Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 47

Mode Malam
JILID 47

Bun Koan tidak tahu lawan menggunakan tipu apa, tetapi ia sudah nekad, ia tidak menghiraukannya, maka ia maju terus sambil menabas dengan pedangnya.

"Hai, wanita galak" Hoa Siang berkata tawar sambil dia berkelit, terus dia menyerang lengan kanan si nona. Dia liehay sekali. Dia gesit dan berani. Melihat majunya sikakak. Siauw Pek bingung juga. Inilah sebab Tong Tiat Jie Nio benar benar liehay, mereka dapat berkelahi bersama untuk melibatnya.

Dilain pihak. lawan Ban Liang berimbang dengannya. Sebaliknya Oey Eng dan Kho Kong mereka kalah setingkat, akan tetapi dua suadara ini berkelahi dengan semangat penuh.

Su Kay Taysu dapat melayani lawannya, hanya ia tidak berkelahi dengan sungguh sungguh. Sebabnya ialah dia ragu ragu terhadap Bun Koan, karena nona Coh telah mengatakan terus terang hendak merampas kitab kitab pusaka Siauw Lim Sie. Mana dapat dia membantu sinona karena merampas kitab kitabnya itu sendiri? oleh karena ia berkelahi dengan setengah hati, pat siangsi menjadi tak mudah terkalahkan lekas lekas. Lagi lagi terdengar tawa Seng Kiong Hoa siang. Tawa itu tak sedap didengar Siauw Pek.

Sambil tertawa dia mendesak Bun Koan Liehay jeriji tangannnya,jari itu dapat menoel lengan kiri nona Coh yang tadi terlukakan senjata lawannya yang semula.

"Kau Liehay" seru Hoa siang sambil merangsek.

Terserang lengan kirinya itu, Bun Koan bermandikan peluh. Ia merasakan nyeri pada lengannya itu, yang segera saja bagaikan mati menjadi kaku. Tapi ia menguatkan hati, ia nekad, ia  menyerang terus dengan tangan kanannya

Hoa Siang heran orang demikian tangguh, sehingga ia mesti lompat kesisi kanan.

Pada saat itu, Siauw Pek dibikin gusar oleh Tong Tiat Jie Nio, sebab pedangnya tak sanggup merusak senjata kedua lawan itu. Senjata mereka bukannya kayu tapi besi istimewa, sampai tak mempan pedang.

Dalam panas hatinya, sianak muda berseru: "Ban Huhoat, golok"

Ban Liang terkejut mendengar suara sianak muda. Tapi ia mengerti keadaan. Tanpa sangsi lagi, ia berlompat mundur meninggalkan lawannya, untuk menghampiri ketuanya itu, selekasnya ia menginjak tanah, ia menghunus Pa Too, yang terus dilemparkan pada pemiliknya.

Siauw Pek menyambut golok ampuhnya, setelah mana ia berseru nyaring sekali.

"Aduh" terdengar jeritan Tong Tiat Jie Nio saling susul. Itulah jeritan tertahan sebab keduanya segera roboh terguling, karena kepala mereka tertabas sebatas leher, darahnya muncrat berhamburan Mereka terbinasa bagaikan tanpa merasa sebab mereka tak melihat bagaimana bekerjanya Toan Hun It Too selekasnya Siauw Pek lompat menyambut goloknya.

Aksi Siauw Pek membuat musuh kaget sekali, hingga serempak mereka itu berhenti berkelahi, semua mengawasi ketua dari Kim  Too Bun itu.

Ban Liang dan yang lainnyapuntak menjadi kecuali. Semua mata diarahkan pada golok ampuh itu

Sementara itu, bagaikan tak ada yang melihatnya Siauw Pek sudah berada didepan Seng Kiong Hoa Siang, hingga mereka itu berdua terpisah satu dengan lain cuma sejarak enam kaki. Muka Siauw Pek merah padam mengawasi wanita setengah umur itu

Hoa Siangpun mengawasi tajam, tapi matanya bagaikan medelong, sedang mukanya pucat pasi. Sebab diapun kesima oleh gerakan Pa Too

Selagi mata kedua belah pihak bagaikan bentrok satu dengan lain, karena masing masing sinarnya yang tajam dan bengis, mendadak mata Siauw Pek bergerak. menyusul mana tangannya yang memegang golok bergerak pula.

Hoa siang kaget sekali. Ia menerka tentulah musuh hendak menyerangnya. Maka ia segera mendahului berlompat berkelit. Walaupun begitu, dia tidak diam saja, dia terus menggerakkan kedua tangannya untuk menyerang lawan

Bun Koan telah menyaksikan liehaynya Pa Too, ia terkejut. Tanpa merasa, ia menyerukan adiknya. "Jangan habisi dia" Siauw Pek mendengar suaranya kakak itu, hampir ia menggerakkan goloknya. Syukur ia dapat berlaku cepat, sembari batal menyerang, ia berlompat mundur

Justru itu, satu sinar kuning emas berkelebat kearah Seng Kiong Hoa Siang, pada saat dia menyerang Siauw Pek. Serangan Hoa siang tak dapat dibatalkan lagi, walaupun serangan itu tak  mengenai sasarannya. Dilain pihak sinar kuning emas itu, ialah Kiu Heng Cie Kiam tak terelakkan atau tertangkis. pedang sakit hati menancap dijalan darah eng cong dari Hoa Siang. Maka sekejap itu, wanita setengah umur itu mati kutu. Kalau pedang tak dicabut, dia tak dapat bergerak, sebaliknya pedang itu tak meminta jiwa orang

Habis menyerang lawan itu, Bun Koan menunjuk kepada orang orang musuh sambil ia berseru : "Adik, kalau kau belum puas, habisilah sisa sisa rombongan itu"

Nona Coh maksudkan orang orangnya Seng Kiong Hoa siang itu.

Bukan main kagetnya sisa pat siangsie, saking takutnya mereka lupa pada pemimpin mereka, lantas mereka memutar tubuh untuk lari kabur guna menyelamatkan diri mereka. Mereka jeri terhadap golok ampuh dari lawan

Melihat lawan lari, Bun Koan gusar sekali. Selama itu ia lupa pada nyeri lengannya. Sambil berseru ia menimpukkan Kiu Heng Cie Too golok mautnya "Aduh" menjerit seorang siangSie, yang roboh terguling dan jiwanya terbang melayang. syukur buat lima yang lain, mereka dapat kabur terus. Siauw Pek menoleh kepada kakaknya.

"Sayang kakak aku berayal, maka bebaslah mereka itu" katanya menyesaL

Sang Kakak berkata dingin : "Hari ini kau berbelas kasihan adikku. Ingatlah lain kali kau tak dapat berbuat begini. Lolosnya mereka berlima berarti tambah lima orang lawan yang tangguh"

Muka Siauw Pek merah. Ia jengah. Kakak itu benar. Maka ia bungkam. Bun Koan segegra membuka tindakan lebar menghampiri Seng Kiong Hoa Siang. Ia meluncurkan tangan kanannya, menyambar leher baju pemimpin wanita dari rombongan Seng Kiong Sin Kun itu.

Hoa Siang tak berdaya tetapi dia sadar. Dia kaget. Mendadak dia mengerahkan tenaganya menggunakan kedua tangannya untuk menyambar lengan nona Coh

"Hm, kau cari mampus?" bentak Bun Koan gusar.

Hoa Siangpun gusar. "Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah" kata dia "Jikalau kau berani menghina punco, orang Seng Kiong tak akan melepaskanmu"

Nona Coh tertawa dingin, "aku hendak membunuh habis semua orang Seng Kiong" katanya keras dan sengit. "Tak satu jiwa jua akan aku biarkan hidup. Siapa perduli kamu hendak melepaskan aku atau tidak"

Dengan satu pengerahan tenaganya, Bun Koan membebaskan lengannya dari cengkeraman Hoa Siang, lalu dengan lain gerakan yang menyusul, ia membuka melowek leher baju orang hingga tampak sebuah leher yang putih dan halus, hingga ia merdeka menatapnya.

"Kau sangka punco merubah wajahku?" tanya Hoa Siang, "Hmm" Bun Koan tidak menjawab, ia hanya menatap muka orang,

mengawasi dengan tajam, sedetikpun kedua matanya tak berkedip.

Siauw Pek bertindak mendekati kakaknya itu. "apakah kakak menerka wajah dia telah dirubah oleh Seng Kiong Sin Kun?" ia bertanya kepada sang kakak.

Dengan paras yang bengis, Bun Koan menggelengkan kepala. Ia menjawab keren "Dia ini tak mengubah atau diubah wajahnya, akan tetapi rasanya kita pernah melihatnya. Hanya karena lamanya sang waktu, sekarang aku sudah lupa, sulit buat mengingat ingatnya."

Siauw Pek heran hingga ia melongo. Iapun menatap orang tawanannya itu sambil ia mengasah otaknya. Tak dapat ia ingat dimana ia bertemu atau menemukan orang semacam wanita setengah umur ini.

Bahu Seng Kiong Hoa siang masih tetap tertancapkan pedang Kiu Heng Cie Kiam dan darahnya masih mengalir terus, karena lukanya itu, dia telah kehabisan tenaga. Dia menahan rasa nyerinya hingga selain darahnya itu, dia juga bermandikan peluh pada dahi dan mukanya. Dia telah memikir untuk menghabiskan jiwanya tetapi belum ingin dia mewujudkan itu. Dia masih mengharap datangnya ketika baik guna meloloskan diri. Siapa tahu kalau ada datang pertolongan?

Tiba tiba Bun Koan menggertakkan giginya, sedangkan matanya terbuka lebar, kedua biji matanya itu merah membara. Tiba tiba dengan dua jari telunjuknya dia menyentil pedangnya yang menancap dibahu musuh, hingga pedang itu berbunyi nyaring.

Jalan darah eng cong yang tertancap pedang itu disebut juga jalan darah siang hiat hay, adanya ditetek kiri, satu cun enam hun diatasan tetek itu. Dan pedang itu nancap dalam sampai tiga cun (dim). Karena sentilan itu, yang membuat pedang bergerak. Hoa Siang merasai nyeri yang bukan buatan, hingga dia menjerit keras dan pingsan-

Siauw Pek gagah dan hatinya kuat akan tetapi tak tega dia melihat penderitaan Hoa Siang, hingga hatinya berdenyutan-

"Kakak. " katanya

Bun Koan gusar, dia menegur keras "Percuma kau memiliki ilmu silat yang lihay. Terhadap musuh besar, mengapa kau tak bersakit hati? Hmm, hendak aku lihat kalau nanti kau sudah mati, kau mempunyai mUka atau tidak menemui orang tua dan saudara kita dialam baka"

Siauw Pek diam melongo, mukanya pucat. Hebat teguran kakak itu. Lalu dahinya mengucurkan pelUh. Lekas lekas ia tunduk. Tak berani ia menentang kakaknya itu. Bun Koan mengawasi pula lawannya. Ia menggerakkan sebelah tangannya, menepuk tubuh orang yang telah jatuh dan rebah terkulai. Hanya sebentar, Hoa siang sadar perlahan lahan-

"Kau she apa?" tanya Bun Koan bengis.

Muka Hoa Siang basah dengan peluhnya, napasnya memburu. "Kenapa kau tidak mau membunuh punco?" tanyanya. Dia tidak

menjawab. Bahkan dia mengawasi bengis. Nona Coh tertawa dingin.

"Kau harus dibunuh, itulah bagianmu" katanya. "juga mudah untuk membunuh mu. Membunuhmu bukanlah urusan terlalu penting. Kau tahu, seratus lebih jiwa orang Pek Ho Po mati tidak karuan"

Hoa Siang melengak. hanya sebentar, kemudian dia menengadah langit, terus dia tertawa dingin. Nyaring tawanya itu Hingga terdengarlah kumandangnya diantara gunung dan lembah lembah.

Su Kay Taysu dan Ban Liang bersama mengawasi saja, hati mereka berdenyutan-

Itulah suatu pemandangan yang hebat. Bagaimana nasibnya Hoa Siang? Apakah tindakan selanjutnya dari nona Coh, yang seluruh dirinya dikuasai sang amarah? Selang sesaat, terdengar suara bengis dari Hoa Siang.

"Jikalau punco tidak bicara terus terang, tak puas hatiku" katanya nyaring. "Dan kau pun tentu sama tak puasnya. Nah, kautanyalah akan aku jawab kau"

"Hm" Bun Koan tertawa dingin. "Kau benar. Untukmu mencari jalan mampus sama sukarnya"

Hening sedetik. Lalu puteri almarhum Coh Kiam Pek bertanya, suaranya tetap dingin "Kau she apa? Dan siapa namamu?"

Siauw Pek terCengang sejenak. lalu segera dia menyela. "Ingat, tak dapat kau mengarang Cerita dan mengaco belo" Hoa siang berani sekali. Dia menahan rasa nyerinya. "AKu beritahu kepadamu" sahutnya. "Aku Teng So Keng"

"Ha, benar benar kau" seru Bun Koan ia tertawa. "Seharusnya dapat aku menerka siang siang?"

Siauw Pek berpikir : "Teng So Keng Nama ini rasanya pernah aku dengar. "

Segera terdengar suara Bun Koan "Dia ini adalah saudara seperguruan dari ibu kita. Pada kira kira sepuluh tahun yang lalu, dia pernah datang ke Pek Ho Po. Tatkala itu kau masih terlalu kecil adikku "

Sepasang alis sianak muda bergerak. SEkarang ia ingat, pada suatu hari pada masa keCilnya itu, pernah kakaknya ini menuntunnya mengajak main main diluar dusun, ketika itu ada datang seorang wanita yang mencari ibunya. Menurut ibunya, wanita itu adalah saudara seperguruan sang ibu. Yang lainnya, tidak ia ingat lagi.

sepasang mata tajam dari Bun Koan bagaikan pisau belati mengupas wajah Teng So Keng.

"Aku tanya kau" tanyanya pula, tawar dan bengis : "Seng Kiong Sin Kun sipengacau dunia Kang ouw itu, orang macam apakah dia sebenarnya?"

Paras So Keng tersungging senyuman hambar.

"Seng Kiong Sin Kun?" dia balik bertanya, suaranya mencemoohkan. "Banyak sekali. Kau hendak tanyakan Seng Kiong Sin Kun yang mana?"

Bun Koan gusar sekali. Ia menyangka bahwa dia diejek. Tangannya segera diangkat, jari tangannya sudah ditekuk, untuk menyentil pula pedangnya. "Tahan" seru So Keng, mukanya pucat. Ia insyaf artinya ancaman nona itu.

"Tak dapat kau bersikap berkepala batu" kata nona Coh. "Paling benar kau tahu diri" Peluh So Keng masih bercucuran turun.

"Kau meraba salah" katanya, nadanya keras. "Telah punco katakan bahwa punco bersikap berbicara terus terang. Tak usah kau menggunakan lagi tangan atau kakimu" Siauw Pek mengernyitkan alisnya.

"Kalau menurut kau," ia menyesaL "Seng Kiong Sin Kun itu satu nama palsu belaka. Benarkah pemimpin Seng Kiong bukan cuma satu."

So Keng tertawa menyeringai. "Tak salah" sahutnya "kau cerdas"

"Nah, berapakah jumlahnya pemimpin Seng Kiong?" Bun Koan tanya. Nona itu senantiasa bersikap dingin.

"Hitung saja tiga orang" sahut So keng. Agaknya dia menjawab secara licik. Kedua alis Bun Koan terbangun.

"Kau sebutkan satu dahulu" perintahnya "Yang pertama"

"Yang pertama?" So Keng mengulangi. "Ialah seorang dengan seluruh tubuhnya kaku beku yang macamnya mirip tulang belulang didalam liang kubur, yang tangannya tak mempunyai tenaga sekalipun untuk mencekal seekor ayam"

Bun Koan tertawa seram. "Bagaimana yang nomor dua?" Teng So Keng tertawa tergelak gelak.

"Seng Kiong Sin Kun yang nomor dua adalah seorang yang dapat mencinta sejak bakatnya" sahutnya. "Disamping itu ia pula seorang raja hantu yang punya hati sakit gila"

"Dia aneh" pikir Siauw Pek. "Kenapa dia mengaco belo begini rupa? Mungkinkah karena goncangan yang sangat hebat maka juga otaknya jadi tergerak rusak?" ia membathin.

Bun Koan terdiam. Ia tidak berpikir sebagai adiknya itu, ia cuma mengawasi siwanita setengah usia itu. Kalau toh ia berpikir, ia menerka nerka apa yang tersembunyi didalam kata kata So Keng itu. Si wanita tawanan itu. Melihat sinona berdiam saja, So Keng tertawa dengan terbahak bahak.

"Masih ada Seng Kiong Sin Kun yang nomor tiga" katanya tanpa menanti pertanyaan-"Eh, kenapa kah kau tidak tanyakan Seng Kiong Sin Kun yang nomor tiga itu?"

Bukannya gusar, Bun Koan justru tertawa. "Bicara terus" perintahnya agak ketus.

Kembali So Keng tertawa. Tetap nada tawanya nada mengejek. Habis tertawa, dia menjawab. "Seng Kiong Sin Kun yang ketiga itu? Hahahah Dialah yang diluarnya manis budi dan sopan santun tetapi hatinya bukan main busuknya. Dialah seorang wanita yang sangat cabul"

Bun Koan tertawa tawar. "Bicara terus" perintahnya.

"Tahukah kau siapakah wanita itu?" balik tanyanya. "Dialah kamu berdua kakak beradik empunya."

Tiba tiba kemurkaan Bun Koan meluap. Sebelah tangannya melayang dan.... plok satu suara nyaringga ring terdengar dari pipi si wanita she Teng itu.

Tubuh So Keng terhuyung, mulutnya mengeluarkan darah. Hebat tamparan itu. Sebab beberapa buah giginya copot

Su Kay bersama Ban Liang dan Oey Eng serta Kho Kong berdiri mematung. Mereka heran menyaksikan gerak gerik Bun Koan Hebat tindak tanduk nona ini, sedangkan nampaknya dialah berbudi halus dan lemah lembut.

Beda adalah sikap Siauw Pek. Kata kata wanita she Tong itu membuatnya ingat sesuatu hingga pikirannya menjadi gelap.

Bun Koan juga terdiam, tapi tubuhnya bergerak. ia membungkuk akan menjumput sebutir gigi So Keng, habis meneliti itu, ia masuki gigi itu kedalam sebuah peles kumala yang ia keluarkan dari sakunya. Dengan perlahan ia menyimpan pula pelesnya itu. ia tidak mencuci atau menyusut dulu gigi yang berdarah itu. Itu sebenarnya adalah sebuah gigi palsu. Itulah gigi yang didalamnya tersimpan semacam obat berbisa yang paling dahsyat. Itulah racun yang sengaja disimpan untuk saat terakhir. Siapa yang menelan itu, tak ampun lagi, dia akan mati seketika. Itulah racun untuk membunuh diri

So Keng telah memikir habis bicara, hendak dia menelan gigi beracun itu, supaya dia tak usah menderita malu dan nyeri lebih lama pula. Tapi dia kalah cerdik, dia kalah sebat dari Sinona Coh. Bahkan Sinona telah mencegahnya mati Dengan begitu, dia juga terCegah mengucapkan terus kata katanya itu.

Nona Coh tertawa dingin, sinar matanya menatap wanita tawanannya itu. Lalu dengan tenang, tetapi dengan nada dingin ia berkata "Aku Coh Bun Koan, dengan tubuhku yang lemah, aku telah menjelajah dunia Kang ouw dimana aku hidup sengsara, terlunta lunta dengan penderitaan, maksudku satu satunya ialah menuntut balas. Hm...Tahukah kau, pengalaman pahit apajuga yang telah aku alami?"

Mendengar kata kata kakaknya itu, tanpa merasa air mata Siauw Pek keluar bercucuran. Didalam hatinya, anak muda ini berkata "Siapa kira kakak demikian menderita karena setiap saat tak pernah dia melupakan sakit hati kita."

"Akulah seorang laki laki, dapatkah aku tak melakukan pembalasan? Sementara itu, sekian tak dapat aku membantu kakakku ini, tidakkah aku harus malupada diri sendiri?"

Ketika itu, terus So Keng menatap bengis kepada Bun Koan Dia sangat gusar, tapi dia tak berdaya. Mulutnyapun terasa sangat nyeri sebab giginya yang copot terpaksa itu Mulutnya itu masih belepotan darah. Karena darah itu dia mirip hantu. Tepat waktu itu, tampak Cit kiam Cu lari mendatangi.

"Lapor" serunya, selekasnya dia datang dekat kepada pemimpinnya. "Dibelakang gunung ini ada sebuah gua batu, tak dapat kami menyerbunya, karena itu aku datang untuk meminta petunjuk" Mata Bun Koan terbuka lebar. cepat luar biasa ia menotok So Keng.

"Cie In Han Giok" ia memanggil.

Dua orang perempuan dengan pakaian abu abu muncul dengan segera.

"Hambamu disini, nona" berkata mereka, yang menghampiri nonanya itu. Keduanya menjura dalam.

Dengan mata tajam nona Coh mengawasi kedua nona itu lalu dengan suara dingin, ia berkata : "Ini perempuan bersama Teng So Keng aku serahkan kepada kamu ingat, jikalau kau alpa menjaganya, kamu mesti datang kepadaku dengan kamu menenteng kepalamu"

"Baik nona" sahut kedua hamba itu tanpa menghiraukan ancaman hebat itu. Mereka toh diperintah menenteng kepala mereka sendiri. Bun Koan segera menoleh kepada Cit kiamcu.

"Jalan" perintahnya, sedangkan tangannya diulapkan

Cit Kiamcu menerima perintah itu, segera dia memutar tubuh, buat berlari pergi.

"Mari" Bun Koan mengajak kawan kawannya seraya ia mendahului bergerak menyusul kiamcunya itu.

Su Kay memandang kearah mana cit kiamcu lari pergi itu. Ia tahu itulah arah belakang puncak Siauw Sit san Didalam hati terkejut.

"Aneh" pikirnya "Disitu toh tak ada tempat sembunyi it Tie pasti ketahui baik gunung ini, kenapa ia sembunyi dibelakang gunung?"

Pendeta ini berpikir demikian karena ia menerka It Tie mungkin bersembunyi dalam gua.

cepat sekali orang telah melintas wihara Bin Pek Am. Lewat belum jauh, dari situ sudah terdengar suara berisik dari bentroknya alat alat senjata berCampuran dengan CaCian dan bentak bentakan Bun Koan rupanya telah mendengar suara itu, ia percepat larinya dengan satu lompatan, ia melewati dan mendahului cit kiamcu untuk lari terus dengan pes at sekali. Siauw Pek semuapun segera mempercepat larinya.

sElewatnya sebuah dinding gunung, disana terdengar suara nyaring dari seorang wanita. Dia itu mencaci sembari tertawa mengejek. Terdengar pula suaranya ini tegas dan terang "Mahluk mahluk tak tahu mampus atau hidup. Lekas kamu titahkan Seng Kiong Sin Kun datang menemui aku.Jika tidak, aku bunuh habis kamu semua"

Menyusul perintah atau ancaman ini, terdengarlah jeritan aduh dari seorang lelaki.

"Itulah suara nona Thio" seru Kho Kong. "Nona Thio, siapakah?" tanya Bun Koan-

"Nona Thio Giok Yauw" sahut Siauw Pek. "Dialah nona gagah dari Kim Too Bun"

Karena menerka kepada Giok Yauw itu, semua orang makin mempercepat larinya.

Kira kira pertengahan gunung, dimana tampak tanah datar yang berdinding batu gunung dan pada dinding itu kedapatan delapan atau sembilan buah gua yang tinggi setinggi manusia. Diantara sinar bintang bintang, ditanah air itu terlihat seorang tua yang rambutnya kusut riap riapan, yang duduk numprah didepan salah satu gua, sedang didepan gua, seorang nona tengah menempur serombongan orang. Nona itu sendirian saja.

Selekasnya dia melihat pemandangan didepan matanya itu, Coh Bun Koan menitahkan keenam kiamcu mengepalai masing masing bawahannya untuk menyerbu kearah gua itu. Dilain pihak. Siauw Pek segera berseru:

"Tahan itulah orang sendiri. Kakak lekas titahkan mereka menghentikan penyerangan" "Berhenti" sinona memerintahkan setelah ia melihat kelilingnya, setelah mana, ia maju terus.

Melihat pemimpinnya itu, keenam kiamcu segera menitahkan orang orangnya mengundurkan diri, maka disitu lalu terbuka sebuah halaman besar. Dengan titah Bun Koan itu, berhentilah pertempuran-

Nona didepan itu, ialah Thio Giok Yauw segera melihat Siauw Pek yang maju terus ketempat pertempuran itu.

"ooh bengcu" berseru nona Thio melihat ketuanya itu. ia lalu memberi hormat. "Bengcu baik"

Siauw Pek mengangguk.

Thio Giok Yauw juga segera melihat Bun Koan, ia mengawasi sejenak. lalu ia merangkap kedua tangannya memberi hormat seraya menyapa. "Kiranya kakak Coh. Terimalah hormat adikmu"

Bun Koan membalas hormat.

"Nona gagah sekali" pujinya. Terus ia mengawasi slorang tua didepan gua itu.

"Itulah Han in Taysu" Siauw Pek lekas lekas memberi keterangan kepada kakaknya. Ialah ketua terdahulu Ngo Bie Pay ia berCacat karena disiksa oleh Seng Kiong Sin Kun yang kejam"

Bun Koan melihat muka pendeta itu rusak dan kedua kakinya buntung, tahulah ia bahwa Siauw Pek tidak mendustainya. Maka ia maju, akan memberi hormat kepada pendeta itu seraya hatur maaf.

Han In Taysu membalas hormat, sesudah mana, ia menoleh pada Siauw Pek. "oh bengcu. Kenapa bengcu bisa tiba disini?"

"Kami datang kemari untuk mencari It Tie,"jawab Siauw Pek. "Menurut terkaan kakakku ini, ketua Siauw Lim Sie itu mesti bersembunyi disini, sebab dia tentunya belum meninggalkan Slong San" Mendengar itu, kedua mata Han In bersinar terang terus dia tertawa.

"Dasar orang gagah, pandangnya sama" katanya. "Nona Hoan juga menerka serupa. Mereka berada didalam gua."

Su Kay Taysu mendelong mengawasi gua yang ditunjuk itu. la berpiklr. "SEingat loolap, disini tak ada gua..." katanya.

Han In Taysu menunjuk pada tumpukan rumput, batu dan tanah disini mulut gua.

"Mulanya memang sukar mencari gua ini," bilangnya. "Gua telah tertutup batu batu besar tertutupnya sudah buat banyak bulan dan tahun, telah penuh tumbuh rumput, hingga dari luar tak nampak pertanda apa juga. Kecuali orang yang cerdik panda iseperti nona Hoan, walaupun delapan atau sepuluh tahun lamanya orang mencari, tak nanti dia dapat menemukan inilah semacam gua rahasia"

Tiba tiba dari dalam gua itu terdengar suara nona Hoan : "Taysu, jangan terlalu memuji. Kami gagal"

Menyusul kata kata itu, Soat Kun tampak bertundak keluar dengan sebelah tangannya dibahu Soat Gie, adiknya. Mereka berjalan dengan perlahan Dibelakang mereka menyusul Oey Ho Ciu ceng sijenjang kuning. tangan kanannya mengangkat tinggi sebatang obor,

tangan kirinya mengangkat tongkat pat poo sian thung serta jubahnya seorang pendeta. Segera dia mendahului kedua nona.

Han In Taysu yang bercokol dimulut gua sekali, telah menggeser tubuh kesisi, membuka jalan buat nona nona itu.

SElekasnya berada diluar gua, Soat Kun menghadapi Siauw Pek, sang ketua, untuk memberi hormat seraya mengucapkan kata kata bahwa ia datang menghadap. Tentu saja adiknyalah yang mengisiki diarah mana berdirinya ketua mereka itu. cepat Cepat Siauw Pek membalas hormat. "Nona banyak Capai" ia menghibur. Soat Gie dan Ciu ceng turut memberi hormat kepada ketua itu.

Lega hati Siauw Pek melihat Ciu ceng sudah sembuh seluruhnya, bahkan sikapnya gagah, sedang kata katanya barusan selagi menghormati ketuanya tenang dan tegas. Itulah bukti bahwa dia telah bebas seluruhnya dari pengaruh kekangan Seng Kiong Sin Kun, si Raja Sakti dari Istana Nabi...

SEgera anak muda ini berkata kepada Bun Koan kakaknya, sambil menunjuk kedua nona Hoan : "Kakaknya, inilah kedua nona Hoan Soat Kun dan Hoan Soat Gie, puteri puterinya almarhum Hoan Tiong Beng..."

Bun Koan tertawa, ia menyela adiknya itu dengan berkata. "Selama aku hidup terlunta lunta, pernah aku bertemu dengan kedua saudara Hoan ini"

"Apakah disana Nona Coh Bun Koan ya, kakak Coh?" bertanya Soat Kun.

"Benar, inilah aku" jawab Bun Koan, tertawa. "Aku girang adik, setelah berpisah beberapa tahun, hari ini aku nampak kau sehat walafiat melebihi dahulu hari. Hendak aku memberi selamat padamu" Soat Kun tersenyum.

"Kakaklah yang harus diberi selamat" ujarnya. "Kakak tidak kurang suatu apa dan bahkan telah bertemu dengan saudaramu. Sungguh aku girang"

Sejenak itu, Bun Koan menghela napas. Lalu ia berkata pula. "Dahulu hari itu, jikalau tidak ada adik berdua yang memberi petunjuk kepadaku, mungkin tubuhku telah menjadi kerangka yang tersia sia ditanah belukar, mana dapat aku hidup sampai sekarang ini? Juga adik berdua telah menunjang adikku ini. Adik, kau melepas budi bukan main besarnya,aku bersyukur tak habisnya"

"Jangan bersyukur kakak. jangan menghaturkan terima kasih," berkata nona Hoan merendah. "Aku berbuat apa yang seharusnya saja." Tiba tiba su Kay taysu menyela. "Nona Hoan, tongkat ditangan Ciu Siecu itu mirip tongkat yang biasa digunakan It Tie..." Soat Kun mengangguk.

"Benar, itu benar tongkatnya It Tie" sahutnya. Setelah itu ia berpaling kepada Ciu ceng. Walaupun kedua matanya tak melihat, nona ini dapat berpaling kepada siapa dia suka.

Ciu ceng sangat mengagumi dan menghormati nona itu, begitu dia melihat si nona menoleh kepadanya, ia sudah dapat menerka maksud orang, maka segera ia bertindak menghampiri Su Kay Taysu.

"Inilah senjata It Tie, sebaiknya taysu yang menyimpannya," katanya kepada tiangloo

Dari Siauw Lim Sie itu. Ia mengangsurkan tongkat patpo sianthung dengan sikap menghormat. Su Kay membalas hormat.

"Terima kasih Siecu" katanya, seraya menyambut tongkat itu. Biarpun tongkat itu tongkat It Tie, ia bersikap menghormati. It Tie pula pernah satu kali menjadi ketuanya.

"Pat poo sian-tung" berarti tongkat suci dengan delapan mustika. Itulah sebab tongkat itu terbuat dari besi pilihan bercampur emas merah, hingga nampaknya berkilauan, sedang pembuatannya indah sekali. Itu pula tongkat ketua Siauw Lim Sie atau Siauw Lim Pay, yang tak biasa ditunjukkan pada orang luar.

Su Kay Taysu berdiam mengawasi tongkat partainya itu. Tongkatnya ada, orangnya tiada. Maka sejenak itu rupa rupa perasaan memenuhi otaknya. Kemudian ia mengawasi jubah pendeta ditangan Ciu ceng. Hendak menanyakan halnya jubah itu tetapi ia batal sendirinya. Ia berada didepan banyak orang, tak dapat ia membuka mulutnya....

Didalam rombongan itu cuma Siauw Pke seorang yang tetap menghargai Su Kay. Ia melihat roman sang pendeta, ia dapat menerka hati orang. Maka ia mengawasi Ciu ceng dan bertanya : "Saudara Ciu, jubah ditangan saudara itu milik siapakah?" "Jubah ini serta tongkat itu sama sama terdapat didalam gua, terletak sia sia" sahut Oey Ho siJenjang Kuning. "Nona Hoan menerka kepada miliknya It Tie, tetapi ia belum berani memastikannya. Karena mungkin nona masih hendak memeriksa terlebih jauh, barusan aku menjemput dan membawanya sekalian."

"Sungguh dia dapat menjadi pembantuku yang berharga," pikir Siauw Pek. Ia melihat Ciu ceng teliti.

Sementara itu orang she Ciu itu meletakkan jubah ditanah untuk dibeber, untuk dilihat tegas oleh semua orang. Su Kay menghampiri, untuk memeriksa.

"Tak keliru terkaan nona Hoan" katanya nyaring. "Ini memang jubah It Tie."

Mendengar begitu, Bun Koan mementang kedua tangannya.

"Tak salah lagi, pasti sudah It Tie telah melakukan penyamaran" serunya. "Dia telah menukar dandanan, ini menambah kesulitan kita mencarinya"

"Tak salah, inilah jubah It Tie" Su Kay memastikan. "Pada ujung jubah ada tandanya, tanda dari pendeta tukang Cuci."

"Nona Hoan, apakah yang nona pikir mengenai sepak terjang it Tie ini?"

"It Tie kabur meninggalkan Siauw Lim Sie." berkata Soat Kun, "itu artinya dia berkhianat kepada partainya dan memberontak untuk pergi kepada Seng Kiong Sin Kun kepada siapa dia hendak menyerahkan kitab kitab pUsaka, akan tetapi mendadak rupanya dia merubah pikirannya, dia hendak berkhianat jUga terhadap Seng Kiong Sin Kun, maka ditengah jalan dia memisahkan diri dari sekalian pengikutnya, kemudian dia kembali dan pergi ke gua ini untuk menukar pakaian menyalin diri, untuk selanjutnya dia buron sendiri saja. Teranglah sudah bahwa dia hendak mengangkangi sendiri sembilan belas kitab pusaka itu."

Bun Koan mengangguk. "Akupun menerka demikian" katanya.

MEndengar kata kata kedua nona. Su Kay Taysu berpikir "Seng Kiong Sin Kun jauh terlebih liehay dari pada It Tie, daripada kitab kitab pusaka itu terjatuh kepada Sin Kun, lebih baiklah dimiliki It Tie, sedangkan untuk mencarinya ada terlebih mudah."

Oleh karena mendapat pikiran begini, tanpa merasa wajah pendeta ini menjadi tak suram seperti tadi tadinya. Ia mendapat harapan dan karena menjadi sedikit terhibur, sedikit girang.

"Hanyalah" Nona Hoan berkata pula, "mungkin masih ada satu hal yang membuat orang tak mengerti, tak mencurigai."

"Apakah itu nona?" tanya Siauw Pek. "Bersediakah nona menerangkannya?" Bun Koan juga menanyakan demikian-

"Didalam gua itu kedapatan mayat seorang pendeta muda" sahut nona Hoan "Sedangkan pada dinding gua, ada bekas bekas dari suatu pertarungan seru. Mungkin saat It Tie nyamar itu ada orang yang memergoki dan menyerangnya dan orang itu pasti liehay sekali. Tak dapat dipastikan siapa yang menang dan siapa yang kalah dan bagaimana kesudahannya pertempuran dahsyat itu. Sulit untuk menerkanya..."

"Rupanya ada orang yang menerka sebagai kita hanya dialah terlebih sebat" kata Bun Koan dingin-Soat Kun tersenyum.

"Itulah sebab mengapa aku beranggapan bahwa kali ini kita sudah kalah," bilangnya.

"Tapi siapakah orang itu?" tanya Siauw Pek. "Mungkinkah dia Seng Kiong Sin Kun?"

"Jikalau dia benar Seng Kiong sin Kun, tak dapat tidak kita mesti mengaguminya" berkata pula nona Hoan-

Tiba tiba Su Kay Taysu berkat bersemangat: "Ciu Siecu, tolong pinjamkan obor padaku" Ciu ceng menyerahkan obornya.

Dengan mencekal alat penerangan itu, Su Kay lari masuk kedalam gua. "Kakak Coh, bengcu," Soat kun tanya, "apakah kakak dan bengcu tak mau masuk kegua untuk memeriksanya?" Bun Koan tertawa.

"Nona telah melihatnya, pasti tak ada yang terlewat" sahutnya.

Sekonyong konyong wajah Soat Gie berubah, cepat sekali dia mencekal tangan kiri Soat Kun kakaknya. Itulah suatu cara bicara diantara kedua saudara itu, yang orang lain tak tahu artinya.

Soat Kun lantas menoleh memandang kepada Han Giok. "Siapa kah itu yang nona pondong?" ia tanya.

Bun Koan lekas mewakili orangnya menjawab. "inilah pelayanku yang bernama Han Giok. Wanita yang dia pondong bernama Teng So Keng, salah satu Hoa Siang."

"Wanita itu telah mati, kenapa mayatnya tak ditinggalkan?" Soat Kun bertanya pula.

Bun Koan tercengang, ia lalu menoleh. Ia melihat kedua mata So Keng separuh meram dan mulutnya separuh tertutup, tubuhnya lemah lunglai, tanda bahwa jiwanya benar sudah melayang.

Han Giok dan Cie in kaget sekali. Mereka yang bertanggung jawab terhadap tawanan itu. Saking bingungnya, air mata mereka lantas meleleh keluar.

Bukan main gusarnya Bun Koan, hingga kedua tangannya melayang kemuka kedua pelayan itu. Kedua pelayan itu, dengan muka pucat berdiam saja. Mereka tidak menangkis dan berkelit.

Cepat luar biasa Siauw Pek maju menghadang didepan kedua pelayan itu.

"Maafkan mereka kakak" katanya tersenyum. "Menurut aku ini bukan kesalahan mereka berdua..."

Soat Kun juga berkata: "Menurut kata Soat Gie, adikku. so Keng itu mati disebabkan kumatnya lukanya yang lama."

Suara nona Hoan perlahan dan tenang. Bun Koan masih saja gusar. "orang mati didalam pondongannya mereka tak tahu" demikian katanya sengit. " orang demikian sembarangan, apakah yang dapat mereka lakukan. Buat apakah mereka hidup lebih lama?"

Siauw Pek sabar sekali. Dia tertawa dan berkata : "So Keng mati belum lama. Aku berada dekat mereka, aku juga tak tahu dia telah mati. Karena itu, mereka tak dapat sesalkan-"

Terus ia menoleh kepada kedua pelayan itu : "Mayat itu sudah tak perlu lagi, pergilah kamu bawa pergi"

Han Giok berlalu dengan memondong mayat So Keng, ia meletakkannya sedikit jauh, setelah kembali, bersama sama Cie In ia mengasih hormat kepada nonanya seraya mengucap terima kasih yang mereka telah diberi ampun. Mereka juga sangat bersyukur kepada Siauw Pek, orang yang menolong jiwa mereka.

Ketika itu terlihat Su Kay Taysu keluar dari dalam gua, wajahnya suram.

"Apakah Taysu mendapatkan sesuatu?" Siauw Pek mendahului bertanya. Pendeta Siauw Lim itu menghela napas.

"Yang mati itu Leng Kong," menjawab dia. "Dialah murid tersayang dari It Tie."

"Apakah taysu telah memeriksa tubuhnya?" Siauw Pek tanya pula. "Mungkinkah taysu mendapatkan sesuatu pertanda? "

"Leng Kong mati terkena pukulan tangan seorang laykee" sahut Su Kay pula. "Itu bukan pukulan ilmu silat Siauw Lim Pay"

"Jikalau begitu, pastilah selagi It Tie merias diri melakukan penyamaran, orang telah datang menyerangnya," Siauw Pek mengutarakan terkaanya. Su Kay mengangguk.

"Selalu loolap menguatirkan kitab kitab pusaka itu terjatuh kedalam tangan Seng Kiong Sin Kun," ia menjelaskan, "melihat keadaan didepan mata ini, kekuatiran loolap itu menjadi bertambah tambah..." Bun Koan mendengar pembicaraan adiknya dengan pendeta itu, ia lalu memikir sesuatu, maka segera ia menoleh kepada Soat Kun.

"Nona Hoan" sapanya.

"Ya, ada apakah kakak Coh?" Soat Kun bertanya. "ada apakah pengajaran kakak"

"Nona berdua saudara Cerdas dan pintar sekali, aku sangat kagum," kata Bun Koan-

Soat Kun tersenyum.

"Kakak memuji saja padaku" bilangnya. Bun Koan tersenyum.

"Nona" tanyanya, "bagaimanakah anggapan nona tentang Seng Kiong sin Kun? Sebenarn dia orang macam apakah?"

Alls Soat Kun berkenyit, kedua matanya terus dipejamkan. ia berpikir.

"Selama sepuluh tahun ini dunia Kang ouw telah dikacaukan Seng Kiong Sin Kun" katanya setelah hening sejenak, "sebaliknya dia sendiri bagaikan si naga sakti yang terbenam didalam kabut dan mega. tak nampak kepala dan ekornya."

"Demikianiah adanya" Bun Koan membenarkan "Memang hebat tindak tanduk Seng Kiong sin Kun. Dia menyebabkan Pek Ho Po musnah, sekarang dia membuat Siauw Lim Sie hampir jungkir balik seluruhnya. Lihat Han in Taysu ini, ia tersiksa lahir dan  batin, sampai mempunyai rumah tetapi tak dapat pula ng kerumahnya itu. Toh sampai didetik ini, si Raja sakti belum tampak roman wajahnya. Sebenarnya dia laki laki atau wanita, dia tua atau muda? Bagaimanakah kepandaian silatnya? Dia dari partai apakah? Kami bersaudara, rumah tangga kami hancur, keluarga kami mati dan berantakan, kami sendiri sekarang mesti terlunta lunta dalam perantauan Bagi kami tak jelas bagaimana macam musuh kami itu. Tidakkah itu memalukan?" Soat Kun menghela napas perlahan "Sekarang ini kita cuma dapat menerka nerka" katanya sabar. "Pertama tama sin Kun adalah seorang yang banyak sekali akalnya."

"Nona benar," Su kay taysu turut bicara. "Seng Kiong Sin Kun pandai sekali mencari tahu urusan dalam dari orang lain, dia pandai menempatkan mata mata, guna mengacaukan keadaan dalam dari pihak yang dia tak sukai atau yang hendak diruntuhkannya. Dengan kelicikannya dia pakai tenaga orang lain tenaga musuh untuk merobohkan musuhnya oleh karena itu, kita cuma bisa melawan ia dengan kecerdasan juga..." Nona Hoan mengangguk.

"Tadi tadinya mungkin Sin Kun tidak pandai ilmu silat" katanya "Hanya sekarang baru lewat beberapa tahun, dia rupanya menjadi liehay sekali..."

"Mungkin nona benar" Han In Taysu turut bicara. "Buktinya ialah pengalamanku yang pahit getir ini. "

Mendengar suara pendeta ketua terdahulu dari Ngo Bie Pay itu, semua orang berpaling kepadanya. Kasihan si pendeta tua, yang sekarang memiliki tubuh dan rupa tak keruan macam....

Han In Taysu menghela napas dua kali dalam dalam, itu pertanda bahwa hatinya bergolak.

"Setelah peristiwa hebat dan menyedihkan dipuncak Yan in Hong itu" berkata ia pula, "loolap telah terjatuh didalam tangan Seng Kiong Sin Kun. Dia menyiksa loolap dengan segala macam tangan jahat, maksudnya yang utama ialah memaksa loolap membeber kepadanya segala macam ilmu silat istimewa dari Ngo Bie Pay. Kalau dia memang sudah liehay sejak semula, tak nanti dia ingin sekali memperoleh ilmu silat Ngo Bie Pay".

"Itulah peristiwa delapan atau sembilan tahun yang telah lampau," berkata Ban Liang. "Dahulu itu dia sudah sangat cerdik dan liehay, sekarang ini tentu dia bertambah liehay, bahkan liehay luar biasa. Karena itu tak dapat memandang ringan terhadapnya." Ban Liang bicara dari hal yang benar, orang rata rata menganggukkan kepalanya. "Taysu" tanya Bun Koan terhadap Han in Taysu kepada siapa ia berpaling, "taysu telah melihat Sin Kun beberapa kali, apakah taysu ingat dan mengenalinya?"

"Selama loolap dikurung dan disiksa. Loolap telah bertemu dengannya delapan atau sembilan kali" menyahut Han in "akan tetapi setiap kali loolap berhadapan dengannya, dia selalu menyalin rupa dan usia bahkan lagu suaranya juga berbeda. Adakalanya dia tampak bagaikan imam tua, ada kalanya dia tampak bagaikan imam tua, ad akalanya pula seperti pemuda pelajar yang tampan, hingga sangat sulit untuk mengenali diri dia yang sebenarnya."

"Dengan demikian teranglah dia pasti menyamar" kata Bun Koan tawar. "oleh karena itu taysu, kenapa taysu mau percaya merekalah satu orang ialah dialah Seng Kiong Sin Kun sendiri? Tak dapatkan ia memakai lain orang sebagai penggantinya, orang dalam penyamaran?"

"TEpat pertanyaan nona." berkata Han In Lalu dia berdiam sejenak. Ketika pada lain saat dia melanjutkan, dia balik bertanya. "Nona, apakah nona pernah memikirkan sesuatu? Tubuh orang, rambut dan kulitnya dapat diubah, akan tetapi toh ada satu bagian dari anggotanya yang sukar, ya, yang tak dapat diubah sama sekali"

Bun Koan berdiam untuk berpikir. Ia bisa menerka apa yang dimaksud pendeta itu. Ia berdiam terus, menantikan orang bicara lebih jauh. Han in berdiam hanya sejenak.

"Nona beramai pasti ketahui bahwa sinar mata orang tak dapat disamarkan." katanya melanjutkan "Pada mata Seng Kiong Sin Kun ada suatu sinar kelobaan, kelicikan dan kekejaman, yang tak mudah dilupakan Sinar mata itu tak pernah berubah. Pertama kali loolap berhadapan dengannya, loolap telah melihat sinar mata itu yang membuat loolap mendapat kesan yang tak dapat dilupakan-"

Kembali ketua Ngo Bie Pay itu menarik napas dalam dalam, untuk melegakan hatinya.

"Ketika pertama kali jahanam itu memaksa loolap membuka rahasia ilmu silat istimewa dari partaiku dan menolak dengan keras, dengan segera saja dengan kejam dia membacok kutung sebelah kakiku kaki yang kanan" berkata pula Han In Taysu, "Nah, nona beramai boleh pikir, sakit demikian besar, mana dapat loolap melupakannya? Tatkala itu loolap melihat tegas bagaimana sinar matanya memain sinar mata dari kekejaman. SEkarangpun dapat loolap membayangkannya."

"Maka itu selanjutnya, taysu mengenali dia dari sinar matanya itu?" tanya Bun Koan-

"Ya, setiap kali loolap dihadapkan untuk dipaksa, setiap kali dia menganiaya loolap. setelah kakiku lalu telinga dan mukaku. Sekarang beg inilah keadaan tubuh ragaku" Siauw Pek menoleh kepada kakaknya.

"Teng So Seng membilangi kita bahwa Seng Kiong Sin Kun terdiri dari tiga orang" kata ia, "katanya Sin Kun pria dan wanita, karena itu dia pastilah berdusta. Keterangannya itu tidak dapat dipercaya."

"Itupun masih belum pasti, saudaraku" kata Bun Koan tertawa dingin "Mungkin Seng Kiong mempunyai tiga orang pemimpin, dan orang yang selalu memeriksa dan menganiaya Han In Taysu ialah satu diantarannya"

Hati pendeta Siauw Lim Sie ini demikian tergerak hingga dari ragu ragu dia menjadi memperoleh ketetapan hati.

Sampai disitu, Ban Liang turut bicara pula. Dia memandang kepada nona Hoan-

"Nona Hoan katanya "guru nona pandai luar biasa, dia ketahui pelbagai peristiwa Bu Lim dahulu dan sekarang, dan nona telah lama menuntut ilmu dibawahnya, nona juga tentu ketahui banyak segala macam hal, sampaipun hal ikhwalnya pelbagai partai persilatan, nona mungkinkah nona tak dapat menerka sedikitpunjuga tentang asal usul Seng Kiong sin Kun."

Soat Kun tersenyum.

"Menerka aku dapat, hanya menerka tepat itulah yang sukar," sahutnya tenang. "Jikalau nona sukar menerka, mengapa nona tak mau memberitahukan kita apakah terkaan nona itu?" bertanya Su Kay Taysu, "keterangan nona mungkin akan membuka kecupatan hati kami. "

Soat Kun berpikir sebentar, lalu dia berkata "melihat kepandaian Seng Kiong Sin Kun dalam ilmu tabib serta kegemarannya menggunakan racun, dia pasti ada hubungannya atau bersangkut paut dengan ceng Gie Loojin, atau sedikitnya dengan kepandaian atau warisan orang tua yang lihay itu. Atau lagi dia mendapati kepandaiannya ceng Gie Loojin bukan dengan Cara langsung "

"cEng Gie Loojin tersohor berhati mulia dan murah" berkata Su Kay Taysu, "dia telah membuat namanya berCahaya dalam dunia Bu Lim mungkinkah dia. "

"inilah justru yang memusingkan kepalanya untuk menerkanya," Soat Kun menyela.

"ceng Gie Loojin tersohor juga ilmu silatnya," kata Ban Liang. "Aku tak percaya Seng Klong Sin Kun adalah murid atau ahli warisnya. "

Han In Taysu turut berpikir, kemudian ia mengutarakan dugaannya. "Apakah tak mungkin dia adalah orang jahat dari salah satu dari sembilan pay, empat bun, tiga hwee dan dua pang."

Semua orang berdiam. Kemudian Bun Kucn memandang mengawasi pendeta itu "Taysu, tahukah taysu dimana pernah atau letak Seng Kiong?"

Pendeta dari Ngo Bie Pay itu menggelengkan kepala.

"Selama ditangan musuh, loolap telah dibawa pergi datang kesana kemari," sahutnya. "Tak tahu loolap dimana sarang Sin Kun yang dia beri nama Seng Kiong itu. Mungkin loolap pernah dibawa kesana, mungkin juga tidak. "

Setelah orang berbicara banyak itu, pada akhirnya Bun Koan berpaling kepada Ciu ceng. Dia mengawasi dengan tajam tajam. "Bagaimana dengan kau saudara Ciu?" tanyanya kemudian Si Jenjang Kuning, yang sebegitu jauh berdiam saja, memperlihatkan wajah suram. Nampak dia sangat berduka.

"Selama aku berCampur gaul dengan Seng Kiong Sin Kun, aku telah diberi kedudukan Oey Liong Tongcu" demikian sahutnya. "Aku ditugaskan untuk menjadi pimpinan dengan sejumlah bawahan Ah..."

Jago she Ciu ini menghela napas, sehingga kata katanya tertunda.

"Oey Liong Tong adalah satu diantara kelima Tong dari Seng Kiong," berkata Bun Koan-"Kedudukan itu bukannya kedudukan yang rendah"

"Memang demikianlah tampaknya nona" sahut Ciu ceng masgul.

Lagi lagi ia menarik napas panjang.

"sebenarnya Seng Kiong Sin Kun mempengaruhi bukan dengan mengandalkan obat saja. Dia juga menggunakan suatu ilmu kepandaian silat dengan menotok beberapa jalan darah dari Ciu Huhoat.Jadinya Huhoat dikekang dengan dua Cara."

Bun Koan berdiam tetapi hatinya berpikir:

"Sungguh hebat kepandaiannya Seng Kiong sin Kun" karena memikir ini, ia lalu bertanya kepada Soat Kun-

"Adik, kau sanggup mengobati saudara Ciu hingga sembuh seluruhnya, kamu tentu tahu juga ilmu apa itu yang digunai Seng Kiong Sin Kun itu?" bertanya Bun Koan-

"Buat membikin orang lupa dirinya atau kesadarannya dengan menggunakan obat, itulah tidak aneh," sahut nona Hoan "Asal ada bahan obatnya, akupun dapat membuatnya." Kakak Siauw Pek menghela napas.

"Ah...." katanya menyesal. "Selama kita belum berhasil mengetahui dan mencari sarang lawan, selama itu juga kitalah pihak yang mudah diserang dan dipermainkan musuh kita terus akan dapat diperlakukan sesukanya dia" Mendengar jawaban itu Kho Konh tertawa. "Pergi dan pulang, kita kembali ketempat asal" bilangnya.

Kata kata "tempat asal" itu membuat Su Kay Taysu mendadak ingat sesuatu, dia lalu menoleh kepada nona Hoan.

"Didalam hal ini, kita mengandalkan kepada nona seorang," bilangnya.

Paras sang pendeta merah.

"Loolap melainkan hanya dapat menjadi kuda atau prajurit yang maju dimuka," sahutnya. "Buat menggunai kepintaran atau kecerdlkan sama sekali loolap tak sanggup,"

Soat Kun tertawa "sebenarnya telah aku pikirkan berulang ulang, akan tetapi sungguh sayang, masih belum dapat aku menerka dimana adanya sarang dari Seng Kiong Sin Kun itu..."

Su Kay Taysu merangkap kedua tangannya kepada nona itu. "Soal ini mengenai keselamatan banyak jiwa rakyat," kata ia,

sungguh sungguh, "maka itu loolap memohon sudilah nona mencapalkan hati memikirkannya."

"Memang nona, tak dapatkah nona memikirkannya pula?" Kho Kong turut memohon "Aku percaya buat nona tak ada soal yang tak dapat dipecahkan-"

"Benar" Su Kay Taysu menimbrung. "Nona memang cerdas luar biasa" Soat Kun tersenyum.

"Sebenarnya" katanya kemudian, "untuk mencari sarangnya Seng Kiong Sin Kun, ada satu cara atau jalannya."

"Nah, apakah kataku?" Su Kay menyela. "Memang loolap percaya nona mestinya mempunyai jalannya Silahkan nona menyebutkannya, jlkalau loolap diperlukan, tak akan loolap menampik andaikata loolap mesti terjun kedalam api"

Nona Hoan tidak segera menjawab. Bagaikan ada sesuatu yang ia pikirkan Habis berpikir sekian lama, ia menggeleng kepala. 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 47"

Post a Comment

close