Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 07 Hiruk pikuk.

Mode Malam
Jilid 07 Hiruk pikuk.

Mendengar kata2 dara In Hong, sekalian orang tampak tegang, terutama sasterawan mata ke keranjang itu.

Tong Kui Tek, engkong dari si dara, berkata tenang?, "Tak perlu terburu-buru, dia kan belum turun tangan!"

Dengan kata2 itu Tong Kui Tek hendak memberi peringatan bahwa apabila Sun Kian berani bertindak, Tong Kui Tek tentu akan mengorek biji matanya.

Sasterawan tukang merusak wanita tenang2 saja bersenyum. Tetapi sebenarnya dalam hati dia juga gentar dan tak berani bertindak lebih lanjut.

Wan-ong Kui telah memperhitungkan situasi luar itu. Kawanan begal dan penjahat itu tentu akan saling berebut. Dia harus gunakan akal untuk mengadu domba mereka.

"Hm, apakah kalian anggap kereta itu milik kakek moyang kalian?" serunya dengan geram, "masakan seenaknya sendiri saja kalian mengadakan pembagian rejeki seolah-olah harta dan nona dalam kereta itu sudah menjadi milik kalian?" Macan-gembong Beng Ho tertawa gelak2, "O, engkau mengira engkau masih berhak memiliki barang yang engkau antar itu?"

"Aku yang mengantar, aku yang bertanggung jawab," sahut Wan-ong Kui dengan marah, "kalau kalian hendak merampok, harus tanya dulu pada pedangku ini apakah mau menyerahkan atau tidak kepada kalian!"

"Uh, yang punya kewajiban, rupanya mulai unjuk gigi.

Lalu bagaimana kita?" Tong Kui Tek tertawa.

"Karena aku yang datang lebih dulu maka aku yang akan menghadapi pengawal itu," kata Macan-gembong Beng Ho, "Tong loya, kalau aku sampai rubuh, baru nanti engkau yang maju!"

Dengan kata2 itu Beng Ho menyatakan bahwa menurut peraturan dunia Rimba Hijau, yang datang lebih dulu, dia yang berhak pada barang itu.

Tong Kui Tek tertawa gelak2, "Bagus, memang dengan cara itu, kita tak saling merusak persahabatan. Sun laute, engkau harus antri di belakangku. Kalau nanti aku kalah, barulah engkau yang maju !'

Sebenarnya Sun Kian tak puas diatur begitu. Pengawal kereta itu hanya seorang pemuda yang cakap seperti anak perempuan. Tentu mudah bagi kelima harimau Lusan untuk mengalahkannya. Dan kalau kelima harimau itu menang, mereka tentu akan minta bagian yang paling banyak. Kalau soal harta, itu sih boleh saja, terserah kalau diambil mereka semua. Tetapi kalau mereka juga akan mengambil mempelai perempuan, ah, dia pasti akan menggigit jari. Dan diapun tahu bahwa di kalangan kelima macan Lusan itu, Macan-putih Beng Lok juga paling gemar akan paras cantik. Hampir saja Sun Kian hendak menentang ucapan Tong Kui Tek tetapi tiba2 terlintas dalam pikirannya, "Ah, dara cucu Tong Kui Tek itu juga menghendiki si mempelai perempuan tak mungkin dia akan menyerahkan begitu saja kepada ke lima harimau Lusan. Hm, biarlah aku menerima saja. Kalau lelaki tua dengan si dara itu nanti ribut dan bertempur dengan kelima macan Lusan, mereka tentu akan sama2 menderita luka. Pada waktu itulah aku baru turun tangan untuk membereskan mereka semua. Tetapi kalau sekarang aku menentang tentulah aku yang akan bertempur deng an kelima macan Lusan itu."

Demikian setelah memperhitungkan untung ruginya, akhirnya Sun Kian mengangguk tanda setuju.

"Nah, kalau begitu silakan saja engkau maju, macan tua," seru In Hong.

"Jangan kuatir, nona In," sahut Beng Ho, "kalah atau menang aku tetap akan mempersembahkan limaratus tail emas kepadamu."

Habis berkata dia terus hendak maju tetapi Macan-hitam Beng San cepat maju, "Toako, menghadapi pemuda semacam itu, tak perlu toako yang maju, cukup serahkan aku saja," katanya seraya mendahului melangkah kehadapan Wan-ong Kui.

"Wan-ong Kui, apakah engkau benar2 tak mau menyerahkan kereta itu ?" serunya.

"Aku sih boleh2 saja tetapi sayang pedangku ini tak suka dengan tingkah laku manusia2 yang tak tahu undang2."

"Ha, ha, undang-undang ? Kerajaan sudah mengungsi ke selatan, dimana-mana kacau. Mana ada undang-undang lagi ?" "Justeru karena kacau kita wajib menjaga undang- undang. Baik atau buruk, kerajaan Beng adalah negara kita. Sebaik-baiknya raja Ceng, tetapi dia orang asing maka lebih baik raja Beng. Dengan perbuatanmu mengacau undang2 ini, berarti engkau membantu orang Ceng yang hendak merampok negeri kita itu !"

"Persetan raja Beng atau raja Ceng. Sudah berpuluh tahun aku tinggal di daerah ini, hidup dan mendapat makan disini. Daerah ini adalah daerah kami, kekuasaan kami. Kamipun mempunyai undang2 sendiri di daerah ini.”

"Sudahlah, jangan banyak mulut." bentak Wan-ong Kui, "kalau engkau mampu mengalahkan pedangku ini, baru nanti erigkau boleh bicara lagi!"

"Lihat golok !" Beng San segera melayangkan golok menabas kepala Wan-ong Kui. Tetapi Wan ong Kui cepat menyelinap ke samping dan menabas lengan orang.

Macan-hitam Beng San terkejut. Cepat2 dia tarik goloknya tetapi diluar dugaan Wan-ong Kui lepaskan sebuah tendangan yang tepat mengenai lengan Beng San. Jago ketiga dari kelima Macan Lusan itu tak mengira kalau lawan memiliki jurus yang sedemikian hebat. Dan diapun menyesal mengapa tadi hanya menarik pulang goloknya dan tak mau loncat mundur.

Tring.....

Golok mencelat ke udara. Sesosok tubuh melesat maju, menyambar golok dan berseru, "Sam-le, terimalah golokmu dan silakan mundur. Biar aku yang menghadapi pemuda cengeng ini !"

Yang maju itu adalah Macan-loreng Beng Wan jago kedua dari Lu-san-ngo-hou. Dia bersenjata sepasang gembolan atau besi bundar sebesar buah kelapa yang berduri tajam dan memakai tangkai. Setiap gembolan besi itu tak kurang dari limapuluh kati beratnya. Sepasang gembolan besi itu disebut Song-thiat-jui. Sebenarnya sudah jarang sekali orang persilatan yang menggunakan senjata seberat itu. Tetapi Macan-loreng Beng Wan senang memakai senjata itu karena berat dan perkasa.

Lo-cia-hian-si atau dewa Lo-cia-mempersern bahkan- permainan, demikian jurus yang dimainkan Beng Wan ketika membuka serangan kepada Wan-ong Kui. Sepasang gembolan itu menderu-deru laksana dua ekor harimau yang berkejar-kejaran uutuk menerkam mangsa, Hebatnya bukan kepalang, anginnya sampai mengeluarkan bunyi seperti prahara.

Wan-ong Kui terkejut akan kesaktian tenaga Beng Wan. Walaupun ia memiliki po-kiam (pedang pusaka) yang dapat menabas segala besi logam, tetapi ia tak mau sembarangan adu kekerasan dengan lawan yang bertenaga hebat itu.

Ia tahu bagaimana harus menghadapi lawan, yang bertenaga kuat itu. Hoa-gui-hong-u atau Bunga-mekar- kumhang-menari, maka berlincahan ia mengelilingi lawan. Menghindari setiap kemung kinan adu senjata, mencuri kesempatan pada setiap kemungkinan untuk balas menyerang.

Rupanya sasterawan berwajah pucat Sun Kian yang mengikuti jalannya pertandingan itu, diam2 cemas. Dengan Macan-loreng saja kemungkinan pemuda Wan-ong Kui itu sukar untuk menang, dan andaikata menang, masih ada Macan-gembong Beng Ho, Macan-tutul Beng Gi dan Macan-putih Beng Lok. Mampukah pemuda itu mengalahkan mereka. Ah, kemungkinan besar, pemuda itu tentu akan kehabisan tenaga dan kalah. "Celaka, kalau kawanan Ngo-hou itu menang tentu sukar untuk merebut mempelai yang cantik itu," pikirnya. Akhirnya ia nekad. Selagi orang2 sedang bertempur, ia hendak mengambil nona mempelai itu.

"Hai, mau kemana engkau!" tiba2 In Hong terkejut ketika melihat Sun Kian sudah berada di depan kereta.

Sun Kian berpaling dan tertawa, "Ah, hanya sekedar melihat bagaimana sesungguhnya mempelai dalam kereta ini. Kalau memang cantik, kita nanti berunding. Tetapi kalau tidak cantik, perlu apa aku membuang waktu tinggal di sini?"

In Hong berpaling meminta persetujuan engkongnya. Teapi sementara itu Sun Kian sudah langsung melangkah maju dan menyingkap tenda dan susupkan kepalanya.

"Ah……..,” ia terlongong-longong ketika nona cantik yang berada dalam kereta itu tersenyum manis kepadanya.

Sebagai seorang tukang petik bunga yang termasyhur, Sun Kian banyak pengalaman dengan kaum wanita. Melihat senyum nona itu, dia tahu artinya. Jelas nona itu telah memberi hati kepadanya.

Dan semangatnyapun serasa terbang menyaksikan kecantikan Han Bi Ing yang walaupun tidak dandan tetapi masih tampak menonjol.

"Nona . . . aduh . . . . " tiba2 ia menjerit keras dan terhuyung-huyung ke belakang seraya mendekap matanya yang sebelah kiri.

In Hong terkejut, "Kenapa dia?" tanyanya kepada Tong Kui Tek.

"Entah," sahut engkongnya, "eh, mengapa tangannya berlumuran darah?" In Hong juga melihat hal itu. Buru2 dia menghampiri. Belum sempat dia bertanya, sekonyong-konyong melayang sebuah benda kecil

bulat kearahnya.

"Ih ....," In Hong menghindar. Ia mendesis kaget ketika benda itu jatuh ketanah dan waktu dilihatnya ternyata sebutir biji yang masih berlumuran darah.

"O, biji matamu dikorek oleh nona mempelai itu?" ejek In Hong, "bagus, taci dalam kereta, engkau telah mewakili kami untuk mengambil biji matanya."

Sudah sakitnya bukan kepalang, masih diejek lagi, seketika marahlah Sun Kian. Dengan me nahan sakit, dia tebarkan kipas besinya dan menampar ke muka In Hong.

In Hong terkejut. Dia tak mengira kalau Sun Kian akan menyerangnya. Sebelum kipas tiba, angin yang menampar muka dara itu telah menyebabkan si dara menderita. Mukanya serasa kaku dan panas. Hal itu menyebabkan ia agak lamban untuk menghindar.

Tepat pada saat itu kipas besi Sun Kian pun sudah sudah melayang tiba. Karena tak sempat menangkis maupun menghindar, In Hong terpaksa pejamkan mata, paserah. "Jangan mengganggu cucuku!" sekonyong-konyong jago tua Tong Kui Tek loncat dan lepaskan sebuah pukulan Biat- goug-ciang (pukulan membelah angkasa).

Sun Kian terkejut. Apabila ia lanjutkan kipasnya menutuk muka si dara, dia tentu akan termakan pukulan Biat-gong ciang. Namun untuk melepaskan sidara yang sudah tak berdaya itu, dia merasa sayang.

Dukkkkk .... tangan kiri menjotos dada In Hong dan tangan kanan Sun Kian dibalikkan untuk menampar serangan orang dengan kipasnya.!

Darrrr.....terdengar letupan kecil ketika terjadi bentukan antara tenaga dalam yang dipancarkan pada pukulan Biat- gong ciang dengan tamparan kipas besi.

Sun Kian terpental beberapa langkah. Ia menyadari kalau tenaga-dalamnya masih kalah sakti dengan jago tua Tong Kui Tik. Apalagi saat itu dia sedang menderita kesakitan hebat karena biji matanya sebelah kiri telah ditusuk dan dikorek keluar oleh nona dalam kereta tadi. Maka jalan yang paling selamat hanyalah melarikan diri. Kelak masih ada waktu untuk melakukan pembalasan.

"Tong lotiang, pada suatu hari aku pasti akan mencarimu untuk menghimpaskan hutangmu hari ini !" serunya seraya loncat melarikan.

Tong Kui Tek lebih penting menolong cucu kesayangannya daripada mengejar Sun Kian.

"Hong, bagaimana engkau ?" serunya seraya mencekal dara itu,

"Tidak apa2, engkong, hanya napasku sedikit sesak karena pukulan jahanam itu. Mana dia sekarang ?" tanya In Hong. "Melarikan diri."

"Oh, mengapa engkong tak menangkapnya?"

"Aku menguatirkan keselamatanmu. Dan lagi diapun sudah menderita pukulanku Biat-gong-ciang. Paling tidak dia harus beristirahat selama tiga bulan baru sembuh," kata Tong Kui Tik. Dia mengeluarkan sebutir pil dan suruh dara itu minum.

"Beristirahatlah untuk memulangkan tenagamu, kata Tong Kui Tek lalu menggandeng cucu ke bawah sebatang pohon dan menyuruhnya duduk melakukan pernapasan. Sementara dia tetap menjaga di sampingnya.

Ketika menempatkan diri memandang ke gelanggang pertempuran, iapun terkesiap. Saat itu pertempuran telah mencapai puncak ketegangan, Karena sampai sekian lama belum mampu mengalahkai Wan-ong Kui, Beng Wan geram sekali. Hm, kalau tidak kupancing dengan jurus itu tentu sukar mengalahkannya," pikir Beng Wan.

"Awas !" sekonyong-konyong dia lemparkan gembolan  di tangan kiri keatas dan gembolan itu melayang turun menimpa kepala Wan-ong Kui.

Wan-ong Kui terkejut dan cepat menabas gembolan itu. Tetapi diluar dugaan, pada saat dia sedang memperhatikan gembolan yang hendak menimpa kepalanya itu, tiba2 Beng Wan ayunkan gembolan di tangan, menghantam dadanya.

"Celaka !" diam2 Tong Kui Tek mengeluh "dia tentu binasa. "

Tetapi belum habis dia berkata, sebutir benda bundar telah melayang dan menghantam tangkai gembolan sehingga tersiak ke samping. "Jangan membunuh orang !" serempak terdengar suara orang berseru dan sesosok tubuh melayang ke tengah gelanggang.

Keras sekali benda bundar itu menghantam tangkai gembolan sehingga tangan Beng Wan terasa kesemutan. Cepat dia salurkan tenaga untuk mencekal tangkai itu erat2. Sementara Wan-ong Kui, setelah menghalau gembolan yang mengancam kepalanya, lalu manyurut mundur.

"Siapa engkau !" selekas memperbaiki diri berdiri tegak Beng Wan segera membentak pada pendatang itu.

Pendatang itu seorang pemuda cakap. Menilik dandannya yang bagus, dia tentu putera seorang berpangkat atau paling tidak ayahnya tentu seorang wan-gwe atau hartawan.

"Mengapa engkau hendak membunuh orang?" balas pemuda itu.

"Jangan turut campur urusanku !" bentak Beng Wan.

Pemuda cakap itu berpaling kearah Wan-ong Kui dan bertanya, "Kongcu, maaf atas kelancanganku. Tetapi bolehkah aku mendapat tahu, apa sebab kongcu bertempur dengan dia ?"

Melihat pemuda itu seorang yang sopan dan tutur katanya juga halus, Wan-ong Kui mau mem beri keterangan, "Dia hendak merampok keretaku."

"Apakah kereta kongcu berisi barang berharga ?" Wan-ong Kui mengangguk.

"Ho, ternyata engkau ini bangsa begal perampok," seru pemuda itu kepada Beng Wan, "jangan mengharap kalau aku mau melepaskan engkau !"

"Hm, engkau mau membantunya?" Beng Wan menegas. "Ya."

"Bagus, majulah kalian berdua agar dapat menghemat waktuku !"

"Tidak perlu, cukup aku seorang saja tentu sudah dapat membekukmu," balas pemuda itu. Ia mencabut pedang dan berseru pula, "hayo, kita mulai!"

Dia terus menyerang Macan-loreng Beng- Wan. Beng Wanpun melayani. Tetapi saat itu dial hanya menggunakan sebuah gembolannya.

Dengan cepat pemuda itu dapat mendesak lawan dan pada suatu kesempatan, pemuda itupun serentak berteriak, "Kena !"

Beng Wan tertusuk ujung pedang lawan yang tepat mengenai lengan kanannya. Ia menyurut mundur selangkah. Kesempatan itu tak disia-siakan pemuda itu. Dia terus maju hendak menusuk lagi.

Tiba2 sebatang senjata rahasia piau melayang kearah punggung pemuda itu, Tetapi rupanya punggung pemuda itu seperti bermata. Cepat dia ayunkan pedangnya ke belakang punggung, tnngng .... dengan tepat sekali dia dapat menghalau jatuh piau itu. Namun karena ia harus berbuat begitu, dia tak jadi melanjutkan menyerang Beng Wan.

"Ho, bagus." seru pemuda itu ketika melihat Macan- putih Beng Lok tegak di belakangnya, "kalau menantang, jangan main curang menyerang dari belakang."

"Aku hanya mencontoh tingkahmu," sahut Macan-putih Beng Lok, "bukankah tadi engkau juga melontar batu untuk menyerang secara gelap kepada ji-koko?" "Tetapi aku hanya bermaksud menghentikannya saja maka yang kuserang adalah senjatanya. Bukan seperti engkau yang hendak menyerang secara gelap dari belakang."

"Jangan banyak mulut!" bentak Macan-putih yang sudah siap dengan senjatanya, sebatang pedang.

"Baik, mari kita bertempur untuk membuktikan siapa yang lebih sakti ilmu pedangnya," kata Beng Lok. Dia segera membuka serangan dengan jurus Ki-hong-jui-hay atau Angin-lesus-meniup-laut.

"Bagus," sambut pemuda cakap itu seraya memutar pedangnya deras sekali. Tring;…., tring, iring terdengar

dering dua buah senjata tajam saling beradu.

Pada lain saat keduanya loncat mundur dan memeriksa senjata masing2. Setelah mendapatkan senjatanya tak kurang suatu apa, keduanya lalu maju lagi.

Diantara kelima macan, hanya Macan-tutul Beng Gi yang belum maju. Melihat Macan-putih Beng Lok sudah tarung dengan pemuda pendatang yang tak dikenal itu maka Beng Gi pun segera maju menghampiri Wan-ong Kui.

"Mari aku yang menemani engkau bermain-main," serunya.

Kelima Macan Lusan itu, masing-masing menggunakan senjata yang berbeda. Macan-gembong Beng Ho pakai senjata yang aneh yaitu pipa hun-cwe (pipa dari buluh bambu yang panjang). Macan-loreng Beng Wan pakai sepasang gembolan berduri. Macan-hitam pakai golok Kui- thau-to (golok yang ujungnya berbentuk seperti kepala setan) Macan tutul Beng Gi pakai rantai yang ujungnya diberi empat kait baja yang tajam. Sedang Macan-putih Beng Lok menggunakan pedang.

Agak terkejut Wan-ong Kui melihat senjata yang dipakai Beng Gi. Selama berkelana keluar, belum pernah dia bertemu dengan lawan yang menggunakan serjata seaneh itu. Namun ia tak gentar karena memiliki pedang pusaka yang dapat menabas segala logam.

Empat kait baja berputar-putar deras seperti burung camar menyambar. Anginnya sampai terdengar menderu- deru.

Wan-ong Kui segera mengeluarkan jurus ilmupedang yang paling diandalkan untuk pembelaan diri yakni jurus Peh-hoa-ki-gui atau Seratus-bunga-bermekaran. Seketika berhamburanlah sinar putih bagaikan bunga-api bertaburan di udara.

Tring, tring, ....

Terdengar beberapa kali dering senjata beradu. Dan sambaran burung camar itu makin lama makin mengecil dan sampai akhirnya lalu lenyap. Demikian pula dengan rantai. Makin lama makin pendek.

"Bangsat, terimalah!" terdengar Beng Gi berteriak keras.

Ternyata senjata rantai berkait dari Macan-lutul Beng Gi telah terpapas menjadi beberapa kutungan oleh pedang Wan-ong Kui. Bermula kaitnya, lalu rantai. Karena marah Beng Gi serentak menabur lawan dengan senjata rahasia paku beracun ( thiat-ting ) . Tetapi paku2 beracun itu tak kuasa menembus gulungan sinar perak yang seolah membungkus tubuh Wan-ong Kui.

Setelah dapat menyapu serangan paku beracun, Wan- ong Kui terus mau menyerang Beng Gi tetapi pada saat itu Macan-gembong Beng Ho Iompat menghadangnya. "Kalau engkau mampu mengalahkan hun cvve ini, aku dan saudaraku akan pergi dari sini,” seru Macan-gembong Beng Ho.

'"Hm, tak perlu jual omong, kalau engkau kalah, engkau memang harus minggat dari sini. Tetapi entah, apakah nyawamu yang pergi atau mayatmu," dengus Wan-ong Kui.

"Sombong!"' bentak Macan-gembong Beng Ho seraya memutar pipa hun-ewe. Tetapi tepat pada saat itu terdengar suara orang memekik kaget, "Hai, mana taci cantik itu        !

"

Beng Ho terkejut karena terpengaruh mendengar  teriakan itu. Ia berhenti dan berpaling ke arah kereta.

Ternyata setelah peredaran darahnya lancar lagi, In Hong berbangkit dan berkata kepada eng-kongnya, '"Engkong, aku hendak melihat tici dalam kereta itu."

"Awas, ingat nasib sasterawan pucat tadi, biji matanya yang kiri telah ditusuk dan dicabut nona itu," Tong Kui Tek memberi peringatan.

"Ah, masakan taci itu marah kepadaku. Tetapi baiklah, engkong, aku akan berhati-hati," kata In Hong seraya menghampiri kereta.

Memang dia bersikap hati-hati menjaga setiap kemungkinan yang tak diinginkan. Sejenak berhenti di depan pintu, diapun segera menyingkap kain tenda dan serentak menjeritlah dia, dengan kejut besar ketika melihat nona calon pengantin itu tak berada dalam gerbong kereta.

"Hong, apa yang terjadi ?" seru Tong kui Tek seraya menghampiri.

"Nona itu. hilang, engkong !" seru In Hong pula. "Hilang ?" Tong Kui Tek juga ikut terkejut. "Ya, lihatlah," In Hong menyingkap lebar2 tenda kereta.

"Aneh," seru Tong Kui Tek ketika melontar pandang kedalam kereta, "kemana dia ?"

In Hong teringat pada kusir yang menjaga di kereta itu. la mencarinya tetapi juga tak bertemu, "Ah, kusirnya juga menghilang, eng-kong !"

"Oh Tong Kui Tek makin terkejut, "Apakah dia pergi bersama nona itu."

"Mungkin," sahut In Hong, "mereka tentu pergi pada saat aku sedang bersemedhi melakukan pernapasan tadi dan kelima macan itu sedang terlibat dalam pertempuran seru."

"Jika begitu tentu belum lama. Kalau kita kejar tentu dapat tersusul," kata Tong Kui Tek.

"Benar, engkong, mari kita kejar mereka !" si dara In Hong terus mengajak engkongnya lari mengejar nona itu.

Ternyata percakapan engkong dengan cucunya itu terdengar oleh orang2 yang sedang bertempur itu. Merekapun berhenti.

Wan-ong Kui lari menghampiri kereta dar membuka pintu, "Ah, Bi Ing sudah lari. Tentulah paman Thia melaksanakan pesanku. Karena mencemaskan diriku terancam bahaya, dia terus mengajak Bi Ing lari."

Kemudian dia berpikir. Lebih baik segera mencari Bi Ing dan kusir itu supaya dapat melanjutkan perjalanan. Soal kereta dan isinya, biarlah ditinggal saja. Nanti dapat menyewa kereta atau membeli kuda lagi.

"Hai, kawanan perampok," serunya kepada kelima Lu- san-ngo-hou, "kalau mau merampok keretaku, silakan. Tetapi jangan mengganggu aku lagi !" Dia terus ayunkan langkah. "Tunggu kongcu," tiba2 pemuda yang mem-bantuya tadi menghampiri, "mau kemanakah kong cu ini ?"

Wan-ong Kui hentikan langkah. Ia memandang pemuda itu. Wajahnya memang cakap tetapi matanya kurang baik, memancarkan sifat yang nakal. Tetapi mengingat dia telah membantunya,! Wan-ong Kuipun memberi keterangan kalau dia hendak menyusul sumoaynya.

"Ai, kebetulan sekali, aku juga hendak menuju ke utara," kata pemuda itu dengan tertawa, "apa kongcu tak keberatan kalau kita sama2* seperjalanan ?"

"Mari," Wan-ong Kui sungkan menolak. Keduanya dengan cepat sudah lenyap dibalik gerumbul.

Macan-putih Beng Lok hendak menyusul tetapi dicegah Beng Ho, "Tak perlu. Yang penting kita mendapatkan harta itu."

Macan pertama dari Lusan itu segera menghampiri kereta lalu masuk kedalam gerbong. Dia membuka tutup peti. Seketika terbelalaklah matanya lebar2.

"Mengapa toako," seru Macan-loreng Beng Wan. "Kita ditipu oleh bajingan tengik itu!" teriak Beng Ho. "Ditipu ? Bagaimar a kita dapat ditipu ?"

"Lihatlah peti ini. Isinya hanya batu !"

Keempat saudaranya terkejut. Mereka masuk kedalam kereta dan membongkar tiga peti harta itu. Tetapi mereka menggeram keras ketika peti-peti itu berisi batu semua.

"Ah, sial dangkal," Beng Lok menggerutu, "uang tidak, si cantikpun tidak. Hari ini benar-benar kita mati kutu." "Kita kejar mereka !" seru Macan-hitam baik kita jaga di sarang sendiri. Kalau memang sudah suatnya mendapat rejeki, kan ada lain korban lagi yang lewat disini."

Mereka lalu pulang dengan hati kecewa.

Sementara di perjalanan, pemuda itu selalu mengajak Wan-ong Kui bicara sehingga Wan-ong Kui mendesuh dalam hati, "Hm, ceriwis sekali orang ini. "

Setelah mendengar nama Wan-ong Kui, pemuda itupun memperkenal diri dengan nama Su Hong Liang.

"Mengapa Kongcu memakai nama seaneh itu ?" tanyanya katena heran mendengar nama. Wan-ong Kui.

"Itu nama pemberian orangtuaku,'" sahut Wan-ong Kui.

Kemudian atas pertanyaan Su Hong Liang, karena merasa telah dibantu terpaksa Wan-ong Kui menceritakan tentang tujuan perjalannya yalah nengantar nona itu mencari putera Kim Thian Cong di gunung Lou-bu-san.

"O, kebetulan sekali, aku juga akan ke Siam say," kata Su Hong Liang gembira.

Diam2 Wan-oug Kui mengeluh. Sebenarnya dia tak senang menempuh perjalanan dengan Su Hong Liang itu. Diam2 ia memperhatikan bahwa dibalik wajahnya yang cakap, rupanya Su Hong Liang itu seorang hoa-hoa koncu atau pemuda yang gemar wanita cantik.

"Aneh," tiba2 Wan-ong Kui bergumam. "Mengapa ?" tanya Su Hong Liang.

"Kusir itu seharusnya juga menunggu kedatanganku tetapi mengapa sampai sekian jauh kita berjalan, dia belum tampak sama sekali ?" "O, apakah kusir itu membawa sumoaymu?" tanya Su Hong Liang.

"Ya, memang telah kupesan demi untuk menyelamatkan sumoay."

"O, lalu kemana dia sekarang ?"

"Itulah justeru yang kuherankan. Semestinya dia bersembunyi tak jauh dari tempat pertempuran dan seharusnya dia menunggu ditempat tersembunyi yang tak jauh dari jalan besar."

Saat itu sudah menjelang petang dan untunglah mereka tiba disebuah kota yang cukup ramai yalah kota Teng-ciu.

"Kita terpaksa bermalam di kota ini," kata Su Hong Liang.

Mereka mencari sebuah rumah penginapan yang bersih. Cui-iok-can demikian nama rumah penginapan yang mereka masuki. Sebuah rumah penginapan yang terletak agak tenang di pinggir kota. Arak dan masakan hidangan rumah makan itu terkenal kezat. tempatnya indah, tak heran kalau banyak tamu yang suka menginap di rumah, penginapan itu.

"Bung, ada kamar,?" tanya Su Hong Liang ketika seorang pelayan menyambut kedatangannya.

"Ada tuan," sahut pelayan dengan gopoh dan hormat, "tuan perlu berapa kamar ? Yang besar atau yang kecil ?

"Satu yang besar."

"Dua yang kecil," tiba2 War-ong Kui menyelutuk. "Dua ?" Su Hong Liang terkejut.

"Ah, perlu apa harus dua. Kita kan dapat minta satu kamar yang berisi dua ranjang." "Tidak, sebaiknya kita seorang pakai satu kamar." kata Wan-ong Kui agak tersipu-sipu.

Su Hong Liang agak heran tetapi karena melihat Wan- ong Kui berkeras menghendaki dua kamar, apa boleh buat, diapun menurut saja.

Setelah mandi dan ganti pakaian, mereka ke ruang makan pesan hidangan. Rumah penginapan itu juga sebuah rumahmakan. Banyak juga para pengunjungnya.

"Tidak, aku tidak biasa minum arak," kata Wan-ong Kui waktu Su Hong Liang hendak menuangkan arak pada cawan dihadapannya.

"Ah, arak ini harum sekali. Minum sedikit tak jadi apa Kui-heng," Kata Su Hong Liang.

"Terima kasih, tetapi aku memang benar2 tak pernah minum," kata Wan-ong Kui.

Su Hong Liang tak berani memaksa. Hanya dalam hati dia makin heran atas diri Wan-ong Kui. Diajak tidur sekamar, tak mau. Diberi arak, menolak. Ah, mengapa seorang anak laki begitu pemalu seperti gadis saja ?

"Gadis,?" tanyanya dalam hati, "ya, memang kulihat orang ini mempunyai beberapa sifat seperti Anak perempuan. Wajahnya begitu cakap bahkan terlalu cakap bagi seorang anak laki. Hm, apakah dia seorang banci ?"

Hidanganpun datang dan keduanya segera disantap. "Kui-heng," kata Su Hong Liang yang menyebut Wan-

ong Kui dengan panggilan Kui-hang atau saudara Kui, "apakah engkau sering berkelana ke luar ?"

"Tidak." "Ya, benar," kata Su Hong Liang," kalau melihat sikap Kui-heng yang serba kikuk ini, rasanya memang baru kali ini engkau keluar mengembara, bukan ?"

"Hm."

"Kui-heng berasal dari kota mana ?"

"Tak perlu kukatakan karena sekarang sudah dirampas oleh tentara Ceng."

"Sekarang di sebelah utara, sisa2 lasykar Tani dari Li Cu Seng mulai bergerak. Kabarnya pimpinan yang baru seorang muda yang berkepandaian tinggi. Apakah Kui - heng berminat hendak menggabung diri dengan mereka ?"

"Aku belum sempat memikirkan soal lain kecuali mengantarkan sumoayku ke Lou-hu-san," jawab Wan-ong Kui, "apakah Su-heng juga hendak bergabung dengan mereka ?"

Su Hong Liang agak gelagapan mendengar pertanyaan balasan itu. "Sekarang ini dimana-mana timbul gerombolan yang menamakan diri sebagai lasykar pejuang. Pada hal mereka hanya bertujuan untuk merampok harta benda rakyat. Maka selama ini aku masih berhati-hati untuk menyelidiki suasana."

Tengah mereka bicara masuklah seorang wanita gemuk setengah tua bersama seorang nona yang cantik. Nona itu terlalu menyolok dandanannya, Bibirnya dipoles gin-cu merah sekali, memakai baju tipis. Sepintas kesan, keduanya itu ibu dan puterinya.

Tetamu2 yang berada dalam ruang, terbelalak. Bukan hanya kesima menyaksikan nona cantik yang berdandan berani itu, pun heran karena kehadiran mereka. Jarang atau hampir tak ada kaum wanita yang masuk ke rumah makan. Semua tamu adalah kaum lelaki. Tiba-tiba nona cantik yang genit itu berdi dari kursi lalu menghampiri Su Hong Liang, “Su kongcu, engkau berada disini ?"

Su Hong Liang terkejut. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, nona itu sudah tiba di hadapannya, melirik pan Wan-ong Kui lalu berkata. "Su kongcu, sejak tentara Ceng menduduki kota-raja, akupun segera hijrah ke pedalaman barat dan akhirnya menetap di kota ini. Su kongcu, mari singgah ke rumahku . ,.. ."

"Siapa engkau, aku tak kenal padamu !" tiba2 Su Hong Liang membentak.

"Ai", Su kongcu ini bagaimana, masakan kong cu lupa padaku, si Mawar dari. "

Su Hong Liang serentak berbangkit, memberi kicapan mata lalu pura2 membentak marah, "Ngaco ! Kukatakan aku tak kenal dengan engkau, pergilah !"

Rupanya nona genit yang menamakan diri dengan nama Mawar itu dapat menangkap isyarat mata Su Hong Liang. Dia tahu kalau Su Hong Liang malu kepada sahabatnya, pemuda cakap Wan-ong Kui, yang duduk disampingnya.

"Ah, kongcu sungguh pelupa sekali. Aku tinggal di villa Cian-bong (Seribu mimpi) di ujung barat kota ini. Apabila kongcu teringat kalau sudah pernah kenal aku, harap kongcu berkunjung kesana. Aku selalu gembira menyambut kedatangan kongcu ....," nona genit itu dengan langkah gemulai kembali lagi ke tempat duduknya. Tampak ia berbisik-bisik dengan wanita gemuk. Keduanya tertawa mengikik.

"Siapakah nona itu, Su-heng ?" tanya Wa ong Kui. "Entahlah, dia ngawur saja. Pada hal aku tak kenal,"

kata Su Hong Liang tersipu-sipu merah mukanya. Tiba2 muncul pula sekawanan prajurit terdiri dari lima orang. Mereka masuk sambil tertawa-tawa keras. Begitu duduk terus berteriak memanggil pelayan, "Mana pelayannya, cepat!"

Seorang pelayan bergegas menghampiri.

"Lekas bawakan dua kati arak wangi dan daging bakar !" seru prajurit yang bertubuh tinggi kesar.

"Baik, loya," pelayan gopoh menyediakan, pesanan. Prajurit2 itu minum sambil bicara dan tertawa keras,

seolah menganggap seperti berada di rumah sendiri.

"Tuh, ada makanan sedap," tiba2 salah orang berkata sembari menuding kearah meja tempat Mawar dan perempuan gemuk duduk.

'Ya, besok kita akan dikirim ke medan pertempuran.

Malam ini kita harus puaskan diri."

"Benar, kita yang disuruh menyabung nyawa tetapi pimpinan enak2 duduk di markas. Tiap hari minum arak dan main perempuan. Sedangkan kita prajurit kerucuk, disuruh mati-matian mengadu jiwa."

"Benar, bung," seru orang yang ketiga, “besok berangkat ke medan perang, malam ini kita harus bersenang-senang sampai puas !"

"Tepat, itu dia !" prajurit pertama yang tinggi besar serentak berbangkit terus menghampiri si cantik Mawar, “ai, nona cantik, mari minum di mejaku saja !" — ia terus menarik tangan Mawar untuk digelandang ketempat teman- temannya.

"Bagus Toa Lim, ini baru hidangan !" seru kawan- kawannya.

"Sayangnya cuma satu !" "Ah, masakan Toa Lim habis. Kita kan dapat bagian nanti!"

"Ah, tetapi mana nona sekecil itu mampu ini melayani kita berlima !"

Prajurit tinggi besar duduk dan si Mawar dipangkunya, dirangkulnya dengan mesra lalu diciumnya. Mawar diam saja.

"Toa Lim, wah engkau menyiksa aku'." seru seorang prajurit yang mukanya merah. Rupanya ia sudah mabuk.

"Mana tahaannn !" teriak prajurit yang bertubuh kekar seraya menyambar tangan Mawar dan hendak ditariknya.

"Ho kunyuk, aku belum puas, mengapa engkau berani mengganggu," prajurit tinggi besar membentak dengan  mata mendelik.

"Ah, tetapi aku .... aku tak kuat ," prajurit bertubuh

kekar itu tersengal-sengal napas.

"Lu ambil saja yang jemuk itu !" seru prajurit yang memangku Mawar.

"Wah, sudah tua," gerutu prajurit tegap itu, "tetapi apa boleh buat ...." — ia terus lari menghampiri wanita gemuk itu. Sebenarnya wanita gemuk itu sudah berumur 50-an tahun, tetapi karena badannya gemuk segar dan dandanannya masih menyala, orang mengira kalau dia baru berumur 40-an tahun.

Begitu tiba, prajurit tegap itu terus, menyeretnya. Tetapi karena kasar dan keras wanita gemuk itu kesakitan, "Aduh

.... aduh . . , .

"Lekas !" bentak prajurit tegap seraya menariknya keras2. Brakkkkk .... karena ditarik begitu keras, perempuan itu sempoyongan, menabrak meja sehingga meja terbalik dan perempuan gemuk itu jatuh.

"Lau-ma," teriak Mawar seraya meronta dari pelukan prajurit tinggi besar, terus lari menghampiri perempuan gemuk yang tak lain adalah induk semangnya.

"Bagus, engkau saja," prajurit tegap lepaskan si gemuk yang dipanggil Lau-ma itu, terus hendak memeluk Mawar. Plak Mawar menampar muka prajurit itu.

"O, enak sekali tamparanmu, cantik," seru prajurit tegap seraya maju hendak memeluk Mawar. Mawar menjerit dan lari ke samping, tepat ke tempat Su Hong Liang dan Wan- ong Kui duduk.

"Kongcu, tolonglah aku," Mawar merintih gemetar,

Saat itu prajurit tegap sudah maju mengejar. Su Hong Liang terkejut ketika melihat Wan-ong Kui berdiri. Buru2 dia melonjak dari kursinya, "Kui-heng, biar aku saja yang menghajarnya !"

"Ho anakmuda, engkau mau melindungi si cantik itu, ya

?"

"Disini rumahmakan, jangan mengganggu tetamu2 yang

sedang makan," sahut Su Hong Liang.

"Apa pedulimu ?" prajurit itu tetap melangkah maju seolah tak menghiraukan Su Hong Liang.

Dukkkkkk.....

Tinju Su Hong Liang melayang ke dada prajurit itu dan prajurit itupun sempoyongan ke belakang, menabrak meja dan jatuh sungsal sum-bal.

Dua prajurit yang lain cepat maju. Yang satu menolong prajurit tegap, yang satu menghampiri Su Hong Liang, "Eh, kunyuk, engkau berani melawan prajurit kerajaan !" "Siapapun yang mengacau keamanan, akan kubasmi!"

"Bangsat !" prajurit itu terus ayunkan tangannya. Tetapi secepat itu Su Hong Liang menyambar tangannya terus ditelikung ke belakang punggung," Auhhhhh....., "prajurit itu menguak kesakitan sekali. Tulang lengannya serasa putus.

Melihat itu prajurit tinggi besar tadi berbangkit dan menghampiri, "Majulah !" teriak Su Hong Liang seraya mendorongkan prajurit yang dikuasainya ke muka. Prajurit itu terhuyung-huyung seperti layang2 putus dan hendak membentur prajurit tinggi besar. Prajurit tinggi besar terkejut. Buru2 dia hendak menyambut supaya tubuh kawannya itu jangan sampai rubuh, uhhhh bukannya

berhasil menghentikan laju tubuh kawannya, kebalikannya dia malah ikut terdorong bersama kawan itu, brakkkkk.....keduanya membentur meja dan jatuh tumpang tindih.

Ternyata tubuh prajurit yang didorong Su Hong Liang tadi, walaupun tampaknya sudah kehilangan tenaga, tetapi waktu disambut oleh prajurit tinggi besar itu tak kuat. Tubuh kawannya itu serasa didorong oleh arus tenaga yang terlampau kuat sekali.

Rupanya kawanan prajurit itu tahu kalau pemuda cakap itu memiliki ilmu kepandaian tinggi Mereka segera melarikan diri.

Mawar menghaturkan terima kasih kepada Su Hong Liang tetapi pemuda itu menjawab dengan dingin, "Lekas bawa pulang Liu-ma dan jangan berada disini !"

Ciang kui atau pemilik rumahmakan itu juga menghampiri, " Wih, kawanan prajurit memang suka bikin onar. Mereka makan minum sepuas-puasnya tetapi tak mau membayar. Kadang malah membawa pulang beberapa hidangan."

Wan-ong Kui kasihan melihat ciang-kui itu, katanya, "Jangan kuatir, berapa kerusakan tempat ini, aku yang mengganti."

"O, terima kasih, kongcu, terima kasih," ciang - kui, gopoh memberi hormat.

"Ciang-kui, pasukan manakah yang menduduki kota ini

?" tanya Su Hong Liang.

"Pasukan yang menguasai kota ini dibawah Lou Liang Co ciangkun." kata ciang-kui.

"Hm," desuh Su Hong Liang lalu mengajak Wan-ong Kui melanjutkan hidangannya lagi.

Tempat yang porak poranda, telah diatur baik lagi dan para tetamupun melanjutkan hidangannya masing2.

Tak berapa lama terdengar derap kuda lari yang riuh. Dan cepat sekali rombongan kuda itu berhenti di depan rumahmakan. Penunggangnya berbamburan turun dan terus menyerbu kedalam rumahmakan. Mereka adalah prajurit2 yang bersenjata lengkap. Pemimpinnya seorang perwira berkumis lebat.

''Mana mata-mata yang berani menganiaya prajurit kerajaan itu ?" serunya seraya mengeliarkan pandang kearah tetamu.

Su Hong Liang dan Wan-ong Kui serempak berbangkit, "Aku!" seru Hong Liang.

"Ho, mengapa engkau berani melukai anak buahku ?" seru perwira berkumis lebat itu. "Anakbuahmu bertingkah berandalan, mengganggu dan memaksa wanita di tempat ini. Terpaksa aku turun tangan menghajar mereka !"

"Tangkap !" perintah perwira itu kepada anakbuahnya. "Tunggu," seru Su Hong Liang,

"Mau apa engkau ?"

"Siapa jenderal yang memimpin pasukanmu? "Jenderal Lau Liang Cu."

"Baik, antarlah aku kehadapan Lau ciang-kun," kata Su Hong Liang.

"Su-heng, mengapa engkau menyerah?" Wan-ong Kui berseru heran, "kita amuk saja kawanan kurcaci itu."

"Sabar, Kui - heng, "kata Su Hong Lian, "nanti dihadapan jenderal Lau Liang Cu, akan ki beber tingkah laku prajurit2nya. Jangan kuatir, kudengar jenderal Lau itu seorang yang keras tapi bijaksana. Dia tentu marah kepada anakbuahnya.

Melihat sikap Su Hong Liang begitu yakin, terpaksa Wan-ong Kui menurut. Demikian kedua pemuda itu terus dibawa oleh kawanan prajurit berkuda. Ternyata mereka adalah pasukan berkuda bagian regu jago panah dari pasukan jenderal Lau Liang Co.

Tiba di markas, ternyata jenderal Lau sedang keluar melakukan inspeksi. Kedua pemuda itu di-jebloskan dalam tahanan.

"Jangan kuatir Kui-heng, apabila Liu ciang co pulang, kita tentu akan dibebaskan," Su Hong Liang menghibur.

"Apa engkau kenal dengan jenderal itu?"

"Tidak, tetapi dia seorang jenderal yang teliti dan jujur." "Sebenarnya kalau kita mau, kita tentu dapat mengalahkan pasukan berkuda itu," masih Wan-ong Kui menyatakan rasa tak puasnya.

"Ah, Kui-heng," kata Su Hong Liang, "hitung2 sebagai pengalaman masuk sel tahanan ini. Benar, kita memang dapat mengalahkan mereka. tetapi kurasa tak perlu. Kita hendak menegakkan hukum dan keamanan, mengapa kita akan gunakan kekerasan melawan tentara? Bukankah nanti, kalau sampai terjadi pertempuran, tentu ada korban yang jatuh? Bukankah kita malah akan dipersalahkan jenderal Lau?"

Wan-ong Kui mengangguk. Diam2 dia dapat menerima pembelaan Su Hong Liang itu.

Tak berapa lama seorang prajurit datang hendak mengambil mereka untuk dihadapkan kepad jenderal Lau.

"Baik, tunggu dulu diluar," kata Su Liang lalu mendekati Wan-ong Kui, "Kui-heng biar aku sendiri saja yang menghadap. Kui-tunggu disini. Apabila sampai terjadi sesuatu dengan diriku, berusahalah untuk meloloskan diri.”

"Ah, sebaiknya kita berdua sama2 menghadap. Kalau akan dihukum, biarlah aku juga dihukum."

'"Jangan Kui-heng, percayalah kepadaku. Aku dapat mengatasi soal ini. Begitu dibebaskan aku tentu akan menjemput Kui-heng kemari."

Setelah melihat kegagahan pemuda itu dalam membela wanita yang hendak dipaksa prajurit2 kasar di rumahmakan tadi, Wan-ong memang makin bertambah percaya kepada Hong Liang. Dan mendengar alasan Su Hong Liang itu, iapun percaya saja.

"Lho, mengapa hanya engkau seorang?” tegur prajurit yang menjemput. "Dia sedang sakit, biar aku sendiri saja menghadapi," kata Wan-ong Kui dengan pelahan.

Prajurit itu hendak bicara tetapi Su Liang terus melesat keluar sehingga mereka terpaksa mengikuti.

Tiba di hadapan jenderal Lau Liang Co, jenderal itu terkejut dan buru2 berdiri dauri kursi lalu menyongsong, "Oh, Su kongcu, maaf, aku tak tahu."

"Ah, tak apa ciangkun. Memang aku yang bersalah," kata Su Hong Liang.

Prajurit tinggi besar dan keempat kawannya yang berada di rumah makan tadi, juga hadir di-situ. Mereka telah mengadu kepada jenderal Lau Liang Co tentang pemuda Su Hong Liang yang berani menghajar mereka, "Kemungkinan pemuda itu tentulah mata2 yang sengaja hendak mengacau ke daerah kita," kata prajurit tinggi besar itu.

Tetapi alangkah kejut mereka ketika melihat jenderal Lau malah tersipu-sipu menyambut Su Hong Liang. Dan lebih terkejut pula ketika setelah mendengar pembicaraan Su Hang Liang mengenai peristiwa dalam rumahmakan itu, jenderal Lau terus menuding mereka, "Bangsat kalian ini. Kalian berani main perempuan di rumahmakan tetapi malah menuduh Su kongcu ini yang mengacau. Hm, kalian tahu siapa Su kongcu ini? Su kongcu adalah putera keponakan dari mentri peng-poh-sing-si Su Go Hwat tayjin!"

Mendengar itu gemetarlah kelima prajurit itu. "Kho kunsu!"

"Siap!" seru seorang prajurit berpangkat kunsu atau sersan. "Bawa kelima prajurit itu ke lapangan dan penggal kepalanya!" perintah jenderal Lau.

"Baik, ciangkun."

Tetapi seketika itu Su Hong Liang berseru mencegah, "Tunggu dulu," kemudian dia berkata kepada jenderal Lau, "Lau ciangkun, kurasa hukuman penggal kepala terlampau berat. Cukup asal mereka menyadari kesalahannya dan berjanji takkan melakukan hal semacam itu lagi."

"Tetapi disiplin prajurit harus ditegakkan, kongcu. Dan lagi sekarang ini yang berlaku adalah hukum perang," kata Lau Liang Co.

"Benar," sahut Su Hong Liang, "tetapi mereka hanya mabuk dan main perempuan, tidak sampai membunuh orang. Biarlah kumintakan keringanan untuk mereka."

"Hai, kamu berlima, mengapa tak lekas menghaturkan terima kasih kepada Su kongcu yang telah menolong engkau dari hukuman mati!" teriak jenderal Lau.

Kelima prajurit itu gopoh berlutut di hadapan Su Hong Liang, minta maaf dan menghaturkan terima kasih.

"Asal kalian benar2 bertobat dan menyadari, bahwa tindakan kalian itu akan merugikan nama baik pasukan kerajaan Beng dan menimbulkan kebencian rakyat, aku sudah gembira."

Demikian setelah kawanan prajurit itu disuruh keluar; barulah Su Hong Liang berhadapan dengan jenderal Lau Liang Co. Atas pertanyaan jenderal Lau, Su Hong Liang mengatakan bahwa ia sedang menjalankan perintah dari pamannya Su Go Hwat untuk meyampaikan surat kepada para panglima di daerah2.

"O, surat apa sajakah itu ?" "Kalau tak salah," kata Su Hong Liang, "siokhu (paman) akan mengadakan pemindahan besar-besaran dalam menyusun pertahanan menghadapi serangan pasukan musuh."

"O, memang penempatan panglima yang tepat didaerah yang penting, mutlak sekali dilakukan. Terutama daerah di garis depan, merupakan Kunci pertahanan yang utama. Garis depan itu harus diperkuat sedemikian rupa dan harus dipimpin oleh panglima yang cakap."

"Ya," sambut Su Hong Liang, "tetapi menurut, pendapat ciangkun, bagaimana kira2 keadaan pasukan kita dalam peperangan besar yang panjang ini ?"

Lau Liang Co terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia membatin, apakan putera keponakan dari mentri pertahanan ini, sengaja hendak memancing-mancing sesuatu padanya. Hm, aku harus hati-hati, pikirnya.

"Peperangan ini masih sukar diramalkan bagaimana kesudahannya," katanya, "memang musuh sudah berhasil menduduki kotaraja Pakkia dan telah memberi suatu kegoncangan hebat pada pemerintahan kerajaan sehingga baginda sampai bunuh diri, mentri dan panglima morat- marit tak keruan. Tetapi kita masih mempunyai daerah yang luas. Asal yang mulia mentri pertahanan dapat menyusun kekuatan yang rapih, rasanya tidak mudah pasukan Ceng hendak mengalahkan kita."

"Ya," sahut Su Hong Liang, "tetapi bagaimana menurut pendapat ciangkun cara pertahanan yang baik itu ?"

"Seperti yang kukatakan tadi," kata jenderal Lau, "menempatkan panglima yang tepat di daerah yang penting. Memperkuat pertahanan di garis depan." "Tetapi menurut pendapat siok-hu, tidak demikian, ciangkun."

"O, lalu bagaimana ?"

"Pertahanan yang paling baik itu adalah me nyerang." "O, ya, ya, benar. Tetapi. "

"Kutahu pikiran ciangkun," cepat Su Hong Liang, "memang dalam ilmu perang, yang menye rang itu tentu lebih menguntungkan dari pada yang diserang. Hanya saja, menyerang itu juga tidak mudah. Menyerang harus mempunyai perhitungan yang cermat. "Dalam ilmu perang dikatakan 'Tahu keadaan diri dan kenal kekuatan lawan, merupakan kunci kemenangan'. Apakah ciangkun sependapat dengan kata2 kuno itu ?"

"Setuju sekali, kongcu," kata Lau Liang Cu, "ah, ternyata kongcu memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu perang."

"Hanya sekedar comot sana comot sini saja, ciangkun," kata Su Hong Liang, "yang penting se gala ilmu perang itu harus disesuaikan dengan me dan."

"Benar," sahut Lau Liang Co," lalu kalau menurut pandangan kongcu, bagaimana harapan kita dalam menghadapi musuh itu ?"

Su Hong Liang menghela napas, "Ah, aku tak mempunyai wewenang untuk mengatakan sesuatu yang resmi, ciangkun. Hanya kalau aku bicara, adalah sebagai seorang rakyat yang mempunyai kewajiban ikut serta memikirkan keadaan negara saja."

"Ah, harap kongcu jangan merendah. Belum tentu kita orang2 tua yang sudah berkecimpung dalam peperangan itu, selalu benar pandangannya. Bahkan kongcu, sebagai seorang pemuda dan berdiri diluar garis peperangan, akan lebih dapat memberi penilaian yang tepat.”

Kembali Su Hong Liang menghela napas.

"Berbicara soal urusan negara, aku terpaksa harus berpaling pada sebuah kata2 yang pernah diucapkan oleh seorang cendekiawan Cukat Beng Hou dahulu. Beliau mengatakan 'Bo su cay jin. sen su cay thian'. Artinya, manusia berdaya, Allah yang menentukan."

Jenderal Lau Liang Co kerutkan dahi. Dia diam jenderal itu heran mengapa pemuda itu mengucapkan kata2 demikian. Ada hubungan apakah ucapan itu dengan keadaan negara saat itu ?

"Tiada sesuatu di dunia ini yang langgeng. Matahari terbit dan tenggelam, siang berganti malam, patah dan tumbuh, hilang dan berganti. Demikian kodrat Tuhan. Demikian pula dengan kerajaan. Kerajaan Song ditumbangkan Goan, Goan dihancurkan Beng dan kini Beng diserang Ceng, tentu akan timbul kekuatan baru lagi yang akan melenyapkan dan mengganti. Demikian selanjutnya akan terjadi selama bumi ini masih berputar. "

"Tiada kekuasaan yang mampu membendung matahari yang akan terbit di waktu pagi. Pun takkan ada kekuasaan yang betapapun hebatnya akan dapat mencegah matahari itu akan tenggelam pada waktu senja hari. Timbul dan tenggelam, sudah merupakan ketentuan takdir. Demikian pula dengan kerajaan. Siapakah yang mampu menyelamatkan apabila sebuah kerajaan itu sudah saatnya akan hacur?"

Lau Liang Co makin terkejut. Mengapa pemuda itu mengatakan demikian? Bukankah hal ini menyatakan bahwa kerajaan Beng memang sudah ditakdirkan harus hancur dan diganti dengan kerajaan Ceng? Tetapi bukankah Su Hong Liang itu putra keponakan dari Su Go Hwat yang menjabat sebagai mentri pertahanan kerajaan Beng?

Bagaimanapun tak dapat juga jenderal itu menahan isi hatinya dan bertanyalah dia, "Mengapa kongcu menampiikan falsafat kodrat hidup itu? Apakah kongcu hendak maksudkan bahwa kerajaan kita sekarang ini memang sudah ditakdirkan harus lenyap dan diganti dengan kerajaan Ceng?"

Su Hong Liang tertawa, "Liu ciangkun seorang yang tajam penilaian, luas pengetahuan. Berdosalah aku sebagai rakyat Beng apabila mengatakan demikian. Tetapi lebih berdosa lagi kalau aku mengingkari diri tanpa melihat kenyataan. Hatiku tak menginginkan kerajaan Beng akan lenyap. Tetapi mataku harus menyaksikan tanda2 kearah itu. Siapakah yang wajib kuturut?"

"Kongcu, aku seorang panglima perang. Dalam  bertindak maupun berkata, aku selalu menggunakan yang keras dan tegas. Tolonglah engkau berikan keterangan yang jelas."

"Mohon tanya ciangkun," kata Su Hong Liang dengan nada serius, "mengapa baginda Cong Ceng bunuh diri, meagapa kotaraja pindah ke Lamkia?"

Lau Liang Co terkesiap namun dia menjawab juga, "Karena diserang pasukan Ceng."

"Benar, tetapi bukankah kerajaan Beng juga punya pasukan yang kuat?"

"Karena penghianatan Go Sam Kui."

'"Benar," kata Su Hong Liang, "terapi yang penting penghianatan itu terjadi karena dalam tubuh pemerintah Beng terdapat penghianat dari mentri2 yang tidak setia. Yang penting pemerintah Beng sudah rapuh didalamnya sehingga mudah dikalahkan musuh. Tetapi juga dikarenakan musuh lebih kuat dari kita.”

Lau Liang Co terdiam.

"Atau kalau kita berpegang pada hukum kodrat tadi, memang sudah waktunya kerajaan Beng itu harus hilang . .

. . "

"Kongcu ..."

"Jangan salah faham, ciangkun," cepat Su Hong Liang menukas, "telah kukatakan tadi, bahwa hatiku, perasaanku, jiwaku tak menginginkan hal itu terjadi. Tetapi mataku dan pikiranku dapat melihat dan menilai keadaan itu. Ciangkun jika petang hari tiba apakah kita dapat mencegah matahari akan tenggelam?"'

"Ciangkun," Su Hong Liang tak memberi kesempatan jenderal itu berbicara, "Go Sam Kui dan semua peristiwa yang menimpa kerajaan Beng hanyalah suatu sarana untuk menetapi hukum kodrat itu."

"Tetapi peperangan belum selesai, kongcu. Kita masih mempunyai daerah dan pasukan yang besar untuk menghadapi musuh."

"Apakah ciangkun yakin bahwa perlawanan kita akan mampu menahan musuh?"

"Tiada yang dapat mengatakan bagaimana kesudahan peperangan ini. Yang penting kita berusaha untuk  melawan. Bukankah Su tayjin juga berjuang keras untuk menghimpun kekuatan lagi?"

"Benar ciangkun," sahut Su Hong Liang, "tetapi tahukah sebabnya mengapa siok hu (paman) ditugaskan biginda untuk bergerak di daerah2 menyusun kekuatan itu?"

"Tugas itu memang penting " "Ah, sepintas memang demikian tetapi kenyataannya lain," kata Su Hong Liang.

“O, lalu apa sebenarnya yang telah terjadi?"

"Siapa yang berkeras mendukung Hok Ong mengganti duduk di tahta?"

"Tay- haksu Ma Su Ing."

"Dan siapakah yang kini memegang kekuasaan di kotaraja?"

' 'Tay-haksu Ma Su Ing."

"Ah, kiranya ciangkun sudah tahu semua,” kata Su Hong Liang, “adalah karena saran Tay- haksu Ma Su Ing maka siok-hu telah diutus baginda bertugas keluar untuk menyusun kekuatan pasukan yang tersebar di sepanjang barat perairan sungai Hong-ho. Dengan demikian maka tay- haksu praktis memegang kekuasaan besar di kotaraja."

"Tetapi tidakkah Ma tayjin masih setia ke pada kerajaan Beng?"

Su Hong Liang tersenyum, "ciangkun, tay-haksu atau penasehat kerajaar, bukan suatu pangkat yang mudah didapat apabila orang tidak memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan tinggi. Demikian pula Ma tayjin, dia seorang cendekiawan yang luas pendalaman dan tinggi kepandaian. Dialah yang mengajukan kepadaku tentang hukum kodrat setiap kerajaan. Timbulnya sebuah kerajaan baru, kejayaannya lalu akhirnya kehancurannya."

"O, apakah Ma tayjin juga menganggap bahwa kerajaan Beng yang sekarang ini sudah menginjak masa-masa keakhirannya?" Lau Liang Co terkejut.

'"Ciangkun,".jawab Su Hong Liang, "Ma tayjin adalah seorang cendekiawan dan menjabat tay-haksu, sudah tentu beliau sangat berhati-hati dalam ucapan. Tetapi dengan mengajarkan kepadaku tentang hukum kodrat kerajaan itu, seharusnya kita sudah dapat menduga sendiri bagaimana isi hatinya."

Lau Liang Co mengangguk-angguk.

"Dan Ma tayjin pesan kepadaku supaya menyebarkan ajaran itu kepada setiap penguasa pasukan maupun pejabat di daerah2. Kelak pada waktunya, Ma tayjin akan dapat menolong mereka."

"Oh ! . . . , " Lau Liang Co tertegun.

"Ciangkun, kurasa pembicaraanku sudah terlalu panjang," kata Su Hong Liang, "asal ciang-kun sudah menghayati hal itu, kiranya sudah cukup. Kelak aku dapat menyampaikan pesan yang lebih lanjut dari Ma tayjin kepada ciangkun, demi keselamatan dan kesejahteraan hidup ciangkun."

"O, terima kasih, kongcu," kata Lau Liang Co. "Ciangkun," kata Su Hong Liang, "sebenarnya

kedatanganku kemari bersama seorang sahabat.

"Ah, mengapa kongcu tak ajak kemari saja?"

Su Hong Liang gelengkan kepala, "Sebenarnya aku baru saja kenal dengan dia di tengah per jalanan. Menurut penilaianku, dia seorang yang aneh dan mencurigakan. , "

kemudian dia menceritakan tentang apa yang dialaminya dengan Wan-ong Kui, terutama ketika menginap rumah penginapan.

"O, lalu bagaimana kehendak kongcu?" tanya jenderal Lau.

"Ah, hanya merepotkan ciangkun sajalah." “Tak apa kongcu, silakan mengatakan." Dengan bisik2 Su Hong Liang segera mengatakan apa yang hendak ia lakukan kepada Wan-ong Kui.

Jenderal Lau mengangguk-angguk, "Baik kongcu, ah, itu hanya urusan kecil. Nanti kusuruh Kho kunsu mengerjakannya, tentu beres."

Jenderal Lau lalu memanggil Kho kunsu (sersan ) dan memberi perintah, "Lekas bawa beberapa prajurit dan tangkap pemuda yang rnasih berada dalam tahanan itu."

"Baik, ciangkun."

"Kho kunsu," tiba2 Su Hong Liang menyelutuk "cukup ditangkap saja jangan sampai melukainya."

Kho kunsu mengiakan dan terus membawa dua orang prajurit menuju tempat Wan-ong Kui ditahan.

Saat itu sudah lewat tengah malam. Tetapi Wan-ong Kui belum tidur. Ia masih menunggu kedatangan Su Hong Liang yang tak kunjung datang itu. Tiba2 terdengar derap langkah beberapa orang.

"Ah, itu dia. Tentulah dia yang datang," pikir Wan-ong Kui yang mengira kalau Su Hong Liang datang.

Tetapi yang muncul adalah Kho kun-su si sersan tinggi besar dan dua orang prajurit.

"Kami diperintah ciangkun untuk membawamu menghadap," seru Kho kun-su.

Wan-ong Kui terkejut. Dia tak melihat Su Hong Liang dan sikap serta nada Kho kun-su itu tampak kasar,

"Mana Su kongcu?"

"Jangan banyak bicara!" bentak Kho kun-su seraya menyambar tangan Wan ong Kui. Mendapat perlakuan sekasar itu, timbullah reaksi Wan- ong Kui. Dia marah. Seketika ia gerakkan tangan kiri untuk menusuk rusuk sersan itu, hek serempak sersan kasar itu

tegak mematung.

Kedua -prajurit itu kaget. Mereka segera menubruk Wan- ong Kui. Wan-ong Kui loncat menghindar lalu menerjang. Yang seorang rubuh termakan tendangannya dan yang seorang terkulai ke lantai karena tersodok lambungnya.

Peristiwa itu membuatnya sadar bahwa tentu terjadi sesuatu pada diri Su Hong Liang. Rasanya Su Hong Liang tentu menderita bahaya.

'Lekas katakan," ia menarik leher baju prajurit yang rubuh, "dimana Su kongcu!"

"Su konfccu sedang berada di kantor ciangkun bersama- sama minum arak "

"Ngaco!'" dengan geram Wan-ong Kui menghempaskan prajurit itu ke lantai lalu dia melonjak bangun hendak keluar. Ia tak percaya sama sekali keterangan prajurit itu. Tak mungkin Su Hong Liang sedang enak2 menikmati arak dengan jenderal Lau.

Belum sampai dia melangkah ke pintu, tiba2 muncul seorang lelaki pendek berkulit hitam, rambut merah, berpakaian seperti seorang imam. Dari di belakangnya tampak seorang lelaki tegap berpakaian perwira. Ternyata waktu Wan-ong Kui sedang bertempur menghadapi kedua prajurit tadi, penjaga tahanan segera lari melapor.

Imam berambut merah itu bergelar Shin To hwatsu dari kuil Cian-hud-si atau Seribu-arca di gunung Cian-hud-san. Sedang peiwira itu sebenarnya bekas wi-su atau pengawal istana raja Cong Ceng. Ketika ibukota pecah maka keadaan menjadi kalut. Tan Hong demikian nama wi-su istana itu harus melindungi raja lolos dari istana. Tetapi di tengah jalan diserang oleh pasukan Ceng sehingga berantakan. Banyak korban yang jatuh, Tan Hong dengan berganti pakaian sebagai rakya biasa, dapat lolos dari kepungan musuh. Akhirnya dia bertemu dengan jenderal Lau Liang Co dan diangkat sebagai pengawal peribadinya.

"Ho, engkau berani melukai prajurit disini?” seru Shin To hwatsu.

"Mau apa kalian!" bentak Wan-ong Kui seraya menghunus pedang pusaka.

"Jangan banyak tingkah, lekas menyerah agar dapat kami bawa kehadapan Lau ciangkun," kata Shin To hwat- su.

"Dimana Su kongcu ?"

"Aku hanya mendapat perintah untuk menangkapmu, tidak disuruh menjawab pertanyaanmu."

"Mengapa aku ditangkap ?" "Itu perintah jenderal."

"Hm, jangan membohongi aku. Tentulah kongcu sudah kalian kaniaya dan sekarang kalian hendak menangkap aku."

"Soal itu tanyakan saja pada Lau ciang-kun nanti.

Sekarang baiklah engkau menyerah saja!" "Aku tidak berani melanggar janji!" “Janji apa dan kepada siapa ?"

"Janjiku kepada pedang ini. Waktu akan kupakai, dia pernah mengatakan bahwa dia mau ikut kepadaku asal aku pantang menyerah pada musuh. Dia tak mau menjadi senjata dari orang yang takut mati !" "Ho, tak kira kalau seorang pemuda selemah anakperempuan seperti engkau ternyata besar sekali kokoknya. Engkau tahu dengan siapa engkau berhadapan saat ini ?”

"Imam berambut merah, berkulit hitam !”

"Jahanam, engkau berani menghina aku,” Shin To hwat- su terus menerkam. Memang imam itu paling marah kalau orang berani mengatakan dia berambut merah.

Wan-ong Kui cepat menyongsong dengan sabatan pedang untuk memapas jari lawan. Tetapi dia terkejut ketika imam itu menarik tangan dan dengan cepat tangan kirinya menyambar pergelangan tangan. Wan-ong Kui menggelincirkan pedang kebawah untuk menebas, tetapi seperti yang pertama. Selekas imam itu menarik pulang tani kiri, tangan kanannyapun secepat kilat sudah menusuk batang pedang Wan-ong Kui, tring. . .!

Walaupun dengan ujung jari tetapi tutukkannya itu menimbulkan dering yang nyaring dan seketika Wan-ong Kui rasakan tangannya kesemutan, pedang hampir terlepas jatuh.

Imam itu tertawa mengekeh dan terus hendak menyambar pergelangan tangan Wan-ong Kui. Tetapi pada saat itu terdengarlah suara orang membentak, "Lepaskan !"

Shin To hwatsu terkejut ketika merasa sebuah gelombang angin pukulan yang keras melanda punggungnya. Cepat ia balikkan tangan kiri menampar ke belakang, sementara tangan kanan masih melanjut hendak mencengkeram pergelangan tangan Wan-ong Kui.

Darrrr.....

Terdengar letupan keras dan tubuh imam itu terhuyung kemuka sampai dua langkah. Melihat itu Wan-ong Kui terus mengirim sebuah tendangan, plok . . , . dan imam itupun makin menjorok kemuka sampai beberapa langkah.

'"Lekas keluar," seru seorang lelaki tua seraya melambaikau tangan dan dia sendiri terus melesat keluar. Wan-ong Kui tahu bahwa lelaki tua itulah yang telah menolongnya. Dia segera menyusul.

Diluar terdapat dua orang yang sedang bertempur. Si perwira tadi melawan seorang gadis.

"Engkong, jangan bantu, biarlah aku sendiri yang menyelesaikan orang ini!" seru sidara,

Wan-ong Kui segera menyadari. Lelaki tua dan dara itu tak lain adalah yang pernah menghadang keretanya di hutan kemarin. Aneh, kemarin mereka menghadang tetapi mengapa sekarang mereka menolong dirinya!"

"Hong, mari kita cepat keluar dari sini!" kakek itu atau Tong Kui Tik berseru seraya melambaikan tangannya kearah kedua orang yang sedang bertempur itu.

Tiba2 perwira itu mendesis kaget dan cepat loncat mundur lalu lari. In Hong hendak mengejar, "Jangan !" seru engkongnya seraya memberi isyarat kepada Wan-ong Kui supaya mengikutinya.

Cepat sekali mereka bertiga tiba di pagar tembok.

Tembok itu setinggi tiga tombak.

"Engkong, kita bakar saja gedung ini, " seru In Hong. "Jangan, "

"Mengapa ?"

"Biarpun jelek, tetapi Lau Liang Co saat ini masih berperang guna mempertahankan negara kita," kata Tong Kui Tik. "Wah. kalau kita mau lolos, bagaimana aku mampu melampaui tembok yang setinggi ini ?" In Hong mengomel.

"Makanya engkau harus rajin berlatih, agar gin-kangmu cepat maju," engkongnya tertawa.

"Bagaimana kita akan keluar, engkong ?"

"Mudah," kata Tong Kui Tik, "berdirilah tegak. Apabila kulontarkan ke udara engkau harus gunakan gerak It-ho- jong-thian dan melayanglah kepuncak tembok lalu engkau boleh loncat turun."

Benar juga setelah Ing Heng berdiri tegak, dia diangkat lalu dilemparkan oleh engkongnya. Dara itu berjumpalitan dan melayang hinggap ke puncak tembok.

Wan-ong Kui sebenarnya juga ngeri melihat tingginya pagar tembok itu. Tetapi dia sungkan kalau harus diperlakukan seperti In Hong.

"Aku akan loncat sendiri, lopeh," katanya lalu enjot tubuhnya melambung keatas Tetapi ia terkejut karena puncak tembok itu masih sepengga tangan tingginya. Ah, celaka dia tentu akan meluncur kebawah lagi. Tetapi sekonyong-konyong segulung angin yang berisi tenaga lunak telah menyorong tubuhnya hingga dia menjulang naik dan akhirnya dapat mencapai puncak tembok.

"Ah, tentulah kakek itu yang telah membantu aku." ia tersipu-sipu malu.

Ketika ia melongok kebawah, ternyata kakek itu sudah berdiri disamping In Hong dan berseru, "Mari kita melayang turun. "

Mereka bertiga menuju kesebuah hutan dan beristirahat di sebuah gua. "Terima kasih atas pertolongan lopeh," saat itu baru Wan-ong Kui mendapat kesempatan untuk menghaturkan terima kasih.

"Ah, kita orang persilatan memang harus tolong menolong. Untuk bantuan yang tak berarti ilu harap siau- heng (engkoh kecil) jangan menganggap apa2, " Tong Kui Tik tertawa.

"Bagaimana lopeh tahu kalau aku sedang ter ancam dalam ruang tahanan itu?" mulailah Wan-ong Kui meminta keterangan.

"Ketika terjadi ramai2 di rumahmakan, dan Hongpun kebetulan masuk dan melihat sendiri peristiwa itu. Hong mengatakan bahwa kemungkinan besar kalian berdua tentu akan mendapat kesulitan dari Lau Liang Co. Hong mengajakku supaya malam ini menyelidiki ke tempat jenderal itu. Ai, ternyata pandangan anak itu benar. Engkau sedang dikepung oleh kedua jago dari jenderal Lau!" kakek Tong Kui Tek memberi keterangan.

Sebelum Wan-ong Kui menghaturkan terima kasih, In Hong atau yang biasa disebut Hong oleh engkongnya itu, sudah mendahului menyelut "Siapakah kedua orang itu, engkong?"

"Kurasa tentu pengawal dari jenderal Lau.”

"Pengawal? Mengapa kepandaiannya hanya begitu saja? Apakah mereka mampu melindungi keselamatan jenderal itu?"

"Ah, engkau tak tahu Hong," kata Tong Kui Tek, "imam berambut merah itu hebat kali."

"Hebat? Bukankah sekali pukul saja engkau sudah dapat membuatnya terhuyung- dua langkah ke muka?" "Bukan begitu," kata Tong Kui Tek, "pertama, dia tak tahu siapa aku, maka dia anggap cukup dengan menamparkan tangan kiri ke belakang dia tentu sudah dapat menolak angin pukulan. Dan kedua kali, sebagian perhatian dan tenaga masih dicurahkan untuk menangkap siau-ko (Wan-ong Kui ). Bahwa dengan tamparan sebelah tangan yang dilambari dengan separoh bagian tenaga- dalamnya dia masih mampu menahan pukulan ku dan hanya terhuyung dua langkah ke muka, sudah menandakan betapa hebat kepandaian imam itu. Andaikata dia berhadapan dan menggunakan seluruh tenaga-dalamnya, kemungkinan aku kalah."

"Ai, engkong memang suka merendah diri. Siapakah tokoh dunia persilatan yang sanggup menerima pukulan sakti Kiu-yang-sin-kang dari engkong?"

"Hong, jangan lancang mulut!" bentak kakek itu dengan marah tetapi pada lain kejab kemarahannyapun sudah surut dan berkatalah dia, "Hong, engkau lupa akan pesan engkong?"

"Maaf, engkong," dara itu tersipu-sipu minta maaf, "lain kali Hong tentu takkan berani melanggar pesan engkong."

"Kutahu, engkau cucuku yang baik, Hong," orangtua itu tertawa gembira.

Tetapi semua pembicaraan itu telah terdengar oleh Wan- ong Kui. Disamping ia mengiri akan hubungan yang sedemikian mesra antara seorang engkong dengan cucunya, diapun diam2 terkejut mendengar kakek itu memiliki ilmu pukulan sakti Kiu-yang-sin-kang.

"Terima kasih, lopeh, atas pertolongan lo-peh," buru2 Wan-ong Kui menghaturkan terima kasih. "Ah, sudahlah siau-ko," kata Tong Kui Tek, "mau kemanakah engkau sekarang?'"

"Aku hendak menolong kawanku." "Yang bernama Su kongcu itu?"

"Ya, apakah lopeh tahu bagaimana keadaannya?"

Sebelum Tong Kui Tek menjawab, In Hong sudah menyelutuk, "Wan-ong-ko, perlu apa engkau memikirkan dia?"

Wan-ong Kui terkejut, "Dia adalah kawanku."

"Sudah berapa lama Wan-ong-ko kenal padanya?" tanya si dara.

"Baru saja, waktu berpapasan di tengah jalan." "Apakah engkau sudah tahu siapa sebenarnya dia itu?"

Wan-ong Kui gelengkan kepala, "Dia bernama Su Hong Liang. Aku tak tahu siapa dia itu sebenarnya."

"Engkong, silakan menceritakan apa yang engkong lihat di gedung jenderal itu,"' kata li Hong.

"Saat itu aku tak tahu engkau sianko. berada di mana. Kusuruh Hong menunggu di bawah dan aku loncat ke atas genteng rumah. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya kudengar suara orang bercakap-cakap," kata Tong Kui Tik, "'kubuka sebuah genteng dan ketika melongok kebawah, aku terkesiap "

"Mengapa?" tanya Wan-ong Kui terkejut, "apakah Su kongcu sedang disiksa jenderal itu?"

Kecemasan Wan-ong Kui buyar seketika waktu melihat Tong Kui Tik gelengkan kepala, “Aku sendiri hampir tak percaya pada mataku tetapi apa yang kulihat itu memang suatu kenyataan. Jenderal Lau Liang Co sedang duduk berhadapan dengan Su kongcu. Keduanya bercakap-cakap dengan asyik sembari menghadapi arak di meja…."

"Lopeh!" teriak Wan-ong Kui. Dia benar2  terkejut karena tak percaya, "apakah lopeh tak salah lihat?"

Tong Kui Tik menatap Wan-ong Kui tajam2 dan berkata, "Rasanya aku belum sangat tua dan kedua matakupun masih awas, siauko."

Wan-ong Kui tertegun. Ia teringat akan keterangan prajurit yang dirubuhkannya dalam sel tahanan itu. Prajurit itu juga memberi keterangan serupa dengan Tong Kui Tik. Ah, tetapi mungkinkah hal itu?

"Lopeh, apakah engkau mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanyanya mencari penegasan lebih lanjut.

"Mereka bicara dengan pelahan sekali. Hanya ada kalanya Su kongcu itu tampak ngotot lalu bicara agak keras. Dia seperti membicarakan tentang keadaan kerajaan Beng saat ini. Jenderal Lau tampak mengangguk-angguk. Akupun tak mau tinggal disitu lebih lama karena perlu mencari engkau, siauko," kata Tong Kui Tik.

Wan-ong Kui makin bingung. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Adakah ia lebih baik melanjutkan perjalanan untuk mencari Han Bi Ing yang menghilang itu ataukah perlu menyelidiki bagaimana keadaan Su Hong Liang.

"Siauko," kata Tong Kui Tik yang rupanya tahu akan kebingungan hati Wan-ong Kui, “menurut kesan yang kulihat, jelas kawanmu itu tida kurang suatu apa. Kulihat jenderal Lau Liang begitu hormat dan akrab kepadanya."

"Tetapi mengapa jenderal itu hendak menangkap aku?" tanya Wan-ong Kui.

"Engkau heran?" "Rupanya engkau baru pertama kali ini terjun ke dunia persilatan. Ketahuilah anakmuda kata Tong Kui Tik, "dunia persilatan itu penuh dengan tokoh banyak sekali peristiwa yang sangat ganjil dan tidak terduga. Begitu pula hati manusia itu sukar diduga, Wajah, kata2 dan tingkah laku, bukan ukuran hatinya. Dan ketiga kalinya, engkau baru saja kenal dengan pemuda itu. Bagaimana engkau tahu siapa dia itu dan bagaimana sesungguhnya isi hatinya ?”

Mendengar itu Wan-ong Kui tertegun. Memang selama bersama dengan Su Hong Ling, walaupun pemuda itu berwajah cakap dan sopan santun, tetapi ia mendapat kesan kalau Su Hong Liang itu ceriwis dan pandai bermain kata.

"Terima kasih, lopeh," akhirnya ia berkata.

"Wan-ong-ko," seru In Hong, "hendak kemanakah engkau sekarang ?"

"Aku hendak mencari kusir kereta dan su-moayku yang menghilang itu," cata Wan-ong Kui.

In Hong berpaling kepada engkongnya, "Engkong, bagaimana kalau kiia bantu engkoh: Wan-ong ini untuk mencari sumoaynya ?"

Tong Kui Tik mengeluh, "Ah, engkau ini memang budak perempuan yang suka usil. Bukankah kita masih harus menempuh perjalanan jauh ?"

"Ayah, engkong, terlambat sehari dua hari kan tak apa2," In Hong tetap merengek.

Mendengar itu Wan-ong Kui tak enak hati, ,"Nona, jangan mengganggu urusanmu. Biarlah kucari sendiri mereka." “Tak apa, Wan- ong-ko," kata In Hong "kita toh sama2 menuju ke utara. Apa engkau keberatan kalau berjalan bersama kita?"

"Ah, tidak, asal jangan mengganggu urusan mu yang penting."

Demikian mereka bertiga segera melanjutkan perjalanan lagi. Di sepanjang jalan tak henti-hentinya In Hong mengajak bicara saja.

"Celaka, hilang Su Hong Liang sekarang timbul dara ini.

Setali tiga uang," pikir Wan-ong;

Ketika melalui sebuah hutan tiba2 mereka kejutkan oleh suara senjata beradu dan sambaran angin yang menderu- deru.

"Ada orang bertempur!" seru In Hong. Tong Kui Tik dan Wan-ong Kui terkesiap.

-oodwoo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 07 Hiruk pikuk."

Post a Comment

close