Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 39

Mode Malam
"Pada saat sepasang telapak tangan kita mula-mula berjumpa, aku memang sedikit merasa seakan-akan tak sanggup mengendalikan diri lagi".

'`Cu cengcu, apakah kau pernah melatih ilmu untuk menyingkirkan tenaga orang?"

Cu Siau-hong memang pernah melatih kepandaian tersebut, itulah pelajaran dari si Koay sian Ui Thong yang mengajarkan   bagaimana   caranya   memindahkan  tenaga pukulan orang ke tempat lain, hanya saja dia sendiri tidak tahu.. Sebelum merasakan tenaga pukulan dari Kian Hui seng tadi, daya tekanan lawan yang serangannya datang bergelombang, tanpa terasa pemuda itu telah menggunakan ilmu untuk menyalurkan tenaga pukulan orang ke benda lain, kalau tidak niscaya dia akan dibikin terluka parah oleh serangan lawan yang maha dahsyat tersebut.

Cu Siau-hong tak bisa menjawab pertanyaan orang secara terang-terangan, tapi dia pun tak dapat menyangkal, maka sambil tertawa lebar katanya:

"Tenaga pukulanmu tampaknya jauh berbeda daripada tenaga pukulan orang lain'

"Aaai. dengan usia cengcu yang masih muda, ternyata

sanggup menerima pukulan penembus hatiku yang sangat dahsyat, hal ini menunjukkan kalau kepandaian silat yang kau miliki memang benar-benar sudah mencapai ketingkatan yang luar biasa '.

Mendengar perkataan itu diam-diam Cu Siau-hong merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya:

"Dia menyebut ilmu pukulannya sebagai ilmu pukulan penembus hati, tampaknya merupakan sejenis ilmu silat yang maha dahsyat dan mengerikan sekali, tak nyana pada saat ini aku berhasil menghindari serangan yang mematikan itu"

Padahal tiada sesuatu kejadian yang begini kebetulannya dalam kolong lagit, cuma saja Cu Siau-hong masih belum terlampau memahami diri sendri, dia tidak mengerti kalau saat ini kepandaian yang dimilikinya sudah amat hebat, terutama sekali ilmu untuk mengalirkan tenaga pukulan orang. Seandainya dia tahu akan hal ini dan berhasil melatihnya hingga mencapai kesempurnaan yang bisa menuruti perasaan sendiri, mungkin dia bisa manfaatkan pula kesempatan itu untuk balas menyerang lawan.

Cu Siau-hong merasa Kian Hui seng benar-benar adalah seorang manusia yang sangat menakutkan, dia tak dapat memberi kesempatan lagi kepadanya, sambil menghimpun tenaga serta merta serangan gencar dilancarkan secara bertubi-tubi.

Setelah menderita kerugian sekali, Cu Siau-hong telah bertindak lebih seksama dan cekatan, dia berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan kekerasan dengan tenaga pukulan lawan.

Oleh sebab itu selama pertarungan berlangsung, dia selalu melancarkan serangan disertai dengan lompatan lompatan, sementara tenaga pukulan lawan yang keras dan kuat, selalu dihadiri dengan kelitan-kelitan yang seksama.

Sejak serangannya gagal merobohkan musuhnya, Kian Hui seng telah menilai Cu Siau-hong kelewat tinggi, dia melakukan serangan maupun pertahanan secara cermat dan seksama.

Tapi puluhan gebrakan kemudian dia mulai merasa bahwa tenaga serangan lawan sesungguhnya tidak kelewat aneh dan sakti maka sambil tertawa tergelak dia mulai mengembangkan serangkaian serangan gencar yang bertubi tubi.

Tampak sepasang telapak tangannya diputar bagaikan roda, dalam waktu singkat sepasang tangan itu sydag melancarkan serangan sebanyak sembilan buah lebih. Ke delapan belas serangan tersebut bukan saja dilancarkan dengan suatu kekuatan yang luar biasa dan lagi dilepaskan pada saat yang hampir bersamaan.

Cu Siau-hong sebenarnya berada pada posisi menyerang secara berulang kali, tapi dengan cepatnya pula dia kena desak orang sehingga harus merubah posisinya dipihak yang bertahan.

Kian Hui-seng segera menghela napas panjang, serunya:

`Kau benar-benar seorang manusia yang sangat aneh..."

'Telapak tangannya melancarkan serangan-serangan yang lebih gencar lagi, memaksa Cu Siau-hong menjadi repot dan kalang kabut sendiri.

Setelah melancarkan serangan-serangan untuk membendung datangnya serangan Kian Hui seng yang datangnya secara bertubi-tubi, dia lantas balik bertanya:

"Apa yang kau herankan?"

"Sewaktu aku orang she Kian melancarkan pukulan penembus hati yang disertai tenaga pukulan yang begitu dahsyatnya, kau dapat menghindarkan diri secara mudah, sebaliknya serangan yang kulancarkan sekararg bukanlah terhitung sebuah pukulan yang aneh, tapi nyatanya kau seakan-akan seperti tak sanggup menahan diri"

Mendadak permainan kepalan tangan Cu Siau-hong telah berubah, jurus-jurus serangan aneh dilancarkan keluar berulang kali

Cu Siau-hong yang sebenarnya sudah berada dalam posisi yang terdesak dan terancam mara bahaya, dalam tiga sampai lima gerakan saja, dia telah berhasil memperbaiki posisinya yang amat buruk itu.. Sembari menahan ancaman-ancaman yang dilepaskan Cu Siau-hong, diam diam Kian Hui seng merasa terkejutnya bukan kepalang, diam-diam dia lantas berpikir:

“Ilmu silat yang dimiliki orang ini sungguh luar biasa hebatnya sebentar serangannya biasa sederhana dan tiada sesuatu yang luar biasa, tapi sebentar kemudian telah berubah menjadi lihay, aneh dan sakti sekali '

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit dua puluh gerakan kembali sudah lewat, selama ini serangan yang dilancarkan oleh Cu Siau-hong sebentar biasa sebentar aneh tapi dia selalu mempertahankan suatu keseimbangan dengan lawannya.

Dalam pertarungan yang amat seru, tiba-tiba saja Cu Siau-hong mengeluarkan sejurus serangan aneh. Jurus serangan aneh itu datangnya secara tiba-tiba dan sama sekali tidak mendatangkan bekas..

Kian Hui-seng sedang maju, sambil melancarkan serangan, kontan saja bahu kirinya kena terhajar serangan lawan secara telak.

Didalam serangan tersebut, tenaga pukulan yang disertakan amat berat dan dahsyat, tanpa terasa Kian Hui seng tergetar mundur sejauh satu langkah lebih.

Tapi Cu Siau-hong sendiripun merasakan pergelangan tangan kanannya menjadi kesemutan, seluruh lengan kanannya seakan-akan kehilangan tenaganya dan tak mampu diangkat lagi.

Telapak tangannya tadi seolah-olah menghantam diatas sebuah tubuh yang keras bagaikan baja, membuat separuh badannya ikut kesemutan pula.

Diam-diam ia menggertak gigi menahan diri, kemudian sambil     menunjukkan     sekulum     senyuman     katanya: 'Tampaknya kau telah berhasil melatih ilmu otot kawat tulang besi"

Paras muka Kian Hui seng telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dia menghela napas panjang.

"Aaai, selama hidup belum pernah lohu kena dihajar orang seperti hari ini, tapi kau nyatanya kau sanggup untuk menghantam diriku secara telak'

"Aaah, aku hanya secara untung-untungan saja berhasil menyarangkan pukulanku"

'Tiada suatu untung-untungan dalam pertarungan ini dan akupun tahu kalau seranganmu bukan berhasil karena secara kebetulan."

"Oooh ..."

'Serangan yang kau lancarkan itu aneh sekali, lohu merasa tak sanggup untuk menghindarkan diri. "Locianpwe terlalu sungkan

"Sekarang, mau tak mau lohu harus memikirkan kembali perkataanmu tadi"

“Memikirkan apa?"

"Memikirkan apakah aku perlu untuk kembali dan memperbincangkan kembali persoalan ini dengan mereka?"

"Lohu merasa tak berkeyakinan lagi untuk bisa menangkan dirimu"

"Betul", seru Cu Siau-hong cepat, “entah bagaimana hasil pertarungan selanjutnya lo-cianpwe memang sepantasnya untuk membicarakan persoalan ini sekali lagi dengan mereka"

Kian Hui seng manggut-manggut: "Baik", ucapnya demikian. "tunggulah lohu sebentar disini, aku akan pergi sebentar untuk menjumpai mereka"

Dia lantas membalikkan badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Memandang bayangan punggung Kian Hui seng yang menjauh, diam-diam Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, kemudian serunya:

"Tan Heng, kenalkah kau dengan orang ini?"

"Pernah mendengar orang membicarakan soal orang ini, tapi malam ini baru kujumpai untuk pertama kalinya"

'Ilmu silat yang dimiliki orang ini terlalu lihay, lagipula seluruh badannya keras bagaikan baja..."

"Sekalipun demikian, toh kongcu berhasil juga menghantamnya satu kali " seru Lik Hoo.

Cu Siau-hong menghela napas panjang.

"Kalian dengarlah baik-baik, sebentar jika dia balik kembali maka diantara kami berdua pasti akan berlangsung suatu pertarungan sengit, yang menentukan mati hidup berdua..”

'Kongcu, bila kau menggunakan tangan kosong lagi maka kau pasti akan menderita kerugian besar" sela Tan Heng.

"Aku tak mungkin mengajaknya bertarung dengan tangan kosong lagi, bila pertarungan berlangsung lagi, tapi pasti akan menggunakan senjata tajam untuk menyeliesaikannya"

"Ilmu pedang kongcu mempunyai suatu kesempurnaan yang luar biasa, aku yakin kongcu tak bakal kalah ditangannya" "Peluang untuk menangkan dia tidaklah terlalu besar, oleh karena itu begitu pertarungan kami berkobar nanti, kalian harus segera mengundurkan diri"

"Kongcu, kami mendapat perintah untuk mengikuti kongcu dan menyumbangkan tenaga serta nyawa kami untuk kongcu, kami rela mati demi kongcu, hidup demi kongcu, jika kongcu mati, buat apa kami tetap hidup di dunia ini, lagipula kehidupan kami di dunia ini hanya akan merupakan suatu lelucon besar belaka"

'Mati ada yang ringan adapula yang berat, cara kematian semacam ini sesungguhnya merupakan suatu kematian yang sama sekali tiada harganya"

'Kongcu, kami sudah pasrahkan nasib dan mati hidup kami kepada kongcu, hal soal ini bukan soal berharga atau tidak"

"Tan Heng, bila aku sudah mati, maka organisasi yang kita bentuk sekarang pun sama artinya tak ada lagi didunia ini, apalah artinya bila kalian mengikuti masuk ke liang kubur?'

Mendadak Ui Bwee menukas sambil tertawa:

"Kongcu, menurut pandangan aku yang rendah, keadaan yang kita alami tak bakal sejelek itu, meski tenaga dalam yang dimiliki Kian Hui seng amat sempurna, namun dia pun seorang kuncu sejati'

'Orang ini masih mempunyai sebuah julukan lain yang disebut Kun cu to (golok lelaki sejati)” sambung Tan Heng pula, sekalipun dia sangat jujur dan merupakan seorang Kuncu, tapi apapula hubungannya dengan ilmu silat yang dia miliki?'

"Besar sekali hubungannya" kata Ui Bwee cepat. "Tolong terangkan ucapanmu itu"

"Kalau orangnya jujur dan seorarg Kuncu, maka dalam permainan ilmu silatpun tak akan mempergunakan cara licik atau main sergap, betul didalam hal tenaga dalam kongcu masih kalah satu tingkat daripada dirinya, tapi perubahan jurus serangannya jauh lebih hebat, maka dia tak akan sampai menderita kekalahan di tangannya"

"Ooooh "

"Asalkan kongcu berhasil menangkan dia didalam jurus serangan, maka dia pasti akan mengakui kekalahannya."

'Nona Ui, kau mengatakan kongcu kita pasti akan berhasil menangkan dia didalam jurus serangan?'

"Yaa, pasti! Kalau didalam ilmu pukulan saja dapat menangkan dia, dalam jurus pedang kongcu pasti lebih mampu lagi'

Belum sempat Cu Siau-hong nemberikam jawabannya, Kian Hui seng yang telah pergi tadi tahu-tahu, sudah muncul kembali.

Tampak paras mukanya berubah menjadi dingin dan serius, malah diantara kerutan alisnya nampak pula hawa amarah yang tebal.

Cu Siau-hong segera mengulapkan tangannya kepada Tan Heng dan Ui Bwe sekalian agar mundur dari situ, kemudian pelan-pelan dia baru berkata:

“Kian tayhiap, sudah selesai dibicarakan?"

Dengan cepat Kian Hui seng menggeleng kepalanya berulang kali.

"Belum"

"Oooh, apa yang mereka katakan?" Kian Hui seng mendengus penuh kegusarxan, lalu katanya:

"Buat mereka hanya ada satu syarat.." "Membunuh aku? 'tanya sang pemuda. Kian Hui seng manggut-manggut.

"Dan sekarang bagaimanakah keputusan dari Kian tayhiap?" kembali Cu Siau-hong bertanya.

"Oleh karena kulihat mereka bukan seorang manusia yang bisa memegang janji, maka sulit bagiku untuk mengambil suatu keputusan"

"Kian tayhiap, sekalipun kau dapat membunuhku, apakah kau anggap mereka pasti akan menyerahkan anak dan istrimu itu kepadamu!'..

"Tentang soal ini lohu memang sedang merasa curiga" jawab Kian Hui seng dengan suara dalam...

“Itulah sebabnya, sekarang locianpwe sudah mulai merasa bimbang dan ragu?".

"Benar, lohu memang benar-benar merasa amat bimbang..." Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan:

"Lagipula lohu pun mulai menaruh kecurigaan lain" "Kecurigaan apa?".

'Curiga kalau lohu sanggup membunuh dirimu"

"Tenaga dalamku masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki Kian tayhiap" kata Cu Siau-hong cepat-cepat. “Tapi dalam jurus serangan kau mempunyai kepandaian yang luar biasa saktinya dengan perubahanperubahan yang sukar di raba"

'Aku rasa pertarungan sengit diantara kita berdua bukanlah sesuatu yang penting, paling penting sekarang adalah membahas apakah hasil yang akan kita peroleh setelah menang kalah berhasil ditentukan?”

'Terus terang saja, lohu tidak berharap untuk bertarung melawanmu, dengan usiamu yang begitu muda ternyata berhasil mencapai tingkatan ilmu silat yang begitu hebat, halmana membuat lohu benar-benar merasa gembira dan turut berbangga hati. Selama hidup aku berlatih ilmu golok, orang yang benar-benar mati diujung golokku juga tak lebih dari tujuh orang, halmanapun dikarenakan sepasang tangan mereka kelewat berlepotan darah dengan pelbagai kejahatan yang telah dilakukannya, selebihnya itu, asal aku dapat mengampuni kesalahan mereka, selalu lohu beri sebuah jalan kehidupan baginya untuk memperbaiki kembali kesalahan yang telah mereka lakukan."

"Oleh karena itu, orang persilatan menyebutmu sebagai Kuncu to?" sambung Cu Siau-hong.

"Setiap perbuatan yang lohu laksanakan, tentu disertai dengan landasan serta alasan yang kuat, perduli bagaimanakah pandangan orang persilatan terhadap perbuatanku, lohu tak pernah memikirkannya didalam hati, apa yang Cu cengcu katakan benar-benar suatu ucapan yang kelak yaa, benar juga perkata-anmu, sekalipun lohu membunun dirimu, belum tentu mereka akan melepaskan anak istriku"

"itulah sebabnya Kian tayhiap harus segera mengambil suatu pilihan yang tepat dan pintar." "Aaaai, lohu benar-benar merasa serba salah, Cu kongcu, apakah kau dapat memberi petunjuk kepadaku?"

Cu Siau-hong termenung beberapa saat kemudian, tanyanya secara tiba-tiba. "Kian tayhiap, dimanakah anak istrimu disekap sekarang?'

"Sekarang mereka disekap diatas perahu."

"Perahu itu berlabuh dimana? Apakah Kian tayhiap mengetahui dengan jelas?"

"Banyak perahu yang berlabuh ditengah sungai, lohu tidak tahu perahu yang manakah itu, tapi yang jelas tak akan terlalu jauh letaknya dari pantai?"

"Kian tayhiap, apakah kau bersedia mempercayai diriku?"

"Percaya"

"Bagaimana kalau kuusulkan sebuah rencana yang sangat bagus?"

"Silahkan Cu cengcu katakan"

Cu Siau-hong segera membeberkan sebuah rencana yang amat bagus, teliti dan sempurna.

Selesai mendengarkan rencana tersebut, Kian Hui seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

"Cengcu, tanpa sebab lohu telah datang mencari gara gara dengan mu, sekarang kau malahan membantu lohu hal ini sungguh membuat lohu merasa malu sekali"

"Jikalau Kian tayhiap bersedia menerima bantuanku ini, hal ini sungguh merupakan suatu keuntungan bagi diriku"

"Aaaai .... selama hidup lohu selalu membanggakan  akan satu hal, yakni belum pernah menerima bantuan dari orang lain, sungguh tak disangka setelah mencapai usia tua sekarang, akhirnya toh aku harus menerima juga bantuan orang lain"

"Hari-hari dimasa mendatang masih panjang, Kian tayhiap toh masih berkesempatan untuk membalas budi tersebut kepadaku?"

Kian Hut seng segera manggut-manggut.

"Cu cengcu, mari kita bertarung sekarang, aku rasa mereka pasti sedang mengawasi gerak gerik kita secara diam-diam"

Dengan cepat Cu Siau-hong meloloskan pedangnya sambil berseru: 'Maaf aku menyerang dulu!"

Sreeeet! Sebuah tusukan telah dilontarkan ke depan.

Kian Hui seng segera menggerakkan pula goloknya untuk menangkis, selanjutnya dia pun segera melancarkan sebuah serangan balasan.

Dia mempunyai julukan sebagai golok lewat tanpa suara, kecepatan gerak dari serangan goloknya benar-benar ibaratnya sambaran petir.

Hanya didalam waktu singkat dia sudah melancarkan dua puluh delapan buah serangan golok.

Cu Siau-hongjuga melepaskan sembilan buah serangan, sembilan buah serangan untuk membendung dua puluh delapan buah serangan golok lawan.

Didalam sembilan jurus serangan tersebut, ada tiga jurus diantaranya yang tercantum didalam ilmu pedang tanpa nama.

Selama pertarungan berlangsung, ujung golok Kian Hui seng sama sekali tidak disertai dengan tenaga dalam yang kelewat kuat, dia hanya berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan didalam perubahan jurus serangan serta kecepatan gerak saja.

Seandainya didalam ke dua puluh delapan jurus golok  itu dia sertakan tenaga dalam yang lebih dahsyat lagi, sudah barang tentu kehebatan yang terpancar keluar dari ke dua puluh delapan buah serangam golok itu akanjauh berbeda.

Hanya dalam waktu singkat secara beruntun dia telah melancarkan dua puluh delapan buah serangan golok yang sangat lihay, oleh karena kecepatan golok yang luar biasa membuat seluruh ruangan jadi penuh dengan cahaya tajam yang berkilauan, sehingga sepintas lalu terlihat seperti lingkaran cahaya putih yang bersambung sambungan dan membentuk satu lingkaran besar.

Begitu serangkaian serangan golok kilat dari Kian Hui seng selesai dilancarkan, Cu Siau-hong segera mengembangkan pula serangan balasannya,

Srreeett !Srreettt.!

Dua buah serangan dahsyat segera memaksa Kian Hui seng terdesak mundur sejauh lima langkah.

Kedua macam ilmu silat yang dipakai itu merupakan kepandaian silat yang berbeda, Golok adalah serentetan cahaya tajam yang berkilauan dan membentuk satu lingkaran besar.

Sebaliknya jurus pedang adalah sebuah serangan tunggal dan gencar menerobos langsung kedalam.

Kian Hui seng merasa amat terkesiap, dua jurus serangan lawan benar-benar telah memaksanya mundur sejauh lima depa lebih. Sampai disitu kedua belah pihak sama-sama merasa terkesiap tapi sama-sama pula merasa kagum.. Sambil menghembuskan napas panjang Kian Hui-seng segera berseru cepat.

"Ilmu pedang bagus, Cu cengcu hati-hatilah kau" Sekali lagi Kian Hui seng melancarkan serangkaian serangan dengan jurus golok yang luar biasa.

Begitulah, suatu pertarungan yang amat sengit segera berkobar ditengah arena.

Dengan terjadinya pertarungan ini, Cu Siau-hong segera merasa seperti memperoleh sebuah peluang yang sangat baik untuk melatih jurus-jurus ilmu pedang yang tercantum dalam kitab pedang tanpa nama tersebut.

Jurus-jurus pedang yang selama ini hanya terpendam didalam hati kecilnya saja sekarang semuanya telah  berubah menjadi jurus-jurus pedang yang nyata.

Hanya saja dia belum bisa mempergunakannya dengan lancar dan leluasa sehingga jurus-jurus pedang itu tak mampu dirangkaikan menjadi satu wadah.

Sekalipun digunakan secara apa adanya namun daya kekuatan yang terpancar ke luar ternyata sudah cukup menggetarkan sukma. Dengan kemampuan yang dimiliki Kian Hui seng sekarangpun dia merasa seakan-akan sukar dan berat untuk menghadapinya. Tanpa terasa pertarungan antara mereka berdua telah berlangsung hampir dua jam lamanya.

Lambat laun Cu Siau-hong semakin lama memainkan perubahan-perubahan jurus pedang yang dipelajarinya, dan lambat laun pula dia dapat mempergunakannya dengan lebih luwes dan leluasa.

Makin bertarung Kian Hui seng pun merasa semakin terperanjat hatinya Dia menjumpai banyak sekali jurus pedang yang dipergunakan oleh Cu Siau-hong itu merupakan jurus-jurus serangan yang aneh dan sukar diduga, jurus serangan yang sebenarnya masih kaku dalam cara penggunaannya tapi lambat laun menjadi semakin lancar dan hapal.

-oOo>d’w<oOo-

TIBA-TIBA saja Cu Siau-hong melancarkan tiga buah serangan berantai dengan jurus-jurus serangan yang aneh.

Kian Hui seng hanya mampu membendung dua jurus serangan yang pertama, namun tak mampu menahan jurus serangan yang ketiga.

Cahaya pedang nampak berkelebat lewat, diatas bahu kiri Kian Hui seng, pakaiannya segera robek darah segar dengan cepat jatuh bercucuran dengan derasnya.

Dengan perasaan terkesiap buru-buru Cu-Siau-hong menarik kembali pedangnya sambil mundur ke belakang, serunya dengan suara rendah.

"Kian tayhiap maaf, aku benar-benar tak sanggup untuk mengendalikan gerakan pedang ku"

Paras muka Kian Hui sengtelah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, setelah menghela napas dengan nada sedih, katanya:

"Benar-benar ilmu pedang bagus, lohu sudah mempunyai modal untuk mengadakan pembicaraan lagi dengan mereka"

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ dengan cepat. Cu Siau-hong hanya bisa berdiri termangu-mangu sambil memperhatikan bayangan tubuh Kian Hui seng menjauh dari situ.

Dia tahu seandainya Kian Hui seng memang tidak berniat untuk melakukan pertandingan dengan lawan, dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna serta rangkaian ilmu goloknya yang cepat bagaikan sambaran kilat, sedari tadi dia sudah terluka diujung goloknya.

Tapi dalam kenyataan Kian Hui seng telah berbelas kasihan diujung goloknya, ia sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalamnya sehingga ia baru mendapat waktu yang cukup untuk menghapalkan jurus pedang yang diingat dalam benaknya serta mempraktekkan secara sungguh-sungguh dalam suatu pertarungan.

Seorang jago pedang yang amat lihaypun segera lahir, hanya di suatu pertarungan yang berlangsung hanya dua jam belaka.

Pelan-pelan Tan Heng berjalan ke depan menghampiri si anak muda itu, kemudian sambil memandang pemuda itu dengan termangu, katanya penuh rasa kagum:

"Kongcu, ilmu pedangmu benar-benar merupakan suatu ilmu pedang yang maha dahsyat."

Cu Siau-hong tertawa getir.

"Dia telah memberi kesempatan kepadaku, sebuah kesempatan yang membuat rasa percaya pada diriku makin tumbuh, membuat sesuatu yang masih merupakan suatu pemikiran jadi suatu kenyataan, tapi pengorbanan yang harus diberikan benar-benar terlalu besar."

"Kongcu maksudkan, Kian Hui seng telah berkorban sangat besar?" "Benar, nama baiknya serta keyakinannya akan ilmu golok yang tiada tandingan di kolong langit"

"Kongcu Kau..."

Dengan cepat Cu Siau-hong menggelengkan kepalanya, kemudian menukas:

"Tan Heng. sampaikan perintahku, gunakan segenap kekuatan dan kemampuan yang kita miliki dan perduli berapa besar pengorbanan yang harus kita bayar, kita harus berusaha untuk menyelamatkan anak istri Kian tayhiap"

Tan Heng mengiakan, dan segera membalikan badan dan berlalu dari tempat itu.

?oooO)d.w(Oooo?

SEPENINGGAL Tan Heng, Lik Hoo segera berjalan mendekat, kemudian katanya dengan suara rendah:

"Kongcu, kau tak usah kelewat menyesali diri sendiri, menurut penglihatan budak, kau benar-benar berkemampuan untuk menangkan dia dan lagipula suatu kemenangan yang benar-benar jujur dan terbuka, seandainya kongcu tidak segera menarik kembali seranuganmu, niscaya bacokan pedang tadi telah berhasil mengutungi lengan kirinya"

"Tapi bila dia melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, dalam seratus gebrakan saja dia masih sanggup merenggut nyawaku"

“Ooooh "

"Dia telah berbelas kasihan kepadaku, didalam melancarkan serangan goloknya tadi ia tidak sertakan tenaga dalamnya, itulah sebabnya aku baru dapat melatih diri dalam jurus-jurus pedangku yang sesungguhnya belum kukuasai, untunglah aku berhasil menangkan satu gebrakan darinya"

Ketika mendengar perkataan tersebut, Lik Hoo segera menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi.

Kembali Cu Siau-hong berkata.

"Jago lihay seperti Kian Hui-seng, Kian tayhiap jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, seandainya ilmu goloknya tidak sangat lihay, mustahil jurus pedangku bisa terpancing keluar'

"Kongcu terlalu berjiwa mulia"

Cu Siau-hong, mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejap ke arah Lik Hoo, Ui Bwee serta Ang Bo tan, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, segera ujarnya:

"Ketika melakukan perjalanan dalam dunia persilatan tempo hari, apakah kalian bertiga pernah bekerja sama untuk menghadapi musuh... ?"

"Walaupun kami bertiga mempunyai hubungan persaudaraan yang amat akrab, tapi jarang sekali bekerja sama untuk menghadapi musuh" jawab Lik Hoo.

"Mengapa?.."

"Setiap kemampuan yang dimiliki tiap manusia adalah berbeda, turun tangan bersama menghadapi lawan pun tentu bisa mendatangkan hasil apa-apa, malahan ada kalanya justru merepotkan diri serdiri"

"Ooooh, kiranya begitu "

Ia lantas mengulapkan tangannya sambil berseru: "Mari dekatlah kemari!" Ketiga, orang perempuan itu segera berjalan mendekati Cu Siau-hong ........

"Sekarang aku hendak mewariskan serangkaian ilmu pedang yang terdiri dari tiga jurus serangan kepada kalian, ilmu pedang tersebut agaknya merupakan semacam ilmu pedang yang amat baik untuk dilancarkan bersama-sama'

Dia mengatakan agaknya itu, berarti tidak berani memastikan secara meyakinkan, hal mana membuat Lik Hoo menjadi tertegun.

"Maksud kongcu, kau sendiripun tidak begitu paham apakah kepandaian tersebut merupakan suatu ilmu kerja sama atau bukan?" kata Ui Bwee kemudian.

"Ji-ci, apakah kau belum dapat melihat, kongcu adalah seorang yang berpandangan luas, tapi belum sempat memperoleh kesempatan untuk mempergunakan jurus pedang tersebut, barulah dalam pertarungannya melawan Kian tayhiap tadi dia baru berhasil memahami pelbagai jurus pedang yang tersimpan didalam benaknya' sela Ang Bo-tan.

Cu Siau-hong segera manggut-manggut. "Yaa, memang begitulah" dia berkata.

"Kongcu bersedia mewariskan ilmu pedang kepada kami, sebelumnya kami semua ucapkan banyak terima kasih"

"Disini terdapat sepuluh jurus serangan ilmu pedang, tiga jurus menyerang tiga bagian tubuh manusia bagian atas, tiga jurus menyentuh tiga bagian tengah dan tiga jurus menyerang bagian tubuh manusia bagian bawah, sebenarnya serangan itu harus dilancarkan oleh satu orang, tapi andaikata ada tiga orang yang melancarkan serangan bersama, bukankah kekuatannya menjadi jauh lebih tangguh?" "Benar!"

"Kongcu, bila setiap orang melancarkan tiga jurus serangan, berarti jumlahnya baru sembilan jurus,  bagaimana dengan yang satu jurus lagi ....?' seru Ang Bo tan.

"Sisanya yang satu jurus tak perlu kalian pelajari lagi" kata Cu Siau-hong cepat.

"Mengapa?"

"Kalau kalian setiap orang sudah melancarkan tiga jurus serangan, namun belum berhasil memukul mundur lawan, maka kalian tak usah bertarung lebih jauh"

"Sepuluh kurang satu, apakah jurus serangan ini menjadi tidak lengkap dan kedodoran?"

"Tepat sekali! ilmu pedang ini memang disebut Sip jian kiam hoat (ilmu pedang tidak lengkap)..

"Sip jian kiam hoat? Mengapa ilmu pedang tersebut dinamakan denmikian?" tanya Ui Bwee.

Sesungguhnya Cu Siau-hong sendiripun merasa amat tidak mengerti tentang ilmu pedang Sip jian kiam hoat tersebut, tapi sesudah ditanya oleh Ui Bwee, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya, dengan cepat dia menjawab:

"Karena ilmu pedang ini semuanya tercerai berai, dalam setiap jurus serangan tersebut seakan-akan terdapat banyak kekurangan-kekurangannya."

"Ilmu pedang kongcu amat sempurna, jurtus serangannya juga sangat aneh, kepandaian tersebut benar benar merupakan kepandaian yang belum pernah kami sekalian saksikan sebelumnya" ucap Ang Bo tan. "Bila ilmu pedang yang dihapalkan kongcu, sudah dapat dipastikan kepandaian itu tentu merupakan semacam kepandaian yang lihay” sambung Ui Bwee.

"Orang yang cacad mata, tentu saja tajam dalam pendengaran..." tambah Lik Hoo.

Ucapan tersebut segera melintaskan satu ingatan dalam benak Cu Siau-hong, sambil tertawa segera sambungnya:

"Benar, justru karena serangannya kelewat dahsyat sehingga ada cadadnya, maka ilmu tersebut baru dinamakan Sip jian kiam hoat, akan tetapi jika tiga orang cacad turun tangan bersama... ?"

Mendadak dia membungkam, termenung tidak berbicara lagi.

Lik Hoo sekalian segera berpaling, mereka saksikan Cu Siau-hong sedang berdiri dengan wajah serius, tampaknya dia sedang memikirkan suatu masalah yang penting.

Ketiga dayang itu segera saling berpandangan sekejap kemudian bersama-sama berdiri disisi arena. Lama kemudian Cu Siau-hong baru menghembuskan napas panjang sembari berkata lagi:

"Jika tiga kekuatan bergabung menjadi satu, seharusnya serangan tersebut akan berubah menjadi serangan paling dahsyat yang ada di kolong langit..."

Lik Hoo seperti telah memahami maksud dari Cu Siau hong tersebut, pelan-pelan katanya:

"Kongcu, sebelum perkenalan dengan kongcu kami adalah perempuan-perempuan yang tak ada harganya dikolong langit, berkat usaha kongculah kami berhasil melepaskan  diri  dari  lumpur  kehinaan,  sejak  itulah kami sekalian telah bersumpah akan mengikuti kongcu untuk selamanya '.

"Bagus, asal kalian bisa mempunyai ingatan semacam itu, hal mana sudah cukup" tukas Cu Siau-hong, “bila dunia persiiatan sudah menjadi tenang kembali, kalianpun harus memilih jodohnya masing-masing, bagaimanapun juga tak mungkin kalian akan berkelana terus dalam dunia persilatan"

Lik Hoo tersenyum.

"Kami tahu bahwa kami hanya bunga-bunga yang telah ternoda, apa yang menjadi harapan kami adalah selalu mendampingi kongcu, melayani kebutuhan kongcu dan berbakti kepada kongcu, hanya itu saja sudah cukup membuat hati kami merasa amat puas"

“Kami telah berunding bahwa dalam kehidupan kami setelah ini, tak akan pernah kawin lagi dengan orang lain" sambung Ang Bo tan, "kami akan mengikuti kongcu untuk selamanya, semoga saja kongcu jangan mengusir kami pergi dari sini."

Mendadak Cu Siau-hong mendapat satu ingatan, sambil tersenyum segera katanya:

"Baik, asal kalian dapat hidup baik-baik sebagai manusia yang benar, aku pasti akan mengaturkan segala sesuatunya bagi kalian, sekarang aku hendak mewariskan dulu jurus jurus pedang Sip jian kiam hoat tersebut kepada kalian."

Caranya memberi pelajaranpun sangat praktis tapi jelas, mula-mula dia membuatkan gambarannya lebih dulu di atas tanah, menerangkan posisi bertahan serta perubahan jurus serangannya setelah dalam hati masing-masing sudah mempunyai suatu gambaran yang jelas, ia baru mewariskan teori yang sebenarnya. Didalam kenyataan, keadaan dan situasi yang mereka hadapi sekarang, memang bukan suatu kesempatan yang baik untuk mewariskan ilmu pedang kepada mereka bertiga.

Dengan cepatnya Kian Hui seng telah muncul kembali di depan mata.

Tampak dia muncul dengan wajah sangat murung, dari situ bisa diketahui kalau pembicaraan diantara mereka menemui kegagalan.

Benar juga, Kian Hui seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, setelah menghela napas katanya:

"Cu cengcu, maaf! Tampaknya diantara kita harus dilangsungkan suatu pertempuran antara mati dan hidup"

'Kian tayhiap, apakah kau dapat menerangkan dengan lebih jelas lagi... ?"

"Baik, mereka telah memberitahukan kepadaku, hanya ada dua cara yag bisa ditempuh untuk menolong anak istriku, pertama adalah memenggal batok kepalamu, atau kedua adalah mengorbankan selembar jiwaku sendiri"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Jadi Kian tayhiap telah berhasil mereka taklukkan?."

Kian Hui seng segera berbisik dengan ilmu menyampaikan suara:

"Mereka telah mengirim orang untuk mengawasi gerak gerikku dari belakang." Sedang diluar, ia berseru dengan suara lantang.

"Bagaimana juga, lohu tak bisa membiarkan anak istriku mati tanpa ditolong"

"Mereka berada dimana sekarang??" bisik Cu Siau-hong lirih. "Agahnya dia berada tak jauh di belakangtubuhku".

Cu Siau-hong segera melepaskan tanda rahasia, sementara diluarnya dia berseru launtang:

"Kian tayhiap, kau sudah bertarung denganku, terus terang saja, ilmu golok Kian tayhiap belum tentu mampu untuk menangkan diriku"

Lalu dengan suara lirih lanjutnya.

"Aku telah mengirim orang untuk menyelidiki jejak anak istrimu, tapi entah bagaimanakah keputusan Kian tayhiap terhadap orang yang datang mengawasi dirimu itu?"

'Selama hidup lohu tak suka membunuh orang, tapi keadaan yang kuhadapi tampaknya memaksa aku harus membunuh orang"

"Boanpwepun berpendapat demikian, bila cuma dua orang yang mengawasi kita maka kita harus berusaha untuk membunuh mereka."

"Mereka terlalu banyak curiga, juga amat teliti, mereka telah memberitahukan kepadaku bahwa mereka mempunyai semacam tanda rahasia, asal tanda itu dilepaskan maka mereka akan segera membunuh anak istriku, itulah sebabnya walaupun lohu berdiri saling berhadapan dengan mereka, namun tak berani  sembarangan turun tangan"

Cu Siau-hong segera meloloskan pedangnya sambil menciptakan selapis bunga pedang, kemudian serunya:

"Berhati-hatilah kau!"`

“Srreeeeet, srreeeeett .... "secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan kilat. Kemudian dengan suara lirih bisiknya: "Sembari bertarung kita sembari memeriksa tempat persembunyian mereka, kalau mereka terdiri dari dua orang maka kita masing-masing menghadapi seorang, serang mereka dengan sekuat tenaga dan kalau bisa berhasil dalam sekali serangan, agar mereka tak sempat melepaskan tanda rahasia. "

"Baik, asal jejak mereka berhasil ditemukan, kau membunuh yang disebelah kiri dan aku menyerang sebelah kanan"

Sambil berkata dia lantas mengayunkan goloknya sambil melancarkan serangan balasan. Suatu pertempuran sengit pun segera berkobar di tempat itu.

Tampaknya cahaya golok menyilaukan mata, hawa pedang menyelimuti udara.

Tapi dalam kenyataan kedua orang itu sama-sama sedang bermain sandiwara, meski permainan golok dan pedang mereka sedap dipandang, dalam kenyataan pertempuran itu sama sekali tidak membahayakan jiwa siapapun.

Sembari bertempur, mereka awasi terus sekeliling tempat itu.

Cahaya golok, bayangan pedang telah menyelimuti maksud tujuan mereka yang sebenarnya.

Lingkaran pertarungan merekapun makin lama semakin besar, kini telah berkembang ke arah sepuluh kaki ke arah barat.

Sementara itu pertarungan sudah dilangsungkan hingga kebelakang sebatang pohon besar.. Mendadak dari balik kegelapan, mereka saksikan ada empat buah cahaya tajam berkilat. Itulah mata manusia. Cu Siau-hong telah melihatnya, Kian Hui seng juga telah melihatnya ....

Kedua orang itu segera saling bertukar pandangan sekejap.

Mendadak cahaya golok dan pedang saling berpisah, kemudian terlihat dua rentetan cahaya berkilat menyambat kebelakang pohon besar.

Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tampak kedua gulung darah muncrat ke empat penjuru. Belum sempat kedua orang lelaki berpakaian ringkas itu berdiri tegak, mereka telah roboh kembali. Yang mampus ditangan Kian Hui seng telah berubah menjadi setan tanpa kepala.

Sedangkan yang mampus ditangan Cu Siau-hong kena tertusuk dadanya sampai tembus ke punggung.

Kedua orang itu mampus seketika tanpa sempat memberikan perlawanan apa-apa. Setelah menarik kembali serangan golokny,. dengan wajah sedih Kian Hui seng berkata:

"Sekarang, aku telah bermusuhan dengan mereka,  aaai.... lohu benar-benar merasa kuatir sekali bila mereka sampai mencelakai anak istriku '

"Ilmu golok Kian tayhiap sangat lihay, kurasa putri dan istrimu itu pastilah jago-jago wanita yang lihay pula?'

'Justru kebalikan dari pada apa yang Cu Cengcu katakan, mereka justru tak pandai bersilat"

“Tak pandai bersilat"

"Istriku adalah seorang yang berhati mulia, tidak suka segala macam pembunuhan, selama hidup aku berpantang membunuh, hal ini sebagian besar adalah atas  pengaruhnya, sedangkan putriku, diapun terpengaruh oleh istriku sehingga tidak suka dengan ilmu silat, lohu hanya mewariskan sedikit ilmu untuk menenangkan hati dan menyehatkan badan saja kepada mereka.

'Ooohh..."

Terdengar Kian Hui-seng kembali berkata lebih jauh: "Kesalahan yang paling besar adalah tidak sepantasnya

kuajak mereka melakukan perjalanan dalam dunia

persilatan sehingga tertimpa bencana seperti saat ini"

"Kian tayhiap, tahukah kau siapa yang telah menahan mereka selama ini. ?"

"Hingga detik ini, hanya dua orang yang secara resmi mengadakan pembicaraan dengan diriku"

"Apakah Kian tayhiap tiada dendam sakit hati apapun dengan mereka. "

"Benar, selamanya tidak saling mengenal, mereka pun telah menerangkan, mereka menawan anak biniku karena mereka hendak memaksa aku untuk membunuh kau atau tiga orang anak buahmu"

'Sekarang aku telah memerintahkan segenap anggota perkampunganku untuk melacaki jejak anak istri Kian tayhiap, asal mereka benar-benar masih berada di sungai Siang-kang, aku akan percaya, kemungkinan mereka untuk berhasil menemukan anak istrimu adalah besar sekali!`

"Manusia telah berusaha, Thianlah yang maha kuasa! Walaupun lohu amat menyayangi anak istriku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa jika nasib berbicara lain.”

"Kian tayhiap, gara-gara aku, sehingga membuat anak istrimu menjadi korban. "

Kian Hui seng menghela napas panjang, katanya: "Cu cengcu, kau tak usah bersedih bagi lohu, seorang lelaki tak mampu melindungi keselamatan anak istrinya sudah merupakan suatu kejadian yang sargat memalukan, bila gara-gara mereka, aku sampai melalukan perbuatan yang merugikan dunia persilatan, apakah hal tersebut tidak lebih memalukan lagi? Apalagi kenyataannya lohu memang tak mampu menangkan dirimu...'.

"Kian tayhiap telah berbelas kasihan kepadaku, Cu Siau hong dapat merasakan hal ini"

"Waktu-waktu seperti itu sudah lewat, sekarang... sekarang lohu..."

Suatu perasaan sedih mendadak muncul dari dalam hatinya dan menghiasi seluruh wajahnya.

Cu Siau-hong ingin menghiburnya dengan beberapa patah kata, namun diapun tak tahu bagaimana harus berkata.

Pada saat itulah, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat mendekat dengan kecepatan tinggi.. Sambil nenggenggam goloknya kencang-kencang, Kian Hui seng segera menegur dingin:

"Siapa?"

'Aku!"

Menyusul jawaban tersebut, bayangan manusia itu sudah berjalan ke hadapan Cu Siau-hong. Ternyata yang datang Adalah Kui-meh Ong Peng.

"Ada kabar apa?" bisik Cu Siau-hong.

"Barusan pihak perkumpulan Pay-kau datang laporan yang mengatakan bahwa diatas sungai Siang-kang terdapat tiga buah perahu besar yang sangat mencurigakan, mereka telah mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, aku percaya mereka segera akan memberikan sebuah jawaban yang memuaskan hati"

"Maksudmu, diantara ketiga buah perahu besar itu terdapat anak istriku seru Kian Hui-seng'

"Tentang soal ini, sedang mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, entah bagaimana hasilnya '

"Beritahu kepadaku, sekarang ketiga buah perahu besar itu berada dimana?"

"Locianpwe beritahu kepadamu juga tak berguna, kau juga tak boleh ke sana" kata Ong Peng.

"Kenapa?'

“Cu Cengcu merupakan satu-satunya musuh tangguh yang pernah kujumpai selama hidup, kecuali Cu cengcu, belum pernah aku menjumpai musuh yang sanggup menandingi diriku"

"Kian tayhiap, hamba memberanikan diri ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu"

"Persoalan apa cepat katakan"

"Kian tayhiap, kau mengharapkan anak istrimu mati atau hidup?"

"Kalau bisa menyelamatkan mereka, tentu saja lohu menginginkan mereka tetap hidup, entah pengorbanan apa pun yang akan kubayar"

'Nah, itulah dia, kami sanggup menolong mereka semua tetap hidup"

"Tapi mungkin hal ini?"

"Paling tidak sekarang kita sedang menempuh perjalanan tersebut" "Dapatkah memberitahu kepada lohu cara apakah yang kalian pergunakan untuk menghadapi mereka"

"Hamba sedang memohon petunjuk serta perintah dari cengcu'

"Maksud hamba, kita harus berusaha mencari akal dulu untuk mengirim orang, guna melindungi istri dan putrimu, kemudian kita baru menyerbu keatas dan membebaskan mereka dari mara bahaya'

"Cara ini memang lumayan, tapi siapakah yang dapat melindungi mereka bertiga, kan suatu masalah yang sangat penting"

"Soal ini tergantung bagaimanakah perintah dari kongcu kami nanti. '

"Cu cengcu, bila kau dapat menyelamatkan istri dan putriku, aku rasa istriku mungkin akan berubah caranya memandang terhadap segala urusan dalam dunia, andaikata sampai begitu, lohu pasti akan membalas budi kebaikan itu."

"Tidak berani, Kian tayhiap, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga"

“Baik, kalau begitu lohu ucapkan banyak terima kasih lebih dulu'

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Cu cengcu, apakah lohu boleh mendengarkan rencana yang kalian susun dalam usaha pertolongan ini?"

"Dengan senang hati akan kami sambut locianpwe untuk turut serta didalam perancangan ini". sahut Cu Siau-hong.

"Baik, anggap lohu juga masuk hitungan, bila Cu cengcu hendak memberikan sesuatu perintah, silahkan saja sampaikan kepada lohu" "Kalau begitu kuucapkan bamyakterima kasih dulu"

'Cu cengcu tak usah sungkan-sungkan, aku berbicara dengan hati yang tulus"

Cu Siau-hong tersenyum, dia segera berpaling ke arah Ong Peng, seraya bertanya: "Siapa saja yang telah kau kirim?"

"Toan San, Hee Hay, Lau Hong, Be Hui dan dipimpin Seng ya, mereka memakai dua buah sampan kecil bergerak ke depan, segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan matang"

"Baik! sedang yang lain?"

"'Tujuh harimau berada tiga puluh kaki disekitar kongcu, asal kongcu turunkan perintah, mereka segera akan memberikan bantuannya ke arah manapun yang dibutuhkan"

"Bagaimana dengan Seng Hong dan Hoa Wan?.." "Mereka tetap tinggal di pantai sambil mengawasi tanda

yang dilepaskan, untuk memberikan bantuan'

Kian Hui seng berpaling ke arah Ong-Peng seraya bertanya:

"Apakah lohu pun akan menerima perintah untuk melakukan sesuatu tugas. ?"

"Aku tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Kian tayhiap sangat lihay, tapi saat ini bukan saatnya untuk beradu dengan menggunakan ilmu silat, harap Kian tayhiap berada bersama cengcu kami saja sembari menunggu datangnya laporan mereka, kemudian barulah kami minta bantuanmu"

Kian Hui seng manggut-manggut. "Belakangan ini, sekalipun lohu tidak sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, namun sudah sering kudengar tentang kejadian di dalam dunia persilatan, tapi organisasi seperti kalian itu memang terasa asing sekali.'

'Aku maupun saudara-saudaraku adalah orang-orang yang baru saja terjun kedunia persilatan belum lama" Cu Siau-hong menerangkan..

"Aku lihat kelompok yang bergabung di antara kalian semua rata-rata adalah orang muda semua"

"'Benar usia kami memang tidak terlalu besar' "Sebenarnya kalian orang-orang muda membentuk satu

kelompok dan melakukan perjalanan bersama dalam dunia persilatan apakah maksud tujuan yang sesungguhnya" sambung Kian Hui seng lebih lanjut.

"Tampaknya, dunia persilatan telah dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang amat rahasia ”

Kian Hui seng manggut-manggut

"Yaa, seandainya lohu tidak mengalami sendiri peristiwa ini mungkin sekarang sulit bagiku untuk mempercayai perkataanmu itu" sela Kian Hui seng cepat.

"Sekarang kau sudah percaya!"

"Tidak percayapun harus percaya, sejak Pena Wasiat melakukan pengeritikan terhadap umat persilatan, tiba-tiba saja dunia persilatan menjadi tenang kembali, belum pernah terjadi pertikaian apa-apa, semua orang menaruh kepercayaan yang besar terhadap Pena Wasiat, oleh karena itu termasuk juga lohu sekalian manusia-manusia yang suka mencampuri urusan orangpun merasa tak punya pekerjaan yang bisa dilakukan, oleh karena itu sebagian besar telah mengundurkan diri" "Pena Wasiat telah mengungkapkan banyak kedok manusia-manusia munafik dari dunia persilatan, sebab itu kawanan manusia keji dan manusia laknat dari dunia persilatan semakin merahasiakan jejaknya dengan lebih baik, mereka tidak berusaha untuk mencari nama lagi, bahkan namapun tak dipergunakan lagi, mereka tak saling berhubungan malah tidak saling mengenal, mereka hanya berkumpul dalam suatu komando untuk melaksanakan tugas, begitu selesai mereka membubarkan diri lagi, meski sepintas lalu mereka seakan-akan tidak saling berhubungan dalam kenyataan sesungguhnya merupakan satu kelompok."

"Bagaimanakah cara mereka untuk melatih ilmu silatnya?"

"Itulah penyebab mengapa dunia persilatan menjadi tenang selama banyak tahun, yang mereka butuhkan adalah waktu untuk mendidik sekawanan manusia yang bisa dipergunakan tenaganya"

Kian Hui seng tertawa getir.

"Cu cengcu, usiamu tidak terlalu tua, mengapa kau harus menerjunkan diri di dalam pertikaian ini?"

"Itulah yang dinamakan suatu perimbangan kekuatan, bila muncul sekawanan pencoleng yang misterius dan penuh rahasia, harus dihadapi pula oleh sekawanan manusia yang sanggup untuk menghadapinya, bukankah demikian?"

"Kohu benar-benar merasa amat menyesal, selama hidup aku hanya menganggap asal tidak melakukan kesalahan pasti beres, tapi apa yang dipikirkan ternyata kelewat sedikit, anak muda, beritahu kepadaku, sebenarnya apakah aku ada hubungannya dengan Pena Wasiat?" "Locianpwe, mengapa secara tiba-tiba kau ajukan pertanyaan seperti ini?"

"Kecuali Pena Wasiat, tak dapat menduga siapakah yang bisa memiliki kepandaian dan kecerdasan seperti ini?"

Cu Siau-hong tertawa, katanya:

"Aku tidak tahu, apakah kau ada hubungannya dengan Pena Wasiat, tapi aku selalu merasa ada semacam kekuatan yang selalu memberi petunjuk kepadaku."

"Kian tayhiap, kau kenal dengan Pena Wasiat?" tiba-tiba Ong Peng menyela.

"Aku pernah menerima sepucuk suratnya, dia pernah bilang pernah berjumpa denganku, tapi aku tak bisa mengingatnya, dimanakah kami pernah bersua"

Terhadap orang yang menamakan dirinya Pena Wasiat, Cu Siau-hong memang menaruh rasa tertarik yang sangat tebal, maka ujarnya kemudian:

"Locianpwe, apakah kau sama sekali tak punya gambaran terhadap orang itu?"

"Setelah kuterima suratnya, akupun pernah berpikir dengan seksama, tapi aku tak dapat membayangkan manusia seperti apakah dia"

Tanpa terasa Cu Siau-hong teringat dengan Lo-liok sipenjaga kuda, juga teringat kitab pusaka Bu beng kiam boh.

Hingga sekarang dia baru mengerti bahwa ilmu silat  yang tercantum didalam kitab pusaka Bu beng kiam boh tersebut sesungguhnya merupakan ilmu silat pilihan yang amat lihay.

Jelas kitab tersebut merupakan sejilid kitab pusaka yang tak ternilai harganya. Sayangnya orang itu sudah menjadi teka teki besar baginya, apakah dia sudah mati? Atau masih hidup? Sampai sekarang dia sen?diri pun tidak tahu.

Dari Lo-liok dia pun teringat dengan si Dewa pincang Ui Thong.

Manusia aneh dari dunia persilatan itu telah mempergunakan kepandaian ilmu perbintangannya yang luar biasa untuk membawa dirinya tersembunyi dalam suatu lingkaran hidup yang amat kecil.

Dia ingin meloloskan diri dari takdir, ingin meloloskan diri dari kematian akhirnya malah mengubur segenap kepandaian yang dimilikinya.

Dia akhirnya tak bisa juga meloloskan diri dari kematian.

Dunia yang fana ini seakan-akan dikendalikan oleh sesuatu kekuatan yang misterius, kekuatan tersebut tak depat diselidiki asal mulanya, tentu saja tak dapat pula menghancurkan ataupun menghadapi kekuatan misterius tersebut.

Tapi ilmu silat yang di wariskan Ui Thong kepadanya membuktikan kalau kepandaian tersebut memang benar benar merupakan semacam kepandaian silat yang sangat lihay.

Sementara dia masih termenung, Kian Hui seng telah mendehem berulang kali sambil berkata: "Cu cengeu, apa yang sedang kau pikirkan"

"Aku sedang berpikir, Pena Wasiat tersebut sebenarnya manusia seperti apa.?"

'Didalam suratnya dia telah menyebut pernah berjumpa dengan aku, dan aku rasa hal ini tak bakal salah lagi, cuma sayangnya aku sama sekali tak bisa mengingatnya kembali" “Aku rasa dia seharusnya berusia lima puluh tahunan lebih, atau mungkin lebih tua lagi"

"Seharusnya dia adalah seorang yang berusia sebaya dengan lohu atau lebih tua lagi, Kalau dihitung-hitung dia berusia enam puluhan tahun keatas"

"Aku rasa dia pasti tidak terlalu gemuk malah agak kurus memelihara jenggot panjang dan berdandan sangat sederhana"

Dia memberikan gambaran wajah maupun potongan badannya sesuai dengan keadaan Lo-liok si tukang kuda, dia berharap dapat memberikan sebuah gambaran untuk menyegarkan kembali ingatan Kian Hui-seng,

“Surat itu sudah kuterima pada dua puluh tahun berselang, padahal selama ini sudah kelewat banyak orang yang kujumpai. Sulit bagiku untuk mengingatnya kembali"

“Kian tayhiap, pikirlah pelan-pelan. Mungkin sesuatu hari kau akan mengingat kembali”.

Tiba-tiba terdengar Ong Peng berbisik dengan suara lirih: "Kongcu mereka telah melepaskan tanda rahasia " .

"Oooh.... sudah melepaskan tanda rahasia”, seru Kian Hui seng, "mengapa aku tidak merasakannya?"

"Tanda rahasia tersebut merupakan kode rahasia dari perkampungan kami, orang yang tidak tahu keadaan yang sebenarnya, tentu saja tidak akan memahaminya'

'Ooooh tampaknya sebelum terjun ke dalam dunia persilatan kali ini, kalian sudah membuatkan persiapan yang cukup matang”.

"Tak bisa dibilang sebagai suatu persiapan" satut Cu Siau-hong, "Tapi untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, persiapan memang sedikit banyak diperlukan" Sorot matanya tegera dialihkan ke wajah Ong Peng kemudian melanjutkan "Apa arti dari tanda rahasia yang telah dilepaskan?'

"Orang orang kita sudah mendekati ketiga buah perahu besar yang mencurigakan itu, tapi belum bisa memastikan diperahu yang manakah tawanan itu mereka sekap untuk menghindari suatu tindakan yang mengejutkan lawan, mereka tak berani naik ke atas perahu, mereka minta waktu yang lebih lama lagi sebelum dapat memberikan laporan yang pasti"

Cu-Siau-hong mengerti bahwa operasi semacam ini tak mungkin bisa dilaksanakan oleh orang-orang perkampungannya, sudah pasti orang-orang Pay-kau telah memberikan bantuannya,

Kian Hui seng yang mendengar perkata-an itu merasa sangat kagum, diam-diam pikirnya:

"Orang ini masih berusia muda belia, tapi bisa memimpin organisasi ini secara sempurna, betul-betul bukan merupakan sesuatu yang gampang"

Sementara itu, tiba tiba Ong Peng berkerut kening, kemudian bisiknya lagi:

"Ada orang datang!' "Musuh?"

"Benar"

“Lepaskan mereka!'

Dia segera membalikkan badan dan lenyap tak berbekas. "Semuanya menyembunyikan diri' bisik Cu Siau-hong

lirih. Tan Heng dan Lik Hoo sekalian bersaudara segera menyelinap masuk kebalik semak belukar. Cu Siau-hong pun menyambar kedua sosok mayat tersebut seraya berpesan.

'Kian tayhiap, hadapi mereka baik-baik, kami akan menyembunyikan diri lebih dahulu"

Sambil menarik napas, dia segera melompat naik ke atas pohon besar.

Ternyarta kedua mayat itupun dibawa naik juga keatas pohon besar.

Kian Hui seng manggut-manggut pikirnya.

"Pemuda ini betul-betul bukan seorang sembarangan."

Semetara dia masih termenung, mendadak telinganya sudah mendengar sedikit suara yang mula-mula terdengar adalah suara aneh yang tak diketahuinya.

Tapi Kian-Hui seng tahu kalau suara tersebut merupakan semacam tanda rahasia, ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya, sebagai jago yang perngalaman dengan cepat dia melangkah maju untuk mendekatinya.

Ternyata mereka selalu berhenti dibawah pepohonan yang rindang sehingga sulit untuk melihat jelas paras muka mereka.

Terdengar suara seseorang berkumandang dari beberapa kaki disisi arena tersebut: "Kian tayhiapkah disitu?"

"Betul, memang lohu"

Sesosok bayangan manusia segera melompat keluar dan berhenti didepan Kian Hui seng. Ternyata orang itu adalah seorang lelaki berbaju ringkas berwarna hitam, ditangan kirinya memegang sebuah senjata garpu.

Orang berbaju hitam itu memperhatikan Kian Hui seng sekejap, setelah itu katanya: "Kian tayhiap, baik-baikkah kau ?"

"Bukankah kau saksikan lohu masih berdiri baik-baik, di tempat ini?'

"Dimanakah mereka?" "Lohu tidak melihatnya"

'Mereka berada disekitar tempat ini mengawasi dirimu"

"Kalau memang mengawasi aku, mengapa pada pergi semua"

Orang berbaju hitam itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya:

"Mustahil, mereka tak akan meninggalkan tempat ini, sebab tempat sekitar tempat ini amat kacau, ada orang orang dari Ing-gwat-san-ceng, juga terdapat jago-jago lihay dari Pay-kau serta Kay-pang"

`Kecuali Cu cengcu yang sudah bertanding melawan lohu, belum pernah kujumpai orang-orang yang lain"

"Cu Siau-hong telah kabur?"

"Entahlah, aku tidak tahu, mungkin saja dia berada di sekitar tempat ini"

"Keadaannya sedikit rada kurang beres, Kian tayhiap, kau pun tak usah berada di sini lagi'

"Lantas harus ke mana!"

"Pergi menjumpai atasan kami" "Tidak bisa jadi, aku harus menunggu Cu cengcu disini untuk melangsungkan pertarungan sengit dengannya!"

"Sekarang situasinya telah mengalami perubahan, kau pun tak usah menunggu lagi disini"

"Tidak bisa, jika lohu tidak berhasil membunuh Cu Siau hong, terpaksa aku harus mengorbankan diri diujung pedangnya, aku hanya berharap apa yang telah kau katakan itu masuk hitungan dan kalian memegang janji untuk melepaskan anak istriku"

"Padahal Kian hujin serta kedua orang nona berada dalam keadaan selamat dan tenteram, Kian tayhiap tak usah banyak berpikir yang bukan-bukan."

"Lohu tak berani mengatakan tidak kuatir sebelum berjumpa muka dengan anak istriku" Orang berbaju hitam itu segera tertawa, katanya kemudian:

"Asal Kian tayhiap berhasil membunuh Cu Siau-hong, kau akan segera dapat bersua dengan anak istrimu'

?oooO)d.w(Oooo?

“PADAHAL harapan lohu yang paling besar sekarang adalah ingin sekali berjumpa muka dengan anak istriku" kata Kian Hui seng cepat.

"Permintaan dari Kian tayhiap itu tampaknya memang bukan sesuatu permintaan yang berlebihan"
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 39"

Post a Comment

close