Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 13

Mode Malam
Seratus jurus kemudian, Kiau Hui-nio mulai keteter dibawah angin.

Bukan dia saja, dalam kenyataan setelah lewat seratus jurus, baik Ouyang Siong maupun Ti Thian hua sekalian kena terdesak pula sehingga berada dalam posisi yang sangat terdesak. Hal ini bukan dikarenakan ilmu silat mereka terlalu cetek, melainkan karena musuh mereka yang terlampau lihay.

Secara beruntun Ouyang Siong telah menggunakan tiga jurus ilmu Siu-hun-jiu-hoat-nya yang hebat, tapi semuanya kena dibendung oleh Tan Tiang kim. Hal ini membuat dia tak sanggup lagi untuk menggunakan jurus-jurus berikutnya.

Sekalipun demikian, tiga jurus ilmu Siu hun jiu hoat tersebut cukup mendatangkan perasaan was-was bagi Tan Tiang-kim.

Tujuh jurus ilmu Siu hun jiu hoat dari Ouyang Siong disebut sebagai salah satu ilmu sakti pada dunia persilatan. ini terbukti kepandaian tersebut memang benar-benar memiliki daya penghancur yang dahsyat.

Seandainya ketujuh jurus ilmu Siu hun jiu hoat itu digunakan secara beruntun, Tan tiang kim sendiripun merasa ragu apakah dia sanggup untuk menyambutnya atau tidak.

Berpikir demikian, ilmu pukulannya segera berubah. dia gunakan tujuh puluh dua jurus ilmu pukulan Liong ing ciang yang di kombinasikan dengan dua belas jurus Ki-na jiu hoat.

Itu berarti cepat dan lincah digunakan bersama dalam kekuatan yang keras dan lunak.

Apalagi bukan menjumpai seorang musuh yang tangguh, jarang sekali Tan Tiang kim menggunakan kepandaian tersebut.

Serangkaian setangan berantai yang dilontarkan secara beruntun memaksa Ouyang Siong berada dibawah angin. Tapi ia terburu napsu, begitu turun tangan, ia telah beradu tenaga sampai lima kali dengan Hay Yok wong. suatu adu kekerasan yang dilakukan dengan daging beradu daging tulang beradu tulang.

Padahal ilmu yang dipelajari Hay Yok wong adalah Lok han-khikang, meski berjiwa keras namun ilmu itu dilatih dari dalam mencapai luar.

Sebaliknya ilmu pukulan Poh san-kun dari Lu-peng justru termasuk ilmu tenaga luar.

Setelah terjadi lima kali adu kekerasan, Lu peng baru merasa tulang tangan kanannya sakit dan terluka, tapi ia tak berani mengutarakannya keluar, sambil menggigit bibir pertarungan dilangsungkan lebih jauh.

Sebenarnya dia bermaksud mengandalkan kehebatan dari tenaga serangannya untuk melukai lawan, siapa tahu malah sebaliknya dia sendiri yang menderita akibatnya.

Ketika pertarungan telah bertangsung mencapai seratus jurus, tiba tiba Hay Yok wong mengeluarkan delapan belas jurus Lo han kunnya untuk meneter lawan, jurus demi jurus dilancarkan langsung ketubuh lawan, ia mengejar dan mendesak musuhnya habis-habisan.

Didalam serangannya itu ia telah pergunakan semua inti kekuatan yang dimilikinya, secara beruntun tiga jurus serangan dilancarkan sekaligus dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Lu Peng bermaksud menghindarkan diri dari jurus ketiga lawan, Hui kan cong ciong (tiang terbang menumbuk genta), sayang tak mampu, terpaksa ia harus menyambutnya dengan keras lawan keras.

Dengan luka ditulang yang belum sembuh, mana mungkin  ia  sanggup  untuk  menerima  pukulan  Hay Yok wong yang ibaratnya penghancur batu nisan ini? kontan saja tulang jari tengah tangan kanannya remuk dan hancur, ia menjerit kesakitan lalu cepat-cepat mundur sejauh lima langkah.

Walaupun rasa sakit karena remuknya tulang membuat ia kehilangan daya kemampuan untuk bertarung terus, bukan berarti tenaga dalamnya mengalami kerugian. sambil menghimpun tenaga.

Ia melompat keatas atap rumah, kemudian tanpa menyapa Ouyang Siong sekalian, dia melarikan diri terbirit birit meninggalkan tempat itu.

Dipihak lain Ouyang Siong juga telah didesak sehingga hanya mampu bertahan belaka, serangkaian pukulan kilat dari Tan Tiang kim memaksa Ouyang Siong tak mampu untuk menggunakan ilmu Siu hun jiu hoatnya lagi

Ketika mendengar jerit kesakitan dari Lu Peng tadi pikirannya menjadi bercabang, sedikit kurang berhati-hati, sebuah pukulan dari Tan Tiang kim dengan telak menghajar diatas bahu kirinya.

Dibalik serangannya itu mengandung pula ilmu Ki na jiu dan ilmu meremukkan tulang, begitu terhajar tadi kontan saja tulang persendian pada bahu kiri Ouyang Siong terlepas dari sendinya, ini membuat peluh dingin mengucur keluar saking sakitnya.

Tapi Ouyang Siong seorang jago kawakan yang cukup berpengalaman, bagaimanapun sakitnya luka pada bahu kirinya, tidak membuat pikirannya bercabang, sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai untuk menghalau serangan Tan Tiang kim, kemudian sekali berjumpalitan, ia sudah menggelinding ke sudut halaman rumah. Agaknya hawa pembunuhan sudah menyelimuti wajah Tan Tiang kim, ia berhasrat untuk menahan nyawa Ouyang Siong disanta, maka iapun berjaga-jaga kalau musuhnya sampai kabur ke atas atap rumah.

Semisalnya ia melompat ke udara tadi, sudah pasti Tan Tiang kim akan melepaskan pukulan yang telah dipersiapkan itu ke tengah udara.

Siapa tahu, dengan kedudukan Ouyang Siong dalam dunia persilatan, ternyata ia berani menggelinding ke tempat gelap.

Baru saja akan memberi tanda kepada Pek Bwe untuk mengepung dari kedua belah sisi mendadak Ouyang Siong melejit ke udara dan melarikan diri ke balik kegelapan sana.

Melihat itu, Kiau Hui nio segera berseru dengan suara merdu:

"Nona Pek Hong, enciku yang baik, kau mengajak aku bertarung mati-matian, apakah kau bermaksud hendak merenggut nyawa siau moay?"

Di mulut dia berkata, sepasang tangannya melancarkan serangkaian serangan berantai, ini memaksa Pek Hong terdesak mundur dua langkah. mempergunakan peluang itu dia lantas melompat ke atas atap rumah untuk melarikan diri.

Ti Thian hua segera membentangkan pula kipas siu lo siannya, dua cahaya tajam berkilauan melesat keluar dari balik kipas, sedang tubuhnya menggunakan kesempatan itu melompat ke udara dan melarikan diri dari tempat itu.

Menanti Tang Cuan serta Kiau Hui nio sudah berada dua kaki jauhnya dari sana, Pek Hong hendak mengejar, tapi dicegah oleh Pek Bwe katanya: "Mereka kabur menuju ke arah yang sama, mustinya disana ada jebakan yang telah diatur, jangan dikejar"

"Sungguh menyesal aku" seru Pek Hong sambil menggigit bibir. "Coba kalau kugunakan pedang, ia pasti  tak akan lolos dari cengkeramanku"

"Tecu amat menyesal, musuh berhasil melarikan diri" kata Tang Cuan pula.

“Yang tersohor dalam dunia persilatan. Tapi ia toh masih dikalahkan oleh pedang Cing-peng-kiam mu, ditambahkan lagi kusaksikan Bu-khek-bun memiliki ahli waris yang begini tangguh, dikemudian hari perguruan kalian pasti akan jaya kembali"

"Aaai tak mampu membalaskan dendam buat kematian para sute, boanpwe betul-betul amat menyesal !"

Tan Tiang kim menghembuskan napas panjang, selanya:

"Siapapun tak perlu merasa menyesal, hasil yang berhasil kita raih pada malam ini sudah cukup besar, sekarang kita boleh pulang ke rumah"

Pek Hong menjadi tertegun. Dia masih ingin membantah, tapi segera dicegah oleh Pek Bwe dengan kerdipan mata.

Sepanjang jalan Pek Bwe tidak berbicara, Seng Tiong gak, Tang Cuan sekalian juga tidak berbicara mereka balik kedalam gedung.

Tan Tiang kim dan Hay Yok wong menghantar Pek Bwe sekalian sampai ke ruang dalam. setelah itu Tan Tiang kim baru mendehem pelan seraya berkata:

"Hong titli, kau merasa tidak puas bukan dengan sikapku yang pulang tanpa membawa hasil apa-apa?" "Boanpwe hanya merasa sepantasnya kalau kita melakukan pengejaran, baik buruk kita musti mencari akal untuk menangkap satu dua orang diantara mereka untuk mengorek keterangan"'

"Sepintas lalu permintaanmu itu seperti masuk diakal, cuma kalau dipikir lebih ke dalam harapan ini tipis sekali!" ujar Tan Tiang kim “dengan satu lawan satu tentu susah diwujudkan, tapi kalau kita bekerja sama untuk mengejar satu sasaran saja, percaya untuk menangkap mereka masih bukan suatu masalah yang susah"

Tan Tiang kim segara tertawa, kembali ia berkata: 'Pertama, arah yang mereka ambil sewaktu melarikan

diri sama semua, sudah pasti disekitar sana telah diatur persiapan dan jebakan untuk menantikan kedatangan kita, kecuali Ouyang Siong berempat yang turun tangan disitu tiada orang lain, ini membuktikan kalau disekitar sana ada jebakan, kedua sekalipun kita berhasil menang, kemenangan kita hanya terletak pada kemampuan yang setingkat lebih hebat sekalipun mereka kian dipaksa untuk melanjutkan pertarungan mungkin yang akan terjadi hanya suatu pertarungan sengit, hasil kehebatan kungfu mereka berempat sedikit ada diluar dugaan"

Pek Hong termenung sebentar tanpa berbicara kemudian dia hanya manggut-manggut.

Waktu itu, meski ia beranggapan bila meloloskan senjata mungkin bisa menawan Kiau hui nio, tapi setelah sekarang dipikir kembali, terutama ilmu meringankan tubuh Kiau Hui nio sebelum melarikan diri ia merasa bicara soal Ginkang dia memang masih belum mampu untuk menyusul orang lain.

Tan Tiang kim tertawa katanya lebih jauh: "Kalian semua tahu Kay-pang tersohor dalam dunia persilatan karena ketajaman mata dan pendengarannya, oleh karena itu kecuali malam ini juga mereka kabur dari kota Siong yang, kemampuan mereka akan memondok tempat tersebut pasti dapat ditemukan oleh anggota kami"

"Seandainya mereka meninggalkan kota Siang yang?" tanya Pek Hong tiba-tiba.

"Kalau sampai demikian, persoalannya menjadi agak susah, cuma setelah Ouyang Song, Lu peng serta, Kiu Hui nio munculkan diri, itu berarti jejak mereka masih bisa dilacaki, tidak kuatir mereka bisa kabur keatas langit"

Ia melirik sekejap ke wajah Pek Bwe, kemudian melanjutkan:

"Pek heng, bagaimana pendapatmu tentang bocah muda she Ti itu?"

"ilmu kipas siu lo siannya sangat lihay dan bebal, meski ilmu pedang Tang Cuan meneter dengan ketat, bagaimanapun perubahan dan kelincahan yang dilakukan ternyata masih berada dibawah lawan"

"Soal ini tecu juga memahami" kata Tang Cuan, “senjata lawan seakan-akan bisa menerobos masuk dari setiap celah yang ada, perubahannya yang begitu gesit lincah sungguh membuatku rada kewalahan"

"Tang ciangbunjin, kau jangan terlalu meremehkan kekuatan sendiri' kata Hay Yok wong, "kepandaianmu yang ditengah kesederhanaan tersembunyi kelincahan serta ilmu pedang yang mantap dan kuat baru merupakan suatu kewibawaan sebagai seorang ciangbunjin, sekalipun orang she Ti itu memiliki banyak kemurungan, tapi kau toh tetap diatas angin, jika pertarungan itu dilanjutkan sudah pasti dia akan kehabisan daya" "Malam ini kita merasa amat tenteram" ucap Tan Tiang kim, “bukan saja kita telah menemukan betapa kuatnya kekuatan musuh, kitapun membuktikan juga tekad kita yang kuat"

"Tan Cianpwe, ahu tahu untuk sesaat memang tak mampu membalaskan dendam bagi kematian suamiku, tapi aku tak bisa tidak harus mengerahkan segenap kekuatan untuk menyelamatkan It-ki" kata Pek Hong.

"Aku dapat memahami perasaanmu, itulah sebabnya aku si pengemis tua telah memutuskan akan satu hal"

"Soal apa?"

Dengan wajah serius Tan Tiang kim menjawab:

"Kecuali pangcu kami dapat menyusul kemari dengan membawa jago-jago lihay kami, kekuatan yang kita miliki sekarang baru bisa dihitung setingkat lebih tangguh dari pada Ouyang Siong sekalian, masih ada jago-jago macam apa lagi dipihak lawan? Kita tak tahu, itulah sebabnya aku sipengemis tua bertekad akan bekerja sama dengan orang orang Pay-kau”.

"Bagus sekali" seru Pek Bwe sambil tertawa, “sudah  lama aku tak pernah bersua denganmu, apakah selama banyak tahun kau tidur diatas gilingan?”,

"Kenapa otakmu juga pandai berputar"

"Pertarungan yang barusan berlangsung telah membuka jalan pikiranku" ujar Tan Tiang kim sambil tertawa, “kenyataannya memang membuktikan bahwa anak-anak muda yang mulai bermunculan dalam dunia persilatan, jauh lebih tangguh dari kita" "Itu mah belum tentu, paling tidak namamu toh masih tercantum diantara jago-jago lihay yang berada dalam dunia persilatan saat ini"

Tan Tiang kim menghela napas panjang, katanya lagi: "Terus terang, aku si pengemis tua belum pernah

menyaksikan sendiri kelihayan dari Tiong-buncu, meski perkumpulan kami berhutang budi, namun terhadap masalah itu aku selalu merasa ragu. Tapi malam ini, setelah kusaksikan sendiri ilmu pedang dari Tang ciangbunjin, timbullah perasaan menyesal dihatiku ?, Tiong ciangbunjin ternyata memang benar-benar seorang jago yang tangguh"

Setelah menghela napas panjang, terusnya:

"Saudara sekalian, silahkan beristirahat dulu, Siapa tahu besok pagi kita masih akan melakukan aksi lain, sekarang aku harus berkunjung ke sungai untuk masih harus berkunjung ke sungai untuk melihat siapa saja dari Pay-kau yang telah datang, nah aku mohon diri dulu'

Seusai berkata sambil membalikkan badan ia pergi dengan langkah lebar.

Hay Yok wong mengikuti dibelakangnya, sebelum beranjak dia masih sempat melirik Tang Cuan sekali lagi dengan sinar mata kagum.

Memandang bayangan Tan Tiang-kim dan Hay Yok wong yang menjauh, Pek Hong baru berkata:

"Ayah, malam ini kita telah menyia nyiakan suatu kesempatan baik, ananda merasa amat sayang dan kecewa"

"Kau harus ingat baik-baik” ujar Pek Bwe, “persoalan ini tak bisa diselesaikan dengan tergesa-gesa, pihak lawan bukan terdiri dari perorangan yang bertujuan membalas dendam, mereka adalah suatu organisasi, suatu organisasi yang memiliki kekuatan sangat besar. sampai sekarang kita hanya berhasil menemukan pinggiran dari organisasi tersebut, kita belum berhasil menemukan pentolan mereka yang sebenarnya, seandainya tiada bantuan dari Tan Tiang kim dan Hay Yok wong, pertarungan malam inipun belum tentu bisa kita pertahankan. Hong ji, sekarang sudah terbentang suatu kenyataan buat kita, yaitu dengan mengandalkan kekuatan kita ayah dan anak, ditambah Tiong-gak, Tang Cuan dan Siau-hong sudah tak mungkin bisa menolong It-ki, juga tak bisa membalaskan dendam bagi kematian Leng-kang, kita sangat membutuhkan bantuan dari pihak Kay-pang serta Pay-kau"

"Locianpwe, Siau-hong mempunyai suatu pendapat, entah cianpwe dapat menyetujui atau tidak?' ujar Cu Siau hong tiba-tiba.

"Nak, kau mempunyai pendapat apa? Katakanlah kepada kami semua"

"Boanpwe rasa, tujuan lawan bukan cuma untuk menghadapi Bu-khek-bun belaka, kita tak lebih hanya korban mereka yang pertama"

Pek Bwe segera manggut-manggut.

"Oleh karena itu" lanjut Cu Siau-hong, "aku rasa terbasminya Bu-khek-bun telah memberi tanda bahaya untuk segenap umat persilatan didunia ini, membuat mereka semua merasakan pula ancaman bahaya maut ini"

Sekali lagi Pek Bwe manggut-manggut. "Jadi maksudmu nak?"

"Oleh karena itu, kami tidak memohon bantuan dari Kay-pang serta Pay-kau, bantuan mereka kepada kita, tak lain adalah membantu mereka sendiri. dalam hal ini aku rasa orang-orang Kay-pang pasti mengerti, orang orang Pay-kau juga mengerti"

"Dalam hal ini, aku pikir Tan Tiang kim maupun Hay Yok wong telah mempunyai perhitungan dalam hatinya, aku rasa kitapun tak usah menerangkan terlalu jelas"

?oooO)d.w(Oooo?

TIBA-TIBA paras muka Cu Siau-hong berubah menjadi amat serius, sepasang matanya memancar keluar sinar tajam yang berkilauan, katanya kembali:

"Pek ciaopwe, subo, Seng susiok, Tang ciangbun suheng"

Secara beruntun yang hadir, ia menyebut nama semua orang yang hadir, ini membuat mereka tertarik pula oleh keseriusan wajahnya, sorot mata semua orang segera dialihkan kewajah Cu Siau-hong.

"Inilah awal dari suatu pertumpahan darah, musnahnya Bu khek bun telah memancing kesiap siagaan Kay-pang dan Pay-kau, dalam menanggulangi masalah ini sekaligus Kay pang telah mengutus dua orang tianglonya untuk menyusul ke Siang-yang ini membuktikan kalau mereka telah memandang seriusnya persoalan. Ouyang Siong main-main jadi sungguhan, sekarang bukan saja markas ketahuan rencana mereka juga konangan, masalah yang seharusnya terbatas dalam pertikaian antara Bu-khek-bun dengan mereka, kini telah memancing perlawanan dari segenap umat persilatan di dunia ini"

"Masuk diakal sekali perkataanmu itu nak” puji Pak Bwe.

"Dalam keadaan seperti ini, bila kita mohon kepada mereka untuk sepenuh tenaga menolong It-ki sute. aku pikir harapan  kita  ini  belum  tentu  terpenuhi.  Sebab  ibaratnya permainan catur, It-ki sute tak lain adalah salah satu biji catur dalam permainan tersebut"

Pek Hong menghela napas sedih, titik air mata meleleh keluar membasahi pipinya.

"Jit sute tak boleh mempunyai jalan pikiran demikian" protes Tang cuan, “suhu hanya mempunyai seorang putra"

"Ucapan ciangbun suheng memang benar, kalau kita pandang semua permainan tersebut It-ki-sute tak lebih cuma sebiji bidak yang hendak dikorbankan tapi bagi kita dia tentu saja sute kita, dia adalab satu satunya keturunan suhu kita, persoalan ini penting sekali agar kita tak dapat mengharapkan bantuan orang maka kita harus turun tangan sendiri"

"Nak dalam hal ini aku sudah menduga, tapi bagaimana caranya untuk turun tangan? Kita sama sekali tak tahu It-ki sesungguhnya disekap di mana?"

"Sekalipun tahu, kita juga belum tentu bisa menyelamatkan jiwanya "

"Siau-hong sekalipun tak bisa, kita juga musti berusaha dengan sepenuh tenaga!" sambung Pek Hong.

"Benar! Untuk menolong It-ki-sute, kita memang harus berjuang dengan sepenuh tenaga, tadi di kala Sunio sedang bertarung sengit, Tecu tidak turun tangan karena Tecu sedang berpikir bagaimana caranya untuk menolong Sute, untung saja sekarang aku bisa memperoleh sedikit gambaran, Tecu dapat menemukan suatu cara yang baik "

"Bagaimana caranya? Cepat katakan!" buru-buru Pek Hong menyambung.

Cu Siau-hong tertawa ewa, dia lantas membeberkan suatu cara pertolongan yang bagus. Ucapan itu diutarakan dengan suara lirih, tapi semua orang mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian, sehingga tanpa disadari terciptalah suatu ketegangan yang luar biasa.

Ketika selesai mendengarkan rencana tersebut, tiba-tiba Pek Hong menghela napas panjang, katanya: "Tidak bisa, Siau-hong! Aku tak bisa membiarkan kau menyerempet bahaya."

"Sunio, inilah satu-satunya cara yang kita miliki" Cu Siau-hong mencoba untuk meyakinkan.

"Tidak! Lebih baik It-ki yang berkorban, daripada menceburkan dirimu ke dalam perangkap."

"Dalam setiap pertempuran nyawa kita sama saja terancam oleh mara bahaya, malah ancam bahaya tersebut jauh lebih besar daripada gerakan yang Tecu rencanakan ini."

"Siau-hong!" kata Pek Bwe pula, "aku sangat kagum terhadap keberanianmu, cuma persoalan ini menyangkut soal mati hidup, apalagi kau pun telah bersua muka dengan mereka "

"Itulah sebabnya, kita harus menciptakan seorang Cu Siau-hong yang lain. " Pek Bwe tertawa getir, katanya:

"Siau-hong, sulit rasanya untuk melaksanakan rencana ini, siapa yang bisa menyaru menyerupai dirimu, apalagi membuat mereka mempercayainya "

"Bukan saja orang lain harus percaya, lagi pula kalian juga harus menunjukkan sikap seakan-akan percaya, kalau bisa carilah waktu yang cocok untuk menampakkan diri!"

"Soal ini rasanya sulit untuk dilakukan!" Pek Bwe tetap menggelengkan kepalanya sambil mengeluh. "Tecu mempunyai sebuah usul bagus, cuma kurang enak diutarakan jadi aku tak berani untuk mengucapkannya."

"Siapa orang yang kau maksud?" "Subo!"

"Aku bisa?" seru Pek Hong, "perawakanku lebih pendek sedikit dari padamu."

"Soal itu bisa dicarikan akal persoalannya, sekarang siapa yang akan menyaru menjadi Subo?" Pek Bwe termenung sebentar, lalu jawabnya:

'Soal itu sih bisa dicarikan orang lain yang kebetulan mirip dengan subomu, kita bisa memakai alasan karena sedih memikirkan putranya dia menjadi sakit dan tak bisa bangun"

"Jika subo bisa menyetujui usul ini, tecu merasa semakin yakin lagi, meski tak berani kukatakan pasti menolong Sute, paling tidak inilan satu-satunya kesempatan kita."

"Dengan berbuat demikian, kitapun bisa meraba kekuatan pihak lawan" Pek Bwe menambahkan.

"Mereka tak akan mengira kalau subo bakal menyaru sebagai tecu, kalau subo kerapkali menampakkan diri, sedikit banyak pasti dapat melenyapkan kecurigaan mereka terhadap tecu"

"Siau-hong, aku tetap beranggapan bahwa cara ini kelewat berbahaya!" kata Pek Hong.

"Kalau tidak masuk ke sarang harimau, mana mungkin bisa mendapatkan anak macan? Subo, kenapa tidak kau bayangkan bahwa rencana tecu ini cukup sempurna dan sangat menguntungkan kita, meski tampaknya berbahaya, sesungguhnya aman sekali"

Pek Hong membungkam dan tidak banyak berbicara lagi. 'Siau-hong, bagaimana kalau kutemani dirimu?' sela Seng Tiong-gak.

"Terima kasih susiok. kita harus meninggalkan kekuatan ditempat ini, dalam pertarungan tadi kita telah memperlihatkan ilmu pedang Bu-khek-bun yang tangguh, ini menyebabkan Tan tianglo berdua mempunyai pandangan yang berbeda atas kemampuan kita, betul kekuatan Bu-khek-bun cuma beberapa gelintir orang. tapi setiap orang justru memiliki dasar kekuatan yang dalam serta ilmu silat yang tinggi"

Seng Tiong-gak manggut-manggut katanya:

"Aku telah menyaksikan kepandaian kita kalau itulah yang dimaksud sebagai ilmu silat kelas satu, maka kita murid-murid Bu-khek-bun masih termasuk dalam hitungan"

"Siau-hong, apakah kau sudah bertekad akan pergi?" tiba-tiba Pek Hong bertanya.

Cu Siau-hong mengangguk:

"Tecu telah hertekad untuk pergi, semoga subo bersedia untuk mengabulkan"

"Ayah, bagaimana pendapatmu?" tanya Pek-Hong kemudian kepada Pek Bwe.

"Aku pikir kecerdasan Siau-hong jauh diatas kita semua, apa yang telah diputuskan olehnya, biarkanlah dia lakukan"

"Baiklah!" akhirnya Pek Hong setuju juga. "Subo, kau telah menyetujui?"

Pek Hong manggut-manggut.

Cu Siau-hong segera membalikkan badan dan tiba-tiba berlutut dihadapan Tang Cuan, katanya: "Harap ciangbun suheng suka mengijinkan" Buru-buru Tang Cuan membimbingnya bangun, katanya:

"Hayo bangun, bangun, kalau ada urusan kita rundingkan secara baik-baik, mana boleh sembarangan berlutut?"

"Kepergian siaute kali ini entah sampai kapan baru akan kembali, keselamatan subo harap suheng baik-baik melindunginya"

"Siau-hong!" seru Pek Hong, “kau.."

"Subo!" tukas Cu Siau-hong “berhasil menyusup ke tubuh lawan, bagaimanapun juga tecu akan menyelidikinya sampai jelas dan menolong jiwa It-ki sute"

"Siau-hong. demi It-ki rasanya kau tak usah menyerempet bahaya "

'Subo, bila kau berkata lebih lanjut, tecu merasa malu untuk berdiri disini lagi...." Setelah mengalihkan sorot matanya ke wajah Pek Bwe, dia melanjutkan:

"Locianpwe, kalau bisa rencana Siau-hong ini dirahasiakan pula terhadap Tan dan Hay dua orang locianpwe?"

"Untuk mengelabuhi mereka berdua, rasanya tidak gampang, aku lihat lebih baik kita berterus terang saja kepada mereka, agar mereka membantu secara diam-diam"

Sesudah menghembuskah napas panjang, katanya lebih lanjut:

"Siau-hong. legakan hatimu, persoalan disini, kami bisa mengaturnya secara baik-baik"

"Kalau begitu Siau-hong, mohon diri lebih dulu, jangan lupa aku bernama Lim Giok” kata Cu Siau-hong sambil menjura. Setelah membalikan badan, ia berlalu dari situ.

Memandangi kepergian anak muda itu, Tang Cuan berbisik dengan lirih:

"Suatu gerakan tubuh yang sangat cepat, Siau-hong sute, baik-baiklah menjaga diri!'

Sebagai seorang yavg serius dan keren, di hari-hari biasa ia jarang tertawa atau bergurau, tapi hati kecilnya bukan tak berperasaan, cuma perasaan yang tersimpan dihatinya tidak gampang terlihat dari luar.

Sebenarnya Pek Bwe hendak menegur diri agar jangan gegabah, tapi sinar matanya segera menangkap wajah Tang Cuan yang telah dibasahi oleh air mata.

Terpaksa ia menahan diri dan menelan kembali kata katanya. Pek Hong menghembuskan napas panjang, katanya:

"Ayah, aku merasa sangat kuatir! Siau-hong masih seorang anak, ia belum pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan"

"Hongji,justru karena ia belum pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, maka Ouyang Siong baru bisa dikibuli, tak usah menguatirkan Siau-hong, kecerdasan bocah ini jauh melebihi kemampuan kita semua..."

"Ayah, aku merasa diriku terlalu egois, lantaran It-ki, ternyata aku menyetujui keinginan Siau-hong untuk menyerempet bahaya"

"Subo, jangan menyalahkan diri sendiri", hibur Tang Cuan pu;a, "aku dapat melihat kebulatan tekad Siau-hong sute, sekalipun subo tidak setuju, ia bisa jadi pergi tanpa pamit" Sementara itu, sepeninggal Cu Siau-hong dari gedung tersebut, dia langsung menuju ke sebuah rumah penginapan.

Setelah menghitung-hitung saat pertemuannya dengan Ouyang Siong, ia merasa masih ada waktu selama tiga hari, sekalipun bisa ke sana sehari lebih awal, itupun masih dua hari kemudian.

Selama beberapa hari helakangan ini dalam kota Siang yang telah terjadi banyak peristiwa aneh, sekilas pandangan semua persoalan itu seakan-akan tiada sangkut pautnya dengan mereka.

Maka persoalan pertama yang dipikirkan Cu-Siau-hong adalah si nona baju hijau yang pernah dijumpainya dalam loteng Wang kang lo, persoalan itu agaknya berdiri sendiri tapi waktu terjadinya justru hampir bertepatan dengan kejadian yang lain.

Selain dari pada itu, seorang gadis yang duduk di loteng yang ramai untuk menanti kedatangan orang pada jaman itu masih merupakan suatu berita yang aneh sekali.

Maka dengan perasaan yang terheran-heran dia ingin tahu, Cu Siau-hong memutuskan untuk mmanfaatkan dua hari yarg tersisa untuk menyelidiki persoalan itu lebih dulu.

Setelah tidur semalam dengan nyenyak, Cu-Siau-hong tampak lebih gagah dan segar.

Iapun menyaru dirinya menjadi Lim Giok, tapi baju Kay-pang dilepas dan diganti dengan satu stel jubah panjang berwarna biru.

Perbedaan antara Cu Siau-hong dengan Lim Giok bukan terletak pada raut wajahnya, betul ada perbedaan namun kecil sekali meski begitu dengan dasar ilmu menyarunya yang  lihay  dan  kecerdasan  otaknya,  walau  hanya  suatu penyaruan yang sederhana, dengan dilenyapkannya ciri-ciri khas dari wajah Cu-Siau-hong, maka berubahlah dia menjadi Lim Giok.

Penyaruan yang sederhana tidak melenyapkan kagantengan maupun kegagahannya, tapi dari Cu-Siau hong ia telah merubah dirinya menjadi Lim Giok yang hidup.

Cu Siau-hong yang angkuh dan tinggi hati segera nerubah menjadi Lim Giok yang binal.

Kalau berbicara soal ini, maka Si Dewa pincang Ui Thong adalah orang yang paling berjasa, dia telah memberi banyak petunjuk kepada Cu Siau-hong mengenai ilmu merubah wajah.

Ibaratnya melukis naga memberi mata, hanya suatu perubahan yang sederhana bukan saja telah merubah bentuk muka seseorang, lagipula merubah pula watak seseorang.

Ini ditunjang pula oleh kecerdasan Cu Siau-hong ia memang memiliki kemampuan yang hebat, setelah berubah menjadi Lim Giok, ternyata ia dapat melupakan tabiatnya sebagai Cu Siau-hong.

Ia dapat menyelami manusia macam apakah Lim Giok itu, sebagai seseorang yang bisa menghianati Kay-pang demi kepentingan pribadi, jelas orang seperti ini bukan seorang enghiong, bukan seorang lelaki sejati.

Bisa jadi manusia semacam itu adalah seorang manusia munafik yang terlalu mementingkan diri sendiri.

Ia bercermin didepan kaca sambil memperhatikan raut wajah barunya itu dengan seksama, memang bukan suatu pekerjaan yang gampang menjiwai peranannya sebagai manusia yang bernama Lim Giok itu. Dia harus membawakan seorang yang ganteng, pintar tapi agak tidak genah dan lagi sangat egois.. Tengah hari itu, Cu Siau-hong muncul diatas loteng Wong kang lo.

Rumah makan Wong Kang-lo adalah rumah makan yang paling besar dan paling tersohor dikota Siong yang. apalagi pada jam-jam sibhuk seperti ini, hampir semua tempat duduk terisi.

Tapi nona berbaju hijau itu sudah tidak nampak lagi batang hidunginya.

Setelah mendapat tempat duduk kosong, ia mengeluarkan sekeping uang perak, lalu sambil menggape kearah pelayan katanya:

"Buatkan empat macam sayur, sepoci arak wangi, uang sisa boleh untukmu"

Dengan cepat pelayan itu menerima keberuntungan, ia tahu kepingan perak itu paling tidak tiga tahil lebih, itu berarti uang tip baginya masih ada dua tahil lebih. senyuman lebar segera menghiasi Wajahnya, serunya berulang kali:

"Koan-ya, terimakasih banyak atas pemberian mu"

Tampaknya Cu Siau-hong sangat memahami arti kegunaan dari uang.

Setelah menghembuskan napas panjang, dengan suara lirih ia berkata lagi:

"Pelayan, aku ingin mencari tahu keterangan darimu, apakah kau bersedia membantu'

Sambil mengangkat poci air teh dia memenuhi cawan Cu Siou hong, pelayan itu segera bertanya:

'Koan ya, kau ingin bertanya apa?" "Kemarin, bukankah rumah makan kalian kedatangan seorang tamu perempuan '

"Kau maksudkan si nona berbaju hijau pupus itu?" tanya si pelayan sambil meletakkan kembali pocinya..

"Benar, orang itu yang kumaksudkan!"

"Ia duduk terus disini sampai menjelang magrib, seorang kakek telah membawanya pergi"

"Apakah orang yang ia tunggu telah datang?"

"Agaknya belum" jawab pelayan itu sambil menggeleng.

Cu Siau-hong segera mendorong uang perak itu kehadapannya "Nah, ambillah"

Setelah menerima uang perak itu, pelayan ter?sebut berbisik lagi. "Koan-kek, nona berbaju hijau itu adalah seorang yang cacad!"

"Cacad?" ulang Cu Siau-hong tertegun. "Yaa, kaki sebelahnya pincang" "Apakah semua tamu diloteng ini tahu?" Pelayan itu segera menggeleng.

"Tidak! Tampaknya tidak banyak orang yang mengetahui hal ini" setelah terhenti sejenak dia melanjutkan:

"Sedang kakek tersebut agaknya adalah yaya-nya, sewaktu membimbingnya turun dari loteng, kebe tulan hamba berditi diujung loteng, maka semua kejadian bisa kuikuti dengan jelas"

“Oooh!"

"Kongcu meski pengkor, nona itu punya muka berbentuk bulat  telur,  dia  memang  cantik  sekali"  Seusai  berkata, pelayan itu segera membalikkan badan dan berlalu dengan langkah cepat.

Tak lama kemudian sayur dan arak telah dihidangkan.

Selesai bersantap, Cu Siau-hong bersiap-siap bangkit meninggalkan tempat itu, saat itulah dari luar loteng muncul dua orang manusia.

Paras muka kedua orang itu sangat asing tapi Cu Siau hong yakin kalau mereka adalah jago-jago jago persilatan.

Walaupun kedua orang itu memakai jubah panjang dan berdandan sebagai saudagar, namun sepasang mata mereka memancarkan sinar yang sangat tajam. jelas tenaga dalam mereka sudah mencapai taraf yang sempurna.

Menyaksikan hal itu diam-diam Cu Siau-hong berpikir. “Kalau  tidak  berusaha  untuk  menyembunyikan  sinar

mata  yang  tajam,  menyaru  sebagai  apapun  percuma. toh

rahasia dirinya tak berhasil disembunyikan"

Sesudah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kedua orang tadi berjalan mendekat. Sangat kebetulan ternyata mereka duduk dimeja yang dekat sekali dengan Cu Siau-hong.

Dalam keadaan demikian, walaupun Cu Siau-houg memandang cawan arak dihadapannya, diam-diam ia pasang telinga untuk memperhatikan pembicaraan yang sedang berlangsung.

Pembicaraan yang dilangsungkan kedua orang itu sangat lirih. tapi setelah Cu Siau-hong memperhatikan dengan seksama ia masih sanggup menangkap pembicaraan tersebut.

Terdengar orang yang disebelah kiri berkata: "Saudara Oh, aku lihat budak itu tak bakal datang lagi" "Ahah, bagaimana juga sembari makan kita bisa menunggu disini, soal mau datang atau tidak toh bukan soal yang penting"

"Aku sudah mendengar suatu berita, katanya budak itu pincang sebelah kakinya”, kata orang disebelah kiri sambil tertawa.

Pelan pelan Cu Siau-hong meneguk secawan arak, pikirnya dalam hati: "Rupanya kedua orang inipun datang untuk mencari si nona berbaju hijau itu"

Sementara itu, orang yang disebelah kiri telah  memanggil datang si pelayan.

Ketika Cu Siau-hong melirik kesana, tampak orang itu sedang menyusupkan sekeping uang perak ketangan pelayan itu.

Kemudian Cu Siau-hong mendengar pelayan itu mengulangi kembali apa yang telah disampaikan kepadanya tadi.

Cu Siau-hong segera berpikir:

"Orang bilang kusir kereta, kelasi di perahu, kuli kasar, pelayan dan hamba negara yang paling licik, tampaknya ucapan itu ada benarnya juga, cukup berbicara soal kasus nona baju hijau itu, entah berapa uang yang berhasil diraih pelayan ini?".

Baru, saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba ia merasa pandangan matanya menjadi silau, seorang nona berbaju hijau sedang pelan-pelan berjalan mendekat.

Tangan kanannya merangkul diatas bahu seorang nona baju biru yang berambut dikepang dua langkahnya lambat sekali. Gaunnya yang panjang dan berwarna hijau menutupi sepasang kakinya. ini membuat orang sulit untuk mengetahui apakah dia itu cacad atau tidak

Nyonya setengah umur yang menemaninya semalam, hari ini tidak turut muncul, tapi gantinya adalah seorang pelayan yang sangat muda tersebut.

Buru-buru pelayan itu maju menyambut kedatangannya. "Nona silahkan duduk kemari!" katanya.

Rupanya dari tangan si nona berbaju hijau ini dia berhasil pula mendapat untung banyak uang, itulah sebabnya ketika melihat kemunculan si nona itu, seakan akan menyambut kedatangan seorang dewa harta saja

Si nona berbaju hijau itu tertawa ewa, katanya: "Aku masih menginginkan tempat dudukku yang kemarin itu!"

Pelayan itu segera berpaling, dijumpainya tempat duduk itu sudah ditempati dua orang, seorang tua yang lain muda.

Tapi ketika teringat, bahwa nona baju hijau itu mungkin akan menghasilkan beberapa tahil perak lagi baginya, dengan cepat pelayan itu menjura seraya berkata:

"Harap nona tunggu sejenak lagi, akan kurundingkan dengan orang itu "

Kemarin nona berbaju hijau itu selalu memalingkan sebagian besar wajahnya keluar jendela, Cu Siau-hong tidak sempat melihat raut wajahnya dengan jelas.

Tapi sekarang, ia menghadap kedalam ruangan, maka sebagian besar tamu yang duduk dalam ruangan itu dapat menyaksikan potongan wajahnya itu sangat terang,

Itulah seraut wajah yang sangat cantik dan menarik, ibaratnya bidadari yang turun dari kahyangan, sungguh mempersonakan hati siapapun juga... Pelayan itu betul-betul sangat lihay, denogan dua tiga patah kata ternyata ia berhasil juga membujuk kedua orang tamu itu untuk pindah ke meja lain.

Sambil mempersilahlan nona berbaju hijau itu duduk, pelayan itu mengeluarkan kain lap dan membersihkan  meja.

Gerak geriknya sangat cepat. ketika si nona berbaju hijau itu telah tiba di depan meja. pelayan itupun telah selesai membersihkan meja

Pelan-pelan nona berbaju hijau itu menarik kembali tangan kanannya yang bersandar pada bahu dayang tersebut. kemudian bisiknya dengali lirih:

'Gin kiok, hadiahkan selembar daun emas kepadanya!'

Gin kiok mengiakan. dari sakunya ia meregoh keluar selembar daun emas lalu dilemparkan ke meja, serunya:

'"Ambillah! Siocia menghadiahkan untukmu!'

Pelayan itu memungut daun emas itu dengan wajah memucat, saking gembiranya sampai tangan kanannya ikut menggigil keras.

Walaupun Wong kang lo adalah rumah makan terbesar dalam kota Siang yang, tapi belum pernah ada tamu yang memberi tip sebesar ini kepada seorang pelayan.

Setelah mengantongi daun awas tersebut senyuman pelayan itu makin lebar malah nyaris mulut nya tak bisa ditutupnya kembali. sambil membungkuk-bungkukkan badan katanya:

"Nona, apakah kau masih memesan beberapa macam sayur seperti yang kemarin itu?"

"Yaa! Cuma tambahlah dengan dua macam sayur lagi serta tiga pasang sumpit dan cawan" “Nona masih ada tamu lain?"

Nona berbaju hijau itu menghela napas sedih.

"Aaaai! Entah dia akan datang atau tidak?" gumamnya.

Perkataan itu diucapkan dengan suara yang memedihkan hati dan lagi nadanya tinggi sehingga semua orang yang hadir dalam ruangan dapat mendengar dengan jelas. semua orang segera merasa hatinya ikut iba dan terharu.

Sejak nona itu muncul dalam ruang loteng. semua hiruk pikuk dan suara gaduh otomatis berhenti semua, suasana menjadi hening dan sepi, tak heran kalau perkataannya itu dapat didengar oleh semua orang.

Diam diam Cu Siau-hong mengerutkan dahinya, pikirnya:

"Heran, kemarin ia duduk termenung tentu tanpa berbicara, tapi hari ini agaknya seperti sengaja hendak memperlihatkan wajahnya kepada orang lain dan memperdengarkan suaranya. kenapa hanya terpaut semalam saja ia sudah mengalami perubahan seperti ini?"

Karena curiga, segenap perhatiannya segera dipusatkan menjadi satu untuk mendengarkan gerak gerik nona itu lebih seksama, meski paras mukanya masih tetap tenang seperti sedia kala.

Ia tahu, dua orang yang khusus datang untuk mencari nona berbaju hijau itu pasti akan melakukan sesuatu tindakan..itu berarti suatu pertunjukkan bagus segera akan berlangsung disitu.

Benar juga, tak lama setelah nona berbaju hijau itu duduk, dua orang saudara tadi berbisik-bisik, lalu orang yang disibelah kiri itu bangkit berdiri dan pelan-pelan menghampiri kemeja nona tersebut. "Apakah nona, berasal dari bukit It-kiu hou san?" sapanya sambil menjura.

Nona berbaju hijau itu berpaling dan memandang sekejap kearah laki-laki itu, kemudian tegurnya pula.

“Siapa kau!" "Aku Be Kui”

"Aku tidak kenal denganmu, juga bukan berasal dari bukIt-kiu hoa san, kata nona berbaju hijau itu ketus.

Be Kui mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu sekejap, kemudian duduk ditempat kosong tepat dihadapan nona itu.

Tindakan Be Kui yang duduk dihadapan nona cantik ini segera memancing perhatian dari segenap tamu yang berada dalam ruang.

Beratus pasang mata, bersama sama dialihkan kearah mereka.

Siapapun menduga si nona berbaju hijau itu pasti akan memberikan reaksinya, tapi kenyataannya jauh diluar dugaan siapapun, si nona baju hijau itu tetap duduk tak berkutik ditempat semula.

Dengan pandangan dingin Gin kiok si dayang itu melirik sekejap kearah Be Kui lalu katanya: "Be-sianseng, duduklah yang baik! jangan sampai terjatuh"

Be Kui tertawa, jawabnya:

"Jangan kuatir nona berdua, jangankan baru sebuah bangku, sekalipun diujung sebilah golok, cayhe juga dapat duduk dengan tenang”.

Baru selesai dia berkata, mendadak ia melompat bangun sambil mendekap perut, paras mukanya berubah hebat. Melihat itu si nona berbaju hijau tersebut menghela napas panjang: "Gin kiok, berikan obat penawarnya'

Gin kiok tertawa hambar, katanya kemudian:

“Nona kami hanya menolong orang satu kali, kalau kau gagal untuk memungut obat penawarnya, lebih baik cepat cepat pulang dan beritahu kepada ibumu, katakan kalau kau butuh sebuah peti mati"

"Racun apa yang telah bersarang ditubuh ku?" tanya Be Kui kaget.

"Cu-bu-toan-hun-san (bubuk pemutus nyawa siang malam), siang tidak bertemu malam, malam tidak bertemu siang. siapa yang terkena pasti mampus, kecuali obat penawar dari none kami, dikolong langit tak akan kau jumpai obat penawar yang kedua"

Seusai berkata, dia lantas menggetarkan tangan kanannya dan melemparkan sebuah botol porselen keluar jendela.

Be Kui segera menghimpun tenaganya ingin mengejar obat itu keluar jendela, siapa tahu belum lagi badannya bergerak, ia sudah muntah darah segar.

Sesosok bayangan hitam lainnya dengan cepat meluncur keluar jendela... Orang itu bukan lain adalah teman Be Kui.

Cu Siau-hong yang duduk disamping arena dapat mengikuti semua kejadian itu dengan jelas, tapi ia tak sempat mengetahui dengan cara apa nona berbaju hijau itu turun tangan sehingga Be Kui keracunan hebat, atas kelihaian musuhnya itu, diam-diam ia merasa terperanjat.

Nona yang begitu cantik, ternyata adalah seorang-jago lihay yang bisa membunuh orang dengan racun kejinya, peristiwa ini sungguh diluar dugaan siapapun. Kelihatannya Be Kui sedang menahan suatu siksaan dan penderitaan yang amat hebat, noda darah telah mengotori sebagian besar bajunya.

Tapi orang itu cukup perkasa, sekalipun kesakitan hebat ia tidak mengeluh atau merintih, sambil menggigit bibir ia membungkam diri dalam seribu basa.'

Terdengar suara langkah kaki yang ramai berkumandang memecahkan keheningan, rekan Be Kui itu telah berlarian naik ke loteng sambil membawa botol porselen tersebut.

"Yaa, tampaknya orang ini masih belum tiba saat ajalnya, obat penawar tersebut akhirnya berhasil juga didapatkan" pikir Cu Siau-hong.

Tampak orang itu dengan gerakan cepat membuka penutup botolnya dan mengeluarkan sebutir pil yang segera dijejalkan kemulut Be Kui seraya serunya:

"Telan. "

Setelah menelan pil penawar itu, Be kui baru merangkul bahu rekannya sambil berbisik: "Hayo kita pergi!"

-oOo>d’w<oOo-

SELAMA adegan tersebut berlangsung, nona berbaju hijau itu tetap duduk di tempat tak berkutik, sedangkan Gin-kiok sambil memandang bayangan kedua orang itu menuruni loteng, jengeknya sambil tertawa dingin:

"Hmm! Benar-benar tak tahu diri"

Dalam pada itu Cu Siau-hong pelan-pelan meneguk habis arak dihadapannya, lalu berpikir:

"Kepandaian budak ini dalam melepaskan racun agaknya   sudah   mencapai   puncak   kesempurnaan, kalau sampai ia menaruh curiga kepadaku, bisa jadi banyak kesulitan yang bakal kuhadapi, lebib baik cepat-cepat meninggalklan tempat ini"

Berpikir demikian, pelan pelan dia bangkit berdiri dan turun dari loteng itu.

"Berhenti!" tiba tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.

Cu Siau-hong merasakan jantungnya berdebar keras tapi ia sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

"Hey, dengar tidak? Aku suruh kau berhenti”, bentakan tadi kembali berkumandang.

Sekarang Cu Siau-hong baru benar benar berhenti seraya membalikkan badan ia bertanya: "Apakab nona sedang memanggil aku?"

"Yaa betul kau!"jawab Gin Kiok ketus.

"Entah ada urusan apa nona memanggil diriku?" "Kemari !"

Cu Siau-hong rada tertegun, kemudian pelan-pelan menghampirinya, setelah menjura ia berkata: "Entah ada urusan apa nona memanggil aku?"

Setelah menyaksikan keadaan Be Kui yang keracunan hebat, timbul kewaspadaan dihatinya, hawa murnipun diam-diam disalurkan keluar untuk berjaga terhadap segera kemungkinan yang tak diinginkan.

Gin kiok tertawa, tanyanya:

"Apakah kedua orang tadi adalah sahabatmu?" Cu Siau-hong menggeleng.

"Bukan, aku tidak kenal dengan mereka” “Oooh kiranya kau tidak kenal dengan mereka?" Cu Siau-hong manggut-manggut.

"Yaa, benar benar tidak kenal, maaf aku harus pergi dari sini"

"Tunggu sebentar, siapa namamu?" Cu Siau-hong segera berpikir kembali:

"Agaknya mereka memang ada maksud untuk mencari gara-gara denganku "

Berpikir demikian, rasa waspadanya tanpa terasa kian dipertingkat.

Tapi diluaran, ia masih berkatoa dengan suara lembut: "Cayhe bernama Lim Giok!".

Gin kiok kembali tertawa, katanya:

'Aku lihat kau ramah sekali, silahkan duduk dan minum dulu arak barang secawan!"

"Aku tak berani menganggu ketenangan nona, aku hendak mohon diri lebih dahulu"

Be Kui yang tiba-tiba keracunan, bukan saja membuat Cu Siau-hong merasa amat terkejut, bahkan semua tamu yang berada dirumah makan itupun, ikut dibuat ketakutan, sebagian besar diantara mereka telah melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Kiranya tamu yang semula memenuhi seluruh ruang loteng kini hanya tinggal Cu Siau-hong, nona baju hijau, Gin kiok dan dan orang pelayan belaka.

Ruangan rumah makan yang begitu besar kini cuma dihuni  oleh  lima  orang  belaka.  Si  nona  baju  hijau yang selama ini tak ber suara, tiba-tiba berkata dengan dingin: "Kau tak boleh pergi, kemari, dan duduk"

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang! Pelan pelan ia maju ke muka dan duduk di bangku yang ditempati Be Kui tadi, kemudian baru ujarnya pelan:

"Nona kau ada pesan apa.."

'Lim Giok, keadaan dari Be kui tadi tentunya sudah kau lihat dengan jelas bukan"' ujar nona berbaju hijau itu dingin.

"Yaa, sudah kulihat dengan jelas"

"Kalau begitu bicaralah terus terang, watakku kurang baik, jangan membuat aku menjadi marah sehingga meracuni dirimu"

"Nona, diantara kita berdua tak pernah terikat dendam sakit hati atau perselisihan apa-apa, kenapa kau hendak meracuni diriku?"

Nona berbaju hijau itu tertawa.

"tulah sebabnya, aku memberi kesempatan kepadamu untuk berbicara terus terang"

"Baik! Apa yang ingin nona tanyakan?".

"Lim Giok. kau datang dari mana?" tanya nona berbaju hijau itu kemudian.

Pertanyaan ini segera membuat Cu Siau-hong tertegun, segera pikirnya dihati:

"Pertanyaan ini sungguh amat sulit untuk dijawab, tapi akupun tak bisa membungkam diri"

Setelah berpikir sejenak, jawabnya:

"Semenjak kecil aku dibesarkan dikota Siang yang!" Nona berbaju hijau itu tersenyum. "Apakah kau sengaja datang kemari untuk mengincar kami berdua?"

"Bukan!"

"Kau pernah belajar ilmu silat?"

"Pernah!” Cu Siau-hong manggut-manggut “aku pernah belajar kungfu selama beberapa tahun"

Diluar ia berkata demikian, dihati pikirnya:

"Padahal aku sudah amat berhati-hati, “tak kusangka rahasia penyaruanku masih diketahui juga olehnya”

Nona berbaju hijau itu berkata lagi.

"Dapatkah kau membantuku untuk melaksanakan suatu pekerjaan?"

"Pekerjaan apa?'

"Bantu aku untuk mencari seseorang" “Siapa yang kau cari?"

"Bukankah kau dibesarkan dikota Siang yang? Apalagi orang belajar kungfu, aku rasa orang itu pasti diketahui olehmu, sebab orang Siang-yang sebagian besar mengetahui orang ini"

"Orang Siang yang sedikit banyak ada juga yang kuketahui, tapi kalau dibilang memahaminya mah tidak".

"Oooh, orang yang sedang kucari ini adalah seorang pincang, konon dia berada di Siang-yang, tapi aku tidak berhasil menemukan dirinya"

Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu Siau-hong, tanyanya dengan cepat: "Apakah orang itu punya nama?"

"Punya, dia she Ui bernama Thong!" "Oooh...! Rupanya ia sedang mencari si dewa pincang Ui Thong" pikir Cu Siau-hong, "aku tak boleh bicara terus terang, lebih baik disangkal saja"

Berpikir demikian, ia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata: "Belum pernah kudengar orang ini, mungkin orang itu tidak berada dalam kota Siang-yang"

"Ya, orang itu memang rada kukoay." Setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Sebar luaskan kepada semua orang, katakan barang siapa bisa menemukan orang yang bernama Ui Thong, akan kuberi hadiah tiga butir pil pemunah racun dan sebotol bubuk Jit poh mi hun san"

"Baik, Cayhe pasti akan menyebar luaskan hal ini kepada siapa saja. "

Walaupun dalam hatinya terdapat banyak persoalan yang mencurigakan hati, namun semua, perasaan tersebut ditekannya dihati, sebab ia merasa kalau bisa meninggalkan nona itu semakin cepat adalah semakin baik.

Maka begitu nona tersebut selesai berkata ia lantas bangkit dan berlalu dari situ.

"Nona, apakah kau akan melepaskan dirinya dengan begitu saja?” bisik Gin-kiok dengan suara lirih..

"Aku rasa kita masih belum menemukan suatu alasan yang tepat untuk melepaskan racun terhadapnya"

Gin kiok segera tersenyum, katanya lagi:

"Nona, orang ini usianya tidak begitu besar tapi ia sangat pandai melihat gelagat" Nona berbaju hijau itu berpaling dan memandang sekejap ruangan rumah makan yang kosong, kemudian pelan-pelan berkata:

"Gin kiok, kau tak salah melihat?"

"Budak percaya, tidak akan salah melihat.."

Nona berbaju hijau tersebur menghembuskan napas panjang!`

"Gin kiok, sayang kemarin kau tidak datang, ruangan rumah makan ini penuh berjejal manusia, semua orang ingin melihat wajahku tapi aku selalu menengok keluar jendela tanpa memandang sekejappun ke arah mereka, meski aku tidak berpaling baring sekejappun. tapi aku mendengar banyak orang memuji diriku, banyak orang menghela napas, mereka semua mengatakan aku adalah seorang nona romantis yang menunggu kedatangan kekasihnya, Gin kiok tahukah kau, pujian-pujian itu kedengarannya amat menarik hati, amat mempesonakan orang"

"Tapi hari ini mereka telah berganti pandangan terhadap dirimu, kemarin mereka masih memuji-muji dirimu, tapi hari ini mereka ketakuatan setengah mati"

Nona berbaju hijau itu menghela napas panjang.

"Aaai ! Itulah sebabnya aku merasa sedih sekali" bisiknya..

"Sedih Nona, kenapa kau meresa sedih?" tanya Gin kiok tertegun.

"Kesan indah dan baik yang kutinggalkan kepada orang selalu pendek, cuma sehari saja, aku pikir diantara tamu tamu yang barusan meninggalkan tempat ini pasti terdapat pula tamu-tamu kemarin, mereka pasti akan merasa sangat kecewa, amat bersedih hati"

Gin kiok menghembuskan napas panjang, ujarnya pelan:

"Nona, setelah kau berkata demikian, bahkan akupun musti merasa tidak tenang...” Tiba-tiba ia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya kembali:

"Nona, apakah kau telah melepaskan racun diatas tubuhnya?" ..

“Tidak "

“Tidak kenapa?" 'Sebab, sebab

"Apakah disebabkan orang itu terlalu baik ataukah kau tak tega meracuninya. "

"Bukan, bukan, kala itu aku hanya tak bisa menemukan suatu alasan yang tepat untuk melepaskan racun ditubuhnya '

Setelah berhenti sejenak, katanya lagi:

"Menurut pendapatmu, mungkinkah dia adalah orang yang sedang kita cari ?"

"Mungkin benar, mungkin juga tidak, tapi persoalan itu bukan suatu masalah yang terlalu penting, yang paling pcnting kita harus meracuninya dengan demikian ia baru lega menyiarkan pesan kita"

"Sikap kita yang sebentar dingin sebentar panas, percaya dengan cepat akan menggemparkan seluruh kota Siang yang, bila Ui Thong berada disini, dia pasti akan tahu juga kalau kita sudah datang" "Wah!" ujar Gin kiok kemudian sambil tertawa, "tamu rumah makan ini sudah pada bubar karena ulah kita, aku rasa sekararg harus pergi dari sini"

Belum lagi kedua orang itu beranjak. Tiba-tiba berkumandang suara langkah kaki dari mulut tangga, menyusul dua orang pengemis munculkan diri disitu.

Orang yang berjalan dipaling muka adalah Yu Lip. "Bagus sekali!" bisik Gin Kiok lirih, "orang-orang Kay-

pang juga telah datang"

Belum sempat nona berbaju hijau itu buka suara Yu lip telah tiba dihadapan mereka berdua, setelah menjura tegurnya:

"Apakah nona datang dari perguruan Ngo tok bun dari wilayah Siang see?"

Dengan dingin nona berbaju hijau itu melirik sekejap kearah Yu Lip, kemudian menjawab: "Siapa kau?"

"Aku Yu Lip!"

Nona berbaju hijau itu tertawa ewa.

"Kalau kulihat dari dandananmu sebagai seorang pengemis, tentunya kau adalah orang Kay-pang!"

"Benar, aku adalah Toucu dari kantor cabang Kay-pang untuk kota Siang-yang"

"Oooh , aku masih mengira tokoh besar dari mana yang datang, rupanya kau hanya seorang toucu dari kantor cabang"

"Apakah nona memandang rendah kedudukanku sebagai seorang Toucu kantor cabang?"

"Betul, seorang toucu yang berjabatan rendah mah masih belum kupandang sebelah mata" "Ooooh....! Nona masih belum menjawab pertanyaan yang telah kuajukan tadi"

"Menjawab apa ?"

"Tolong tanya, benarkah nona berasal dari perguruan Ngo tok bun yang bermarkas di Siang see?"

"Kalau benar kenapa?"

"Benarkah nona adalah Ngo tok giokli (gadis suci dari perguruan panca bisa)?"

Gadis berbaju hijau itu segera tertawa terkekeh-kekeh. "Heeehhh heeehhh.... Heeehhh.... Tak kusangka benar-

benar tak kusangka, kalau namaku sudah begitu cepat termasyhur dalam dunia persilatan..."

"Nona" Gin kiok segera berbisik, "Kay-pang adalah organisasi yang panjang pendengarannya, dia sebagai seorang toucu suatu kantor cabang, tentunya mengetahui jejak Ui Thong"

Nona berbaju hijau itu manggut-manggut.

"Yu toucu!" tegurnya kemudian, “sudah berapa lama kau berdiam dikota Siang yang?”

"Dua belas tahun"

"Itu berarti orang persilatan yang berdiam di kota Siang yang sebagian besar kau ketahui bukan?"

"Tak berani kukatakan sebagian besar orang kukenal memang tidak sedikit," sahutnya.

Nona berbaju hijau itu kembali tertawa:

"Akulah Ngo tok giok li! Aku ingin mencari khabar tentang jejak seseorang" "Baik, harap nona katakan, asal dia berada dalam kota Siang-yang, delapan sembilan puluh persen pasti kukenal"

"Kau tahu si Dewa pincang Ui Thong tinggal dimana?" "Si Dewa pincang Ui Thong...." Bisik Yu Lip dengan

wajah termangu-mangu.

"Benar" sambung nona berbaju hijau itu, "orang ini sangat tersohor dalam dunia persilatan, apakah kau tak pernah mendengar nama orang ini?"

"Mendengar namanya sih pernah, Cuma sudah lama ia mengasingkan diri dari keramaian dunia"

"Yaa, dia memang sudah mengundurkan diri diri dunia persilatan, konon tinggal disekitar kota Siang-yang"

Dengan cepat Yu Lip menggelengkan kepalanya.

"Kalau soal itu sih belum pernah kudengar orang membicarakannya"

Kontan saja Ngo tok giok li tertawa dingin.

"Orang persilatan semua bilang kalau Kay-pang tersohor karena ketajaman pendengarannya, setelah kubuktikan sendiri kini, rupanya berita itu hanya sengaja dibesar besarkan"

"Nona, Ui cianpwe telah mengundurkan diri dari dunia persilatan, sekalipun perkumpulan kami terkenal karena pendengaran yang tajam, rasanya sulit juga untuk mencari tahu seseorang yang telah mengasingkan diri"

"Hmm! Aku tidak percaya, kalau sampai ia tak berhasil kutemukan, maka akan kuracuni kota Siang-yanghu ini secara besar-besaran, setelah banyak yang jatuh korban, aku tidak percaya kalau dia tak akan menampakkan diri" "Nona, perbuatan semacam ini jangan sekali-kali kau lakukan" seru Yu Lip dengan kening berkerut.

'Kenapa? Apakah kau berniat untuk menghalangi rencana ini ?" jengek Ngo tok giok li dingin.

“Justru karena aku mendengar tentang orang yang keracunan ditangan nona, sengaja aku datang kemari dengan tujuan untuk menasehati nona agar ..."

'Ada apa?" tukas Ngo tok giok li lagi, “apakah orang she Be itu juga anggata Kay-pang?"

“Bukan, tapi dikota Siang-yang telah terjadi suatu peristiwa besar, tak sedikit orang-orang Kay-pang dan Pay kau yang telah berdatangan kemari, bila nona sampai melepaskan racun untuk melukai orang, aku kuatir.. aku kuatir. "

Mungkin nama besar Ngo tok giok li dalam dunia persilatan amat tersohor, oleh karena itu mesti Yu Lip sudah mengulangi kata-katanya sampai setengah harian, dia masih tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya itu

"Yu toucu!" Ngo tok giok li berseru kembali sambil tertawa dingin, “kau kuatir aku akan meracuni orang-orang Kay-pang?"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 13"

Post a Comment

close