Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 07

Mode Malam
Kakek berbaju hitam itu tertawa ewa. "Pepatah kuno pernah berkata, perkelahian tiada yang berakhir dengan baik, seandainya dalam seranganku nanti lohu berhasil melukaimu, aku harap kau jangan mendendam kepada diriku"

"Tidak mungkin, locianpwe boleh menyerang dengan sepenuh tenaga, seandainya aku sampai terluka, hal ini harus menyalahkan diriku sendiri yang tak tekun berlatih diri, mana aku berani mendendam kepada diri locianpwe "

Kakek berbaju hitam itu menghela napas panjang, katanya lagi:

"Bocah kecil, sesungguhnya lohu amat suka denganmu, aku tak ingin melukai dirimu, lebih baik kita bertarung hanya terbatas saling menutul saja..."

"Terima kasih banyak atas cinta kasih locianpwe" sahut Cu Siau-hong sambil tertawa, “silahkan cianpwe mulai menyerang!"

Kakek berbaju hitam itu mengayunkan tangan kanannya siap melancarkan serangan, tapi mendadak ia menarik kembali serangannya itu, katanya:

"Bocah cilik, dalam bidang apakah kau mempunyai kepandaian yang lebih menonjol?"

"Soal ini? Baiklah, boanpwe akan mengaku terus terang yang paling menonjol dalam kepandaianku adalah dalam bidang ilmu pedang!"

"Ilmu Pedang?"

"Benar!. Apakah didalam bidang ini pula kepandaian cianpwe paling menonjol?"

"Dibandingkan dengan yang lain, lohu yakin masih sanggup menghadapinya, cuma ilmu pedang adalah senjata tajam, aku kuatir pertarungan ini akan membahayakan jiwamu."

"Lantas menurut maksud locianpwe?"

"Tapi kalau kau memang mengatakan bahwa kepandaianmu yang paling menonjol ada di ilmu pedang, tentu saja lohu tak dapat mengajukan bidang lain untuk pertarungan ini"

"Locianpwe tak usah bersusah hati, dalam ilmu pukulan boanpwe sanggup untuk menghadapinya!"

Kakek berbaju hitam ini termenung sebentar, kemudian katanya:

"Begini saja, jika dalam bidang ilmu pukulan lohu berhasil menangkan dirimu, dan kau merasa tidak puas, kita boleh sekali lagi beradu ilmu pedang"

“Ia begitu sesumbar, tampaknya ilmu silat yang dimiliki sudah mencapai taraf yang sempurna" demikian Cu Siau hong berpikir "aku tak boleh bertindak terlalu gegabah!"

Berpikir demikian, dia lantas menarik napas panjang panjang, kemudian katanya: "Baik, akan turuti maksud hati cianpwe"

Tiba-tiba kakek berbaju hitam itu maju setengah langkah ke depan, lalu katanya: "Bocah cilik, marilah! Lohu akan mengalah tiga jurus lebih dulu untukmu."

Cu Siau tong tersenyum, sambil maju ke depan ia melancarkan sebuah pukulan.

Tiba-tiba kakek baju hitam itu menyingkir ke samping menghindari datangnya serangan tersebut, betul juga, ternyata ia tidak melancarkan serangan balasan. Cu Siau hang maju lebih ke depan, tangan kiri kanannya secara beruntun dilontarkan ke depan hal ini memaksa kakek berbaju hitam itu mundur selangkah ke belakang.

Kenyataan ini membuat kakek berbaju hitam itu merasa tertegun, kemudian katanya sambil tertawa. "Bagus! Bocah cilik, kau memang hebat, sungguh di luar dugaan, sungguh di luar dugaan!"

"Locianpwe, tiga jurus sudah lewat, sekarang kau boleh melancarkan serangan balasan"

"Lohu tahu!"

Cu Siau-hong menarik napas panjang-panjang, tangan kanannya diangkat dan langsung disodokkan ke ulu hati orang.

Kakek berbaju hitam itu mengangkat tangan kanannya, lima jari tangannya dibalik dan secepat kilat menyambar ke depan mencengkeram pergelangan tangan kanan si anak muda itu.

Cu Siau-hong buru-buru menarik pergelangannya sambil menurunkan tangannya ke bawah, suatu serangan berantai pun segera dilancarkan, dalam waktu singkat dia telah melancarkan empat belas buah pukulan.

Paras muka kakek berbaju hitam itu bertambah menjadi serius, lagi pula tenaga serangan yang disertakan dalam setiap pukulanpun kian lama kian bertambah berat.

Pertempuran berjalan dengan serunya, dalam waktu singkat dua ratus gebrakan sudah lewat, namun keadaan mereka masih seimbang dan menang kalah sukar ditentukan. Tiba-tiba Cu Siau-hong melancarkan dua serangan dahsyat untuk mendesak mundur musuhnya, setelah itu sambil menghentikan serangan dia berseru:

"Locianpwe, harap tahan sebentar"

"Menang kalah diantara kita belum ditentukan, mana boleh berhenti ?"

"Sebelum pertarungan ini dilangsungkan tadi, kita sudah melupakan satu hal?"

"Soal apakah itu?"

"Batas jurus serangan dalam pertempuran ini" "Batas serangan bagaimana maksudmu?"

"Sebelum pertarungan dilakukan, seharusnya kita tentukan dulu batas serangan yang boleh digunakan, misalnya seratus atau dua ratus jurus, bila batas jumlah serangannya sudah tiba, maka kita harus menghentikan pertarungan"

"Lantas siapakah yang akan dianggap menang?" "Tentu saja akulah yang menang?"

"Kenapa bisa demikian?"

"Locianpwe, usiamu sudah lanjut, pengalamanmu lebih luas, jika dalam dua ratus jurus kau tak mampu menangkan aku. bukankah hal ini merupakan suatu kejadian yang amat memedihkan hatimu ."

"Sedih atau tidak, kecewa atau tidak, itu bukan urusan penting. yang harus kita ketahui adalah siapa yang lebih tangguh dan siapa yang berhasil menangkan pertarungan ini."

"Locianpwe!" tukas Cu Siau-hong "mengalah saja untukku! Jika pertarungan ini kita lanjutkan, maka akhirnya kita akan terjerumus dalam suatu pertarungan beradu jiwa, waktu itu apa pula yang musti kita lakukan ."

Kakek berbaju hitam itu menghela napas panjang. "Aaai....! Bocah cilik, katakanlah, berapa lama kau

hendak meminjam hiolo batu ini" "Paling lama lima hari!"

si Kakek berbaju hitam itu tidak berbicara lagi, ia memutar badannya dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Menunggu Cu Siau-hong teringat belum menanyakan namanya, orang tua itu sudah lenyap tak berbekas.

Pelan-pelan ia menghembuskan napas panjang, sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya pemuda itu berpikir.

"Nampaknya, dibalik besarnya jagad sesungguhnya terdapat suatu kekuatan besar yang mengatur segala sesuatunya di dunia ini”.

Pada beberapa puluh jurus yang terakhir tadi, kedua belah pihak telah saling mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyerang musuh, pertarungan itupun telah berubah menjadi suatu pertarungan yang amat serius.

Dalam keadaan demikian, Cu Siau-hong mulai merasa letih dan kehabisan tenaga, maka diapun berspekulasi dengan meleburkan jurus silat tercantum dalam kitab ilmu pedang itu didalam gebrakan pukulan pukulannya.

Kenyataannya, jurus-jurus serangan itu memang mendatangkan kekuatan yang luar biasa dalam pertarungan itu. Demikianlah pemuda itu segera membuang semua pikiran dari benaknya dan duduk bersila sambil mengatur pernapasan.

Dalam konsentrasinya itu, tiba-tiba ia mendengar ada suara yang amat lirih berkumandang di sisi telinganya.

Cu Siau-hong segera menarik napas panjang sambil menegur: "Siapa?"

"Aku!" suara seorang perempuan berkumandang datang.

Tanpa membuka matanya pun Cu Siau-hong sudah tahu kalau yang datang adalah nona berbaju hijau itu, dia lantas menghela napas panjang.

"Mau apa kau datang kemari?" tegurnya.

"Mencari kau! Aku sudah bersusah payah mencarimu kesana kemari, yaa payah sekali"

"Aai urusan apa kau mencariku?"

Agaknya si nona berbaju hijau itu sama sekali tak bisa membedakan apakah sikap Cu Siau-hong itu baik atau buruk, bahkan dari nada ucapannyapun ia tak bisa membedakan.

Terhadap sikap dingin dan hambar dari Cu Siau-hong, agaknya ia tidak merasakan juga, sambil tertawa katanya:

"Empek Ouyang yang suruh aku datang mencarimu!"

Ketika Cu Siau-hong membuka matanya, ia saksikan sekulum senyuman menghiasi wajah nona berbaju hijau itu, tersebut begitu polos, begitu menawan dan mempesonakan hati orang.

Ia benar-benar seorang gadis yang cantik jelita, hanya pakaian yang dipakainya itu terlampau kedodoran, rambutnya    tidak    diberi    hiasan,    sehingga    menutupi kecantikannya yang menawan, menutupi sinar keayuannya yang mempesona, siapa saja tak akan memperhatikan dia, bahkan Cu Siau-hong sendiripun belum pernah  memandang wajahnya secara bersungguh sungguh.

Sekarang, Cu Siau-hong baru memandang wajahnya dengan sungguh-sungguh, persis dikala ia sedang tersenyum.

Pelan-pelan Cu Siau-hong bangkit berdiri, lalu bertanya: "Ada persoalan apakah Ouyang locianpwe mencariku?"

Nona berbaju hijau itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tak tahu, dia suruh aku datang mencarimu, maka akupun datang kemari"

"Nona, empat hari belakangan ini aku tak dapat meninggalkan tempat ini, tolong beritahukan hal ini kepadanya"

"Oooh.. Bolehkah kutemani dirimu di sini?" tanya si nona.

Cu Siau-hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak bisa!"

Si nona berbaju hijau itu tidak mengucapkan sepatah katapun, dia memutar badannya dan keluar dari situ.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Cu Siau-hong, pikirnya:

"Aku bersikap dingin dan hambar kepadanya, jangan jangan ia marah kepadaku" Berpikir demikian, diapun berseru kembali dengan suara lantang:

"Kembali!" Ternyata nona berbaju hijau itu memang amat penurut. ketika ia sudah tiba di depan pintu, tapi setelah mendengar perkataan itu segera memutar badannya dan berjalan kembali.

Senyuman yang manis dan polos itu masih menghiasi wajahnya. Pelan-pelan ia bertanya: "Kau suruh aku kembali?"

Ketika dilihatnya paras muka gadis itu masih tetap wajar seperti sedia kala, diam-diam ia bersyukur, pikirnya:

"Rupanya akulah yang terlalu banyak curiga!"

Untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti dikatakan kepada gadis tersebut maka tanyanya kem ud ian:

"Nona. bolehkah aku tahu siapa namamu?"

Nona berbaju hijau itu tertawa. "Aku bernama Bei-giok, Ouyang Bei-giok"

"Kau juga berasal dari marga Ouyang?" "Benar!"

"Apakah kau mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Ouyang locianpwe?" pemuda itu bertanya keheranan.

"Tidak ada! Ketika ibu angkatku masih hidup dulu, sepatah katapun aku tak boleh berbicara dengan empek Ouyang"

"Oooh..kiranya begitu!" Cu Siau-hong manggut manggut.

"Tapi empek Ouyang amat suka kepadaku.." ujar Ouyang Bei giok lebih lanjut, "secara diam-diam ia sering mengajarkan   ilmu   silat   kepadaku,   tapi   ibu   angkatku melarang aku melatihnya, dia hanya suruh aku melakukan satu persoalan"

"Persoalan apakah itu?"

Ouyang Bei giok ragu-ragu sejenak, akhirnya ia berkata: "Sebelum meninggal dunia, ibu angkatku telah berpesan

agar jangan menceritakan kepada siapapun, aku bisa saja tidak memberitahukan hal tersebut kepada siapapun, tapi setelah kau bertanya kepadaku, tentu saja aku harus memberitahukan kepadamu"

"Jika kau beranggapan bahwa persoalan itu tak boleh diutarakan, lebih baik jangan kau bicarakan"

"Padahal sudah lama aku memikirkan persoalan ini, tapi aku selalu tak habis mengerti, kenapa persoalan ini tak boleh diberitahukan kepada orang lain?"

Lama kelamaan Cu Siau-hong dibikin tertarik juga oleh masalah itu, dengan perasaan ingin tahu ujarnya: "Sebetulnya persoalan apakah itu?"

"Kalau dibicarakan, sesungguhnya bukan suatu persoalan yang aneh, dia hanya suruh aku duduk bersemedi belaka"

"Duduk bersemedi? Kenapa tak boleh memberitahukan soal ini kepada orang lain?"

"Kata ibu angkatku, persoalan ini lebih-lebih tak boleh diberitahukan kepada empek Koay dan empek Ouyang"

"Oooh.! Kecuali mengajarkan duduk bersemedi, pelajaran apa pula yang telah diajarkan ibu angkatmu kepadamu?"

"Ia mengajar kepadaku membaca, menulis dan mengenal tulisan, oleh sebab itu aku mengenal banyak sekali tulisan" "Apakah kaupun banyak membaca buku?" tanya Cu Siau-hong setelah termenung sebentar.

"Aku tak pernah membaca buku, semua huruf yang kukenal adalah huruf tunggal, ibu angkatku menulisnya di atas tanah, mengajar aku membaca dan menirukan tulisan itu, kemudian menghapusnya kembali"

"Oooh....! kenapa ia tidak memberikan buku untuk kau baca?"

"Ibu angkatku tak ingin orang lain mengetahui kalau aku mengenal banyak tulisan, iapun tak ingin membiarkan orang lain tahu kalau ia telah mewariskan semacam ilmu bersemedi kepadaku"

"Nona Bei giok, apa yang aneh dan rahasianya persoalan ini? Aku benar-benar tidak habis mengerti" Selama ini aku tak pernah memikirkan persoalan tersebut.

"Tak pernah memikirkannya?"

"Cu kongcu, apa lagi yang musti dipikirkan? perkataan yang diberi tahukan ibu angkatku kepadaku, apakah aku harus mempercayainya?."

"Memang harus dipercayainya!"

"Kalau memang harus dipercayai, maka tidak seharusnya aku pikirkan kembali persoalan itu, bukankah demikian?"

"Betul juga perkataanmu!" Cu Siau-hong manggut manggut.

"Tapi sekarang, aku telah memberi tahukan persoalan ini kepadamu, demi ibu angkatku, aku mohon kepadamu agar jangan memberitahukan lagi persoalan ini kepada orang lain."

"Baik! Aku berjanji" "Masih ada persoalan lain yang hendak kau katakan kepadaku?"

"Tidak ada!"

"Apakah kau masih tetap menyuruhku keluar dari sini?" "Benar"

Ouyang Bei giok tertawa, senyuman itu tampak agak bimbang, agak memedihkan hati. Pelan-pelan ia memutar badannya, dan keluar dari situ,

Cu Siau-hong dapat menangkap mengalir keluarnya rasa sedih dari balik bayangan punggung nona itu, hampir saja Cu Siau-hong hendak buka suara untuk memanggilnya kembali.

Tapi ketika kata-kata tersebut sampai ditepi bibirnya, dengan cepat ia telah menelannya kembali. Pelan-pelan bayangan punggung Ouyang Bei giok lenyap dari mulut gua tersebut.

Cu Siau-hong menghela napas panjang, pelan-pelan ia duduk kembali, mengambil ransum dan mendaharnya.

Ketika memeriksa cuaca, maka ia tahu kalau dirinya masih harus menunggu selama beberapa jam lagi, meskipun hanya beberapa jam, namun dalam perasaan Cu Siau-hong, waktu itu seakan akan berjalan dengan lama, lama sekali.

Menanti memang merupakan pekerjaan yang paling membosankan, untuk membunuh waktu, Cu Siauhong berjalan berputar-putar mengitari sekeliling hiolo batu tersebut.

Entah sudah beberapa kali ia berputar-putar disekitar hiolo tersebut, akhirnya tibalah saatnya untuk membuka kantong yang ketiga. Pelan-pelan ia menghembuskan napas panjang, kantong ketiga segera dibuka dan di sini dibaca. Terlihatlah di atas kertas itu tertulis beberapa patah kata:

"Berpalinglah lebih dulu, coba lihat apakah ada orang lain didalam ruangan ini"

Membaca tulisan itu, Cu Siau-hong segera berpikir: "Kedatangan     mereka     terlampau     awal,     sekarang

semestinya  tak  mungkin  ada  orang  yang  bakal  kemari

lagi. "

Berpikir demikian, tak tahan ia lantas berpaling ke belakang.

Tampaklah Ouyang Bei-giok dengan senyum dikulum telah berdiri dimulut gua. Cu Siau-hong segera merasakan hatinya bergetar keras, segera tegurnya:

"Mau apa kau datang lagi kemari?"

Ouyang Bei giok membawa sebuah gayung yang berisi air, jawabnya: "Aku pikir kau tentu sangat haus, sengaja kuhantar sedikit air untukmu"

Diam-diam Cu Siau-hong menghela napas panjang, pikirnya:

"Inilah yang dinamakan takdir, kenapa kedatangannya demikian kebetulan!" Cepat ia menundukkan kepalanya dan membaca tulisan itu lebih jauh:

"Jika ada seseorang berada di belakangmu, dan orang itu adalah Ouyang Bei giok, kau harus membantuku untuk melakukan suatu hal"

Cu Siau-hongs betul-betul merasakan hatinya bergetar keras karena terperanjat, dengan termangu mangu diawasinya surat ditangan itu tanpa berkedip, sepasang tangannya menggigil keras. Kantong surat ini telah dipersiapkan lebih dulu olehnya, lagi pula kantong itu selama ini berada terus dalam sakunya, sudah barang tentu tak mungkin kalau di tukar orang.

Cepat-cepat ia membaca lebih jauh.

"Tahanlah dia di sini, biar dia meneruskan semua kepandaianku"

"Seandainya kau tidak menemukan gadis itu, silahkan membuka lapisan bawah dari kantong ketiga ini, tapi jika kau melihat kemunculan gadis itu maka semua pekerjaan selanjutnya harus kau serahkan kepada bocah perempuan itu, satu-satunya pekerjaan yang harus kau lakukan adalah membujuknya agar mau menerima tugasmu ini, Ibu angkatnya telah mati, ia hidup sebatang kara, tapi justru karena kemunculannya ini membuat semua usahaku selama ini hancur berantakan, sudah menjadi kewajiban baginya untuk melanjutkan semua pekerjaan yang akan kuwariskan."

Selesai membaca catatan dalam surat itu Cu Siau-hong merasakan hatinya jauh lebih tenang. sebab kalau didengar dari nada suara Ui Thong, jelas ia masih meninggalkan persiapan lainnya, kemunculan Ouyang Bei giok sama sekali bukan satu-satunya penyelesaian yang dipersiapkannya.

Disamping itu, Cu Siau-hongpun telah memahami suatu persoalan yang lain, pesan yang sesungguhnya yang hendak disampaikan Ui Thong kepadanya justru tersimpan di lapisan bawah dari kantong nomor tiga ini.

Tapi iapun mengerti, bahwa tidak seharusnya ia periksa lagi isi surat tersebut. Maka diapun menggape ke arah si nona. Pelan-pelan Ouyang Bei-giok maju menghampirinya, kemudian bertanya: "Salahkah kedatanganku ini?"

Segala sesuatunya telah berubah menjadi kenyataannya, sikap Cu Siau-hong pun berubah menjadi lebih ramah dan lembut, katanya sambil tertawa:

"Kedatanganmu sama sekali tak salah, tapi kau musti membaca isi surat ini!" Ouyang Bei-giok menyambutnya dan membaca isi surat itu.

Tulisan yang ia kenal memang tak sedikit, tapi belum pernah ia membaca rangkaian huruf yang sedemikian banyaknya.

Baru pertama kali ini ia membaca rangkaian tulisan sebanyak ini, maka agak payah ia membacanya. setelah membuang waktu yang cukup lama, akhirnya berhasil juga ia memahami isi tulisan tersebut.

"Kau sudah memahami?" tanya Cu Siau-hong kemudian. Ouyang Bei-giok manggut-manggut.

"Yaa, aku sudah mengerti!" "Bersediakah kau tinggal di sini!"-

"Menurut kau? Seharusnya kah aku tinggal di sini?"

"Kau harus tinggal di sini, kau sudah memiliki kemampuan untuk membaca tulisan lagi pula setiap bagian pesan yang ditinggalkan Ui Thong sudah tercantum sangat jelas. kau pasti akan memahaminya"

"Baik!" ucap Ouyang Bei-giok kemudian sambil mengangguk, "aku akan tetap tinggal di sini"

Cu Siau-hong berusaha mengawasinya wajahnya dengan seksama, ia lihat wajah gadis itu berseri dan penuh diliputi rasa gembira agaknya gadis itu merasa amat senang. Maka sambil menghela napas ia serahkan kantong berisi pesan itu kepada Ouyang Bei giok, katanya: "Jika kau memang sudah setuju, lakukanlah seperti apa yang dipesankan dalam suratnya itu!"

"Aku bisa melakukannya, bahkan melakukannya dengan baik, kau boleh pergi dengan legakan hati!"

"Baik! Kalau begitu aku harus mohon diri lebih dulu" "Cu kongcu, di kemudian hari bolehkah aku pergi

mencarimu lagi?" bisik Ouyang Bei giok dengan lirih.

Ketika Cu Siau hoag teringat bahwa semua persiapan yang dilakukan Ui Thong betul-betul bermaksud menentang takdir, akibat selanjutnya masih sukar untuk diduga, ia merasa agak sedih, setelah menghela napas katanya:

"Nona Bei giok semestinya aku harus tinggal di sini, tapi aku masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan, aku harap kau mempunyai keberanian untuk menerima tanggung jawab ini"

Ouyang Bei giok tertawa:

"Aku sama sekali tidak merasa takut, kau tak usah menguatirkan tentang keadaanku."

"Sekarang keadaan Dewa pincang Ui cian-pwe sangat kritis dan setiap saat kemungkinan besar ji-wanya akan melayang" tukas Cu Siau-hong, "kau adalah seorang gadis remaja, tidakkah dam merasa takut untuk tetap tinggal dalam gua sambil menemani seseorang yang sudah hampir putus nyawa."

"Aku tidak takut, tempo dulu ketika ibu angkatku baru mati, akupun menemani terus jenasahnya selama tiga empat bulan lamanya, sedikitpun aku tidak merasa takut" "Baik! Di kemudian hari dengan senang hati akan ku sambut kedatanganmu"

Senyum manis segera menghiasi wajahnya yang cantik, gadis itu membenahi rambutnya yang kusut kemudian berkata:

"Aku sudah dapat membaca surat, aku bisa memahami maksud dari tulisan tersebut, akupun bisa melakukannya dengan sekuat tenaga, pergilah dengan hati lega, selesai mengerjakan semua tugas ini, aku pasti akan pergi mencarimu!"

"Nona Bei giok baik-baiklah menjaga dirimu!"

"Aku merasa sangat gembira karena di kemudian hari aku boleh sering-sering menengok dirimu" Cu Siau-hong segera menjura dan mengundurkan diri dari dalam ruangan batu itu.

Ketika menghitung waktu yang telah dijanjikan dengan Pek Bwee ternyata masih ada sehari lebih awal tapi dia adalah seorang yang teliti, didatanginya tempat perjanjian itu dan diperiksanya sebentar setelah itu baru kembali ke hutan untuk mencari sebuah tempat yang nyaman untuk menyembunyikan diri.

Cu Siau-hong mengerti semenjak perguruan Bu-khek-bun mengalami peristiwa berdarah, ia sudah terseret ke dalam suatu situasi yang sangat kalut semenjak itu bukan saja di atas bahunya telah terletak tugas dan tanggung jawab yang berat lagi pula dia harus menghadapi ancaman bahaya yang setiap saat bisa berdatangan dari empat arah delapan penjuru.

Bukan saja hal mana membutuhkan ketajaman otak dan kewaspadaan yang tinggi, dibutuhkan juga ilmu silat yang tangguh. Ia mulai membenci pada diri sendiri, kenapa sewaktu belajar ilmu silat dulu tidak berlatihnya dengan tekun dan bersungguh sungguh.

Membaca buku baru terasa kurang bila menghadapi persoalan yang pelik, ilmu silat baru terasa lemah bila menghadapi musuh yang tangguh.

Dalam keadaan seperti ini Cu Siau-hong sangat menghargai setiap detik waktu yang dimilikinya, dia tak ingin membuang setiap waktu yang ada dengan sia-sia.

Dalam waktu semalaman ditambah setengah hari, bukan saja Cia Siau-hong telah melatih tekun ilmu Ciat lip jiu hoat ajaran Ouyang sianseng, dia pun melatih juga jurus pedang yang tercantum dalam kitab Bu beng kiam boh pemberian Lo-liok.

Pada dasarnya Cu Siau-hong memang sudah memiliki pondasi yang sangat kuat dalam ilmu pedang maka begitu jurus-jurus silat itu dilatih, ia segera merasakan manfaat yang luar biasa, kelihaian serta kehebatannya sungguh jauh di atas ilmu pedang Cing peng kiam hoat.

?oooO)d.w(Oooo?

SETELAH berlatih tekun selama belasan jam tak berhenti, air keringat telah membasahi seluruh pakaian  yang dikenakannya.

Ketika tengah hari, hari kedua sudah tiba, ia baru kembali ke tempat yang telah di janjikan Pek Bwee. Betul juga, Pek Bwee muncul memenuhi janji.

Begitu bertemu dengan Cu Siau-hong, Pek Bwee merasa amat terperanjat, perpisahan selama belasan hari ini bukan saja membuat Cu Siau-hong kurus banyak, lamat-lamat diantara alis matanya memancarkan sinar keletihan, bau keringat amat menusuk hidung. Sebenarnya pemuda itu adalah seorang yang suka kebersihan, tapi agaknya selama belasan hari ini, mandi satu kalipun ia tak pernah.

"Nak, apa yang telah terjadi atas dirimu" Pek Bwee segera menegur dengan kening berkerut.

"Aku tidak apa-apa, aku sangat baik!"

"Kau harus banyak menjaga diri, sekujur badan berbau keringat, agaknya waktu untuk mandipun tak ada?"

"Yaa, selama beberapa hari ini aku memang sangat repot, repotnya bukan kepalang”.

"Persoalan apa yang membuatmu sedemikian repotnya sehingga waktu untuk mandipun tak ada?"

"Selama beberapa hari ini aku benar-benar sangat repot, orang kuno pernah lupa makan lupa tidur, mungkin demikianlah keada-an waktu itu, beberapa hari ini akupun lupa, entah makan beberapa kali saja, Yang pasti sampai hari ini aku belum tidur barang sekejappun, bila rasa letihku terlampau hebat akupun duduk bersemedi"

"Nak, selama belasan hari ini kau betul-betul amat sengsara!" kata Pek bwee lembut.

"Sengsara memang sengsara, cuma yang paling sengsara adalah otot serta organ-organ tubuhku, hati boanpwe justru amat riang dan gembira"

"Oooh, nak, dapatkah memberi tahu kepadaku, pekerjaan apa saja yang telah kau lakukan selama beberapa hari ini, sehingga mengalami keadaan lupa makan lupa tidur?"

"Berlatih silat!" Pek Bwee segera tertawa lebar dan tidak bertanya lebih jauh, sambil mengalihkan pokok pembicaraan, dia bertanya:

"Dimana si dewa pincang Ui Thong?"

"Sekarang, agaknya dia seperti sudah mati, tapi seperti juga belum mati"

"Gerak gerik orang ini amat mencurigakan, kepandaian yang dipelajaripun semuanya ilmu-ilmu hitam yang aneh dan misterius, lebih baik tak usah kita singgung dirinya lagi, bagaimana kalau kita pulang saja? Kau harus baik-baik membersihkan badan lalu tidur sepuas puasnya?"

"Locianpwe, sekarang kita berdiam dimana?"

"Persiapan yang diberikan pihak Kay-pang untuk kita memang cukup bagus, ia telah menyiapkan sebuah gedung besar untuk tempat tinggal kita"

"Locianpwe, selama beberapa hari ini apakah berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan?"

"Tidak, pihak Kay-pang telah mengirim banyak sekali jago jago-jagonya untuk berjaga di sana!"

"Locianpwe, kalau begitu kau boleh berjalan di depan, dan aku akan mengikuti dari belakang, kita harus memperhatikan suatu jarak tertentu"

Pek Bwee menjadi tertegun, tanyanya:

"Nak maksudmu "

"Aku kuatir kalau gerak gerik kita secara diam-diam diawasi orang lain" Cu Siau-hong menerangkan.

"Nak, Hong ji bilang apakah di kemudian hari perguruan Bu-khek-bun bisa jaya atau tidak, dendam sakit hati gurumu bisa terbalas atau tidak, semuanya tergantung pada dirimu, tampaknya memang dugaannya tidak salah ."

"Aaah, Subo terlalu memandang tinggi akan diriku!" Tiba-tiba Pek Bwee tersenyum, kemudian ujarnya:

"Nak, apakah kau sudah diusir dari perguruan Bu-khek bun?"

"Agaknya begitulah!"

"Kalau memang demikian, hal ini lebih bagus lagi, selamanya lohu paling muak dengan segala peraturan perguruan, asa perbuatan kita tidak merugikan orang, sekalipun mempergunakan sedikit akal mus-lihat juga bukan suatu perbuatan yang luar biasa, dengan dikeluarkannya kau dari pintu perguruan, gerak gerikmu justru malahan bisa semakin bebas dan leluasa."

"Budi kebaikan suhu lebih dalam dari samudra, seharipun boanpwe tak berani melupakannya, untuk menyelidiki latar belakang terbunuhnya saudara-saudara seperguruan, boanpwe bersedia bertindak dengan cara apapun."

"Benar, Kalau begitu aku akan berjalan di depan dan kau mengikuti di belakang, cuma kau musti hati-hati, dunia persilatan penuh dengan intrik dan akal busuk, jangan sampai diketahui oleh orang dan dimanfaatkan mereka malah"

"Boanpwe akan berhati-hati.."

Pek Bwee tidak banyak berbicara lagi, dia lantas memutar badannya dan berlalu lebih dulu. Ternyata gerak gerik Cu Siau-hong cukup berhati-hari, dia hanya mengikuti dari tempat jauh sekali. Setelah masuk kota Siang-yang. Pek Bwee mencari kesempatan untuk berpaling dua kali, ternyata ia tidak menemukan jejak Cu Siau-hong, hal mana membuat kakek ini diam-diam memuji:

"Hmm bocah muda ini memang betul-betul luar biasa!"

Tempat itu merupakan wilayah perumahan tingkat atas dari kota Siang-yang, setiap bangunan yang berdiri di situ semuanya merupakan gedung-gedung besar dengan halaman yang sangat luas, pintu gerbang telah dicat warna merah tua.

Pek Bwee segera menggoncangkan gelang pintu dan pintu pun terbuka. begitu ia menyelinap masuk pintu segera ditutup kembali.

Bangunan itu terdiri dari tiga lapis bangunan besar yang bersusun, Pek Hong sekalian menempati bangunan gedung pada lapisan yang kedua.

Di depan gedung maupun gedung bagian belakang, masing-masing dijaga oleh tiga orang jago Kay-pang.

Waktu itu Pek Hong, Seng Tiong-gak serta Tang Cuan sedang menanti di ruang tengah, mereka jadi tertegun  ketika dilihatnya Pek Bwee pulang sendirian.

Tang Cuan yang pertama tama tak tahan, segera tanyanya: "Pek loya-cu, mana Siau-hong?"

"Tak usah kuatir" sahut Pek Bwee, "bocah ini sepuluh kali lipat lebih cerdas daripada apa yang kita bayangkan.'

"Ayah, dimana orangnya sekarang?" tukas Pek Hong pula, "jangan menghibur kami terus, sudah kau jumpai dirinya belum?, Aaai, sekalipun lebih cerdik, ia tak lebih hanya seorang bocah!"

Pek Bwee tersenyum. "Walau hanya seorang bocah, tapi kecerdikan serta otaknya jauh lebih hebat dari pada aku yang matang dalam pengalaman"

"Pek cianpwe, apa maksud perkataanmu itu Dapatkah kau terangkan lebih teliti?" kata Seng Tiong-gak.

Pek Bwee kembali tertawa.

“Kalian tak usah kuatir, keadaan yang sejelasnya tunggu saja sampai ia melaporkan sendiri kepada kalian”.

Pek Hong tertunduk sedih, sambil menahan lelehan air matanya ia mengeluh:

"Aku telah kehilangan Ling-kang, kehilangan pula It-ki, aku tak ingin menyaksikan Siau-hong mengalami sesuatu yang di luar dugaan, ayah! Kau.... kau ..."

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, secepat kilat Cu Siau-hong telah menerjang masuk ke dalam ruangan, kemudian sambil berlutut di hadapan Pek Hong katanya dengan air matanya bercucuran:

“Terima kasih banyak atas perhatian sunio, Siau-hong beruntung tidak mengalami luka apapun"

Pertama karena gerakan tubuh Cu Siau-hong terlampau cepat, kedua karena semua orang sedang memperhatikan pembicaraan, maka kemunculan Cu Siau-hong sama sekali tidak terdengar oleh mereka.

Pek Hong menjadi tertegun, lalu katanya: "Siau-hong, kenapa kau menjadi begini rupa? Cepat bangun dan ceritakan semua pengalaman kepada subo!"

Dari nada ucapan tersebut, dapat terdengar betapa memperhatikannya perempuan ini kepada muridnya. Tang Cuan segera maju ke depan dan membimbing bangun Cu Siau-hong dari atas tanah Setelah bangkit berdiri dan menyeka air matanya, Cu Siau-hong baru berkata sambil tertawa: "Terima kasih sunio, terima kasih toa su-heng. "

Kemudian ia berpaling ke arah Seng Tiong-gak dan memberi hormat:

"Baik baikkah susiok?!"

Pek Bwee segera tersenyum, katanya:

"Kalian jangan mengira ia sudah banyak menderita, oleh karena ia harus berlatih ilmu silat, ia telah melatihnya sehingga tidak ada waktu untuk tidur maupun makan, bahkan waktu untuk mandipun tak ada. "

Secara ringkas ia menceritakan apa yang diketahuinya, kemudian tidak menunggu orang lain buka suara, ia bertanya lebih dulu:

"Nak adakah seseorang menguntil diriku?" "Ada"

"Apa?" seru Pek Bwe tertegun, “jadi benar-benar ada orang menguntil di belakangnya?"

"Benar! Sistim mereka sewaktu menguntil dirimu dilakukan dengan amat sempurna, lagi pula dilakukan setelah kau masuk ke dalam kota”.

"Oooh.... manusia macam apakah itu?" tanya Pek Bwee sambil berseru tertahan.

“Didalam suatu jarak perjalanan yang amat dekat, mereka telah berganti dengan beberapa macam manusia yang berbeda ini membuktikan betapa berhati-hatinya mereka dalam setiap tindakan"

"Kejadian ini sungguh berada di luar dugaan lohu" "Hampir saja boanpwe terkecoh pula oleh mereka, menanti ia berdiri agak lama di depan pintu gerbang, boanpwe baru menyadari akan hal yang sebenarnya"

"Lihay, benar-benar sangat lihay, sudah puluhan tahun lohu melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sungguh tak kusangka kalau kali ini aku bakal dikelabuhi mereka"

"Oleh karena itulah boanpwe harus berputar ke belakang dan menyusup masuk kemari"

"Siau-hong, sewaktu kau masuk tadi, apakah jejakmu diketahui mereka?" tanya Seng Tiong-gak.

"Tidak!"

Agaknya Pek Bwee masih penasaran dan tidak puas, kembali ia berseru:

"Nak, coba kau katakan sepuluh li setelah aku masuk ke dalam kota, manusia macam apakah yang telah menguntil diriku?"

"Seorang perempuan berusia setengah umur, ia mirip sekali dengan seorang pelayan dari suatu keluarga kaya"

Pek Bwee termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya lagi:

"Apakah kau maksudkan perempuan yang berbaju biru dan memakai pembungkus kepala?"

"Betul! Perempuan itulah yang kumaksudkan, ia berdiri agak lama di depan pintu, kemudian baru pelan-pelan berlalu meninggalkan tempat itu."

"Apakah diketahui oleh orang-orang Kay-pang?" "Tidak, seharusnya mereka bisa mengetahui akan hal ini, asal mereka mau berhati-hati, tidak sulit untuk mengetahui hal itu"

Pek Bwee segera menghembuskan napas panjang.

"Nak, tampaknya aku si jago kawakan tak lebih cerdik dan cekatan daripada dirimu" keluhnya.

"Aaah... boanpwe tidak lebih hanya kebetulan saja!" Paras muka Pek Bwee berubah menjadi amat serius,

dengan suara dingin ia berkata lagi:

"Hong-ji, Tiong-gak, kalian musti dengarkan baik-baik. Mungkin akibat dari keteledoranku, rahasia tempat tinggal kita telah bocor dan diketahui musuh, mulai sekarang kita semua harus meningkatkan kewaspadaan masing-masing."

"Locianpwe, entah mereka sudah menghitung jumlah kita semua atau belum. " Kata Cu Siau-hong.

"Aku pikir, mereka sudah mulai menguntil kita semenjak Kay-pang membawa kita masuk ke kota Siang yang, berbicara menurut keadaan itu, agaknya mereka masih belum puas hanya berhasil menculik Tiong It-ki seorang. "

"Maksud ayah, apakah mereka sedang bersiap-siap untuk menghadapi kita " tanya Pek Hong.

"Besar kemungkinannya demikian, dari sini dapat diketahui bahwa dua peristiwa yang berlangsung bersamaan waktunya itu bukan merupakan suatu kerja sama, melainkan yang satu mempergunakan kesempatan dari yang lain."

"Jadi maksud ayah, pihak Liong Thian siang dengan rombongan penyergap perkampungan Ing-gwat-sanceng sesungguhnya sama sekali tak ada hubungannya?" "Dulu aku masih belum berani memastikan, tapi kalau ditinjau sekarang, delapan sembilan puluh persen sudah pasti demikian, hanya saja mereka memang mempergunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya."

"Jadi kalau begitu, tujuan mereka pun berbeda?" tanya Seng Tiong-gak pula. Pek Bwee manggut-manggut.

"Benar! Kalau Liong Thian siang hanya dikarenakan anak Hong, karena dendam pribadi, maka pihak yang lain justru bertujuan untuk menghancurkan perguruan Bu-khek bun"

"Lalu siapakah orang-orang itu? Selama banyak tahun belakangan ini, Leng Kang menutup diri dan jarang menyalahi orang lagi pula walaupun perguruan Bu-khek bun mempunyai sedikit nama, hakekatnya masih belum bisa dianggap sebagai suatu perguruan besar, kenapa mereka harus menghadapi diri Leng Kang?" kata Pek Hong.

"Dalam soal ini kau harus berpikir lebih mendalam lagi, tapi oleh Leng Kang justru telah diciptakan suatu semangat yang besar untuk berjuang lebih ke atas"

Setelah memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, Thang Cuan dan Seng Tiong-gak, dia melanjutkan:

"Kalian semua adalah manusia-manusia berbakat dari dunia persilatan yang berhasil dikumpulkan Leng Kang untuk mempertahankan perguruan Bu-khek-bun, jika diberi waktu sepuluh tahun lagi untuk melatih diri, bukankah perguruan Bu-khek-bun akan berhasil menjadi suatu perguruan besar dalam dunia persilatan?"

"Kalau begitu kelompok manusia yang telah memusnahkan perguruan kita amat sulit untuk dilacaki jejaknya!" seru Seng Tiong-gak. "Sepintas lalu, persoalan ini memang tampaknya sulit untuk dilacaki, tapi bila dipikirkan kembali dengan lebih seksama sesungguhnya mereka telah membuang banyak tahun untuk menyusun rencana yang amat sempurna ini"

"Menurut perasaan boanpwe lebih baik kita tidur secara berpisah saja" usul Cu Siau-hong, "kalau bisa kita justru berbalik ganti menguntil mereka, setelah mengetahui dengan jelas asal usul mereka, kita baru mencari akal lain"

"Suatu cara yang bagus!" seru Pek Bwee segera menyetujui, "segera kukabarkan hal ini kepada Yu Toucu, agar ia mengutus beberapa orang untuk membantu dirimu"

Cu Siau-hong tertawa.

"Soal ini sih tak perlu, locianpwe cukup memberi kabar kepada pihak Kay-pang agar mereka lebih berhati hati sedangkan mengenai boanpwe aku rasa lebih baik bergerak seorang diri saja!"

"Baik!" kata Pek Bwee sambil mengangguk, "jika hal ini terjadi pada dua hari berselang aku pasti tak akan setuju bila kau ingin bertindak sendirian, tapi sekarang aku tak perlu kuatir"

"Kini pihak Kay-pang sudah mulai menunjukkan gerakan, hal mana pasti akan memancing reaksi dari pihak lawan, mungkin pada saat itulah boanpwe akan berhasil menemukan sedikit jejak mereka"

Tiba-tiba Pek Bwee menghela napas panjang, katanya: "Nak, meskipun kau menampilkan kecerdikan yang

melampaui siapapun, cuma ada beberapa hal yang membuat aku merasa tak lega hati dan membiarkan kau bertindak sendirian" "Locianpwe tak usah kuatir, Siau-hong biasa bekerja dengan teliti dan penuh kewaspadaan"

"Locianpwe coba kau lihat bagaimana jika boanpwe berangkat bersama sama Siau-hong sute?" tanya Tang Cuan.

"Tidak boleh!" Pek Bwee gelengkan kepalanya "kau adalah ciangbunjin dari perguruan Bu-khek-bun masih banyak urusan yang memerlukan penampilanmu untuk mengatasinya, kau tak boleh meninggalkan tempat ini"

"Terima kasih banyak atas nasehat locian-pwe!"

"Ayah, jadi kau setuju membiarkan Siau-hong bertarung seorang diri melawan musuh-musuh kita?" seru Pek Hong.

"Subo, tecu bukan bertarung secara terang-terangan melawan mereka, tecu hanya secara diam-diam mengawasi gerak-gerik musuh, hal ini pasti akan terhindar dari segala macam pertarungan"

"Enso, biar siaute berangkat bersama Siau-hong!" Seng Tiong-gak segera menampilkan diri.

"Tak usah Tiong-gak" kembali Pek Bwee menggeleng, "lebih baik biar ia pergi seorang diri, kita harus memberikan kerja sama yang baik dari sini agar jangan sampai memukul rumput dan mengejutkan ular, biar Siau-hong melakukan penyelidikan seorang diri"

Pek Bwee menghela napas panjang, katanya pula.

"Siau-hong, aku minta kau berjanji untuk pulang kembali dengan baik-baik, tak boleh pulang dengan membawa sedikit lukapun!"

Saking terharunya. sepasang mata Cu Siau-hong sampai menjadi merah, nyaris air matanya jatuh bercucuran. "Siau-hong tak akan menyia-nyiakan harapan semua orang!"

"Nak, kalau begitu berangkatlah!"

"Ayah, coba kau lihat tampangnya itu, suruhlah dia membersihkan badan dan berganti pakaian lebih dulu" seru Pek Hong.

"Tak usah, justru keadaannya itu lebih memudahkan dirinya untuk mengelabuhi lawan" ujar Pek Bwee, sambil tersenyum.

"Aaai! Siau-hong, kau harus berhati-hati, jika terjadi sesuatu cepatlah pulang kembali."

"Tecu tahu, Subo tak usah kuatir, Siau-hong segera berangkat"

Pek Hong ulapkan tangannya, Siau-hong pun memberi hormat kepada Seng Tiong-gak dan Tang Cuan, setelah itu baru putar badan meninggalkan tempat itu..

Memandang bayangan punggung Cu Siau-hong yang menjauh, pelan-pelan Pek Bwee berkata:

"Aku akan segera mengabarkan hal ini kepada pihak Kay-pang, kalianpun harus mulai mempersiapkan diri"

"Ayah, kau suruh kami mempersiapkan apa?"

Kalian harus mempersiapkan diri untuk berjalan jalan sebentar di kota Siang-yang.

"Ooooh maksud ayah?"

"Agar jejak kita dikuntit mereka" sela Seng Tiong-gak . "Benar" Pek Bwee mengangguk, "lohu akan menyuruh

pihak Kay-pang mengutus orang untuk mengikuti secara diam-diam dan berusaha menemukan asal usul mereka" "Kalau memang ada pihak Kay-pang yang melakukan pengintaian, kenapa masih menyuruh Siau-hong keluar rumah?"

"Jumlah kekuatan kita masih belum cukup untuk membagi tugas. jika ingin lebih sempurna, lebih baik mencari beberapa orang pembantu lagi yang bisa diandalkan"

Pek hong manggut-manggut dan tidak banyak berbicara lagi.

Sejak ia kehilangan suami, kehilangan anak, semua cinta kasihnya hampir telah dilimpahkan pada tubuh Cu Siau hong seorang.

Pek Bwee memberi pesan sesuatu kepada Seng Tiong gak dengan berbisik, kemudian ia baru putar badan dan berlalu dari sana.

"Seng sute, kitapun harus mempersiapkan diri" kata Pek hong, kemudian setelah memeriksa cuaca sebentar, “kalau toh pihak Ing-gwat-san-ceng tak mampu menahan serangan musuh, kita harus menggantungkan perlindungan dari kekuatan suatu kantor cabang perkumpulan Kay-pang. aku hanya kuatir merekapun tak sanggup melindungi kita"

"Silahkan enso beristirahat! Biar aku dan Tang Cuan yang melakukan persiapan dengan ketat”. Pek hong manggut-manggut dan segera kembali ke kamarnya.

Sepeninggal perempuan itu, Seng Tiong-gak baru menghembuskan napas pelan, katanya: "Tang Cuan, agaknya kita sudah mulai berhadapan dengan musuh musuh besar kita?"

"Susiok, masih ada suatu hal yang tidak tecu pahami" "Persoalan apa yang tidak kau pahami?" "Sewaktu suhu dan Liong Thian siang beradu jiwa, waktu itu kita sedang kalut dan panik, itulah waktu yang paling baik buat mereka untuk menghadapi kita, mengapa mereka tak mau turun tangan?"

Seng Tiong-gak termenung sejenak, lalu jawabnya: "Tentang soal ini aku rasa kemungkinannya hanya ada

satu alasan"

"Apakah alasan itu?"

"Mungkin didalam pertarungannya di perkampungan Ing-gwat-san-ceng, merekapun mengalami kerugian yang cukup besar"

"Benar! ilmu pedang Cing peng kiam hoat hingga kini masih merupakan sebuah ilmu pedang yang berbobot dalam dunia persilatan"

"Meskipun dalam pertarungan itu pihak Bu-khek-bun mengalami kehancuran total, tapi pihak lawanpun merasakan juga kerugian yang tak kecil, terlepas dari orang lain, cukup berbicara tentang diri It-ki, untuk menangkapnya hidup-hidup, pihak lawan harus membayar suatu nilai yang sangat besar sekali"

"Perkataan susiok memang benar, dalam pertarungan itu mereka juga sisa beberapa kekuatan yang amat terbatas, itulah sebab nya mereka, harus buru-buru meninggalkan tempat kejadian"

-oOo>d’w<oOo-

SENG TIONG-GAK manggut-manggut kemudian berjalan menuju keluar. Tang Cuan memahami maksud susioknya, diapun mengikuti di belakang Seng Tiong-gak, keluar dari ruangan itu.

Mereka berdua langsung berjalan menuju ke halaman gedung tingkat ketiga.

Pada waktu itu, meraka berdua sama-sama tidak berbicara lagi, tapi jalan pemikiran mereka berdua adalah sama, dengan sepasang mata yang tajam mereka mengawasi situasi di sekeliling tempat itu.

Para anggota Kay-pang bertugas dengan disiplin yang tinggi sewaktu mereka berdua masuk ke ruang tengah gedung ketiga, dari balik ruangan segera muncul seorang pengemis setengah umur yang segera menyapa.

"Seng ya, Tang ya kalian berdua sedang jalan-jalan" "Hati kami lagi kesal, ingin sekali jalan di kebun bunga di

belakang sana jawab Seng-Tiong-gak.

"Silahkan, kebun bunga di belakang sana tidak terlalu besar, tapi sangat indah, perlukah aku menjadi penunjuk jalan untuk kalian berdua?" tidak usah, silahkan kau urusi tugasmu sendiri.

Pengemis setengah umur itu segera menjura dan berlalu dari situ. Sambil berjalan sambil bercakap-cakap, dengan telitinya Seng Tiong-gak serta Tang Cuan meneliti keadaan dalam ruangan ke tiga, lalu mengitari pula kebun itu satu kali, setelah itu baru mereka kembali ke gedung lapisan ke dua.

Waktu itu Pek Bwee sudah lama menantikan kedatangan mereka berdua.

"Loya cu!" Seng Tiong-gak segera berbisik, "kami rasa kita  tak  boleh  hanya  mengandalkan  kekuatan  dari pihak Kay-pang saja untuk melindungi keselamatan kita, maka aku dan Tang Cuan telah memperhatikan situasi didalam gedung ini, sehingga bila terjadi sesuatu peristiwa. kita pun tak usah menghadapinya dengan panik"

"Yaa, kita memang harus berhati-hati"

Cara kerja anggota Kay-pang memang amat disiplin, ketika kami memasuki gedung ketiga dan telah berjumpa salah seorang diantaranya, cuma sayang gedung itu terlampau besar sedang mereka yang bertugas cuma enam orang saja, suatu jumlah yang terlampau kecil." 

"Aaai, harus disalahkan aku yang terlalu bertindak gegabah.." keluh Pek Bwee sambil menghela napas panjang.

Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu urusan yang penting sambil bangkit berdiri katanya lagi.

"Tiong-gak, kau mengatakan dalam gedung ketiga telah berjumpa dengan beberapa orang anggota Kay-pang?"

"Satu orang!" "Hanya satu orang?"

"Ya, aku hanya melihat satu orang"

Pek Bwee termenung beberapa saat lalu katanya lagi. "Beritahu kepadaku ciri macam apakah orang itu?"

"Pek loya cu, maksudmu anggota Kay-pang tersebut pun amat mencurigakan?"

"Aku kuatir dia bukanlah anggota Kay-pang” kemudian sambil memandang sekejap ke arah Tang Cuan, ia melanjutkan:

"Kau tinggal di sini, aku dan Tiong-gak akan memeriksa sebentar keadaan di sana." Begitu selesai berkata, ia telah bergerak lebih dulu. Seng Tiong-gak merasa masalah ini amat serius sekali, buru-buru dia menyusul di belakangnya.

Memandang bayangan punggung kedua orang itu berlalu, Tang Cuan merasakan hatinya amat sedih, terbayang sebelum gurunya meninggal dulu, segala sesuatunya suhu lah yang memikul tanggungjawab itu, sedang suhengte sekalian kecuali berlatih silat, boleh dibilang tiada persoalan lain yang dipikirkan lagi.

Siapa tahu setelah terjadinya tragedi di malam itu, bukan saja suhunya mati oleh ilmu sakti lautan utara, perkampungan Ing-gwat-san-ceng pun musnah menjadi abu dalam semalaman saja, para sutenya mati dibunuh dan Siau sutenya lenyap tak berbekas.

Suasana riang gembira dan penuh kedamaian yang semula menyelimuti mereka kini berubah menjadi memedihkan hati, apalagi dewasa ini tinggal empat orang saja yang masih hidup.

Peristiwa ini bukan hanya suatu dendam berdarah saja, melainkan juga suatu tanggung jawab, suatu tanggung jawab yang amat berat.

Begitu terjun ke dalam dunia persilatan, semua kelicikan dan kebusukan orang persilatan segera dijumpainya, ia mulai merasa bahwa setiap langkahnya bisa menghadapi rintangan dan halangan, apalagi setelah terlepas dari pengawasan gurunya.

Penderitaan yang berat paling mudah membuat orang matang lebih cepat, peristiwa berdarah yang mengerikan membuat Tang Cuan dan Seng Tiong-gak mulai mempergunakan otak dan kecerdasan masing-masing untuk menghadapi setiap situasi dan perubahan. Ia merasa hal ini harus dilaporkan dulu kepada ibu gurunya, agar bila terjadi sesuatu peristiwa ia tak sampai gelagapan dibuatnya.

Pelan-pelan ia berjalan ke depan kamar Pek Hong, lalu mulai mengetuk pintu. Dari balik ruangan terdengar suara sahutan dari Pek Hong:

"Siapa disitu?" "Tecu Tang Cuan" "Ada urusan apa?"

"Pek cianpwe menemukan bahwa anggota Kay-pang yang bertugas di gedung lapisan ketiga amat mencurigakan, ia bersama Seng susiok telah segera melakukan  pemeriksaan tecu merasa kejadian ini amat gawat dan berbahaya, bila terjadi sesuatu perubahan tentu luar biasa sekali, maka sengaja tecu datang memberitahukan hal ini kepada subo"

"Baik, aku sudah tahu!"

"Tecu akan berjaga di luar ruangan jika subo hendak memberi perintah harap segera disampaikan, tecu segera akan menyusul kemari"

Pelan-pelan pintu ruangan terbuka dan Pek Hong pun munculkan diri, katanya:

"Tang Cuan, tak kusangka kalian semua begitu setianya kepada perguruan, walaupun hatiku merasa amat bersedih hati, tapi dengan cepat telah memperoleh pula hiburan yang besar"

"Tecu sudah banyak menerima budi kebaikan dari perguruan, meskipun badan harus hancur, budi ini belum tentu bisa terbalaskan"

Pek Hong menghela napas panjang. "Tang Cuan" katanya, “sekarang kau adalah seorang ciangbunjin dari perguruan Bu-khek bun, aku yang menjadi subomu sudah seharusnva melindungi keselamatanmu Tang Cuan, mari kita bersama sama duduk di ruang tengah sambil menantikan kedatangan mereka"

"Tecu tak berani, lebih baik subo beristirahat saja didalam kamar!" Pek Hong tertawa getir.

"Tang Cuan, aku membutuhkan sesuatu yang merepotkan, Yaa hanya kerepotan dapat mengurangi rasa sedih yang mencekam dalam hatiku"

Tang Cuan tidak berani berbicara lagi, setelah  mengiakan diapun mengundurkan diri ke samping.

Dalam pada itu, Pek Bwee dan Seng Tiong-gak telah lari masuk ke gedung tingkat ketiga dengan langkah tergesa gesa.

Suasana didalam ruangan itu sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Seng Tiong-gak mendeham berat-berat, kemudian menegur.

"Adakah seseorang di sini?"

Berulang kali ia berteriak, namun tiada jawaban yang kedengaran.

Paras muka Seng Tiong-gak segera berubah hebat, katanya kemudian:

"Loya-cu, tampaknya dugaanmu benar!"

Tiba-tiba Pek Bwee melompat ke depan dan menyelinap masuk ke tengah ruangan.

Mendadak cahaya tajam berkelebat lewat, tiga titik cahaya putih dengan kecepatan luar biasa menyergap diri mereka. Waktu itu malam hari sudah menjelang tiba, pemandangan di sekeliling tempat itu sudah mulai kabur.

Tiga bilah pisau terbang itu menyambar lewat dari sisi tubuh mereka dan Traaang! Traaang! Traang! diiringi tiga kali dentingan nyaring ketiga batang senjata tersebut bersama sama menancap di atas tiang penyangga ruangan.

Dengan sinar mata tajam Pek Bwee mengawasi ke balik kegelapan dimana senjata rahasia itu berasal, kemudian pelan-pelan berseru:

"Sobat, caramu yang bermain sembunyi macam cucu kura-kura, apakah tidak terasa sebagai perbuatan, seorang manusia rendah yang tidak tahu malu. ?"

Tiba-tiba dari balik kegelapan menyelinap keluar dua sosok bayangan manusia yang langsung melompat naik ke atas atap rumah.

Seng Tiong-gak segera mengayunkan tangannya ke muka, dua titik batang senjata rahasia bunga teratai besi dengan cepat meluncur ke depan.

Senjata rahasia bunga teratai besi dari perguruan Bu khek-bun merupakan ilmu sakti dari dunia persilatan, secepat sambaran kilat kedua biji senjata rahasia itu meluncur ke depan.

Suara mengaduh bergema memecahkan keheningan, sesosok bayangan manusia segera terjungkal ke bawah dari atas atap rumah, tapi orang yang berjalan di belakangnya karena terhalang oleh rekannya di depan, buru-buru merendahkan diri dan menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Dengan kecepatan tinggi Seng Tiong-gak melompat ke depan dan menyambar ke samping laki-laki yang terhajar oleh senjata rahasia bunga teratai besi itu. Senjata rahasia bunga teratai besi itu bersarang telak di dada sebelah kiri lelaki itu sehingga masuk separuhnya, darah segar segera berhamburan keluar membasahi tubuhnya.

Lelaki itu masih berusaha untuk meronta dan mencoba bangkit berdiri, tapi sebuah totokan dari Seng Tiong-gak segera meroboh kan dirinya.

Pek Bwee sendiri cuma berdiri tak berkutik, dia membiarkan lelaki yang seorang lagi kabur meninggalkan tempat itu.

Seng Tiong-gak yang menyaksikan kejadian itu, segera menegur dengan kening berkerut: "Locianpwe, kenapa kau lepaskan dia?"

"Seorang saja sudah lebih dari cukup, buat apa musti menahan kedua-duanya? Mereka tak lebih cuma manusia kelas tiga, percuma menahan mereka terlalu banyak, Sebaliknya justru akan memancing perhatian dan rasa kuatir mereka. Sekarang kita, musti mencari dulu orang orang Kay-pang sebelum bertindak lebih jauh"

"Loya cu, orang-orang ini semuanya bukan orang Kay pang..?"

"Semoga saja apa yang lohu duga tidak keliru!"

Apa yang diduga Pek Bwee memang tidak salah, dari dalam sebuah ruangan yang amat rahasia mereka berdua berhasil menemukan tiga orang anggota Kay-pang.

Cuma saja ketiga orang anggota Kay-pang itu telah berubah menjadi tiga sosok mayat.

Pek Bwee segera membuat obor dan memeriksa mayat mereka. tampak paras muka ketiga anggota Kay-pang itu sudah    berubah    menjadi    hijau    kebiru-biruan, agaknya kematian mereka disebabkan oleh senjata beracun yang sangat jahat.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 07"

Post a Comment

close