkat."

'Berangkat? Kemana.?"

"Kita cari tempat yang aman  untuk  mengurus  Su tayjin. "

"Apa? Ayah bagaimana?”

“Su tayjin adalah seorang pahlawan yang besar. Engkau harus, bangga karena mempunyai seorang ayah yang sedemikian "

"Aku tak tahu apa yang kakek maksudkan. Bagaimana ayah dan mana engkoh Huru Hara?"

"Dia masih melanjutkan membasmi musuh. Dia suruh aku membawa engkau dan Su tayjin ke tempat yang aman. Nanti dia akan datang kepada kita."

Dalam berkata- kata itu, Tiau Ing memandang ke sekeliling. Ketika melihat mentri Su membujur di tanah tak berkutik dan berlumuran darah, serentak Tiau Ing menjerit dan loncat, "Ayahhhhh .....

Tiau Ing memeluk tubuh ayahnya yang sudah menjadi jenasah dan menangis tersedu sedan.

"Ing, jangan terlalu berduka. Itu tak baik bagi kesehatanmu" Cian li-ji menasehati, "Su tayjin telah pecah sebagai ratna. Kematiannya adalah suatu kematian yang luhur. Aku juga ingin mengikuti jejaknya "

Tetapi Tiau Ing tetap menangis.

"Ing, setiap orang tentu akan mati. Aku juga, engkau dan Huru Hara, kelak apabila sudah tiba saatnya tentu akan mati. Mati bukan sesuatu yang ditakutkan. Yang ditakutkan adalah caranya orang mati dan nilai kematiannya. Bagai Su tayjin, kesaktiannya itu adalah nilai dari kepahlawanan yang luhur "

Walaupun agak mereda namun Tiau Ing masih sesenggukan.

"Kalau kita benar2 mencintai dan bersedih atas kematian Su tayjin, bukan dengan menangis caranya," kata Cian-li-ji lebih lanjut, "tetapi dengan jalan melaksanakan segala pesannya dan melangsungkan jajak perbuatannya semasa beliau masih hidup. Itu baru suatu cara untuk memberi hormat dan berduka yang tepat “

"Menangis memang baik untuk melonggarkan rasa kesesakan dada kita dan mencurahkan rasa kesedihan hati kita," kata lagi. "tetapi bukan suatu cara yang tepat. Karena yang mati tetap akan mati, tak mungkin dapat hidup karena ditangisi. Ing, apakah engkau sudah longgar hati-mu ? Kalau belum, menangislah sampai sepuas-puasmu, akan kutunggu…."

Entah bagaimana, menghadapi adegan yang begitu tragis, tiba2 pikiran Cian-li-ji menjadi terang dan omongannyapun genah. Dia dapat memberi nasehat dan menghibur Tiau Ing dengan tepat sehingga menyentuh hati nona itu. Diam2 nona itupun terpengaruh atas kata2 Cian- li-ji,

"Kakek Cian, engkau benar," katanya dengan suara  sarat, "aku akan menebus kesalahanku dengan bersumpah akan melanjutkan cita2 perjuangan ayah."

"Bagus, cucuku."

"Lalu bagaimana sekarang ini ? Kita hendak pergi kemana, kakek Cian ?" "Mari kita lakukan pesan Huru Hara untuk mencari tempat yang tenang dan mengebumikan jenasah Su tayjin. Disana kita nanti tunggu kedatangan Huru Hara."

"Baik," kata Tiau Ing.

Keduanya lalu berangkat. Kakek Cian memanggul jenasah mentri Su dan Tiau Ing mengawal disamping.

Kembali pada Huru Hara yang masih melanjutkan perjalanan untuk membasmi pasukan Ceng, saat itu masih berjalan di suatu daerah luar kota yang sepi.

Dalam perasaan dan pandangannya, prajurit2 Ceng itu masih banyak tersebar disana sini untuk menghadangnya. Itulah sebabnya maka dia masih terus mengamuk. Pohon, semak, batu dan benda apa saja yang dianggap prajurit musuh, tentu dibabatnya.

Sehari suntuk dia mengamuk tanpa berhenti. Dia menderita suatu shock atau goncangan besar karena terkejut, marah, bersedih dan penasaran atas kematian mentri Su Go Hwat. Dia hendak menumpahkan isi hatinya kepada orang2 Ceng yang dianggap menjadi penyebab kematian mentri Su.

Dia seperti orang kalap. Gelap pikiran, gelap pandangan. Yang dirasakan hanya satu tujuan, mengamuk dan mengamuk sampai seluruh pasukan Ceng habis ludas dibasminya.

Pelahan-lahan haripun makin gelap. Tak lama kemudian malam tiba. Namun Huru Hara masih tak henti-hentinya mengamuk. Dan karena pikiran kacau- balau, dia tak kenal jalan dan tak tahu telah sampai dimana.

Sesungguhnya Huru Hara telah tersesat jalan. Dia tidak mengambil jalan besar tetapi mengamuk ke dalam hutan. Dia mengira pohon2 dan batu2 dalam hutan itu gerombolan prajurit Ceng maka dia makin lama makin menyusup lebih dalam sehingga akhirnya keputusan jalan dan tak tahu lagi berada di mana.

"Hm, kawanan bangsat itu hendak bersembunyi dalam gua itu," katanya ketika melihat sebuah gua yang berada dibalik gerumbul pohon.

Dia menghampiri dan terus menghantam batu yang menutup gua itu. Terjadi ledakan dahsyat ketika karang yang berada diatas gua itu bengkak dan berhamburan menimpah kepada dirinya. Dia masih mengamuk terus. Tetapi sekonyong-konyong sebutir batu sebesar kepala orang, telah melayang dan tepat menimpah kepalanya, dukkkk seketika rubuhlah dia dan tak sadarkan diri lagi.

Huru Hara pingsan. Dia tak tahu apa yang terjadi disekeliling. Dia hanya merasa dirinya seolah melayang- layang dalam suatu alam yang kosong melompong ,

Huru Hata telah menderita goncangan pikiran dan batin yang hebat. Kematian mentri Su Go Hwat telah menghanguskan seluruh bara hidupnya. Dia merasa tak dapat memenuhi tanggung jawabnya melindungi keselamatan mentri itu.

SEKEDAR KATA.

Pembaca yang budiman !

Kisah BLO’ON CARI JODOH atau PENDEKAR

HURU HARA kami tutup sampai sekian dulu. Tetapi bukan berarti sudah selesai, melainkan dengan suatu pertimbangan bahwa, berhubung dengan panjangnya kisah Blo’on cari jodoh ini, kami bagi menjadi tiga bagian :

Bagian I .. Pendekar Huru Hara Bagian II ..Pendekar Kalang Kabut Bagian III...Pendekar Kocar Kacir

Setiap bagian merupakan kisah perjuangan Blo’on dalam satu masa atau jaman.

Bagian I Pendekar Huru Hara, mengisahkan sepak terjang Blo'on sebagai Pendekar Huru Hara dalam jaman peperangan antara kerajaan Beng yang telah hijrah ke kota Lamkhia (Nanking) dengan pasukan Ceng.

Bagian II Pendekar Kalang Kabut merupakan perjuangan Blo`on waktu kerajaan Beng dari kota Lam-khia pindah ke Hok-ciu di selatan.

Bagian III Pendekar Kocar Kacir mengisahkan kiprahnya Blo`on dalam peperangan terakhir antara kerajaan Beng yang hijrah lagi ke selatan, sehingga sampai hancurnya kerajaan Beng tersebut,

Bagian I Pendekar Huru Hara sekarang ini sudah tentu belum dapat mencangkum selesainya seluruh cerita BLO`ON CARI JODOH. Masih banyak tokoh2 yang belum sempat diceritakan sampai selesai,

Bagaimana akhirnya Huru Hara yang pingsan dimuka gua, bagaimana Cian li-ji dan Su Tiau Ing, bagaimana pula dengan perjalanan Sian Li dengan Lo Kun, rombongan Kim Yu Ci bersama-bersama Han Bi Ing, bagaimana perjalanan Wan-ong Kui yang hendak menuntut balas kepada Blo`on, bagaimana dengan si dara centil In Hong, si bocah pekok Uk Uk dan lain2 tokoh dalam cerita ini?

Kesemuanya itu terpaksa tak dapat dimuat dalam Bagian I Pendekar Huru Hara dan harus di-ceritakan dalam Bagian II Pendekar Kalang Kabut nanti. Juga bagaimana dengan keakhiran dari Blo`on mencari jodoh itu? Siapakah jodoh Blo`on nanti?

Mungkin dalam bagian III Pendekar Kocar Kacir barulah hal itu dapat kami ungkap.

Dan mencapai identitas atau ciri dari peribadi tokoh Blo`on, mungkin pembaca ada yang terkejut mengapa tidak sama dengan Pendekar Blo`on yang terdahulu?

Memang dalam hal itu, terdapat perobahan sembilanpuluh derajat. Kalau dahulu dalam kisah Pendekar Blo`on, dia benar2 blo`on tetapi sekarang keblo’onannya itu sudah banyak berkurang.

Hal itu disebabkan karena sifat yang ada pada diri Blo`on. Dia memang aneh. Kalau dalam keadaan Lama. aman dan seorang diri, dia memang kumat blo`onnya. Tetapi kalau dalam suasana yang ramai, semisal dalam peperangan. Atau kalau bergaul dengan orang yang lebih blo’on serta ugal-ugalan seperti Ah Liong dan Uk Uk, kebloonan si Blo`on, tiba2 saja sembuh. Terutama selama menghadapi suasana peperangan seperti dalam cerita ini, Blo`on hampir tak kumat lagi Blo`onnya.

Tetapi kesemuanya itu hanya bersifat sementara. Karena bagaimanapun halnya, sifat dan watak seseorang itu sukar dirobah. Blo`on tentu masih blo’on, karena .....

Sekali Blo'on, tetap Blo'on.

s.d. liong.

SELESAI
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Pahlawan Gurun (Han Hay Hiong Hong)] akan diupload pada jam 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 45 Darah dan air mata (Tamat)"

Post a Comment

close