Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 36 Gawat

Mode Malam
Jilid 36 Gawat

Huru Hara terkejut. Ia hentikan langkah dan berpaling, "Apa katamu ? Ada sesuatu yang aneh pada diriku ?"

Dewi Seruling Emas tak lekas menjawab melainkan tertegun. Kemudian menjawab, "Ya."

"Soal apa ?"

"Apakah engkau benar puteri dari Siau tikoan ?" tanya Dewi Seruling Emas,

Huru Ham terkesiap namun dijawabnya juga, "Ya, mengapa ?"

"Aneh," gumam wanita bercadar itu. "Apanya yang aneh ?"

"Tikoan itu adalah pembesar tertinggi di kota. Puterinya tentu seorang gadis yang cantik. Tetapi , ..."

"Tetapi bagaimana ?"

"Mengapa engkau begitu tinggi seperti seorang lelaki ?" "Ha h ?"

"Dan lihatlah itu, kakimu juga besar seperti petani ..." "Hus !" karena lupa Huru Hara sampai mendampratnya. "Tanganmupun besar2 seperti tukang. !"

"Engkau gila !"

"Dan suaramu, ya, suaramu itu bukan suara anak perempuan , "

"Sinting engkau !"

"Maka bukalah kain cadar penutup mukamu itu agar hilanglah kesangsianku. Engkau apakah benar-benar puteri Siau tikoan."

"Dewi Seruling , ."

"Serulling Emas !" tukas wanita bercadar itu. "Mengapa harus pakai emas ?"

"Karena serulingku memang terbuat dari emas murni."

"O," seru Huru Hara pula, "aku akan membuka kain penutup mukaku tetapi engkaupun harus membuka cadar penutup wajahmu. Itu baru adil!" seru Huru Hara.

Selama dalam pembicaraan itu karena dirangsang ketegangan, Huru Hara lupa untuk memperkecil nada suaranya. Dia bicara ceplas ceplos seperti biasanya sehingga kentara kalau lelaki, "Hm," desuh Dewi Seruling-emas, "engkau melanggar pantanganku. Barangsiaaa menghendaki melihat wajahku, harus mati ! Apakah engkau masih menginginkannya ?"

"O, sama dengan aku," seru Huru Hara pula, "barangsiapa yang ingin melihat wajahku, tentu akan cacat"

"Hm, makin lama engkau makin berobah. Bukan lagi seperti layaknya seorang gadis puteri tikoan. Siapa engkau

?" bentak Dewi Seruling-emas."

"Aku adalah mempelai wanita dari pangeran Boan.

Kalau tak percaya, terserah "

"Lekas buka kerudung mukamu!" bentak Dewi Seruling- emas.

"O. apakah engkau kepingin cacat ?" seru Huru Hara. "Pik Lian, lucuti kain penutup mukanya," seru wanita

itu.

Dari kelompok kuntilanak, muncul seorang kuntilanak yang terus menyambar kain penutup wajah Huru Hara.

“Ih. ," kuntilanak yang disebut Pek Lian itu mendesis

kaget karena sambarannya luput. Dia ulangi lagi tetapi tetap tak berhasil.

Melihat itu seorang kuntilanak Ioncat maju dan membantu. Tetapi kedua kuntilanak itupun juga tak berhasil. Gerakan si mempelai wanita itu terlalu cepat bagi mereka.

Seorang kuntilanak maju lagi tetapi tetap tak mampu merobohkan. Seorang demi seorang sehingga dua belas kuntilanak maju mengepung Huru Hara.

Sebenarnya Huru Hara dapat merobohkan mereka tetapi dia malu kalau harus memukul anak perempuan maka diapun hanya berlompatan kian kemari menghindari serangan mereka.

Tiba2 terdengar suara seruling berbunyi. Dan tampaklah Dewi Seruling-emas itu sedang meniup serulingnya. Rupanya karena melihat selusin anakbuahnya tak mampu berbuat apa2 terhadap si mem pelai wanita, Dewi Seruling itu menyadari kalau mempelai itu seorang yang berilmu tinggi. Maka mulailah dia meniup seruling pusakanya.

Eh, tahu2 kawanan kuntilanak itupun tidak menyerang lagi. Kini mereka mulai menari-nari dengan gerak yang lemah gemulai mengikuti irama seruling itu.

Saat itu haripun makin malam dan gelap. Hanya suara seruling yang mengalun tinggi rendah merobek-robek kesunyian malam. Kawanan kuntilanak itu seperti kena sihir. Mereka bagai patung3 hidup yang dimainkan oleh suara seruling.

Huru Hara tertegun. Tiba2 ia merasa jantungnya mendebur keras dan darahnya mengalir deras ketika menyaksikan ulah tingkah kawanan kuntilanak itu. Serempak dengan alunan irama seruling yang makin melengking-lengking tinggi, kawanan kuntilanak itupun makin menjadi histeris.

"Celaka," diam2 Huru Hara membatin, "rupanya suara seruling itu mengandung tenaga-dalam yang hebat."

Dia lebih camas pula ketika merasa nafsunya makin lama makin meluap ketika melihat kawanan kuntilanak itu mulai melepaskan pakaiannya.

"Wah, runyam," pikirnya pula, "kalau aku tak segera berundak, tentu celakalah aku."

Dia kerahkan hati dan kerahkan tenaga. Tenaga-sakti Ji- ih-sin-kang memang lihay. Karena sudah beberapa kali merasakan, setiap kali kerahkan tenaga, dia dapat memiliki tenaga yang hebat, maka Huru Harapun percaya bahwa dirinya memang mengandung tenaga yang sakti.

Selekas kerahkan tenaga, dia terus enjot tubuhnya melayang sampai dua tombak, melampaui kepala kawanan kuntilanak dan terus tiba di hadapan Dewi Seruling.

Dewi Seruling terkejut sekali. Ia tak nyana bahwa mempelai perempuan bukan saja kebal dengan serangan tenaga-sakti dari serulingnya, pun saat itu malah dapat menerobos keluar dan berdiri dikadapannya.

"lh, engkau ini bukan manusia !" teriak Dewi Seruling yang hentikan tiupannya lalu menyerang.

Huru Hara terkejut melihat gaya serangan wanita bercadar itu. Dia merasa seperti ditabur oleh puluhan batang seruling emas sehingga matanya silau.

"Ihhhhh," teriak Dewi Seruling ketika ujung seruling berhasil menyingkap kain penutup muka mempelai perempuan dan menyaksikan wajah Huru Hara.

"Siapa engkau !" bentaknya sesaat kemudian.

Hum Hara terkejut. Namun karena sudah ketahuan diapun menyahut tenang. "Aku Huru Hara. Aku memang sengaja menyaru menjadi puteri tikoan untuk menolong puteri itu supaya jangan sampai jatuh ke tangan pangeran Boan !"

Dewi Seruling terkesiap. Rupanya dia tengah mempertimbangkan langkah terhadap Huru Hara.

"Hm, tujuanmu memang baik," akhirnya wanita bercadar itu berkata, "tetapi engkau membohongi aku."

"Apa engkau merasa rugi ?" "Paling tidak, aku harus melaksanakan tujuan dari perhimpunan yang kudirikan ini."

"Engkau memusuhi aku ?"

"Karena jelas engkau seorang lelaki !"

"Apa salahnya aku jadi seorang lelaki ? Habis, kalau memangnya lelaki apakah harus jadi perempuan ?" balas Huru Hara seenaknya.

"Engkau memang tak salah tetapi menyalahi aku. Karena aku telah bersumpah untuk mengganyang setiap lelaki."

"Engkau limbung," seru Huru Hara, "yang salah lelaki yang menyakiti hatimu tetapi mengapa aku yang tak tahu menahu persoalanmu, harus engkau balas ?"

"Sudah ..jangan banyak mulut !" seru Dewi Seruling, “kedua engkau mampu bertahan mendengar aku memetik harpa, engkau boleh bebas !"

"Lho, mengapa harpa ? Bukankah engkau mahir meniup seruling ? Bukankah engkau memakai gelar Dewi Seruling- emas ?"

Dewi Seruling mendengus, "Sebenarnya aku mempunyai dua macam senjata, seruling dan harpa. Tetapi entah bagaimana orang hanya senang memberi julukan Dewi Seruling-emas kepadaku. Tetapi itu tak penting, lekas engkau bersiap din!"

"Sembarang waktu aku sudah siap !"

Maka Dewi Seruling lalu melolos harpa yang menggamblok pada punggungnya. Sama dengan serulinguya, harpa itu juga terbuat dari emas. Sejenak bersiap maka terdengarlah suara harpa mengalunkan lagu. Bermula pelahan lalu makin keras dan lincah menggambarkan suatu suasana yang riang.

Karena sudah tahu bahwa harpa itu mengandung tenaga- pesona, maka diam2 Huru Harapun sudah menghimpun napas dan mengerahkan tenaga agar jangan sampai terbius.

Alunan harpa kemudian berobah, mengalun nada yang sedih, merintih dan meratap-ratap bagai sepasang kekasih yang sedang berpisah.............. .

Huru Hara tegak seperti patung. Wajahnya berobah pucat dan hatinya seperti disayat-sayat. Tetapi dia masih kuat bertahan.

Beberapa saat kemudian, harpa berganti irama. Kini kembali beralun deras dan gencar penuh dentum-dentum yang dahsyat dan gemercik yang bergemuruh. Sepintas menyerupai suasana medang pertempuran.

Sedemikian hebat harpa itu meletup-letup sehingga Huru Hara tak tahan lagi. Tiba2 saja dia ayunkan tangan menghantam, "Mampus engkau, kurcaci Boan. "

Kiranya saat itu Huru Hara memang terhanyut dalam gelombang harpa yang mengalun irama peperangan, Saking tak kuat, pikiran Huru Hara seperti tengah membayangkan kalau dia sedang diserang oleh kawanan prajurit Boan. Maka tak tahan lagi, dia terus menghantam penuh kemarahan.

Tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang memang sebuah tenaga- dalam yang luar biasa hebatnya. Andaikata tenaga-sakti itu dimiliki oleh seorang tokoh yang berilmu tinggi, tentu akan mengembang dahsyat, Jika tokoh itu seorang tokoh hitam, dia akan merupakan momok yang membahayakan umat manusia, Pembangkitan tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang yang dilakukan karena terkejut dan marah, akan mencapai titik yang tertinggi dari daya kesaktian tenaga aneh itu. Dan adalah karena membayangkan sedang dikepung prajurit2 Boan, maka Huru Harapun marah. Tenaga-sakti Ji-ih-sin-kang seketika memancar dahsyat ,

"Ihhhhh ..... ," Dewi Seruling mendesis kaget ketika tubuhnya terdampar mundur beberapa langkah. Lebih terkejut lagi ketika ia mengetahui beberapa senar dari harpanya telah putus .....

Huru Hara tersadar dan terkejut menyaksikan keadaan wanita-wanita itu tegak berdiri seperti patung. Wajahnya pucat lesi dan tengah pcjamkan mata.

"Maaf, Dewi Seruling, aku tak sengaja melukaimu," Huru Hara menghampiri dan minta maaf, "tetapi mengapa engkau mengalunkan lagu yang menggambarkan peperangan dahsyat sehingga aku merasa seperti diserang oleh beratus-ratus pra jurit Boan, lalu kuhantam mereka     "

Namun tiada jawaban. Dewi Seruling tetap membisu. "Baik, Dewi Seruling," kata Huru Hara pula, "aku masih

mempunyai  urusan  penting  untuk  membantu  perjuangan

mentri Su Go Hwat yang sedang menghadapi serangan pasukan Ceng di Yangciu. Aku bersalah dan akupun sudah minta maaf. Terserah saja kepadamu. Kalau engkau dapat menerima permintaan maafku, anggap saja urusan ini sudah selesai. Tetapi andai kata engkau tetap tak dapat memaafkan aku, kapan saja engkau boleh mencari aku. Nah, selamat tinggal "

"Tunggu ..... ," baru beberapa langkah Huru Hara berjalan, tiba2 terdengar Dewi Seruling berseru, "engkau kumaafkan karena engkaulah satu-satunya orang yang sanggup menerima suara harpaku dan bahkan dapat menghancurkan senar harpa itu."

"Terima kasih," kata Huru Hara, "apakah masih ada .....

"

Huakkkkk,  tiba2  Dewi  Seruling  muntahkan   segumpal

darah merah dan tubuhnyapun bergemetaran keras lain jatuh terduduk, Ternyata dia menderita luka- dalam yang cukup parah.

"Dewi Seruling, kuharap engkau suka minum pil buah som ini," kata Huru Hara seraya memberikan dua butir pi1 Cian - tian - hay - te-som (buah som dari dasar laut yang berumur seribu tahun, "percayalah, lukamu tentu akan sembuh."

Dewi Seruling meminum pil itu.

"Dewi Seruling," kata Huru Hara pula, "aku gembira karena engkau mau memaafkan salah faham yang terjadi diantara kita tadi. Engkau tentu maklum. bahwa tujuanku menyaru jadi mempelai wanita sebagai pengganti puteri dari tikoan, tak lain adalah untuk menolong puteri tikoan, disamping aku memang bertujuan hendak menculik pangeran Barbak "

Terdengar Dewi Seruling mendesis pelahan.

"Dengan menculik Barbak yang menjadi saudara dan panglima besar angkatan perang kerajaan Ceng yaitu Torgun, aku akan menemui mentri pertaaan Su tayjin dan dengan menggunakan sandera itu dapatlah Su tayjin menekan agar pasukan Ccng yang mengepung kota Yang- ciu ditarik mun dur. "

Tiba2 Huru Hara hentikan kata2nya karena melihat Dewi Seruling gelengkan kepala. "Kenapa engkau gelengkan kepala ?" tegur Huru Hara.

"Engkau tak kenal sifat panglima Boan itu. Dia seorang yang keras kepala dan memegang disiplin. Dia lebih mengutamakan kepentingan negaranya dari keluarga. Tak mungkin dia mau menarik mundur kepungannya hanya karena saudaranya akan dibunuh Su tayjin."

"O," dengus Huru Hara, "maksudmu. sia-sia sajakah aku berusaha untuk menculik Barbak itu?"

Dewi Seruling mengangguk.

"Dewi Seruling," tiba2 Huru Hara teringat sesuatu, "apakah engkau pernah mendengar tentang sebuah perkumpulan yang bernama Hongli-hoa atau Bunga Persembahan ?"

"Pernah," sahut D Seruling, "tetapi hanya sepintas saja dan tak bagitu jelas. Apa maksudmu mengatakan perhimpunan itu ?"

"Hong-li-hoa juga suatu himpunan wanita tetapi baik anggautanya maupun tujuannya beda dengan perkumpulanmu," kata Huru Hara, "Hongli-hoa terdiri dari wanita atau gadis yang telah tercemar dan terjerumus dalam lembah hitam. Namun dalam menghadapi negara diserang orang Boan, merekapun serentak bangkit dan bersatu. Dengan penuh kesadaran berkorban, mereka rela menyediakan diri sebagai pemuas napsu para pembesar Boan. Namun mereka melaksanakan tugas dari pimpinannya yaitu, berusaha mempengaruhi para pembesar Boan agar jangan terlalu kejam menindas rakyat di daerah yang telah mereka duduki. Kedua. mencari berita penting dari rahasia rencana gerakan pasukan Boan. Dan ketiga, berusaha untuk menolong dan menyelamatkan jiwa kaum pejuang bangsa kita." Dewi Seruling mendengarlan dengan tertegun.

"Mereka merasa menjadi wanita2 yang telah tercemar bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai sampah. Tetapi ternyata mereka memiliki kesadaran dan dharma-bakti yang begitu mulia terhadap negara dan rakyat. Kita patut menghargai mereka "

"Hm, apa maksudmu hanya begitu ?" tanya Dewi Seruling.

"Ada lagi," jawab Huru Hara, "ternyata kaum wanita bangsa kita juga tak mau ketinggalan dalam menunaikan dharma- baktinya kepada negara. Antara lain, engkau sendiripun telah membentuk perhimpunan kaum wanita. Alangkah luhurnya apabila engkau mau mengarahkan himpunanmu kepada tujuan yang mulia yani membela negara kita yang sedang terancam bahaya kehancuran ini ?"

Dewi Seruling terdiam.

"Kurasa dewasa ini diseluruh negeri kita, banyak sekali kaum wanita yang menderita seperti anakbuahmu dan mereka yang tergabung dalam Hong-li-hoa. Engkau, Dewi Seruling, tentu dapat menolong mereka, menghimpun mereka dalam satu wadah dan membentuk suatu barisan wanita guna melawan serangan musuh. Percayalah, Dewi Seruling, gerakanmu itu tentu akan mendapat sambutan yang hangat dari para wanita yang senasib.

Kurasa, perjuanganmu itu akan lebih berarti bagi negara dan rakyat, Bagaimana ?"

Dewi Seruling mengangguk pelahan, "Akan kupertimbangkan usulmu itu."

"Dan engkau sendiri bagaimana ?" "Aku sih sudah tiada harapan apa-apa dalam hidupku yang sekarang ini. Tentu saja aku akan menerima usulmu itu."

Huru Hara gelengkan kepala, "Pangkal tolak pemikiranmu itu salah. Kalau engkau berjuang karena sudah putus asa, itu bukan suatu perjuangan yang baik, Putus asa atau tidak, perjuangan membela negara dan rakyat adalah suatu kewajiban dan dharma-bakti yang luhur. Apabila berjuang karena putus asa, itu masih mengandung rasa terpaksa."

Dewi Seruling terdiam.

"Dewi Seruling," kata Huru Hara pula, "ma’af, aku mencampuri urusan peribadimu. Tetapi bolehkah aku bertanya, siapakah pria yang telah mengecewakan hatimu itu ? Lalu bagaimana tindakanmu terhadap pria itu ?"

Dewi Seruling terkejut. Ia memandang Huru Hara.

Beberapa saat ia menatap pemuda itu.

"Loan Thian Te," katanya setelah menghela napas panjang, "memang benar kata orang 'yang kuning belum tentu emas'. Lahiriyah bukan menjadi ukuran dari peribadi orang. Engkau seorang pemuda nyentrik tetapi ternyata hatimu, perjuanganmu sungguh luhur. Kebalikannya mereka, lelaki2 yang berwajah tampan, manis budi dan mulut, ternyata manusia2 yang tak bermoral. Suka mempermainkan wanita, pengecut dan berhianat ...............

."

"Ah, jangan terlalu memuji diriku. Dewi Seruling," kata Huru Hara, "apa yang kulakukan kepada negara ini hanyalah suatu kewajiban, Bukan sesuatu yang berlebih- lebihan. Dan apa yang kuminta kepadamu itu, juga suatu kewajiban yang wajar, bukan sesuatu yang berlebih-lebih. Kuharap engkau dapat melakukan." "Baiklah, Loan Thian Te," kata Dewi Seru-ling akhirnya, "akan kubentuk sebuah Barisan Wanita untuk membantu mentri Su tayjin dalam perjuangannya melawan pasukan Ceng."

"Terima kasih, Dewi Seruling," tiba2 Huru Hara membungkukkan tubuh menjuruh selaku suatu penghormatan yang tinggi.

Dewi Seruling terkejut` "Eh, mengapa engkau memberi hormat begitu tinggi kepadaku ?"

"Dewi Seruling," kata Huru Hara. "kalau engkau memberi aku hadiah emas berpuluh kati atau barang pusaka yang tak ternilai harganya atau pangkat yang tinggi, terus terang, aku hanya akan berterima kasih dengan mulut saja. Tetapi karena engkau memberikan janji kepadaku untuk ikut membela negara, membantu perjuangan Su tayjtn, maka aku wajib memberikan terima kasih dengan hatiku."

Dewi Seruling terkesiap. Makin meningkat rasa kagumnya terhadap pemuda nyentrik itu.

"Lean Thian Te, silakan kalau engkau mau melanjutkan perjalanan," katanya, "dalam waktu singkat aku tentu akan membawa anakbuahku ke Yang-ciu."

Huru Hara segera pergi. Belum berapa lama berjalan kembali dia menghadapi sebuah peristiwa lagi. Saat itu sudah menjelang pagi. Tiba2 dia mendengar suara jeritan wanita dan arah muka, tepatnya di belakang sebuah bukit. Cepat dia berlari menghampiri.

Apa yang disaksikan benar2 membuat darahnya meluap. Seorang gadis tengah dikerumuni oleh beberapa prajurit dan dibuat permainan. Ada yang mencomot pipinya, ada yang mentowel bibirnya, ada pula yang hendak memeluknya. Gadis itu menjerit-jerit. "Bangsat. jangan mempermainkan gadis yang tak berdosa," serentak Huru Hara lari dan menerjang mereka.

Kawanan prajurit itu tak sempat bicara. Karena diserbu, merekapun lalu menghantam. Tetapi akibatnya mereka menjerit dan terpental ke belakang. Beberapa orang, tulang tangannya patah .....

Melihat itu mereka hendak lari tetapi dibentak Huru Hara, "Berhenti ! Siapa yang berani lari, kubunuh !"

Prajurit2 itu adalah prajurit2 pasukan kerajaan Beng.

Mereka serempak berhenti.

"Loan-heng," tiba2 gadis itu berseru seraya  menghampiri.

"O, Siau siocia," kata Huru Hara ketika melihat gadis cantik itu ternyata puteri tikoan "mengapa engkau disini ?"

"Aku hendak mencari engkau."

"Mencari aku ?" Huru Hara terkejut. Siau Giok Lan mengiakan.

"Ada keperluan apa nona hendak mencari aku ?" "Kupikir, biarlah aku saja yang menjadi mempelai itu ?" "Mengapa ?"

"Aku kasihan kepadamu kalau engkau nanti tertangkap dan dibunuh mereka."

"Dan kalau nona ?"

Siau Giok Lan menghela napas, "Ah, apa arti seorang Siau Giok Lan ? Dengan pengorbananku itu, sekali gus aku dapat menunaikan dua buah bhakti. Bhakti kepada orang tua dan bhakti kapada negara." "Bhakti ? Apa maksud nona ? Apakah tikoan memaksa nona ?"

Giok Lan gelengkan kepala, "Tidak. Ayah tidak memaksa aku. Bahkan sebenarnya ayah hendak menolak, tetapi akulah yang mencegahnya." "Lho apakah nona setuju diperisteri orang Boan itu ?"

"Tidak, Loan-heng," kata Siau Giok Lan, "aku tak sudi menjadi isteri orang Boan itu. Tetapi dalam menghadapi keadaan seperti sekarang ini, setiap orang dituntut untuk memberikan dharma bhaktinya. Karena aku bukan anak laki maka akupun tak dapat memanggul senjata berperang. Tetapi aku hendak membaktikan diri. Dengan menikah pada pangeran Boan itu, aku dapat menolong keluargaku, rakyat di kotaku dan rakyat di daerah lain."

"Maksud nona ?"

"Pangeran Boan itu akan dikendalikan supaya melakukan tindakan2 yang tak membikin susah rakyat."

"Apakah dia mau ?"

"Jika dia menolak, akan kubunuh !"

"Tetapi bagaimana caranya nona hendak membunuhnya.

Bukankah nona seorang gadis lemah."

"Akan kuracuni setelah dia mati akupun akan bunuh diri."

"Siocia !" teriak Huru Hara terkejut, "engkau benar2 seorang gadis yang berjiwa besar.

"Jangan memuji, Loan-heng. Apa yang kulakukan hanya sepercik dharma-baktiku kepada negara dan rakyat."

"Apakah tikoan tak tahu kalau nona- menyusul kemari ?" Giok Lan gelengkan kepala, "Aku pergi secara diam2 karena kalau tahu ayah pasti akan mencegah.". ' •

"Siocia tak .perlu mencemaskan diriku," kata Huru Hara, "sekarang peristiwa itu sudah selesai."

Dengan singkat ia menceritakan peristiwa yang dialaminya ketika di tengah jalan dicegat gerombolan Kuntilanak yang dipimpin Dewi Seruling.

"O," desuh Giok Lan, "ternyata di dunia ini banyak sekali kaum wanita yang menderita nasibnya. Benar, tindakanmu memang tepat sekali untuk menyadarkan mereka " ia menghela napas.

"Bagaimana nona diganggu oleh kawanan prajurit nu ?" tanya Huru Hara pula.

"Ketika sedang berjalan tiba2 muncul sekelompok prajurit. Begitu melihat aku berjalan seorang diri mereka terus mengganggu aku. Apakah mereka bukan prajurit kerajaan Beng sendiri ?"

"Benar," jawab Huru Hara, "memang mereka adalah prajurit2 kita sendiri. Mereka tentu anakbuah dan jenderal Ko Kiat yang terbunuh. Mereka menjadi prajurit yang liar dan berbuat sekehendak hati yang merugikan rakyat."

Kemudian dia berpaling kearah prajurit2 itu dan bertanya, "Hai, kalian prajurit darimana ? Mengapa kalian berani mengganggu gardis baik2 ?"

Seperti yang diduga Huru Hara, memang kawanan prajurit itu adalah prajurit pasukan jenderal Ko Kiat yang sudah terpencar kemana-mana. Sebagaimana setiap menghadapi kelompok prajurit begitu, Huru Hara suruh mereka pilih. Kalau tidak ingin jadi prajurit, suruh mereka pulang kampung dan menjadi petani yang baik. Tak boleh menjadi brandal dan perampok. Kalau masih ingin jadi prajurit, suruh menggabung pada pasukan yang berada di Yang-ciu.

Ternyata hasilnya, mereka semua masih ingin menjadi prajurit. Merekapun segera pamit.

"Tunggu," seru Giok Lan seraya melolos-kalungnya, "nah, juallah kalungku ini dan pergunakanlah untuk ongkos kalian."

"Siocia !" seru Huru Hara terkejut, "mengapa siocia memberikan kalung mustika itu ?"

"Loan-heng," kata Giok Lan, "apa artinya sebuah kalung

? Memang benar, kalung ini adalah kalung mustika pemberian mama. Tetapi dalam suasana seperti sekarang dimana negara sedang diserang musuh, kita harus mau berkorban. Harta benda dan jiwa raga "

"Siocia !" seru Huru Hara dengan tertegun. Giok Lanpun memandang pemuda nyentrik itu.

"Mengapa Loan-heng," serunya seiaya memandang pemuda itu.

Huru Hara terkejut ketika merasa dipandang lekat2 oleh Giok Lan. Dia tersipu-sipu tundukkan kepala.

"Aku tak apa2," kata Huru Hara, "sebenarnya siocia tak perlu harus berkorban begitu. Prajurit2 itu akan dapat mengusahakan makan untuk mereka sendiri."

"Tetapi Loan-heng," kata Giok Lan, "setelah tahu engkau, kini aku sadar bahwa kehidupanku selama ini, tidak akan menjurus kearah yang gemilang "

"Mengapa ? Bukankah sebagai puteri tikoan siocia hidup serba kecukupan ?"

"Memang," sahut Giok Lan; "tetapi hanya dalam soal kebendaan saja, Tetapi dalam soal alam pikiran, ternyata aku seperti hidup dalam sangkar emas. Segalanya serba indah bagai impian, tetapi aku buta akan kenyataan di sekelilingku. Aku buta akan kewajiban sebagai seorang puteri bangsa."

Huru Hara kembali tertegun.

"Baiklah, kalau siocia memang bermaksud hendak memberi mereka bekal, silakan," kemudian dia berseru kepada kawanan, prajurit itu, "hayo, kalian lekas menghaturkan terimakasih kepada sio-cia dan lekas berangkatlah ke Yang-ciu !"

Setelab kawanan prajurit itu pergi, Huru Harapun bertanya kepada Giok- Lan, kemanakah nona itu hendak pergi.

"Loan-heng, aku benar2 tertarik akan perjuanganmu," kata Giok Lan, "dapatkah engkau menunjukkan kepadaku bagaimana cara aku dapat menyumbangkan dharma- baktiku kepada perjuangan membela negara ?"

Huru Hara tertegun. Dia terkejut juga akan ucapan nona itu. Giok Lan seorang puteri tikoan yang lemah. Bagaimana mungkin dapat berjuang dalam medan perang?

"Kutahu," kata Giok Lan sesaat kemudian, "bahwa engkau tentu menganggap aku seorang lemah. Hal itu memang benar. Karena dalam keluarga pembesar negeri maka aku hanya dididik dalam bidang kewanitaan dan dipersiapkan menjadi ibu rumahtangga yang baik. Tetapi engkau tentu tak mengira bahwa aku sebenarnya mengerti tentang ilmusilat."

Kembali Huru Hara terkesiap, "Apakah siocia bisa main silat ?"

Giok Laa gelengkan kepala, "Tidak bisa. Yang kusebut mengerti ilmusilat yalah pengetahuan tentang ilmusilat. Tetapi karena takut dimarahi ayah dan mama, aku tak pernah berlatih silat."

"Jadi maksud nona ?"

"Aku mengerti ilmusilat tetapi tak bisa main silat, jelas ?" sahut Giok Lan.

"O," desuh Huru Hara. Dia teringat pada dirinya sendiri. Dia juga tak bisa main silat tetapi memiliki tenaga sakti Ji- ih-sin-kang yang luar biasa. Aneh sekali manusia di dunia ini, pikirnya.

"Ya," sahut Huru Ham, "lalu maksud nona?"

"Aku hendak ikut berjuang tetapi aku tak tahu bagaimana caranya dan dimanakah aku dapat menyumhangkan tenagaku untuk perjuangan itu," kata Giok Lan.

Huru Hara merenung. Beberapa saat kemudian baru herkata, "Sesungguhnya, setiap orang dapat berhakti kepada negara dan berjuang menurut kemampuan dan bidangnya masing2. Yang penting harus memiliki landasaran pikiran tak mau dijajah bangsa lain. Aku mempunyai seorang sumoay yang tinggal di gunung Lou-hu-san. Dia dapat memberi pelajaran silat kepada nona. Tetapi sayang saat ini aku masih mempunyai tugas penting untuk membantu Su tayjin di Yang-ciu sehingga tak sempat mengantar nona ke sana. Tetapi akupun belum tahu apakah ayah nona setuju."

"Setelah mengalami peristiwa pahit dari kaki tangan orang Boan itu, kini ayah sadar bahwa orang yang lemah itu tentu akan mengalami tindasan dari orang yang kuat."

"Begini nona .....

"Jangan panggil nona atau siocia kepadaku;" tukas Giok Lan, "panggil saja namaku." "Ah," Huru Hara menghela napas, "baiklah. Sekarang kuharap engkau pulang dulu, Tikoan tentu bingung mencarimu. Aku hendak ke Yang-. ciu . . . ,"

"Tidak," seru Giok Lan, "aku ikut engkau." "Ikut aku ?" Huru Hara kaget.

"Ya." kata Giok Lan, "aku dapat membantumu menghadapi musuh."

"Tetapi ............... . tetapi ”

"Tetapi bagaimana ?"

"Tetapi Yang-ciu sedang dikepung pasukan Boan. Kita sedang menghadapi peperangan. Berbahaya sekali bagimu."

Giok Lan tertawa, "Kalau bagi aku berbahaya, apakah bagimu, bagi Su tayjin dan bagi saudara2 yang sedang berada di Yang-ciu, juga tidak berbahaya ?"

"Ah "

"Mengapa ? Jangan takut, aku takkan menyusahkan dirimu. Aku dapat menjaga diriku sendiri."

"Tetapi bagaimana ayah dani ibumu nanti ?"

"Aku sudah meninggalkan surat. Mengatakan bahwa aku hendak ikut berjuang dengan para pejuang. Jika terjadi sesuatu pada kota Tong-kwan, ayah dan mama kuminta pulang ke kampung saja. Kelak aku tentu akan pulang juga. Tak usah kuatir, ayah sudah menyadari apa yang akan terjadi pada negara kita. Dan lagi ayah masih ada adikku lelaki yang masih kecil."

"Wah, berabe juga," Huru Hara garuk2 kepala. "apa engkau sudah mantap pada pendirianmu ?" .

"Percayalah kepadaku," kata Giok Lan, "aku tentu dapat membantu kepada Su tayjin." "Tetapi kurasa lebih baik "

"Kalau engkau tak mau mengajak aku, aku-pun dapat berangkat sendiri," kata Giok Lan seraya ayunkan langkah.

"Non , .. eh. Giok Lan, tunggu," terpaksa Huru Hara mengikutinya. Mereka menuju ke Yang-ciu.

Makin dekat makin terasa suasana di daerah sudah mulai tegang. Sering Huru Hara bertemu dengan rombongan rakyat yang sedang mengungsi.

Selama berjalan dengan nona itu, Huru Hara mengetahui bahwa nona itu memang seorang gadis yang halus budi, ramah, cerdas dan luas pengetahuan.

"Kalau menurut keadaan, rasanya kerajaan Beng harus pindah lagi ke daerah barat," katanya.

"Mengapa ? Bukankah kerajaan masih mempunyai kekuatan yang besar untuk menahan serangan. ?"

kata Huru Hara.

"Dimana persatuan sudah menjadi barang yang langka, hanya malapetaka yang akan tiba," kata Giok Lan, "dan dimana kerajaan sudah penuh dorna, kehancuranpun akan menimpah. Tidakkah engkau banyak melihat kenyataan2 seperti itu ?"

Huru Hang mengiakan, "Ya, tetapi kita tidak harus berputus asa karena hal2 itu. Kita harus berusaha untuk menegakkan lagi kesetyaan dan menghimpun persatuan."

"Jika kerajaan Beng mempunyai lima orang putera seperti engkau, aku yakin tentu akan dapat mengalahkan musuh."

"Ah, jangan memuji," kata Huru Hara, "sebenarnya di negara kita ini terdapat beratus-ratus ribu pemuda yang setya kepada negara. Soalnya hanyalah cara bagaimana untuk membangkitkan semangat mereka, menghimpun dan menyatukan mereka dalam suatu kesatuan."

"Oleh karena itulah maka aku mengatakan bahwa lebih baik pemerintahan kerajaan kita, pindah lagi ke barat untuk menyusun kekuatan lagi ..."

"Dan menegakkan pembersihan pada tubuh pemerintahan," tukas Huru Hara.

"Itu yang penting," sambut Giok Lan.

"Kita sependapat dengan jenderal Co Liang Giok," seru Huru Hara, "jenderal yang. menjadi panglima daerah Kangsoh itu hendak mengdakan pembersihan ke kotaraja. Karena sebelum tubuh pemerintahan pusat di Lam-kia dibersihkan dari mentri Ma Su Ing dan mentri2 durna lainnya, tentulah kerajaan Beng akan jatuh."

"O,. apakah engkau pernah bertemu dengan jenderal Co

?" tanya Giok Lan.

"Ya, karena diutus mentri Su tayin untuk menyelidiki apa maksud tujuan jenderal itu hendak meuggerakkan anakbuahnya ke kotaraja."

Singkatnya saja, mereka telah tiba di luar kota Yang-ciu. Keadaan kota itu memang tegang dan gawat sekali. Pasukan Ceng mengepung dari arah utara dan rimur kota.

Kota Yang-ciu mempunyai dua buah pintu kota, di sebelah utara dan selatan. Yang disebelah utara dijaga ketat sekali karena pasukan Ceng memusatkan pasukannya disitu. Sedang pintu sebelah selatan juga ditutup walaupun tak ada pasukan musuh. Setiap orang yang hendak masuk harus diperiksa oleh penjaga.

"Aneh." gumam Giok Lan. "Kenapa ?" "Mengapa pintu kota ditutup begitu rapat ? Pada hal pasukan musuh mengancam dari utara," kata Giok Lan,

"Mungkin mereka takut kemungkinan musuh akan menyerbu dari pintu selatan juga." jawab Huru Hara.

Karena pintu kota bagian selatan tertutup rapat dan berkali-kali mengetok pintu tidak terbuka, maka Huru Hara menggedor pintu itu dengan kuatnya, "Hai. penjaga, buka pintu !"

Memang seperti bukit roboh suara daun pintu ketika dihantam Huru Hara. Daun pintu itu terbuat daripada kayu yang tebal, dilapis baja.

Beberapa saat kemudian terdengar Giok Lan berteriak keras2, "Loan-heng, lekas mundur , .."

Huru Hara terkejut. Tepat pada saat itu sebatang anakpanah telah melayang kearahnya. Karena terkejut dia loncat ke samping, sret, leher bajunya telah tercium ujung anakpanah hingga robek sedikit. Untung tak mengenai kulitnya.

Ternyata diatas pintu kota, muncul berpuluh prajurit yang bersenjata panah. Salah seorang telah melepaskan panah kearah Huru Hara.

"Hai, engkau gila !" teriak Huru Hara, "aku hendak menghadap Su tayjin !"

"Siapa engkau ?" teriak prajurit yang berjajar diatas tembok pintu.

"Aku Loan Thian Te, laporkan saja kepada Su tayjin !" "Loan Thian Te si Huru Hara ?"

"Ya." Mendengar jawaban Huru Hara, serempak kawanan prajurit itu terus mengangkat busur dan sret, sret, sret . berhamburanlah anakpanah melayang kearah Huru Hara.

Bukan main kejut Huru Hara. Ia dapat menghindar tetapi bagaimana dengan Giok Lan ?

Karena gugup, dia terus mencabut pedang Cek-thiat- kiam (pedang magnit) terus diputar untuk melindungi diri. Aneh, berpuluh batang anakpanah itu segera melekat pada pedang itu. Yang jaraknya terpisah satu meter pun seperti tersedot pedang itu.

"Hai, prajurit, mengapa kalian memanah aku ?" teriak Huru Hara.

"Bukankah engkau bernama Huru Hara ?" teriak kawanan prajuri t.

"Ya "

Sret, sret, sret ..... berhamburan pula anak panah melayang kearah Huru Hara. Huru Hara gemas sekali. Dia memutar pedangnya bagai angin puyuh. Bahkan kali ini, dia maju menghampiri ke bawah kaki tembok kota.

Melihat kawanan prajurit itu tercengang karena anakpanahnya semua melekat pada pedang Huru Hara, Huru Hara terus berjongkok menyambar segenggam tanah pasir bercampur kerikil kecil2, dilontarkan keatas.

“Aduh aduh .....” terdengar kawanan prajurit itu  menjerit dan mengaduh. Ternyata mata mereka terkena lontaran tanah pasir dan terus mundur.

Beberapa saat kemudian diatas gardu penjagaan tampak sunyi. Huru Hara cari akal bagaimana dapat memanjat keatas. "Loan-heng, engkau hendak naik keatas pintu kota ?" tiba2 Giok Lan bertanya.

“Ya.”

"Apakah engkau tak mampu loncat keatas ?" "Mungkin tidak bisa. Terlalu tinggi," sahut Huru Haru.

"Potonglah pohon dan terus loncat keatas tembok," kata Giok Lan.

Huru Hara terkesiap. Memang benar kata nona itu. Dia terus lari mencari sebatang pohon. Ada sebatang pohon yang batangnya sebesar paha dan tingginya lima meter. Pohon itu ditebangnya lalu disandarkan pada tembok kota.

"Tunggu, biar kubuka pintunya," seru Huru Hara kepada Giok Lan seraya mendaki batang po bon itu. Batang pohon itu karena bersandar maka masih kurang dua meter dari puncak tembok. Tetapi itu tiada halangan bagi Huru Hara. Sekali menginjak batang pohon, dia terus melayang ke atas dan tepat tiba di puncak tembok.

Pada masa itu. setiap kota tentu dilingkungi oleh tembok yang tebal. Memang sengaja tembok dibuat tebal, bukan saja supaya merupakan seperti benteng, pun dibagian puncaknya supaya dapat di jadikan lorong kecil untuk berjalan. Dilorong itulah penjaga dapat melakuken patroli ataupun tempat prajurit2 menjaga kota dari serangan- musuh.

Kota yang sekelilingnya dilingkari tembok disebut shia yang berarti benteng. Juga di negeri barat, terdapat  apa yang disebut kasteel atau tempat kediaman seorang bangsawan atau kota. yang sekelilingnya juga dilingkungi tembok tinggi. Setiap kota mempunyai dua buah pintu gerbang. Dan diatas pintu itu, juga didirikan suatu pos penjagaan. Demikianlah sedikit keterangan agar pembaca maklum.

Tepat pada saat Huru Hara menginjakkan kaki pada lorong tembok, dari jauh tampak berpuluh prajurit berlari- lari menghampiri. Mereka menghunus senjata.

"Bunuh! Bunuh mata- mata! Bunuh matamata!" teriak mereka seraya menyerbu.

Huru Hara hampir meluap emosinya. Tetapi untung dia ingat bahwa yang dihadapinya itu adalah prajurit Beng yang sedang menjaga kota Yang-ciu dari serangan musuh. Kalau dia mengamuk, dia kuatir tentu akan jatuh korban.

Pikir-pikir, apa boleh buat. Begitu mereka tiba, Huru Hara terus melayang turun ke bawah. Disitu terdapat beberapa penjaga. Tanpa memberi kesempatan lagi. Huru Hara terus melesat dan meinukul rubuh mereka. Setelah itu dia segera membuka palang pintu kota. 

"Adik Lan, cepat," serunya kepada Giok Lan.

Selekas Giok Lan tiba, Huru Hara terus membopong nona itu dan dibawa lari masuk kedalam kota.

Peristiwa Huru Hara melayang dari ketinggian tembok kota setinggi belasan meter, membuat kawanan prajurit yang hendak menyerangnya itu tertegun dan melongo. Waktu melihat Huru Hara membopong seorang nona dan lari kedalam kota, barulah kawanan prajurit itu tersadar dan bergegas turun kebawah untuk mengejarnya.

"Tangkap mata-mata! Tangkap mata-mata!" mereka mengejar seraya berteriak-teriak.

Huru Hara jengkel tetapi bagaimana lagi. Tiba2 ia terkejut karena di sebelah muka muncul sekelompok prajurit yang dipimpin oleh seorang bertubuh tegap. Jelas mereka hendak menghadang Huru Hara.

Huru Hara berhenti dan turunkan Giok Lan. Dia maju menyongsong kawanan prajurit itu. Seorang prajurit yang berada paling depan segera menusuk Huru Hara dengan tombak. Huru Hara loncat ke atas lalu menginjak batang tombak. Sudah tentu prajurit itu tak kuat dan karena hendak mempertahankan tombaknya dia ikut menjorok ke bawah, plak . . . . sekali menampar muka si prajurit, Huru Hara terus mencengkeram tubuhnya dan diangkat ke atas lalu menyerang kawanan pra jurit itu dengan memutar tubuh prajurit tawanannya. 

Sudah tentu terkejut sekali kawanan -prajurit menyaksikan keperkasaan Huru Hara. Merekapun takut kalau sampai melukai kawannya sendiri.

"Hiantit, berhentilah!" tiba2 terdengar suara orang berseru' kepada Huru Hara. Huru Hara kenal dengan suara- orang itu. Dia hentikan amukan nya.

"O, Tong cianpwe," serunya ketika melihat Tong Kui Tik hadir disitu. Dia tak tahu entah ka pan jago tua itu datangnya.

"Hiantit, mengapa engkau mengamuk?" tegur Tong Kui Tik.

"Mereka menyerang aku," Huru Hara lalu menceritakan apa yang dialaminya ketika meminta pintu kepada prajurit penjaga.

Sementara itu kawanan prajurit yang mengejar Huru Hara tadipun tiba. Tong Kui Tik bertanya kepada mereka mengapa mereka menyerang Huru Hara.

"Kami mendapat perintah dan Su kongcu," kata kepala kelompok. "Su kongcu? Su Hong Liang kongcu?" Tong Kui Tik menegas.

”Ya.,,

"Apakah Su Hong Liang berada disini?" Huru Hara terkejut.

"Ya, dia datang bersama seorang kawan." "Apa?

Kawannya itu juga datang?" Huru Ilara makin kaget.

Tong Kul Tik mengiakan,. "Tiga hari yang lalu dia datang bersama seorang kawannya."

"Dan nona Tiau Ing?"

"Nona Tiau Ing?" Tong Kui Tik terkesiap, "mengapa nona Tiau Ing?"

"Apakah tidak ikut datang?" "Tidak."

"Apakah Su Hong Liang hanya datang berdua saja?" "ya."

"Tidak membawa prajurit."

"Hiantit, aku tak mengerti apa yang menjadi maksudmu. Su Hong Liang hanya datang berdua bersama kawannya saja. Tidak ada nona Tiau Ing, juga tidak ada prajurit."

"Aneh," kata Huru Hara. Ia menuturkan apa yang telah terjadi waktu dia bertemu nona Tiau Ing dan Su Hong Liang.

"Tong cianpwe," kata Huru Hara, "dimana Su Hong Liang sekarang?"

"Dia berada dalam markas bersama Su tayjin." "Aku akan menghadap Su tayjiri," kata Huru Hara, Kemudian ia memperkenalkan Giok Lan kepada Tong Kui Tik.

Tong Kui Tik terkejut tetapi diam2 dia juga kagum atas tekad puteri tikoan itu. Mereka menuju ke markas.

"O, Loan Thian Te, engkau sudah datang," sambut mentri pertahanan Su Go Hwa ketika melihat Huru Hara dan Giok Lan.

"Benar, tayjin," kata Hutu Hara, "tetapi hampir saja hamba tak dapat masuk kedalam kota."

"Mengapa,” ujar Su tayjin.

Huru Hara lalu menceritakan apa yang dialaminya tadi. "Apa yang dikatakan Loan hiantit itu memang  sungguh,

tayjin," kata Tong Kui Tik, "memang mengherankan sekali

mengapa Su kongcu memberi perintah begitu kepada para penjaga."

Su Go Hwat terkejut, "Aneh, nanti akan ku tanya kepadanya."

"O, apakah Su kongcu tak berada di markas" tanya Huai Hara.

"Dia sedang mengadakan inspeksi pada pintu utara bersama kawannya,"

"Wah, jika begitu hamba akan menyusul ke sana" Huru Hara terus bendak pergi.

"Tunggu dulu," cegah Su Go Hwat, "kenapa engkau begitu bernafsu sekali hendak menemui nya,"

"Tidak apa2, tayjin," Huru Hara menyadari bahwa kemungkinan mentri pertahanan itu kuatir kalau dia hendak menuntut balas kepada Su Hong Liang, "sebaiknya hamba menemuinya untuk menjelaskan persoalan sekalian untuk ikut memeriksa keadaan penjagaan kota."

"Kurasa tak perlu," kata-Su Go Hwat, "akan kusuruh prajurit untuk memanggilnya. Engkau di sini dulu."

Karena yang menitahkan mentri pertahanan, Huru Hara sungkan dan terpaksa menurut. Padahal sebenarnya ia ingin mengetahui apa gerak gerak Su Hong Liang dan kawannya itu. Memang ia curiga terhadap Su Hong Liang.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu ke Kang soh," ujar mentri Su Go Hwat.

Huru Hara mentuturkan semua yang dialaminya ketika bertemu dengan jenderal Co Lang Giok, "Co ciangkun sudah berjanji kepadaku bahwa dia tak berniat sama sekali untuk memberontak melainkan hanya ingin mengadakan pembersihan di tubuh pemerintahan kerajaan. Terutama tay-haksu Ma Su Ing."

"Tetapi tidakkah hal itu akan merusak kesatuan dan memperlemah kekuatan kita ?" kata Su Go Hwat.

"Hambapun sudah mengatakan begitu tetapi Co ciangkun mengatakan bahwa dia dapat mengatur tindakannya agar jangan sampai menimbulkan hal yang tak diinginkan. Dia sangat yakin bahwa tindakannya itu akan bermanfaat demi kepentingan negara."

"Ah, seharusnya dia menahan diri dulu. Karena bagaimanapun juga, tindakannya itu pasti akan menimbulkan gejolak yang memperlemah kekuatan kita."

Huru Hara mengatakan bahwa kesan yang ia peroleh selama berhadapan dengan jenderal Co Liang Giok, yalah jenderal itu memang seorang meliter yang keras tetapi bertanggung jawab. Maka ia percaya penuh akan janji jenderal itu bahwa tindakkannya melakukan pembersihan ke kotaraja itu takkan menggoncangkan negara.

Kemudian Huru Harapun menceritakan tentang pengalamannya selama kembali ke Yang- ciu, dimana dia banyak bertemu dengan prajurit2 anak pasukan jenderal Ko kiat, dianjurkannya supaya prajurit2 itu menggabungkan diri kepada mentri pertahanan Su tayjin.

"Tayjin, apakah selama ini tak ada pasukan anakbuah jenderal Ko Kiat yang datang kemari?" tanya Huru Hara.

"Hanya sekali yalah yang dibawa Tong sian seng ini," kata Su Go Hwat seraya menunjuk Tong Kui Tik.

"Hanya sekali ? Aneh. pada hal jelas masih ada dua rombongan lagi. Pertama, yang dtbawa oleh seorang pemuda bernama Sim Cui. Kedua oleh nona Tiau Ing dan Su Hong Liang," kata Huru Hara, "itulah sebabnya maka tadi hamba ingin menemui Su kongcu untuk menanyakan perihal nona Tiau Ing."

"Sudah kupanggilnya, sebentar dia tentu datang," kata Su Go Hwat.

"Tayjin, mengapa jenderal Ko Kiat dibunuh jenderal Kho Tang Kok ?"

"Ah. tanah Tiong-goan memang bernasib malang...........," mentri Su Go Hw-it menghela napas, "memang Ko Kiat itu seorang jenderal yang benar nafsu angkaranya. Tetapi setelah berulang kali kuberi nasehat dan kubimbing, dia sudah sadar. "

"Itu waktu dia kutugaskan menjaga wilayah Ih-ciu agar dapat selalu kuawasi dan berhubungan dengan aku. Seperti Co Liang Giok. Ko Kiat itu juga keras kepala. Tiba2 saja dia mengajukan permohonan kepada raja agar diidinkan untuk menyerang ke utara, merebut kembali daerah yang telah diduduki musuh."

"Tay-jin," tukas Huru Hara," mengapa dia langsung mengajukan permohonan ke kotaraja dan tidak kepada tayjin saja ?"

"Itulah kwalitet dari para jenderal2 kita," kata Su tayjin, "mereka kurang disiplin dan lebih suka langsung kepada raja daripada melalui atasannya sendiri. Seolah mereka hendak menunjukkan bahwa dirinya juga dapat berhubungan langsung dengan raja dan mendapat idin dari pusat."

"Apakah hal itu tidak mengurangi kewibawaan tayjin sebagai mentri pertahanan ?"

"Loan Thian Te," kata Su Go Hwat dengan nada serius." mungkin mereka menganggap aku seorang bun-koan (pembesar sipil) yang kebetulan saja diangkat sebagai mentri pertahan. Mungkin mereka mengira aku tentu kalah pandai dalam ilmuperang dengan mereka. Atau mungkin juga mereka hanya ingin mengambil muka pada raja. Banyak sekali kemungkinan yang dapat ditafsirkan pada tindakakan mereka terutama jenderal Ko Kiat itu.

"Engkau tentu bertanya mengapa aku tak mau mengambil tindakan disiplin untuk menghukum Ko Kiat," kata mentri pertahanan Su Go Hwat pula, "ya, memang aku merasa seharusnya kutindak jenderal yang melanggar disiplin itu. Tetapi ada dua buah pertimbangan yang menyebabkan aku tak mau tergesa menindak mereka.

"Pertama, mengingat negara sedang dalam keadaan parah menghadapi serangan musuh. Kita butuh persatuan. Kalau mereka berontak tentu akan melemahkan kekuatan kita. Dan kedua kaliuya, biarlah mereka mengerti siapa pemerintahan kerajaan yang sekarang Biar mereka tahu, siapa sesungguhnya yang menguasai kerajaan saat ini ?"

"Tetapi tayjin, kalau mereka sampai jatuh kedalam pengaruh Ma Su Ing, bukankah keadaan akan makin bertambah runyam lagi ?" sanggah Huru Hara.

"Bukanlah sekarang memang sudah begitu keadaannya

?" balas Su Go Hwat," coba engkau lihat jawaban dari kotaraja atas permintaanku supaya mengirim bala bantuan itu ?"

Mentri pertahanan Su Go Hwat mengambil sebuah amplop dinas yang memakai stempel kerajaan dan diserahkan kepada Huru Hara.

Huru Hara membuka dan membacanya.

"O, jadi tay-haksu Ma Su Ing menolak untuk mengirim bala bantuan kepada tayjin dan bahkan memerintahkan tayjin supaya menggempur jenderal Co Liang Giok ?" seru Huru Hara.

Su Go Hwat mengiakan, "Begitulah maksud surat itu, Aku harus meninggalkan Yang ciu dan kembali ke selatan untuk menggempur Co Lian Giok."

"Lalu siapa yang akan mempertahankan Yang ciu dan daerah utara. ?"

"Dia tak mengatakan," kata Su Go Hwat, "bahkan apa yang diterima Ko Kiat atas permintaannya ke kotaraja itu ? Baginda mengatakan bahwa Ko Kiat tidak boleh merebut kembali daerah utara yang diduduki pasukan musuh dan harus mempertahankan daerah yang dikuasainya saja. Bahkan kalau memang sudah berbahaya. Ko Kiat boleh menarik mundur pasukannya." "Ah, terlalu sekali," sera Huru Hara, "tetapi benarkah itu amanat dari baginda sendiri ?"

Su Go Hwat gelengkan kepala, "Bukan. Yang menulis adalah tay-haksu Ma Su Ing, baginda hanya membubuhi. tandatangan. Bahkan kemungkinan tayhaksu sendiri yang membubuhi tanda tangan itu."

"Celaka ! Celaka !" teriak Huru Hara, "jika raja sudah tak berkuasa maka mentri durna tentu merajalela dan negara pasti celaka ! Jika demikian, memang tepat sekali tindakan jenderal Co LiangGiok untuk mengadakan pembersihan di kotaraja itu."

"Tayjin, bagaimana tindakan tayjin sekarang. Apapun yang tayjin perintahkan, aku tentu akan melaksanakannya." katanya lebih lanjut.

"Kutahu Loan Thian Te," Su Go Hwat menghela napas, "bagaimana jiwamu dan pendirianmu seperti kutahu tentang diriku sendiri. Tiada lain jalan lagi, kecuali aku harus tetap mempertahankan Yang-ciu agar jangan sampai jatuh ke tangan musuh.

"Bagaimana situasi kota ini ?"

"Musuh telah menghimpun pasukan besar di scbelah utata dan disebelah timur. Mereka berusaha untuk mengepung pintu kota bagian selatan agar kita terputus hubungan dari luar, Rupanya mereka hendak membuat kita supaya menyerah atau mati kelaparan."

"Apakah mereka belum pernah melakukan pcnyerangan

?"

"Sudah beberapa kali tetapi dapat kita pukul mundur.

Kini mereka berganti siasat. Tidak mau menyerang tetapi hanya mengepung." "Jika demikian harap tayjin menggunakan siasat untuk melelahkan perhatian mereka," tiba2 terdengar Giok Lan menyelutuk.

Su Go Hwat terkejut, "Loan Thian Te, siapakah nona ini

?"

"Nona ini adalah Siau Giok Lan siocia, puteri Siau

tikoan dari kota Tong-kwan," kata Huru Hara memperkenalkan Giok Lan.

"Mengapa nona Siau ikut kemari ?"

Huru Hara lalu menceritakan apa yang terjadi pada keluarga Siau sehingga Siau siocia bertekad ikut dia untuk membantu Su Go Hwat.

"Ah nona Siau, engkau benar2 seorang Hoa Bok Lan yang menitis," puji Su tayjin.

Hoa Bok Lan adalah seorang tokoh pahlawan wanita yang ikut berjuang mempertahankan negaranya. Dan selanjutnya kegagahan serta perjuangan Hoa Bok Lan itu menjadi lambang bagi wanita yang berjuang membela negaranya.

"Terima kasih, tayjin, Hamba hanya seorang gadis lemah. Mungkin hamba tak dapat berbuat banyak untuk menyumbangkan tenaga hamba kepada tayjin," kata Siau Giok Lan.

"Ah, jangan nona mengecilkan arti diri nona. Tak ada manusia yang tak berguna. Tekad nona untuk berjuang itu saja sudah merupakan suatu semangat pengabdian nona yang luhur. Dan bukankah tadi nona menyatakan cara untuk menghadapi kepungan musuh ? Silakan nona mengatakannya." "Mereka hendak memutuskan hubungan kita dengan dunia luar agar kita kehabisan ransum dan kelaparan, kitapun harus balas mereka dengan mematahkan semangat mereka, tayjin."

"O, benar, benar," seru Su tayjin. "tetapi cobalah nona terangkan bagaimana cara untuk mematahkan semangat mereka itu."

"Bentuklah kelompok2 pasukan kecil untuk melakukan serangan setiap malam. Tak perlu menyerang di waktu siang hari. Kita cukup bertahan saja. Jika tiap malam mereka kita ganggu dengan serangan2, tentulah tiap malam mereka tak dapat tidur. Nanti apabila sudah tiba waktunya baru kita buka serangan secara besar-besaran pada siang hari. Karena tiap malam tak dapat tidur, tenulah semangat mereka meujadi lesu."

"Bagus, nona Siau," seru Su tayjin, "ya, cara itu memang baik sekali untuk mematahkan semangat musuh .."

Baru mentri bertahan Su Go Hwat berkata sampai disitu, tiba2 mencullah Sun Hong Liang. Diluar dugaan pemuda itu tidak kaget melihat kehadiran Huru Hara. Bahkan dia malah tertawa.

"Hola, Loan-heng, engkau sudah datang? Mengapa tak mengabarkan kepadaku agar aku dapat menyambut ?" seru Hong Liang dengan nada bersahabat penuh keramahan.

Huru Hara terkesiap. Dia tak menduga bahwa pemuda itu sedemikian ramah dan ramah sekali seolah seorang yang tak bersalah.

"Bagaimana harus memberitahu kalau sedang minta pintu saja aku sudah diserang dengan hujan anak panah oleh para penjaga ?" sahut Huru Hara. "Apa ? Para penjaga pintu kota berani menghujani anakpanah kepadamu ?" teriak Su Hong Liang dengan gaya terkejut sekali.

"Ya."

"Apakah engkau tak memberitahu siapa diri mu ?"

Huru Hara gelengkan kepala, "Percuma. Sampai kerongkonganku parau, mereka tak mau menghiraukan dan begitu mendengar aku menyebut namaku mereka malah makin deras menghujani anak panah."

"Celaka memang prajurit2 itu ?" Hong Dan menyumpahi,

"Ah, mengapa engkau memaki mereka ? Mereka kan hanya melakukan perintah saja."

"Loan-heng, aku tak mengerti apa maksudmu. Mereka hanya melakukan perintah apa?”

"Bahwa apabila ada orang bernama Huru Hara yang datang, supaya diserang dengan anakpanah dan jangan sampai dapat masuk kedalam kota."

"Siapa yang memberi perintah segila itu ?" "Seorang yang bernama Su kongcu."

"Gila !" teriak Su Hong Liang, "Su kongcu siapa ?

Apakah aku ?"

"Adakah disini terdapat dua orang Su kong cu?"

"Ah, mereka memang prajurit2 goblok." kata Su Hong Liang, "ya. aku ingat sekarang. Aku memang pernah memberi perintah begini, Setiap orang yang hendak membuat huru hara, harus diserang dengan anakpanah. Celaka benar ! Karena mendengar nama Loan-heng itu Huru Hara, mereka mungkin salah dengar atau salah tafsir kalau engkau hendak membuat huru hara."

"Tetapi aku sudah mcngatakan kalau aku ini utusan Su tayjin. Mereka tetap tak mengacuhkan," kata Huru Hara.

"Prajurit, lekas engkau tanya siapakah yang telah melakukan kesalahan kepada Loan sauhiap tadi. Panggil mereka. biar kuberi hukuman !" seru Su Hong Liang kepada prajurit penjaga di markas situ.

Karena nada dan sikap Su Hong Liang begitu meyakinkan maka mentri Sa Go Hwatpun tak curiga.

"Ya, Loan Thian Te, kemungkinan mereka memang salah dengar. Tetapi jangan marah. Pasti prajurit2 penjaga yang bersalah itu pasti akan kutindak," kata mentri Su.

Huru Hara terpaksa mengiakan. Dia sungkan kepada mentri.

"Hong Liang. dimana temanmu-?" mentri Su alihkan pembicaraan.

"Dia masih melakukan pengintaian terhada gerak gerik musuh, siok-hu." jawab Hong Liang.

"Hm, bukankah kawan Su kongcu itu yan bernama Yap Hou ?" tanya Hurtu Hara.

"Ya, kenapa ?"

"Tidak apa2, asal aku tahu saja," kata Huru Hata.

"Hong Liang." kata mentri Su pula, "Loa Thian Te melaporkan bahwa Tiau Ing bersama engkau datang kemari dengan membawa sekelompok prajurit anakbuah jenderal Ko Kiat. Benarkah itu?”

"Ya." "Lalu mengapa hanya engkau yang datang. Mana Tiau Ing dan prajurit2 itu ?"

"Begini siokhu," menerangkan Hong Lian "memang bermula aku bersama Ing-moay hendak menuju ke Yang- ciu. Tetapi ditengah jalan rombongan kita diserang oleh sekawan penjahat. Dalam pertempuran, kita tercerai berai. Aku terpisah dengan Ing-moay. Mereka sengaja memikat aku supaya mengejar. Dan karena tak sadar akupun mengejar mereka. Setelah mereka menghilang baru aku sadar. Buru2 aku kembali tetapi Ing-moay dan prajurit2 sudah tak kelihatan disitu. Bergegas aku segera ke Yang-ciu, kukira kalau Ing- moay sudah datang disini "

"Mengapa tak kau katakan hal itu kepadaku?" tegur mentri Su tayjin,

"Harap siokhu jangan salah mengerti," kata Hong Liang, "aku tak mau siokhu tergang, pikiran.. Tugas mempertahankan kota Yang-ciu dari serangan musuh, amat penting sekali. Menyangkut ribuan jiwa rakyat. Kalau sampai siokhu resah memikirkan Ing-moay, tidakkah hal itu akan melemahkan perjuangan kita? Memang setelah kutunggu sampai dua tiga hari Ing-moay belum daang, hari ini sebenarnya aku hendak minta idin kepada siokhu untuk mencari Ing-moay. Aku tak-an kembali sebelum membawa Ing-moay "

Karena pandainya Hong Liang merangkai kata disertai dengan penampilan yang memberi kesan dia amat sayang kepada Tiau Ing, menteri Su Go Hwat yang jujur, terpengaruh juga.

"Baik, disini sudah cukup aku dan beberapa orang yang mempersiapkan pertahanan. Kalau engkau hendak mencari adikmu, pergilah," kata mentri Su. Su Hong Liang diam2 gembira sekali. Dia memberi hormat dan terus hendak pergi,

"Su Hong Liang," tiba2 Huru Hara menghampiri, "kalau terjadi sesuatu pada diri nona Thu Ing, engkau harus bertanggung jawab!"

Su Hong Liang bercekat dalam hati. Pernyataan Huru Hara itu merupakan suatu ancaman halus. Namun pemuda itu tersenyum ewah.

"Perlu apa engkau harus ikut2 berpesan. Dia kan adikku sendiri, sudah tentu aku lebih bertanggung jawab dari siapapun juga," katanya tajam lalu tertawa sinis.

"Hm," desuh Huru Hara namun dia tak mau berkata suatu apa.

Beberapa saat setelah Hong Liang pergi, tiba2 ada prajurit masuk melapor bahwa dimuka pintu sebelah utara, ada orang ngamuk.

"Siapa ?" tegur mentri Su.

"Seorang anak lelaki dan seorang kakek pendek." "Di pintu utara ?"

"Benar, tayjin."

"Aneh, bukankah pintu utara sudah dikepung pasukan Ceng ?"

"Tetapi memang di pintu utara, tayjin."

"Tayjin, idinkan hamba bersama Tong cian pwe memeriksa ke sana," kata Huru Hara. D minta nona Giok Lan melanjutkan perundingan dengan Su tayjin untuk merancang siasat.

Dari atas pos penjagaan diatas pintu kota Huru Hara terkejut karena melihat anak laki dan kakek pendek yang berada di luar pintu kota dan berteriak-teriak minta pintu itu tak lain adalah Ah Liong dan Cian-li-ji. Melihatnya kedua orang sedang diserang sekelompok prajurit Ceng. Samar2 pula, Huru Hara seperti melihat diantara penyerangnya itu terdapat Yap Hou, kawan dari Su Hong Liang.

Bukan main marah Huru Hara. Serentak dia turun dan suruh membuka pintu.

"Lekas !" bentak Huru Hara ketika melihat prajurit penjara pintu bersangsi.

Begitu pintu dibuka, Huru Hara terus menerjang keluar, "Ah Liong, paman Cian, jangan kasih ampun kawanan anjing itu !"

Ah Liong dan Cian-li-ji terkejut lalu berpaling. Keduanya lupa kalau saat itu sedang bertempur. Dan Huru Hara terbelalak lebar2 ketika melihat dua orang prajurit Ceng ayunkan tombak dan pedang menusuk Ah Liong dan Clan- li-ji.

"A .. ," baru Huru Hara hendak berteriak memberi peringatan kepada kedua orang itu, tiba2 kedua prajurit Ceng itu menjerit dan roboh.

Ternyata kedua prajurit itu tertancap anakpanah pada dada mereka. Dan ketika Huru Hara berpaling keatas tembok, dilihatnya Tong Kui Tik memberi lambaian tangan kepadanya, Jelas bahwa yang memanah kedua prajurit itu adalah Tong Kul Tik.

"Engkoh Hok, engkau sudah disini ?" seru Ah Liong gembira.

"Ho, kemana saja engkau selama ini?" juga Cian-li-ji berseru. "Nanti saja, sekarang mari kita basmi kawanan anjing itu," Huru Hara terus maju menghajar kawanan prajurit yang masih berada disitu. Ah Liong dan Cian-li-ji juga ikut. Dalam beberapa saat saja, duapuluh prajurit Ceng yang hendak mengejar Ah Liong dan Clang-li-ji telah terbabat habis.

"Hai, kemana jahanam tadi?" seru Huru Hara. "Jahanam yang mana?" tanya Cian-li-ji,

"Yap Hou."

"Engkau limbung," seru Cian-li-ji, "mana ada macan liar disini?"

"Apa? Macan liar?" teriak Ah Liong.

"Ya, dia hendak mencari yap hou," kata kakek Cian-li-ji. Yap hou memang dapat berarti macan liar. Kata2 Tionghoa memang begitu, suara-sama tetapi hurufnya lain.

"Engkoh Hok, engkau hendak mencari macan liar?" seru Ah Liong.

"Jangan banyak mulut!" bentak Huru Hara mengkal, "Yap Hou itu bukan macan liar tetapi nama orang. Kulihat diantara kawanan prajurit yang menyerang kalian tadi, ada seorang yang berpakaian orang biasa "

"O, benar, benar," seru Ah Liong, "memang dialah yang menjadi gara-gara. Ketika aku dan paman Cian hendak mencari pintu kota, tiba2 muncul seorang pemuda. Kukatakan kalau aku hendak mencari engkoh Hok, dia terus marah dan enyerang aku. Sudah tentu aku dan paman Cian melawan. Dia lari tetapi tak lama kemudian membawa kawanan prajurit untuk menangkap kami berdua." "O, yang itu toh? Ya, kemana dia? Mengapa tak kelihatan batang hidungnya?" seru Cian-li ji.

"Engkoh Hok, bagaimana kalau kita cari dia?" tanya Ah Liong.

Huru Hara gelengkan kepala, "Jangan sekarang. Nanti malam kita serbu mereka. Hayo, kita masuk kedalam kota."

Pintu kota ditutup lagi.

"Ah Liong, engkau haturkan terima kasih kepada Tong lo-cianpwe ini. Kalau Tong cianpwe tak waspada, lehermu tentu sudah terpisah dari badanmu."

"Mengapa begitu?"

"Engkau lupa kalau sedang bertempur dan engkau terus berpaling kearahku. Saat itu musuh sedang ayunkan pedang untuk memenggal lehermu. Untung Tong cianpwe dapat memanah prajurit itu," menerangkan Huru Hara.

"Aku juga?" tanya Cian li-ji. "Ya," sahut Huru Hara.

Ah Liong dan Cian-li-ji menurut. Keduanya menghaturkan terima kasih.

"Ah, jangan banyak peradatan," seru Tong Kui mencegah, "kita toh orang sendiri. Mengapa sedikit2 harus mengucap terima kasih. Siapa tahu besok engkaulah yang akan menolong aku."

"Itu baru betul !" seru Ah Liong.

Huru Hara segera mengajak mereka kembali menemui Su tayjin di markas. Su tayjin terkejut ketika diperkenalkan dengan kedua orang aneh itu. Huru Hara sendiri sudah nyentrik, sekarang muncul lagi seorang bocah kuncung yang pakai baju monyetan dan seorang kakek kate. "Tayjin, memang kami adalah manusia aneh dalam dunia. Harap tayjin jangan kaget," kata Huru Hara.

"O, tak apa." kata Su tayjin, "mengapa kalian mengamuk

?"

Huru Hara mencari keterangan tentang peristiwa yang

telah terjadi, "Kalau tak salah lihat, pemuda yang mecegat Ah Liong dan paman itu adalah Yap Hou."

"Siapa Yap Hou ?" "Kawan dari Su kongcu."

"Ah," Su tayjin mendesah kaget. Namun sesaat kemudian berkata," bukankah Hong Liang sudah mengajak kawannya pergi mencari Tiau Ing ? Mungkin saja bukan kawan Hong Liang tetapi lain orang yang wajahnya menyerupai."

Huru Hara diam. Dia memang sungkan kepada mentri itu. Dan memang belum ada bukti yang nyata akan kepalsuan Su Hong Liang sehingga Su Go Hwat masih belum dapat disadarkan.

"Biarlah, nanti apa bila sudah ada bukti yang jelas, baru akan kulaporkan kepada Su tayjin," pikir Huru Hara.

Hari itu mereka disuruh tinggal di markas untuk melakukan apa yang telah direncanakan Giok Lan bersama mentri Su.

"Kalian tinggal saja disini. Malam nanti baru kalian melakukan apa yang diperintah nona Siau," kata mentri Su.

Huru Hara terkejut. Tak nyana bahwa Giok Lan dalam waktu yang singkat telah mendaulat kepercayaan yang begitu besar dan mentri Su Go Hwat. Dia teringat akan kata2 Giok Lan bahwa. nona itu tidak tahu ilmusilat tetapi mengerti ilmu silat. "Tapi ini perang, bukan bertempur dengan ilmusilat melainkan dengan ilmu barisan perang. Apakah nona itu juga mahir dalam ilmu perang?" pikir Huru Hara.

Dalam kesempatan beromong-omong sendiri, Huru Hara bertanya kepada Cian-li-ji dan Ah Liong tentang pengalaman mereka sejak terpisah.

"Wah. aku telah ditawan oleh gerombolan manusia yang menyebut dirinya Barisan Suka Rela. Untung Sian Li datang dan kita dapat meloloskan diri," kata Cian-li-ji.

"Apa ? Sian Li sumoayku itu ?"

"Ya, tetapi celaka !" tiba2 ,kakek itu berseru.

"Kenapa ?" tegur Huru Hara.

"Entah bagaimana dia mengaku bukan Sia Li tetapi nona Su Tiau Ing .."

"Hah ? Nona Su Tiau Ing ? Itulah puteri dari mentri pertahanan Su tayjin disini, Lalu ?"

"Aneh," guman Cian-li-ji, "jelas Sian-li tapi mengapa tiba2 saja berobah menjadi Su Tiau Ing, ya ? Eh, ketika dalam perjalanan mencari engkau, kita kemalaman dan terpaksa menginap disebuah kuil tua. Waktu aku bangun, eh, Sia Li, oh, nona Su Tiau Ing itu sudah hilang. Aku bingung mencarinya. Dan kebetulan sekali aku bertemu dengan si Ah Liong ini. Lalu kita berdua mencarimu."

"Dan engkau Ah Liong ?" tanya Huru Hara

"Celaka, engkoh Hok," kata si kuncung “waktu engkoh suruh  aku  tunggu  diluar  gedung  kediaman  mentri  Kuda. "

"Hus, ngaco ! Masakan ada mentri kok Kuda !" bentak Clan-li-ji. "Lho, yang jadi mentri besar di kotaraja siapa ?" "Tay-haksu Ma Su Ing," kata Huru Hara.

"Lha itu dia. Apa artinya Ma itu ?"

"Kuda !" teriak Cian-li-ji, "o, ya, benar, benar, kalau begitu di kerajaan ada mentri Kuda."

Tong Kui Tik yang juga hadir dalam omong2 itu terpaksa harus geli melihat si kuncung Ah Liong dan kakek pendek Cian-li-ji. Ia mendapat kesan bahwa kedua manusia tua dan kecil itu memang kurang waras ingatannya.

"Lalu ?" tukas Huru Hara.

"Aku diusir oleh prajurit penjaga. Mereka hendak menggebuk aku. "

"Lho apa engkau takut ?" tanya Huru Hara.

"Sebenarnya aku sih tak takut. Beberapa penjaga dapat disengkelit jatuh Tetapi akhirnya mereka datang dengan membawa anakpanah. Apa boleh buat. terpaksa aku melarikan diri. Aku menunggu di jalan tetapi engkoh Hok tak lalu disitu. Terpaksa aku pergi. Dan akhirnya bertemu dengan paman Cian."

"Ah Liong, mengapa engkau tidak mengamuk kedalam kediaman mentri Kuda itu ?" tanya Cian-li-ji.

"Ah, bagaimana mungkin. Gedungnya dijaga ketat oleh berpuluh prajurit bersenjata lengkap. Kalau aku nekad tentu mati. Aku belum kepingin mati, lho. Kata engkoh Hok

…..”

"Eh, kuncung, siapa sih yang engkau sebut engkoh Hok itu ?" tegur Cian-li-ji.

"Siapa lagi kalau bukan engkohku ini ?" kata Ah Liong menunjuk Huru Hara. "Eh, Loan Thian Te, kapan sih engkau berganti nama itu

?" kini Cian-li-ji menegur Huru Hara," mengapa tak memberitahu kepadaku ?"

"Aku tak pernah ganti nama ?" jawab Huru Hara.

"Lho. mengapa si kuncung memanggil engkau engkoh Hok ?"

"Itu sih kemauannya sendiri, bukan aku yang suruh.

Sudah kuberitahu tetapi dia tetap nekat saja,"

"Hai, kuncung, mengapa engkau nekad ?" tegur Cian-li-

ji.

"Karena dia mirip dengan engkoh Hok, maka lebih baik

kunamakan dia engkoh Hok saja. Toh dia juga menerima nona itu. Apa, salahnya sih ?" bantah Ah Liong.

"Kalau bukan namanya kan berabe jadinya. Lebih baik mulai sekarang engkau berganti sebutan dengan engkoh…. engkoh .... eh, apa ya yang enak disebut ?" Cian- li-ji bingung sendiri. Kalau panggil engkoh Loan Thian Te terlalu panjang. Kalau engkoh Huru Hara juga janggal nanti ditertawai orang.

"Ah, lebih enak pakai engkoh Hok saja lah. Paman sekalian jadi saksi Engkoh Hok sendiri juga senang dipanggil begitu,”

"Ya, sudahlah, terserah bagaimana saja," akhirnya Hara Hara bosan mendengar perdebatan tedua orang yang limbung itu, "sekarang mari kita beristirahat dulu."

"Huru Hara," kata Cian-li-ji, "aku sih tidak lelah. Bagaimana kalau aku keluar berjalan-jalan melihat kota ini?"

"Benar, paman Cian," seru Ah Liong, "aku juga ingin ikut. Bolehkah engkoh Hok?" "Boleh sih boleh, tetapi setiap kalian keluar tentu timbul keonaran. Pada hal saat ini seluruh parhatian dan tenaga kita, kita pusatkan untuk melawan musuh."

"Tidak engkoh Hok, aku berjanji takkan menimbulkan keonaran," seru Ah Liong.

"Ya, aku juga," kata Cian-li-ji.

Huru Hara melihat waktu itu masih sore. Pikirnya, dalam kota tak ada penduduk yang nganggur dan berjualan. Semua dikerahkan untuk menghadapi serangan musuh.

"Baiklah, tetapi sebelum matahari terbenam kalian harus sudah balik," katanya.

Kedua kakek dan anak itu segera keluar. Mereka hendak melihat-lihat keindahan kota Yang ciu yang tersohor sebagai kota cantik.

"Eh, mengapa jalan2 begini sepi? Mengapa tak ada orang jualan?" di tengah jalan Cian-li-ji mengomel panjang pendek.

Belum berapa lama berjalan di sepanjang jalan. tiba2 mereka dikejutkan oleh suara anak bersorak-sorak. Ketika berpaling mereka melihat sekelompok anak kecil sedang bertepuk tangan dan bersorak-sorak.

"Celaka," seru Cian-li-ji, "rupanya mereka menyoraki kita, Ah Liong ?"

"Memang bandel sekali anak2 itu ? Kita dianggap apa sih

?"

"Hore, ada kakek cebol dan anak kuncung? teriak

kawanan anak kecil itu.

"Apakah mereka manusia ?" seru salah seorang anak. "Barang kali bukan manusia." "Lalu apa ?"

"Setan. Ya, kata kakek memang di dinia ini terdapat setan cebol dan setan kuncung."

"Lho, kata kakekku." sahut kawannya yang lain, "setan itu keluarnya pada malam hari. Mengapa hari masih begini sore sudah ada bangsa setan yang keluar ?"

"Apa barangkali orang dari bulan ?" seru seorang anak lain.

"Jangan macam2, engkau," kata kawannya

"Benar, lho," jawab anak itu," kakekku pernah bercerita bahwa di rembulan itu terdapat penghuni."

"Ya, nenekku juga pernah bercerita begitu,” sahut yang lain, "tetapi yang tinggal di rembulan itu kan seorang dewi yang cantik. Masakan jelek kaya begitu !"

"Huh, bisa saja," bantah anak yang tadi, mungkin kedua setan jelek itu pelayan dari Dewi Rembulan."

"O, benar, benar," seru beberapa anak," kalau bukan bangsa setan tentulah pelayan dari Dewi Rembulan."

"Hayo,. siapa yang berani menanyai mereka?" kata seorang anak, "bagaimana kalau engkau Ah Siong ?"

"Aku ? Ih, takut," kata Ah Siong. "engkau saja sendiri." "Aku juga takut. Kalau dia bangsa setan, jangan2 aku

nanti dibawa pergi. Kalau benar pelayan Dewi Rembulan, jangan2 aku bisa dibawa terbang ke rembulan nanti."

"Itu kan enak. Engkau nanti bisa melongok ke bawah dan lihat kami bermain-main."'

"Tetapi kalau Dewi Rembulan tak mau mengembalikan aku ke sini lagi, kan celaka aku nanti. Ayah dan mama tentu nangis " "Begini saja deh," kata seorang anak yang bertubuh paling gemuk diantara kawan-kawannya. "hayo kita cari pentung dan beramai-ramai menanyai mereka."

"Perlu apa bawa pentung segala ?"

"Kalau mereka bangsa setan dan hendak menangkap kita kan bisa menghajar mereka,” sahut anak gemuk.

Anah2 itu setuju. Mereka bubar dan tak lama mereka muncul lagi. Masing2 membawa potongan kayu, pentung dan ada juga yang membawa pedang dan kapak. Kemudian mereka beramai-ramai mengejar Cian-li-ji dan Ah Liong.

"Apa-apaan sih kacung2 cilik itu," Cian li-ji terkejut ketika kawanan anak2 itu tiba di belakangnya.

"Mungkin mereka heran melihat paman," kata Ah Liong. Dia menganggap anak2 itu tentu heran melihat potongan tubuh kakek Cian-li-ji yang kuntet. Tetapi dia lupa kalau dirinya juga menjadi bahan keheranan anak2 itu.

"Hai, kalian, berhenti!" teriak kawanan yang berjumlah tak kurang dari duapuluh orang itu.

Cian-li-ji dan Ah Liong terpaksa berhenti. "Siapa kalian ini?" tegur mereka.

"Aku manusia ”

"Hai, mereka dapat ngomong seperti orang,” seru selah seorang anak.

"Ya, dong, bangsa setan juga bisa ngomong. Pelayan Dewi Rembulan tentu juga bisa ngomong,” kata kawannya yang lain.

"Kalian ini manusia atau bangsa setan?" seru anak yang agak besar. "Gila engkau! Masakan begini engkau anggap setan," teriak Cian-li-ji "apa engkau pernah melihat setan?"

"Belum." sahut anak itu, "tetapi kakek pernah bercerita kalau bangsa setan itu tubuhnya cebol dan ada juga setan yang kuncung. Bukan kalian ini persis seperti yang dikatakan engkongku ?"

"Kunyuk kecil," teriak Cian-li-ji, "engkau berani menghina aku cebol ?"

"Lha abis engkau ini cebol atau tinggi ?" balas anak itu. "Cebol atau tidak, itu bukan salahku. Itu memang sudah

sejak aku dilahirkan."

"Siapa nama bapamu ?" seru seorang anak yang bertubuh kurus.

"Bapaku ? O, ya. ya, mestinya aku punya bapa. Tetapi celaka," Cian-li-ji garuk2 gundulnya, "mengapa aku lupa namanya. Eh, kunyuk kecil, apakah setiap orang itu harus punya bapa ?"

"Ha, ha, ha, hi, hi, hi ," anak2 itu tertawa geli

mendapat pertanyaan begitu.

"Hai kawanan kunyuk, mengapa kalian tertawa," teriak Cian-li- ji.

"Lucu, lucu sekali. Masakan orang tak punya bapa," anak2 itu be!sorak, "lalu siapa mama-mu ?"

"Celaka !".............. banting2 kaki ke tanah, "aku juga lupa bertanya siapa nama mamaku .."

"Wah, kalau begitu jelas engkau ini bukan bangsa manusia. Kalau manusia tentu punya bapa dan ibu. Engkau tak  punya  bapa  dan  mama,  engkau  tentu   bangsa   setan. " "Kunyuk !" teriak Cian li ji mulai kalap, "kalian gila, ....

kalian gila ! Aku bukan setan, aku juga mausia."

"Siapa sudi percaya ?" teriak anak2 itu, "buktinya engkau tak tahu siapa bapa dan mamamu.'

"Tetapi aku bukan setan," teriak Cian-li-ji makin ngotot. "Kalau begitu, jelas engkau ini mahluk dari rembulan."

teriak anak yang gemuk tadi.

"Dari rembulan ?" Cian li-ji melongo.

"Ya, engkau tentu budak dari Dewi Rembulan "

"Hah ?" Cian-li-ji mendelik.

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 36 Gawat"

Post a Comment

close