Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 25 Huru hara

Mode Malam
Jilid 25 Huru hara

Pada tahun Masehi 1644, ketika tentara Boan leng berhasil menduduki kotaraja Pak-kia (Peking) maka pindahlah kerajaan Ceng ke Pak-kia.

Setahun yang lalu baginda Hong-thay-ci dari kerajaan Boan-ceng telah meninggal di kotaraja Sim-yang, wilayah timur laut. Oleh karena itu maka yang mengantikannya adalah puteranya yang bernama Fulin. Dia dinobatkan jadi raja dengan gelar baginda Sun Te, Pada waktu itu dia baru berumur 6 tahun. Pemerintahan dipegang oleh Torgun, putera ke sembilan dari Nurhacha, pemimpin besar suku Tartar Boan.

Pada tahun 1641 ketika raja Hong-thay-ci memimpin pasukannya menyerang daerah San-hay-wan kerajaan Beng telah mengirim dua orang jenderal perangnya yang pandai yaitu Ang Seng Co dan Go Sam Kui.

Tetapi dalam pertempuran di kota Siong san-koan, pasukan kerajaan Beng telah dihancurkan dan jenderal Ang Seng Co menyerah. Ternyata raja Hong-thay-ci menghargai sekali kepada jenderal taklukan itu. Dia diangkat sebagai jenderal, pembantu panglima besar Torgun.

Ang Seng Co merupakan algojo dari rakyat dan penekar kerajaan Beng yang berani menentang kerajaan Ceng. Dalam sejarah perjuangan kerajaan Ceng untuk menduduki negara Tiong-goan, Ang Seng Co memberikan andil yang besar kepada kerajaan Ceng.

Kini sudah setahun lamanya raja kecil Sui Te duduk ditahta singgasana. Ulang tahunnya akan dirayakan secara besar-besaran. Di seluruh wilayah yang telah diduduki pasukan, penduduk diharuskan merayakannya dengan meriah.

Itulah sebabnya maka kota Thay-goan yang sudah jatuh ke tangan pasukan Ceng, pada malam itu sedang bermandi dalam suasana perayaan yang besar. Rakyat diharuskan memasang teng (lampion) pada rumahnya. Setiap orang harus mengenakan pakaian baru dan semua toko2 serta perdagangan, harus libur. Penduduk harus mengeluarkan beraneka pawai. Liang-liong, barongsay, jeng-i dan bermacam-macam tari-tarian tak ketinggalan. Puncak perayaan berlangsung di lapangan markas besar tentara Ceng.

Memang meriah sekali suasana saat itu. Di ruang muka gedung markas tampak panglima Taras dalam pakaian kebesaran duduk disebuah kursi yang tinggi. Sedang dibawahnya terdapat deretan kursi yang diduduki oleh para pembesar militer dan sipil dari kota Thay-goan. Diantaranya tampak residen Sou Kian Hien. Ruang tempat pembesar2 itu dijaga oleh prajurit2 bersenjata lengkap.

Setiap kelompok pawai lewat di depan panglima Taras, mereka berseru dengan gegap gempita .....

"Ban-swe ! Seri baginda Sun-te banswe!" “Panglima Taras yang gagah perkasa, banswe !" Ban-swe artinya panjang usia atau dirgahayu.

Setelah rerotan pawai yang panjangnya hampir tiga KM itu lewat maka yang terakhir, terdengarlah suara genderang dan kencer yang gempar. Rombongan liang-liong dan barongsay tiba. Itulah puncak acara yang ditunggu-tunggu oleh penonton.

Yang didepan sendiri terdiri dari lima buah am-su atau barongsay. Kelima barong-say itu dapat dibedakan dari pakaian anakbuahnya. Ada barongsay yang pelakunya berpakaian warna kuning, ada yang merah, ada yang hijau, biru dan hitam. Mereka terdiri dari lima perkumpulan barong-say.

Berhamburanlah dua buah barong-say maju ke hadapan panglima. Mereka mempertunjukkan keahlian bermain. Barong-say merah dan hijau itu sama2 tangkas dan garang. Keduanya mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah. Setelah itu mereka lalu mundur, diganti dengan barong-say merah dan hitam. Juga kedua barong-say itu mendapat sambutan yang megah. Terakhir baru barong-say kuning.

Barongsay kuning itu bermain sendiri. Gayanya tidak bersemangat dan hanya lari berputar-putar seperti anak kecil. Sudah tentu penonton tidak memberi tepuk tangan.

Terdengar genderang dipukul dengan gencar sekali. Pada lain saat kelima barong-say itupun maju ke tengah gelanggang dan mereka segera bertempur.

Ternyata saat itu di depan para pembesar telah digantungkan sebuah kain merah sebesar karung. Karung merah itu berisi uang hasil derma dari para penduduk. Juga untuk barong-say kini diadakan lomba ketangkasan. Barangsiapa yang, dapat merubuhkan keempat lawannya, dialah yang, berhak ‘mencaplok’ karung merah itu.

Pertempuran secara acak-acak itu sudah tentu berlangsung seru sekali. Mereka bingung mencari lawan. Barong-say merah menyerang barongsay hijau, tetapi dia juga diserang barong say kuning dan barong-say kuning juga diserang barongsay hitam. Pendek kata, mereka menyerang kalang, kabut, siapa yang. tampak didepan saja.

Ramai, seru, dahsyat dan gempar benar pertempuran itu. Gelak tawa kalau melihat sebuah barong-say gentayangan karena didupak barongsay yang lain, tepuk tangan setiap kali melihat sebuah barong-say dengan gaya yang indah dapat merobohkan atau menghindari serangan lawan tak henti-hentinya bergema menggetarkan lapangan. Selama bertahun-tahun belum pernah mereka melihat suatu pertunjukan yang istimewa semacam itu. Barong-say bertempur lawan barong-say. Sekaligus lima barong-say bertempur secara acak-acakan,

Dan puncak dari kegemparan adalah ketika panglima Taras memerintahkan supaya prajurit2 melempari mercon kepada kelima barong-say itu. Suasana di tengah lapangan benar2 seperti medan pertempuran yang dahsyat.

Bagaimanapun dahsyatnya sebuah pertempudan namun akhirnya tentu akan mencapai penyelesaian. Siapa menang siapa kalah tentu akan segera kelihatan.

Demikian pula pada pertempuran barong-say itu. Dari lima barong-say, kini hanya tinggal tiga. Barong-say hijau dan hitam sudah keok dan melarikan diri.

Jika tadi dalam mempertunjukkan keahlian bermain barongsay, barons-say kuning tampak lemah ternyata dalam pertempuran itu dialah yang paling lincah dan gesit. Dan dialah juga yang merobohkan barongsay hijau dan hitam.

Rupanya barong-say merah dan biru tahu dan menyadari hal itu. Tanpa bersepakat, kedua barong-say itu seolah-olah setuju untuk tidak saling menyerang dulu. Keduanya sama2 menyerang barong-say kuning. "Bagus," kata pelaku yang memegang kepala barong-say kuning. Dia sengaja berlincahan mundur, menghindari serangan kedua lawannya. Tetapi dia tidak mundur ke luar melainkan mundur ke dalam ruangan, mendekati deretan kursi para pembesar.

Terdengar genderang berdentang keras dar kedua barong-say itu menyerang dari kanan ke kiri. Barong-say kuning loncat menghindar ke belakang dan brakkkkkk , dia menimpah kursi beberapa perwira. Barong-say kuning dengan tangkas melenting bangun. Tetapi dia diserang lagi. Barong-say kuning itu menghindar ke samping tepat menelungkupi kepala residen Sou Kian Hin.

Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Karena menghindari serangan, barong-say kuning itu beberapa kali menelungkupi beberapa pembesar.

Sepintas barong-say kuning itu memang kocar-kacir menghadapi serangan kedua lawannya. Tetapi yang jadi bulan-bulanan jatuhnya barong itu adalah tempat duduk para pembesar. Sudah tentu hal itu menyebabkan barisan keamanan, menjadi sibuk.

"Hai, jangan masuk ke tempat duduk para tayjin," seru sekelompok prajurit bersenjata seraya menghalau dengan tombak.

Tetapi suara kawanan prajurit itu seperti hilang ditelan suara genderang dan kencer yang me ledak-ledak memecah telinga. Suasana sangat berisik sekali.

Tiba2 barong-say kuning itu berloncatan dan menyelimpat dari serangan lawan, terus melarikan diri.

Melihat itu terdengarlah sorak sorai dari penonton. Tetapi ditengah gema sorak sorai itu terlgarlah jerit terkejut dari beberapa pembesar yang duduk di deret kursi yang terdepan, ".Hai . . .. auh ... , . astaga ... ,"

Tetapi jeritan mereka itu tak terdengar dan hilang ditelan sorak sorai rakyat. Yang jelas beberapa pembesar tampak merabah-rabah tengkuknya. Wajah mereka tegang dan keringat bercucuran membasahi tubuh.

"Mati aku . , .. ," seru residen Sou Kian Hin setelah merabah tengkuknya. Ternyata kuncirnya lenyap .....

Dia melihat ke beberapa pembesar yang duduk di sebelahnya, pun juga kehilangan kuncir. Untung suasana saat itu sangat berisik sekali hingga tiada seorangpun yang sempat memperhatikan keadaan beberapa pembesar itu. Tetapi karena panglima Taras duduk di belakang mereka dan di kursi kebesaran yang tinggi, mereka menjadi kelabakan setengah mati. Mereka duduk membelakangi panglima, bukankah setiap saat penglima akan tahu tentang kuncir mereka yang hilang itu.

Rasiden Son Kian Hin seperti semut yang berada di kuali panas. Rasanya kursi yang didudukinya itu seperti tumbuh beribu jarum yang menusuk pantatnya

Residen Sou dan beberapa pembesar itu tak tahu siapa yang telah ‘mencuri’ kuncir mereka. Yang jelas mereka tadi telah di ‘rubuhi- barong-say kuning. Apakah barong-say kuning itu yang mencaplok kucir mereka ?

"Ah,......... uh......... . mereka tak dapat menemukan jawaban kecuali mendesah dan mendesuh.

Sementara pertandingan berlangsung antara barong-say merah lawan barong-say biru. Kesudahanya barong-say merahlah yang menang.

Belum gema sorak sorai menyambut kemenangan barong-say merah itu reda, bagaikan gelombatag- air laut yang tengah pasang, maka berhamburan barisan liang-liong dengan diiringi genderang dan kecer yang gegap gempita.

Apabila barong-say atau singa melambangkan kejantanan yang perkasa, adalah liong atau naga memperlambangkan kejantanan yang dahsyat.

Suasana saat itu benar2 seperti di medan perang. Lima buah rombongan liang-liong maju ke lapangan di muka para pembesar. Pertama liang-liong putih atau Pek-liong- pang, lalu rombongan liang-liong Hitam atau Hek-liong- pang, lalu rombongan liang-liong hijau atau Ceng-liong- pang; lalu Ang-bong-pang atau liang-liong merah dan terakhir Hong-liong-pang atau naga kuning.

Kelima rombongan liang-liong itu lebih dulu saling mempertunjukkan kemahiran mereka dalam permainan. Setelah itu, lalu bertanding.

Berbeda dengan pertandingan barong-say yang sekali gus semua turun ke gelanggang, tidaklah demikian dengan barisan liang-liong. Sebagai juara tahun lalu maka liang- liong Putih, di beri kebebasan bertanding dalam babak pertama. Yang bertanding dulu adalah keempat liang-liong itu, Hasilnya liang-liong Hek-liong-pang dan Ceng-liong- pang yang menang, Hal itu memang sudah dapat diduga lebih dulu.

Kini liang-liong Pek-liong-pang akan bertanding satu demi satu melawan kedua rombongan liang-liong yang menang itu.

Ketika rombongan anakbuah Pek-liong-pang turun ke tengah gelanggang, sorak sorai makin menggempa. Dia adalah juara tahun yang lalu wajiblah kalau mendapat sambutan yang hangat. Rombongan Ceng-liong-pang pun segera meluncur ke dalam gelanggang. Bagaikan dua ekor naga yang saling bertempur, kedua liang-liong itu pun segera saling lilit melilit, lingkar melingkar dan senang menyerang.

Tampaknya liang-liong Naga Hijau bingung menghadapi gerak barisan yang dimainkan Pek liong-pang. Mereka terkepung dan tak mampu loloskan diri dan pada puncak penyelesaian kepala dari liang-liong Naga Hijau itupun tersabat rubuh oleh ekor dari Pek-liong-Pang.

Terdengar sorak sorai bergemuruh. Namun liang-liong Pek-liong-pang itu tak mau melanjutkan serangan untuk menghancurkan lawan. Mereka malah bergerak-gerak melepaskan belitannya.

Rupanya liang-liong Naga Hijau tahu hal itu. Mereka lalu bergerak meloloskan diri dan terus meninggalkan lapangan.

Sebelum sorak menyambut kemenangan liang-liong Pek- liong- pang itu reda maka meluncurlah rombongan liang- liong Hek-liong-pang ke dalam gelanggang.

Sorak soraipun meledak bagai gunung rubuh sehingga gedung markas itu seolah bergetar-getar.

Pertandingan antara Pek-liong-pang lawan Hek-liong- pang memang merupakan pertunjukan yang paling menarik setiap tahun. Kedua perkumpulan liang-liong itu merupakan sepasang seteru bebuyutan

Prajurit2pun segera menghujani kedua liang liong itu dengan mercon. Permainan Hek-liong-pang memang tampak lincah. Naga Hitam itu seperti seekor naga yang hidup. Sedangkan Naga putih kali ini memang tampak lemah. Naga itu melingkar-lingkar dan maju mundur untuk menghindari serangan Naga hitam. Tetapi walaupun Naga hitam lebih beringas dan ganas melakukan serangan, tak pernah naga itu mampu merobohkan lawan, Dan para penonton segera melihat suatu adegan yang mengherankan. Naga putih dengan gerakannya yang mengherankan, pelahan-lahan mundur mengurung lawan, sehingga ruang gerak naga hitam makin lama makin sempit.

Rupanya pimpinan Naga hitam yang memang bagian kepala liang-liong terkejut. Ia tak tahu barisan apa yang sedang dimainkan Naga putih.

"Celaka," diam2 dia gelisah. "kalau dibiarkan begini, kemungkinan anakbuahku tentu mati-langkah. Aku harus melakukan suatu serangan dahsyat untuk menghancurkan mereka.

Tiba2 ia bersuit nyaring dan serempak dengan genderang, tambur dan kencer yang di pukul gencar, liang- liong hitam itu bergerak melakukan pemberontakan yang dahsyat. bagaikan seekor naga yang hendak melepaskan diri dari lilitan lawan.

Rupanya usaha pimpinan liang-liong hitam itu berhasil. Anakbuah liang-liong putih yang memegang bagian kepala terkejut dan mundur dengan langkah sempoyongan. Karena kepala bergerak, badan liang-hongpun ikut bergerak mundur. Bagian ekor dengan gerak yang bergeliatan kian kemari, tiba2 melesat dan menghantam kepala liang-liong hitam.

Darrrrr. ,

Tepat pada saat terjadi benturan antara ekor liang-liong putih dengan kepala liang-liong hitam, terdengarlah letusan mercon yang keras. Dan di tengah ledakan dahsyat itu terdengar lengking jeritan yang tajam, pun sayup2 terdengar suara mengaduh. Penonton sibuk melekatkan pandang matanya mengikuti kesudahan dari pertempuran adu kekerasan itu. Mereka tak sempat memperhatikan keadaan dalam ruang tempat para pembesar.

Ternyata dalam ruang depan markas, telah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan. suara orang mengaduh yang timbul dari ruang tempat duduk para pembesar, tepatnya dari kursi kebesaran yang diduduki panglima Taras. Kedua pangawal-pengawal yang berdiri di kanan kirinya terkejut ketika panglima itu menjerit dan mendekap matanya. Kedua. pengawal itu gopoh menolong, "Ciangkun, mengapa. ,"

"Aduh......... lekas bawa aka kedalam ruangan," kata panglima Ceng itu.

Dengan sigap kedua pengawal itu lalu membopong panglima dan yang satu membuka jalan. Sudah tentu semua pembesar terkejut dan kacau. Merekapun mendengar juga jeritan panglima itu. Tetapi mereka tak tahu apa yang terjadi pada panglima dan tak tahu pula bagaimana harus menolong keadaan. Mereka segera berbangkit dan mengikuti panglima kedalam ruangan.

Panglima Taras dibawa masuk kedalam ruang dan dibaringkan disebuah tempat tidur. Salah seorang pengawal memberanikan diri untuk bertanya, "Maaf, ciangkun, apakah yang terjadi pada ciang kun ?"

"Lihat !" panglima membuka mata kirinya. "Oh "

pengawal itu menjerit kaget, "jarum bwe-hoa-ciam !" "Lekas cabut !"

Pengawal itu dengan hati2 menjemput jarum dan pelahan-lahan mencabutnya. Darah bercucum dari biji mata panglima. Pengawal itu lalu mengeluarkan bungkusan obat dan dipoleskan pada biji mata panglima lalu dibalut dengan kain putih.

"Ada musuh gelap telah menyerang aku!" kata panglim Taras, "adakah kalian tak melibat orang itu ?"

"Maaf, ciangkun, hamba benar2 tak melihat gerak gerik orang yang mencurigakan," kata pengawal.

"Jelas, dia hendak mengarah nyawaku. Lekas lakukan penangkapan pada orang yang mencurigakan ?"

"Baik. ciangkun," pengawal itu memberi hormat lain keluar. Dia berunding dengan kawannya yang seorang, "wah, sukar sekali ini."

"Ya, apa boleh buat. Tangkap saja semua anakbuah liang-liong itu !" kata kawannya.

"Tetapi mereka tak bersalah."

"Lalu siapa yang harus kita tangkap ? Kalau kita tak melakukan penangkapan tentu akan dipersalahkan ciangkun."

"Yah, apa boleh buat," kata pengawal itu.

Tetapi pada saat keduanya berlari keluar, tiba2 berlarianlah beberapa prajurit masuk.

"Hai, kenapa engkau !" tegur pengawal. "Kami hendak menghadap ciangkun."

“Hendak melaporkan bahwa empat penjuru markas militer telah dibakar orang "

Hai !" teriak pengawal, "Baik, lekas siapkan kawan2 untuk memadamkan api !"

"Hm, jelas kaum pemberontak hendak menyerang markas ini," kata pengawal. "Ya, malam ini memang berbahaya. Suasana yang begini berisik dan kacau memang merupakan kesempatan yang bagus bagi kaum pemberontak untuk mengadakan aksi."

"Kita lakukan perintah ciangkun untuk menangkap semua orang yang kita curigai. Soal kebakaran dan serangan musuh, sudah ada perwira-perwira yang akan menghadapi."

Keduanya terus menuju ke ruang depan. Suasana disitu masih kacau balau. Kedua liang-liong putih dan hitam tadi sudah tak tampak penontonpun kacau, saling desak mendesak untuk meninggalkan lapangan. Kedua pengawal itu bingung.

"Hayo, kita kejar kedua liang-liong itu," kata kawannya.

Keduanya lalu tetjun kedalam lautan manusia. Mereka mengamuk tak keruan sehingga terdengar jerit dan pekik dari rakyat yang keterjang. Rakyat tak tahu siapa kedua pengawal itu dan tak mengerti mengapa keduanya mengamuk tak keruan. Beberapa anakmuda yang malah melihat perbuatan kedua pengawal itu, segera maju mengeroyoknya. Tetapi pemuda2 itu tak kuat menghadapi kedua pengawal. Sebagai pengawal peribadi dari panglima Taras sudah tentu keduanya dipilih dari jago silat yang tinggi kepandaiannya.

Yang satu bernama Ting Piau, bekas kepala begal dari gunung Ngo-tay-san yang termasyhur dalam ilmu naik kuda bertempur dengan tombak dan seorang jago memanah dan melepaskan senjata rahasia yang hebat. Te-it-sin-piau atau jago nomor satu dalam ilmu melepas sanjata piau, demikian Rimba Persilatan atau dunia penyamun memberinya gelar.

Yang kedua adalah Pui Ki, murid kesayangan dari tokoh sakti Thay-heng siansu di puncak gunung Thay-heng-san. Dia bergelar Ceng-gau-sin-eng atau Garuda-sakti-bermata- biru. Memiliki ilmu tenaga-dalam yang tinggi dan terutama termasyhur dalam ilmu silat Thay- kek-kun.

Kedua orang itu tergiur akan bujukan residen Sou Kian Hu dan mau bekerja pada pemerintah Ceng, diangkat sebagai pengawal pribadi dari panglima Taras.

Menghadapi kedua jago seperti itu sudah tentu para pemuda dari kerumunan penonton, tak berdaya. Mereka banyak yang bonyok.

Kedua jago itu berusaLa untuk menerobos lautan manusia. mengejar kedua rombongan liang-liong.

Jika di luar gedung markas terjadi kekacauan yang memakan banyak korban penonton tak berdosa, pun dalam markas sendiri juga tak kalah kacaunya.

Kebakaran di empat penjuru gedung, menyebabkan prajurit2 lari pontang-panting hilir-mudik. Mereka tak tahu asal-usul api itu.

Sementara itu panglima Taras masih berbaring dikamarnya. Jarum bwe-hoa-ciam yang menyusup ke biji matanya itu cukup membuatnya sakit kelintingan. Untung jarum itu tidak beracun, andaikata beracun, biji mata panglima Ceng itu tentu sudah membusuk. Karena kesakitan. pikirannya kacau dan tak sempat memikirkan apa2 lagi kecuali ingin tidur agar rasa sakit berkurang.

Diluar kamar panglima, dijaga empat penjaga itu bengis bentak terhadap siapa saja yang hendak masuk kedalam kamar panglima.

"Berhenti !" salah seorang prajurit yang tangannya berbulu, "mau apa kalian ?" "Maaf, tuan, kami hendak mengantarkan minuman untuk ciangkun," kata pelayan yang seorang. Dia seorang gadis yang manis dan tangkas bicara.

"Dan engkau ?" tegur prajurit itu kepada pelayan yang lain.

"Hamba mengantarkan air wangi dan handuk untuk ciangkun. Demikianlah kebiasaan ciang kun setiap malam apabila hendak tidur," jawab gadis itu.

Perwira beralih kepada pelayang yang pertama tadi, "Coba buka !"

"Eh, mengapa pakai arak ?" tegur perwira setelah kain penutup dibuka oleh pelayan.

Pelayan itu tersenyum manis, "Begini tuan, ciangkun tak gemar, minum arak. Sebenarnya dua buah guci arak wangi ini hendak hamba berikan kepada tuan."

"Mengapa ?" perwira terbeliak.

"Karena hamba bingung dengan keadaan markas yang kacau Ini,"

"Eh, mengapa bingung ?"

"Hamba takut kalau kaum pemberontak melancarkan serangan Ciang-kun menderita serangan gelap dari musuh. Tidakkah hal itu membahayakan keselamatan ciangkun ? Oleh karena itu hamba sengaja membawakan arak wangi agar tuan dapat menjaga ruangan ciangkun dengan semangat......... .” pelayan itu menutup keterangannya dengan melontarkan senyum dan lirikan mata yang menggiurkan.

"A......... ," desah perwira dalam hati Apabila tidak dalam suasana saat itu, tentulah dia akan membawa pelayan itu ke kamarnya. "Lo Ceng, ambillah, biar kita dapat melek sampai pagi," seru perwira yang lain.

Perwira itupun mengambil kedua guci arak. Satu guci untuk dua orang.

"Nanti sehabis mengantarkan minuman kepada ciangkun kalau tuan menghendaki apa2 lagi, pasti akan - hamba antarkan," kata pelayan yang genit itu.

Dengan langkah lenggang kedua pelayan itu-pun masuk kedalam kamar. Terdengar pelayan yang cantik menghela napas longgar.

"Kenapa, Ci Ing "? tegur kawannya, pelayan yang genit. "Tidak apa2," sahut yang ditanya dengan suara berbisik,"

hanya melonggarkan napas yang sesak."

"Masih ada yang lebih menegangkan lagi," kata pelayan genit," itu dia orangnya sedang rebah di tempat tidur."

"Adik Hong," bisik pelayan yang cantik," kita harus bekerja yang cepat tetapi hati2."

"Tak perlu kuatir, ci Ing," sahut pelayan genit," kawanan penjaga itu kan sudah mendengkur seperti babi."

"Ya, mudah-mudahan saja mereka segera minum arak itu," sahut pelayan yang cantik.

Saat itu keduanya tiba di muka pembaringan, panglima Taras menggeli at," S!apa itu !"

"Hamba ciangkun," sahut pelayan genit, hendak mengantarkan hidangan teh wangi untuk ciangkun."

"Heh. mana Ah Ling . ..

"Ci Ah Ling sedang bingung karena tempat nya dimakan api, ciangkun." "Api ? Apakah terjadi kebakaran?"

"Empat penjuru markas ini telah dibakar orang , "Bedebah . . .!” mendengar itu panglima Taras terus

hendak bangun tetapi, "Auh .. . , ia merintth kesakitan dan mendekap matanya. Rupanya luka pada matanya itu merekah lagi waktu dia bergerak, Terpaksa ia berbaring pula.

" Mana Ting Piau dan Pui Kit?" tanya panglima. " Maaf, ciangkun. hamba tak tahu."

"Lekas panggil kedua pengawalku itu!" bentak panglima Taras.

"Baik, ciangkun . . . ," sahut pelayan genit seraya beringsut dari tempat pembaringan panglima. Ia memandang kawannya dan kawannya memberi anggukan kepala.

Tiba2 pelayan genit itu loncat dan cret, dia menutuk jalandarah pada tengkuk belakang panglima. Seketika pingsanlah panglima itu. Dengan cepat gadis itu segera mengikat kaki dan tangan panglima, lalu menyumbat mulutnya dan setelah itu ditutup dengan selimut.

"Geledah badannya," kata pelayan cantik.

"Ihh,” desis pelayan genit itu seraya merah mukanya. "Kenapa ?"

"Aku jijik menyentuh tubuh orang Boan. suruh menusuk sih mau."

“Hus, adik Hong. ini perjuangan. Kita sebagai gadis persilatan harus berani membuang segala rasa jijik. Biar aku yang menggeledahnya," pelayan cantik itu terus merogoh saku baju dan celana panglima Taras tetapi tak menemukan sesuatu.

"Tentu di meja tulisnya," seru pelayan genit .La1u menghampiri sebuah meja tulis yang terbuat dari kayu cendana. Dengan merusak kunci, dapatlah ia membuka lacinya dan, "Ini dia !"

Pelayan itu menghampiri kawannya,"Bukankah ini cap nama panglima Boan ini ?"

Pelayan yang cantik menyambuti dan memeriksa. 'Ya, benar."

Keduanya bekerja cepat. Menggeledah laci, mereka menemukan tumpukan kertas yang bertulis huruf "LENG" (perintah). Setelah mengambil sehelai lalu dicap dengan cap nama panglima. Sisanya, dimasukkan ke dalam kantong baju pelayan genit. Begitu pula cap nama. 

"Cepat kita ke luar," kata pelayan cantik. Ketika ke luar dari pintu, ternyata keempat perwira tadi sudah menggeletak tidur pula.

Kedua pelayan itu tak lain adalah Han Bi Ing dan In Hong. Ternyata kedua gadis itu dengan bantuan seorang sahabat dari Han Bun Liong telah berhasil diselundupkan kedalam markas pasukan Ceng, menyamar sebagai pelayan.

Yang menyelundupkan adalah Ay Ling, gadis yang terpaksa mengorbankan raganya untuk dijadikan pemuas nafsu panglima Taras. Gadis Ay Ling ternyata merupakan seorang anggauta dari perhimpunan Hong-hian-hoa atau wanita Bunga Penghibur.

Itulah sebabnya mengapa In Hong dan Han Bi Ing tak mau memberitahu apa rencana mereka kepada Kim Yu Ci. Kedua gadis itu malu karena harus menjadi pelayan panglima Taras. Kini setelah dapat menabereskan panglima Taras dan merampas cap namanya, kedua gadis itu langsung menuju ke bagian belakang tempat penjara dibawah tanah. Sebenarnya In Hong hendak membunuh panglima Taras tetapi Han Bi Ing tak setuju," Besar sekali akibatnya kalau sampai panglima Boan itu kita bunuh. Pemerintah Boan tentu marah dan tentu akan mengadakan pembunuhan besar2-an kepada rakyat Thay-goan."

Disepanjang jalan yang penuh dengan lorong, keduanya melihat betapa kesibukan prajurit2 dalam markas itu. Mereka lari kian kemari mancari air dan alat2 pemadam api.

Penjaga itu terletak di bagian paling belakang. Disitu terdapat sebuah bangunan yang dijaga oleh prajurit.

"Kabarnya; penjara itu dijaga oleh berpuluh jago silat tetapi mengapa saat ini mereka tak kelihatan semua ?" pikir Han Bi Ing.

Memang keadaan di rumah penjagaan itu sepi. Yang jaga disitu berjumlah enam orang. Mereka menghadang kedatangan kedua gadis.

Cepat In Hong mengeluarkan kertas Leng yang ber-cap nama panglima Taras, "Inilah amanat dari panglima supaya aku menemui pesakitan dan membawa menghadap kepada ciangkun."

Prajurit terkejut ketika melihat Leng yang ada cap nama panglima Taras.

"Pasakitan yang mana ?"

"Apakah terdapat banyak pesakitan ?" "Eh, mengapa engkau tak tanya ? Tentu saja di dalam penjara rahasia ini terdapat banyak sekali kaum pemberontak."

"Ciangkun menitahkan membawa menghadap orang she Han," kata In Hong.

"Han Bun Liong ?" “Ya.”

"Tetapi dia masih terluka belum dapat. berjalan."

"O, kalau begitu, aku dititahkan panglima untuk membujuknya supaya mau menanda-tangani surat Tanda kesetyaan."

Prajurit itu memandang In Hong dengan tajam. Sudah tentu In Hong merasa muak tetapi diam2 dara itu juga cemas. Cepat dia berseru keras, "Lekas ! Ciangkun sudah menunggu pesakitan penting itu ! Apa engkau tak mau memberi jalan kepadaku. ?”

Melihat pelayan itu begitu ketus dan memegang surat perintah ber-cap nama panglima, sudah tentu penjaga memberi jalan.

"Tunjukkan aku ruangannya," seru In Hong pula dengan garang. Penjaga itupun menurut.

Mereka melalui sebuah lorong yang cukup panjang dan gelap. Akhirnya tiba di sebuah banngunan yang diberi penerangan lampu. Saat itu Han Bi Ing berdebar keras sekali jantungnya ketika penjaga berhenti di muka sebuah kamar sel yang berpagar terali besi kohoh.

"Han Bun Liong, kemarilah !" seru penjaga perjara itu dengan bengis. Ingin sekali saat itu Han Bi Ing menampar mulut penjaga itu yang begitu kasar sikapnya kepada ayahnya. Namun ia tenangkan hatinya.

Terdengar bunyi berkerincingan dari langkah yang sarat dan pada lain saat muncullah seorang tua, Hampir Han Bi Ing tak dapat mengenali lelaki itu. Seorang lelaki tua yang rambutnya terurai, kumis dan jenggotnya memanjang, pakaian compang camping, wajah kuyu pucat dan  tubuhnya kurus sekali.

Pesakitan tua itu bersinar matanya ketika melihat pelayan cantik. Sampai beberapa saat dia masih menatap pelayan itu yang bukan lain adalah Han Bi Ing. Tampak bibir Han Bun Liong bergerak-gerak gemetar retapi tak mengeluarkan suara.

Menghadapi adegan saat itu hampir Han Bi Ing menjerit. Untuk menahan perasaannya, ia mencengkeram tangan In Hong kencang. In Hong rasakan tangan gadis itu dingin sekali dan gemetar. In Hong tahu perasaannya cicinya.

"Han Bun Liong, panglima memanggil!" dengan tababkan hati In Hong berseru.

"Kena . kenapa ?" seru Han Bun Liong kenan suara lemah.

"Panglinaa perlu bicara dengan engkau !" "Hm," Han Bun Liong mendengus.

"Kenapa ?"

"Tidak !"

In Hong terbeliak, "Tidak ? Engkau tak mau mengbadap panglima ?"

"Aku bukan prajurit." "lh ,......... ," In Hong mendesis, "tetapi engkau tawanan,"

"Aku hanya menurut perintah yang berkuasa di rumah penjara ini."

"Ah, panglimalah yang,. berkuasa di sini.”

"Suruh dia kemari !”

"Ah, jangan membangkang perintah panglima," terpaksa In Hong main gertak.

"Siapa yang membangkang ?" "Engkau."

"Siapa yang hendak bicara, panglimamu atau aku?" "Panglima."

"Dia yang perlu, suruh dia datang kemari.

In Hong terkesiap. Ia tak menyangka bahwa dalam keadaan yang menderita siksa sebagai seorang tawanan tetapi ternyata semangat jago tua itu masih kokoh seperti baja. Dia tak gentar dan pantang menundukkak kepala. In Hong benar-benar kagum. Andaikata tak ada penjaga disitu, tentu sudah berlutut dihadapan orang tua itu.

"Penjaga," tiba2 In Hong 'mendapat pikiran "buka borgol kaki dan tangannya !"

Penjaga terkejut, "Telapi aku belum mendapat perintah dari ciangkun."

"Siapa yang memegang kuncinya ?" "Aku."

"Berikan kepadaku !" Kembali penjaga itu bersangsi, "Tidak. Perintah ciangkun hanya untuk mengambil tawanan tetapi tidak disuruh membuka borgolannya."

"Hm, baiklah," dengus Ia Hong, "tetapi apa yang melekat pada dadamu itu ?" tiba2 In Hong menunjuk ke baju orang.

Karena mengira ada sesuatu pada bajunya, penjga itupun menunduk memeriksa dadanya, "Uahhh ," tiba2 ia menjerit tertahan dan terus rubuh karena lehernya dihantam In Hong.

"Cepat bawa Han lopeh keluar," kata In Hong seraya- menyeret penjaga itu kedalam ruangan sel, mengikat tangan dan kakinya, menyumbat mulut lalu dibaringkan di sudut ruangan seperti orang tidur miring. Ia merogoh saku baju penjaga itu dan menemukan seuntai anak kunci.

Saat itu Han Bi Ing tengah memeluk Han Bun Liong dan menangis tersedu-sedu.

"Ci Ing, kita sekarang masih dalam penjara. Setiap saat penjaga dapat datang kemari. Simpan lah airmata cici sampai nanti dirumah. Sekarang kita harus lekas membawa Han lopeh keluar," In Hong memberi peringatan.

Han Bi Ing tersadar. Ia segera memapah tubuh ayahnya untuk berjaIan.

"Tunggu,” kata In Hong, "diluar masih ada penjaganya.

Biarlah aku memanggilnya."

In Hong, terus keluar, "Penjaga". Lekas bantu kami menggotong pesakitan tua itu."

Penjaga itu menurut. Begitu masuk kadalam sel diapun segera berjongkok untuk mengangkat kaki Han Bun Liong yang saat itu diminta untuk rebah di lantai oleh Han Bi Ing. Crek......... sebuah pukulan yang keras pada tengkuk si penjaga, hingga pingsan.

Saat itu amat menegangkan sekali.Untung lah keadaan  di penjara itu sunyi senyap dari penjaga. Setelah keluar dari penjagaan, In Hong bingung. Hendak ke manakah dia akan menuju? Ia tak tahu seluk beluk gedung markas yang amat besar dan luas. Ia menuju ke belakang dengan harapan akan keluar dari tembok pagar.

Belum berapa jauh, mereka berjalan, sekonyong-konyong dua sosok bayangan berlari-lari cepat. Dan dalam beberapa kejab mereka sudah tiba di hadapan In Hong.

"Jangan merintangi aku! " bentak In Hong, seraya menyambut kedua pendatang itu dengan serangan pedang.

Ternyata kedua pendatang itu mengenakan kedok muka. Yang satu wajahnya tersenyum dan yang satu merah wajahnya.

''Jangan kurang ajar, budak hina!" bentak pendatang yang berkedok muka merah. Dia menghindar dan mencengkeram tangan In Hong. Tetapi In Hong geliatkan pedang untuk membabat jari orang.

"Kim toako . . . !" tiba2 Han Bi Ing berteriak. Orang berkedok merah tertegun, "Engkau, Ing . .. " belum selesai ia bicara, pedang In Hong sudah menabas mukanya.

Jarak mereka amat dekat dan pedang melancar cepat sekali. Han Bi Ing menjerit karena mengira orang yang berkedok merah itu tentu akan terbelah pedang In Hong. Karena ngeri membayangkan hal itu dia sampai pejamkan mata.

Trang . . . terdengar bunyi berdering yang tajam dan disusul dengan desis mulut In Hong. Han Bi Ing membuka mata dan terkejut ia melihat adegan yang disaksikan saat itu. In Hong tegak tertegun, pedangnya jatuh ke tanah. Sementara jari pendatang bermuka merah itu meluncur ke arah mata In Hong.

"Kim toako, jangan! Dia In Hong . . . !" teriak Han Bi Ing terkejut.

Orang itu menyurut mundur selangkah dan tertawa, "Ya, kutahu, Ing- moay."

“Siapa engkau? Engkau Kim toa …. tuan Kim?" In Hong membelalakkan mata.

"Nona Han jauh lebih jeli daei pada engkau,” orang bermuka merah itu tertawa.

"Sudahlah, jangan bergurau di sini. Nanti saja kalau sudah berada di tempat yang aman," tiba2 orang bermuka putih berseru."

Orang bermuka merah mengangguk, "Ing-moay, idinkan aku menggendong peh-hu. Dan ikutilah aku ke luar dari neraka ini."

"Engkau .. . , " baru In Hong hendak membuka mulut, orang berwajah putih sudah memegat, "sudahlah, jangan banyak ngomong saja, anak perempuan. Ikutlah pada Kim siauhiap. Aku yang menahan mereka di sini!’

Tanpa menunggu jawaban Han Bi Ing, orang bermuka merah terus memanggul tubuh Han Bu Liong dan berseru, “Sekelompok prajurit sedang menuju ke penjara ini. Lekas ikut aku. Biar cianpwe ini yang mengurusi mereka !' — Habis berkata orang bermuka merah itu terus melesat pergi. Oleh karena Han Bi Ing mengikuti, terpaksa In Hong juga ikut.

Mereka tiba di pagar tembok belakang. Pagar tembok itu lebih kurang 10-an meter tingginya, "Apakah engkau mampu memanjat ke atas ?” tanya orang itu kepada In Hong.

Iii Hong diam tak menyahut. Dia hanya memandang kepuncak dinding.

"Ing-moay, terimalah ayahmu dulu. Aku hendak memanjat tembok ini. Nanti akan kuulurkan tambang agar kalian dapat kutarik keatas," kata orang bermuka merah seraya menyerahkan Han Bun Liong kepada Han Bi Ing.

Dengan melekatkan kedua telapak tangan ke tembok mulailah orang itu merayap keatas. Gayanya mirip dengan seekor cicak. Dan memang ilmu yang digunakan itu disebut Bik-hou-kang, atau tenaga-sakti cicak.

Han Bi Ing terkejut dan kagum akan kepandaian orang itu. Sebenarnya demikian juga In Hong. Tetapi dasar dara bandel, walarpun dalam hati kagum tetapi bibirnya tetap mencibir.

“Ing-moay, ikat tubuhmu dengan tali ini. Pangullah Han lopeh, akan kutarik kalian keatas," seru orang itu.

Han Bi Ing menurut dan akhirnya dapatlah ia mencapai puncak tembok. Kemudian menyusul In Hong. Waktu turun ke luar tembok, Han Bi Ing menggunakan tali tetapi In Hong terus langsung melayang ke bawah, Sedang orang bermuka merah itu sambil memanggul Han Bun Liong loncat turun. Mereka bertiga lalu menuju ke gedung keluarga Han dan masuk kedalam ruang rahasia dibawah tanah.

Ketika masuk kedalam ruangan, bukan kepalang kejut mereka kedok muka itu tak lain adalah kedok yang dipakai oleh orang yang mukanya putih cerah tadi.

"Gila," teriak In Hong, "dia sudah tahu tempat ini !" Tetapi orang berkedok muka merah itu tak menghiraukan. Ia meletakkan Han Bun Liong di perbaringan. Sebelumnya ia suruh Han Bi Ing untuk mengganti pakaian ayahnya dan memberinya minum. Setelah itu orang berkedok muka merah lalu memberinya minum sebutir pil dan mengurut-urut tubuhnya.

"Silahkan Han lopeh tidur dulu," katanya setelah selesai mengurut, Setelah Han Bun Liong tidur, ketiga anakmuda itu lalu duduk diluar.

"Hai, siapakah engkau !" tegur In Hong karena melihat orang itu tetap masih mengenakan kedok muka.

Orang itu tertawa lalu membuka kedok mukanya dan segera tampaklah sebuah wajah berseri bersih yang cakap.

"Ih. engkau !" seru In Hong setelah yakin bahwa orang itu bukan lain adalah Kim Yu Ci.

"Ya," kata Kim Yu Ci tertawa, "untung aku tak sampai mati engkau bacok."

"Ih, salah siapa ?" bantah In Hong, "mengapa engkau tak mau unjuk muka ?"

"Hm, benar2 gadis bodoh," kata Kim Yu Ci, "memang aku dan ciangpwe tadi sengaja memakai kedok muka agar jangan dikenal musuh."

"Cianpwe ?" ulang In Hong, "cianpwe siapa yang engkau maksudkan ?"

"Ini," kata Kim Yu Ci menunjuk kedok muka betwarna putih.

"Siapa dia ?" "Sahabat lamamu." "Siapa ?" "Sahabalmu yang lama."

"Eh, jangan bergurau eagkau," seru In Hong cemberut, "aku tak punya sahabat lama,"

"Memang engkau sudah tahu bahkan sudah bartempur tetapi belum mengenalnya."

"Kim toako, siapakah cianpwe itu ?" karena ingin tahu, Han Bi Ing ikut bertanya.

"Dia bukan lain adalah si kakek pincang yang beberapa kali telah menggoda nona In," kata Kim Yu Ci.

"Dia ?" In Hong melengking kaget. Kim Yu Ci mengangguk.

"Siapakah dia ? Bukankah dia pernah berkelahi dengan engkau dan juga dengan aku ?"

"Dia adalah Ban Leng Jiu yang termasyhur itu," kata Kim Yu Ci.

"Eh, bagaimana engkau dapat berkenalan dengan dia ?

Mengapa dia tahu tempat ini ?"

"Ah, orang itu memang luar biasa. Ban Leng jiu artinya si Tangan-serba-bisa. Dia dapat melakukan pekerjaan apa saja yang dikehendakinya. Aku juga baru berkenalan dengan dia ketika hendak menyerbu ke dalam markas musuh."

"Kim toako, kumohon engkau suka menceritakan pengalamanmu tadi." pinta Han Bi Ing.

Kim Yu Ci mengangguk, "tetapi akupun juga minta kalian menceritakan pengalaman kalian.”

"Baik," kata Han Bi Kim Yu Ci lalu bercerita Pertama dia menuturkau tentang pertemuannya dengan- anak buah liang-liong Pen-hang-pang sampai bertemu dengan ketuanya dan kemudian diminta untuk memimpin. Kemudian di pergi kepada pemilik, rumahmakan dan diperkenalkan dengan dua orang cianpwe yang sanggup membantu usahanya meaggempur penjara.

Kim Yu Ci memang ikut dalam menjalankan liang-liong Naga Putih. Dia pegang bagian ekornya. Pada waktu bertempur dengan liang-liong Hek-liong-pang, dia mendapat kesempatan untuk melepaskan jarum bwe-hoa- ciam dan dapat melukai mata panglima Taras.

Dalam suasana yang kacau, ia suruh rombongan liang- liong Naga Putih pulang, sementara dia terus masuk kedalam markas.

Saat itu dalam markas telah berlangsung pertempuran seru. Dia melihat kedua cianpwe yang bersedia membantunya itu tengah bertempur melawan berpuluh- puluh jago2 silat yang bekerja pada markas pasukan Ceng. Waktu aku hendak turun tangan, kedua ciangpwe itu terus lari dan dikejar oleh rombongan jago2 silat markas musuh. Sebenarnya aku hendak mengejar tetapi tiba2 terdengar suara halus yang mengiang dalam telinga, ' Jangan ikut mengejar. Kedua orang itu memang memancing supaya kawanan jago2 silat itu meninggalkan markas. Hayo lekas masuk kedalam penjara ”

Kim Yu Ci terkejut. Diapun segera menuju kebelakang. Disitu dua orang jago silat memergokinya dan menyerang. Tetapi berkat kepandaiannya yang sakti, dapatiah Kim Yu Ci merubuhkan mereka. Kemudian muncul seorang kakek.

"Engkau terlalu barani siauhiap," katanya, "di markas pasukan Ceng ini, engkau seperti berada dalam sarang harimau dan serigala yang buas." "Siapakah lopeh ini ?" Kim Yu Ci.

"Siauhiap pernah mengejar aku ketika di biara Ceng- leng-kwan tempo hari," sahut kakek itu.

"O, engkau Ban Leng Jiu cianpwe ?" seru Kim Yu Ci, "lalu apa maksud lopeh ?"

"Pakailah kedok muka ini," dia terus melemparkan sehelai kulit kepada Kim Yu Ci, sedang dia sendiri juga mengenakan kedok kulit. "jangan mereka sempat melihat wajah kita yang sebenarnya sehingga gerak-gerik kita tak leluasa."

Kim Yu Ci menurut.

"Apakah lopeh tahu dimana letak penjara rahasia itu ?" tanya Kim Yu Ci.

"Ikut aku," kata Ban Leng Jiu. Keduanya segera menuju ke belakang dan tepat pada saat itu In Hong din Han Bi lag keluar dengan memanggul Han Bun Liong.

Demikian cerita Kim Yu Ci.

"Siapakah yang membakar markas itu, toako?" tanya Han Bi hag.

"Beberapa jago yang diundang oleh pemilik rumahmakan untuk membantu usaha kita," kata Kim Yu Ci.

"Apakah sahabatmu Ban Leng Jiu itu tak menyinggung aku ?" tanya In Hong.

"Ya," sahut Kim Yu Ci, "dan mengatakan agar kusampaikan kepadamu si dara cantil .. “

"Eh, engkau menghina aku, ya?" tukas In Hong.

"Bukan, kata2 itu memang berasal dari dia jangan marah kepadaku," "Hm, teruskan," seru In Hong dengan lagak seperti nyonya besar. Dia tak tahu siapa Kim Yu Ci itu dulu. Untung sekarang Kim Yu Ci sudah berobah sekali perangainya. Dia sabar dan ramah

"Dia mengatakan, nanti kalau keadaan sudah mengidinkan, dia tentu akan melaksanakan taruhannya."

"Taruhan apa?" In Hong terkejut,

"Bukankah engkau pernah bertaruh dengan aku kalau engkau sanggup manampar pipi orang itu?"

"0, itu!" ter:ak In Hong, "bagaimana dia tahu? Ah, tentu engkau yang bilang!"

"Tidak," bantah Kim Yu Ci, "aku tak pernah mengatakan hal itu kepadanya tetapi dia tahu sendiri. Dia malah menantang engkau, kalau engkau mampu mengejarnya, dia nanti akan pay-kui (berlutut) dan mengangkat engkau sebagai guru."

"E, dia menantang begitu?" seru In Hong mulai naik darah, "boleh, kuterima tantangannya!."

Kim Yu Ci tertawa.

"Mengapa tertawa? Siapa suruh tertawa?" tegur In Hong yang sudah terlanjur muring.

"Aku geli mendengar ceritanya," kata Kim Yu Ci "waktu dia mengatakan bahwa engkau pernah pay kui dihadapannya dan minta ampun . . . "

"Ngaco!" bentak In Hong, "siapa yang mengatakan begitu? Biarpun dia Ban-leng-jiu atau Ban-leng-ceng, aku tak sudi memberi hormat.”

"Ha, ha, ha," Kim Yu Ci tertawa makin geli, "tetapi nyatanya engkau pernah berlutut minta ampun kepadanya." In Hong marah dan hendak ke luar tandukrya, melihat itu Han Bi Ing cepat berkata, "Kim toako, cobalah engkau ceritakan apa saja katanya."

"Begini," kata Kim Yu Ci, "itu waktu In Hong kan pergi ke biara Ceng-leng-kwan untuk mencuri pakaian nikoh, Nah, coba saja tanyakan kepadanya bagaimana waktu dia kepingin hendak mengambil buah li (peer) di meja sembahyangan sampai dia bertekuk lutut membungkukkan tubuh dihadapan patung Dewi Koan Im."

"Satan, itu dia yang mengerjain aku ?" teriak In Hong.

Kim Yu Ci tertawa gelak2. Han Bi Ing juga

"Hm, kakek pincang itu memang kurang ajar," seru In Hoag, "sampaikan kepadanya, kalau ketemu tentu akan kupotong kakinya yang satu, biar dia lumpuh !"

Setelah puas tertawa, Kim Yu Ci lalu minta Han Bi Ing menceritakan pengalamannya.

Han Bi Ing bercerita.

Waktu dia bersama In Hong menyaru sebagai nikoh masuk kota, ada dua peristiwa yang dialaminya.

"Ah, memang prajurit2 Ceng itu terlalu kurang ajar sekali," kata Han Bi Ing, masakan terhadap rahib mereka juga berani mengganggu. Itu waktu, ada sekelompok prajurit yang berjalan dengan tingkah tengik. Rupanya mereka habis minum arak. Melihat kami, salah seorang prajurit itu menghampiri dan terus hendak mengganggu. Melihat itu In Hong tak dapat menahan kemarahannya. Ditamparnya muka prajurit itu hingga menjerit-jerit kesakitan. Mulutnya berdarah dan dua buah giginya putus

.....” Tiga prajurit yang lain segera menyerang In Hong. Tetapi In Hong melawan. Kemudian ada pula seorang prajurit yang hendak menangkap Han Bi Ing.

"Jangan mengganggu seorang nikoh," tiba2 muncul seorang pemuda.

"Huh. engkau berani mencampuri urusanku?" bentak prajurit itu seraya layangkan tinjunya kepada pemuda itu,

Pemuda itu melawan tetapi karena prajurit mengbunus, pemuda itu terbacok bahunya dan rubuh, Prajurit terus hendak membunuhnya,

"Jangan," seru Han Bi Ing, "bawalah aku, jangan ganggu dia!”

Prajurit itu tertawa menyeringai lalu menghampiri Han Bi Ing dan terus ulurkan tangan. Tampaknya Han Bi Ing juga ulurkan tangan seperti orang menyambut. Tetapi tiba2 prajunt itu menjerit keras dan terus terjerembab jatuh.

Apa yang terjadi ?

Ternyata untuk kesekian kalinya, Han Bi Ing telah menggunakan tusuk kundainya untuk menusuk telapak tangan orang yang tepat mengenai jalandarah Lau-kiong- hiat. Tak ampun lagi lenyaplah tenaga prajurit itu bagai balon yang gembos.

Pada saat itu In Hongpun sudah dapat menyelesaikan prajurit2 yang mengeroyoknya. Han Bi Ing dan In Hong menolong pemuda itu. Walaupun gagal tetapi Han Bi Ing tetap berterima kasih kepada pemuda yang tak gentar menghadapi prajurit demi hendak menolongnya.

Pemuda itu bernama Cip Li, seorang murid dari perkumpulan barong-say Kuning. Seperti halnya liang- liong, pun di kota Thay-goan terdapat beberapa perkumpulan barong-say, Sebenarnya perkumpulan2 liang- liong maupun barong-say, adalah perguruan silat. Tetapi karena takut ditangkap, merekapun menggunakan nama perkumpulan liang-liong dan barong-say. Oleh karena itu setiap anakmurid perkumpulan lian-liong dan barong-say tentu memiliki ilmusilat.

Pemuda itu juga kagum akan kepandaian In Hong yang mampu mengalah tiga orang prajurit. Ia menghela napas.

"Kenapa ?" tegur Han Bi Ing.

"Andaikata perkumpulan kami bisa mendapat bantuan tenaga seperti suhu berdua, tentulah kali ini kami dapat merebut juara."

"0, apakah dalam perayaan nanti juga diadakan lomba kejuaraan ?"

"Ya, akan ada adu liang-liong dan adu barong-say."

"Jika begitu, antarkan kami kepada ketuamu," kata In Hong.

Demikian kedua gadis itu segera dibawa ke markas perkumpulan barong-say kuning. Ketuanya sangat gembira sekali menerima kedatangan kedua nikoh itu. Han Bi Ing dan In Hong dengan terus terangpun menyatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan In Hong menyatakan bersedia menyumbangkan tenaga untuk ikut memainkan barong-say. Sudah tentu ketua dan anakbuah perkumpulan barong-say kuning amat gembira sekali mendengar hal itu.

Disamping itu ketua perkumpulan barongsay kuning yang bernama Hun Siok dapat memperkenalkan kedua gadis itu dengan seorang anggauta Hong-hian-hwa.

Gadis anggauta Bunga Penghibur itu tak lain adalah Ah Ling. Dia menjadi wanita menghibur khusus untuk panglima Taras. Karena pandai merayu, Taras sangat menyayanginya sekali.

In Hong dan Han Bi Ing terkejut dalam pertemuan dengan Ah Ling. Mereka tak sangka kalau gadis yang masih muda dan cantik rela mengorbankan diri untuk menjadi pemuas nafsu orang Boan.

"Memang pengorbanan itu besar sekali harganya," kata Ah Ling," jangankan hanya kehormatan bahkan jiwa dan raga harus kita korbankan demi menyelamatkan rakyat."

"Taci Ling, engkau benar2 seorang mustika nya mustika," dengan penuh haru Han Bi Ing memegang erat2 kedua tangan Ah Ling.

"Tidak, nona Han," kata Ah Ling, "aku hanyalah sebutir pasir di padang pasir yang tak berharga. Diriku sudah  cemar "

"Tetapi batinmu masih suci  bagai  seorang  bidadari  cici. ” cepat Han Bi Ing menduka.

Tersentuhlah hati In Hong seketika. Ia tak sangka bahwa di dunia ternyata terdapat gadis2 yang rela berkorban diri untuk menyelamatkan bangsanya.

"Cici Ling, bagaimana kalau aku ikut jadi anggauta Hong-hian-hwe ?" In Haag menyelutuk.

"Ah, jangan nona," kata Ah Ling, "kebanyakan anggauta2 kami adalah gadis2 lemah yang tak punya kepandaian. Tetapi nona mempunyai kepandaian silat yang tinggi. Nah, gunakanlah kepandaian nona untuk berjuang melawan mereka. Tugas untuk menenggelamkan pikiran dan semangat mereka, serahkan saja kepada kami." "Cici Ling, engkau seorang gadis yang mulia. Engkau laksana bunga teratai, walaupun di lumpur, tempatnya tetapi engkau tetap suci,” In Hong memeluk Ah Ling erat2.

"Lalu begaimana cici Ling hendak mengatur rencana ?" tanya Han Bi Ing.

"Begini," kata Ah Ling, "aku masih mempunyai beberapa kawan dalam markas besar pasukan Ceng. Diantaranya karena parasnya kurang cantik, ditugaskan menjadi pelayan. Nah, nanti apabila semua orang berkumpul di halaman untuk menyaksikan pawai liang-liong, kalian berdua boleh menunggu di pintu belakang gedung, A Siu dan A Kim akan keluar menemui. Kalian nanti boleh tukar pakaian dan masuk kedalam gedung."

"Tetapi aku sudah menyanggupi untuk membantu main barong-say. Oo, tak apalah, sehabis main barong- say, aku akan langsung menuju pintu belakang,"" seru In Hong gembira.

Begaulah semua rencana telah berjalan dengan lancar. Setelah bermain barong- say dan mencaploki kepala beberapa pembesar Ceng, In Hong terus menuju ke pintu- belakang. Disitu Han Bi Ing pun sudah menunggu. Ketika Ah Ling keluar, mereka lalu masuk dan kedua gadis itu menyaru sebagai bujang pelayan.

"Begitutah Kim toako, pengalaman kami selama di markas itu," Han Bi Ing menutup ceritanya.

"Nih, ambillah,"" tiba2 In Hong berseru seraya mengeluarkan sebuah bungkusan kepada Kim Yu Ci.

"Apa ini?" Kim Yu Ci heran karena tak sari-sarinya gadis centil itu memberi sesuatu kepadanya.

"Bukalah. untukmu !" seru In Hong. Ketika Kim Yu Ci membukanya, ia terbelalak. "Hai, kuncir siapakah begitu banyak ini ?" serunya.

"Siapa lagi kalu bukan kuncir para pembesar Ceng itu," sahut In Hong, "tuh, pakailah kuncirnya si Taras. Mereka tentu akan takut kepadamu, hi, hi, hi , "

Waktu In Hong menceritakan bagaimana ia memperoleh kuncir itu, Kim Yu Ci dan Han Bi Ing tertawa geli.

"Barong-say doyan kuncir. ha, ha, ha "

Keesokan harinya, Han Bun Liong sudah bangun. Semangatnya tampak lebih segar. Dia dapat berjalan keluar dan bercakap- cakap dengan ketiga anakmuda itu.

Waktu Han Bi Ing memperkenalkan Kim Yu Ci, Han Bun Liong terkejut, "Ah, jika demikian Kim hiantit ini sudah menjadi menantuku bukan ? Ah, terima kasih Thian, harapanku sekarang sudah ENGKAU kabulkan. Arwah Kim Thian Cong tentu akan dapat beristirahat dengan tenteram di alam baka ”

Han Bi Ing tersipu-sipu merah mukanya. Ketika ia hendak memberi penjelasan, tiba2 Kim Yu Ci berkata, "Gak-hu, terimalah hormat kia-say yang bodoh ini "

Kim Yu Ci terus berlutut memberi hormat kepada Han Bun Liong. Gak-hu artinya mentua dan kia-say adalah menantu.

"Ah, harap hian- say jangan banyak peradatan." kata Han Bun Liong seraya mengangkat bangun Kim Yu Ci.

Han Bi Ing makin merah mukanya. In Hong melongo.

Tetapi Kim Yu Ci tenang2 saja.

“Eh mengapa dia mau mengaku sebagai menantu ayah. Apakah ," Han Bi Ing tak dapat melanjutkan renungan hatinya karena sebagai seorang gadis sudah tentu dia merasa kikuk sekali.

"Hm. mengapa dia mengaku sebagai menantu? Apa dia suka kepada ci Ing ? Apakan dia sudah berunding dengan ci Ing ? Huh " pikir In Hong.

Kim Yu Ci mempunyai perhitungan sendiri. Pertanyaan yang mendadak dari mulut Han Bun Liong itu memang tak diduga- duga. Sejak bertemu dengan Han Bun Liong dan tahu akan pribadinya, timbullah rasa hormat dan kagum Kim Yu Ci kepada jago tua itu.

Sebelumnya belum terpikirkan soal perjodohan ataupun hubungan asmara dengan Han Bi Ing, namun demi menghibur hati Han Bun Liong agar jangan sedih, terpaksa Kim Yu Ci memberi pengakuan begitu. Soal nanti bagaimana hubungannya dengan Han Bi Ing, itu soal belakangan. Dapat diatur. Yang penting saat itu dia dapat menggembirakan hati Han Bun Liong. Ia dapat membayangkan betapa sengsara keadaan Han Bun Liong waktu ditawan dalam penjara dibawah tanah itu. Kalau dia mendengar kabar bahwa paterinya gagal mencari Blogon, tentulah Han Bun Liong lebih menderita batinnya.

"Ketahuilah hian-say," kata Han Bun Long pula, "satu- satunya beban yang menjadi pemikiranku adalah Bi Ing itu. Dia putcri tunggalku dan sejak kecil' mamanya sudah meninggal dunia. Sekarang setelah dia sudah bertemu dengan hian-say, legahlah hatiku siorang tua ini. Kapan saja, aku dapat mati dengan meram."

“Ah, terima kasih gak-hu, atas kepercayaan yang gak- hu berikan kepadaku," kata Kim Yu Ci.

Kemudian Han Bun Liongpun bertanya tentang diri In Hong. Ketika mendengar In Hong itu cucu dari Tong Kui Tik, terkejutlah Han Bun Liong, "Ah, kiranya, hian-titli ini cucu dan Tong-heng. Sudah lama aku tak beijumpa dengan Tong-heng. Dimanakah dia sekarang ?"

In Hong seperti disayat hatinya mendengar orang menanyakan kepadanya engkongnya yang tercinta itu. Air matanyapun berlinang-linang dan mulut serasa berat untuk berkata.

"Ayah, Tong ciangpwe tak kurang suatu apa. Saat ini dia sedang menyelesaikan suatu urusan adik Hong ini disuruh ikut aku."

'O. apakah Tong-heng hendak berkunjung kemari ?" "Kalau tiada aral melintang, mudah-mudahan Tong

ciangpve dapat datang kemari," sahut Han Bi Ing. Ia mewakili In Hong bicara karena ia tahu perasaan In Hong saat itu.

"Ayah aku ingin sekali mendengar cerita ayah sejak aku pergi dari kota ini," kata Han Bun Ing yang hendak mengalihkan pembicaraan.

Han Bun Liong menghela napas. "Ah, memang banyak sekali pengalaman hidup yeng kualami sejak itu," katanya, "dan kini aku makin mengenal bagaimana sifat manusia itu yang sebenarnya."

Dibawah pimpinan Han Bun Liong, dapatlah rakyat Thay-goan menahan serangan pasukan Ceng. Han Bun Liong berwibawa dan ditaati seluruh penduduk.  Dia dikenal seorang jago silat yang sudah mengundurkan diri dari pergaulan ramai. Dikenal pula sebagai seorang hartawan yang ramah dan terbuka tangannya.

Dalam kehidupan sehari-hari Han Bun Liong amat ramah. Tetapi dalam memimpin barisan rakyat dia keras sekali. Hal itu memang sudah ia ajukan kepada penduduk yang memintanya memimpin barisan mereka. Perang, lain dengan pergaulan. Dia harus tegas dan bengis. Barangsiapa melanggar peraturan harus mau menerima hukuman. Dan pendudukpun menyetujui karena mereka percaya penuh kepada Han Bun Liong,

Han Bun Liong membentuk beberapa kelompok barisan. Disamping itu diapun mengerahkan kaum wanita yang tak mau meninggalkan kota, untuk mengurus soal konsumsi (makanan).

Dalam waktu singkat kota Thay-goan yang  ramai sebagai kota perdagangan, telah berobah menjadi sebuah benteng pertahanan yang kokoh. Setelah pasukan Ceng menyerang mereka tentu di sambut dengan hujan anakpanah. Han Bun Liong tak mau menyerang melainkan bertahan. Dia akan tunggu sampai musuh lelah dan jemu baru nanti dia akan melancarkan serangan. Pasukan Ceng benar2 marah karena tak mampu merebut kota yang hanya dipertahankan oleh rakyat saja.

Apa yang diperhitungkan Han Bun Liong memang benar. Karena hampir sebulan lamanya selalu gagal, mulailah timbul rasa jenuh dan lelah di kalangan prajurit Ceng,

Melihat itu Han Bun Liong segera memanggil beberapa pemuda.

"Tek Sun, engkau bawa pasukanmu keluar dari pintu kota sebelah barat dan mengitari ke selatan, menyerang pasukan musuh," kata Han Bun Liong.

"Baik, cong-tui-tiang (pemimpin)," suhut seorang pemuda bertubuh kekar. Dia bernama Tek Sun dan memimpin barisan golok yang terdiri dari pemuda2 berani mati. "Dan engkau, Sun Ki, pimpinlah kelompokmu mengitari kearah utara dan menyerang rusuk kanan barisan musuh," kata Han Bun Long pula.

"Baik, cong-thau-leng," sahut seorang pemuda berkulit hitam. Dia bernama Sun Ki yang diserahi memimpin barisan panah.

"Dan Sou kongcu." kata Han Bun Liong kepada Sou Kian Hin, putera residen Thay goan yang entah bagaimana tahu2 ikut masuk menggabung diri kedalam barisan rakyat yang dipimpin Han Bun Liong," kongcu menjaga kota. Saruhlah anak buah kongcu untuk membuka pintu kota dan suruh mereka bersorak-sorai memukul genderang,"

"Baik, Han lopeh," sahut Sou Kian Hin.

"Dan engkau Hwat Seng, begitu pintu kota dibuka, engkau harus lekas memimpin anakbuahmu untuk menerjang musuh. Musuh sudah tak bernafsu bertempur lagi, hancurkanlah mereka."

Hwat Seng pemuda gagah yang diserahi tugas untuk memimpin barisan berani mati, dengan serentak melakukan tugasnya.

Demikianlah berkat perhitungan yang matang dan tepat dari Han Bun Liong, pasukan Ceng da pat dihancur leburkan. Mereka menderita kerusakan besar. Bahkan pimpinan mereka, jenderal Bo-tai telah tewas dalam serangan anak panah.

Panglima besar Torgun terkejut, Dia bertanya siapakah yang mimpin barisan rakyat Thay-goan. Ketika mendapat keterangan, dia terkejut, "Ah," Ah, ternyata dia. Dia memang kudengar seorang jago silat yang sakti dan berkepandaian luas. Jika dia mau menyerah dan bekerja pada kerajaan Ceng, wah, sungguh suatu tenaga yang amat berharga sekali !''

Memang letak keberhasilan dari kerajaan Ceng mengalahkan kerajaan Beng adalah karena panglima Torgun seorang yang dapat menghargai orang pandai dan jenderal yang pintar. Apabila menghadapi seorang lawan yang hebat, dia tentu akan berusaha untuk menangkap hidup orang itu dan dibujuknya supaya mau bekerja pada kerajaan Ceng. Dengan begitu banyaklah pembesar kerajaan Beng, baik sipil maupun militer, dapat dibujuk dan mau bekerja kepada kerajaan Ceng. Torgun memang seorang yang pandai dan luas pandangannya.

Malam itu Torgun memanggil Ko Cay Seng, pembantunya yang paling dipercaya untuk diajak berunding cara bagaimana dapat menangkap Han Bun Liong.

Ko Cay Seng terkejut, "Maksud tayjin hendak menduduki kota Thay-goan ?'

Torgun gelengkan kepala, "Kota Thay-goan tidak berarti. Setiap saat dapat kuhancurkan. Tetapi yang lebih penting adalah Han Bun Liong itu.”

"O ciangkun hendak menawannya dan membujuknya' supaya mau bekerja kepada kita ?"

"Begitulah," sahut Torgun, "Han Bun Long benar2 seorang tokoh yang cemerlang. Coba lihat, dengan kekuatan penduduk yang sebelumnya kebanyakan hanya pedagang dan kaum buruh dia dapat membentuk suatu pasukan yang bukan saja mampu mempertahankan kota Thay-goan, pun bahkan mampu balas menyerang dan menghancurkan pasukan Ceng. Engkau tentu tahu siapa jenderal Botai tu. Dia adalah salah seorang janderal kerajaan Ceng yang gagah dan pandai. Tetapi toh akhirnya dia harus binasa dalam pertempuran melawan pasukan rakyat Thaygoan. Bayangkanlah, bagaimana hebatnya kalau Han Bun Liong kita angkat menjadi pimpinan sebuah pasukan yang terlatih. Kurasa tiada seorang jenderal kerajaan Beng yang mampu melawannya."

Ko Cay Seng menganguk, Diam2 dia kagum akan pandangan tajam dari panglima besar kerajaan Ceng itu. Walaupun seorang Boan, tetapi dia termasuk seorang yang cerdas. Jika tidak demikian masakan dia dapat memegang jabatan sebagai panglima besar yang menguasai seluruh pasukan kerajaan Ceng dan menjadi wali dari raja Bonn yang masih kecil.

"Maka bagaimana cara untuk menangkap Han Bun Liong, kuserahkan kepadamu, Ko ciang kun," kata panglima Torgun.

Sudah tentu amat berat tugas yang dipikul Ko Cay Seng. Dia tak mempunyai orang dalam kota Thay goan. Apalagi sekarang kota itu sedang dikuasai Han Bun Liong dengan barisan rakyat. Tak mungkin dia dapat masuk kedalam kota itu.

Akhirnya setelah mempelajari kekalahan pasukan Ceng yang lalu. dia segera menghadap panglima Torgun dan minta disediakan suatu pasukan besar untuk mengepung kota Thay-goan.

Torgun meluluskan dan menyerahkan pimpinan pasukan itu kepada Ko Cay Seng. Maka untuk yang kedua kalinya kota Thay-goan dikepung lagi oleh pasukan Ceng yang berjumlah besar.

Han Bun Liongpun tetap menggunakan siasat bertahan sampai nanti pasukan Ceng sadah lesu semangatnya barulah dia melancarkan serangan. Setelah mempelajari pertempuran yang lalu dan membuktikan dengan siasat yang dilakukan Han Bun Liong sekarang, Ko Cay Sengpun mengatur siasat. Dia perintahkan menarik mundur pasukannya dan suruh prajurit2 itu bermabuk-mabukan seperti orang yang kesal.

Setelah menerima laporan bahwa pasukan Ceng hanya tinggal sedikit dan itupun sudah lesu, tiap hari kerjanya hanya bermabuk- mabukan saja maka Han Bun Liong lalu memanggil beberapa pemuda kepercayaannya.

Pemuda Sun Ki dan Tek Sun disuruh membawa pasukan, mengitari masing2 ke selatan dan utara untuk menyergap musuh dati kanan dan kiri. Sementara putera residen yakni Sou Kian Hin disuruh membuka pintu kota dan bersorak-sorak sambi1 memukul genderang. Lalu pemuda Hwat Seng yang memimpin anakbuah untuk menerjang dari muka.

"Han lopeh," kata Sou Kian Hin, "idinkan kali ini aku yang membawa pasukan untuk menyerang musuh. Sedang tugas untuk bersorak-sorak dan memukul genderang didalam kota suruh saja Hwat Seng."

"Ah, berbahaya kongcu," kata Han Bun Liong. "Perang bukan suatu permainan tetapi mengadu jiwa"

"Kutahu Han lopeh," jawab Sou Kain Hin, "tetapi aku ingin mendirikan jasa, dapat menghancurkan pasukan Ceng."

Han Bun Liong mengangguk dalam hati. Ia tahu bahwa putera residen itu sebenarnya hanya terpengaruh oleh kemenangan yang lalu. Dia mengira tentulah pasukan Ceng mudah dihancurkan seperti yang lalu. Oleh karena dia hendak merebut jasa. Sebenarnya Han Bun Liong tak senang dengan pejuang yang berjuang karena menginginkan jasa seperti halnya putera residen itu. Tetapi apa boleh buat. Kalau ditolak kemungkinan putera residen itu tentu tak senang hati. Suatu hal yang dapat mengganggu ketenangan dan persatuan. Dalam saat2 seperti itu, Han Bun Liong tidak menghendaki perpecahan.

Baiklah kalau kongcu menghendaki begitu. Akhirnya terpaksa ia meluluskan. Ia minta agar kongcu itu didampingi oleh pengawalnya yang sakti. Begitu pula jangan gegabah menyusup masuk kedaerah musuh,

"Kongcu," kata Han Bun Liong, "apabila musuh sudah kalah dan lari, janganlah kongcu terlalu mendesak dan mengejar mereka. Itu berbahaya. Harap kongcu memperhatikan pesanku ini."

Demikian penyerangan telah dimulai sesuai dengan rencana. Pihak pasukan Ceng telah menderita kerusakan dan mundur dengan kacau balau.

Sou Kian Hin yang memimpin barisan yang menyerang di muka, merasa gembira sekali. Ia hendak membuat kejutan dengan menghancurkan seluruh pasukan Ceng. Maka ketika pasukan Ceng mundur dalam keadaan kacau balau, dia terus perintahkan anakbuahnya untuk mengejar dan menghancurkannya.

Pengejaran pasukan Ceng itu berlangsung sampai 10 li, suatu jarak yang cukup panjang. Setelah berhasil mengobrak abrik sisa pasukan Ceng, Sou Kian Hin menarik pulang pasukannya. Dia berkuda di depan sendiri, diapit oleh dua orang pengawal pribadinya. Anakbuah pasukannya mengiring di belakang dengan bernyanyi dan bersorak-sorai gembira. Baru tiga li jauhnya, ketika tiba disebuah tikung jalan yang menjadi mulut sebuah hutan, tiba2 Sou Kian Hin terkejut ketika di sebelah depan telah menghadang seorang sasterawan setengah tua. Sasterawan setengah tua itu berpakaian serba putih dan tengah berkipas- kipas.

"Hai, siapa engkau," tegak Sou Kian Hin serasa memerintahkan berhenti.

"Aku hendak menghaturkan selamat atas kemenangan kongcu ," jawab sasterawan setengah tua itu dengan tersenyum simpul, "bukankah kongcu ini Sou kongcu  putera dad Sou tihu kota Thaygoan?"

Berhadapan dengan seorang sasterawan setengah tua, Sou Kian Hin tak curiga. Apalagi jelas sasterawan itu hendak menghaturkan selamat kepadanya. Maka diapun menyahut dengan tertawa, "Ah, mengapa paman repot2 begitu?"

"Tetapi kongcu," kata sasterawan itu, "ini memang benar2 suatu hal yang menggembirakan hatiku sehingga begitu mendengar berita kemenangan kongcu, serentak keluarlah buah pikiranku yang kutuangkan dalam syair ini. Kuharap kongcu tak menampik persembahan syair dari seorang sasterawan yang hina seperti diriku."

"Ah, harap lopeh jangan berkata begitu," kata Sou Kian Hin.

Sasterawan itu maju menghampiri dan menghaturkan segulung kertas. Dan Sou Kian Hinpun segera ulurkan tangan menyambutinya.

"Uh . . . . , tiba2 Sou Kian Hin menjerit kaget ketika tahu2 tangannya dicengkeram dan di tarik oleh sasterawan itu. Karena tak menduga-duga dan karena pergelangan tangannya dicengkeram begitu keras sehingga tenaganya merana, Sou Kian Hin tak dapat mempertahankan diri lagi dan melorot jatuh dari kudanya.

Sudah tentu kedua pengawalnya terkejut bukan main. Serempak kedua orang itu mencabut pedang dan terus hendak menerjang.

"Berhenti!" bentak sasterawan, "berani maju selangkah lagi, kongcu kalian tentu akan kubunuh," serunya seraya mengangkat tangan kini kearah kepala Sou Kian Hin.

Kedua pengawal itu tak berdaya lagi.

"Hai, siapa engkau! Lepaskan Sou kongcu!" anakbuah pasukan Sou Kian Hin berseru dan serempak maju.

"Berhenti!” kembali sasterawan itu menghardik dengan nyaring, "kalau kalian berani maju, kongcu ini tentu akan kuhancurkan benaknya."

Sekalian anakbuah tak berani maju. Mereka tak menginginkan patera residen itu mati.

"Nah, kalian mau menyerah atau minta mati?" seru sasterawan pula.

"Apa katamu?" teriak para anakbuah Sou Kian Hin. "Hanya dua jalan yang dapat kalian pilih. Menyerah atau

mati!"

"Hm, jangan sombong, sasterawan. Kami tak bermusuhan dengan engkau, mengapa engkau berani menganiaya kongcu."

"Kalian memang tak bermusuhan dengan aku, tetapi aku yang wajib memberantas kalian." ' Siapa engkau ini?"

"Aku adalah seorang jenderal pasukan Ceng yang ditugaskan untuk menghancurkan kota Thay roan. " "Kentut!" teriak pengawal, "engkau seorang diri berani buka bacot hendak menghancurkan kota Thay-goan? Ha, ha, ha, ha "

"Sekali lagi kuulang," seru sasterawan tak menghiraukan ejekan orang, "kalian mau menyerah atau mati?"

"Hm, kalau menyerah coba bagaimana?"

"Kalau menyerah, kalian semua akan dibebas kan dari kesalahan menentang pasukan Ceng, bahkan kalau mau akan diterima menjadi prajurit Ceng."

"Hmm," dengus pengawal itu, "kalau minta mati saja?" "Segera kalian akan mati dalam beberapa kejab saja. Tak

percaya?" seru sasterawan, "lihatlah di atas batu karang kanan kiri jalan ini "

Serentak sekalian anakbuah Sou Kian Hin memandang arah yang ditunjuk. Mereka terkejut. Ternyata diatas batu karang yang menggunduk di kanan kini jalan, tampak beratus-ratus prajurit Ceng dengan busur terentang di tangan. Mereka siap membidikkan anakpanah selekas mendapat perintah dari sasterawan itu.

"Nah, begitu aku melambaikan tangan," kata sasterawan itu yang bukan lain adalah Ko Cay Seng, "maka beratus- ratus batang panah segera akan menghujani kalian. Coba bayangkanlah, apa kalian mampu hidup?"

Tergetar hati sekalian anakbuah. Maklum, mereka bukan prajurit melainkan rakyat biasa. Menghadapi saat seperti itu sudah tentu gentarlah hati mereka.

"Dan coba kalian melihat ke belakang," seru Ko Cay Seng pula. Ketika berpaling, mereka melihat di belakang mereka sudah muncul beratus-ratus prajurit Ceng dengan merentang busur.

"Dan lihatlah apa yang berada di belakangku," kembali Ko Cay Seng berseru.

Dari belakang Ko Cay Seng, muncullah beratus-ratus prajurit Ceng yang menghunus pedang dan tombak.

"Nah, jelas?" seru Ko Cay Seng, "jika kalian ingin mati, seketika ini juga aku dapat mengantar jiwa kalian ke akhirat."

"Serang!" terdengar beberapa pemuda yang marah melihat tingkah ulah Ko Cay Seng. Tetapi mereka segera menjerit dan rubuh dengan tubuh berhias anakpanah.

"Tuh, lihatlah buktinya." seru Ko Cay Seng, "barangsiapa betani bergerak, tentu mati bersarang anakpanah!"

"Kalian sudah dikepung dari empat jurusan. Pasukan kami telah memutuskan hubungan kalian dengan kota Thay-goan. Bahkan saat ini Thaygoan sedang kami serang. Sekarang lekas menyerah. Kalau terlambat, aku tak mau menerima penyerahan kalian lagi!"

Dalam keadaan seperti saat itu tiada lain jalan bagi anakbuah Sou Kian Hin kecuali hanya menyerah. Memang mereka sudah membekal tekad untuk mati. Tetapi mereka mau mati asal dapat membunuh musuh. Sedang saat itu jelas mereka yang dihadapinya itu hanyalah Ko Cay Seng seorang. Dan Ko Cay Seng juga memiliki seorang sandera, putera residen Sou.

Akhirnya Sou Kian Hin dan seluruh anak pasukannya ditawan. Ketika Ko Cay Seng membawa Sou Kian Hin menghadap panglima Torgun, panglima terkejut. "Buat apa ciangkun membawa pemuda itu kemari ?" tegur Torgun.

"Tayjin, pemuda itu adalah putera Sou tihu kepala kota Thay-goan," kata Ko Cay Seng, "apabila dia mau menyadari dan bekerja pada kita, kurasa mudahlah kita merebut Thay-goan."

Sejenak panglima Torgun menatap Ko Cay Seng dan dalam tatapan pandang mata yang berlangsung dalam waktu singkat, panglima besar kerajaan Ceng itu segera dapat menangkap maksud Ko Cay Seng.

"Baik," kata panglima Torgun. Ia turun dari kursi, membuka tali pengikat tangan Sou Kian Hin dan menggandeng pemuda itu diajak duduk disampingnya. Ia menuang arak dan diberikan, "Ah, maaf, Sou kongcu tentu manderita kejut "

Sou Kian Hin terkejut sekali atas perlakuan dan sikap panglima Ceng itu. Ia tak kira kalau girinya akan disambut dengan perlakuan yang begitu mengindahkan. Tergopoh- gopoh dia menghaturkan terima kasih.

''Kongcu," kata Torgun setelah selesai minum arak, ”srbenarnya yang kami musuhi adalah raja Beng dan mentri2 keraton yang korup dan tak becus mengurus negara itu. Kami sebenarnya bermaksud baik untuk membantu rakyat agar dapat hidup tenang dan sejahtera dam bebas dari gangguan para prmbesar."

Sou Kiam Hin hanya mengangguk.

“Maka heranlah aku kalau rakyat Thay-goan malah mati-matian melawan pasukan Ceng."

"Tetapi bukankah pasukan ciangkun itu  hendak menjajah negara kami ?" tanya Sou Kian Hin. "Ah, tidak kongcu," sahut Torgun, "kata2 menjajah itu terlampau berat. Kami hanya ingin mengatur dan menertibkan kerajaan Beng yang sudah rapuh. Banyak sekali mentri dan jenderal dari kerajaan Beng yang sadar dan mau mengabungkan diri kepada kami. Kami terima mereka dengan penuh kegembiraan dan menganggap mereka seperti saudara sendiri. Coba tanyakanlah pada Ko Cay Seng ciangkun, bagaimana perlakuan kerajaan Ceng kepadanya."

"Kongcu, walaupun aku seorang Han tetapi aku mendapat kepercayaan penuh dari baginda Ceng dan panglima besar Torgun tayjin ini. Tidak ada perbedaan antara jenderal Beng yang menakluk dengan jenderal Ceng. Sama-sama mendapat panghargaan dan perlakuan yang Iayak."

Sou Kian Hin mulai tergerak hatinya. Ia tak sangka bahwa panglima besar kerajaan Ceng begitu ramah dan baik.

"Kiranya Torgun tay-ciangkun tentu tak keberatan untuk mengangkat engkau sebagai residen Thay-goan apabila engkau mau membantu kerajaan Ceng merebut kota itu dari tangan kaum pemberontak," kata Ko Cay Seng pula.

Sou Kan Hin terkejut. Ia mengalihkan pandang kepada Tongun. Tampak panglima besar itu mengangguk dan tersenyum kepadanya.

"Ah, budi kebaikan tayjin berdua, sungguh membuat diriku kecil sekali," kata Sou Kian Hin "memang apa yang Ko tayjin Katakan tadi benar. Mentri2 kerajaan Beng hanya main korup dan menguasai pemerintahan, Rakyat sudah cukup menderita. Kita harus berusaha untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat. Akan tetapi, apakah artinya seorang seperti diriku ini ?" "Kongcu, setiap orang itu tentu berguna. Apalagi kongcu seorang putera residen, Kongcu tentu dapat melanjutkan memegang jabatan itu." kata Ko Cay Seng.

"Jabatan residen, bukan jabatan kecil tetapi suatu kedudukan yang tinggi. Jarang orang mempunyai kesempatan untuk menduduki jabatan itu.

Apalagi kalau kongcu setya membantu kerajaan Ceng, ada kemungkinan dapat dinaikkan pangkat menjadi To-tok (gubernur)," kata Ko Cay Seng pula,

"Ah, aku benar2 tak berani memimpikan hal itu. Kesemuanya itu kuharap tayjin suka memberi bantuan dan bimbingan kepadaku."

"Baik, kongcu, jangan kuatir."

"Lalu apakah yang dapat kukerjakan sekarang ?" tanya Sou Kan Hin.

"Aku punya sabuah rencana. Asal kongcu mau melakukan, kota Thay-goan tentu dapat kita rebut."

"O, silakan tayjin mengatakan." "Rencanaku itu disebut siasat Gok-ji-ki." "Gok-ji ki "

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 25 Huru hara"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close