Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 02

Mode Malam
JILID 2

"Ya", jawab kakak yang ditanya. "Setahun yang lalu pernah aku bersama kakak Kie menempur dia, hampir aku terbinasa di ujung senjatanya yang istimewa itu Dia bosen sekali, sebab dialah salah seorang jago dari Siauw Lim Sie."

"Dan itu imam serta si kate kecil yang kelihatan gesit sekali, apakah kakak kenal mereka?" Siauw pek tanya lagi. "Kenapa aku tidak mengenalnya?" Bun Koan membaliki. Si imam pernah menempur ayah dan ibu. Dia bernama Kim Ciong, dia menjadi salah seorang jago dari Bu Tong Pay. Dia terkenal dengan ilmu silat pedangnya. Dan si kate kecil itu? Dialah jago dari partai Pat Kwa Bun, namanya ouw Bwee, gelarnya Hui Sin siTua Terbang. Sekarang mereka itu berkumpul menjadi satu, mungkin sulit sekali untuk ayah dan ibu serta kakak Kie menentangnya ... "

Selagi si nona berbicara, Kam Pek sudah mundur kira kira tiga tombak. Ia terperanjat sekali. Segera ia menarik tangan adiknya. "Mari kita lekas pergi" ajaknya.

Ketika itu terdengar suatu suara parau : "coh Kam Pek, Apakah kau masih tidak mau meletakkan senjatamu, untuk manda ditelikung? Mungkinkah kau hendak menanti sampai tubuhmu melintang sebagai mayat di tanah datar ini?"

Bun Koan mengajak adiknya lari terus, mereka mendengar tegas sekali suara parau itu, yang membuat hati mereka gemetar.

Coh Kam Pek, dengan goloknya merentang hong pian san si pendeta.

"Kita suami istri dan anak-anak sekeluarga ilmu jiwa" katanya nyaring, "kita telah dikejar kejar dan dicandak berulang ulang oleh kamu selama delapan tahun, apakah itu masih belum cukup? Apakah kamu masih tidak ingin menghentikan sepak terjang kamu ini?" Si pendeta tinggi besar tertawa dingin.

"Ketua kami telah celaka karena mu," sahutnya bengis. "Apakah sakit hati itu tak usah dibalas?"

Menyusul suara pendeta, terdengar suara berisik lainnya, antaranya, "Taysu, buat apa mengadu mulut dengannya? Manusia itu sangat bandel, dia telah melakukan banyak kejahatan, mana dia sudi menyerah kalah dengan mudah saja?"

"Taysu", ialah bahasa panggilan untuk seorang pendeta hweeshio, umat Agama Buddha. Di lain pihak terdengar suara ini : "Jangan binasakan jiwa mereka itu Kita harus membekuk mereka hidup hidup"

Menyusul itu terdengar lagi suara nyaring bagaikan genta besar. "Jikalau Coh Kam Pek mati bukankah perkara kematiannya keempat ketua partai akan jadi gelap Bukankah perkara itu jadi sulit dipencahkannya? Maka itu janganlah dibinasakan dia"

Siauw Pek mendengar tentang semua kata kata itu, sakit hatinya hingga darahnya bergolak tangannya gemetaran. Ia berduka dan gusar menjadi satu. Bun Koan merasai bergemetarnya tangan adik itu, ia dapat menerka sebab musababnya, tanpa ayal lagi, ia menarik lebih keras tangan saudaranya. Terus mereka berlari sampai melintasi dua buah puncak. Baru disitulah sinona mengendorkan larinya. Ia telah bermandikan keringat dan napasnya sengal sengal. Ia toh memasang telinga. Sudah tidak ada lagi suara beradunya pelbagai macam senjata.

Kemudian kakak ini melihat kepada adiknya, Wajahnya Siauw Pek gelap muram, alisnya berdiri. Terang bahwa dia tengah dipengaruhi hawa amarahnya. Dia berdiri bagaikan patung.

"Adikku, kenapa kau?" tanya Bun Koan Dia terkejut dan kuatir, tapi dia menanya dengan sabar.

"Jikalau aku belum mengetahui dengan jelas duduknya perkara, matipun mataku tak akan meram" sahut adik itu, yang mendadak terus menyemburkan darah segar, setelah mana dia menubruk kakaknya, menangis keras didalam rangkulan kakak itu

Nona Bun turut menangis. Iapun sangat berduka dan penasaran Sebenarnya ia telah berpengalaman, walaupun usianya masih muda, akan tetapi kesusahan hati adiknya ini membuat hatinya lemah.

Entah berapa lama kakak beradik itu menangis, tiba-tiba Siauw Pek merasakan tangannya ada yang menarik. sedang telinganya mendengar suara yang lemah lembut ini: "Anak, apakah seorang laki-laki mudah mengeluarkan air matanya? Sudah, jangan kau menangis lagi" Anak itu mengangkat kepalanya, untuk melihat orang yang menariknya, dan tiba-tiba ia menjadi kaget sekali^

Coh Kam Pek berdiri didepan puteranya, pipi kirinya penuh dengan darah segar dan separuh dari bajunya telah merah dengan darah.

Coh Kie Pek juga ada bersama ayahnya, dia terluka pada lengan kanan serta paha kirinya, kedua luka itu masih mengalirkan darah

Memandangi ayah dan kakak itu, anak bungsu ini berkata keras: "Jika aku dapat melindungijiwaku, akan kubalas sakit hati ini"

Dengan perlahan Kam Pek mengulur tangan kanannya, mengusap-usap rambut puteranya.

"Tetapi, anak," katanya sabar, "siapa menjadi laki laki sejati, dia pasti dapat membedakan jelas mana budi dan yang mana penasan. Untuk keluarga Coh, kaulah anak yang paling berbakat, jikalau Tuhan Yang Maha Kuasa mengasihanimu, pasti keluarga kita dapat mempertahankan dirinya, dan itulah yasamu. Ingat anak, kalau kelak dikemudian hari kau berhasil membalas sakit hati kita ini, jangan kau sembrono membunuh orang, mesti kau ketahui dulu sampai jelas" Siauw Pek heran-

"Kakak Koan mengatakan ayah jujur, inilah tak salah" pikirnya. "Di dalam luka parah dan sedang bergusar, ayah masih tak melupakan kesadarannya, ia masih ingat akan kebenaran dan kesalahan..."

Berpikir demikian, anak ini malu sendirinya. Hampir ia keliru menerka sifat ayahnya itu.

Kam Pek menghela nafas, ia berkata: "Telah aku ketahui jelas, didalam dunia ini, ditempat mana saja yang dapat disampaikan manusia di situ tak ada lowongan untuk kita sekeluarga mendiamkan diri, maka aku menyesal sekali. Coba dari dulu dulu aku langsung membawa kau kemari, tak akan mesti terlunta lunta dan menderita selama delapan tahun-.." Sementara itu siauw Pek telah mengawasi ayahnya. ia melihat luka yang masih mengalirkan darah, hatinya menjadi sakit, tak kuat ia menahan diri, lantas ia menangis. "Ayah, ibu," katanya, "kenapa luka ayah dan ibu tidak dibalut?" Ketika itu nyonya Coh telah mendampingi suaminya.

"Ini hanya luka dikulit," menjawab sang ayah, "aku dapat mempertahankan diriku." Ia hening sejenak. untuk berpikit, baru ia menambahkan :"Musuh-musuh yang tangguh telah berhasil kita pukul mundur, akan tetapi sebentar, pasti mereka bakal datang, karena itu, mari kita lekas-lekas melanjutkan perjalanan kita". Ia menoleh kepada isteri dan anaknya, terus ia menanya : "Isteriku, dan kau, Kie Pek masih dapatkah kau berjalan?" Sang isteri tertawa sedih.

"Luka ku tidak parah, tak usah kau menghiraukan aku," sahutnya lembut.

"Akupun masih kuat," berkata Kie Pek.

"Bagus" seru jago tua itu "Kita keluarga Coh, pria dan wanita, semua bangsa tangguh. Nah, mari kita pergi"

Lantas orang tua ini menarik tangannya siauw Pek. Ia membuka tindakan lebar.

Lukanya si nyonya dan putra sulungnya sebenarnya parah, akan tetapi ibu dan anak itu menggemertakan gigi, mereka paksakan diri bertindak mengikuti suami dan ayah itu Bun Koan berjalan bersama.

Dapat dimengerti bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang penuh penderitaan, akan tetapi selama itu, sang suami isteri saling mengenal diri mereka, tidak ada yang saling menghibur, bahkan mereka bungkam semua.

Terus, terus mereka berjalan, hingga mereka melintasi dua tikungan bukit. Hanya sekarang mendadak mereka menghadapi sesuatu yang dapat menciutkan hati mereka...

Di hadapan keluarga ini menghalang sebuah jurang, yang lembahnya gelap sekali, penuh uap atau kabut hitam, hingga sejauh lima kaki, tak nampak suatu apa. Dan di sebelah kanan itu, di mana ada tembokan gunung, yang batunya licin, terdapat ukiran tiga huruf besar : "Seng Su Kio", yang warnanya merah Jadi itulah dia jembatan Hidup Mati

Pada kedua sisi tiga huruf yang menakuti itu terdapat dua baris huruf huruf kecil warna putih, yang masing masingnya berbunyi: "Hidup manusia seratus tahun, tak dua jiwanya. Disini, hidup atau mati, sebuah jalannya "

Sekian lama Kam Pek mengawasi ketiga huruf besar itu, ia diam sambil otaknya bekerja, baru sesaat kemudian ia menghela napas dan berkata. "Anak. jikalau kau jalan memutarkan tembok licin, di sana ada sebuah jembatan baru yang menghubungkan jurang sebelah sini dengan jurang sebelah sana, itulah dia Seng Su Kio, jembatan yang harus kita lintasi..."

Siauw Pek memandang jurang itu, ia melihat uap hitam di dalam jurang bergerak gerik tak hentinya, tanpa merasa, timbul rasa jerinya.

Selagi mereka berdiam, dengan mata tertuju kepada jurang, tiba tiba hujan berhenti hingga sesaat kemudian, sang angin segera membawa buyar kabut yang tebal guram, hingga sebagai gantinya, nampak cuaca yang terang karena munculnya sang Surya...

Walaupun demikian, cahaya matahari yang kuat itu tak dapat menembuskan kegelapan di dalam jurang, hingga sekarang menjadi jelas perbedaan diantara kabut gelap dan jagat bersih.

Lama juga sang waktu lewat, baru terdengar suaranya Coh Kam Pek.

"Entah siapa si orang yang pandai yang telah menulis dua baris kata kata yang bernada nasehat itu," ujarnya. "Sudah ditulis tegas, toh masih ada jago jago silat yang masih berani mencoba melintasi jembatan maut ini, hingga mereka semua mengubur tubuh mereka di kolong jembatan-" Mendengar kata kata ayahnya, tiba tiba Siauw Pek bertanya: "Ayah, jikalau kita berhasil menyeberangi jembatan Seng Su Kio ini, dapatkah kita menyingkir dari pengejaran orang orang Rimba Persilatan itu?"

"Itulah satu soal, anakku," sahut sang ayah "Inilah jalan satu satunya, jalan yang terakhir, untuk keluarga kita, tiada itu, meskipun kesempatan hidup hanya ada satu atau dua perseribu, terpaksa kita tak dapat menghiraukannya lagi..."

"Ayah," tanya Bun Koan, "apakah ayah tahu jalannya untuk melintasi jembatan ini?"

"Tidak." sahut sang ayah, terus terang. "Bahkan di dalam dunia, mungkin tak ada seorang lain juga yang mengetahuinya. Tidak pernah terdengar bahwa siapa yang pernah mencoba menyeberang disini telah berhasil kembali dengan masih hidup."

"Jikalau begitu," berkata pula si nona, "bukankah siapa menyeberang disini, sudah pasti bagiannya ialah mati?"

"Melihat keadaan kita sekarang ini anak," berkata siorang tua, "kesempatan kita buat hidup adalah mencoba jalan kematian ini. Anak. jikalau di dalam dunia ini ada orang yang tahu caranya jalan di Seng Su Kio, atau kalau jembatan ini mudah dilintasi, tak akan ayahmu mengajak kamu datang kemari"

Berkata begitu, ayah ini lantas bertindak maju.

Siauw Pek mengikuti ayahnya, disusul oleh ibu dan dua saudaranya.

Mereka menghampiri pinggiran tembok gunung dimana ada ukiran nama Seng Su Kio itu Benar saja, disitu tampak sebuah jalanan batu yang bertepikan jurang, yang lebarnya cuma setengah kaki. Jalan batu itu sudah lumutan, suatu bukti bahwa sudah lama tak ada orang yang menginjak untuk melintas iya. Panjangnya jalanan lebih kurang lima tombak. ujungnya yang lain sampai kepada jembatan maut, jembatan yang merupakan sepotong batu putih. Tak dapat dikenali, jembatan itu buatan manusia atau alam dan panjangnya juga tak ketahuan karena tak terlihat ujungnya yang lain cuma, sejauh lima kaki, lantas jembatan itu terbenam didalam kabut hitam legam. Kam Pek menghela napas.

"Jembatan ini pastilah Seng Su Kio..." katanya. Ia rupanya bersangsi juga mengenai jembatan itu, ia cuma pernah dengar namanya tetapi belum pernah lihat roman macamnya.

Habis berkata, orang tua ini mengeluarkan satu botol kecil dari sakunya. Itulah botol terbuat dari batu pualam. Ketika ia memencet keras, pecahlah botol itu, hingga terlihat isinya, tiga butir obat pulung warna merah tua.

"Anak anak," katanya. "inilah obat yang terbuat dari campuran dua belas macam bahan beracun, jikalau obat ini kita kemu didalam mulut, kita akan terhindar dari serangan uap beracun yang biasa terdapat ditanah pegunungan seperti ini. Hayolah kamu kemut seorang sebutir"

"Cuma tiga butir, ayah?" Siauw Pek tanya. "Bagaimana dengan ayah dan ibu?"

"Ini cuma persiapan yang ada baiknya tetapi tidak ada bahayanya," menerangkan ayah itu. "Kabut hitam itu racunnya atau tidak. masih belum ketahuan, taruh kata benar ada ayah dan ibumu tidak takut sama sekali, sebab tenaga dalam kamu hingga kamu dapat melawannya."

"Aku merasa bahwa tenaga dalamku telah maju banyak, ayah," berkata Kie Pek si anak sulung. "Akupun masih muda dan sedang tangguhnya, karena itu baiklah pil itu ayah saja yang pakai..."

Kam Pek tertawa menyeringai. Ia mengangsurkan obat itu kepada istrinya.

"Anak Kie sangat berbakti," katanya, "Kau saja yang mengenya." Istri itu tidak menyahut, ia hanya membungkuk menjura.

"Aku adalah seorang wanita, jikalau aku mesti mati, aku tak usah disayangi," katanya. "Sebaliknya kamu ayah dan anak anak. siapa saja dari kamu, harganya lebih besar daripada harga diriku. Hayo, siapa saja dari kamu yang mengemunya"

Baru sinyonya menutup mulutnya, tiba tiba mereka mendengar seruan yang nyaring yang datangnya dari arah dimana mereka datang tadi. Serempak mereka berpaling. Maka mereka melihat munculnya belasan orang yang lagi berlari lari keras kearah mereka

Segera setelah datang lebih dekat, terlihat tegas rombongan itu dikepalai oleh pendeta dari siauw Lim Sie yang tadi. Dia mudah dikenali karena tubuhnya yang tinggi besar serta senjatanya yang istimewa itu Hanya kali ini kepalanya dibungkus, atau lebih tepat dibalut dengan kain putih.

Disebelah kiri pendeta itu ada seorang imam. Ternyata dia ini adalah Kim Ciong Toojin si imam dari Bu Tong Pay. Dia berusia setengah tua dan pedangnya bergemerlapan-Dan dia juga dibalut lengannya yang kiri.

Seperti semula tadi, pendeta dan imam itu didampingi oleh kawannya yang kita kenal tadi, ialah Hui-Sui ouw Kwee, juga dari partai Pat Kwa Bun Sikate kecil ini tetap bersenjatakan tameng serta golok pendek

"Kembali mereka bertiga yang menjadi biang keladinya" kata Bun Koan gusar.

Kam Pek terluka parah, akan tetapi semangatnya tetap mantap. pikirannya juga tetap jernih. Ia lantas memandang tajam. Tak usah lama segera ia melihat bahwa dibelakang rombongan musuh, terpisah kira sepuluh tombak. ada seorang lain yang rupa rupanya mengenakan jubah warna abu abu.

Selagi sang ayah memasang mata, Kie Pek berseru secara tiba tiba, seruan mana disusul dengan lompatnya untuk maju memapaki kawanan musuh: Ia juga memperdengarkan suaranya yang nyaring. "Manusia manusia ganas yang tak terbunuh musuh. Mari maju, aku hendak mengadu jiwa denganmu" Thjoh Siauw Pek juga merasakan darahnya bergolak. tangannya meraba Kim Kiam, pedang emasnya, sambil berseru, ia lompat majuk neladan kakaknya. Kam Pek terperanjat.

"Kie Pek siauw Pek Kembali" ia berteriak memanggil.

Kie Pek menghentikan langkah larinya. Ia terkejut mendengar ayahnya menyebut nama Siauw Pek. Ketika ia menoleh kebelakang, ia melihat adiknya lagi menyusulnya.

"Tahan" ia berseru sambil maju, dengan tangan kirinya menyambar lengan kanan saudaranya yang terus diajaknya kembali kepada ayah mereka.

Ketika itu diantara para pengejar sudah ada beberapa orang  yang berhasil datang mendekat sampai kira kira empat tombak. Mereka lantas berpencar, mengambil sikap mengurung. Sampai disitu, dengan senjata masing masing terhunus, mereka bertindak maju pelan pelan-

Tjoh Kam Pek menggeser tubuhnya hingga ia berdiri berdampingan dengan isterinya. Ia menghunus goloknya di tangan kanan dan pisau belati di tangan kiri. Ia menoleh kepada Kie Pek dan berkata dengan keras: "Kie Pek dengar Dengan susah payah aku dan ibumu melindungi kamu sampai disini, harapanku ialah supaya ada jiwa anggota keluarga Tjoh yang dapat diselamatkan, supaya keluarga kita dapat menyambung turunannya. Dari itu, mengertilah kau Bersama ibumu, aku akan menahan musuh. Kamu sendiri, lekaslah pergi menyeberang"

Sebelum Kie Pek menyahut ayahnya, diantara musuh terdengar suara nyaring: "Jangan biarkan mereka terjun kejurang. Mari maju serempak"

Benar saja, dengan riuhnya suara sambutan kawanan musuh itu maju meluruk. senjata mereka dibolang balingkan. Kam Pek pun maju, dengan golok Kay santoo, ia menangkis serangan pertama, menyusul kemudian dengan pisau belati, ia menikam ouw Bwee si Tua terbang, ketua Pat Kwa Bun. Hui Siu paling lihay ilmu meringankan tubuhnya, karenanya dia maju di muka.

Kie Pek menggertakkan giginya, ditariknya tangan Siauw Pek, dan kepada Bun Koan, dia berkata: "Adik Koan, tak dapat kita menyia nyiakan harapan ayah dan ibu. Silahkan maju ke muka, buka jalan buat adik Siauw" Muka si nona bermandikan air mata.

"Baiklah" sahutnya, terpaksa. Ia lantas bertindak maju, berjalan dijalan batu yang licin dan tak lebar.

Kie Pek menolak tubuh adiknya, menyuruhnya jalan di jalanan berbahaya itu, mengikuti encinya. Katanya: "Adik siauw, majulah Kau menjadi harapan terakhir dari Keluarga Tjoh, kau harus menyayangi dirimu"

Siauw Pek menyahut tanpa sadar, dengan perlahan ia bertindak maju.

Kie Pek menyusut mukanya yang penuh air mata, ia menoleh ke belakang. Dengan kaget ia melihat ayahnya sudah rebah melintang di tanah pegunungan itu, sedang ibunya lagi berkelahi bagaikan kalap. sebab ibunya, yang menggenggam pedang di tangan kiri dan kanan merabuh musuh secara kalang kabut

Kam Pek telah luka parah. Kalau dia masih dapat bertahan, itu disebabkan nyalinya yang besar dan tenaga dalamnya yang tangguh, tetapi dia mesti melawan ouw Bwee yang kosen, dia telah terpaksa mengeluarkan tenaga terlalu besar, yang menyebabkan darahnya mengalir berlebihan, sebab lukanya payah pula. Satu kali goloknya yang berat dapat ditangkis musuh. Sebelum ia berdaya, kaki musuh itu melayang ke tubuhnya. Dia tak lagi gesit sebagai semula, depakan itu membuatnya roboh terkulai.

Kim Tjiong Toodjin lompat maju, niatnya menotok musuhnya supaya tidak berdaya. Di luar dugaan, Kam Pek melihat datangnya musuh itu, segera dia mengerahkan sisa tenaganya, hendak menikam dengan pisau belatinya. Si imam kaget sekali. Syukur matanya jeli dan gerakannya tangkas. Sambil berkelit, ia merampas pisau belati itu, hingga ia berhasil menolong dirinya. Melihat ayahnya roboh, darah Kie Pek bergolak. Hampir ia melompat maju, hendak menerjang ouw Bwee, tapi pada saat itu pula ia melihat ibunya roboh di tangan si pendeta dari Siauw Lim Sie, pendeta yang mulanya berhasil menangkis mental pedang kiri ibunya, sedangkan ouw Bwee melanjuti menikam punggung si nyonya

Bukan main sakit hatinya Kie Pek. la telah mesti menyaksikan kejadian hebat itu dengan matanya sendiri Bagaimana mungkin ia dapat mengendalikan hawa amarahnya? Ia sudah mengangkat sebelah kakinya, hendak bertindak maju, tapi seketika itu ia menoleh kepada adiknya...

Justru itu, dengan Kim Kiam di tangan Siauw Pek pun lagi bertindak maju...

Tiba tiba anak sulung itu sadar akan dirinya, ingat akan tugasnya yang berat. Ia bertanggung jawab akan adiknya itu, yang mesti jadi penyambung Keluarga Tjoh. Maka ia menggemertakkan giginya, seraya lompat menghadang di depan Siauw Pek.

"Hei, anak kecil" tiba tiba terdengar suara yang dingin  dan seram. "Kenapa kamu masih tidak mau meletakkan senjatamu? Kenapa kamu tidak mau mengangsurkan tanganmu untuk ditelikung? Apalagi yang kamu tunggu?" Itu adalah ejekan musuh..

BAB DUA

JEMBATAN HIDUP ATAU MATI

Panas hati Kie Pek. akan tetapi dia toh menjawab dengan dingin "Anggota keluarga Tjoh, kepalanya dapat dikutung, darahnya dapat dialirkan, tetapi mereka tak dapat dihina"

Rombongan musuh kagum mendengar suara gagah itu, umumnya mereka memuji di dalam hati masing masing, "Sungguh gagah bocah itu dia mirip ayahnya Benarlah apa kata pepatah, Bapak harimau tak akan beranak anjing"

Akan tetapi ouw Bwee si Tua Terbang menggerakkan golok dan tamengnya.

"Bocah cilik tak tau atau mampus" ejeknya. "Benarkah kau percaya dirimu gagah melebihi ayahmu?" terus ia membacok dengan goloknya kepada lengan si pemuda yang mencekal cambuk lunak

Kie Pek melihat serangan itu. Ia menarik kembali tangan kanannya. Berbareng dengan itu, dengan pedang di tangan kiri, ia membalas menabas ke pinggang musuh congkak, takabur dan bermulut jahat.

ouw Bwee menangkis dengan tamengnya, hingga terdengarlah suara nyaring dari benturan pedang dengan tameng itu. Dia membela diri sambil memutar tubuhnya. Itulah suatu tipu silat kaum Pat Kwa Bun, jurus yang dinamakan "Pat Kwa Tun" atau "Pat Kwa menyingkir" Hampir berbareng dengan itu, tibalah satu serangan lain Satu sinar pedang berkelebat

"Adik, awas" seru Kie Pek, kaget. Serangan itu diarahkan kepada siauw Pek.

Kakak ini tak sempat menggunakan cambuknya, terpaksa ia gunakan pedangnya, maka beradulah pedangnya itu dengan lawan, menyusul menyambar ia dengan cambuknya dengan cambukkan "Sin Liong Yau Tauw" (Naga Sakti menggoyangkan kepala). Penyerang itu ternyata Kim Ciong Toojin si imam dari Bu Tong Pay. Berbareng dengan itu, belasan musuh datang mendesak.

Kie Pek hendak menempur sekalian musuh itu, tetapi ia mengambil kesempatan akan memandang dahulu kearah saudara saudaranya maka ia dapat melihat Bun Koan, adiknya itu tengah bertarung dengan ouw Bwee.

Nona Tjoh kosen tetapi ouw Bwee bukan sembarangan lawan,  dia ini mendesak dengan golok dan tamengnya. Syukur buat si nona, di tempat sempit seperti itu, lawannya tak leluasa menggunakan tamengnya itu. ouw Bwee tahu diri, dia berhati hati. Tak sudi dia nanti terpeleset dan jatuh kejurang

Sambil berkelahi, Bun Koan berseru pada adiknya: "Adik, ingat akan keluarga Tjoh. Kaulah anggota satu satunya yang diharapkan. Jangan kau sia siakan harapan ayah dan ibu kita Lekas pergi sebrangi jembatan"

Nona ini mengantarkan adiknya itu, tetapi ketika ia mendengar suara Kie Pek. ia menoleh, hingga melihat saudaranya itu sedang mengadu jiwa, justru itulah, ouw Bwee datang menyerang, ia menyuruh adiknya lari, ia sendiri menghadang orang Pat Kwa Bun itu.

siauw Pek berduka, hatinya panas, akan tetapi ia dapat berpikir. "Benar, tak dapat aku mati. Tak harusnya aku membuat ayah dan ibu nanti mengatakan aku tidak berbakti, hingga dengan begitu aku sampai menyia nyiakan usaha kakak Kie dan enci Koan yang telah melindungiku"

Tepat bocah ini berpikir begitu, terdengar satu jeritan hebat yang menyayat hati,

yang bergema di lembah gunung. Jeritan itu jeritan kakaknya. Dan cepat ia menoleh masih sempat ia melihat Kie Pek roboh terluka dan tubuhnya terpelanting kejurang

Hebat pemandangan itu, kaget Siauw Pek hingga sejenak itu ia lupa akan dirinya. Samar samar ia mendengar pula suaranya Bun Koan "Ayah bunda dan kakak Kie telah terbinasa aku pun tak dapat bertahan lagi oh, adikku, tinggal kaulah turunan Keluarga Coh satu satunya Adikku, kuatkan hatimu, kau mesti hidup terus. Kau pergilah, roh ayah dan ibu serta kakak Kie akan melindungimu..."

Tiba-tiba ada suatu cahaya perak menyambar kepundak kanan si bocah, hingga dia merasai hawa dingin Seolah tetap tak sadarkan diri la bertindak maju untuk melalui jalan sempit dan licin itu. Bun Koan tengah bertempur terus. ouw Bwee adalah seorang lawan yang setimpal. Hanya sayang si nona tengah bergusar dan nyeri di hati, pikirannya tak tentram sebab memikirkan keselamatan Siauw Pek adiknya. dengan segera ia dapat didesak lawannya yang ganas itu.

Ketika itu si pendeta Siauw Lim Sie maju ke arah jalan sempit itu, dengan senjatanya dia memukul mukul lumut yang licin, untuk menyingkirkannya, supaya ia dapat berjalan di situ.

Kim Ciong Toojin juga mengajukan diri, mungkin dia berniat mendahului sipendeta. ketika dia sampai di dekat Bun Koan dan Puw Bwee, mendadak ia menjejak tanah, untuk mencelat melintasi kepala dua orang yang sedang mengadu jiwa itu.

Bun Koan menyangka orang hendak membokongnya, ia menikam keatas dengan tipu pedang "Sian Ho Leng In-, atau jenjang sakti melayang diantara mega.

Kim Ciong terkejut, dia mengeluarkan jerit tertahan, akibat serangan yang tidak disangka, tak sempat ia membela diri, maka pahanya kena tertikam, hingga darahnya borboran keluar syukurlah ia tabah, sambil menahan nyeri, dia meletakkan kakinya ditanah. Lebih dahulu dia menggunakan pedangnya, yang ditancapkan di tanah, untuk menjaga tubuhnya.

ouw Bwee menggunakan saat yang baik. Disaat Bun Koan menikam si imam, ia membacok si nona, hingga nona itu terluka bahunya.

Kembali dua orang, yang hanya terlihat bayangannya, lompat melewati kepalanya Nona Coh dan ouw Bwee, dan menyusul itu, terdengar satu jeritan yang mengerikan, karena salah satu bayangan sudah tergelincir ke dalam jurang

Tapi bayangan itu bukannya korban serangan, hanya ia mampus sendirinya. Ketika dia lompat, dia turun tepat diatasan Kim Ciong. Imam itu terkejut, ia berkelit. Sibayangan menginjak tempat  kosong, dia tergelincir seketika. Maka ia menyerahkan jiwanya kepada jurang yang curam itu Kim CIong ngeri, ia lantas merandak. Bayangan yang satunya turut berhenti juga.

Bun Koan menjadi putus asa. Ia telah terluka dan letih sekali, tak dapat melayani terus musuhnya, karenanya ia menjadi nekad. Tiba tiba ia menikam ouw Bwee, selagi musuh menangkis. mendadak ia menyerbu dengan tubuhnya, niatnya ialah membuat tubuh musuh terpental dan roboh tergelincir kedalam jurang

Jago Pat Kwa Bun itu terkejut, dengan cepat dia mundur dua tindak. Tameng ditangan kiri dilepaskan, lalu dengan lima jari tangan kirinya itu ia memapaki tubuh si nona, untuk menyambar dan mencekal lengan kirinya.

Hanya sedetik itu, habislah tenaga lengan kiri Nona coh, hingga pedangnya terlepas dan jatuh kedalam jurang, dan ia menjadi tawanan musuhnya itu.

ouw Bwee girang sekali berhasil menangkap hidup Nona coh. Ia merasa jasanya seimbang dengan jasa sipendeta dari Siauw LIm Sie yang berhasil merobohkan coh Kam Pek, kini tinggallah Siauw Pek seorang.

Kim Ciong Toojin beristirahat sebentar, lantas mulai maju lagi, walaupun dengan terhuyung huyung sebab luka pada pahanya. Dia lah seorang imam, tetapi dia tak kalah tamaknya dengan ouw Bwee. Dia sangat mengharapkan dapat membekuk Siauw Pek hidup atau mati.

Lagi enam atau tujuh bayangan berlomba maju, tak segan mereka lompat melewati kepalanya si orang she ouw.

Siauw Pek sendiri telah berhasil melintasi jalan tanah kecil yang licin, hingga dilain saat ia sudah berada didepan Seng Su Kio, jembatan maut itu. Ia berjalan terus, membuka tindakannya diatas jembatan batu. Ia masih seperti tak sadarkan diri. Pada kedua belah matanya juga tak tampak air mata bercucuran, ia berjalan perlahan, sedikitpun tak kentara bahwa ia merasa jeri. Ketika Kim Ciong akhirnya dapat melewati jalanan sempit licin itu, Siauw Pek sudah berada diatas jembatan tiga atau empat kaki terpisah dari tanah tepian jurang, kalau umpama dia menjambret, imam ini mungkin dapat menyambar bajunya bocah itu. Tapi dia tak berani melakukan ini. Sebab pahanya nyeri, tidak dapat lompat atau memasang kuda-kuda dengan tubuh cenderung kedepan Toh dia penasaran sekali. Lantas dia menekan jembatan dengan ujung pedangnya, untuk mencoba menaruh kaki guna berjalan di jembatan itu.

Tiba-tiba terlihat satu bayangan orang berkelebat, itulah bayangan seorang yang lompat lewat di atas kepala si imam. Dengan begitu bayangan itu lebih dahulu tiba di jembatan maut itu. Dialah seorang dengan dandanan ringkas dan bersenjatakan pedang. Sambil bertindak maju, dia mengulur tangan kirinya untuk menjambret leher baju Siauw Pek.

Kim Ciong Toojin mendongkol sekali. orang telah mencoba melewatinya, guna merampas bakal mangsanya itu. Sejenak ia berpikir, apa yang harus dilakukannya.

Sekonyong-konyong, terdengar satu jeritan seram, dan terlihat tubuh bayangan tadi tergelincir kedalam jurang

"Ah" si imam berseru dengan suara tertahan Dia jeri sekali, matanya memandang bingung. Dia menjadi separuh heran, melihat Siauw Pek bertindak terus diatas jembatan mati hidup itu, jalannya perlahan tetapi tetap dan tenang. Terus dia mengawasi sampai tubuh si bocah lenyap diantara kabut hitam.

Saking kesengsem, imam ini tidak memperdulikan ketika di belakangnya terdengar jeritan dari kesakitan, baru kemudian dia sadar tatkala mendengar satu suara dingin menegurnya: "Eh, too heng, kenapalah kakakku itu terjatuh kedalam jurang ?"

"Too-heng" ialah panggilang kakak untuk seorang imam.

"Mana aku tahu" sahutnya gusar atas pertanyaan kasar itu.

Meskipun menjawab dia tak memutar tubuhnya. Tiba-tiba terdengar tertawa nyaring, disusul dengan kata kata: "Kedut tuan tuan jangan kamu berselisih" Lalu tampak bayangan orang lompat kearah jembatan, rupanya untuk menyusul Siauw Pek.

Kembali Kim Tjong terkejut. Kali ini disebabkan batang lehernya terasa dingin sekali. Karena ada sebatang golok yang ditandalkanpada lehernya. Segera dia mendengar satu suara bengis: "Apakah kakakmu dibokong olehmu, tootiang?"

Belum lagi Kim Tjong menjawab pertanyaan itu, telinganya mendengar jeritan hebat seperti semula tadi. Sebab bayangan yang barusan melayang melewatinya, yang mau menyusul Siauw Pek. telah tergelincir kedalam jurang, tubuhnya lenyap d idalam kegelapan-

Mungkin jurang itu dalamnya ribuan tombak didalam situ orang tak melihat apa apa. Si imam sangat gusar, akan tetapi dia harus menyabarkan diri. Dia telah diancam maut, tak dapat melawan lagi. Asal tenaga dikerahkan, golok itu pasti akan menabas kutung batang lehernya.

Tapi dia menjawab dengan suara penuh kedongkolan Katanya : "Jikalau jembatan ini tidak aneh dan tak nanti dia dipanggil jembatan Hidup,Mati" menyaksikan bayangan yang barusan mampus itu, itulah bukti bahwa kakaknya bukan dibinasakan si imam, dia menarik pulang goloknya.

"Maaf untuk kesembronoanku," katanya.

Kim Tjong hanya memperdengarkan suara dingini "Hm" Dia tak menjawab. Dia tahu diri. Dia telah terluka, tak dapat dia berkelahi lagi. Diam-diam dia menelan kedongkolannya

orang yang mengancam si iamam itu berdiri melongo. Melihat kawannya tergelincir, dia menjadi ciut nyalinya.

Sementara ouw Bwee juga memandang kearah jembatan di mana Siauw Pek lenyap bagaikan ditelan kabut hitam itu. "Aneh" katanya kemudian "Alangkah anehnya jembatan ini. Dan bocah she Tjoh itu dengan cara bagaimana dia dapat berjalan menyeberang dengan tidak kurang suatu apa?..."

Kim Tjong mendengar suara rekan itu, dia tidak menjawab sebaliknya dia bertanya : "ouw Sie tju kau mempunyai julukan Hui Siu yang tersohor itu, ilmu ringan tubuhmu menjagoi didalam Rimba Persilatan, mengapa kau tidak mau mencoba melintasi jembatan itu?" ouw Bwee tertawa kering.

"Tak ada perlunya buat aku melakukan percobaan itu" sahutnya. "Kau lihat sendiri, aku telah berhasil menawan hidup, hidup anak perempuannya keluarga Tjoh. Tuan tuan, jikalau kamu tidak berhasil membekuk bocah She Tjoh itu, pastilah cuma aku sendiri yang berhasil menangkap hidup turunan musuh kita" Itulah kata kata takbur, nadanya tercampur ejekan-

"ouw Sie tju," kata Kim Tjong, "bukankah kau mengharap memperoleh salah satu ilmu istimewa dari kesembilan partai besar mengapa kau tidak mau mencoba menempuh jembatan luar biasa ini?" Hui Siu berlaku tenang.

"Aku telah menawan satu orang, sudah cukup, katanya. "Sudah selayaknya jikalau aku memberi kesempatan hidup kepada yang lain-lainnya. Mana dapat aku berlaku kejam menghabiskan orang seluruh keluarga?"

Baru ouw Bwee menutup mulutnya, terdengar satu suara tajam diantara rekan-rekannya: "Bocah itu tak kurang suatu apa, mungkin itu disebabkan dia berjalan perlahan lahan-"

"Itu benar" sahut suara parau, "Saudara ku, pergilah naik kejembatan untuk mencoba"

Baharu berhenti suara itu, nampak seorang yang tubuhnya kate dan kecil lompat keatas jembatan maut. Setelah menaruh kaki, dia berdiri diam sejenak. untuk meluruskan jalan napasnya, guna menenangkan diri. Dia berjalan dengan sangat perlahan, dengan amat berhati hati Semua mata mengawasi dengan perhatian penuh, semua bagaikan menahan napas. Sunyi disekitar mereka itu.

orang itu berjalan terus, dia sampai ditempat dimana kabut mulai tebal. Hanya sekejap dia telah lenyap didalam kabut hitam itu, lalu mendadak orang mendengar jeritannya yang membangunkan bulu roma. Itulah pertanda bahwa dia telah tergelincir jatuh Semua orang kaget, semua heran Semua merasa giris hati. Kenapa orang itu tergelincir juga? Apakah sebabnya?

Semua mata masih tertuju kearah jembatan ketika mendengar suaranya ouw Bwee: "Aku si tua mempunyai suatu pikiran, yaitu daya saling membantu. Mungkin kita dapat mencobanya."

"Memang saudara ouw banyak pendapatnya" berkata Kim Tjiong Toodjin " Kenapa kau tidak mencoba sendiri, saudara?"

"Jikalau kau sudi mencoba, tooheng aku suka menemanimu, "jawab Hui Kiu. Siimam tertawa tawar.

"Pintoo sudah terluka, tetapi pintoo percaya masih ada keberanian untuk menemui kau, saudara ouw" katanya. " Hanya belum tahu aku, apakah dayamu itu? ingin pintoo mendengarnya ."

"Pintoo" adalah istilah imam membahasakan dirinya sendiri. Ketika itu, rombongan pengejar telah berkumpul semua, rata-

rata mereka mendengarkan pembicaraan Kim Tjong dan ouw Bwee mereka terus memasang telinga.

"Jembatan Seng Su Kio ini," berkata ouw Bwee kemudian, "selama beberapa puluh tahun, telah menjadi kuburan dari beberapa jago-jago Rimba Persilatan. Kenapa dia dapat menyeberang tanpa mengalami bencana? Kalau begitu mesti ada rahasianya"

"Tak usahlah kau menyebut-nyebut tentang rahasianya, saudara ouw" terdengar satu suara dingin. "Bukankah semua orang telah menyaksikannya sendiri hebatnya jembatan ini? Apakah rahasianya itu?" Semua orang menatap kepada orang yang membuka suara itu.

ouw Bwee segera berpaling. orang itu lagi berdiri di belakangnya. Dialah seorang dengan pakaian hitam seluruhnya. Dia bermuka kuning kebiru biruan, di pipi kirinya ada kutil hitam sebesar duit tembaga. Di bahunya, tergantung sebuah pedang panjang  berambut merah.

"Heran" pikir jago Pat Kwa Bun inL "Sejak kapan dia tiba di belakangku?"

Memang, tak tahu dia kapankah datangnya orang itu. Yang ia tahu, sejak semula di dalam rombongannya tak ada orang itu. Tetapi dia tak tercengang lama. Lantas dia tertawa terbahak bahak. Lalu segera ia berkata. "Aku kira siapa tak tahunya saudara Tjee" orang serba hitam itu menggerakkan mukanya entah tertawa atau tidak.

"Jangan sungkan sungkan, saudara ouw" katanya, "Aku justru hendak mendengar pikiranmu yang luhur"

Di dalam rombongannya ini, ouw Bwee merasa bahwa dialah yang paling lihay, sampai pun si pendeta dari Siauw Lim Sie dan Kim Tjiong Toojin, tak dia hiraukan, akan tetapi terhadap orang ini, dia menaruh hormat sekali. Begitulah, dengan suara lembut dia berkata:

"Menurutku, seorang seorang saja yang coba pergi menyeberang..."

Di antara Kim Tjiong Toojin dan ouw Bwee tidak ada permusuhan, tetapi mereka saling membenci satu sama lain. Dari itu, mendengar perkataannya si orang she ouw, si imam berkata: "Bukankah orang yang akan nyeberang itu kau sendiri adanya, ouw Sietju?" ouw Bwee tertawa tawar.

"Siapapun dia, sama saja" jawabnya dingin " orang yang menyebrang pinggangnya harus diikat tali yang kuat. Ujung tali itu mesti diikat pada seorang lain. Seandainya orang yang menyebrang itu tergelincir jatuh, orang yang lainnya menariknya. Tentu dia membutuhkan bantuan beberapa orang, mencegah janganlah sampai ia jatuh ke dalam jurang"

"Benar" tertawa sijubah hitam "Pikiran ini tidak sempurna tapi dapat dicoba"

" Karena terluka, pintoo tak dapat mencobanya," berkata Kim Tjiong Toojin " orang pun harus dipilih jangan yang ilmu silatnya tak beraturan, kalau begitu, akan sia sia belaka dia mencobanya Sekarang ini, ouw Sie Tju, orang yang paling tepat adalah kau sendiri.

Kau ini selain ilmu ringan tubuhmu hebat, juga pandai berpikir, otakmu cerdas, setiap saat kau dapat merubah siasat" ouw Bwee tertawa dingin.

"Jikalau yang menyeberang aku, tentunya kaulah yang harus membantu" katanya.

"Pasti pinto suka sekali membantu" sahut si imam.

ouw Bwee mendapat julukan Hui Siu, si Tua Terbang, karena mahirnya ilmu meringankan tubuhnya. Tapi sekarang dia menyesal sendiri karena mengutarakan pikirannya itu.

"Aku celakakan diriku sendiri..." pikirnya. Lantas dia menotok dua kali jalan darah Bun Koan, habis itu, dia berkata pada si orang she Tjee: "Aku mau minta bantuanmu, saudara Tjee"

Dengan sinar mata dingin, orang itu menyapu wajah Hui Siu. "Bicaralah, saudara Puw" sambutnya. "Asal aku sanggup..."

"Pasti kau sanggup saudara Tjee. Kecuali kau di sini tidak ada orang lain lagi."

ouw Bwee berhenti sebentar, sebelum orang menyahut, ia sudah menyambung: "Aku mau minta saudara menjadi saksi sekalian memohon bantuanmu. Begini. Andaikata aku dan Kim Tjong Tooheng lacur dan mendapat bahaya, nona she Tjoh yang kutawan ini kuserahkan padamu. Ketika kesembilan partai besar mengumumkan pemberitahuan dan mengundang pelbagai partai lainnya untuk bekerja sama, mereka akan menjanjikan akan mewariskan ilmu kepandaian sebanyak dua puluh tujuh macam kepada orang yang berhasil menawan satu atau lebih anggota keluarganya Tjoh Kam Pek. Itu adalah janji umum, yang diketahui khalayak ramai. Sekarang ini, nona ini adalah anggota satu satunya yang masih hidup dari keluarga Tjoh. Andaikata mereka itu menggunakan sesuatu alasan untuk menolak mereka tak akan menyangkal seluruhnya. Salah satu tentu diwariskan juga"

"Jikalau begitu, aku menghaturkan terima kasih kepadamu" berkata siorang she Tjee, yang wajahnya tak berubah, tak gembira, tak bersyukur, dan suaranya tetap dingin-

"Masih ada satu lagi, saudara Tjee" "Bicaralah" kata siserba hitam singkat.

Dengan mata bersinar tajam, ouw Bwee memandang Kim Tjiong Toodjin-

"Tooheng, aku minta sukalah pedangmu kau titipkan kepada saudara Tjee" katanya. "Aku hanya hendak menjaga supaya selagi aku berjalan di atas jembatan, kau tidak menebas putus talinya"

"Dihadapan banyak mata ini, mana mungkin pintoo berani memutus tali" berkata siimam "Saudara ouw, kau terlalu curiga."

"Terpaksa aku berlaku teliti, tooheng. Kita manusia, kita kenal orangnya, kenal wajahnya tidak kenal hatinya"

Mendadak saja, berbareng dengan juaranya ouw Bwee itu, siorang she tjee menyambar tangan kanan Kim Tjong Toodjin berkata. " Ucapan saudara ouw bukannya suatu permintaan yang keterlaluan, karena itu tootiang serahkan senjatamu"

Kim Tjong terkejut. Ia merasa cekalan orang itu kuat bagaikan besi. Ia tidak berani menuang sebab ia tahu ia sedang luka. Dengan sabar ia meloloskan pedangnya. ouw Bwee menyerahkan Bun Koan pada orang she Tjee itu. "Segalanya aku membuat kau berabe, saudara Tjee." katanya ia terus merogo sakunya,

mengeluarkan segumpal tali sutra putih. Sembari menunjukkan tali itu, ia berkata: "Tali ini dapat menahan barang berat seribu kati, walaupun tooheng tangguh, dengan tangan kosong kau tak akan dapat memutuskannya" Kim Tjong mengulurkan tangannya.

"Mari serahkan padaku" katanya.

"Tunggu sebentar, tooheng. Tak berani aku membuat kau capek."

Berkata begitu, jago Pat Kwa Bun mengikat pinggangnya sendiri. Kemudian dia tertawa dan berkata kepada siimam: "Mari aku yang tolong mengikat pinggangmu, tooheng, Bersediakah kau?" Jago ini mau berlaku hati-hati.

Di dalam hati, Kim Tjiong menyesal. Pikirnya "Manusia ini sangat licik..." tapi ia mesti memberikan jawabannya, maka ia lantas berkata: "Kau terlalu berkuatir, saudara ouw, sampai tak tercaya padaku."

"Bukan begitu, tooheng. Andaikata aku celaka tak beruntung, pastilah tooheng bersedia menemani aku berkorban bukan? Nah, dengan begitu aku tak akan menyesal mati"

Terpaksa Kim Tjiong manda saja, kemudian ia mengerahkan tenaga dalamnya, dengan menahan nyeri lukanya, ia menancap kuda-kudanya punggung menempel pada tembok gunung.

"ouw Sie-tju silahkan" katanya setelah ia bersiap sedia itu.

ouw Bwee menghunus golok pendeknya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya, ia menyerahkan tali padakim Tjong Toodjin, lalu sembari tertawa, dia berkata: "Tooheng, aku minta kau mengulurnya perlahan-lahan Sekarang kita berdua adalah saudara saudara sehidup semati" Terus, tanpa menanti jawaban, ia bertindak mendaki jembatan. Walaupun dia tidak turut pergi kejembatan Kim Tjong Toodjin tegang sendirinya, diam diam hatinya goncang. Ia ingat liehaynya jembatan Hidup Mati itu. Bagaimana kalau ia kena terbetot ouw Bwee? Karena ini, terpaksa ia mengerahkan tenaganya.

ouw Bwee terpaksa melakoni percobaan hidup mati itu. Ia malu terhadap si imam. Ia mengarahkan tenaga dalamnya, untuk membuat tubuhnya dapat berjalan dengan tetap. Ia bertindak dengan perlahan Segera ia merasakan tiupan angin yang sangat dingin, hingga mau tidak mau, ia merunduk.

Hanya sebentar ouw Bwee sudah mendekati bagian jembatan dimana mulai terdapat kabut hitam. Ia merasakan kabut bagaikan air telaga yang bergelombang keras, yang bergerak turun naik mengikuti arus deras. Ia memasang matanya tetapi tidak berhasil matanya menembus kabut hitam itu. Karena itu, sia-sia belaka ia mencoba mencari Tjoh Siauw Pek yang ia ingin lihat tubuhnya.

"Bocah itu dapat menyeberang, mustahil aku tidak?" pikirnya. tiba-tiba  saja  hati  jago  ini  menjadi  besar,  maka  dia  mulai

bertindak  maju  pula.  Tapi  dia  cerdik,  selagi  bertindak  itu,  dia

memberati tubuhnya kebelakang, kaki yang dipakai bertindak. diringankan Inilah cara untuk mencegah kakinya itu terjeblos.

Setelah memasuki kabut itu, baru ouw Bwee merasakan satu perubahan Kaki kirinya terasa sangat dingin seperti direndam didalam air es. Siuran angin juga mengibar-ngibarkan ujung bajunya. Dengan sabar, diletakkannya kaki kirinya diatas jembatan Ia mencoba menoleh. Sempat ia melihat mata rekan-rekannya tertuju kepadanya.

" Kiranya Seng Su Kio yang tersohor di kolong langit ini cuma begini saja" pikir ouw Bwee kemudian, ia merasa bangga sendiri. Sekarang ia mulai mengangkat kaki kanannya, untuk bertindak. Dengan demikian seluruh tubuhnya telah berada dalam kabut.

Dengan perlahan, jago Pat Kwa Bun ini bertindak pula. Tak lagi ia merasa ngeri. Ia sudah maju dua tindak. cuma hawa sangat dingin yang mengganggunya. Hawa itu dapat dilawannya. Tiba-tiba ada angin keras datang dari sebelah depan, siurannya keras.

Dengan cepat ouw Bwee mengayunkan tangan kirinya, guna menolak angin itu. Angin itu datang lagi, bagaikan bergelombang ia bertahan lagi. Hanya sebentar, ia sudah kena tertolak. Selagi ia terkejut, tubuhnya sudah lantas terpelanting. Menyusul itu, didalam kabut itu terdengar jeritan dahsyat, lalu sirap.

Kim Tjiong Todjin pun kaget. Dia merasa tali yang dipegangnya membetot turun Hatinya gentar. Di saat itu si serba hitam mengulur tangannya, menyambar tali, untuk ditarik.

"Akan aku bantu kau" katanya kepada si imam. Dan dia mendampingi imam itu. Berdua orang ini menarik tali itu.

Semua orang lainnya juga terperanjat, mereka telah mendengar dan melihat. Setelah saling memandang, sesuatu lantas turun tangan, berebut memegang tali, untuk membantu menarik.

Perlahan lahan tali itu terangkat naik, makin pendek, makin pendek, dan akhirnya, tubuh ouw Bwee terangkat naik tubuh yang dingin dan kaku

Diam diam Kim Tjong Toodjin mengeluarkan elahan napas lega. "Sungguh berbahaya" katanya didalam hati. "Sungguh

berbahaya. Jikalau orang ini tidak membantuku, pastilah aku telah tertarik jatuh masuk kedalam jurang maut itu terbetot oleh ouw Bwee..."

Seng Su Kio berdiri tetap didalam kabut hitam, tubuh ouw Bwee tetap dingin dagu mukanya matang biru, bagaikan wajah mayat.

Slorang she Tjee menghampiri tubuh ouw Bwee, dengan sebat dia menotok beberapa jalan darah jago Pat Kwa Bun. Setelah itu dia mengawasi Kim cong Toojin dengan sinat mata yang dingin-

"Aku telah membantu kau, tootiang," katanya. "Sekarang silakan tootiang membawa orang she ouw ini untuk menyingkir dari tempat yang berbahaya ini" Habis berkata, tanpa menantikan jawaban si imam, dia angkat tubuhnya Bun Koan, buat dikempit untuk terus dibawa pergi.

Semua orang kaget dan jeri hati menyaksikan keadaan ouw Bwee itu. Siapa yang berani mencoba lagi menyeberangi jembatan itu? Bahkan lekas lekas mereka meninggalkan Seng Su Kio

Hati Kim cong pepat, dia merasa sangat sukar. Dia sedang terluka, lalu dia mesti membawa tubuh ouw Bwee berlalu dari jembatan maut itu. Tapi, mau tidak mau, dia mesti melakukannya. Dengan berhati hati dia melalui jalan sempit dan licin itu. Syukur, dia toh bisa sampai juga di tempat yang aman Dia merasa lega, tetapi dia tak dapat mengatakan sesuatu karena hatinya masih mendongkol.

"Di sini dapat kau turunkan dia" berkata si serba hitam, yang sudah menanti sedari tadi. Sebab dialah yang paling dulu mengangkat kaki dari muka jembatan "Mari kita lihat, kita dapat menolongnya atau tidak..."

Kim Cong melihat orang bermuka panjang, dan kurus, wajahnya dingin laksana es, siapa mengawasi wajah itu dengan matanya yang tajam, dia bisa merasa gentar sendiri.

Semua orang diam mendengar kata-kata si serba hitam itu.  Cuma satu orang, yang memisahkan dirijauh-jauh. Dia ini berdiri sejauh satu tombak lebih, dia diam, kepalanya diangkat, mengawasi langit. Dialah si pendeta dari Siauw Lim Sie. Dia menjauhkan diri sebab dia agaknya sebal terhadap kejumawaan si serba hitam itu.

Kim Cong menurunkan tubuh ouw Bwee yang dipanggulnya, meletakkannya di atas tanah, terus menyobek jubahnya, guna membalut luka ouw Bwee.

Sijubah hitam mengangkat leher baju ouw Bwee. Tiba tiba dengan telapakan kanannya, dia menepuk punggung jago Pat Kwa Bun itu. menyusul mana, dia juga mengurut berulang ulang di atas kedua belas jalan darah si korban Diperbuat begitu, matanya ouw Bwee bergerak perlahan-lahan, sedang jantungnya mulai berdenyut.

Sekarang si serba hitam menekan ubun ubun orang she ouw itu dengan begitu dia membuat hawa panas pada tangannya memasuki jalan darah orang.

Lewat lagi sekian lama, sadarlah orang she ouw itu, paling dulu terdengar tarikan nafas, menyusul itu, dia memegang kedua belah matanya.

Segera orang she Ce itu berkata dengan suara dingin "Saudara ouw, kau telah menyerahkan anak perempuan ini kepadaku, sekarang aku menolongmu, maka kebaikanmu itu telah aku balas impas."

"Kau benar, saudara ce," sahut ouw Bwee perlahan Dia masih lemah. "Tindakanmu tepat, dengan begitu kita jadi berlaku adil."

Terpaksa jago Pat Kwa Bun memperlihatkan sikapnya yang lunak ini. Dia cerdik, tak mau dia berlaku sembrono, sebab itu berbahaya. Dia masih sangat lemah, dia mesti tahu diri Kalau dia menjawab secara menentang, asal si serba hitam tidak puas, dia kira dihajar mampus seketika. Dia bisa mati konyol. Sebab dia pasti tidak sanggup melawan atau menyingkir. Dia kenal baik siapa si serba hitam, jago Kang ouw-Sungai Telaga yang telengas. Selama dua puluh tahun, entah berapa banyak jago Rimba Persilatan yang binasa di tangannya. cuma dia sangat menyesal, sebab setelah berkelahi mati matian sekian lama. Nona Tjoh mesti jatuh ke tangan orang ini. Dengan begitu, mana mungkin dia bisa menagih hadiah kepada kesembilan partai besar itu?

Dengan sabar si serba hitam mengangkat tangannya diletakkan pada ubun2 ouw Bwee. "Baiklah, saudara ouw" katanya. "Ijinkan aku meminta diri"

Begitu habis berkata, orang she Tjee itu memondong tubuh Bun Kwan, dengan satu lompatan pesat, dia mengundurkan diri dari ouw Bwee, setelah mana dia berlari-lari pergi dan sesaat kemudian, lenyaplah bayangannya Semua mata melongo, tak ada seorang jua yang berani merintangi

Baharu setelah itu, dengan perlahan-lahan ouw Bwee bangkit berdiri. Paling dulu dia jumput pedang yang diletakkan si serba hitam di tanah, dan dengan cepat dia memotong putus tali yang mengikat tubuhnya. Kemudian dia menyerahkan pedang pada kim Tjong Toodjin sambil berkata: "Tootiang, aku hidup kembali dari kematian, itu adalah berkat pertolonganmu, akan aku ingat ini. Tootiang gunung hijau tak berubah, di belakang hari pasti kita ketemu pula. Maaf, aku hendak pamitan dari kau"

Begitu berkata, orang she ouw ini mengangkat kakinya, berlalu sambil berlari lari.

semua orang melengak. Ketika mereka menoleh kepada si pendeta Siauw Lim Sie, pendeta itu sudah tidak ada, tak ada yang tahu kapan menghilangnya dia...

Kim Tong Toojin menggunakan pedangnya membebaskan diri dari tali yang melibat pinggangnya. Setelah itu dlapun mengangkat kakinya, pergi dengan menyesal dan kecewa...

Semua orang lainnya mengawasi kearah Seng Su Kio, lalu merekapun bubar pergi. Tidak ada di antaranya yang berani menghampiri pula jembatan yang menakutkan itu.

Tjoh Siauw Pek berjalan terus di atas jembatan, tetap dengan pelan pelan Ia seperti melupakan segala apa, kecuali bahwa ia mesti melintasi jembatan itu. Ia tidak menghiraukan kabut gelap. bahkan angin dingin sekali dan bajunya terus menerus tertiup berdebaran-

Jembatan itu terasa makin jauh menurun, bagitupun sang hawa, dinginnya bertambah tambah, bagaikan menembus kulit masuk ke dalam daging.

Suasanya menyeramkan tetapi si bocah tanggung tak menghiraukannya. Dia seperti tak tahu menahu. Dia bahkan lupa mengerahkan tenaga dalamnya guna melawan hawa dingin itu. Di dalam keadaan seperti itu, mungkin Siauw Pek tidak menyingkir andaikata gunung di depannya longsor gempur

Jurang itu bukannya jurang kosong. Disitu mengalir sebuah sungai, yang airnya deras, sebagaimana suara gemuruhnya dapat terdengar sampai di atas jembatan-

Angin yang keras itu mirip dengan angin puyuh, sebab berputarnya seperti terintang oleh jurang yang dalam, hanya tiba di atas jembatan tiupannya berkurang kerasnya.

Akhir akhirnya, tiba juga Siauw Pek ditepi yang lain dari jembatan itu. Ia selamat tak kurang suatu apa. Dengan tibanya diseberang, iapun sadar. Sebab sekarang ia tidak lagi terbenam dalam kabut hitam. Ia melihat dunia terang benderang seperti semula tadi, disaat ia mulai menginjak jembatan untuk menyeberang.

Dihadapannya sekarang tampak daerah yang lapang, sebuah lembah yang luas beratus ratus hektar, dikitari bukit bukit hijau. Ia melihat banyak bunga, banyak pohon bambu, yang tumbuh disana sini. Yang heran ialah disitupun ada beberapa petak sawah yang ditanami padi serta sebuah ladang sayuran-..

Tapi siauw Pek tidak menghiraukan semua itu, ia berjalan terus tanpa perhatian seperti sejak semula. Ya, ia bagaikan seorang yang tak sadarkan diri. Demikian, jalan punya jalan, sampai ia menghadapi sebuah pohon ouwtoo sejenis kenari dibawah mana ada duduk bercokol seorang laki laki tua dengan rambut dan janggut sudah putih seluruhnya, tengah menghadapi empat macam barang santapan yang disajikan diatas meja. orang tua itu makan dan minum seenaknya saja, tenang dan wajar gerak geriknya.

Dengan tindakan perlahan, siauw Pek lewat dibawah pohon itu. Ia lewat terus, seperti tidak melihat si orang tua. Bahkan sama sekali ia tidak menoleh kekiri atau kekanan...

Si orang tua, sebaliknya, telah melihat anak muda ini. Agaknya ia heran Lantas, sengaja dia batuk batuk dengan suara keras. "Hai, bocah" tegurnya. Siauw Pek berjalan terus, seolah olah tak mendengar teguran itu.

orang tua itu mengerutkan sepasang alisnya. Dia heran sekali tiba tiba dia mengajukan sebelah tangannya, menyentil kearah bocah itu. Angin sentilan itu menjurus kepada Siauw Pek, mengenai jalan darah Kiok-coanpada tekukan dalam dari dengkul kanannya.

Selagi menyentil itu, si orang tua tak mengira bahwa sentilannya bakal mengenai sasarannya, atau walaupun kena, mungkin tidak berbahaya, tidak akan melukai, akan tetapi diluar dugaannya, tiba tiba si anak tanggung tertekuk kakinya, terus dia roboh mendeprok "Ah..." si orang tua berseru dengan suara tertahan-

Siauw Pek roboh dengan terkejut, karena jatuhnya itu membuatnya sadar. Baru sekarang ia menoleh, karena mana ia dapat melihat si orang tua yang sudah bangkit berdiri, bertindak menghampirinya. Ia lantas berpikir cepat.

"Aku telah berhasil melintasi Seng Su Kio, aku tidak mengecewakan ayah bundaku." pikirnya. "Jikalau aku mati ditangan orang tua ini, itulah akan mempercepat jalanku ke dunia baka, untuk menemui arwah ayah dan ibu dan kakakku..." Berpikir begitu, anak sebatang kara ini lantas memejamkan matanya.

Sebenarnya siauw Pek belum sadar seluruhnya. Karena itu ia belum sempat memikir sebabnya kenapa ayahnya mendesak ia menyeberangi jembatan maut itu. Ia merasa ada orang menotok kakinya lantas ia menduga adanya ancaman bahaya. Tengah ia meram itu kembali ia merasakan totokan pada kaki kanannya itu, dan totokan itu membuat kakinya pulih seperti biasa. Saking heran, ia membuka kedua matanya. Maka ia melihat si orang tua, dengan senyuman manis sedang berdiri mengawasinya. Tak tampak tanda bahwa orang tua itu berniat jahat.

Dengan perlahan bocah ini bergerak. untuk berduduk numprah di tanah. Ia memandang ke depan ke belakang, ke sekitarnya. Kemudian ia menarik napas dalam dalam. "Loo-pee," sapanya, " kenapa kau tidak segera membunuh aku ?" Putera bungsu Kam Pek ini memanggil "loopee," paman tua kepada orang tua itu. Si orang tua menatap. Dia tertawa manis:

"Eh, anak. kau aneh" ucapnya. " Kenapa kau omong tidak karuan ujung pangkalnya?" Siauw Pek membaca menatap.

"Itulah sebab..." sahutnya, "sebab selama delapan tahun terus menerus, semua orang yang aku temui, semuanya mencoba membunuh kami serumah tangga"

Tiba tiba, hilang lenyap senyuman si orang tua. "oh, begitu?" dia tanya, dengan sikap sungguh sungguh.

"Benar, loopee," sahut si bocah. "Sedikitpun tidak salah. Inilah sebabnya aku, kenapa kau tidak segera membunuhku bahkan kau terus menotok memerdekakanku..."

"Kau keliru menyangka, anak." menjelaskan si orang tua. "Aku menotok padamu sebab barusan aku panggil kamu, kau tidak mendengarnya. Setelah kau tidak dapat berjalan terus, maka aku menotok pula membebaskan padamu. Kita tidak bermusuhan, kenapa aku mesti membunuhmu? Lagipula aku si orang tua setelah dua kali aku keliru melukai dua orang, sejak itu tak pernah aku membinasakan siapa pun juga." Siauw Pek bangkit perlahan lahan-

"Tempat ini apa namanya, loopee?" ia bertanya. "Apakah aku telah melintasi habis jembatan Seng Su Kio?"

"Tempat ini tidak ada namanya," jawab si orang tua. "Aku sendiri yang memberikan nama, ialah Bu Yu Kok. Haha Tak perd uli siapa siapa yang tiba disini, dia akan tak berduka dan tak banyak pikir lagi, dia akan melupakan segala kesukaran. Jikalau kau tidak melintasi jembatan Seng Su Kio, mana dapat kau sampai di lembahku ini?". Memang, Bu Yu Kok berarti "Lembah Tak Berduka".

Tiba tiba Siauw Pek ingat kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ayah bundanya. Ia menghela napas.

"Tapi aku," katanya, "aku tidak dapat melupakan sakit hati ayah, ibu dan kakak kakakku" katanya. "Bagaimana, eh?" tanya orang tua itu, menatap. "Apakah seluruh keluargamu telah dibinasakan orang?"

"Tidak salah.. Keluargaku terdiri dari lima jiwa, sekarang ini hanya tinggal aku seorang"

Tanpa merasa, orang tua itu menghela napas.

"oh, anak yang harus dikasihani," katanya perlahan "Coba ceritakan padaku anak. kenapakah mereka itu membinasakan ayah bunda dan kakak-kakakmu itu"

"Itu adalah suatu peristiwa dikalangan Rimba Persilatan, dan ayah bundaku cuma kena terembet-embet, atau lebih tepat orang sengaja melibatkannya, hingga mereka tercebur kedalam pusaran air dan musnah karenanya"

"Siapakah yang membunuh ayah bundamu? Dimana mereka membunuhnya?"

"Merekalah orang-orang dari sembilan partai besar serta sembilan partai lainnya lagi. Merekalah jago jago silat yang tak sedikit jumlahnya, mereka menghendaki mendapatkan kami semua, setelah membinasakannya, baru mereka puas. Ayah dan ibuku mati ditepi sana Seng Su Kio aku ingin menuntut balas untuk ayah dan bundaku itu..."

"Soal menuntut balas, baik kita bicarakan belakangan-" kata si orang tua kemudian-"sekarang ini perlu kau beristirahat dulu. Kau belum sadar sepenuhnya, anak. Nanti setelah kau sadar betul, baru kita omong-omong mengenai kejadian-kejadian yang telah lalu itu."

Siauw Pek mengangguk. "Terima kasih, loope," katanya.

orang tua itu mencekal lengan kanan sibocah, pada nadinya. "Mari, anak" katanya. "Mari ikut aku ke gubukku"

Tidak dapat Siauw Pek menampik, nadinya itu telah terpencet.

Maka ia ikut orang tua itu.

Hanya sebentar, mereka sudah tiba didalam gubuk. Gubuk itu tak jauh dari pohon ouwtoo. "Kau rebah, anak," kata si orang tua, yang mengangkat tubuh bocah itu, untuk direbahkan diatas bale-bale. Iapun menotok jalan darah tidur si bocah, seraya menambahkan : "Sekarang kau tidurlah dahulu..." Habis berkata ia bertindak keluar.

Siauw Pek ingat segala apa, akan tetapi ia telah ditotok, tidak dapat membuka mulutnya, bahkan kedua kulit matanya sendiri sudah lantas tertutup rapat. Maka tak lama kemudian, ia telah tidur pulas.

Beberapa lama ia tidur, Siauw Pek tidak tahu, hanya ketika ia mendusin dan membuka matanya, cuacanya sudah gelap. Ia  melihat si orang tua sedang duduk menghadapi meja sambil minum arak. orang tua itu tampak sangat tenang.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 02"

Post a Comment

close