Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 05 Hujan bencana.

Mode Malam
Jilid 05 Hujan bencana.

Penekar Huru Hara terbelalak. Ia benar2 tak mengerti apa yang dikatakan Cian-li-ji.

"Engkau mencuri?" ia menegas.

"Ya, diajak pengemis ini," sahut Cian-li-ji. "Mencuri apa?"

"Mencuri uang di tempat jenderal Ko Kiat." "Gila!" teriak Huru Hara.

"Nih, buktinya," Cian-li-ji lalu membuka karung dan isinya memang uang emas, "seribu tail emas, tak lebih tak kurang."

Huru Hara terlongong, kemudian bertanya, "Buat apa uang itu?"

"Soal itu, tanyakan saja pada pengemis, ini. Aku hanya kalah bertaruh dan melaksanakan perintahnya," sahut Cian- li-ji.

Huru Hara sudah mendengar keterangan penduduk yang kelaparan tadi tentang diri pengemis tua yang bernama Wi sin-kay itu. Ia mendapati kesan baik terhadap pengemis itu, "Paman Wi, tegurnya dengan nada bersahabat, “apa maksudmu! suruh paman Ciar-li ji mencuri uang di gedung jenderal Ko Kiat?"

"'Untukmu," sahut pengemis itu singkat. "Untukku? Maksud paman untuk diriku?"

"Bukan," kata Wi sin-kay, "untuk isi peti uang yang hendak engkau antarkan kepada jenderal Ui Tek Kong itu."

"O," seru Huru Hara, "tetapi bukankah jenderal Ko Kiat memang sengaja hendak mempermainkan jenderal Ui?"

"Tidak," sahut pengemis tua, "dia hendak mencelakai engkau supaya engkau ditangkap dan dihukum jenderal Ui."

"Ah, bagaimana mungkin?" seru Huru Hara, “aku kan hanya melaksanakan perintahnya masakan dia hendak mencelakai aku?" "Engkau percaya tidak kalau jenderal Ko bukan mengirim uaug tetapi mengirim tanah kepada jenderal Ui?"

"Ya……..,” beberapa saat kemudian baru Huru Hara dapat menjawab, "tetapi jenderal itu mengatakan kalau peti yang kukawal itu berisi uang seribu tail emas sebagai sumbangan atas kematian ibu jenderal Ui."

"Ya, memang dia berkata begitu,"' kata pengemis tua, "tetapi benarkah yang akan diterima jenderal Ui itu peti berisi uang emas ?"

"Tidak," sahut Huru Hara, "peti itu jelas berisi tanah.

Jenderal Ui tentu terkejut "

"Dan marah kepadamu," tukas Wi sin-kay. "Mengapa marah kepadaku ?"

"Eh, cobalah jawab pertanyaanku. Jenderal Ui percaya kepadamu atau kepada jenderal Ko ?”

"Apa maksud paman ?"

"Bukankah jenderal Ko juga memberi surat kepada jenderal Ui ? Nah, dalam surat itu tentu disebut tentang sumbangannya sebesar seribu tail emas. Tetapi ternyata peti itu berisi tanah. Lalu jenderal Ui apa percaya? Dia tentu menuduh engkau yang main gila mengambil uang itu. Akibatnya engkau tentu ditangkap dan mungkin dihukum."

"Ah," Huru Hara mengeluh, "kalau begitu jenderal Ko hendak mencelakai aku. Apa maksudnya dia berbuat begitu kepadaku?"

"Itulah kelicikan Ko Kiat," kata Wi sin-kay "dia taat pada perintah atasannya, menteri Su Go Hwat, untuk berdamai dengan jenderal Ui. Tetapi dalam hati kecilnya dia sayang kehilangan uang sejumlah itu. Maka dia mengorbankan engkau. Agar engkau yang dituduh menggasak uang itu."

"Setan alas !" Huru Hara menggeram, "jika tahu begini, aku tak perlu merebut surat undangan dari ketujuh benggolan itu."

"Ya," kata Wi sin-kay, "sebenarnya jenderal mempunyai rencana untuk meminjam tangan jenderal Ui membunuhi ketujuh benggolan itu. Siapa tahu, engkau yang mengajukan diri sehingga engkaulah yang menjadi korban."

"Jika begitu, lebih baik aku kembali dan menyerahkan lagi peti itu kepada jenderal Ko," Huru Hara menggeram.

"Percuma," kata Wi sin-kay, "jenderal itu tentu bertanya kepadamu, apa sebabnya engkau membatalkan perjanjianmu ?"

"Akan kukatakan terus terang apa isi peti itu !"

"Engkau tentu segera ditangkap dan dihukum mati!" seru Wi sin-kay.

"Mengapa ? Bukankah dia sendiri yang mengadakan rencana busuk itu?"

"Mana dia mau mengakui kalau peti itu di isi tanah ? Engkaulah yang dituduh telah mengambilnya dan pura2 engkau mengembalikan kepadanya."

"Ah, tidak ! Dia bohong"

"Jangan ngotot semaumu sendiri !" seru Wi sinkay, "pangkat itu lebih berkuasa. Apalagi dia seorang jenderal tentu kuasa menjadikan yang putih itu hitam dan yang hitam, putih. Dan orang tentu tak percaya kalau seorang jenderal akan mengirim peti berisi tanah kepada jenderal lain. Orang tentu lebih percaya kalau engkau yang mengambil uang itu dan diganti dengan tanah." "Tetapi kebenaran itu tak dapat diganggu gugat."

"Jangan menyebut-nyebut soal Kebenaran. Dalam suasana kacau seperti sekarang itu, Kebenaran yang murni sudah ikut gugur dengan jenasah mantri2 setya dan prajurit2 yang mati mempertahankan tanahairnya. Kebenaran yang sekarang ini bukan kebenaran yang murni lagi. Siapa berkuasa, dia pemilik Kebenaran !"

"Lalu bagaimana aku harus bertindak?" tanya Huru Hara.

"Teruskan pekerjaanmu."

"Mengantar peti berisi tanah itu kepada jenderal Ui." "Bukankah engkau sudah sanggup ?"

"Ya, tetapi peti uang bukan peti berisi tanah."

Wi sin-kay tertawa, "Itulah sebabnya maka kuajak Cian- li-ji mencuri uang di gedung jenderal Ko. Uang itu nanti engkau isikan kedalam peti dan serahkan kepada jenderal Ui."

"O, hebat sekali pikiranmu, paman Wi," seru Huru Hara kegirangan.

"Ah, kita hanya menjadikan permainan jenderal Ko itu menjadi suatu kenyataan yang sungguh-sungguh. Dia mengatakan mengirim uang dan peti itu benar2 berisi uang. Tak mungkin, apabila dia mendengar hal itu, dia akan marah kepadamu. Jenderal Uipun akan menerima sumbangan itu dengan senang hati. Dengan demikian kita dapat membantu melaksanakan maksud mentri Su Go Hwat agar kedua jenderal itu bisa rukun kembali."

"Bagus, bagus, Wi sin-kay," seru Cian-li-ji, "kalau tahu begitu maksudmu, akan kuambil lagi uang emas jenderal Ko itu yang lebih banyak." "Kukira cukup itu dulu," sahut Wi sin-kay.

Huru Hara menanyakan bagaimana cara Cian-li-ji mencuri uang emas dari gedung jenderal Ko Kiat tadi.

"Sebenarnya Cian-li-ji itu tidak biasa mencuri. Tetapi dia memiliki ilmu gin-kang yang luar biasa. Maka kuajaknya dia masuk ke gedung jenderal Ko. Dia kujadikan setan . . .

."

"Setan ?" Huru Hara terkejut.

"Ya, kusuruh dia pakai pakaian hitam dan topeng yang menyeramkan. Lalu kusuruh dia mengganggu penjaga gudang. Setelah kawanan penjaga gudang itu tersebar mengejarnya, aku lalu masuk dan mengambil uang itu."

Huru Hara tertawa.

"Apakah sekarang kita ganti tanah itu dengan uang emas

?" tanyanya sesaat kemudian.

Wi sin-kay gelengkan kepala, "Tak perlu buru-buru. Nanti saja setelah tiba ditempat jenderal Ui. Sekarang kita tutup lagi peti itu dan biarkan isinya tetap tanah."

Malam itu tiada terjadi suatu peristiwa apa2 lagi. Keesokan harinya Huru Hara dan Cian-li-ji berangkat. Mereka terkejut ketika tak mendapatkan pengemis tua Wi sin-kay berada di biara itu.

Tak berapa lama mereka tiba di sebuah kota kecil,  setelah itu baru mereka akan tiba di kota Cho-ciu. Sebenarnya Huru Hara enggan untuk berhenti tetapi Cian- li-ji menyatakan kepingin minum teh. Terpaksa mereka singgah di sebuah kedai minuman.

Teh sebenarnya merupakan minuman biasa. Tetapi bagi orang yang sudah lama tak minum, apalagi kebetulan teh di warung itu memang istimewa, minum teh merupakan hidangan yang nikmat sekali.

Tengah Huru Hara dan Cian-li-ji menikmati teh dengan kuwih, tiba2 masuklah tiga orang lelaki kasar. Maka mereka penuh brewok, dada dan tangannya yang besarpun tumbuh bulu yang lebat.

Ketiga orang itu memanggil pelayan, "Kasih sekali arak yang nomor satu dan bak-pau istimewa," kata salah seorang.

Setelah pelayan pergi maka seorang lelaki tua segera menghampiri ketiga orang kasar itu.

"Hai. ciangkui,"' seru salah seorang dari ketiga tetamu kasar itu, "bagaimana, apakah tidak pesan lagi? Jangan terlalu lama nanti kambing2 itu jadi kurus karena kurang makan."

"Tetapi kiriman yang beberapa hari itu, kurus sekali. Dagingnya sedikit dan banyak boroknya," ciangkui atau pemilik kedai mengeluh.

"Ya, dong, harganya kan murah. Kalau menghendaki yang muda dan gemuk, wah, harganya lipat. Apa ada pesanan?"

"Ada," seru ciangkui dengan mata berkilat-kilat, "tetapi wah, sukar. Apa engkau sanggup mencarikan?"

"Jangan kuatir!" seru orang kasar itu, "pokok jaman sekarang ini ada fulus, mau minta a-pa saja bisa!"

Ciangkui menghampiri kesamping lelaki kasar itu dan segera membisiki ke telinganya. Tampak wajah orang kasar itu berobah tegang. "Wah, itu benar2 pesanan istimewa! Tetapi tak mudah mencarikannya. Harganya harus sepuluh kali lipat dari barang biasa."

"Jangan kuatir, bung. Soa! harga dia tak tawar. Engkau minta berapa, dia tentu akan membayarmu. Asal engkau benar2 dapat mencarikan barang yang dikehendakinya itu."

"Tetapi buat apa dia minta barang semacam itu?" "Entah, katanya untuk ramuan obat."

"Siapakah yang pesan itu?"

"St, jangan keras2," ciangkui itu lalu membisiki telinga si orang kasar. Tampak orang kasar itu kerutkan dahi dan mengangguk-angguk.

Setelah ciangkui masuk, tiba2 dari jauh terdengar derap suara kuda berlari. Makin lama makin dekat tiba2 muncullah dua ekor kuda. Yang satu putih yang satu hitam. Tetamu2 dalam kedai minum itu terbeliak kaget ketika kedua ekor kuda itu berhenti di depan kedai. Lebih terkejut pula orang2 itu ketika kedua penunggang kuda itu melangkah masuk. Sekalian orang menumpahkan mata ke arah kedua pendatang itu.

Kedai itu banyak disinggahi tetamu2 yang terdiri dari para pedagang, pengembara maupun prajurit2. Bahwa ada dua orang penunggang kuda singgah ke dalam kedai minum itu, memang bukan suatu hal yang mengherankan. Tetapi yang mengejutkan tetamu2 itu tak lain karena kedua penunggang kuda itu adalah dua orang nona yang cantik. Sepintas pandang, mereka merupakan nona majikan dan bujangnya.

Nona itu memakai cadar atau kain penutup muka warna hitam. Tetapi walaupun tak kelihatan jelas, orang masih dapat memandang dari kulitnya yang putih, bahwa nona itu tentulah seorang gadis yang cantik jelita. Sedang yang seorang masih dara, berwajah manis, umur lebih kurang 16 tahun.

Kedua nona itu tak menghiraukan mata para tetamu yang mencurah kepada mereka. Mereka mengambil tempat duduk tak berapa jauh dari meja Huru Hara. Seorang pelayan bergegas menghampiri.

"Nona minum?" tanya dara itu kepada nona yang mengenakan cadar

"Teh dan bak-pau," kata si nona.

"Bak-paunya yang biasa atau istimewa?" ta nya pelayan. "Apa sih bedanya?" tukas si dara.

"Sudah tentu berbeda, nona," kata pelayan, "bak-pau istimewa kami rasanya luar biasa lezatnya. Di seluruh Yang-ciu, tak ada yang menyamai. Sekali coba, orang tentu akan ketagihan."

Dara itu memandang si nona dan si nona memberi anggukan kepala, "Baik, coba bak-pau yang istimewa,” kata si dara.

"Ah Liu, bagaimana kuda kita?" kata si nona bercadar. ''O, ya,” kata dara yang dipanggil dengan nama Ah Liu,

"nanti kusuruh pelayan memberi makan juga."

"Apakah disini sedia rumput?'' tanya si nona bercadar. "Ah, siocia, kuda kita si Melati dan si Kumbang itu

segala apa mau. Tidak ada rumput, bak-paupun suka," kata Ah Liu.

Siocia berarti nona. Lazim digunakan sebutan menghormat, terutama seorang pelayan terhadap nona majikannya. Sementara tampak Huru Hara berbisik-bisik dengan Cian-li-ji. Sedang dibangku lain, ketiga lelaki brewok yang kasar tadipun tengah kasak kusuk.

"Siocia, heran benar," kata Ah Liu yang lincah bicara." "Kenapa ?" tegur nona bercadar.

"Di kota sekecil ini, ternyata terdapat beberapa macam mahluk aneh. Ada pendekar jambul, ada orang kate, ada orang-utan, hi, hi, hi. "

"St, jangan bermulut usil," tegur gadis bercadar, "kita masih ada tugas penting,"

Tampak Huru Hara lekatkan telinganya ke mulut Cian- li-ji yang membisikinya. Huru Hara tampak tersenyum dan geleng2 kepala, "Biarlah, tak perlu diladeni," bisik Huru Hara.

Tiba2 Cian-li ji berbangkit dan menghampiri seorang pelayan. Pelayan mengangguk dan menuju ke belakang. Cian-h-ji terus masuk kedalam.

Ternyata orang kate itu hendak buang air kecil. Kamar kecil terletak diujung belakang sendiri. Sebelum mencapai tempat itu, dia harus melalui dapur. Beberapa tukang masak sedang bekerja, antara lain ada yang membuat bak-pau.

Setelah keluar dari kamar kecil, tiba2 Cian-li-ji melihat seorang tukang masak sedang keluar dari sebuah bangunan yang terletak paling belakang, dekat pagar tembok. Bangunan itu ditutup dengan pagar tembok sehingga tak tampak jelas. Tetapi terang bangunan itu merupakan sebuah pondok kecil.

Rupanya orang itu tak tahu kalau Cian-li-ji sedang berada dalam kamar kecil. Dia berjalan sambil membawa sebuah beri (talam) yang tertutup dengan kain hitam. Entah apa isinya. Tetapi hidung Cian-li-ji yang tajam segera mencium bau yang anyir, menyengat hidung. Hampir saja dia muntah.

Serentak dia teringat akan pembicaraan bisik2 dari ketiga orang kasar dengan pemiIik rumah makan itu. Seketika timbullah keinginannya untuk mengetahui apa yang terdapat dalam kamar tertutup itu.

Siut, dia bergerak cepat sekali untuk menerobos kebalik dinding tembok yang menutup bangunan itu. Pintunya terkunci. Dengan kerahkan tenaga, dia dapat mendobrak pintu itu. Ah, ternyata sebuah rumah pondok yang kosong. Mungkin ruang sembahyang pemujaan. Karena disitu hanya terdapat sebuah meja sembahyang, sebuah arca dewa dan sepasang lilin serta sebuah hio-lou atau tempat dupa. Didepan meja terdapat sebuah tikar tebal.

"Ah, untuk sembahyang," pikirnya, "tentulah orang tadi sedang mengantar ikan untuk sembahyangan."

Tetapi tiba2 dia meregang, "Tetapi mengapa di meja ini tak terdapat barang hidangan suatu apa ? Dan kalau mengantar hidangan, tentulah dia tidak membawa beri. Lebih tepat kalau dikatakan orang tadi sedang mengambil hidangan dari sini. Tetapi hidangan kok baunya begitu anyir sampai membuat perut mau muntah ?"

Tiba2 terdengar pintu berkerotekan, grendel-nya sedang diputar orang. "Celaka, ada orang masuk," Cjan-li-ji cepat2 menyelonong masuk ke-bawah kolong meja itu. Untung didepan meja itu diberi kain to-wi (kain penutup yang bersulam lukisan dewa),

"Ah, Ah Hok memang sembrono sekali." gumam orang itu, "masakan keluar lupa tak mengunci pintu." Rupanya yang dimaksud Ah Hok adalah orang yang keluar membawa beri penampan tadi.

Orang itu berjongkok lalu menyingkap tikar. Ah, ternyata dibawah tikar itu terdapat sebuah papan besi. Orang itu lalu membuka papan besi dan terus turun kebawah.

Tak berapa lama orang itupun keluar dengan membawa penampan bertutup kain. Setelah menutup papan besi dengan tikar, dia keluar dari ruang itu.

Kini Cian-li-ji makin curiga. Dia menyingkap tikar, membuka papan besi. Ah ternyata di-bawahnya terdapat titian batu. Ia segera menuruni titian, Ternyata dibawah, merupakan sebuah kamar bawah tanah. Sebuah meja besar dari batu marmar, dibangun ditengah ruang. Tetapi apa yang disaksikan Cian-li-ji saat itu hampir membuatnya pingsan Ternyata diatas meja marmar itu penuh dengan potongan tulang badan manusia. Tangan, kaki, gembung dan tulang belulang manusia.

"Jagal manusia," serunya bergidik. Serentak-dia teringat akan beberapa orang yang membawa penampan bertutup kain tadi. Baunya sama dengan bau di ruangan itu. Seketika marahlah dia.l

Dia mencari akal bagaimana mengobrak-abrik rumah makan terkutuk itu. Cepat ia mendapat pikiran. Ia mengumpulkan gigi2 lalu dibungkus. Sebelum pergi, dia membakar ruangan itu.

Kemudian dia berlari ke dapur, "Hai, mengapa pondok dibelakang itu mengepul asap ?"

Beberapa tukang masak dan pelayan segera keluar ke belakang. Mereka terkajut ketika melihat pondok di belakang itu mengepulkan asap tebal. "Kebakaran," seru mereka seraya berlari-lari menuju ke pondok itu.

Cian-li-ji cepat bekerja. Ia menyelundup ke dapur dan mengaduk-aduk bak-pau. Isinya diganti dengan gigi manusia. Setelah itu dia keluar lagi mendapatkan Huru Hara.

"Bersiap-siaplah menghadapi keadaan yang kacau nanti," bisik Cian-li-ji.

"Apa yang terjadi ?" tanya Huru Hara. Cian li-ji menceritakan apa yang dilihatnya tadi dengan bisik2. Seketika marahlah Huru Hara. Dia terus hendak mengamuk tetapi dicegah Cian-li-ji, "Jangan terburu nafsu. Tunggu saja pertunjukan yang bagus nanti!"

"Bagaimana rencana kita, siocia ?" tanya Ah Liu kepada nonanya.

"Kita ke Cho-ciu menyampaikan surat kepada jenderal Ko Kiat, setelah itu kita Holam untuk menemui jenderal Ho Tay Sing. Pekerjaan ini harus dilakukan secepat mungkin karena rasanya ayah sudah putus asa meminta bantuan ransum pada baginda," kata gadis bercadar kain hitam itu.

"Lalu bagaimana prajurit2 kita kalau tidak punya ransum?" tanya Ah Liu.

"Justeru itu yang menjadi tugas paling penting. Ayah telah menitahkan engkoh Hong Liang untuk menghubungi sisa2 anakbuah Li Cu Seng yang kebanyakan menjadi lasykar liar dan ada pula sebagian yang menjadi gerombolan perampok. Mereka adalah unsur2 kekuatan yang harus dihimpun lagi dan digabungkan dengan pasukan kita, kata nona bercadar.

"Dan apakah Bok siauya juga mendapat tugas?" tanya Ah Liu pula. "Bok koko disuruh menemani ayah. Ayah kuatir kalau menyuruh Bok koko keluar. Dia orangnya terlalu jujur dan tolol."

"Tetapi siocia, dia seorang yang berhati setia," bantah Ah Liu.

"Hm," nona itu hanya mendesuh.

"Memang Su sauya lebih cakap dan pintar tetapi "

"Tetapi apa?" tukas nona bercadar itu. "Ah, jangan, nanti siocia marah kepadaku

"Tidak," bantah nona itu, "mengapa aku ha rus marah? Hong Liang koko itu putera keponakan ayah dan Bok Kian koko itu putera keponakan mama. Mereka disayang ayah seperti putera sendiri. Dengan aku merekapun seperti saudara sekandung."

"Ya, kutahu," kata Ah Liu, "tetapi rupanya siocia lebih suka bergaul dengan Su sauya daripada Bok sauya. Memang Su sauya pintar bicara dan ramah sedang Bok sauya tak pandai bicara. Tetapi menurut perasaanku, Bok sauya itu lebih jujur dan setia."

"Apakah Su koko tidak jujur dan tidak setia?" tukas si nona bercadar.

"Ai, aku tidak mengatakan begitu, siocia. Aku hanya ingin mengatakan kalau Su sauya itu pintar bicara."

"Apa salahnya sih orang pintar bicara itu?"

"Ya, ya " Ah Liu tak dapat melanjutkan kata-katanya

karena saat itu pelayan datang membawa pesanan mereka. Sebuah teko teh, dua buah cawan. Bak-pau yang dipesan belum matang. "Hai, loji, engkau mengatakan bak-pau buatan rumah- makanmu ini paling istimewa sendiri, bukan?" tiba2 terdengar Cian-li-ji berbicara.

"Ya, memang benar," sahut pelayan. Memang adat kebiasaan tetamu2, kalau memanggil jongos atau pelayan rumahmakan tentu dengan sebutan lo-ji.

"Apakah engkau sudah pernah makan sendiri?" tanya Cian-li-ji.

Pelayan itu gelagapan, "Semua tetamu selalu memuji begitu. Aku sendiri jarang makan."

Cian-li-ji tertawa, "Loji, apa engkau dapat menghabiskan dua biji bak-pau ini?"

"Ah, jangan bergurau loya. Masakan bak-pau dua biji saja tak habis. Lima bijipun aku dapat menghabiskan."

"Jangan sombong !" , seru Cian-liji," hayo engkau berani bertaruh dengan aku ?"

"Bertaruh bagaimana ?"

"Kalau engkau dapat menghabiskan dua biji bakpau ini, kubayar seratus tail perak .. ."

"Loya !" teriak pelayan terkejut, "apakah loya bergurau ?"

"Siapa bergurau dengan engkau, babi '" bentak Cian-li-ji seraya merogoh keluar sebuah pundi2 uang lalu dituang," nih, coba hitunglah. Bukankah jumlahnya lebih dari seratus tail perak ?"

Pelayan itu mendelik, "Maksud loya, kalau aku dapat menghabiskan dua butir bak-pau itu, loya akan memberi hadiah seratus tail perak ?"

"Ya."

"Baik, loya. Aku sanggup!" "Jangan terburu-buru dulu. Tetapi bagaimana kalau engkau tak dapat menghabiskan dua butir bak-pau itu ?"

"Terserah, loya mau menghendaki apa !"

"Begini," kata Cian-li-ji, "kalau engkau tak mampu menghabiskan dua butir bak-pau ini, engkau akan kurangket dengan rotan sampai seratus kali !"

Pelayan terbeliak.

"Tetapi seratus kali rangketan itu, dibagi begini. Yang limapuluh rangketan, untuk majikanmu pemilik rumahmakan ini. Engkau sendiri sepuluh dan yang empat puluh dibagi rata pada semua pekerja disini."

"Hah,r jangan merembet-rembet ciangkui dan teman2ku loya. Biar aku sendiri saja yang tanggung !" seru pelayan itu.

"Tidak bisa !" teriak Cian-li-ji sekeras-kerasnya sehingga sekalian tetamu mendengar tentang ribut2 itu, "seratus tail perak itu juga dibagi seperti pembagian rangketan itu. Limapuluh untuk majikanmu, sepuluh untuk engkau dan sisanya dibagi rata kepada kawan2mu."

"Biarlah aku sendiri saja yang menerima taruhan ini, loya," seru pelayan. Dia ngiler sekali dengan uang yang sekian banyak, "menang kalah aku yang tanggung sendiri."

"Hai, Ah Sing, ribut2 apa itu ?'" tiba2 seorang lelaki setengah tua menghampiri. Dia ternyata ciangkui atau pemilik rumahmakan di situ.

"Anu, loya, tuan ini hendak bertaruh dengan aku. Katanya kalau aku dapat menghabiskan dua butir bak-pau istimewa yang baru saja dipesannya ini, dia akan menghadiahi uang Tetapi kalau aku tak dapat menghabiskan, dia akan menghadiahi rangketan dengan rotan sampai seratus kali. "

"Engkau terima taruhan itu ?"

"Ya," sahut pelayan, "tetapi tuan itu kasih peraturan aneh. Hadiah uang atau rangketan itu harus dibagi rata, Ciangkui harus menerima 50 kali rangketan rotan, Aku 10 kali dan sisanya dibagi rata kepada semua pekerja disini."

"Kalau engkau menang ?"

"Limapuluh tail perak untuk ciangkui, aku mendapat sepuluh tail dan sisanya dibagi rata pada kawan2."

"Lakukan !" perintah ciang-kui. Tetapi pelayan itu meragu. Rupanya dia menginginkan dia sendiri yang menerima hadiah uang atau rangketan sekian banyak itu dapat dijadikan modal berdagang sendiri.

"Eh, rupanya engkau tak berani, ya ? Baiklah," kata ciang-kui seraya melangkah maju ke hadapan Cian-li-ji, "loya, akulah yang menggantikan pegawaiku.

"O, jika ciangkui lain lagi," kata Cian-li-ji "Lho, bagaimana ?" ciang-kui terkejut karena mengira Cian-li-ji tak berani, "apa tidak jadi?''

Waktu ciang-kui sedang bertanya jawab dengan pelayan. Ah Sing tadi, muncullah seorang pelayan lain yang membawa penampan berisi dua butir bak-pau istimewa kepada si nona bercadar. Dengan cepat Huru Hara menghampiri.

Selekas pelayan pergi. Huru Harapun berkata, "Maaf, nona, bolehkah aku pinjam bak-paumu ini dulu ?"

Ah Liu marah sekali. Karena sebelum mendapat persetujuan, Huru Hara sudah ulurkan tangan mengambil kedua butir bak-pau istimewa itu, "Lepaskan, manusia liar !" Ah Liu membentak seraya menampar tangan Huru Hara. Plak. uh . . . Ah Liu menjerit kaget karena dia terlempar ke belakang. Dia rasakan tangan Huru Hara yang ditamparnya itu, memancarkan tenaga tolak yang melempar dirinya sehingga dia tersurut mundur bersama kursinya.

Nona bercadar itupun kerutkan dahi. Cepat dia menyambar pergelangan tangan Huru Hara dengan ilmu Siau-kin-na-jiu (ilmu merebut senjata lawan dengan tangan kosong), tetapi nona itu hanya menerkam meja. Huru Hara sudah lebih cepat mengangkat tangannya.

"Nona, percayalah, jangan makan bak-pau ini. Lihatlah sendiri bagaimana buktinya,” bisik Huru Hara seraya terus melangkah kembali ke mejanya sendiri.

Saat itu kebetulan Cian-li-ji sedang hendak mengatakan syarat pertaruhannya. Maka Huru Harapun cepat menimbrung, "Paman Cian, suruh dia makan empat butir bak-pau, kalau habis, kita kasih dia seribu tail perak. Tetapi kalau tak bisa habis, kecuali menerima rangketan, dia harus menyerahkan rumahmakan ini kepada kita !"

"Nah, engkau dengar tidak permintaan dari  keponakanku itu ?" tanya Cian-li-ji kepada pemilik rumahmakan.

"Baik," sambut ciang-kui, "tetapi kuminta uang pertaruhan itu supaya ditaruh di meja ini agar semua orang menyaksikan."

Rupanya melihat perwujutan Cian-li-ji dan Huru Hara yang nyentrik, pemilik rumahmakan itu bersangsi, jangan2 kedua orang itu tak punya uang sekian banyak.

Cian-li-ji terkesiap lalu berpaling kearah Huru Hara. Huru Hara juga bersangsi. Kalau dia mengambil uang emas yang berada dalam karung, tentulah semua orang tahu. Suatu hal yang tak menguntungkan tetapi sebaliknya malah mengundang bahaya. Tetapi kalau tidak diperlihatkan uang itu, tentulah ciang-kui tak mau menerima pertaruhan itu, Pada hal rumahmakan itu harus diobrak-abrik.

"Baik paman Cian, silakan ambil uang itu," akhirnya ia memutuskan lebih penting untuk membasmi rumahmakan itu,

Cian-li-ji melangkah keluar tak berupa lama dia membawa karung dan diperlihatkan kepada ciang-kui, "Lihatlah," serunya seraya membuka kantong itu.

Ciang kut terbelalak ketika melihat uang emas dalam kantong itu, "Ah, masakan gua tak mampu menghabiskan empat biji bak-pau," pikirnya.

"Bagaimana?" Cian-li-ji menegas. "Baik, aku terima," sahut ciang-kui.

"Saudara? sekalian," seru Cian-li-ji kepada tetamu2 yang berada di ruang itu, "harap saudara-saudara suka menjadi saksi bahwa aku bertaruh dengan ciang-kui ini. Kalau dia mampu menghabiskan bak-pau istimewa buatannya, aku akan memberinya seribu tail perak. Tetapi kalau dia tak dapat menghabiskan, dia menerima 50 kali rangketan rotan dan setiap pegawainya menerima 10 kali. Juga rumahmakan ini akan diserahkan kepadaku dan dia sanggup angkat kaki dari sini!"

"Orang gila," ketiga orang kasar tadi berseru seraya menertawakan, "jangankan hanya empat, sepuluhpun aku sanggup, ha, ha, ha "

"Hm, apakah omonganmu itu sungguh?" tiba-tiba Huru Hara berseru menegas.

"Tentu," sahut salah seorang dari ketiga o-rang kasar itu. "Baik," kata Huru Hara, "setelah ciang-kui nanti engkau yang bertaruh. Bukankah engkau sanggup menghabiskan 10 biji bak-pau?"

"Ya."

"Baik, tunggu saja giliranmu."

"Bagaimana kalau aku yang bertaruh lebih dulu?" rupanya orang kasar itu sangat bernafsu sekali untuk memenangkan perintahan itu. Dia kuatir nanti uang Huru Hara sudah habis diambil ciang-kui.

"O, baik, baik," tiba2 Huru Hara berseru, "jika demikian kalian berdua boleh serempak melakukan pertaruhan itu. Berapa biji bak-pau yang engkau pesan?"

"Hanya enam, setiap orang dua biji," kata' si orang kasar. "Jika begitu, hai, loji, ambil 10 biji bak-pau yang

istimewa," seru Huru Hara.

Tak berapa lama pelayanpun datang dengan membawa penampan berisi 10 biji bak-pau yangi masih hangat.

"Paman Cian, engkau yang mengamati ciang kui dan aku yang mengawasi orang ini," seru Huru Hara.

Dan mulailah ciang-kui serta orang kasar itu mengambil bak-pau, terus dilalapnya. Klutuk, uh. tiba2 ciang-kui dan

lelaki kasar itu menjerit ketika merasa telah menggigit benda yang keras.

"Hai, apakah isi bak-pau ini?" teriak ciangkui seraya memeriksa isi bak-pau yang sudah tergigit separoh itu.

"Gigi orang!" tiba2 pula lelaki kasar itu juga berteriak.

Beberapa tetamu, termasuk si nona bercadar serta bujangnya si Ah Iiu tadi, tersentak kaget. "Tidak boleh dibuang, harus dimakan semua!" bentak Cian-li-ji ketika melihat ciang-kui hendak membuangi gigi yang berada dalam bak-pau itu.

Lelaki kasarpun sebenarnja hendak mengambil isi istimewa dari bak-pau itu tetapi dia terkejut mendengar bentakan Cian-li-ji dan iapun melepaskan pandang bertanya kepada Huru Hara.

"Ya, benar, harus dimakan semua," kata Huru Hara.

Lelaki kasar itu menyeringai, "Tetapi mana mungkin gigi orang disuruh makan?"

"Bukankah pertaruhan kita ini mengatakan bahwa kalau engkau dapat menghabiskan 10 biji bak-pau, engkau akan terima seribu tail perak. Apa artinya ‘habis ' itu? Maka semua yang berada dalam bak-pau itu harus engkau makan habis!" kata Huru Hara tenang?.

Tanpa menjawab apa2, lelaki kasar itu terus menyambar sebuah bak-pau lain. Tetapi begitu digigit, diapun menjerit, "Hai, telinga orang . . . !"

"Makan saja!" Huru Hara tertawa.

Lelaki kasar itu mencomot sebuah bak-pau lagi dan ketika digigit, ia menjerit, "Auh, jari orang "

"Makan terus sampai tua," seru Hu-iu Hara.

Sementara itu ciang-kui juga meniru tindakan lelaki kasar. Bak-pau kesatu yang berisi gigi belum dihabiskan, dia terus mengambil bak-pau kedua. Tetapi begitu digigit, dia menjerit, "Auh, telinga orang "

"Makan!" teriak Cian-li-ji.

Ciang-kui masih ngotot. Dia menjemput lain bak-pau lagi, "Auh, ma . . . ta . . . , " ia menjerit dengan suara gemetar. Dan bak-pau keempat yang dicomot dan digigitnya berisi segenggam gigi orang.

"Gila!" teriak ciang-kui, "siapa yang masak bak-pau begini ini! Lekas panggilkan tukang masaknya!"

Tukang masak, seorang lelaki setengah tua yang berwajah dingin, segera berlarian menghampiri.

"Hai, mengapa bak-pau engkau isi dengan gigi, telinga dan mata orang?" teriak ciang-kui de ngan marah.

"Tidak loya . . . isinya hanya bagian daging orang saja!" tanpa disadari karena hendak membela diri, tukang masak itu telah kelepasan ngo-mong.

"Hai!" tiba2 Ah L:u menjerit dan terus muntah2. Setelah itu ia menghampiri ciang-kui,

"O, yang engkau katakan bak-pau istimewa itu ternyata berisi daging manusia !"

Ah Liu tak dapat menguasai diri lagi. Dia terus hendak memukul ciang-kui tetapi dicegah Huru Haja, "Jangan, harap sabar dulu !"

Ah Liu tadi telah menderita. Dia menampar tangan Huru Hara tetapi malah terjengkang ke belakang. Sekarang dia mau memukul ciang-kui, kembali Huru Hara menghadang. Dara itu tumpahkan kemarahannya kepada Huru Hara "Engkau mau membelanya !"

Dengan sebuah gerak dalam jurus Raja-kera-menjolok- buah, dara itu meninju dada Huru Hara, "duk.....uh!" Ah Liu menjerit ketika dia terlempar ke belakang sampai beberapa langkah dan membentur meja di belakangnya.

"Hayaaaa……..,” tiba2 terdengar orang menjerit. Orang itu ternyata sedang mengangkat mangkuk bubur panas. Begitu tiba dimuka mulut, bangku telah terlanggar Ah Liu, bangku terpelanting dan buburpun mengguyur muka orang itu. Muka tersiram bubur panas, dapat dimaklumi kalau orang itu sampai menjerit seperti babi hendak disembelih

.....

Ah Liu melenting bangun. Dia hendak maju menyerang Huru Hara tetapi tiba2 dibentak orang, "Jangan liar, Ah Liu

!"

Ah Liu berhenti. Ia kenal suara itu adalah suara nona majikannya. Huru Harapun menghampiri.

"Maaf, nona, maksudku janganlah nona memukulnya dulu. Biarkan dia menghabiskan bak-paunya," dia memberi penjelasan.

Ah Liu tersipu-sipu dan kembali ke tempat duduknya, Tetapi tiba2 di dicegat oleh tetamu yang mukanya berlumuran bubur panas tadi, "Budak liar, nih, pembalasanku !"

Ah Liu terkejut tetapi terlambat. Dia merasa tengkuknya telah dicengkeram tangan orang dan tubuhnya diangkat, "Celaka......" Ah Liu mengeluh karena menyadari bahwa dirinya hendak dilempar keluar.

"Hek . , . ," tiba2 lelaki itu mendesah tertahan dan tangannyapun terkulai melentuk sehingga tubuh Ah Liu pun jatuh ke bawah. Untung dara itu dapat bergeliatan untuk menjaga diri agar tubuhnya tak sampai jatuh ke lantai.

Ah Liu memandang kearah nonanya dan memperhatikan nona majikannya melingkarkan ke dua jari telunjuk dengan jempol tangan. Rupanya hal itu merupakan suatu kode atau sandi kedua gadis itu. Ah Liupun segera kembali kemejanya lagi. Sedang tetamu yang hendak melemparnya tadi, deliki mata kepada Ah Liu lalu dengan berjalan setengah menyeret kaki, dia melangkah keluar.

Sementara itu terjadilah peristiwa yang menegangkan.

Muka pemilik rumahmakan merah padam memandang empat butir bak-pau yang setelah di gigit ternyata berisi beberapa macam benda istimewa : gigi, telinga dan mata.

Dia memanggil tukang masak dan tukang masak telah kelepasan bicara mengatakan kalau yang diisikan kedalam bak-pau itu bukan macam begitu tetapi hanya daging manusia yang dicacah.

Sekalian tetamu gempar mendengar hal itu. Mereka serempak bangkit dan memaki-maki. Ada yang terus ngeloyor keluar tetapi ada yang masih berada disitu hendak menyaksikan bagaimana kesudahan pertaruhan tadi.

"Ciang-kui, lekas habiskan bak-paumu itu !" bentak Cian- li-ji.

"Tidak !" teriak ciang-kui, tukang masak telah keliru memberi isinya !"

"Ciang-kui, jangan ingkar janji. Aku juga tak tahu apa isinya. Engkau sudah menerima peraturan ini, kalau engkau tak mampu menghabiskan, baiklah," seru Cian-li-ji, "engkau harus kurangket dulu 50 kali, setelah itu baru engkau boleh minggat dari sini !"

"Setan kate, jangan mengacau disini !" pemilik rumahmakan itu terus menyerang Cian-li-ji. Juga lelaki kasar tadi marah2 dan tak mau makan bak-pau istimewa itu. Tetapi Huru Hara memakannya, "Mau, tak mau, suka tak suka, engkau harus makan bak-pau itu !"

"Bangsat, engkau berani memaksa aku !" sebuah tinju yang besar dan kuat segera diayunkan kearah kepala Huru Hara. Huru Hara mengendap kebawah. Secepat tinju melayang disisinya, dia terus melonjak berdiri, tangan kiri menyambar dagu orang lalu dipencet sehingga mulut orang itu terbuka lalu secepat kilat tangan kanan menyambar bakpau dan dijejalkan kemulutnya.

"Auhhhhh . . . ." orang itu menjerit-jerit tetapi karena mulutnya disumpat dengan bak-pau, dia tak dapat bersuara. Dia meronta-ronta hendak melepaskan diri tetapi juga tak mampu. Pada hal sederhana dan enak saja tangan Huru Hara mencengkeram dagu orang itu tetapi nyatanya orang itu tak mampu berdaya.

"Lepaskan !" tiba2 dari belakang terdengar suara orang membentak Huru Hara. Huru Hara tahu hal itu. Dua orang kawan lelaki kasar itu telah berbangkit dan menghampiri hendak menolong kawannya. Mereka menyerang Huru Hara dari belakang. Yang seorang memukul kepala, yang seorang menendang pantat Huru Hara.

Plak……. duk… aduh

Kedua lelaki kasar itu terkejut ketika tiba2 Huru Huru menyelinap ke samping. Mereka tak dapat menghentikan tinju dan kakinya lagi. Kepala dan perut kawannya menjadi sasaran. Akibatnya orang itu terlempar jatuh terjerembab ke lantai ... .

Belum hilang kejut kedua lelaki kasar tadi, tahu2 tengkuk mereka terasa mengencang seperti dijepit besi. Mereka hendak meronta dan menghantam ke belakang tetapi sebelum sempat melakukan gerakan itu, tubuh mereka seperti          terangkat naik dan melayang, bummmm. Keduanya terlempar keluar dari rumahmakan

dan jatuh di jalan besar.

Habis melemparkan kedua orang itu, Huru Hara berputar tubuh. Dilihatnya ciang-kui tengah menyerang kalang kabut kepada Cian-li-ji yang bergerak mengelilinginya dengan cepat sekali.

"Hek . . . . , " ciang-kui itu menjerit tertahan ketika tengkuknya dicengkeram Huru Hara. Dia berusaha untuk meronta sambil gerakkan kaki dan tangan untuk memukul dan menyepak. Tetapi semakin dia bergerak, semakin tulang tengkuknya seperti patah rasanya. Akhirnya dia menyerah tak berani berkutik lagi.

"Hayo, katakan, mengapa engkau berani membuat bak- pau berisi daging manusia!" bentak Huru Hara.

"Ampun, hohan . . . , " akhirnya pemilik rumah-makan itu meratap minta ampun.

"Aku dapat memberi ampun atau tidak tergantung engkau sendiri. Kalau engkau mau menjawab pertanyaanku secara jujur, engkau boleh mengharapkan ampun itu," kata Huru Hara.

"Baiklah, silakan hohan bertanya."

"Mengapa engkau menjagal manusia dan dagingnya engkau jadikan isi bak-pau?"

"Sebenarnya dulu aku tidak berbuat begitu. Tetapi setelah tentara negeri ( kerajaan Beng ) mundur ke daerah sini, sukar sekali mendapat ternak. Sapi, kerbau, babi, ayam telah diambil untuk ransum tentara. Akhirnya datang orang menawarkan daging orang. Lebih murah dan lebih lezat, katanya. Akhirnya karena benar2 sukar untuk mencari ternak, aku mencoba tawaran orang itu. Harganya murah dan memang rasanya lebih enak "

"Siapa yang menawari engkau itu?" "Itu . . . . , " ciang-kui menunjuk pada lelaki kasar yang menggeletak di lantai, "mereka bertigalah yang mengirim potongan2 tubuh manusia ke rumah makanku itu."

"Dari mana mereka mendapatkan potongan tubuh orang itu?"

"Aku .... aku tak tahu, hohan . . . Aku hanya menerima dan membayar harganya saja ..."

"Paman Cian, bangunkanlah orang itu!" seru Huru Hara. Ciau-li-ji menyeret lelaki kasar itu dan me-nampar-

nampar mukanya supaya bangun.

"Hai, bangsat, dari mana engkau mendapatkan potongan daging manusia itu!" bentak Huru Hara.

Lelaki kasar itu tahu bahwa dirinya tentu takkan terhindar dari hukuman. Sama2 akan dibunuh, lebih baik dia bersikap keras tak mau mengakui perbuatannya, "Siapa mengatakan aku berbuat begitu?" serunya menantang.

"Kawanmu pemilik rumahmakan ini!"

"Bohong!" teriak lelaki kasar itu, "aku tak tahu menahu soal itu. Aku datang kesini sebagai tetamu."

"Hm, engkau masih menyangkal?"

"Dia memfitnah aku! Dia sendiri yang menjagal manusia untuk dijadikan isi bak-pau!" teriak lelaki kasar itu.

"Hm, engkau memfitnah, ya?" Huru Hara deliki mata kepada pemilik rumahmakan.

"Tidak, hohan, tidak. Aku berkata  dengan sesungguhnya! "

"Engkau berani menghadapinya?" "Berani, harap hohan lepaskan tengkukku," kata pemilik rumahmakan.

"Baik," Huru Hara melepaskan cengkeramannya. Dan ciang-kui itu terus menghampiri ke hadapan lelaki kasar lalu menuding mukanya, "Jangan menyangkal engkau! Engkaulah yang mengirim potongan2 daging manusia itu?"

"Baik, kuakui," seru lelaki kasar itu, "tetapi kalau engkau tidak mau menerima, masakan aku melanjutkan pekerjaan itu. Semisal tadi, engkau-pun pesan kepadaku suruh mencarikan selusin anak perempuan yang masih dara dan selusin anak laki yang masih jejaka ..."

"Itu bukan aku tetapi aku juga menerima pesanan dari seorang pembesar ..."

"Bu-Iiang-siu-hud!" tiba2 terdengar seseorang berseru  dan serempak muncullah seorang imam ke dalam rumahmakan itu, "apakah yang terjadi di-sini? Mengapa meja kursi tumpah ruah begini macam?"

Imam itu bertubuh kurus, berumur lebih kurang 60-an tahun. Matanya yang cekung dan pelipisnya yang menonjol, menandakan dia memiliki ilmu Iwekang (tenaga- dalam ) yang tinggi. Pelahan-lahan saja dia berseru tetapi dalam pendengaran orang2 itu seperti terngiang letusan mercon.

"Hai, mengapa sicu berdua hendak berkelahi? Ah, tak baik Orang bermusuhan iru," tiba2 imam itu menyiak. Dengan tangan kiri dia menyiak dada ciang-kui, dengan tangan kanan dia mendorong dada lelaki kasar. Sepintas memang seperti orang yang hendak melerai.

Kemudian dia menghampiri Huru Hara dan mendorongnya, "Si-cu, sudahlah, silakan duduk iagi…." Tetapi mulut imam aneh itu terdengar mendesuh kejut ketika dia terdorong mundur dua Iangkah, sedang Huru Hara yang didorongnya itu hanya tersurut selangkah, "O, apakah sicu tak mau menghargai permintaanku ?"

"Sudahlah, jangan ikut campur, engkau tak tahu persoalannya," bentak Huru Hara.

"Bu-liang-siu-hud," seru imam aneh itu, "Jika sicu memang hendak mengumbar kemarahan, lebih baik aku keluar saja dari sini. . .Dia terus melangkah keluar dan lenyap.

"Hai, ciangkui, mengapa engkau diam saja ? Pembesar siapakah yang menyuruh engkau mencari dua lusin anak itu

? Apa perlunya ?" seru Huru Hara.

Ciang-kui diam saja. Matanya masih mendelik memandang kearah lelaki kasar.

"Hai, ciangkui, apa engkau tuli ?" bentak Huru Hara pula. Dan karena ciang-kui itu tetap tak menghiraukan, Huru Hara menampar bahunya," hai, ciang-kui, mengapa engkau membisu sa .. .. hai !" tiba2 Huru Hara berteriak kaget karena ciang-kui itu rubuh.

Cian-li-ji terkejut dan cepat mengangkatnya, "Hai, dia….mati!"

Bukan kepalang kejut Huru Hara. Mengira kalau lelaki kasar itu yang melakukan, dia membentaknya, "Hai, mengapa engkau berani membunuhnya!"

Tetapi lelaki kasar itu diam saja dan hanya deliki mata kepada ciang-kui. Huru Hara menampar bahunya, "Hai, mengapa bisu saja ! Seperti waktu menampar ciang-kui tadi, Huru Harapun memekik kaget karena lelaki kasar itupun terjungkal rubuh. Huru Hara buru2 berjongkok memeriksa pernapasannya.

"Dia sudah mati tiba2 terdengar sebuah suara yang halus dan merdu. Huru Hara berpaling. Serentak dia berbangkit sesaat melihat seorang nona bertutup cadar tegak ditempat itu. Dibelakangnya tampak Ah Liu.

"Apa katamu ?" Huru Hara menegas.

"Dia sudah mati, perlu apa engkau periksa pernapasannya ?" kata nona bercadar itu ?"

"Bagaimana engkau tahu ?"

"Lihatlah, bukankah matanya mendelik dan bibirnya  biru ?"

Huru Hara berpaling sejenak, "Ya, benar, bagaimana engkau tahu ?"

"Dia terkena pukulan jenis Siu-lo-im-sat-kang yang ganas. Urat2 jantungnya putus seketika."

"O, lalu siapakah yang membunuhnya ?" "Engkau !"

"Gila !" teriak Huru Hara, "aku sedang mencari keterangan mereka, perlu apa akan membunuhnya."

"Ya, kutahu," kata nona itu, "seharusnya engkaupun sudah tahu juga siapa pembanuhnya itu."

"Imam tua tadi ?"

"Yang dekat hanya engkau dan dia. Kalau engkau tidak, tentulah imam itu !"

"Siapakah imam itu ?"

"Tanya saja kepadanya !" sahut si nona. Huru Hara menyeringai, '"Mengapa dia mem bunuh kedua orang ini ?"

"Untuk menghapus jejak," sahut si nona dengan tenang, "dia adalah orang yang berkepentingan dengan pesanan dua lusin anak kepada ciangkui itu."

"Bagaimana engkau tahu ?"

"Menduga saja," sahut si nona, "apa engkau mempunyai pendapat lain?"

Huru Hara diam sejenak, kemudian berkata, "Dia tadi juga mendorong aku. Memang tangannya memancarkan arus tenaga yang panas sekali."

"Engkau harus hati2 dia seorang jago ilmu pukulan yang hebat." si nona memberi peringatan.

"Baik," sahut Huru Hara, "eh, mengapa engkau memberi bantuan kepadaku ?"

"Kalau engkau tidak merampas bak-pau yang kupesan tadi, kemungkinan aku tentu makan bak-pau yang menjijikkan itu. Aku hanya membayar kebaikanmu tadi,” kata nona itu kemudian menggamit Ah Liu.

"Bung, maafkan kurang-ajarku tadi menampar engkau," Ah Liu menghaturkan maaf kepada Huru Hara.

"Tak perlu urusan sekecil itu engkau harus minta maaf. Masih banyak urusan besar yang akan menimpa kita," kata Huru Hara.

"Ya, benar," tiba2 Cian-li-ji menyelutuk, "makanya jadi anak perempuan jangan galak2."

Ah Liu cemberut tetapi si nona tersenyum Ia senang karena bujangnya itu ketemu batunya. "Sampai jumpa," kata nona itu seraya melangkah pergi diikuti Ah Liu.

Huru Hara terlongong. Sebenarnya ia masih ingin bertanya lagi. Tetapi apa boleh buat, tak-baik mengganggu orang terutama gadis.

"Panggil seluruh kawanmu !" perintah Huru Hara kepada pelayan Ah Sing yang masih tegak dengan tubuh gemetar.

Tak berapa lama belasan pelayan dan tukang masak berjajar-jajar menghadap Huru Hara.

"Sebenarnya rumahmakan ini hendak kubakar," kata Huru Hara, "tetapi mengingat kalian tentu kehilangan pekerjaan dan orang2 masih membutuhkan adanya sebuah rumahmakan ditempat ini maka rumahmakan ini biar tetap buka. Siapa keluarga ciang-kui ?"

Seorang wanita gemuk maju, "Aku isterinya.”

Huru Hara terkesiap melihat tubuh wanita yang begitu gemuk, "Hai, tukang masak," serunya, "apakah sudah lama nyonya ini menjadi isteri majikanmu?"

"Baru dua tahun, hohan."

"Baru dua tahun? Bukankah ciang-kui itu sudah setengah tua? Apakah dia baru menikah sekarang?"

"Tukang masak gelengkan kepala, "Sudah beberapa  kali."

"O, apakah isteri2 itu diceraikan semua?"

"Ciang-kui memang gemar menikah. Maklum dia orang kaya, setiap kali tentu cari gadis yang masih perawan. Biasanya dia senang mengambil gadis dari keluarga miskin, syukur yang sudah sebatang kara."

"Lalu kemana mereka itu sekarang?" "Mati semua!" "Mati?"

'"Ya, paling lama tiga tahun, isteri2 itu tentu meninggal."

"Setan!"' tiba2 Huru Hara mencekik leher baju si tukang masak, "'katakan yang jujur, apa sebab isteri2 itu mati semua?"

'"En . . . tahlah," kata tukang masak gemetar, yang jelas setiap isterinya tentu bertubuh gemuk.

"Dimana kubur mereka!" Huru Hara makin tegang. Ia makin curiga.

"Setiap kali seorang isteri mati tentu ada orang yang datang mengambil untuk dibawa pulang ke kampungnya. Tetapi besoknya, kami tentu menerima karung berisi potongan daging manusia "

"Setan engkau . . . ! " tiba2 karena marah, Huru Hara telah mendorong tukang masak itu. Bluk dorongan yang

dilakukan biasa saja itu ternyata akibatnya mengejutkan sekalian orang. Tukang masak itu terlempar sampai dua tombak dan tepat membentur tiang besar. Dia menjerit ngeri dan terus rubuh lunglai karena tulang punggungnya pecah dan nyawanya amblas.

Ngeri sekalian orang menyaksikan tenaga Huru Hara yang sakti itu. Kawanan tukang masak dan pelayan2 rumahmakan itu serta merta berlutut minta ampun, "Hohan, ampunilah jiwa kami. Kami benar2 tak tahu tentang perbuatan majikan kami.”

Huru Hara berkata kepada isteri ciang kui, "Hm, untung engkau tak keburu dijagai oleh suamimu!

Perempuan itupun berlutut menghaturkan terima kasih. Huru Hara memberi perintah supaya rumah di kebun belakang itu dibakar dan semua alat2 dan perabot dapur dibuang, diganti baru

"Nyonya, engkau boleh melanjutkan usaha rumahmakan ini. Tetapi ingat, kalau lain kali aku datang kemari, kalian masih melakukan perbuatan terkutuk itu, kalian semua akan kubunuh!"

Isteri pemilik dan segenap karyawan rumahmakan berlutut dan berjanji akan melaksanakan perintah Huru Hara.

"Paman, mari kita pergi!" Huru Hara terus melangkah. Tetapi dia terkejut ketika di jalan tampak beberapa orang yang siap bertempur. Dan lebih terkejut ketika yang akan bertempur itu ada lah nona bercadar beserta bujangnya Ah Liu. Nona dan bujangnya itu dihadang oleh tiga orang lelaki. Salah seorang adalah yang marah kepada Ah Liu dan hendak melemparkan dara itu tetapi sebelum sempat melaksanakan niatnya, tiba2 tangannya melentuk tak dapat digerakkan tadi.

Huru Hara dan Cian-li-ji cepat menghampiri, "Nona, kenapa ini?" tegurnya.

"Menyingkirlah, ini bukan urusanmu!" bentak nona bercadar itu.

"Hayo, kasih tahu namamu. Aku tak pernah membunuh seorang tanpa nama apalagi seorang budak perempuan," seru lelaki yang mukanya tersiram bubur tadi.

"Apa tujuanmu menghadang aku? Hendak mengajak bertempur atau tanya nama?" sahut si nona bercadar.

"Hm, jangan kira aku tak tahu ilmu kepan daianmu Tan- ci-sin-kang itu," seru orang itu pula, "tetapi mengapa tanpa hujan tanpa angin engkau menyerang aku dengan ilmu itu?" "Nona ini," sahut si nona bercadar, "adalah kawanku. Mengapa hendak engkau lemparkan semaumu sendiri saja?"

"Dia menabrak mejaku sehingga mukaku sampai terlumur bubur panas.""

"Tapi dia tak sengaja. Dia juga terdorong ke belakang!'" "Siapa yang mendorongnya?"

"Tak perlu cari lain urusan. Batasi saja sampai persoalan kawanku ini!"

"'Hm, anak perempuan, jangan bicara seenakmu terhadap aku. Tahukah engkau siapa kami bertiga ini?"

"Tak ada gunanya mengetahuinya!"

"Hm, rupanya engkau menganggap dirimu sudah jagoan yang tiada tanding," kata lelaki itu, "aku bersedia menghabiskan perkara ini dengan dua syarat."

"Terserah."

"Budak perempuan itu harus berlutut dihahapanku minta maaf Dan kedua, engkau harus membuka kain cadar dan memperlihatkan wajahmu yang sebenarnya!"

"Kentut busuk!"' tiba2 Ah Liu berteriak, "siapa sudi minta maaf kepadamu?''

"Hm, budak liar, kalau tak merasakan tanganku, engkau tentu masih nengil," tiba2 salah seorang dari ketiga lelaki itu, melangkah maju.

Rupanya Ah Liu juga panas hatinya karena dimaki budak liar itu. Dia loncat menyongsong ke muka. "Huh, engkau mau menghajar aku ? Akan kurobek mulutmu yang lebar itu !" Memang orang itu bermulut lebar, hidung mekar dan mata besar dengan alis lebat. Dia bernama Ciok Kui bergelar si Tangan- bubrah. Dia berlatih ilmu Thiat-sat- ciang atau pukulan Pasir-besi. Kalau pukulannya mengenai, tubuh lawan tentu mlonyoh seperti dibakar. Dan kalau mencengkeram, tubuh lawan yang dicengkeram itu akan rusak atau bubrah. Tak diketahui berasal dari perguruan mana, hanya yang jelas dia. seorang tokoh hitam yang terkenal di daerah utara.

Nona bercadar terkejut. Namun untuk mencegah sudah tak keburu lagi. Diam2 dia bersiap untuk memberi pertolongan di saat yang diperlukan, "Hm, budak itu memang bernyali besar. Tetapi dia memang berbakat dan giat sekali berlatih silat," katanya dalam hati.

"Setan engkau !" Ciok Kui terus loncat menerkam, la ingin dara itu menangkis dan pada saat itu dia hendak merobah menjadi cengkeraman.

"Bagus mulut besar," seru Ah Liu seraya song-songkan tangannya menangkis.

"Budak edan," maki Ciok Kui dalam hati. Cepat dia tebarkan tangan hendak mencengkeram.

"Uh......," tiba2 dia menjerit kaget ketika tiba2 Ah Liu juga menebarkan tinju, telunjuk jarinya menutuk telapak tangan lawan.

Di tengah telapak tangan terdapat sebua jalandarah yang disebut Lau-kiong-hiat. Apabila jalandarah itu tertutuk, tentu tenaga ilmu kepandaiannya akan merana alias hapus. Itulah sebabnya maka Ciok Kui menjerit dan loncat mundur.

"Ih, mengapa mundur ?" ejek Ah Liu seraya menertawatakan. Ciok Kui marah sekali. Dihadapan kedua kawannya, dalam gebrak pertama saja dia sudah hampir menderita kerugian dari seorang dara yang tak dikenal. Dengan sebuah gerak Tok-coa-tho-sin atau Ular-beracun- menjulurkan-lidah, kedua tangannya bergerak cepat. Tangan kanan memagut (menutuk) mata Ah Liu dan tangan kiri meremas buah dada.

"Bajingan !" teriak Ah Liu karena marah atas perbuatan lawan yang cabul

itu.  Dengan berani, dara itu menggunakan jurus Kim-tiau tian-ki     atau Elang-emas- merentang- sayap.   Secepat kilat dia menebas tangan    lawan

yang hendak menutuk matanya.

Tetapi  Ciok Kui juga hebat. Ternyata gerakan tutukannya   itu hanya suatu

siasat. Secepat Ah   Liu  hendak

menebas, diapun segera mengganti pukulan dengan cengkeraman, menerkam tangan Ah Liu. Ah Liu terkejut. Cepat dia mengirim tendangan. Uh. ,

Ciok Kui masih dapat berkisar ke samping dan kini melanjutkan cengkeramannya ke bahu dara itu.

Dalam kedudukan kaki kanan sedang menendang dan bahu terancam terkaman Ah Liu ternyata masih dapat meloloskan diri.

"Ah....." mulut Ciok Kui mendesis kejut ketika tubuh dara itu melambung ke belakang dalam jurus Kek-cu-hoan- sim atau Merpati-membalik-tubuh. Dara itu melakukan sebuah gerak salto ke belakang dengan indah sekali.

"Hm, ilmu gin-kangnya maju sekali," kata nona bercadar dalam hati ketika menyaksikan gerakan Ah Liu.

Kini kedua orang itu terlibat lagi dalam serang- menyerang yang hebat. Ciok Kui memang hebat sekali. Pukulannya keras dan memancarkan hawa panas. Tetapi betapapun dia hendak menyerang namun tetap tak mampu menyentuh tubuh Ah Liu. Dara itu bergerak gesit sekali.

Ciok Kui makin marah. Dia malu sekali dihadapannya kedua kawan, tak mampu mengalahkan seorang dara saja. Apabila hal itu sampai tersiar keluar, dia tentu tak dapat berdiri lagi dalam dunia persilatan.

"Budak perempuan ini harus kuhancurkan," Ciok Kui membulatkan keputusan dan segera dia salurkan tenaga- dalam ke tangannya.

"Ah Liu, awas, dia mengeluarkan pukulan beracun, jangan ditangkis," nona bercadar cepat berseru memberi peringatan kepada Ah Liu sesaat melihat telapak tangan Ciok Kui berwarna merah.

Ah Liu memang memperhatikan juga telapak tangan lawan yang kemerah-merahan itu. dia segera merobah permainannya dan mengeluarkan ilmusilat Co-kut-hun-kin- kang atau pukulan Menggeser- tulang- mencerai- urat.

Lelaki yang beralis tebal dan tubuh tegap, segera berseru pelahan, "Ah, ilmu pukulan Co-kut-hun-kin-kang dari perguruan Kun-lun-pay."

Namun dia tak mau memberi peringatan kepada kawannya yang sedang bertempur itu. Dia segan untuk menyinggung perasaan orang. Begitu pula dia takut ditertawakan Ah Liu karena memberitahu kepada kawannya.

Sedangkan si nona bercadar juga diam2 ter kejut, "Ah, budak itu baru setengah tahun kuberi ajaran ilmu itu. Dia tentu belum mahir."

"Mampus engkau!" bentak Ciok Kui seraya menghantam kepala Ah Liu. Tetapi seketika itu diapun mendesuh kaget ketika Ah Liu menghindar kesamping dan sebelum ia sempat merobah kekedudukannya, tiba2 ia rasakan iga dibawah ketiak kanan tertusuk benda dan seketika itu rasanya seperti terkena aliran listrik sehingga lengannya mengencang kaku tak dapat digerakkan. Plak .... plak ....

Terdengar dua buah tamparan. Yang satu berasal dari tangan Ah Liu yang menampar si mulut lebar Ciok Kui sehingga dua buah giginya rontok. Tetapi berbareng itu lelaki beralis tebal tadipun sudah loncat dan menampar bahu Ah Liu sehingga Ah Liu terhuyung-huyung beberapa langkah.

"Bangsat, engkau curang!" sesosok tubuh serempak melayang ke tengah medan dan menuding lelaki beralis tebal itu.

"Ho, kalau aku benar2 mau menghantar kawanmu itu, dia tentu sudah remuk. Aku hanya menampar bahunya supaya jangan keliwat menghina kawanku," sahut lelaki beralis tebal itu.

Cian-li ji terkejut ketika melihat Ah Liu sempoyongan dan jatuh terduduk di tanah. Cepat dia menghampiri hendak memberi pertolongan, "Anak perempuan, minumlah arakku ini menyodorkan botol araknya.

Ah Liu deliki mata lalu meram dan duduk bersila untuk menenangkan darah dalam tubuhnya yang bergolak keras.

"Ih, budak perempuan ini memang keras kepala. Arakku ini mengandung kolesom yang berkhasiat tinggi untuk memulihkan tenaga," Cian-li-ji bersungat-sungut.

"Tapi jangan takut, anak perempuan," katanya pula, "kalau engkau menampik arakku, berarti engkau suruh aku membalaskan kekalahanmu kepada orang itu. Baiklah. "

tanpa menunggu jawaban, kakek kate itu terus maju ke tengah gelanggang. Karena lelaki beralis tebal sudah berhadapan dengan si nona bercadar maka dia mencari lelaki yang mukanya berlumur bubur hangat tadi.

"Hayo, engkau harus menerima tamparanku," teriak Cian-li-ji terus maju menampar. Sudah tentu orang itu marah. Dia menghindar dan balas menyerang.

"Bujangmu si kate itu sungguh berandalan sekali," seru lelaki beralis tebal kepada nona bercadar.

"Dia bukan bujangku!" bentak nona bercadar. "Lho, mengapa dia menyerang kawanku."

"Jangan banyak mulut! Biar mereka membereskan urusannya sendiri, engkau dengan aku!" bentak nona bercadar.

"Menilik kawanmu tadi pandai silat, engkau tentu juga seorang li hiap. Siapa namamu?" "Kita bertempur apa berkenalan? Kalau bertempur akan kulayani tetapi kalau mau cari tahu nama. pergilah!"

"Baik,.. sahut lelaki itu, "'engkau tentu seorang persilatan. Tentulah engkau pernah mendengar nama Tui- hong-pian (Ruyung angin puyuh) Gak Si Bun yang termasyhur di dunia persilatan itu, bukan?"

"Peduli apa!"

"Akulah Gak Si Bun itu. Jika engkau kenal selatan, lekaslah engkau menjurah dan minta maaf. Mengingat engkau seorang gadis, akupun dapat memberi ampun. Tetapi kalau engkau tetap berkeras kepala, hm "

"Hm, bagaimana? Kalau aku takut, masakan aku berdiri disini!"

"Baiklah, akan kujajal sampai dimana keli-hayan murid perguruan Kun-lun-pay itu!" seru Gak Si Bun.

Nona bercadar terkejut dalam hati namun dia tetap bersikap tenang, "Hayo, mulailah!"

Gak Si Bun ingin menjajal dulu sampai dimana kepandaian nona itu. Apabila memang lihay, barulah dia nanti menggunakan pian atau ruyung.

Thui-jong-ong-gwat atau membuka-jendela-memandang- rembulan adalah jurus pembukaan yang dilakukan Gak Si Bun. Maksudnya apabila lawan bergerak, dia terus hendak mengganti dengan lain jurus.

Tetapi ternyata nona beicadar itu tenang2 saja. Terpaksa Gak Si Bun lanjutkan serangannya. Tepat pada saat tangan Gak Si Bun hampir menyentuh dada lawan, nona bercadar itu kisarkan tubuh dan secepat kilat menujuk jalandarah Jiok-ti-hiat pada persambungan lengan orang. "Uh……..,” Gak Si Bun terkejut dan cepat menarik lengannya. Tetapi dia tetap rasakan lengan kanannya kesemutan, "Tan-ci-sin-kang ..." serentak dia teringat akan ilmu tutukan jari sakti dari nona itu. Kawannya yang mukanya terpopok bubur panas tadi, juga menderita ilmu Tan-ci-sin-kang dari nona bercadar itu.

Tan-ci-sin-kang atau selentikkan jari sakti, merupakan gerakan jari yang dilambari dengan tenaga-dalam. Jika Biat- gong-ciang atau pukulan membelah-angkasa, merupakan pukulan tenaga-dalam yang dilontarkan dari jauh, pun ilmu Tan-ci-sin-kang itu merupakan tutukan jaii dari jarak jauh.

Walaupun nona bercadar itu belum mencapai tataran tinggi dalam ilmu Tan-ci-sin-kang, tetapi karena jaraknya begitu dekat, walaupun tidak mengenai lengan tetapi anginnya cukup tajam sehingga membuat jalandarah Jiok- ti-hiat lengan Gak Si Bun kejang.

"Masih dilanjutkan ?" dengus si nona bercadar.

Marah wajah Gak Si Bun. Dia lengah dan agak memandang rendah pada si nona bercadar akibatnya dalam gebrak pertama saja dia sudah menderita kerugian. Lengan kanannya lunglai.

"Ya," sahutnya seraya mencabut ruyung dari pinggangnya. Ruyung itu lemas seperti ikat pinggang tetapi setelah digentakkan maka menjadi panjang sampai setombak panjangnya, Ruyung itu terdiri dari tujuh ruas. diberi alat yang dapat menyurut dan menjulur. Jit-aat-tui- hong-jjian atau Ruyung-angin-puyuh-tujuh-ruas, demi kian nama ruyung itu. Terbuat dari baja lemas yang tahan ditabas senjata tajam.

Nona bercadar itu terkesiap. Dari gurunya ia mendapat pengetahuan bahwa ruyung itu merupakan senjata lemas yang amat berbahaya. Orang yang menggunakan senjata ruyung tentu memiliki tenaga-dalam yang hebat. Nona itu pun segera mencabut pedangnya.

Sring. mulailah ruyung berhamburan melayang kearah

nona bercadar. Anginnya memancarkan bunyi yang mendesing tajam sekali. Dalam beberapa saat saja nona bercadar sudah terkurung oleh sambaran ruyung. Memang sesuai sekali ilmu permainan ruyung Tui-hong-pian itu dengan kenyataannya.

Nona bercadar itupun tak berani lengah. Dia segera keluarkan permainan ilmupedang simpanannya yang disebut Hui-eng-hwe-suan-kiam-hwat atau ilmupedang Burung Elang-berputar-melayang-layang.

Pedang memang merupakan senjata yang paling sukar dipelajari tetapipun paling berbahaya. Ilmupedang Burung- elang-berputar-melayang-layang itu mengutamakan kelincahan dan kecepatan. Waktu dimainkan oleh nona bercadar maka tampaknya segulung sinar putih yang berputar-putar menyambar kian kemari, merobek-robek kepungan sinar ruyung.

"Bagus, bagus !" seru Cian-li-ji sembari bertepuk tangan memuji adegan pertempuran itu.

"Apanya sih yang bagus ?" lengking Ah Lui "Pertempuran itu," sahut Cian-li-ji, "tetapi sayang. "

"Apanya yang sayang ?" kembali Ah Liu meladeni ocehan Cian-li-ji.

"Gerakan nona kawanmu itu masih kurang cepat," kata Cian-li-ji.

"Uh, ngomong sih gampang saja," gumam Ah Liu, "coba kalau melakukan sendiri, apakah engkau mampu lebih cepat dari nonaku ? 

ji. "'Bisa mengatakan tentu bisa melakukan," sahut Cian-li-

"Uh, tak percaya !"

"Apa ? Engkau tak percaya padaku ? Coba katakan, akan kutampar muka mereka. Coba engkau pilihkan yang mana

?"

Ah Liu memang seorang dara yang lincah dan suka mengolok orang. Sejak di rumahmakan tadi, dia belum sempat melihat ilmu gerak-cepat dari Cian-li-ji. Maka diapun segera berkata, "Tuh, coba yang mukanya terpopok bubur panas tadi. Tamparlah pipi kanan kirinya kalau engkau mampu !"

"Lihat. ," tiba2 Cian-li-ji melesat. Lelaki yang mukanya

terpopok bubur itu bernama Tian Wi, seorang murid peiguruan Ceng-shia-pay. Dia terkejut ketika tahu2 sesosok bayangan kecil menyambarnya. Sebelum dia sempat berbuat apa2, tahu2 plak.... pipi kanan dan kiri, telah ditampar sekeras-kerasnya.

"Auh… ,” dia menyurut mundur beberapa langkah.

"Hi, hi, hi ," Ah Liu tertawa mengikik melihat Tian

Wi menderita kesakitan itu.

"Bagaimana ? Engkau percaya atau tidak ?" seru Cian-li- ji dengan bangga.

"Ih ……..,” tiba2 ditengah gelanggang terdengar si nona bercadar mendesis kejut dan loncat ke belakang dalam keadaan terpontang-panting.

"Celaka !" Ah Liu berteriak seraya terbeliak memandang keadaan nonanya. Cian-li-ji terkejut dan berpaling. Dia pun kaget sekali melihat Gak Si Bun sedang maju dan ayunkan ruyungnya kepada nona bercadar yang masih berdiri tegak.

Serentak dia loncat, wut.....Tetapi saat itu juga, Huru Harapun sudah melayang ke tengah gelanggang dan menangkis dengan tongkatnya.

Plak.....

Pada saat ruyung tertahan tongkat, tiba2 pipi Gak Si Bun ditampar orang. Sebenarnya saat itu Gak Si Bun hendak menarik ruyungnya yang melilit tongkat Huru Hara tetapi karena pipinya ditampar, kepalanya agak puyeng dan mata berkunang-kunang dan uh.....ia tersentak kaget ketika ruyung terlepas dari tangannya.

"Nih, ruyungmu!" seru Huru Hara seraya melemparkan ruyung yang terlilit pada tongkatnya.

Tamparan Cian-li-ji dan tangkisan tongkat Huru Hara yang setelah diliIit ujung ruyung terus ditariknya itu, hampir berbareng waktunya. Ketika sadar, Gak Si Bun terkejut. Tetapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Huru Hara sudah melemparkan ruyung kepadanya. Terpaksa dia menyambuti. Setetah tahu apa yang terjadi, marahlah dia.

"Bangsat, engkau berani, turut campur !" teriaknya seraya ayunkan ruyung menyerang Huru Hara. Tetapi sebelum Huru Hara sempat bergerak, nona bercadarpun sudah melesat menyerang Gak Si Bun.

Pertempuran antara nona bercadar dengan Gak Si Bun berlangsung lagi dengan seru. Tadi Gak Si Bun berhasil mencuri sebuah kesempatan untuk menghantam bahu nona bercadar dengan tangan kanan. Tangan kanannya yang tertutuk ilmu Tan-ci-sin-kang tadi sudah dapat digerakkan lagi. Sekonyong-konyong terdengar derap kuda berlari mendatangi dan pada lain saat muncullah dua penunggang kuda. Yang satu seorang pemuda cakap dan yang satu seorang imam tua. Imam tua itu tak lain adalah imam yang masuk kedalam rumahmakan dan dengan pura2 melerai, dia telah membunuh ciang-kui dan lelaki kasar.

"Hai, berhenti Gak sucia !" seru pemuda cakap itu.

Gak Si Bun kenal dengan suara pemuda itu. Cepat dia loncat mundur. Nona bercadarpun berhenti.

"Ai, nona Su," seru pemuda itu seraya turun dari kudanya, "mengapa kalian ini ?" kemudian dia berpaling kearah Gak Si Bun, Gak sucia, apakah engkau bertempur dengan Su sio-cia?"

"Ya," sahut Gak Si Bun pelahan.

"Ah, untung aku datang," seru pemuda itu pula, "kalau tidak tentu akan timbul peristiwa yang hebat."

"Mengapa begitu ? Siapakah nona itu ?" tanya Gak Si Bun terkejut.

"O, apakah anda belum tahu ?" Gak Si Bun gelengkan kepala, "Dia adalah nona Su Tiau Ing, puteri dari Su Go Hwat tayjin. "

"Hai !” teriak Gak Si Bun terkejut, “puteri Peng-poh- siang-si Su Go Hwat tayjin ?"

"Engkau ini bagaimana Gak sucia," keluh pemuda itu, "masakan engkau tak tahu ?"

"Maaf, Ma kongcu," kata Gak Si Bun, "tugasku adalah berkeliling kedaerah-daerah. Dan pula Su tayjin juga akhir2 ini jarang berada di kota raja. Aku benar2 tak tahu kalau Su tayjin mempunyai puteri yang begitu lihay." "Maafkan aku Su siocia." Gak Si Bunpun memberi hormat kepada gadis bercadar yang ternyata adalah puteri dari Peng-poh-siang-si atau mentri pertahanan Su Go Hvvat.

"Su siocia, paman Gak Si Bun ini adalah salah seorang kepercayaan ayahku. "kata pemuda cakap itu memperkenalkan Gak Si Bun.

"O, tak apalah. Kita sama2 tak tahu, maka tak salah," kata nona bercadar yang ternyata bernama Su Tiau Ing.

"Tetapi nona Su. apakah yang telah terjadi sehingga sampai timbul salah faham ini?"

Su Tiau Ing menceritakan tentang peristiwa di rumahmakan dan tentang Ah Liu yang telah membentur meja sehingga mula Tian Wi sampai berlumur bubur panas.

"O, karena belum kenal siapa nona, maka dapat dimaklumi kalau paman Gak Si Bun marah dan hendak membela anakbuahnya," kata pemuda itu, "mengenai pemilik rumahmakan, dia memang pantas dibunuh karena telah melakukan perbuatan begitu keji."

"Aku hendak b;cara !"

Sekalian orang terkejut dan berpaling mendengar kata2 itu. Ternyata berasal dari Huru Hara.

"Nona Su, siapakah dia ? Apakah dia bersama nona ?" tanya pemuda itu.

"Aku juga tak kenal," sahut Su Tiau Ing, "hanya dialah yang dapat menemukan bak-pau berisi daging orang iru sehingga dia marah."

"O," kata pemuda cakap itu, "baiklah, silakan anda berkata," katanya kepada Huru Hara.

"Siapakah anda ini ?" tanya Haru Hara. "Aku Ma Sun, putera tay-hak-su Ma Su Ing!" kata pemuda itu dengan nada bangga. Ia menjura setelah mendengar namanya itu temulah Haru Hara akan buru2 memberi hormat. Tetapi ternyata pemuda itu tenang2 saja dan melanjutkan pertanyaan, "Dan siapakah imam itu?"

"O, inilah Hun Hun tojin, salah seorang tokoh dari Sam- to (tiga serangkai imam) yang termasyhur itu," kata Ma Sun.

"Baik," kata Huru Hara, "mengapa dia membunuh pemilik rumahmakan dan lelaki kasar dalam ruang rumahmakan tadi?"

Ma Sun berpaling kepada Hun Hun tojin dan tojin itupun segera menyahut, "Aku hanya melerai mereka. Semua tetamu menyaksikan hal itu."

"Benar, tetapi engkau telah menyalurkan tenaga- dalammu untuk menghancurkan jantung mereka," kata Huru Hara.

"Ah, tidak ”

"Memang tidak kentara caramu memancarkan ilmu tenaga-dalam jenis Siu-lo-im-sat-kang untuk membunuh mereka itu. Tetapi mengapa engkau lancang membunuh mereka?"'

"Tetapi aku benar2 tak membunuh mereka," bantah imam itu.

"Rupanya engkau tentu mempunyai maksud tertentu," seru Huru Hara.

"Jangan menuduh sembarangan!" kata Hun Hun tojin, "perlu apa aku harus membunuh mereka?"

"Sebenarnya saat itu aku sedang menyelidiki siapakah yang memesan dua lusin anak perempuan dan anak laki kepada ciang-kui itu. Belum mereka memberi keterangan tahu2 engkau sudah membunuh mereka. Bukankah ergkau memang sengaja hendak melenyapkan mulut mereka?"!

"Jangan memfitnah !" bentak Hun Hun tojin dengan muka merah, "siapa engkau ini ?"

"Aku yang bertanya, engkau yang menjawab!"

"Bu-liang siu-hud," seru Hun Hun tojin, “besar sekali lagak orang ini. Apa maksudmu?"

"Engkau harus menjawab pertanyaanku tadi!"

"Harus ? Ha, ha, ha ," Hun Hun tertawa ngakak," Ma

kongcu, tidakkah dunia ini sudah gila ? Seorang manusia yang aneh, telah mengharuskan orang kepercayaan tay- haksu Ma Su Ing untuk menjawab pertanyaan. "

"Sudahlah hwatsu, tak perlu melayani orang itu," kata Ma Sun lalu berkata kepada Su Tiau Ing si nona bercadar, "Ing-moay, mau kemanakah engkau ini ? Mari kita pulang ke Lam-khia kurasa paman Su tentu berada di kotaraja."

"Hai, anakmuda, kalau mau pulang, pulanglah. Tetapi tinggalkan dulu imam itu sebelum dia menjawab pertanyaanku," seru Huru Hara.

"Bangsat, engkau berani tak menghormat ke pada Ma kongcu putera Ma tay-haksu !" seru Hun Hun makin marah.

"Yang berpangkat adalah ayahnya, mengapa engkau suruh orang harus menghormat anaknya ?" balas Huru Hara.

“'Hm, engkau ini manusia atau berandal ? Kalau manusia tentu tahu aturan. Apakah engkau hanya mau menghormat seri baginda tetapi tak mau menghormat kepada puteranya para thay-swe-ya itu ?" "Itu dalam istana. Para mentri dan ponggawa kerajaan harus menghormat. Tetapi aku bukan ponggawa keraton dan disinipun bukan keraton. Asal aku tak menghinanya, itu kan sudah cukup baik. Mengapa aku harus disuruh menghormat seperti seorang hamba keraton ?" bantah Huru Hara.

"Dia memang benar," tiba2 Su Tiau Ing menyelutuk. Ma Sun terbeliak. Waktu dia hendak bicara, Su Tiau Ing sudah berpaling kepada Huru Hara, "sudahlah, tak perlu memaksa keterangan orang. Kalau engkau memang seorang pendekar sakti, engkau kan mampu menyelidiki sendiri hal itu. Apalagi ciangkui itu sudah mati."

Huru Hara diam.

"Ma kongcu, silakan melanjutkan perjalanan. Akupun hendak melanjutkan perjalananku," kata Su Tiau Ing pula.

"O, apakah Ing-moay tidak kembali ke ko-taraja ?" ^

Su Tiau Ing gelengkan kepala, "Aku hendak menemui Ko ciangkun untuk menyampaikan pesan ayah"

"O, baiklah," kata Ma Sun. Sebenarnya dia ingin menemani nona yang diidam-idamkannya itu. Tetapi dia tahu perangai Tiau Ing, "kalau begitu sampai ketemu di kotaraja."

Ma Sun segera mengajak Hun Hun tojin dan Gak Si Bun bertiga tinggalkan tempat itu. Setelah mereka pergi barulah Tiau Ing dan Ah Liu juga berangkat.

"Hayo, paman Cian, kita juga berangkat," kata Huru Hara. Mereka menghampiri keretanya yang masih berada di samping rumahmakan tadi.

Cian-li-ji membuka gerbong kereta untuk, melihat peti yang akan diantarkan kepada jenderal Ui Tek Kong. "Celaka!"   tiba2 Cian-li-ji memekik keras, "hian-tit, petinya hilang !"

"Hilang?" Huru Hara terkejut. "Ya."

-oodwoo-
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Cari Jodoh Jilid 05 Hujan bencana."

Post a Comment

close