Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 23

Mode Malam
Gelisah dan cemas adalah pantangan yang terbesar bagi seorang jago pedang, dengan kemampuan permainan pedang yang dimiliki orang berbaju putih itu, sesungguhnya dia boleh dibilang termasuk jagoan kelas satu, tapi anehnya ia tak mampu untuk mengendalikan pergolakan perasaan sendiri....

Tampak peluh yang membasahi kepala jago pedang berbaju putih itu, makin lama semakin banyak, agaknya perasaan hati orang itu sudah mencapai puncak ketegangan.

tiba-tiba jago pedang berbaju putih itu berpekik nyaring dengan  gusarnya,  mendadak  tubuhnya  melejit  ke  tengah udara, sekali meluncur ke angkasa, tubuhnya telah mencapai tiga kaki lebih dari permukaan tanah.

Kemudian setelah berjumpalitan satu kali badannya berputar kencang, dengan kepala dibawah kaki diatas dia meluncur ke bawah, pedangnya diputar kencang menciptakan selapis bunga pedang yang sangat tebal, kemudian dengan cepatnya menyelimuti seluruh angkasa.

Itulah sebuah serangan kilat yang dahsyat sekali, tubuh berikut pedangnya langsung menumbuk ke atas badan Tang Cuan.

Pek Bwe segera membentak nyaring.

"Tang Cuan, jangan tegang, lohu akan membantu dirimu."

Ditengah bentakan keras, secara beruntun ia lancarkan dua buah pukulan dahsyat ke tubuh orang berbaju putih itu.

Tang Cuan sendiripun diam-diam menggertak gigi, sambil menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya dia memutar pedang dan maju menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Serangannya ini boleh dibilang merupakan suatu serangan yang mempengaruhi mati hidupnya.

"Traaanng...!" terdengar bunyi benturan nyaring yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan, diantara percikan bunga api dua sosok bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya.

Diujung pedang kedua belah pihak sama-sama terlihat noda darah yang berwarna merah kental.

Tidak terlihat bagaimanapun bentuk luka itu, tapi darah segar yang memancarkan keluar dari mulut luka itu bagaikan sumber mata air. Luka Tang Cuan berada di atas bahu, darah segar pun telah membasahi separuh dari baju yang dikenakan. Dengan langkah lebar Pek Hong segera memburu kemuka, lalu tegurnya lirih:

"Nak, parahkah lukamu?"

Tang Cuan menggerakkan sebentar lengan kanannya yang mencekal pedang, setelah itu menjawab: 'Untung saja lukanya belum sampai ke tulang, luka ini hanya luka dikulit saja..."

Setelah menghembuskan napas panjang, dengan suara lirih terusnya:

'Sunio, sebetulnya aku tak sanggup menghindarkan diri dari serangan tersebut, untung saja ada tiga jurus ilmu pedang penolong jiwa dari Siau-hong sute, dengan dileburnya ketiga jurus itu kedalam ilmu pedang Cing peng kiam hoat, sesungguhnya hal ini membuat kehebatan ilmu pedang Cing peng kiam hoat berlipat ganda lebih dahsyat."

"Aku dapat melihat akan hal itu, persembahannya untuk Bu-khek-bun kami memang besar sekali." Sahut Pek Hong.

Seraya berkata dia merogoh sakunya dan mengeluarkan obat luka luar, kemudian turun tangan sendiri untuk membalut luka Tang Cuan diatas bahunya itu.

Tang Cuan orangnya lugu dan polos, ia tak pandai berbicara, meski hati kecilnya merasa berterima kasih sekali, namun dibibir tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan keluar.

Sin jut, Kui meh, Tan Tiang kim dan Pek Bwee telah berdatangan semua, mereka berempat masing-masing berjajar disekeliling tbuh orang berbaju putih itu, mencegah sergapan kilat yang dilakukannya secara tiba-tiba. Tiba-tiba orang berbaju putih itu melompat ke tengah udara, kemudian langsung melompat masuk kedalam kandang harimau...

Tan Tiang kim yang menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, serunya.

"Hei, apa yang telah terjadi?"

"Dia hendak mengumpankan diri untuk santapan kawanan harimau tersebut..." kata Pek Bwee.

Sementara pembicaraan berlangsung, orang berbaju putih itu sudah menubruk masuk kedalam kerumunan macan-macan kelaparan itu.

Mungkin bau amis darah dari mulut lukanya itu telah membangkitkan napsu makan harimau tersebut, terdengar auman yang keras sekali, kawanan harimau itu segera menubruk ke depan dengan garangnya.

Jerit kesakitan yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan disusul suara robeknya perut dan kulit badan manusia, dalam waktu singkat orang berbeju putih itu sudah dilahap kawanan macan itu sehingga tak sepotong badannya yang masih tersisa.

Tan Tiang kim yang menyaksikan adegan seram tersebut cuma bisa berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh, lama kemudian ia baru bisa berkata:

"Sungguh suatu peristiwa brutal yang belum pernah kubayangkan sebelumnya, tak nyana kalau orang itu memiliki keberanian sedemikian besarnya untuk mengumpankan diri sebagai santapan kawanan harimau huunh .... betul-betul menakutkan sekali, terus terang, aku  si pengemis tua tidak memiliki keberanian seperti itu" "Untuk beradu jiwa atau bertarung sampai titik darah penghabisan, aku orang she Pek tak pernah merasa takut" kata Pek Bwe pula. "tapi kalau menyuruh aku mengumpankan diri sebagai santapan kawanan harimau, ooh ....terima kasih! Aku orang she Pek tak akan memiliki keberanian semacam itu"

Dalam pada itu, Pek Hong telah selesai membalut luka yang diderita Tang Cuan, dengan langkah lebar dia segera jalan menghampirinya.

Ketika delapan belas harimau buas itu selesai melahap tubuh seorang manusia, itu pun tak lebih baru membangkitkan selera makan mereka

Maka harimau-harimau tersebut pun segera memperlihatkan mimik wajah buas yang mengerikan, seakan-akan sedemikian laparnya sehingga kalau bisa detik itu juga mereka hendak menerkam mangsanya.

Pek Hong memandang sekejap ke arah kawanan harimau di dalam kandang itu, kemudian dengan perasaan bergetar keras serunya dengan suara dalam:

"Ayah, coba lihat! Dari balik sorot mata harimau harimau tersebut tampaknya telah memancar keluar cahaya merah yang mengerikan sekali, oooh... seram benar!"

Tan Tiang-kim maupun Pek Bwee segera memalingkan kepalanya dan memandang ke dalam kandang. Apa yang kemudian terlihat segera membuat kedua orang jago tua itu menjadi tertegun.

Mereka menjumpai sorot mata kawanan harimau itu telah memancarkan semacam sinaar kebengisan yang luar biasa sekali, keadaan semacam itu sama sekali tidak mirip dengan sinar mata harimau biasa. "Saudara Pek!" Tan Tiang kim segera berbisik, "aku lihat keadaannya sedikit tidak beres"

"'Yaa! Pek Bwe membenarkan, "harimau-harimau itu kelihatan sangat garang, tampaknya mereka sudah bersiap siap untuk menerkam manusia dan melahapnya."

"Aku si pengemis tua belum pernah menjumpai harimau harimau semacam ini, saudara sekalian, kalian musti lebih waspada dan berhati-hati lagi."

"Tidak bisa begitu, tempat ini tak bisa kita diami lebih lama lagi, sekalipun kita dapat menghadapi kawanan harimau tersebut, sudah pasti akan banyak terdapat orang kita yang bakal menderita luka parah atau bahkan mati. "

"Maksud saudara Pek. " sela Tan Tiang kim.

"Sekalipun kita gagal untuk menahan kawanan harimau itu keluar kandang, paling tidak kita musti memilih suatu tempat yang menguntungkan buat kita semua"

"Kalau begitu cepat mundur!"

Mendadak terdengar suara pekikan aneh bergema memenuhi seluruh angkasa, menyusul kemudian kandang harimau itu roboh secara tiba-tiba.

Bukan Cuma sebagian tapi seluruh dinding pagar kayu yang merupakan batas kandang tersebut telah roboh sama sekali.

Kejadian ini benar-benar diluar dugaan beberapa orang itu, belum sampaip mereka mengambil sesuatu tindakan, hampir pada saat yang bersamaan kawanan harimau ganas itu telah menyerbu keluar.

Dengan membawa deruan angin amis yang amat menusuk hidung, binatang-binatang buas yang kelaparan itu masing-masing menerkam ke atas tubuh beberapa orang itu. Sin jut dan Kui meh serentak berkumpul menjadi satu dengan rekan-rekannya kemudian teriaknya keraskeras.

"Cepat berkumpul menjadi satu, tak sempat untuk mundur lagi!"

Padahal tak usah Sin jut dan Kui Meh berteriak memberi peringatan, Tan Tiang-kim serta Pek Bwee telah menggeserkan tubuh dan menggabung diri dengan rekan lainnya.

Kedua orang ini memiliki pengetahuan serta pengalaman yang luas sekali tentang kejadian didunia ini, reaksi yang mereka lakukan sudah barang tentu tak bisa dilampaui oleh Tang Cuan sekalian.

Pek Hong sambil melakukan sapuan dengan pedang ditangan kanannya, tangan kiri menarik tangan Tang Cuan dan diajak berkumpul dengan rekan-rekan lainnya.

Dengan begitu maka Pek Hong dan Tang Cuan jadi terlindung ditengah arena..

Sungguh cepat sekali terkaman dari kawanan harimau, tiga ekor harimau secepat anak panah yang terlepas dari busurnya telah menerkam tiba..

Sambil mementangkan mulutnya dengan gigi yang runcing, harimau-harimau itu merentangkan cakar dan menerkam kawanan jago tersebut.

Tan Tiang Kim, Pek Bwe, Sin Jut, Kui Meh, Pek Hong dan Tang Cuan serentak meloloskan senjata tajam masing masing.

Cahaya golok, bayangan pedang dengan cepat menciptakan selapis kabut sinar yang kuat untuk membendung terkaman dari kawanan harimau kelaparan tersebut. Ditengah auman yang memekikkan hati, dua ekor harimau raksasa yang berada dipaling depan telah terbacok sampai mati, sementara yang ketiga kena ditusuk oleh pedang Pek Hong dan terluka pada bagian dada dan perutnya, darah segar menyembur keluar dengan derasnya, tapi binatang itu berhasil juga melewati beberapa orang tersebut.

Tampak cakarnya yang tajam telah berhasil melukai bahu Pek Hong sehingga pakaiannya robek dan bahunya terobek memanjang oleh cakar harimau yang amat tajam itu.

Padahal Pek Hong tidak seharusnya terluka, tapi demi melindungi keselamatan Tang Cuan, tubuhnya terpaksa harus digeserkan jauh lebih ke depan lagi.

Dengan gelisah bercampur cemas, Tang Cuan segera berseru: 'Sunio, parahkah lukamu?"

"Aaah tidak menjadi soal, cuma luka dikulit!"

Terdengar suara auman harimau berkumandang susul menyusul, bagaikan gulungan ombak saja, satu gelombang demi satu gelombang kawanan harimau itu melakukan terkaman kilat ke depan.

Tampaknya kawanan harimau itu memang sudah memperoleh pendidikan yang cukup matang, sekalipun ayunan senjata rahasia dan senjata tajam yang dilakukan para jago telah berhasil membunuh enam ekor harimau buas, tapi sisanya yang masih ada dua belas ekor sama sekali tidak gentar, malahan mereka bergerak maju terus ke depan.

Dua belas ekor harimau berditi pada jarak kurang lebih satu kaki dengan kaki depan ditekuk siap melakukan gerakan menerkam ke arah depan. Setelah bertarung sekian lama melawan kawanan harimau tersebut, kawanan jago pun merasa agak sedikit lelah, menggunakan kesempatan tersebut mereka beristirahat sebentar.

Tan Tiang kim menghembuskan napas panjang, kemudian katanya... 'Masih ada orang kita yang terluka?"

Sin Jut dan Kui Meh sercntak menjawab hampir bersamaan waktunya: 'Lapor tianglo, lengan tecu kena tersambar cakar harimau-harimau itu. "

"Parahkah lukanya?'

"Tidak terlampau parah" sahut Sin Jut.

"Cuma sedikit luka diluar, cuma sekitar mulut luka  terasa kaku dan kesemutan, agaknya cakar harimau itu telah dipolesi dengan racun"

"Kalian membawa obat luka?'

"Tecu sekalian telah menelan sebutir pil pi tok wan (pil pencegah keracunan)!"

"Kawanan harimau itu sangat buas dan garang, andaikata cakar mereka mengandung racun pula, waaah....

mungkin hanya untuk menghadapi kawanan harimau pada hari ini pun, kita sudah akan kesulitan untuk menghadapinya"

"Tianglo" seru Kui Meh kemudian, "bagaimana kalau kita bunyikan peluit untuk mengundang bala bantuan?"

"Kalau dilihat situasi yang sedang kita hadapi sekarang, tampaknya urusan memang tak bisa ditunda lagi.." Mendadak terdengar bunyi pekikan aneh sekali berkumandang datang. Mendadak kawanan harimau yang sudah siap melakukan terkaman itu menarik diri dan mundur kembali kedalam kandang.

Kandang-kandang harimau yang semula sudah bertumbangan itu secara otomatis telah berdiri tegak kembali.

Dengan begitu, maka kawanan harimau itu pun segera tersekap kembali didalam kandang. Menyaksikan kejadian ini. Pek Bwee segera berkerut kening, kemudian gumamnya.

'Heran, kenapa secara tiba-tiba kawanan harimau itu sudah terku rung kembali didalam kandang, apakah bebarapa lembar nyawa kita tidak lebih berharga daripada nyawa beberapa ekor harimau ganas itu."

'Sudah pasti kawanan harimau itu dikendalikan oleh bunyi pekikan aneh tadi, soal kenapa mereka sampai mengundang balik kawanan harimaunya aku merasa masalah pelik ini sukar untuk dipercaya.

Sementara pembicaraan sedang berlangsung mendadak tampak ada dua sosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Ternyata kedua orang itu adalah Seng Tiong-gak serta Cu Siau-hong yang tidak diketahui jejaknya selama ini.

'Siau-hong, sedari kapan kalian masuk ke mari?" Pek Hong segera menegur dengan gembira..

"Tecu dan paman Seng sudah masuk kemari semenjak tadi" Sesudah berhenti sejenak, terusnya:

"Sunio, apakah ada orang yang terluka oleh cakar harimau-harimau ganas itu? "Aku! Masih ada lagi dua orang saudara dari Kay-pang!" sahut Pek Hong segera.

'Tecu mempunyai obat yang mustajab, cepat kalian telan"

Pek Hong menerima sebutir pil berwarna putih bersih, sambil mengawasi benda tersebut tanyanya: `Siau-hong, obat apa ini?"

"Obat yang khusus digunakan untuk menawarkan racun yang ada diujung cakar harimau-harimau itu, Sunio! cepat dimakan"

Sin Jut, Kui Meh masing-masingjuga menelan sebutir pil.

"Kemari! Aku si pengcmis tua juga minta sebutir" tiba tiba Tan Tiang kim berkata. Pek Bwe juga akhirnya minta sebutir pil penawar racun itu.

Rupanya dari semua orang yang hadir disitu, selain Tang Cuan seorang, boleh dibilang semuanya telah terluka.

Cuma, lantaran kuatir memmpengaruhi perhatian orang lain, maka beberapa orang itu hanya menyimpan kejadian itu didalam hati kecilnya saja.

Pek Bwe segera tertawa, katanya kemudian:

"Siau-hong, untung kau membawa datang sebotol obat penawar tepat pada waktunya, kalau tidak bisa jadi kami semua akan mampus oleh racun cakar harimau itu!"

Tan Tiang kim juga tertawa pula:

"Saudara Pek, andaikata Siau-hong tidak datang tepat pada waktunya, terpaksa aku si pengemis tua harus mendatangkan bala bantuan untuk membantu kita menanggulangi kejadian ini" "Dengan berbuat demikian, bukankah sama artinya dengan merusak semua rencana kita?' kata Pek Bwee.

"padahal menanti datangnya bala bantuan juga percuma, sebab keadaanya sudah pasti tak sempat lagi, padahal racun-racun itu ganas sekali, tidak sampai setengah jam sudah mesti racun itu akan kambuh dan mulai bekerja"

'Saudara Tan, sekalipun tidak kau katakan, siaute juga mempunyai perasaan yang sama, asal kawanan harimau ganas itu melakukan tubrukan sekali lagi, niscaya kita semua jangan harap bisa lolos lagi dari tempat ini dalam keadaan selamat"

Setelah berhenti sejenak, orang she Pek itu melanjutkan lebih jauh:

"Siau-hong, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa secara tiba-tiba kawanan harimau ganas itu bisa balik lagi ke dalam kandangnya?"

"Siau-hong telah memanggil mereka untuk masuk kandang" kata Seng Tiong-gak menerangkan.

"Aaaah, masa Siau-hong bisa memanggil kawanan harimau ganas itu untuk masuk kandang?" seru Pek Hong kurang percaya.

"Betul! Siau-hong pandai sekali mengingat-ingat nada irama, setelah mendengarkan irama yang dipakai untuk memberi perintah kepada kawanan harimau ganas tadi, dengan cepat ia berhasil memahami rahasia di balik irama tersebut, mula-mula kami memaksa orang itu untuk menyerahkan obat penawar, kemudian Siau-hong merampas peluit tersebut dan meniupkan irama yang dipahaminya, kawanan harimau ganas itupun segera mundur kembali ke dalam kandangnya" Dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu Siau hong, kemudian sambil tertawa ia tambahnya:

"Siau-hong bukan cuma pandai dalam mengenali irama lagu, lagipula orangnya teliti dan pintar, rupanya ia sudah menduga dimanakah letak tombol rahasia yang mengendalikan kandang kayu itu, ternyata dugaannya benar juga, baru tangannya menyentuh tombol rahasia tersebut, pagar kandang yang semula roboh itu tahu-tahu sudah berdiri kembali seperti sedia kala."

"Oooh. kiranya begitu"

"Tiong-gak!" Pek Hong lantas berkata, "dimana sih letaknya tombol rahasia yang mengendalikan pagar kandang harimau ini ?"

"Enso, meskipun sepintas lalu kebun raya Ban-hoa-wan memberi kesan kepada orang sebagai tempat hiburan, sesungguhnya tiap jengkal tanahnya tersembunyi jebakan yang sangat berbahaya, semua persiapan yang ada di tempat ini tampaknya telah diatur sedemikian rupa sehingga amat sempurna sekali, tombol rahasia yang mengendalikan kandang harimau itu letaknya berada dibalik semak belukar tujuh kaki dari tempat ini"

"Dibawah semak belukar?"

"Yaa, dibawah semak belukar, seandainya Siau-hong tidak seksama dan teliti, aku tak akan menduga sampai kesitu"

"Ayo jalan! Kita hancurkan dulu alat rahasia yang mengendalikan pagar kandang harimau ini" seru Tan Tiang-kim.

"Soal itu mah tak usah merepotkan cianpwe, alat rahasia tersebut telah kami rusak, sekalipun ada tukang yang ahli dalam alat rahasia ditempat saat ini belum tentu alat rahasia itu bisa diperbaiki dalam satu dua jam, kecuali harimau dalam kandang itu bisa melompati kandang kayu ini, jangan harap mereka bisa lolos lagi"

Tan Tiang-kim manggut-manggut, ujarnya kemudian: "Siau-hong, dengan cara apa kalian ke mari?"

"Setelah berunding dengan Seng susiok, boanpwe merasa lingkungan kebun raya Ban hoa-wan ini terlampau besar, dari sekian besar tempat yang ada, paling tidak pasti ada satu dua tempat yang bisa dipakai untuk menerobos masuk, maka kamipun mencari suatu tempat yang bisa dipakai imtuk menyusup ke dalam kebun raya ini tanpa diketahui orang lain"

'Apakah perbuatan kalian itu diketahui lawan?"

"Tidak, boanpwe merasa bahwa dalam kebun raya Ban hoa-wan ini terdapat banyak sekali alat rahasia yang disembunyikan dibalik pepohonan dan aneka bunga mereka pandai msnyembunyikan alat rahasia tersebut sehingga sukar diketahui orang, oleh sebab itu boanpwe pun mempergunakan pepohonan dan aneka bunga yang ada disini untuk menyusup masuk kemari, untung saja jejak kami tidak sampai diketahui mereka"

"Ehmm .... mempergunakan persiapan yang dilakukan musuh untuk menyembunyikan diri, Siau-hong, kau memang hebat! 'puji Pek Bwe.

"Locianpwe, ketika boanpwe dan Seng susiok menyusup masuk kedalam bebungaan, telah kami jumpai suatu kejadian.”

"Kejadian apa?"

"Ternyata dibalik bebungahan itupun terdapat banyak sekali alat-alat jebakan yang berbahaya sekali ' 'Ooooh..."

"Ternyata didalam bebungaan tersebut terdapat banyak sekali benang tipis yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya, boanpwe pernah mencobanya, satu kali tiap tali benang itu tersentuh, segera ada jarum tajam yang meluncur keluar"

"Kejadian semacam itu juga telah dijumpai oleh dua orang saudara dari Kay-pang"

"Yaa, itulah sebabnya dari sini boanpwe dapat menarik kesimpulan bahwa dibalik bebungahan tersebut sesungguhnya tersembunyi banyak sekali jago tangguh. "

"Sute" tukas Tang Cuan, "kalau memang bebungahan itu berbahaya sekali, seharusnya orang merekapun tak mungkin bisa masuk keluar disekitar tempat itu dengan leluasa"

"Siaute curiga, dibawah tanaman bunga tersebut kemungkinan besar terdapatjalan bawah tanah"

"Lorong bawah tanah?"

"Yaa! Kalau tak ada lorong bawah tanah, kenapa jumlah orang yang demikian banyaknya dalam kebun raya Ban hoa-wan, secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas dengan begitu saja?'

'Jadi maksud sute. "

"Siaute rasa, kemungkinan besar mereka bersembunyi di bawah tanah" Sambung Cu Siau-hong lebih jauh, "dalam kebun raya Ban-hoa-wan ini tidak terdapat banyak bangunan rumah, satu-satunya tempat yang bisa dipakai untuk menyembunyikan diri hanya dibawah tanah" "Betul! Kalau toh tombol rahasia yang mengendalikan kandang harimau itu letaknya dibawah tanah, tentu saja merekapun mungkin juga di lorong dibawah tanah'

"Siau-hong, lantas menurut pendapatmu, bagaimana  cara kita untuk menghadapi mereka" tanya Tan Tia ng-ki m..

'Sudah barang tentu kita tak bisa menggali tanah atau merusak kebun raya Ban hoa-wan dengan begitu saja, apalagi jumlah kitapun tidak cukup untuk melakukan hal ini"

“Sute, kalau begitu, kita tidak punya cara yang baik untuk mengatasi keadaan ini?" seru Tang Cuan.

'Siaute masih belum berhasil menemukan cara yang baik untuk mengatasi keadaan tersebut, selain itu kitapun belum berhasil menemukan pintu masuk menuju ke lorong rahasia tersebut."

"Kalau begitu, terpaksa kita harus menunggu sampai mereka turun tangan lebih dahulu " kata Tan Tiang kim kemudian.

"Tan cianpwe, boanpwe rasa dari pada kita menunggu sampai pihak musuh turun tangan lebih dulu, mengapa tidak kita yang memancing kemunculan mereka?" seru Tan Cuan kemudian.

"Benar, kita memang bisa menggunakan akal untuk memancing kemunculannya, tapi cara apakah yang harus kita pergunakan sehingga mereka dapat dipancing keluar!'

"Mau memancing kemunculan mereka juga boleh, memaksa mereka juga boleh, yang penting cara apakah yang harus kita gunakan?" "Dengan api, asal kita melepaskan api untuk membakar pepohonan dan bebungahan yang ada disini serta merta mereka pasti akan menampakkan diri!'

Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap kearah pemuda itu, kemudian manggut-manggut. "Yaa, cara ini memang bisa juga kita pergunakan"

"Mereka telah membakar perkampungan Ing-gwat san ceng kita, mengapa kita tidak gunakan pula cara yang sama untuk membakar kebun raya Ban-hoa-wan mereka?"

"Ciangbun suheng, kita tak boleh melepaskan api ditempat ini!" tiba-tiba Cu Siau-hong berbisik.

"Kebun raya Ban-hoa-wan adalah sebuah tempat yang amat terkenal, apabila sampai terbakar, sudah pasti peristiwa ini akan memancing perhatian orang banyak, rakyat disekeliling tempat ini pasti akan berbondong bondong datang kemari, kalau sampai terjadi peristiwa begitu, bukankah yang bakal repot adalah kita sendiri? Apalagi kebakaran yang mungkin terjadi bisa melenyapkan semua bukti yang ada"

Mendengar perkataan itu, Targ Cuan lantas manggut manggut, katanya kemudian. "Benar! Apa yang dikatakan sute memang benar, cara ini tak bisa kita gunakan!"

'Dengan susah payah mereka mengatur persiapan ini serta memancing kita memasuki kebun raya Ban-hoa-wan, itu berarti persiapan yang matang sudah pasti ada, aku rasa mereka pasti tak akan melepaskan kesempatan yang baik ini dengan begitu saja, maka jangan kuatir. Walau mereka tidak sampai melakukan sesuatu gerakan.

"Pengemis tua" ujar Pek Bwe kemudian. "apakah kita harus memilih sesuatu tempat yang baik untuk melangsungkan duel dengan mereka?". "Benar!" seru Cu Siau-hong pula, "kita bisa memilih send iri tempat yang ideal dan cocok untuk melakukan pertarungan dengan mereka."

Kembali Pek Bwee berbisik:

"Pengemis tua, apakah kau hendak mengadakan kontak dengan mereka ?"

"Aku rasa untuk sementara waktu belum perlu!" "Pengemis tua, apakah kau yakin kalau mereka semua

telah datang kemari ..?' Mendengar perkataan itu, Tan Tiang kim segera tertawa lebar.

"Soal ini tak usah saudara Pek kuatirkan, bukan saja dari pihak Kay-pang telah datang banyak jago, bahkan pihak Pay-kau pun mengirim juga kawanan jagonya dalam jumlah yang sangat banyak."

"Yang menjadi beban pemikiran dari aku si pengemis tua sekarang adalah masalah yang lain?" tanya Pek Hong gelisah.

Kay-pang dan Pay-kau sudah berdatangan ke tempat ini dalam jumlah besar, karena itu mereka lantas mengambil keputusan untuk tidak berkutik untuk sementara waktu"

“Pengemis tua" sela Pek Bwe kemudian. “mari kita balik."

"Ke mana?"

"Berusaha untuk membekuk Lak ci sin mo!"

"Sekalipun ia berhasil dibekuk juga belum tentu bisa memberi banyak petunjuk yang berharga bagi kita, apalagi dia akan turun tangan dengan sepenuh tenaga demi keselamatan anak istrinya, walaupun berhasil membekuknya, kita juga akan membayar suatu pengorbanan yang besar sekali.. "Ucapan itu memang benar, cuma kita toh tak bisa berdiam diri saja ditempat ini bukan?"

"Locianpwe, menurut pendapat boanpwe, sekarang kita harus menyelesaikan dulu satu persoalan" kata Cu Siau hong tiba-tiba.

'Persoalan apa?"

'Bila kita bikin mereka sakit hati dan penasaran, kemungkinan besar, bisa memaksa mereka untuk turun tangan sebelum waktunya"

"Kita bisa turun tangan untuk membunuh sisa kedua belas ekor harimau ganas itu!"

"Benar!"

"Pek yaya, mungkin kau merasa aku terlalu kejam dan tak berperasaan, sesungguhnya kau harus tahu, setiap hari harimau-harimau ganas itu diberi santapan daging manusia, mereka sudah terbiasa makan daging manusia, andaikata sampai dilepas, bisa jadi akan menimbulkan bencana yang sangat besar"

Pek Bwe manggut-manggut.

"Yaa, kawanan harimau itu memang sangat ganas dan buas, sepuluh kali lipat lebih ganas daripada harimau biasa, bukan saja mereka sudah terbiasa makan daging manusia, mungkin juga sudah diberi semacam obat"

"Kandang macan itu luas sekali! bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk membereskan harimau harimau tersebut!" Kata Tan Tiang kim cepat.

"Tapi kita kan bisa menyerang mereka dengan mempergunakan senajat rahasia beracun." Usul Sin Jut. "Betul! Kalau kita bisa menghadapi kawanan harimau ganas itu dengan senjata raha-sia beracun, cara ini memang merupakan sebuah cara yang bagus sekali!"

"Lapor Tianglo" kata Kui Meh, "tecu membawa dua belas batang senjata rahasia beracun, persis bisa kita gunakan untuk menghadapi kedua belas ekor harimau ganas itu"

Paras muka Tan Tiang-kim segera berubah hebat, serunya kemudian:

"Darimana kau bisa mendapatkan ke dua belas batang senjata rahasia beracun itu?"

"Kedua belas batang senjata rahasia itu tecu peroleh dari perguruan Ngo-tok-bun "

"Kau telah membunuh anggota perguruan Ngo-tok-bun?" "Tecu tidak membunuhnya, tecu dapatkan dengan jalan

mencuri"

"Oooh, senjata rahasia beracun macam apakah itu?" "Dua belas peluru perak beracun."

"Baik! Keluarkan piau beracun itu, setelah mendapatkannya kau tidak memusnahkan, juga tidak menyerahkannya kepadaku, cuma kebetulan sekali piau beracun itu memang bisa digunakan pada saatnya. maka boleh dibilang perbuatanmu kali ini adadlah membuat jasa untuk menebus dosa"

"Tianglo, kandang harimau itu luas sekali, dibutuhkan orang yang bertenaga sambitan kuat dan bisa mengarah sasaran yang tepat untuk melepaskan senjata rahasia ini."

"Peluru perak beracun itu hanya berjumlah dua belas batang, itu berarti setiap batang senjata rahasia itu harus berhasil menghajar telak seekor macan" "Yaa, tecu menyadari bahwa tecu tak memiliki kemampuan seperti itu" Kui Meh mengakui.

"Bagaimanakah kepandaian saudara Pek didalam melepaskan senjata rahasia ..?" tanya Tan Tiang kim kemudian.

"Soal ini....? Siaute sendiripun tidak memiliki keyakinan sebesar itu "

"Tan Cianpwe, aku bersedia untuk mencobanya" kata Cu Siau-hong secara tiba-tiba.

"Siau-hong" kata Pek Hong dengan cepat, "kau belum pernah belajar ilmu melepaskan peluru perak, mana mungkin bisa kau lakukan serangan tersebut."

"Ilmu thi lian hoa jin (bunga teratai baja) dari Bu-khek bun kita juga termasuk ilmu melepaskan senjata rahasia, Siau-hong pikir semua kepandaian melepaskan senjata rahasia adalah sama saja, asal kita bisa berhati-hati sewaktu mempergunakannya, mungkin tak akan berbeda jauh satu sama lainnya."

"Sute, tindakan ini bukan suatu perbuatan yang bisa dianggap sebagai gurauan belaka," kata Tang Cuan, "mana boleh kau anggap..."

"Tak usah kuatir suheng, jika siaute meleset dalam melepaskan senjata rahasia nanti, bisa kugunakan bunga teratai besi dan pedang untuk menghadapi harimau harimau yang tidak terkena sambitan peluru beracun itu!"

Tan Tiang kim segera manggut-manggut, katanya kemudian: "Keluarkan peluru perak tersebut!"

Kui Meh segera mengeluarkan dua belas batang peluru perak beracun itu dan diserahkan kepada Cu Siau-hong. Senjata rahasia yang dinamakan peluru perak beracun itu kecil sekali bentuknya, panjang cuma empat cun dengan ujungnya berkaitan, warnanya semu biru, ini menandakan kalau racunnya ganas sekali.

"Siau-hong, lepaskanlah seranganmu itu" kata Tan Tiang kim kemudian dengan pelan.

Tiba-tiba Cu Siau-hong melompat ketengah udara dan menerjang masuk kedalam kandang harimau tersebut.

Kawanan harimau itu segera meraung keras, sinar matanya yang buas bersama-sama ditunjukkan kearah Cu Siau-hong.

Sianak muda itu membentak keras, sepasang tangannya diayunkan bersama, empat batang peluru perak beracun segera dilepaskan kearah sasaran

Peluru beracun dari Ngo tok bun memang luar biasa lihaynya, sifat racunpun sangat hebat, empat ekor harimau segera terhajar telak dan roboh terkapar di atas tanah.

Cu Siau-hong melayang masuk dalam kandang harimau, begitu kakinya mencapai tanah, empat batang peluru beracun kembali berhasil merobohkan empat ekor harimau dengan begitu dalam waktu singkat sudah ada delapan ekor harimau yang dibikin mampus.

Ketepatan dalam serangan, kehebatan dalam penggunaan tenaga, benar-benar mengagumkan sekali.

Sisanya yang tinggal empat ekor menjadi bertambah was was, agaknya mereka sudah merasakan datangnya ancaman bahaya maut, mendadak sambil mengaum keras, serentak mereka menerkam ke atas tubuh Cu Siau Menyaksikan datangnya terkaman itu, Cu Siau-hong berpekik aneh, mendengar pekikan itu, terkaman para harimau serentak terhenti ditengah jalan.

Dikala ke empat ekor harimau ganas itu menghentikan serangannya, Cu Siau-hong segera melepaskan kembali keempat batang peluru beracun yang masih tersisa.

Ke empat batang peluru beracun itu kembali mengenai sasaran dengan telak, empat ekor harimau ganas yang masih hidup pun kembali terkapar diatas tanah.

Dua belah batang peluru beracun menghasilkan dua belas batang harimau ganas, sungguh merupakan suatu prestasi yang sangat mengagumkan.

Memandang kedua belas bangkai harimau yang tergeletak di tanah itu, Cu Siau-hong menghela napas sedih, kemudian melompat keluar dari balik kandang.

Tan Tiang-kim manggut-manggut, katanya kemudian: "Inilah yang dinamakan kalau sudah ahli, maka dengan

cara apapun sama saja, kalau dilihat dari caramu melepaskan senjata rahoasia tadi, agaknya sudah banyak tahun kau melatih kepandaian tersebut"

"Cara melepaskan senjata rahasia sesungguhnya tak jauh berbeda antara yang satu dengan lainnya, boanpwe merasa antara peluru perak dengan pisau terbang sebetulnya tidakjauh berbeda, cuma dikala membunuh kedua belas ekor harimau itu tadi, telah kugunakan sedikit tipu muslihat, hal mana membuat hatiku merasa sangat tidak tenang."

"Siau-hong, harimau-harimau ganas itu sudah terbiasa makan manusia, kalau tidak dibunuh maka akibatnya hanya akan mendatangkan kerugian bagi umat manusia sendiri" kata Pek Bwee. "Tecu menyesal sekali telah pergunakan suitan harimau yang menandakan akan diberi makanan, padahal bukan makanan yang kuberikan, melainkan..."

Tan Tiang kim segera tertawa lebar setelah mendengar perkataan itu, serunya:

"Siau-hong, kau tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, membunuh harimau dengan senjata rahasia beracun selain lebih praktisjuga mengurangi penderitaan mereka sebelum ajalnya tiba"

"Terima kasih cianpwe atas perhatian dan petunjukmu!"

Pek Hong menghembuskan napas panjang, ujarnya kemudian: "Tan cianpwe, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Sekarang Siau-hong, telah membinasakan kawanan harimau ganas itu, seharusnya mereka juga sudah melakukan sesuatu tindakan..."

"Tapi hingga kini mereka belum juga melakukan suatu tindakan" sela Pek-Hong. "kemungkinan besar mereka telah menemukan sesuatu, maka sambil menahan diri terpaksa mereka membungkam terus"

"Apalagi mereka belum juga melakukan sesuatu pergerakan, kita harus mencari akal untuk menghancurkan empang ikan leihinya" kata Cu Siau-hong kemudian.

'Aku pikir disinilah tujuan mereka yang sebenarnya, dengan kawanan harimau mereka gagal melukai kita, maka mereka sengaja melakukan sesuatu gerakan agar kita bisa terpancing menuju ke empang ikan leihi " ujarnya Tan Tiang kim.. "Siau-hong, agaknya kau sudah mempunyai rencana yang matang sekali didalam menghadapi empang leihi tersebut" seru Pek Bwe tiba-tiba.

"Dalam kandang ada harimau, dalam empang ada siluman, jika kita masukkan kapur dalam jumlah besar kedalam empang tersebut, aku pikir sekalipun siluman empang itu sangat ganas, tak nanti ia bisa banyak berkutik"

"Ehmm, cara ini memang sebuah cara yang bagus sekali!" puji Pek Bwe.

Tiba-tiba terdengar serentetan suara yang dingin sekali bergema memecahkan keheningan.

"Didalam empang itu terdapat berpuluh-puluh ribu ekor ikan leihi, apakah tindakan kalian tidak terlampau keji dan melanggar peraturan langit?"

Ketika semua orang memalingkan kepalanya, maka tampaklah seorang kakek berjenggot putih telah berada lebih kurang dua kaki dihadapan mereka.

Padahal semua orang yang hadir di arena rata-rata adalah jagoan lihay yang berilmu tinggi, baik ketajaman mata maupun ketajaman pendengarannya mengagumkan sekali, tetapi nyatanya tak seorangpun diantara mereka yang tahu sedari kapan orang itu telah muncul disana.

Pek Bwe memperhatikan kakek berbaju putih itu sekejap, kemudian tegurnya:

"Aku lihat kau amat asing sekali, tolong tanya, apa sangkut pautmu dengan kebun raya Ban-hoa-wan ini?"

"Siapakah lohu, aku rasa hal ini bukan suatu hal yang sangat penting, sebaliknya tindakan kalian yang hendak memunahkan berpuluh-puluh ribu ekor ikan leihi merupakan  suatu  tindakan  yang  sangat  keji  dan  tidak berperasaan, oleh sebab itu lohu wajib untuk menghalangi perbuatan kalian itu."

"Puluhan lembar jiwa manusia yang tewas dalam perkampungan Ing-gwat-san-ceng apakah tidak lebih berharga daripada se empang ikan leihi?" sela Tan Tiang kim.

Mendengar perkataan itu, Kakek berbaju putih itu segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Tan Tiang kim!" dia berseru, "sebenarnya kalian sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini, tapi kalian bersikeras untuk melibatkan diri didalam pertikaian ini, rupanya kalian memang suka untuk mencari kesulitan buat diri sendiri."

"Kalau kudengar dari ucapanmu itu, rupanya kau adalah seorang tokoh yang sakti."

"Tan Tiang kim, kau ingin menanyakan nama lohu?" "Benar!"

Selangkah demi selangkah dengan tenangnya kakek berbaju putih itu mendekati para jago. "Berhenti!" bentak Tan Tiang-kim tiba-tiba dengan sepasang alis mata berkeryit.

Sambil menggenggam empat batang senjata rahasia bunga teratai baja, Cu Siau-hong juga tertawa dingin sambil berseru:

"Bila kau berani maju lagi ke depan, jangan salahkan kalau aku akan mempergunakan senjata rahasia"

Kakek berbaju Putih itu tertawa.

"Wahai anak muda!". serunya, "kenapa tidak kau coba untuk melancarkan serangan?.. Cu Siau-hong tertawa dingin:

"Hmmm jadi kau anggap aku tidak berani?" serunya..

Kakek berbaju putih itu masih tetap maju ke depan selangkah demi selangkah, wajahnya kelihatan tenang sekali.

Cu Siau-hong segera mengayunkan tangan kanannya, empat batang senjata rahasia bunga teratai besi segera meluncur kedepan menembusi angkasa

Mendadak kakek berbaju putih itu berhenti, kemudian seluruh badannya menjatuhkan diri ke arah belakang.

"Blaaamm!" diiringi suara keras, kakek berbaju putih itu jatuh tertelentang diatas tanah.

"Cepat mundur kebelakang, cepat menghindarkan diri!" buru-buru Cu Siau-hong berseru dengan cemas.

Termasuk Tan Tiang-kim dan Pek Bwe sendiri dengan perasaan tidak habis mengerti serentak mereka mundur kebelakang.

Sementara itu kawanan jago lainnya juga telah membubarkan diri ke empat penjuru.

Benar juga, setelah terjatuh ke atas tanah kakek berbaju putih itu menggelinding ke muka dengan kecepatan luar biasa, kemudian melompat bangun dan meluncur kehadapan para jago.

Semenjak tadi Cu Siau-hong telah mencekal empat batang bunga teratai baja, baru saja kakek berbaju putih itu melangkahkan kakinya ke atas tanah, empat batang bunga teratai baja itu telah meluncur menembusi angkasa.

Tiga buah meluncur ke arah kakek berbaju putih itu, sedangkan sebatang yang lain dengan selisih jarak dua depa menyambar lewat disisi badan kakek berbaju putih itu. Dengan suatu gerakan yang cekatan kakek berbaju putih itu mengayunkan sepasang tangannya berbareng,

"Criiiing...!" "Criiing..." "Criiing..." tiga batang bunga teratai baja itu sudah kena terhajar sampai rontok ke atas ta na h.

Sebatang yang lain ternyata berputar satu lingkaran terlebih dahulu, kemudian dengan kecepatan luar biasa menyambar ke depan dada kakek berbaju putih itu.

Dengan robeknya pakaian yang dikenakan kakek berbaju putih itu secara tiba-tiba menyembur keluar gelembung air yang tersebar sampai seluas satu kaki lebih.

Jelas air tersebut terhimpun dalam sebuah ruangan yang bertekanan besar dan keras, sehingga ketika tersambar  robek oleh bunga teratai besi itu, air mancur keluar dengan derasnya.

Tak seorang manusiapun yang bisa menebak apa kegunaan yang sebenarnya dari gelembung-gelembung air tersebut.

Tapi dengan cepat tampak buktinya.

Tiba-tiba terdengar suara denggungan keras bergema, memecahkan keheningan, menyusul kemudian muncul beribu-ribu ekor lebah beracun yang panjangnya mencapai satu inci lebih dan langsung menyambar ke arah orang berbaju putih itu.

Terhadap kawanan jago yang sedang dihadapi, kakek berbaju putih itu sama sekali tidak takut, tapi terhadap  lebah beracun itu takutnya setengah mati, tiba-tiba ia membalikkan badannya dan melarikan diri terbirit-birit. Tampak lebah-lebah beracun itu bermunculan dari empat arah delapan penjuru dalam waktu singkat kakek berbaju putih itu sudah terkepung oleh kawanan lebah tersebut.

Menghadapi kepungan dan kerubutan kawanan lebah itu, si kakek berbaju putih itu menari kesana kemari sambil menggerakkan sepasangtangannya,jeritan demi jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan...

Tidak sampai berapa saat kemudian, kakek itu sudah roboh terkapar di atas tanah dalam keadaan mengerikan.

Beribu ekor lebah beracun itu hanya mengerubuti kakek berbaju putih itu seorang, sedangkan kawanan jago di sekelilingnya sama sekali tidak diusik oleh lebah lebah beracun itu.

Tan Tiang kim menghembuskan napas panjang, lalu gumamnya.. "Benar-benar sebuah rencana yang teramat keji"

"Siau-hong" kata Pek Bwe pula, "lagi-lagi kau  selamatkan jiwa kami semua"

"Andaikata gelembung air itu sampai mengena ditubuh kita, sudah pasti kawanan lebah beracun itu akan menyerang kita" kata Tan Tiang-kim lagi, "jangan toh beribu-ribu ekor sekaligus, delapan atau sepuluh ekorpun sudah tidak mudah dihadapi, bagaimanapun lihaynya kungfu yang kita miliki, niscaya akan mati juga akhirnya diujung sengatan lebah beracun itu"

Pek Bwee mesghembuskan napas panjang.

"Siau-hong!" kembali ujarnya, "darimana bisa tahu kalau disakunya membawa air obat yang bisa memancing datangnya kerumunan lebah beracun?" "Boanpwe tidak tahu, boanpwe hanya merasa orang ini mencurigakan sekali!"

"Siau-hong, coba katakan dibagian yang manakah orang itu tampak mencurigakan?"

"Pertama, kemunculannya secara tiba-tiba."

"Siau-hong sute!" tukas Tang Cuan, "dengan cara apakah dia menampakkan diri?, Kita berjumlah amat banyak, tapi nyatanya tak seorangpun yang mengetahui akan kehadirannya!"

"Dia muncul dari lorong bawah tanah, maka kemunculannya sangat tiba-tiba. Apalagi bergoyangan ranting dan pepohonan yang terhembus angin menutupi gerak-gerik nya, tak heran kalau kita tidak mendengar sama sekali akan gerakannya yang lirih"

"Aaaai.... sebenarnya kejadian ini merupakan suatu kejadian yang cukup misterius, tapi setelah mendengar penjelasanmu itu, rasanya sedikitpun tidak menjadi misterius lagi"

"Kalau begitu, darimana kau bisa tahu akan rencana busuk mereka?" tanya Pek Hong.

"Pertama, dia tidak membawa senjata tajam, kedua, penyaruannya terlampau tua, padahal suaranya tidak mirip, maka timbul kecurigaan didalam hatiku, setelah kuperhatikan dengan seksama, kujumpai dadanya melembung besar, maka kucoba memancing nya dengan senjata rahasia, setelah itu dengan mempergunakan ilmu Hui sian thi lian hoa (bunga teratai baja terbang berpusing) kuhajar dada bagian depannya, aku tahu mereka datang dengan membawa rencana busuk tapi tidak kusangka kalau kedatangannya adalah untuk menyemburkan air obat itu ketubuh kita agar dikerubuti oleh lebah beracun. Pek Hong segera menghela napas panjang, ujarnya kemudian:

"Siau-hong, menurut pendapatmu, mungkinkah sutemu disekap di tempat ini?"

Ia menaruh rasa kagum terhadap Cu Siau-hong sehingga tanpa terasa rahasia hatinya juga turut dikemukakan keluar.

Cu Siau-hong termangu beberapa saat lamanya, setelah itu katanya:

"Sunio, tentang persoalan ini, Siau-hong tak berani mengambil kesimpulan, cuma menurut pendapatku setelah menganalisa keadaan yang kita hadapi, aku rasa besar kemungkinannya jika It-ki siau sute masih tinggal di kota Siang yang"

"Oooh .... mungkinkah berada didalam kebun raya Ban hoa-wan ini?"

"Soal ini, menurut pendapat Siau-hong besar kemungkinan ia berada disini"

'Baik! Kalau begitu mari kita cari dengan seksama"

Walaupun ia sudah merupakan seorang nyonya setengah umur, tapi kini seakan-akan ia berubah menjadi kekanak kanakan lagi.

Mungkin inilah akibat dari rasa rindunya kepada putra kesayangannya sehingga membuat perempuan ini kehilangan pendirian serta rasa percayanya pada diri sendiri.

Pek Bwee menghembuskan napas panjang, selanya tiba tiba.

'Hong-ji. tenangkan sedikit hatimu, tempat ini penuh dengan ancaman mara bahaya, sedikit salah bertindak bisa jadi akan mengakibatkan keadaan yang fatal" Walaupun ucapan tersebut tidak diucapkan dengan nada yang tegas dan tandas, tapi sikapnya amat serius.

Pek Hong segera menarik hawa murninya dalam-dalam, setelah menyalurkan hawa murninya lewat pusar dan mengelilingi seluruh badan, katanya pelan:

"Ananda menerima nasehat itu!"

Cu Siau hung buru-buru mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal yang lain, katanya:

"Tan locianpwe, dengan cara apa kita hendak melakukan pemeriksaan terhadap kebun bunga yang begini luasnya ini?"

"Sampai sekarang, aku si pengemis tua pun belum berhasil menemukan suatu cara yang baik" kata Tan Tia ng kim.

"Ada satu hal, lohu selalu merasa tidak habis mengerti " sela Pek Bwe dari samping..

"Coba katakan!"

"Apakah lorong dibawah tanah dalam kebun raya Ban hoa-wan ini saling berhubungan satu sama lain nya?"

"Kalau berhubungan bisa apa?"

"Kita bisa manfaatkan air yang ada dalam empang ikan leihi itu untuk menggenangi seluruh lorong bawah tanah, kenapa tidak kita lakukan hal ini untuk memaksa mereka agar munculkan diri?"

"Yaa, betul, memang ini merupakan satu cara bagus yang bisa kita pergunakan" seru Tan Tiang-kim.

"Kalau begitu mari kita periksa, apakah orang berbaju putih itu benar-benar muncul dari lorong bawah tanah" ujar Tang-Cuan sambil beranjak dari situ. Ternyata segala sesuatunya persis seperti apa yang diduga Cu Siau-hong, dibawah tanaman bunga, benar benar terdapat sebuah mulut gua yang tersembunyi sekali letaknya.

Mulut gua itu cuma dua jengkal lebarnya, tapi cukup untuk dilewati oleh satu orang. Tang Cuan segera menarik napas panjang, katanya kemudian dengan lirih:

"Biar aku turun kebawah untuk melihat keadaan"

"Siaute akan mcnemani ciangbun suheng,' sambung Cu Siau-hong dengan cepat..

-oOo>d’w<oOo-

KALI ini gerakan tubuh Tang Cuan yang lebih cepatan sedikit, dia berebut didepan Cu Siau-hong dan menyusup masuk ke dalam ruangan itu.

Ternyata dibalik gua merupakan sebuah lorong yang berliku-liku, lorong tersebut terbentang kearah sel ata n.

Jalan bawah tanah tersebut yang sempit, rendah lagi untuk dilewati satu orangpun boleh dibilang susah sekali.

Cu Siau-hong dengan ketat mengikuti dibelakang Tang Cuan.

Sementara itu, lorong bawah tanah tersebut makin ke depan semakin menyempit, baru dua tiga kaki mereka berjalan, lorong itu sudah buntu dan tak bisa dilewati lagi.

"Siau-hong, sudah tak bisa dilewati lagi..." bisik Tang Cuan kemudian.

'Suheng cepat mundur dari sini!" seraya bekata Cu Siau hong segera mundur lebih dulu dari tempat itu.

?oooO)d.w(Oooo? TANG CUAN segera membuntuti dibelakangnya dan mundurjuga dari dalam lorong bawah tanah itu.

"Bagaimarta keadaan didalam gua?" Tan Tiang kim segera bertanya begitu melihat kemunculan dua orang itu,

Cu Siau-hong cuma berdiri serius dan tidak berbicara apa-apa. Tang Cuan yang berada disisinya segera menjawab.

"Lorong bawah tanah ini cuma sepanjang dua kaki saja, setelah itu buntu dan tak bisa ditembusi lagi".

"Oooh kalau begitu, manusia berbaju putih itu bukan keluar dari dalam lorong bawah tanah itu?"

"Benar"

"Apakah kau mempunyai pandangan lain tentang persoalan ini?" tanya Tan Tiang kim kemudian sambil tertawa.

"Menurut perasaan boanpwe, lorong bawah tanah ini dibuat secara istimewa sekali, bila tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya sulit untuk memanfaakan lorong itu"

"Ehmm, masuk diakal!"

"Kalau begitu diserang dengan air empang pun percuma saja" sela Pek Bwe..

"Yaa, tak ada gunanya!"

"Siau-hong darimana kau bisa tahu kalau lorong rahasia tersebut dibuat secara istimewa!"

"Boanpwe pernah membacanya dari sejilid buku, dalam kitab tersebut khusus dibicarakan tentang ilmu bangunan bawah tanah, ilmu jebakan, ilmu alat rahasia, dinding berganda,   lorong   jebakan   dan   lorong-lorong  istimewa, disana disinggung juga pembuatan lorong rahasia palsu untuk membendung kejaran musuh, oleh karena itu, menurut pendapat boanpwe, kemungkinan besar lorong rahasia itu adalah sebuah lorong yang palsu "

"Maksudmu, didalam lorong rahasia tersebut masih terdapat pintu rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan tempat yang lain?"

"Yaa, boanpwe memang bermaksud demikian, lorong bawah tanah semacam ini boleh dibilang merupakan lorong bawah tanah berganda, didalamnya penuh terdapat liku likunya jalan yang saling berhubungan satu dengan lainnya, lagipula dimana-mana terdapat pintu kematian, orang yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya susah untuk menembusi lorong tersebut"

"Siau-hong, lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?' tanya Tan Tiang kim.

"Lorong bawah tanah yang berganda ini masih mempunyai suatu kehebatan lagi, yakni membagi tiap bagian lorong menjadi beberapa bagian kecil, setiap bagian bisa mereka tutup dengan begitu saja sehingga seseorang bisa mereka kurung didalam lorong rahasia bawah tanah itu sampai mati"

Tan Tiang kim menjadi termangu-mangu, katanya kemudian:

"Sudah setengah abad lamanya aku si pengemis tua berkelana didalam dunia persilatan, tapi baru pertama kali ini kudengar tentang kelihayan lorong bawah tanah tersebut, Siau gong, coba kau terangkan lebih terperinci lagi bagaimana cara kita untuk menghadapi lorong bawah tanah tersebut?" Merah padam selembar wajah Cu Siau-hong setelah mendengar perkataan itu, lanjutnya.

"Boanpwe mengetahui hal ini dari atas sejilid kitab, dalam kenyataan akupun tidak mengetahui terlalu banyak tentang masalah tersebut.?

'Jadi kalau begitu, sulit buat kita untuk menghadapi lorong rahasia berganda semacam itu?'..

"Yaa, boanpwe pikir memang sulit untuk dihadapi, hanya ada satu cara saja yang bisa dipakai untuk menghadapi lorong rahasia berganda semacam ini.. yakni, menemukan peta aslinya"

"Jadi kalau begitu kebun raya termashur yang tiap hari dikunjungi beribu-ribu orang pengujung ini sesungguhnya tak lebih hanya markas besar dari kaum penyamun yang berhati keji?"

'Kalau dilihat dari keadaan sekarang, memang demikianlah kenyatannya.

"Siau-hong, kalau begitu kita tak akan mampu untuk menemukan jejak mereka?"

"Maka dari itu kita menjadi kehilangan dasar sama sekali didalam masalah ini"

"Siau-hong sekalipun It-ki berada disini bukankah sulit juga buat kita untuk menemukan jejaknya" seru Pek Hong.

"Sunio, dalam peristiwa ini tecu tak berani memberi jaminan kepadamu, tapi aku pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga, kalau dilihat dari persiapan yang begitu sempurna dan pelik didalam kebun raya Ban hoa-wan ini, bisa jadi Siau sute memang kemungkinan besar berada ditempat ini.'. "Siau-hong, andaikata ia pasti berada disini, aku harap kau bersedia mencarinya dengan sepenuh tenaga"

"Sunio sekalipun kau tidak berpesan, akupun sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencarinya sampai ketemu"

"Bisakah ditemukan?" 'Aku... aku... '

'Hong ji kenapa kau mendesak terus diri Siau-hong dengan cara seperti ini? 'tegur Pek Bwe.

"Locianpwe tak bisa disalahkan jika sunvio sangat menguatirkan keselamatan It-ki, sebab memang sewajarnya kalau manusia berpendapat demikian, tapi boanpwe pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menemukan jejaknya.'

Dengan sedih Pek Hong menghela napas panjang. 'Ayah" keluhnya 'ananda boleh kehilanugan nyawa,  tapi

aku   harus   mencari   It-ki   sampai   ketemu,   kalau   tidak

bagaimana mungkin aku bisa bertanggungjawab kepada Leng kang"

“Perkataan sunio memang benar!" cepat-cepat Cu Siau hong berseru ....

"Siau-hong, jangan salah mengertikan ucapanku, aku hanya berharap kau bisa berusaha dengan sekuat tenaga"

"Tecu mengerti, tempat mereka untuk mengurung siau sute sudah pasti bisa kita temukan jika kita mau selidiki pelan-pelan dan seksama, sekarang juga aku akan pergi untuk melakukan pemeriksaan lagi."

"Baik, aku akan menemanimu", seru Seng Tiong-gak. "Aku juga ikut" sambung Tang Cuan. "Tang Cuan" sela Seng Tiong-gak cepat, "aku seorang yang menemani Siau-hong sudah cukup, kau adalah seorang ciangbun-jin, jangan bergerak secara sembarangan"

"Tidak, aku juga harus menyumbangkan sedikit tenagaku"

Sin Jut dan Kui Meh serentak berkata:

"Ciangbunjin, lebih baik kau menemani tianglo kami saja, biar kami dua orang pengemis cilik yang menemani saudara Cu"

Tang Cuan segera manggut-manggut dan tidak menampik lagi.

Pek Bwe ingin mengucapkan sesuatu untuk mencegah, tapi Tan Tiang kim segera mengebaskan tangannya mencegah Pek Bwe berkata lebih jauh.

Cu Siau-hong, Seng Tiong-gak, Sin Jut, Kui Meh empat orang segera berjalan kedepan.. Menunggu ke empat orang itu sudah pergi jauh, Tan Tiang-kim baru berkata dengan suara lirih: "Aku lihat Siau-hong adalah seorang bocah yang agak aneh dan luar biasa "

"Kebun raya Ban hoa-wan ini begini luas dan besar, mencari tempat kurungan ditempat sebesar ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, aku tidak percaya dia sudah berhasil menemukan sesuatu", sambung Pek Bwe pula.

"Saudara Pek, kau lebih lama berkumpul dengannya daripada aku si pengemis, tapi berbicara soal pengertian tampaknya kau tidak bisa melebihi diriku"

"Apa maksudmu dengan ucapan tersebut?"

'Jikalau dia tidak memiliki sesuatu titik terang, tidak nanti bocah itu akan melakukan tindakan secara Sembarangan" "Maksudmu..."

"Dalam hati kecilnya sudah timbul setitik rasa curiga," sela Tan Tiang-kim, 'cuma tidak begitu yakin, karena itu tidak berani dia ucapkan secara sembarangan, tapi setelah didesak terus oleh keponakan Pek Hong, mau tak mau terpaksa dia harus mencobanya juga!..

"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Tentu saja sungguh, jika kau tidak percaya sebentar tanyakan saja kepada Seng Tiong-gak" Pek Bwe segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Pengemis-tua" katanya. "benarkah Siau-hong memiliki kehebatan sedemikian besarnya?"

"Aku rasa tak bakal salah lagi, jika tidak percaya, bagaimana kalau kita bertaruh"

"Tak usah bertaruh, aku percaya dengan semua perkataanmu itu"

?oooO)d.w(Oooo?

DENGAN cepat Cu Siau-hong sekalian telah mengitari dua buah gundukan tanaman pohon bunga dan bergerak maju ke depan.

Tiba tiba si anak muda itu berhenti.

"Siau-hong, apakah kau sudah mempunyai perhitungan yang masak?" Seng Tiong-gak segera bertanya.

"Sesungguhnya siautit tidak mempunyai suatu keyakinan."

"Kalau begitu, kau hanya mempunyai gambar secara kasarnya saja?'

"Benar!" Seng Tiong-gak segera tertawa.

"Siau-hong, aku yang menjadi susiokmu mau tak mau harus kagum juga kepadamu, kita melakukan perjalanan melalui jalan yang sama, melihat benda dan pemandangan yang sama pula, kenapa kau bisa menemukan sesuatu sedang aku tidak?"

"Soalnya susiok tidak menaruh perhatian khusus, asal kau mau memperhatikan dengan seksama, maka kau dapat menjumpai hal tersebut!"

"Coba katakan, dimana letaknya?"

"Tidak jauh!" jawab Cu Siau-hong sambil tertawa, sejauh pandangan mata kita sekarang. Seng Tiong-gak memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya:
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 23"

Post a Comment

close