Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 29

Mode Malam
"Boanpwe hanya merasa tanggung jawab ini sangat berat, aku kuatir tak dapat memenuhi apa yang locianpwe harapkan"

Ui lo-pangcu segera tertawa hambar ujarnya:

"Cu kongcu, aku si pengemis tuapun tak akan membiarkan kau memikul tangungjawab ini dengan sia-sia"

"Maksud locianpwe?"

"Aku si pengemis tua menyimpan beberapa jurus ilmu silat yang ku persiapkan untuk diwariskan kepada Cu kongcu" “Ui pangcu aku rasa hal ini kurang baik" ucap Pek Bwee setelah termenung sejenak.

"Pek lote tak usah kuatir, ilmu silat yang hendak kuwariskan kepada Cu kongcu itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Kay-pang.

Mendengar itu Pek Bwe menghela napas panjang.

"Siau-hong, cepat berterima kasih kepada lo-pangcu!' serunya. Cu Siau-hong segera bangkit menjura, katanya:

"Boanpwe mengucapkan banyak terima kasih lebih dulu atas kesediaan cianpwe untuk mewariskan ilmu silat kepadaku"

"Tak perlu begitu, sesungguhnya aku sipengemis tuapun hanya tinggal mengingat rahasia dari ketiga jurus serangan itu saja, dulu memang pernah kulatih, namun sepanjang hidup belum pernah kugunakan"

"Oooh "

"Aku sendiripun tak tahu sampai dimanakah kehebatan dari jurus serangan itu, apalagi ketiga jurus ilmu silat itu berada dialiran antara satu dengan lainnya, jurus pertama datang dari wilayah See ih, jurus ke dua berasal dari lam hay, sedang juus ketiga konon bersumber dari kuil Siau lim si namun aku si pengemis tuapun belum pernah menyaksikan anak murid kuil Siau lim-si pernah mempergurakan jurus ilmu tersebut."

"Lo-pangcu, kalau dilihat dari asal mula-mula ketiga jurus ilmu silat itu, yakni dari wilayah See ih, Lam hay dan kuil Siau lim si, bisa diduga kalau kepandaian tersebut tentu amat dahsyat, dengan bakat yang boan-pwe miliki, aku kuatir tak akan mampu untuk mempelajari kepandaian tersebut" "Siau-hong, ke tiga jurus ilmu silat itu sudah ku simpan selama dua puluh tahun, sampai sekarang belum pernah kuwariskan kepada siapapun lantaran aku belum berhasil menemukan orang yang tepat, hari ini aku telah tertarik kepadamu"

"Locianpwe "

"Tak usah menampik lagi Siau-hong" tukas Ui pangcu, 'bila ke tiga jurus ilmu silat itu tidak kuwariskan kepadamu hari ini, kuatirnya kepandaian tersebut akan lenyap dari peredaran dunia persilatan untuk selamanya.."

"Nak, tak usah banyak bertanya lagi, cepatlah mempelajari jurus kepandaian tersebut!" tukas Pek Bwee. Kemudian dia membalikkan badan dan segera mengundurkan diri dari tempat itu.

Ui pangcu tidak mengundang balik Pek Bwe, dengan sendirinya Cu Siau-hongjuga tak enak untuk membuka suara.

Setelah menghabiskan waktu selama satu jam lebih, akhirnya Cu Siau-hong berhasil juga menguasahi ke tiga jurus serangan tersebut.

Sambil tertawa Ui pangcu lantas berkata:

'Nak, hebat betul kau, kemampuanmu sungguh tidak membuat aku si pengemis tua merasa kecewa”

"Boanpwe terlalu bodoh, aku telah membuang banyak waktu berharga dari lo-pangcu untuk mempelajari ketiga jurus serangan itu "sambung Cu Siau-hong dengan cepat.

Ui Lo-pangcu kembali tertawa.

"Nak, kemampuanmu sesungguhnya jauh diluar dugaanku."

'Aaah, boanpwe merasa malu" Pelan-pelan Ui pangcu mendongakkan kepalanya memandang cuaca, setelah itu katanya:

"Aku masih menduga, asal kau dapat menguasahinya menjelang fajar nanti, kemampuanmu sudah luar biasa, tak tahunya kau hanya membutuhkan waktu selama satu jam belaka"

Setelah berhenti sebentar, dengan mempertinggi suaranya dia lantas berseru: "Pek lote, sekarang kau boleh kemari"

Pelan-pelan Pek Bwee berjalan mendekat, serunya sambil tertawa:

"Waaah. aku malah sudah tertidur sebentar"

Mendadak paras muka Ui pangcu berubah menjadi amat serius, lalu ujarnya:

"Aku minta kalian berdua dengarkan baik-baik, apa yang terjadi pada malam ini jangan sekali-kali sampai tersiar keluar"

Kemudian sambil mengalihkan sinar matanya ke wajah Cu Siau-hong, dia berkata lebih jauh: "Aku juga bukan suhumu, ketiga jurus serangan itu bukan milikku juga bukan milik Kay-pang" Tidak menanti Cu Siau-hong bukah suara dia berkata lebih jauh:

"Oleh sebab itu kau tak usah berterima kasih kepadaku, juga tak usah membicarakan hal budi karena mendapat warisan ilmu silat, mulai detik ini aku si pengemis tua telah melupakan peristiwa ini, aku harap kalian pun turut melupakan hal ini"

`Tapi kenapa?" tanya Cu Siau-hong.

"Aku hanya memberitahukan hal ini kepadamu, tiada alasan lainnya ' "Siau-hong, luluskan permintaan dari lo-pangcu, lakukan saja seperti apa yang dipesankan" timbrung Pek Bwe.

"Baik, boanpwe akan turut perintah"

Sambil mengelus jenggotnya Ui lo-pangcu segera tertawa, dari sakunya ia mengeluarkan segulung kain putih, lalu sambil diserahkan kepada anak muda itu ujarnya:

"Siau-hong, benda inipun kuserahkan pula kepadamu" "Benda apa lagi ini?"

"Kitab senjata tajam dari Ban Ci cu, semuanya berjumlah sembilan bagian, sesampainya dirumah nanti, pelajari baik baik"

"Locianpwe, terlalu banyak kebaikan yang kau berikan kepadaku, boanpwe tak tahu bagaimana harus membalasnya?"

Ui pangcu bangkit berdiri dan membersihkan debu dari bajunya, lalu katanya:

“Nah hanya sekian saja, mari kita pulang."

"Lo-pangcu, siapakah Pena Wasiat itu?" seru Pek Bwe, “dapatkah kau mengungkapkannya sedikit kepada kami, agar menambah pengetahuan kami semua. ?'

"Sebelum aku si pengemis tua mempunyai keyakinan yang bisa dipertanggungjawab kan, aku si pengemis enggan membicarakan nya secara sembarangan, sebab kalau dibicarakan cuma menambah bingungnya orang, marilah kita pulang saja".

Dia lantas berjalan lebih dulu meninggalkan tempat itu. Pek Bwe berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu

Siau-hong, kemudian katanya: "Nak, sesampainya dirumah, nanti apabila kau telah selesai mempelajari ke sembilan risalah tersebut, lebih baik dibakar saja."

"Boanpwe mengerti"

Tiba di kota Siang yang, fajar baru saja menyingsing. Cu Siau-hong langsung kembali kekamartidurnya.

Belum lagi pintu dibuka, pintu kamar tersebut telah membuka dengan sendirinya. Kemudian tampak Lik Hoo. Ui Bwee dan Ang Bo tan berdiri tegak didepan pintu. Cu Siau-hong menjadi tertegun dibuatnya, segera tegurnya:

"Apakah semalam kalian tidur disini?" "Benar, kami tidur disini!" sahut Ui Bwee. 'Kalian tidur dimana?"..

"Kami tak berani tidur di ranjang kongcu, maka semalam hanya duduk bersemedi belaka" Lik Hoo menerangkan.

Dengan langkah lebar Cu Siau-hong segera masuk kedalam kamar tidurnya, benar juga pembaringan itu masih rapi sama sekali tiada tanda pernah ditiduri orang.

"Kongcu, agaknya kau semalam belum tidur" kembali Lik Hoo menegur pelan.

"Ehmm!"Ang Bo tan segera menyambung:

'Didapur telah tersedia sayur dan arak buat kongcu, apakah perlu budak ambil untuk sarapan?"

"Baik! ambillah"

Melihat senyuman telah menghiasi bibir Cu Siau-hong, pelan-pelan Lik Hoo berjalan mendekatinya. "Kongcu, kau tampak lelah sekali!" bisiknya.

'Ya, memang agak lelah" "Mari kupijatkan tubuh kongcu."

Cu Siau-hong memang berasal dari keluarga pembesar, sejak kecil dia sudah terbiasa dilayani oleh para dayang, sehingga terhadap kejadian macam itu sudah terbiasa'.

Lik Hoo segera menggerakkan tangannya mulai memijit.

Ui Bwee segera maju dan menghampirinya pula seraya berkata: 'Kongcu, aku pijitkan kakimu!”

Agaknya kedua orang budak ini mempunyai keahlian khusus dalam kepandaian memijit, ternyata pijitan mereka tidak terlalu enteng juga tidak terlalu keras, rasanya nyaman sekali.

Selang sejenak kemudian, Ang Bo tan telah datang menghidangkan sayur dan arak.

Cu Siau-hong segera mulai merasa mengantuk sekali, matanya menjadi berat dan ingin terpejam. Cu Siau-hong mendahar sedikit, setelah itu katanya sambil tertawa:

"Kalian boleh pergi, aku hendak tidur sebentar" "Kami akan melayani kongcu tidur"

Tiga orang perempuan itu segera turun tangan melepaskan pakaiannya, menarikkan selimut dan dibawah kerubutan tiga orang dayang tersebut, Cu Siau herng segera dibaringkan diatas ranjangnya.

Ternyata ketiga orang perernpuan itupun tahu diri, setelah menyelimuti tubuh Cu Siau-hong, diam-diam diapun mengundurkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak Cu Siau hong dibangunkan dari tidurnya oleh suara ribut yang cukup keras.

Kedengaran Ang Bo tan sedang berseru: "Harap locianpwe memaafkan, kongcu baru saja tertidur, budak kurang leluasa untuk membangunkannya'

"Panggil dia kemari, katakan aku ada urusan penting yang hendak dibicaratan dengannya" katakan Tan Tiang kim.

“Tidak bisa, silahkan Tan cianpwe menghajar budak, namun tak bisa kami bangunkan kongcu dari tidurnya"

“Hai, setia amat kalian dengannya!" bentak Tan Tiang kim lagi dengan suara dalam.

'Harap Tan cianpwe memaafkan"

Cu Siau-hong segera melompat bangun dari atas ranjang, kemudian buru-buru berpakaian dan memburu kedepan pintu.

Sementara Tan Tiang kim sudah membalik kan badannya siap berlalu dari situ. Buru-buru Cu Siau-hong berseru:

"Tan locianpwe!"

'Ooh, kau telah bangun" kata Tan Tiang kim sambil berpaling dan tertawa.

"Aaai.. bila budak sekalian kurang sopan, harap Tan ciangpwg jangan marah"

Tan Tiang kim segera tertawa.

"Dia amat melindungimu, aku pengemis tua merasa gembira untukmu, kau memang telah memperoleh tiga orang pengawal-yang hebat"

"Ang Bo tan, hayo cepat minta maaf" seru Cu Siau-hong kemudian dengan suara rendah. Ang Bo tan mengiakan, dengan langkah lebar dia maju ke depan sembari katanya:

-oOo>d’w<oOo “BUDAK datang menunggu hukuman.”

Ternyata ia benar-benar menjatuhkan diri berlutut dihadapan Tan Tiang kim. "Nona, cepat bangun" buru-buru Tan Tiang kim berseru.

'Sebelum ada perintah dari kongcu, budak tak berani bangun berdiri."

"Bangunlah!" ucap Cu Siau-hong kemudian, "Aku ada urusan yang hendak dirundingkan dengan Tan locianpwe, harap kalian menyingkir agakjauh dari sini"

Ang Bo tan segera bangkit berdiri.

"Budak akan menyediakan air teh untuk kalian berdua"' katanya.

Cu Siau-hong segera mempersilahkan tamunya duduk, Ang Bo tan datang menghidangkan air teh, kemudian mengundurkan diri.

Sambil tertawa Tan Tiang kim lantas berkata.

"Kongcu jejak dari kebun Ban-hoa-wan sudah ketahuan, entah apa rencana Kongcu selanjutnya?"

"Untuk menghadapi persoalan seperti ini, lebih baik kau rundingkan dengan ciangbun-jin perguruan kami atau berunding dengan sunio ku, mana mungkin tecu bisa mengambil keputusan?"

"Tentang soal ini, aku si pengemis tua telah memikirkannya, aku telah membicarakan pula hal ini dengan Tiong hujin."

"Ooooh.. apa kata sunio ku?" "Tiong hujin menyuruh aku merundingkan dulu persoalan ini denganmu, kemudian perkumpulan kami baru akan mengimbangi gerakan kalian"

"Aaah, ucapan locianpwe selalu serius, dalam operasi kali ini sudah seharusnya kalau perkumpulan anda yang memegang tampuk pimpinan"

"Bila berbicara soal jumlah jago yang tersedia, tentu saja jago-jago dari Kay-pang banyak sekali jumlahnya, cuma kekuatan yang paling diandalkan pihak kebun raya Ban boa wan mungkin adalah para pendekar pedang macan kumbang hitam, untuk menghadapi para pendekar pedang macan kumbang tersebut, terpaksa kami harus mengandalkan ilmu pedang dari perguruan anda"

"Kita bisa saja merundingkan suatu rencana, tapi bagaimana keputusannya harus dirundingkan lagi dengan ciangbun suheng atau diputuskan oleh ibu guru kami"

"Baik coba kau utarakan dulu caranya"

'Dari pihak kebun raya Ban-hoa-wan sudah terdapat gerakan apa?"

"Herannya, para jago dari perkumpulan kami yang ditugaskan mengawasi sekeliling kebun raya itu sama sekali tidak menemukan suatu gerakan aneh, kecuali mereka memiliki suatu jalan bawah tanah yang berhubungan dengan suatu tempat lima li dari situ, sebab lima li disekitar kebun raya Ban-hoa-wan telah berada dibawah pengawasan kami"

'Dari pihak Pay-kau apakah sudah ada kabar yang didapat?"

"Pihak Pay-kau telah mengutus orang yang mengabarkan bahwa kekuatan inti mereka sudah akan tiba pada kentongan  ketiga  malam  nanti  untuk  menyatakan  rasa terima kasihnya kepada Tiong ciangbunjin dari Bu-khek bun, mereka bersedia memikul tugas-tugas penting apapun"

"Oooh... Kay-pang dan Pay-kau sudah terlalu banyak melepaskan budi kepada Bu-khek-bun kami, Siau-hong merasa amat berterima kasih sekali"

Setelah berhenti ssbentar, dia berkata lebih lanjut: "Locianpwe, apakah pangcu kalian ada pesan atau

petunjuk yang lain?"

"Belakangan ini pangcu kami sudah jarang sekaii mencampuri urusan perkumpulan, semua persoalan telah diserahkan pertanggungan jawabnya kepada aku si pengemis tua"

"Apakah besok kebun raya Ban-hoa-wan akan dibuka secara umum?"

“Agaknya tak akan dibuka untuk umum, alasan yang mereka pakai terhadap pengunjung dari luar adalah dua ekor harimau yang dipelihara dalam kebun itu telah terlepas dari kandangnya, lantaran kuatir melukai para tamu, maka untuk sementara waktu di tutup selama dua hari"

"Tan cianpwe, andaikata kebun raya Ban-hoa-wan dibuka untuk umum, maka diantara beribu-ribu pengunjung yang tiap hari berdatangan kesana, bila mereka menyusup kan berapa banyak jago lihaypun tak akan ada yang tahu"

"Akupun berpendapat demikian, maka dari itu, bila kita hendak melakukan suatu gerakan lebih baik ditentukan dengan segera, untuk sementara waktu anggota perkumpulan kami masih dapat mencegah para pengunjung untuk tidak memasuki kebun raya Ban-hoa-wan"

"Aku rasa bila kita sampai mencegah para pengunjung kebun raya memasuki Ban-hoa-wan, maka pertama hal ini tidak mudah dilakukan kedua mungkin akan menimbulkan perhatian mereka"

"Siau-hong, apakah kau beranggapan bahwa orang orang Ban-hoa-wan masih belum merasakan apa-apa?'

"Soal ini boanpwe juga telah memikirkannya, mungkin saja mereka telah mengetahui akan hal ini, malahan siapa tahu kalau mereka telah mengirim orang untuk mengawasi kita secara diam-diam"

Tan Tiang kim segera manggut-manggut.

"Ehm, organisasi ini selain misterius juga sangat aneh, dalam dua hari ini kebun raya Ban-hoa-wan telah mengalami perubahan yang besar sekali, tapi mereka tidak menyiarkan berita ini keluar"

Mendengar perkataan itu, Cu Siau-hong lantas berpikir dalam hatinya.

"Ucapan ini terlalu sembrono, sekalipun mereka telah menyiarkan berita ini keluar, toh tak perlu melaporkan dulu kepada kita, siapa tahu kalau hal ini merupakan keteledoran kita?"

Berpikir demikian, dia lantas berkata:

"Mungkin saja mereka mempunyai suatu cara yang istimewa untuk saling menyampaikan berita" Tan Tiang kim segera tertawa.

"Siau-hong, kau anggap ucapanku tadi ada yang tak tepat? Katakan saja secara blak-blakan, tak usah berputar putar lagi"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Locianpwe, boanpwe rasa masalah pertama yang paling penting sekarang adalah setelah kita masuk ke dalam kebun raya Ban-hoa-wan, dengan cara apakah kita akan memaksa mereka keluar dari lubang persembunyiannya ?"

'Yaa, masalah ini memang merupakan suatu masalah yang amat besar, aku si pengemis tua telah mengajak beberapa orang teman untuk merundingkan persoalan ini, tapi kami tak pernah berhasil untuk menemukan cara terbaik untuk memaksa mereka ke luar"

"Locianpwe, boanpwe rasa bila kita diharuskan masuk kedalam lorong bawah tanah untuk mencari mereka, lebih baik kita mencari akal untuk memaksa mereka keluar dari tempat-tempat persembunyiannya itu...'

"Benar, cara apakah yang harus dipergunakan hingga memaksa mereka keluar dari lubang persembunyiannya, memang merupakan suatu masalah yang amat sukar".

"Bagaimana kalan kita gunakan api? Asal kita berusaha untuk menemukan mulut masuk menuju ke ruang bawah tanah, kemudian menggunakan asap api untuk memaksa keluar, niscaya hal ini akan berhasil. Kemungkinan besar mereka telah menyiapkan makanan dan minuman dalam lorong rahasia tersebut, tapi ada suatu benda yang tak mungkin bisa mereka persiapkan."

"Benda apakah itu? .."

"Udara!, dimana udara bisa masuk, disitu juga asap api pasti dapat masuk juga"

Tan Tiang kim segera bertepuk tangan sambil bersorak: "Tepat sekali, Baik, kita gunakan cara ini saja, aai...

heran, kenapa aku si pengemis tua tak bisa berpikir sampai ke situ? Jika diantara asap api kita berikan sedikit bubuk merica, maka sekalipun mereka enggan keluar juga terpaksa akan keluar" "Cuma cara ini sedikit agak melanggar peri kemanusiaan, apakah tidak terlampau buas sedikit?"

"Yaa, apa boleh buat lagi? Apalagi siapakah didunia ini yang bisa berbuat lemah lembut terhadap musuhnya yang bengis? Baik, kita tetapkan begini saja, aku segera akan menyuruh mereka mempersiapkan di ri..

"Locianpwe, masih ada satu hal yang kurasakan sedikit agak susah”

"Oya? Cobe katakan!"

"Kecuali kita berhasil menemukan mulut masuk menuju ke ruang rahasia mereka, kalau tidak penggunaan asap ini belum tentu akan mendatangkan kemanjuran seperti yang dlharapkan"

"Soal ini tak usah kau risaukan, aku telah menemukan cara yang baik ubtuk mengatasi soal ini"

"Oooh, aku siap mendengarkan penjelasan mu"

"Aku telah mempersiapkan sejumlah besar jago untuk melakukan pencarian secara besar-besaran"

"Mungkin mereka terlalu rapat menyembunyikan diri, tak mudah untuk menemukannya"

'Soal ini akupun telah memikirkannya, jika kita gagal menemukan mulut masuk ke ruang bawah tanah mereka, terpaksa kita harus menggunakan satu cara yang terakhir, yaitu membakar kebun raya Ban-hoa-wan tersebut..."

"Ehmm, Cara ini memang bagus, mungkin saja mereka akan menjadi takut, cuma bila mereke bersikeras tak mau keluar dari tempat persembunyiannya, sekalipun kita bakar kebun raya Ban-hoa-wan ini juga tak nanti berhasil memaksa mereka keluar' “Jika mereka tak mau keluar juga, aku telah mempersiapkan air dari sungai Siang-kang untuk menenggelamkan mereka dibawah tanah..."

"Menenggelamkan mereka?"

"Benar, sudah kau perhatikan bentuk tanah ditempat ini? Asal kita rubah sedikit saja dengan tenaga manusia, untuk menenggelamkan tempat itu bukan merupakan suatu pekerjaan yang sukar"

"Cara ini amat jitu, juga baik sekali"

"Untuk mengalirkan air dari sungai Siang-kang ketempat ini tentu saja membutuhkan suatu pekerjaan yang besar tapi orang-orang Pay-kau bersedia membantu kita untuk mengalirkan air dari sungai Siang kang untuk menenggelamkan tempat ini"

"Bagaimana setelah menenggelamkannya?” "Merubah tempat ini menjadi sebuah telaga".

"Baik, beritahukan dulu persoalan itu kepada mereka, aai.. cuma sayangnya untuk mendirikan kebun raya Ban hoa-wan entah sudah berapa banyak biaya, pikiran dan tenaga yang dicurahkan, tapi pemandangan alam yang sangat indah itu akhirnya harus dimusnahkan menjadi abu"

Tan Tiang kim tertawa.

"Aaai... jangan lupa kalau pepohonan serta pemandangan yang sangat indah itu tak lebih hanya mereka pergunakan untuk melindungi sarang mereka untuk melakukan kejahatan"

"Baik, kita gunakan kedua cara itu saja sekarang harap locianpwe bersedia untuk merundingkan dahulu persoalan ini dengan ciangbun suheng kami" "Baik, segera aku akan membicarakannya dengan mereka, kapan kita akan berangkat?"

"Asal sudah dibicarakan, kita segera berangkat"

Tan Tiang kim segera beranjak dari tempat duduknya sambil berseru.

"Baik, kita tetapkan demikian saja, sekarang aku si pengemis tua mohon diri lebih dahulu'

Setelah menghantar Tan Tiang kim, Cu Siau-hong segera mengundang datang Lik Hoo, Ui Bwe dan Ang Bo tan, setelah itu ujarnya:

"Barusan Tan Tiang kim dari Kay-pang telah membicarakan sesuatu denganku"

"Soal apa?" tanya Lik Hoo, "Apa pula sangkut pautnya dengan kami tiga bersaudara..?"

"Ada sangkut pautnya denganku. "

"Nah, itulah dia, bila ada sangkut pautnya dengan kongcu, tentu saja ada sangkut pautnya pula dengan kami" lanjut Lik Hoo segera.

"Tapi dalam hal ini kalian musti mengambil keputusan sendiri, kalian boleh memilih sekehendak hati kalian sendiri"

'Kongcu dapatkah kau beritahukan dulu kepada kami, persoalan apakah itu?" tanya Ang Bo tan. "Pihak Kay-pang telah mengambil keputusan untuk menyerang kebun raya Ban-hoa-wan pada hari ini"

"Kami akan turut serta?"

"Terserah kalian sendiri yang memutuskannya." Lik Hoo segera menghela napas panjang, katanya: "Bila kongcu menyuruh kami pergi, tentu saja kami akan turut pergi"

"Baik, kalau toh kalian sudah memilih maka hal ini berarti ada sangkut pautnya juga dengan mati hidup kalian"

"Dapatkah kongcu menjelaskan lebih jauh?"

"Kali ini kita akan memasuki kebun raya Ban-hoa-wan lagi, tapi kali ini kita akan pergunakan cara apapun untuk memaksa mereka keluar, setelah itu kita baru membuat perhitungan sampai tuntas"

'Kongcu hendak mempergunakan cara apa untuk memaksa kemunculan mereka...'.

"Dengan api. "

Lik Hoo segera tertawa.

"Mereka tak akan takut, lorong rahasia bawah tanah itu mempunyai persiapan yang sangat baik, mereka tidak takut diserang dengan kobaran api. ".

Cu Siau-hong turut tertawa.

'"Kalau tidak takut api, takut tidak mereka dengan asap?'. "Asap? Siapa yang menemukan akal ini?`

"Menurut kau, siapa yang menemukan cara ini?" Cu Siau-hong balik bertanya sambil tersenyum.

"Sudah pasti kongcu" "Benar, memang aku"

"Cara ini memang merupakan sebuah akal yang bagus sekali"

"Persoalannya sekarang adalah bagaimana caranya untuk menemukan mulut masuk menuju ke lorong rahasia mereka,  sebab  bila  asap  tersebut  tidak  dilepaskan  dari lubang masuknya, maka cara ini sama sekali tak ada gunanya"

Lik Hoo berpikir sebentar, kemudian katanya:

"Padahal tak usah meenmukan mulut masuk terlalu banyak, asal ditemukan tiga atau lima diantaranya lalu berusaha untuk menghembuskan asap yang tebal ke dalam lubang itu, otomatis kerembesan juga asap-asap tebal itu..."

"Aaah, betul juga" sela Cu Siau-hong sambil tertawa, "kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?"

"Pandangan kongcu terlampau jauh ke depan, sehingga hal-hal yang kecil sering dilupakan..."

"Tak nyana kau si budak cilik pandai juga menangkap pembicaraan orang..." seru Cu Siau-hong sambil tersenyum.

Lik Hoo, Ui Bwe dan Ang Bo tan saling berpandangan sekejap sambil tertawa, tanpa terasa hubungan antara pelayan dengan majikanpun lebih mendalam setingkat.

Cu Siau-hong segera mendehem pelan, kemudian katanya lagi:

"Lik Hoo, dalam perguruan Bukhek bun mempunyai peraturan serta pantangan yang amat ketat, maka dari itu murid Bu-khek-bun rata-rata selalu serius dan keren"

"Paling tidak kongcu termasuk orang yang tidak terlampau serius" tukas Lik Hoo cepat, 'buktinya kami diperbolehkan berbicara dan menentukan kehendak sendiri"'

Cu Siau bong segera tertawa.

"Jangan mengambil diriku sebagai contoh, bagi semua anggota Bu-khek-bun lainnya, aku adalah satu-satunya pengecualian" "Oya."

"Selama kita berada bersama tanpa kehadiran orang lain, sikap kalian boleh lebih leluasa dan bebas tapi

begitu ada orang lain, sikap kalian harus berhati-hati, bersungguh-sungguh dan sangat beraturan mengerti?"

?oooO)d.w(Oooo?

“MAKSUD kongcu" bisik Lik Hoo.

“Masa kalian benar-benar tidak mengerti?" kata Cu Siau hong sambil tertawa.

"Maksud kongcu kami harus menjadi gadis yang sopan santun dan lemah lembut tahu aturan?"

"Benar, memang itulah yang kumaksudkan!' "Tapi, kami tak lebih cuma dayang!" "Peraturan buat dayang justru lebih berat lagi" Ang Bo tan segera tertawa, selanya:

'Maksud kongcu, bila berada didepan orang lain, maka kita musti berlagak sopan santun, lemah lembut dan tahu adat dan aturan, tapi bila kita hanya berada bersama  kongcu saja, maka sikap kita boleh lebih bebas lagi"

"Jangan mengartikan maksud perkataan itu sejauh sana, menyuruh kalian berlagak tapi bersungguh-sungguh dengan tulus hati sedangkan bila kita berkumpul bersama tanpa kehadiran orang lain, kalian boleh leluasa bertindak dan bebas merdeka cuma... hati hati, tak boleh kelewat batas"

Ui Bwee segera manggut-manggut.

"Kami mengerti, harap kongcu berlega hati, kami tak akan membuat kau kehilangan muka." Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang. Katanya kemudian.

"Kalau begitu akupun berlega hati, kalian juga harus pergi beristirahat sebentar, persiapkan diri baik-baik, tentunya kalian juga mengerti, persoalan ini mempunyai hubungan yang besar sekali dengan kalian, maka dari itu berapa banyak yang kalian pahami dari delapan belas macam senjata tajam bawalah yang lebih banyak lagi"

"Kalau kudengar dari ucapan kongcu, seakan-akan kau mau bawa kami tiga bersaudara pandai menggunakan senjata rahasia saja?" ucap Lik Hoo tiba-tiba.

Cu Siau-hong mangangguk.

"Tepat sekali" sahutnya, "bila kalian dapat menggunakan senjata rahasia, bawalah senjata rahasia itu lebih banyak lagi sehingga bilamana perlu, kalian bisa mempergunakannya dengan sepuas mungkin.

Lik Hoo turut manggut-manggut.

"Kongcu" katanya, "sebenarnya kami merasa agak takut kalau disuruh masuk lagi ke dalam kebun raya Ban-hoa wan, tapi sekarang secara tiba-tiba saja rasa takut itu bisa hilang lenyap tak berbekas."

"Kenapa bisa begitu?"

"Entahlah, pokoknya kami tak bisa melukiskannya, kami hanya merasa seakan-akan kongcu telah memberi suatu keberanian yang sangat besar untuk kami"

"Mungkin setelah kongcu membawa kami keluar dari kebun raya Ban-hoa-wan, membuat kami semakin merasa harga atau nilai dari kami sendiri" sambung Ui Bwe.

"Yaa, kami bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah" lanjut Lik Hoo. "Tapi yang penting, kami telah berhasil menembusi pikiran yang membedakan antara hidup dan mati" kata Ang Bo tan menambahkan. "Sekarang kami berpendapat bahwa kematian bukan sesuatu yang menakutkan, tapi kalau harus mati maka kita harus mati dengan hati yang tenang."

Cu Siau-hong manggut-manggut.

"Ehmm, setelah kudengar semua perkataan kalian ini, hatiku juga terasa jauh lebih lega, sekarang kalian pergilah beristirahat"

Lik Hoo sekalian segera memohon diri untuk meninggalkan tempat itu...

Keesokan harinya, baru saja Cu Siau-hong bangun dari tidurnya, Lik Hoo, Ui Bwe dan Ang Bo tan telah berdiri berjajar ditengah ruangan itu ....

Waktu itu mereka bertiga telah mengenakan seperangkat pakaian ringkas dengan dipinggangnya masing-masing tergantung sebuah kantong terbuat dari kulit.

Lik Hoo memakai baju ringkas berwarna hijau, hijau seperti daun teratai, cuma kali ini bunga teratai besar yang berada di dadanya telah hilang lenyap.

Ui Bwee mengenakan pakaian berwarna kuning, baju kuning dengan celana kuning ditambah sepatu kuning, namun didepan dadanya sudah tiada sulaman bunga Bwe yang berwarna kuning lagi.

Sebaliknya Ang Bo tan mengenakan baju serba merah, merah bagaikan menyalanya kobaran api, hanya sulaman bunga besar Botan yang berada didadanya kini juga tidak nampak.

Pada dasarnya ketiga orang perempuan itu rata-rata berwajah   cantik   jelita,   sekalipun   pakaian   ringkas yang mereka kenakan sekarang berwarna menyolok, namun  tidak sampai mengurangi kecantikan muka mereka bertiga.

Dibalik pakaian ringkasnya yang ketat, tertera potongan tubuh mereka yang padat berisi, pinggang yang ramping dengan dandanan wajah yang tidak menyolok, sungguh menambah daya tarik mereka bertiga.

Tampaknya ketiga orang perempuan ini telah melakukan suatu perombakan secara besar-besaran terhadap dandanan mereka, mereka tahu sampai dimanakah jalan pikiran Cu Siau-hong terhadap dandanan mereka itu. sehingga kali ini dandanan mereka sengaja dilakukan amat sederhana.

Cu Siau-hong sebenarnya tidak terlalu suka mengurusi soal-soal sepele, tapi sekarang hampir seperminum teh lamanya dia mengawasi ketiga orang nona itu, kemudian sambil tertawa baru ujarnya.

'Sungguh amat cantik, juga menarik hati'

"Bila kami tiga bersaudara Hong berdandan sedikit jika harus mengikuti kongcu, hal ini pasti akan memalukan diri kongcu sendiri" kata Lik Hoo menerangkan.

"Setelah kulihat dandanan kalian, meski warnanya masih terlampau menyolok, namun lambang didepan dada telah dilepas, dari sini terbukti sudah kalau kalian memang ada niat untuk merubah sifat diri sendiri"

'Dahulu, kami kakak beradik adalah siluman dari dunia persilatan, tapi sekarang paling tidak kami sedang melakukan perubahan secara pelan-pelan, cuma kamipun berharap agar kongcu jangan menuntut terlalu banyak dari kami"

"Soal ini aku mengerti, aku berharap setiap hari dapat menyaksikan sedikit perubahan dari kalian, tak usah banyak-banyak walau hanya setitikpun aku sudah puas" Lik Hoo segera menghembuskan napas lega.

"Ooooh kongcu, kami pasti akan berusaha keras untuk merubah diri" janjinya. Cu Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi.

Lik Hoo kembali menghembuskan napas panjang, lanjutnya:

"Kongcu, dahulu kami tak pernah serius, kami selain mempermainkan setiap lelaki yang dijumpai, hanya satu kali kami benar-benar bersikap serius, tapi kali ini justru kami harus menelan banyak penderitaan ditangan Keng Ji Kongcu, Tapi sekarang, perasaan kami ibaratnya sumur yang telah mengering, tak nanti akan terjadi gelombang besar lagi, itulah sebabnya kau tak usah kuatir, kami pasti tak akan melakukan suatu perbuatan yang akan memalukan dirimu'

Cu Siau-hong tersenyum.

'Setelah kudengar perkataanmu itu, hatiku benar-benar merasa amat lega, walau pun aku lega terhadap kalian, namun tidak lega terhadap orang lain!"

"Orang lain Siapakah orang lain" Ang Bo tan keheranan.

"Soal ini, aku sendiripun tidak tahu, tapi mereka sudah pasti adalah orang lelaki, dan aku yakin hal ini tak bakal salah"

"Aku masih saja tidak habis mengerti 'seru Ang Bo tan. "Adikku yang bodoh" sela Lik Hoo, "kongcu

maksudkan, bila dandanan kita masih menyolok seperti sekarang ini, seandainya ada lelaki yang datang mencari kita, lantas apa yang musti kita lakukan?"

"Tentu saja gampang sekali, asal dibunuh kan urusannya akan menjadi beres?" "Hmm, kalau dapat membunuh orang itu kongcu tak akan memberitahukan kepada kita dengan begini serius dan bersungguh-sungguh"

"Kenapa tidak? Mereka berani mengganggu ketenangan wanita, dosa sebesar ini mati pun masih tak cukup"

'Kalau dibicarakan hal ini memang benar, cuma urusan tak mungkin bisa di selesaikan dengan cara begitu?"

"Lantas harus bagaimana? Aku tak dapat menemukan cara lain yang baik, toh mustahil kalau kita yang mesti berlutut dihadapan mereka sambil memohon agar mereka bersedia membantu kita?"

Cu Siau-hong segera tersenyum.

"Kalian tak usah meributkan persolan itu terus menerus" katanya, "apa yang telah kalian ucapkan tak lebih hanya betul separuh saja"

“Kongcu berpengetahuan luas, budak sekalian tak bisa menebak maksud hati kongcu yang sebenarnya "

'Kalian tak usah mengumpak, aku tidak doyan dengan segala macam umpakan "tukas Cu Siau-hong sambil tersenyum.

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

'Andaikata yang yang datang adalah manusia cecunguk dari luar, tentu saja kalian wajib untuk memberi pelajaran kepadanya, tapi seandainya orang itu bukan manusia cecunguk yang datang dari luar?"

"Andaikata kongcu yang menghendaki, tentu saja kami tak akan melawan, apapun yang kau kehendaki pasti akan kami turuti" jawab Ang Bo tan cepat.

Dengan kening berkerut Cu Siau-hong segera berseru. 'Aku yakin masih memiliki kemampuan untuk mengendalkan diri, akupun tidak masukkan diriku dalam hitungan ini"

"Sebenarnya memang tak perlu diperhitungkan!" sambung Ang Bo tan.

"Masalahnya sekarang adalah orang lain misalnya orang orang Bu-khek-bun sendiri, misalkan saudara seperguruanku sendiri, atau yang yang pihak Kay-pang'

"Kay-pang adalah sebuah perguruan kenamaan yang bertujuan lurus, rasanya tak nanti mereka akan melanggar pantangan untuk bermain perempuan" tukas Ang Bo tan, "sedang orang-orang Bu-khek-bun, wah... sulit untuk dikatakan'

"Soal itu aku kurang tahu, perguruan Bu-khek-bun kalian tidak terhitung sebuah perguruan besar didalam dunia persilatan, anggotanya juga tidak banyak, oleh sebab itu jarang sekali kami dengar hal-hal yang menyangkut tentang perguruan Bu-khek-bun"

"Kalau berbicara dari soal jumlah anggota, kami memang bukan terhitung sebuah perguruan besar, tapi kalau berbicara soal peraturan perguruan, peraturan kami sedikitpun tidak berada dibawah perkumpulan Kay-pang”.

"Kalau memang begitu, kami semakin tak perlu takut lagi, baik dipihak Kay-pang maupun dari kalian orang orang Bu-khek-bun, semuanya dibelenggu oleh serangkaian peraturan perguruan yang sangat ketat, bayangkan saja, soal apa pula yang mesti kami risaukan atau takutkan lagi?"

"Bukan demikian maksudku, perlu kalian ketahui, walaupun mereka mempunyai peraturan perkumpulan yang membelenggu gerak-gerik mereka, namun kalian bertiga cantik jelita bagaikan bunga yang sedang mekar, dimana mana akan terendus bau harum yang semerbak, dalam keadaan begini, tidak sulit untuk menimbulkan kesalahan paham diantara mereka sendiri. "

"Salah paham? Kesalahan paham apa?"

"Waaah... soal itu sih amat sukar diterangkan, misalkan saja senyuman atau gerak gerik kalian, kemungkinan besar akan menarik perhatian kaum lelaki"

"Itu mah gampang, asal kami tidak tertawa, kan urusannya menjadi beres?'

"Yaaa, persoalan ini memang sulit untuk diterangkan dalam dua tiga patah kata saja, pokoknya yang penting, kalian harus belajar bersikap terbuka, pandai membawa diri sehingga jangan sampai menimbulkan ingatan sesat bagi orang yang memandangnya"

"Kongcu, berilah kesempatan kepada kamni untuk mempelajarinya secara pelan-pelan" pinta Lik Hoo.

Sementara itu Tan Tiang kim telah menampakkan diri dalam ruangan, sambil berjalan mendekat, ia menegur.

"Cu Sauhiap, sudah siap sedia untuk berangkat?" "Boanpwe memang sedang menunggu"

"Baik, kalau begitu mari kita berangkat..." ujar Tan  Tiang kim kemudian sambil tertawa. "Bagaimana dengan Ciangbun suheng kami?"

"Mereka bergabung dalam kelompok ketiga, kita berangkat selangkah lebih duluan."

"Apakah dari pihak Kay-pang telah berangkat serombongan lebih dulu?" "Benar, dalam kelompok pertama tadi telah kami sertakan jago-jago lihay perkumpulan kami, mereka sudah berangkat tengah malam kemarin."

Cu Siau-hong tidak banyak bertanya lagi, dia manggut manggut dan segera beranjak pergi.

Ketika mencapai jarak seratus kaki dari kebun raya Ban hoa-wan, mereka sudah menyaksikan anak murid pihak Kay-pang berjaga-jaga disetiap sudut tempat yang strategis.

Agaknya dalam operasinya kali ini, mereka datang secara terbuka dan terang-terangan, sama sekali tidak berusaha untuk menutupi gerakan mereka...

Selain anggota Kay-pang, Cu Siau-hong juga menjumpai banyak sekali orang-orang berpakaian ringkas warna biru yang berlalu lalang disekitar tempat itu.

Ia lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah Tan Tiang kim, kemudian bisiknya. "Locianpwe, apakah orang orang itu berasal dari perkumpulan Pay-kau..?'

"Benar! Didalam operasi kita kali ini, Pay-kau juga telah mengirimkan jago-jagonya dalam jumlah yang cukup besar".

"Gara-gara urusan Bu-khek-bun, ternyata kami harus merepotkan orang-orang Kay-pang dan Pay-kau untuk melakukanr banyak perbuatan, kejadian ini sungguh membuat kami merasa tidak tenang"

“Ketika permulaan kami datang ke kota Siang-yang, mungkin saja bantuan kami hanya bersifat bantuan terhadap sahabat mengingat hubungan Kay-pang dengan Bu-khek-bun yang akrab, tapi sekarang kejadiannya sudah tidak demikian lagi. Organisasi rahasia yang berada didalam kebun raya Ban-hoa-wan ini sudah merupakan suatu    ancaman    langsung    terhadap    keamanan    serta ketentraman umat persilatan pada umumnya, atau dengan perkataan lain, setiap saat besar kemungkinan Kay-pang dan Pay-kau akan menjadi incaran mereka berikutnya, itulah sebabnya tindakan yang kami lakukan sekarang hanya bisa dikatakan sebagai sesuatu tindakan untuk melindungi diri..."

"Locianpwe, ucapanmu itu terlalu berlebihan” tukas Cu Siau-hong cepat.

"Setiap perkataan yang aku si pengemis tua katakan merupakan ucapan yang muncul dari sanubariku yang  jujur, bukan saja pihak Kay-pang berpendapat demikian, sekali pun pihak Pay-kau juga mempunyai perasaan semacam ini.."

Cu Sian hong manggut-manggut.

"Pena Wasiat dari dunia persilatan merupakan manusia paling aneh dalam dunia belakangan ini, merupakan masalah yang amat besar, ia dihormati dan disanjung setiap umat persilatan, mana mungkin masalahnya bisa dicampur adukan dengan bencana besar yang akan melanda dunia persilatan dewasa ini?"

"Maksud boanpwe, Pena Wasiat ini selalu tiada hentinya menyelidiki rahasia dalam dunia persilatan, kemudian mengumumkannya secara meluas kepada khalayak umum.."

"Cara seperti ini toh tidak salah?" tukas Tan Tiang kim, "manusia laknat paling besar yang sukar dihadapi adalah manusia munafik yang baik diluarjahat didalam, mungkin saja mereka adalah seorang saudagar kaya raya, mungkin juga seorang tokoh persilatan suatu daerah atau mungkin juga mereka adalah seorang manusia yang tak pernah ternama, tapi mereka selalu melakukan kejahatan secara diam-diam, membuat orang sukar untuk menemukan jejak mereka, tak berhasil menemukan mereka, manusia semacam inilah baru bisa disebut sebagai manusia buas yang paling menakutkan, tapi Pena Wasiat mampu untuk mengungkap rahasia mereka, agar kedok kemunafikan mereka terungkap."

"Locianpwe, pernahkah kau saksikan keadaan sewaktu Pena Wasiat itu menampakkan diri?"

"Pernah, waktu itu benar-benar merupakan suatu pertemuan dunia persilatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya, Pena Wasiat telah mencatat banyak masalah dalam kitab catatannya dan membongkar banyak kebobrokan serta kemunafikan yang ada didunia  ini, banyak orang yang tak tahan menyaksikan nama baiknya ternoda sehingga bunuh diri seketika itu juga, adapula yang menjadi gila karena gelisah, pemandangan ketika itu betul betul mengerikan sekali."

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, lalu berkata:

'Locianpwe, keadaan semacam ini pasti akan mendatangkan rangsangan serta ketegangan yang luar biasa bagi siapapun yang hadir dalam arena, terhadap orang orang itu, apakah tindakan tersebut tidak kelewat kejam dan tak berperi kemanusiaan?"

Tan Tiang kim segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... berbicara dari soal

perikemanusiaan, mungkin tindakan tersebut sedikit kelewatan, tapi berbicara untuk pihak Kay-pang, aku si pengemis tua setuju untuk membasmi kaum laknat sampai ke akar-akarnya, dengan terbasminya kejahatan barulah kebajikan akan bersemi disetiap insan manusia" 'Locianpwe maksudku seandainya Pena-wasiat bisa menambahkan sedikit kebajikan diantara tindakan pembasmiannya itu maka keadaannya pasti akan jauh berbeda"

"Cu kongcu tiada persoalan yang seratus persen sempurna didalam dunia ini, juga tiada orang yang seratus persen sempurna, seperti misalnya Pena Wasiat, sekalipun dia belum terhitung sempurna seratus persen, paling tidak kesempurnaannya toh mencapai sembilan puluh persen'

Cu Siau-hong menghela napas panjang dan tidak banyak berbicara lagi.

Dalam pada itu, rombongan kawanan jago itu sudah semakin mendekati kebun raya Ban-hoa-wan.

Diluar dugaan, Keng-ji kongcu ternyata seorang diri berdiri didepan pintu Kebun raya Ban-hoa-wan dengan pedang terhunus.

Cu Siau-hong segera memburu ke depan, kemudian tegurnya: "Keng-ji kongcu lagi-lagi kita bersua muka"

Keng ji kongcu memandang sekejap ke arah Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan, lalu ujarnya dengan hambar:

`Dalam kebun raya Ban-hoa-wan terdapat banyak sekali jago lihay..."

'Jumlah jagoan dari pihak kami pun tidak sedikit" sambung Tan Tiang kim cepat.

Dengan dingin Keng-ji Kongcu segera berkata:

'Pengemis tua, dengarkan dulu perkataanku ini, kemudian tidak terlambat bila hendak menimbrungnya" Tan Tiang kim manggut-manggut.

"Baik! Silahkan kau ucapkan, aku tidak akan mempersoalkan waktu beberapa menit" Keng Ji kongcu mengalihkan sorot matanya ke wajah Cu Siau-hong, setelah menatapnya beberapa kejap, dia berkata:

"Tiga orang dayang jalang itu sudah berubah pikiran, aku rasa tak sedikit rahasia kami yang telah dia ungkap kepadamu"

"Ehmm..." Cu Siau-hong hanya mengiakan.

Sambil berkerut kening Keng Ji kongcu kembali berkata: "Cukup dilihat dari sikapmu yang amat tenang dan

mantap, dapat kuketahui bahwa kau merupakan musuh yang cukup tangguh bagiku"

"Ji kongcu terlalu memuji"

"Tahukah kau, berapa banyak lorong rahasia yang telah dibangun dibawah tanah dalam kebun raya Ban-hoa-wan ini?"

"Aku tahu!"

"Kau bermaksud akan menggunakan cara apa untuk menyerang kami?'

“Memaksa kalian keluar dari lorong bawah tanah kemudian melangsungkan pertarungan antara hidup dan mati"

"Dengan cara apa?"

"Dalam kebun raya Ban-hoa-wan ini banyak terdapat kayu dan pepohonan, kami akan menggunakan asap yang tebal untuk memaksa mereka keluar.'

"Suatu cara yang sangat bagus"

"Lihat saja hasilnya nanti, pokoknya waktu yang kami miliki amat banyak, sekali pun harus diundur sampai tiga lima hari juga tak menjadi soal." Keng-ji kongcu segera tertawa.

"Aku lihat kalian tak usah repot musti melakukan pekerjaan sebanyak itu" katanya.

"Bagaimana? Apakah saudara bersedia untuk menyambut tantangan kami?"

Sekali lagi Keng Ji kongcu tertawa.

"Setelah mendengar cara yang kau beberkan itu, agaknya tiada pilihan lain lagi buat kami, terpaksa kami harus melakukan suatu perlawanan mati-matian".

"Bagus sekali, memang paling baik kalau kita masing masing saling mengandalkan kemampuan sendiri untuk menentukan hidup mati kita"

"Ditengah kebun raya Ban-hoa-wan sana terdapat tanah lapang yang luas sekali, tepat bila kita pakai sebagai tempat pertarungan, Cu kongcu, Tam Tiang kim, silahkan masuk ke dalam kebun raya!."

Cu Siau-hong kembali tersenyum.

"Kenapa?" ucapnya, "apakah kami harus bertarung didalam kebun raya Ban-hoa-wan?"

'"Kongcu, jika kalian tidak masuk ke dalam kebun raya Ban-hoa-wan, kami tak akan menampilkan diri untuk menyambut pertarungan itu"

"Ehmmm, betul juga perkataan ini, kalau begitu silahkan ji kongcu untuk pulang dulu ke dalam kebun, suruh mereka siapkan barisan menanti kedatangan kami, sebentar aku musti berunding dulu dengan mereka"

Keng-ji kongcu mengiakan, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ. Sepeninggal orang itu, Cu Siau-hong baru berpaling dan memandang sekejap kearah Tan Tiang kim, kemudian katanya:

"Locianpwe, pengalamanmu sangat luas, bagaimanakah pendapatmu tentang persoalan ini?"

"Andaikata mereka tetap bertahan disitu tak mau keluar, sedang kita enggan masuk ke dalam kebun raya Ban-hoa wan, otomatis keadaannya akan menjadi kaku dan saling bertahan"

"Locianpwe, organisasi ini selain penuh diliputi kemisteriusan, lagipula cara kerjanya amat keji, aku rasa mereka pasti sudah mempersiapkan suatu rencana busuk untuk menjebak kita'

"Persiapan apa maksudmu?"

"Ambil contoh, misalnya saja mereka menanamkan obat peledak ditengah kebun raya itu, atau menyiram minyak disekeliling tempat itu ..."

"Bila sumbu obat peledak itu mereka sulut, bukankah mereka sendiripun akan turut tewas disitu?" sela Tan Tiangkim.

"Bagi pandangan boanpwe, mereka tak akan mempersoalkan kerugian tersebut, namun bagi kita keadaan semacam ini justru sangat tidak menguntungkan, selain semua kekuatan inti dari Bu-khek-bun akan mati semua ditempat ini, dari pihak Kay-pang maupun Pay-kau juga akan kehilangan sebagian besar kekuatan intinya"

"Aah... ! Kalau sampai benar-benar demikian adanya, cara ini benar-benar merupakan suatu cara yang keji, Siau hong, hal ini bukan andaikata lagi, besar kemungkinan mereka memang berbuat demikian" "Yaa, kemungkinan tersebut memang besar sekali"

"Bukan kemungkinan lagi, tapi kenyataan memang demikian”, sela Lik Hoo tiba-tiba.

"Kau tahu akan hal ini?" tanya Cu Siau-hong. "Sebenarnya budak tidak tahu, karena aku belum

memikirkannya, bahwa selama itu siang maupun malam, aku selalu hidup diatas tumpukan minyak bakar serta mesiu, tapi sekarang setelah kubayangkan kembali keadaan ini benar-benar menakutkan sekali"

"Lik Hoo! Dalam peristiwa ini, bukan alasan yang dibutuhkan, melainkan harus ada bukti yang nyata"

"Banyak tempat didalam kebun raya Ban-hoa-wan dilarang membawa api, siapa yang berani membangkang perintah ini akan di hukum mati, bila dibayangkan kembali sekarang, rasanya tiada suatu partai pun di dunia ini yang mempunyai peraturan sekeras ini, coba dibayangkan saja, apa yang mereka takuti dengan diperlakukannya peraturan untuk melakukan persiapan tersebut?'

"Takut kalau sampai api yang kalian bawa membakar sumbu mesiu dan minyak yang tersimpan dibawah tanah" sahut Cu Siau-hong.

"Benar!'

"Oleh karena itu, mereka ingin memancing kita untuk melangsungkaa pertempuran ini dalam kebun raya Ban hoa-wan"

"Betul, sehingga bila pertarungan dilangsungkan, entah menang entah kalah kami akan dibunuh dalam kebun raya itu'

“Tepat sekali, disinilah letaknya maksud serta tujuan mereka sebenarnya' "Apakah Keng Ji kongcu mengetahui akan hal ini?" sela Tan Tiang kim tiba-tiba.

"Dia seharusnya tahu" "Apakah dia tidak takut?'

"Mungkin ia telah menyiapkan tempat persembunyian untuk meloloskan diri dari bencana tersebut"

"Kalau memang begitu, kita lebih-lebih tak boleh memasuki kebun raya Ban hoa-wan tersebut"

"Kalau tidak memasuki kebun raya Ban-hoa wan, bagaimana pula caranya untuk membasmi mereka seakar akarnya?' ucap Cu Siau-hong.

"Bahayanya terlampau besar, bagaimanapun juga kita tak akan menyerempet bahaya ini bukan?"

"Bahaya semacam ini, sudah barang tentu tak boleh kita tempuh, tapi kita pun tak dapat berdiam diri belaka sehingga terjadi suasana kaku yang tidak menguntungkan.

"Siau-hong, tampaknya kau sudah mempunyai rencana yang matang tentang masalah ini?' kembali Tan Tiang kim berkata.

"Kita coba saja nanti! Sekarang, aku masih belum mempunyai suatu pegangan yang meyakinkan"

Sementara itu, Pek Bwe, Pek Hong, Tang Cuan, Seng Tiong-gak serta Tiong It-ki sekalian telah berdatangan semua.

Pek Bwee yang mula-mula bertanya: "Pengemis tua Tan, bagaimana keadaannya?"

"Agak sulit"

"Dapatkah, kau terangkan lebih jelas lagi?" pinta Pek Bwe lebih lanjut. Setelah Tan Tiang kim menerangkan dugaan dari Cu Siau-hong, dia melanjutkan. 'Padahal, sekalipun diberitahu kepadamu juga sama saja tak ada gunanya'

"Cara semacam ini betul-betul sebuah cara yang amat keji, mengajak orang beradu jiwa, sungguh membuat orang tak tahu bagaimana cara untuk menghadapinya"

"Caranya cuma ada satu, hanya saja cara ini sedikit kelewat keji" ucap Cu Siau-hong. "Untuk menghadapi pertarungan, makin licin siasatnya semakin baik, coba kau terangkan"

"Kita lepaskan api dari arah belakang kebun raya Ban hoa-wan dan memaksa mereka untuk keluar lewat depan"

"Suatu cara yang bagus" puji Pek Bwee.

'Benar!" kata Tan Tiang kim pula "memaksa mereka keluar dari sarangnya dengan demikian mereka terpaksa harus menggunakan ilmu silatnya untuk memberi perlawanan"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan. "Padahal, bila mereka mau melakukan perlawanan

secara terbuka, siapa menang siapa kalah belum tentu bisa ditentukan mulai sekarang, herannya kenapa mereka justru harus melakukan tindakan semacam ini?"

"Mungkin mereka telah menyingkirkan orang penting dan barang penting yang berada disini ditempat lain" kata Pek Bwee.

"Tentu saja, hal inipun ada kemungkinannya benar" ucap Cu Siau-hong.

"Hei pengemis tua, begitu kita putuskan mari kita segera kerjakan, perintahkan kepada mereka untuk segera turun tangan!" "Baik!' sahut Tan Tiang kim, “aku segera turunkan perintah, kepada mereka untuk turun tangan" Tanda rahasia segera dilepaskan, bahkan sengaja mempertinggi suaranya sambil berseru: "Gunakan api untuk melawan mereka!'

Anggota Kay-pang yang hadir ditempat itu memang tak sedikit jumlahnya, begitu perintah diturunkan berpuluh puluh batang panah berapi segera dibidikkan ke dalam kebun raya Ban-hoa-wan.

Tak selang berapa saat kemudian, tampak Keng-ji kongcu tergopoh-gopoh munculkan diri dengah wajah penuh kegusaran teriaknya:

"Cu Siau-hong, apa-apaan kau ini?" Cu Siau-hong segera tersenyum.

"Masa maksudnya masih belum kau pahami?" ucapnya, "kami tak ingin memasuki kebun raya Ban-hoa-wan"

"Kenapa?"

"Sebab kami tak ingin tertipu dan masuk perangkap" sahut Cu Siau-hong sambil tertawa.

"Kita toh sudah berjanji akan melangsungkan pertarungan didalam kebun raya Ban-hoa-wan, kenapa secara tiba-tiba kau berubah ingatan?"

"Betul aku berkata demikian, tapi setelah kupikirkan kembali, terasa olehku kalau cara ini berbahaya sekali.. seandainya didalam kebun raya Ban-hoa-wan kau telah menyiapkan jebakan untuk mencelakai kami, bukankah kami akan terperangkap mentah-mentah?..

"Hmm, dengan pikiran seorang siaujin menilai kebesaran jiwa seorang Kuncu" "Perkataan semacam inipun dapat kau ucapkan, hal ini benar-benar membuat aku merasa kagum sekali”

"Apa maksudmu berkata demikian?"

"Pada saat ini kita berdiri sebagai musuh yang saling berhadapan, kemungkinan besar kalian telah menyiapkan banyak jebakan dalam kebun raya Ban-hoa-wan, padahal kami berharap dapat menyelesaikan persoalan ini secara adil"

"Penyelesaian secara adil? Sekalipun demikian, hal ini juga tak boleh dilangsungkan diluar kebun raya Ban-hoa wan" ucap Keng-ji kongcu kemudian cepat.

"Kenapa tak boleh bertarung diluar kebun raya Ban-hoa wan?"

"Bagaimanapun juga kita tak boleh mengganggu orang jalan" Cu Siau-hong segera tertawa.

"Dalam pertarungan ini, kita masing-masing akan mengandalkan kepandaian yang dimilikinya untuk berusaha membunuh pihak lawan, nyawa saja sudah tidak dimaui, mengapa mesti takut terhadap orang jalan"

"Kalau begitu, kalian tak berani memasuki kebun raya Ban-hoa-wan?" ucap Keng-ji kongcu kemudian dingin.

"Sekarang kita bertarung dengan mengandalkan kepandaian masing-masing untuk menentukan mati hidup kita, dalam hal ini tak bisa dibicarakan soal berani memasuki kebun raya Ban-hoa-wan atau tidak, kami tak ingin memasuki kebun raya Ban-hoa-wan tak lain karena kami ingin mencari suatu keadilan belaka"

"Cu Siau-hong, kalau lagi bercekcok, perkataan apapun dapat digunakan, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan tersebut lagi." "Saudara Keng, aku lihat bagaimana kalau kita berdua menentukan dahulu mati hidup kita sendiri?"

"Kau ingin bertarung lebih dulu melawan aku?" Cu Siau-hong mengangguk.

"Benar! Kita berdua memang lebih baik menentukan dahulu siapa yang lebih berhak untuk hidup"

'Cu Siau-hong, agaknya dalam hatimu sudah mempunyai suatu keyakinan dapat menangkan aku bukan begitu?`

"Aaaah, siapa bilang? Aku hanya merasa diantara kita berdua agaknya sudah mencapai suatu keadaan yang harus diselesaikan dengan suatu pertarungan "

"Baiklah, kalau begitu mari kita langsungkan pertarungan ini di kebun raya Ban-hoa-wan"

"Baik, cuma sebelum pertarungan dilangsungkan, terlebih dahulu ada beberapa patah kata yang hendak ku beritahukan dulu kepada mu"

"Aku siap mendengarkan ucapanmu itu'

'Dalam waktu singkat kami akan melepas api dari belakang bukit, sebelah kiri maupun kanan, jika mereka tak mau munculkan diri sekarang maka jangan harap mereka bisa keluar lagi dari tempat itu dalam keadaan selamat'

Paras muka Keng-ji kongcu segera berubah hebat.

"Apa? Kalian akan melepaskan api dari belakang bukit sana?" teriaknya tertahan..

“Sebelum melakukan perkerjaan tersebut aku bermaksud untuk memberitahukan lebih dahulu kepada kalian, kami tak ingin kehilangan sikap terbuka yang kami miliki'!

Keng-ji kongcu segera tertawa hambar. 'Cuma saudara Cu juga tak usah mengharapkan yang terlalu besar" katanya cepat, “sekalipun kau lepaskan api untuk membakar tempat itu, belum tentu apimu itu dapat membakar habis kami semua."

"Lihat saja nanti, pokoknya sampai saat ini menang kalah, kita tahu belum ditentukan”.

Keng Ji kongcu segera menggerakkan tangan kanannya untuk meraba gagang pedang yang tersoren dipinggangnya, kemudian ujarnya dengan dingin:

"Cu Siau-hong, cabut pedangmu!.

Tergerak hati Cu Siau-hong, segera pikirnya.

"Aku telah memberitahukan soal melepaskan api kepadanya, namun ia sama sekali tidak nampak gelisah atau cemas. Masa mereka benar-benar mempunyai cara yang terbaik untuk menghindarkan diri dari bencana api tersebut?"

Sementara dia masih memikirkan persoalan itu, mendadak terasa cahaya tajam berkelebat lewat, sebuah bacokan kilat telah menyambar kearah batok kepalanya.

Cu Siau-hong segera menggerakkan pedang ditangan kanannya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Criing!" benturan nyaring yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan, sepasang pedang itu saling membentur dan meninbulkan percikan bunga api.

Mendadak saja kedua bilah pedang itu patah menjadi dua, membuat senjata tersebut melesat kesamping: Tapi kutungan pedang kedua orang itu masih melanjutkan gerakannya membabat ke tubuh lawannya. Rupanya cara tersebut telah diperhitungkan masak-masak oleh Keng ji kongcu. Beberapa hari berselang, setelah mereka berdua melangsungkan suatu pertarungan yang seru, Keng Ji kongcu telah merasa bahwa dia tak akan bisa menangkan musuhnya dengan mengandalkan perubahan jurus serangan yang lihay, itulah sebabnya dia lantas merubah taktik pertarungan yang dipergunakannya.

Terlintas ingatan untuk menggunakan cara beradu jiwa ini untuk mengajak lawannya mati bersama.

Dikala sepasang pedang mereka saling membentur, dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya yang kuat untuk mematahkan kedua bilah pedang itu sekaligus.

Bila sepasang pedang itu patah secara tiba-tiba, apalagi dalam keadaan tenaga dalamnya tak bisa ditarik kembali, mustahil Cu Siau-hong dapat merubah gerakan lagi untuk mematahkan ancaman yang datang.

Walaupun cara ini lihay dan keji, namum harus mempunyai suatu syarat, yakni orang yang menggunakan cara ini harus bersedia pula untuk mengorbankan nyawa sendiri.

Sebab arah yang dituju oleh kutungan pedang itu merupakan bagian-bagian mematikan ditubuh lawan.

Andaikata tenaga dalam yang terpancar ke luar tak dapat ditarik kembali tepat pada waktunya, gerakan pedang tersebut pasti akan meluncur ke depan lebih jauh, dalam keadaan demikian kemungkinan musuhnya untuk terluka diujung pedang tersebut menjadi besar sekali.

Yaa, kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya perhitungan ini merupakan suatu perhitungan yang cermat, Keng-ji kongcu telah mempertaruhkan pula selembar jiwanya. Betul juga, Cu Siau-hong sama sekali tidak menyangka kalau Keng Ji kongcu dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk mematahkan pedang tersebut dalam bentrokan yang barusan terjadi, ia lebih-lebih tak menduga kalau pikak lawan mengajak dirinya untuk mati bersama.

Begitu sepasang pedang mereka putus, Keng Ji kangcu segera menambah kecepatan gerak kutungan pedangnya menusuk dada Cu Siau-hong.

Pedang ditangan Cu Siau-hong sendiri pun sebenarnya memang tertuju ke bagian mematikan didada Keng Ji kongcu, tapi dalam keadaan tenaga dalamnya tak dapat ditarik kembali, pedang itupun secepat kilat menusuk pula ke atas dada Keng Ji kongcu.

Tan Tiang kim yang pertama-tama menjerit kaget, namun ia sudah tak sempat untuk memberi pertolongan lagi.

Dalam waktu singkat sepasang pedang mereka telah saling menusuk tubuh lawan seorang secara telak.

Keng Ji kongcu memang tidak berniat untuk menghindarkan diri, kutungan pedang itu dengan telak menembusi dadanya hingga tembus ke punggung.

Sebaliknya Cu Siau-hong tidak menyerah dengan begitu saja, dalam keadaan yang amat krisis itu, mendadak ia keluarkan suatu gerakan langkah yang amat aneh sekali, tiba-tiba tubuhnya berkelit ke samping.

Namun gerakan itu toh masih terlambat selangkah, kutungan pedang itu segera menembusi bahu kirinya secara telak.

Kutungan pedang itu segera menembusi bahunya sampai kebelakang, menembusi bahu kiri si anak muda itu. Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata, Tan Tiang kim, Lik Hoo, Ui Bwee, Ang Bo tan, semuanya telah berlarian mendekat.

Lik Hoo segera melompat mendekat sambil melancarkan sebuah tendangan kilat ke lambung Keng ji kongcu. Sementara Ui Bwee dan Ang Bo tan segera turun tangan membimbing tubuh Cu Siau-hong,

Keng Ji kongcu segera mengebaskan tangan kirinya menangkis tendangan dari Lik Hoo itu, kemudian bentaknya dengan suara dingin:

"Kau pingin mampus!"

Bagaimanapun juga, dia masih mempunyai kewibawaan untuk mengendalikan ke tiga orang dayang itu, bersamaan itu juga sapuan telapak tangannya itu telah menggetarkan kaki kanannya sehingga kaku dan kesemutan.

Dalam pada itu, Keng Ji kongcu maupun Cu Siau-hong sama-sama telah melepaskan kutungan pedang ditangan nya.

Dengan suatu gerakan cepat Tan Tiang kim melompat ke depan dan menghadang dihadapan Cu Siau-hong, setelah itu ujarnya dingin.

"Tindakan yang kau lakukan benar-benar terlalu rendah dan memalukan..."

Walaupun dadanya telah ditembusi pedang, namun Keng Ji kongcu masih tetap berdiri tegak, sikapnya yang buas dan keren itu menambah rasa ngeri dan bergidik bagi siapapun yang melihatnya.

Bibirnya tampak bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun ia tidak menjawab pertanyaan dari Tan Tiang kim itu. Pelan-pelan Cu Siau-hong berjalan melewati Tan Tiang kim, kutungan pedang tersebut masih menancap diatas bahu kirinya.
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Pahlawan Gurun (Han Hay Hiong Hong)] akan diupload pada jam 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 29"

Post a Comment

close