Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 22

Mode Malam
JILID 22

"Mari " Ban Liang mengajak. melihat kawannya sudah makan cukup, Ia morogoh sakunya, untuk meninggalkan uang diatas meja. Terus ia berbangkit dan berjalan terlebih dulu. Oey Eng dan Kho kong mengikuti. Sianak muda yang berjalan paling belakang.

Setibanya diluar losmen, Seng Supoan mempercepat tindakan kakinya. Dia jalan seperti berlari lari. Sampai tujuh lie lebih, baharulah ia berhenti. Dia menoleh kebelakang. Setelah melihat tidak ada orang lain, ia menghela napas panjang.

"Loocianpwee ada apakah?" tanya Siauwpek. yang baru sempat berbicara.

"Apakah kau melihat tugas dua orang tadi, yang  cacat mukanya?"

"Macam mereka aneh, sekali lihat saja, sukar untuk melupakannya"

"Tahu, atau, kenalkau kau kedua orang itu?" "Tidak"

"Apakah kau belum pernah dengar gurumu menceriterakannya ?" "Belum."

"Kalau begitu, tak heran Ah, tidak kusangka mereka berdua masih hidup," Siauwpek makin tidak mengerti.

"Siapakah mereka, loocianpwee?" tanyanya. "Dapatkah loocianpwee menjelaskan tentang mereka itu?" Ban Liang mengangguk.

"Pasti aku akan menuturkannya, dia, inilah perlu Supaya apabila dilain waktu kamu bertemu dengan mereka itu, lekas lekas menyingkir menjauhlah .."

"Apakah ilmu silat mereka itu liehay luar biasa?" bertanya Siauwpek heran-

"Kalau bicara dari hal ilmu silat saja, jangan kata kau tak usah takut, akupun tak perlu jeri terhadap mereka itu..."

"Mungkinkah mereka itu pandai ilmu membetot sukma atau menawan roh?" Ban Liang tersenyum.

"Seumurku belum pernah aku menemui ilmu jahat semacam itu" "Jikalau begitu, pasti ilmu silat mereka luar biasa mahir..."

"Pada beberapa puluh tahun yang lampau, dua jago Rimba Persilatan yang paling kesohor adalah ong Kiam kie tong dan Ta To Siang Go," Ban Liang menjelaskan "Mereka berdualah yang menjadi sebab kenapa ada kata kata "Dibawah ong kiam tidak ada panglima yang sanggup bertempur sepuluh jurus dan Dibawah Ta Too tak  ada orang yang beruntung hidup,." Tapi semenjak kedua jago itu menyeberangi jembatan maut Seng su kio dimana mereka mensunyi diri, maka didalam dunia Rimba Persilatan, kecuali Siauw limpay, Bu Tong pay dan lainnya partai partai persilatan besar, ada juga It ceng, Siang ok dan It San jin.

"It ceng ialah Satu lurus benar, siang ok yaitu sepasang siJahat, dan It Sanjin seorang bebas merdeka."

Ban Liang melegakan dadanya dengan menarik napas panjang, baru ia melanjutkan keterangannya. "It ceng itu ialah Tiat Tan Kiam kek Thio Hong Hong, siJago pedang bernyali besi. Dan It Sanjin yaitu Hie sian cianpeng si Dewa Ikan-"

"Julukan It ceng dan siang ok sudah jelas sendirinya, artinya tepat menurut huruf huruf nya. Bagaimana dengan It Sanjin? Apakah artinya Sanjin itu?" Ban liang menghela napas pula sebelum dia memberikan penjelasan lebih jauh. Berkata ia, "Hie Tian cianpeng mempunyai satu kegemaran, ialah sangat menggemari ikan, tak peduli lkan apa. Kalau orang minta pertolongannya dengan membawakan seekor ikan, pasti ia menolongnya. Dia suka sekali mengumpulkan lkan, asal yang langka, Karena kegemarannya itu, dia tidak menghiraukan urusan kaum Persilatan Asal ada orang membawakan ikan yang luar biasa, dia tidak ambil pusing orang itu orang macam apa. Inilah sebabnya, dia berkelakuan lurus dan buruk tidak ketentuan Biasanya dia dapat melaksanakan segala pertolongan yang diminta itu. Demikianlah, lantaran sukar menilai dia sebenarnya orang dari golongan mana, kaum Rimba Persilatan menyebutnya Sanjin, orang yang bebas merdeka." Siauw pek mengangguk,

"Kiranya begitu." katanya. "Kiranya dia angin anginan-"  "cianpeng bersenjatakan apa loocianpwee?" Oey Eng bertanya. "Setiap hari dia berkawan dengan lkan senjatanyapun ada

hubungannya dengan binatang air itu. Ialah sebatang joran pancing dan sebuah jala lkan yang biasa dia gemblok dipunggungnya. Katanya jalanya itu lebih liehay dari jorannya, hanyalah sangat jarang orang melihat dia menggunakannya."

"Dua orang yang bercacat golok dimukanya itu, pasti merekalah siang ok," berkata Sia u Pek kemudian. "Benar saudara coh, kau cerdas sekali"

"Julukan mereka saudara kembar, maka juga selain macamnya, tabiat dan kegemarannya, semuanya sama, bahkan mereka sama kejam dan jahatnya. Ilmu silat mereka berdua berimbang. Kabarnya beberapa puluh tahun dahulu itu merekalah sisa mampus dibawah golok ampuh dari Siang Go"

"oh mereka pernah lolos dari Toan Hun It Too?" tegasi Siauwpek.

"Tidak salah Itulah yang mengherankan Biasanya belum pernah ada orang yang bisa bebas dari golok Siang Go. Ilmu golok siang Go menjadi semacam rahasia, yang tak ada orang yang dapat memahaminya." "Loocianpwee," siauw Pek tanya lebih dulu, katanya sesudah ong Kiam dan Pa Too mengundurkan diri, baru muncul It ceng, Siang ok dan it Sanjin, karena itu, bagaimana duduknya maka Siang Ok lolos dari Pa Too?" Ban Liang tertawa.

"Pertanyaan yang tepat" katanya, saking gembira. "Selama munculnya ong kiam dan Pa Too mereka berdua ditakuti berbareng dihormati kaum Rimba persilatan semuanya. Sinar pedang dan cahaya golok mereka membuat lain orang tak dapat mengangkat nama. Tentang Siang ok, asal usul mereka tidak diketahui jelas, hanya tahu-tahu keganasan mereka yang membuat nama mereka dibuat sebutan. Siapa yang berani main gila terhadapnya, mesti celaka, bahkan sampai kepada rumah tangga atau anak istrinya. Kekejaman mereka tidak ada taranya. Mereka galak dan sombong, sampai mereka berani menentang ong kiam dan Pa Too. Begitulah orang menyebut mereka Siang ok sepasang sijahat. orang Kang ouw, baik yang lurus maupun yang sesat, rata-rata membenci mereka, hingga semuanya ingin mereka itu tersingkir. Siang Go tidak berketentuan tempat kediamannya, sulit orang mencarinya guna menyampaikan tantangan Siang ok itu. Tiga tahun telah lewat sejak tantangan Siang ok, selama itu, kejahatan semakin terkenal, barulah selewatnya itu mereka bertemu juga dengan Pa Too..."

"Bagaimanakah jalannya maka mereka dapat lolos dari Pa Too?" tanya siauwpek.

"Tentang duduknya dengan jelas, yang tahu hanya Pa Too dan Siang ok sendiri," jawab Ban Liang, "Hanya terdengar Siang ok menentang Pa Too bertarung diluar kota Kim leng. Lewat hari pertempuran itu, selanjutnya orang tidak melihat atau mendengar lagi tentang kejahatan Siang ok. Maka orang mereka tentulah menerka sudah mampus diujung golok. Maka rata rata orang mendoa bersyukur. orangpun memuji Siang Go yang ditakuti itu, karena dia telah menyingkirkan bahaya untuk umum. Sesudah banyak tahun lewat, mereka itu muncul pula dan mengulangi kegagalan mereka, bahkan berlebihan. Mereka muncul sebab mereka mendengar kabar bahwa ong kiam dan Pa Too sudah mengundurkan diri."

"Setelah tidak adanya ong kiam dan Pa too siapa lagi yang dapat mengekang mereka itu?" Kho kong bertanya.

"Itulah Tiat tan kiam kek Thio Hong Hong dan Hie sian ciang peng Tatkala itu nama Thio Hong Hong sedang mentereng..."

"Jadi buat kedua kalinya Siang ok telah diusir, hanya kali ini oleh Thio Hong Hong?"

"Entah bagaimana caranya, Thio Hong Hong berhasil mengundang Hiesian cian Peng dan bersama samalah mereka berdua mengalahkan sepasang sijahat itu. Kabarnya Siang ok terluka parah luka yang dapat mematikannya. Maka adalah diluar dugaan bahwa mereka itu masih belum mati dan sekarang mereka muncul di tempat kecil dan sunyi ini "

Jago tua itu menghela napas, lalu ia menambahkan: "Jadi benarlah kata kata su kay taysu bahwa malapetaka besar kaum rimba persilatan tengah mendatangi semakin dekat..."

"Tak mungkinkah Siang ok ada hubungannya dengan si pelajar dari rumah gubuk itu?" kata siauwpek.

"Dan, tak mungkinkah Siang ok pun bersangkut paut dengan ceng Gi Loojin sudah meninggal dunia," sahut Siauwpek memberitahukan-

"Apa ?"

"Dia sudah menutup mata, dan kuburannya berada didekat sini..."

"Bagaimana kau ketahui itu?"

"Karena aku telah melihat kuburan itu." Ban Liang heran-

"Benarkah ?" dia menegaskan Siauw Pek merogo sakunya, mengeluarkan kim too golok emas.

"Apakah loocianpwee kenal dengan golok ini ?" tanyanya sambil menghunjukkan kim too. Ban Liang menyambuti, ia meneliti golok itu.

"Benar," katanya sejenak kemudian "Walaupun aku belum pernah melihatnya tapi tapi..." Ia berpikir sebentar, baru ia melanjutkan : "Pernah kudengar bahwa selama ceng Gie loojin merantau, dia suka membawa kimtoo yang terukirkan empat huruf ceng Gie too. Tak disangka kau telah mendapatkannya."

"Dengan tidak dinyana nyana, aku telah menemui kuburan ceng Gie lo-jin dan telah masuk kedalamnya," menerangkan Siauwpek. "hanya aku menyesal, karena itu juga, di luar dugaanku, aku telah menyebabkan seorang hilang jiwanya... Mengapa dia bukan mati ditanganku akan tetapi dia kaget karena aku..."

"Kau membuatnya mati lantaran kaget ?"

"Ya. Itulah pengalaman aneh dari aku. Maksudku menceriterakan pengalamanku itu, tapi dua orang bercacat mukanya itu merintangi hingga tak sempat aku bicara."

"Benar benar aneh Benar benar dunia kang ouw rumit..." "Demikian juga kesanku, loocianpwee," berkata Siauwpek. yang

terus menuturkan pengalamannya sejak mendengar suara tangisan sampai terjadinya peristiwa menyedihkan didalam kuburan ceng Gie Loojin itu.

Ban Liang bertiga melengak mendengar keterangan anak muda itu.

"Jikalau begitu, benarlah ceng Gie loojin sudah meninggal dunia," katanya masgul. hingga dia menghela napas.

"Kasihan orang compang camping itu. Sayang dia telah membunuh diri. Kalau tidak, dapat kita minta keterangannya."

"Ya benar benar rumit" kata Ban Liang "inilah urusan yang tak dapat kita bereskan sendiri. Nah, mari kita lekas berangkat Jikalau kita berhasil mengundang orang itu, mungkin kita mempunyai harapan besar, dan dengan begitu dapat kita mengundang dan bekerja sama dengan su kay taysu dan lain orang satu tujuan-"

"Loocianpwee," Kho kong tanya, "siapakah orang yang hendak kita cari itu?"

"Sabar, saudara muda. Sebelum aku memperoleh persetujuan dari orang itu sekarang tak bisa aku menyebut namanya." Ia mengangkat kepalanya, ia menghela napas, lalu menambahkan : "Tempat dimana orang itu menyembunyikan diri, mungkin cuma akulah seorang yang mengetahui, andaikata dia tidak mau keluar pula, untuk memasuki lagi dunia kangouw percuma menyebut namanya, bahkan itu bisa membahayakan dia."

"Tak apalah untuk tidak memberitahukan she dan namanya" berkata Kho Kong, "tetapi kurasa, bukankah boleh akan loocianpwee menutur perihal dirinya, tentang sifatnya ?"

"Tentang itu boleh." berkata Ban Liang, dengan batuk batuk perlahan. "Kie Tong dan Siang Go terkenal karena pedang dan golok mereka, karena ilmu silatnya, tetapi orang ini terkenal dengan ilmu suratnya, buat kecerdasannya. Setahuku, belum pernah ada orang lain yang melebihi kepandaiannya itu..."

"Jadi tak mengerti ilmu silat?" tanya Kho Kong, heran.

"Bukan begitu. Dia mengerti ilmu silat, cuma kepandaiannya itu tak dapat mengangkat namanya."

"Buat membeber rahasia atau rencana jahat segolongan kaum kangouw sekarang ini kita membutuh kepandaian silat yang mahir sekali" berkata pula Kho Kong,

"karena orang yang loocianpwee sebutkan berkepandaian silat tidak berarti, aku pikir, tak usahlah kita cari dia"

Ban Liang tertawa. "Adikku, bukannya aku si tua mau memberi nasehat kepadamu," katanya sabar, "akan tetapi kau harus menginsyafi banyaknya, dan rupa-rupa ragamnya kaum kangouw. Ilmu silat saja belum cukup,"

Kho Kong penasaran, ia hendak bicara lebih jauh, akan Oey Eng mengedipkan matanya mencegahnya.

Ban Liang telah banyak pengalamannya ia tahu kawannya itu tidak puas, maka ia berkata "Engkau tidak puas, bukan?"

"Jikalau loocianpwee hendak memaksa aku membuka mulut, baiklah, aku akan bicara terus terang "

"Dia sembrono tetapi jujur" pikir sejago tua "dia kata apa yang dia pikir, kalau hatinya dikekang, dia tak puas. Baiklah aku layani dia bicara, supaya dia bisa dibikin gembira." Maka ia berkata, "Adikku, ada apakah pendapatmU? Bicaralah, aku akan mencuci telingaku untuk mendengarnya." Kho Kong si jujur tertawa.

"Sebenarnya akupun tidak punya pendapat yang berarti" katanya polos, "Aku cuma belum jelas tentang perbedaan ilmu silat dengan ilmu surat. Dan bagi kami yang mempelajari ilmu silat, kami membutuhkan pedang atau golok. dengan menggunakan senjata itu, kami dapat mengambil keputusan siapa menang siapa kalah. Tapi, kalau kepandaian ilmu silat kami tidak berarti, apakah artinya ilmu surat yang luar biasa itu? Nah, loocianpwee, inilah pikiranku, bagaimana pendapat loocianpwee ?" orang tua itu tertawa.

"Apakah ada pendapat lain ?" tanya ia.

"Kita sekarang lagi merantau, jauh sudah ribuan lie, kita pergi kebarat dan ketimur, maksud kita mencuci bersih sakit hati ketua kami" berkata si polos. "Tapi lawan kita sangat banyak jumlahnya, sedangkan kita, kita cuma beberapa orang saja. Mungkinkah kita melawan mereka itu? oleh karena itu, menurut pendapatku, kita perlu mencari kawan-kawan yang liehay untuk membantu kita. Selekasnya tenaga kita cukup, kita langsung menuju Siauw Lim Sie, untuk berbicara, untuk mencari siJahat biang keladi"

"Bagus" Ban Liang mengangguk. "Ada apakah lagi?" "Untuk itu, seperti telah kukatakan, kita membutuhkan kawan kawan yang liehay ilmu silatnya Tapi ilmu surat, apakah faedahnya itu?"

"Apakah kau telah bicara cukup, saudara kecil?"

"Sudah, loocianpwee. Kalau loocianpwee bisa membuatku puas, bila nanti aku bertemu dengan orang itu, pasti aku akan menghormati dia lebih daripada selayaknya" Sijago tua tersenyum.

"Buat kita orang Kang ouw, ilmu silat memang perlu," katanya, "akan tetapi disamping itu, kadang kadang kepintaran silat jauh melebihinya. Tak usah kita melihat yang jauh, kita perhatikan saja beberapa soal yang kita dengar sekarang, yang kita hadapi, semua itu tak dapat dibereskan dengan ilmu silat."

"Urusan apakah itu?" Kho Kong menegas.

"Umpamanya rahasia ceng Gie Lo-jin itu. Sekalipun ong kiam danPa Too muncul pula, belum tentu mereka sanggup memecahkannya." Kho Kong berdiam beberapa lama. Ban Liang tertawa perlahan.

"Bagaimana dengan golok warisan ceng Gie loojin itu? kenapa golok itu dipanggil ceng Gie Too Golok keadilan? Tak mungkin ceng Gie berarti hanya goloknya ceng Gie loojin? ceng Gie tak dapat diartikan nama orang saja, itu mestinya ceng-gie keadilan-Golok itu lupa bukan terbuat dari baja, tak tajam semestinya.Jadi kalau bicara tentang ilmu silat, apa gunanya golok semacam itu? Menurut terkaanku, golok itu mestinya mengandung suatu rahasia entah rahasia apa?..."

"Kalau begitu apakah dengan belajar surat lalu orang dapat memecahkan rahasia itu?" tanya Kho Kong penasaran-

"orang yang hendak kita cari itu adalah seorang yang luar biasa pandai. Mengenai ilmu silatnya meski itu bukan kepandaian yang sangat mahir tetapi dia tak ada disebelah bawahku"

"Jikalau demikian, itulah bukan sembarang ilmu silat" Kho kong akui. "Dia terpelajar tinggi, dia misalnya saja telah membaca habis semua buku diseluruh negara, kalau aku si tua bicara dengannya, selalu itu terjadi buat beberapa hari lamanya..."

"Apakah yang loocianpwee bicarakan dengannya?" menyela Oey Eng

"Banyak ragamnya. Apa yang aku pikirkan, lalu dibicarakan. Umpama soal ilmu meramal, ilmu tabib, ilmu alam dan ilmu bumi. Tidak ada soal yang dia tidak ketahui."

"Jikalau demikian adanya, membaca itu banyak faedahnya," si sembrono pikir. "Kalau begitu, perlu aku membaca banyak buku..." Maka ia berkata pada sijago tua : "Kalau nanti aku bertemu orang itu, apabila dia dapat membuatku takluk. didepan kau, loocianpwee, akan aku berlutut dan mengangguk angguk hingga tiga kali."

"Jangan kita berjanji apa apa" kata si jago tua, tertawa. "Lihat saja nanti setelah kita bertemu dengan orang itu"

Demikian mereka melakukan perjalanan, berhari hari, tanpa kesepian.

Pada suatu tengah hari, tibalah mereka di kaki sebuah gunung.

DisituBan Liang menghentikan tindakannya.

"Sudah sampai" katanya. "Mari kita beristirahat sebentar, baru kita pergi menemui orang itu."

Kho kong mendongak mengawasi gunung yang tinggi itu yang puncaknya bagaikan masuk ke langit.

Ban Liang menggeleng kepala.

"Dia justru tinggal diujung sana, dikaki gunung," katanya.

"Aku pikir tak perlu kita beristirahat lagi, kata si polos. "Kita sudah sampai, kenapa kita tak mau sekalian beristirahat dirumahnya saja?

"Saudara Kho," berkata Oey Eng. "locianpwee orang sendiri, kau dapat bicara seenaknya saja dengannya, akan tetapi sebentar apabila kita bertemu dengan orang pandai itu, jangan kau sembarangan bicara^"

Selama beberapa hari itu, baik Oey Eng maupun Siauwpek. telah dipengaruhi kata katanya Ban Liang tentang sahabatnya yang dipuji tinggi itu, karena itu, saudara she Oey ini menasehati adik angkatnya itu agar dia nanti tak salah bicara.

"Baiklah," adik itu berjanji.

setelah beristirahat cukup, Ban Liang mengajak kawan kawannya berangkat pula.

Kho Kong lalu jalan dimuka, dijalan kecil. sampai mereka melewati sebuah tikungan-Segera mereka melihat sebuah peng empang dimana terdapat sepasang angsa putih tengah berenang mundar mandir. Begitu mereka melihat ada orang asing, kedua binatang itu segera mementang mulutnya, memperdengarkan suara yang berisik, terus mereka berenang ketepian, untuk naik kedarat dan berlari lari kearah sebuah rumah bilik tertutup atap. yang letaknya dipinggir peng empang .

Ban Liang menghentikan tindakannya, mengawasi kedua binatang itu.

"Sepasang angsa itu telah dipelihari tiga puluh tahun lamanya," katanya seorang diri. Lalu ia mengepriki pakaiannya, terus ia bertindak kearah rumah gubuk itu.

siauwpek dan Oey Eng bertiga turut merapihkan pakaian mereka.

Mereka mengikuti jago tua itu.

Rumah gubuk itu, bagian depan dan belakangnya, ditumbuhi banyak rumput dan pepohonan lainnya seperti mengitari seluruhnya. Itulah mirip gubuk seorang ini, tak sesuai buat ditinggali seorang ahli surat.

Tiba dimuka pintu, tampak kedua daun pintu tertutup rapat.

Kedua ekor angsa tadi telah pergi entah kemana. Sunyi keadaan disekitar itu, seakan denyut jantungpun dapat terdengar.

Ban Liang melirik Siauwpek. ia berkata perlahan : "Harap kamu menanti sebentar disini, aku hendak mengetuk pintu."

"Silahkan, loocianpwee." sahut si anak muda. Ban Liang bertindak perlahan menghampiri pintu. Ketika ia mulai mengetuk iapun mengetuk dengan perlahan-

siauwpek memasang telinga. ia mendengar ketukan pintu itu bagaikan berirama Setelah mengetuk beberapa puluh kali, si jago tua berhenti. Kho Kong memandang kesekitarnya.

"Beginikah tempat kediaman seorang pandai surat?" pikirnya.

Didalam kesunyian itu, dari dalam rumah terdengar suara yang halus tetapi terang. "Siapa?"

Suara itu menarik hati terdengarnya.

Ban Liang tercengang. ia rupanya tidak menyangka akan mendengar suara wanita.

"Aku yang rendah, Ban liang." Sahutnya perlahan-

"Ada pengajaran apa, Ban cianseng?" tanya pula suara merdu  itu. Dia membahasakan sian seng atau tuan Sesungguhnya, suara itu sangat menggiurkan.

Oey Eng heran hingga ia berpikir: "Benarkah kata pepatah, "Digunung yang dalam ada burung yang indah dari rumah gubuk muncul seorang nona cantik,." Belum pernah aku mendengar suara wanita begini halus dan merdu."

Ban Liang yang tua dan berpengalamanpun dipengaruhi sekali suara itu. Baharu lewat sesaat, ia menjawab: "Aku hendak menemui kakak Hoan Aku minta sukalah nona tolong memberitahukan tentang kedatanganku ini."

Sebelum memperoleh jawaban, Ban Liang lebih dulu mendengar tarikan napas yang panjang. "Kau datang terlambat. Guruku telah menutup mata sudah lama sekali."

Itulah jawaban diluar dugaan sijago tua, sehingga dia berdiri tertegun, hingga tak tahu dia apa yang mesti diucapkan Diapun merasakan hatinya sakit bagaikan diiris iris.

Dari dalam rumah gubuk itupun tak terdengar suara apa apa, sampai lewat sesaat baru si nona menambahkan "Gubuk kami kecil dan sempit, tak ada tempat untuk kami menerima tetamu, maka itu Loocianpwee, silakan"

Baru sekarang Ban Liang dapat membuka pula mulutnya. "Nona," tanyanya, "sejak kapankah nona jadi murid kakak Hoanku itu?" Suara halus dan merdu itu terdengar pula :

"Sudah sejak beberapa tahun. Apakah Ban locianpwee kurang percaya akan kata kataku ini"

Ban Liang menghela napas.

"Bukannya loohu tidak percaya atau bercuriga, nona," sahutnya. "Sebabnya ialah belum pernah loohu mendengar bahwa kakak Hoan ada atau telah menerima murid, hingga aku jadi heran karenanya"

"Walaupun Ban loocianpwee belum pernah mendengar halnya guruku menerima murid akan tetapi sebaliknya kami, kami telah mendengar suhu sering bicara tentang loocianpwee," demikian suara dari dalam itu, yang menyebut "suhu" untuk gurunya. Karena ia menggunakan kata kata "kami", teranglah nona itu terdiri lebih dari satu orang. Kembali Ban Liang menghela napas.

"Syukur sahabatku itu tidak melupakan sahabatnya," katanya, perlahan-Dari dalam gubuk terdengar pula elahan napas perlahan-

"Sayang guru kami itu belum pernah menyebut halnya loocianpwee adalah sahabat karibnya, kalau tidak tidak nanti boanpwee bicara secara begini dengan loocianpwee." kata pula suara didalam. Ia sekarang membahasakan diri "boan-pwee", orang dari tingkat muda  "Bagus benar" kata Ban Liang didalam hati. "Bicaramu begini halus dan merendah, tetapi kau toh tidak sudi membukakan pintu untuk mempersilahkan aku masuk..."

Siauw Pek bertiga mendapat dengar tegas pembicaraan diantara dua orang itu, mereka terus mendengari, tetapi Kho Kong tidak sabaran, maka dia berbisik kepada ketuanya^.

"Pintu gubuk itu tidak kokoh kuat, dapat kita mendobraknya terpentang" Ketua itu tersenyum.

"Ban Loocianpwee sendiri tak mau berbuat demikian, kenapa kita mendahului dia?" katanya. "Pasti ada sebabnya kenapa Ban loocianpwee bersikap sabar begini.Jangan kita sembrono."

Setelah sesaat, baru terdengar suara sijago tua: "Sudah nona ketahui bahwa akulah sahabat kekal gurumu, kenapa nona tidak mau membuka pintu untuk kami bertemu muka ? Akupun perlu menghunjuk dihadapan abu kakak Hoan itu."

Suara didalam itu menjawab: "Kalau begitu, silahkan loocianpwee masuk "

Ban Liang segera menolak daun pintu, yang terbuka dengan segera nyatalah pintu itu hanya dirapatkan Ketika ia melihat kedalam, ia mendapatkan seorang nona dengan pakaian hijau duduk membelakangi pintu, mukanya menghadap kedinding bilik, dimana tergantung gambar lukisan seorang pria.

Ban Liang segera mengenali gambar sahabatnya, si orang she Hoan itu, yang sebenarnya bernama tiong heng. Di atas meja ada hlo louw, tempat abu, yang tertancapkan sebatang hlo, yang apinya menyala, dan asapnya bergulung naik.

Dengan melihat saja belakang si nona, Ban Liang segera menerka bahwa orang mestinya cantik sekali. Katanya didalam hati: "Melihat punggung dia, hati orang sudah berdenyut, kalau melihat wajahnya, mungkin orang akan berlutut didepannya dan akan mengaku sebe hambanya..."

Jago tua ini bukan pemogor tetapi toh dia tertarik hatinya. "Apakah Ban Loocianpwee telah melihat gampar ditembok itu?" demikian terdengar pertanyaan si nona.

"sudah," sahut orang yang ditanya.

Mendapat jawaban itu, si nona lalu berkata: "Baiklah kalau begitu. Nah, terimalah hormat boanpwee"

Ban Liang dapat menangkap arti kata kata itu. Si nona minta dia lekas untuk beri hormat pada gambar itu dan kemudian lekas mengundurkan diri...

Tapi Ban Liang berpikir. "Saudara Hoan pandai ilmu tabib, tak mungkin dia mudah mendapat sakit dan menutup mata karenanya Nona yang begini cantik, mungkin dia ada hubungannya yang erat dengan kematian saudara Hoan itu..."

Selagi jago tua ini menerka demikian, si nona telah berkata pula: "Guruku telah menutup mata disebabkan menggunai pikiran terlalu banyak, boanpwee menghaturkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian loocianpwee ini..."

Mendengar begitu, Ban Liang heran sekali. Teranglah bahwa orang telah menerka apa yang ia pikir itu. Karena ini, ia jadi bercuriga. Dengan suara perlahan, ia memuji:

"Kakak Hoan, harap arwahmu mengetahui, jikalau kau mati dengan mengandung penasaran, tolong kau memberikan alamat kepadaku..."

Nona itu mendengar suaranya. Ia tahu tetamu itu bercuriga.

Maka ia lalu menjelaskan tentang sakit gurunya itu.

Ban Liang mengawasi gambar didinding itu, ia berkata pula: "Kakak Hoan, kakak Hoan, bukannya aku bercuriga, tetapi kaulah seorang pandai, kau tabib bagaikan dapat menghidupkan kembali orang yang telah menutup mata, karena itu,jangan kata kau memang selalu sehat walafiat, kau tak mungkin mendapat sakit, andaikata kesehatanmu terganggu, kau puas, akan sembuh dengan makan sebungkus atau sebutir saja obatmu, mana dapat kau meninggal dunia karena capek bekerja?" Jago tua ini tidak dapat menuduh langsung kepada si nona, maka dia sengaja bicara kepada gambar si sahabat karib.

Tetapi si nona dapat menangkap maksud orang, maka ia menghela napas dan berkata pula: "Dengan sebenarnya suhu menutup mata karena bekerja terlalu keras .Jikalau loocianpwee tidak percaya, ya, apa boleh buat..."

Itulah semacam tantangan Tak dapatBan Liang bicara lebih jauh dengan gambar orang maka ia batuk-batuk dan berkata pada si nona: "Sebelum ada kepastian, tak berani aku bicara sembarangan-"

"Benarlah seperti kata suhu," berkata si nona. "Memang suhu pernah mengatakan kepada boanpwee, seandaikata loocianpwee datang kemari tentulah loocianpwee akan mencurigai wafatnya suhu..."

"Bagaimana andaikata benar loohu mencurigai?"

"Suhu memesan buat memberi waktu loocianpwee melakukan penyelidikan-"

"Sahabatku itu pandai, tidak heran apabila dia dapat menerka begini," pikir Ban Liang. "Hanya nona ini, siapa tahu dia bicara benar atau dusta?" Maka ia berkata: "Lebih dahulu aku ingin pergi melihat kuburannya sahabatku itu."

"Baik sekali. silahkan, loocianpwee"

Sekalipun dia sudah bicara begitu lama dengan tetamunya, nona itu terus duduk madap kedinding, tak pernah sekali juga dia berpaling. Ini pun mengherankan si jago tua, hingga makin bertambahlah kecurigaannya.

"Baiklah, nona. Aku minta sukalah nona menunjukkan kuburan itu."

"Loocianpwee, apakah masih ada kehendakmu yang lain?" si nona bertanya. "Kalau ada, tolong loocianpwee beritahukan sekalian Sebentar, setelah menjenguk kuburan suhu, kukira tak usah loocianpwee datang pula kemari" Kata kata itu berarti pengusiran terhadap pihak tetamu akan tetapi walaupun demikian, suara si nona tetap merdu.

"Ini... ini..." kata Ban Liang, bingung, "sulit aku menerimanya..." Nona itu menghela napas.

"Ah, benarlah kata suhu," katanya. "Suhu memberitahukan kepada boanpwee bahwa ianpwee sangat bercuriga."

"Mati atau hidup ada soal besar sekali, nona, karena itu, soal itu perlu ada kepastian-"

Atas itu maka terdengarlah suara tinggi dari si nona^ "Adikku, pergi kau ajak Ban loocianpwee menjenguk kuburan suhu"

Mendengar kata-kata itu, Ban liang heran Apalagi setelah itu seorang nona segera muncul dari balik gorden disisi mereka. Nona itu halus jalannya. Ban Liang segera menoleh, untuk mengawasi. Segera ia tertegun.

Nona itu, baik dandanannya, maupun potongan tubuhnya, sama benar dengan nona yang lagi duduk itu. Hanya dia ini dapat dilihat wajahnya dengan jelas. Dia cantik sekali. sepasang alisnya lentik, kedua matanya tajam dan hidup, hidungnya bangir, mulutnya mungil, sedangkan bibirnya merah. Dia elok bagai pigura.

Nona itu langsung menghampirkan nona yang memanggil "adik" kepadanya, dia sedikit membungkuk untuk mukanya mendekati muka nona yang duduk itu, buat berbicara dengan perlahan, seperti berbisik. Setelah itu, dengan tindakan perlahan, dia berjalan keluar rumah.

Kembali Ban Liang heran dibuatnya.

"Nona ini mau mengajak aku melihat kuburan sahabatku, kenapa dia tak menyapa sedikit juga kepadaku?" tanyanya didalam hati.

Justru jago tua ini keheran heranan, ia mendengar si nona yang tetap duduk itu berkata kepadanya. "Adikku itu memang tak suka banyak bicara, loocianpwee baik ikuti saja dia.Jangan loocianpwee menanyakan apa juga, supaya tidak terjadi sesuatu yang akan membuat pertemuan ini bubar secara tidak menyenangkan-.."

"Hal bagaimanakah ini?" tanya sijago tua itu didalam hati. ia heran bukan kepalang. Maka ia lalu menanya : "Nona, bagaimanakah andaikata ditempat pekuburan itu loohu melihat atau menemui sesuatu yang mencurigakan? Bagaimana jikalau loohu memikir untuk menanya dia ? Masih tak bolehkah ?"

"Paling baik loocianpwee jangan bicara dengan adikku," menjawab si nona, tenang. "cukup apabila loocianpwee simpan saja didalam hati" Kembali Ban Liang heran sekali.

Ketika itu si nona penunjuk jalannya sudah keluar sejauh beberapa tombak dari rumah gubuk. terpaksa jago tua itu pergi menyusul.

Sementara itu Siauw Pek bertiga menanti dengan sabar, hanya mereka merasa aneh waktu melihat ada seorang wanita muda keluar dari rumah gubuk tapi jago tua itu tidak muncul. Mereka melihat tegas nona itu, yang cantik, yang bertindak dengan perlahan. Tadinya mereka mau menghampiri rumah, untuk mencari tahu, tapi justru itu tampak kawan mereka keluar. Segera Siauw Pek bertindak maju. "Loocianpwea mau pergi kemana?" tanya dia. "Siapa nona itu?"

"Merekalah murid-murid sahabatku almarhum." sahut Ban Liang. "Sekarang aku mau ikut nona itu memberi hormat pada arwah sahabatku itu."

"oh, begitu?" kata Siauw Pek, heran, "Kamu turut atau jangan?" "Baiklah kita pergi bersama..." berkata Ban Liang. yang tiba-tiba

merandak. "Hanya, nona itu tidak suka banyak bicara, kita jangan bicara dengannya." Dengan berkata begitu, orang tua itu berjalan pula akan menyusul si nona.

Siau Pek mengikuti, diturut oleh Oey Eng dan Kho Kong.

Nona itu mengajak para tetamunya berjalan sejauh sampai empat lima lie, sampai di sebuah lembah yang sunyi. Bahkan itulah lembah yang mati. Sebab disebelah depannya sebuah puncak tinggi menutup jalan, dan dikiri dan kanannya adalah dinding dinding bukit yang tinggi dan licin-

Ban Liang melihat sekeliling, ia tidak mendapati kuburan, sehinnga segera ia merasakan heran "Apakah budak itu memancingku datang kemari?" ia menerka nerka. "Mungkinkah dia merencanakan sesuatu?"

Selagi jago tua itu menduga, si nona sudah berjalan terus, ia melewati sebuah batu besar yang seperti menutupi jalanan. ia jalan disisi batu besar itu.

Ban Liang heran, mau ia menanya, tetapi ia batalkan maksudnya. Si nona tadi telah memesan dengan sangat supaya ia jangan berbicara dengan nona pengantar itu. Iapun tadi sudah memesan Siauw Pek bertiga, maka jikalau ia yang mulai bicara, ketiga sahabatnya itu pasti menjadi dan akan mentertawakannya. Maka ia mengekang diri, tidak berkata. sebaliknya, ia mempercepat tindakan kakinya, untuk menyandak nona itu. ia telah memikir, andainya sinona melakukan sesuatu tindakan, hendaknya ia mendahului turun tangan, agar ia atau mereka tak sampai terjebak.

Nona itu berjalan terus. Dia menghampiri sebuah batu karang yang besar Kembali ia jalan disamping batu itu. Hanya sekarang dia segera sampai didepan sebuah gua. Di situlah dia memutar tubuh, berpaling kebelakang, tangannya berulang kali menggapai, tangannya itu putih bagai batu kemala.

Ban Liang menghampiri nona itu sampai dekat. ia melihat gua itu bagaikan terkurung dinding batu diempat penjuru. Pikirnya:

"Tanpa memasuki sarang harimau, tak memperoleh anak macan" maka teruslah ia bertindak masuk.

Bagian dalam dari gua itu merupakan dua ruang yang lebar. Itulah gua alam, bukan gua buatan seluruh ruang bersih keadaannya. Di tengah itu, dekat pada dinding terdapat sebuah peti mati yang terbuat dari batu. Dan si nona segera menekuk lutut di depan peti mati itu, kedua pipinya yang merah dadu dilanda air matanya. Dia menangis sedih tanpa suara.

Memandang petimati itu, tanpa terasa Ban Liangpun mengucurkan airmata. ia ingat sahabat karibnya Begitu ia datang dekatpetimati itu, ia menagis menggerung. Tidak dapat ia menahan duka hatinya.

siauwpek bertiga menyusul masuk. Mereka mendengar tangisan kawan tua itu, mereka melihat kesedihan sikawan, sedangkan si nona menangis tanpa suara. Dengan sendirinya mereka turut terharu, sehingga mereka berdiam saja air muka mereka suram.

siauwpek tak tahu petimati itu jenazah siapa, hanya Ban Liang telah memberitahukan tentang sahabatnya, slorang she Hoan itu yang katanya pandai sekali, maka sendirinya ia itu menghargai sahabat yang sudah menjadi orang halus itu. Bahkan sendirinya ia bertekuk lutut didepan petimati.

Ban Liang juga berlutut. Sesudah lewat sekian lama, setelah merasa sedikit tenang, iapun berkata kata seorang diri: "Kakak Hoan, oh kakak Hoan kau pintar luar biasa, kenapa sekarang kau meninggaikan dunia secara diam diam begini? Tidakkah ini sangat menyedihkan? Bukankah kau sangat menderita? Kakak, aku menyesal tidak mendapat kesempatan bertemu denganmu Kakak. di saat terakhir ini, tak dapatkah aku melihat wajahmu?"

Kata kata ini diucapkan seorang diri akan tetapi itulah disengaja oleh sijago tua karena secara tidak langsung, ia tujukan itu kepada sinona pengantarnya. Itulah pengutaraan dari kecurigaannya. itu juga menyatakan bahwa ia ingin membuka tutup peti mati... 

Mendengar suara orang itu, sinona menyeka air matanya, kemudian dia berpaling, memandang jago tua itu kedua biji matanya bersinar sangat tajam. Dia agaknya mau bicara tetapi batal.

Ban Liang menyesal ia dapat menerka hati sinona, tetapi orang tidak membuka mulut, ia tidak memperoleh kepastian apa yang si nona hendak ucapkan, walaupun demikian ia telah mengambil ketetapan, untuk membuka tutup petimati. Maka dia bertindak mundur dua langkah, untuk memasang kuda kuda, guna mengulur kedua tangannya, memegang pinggiran tutup petimati itu. Begitu ia mengerahkan tenaganya tutupnya segera terangkat naik sambil memperdengarkan satu suara bergeser keras.

Serentak dengan itu dari dalam peti mengepul asap putih, yang harum, terus bergulung gulung naik. Bau harum itu menyenangkan-

Sebelum melihat ke dalam peti, Ban Liang lebih dulu menoleh pada si nona. ia melihat nona itu berlutut di depan peti, kedua tangannya menututpi muka, kedua bahunya bergerak gerak tidak hentinya. Teranglah nona itu sangat bersedih dan ia  menangis tanpa suara.

Setelah asap putih membumbung naik, maka didalam petimati itu tampak sebuah jenazah yang masih utuh, orangnya kurus, usianya setengah tua, yang bajunya warna yang panjang. Dia rebah dengan tenang.

Ban Lian mengawasi. Kecuali lebih kurus sedikit, sahabat itu sama dengan sahabat yang sudah lewat dari beberapa puluh tahun yang lalu. d isaat mereka berdua berpisahan buat penghabisan kali. Yang mengherankan, wajah sahabat itu bagaikan orang yang lagi tidur, tak mirip dengan orang yang tanpa nyawa...

Sebagai jago tua, yang banyak pengalamannya, tahulah Ban Liang bahwa mayat itu terlindung oleh asap tadi, maka tubuhnya bertahan tak dapat rusak.

Sementara itu sisa asap hampir habis, Ban Liang menjadi bingung. ingin ia lekas lekas meletakkan tutup petimati itu untuk menutupinya lagi, Tapi tiba tiba dibawah kepala mayat tampak ujung sehelai kertas putih Maka ia lalu berpikir: Hoan Tiong Beng pandai luar biasa, dia meninggaikan suratnya ini tentulah menuruti rencana yang ia telah atur. Mungkinkah kedua nona itu tak melihatnya? Mungkinkah karena aku membuka tutup peti, surat ini bergerak sendirinya? Barangkali isi surat ini menjelaskan sebab musabab dari kematiannya bahkan juga menyebut siapa musuh yang telah membinasakannya?..."

Karena menerka demikian, sebat luar biasa Ban Liang menggunakan sebelah tangannya menyambar surat itu, lalu dimasukkan kedalam sakunya, setelah mana dengan berhati hati ia meletakkan pula tutup petimati, untuk menutupinya kembali dengan baik. Si nona berpakaian hijau masih menangis mendekam, tetap tak terdengar suaranya.

Siauwpek bertiga melihat gerak gerik jago tua itu tetapi mereka diam saja.

Ban liang bertindak mundur segera setelah peti tertutup rapi. Sudah tentu tidak ada kesempatan untuknya membaca surat dari dalam petimati itu, maka ia segera menggunakan Toan Im cie Sut  Ilmu menyalurkan suara untuk bicara pada Siauw Pek. katanya: "Kau perhatikan nona ini" Segera setelah itu ia mengundurkan untuk pergi keluar dari dalam ruang itu

Siauwpek mengerti, diam diam ia menyentuh Oey Eng dan Kho Kong, untuk mengatur mereka itu, hingga sikap mereka bagaikan mengurung sinona.

Setiba diluar gua, Ban liang segera mengeluarkan surat tadi untuk dibaca. Surat itu tertutup rapi, tidak ada tandanya bekas dibuka, alamatnya yaitu: "Saudara Ban Liang Buka dan baca sendiri surat ini."

"Ha, kiranya, sebelum sahabatku menutup mata, dia sudah tahu ajalnya bakal tiba," pikir seng supoan "Iapun telah menerka bahwa aku bakal datang kemari untuk menjenguknya bahwa tak dapat tidak. aku pasti bakal membuka petimatinya, maka dia meninggalkan surat rahasia ini."

Ia lalu membaca bunyinya surat, yang tertulis atas kertas yang halus. Nah beginilah : "Saudara Ban Liang

Sesampainya surat ini ditanganmu, aku telah menutup mata sejak beberapa tahun yang lampau. Dan, disaat saudara datang ke mari melihatku untuk berbela sungkawa, itu pula saatnya yang dunia kang ouw mulai terancam petaka maha besar..."

Membaca sampai disitu, jago tua ini menghela napas. Didalam hati ia memuji, "Sungguh lihay HoanTiong beng. Ia telah dapat tahu dan meramalkan apa yang bakal terjadi setelah dia meninggalkan dunia yang fana ini..." Kembali ia menghela napas, lalu ia membaca lebih jauh :

"Rumah gubukku tetap seperti biasanya, pemandangan alam gubuk ini seperti sedia kala. tetapi saudara, kau tentunya akan berduka karena kematianku ini, kau pasti mencurigai kedua nona yang berdiam didalam gubukku  mencurigai tanpa mereka bersalah..." Membaca tulisan itu, Ban Liang malu pada dirinya sendiri. Tapi membaca terus :

"Bakatku telah dibatas, maka itu aku tidak berdaya mempelajari ilmu silat sampai ke puncak kemahiran, karenanya aku merubah cita citaku, aku terus memahamkan ilmu bintang dan meramal. Didalam pelajaran ini, aku harus berhati hati supaya aku tidak sampai tersesat, sebagaimana sering terjadi pada lain orang. oleh karena sulitnya pelajaran ini maka aku hidup menyendiri, aku menolak kunjungan siapa juga. Pada saat aku memperoleh kemajuan ilmu itu, tiba-tiba aku merasakan perubahan pada tubuhku..."

"Ah..." mengeluh Ban Liang. "kiranya dia terlalu letih karena meyakinkan ilmunya yang baru..." Lalu ia membaca pula :

"Adalah pada saat itu, dengan tiba tiba ada seorang tani datang padaku, membawakan sepasang bayi padaku. Mereka adalah itu  dua anak perempuan yang saudara menemuinya. Mereka berbakat luar biasa, merekalah murid muridku yang tepat.

Hanyalah sayang kedua anak manis itu, mereka sama-sama bercacat. Walaupun mereka berdua cantik luar biasa, mereka ada kekurangannya masing masing : Sang kakak matanya tak dapat melihat, sang adik mulutnya tak dapat berbicara..."

Membaca demikian, barulah Ban Liang tersadar. Pantas nona yang pertama selalu membelakanginya, dan nona ini tak suka bicara dengannya. Teranglah, nona yang pertama tadi sang kakak. dan nona ini sang adik.

"Sayang... sayang..." pikirnya, "Mesti mereka berdua sangat cantik, sebagaimana kata sahabatku ini. Aku telah melihat potongan tubuh si nona pertama dan mendengar suaranya yang begitu lemah lembut dan merdu Adiknya inipun elok sekali, wajahnya sangat menggairahkan. " Kembali ia membaca pula :

"Setelah aku menerima sepasang anak kembar itu, padaku telah terjadi suatu perubahan besar. Aku telah merawat mereka hingga besar, setelah mana setiap hari, setiap saat, kami hidup sangat bergembira ria. Semangatku terbangun, hingga aku tidak memikir hari-hari penghabisanku. Aku menyayangi mereka, dan mereka sebaliknya sangat berbakti kepadaku.

Benar dugaanku, mereka berbakat sangat baik, mereka cerdas sekali, sang kakak tuna netra akan tetapi telinganya celih dan pandai mendengar dan membedakan segala rupa suara, sedangkan otaknya sangat tajam dan kuat. Sementara sang adik, walaupun dia bisu akan tetapi otaknya sangat tajam, ingatannya sangat kuat. Apa yang telah dia lihat, tak dapat dia lupakan Asal dia membaca, satu kali saja, dia ingat untuk selama-lamanya. Dia pandai pula melihat suasana.

Kedua kakak beradik itu berkumpul setiap waktu, siang dan malam. Mereka hidup sangat rukun, dapat mereka saling mengalah. Suara mereka suara bicara dan tertawa sangat menyenangkan siapa yang mendengarnya, maka juga selama belasan tahun, hatiku terbuka, aku selalu gembira.

Tentu saja, kakak beradik itu mewujudkan cita-citaku. Semua kepandaianku, aku wariskan kepada mereka berdua. Hanya sayang, sebelum mereka dapat menyelesaikan pelajaran mereka, tiba-tiba kesehatanku terganggu pula. Maka itu, saudara, aku lalu menulis suratku ini untukmu..."

sampai disitu suratnya Hoan Tiong Beng itu sudah tidak karuan macam, sudah tidak nyata, dan sukar untuk dimengerti, meski Ban Liang menerka nerka, ia tak dapat, Maka surat itu ia masukkan pula kesakunya untuk disimpan Karena ia memikir, menyimpan itu tidak ada ruginya. Bahkan menyimpan suratnya seorang sahabat karib adalah baik sekali, sebagai kenangan/ Siapa tahu kalau surat itu masih mengandung arti lainnya yang belum sanggup pecahkan? Mungkin dibelakang hari, ia dapat menyuruh bacakanpada salah seorang ahli surat.

sambil berpikir jago tua ini kembali kedalam gua, si nona bisu masih mendekam dan mengangis. Menampak demikian ia jengah, ia malu sendirinya. Ia menghela napas.

"Sudah, anak. jangan kau menangis," katanya menghibur. ia anggap pantaslah kalau ia memanggil anak kepada nona itu, sebab sinona dan saudaranya menjadi anak-anak pungut dari sahabat kekalnya itu.

Nona itu mengangkat kepalanya, memandang pada orang yang menyapanya. Mukanya masih penuh dengan air mata. Kemudian, ia merapikan tutup petimati, habis mana ia bertindak keluar gua. Masih airmatanya meleleh Walaupun demikian, sikapnya tenang. Terhadap Siauw pek bertiga, ia menolehpun tidak apa lagi mengawasi.

"Loocianpwee" berbisik Kho Kong, "kita berdiam disini atau ikut sinona?"

"Kita ikut dia," menjawab Ban Liang, yang terus mendahului bertindak keluar.

Siauwpek bertiga mengikuti di belakang jago tua itu, maka berempat merekapun mengikuti dibelakang sinona, menuju ke rumah atap.

Kho kong merasai dadanya penuh, beberapa kali ia hendak menyapa sinona, saban saban ia bisa mencegah hatinya. Ia mentaati pesan Ban Liang. Tiba dimuka rumah, nona itu tidak menoleh untuk mengatakan sesuatu, atau memberi isyarat apa-apa, langsung ia bertindak masuk ke dalam rumahnya. Ban Liang menghentikan tindakannya.

"Silahkan menanti sebentar disini," katanya pada kawan kawannya. "Hendak aku masuk ke dalam buat dengan kedua saudara itu."

"Aku rasa tak perlu, loocianpwee," Kho Kong berkata. "Sahabat loocianpwee sudah meninggal dunia, kedatangan kita kemari sudah tidak ada hasilnya, apakah faedahnya akan berbicara dengan kedua anak perempuan itu?"

Ban Liang menjawab kawan ini, sikapnya tenang suaranya adem: "Walaupun sahabatku itu sudah lama menutup mata tetapi ia telah meninggalkan suratnya yang ada menyebut nyebut tentang kaum Kang ouw, perihal apa yang bakal terjadi, bahkan ia telah mengetahui bahwa aku bakal datang kemari..."

Oey Eng khawatir akan menyebabkan bentrokan, ia lekas datang sama tengah. Katanya "Karena Hoan Loocianpwee dapat meramalkan apa yang bakal terjadi didalam dunia Kang ouw, mungkin dia telah mengatur sesuatu..." Ban liang menghela napas. ia mengawasi Siauwpek.

"Nona itu sudi atau tidak membantu kita, itulah akan tergantung kepada untung bagusmu saudara kecil" katanya.

siauw Pek berpikir : Mungkinkah nona itu masih demikian muda, dapat membantuku. coh Siauwpek, akan menjelaskan sakit hati ayah bundaku?" Meski ia beragu-ragu itu, ia toh berkata pada slorang tua^ "Loocianpwee, aku mengenal kepadamu. Terserahlah"

Ban Liang mengangguk. ia berkata: "Aku akan menggunakan segala kepandaianku untuk meminta mereka ini suka membantumu..." ia berdongak, ia menghela napas. Lalu ia menyambungi: "Aku slorang tua, kecuali kedosaanku sering melakukan pembunuhan kepada orang orang jahat, aku percaya betul bahwa apa yang aku telah lakukan, semua itu tak ada satu jua yang tak dapat dikemukakan d ihadapan langit dan matahari Semoga kedua nona itu telah mewariskan semua kepandaian sahabat kekalku itu, supaya dengan cara kepandaiannya itu mereka akan berhasil menolong dunia Kang ouw dari ancaman mara bencana ..."

Begitu habis berkata, segera orang tua ini membuka langkahnya bertindak masuk kedalam rumah bilik almarhum Hoan Tiong Beng...

siauw Pek bertiga mengawasi jago tua itu, sianak muda melihat tindakan orang agaknya berat, Itulah bukti kesangsian sijago tua tentang maksudnya mengundang sinona nona akan berhasil atau tidak. Maka ia sendiripun jadi berpikir keras.

Pintu rumah tetap cuma dirapatkan, maka Ban Liang sudah menolaknya terbuka. Begitu daun pintu terpentang, segera terdengar suara merdu dari sinona tunanetra: "Adikku telah memberitahukan aku loocianpwee telah memegang teguh janjimu."

Ban liang mengangkat kepalanya. ia melihat sinona masih tetap duduk menghadapi dinding.

Hanya sekarang sinona bisu berdiri mendampingi kakaknya itu. Pada kedua belah pipi merah dadu nona itu masih ada bekas air matanya.

Dengan sendirinya hati jago tua itu berdenyut Sedetik itu ia merasa jengah sekali. syukur tadi ia tidak melakukan tindakan lainnya kecuali mengambil surat wasiat sahabat karibnya. ia mengangkat kedua tangannya dan berkata perlahan: "Tadi dari dalam peti mati, loohu telah mengambil surat sahabat karibku, baru setelah membaca surat itu ternyata loohu telah mencurigaimu, nona nona. Maka itu sekarang loohu merasa hatiku tidak tenang..."

"Itulah tidak apa, loocianpwee," menjawab si nona, sabar. "Loocianpwee sangat menyayangi sahabat kekal, perbuatanmu itu adalah perbuatan yang tak dapat dihindarkan siapa juga."

"Didalam surat wasiatnya itu, sahabatku telah menulis jelas tentang kamu berdua, nona nona. Ternyata kamu telah mewarisi seluruh kepandaian kakak Hoan." "Suhu pandai luar biasa, kami sebaliknya bodoh dan bercacat. walaupun kami telah mempelajari kepandaian suhu almarhum, apa yang kami peroleh tidak ada satu perselaksa..."

"Harap nona nona jangan sungkan, tak usah nona nona merendah," berkata Ban Liang

"Kakak Hoan telah menulis jelas sekali didalam suratnya itu." ia diam sejenak, baru ia melanjutkan "Sekarang ini dunia Kang ouw tengah terancam mala petaka besar, oleh karena itu sesudah nona nona dapat mewarisi kepandaian sahabatku itu, mana dapat kamu berdiam saja ditempat ini hingga kamu seperti memendam kepandaian kamu itu? Maka itu nona nona, baiklah nona turut pada loohu untuk kita memasuki dunia, guna melakukan sesuatu yang menggemparkan, buat menolong menyingkirkan ancaman bencana bagi khalayak ramai. Secara begitu nona nona kamu jadi tidak akan menyia nyiakan jerih payah kakak Hoan yang telah mendidik kamu..."

Setelah kata kata jago tua itu, ruang kamar sunyi senyap. Selagi sijago tua menantikan jawaban, nona nona itu terdiam semuanya.

"Loocianpwee mengangkat terlalu tinggi kepada kami dua saudara..." kemudian terdengar suara sinona yang matanya tidak melihat. Habis itu, ia menghela napas panjang. Masih hening sekejap. baru ia menambahkan^ "oleh karena loocianpwee menjadi sahabat suhu, pasti di dalam suratnya suhu menulis jelas sekali tentang kami dua saudara, sang kakak buta sang adik gagu bahwa itulah cacat asal..."

"Memang sahabatku ini menulis demikian di dalam suratnya," berkata Ban Liang, "akan tetapi disamping itu sahabatku memuji tinggi kepada kepandaian nona berdua, bahwa bakat nona nona bagus luar biasa, karenanya dengan menerima warisan kepandaian gurumu, nona nona bagaikan warna hijau yang asal mulanya warna biru."

Sinona menghela napas pula. Katanya: "itu juga pujian saja dari suhu. Meskipun kami berdua telah menerima perlindungan dan kasih sayang suhu, yang memandang kami bagaikan anak anak kandung, yang telah mengajari kepandaiannya, toh disebabkan bakat bebal dari kami, kami telah menyia nyiakan pengharapan  suhu kami itu. cacat kami telah membatasi kesanggupan kami banyak sekali. oleh karena itu, loocianpwee, tidak sanggup kami mencegah ancaman dunia Kang ouw itu, karenanya, menyesal kami harus menyia nyiakan juga pengharapan loocianpwee ini."

Ban Liang melengak. suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi nadanya pasti.

"Nona nona, kamu tidak berniat muncul di dalam dunia, habis apakah nona nona hendak tinggal bersembunyi disini buat selama lamanya?" ia bertanya.

Jago ini menyaksikan perlengkapan rumah sangat sederhana. Itulah nampaknya pertanda bahwa kedua saudara kembar itu tidak berniat tinggal menetap di rumah atapnya ini...

Nona yang menghadap kedinding itu menjawab, "Loocianpwee menjadi sahabat kekal dari suhu, kami tidak berada mendustai loocianpwee Dengan sebenarnya lagi beberapa hari kami berdua hendak pindah kedalam gua dari suhu kami, buat tinggal mendampingi suhu untuk selama lamanya. Tak ada niat kami buat pergi turun gunung ini..." Ban Liang bingung sendirinya. Hebat keputusan nona nona ini.

"Akan tetapi, nona," berkata dia, cepat: "Sahabatku telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada nona-nona, sebaliknya nona hendak terus tinggal mendampingi jenazahnya tak ingin nona keluar dari goa itu, memang benar dengan berbuat demikian nona telah melakukan kebaktian nona-nona, tapi berbareng dengan itu tidakkah nona juga menyia-nyiakan kepandaian yang telah diwariskannya itu? Loohu kira itulah bukan pengharapan guru nona."

Tiba-tiba sinona berpaling. Inilah yang pertama kali ia memperhatikan mukanya. ia berkata, walaupun dengan sabar: "Seorang kakak tunanetra dan seorang adik bisu, dan anak perempuan yang bercacat dan lemah walaupun kami telah menerima warisan kepandaian suhu kami, apakah yang kami bisa perbuat didalam dunia Kang ouw, didalam kalangan Rimba Persilatan ?"

Ban Liang mengawasi sinona. ia kagum bukan main Nona itu lebih cantik daripada adiknya. Sepasang alisnya panjang dan lentik, bila tidak tahu halnya sinona buta, ia pasti tak akan menyangkanya, ia akan mengira sedang mendiamkan mata saja. ia menghala napas saking menyesal dan terharu.

"Nona," berkata ia, "walaupun apa juga yang nona katakan tetapi sura sahabat karibku telah menulis jelas sekali tentang kamu..." Sinona menyingkap rambut didahinya. ia tertawa hambar.

"Meskipun Loocianpwee menggunakan lidah yang tajam, kami kakak beradik yang bercacad ini tidak mempunyai hasrat untuk muncul di dalam dunia persilatan-.." berkata ia suaranya tetap.

"Didalam dunia Kang ouw yang luas, nona tidak ada keanehan yang tampak," berkata slorang tua membujuk. "Maka itu siapa tahu andaikata kita akan dapat menemui seorang tabib yang pandai mengobati mata hingga kedua mata nona nanti dapat melihat pula serta adikmu nanti dapat bicara seperti kita ?"

"Loocianpwee baik sekali, terima kasih "
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 22"

Post a Comment

close