Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 29

Mode Malam
JILID 29

Siauwpek bangkit didalam semaknya, hatinya bekerja, menyusul mana, dia bertindak, berjalan menjalagi pesan Soat kun. Baru satu tindak ia sudah menjadi kaget, karena tiba-tiba saja, gelaplah jagad dihadapannya. Ia seperti disiang hari belong masuk ketempat yang gelap gulita. Baru sekarang ia insaf, hingga hatinya menjadi kecut. "Ah, kenapakah tin ini begini liehay?" pikirnya.

Karena ini, ia bertindak pula, ia salah menindak seperti tadi, kali ini ia menghadapi perubahan yang membuatnya kaget bahkan jeri. Dihadapannya ia melihat air luas semacam laut dimana orang tak dapat berjalan setindakpun

ketika sedang bingung, sianak muda merasa tangan kirinya ada yang menjambret dan tarik mengajaknya kekiri, sedangkan telinganya mendengar: "Kekiri dua tindak" Ia menurut, baru ia jalan dua tindak, segera ia melihat suatu perubahan lagi. Ya, ia tetap berada didalam tin seperti tadinya hanya sekarang ia mendapatkan Soat kun berdiri didepannya sejauh satu kaki, tangan kanan nona  itu memegangi tangan kirinya.

"Bengcu kaget?" tanya sinona merdu dengan tersenyum manis.

Bengcu itu berdiri tertegun, pipinya terasakan panas sekali.

soat kun bercacad sepasang matanya, ia tidak melihat orang berdiri dengan likat karena malu, ia tertawa perlahan dan bertanya halus: "Bengcu melihat apakah ?"

"Air luas tanpa batas tepinya..." sahut si anak muda.

"Itu cuma khayalan, bukannya air tulen," berkata sinona. Siauwpek bingung, banyak yang ingin ia tanyakan, akan tetapi mengingat bahwa dia bengcu, ketua dibatalkannya maksudnya itu.

"Hamba telah menawan orang dengan baju kuning itu," berkata pula sinona manis, "Karena sekarang kita lagi menghadapi lawan, tak sempat kumemeriksanya, untuk mendengar keterangannya, dia cuma ditotok saja. Bagaimana pikiran bengcu?"

"Terserah kepada nona," sianak muda menjawab.

"Baiklah, bengcu," berkata sinona itu. Itu artinya dia menerima titah. Siauwpek menghela napas, ia batuk perlahan, habis itu ia berdiam saja.

Tiba-tiba terdengarlah kata-kata berisyarat yang perlahan dari Ban Liang: "Awas, simahasiswa datang pula"

Mendengar suara si jago tua, ketua itu memperoleh alasan, segera ia memutar tubuh, buat maju dua tindak, untuk bersembunyi didalam semak-semak. Dari sini seperti tadi, ia bisa mengintai musuh, kali ini ia tidak berani mengambil jalan yang salah.

Simahasiswa berpakaian hijau itu datang kembali bersama dua belas orang pengiringnya yang berseragam dalam tiga macam warna masing-masing merah, putih, hitam. Mereka datang dengan melarikan kuda mereka. Tepat di tempat yang tadi mereka berhenti. Simahasiswa memandang kearah seekor kuda yang tengah mundar mandir dilapangan rumput, sambil menggeleng kepala ia berkata: "Oey Liong Tongcu terlalu mengandalkan kepada ilmu silatnya sendiri, dia tak sudi mendengar nasehatku, dia masuk kedalam tin dan kena tertawan karenanya."

Dua belas pengiring itu bungkam. Agaknya mereka sangat takut atau menghormati simahasiswa sehingga mereka tidak membuka mulut.

Habis berkata seorang diri, si mahasiswa menengadah langit, otaknya bekerja. Tak lama kemudian ia berkata: "Oey Liong Tongcu mengetahui banyak sekali rahasia kita, sekarang dia tertawan, inilah berbahaya Kalau dia tak tahan siksaan, ada kemungkinan dia membecorkan rahasia kita, karena itu agaknya tak dapat tidak mesti kita Serbu tin ini"

Kembali kedua belas pengiring itu bungkam, hingga simahasiswa seperti bicara kepada dirinya sendiri.

SiauwPek menggeser tubuh menghampiri Ban Liang. "Kelihatannya sibaju hijau ini tinggi kedudukannya dalam

rombengannya," katanya perlahan-

"Tak salah," kata si jago tua, mengangguk.

"Jlkalau kita bisa membekuknya hidup hidup," berkata pula sianak muda, "pasti kita akan dapat mengorek banyak keterangan penting dari mulutnya. Dan kalau dia kena ditawan, kita jadi telah memberikan pukulan semangat yang mengejutkan pada pihak  lawan " Ban Liang dapat menerka maksudnya ketua ini, yang ingin keluar menempur musuh itu.

"Tanpa ada titah dari Nona Hoan, tak dapat kita sembarangan bergerak," katanya.

Memang Siauw Pek ingin maju dengan si jago tua mendampinginya, siapa tahu, jawaban kawan itu berupa penolakan tak langsung, dengan membawa nama Soat kun. Tentu saja ia tidak dapat kesempatan untuk lebih jauh, maka ia menutup mulut.

Si mahasiswa berbaju hijau itu menggerakkan tangannya. Dari punggung kudanya dia menjemput sebuah kantung kecil, kemudian dari dalamnya dikeluarkannya kertas dan pitnya.

Dengan cepat dia menulis diatas sehelai kertas itu yang terus digulungnya, lalu dari dalam kurungannya yang dia bawa bawa dikeluarkannya seekor burung kecil mirip burung gereja dan kemudian sayapnya diikatkan surat itu. Pada akhirnya dia melepas terbang binatang bersayap itu.

"Dia mengirim surat dengan perantaraan burung," berkata Ban Liang kepada ketuanya "Dia tentu hendak memanggil kawan. Teranglah dia telah bertekad bulat untuk melakukan penyerangan kepada tin kita ini."

"Kalau begitu kita perlu mengabari nona Hoan," kata Siauwpek. "Kita harus bersiap sedia."

"Tak usah kita mengabari nona Hoan lagi" kata Ban Liang. "Kenapakah?"

"Nona Soat Gie senantiasa mendampingi kakaknya, tentu ia sudah memberitahukan segala apa yang dia lihat. Tak usah kita menawarkan lagi"

"Kita tak usah mau menerjang, apa kita duduk menanti sampai terjangan telah diwujudkan"

"Manakala kita harus bertindak. "

tampak Nona Thio Giok Yauw datang menghampiri. Terus sinona berkata perlahan: "Nona Hoan meng undang Bengcu dan Ban Huhoat"

Sianak muda dan si jago tua saling mengawasi, lalu dengan tindakan perlahan mereka menuju kedalam. Nona Thio jalan bersama.

soat kun ditemukan sedang mengernyitkan sepasang alinya yang bagus, dan sebelah tangannya berada dibahu adiknya. Nampak tegas dia tengah berpikir keras.

Giok Yauw segera menghampiri nona itu. Aneh sekali, Nona Thio yang biasanya nakal sekali, yang sangat galak terhadap si Dewa Ikan cianpeng, terhadap nona tunanetra itu sangat menghormati. Iapun bertindak berhati hati.

"Mereka sudah datang," katanya setengah berbisik. Nona Hoan batuk perlahan-

"Apakah bengcu sudah melihat?" tanyanya. "Melihat apakah, nona?" Siauwpek balik bertanya. "Si baju hijau mengirim surat dengan perantaraan burungnya guna mengundang atau memanggil orangnya untuk mulai menyerang tin kita," si nona menerangkan-

"Sudah nona."

"Lalu bengcu hendak bersiap bagaimanakah untuk menghadapinya?" Si anak muda terdiam.

"Dalam..., dalam hal ini..., silahkan nona yang mengaturnya," sahutnya kemudian-

"Hambamu telah mengetahui segalanya karena keterangan adikku," Soat Kun berkata^ "Menurut penglihatannya, sibaju hijau itu tak berkedudukan rendah. Dia juga pasti bukan sembarang orang. Lihat saja, dia datang dengan diiringi dua belas orang. Kalau bukannya dia telah ketahui baik tentang kita, tentulah orang orangnya itu adalah orang orang Kang ouw yang lihay, yang sanggup melindungi keselamatannya. Hamba telah memilih  dua cara untuk melayani musuh, sekarang silahkan bengcu pilih satu diantaranya."

"Apakah kedua daya itu, nona?"

"Jalan yang pertama ialah sebelum bala bantuannya tiba, kita serang dan tawan sibaju hijau itu."

"Yang kedua, nona?"

"Hambamu akan segera menggerakkan tin kita ini, untuk kita masing masing manjaga satu bagian. Kita bertahan didalam Liok kah tin-"

"Kenapa tidak mau menggunakan dua duanya serentak?" tanya Siauw Pek.

"Apakah bengcu maksudkan kita tempur dia dahulu, kalau kita gagal, baru kita mundur masuk kedalam tin untuk bertahan?"

"Ya, begitulah." "Kalau begitu, kita akan terlambat, bengcu? Apakah kita gagal membekuk si baju hijau, lalu kita mundur, aku kuatir tak kita menggerakkan tin kita ini..."

"Habis bagaimanakah pikiran nona?"

"Telah aku paparkan kedua caraku itu, untuk memilihnya, terserah kepada bengcu."

"Melihat gerak gerik sibaju hijau, mestinya dla sangat cerdik. Aku khawatir aku tidak sanggup melayani kecerdikannya itu" sianak muda mengaku terus terang. "Sekarang aku serahkan pimpinan kepada nona. Nona boleh lakukan apa yang nona pikir baik, aku menurut saja"

Hoan Soat Kun tertawa perlahan.

"Baiklah kalau begitu, aku menerima perintah," ujarnya.

Nona ini selalu membawa sikap telitinya itu, untuk memimpin si ketua sebagai pemimpin, agar orang dapat mengambil keputusan sendiri. Setelah itu, ia tak tertawa atau tersenyum pula, bahkan wajahnya menjadi terang dan agung.

"Waktunya sudah tidak banyak lagi, sekarang aku minta tuan tuan bersiap menantikan segala titahku" katanya sungguh sungguh Nampaknya musuh bakal melakukan penyerbuan hebat, maka inilah saat untuk kita menang atau runtuh. Jadijangan kita lalai. Tak peduli siapa, dia yang mengabaikan tugas pertahanannya, dia akan dihukum berat tanpa ampun"

"Silahkan perintah, nona," berkata Ban Liang "Kami bersiap sedia melakukan tugas"

soat kun memegang bambu, dengan itu dia menggores gores tanah sambil memberi penjelasan bagaimana harus memancing musuh atau mengejarnya. Semua orang mengawasi dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Jelas keterangannya nona itu, hingga Siauw Pek semua mengerti baik sekali. Ban Liang kemudian meneliti cuaca. "Bagaimana andaikata musuh menerjang di waktu fajar?" ia bertanya.

"Kapan saja sama juga," sahut Soat Kun, "Semua terserah kepada tuan tuan sendiri."

"Mungkin nona dapat memberikan suatu penjelasan," kata pula si jago tua.

"Asal tuan tuan bertindak dengan mengingat pesanku dan disaat saat genting hati kamu tak gentar, itulah bagus. cuaca gelap akan menguntungkan kita. Sebaliknya, kalau kita kacau sang malam atau udara gelap mendatangkan kerugian..."

Tanpa menanti jago tua itu bertanya lagi, Nona Hoan segera mengatur berbareng mengeluarkan titah titahnya: "Ban IHu hoat, silakan menjaga ditimur "

"Baik, nona," Seng su Poan menerima tugasnya.

"Kho Kong dan Oey Eng, kamu menjaga masing masing diutara dan dibarat."

"Hamba turut perintah" menjawab dua orang muda itu.

"Thio Giok Yauw menjaga diselatan," si nona memberi pula perintahnya sendiri. "Bengcu bersama kami berdua berdiam ditengah, bersiap siap membantu keempat penjuru di mana yang perlu."

Ban Liang berempat kemudian berlalu.

"Nona," kata Siauwpek. perlahan, "tin kita luas, mereka menjaga masing masing satu arah bukankah itu suatu pembalasan yang sulit? Paling baik..."

"Apakah bengcu masih mempunyai tenaga lainnya yang bisa diperintahkan?" si nona bertanya. Ketua itu gugup,

"Itulah sebabnya kenapa hambamu minta bengcu berdiam bersama kami," kata si nona. "seperti aku sebutkan, kita bantu siapa yang membutuhkan bantuan..." Siauwpek terpaksa berdiam. "Hambamu masih ada sesuatu yang belum disampaikan," Soat Kun kemudian berkata pula. "Perlu itu diselesaikan sebelum sang malam tiba. Maka itu tolong bengcu berdiam dipusat ini untuk melindungi seluruh tin-"

Berkata begitu, kemudian si nona mengajak adiknya berlalu.

Siauwpek mengawasi punggung kedua nona itu.

sebenarnya ingin ia bicara sesuatu tapi tak sanggup ia mengutarakannya. Kedua nona berjalan terus masuk kedalam. Ban Liang berempatpun telah siap diposnya.

Siauwpek berdiam seorang diri, pikirannya bekerja. Ia masih menyangsikan penjagaan di empat penjuru itu. Wilayahnya luas tapi yang bertugas cuma empat orang.

"Sanggupkah mereka masing masing?" tanyanya didalam hati. "Dipihak musuh itu, tak peduli jumlah mereka berapa besar, kekuasaan berada pada sibaju hijau, asal aku mengawasi dia, tentu aku ketahui gerak geriknya, atau mungkin, siang siang aku bisa menerka apa yang dia hendak kerjakan..."

Karena memikirkan demikian, sianak muda segera lari kepada Ban liang, disana jago tua itu tengah bersembunyi didalam semak sambil matanya dipakai mengintai.

Menoleh kepada si baju hijau, Siauwpek melihat orang sudah turun dari kudanya, dengan tongkat bambu ditangannya, dia itu tengah mengawasi Liok kah tin Rupanya dia tengah memahaminya. Tongkatnya itu telah beberapa kali menggores gores.

Kali ini dibelakang si baju hijau terdapat beberapa pelindungnya yang semua berbaju merah serta semua menggemblokkan pedang pada punggungnya. Kalau pedang seumumn panjang tigakaki, pedang mereka empat kaki lebih. Diam diam Ban Liang menghampiri ketuanya

"Rupanya sibaju hijau sedang menguraikan tentang perubahan tin kita ini," katanya, "Nyata sekali dia lagi memberi keterangan kepada barisan merahnya itu bagaimana mereka itu harus menerjang."

"Mungkinkah dia telah tahu kegaiban Liok kah tin?"

"Entahlah. Melihat gerak geriknya dia rupanya belum mengerti seluruhnya."

"Loocianpwee berpandangan sangat luas," si anak muda memuji.

"Bengcu," berkata jago tua itu, "kau adalah bengcu kami Nona Hoan telah memilih bengcu dan pintar sekali, mesti ada maksudnya atas pemilihannya itu. Si nona memanggil aku hu hoat, karena itu bengcu silahkan memanggil namaku saja"

"Itulah tidak dapat..." berkata sianak muda.

"Tidak demikian, bengcu. Jikalau bengcu tidak membiasakan membawa diri sebagai orang atasan, bagaimana nanti kau sanggup memimpin atau mengepalai ratusan atau ribuan jago jago Rimba Persilatan, untukmu menjagoi dalam dunia Kang ouw?"

Itulah benar. Maka Siauwpek berdiam untuk berpikir. "Hanya... ya, baiklah aku terpaksa menurut." katanya akhirnya.

"Harap bengcu suka menginsafi bahwa manusia membutuhkan kewibawaan yang mulia dan diagungkan, baru dia dihormati dan dijunjung. Nona Hoan telah mengaturnya semua itu untuk bengcu." Siauwpek menghela napas.

"Lihatlah pedang rombongan berseragam merah itu," katanya selang sesaat. "Itulah pedang yang beda dengan pedang yang umumnya."

"Memang, semua pedang itu mestinya telah dibuat secara istimewa."

"Dari pada kita menanti mereka menyerbu bukankah lebih baik mendahului?" kata si ketua. "Aku memikir buat menguji mereka..."

"Melihat kepandaian kau, bengcu, tidak ada halangannya buat aku mendahuluinya menyerang mereka," berkata si jago tua. "Tetapi, lebih baik bengcu bicara dulu dengan nona Hoan..." Ketua itu tersenyum.

"Bukankah aku menjadi ketua?" tanyanya. "Benar. Habis?"

"Maka tidak usah aku bicara dahulu dengannya"

"Meskipun bengcu menjadi ketua, lebih baik bengcu berdama dahulu," kata si jago tua.

"Aku telah mengambil keputusan..." Ban liang gugup,

"Jangan menempuh bahaya, bengcu" katanya. Dan ia maju menghadang. Siauwpek berkata dingin "Jikalau kau akui aku sebagai bengcu, kau minggirlah" Ban liang tercengang, lalu dia mundur kesisi.

Ketua itu lalu kata lagi "Jikalau aku menang, aku akan kembali. Apabila aku terkurung dan tertawan, tak usah kamu menolong aku"

"Dalam hal ini, Nona Hoan menanyakan aku katakanlah bahwa aku telah mengambil keputusan sendiri dan siapa pun tak dapat merintangi aku." Tanpa menanti jawaban, anak muda ini bertindak keluar dari tin-

Ban liang bukan main bingungnya, maka dia lari kerumah atup, untuk menemui Soat Kun, guna memberi laporan.

siauwpek sementara itu maju terus, menghampiri sibaju hijau, tetapi segera ia dihadang oleh dua orang berseragam merah, yang berlompat maju dengan membentaknya sambil terus menyerang

Siauwpek meng unus pedangnya dan menangkis.

"Tahan..." bentaknya tertawa dingin. "Aku mau bicara dengan pemimpinmu" Sibaju ijau mengangkat kepalanya.

"Biarkan dia maju" perintahnya.

siauwpek bertindak maju sampai jarak lima kaki dari sibaju hijau itu. Disitu ia menghentikan tindakannya sebab enam batang pedang segera diluncurkan guna mencegah ia maju lebih jauh. Sibaju hijau tertawa tawar.

"Ada urusan apakah?" sapanya. "Dapat kau bicara sekarang?" siauwpek memandang, sinar matanya tajam Terus dia berkata^

"Kamu semua bersikap aneh sudah berpakaian beraneka warna pakai tutup mata segala cuma kau sendiri yang tidak memakai topeng, kau berani dilihat orang kamu mempunyai tulang laki laki juga "

Si baju hijau mengimplang, dia tak gusar. Katanya tenang: "Kau berani maju seorang diri, kau dapat dihitung sebagai orang yang mempunyai keberanian"

Sementara itu tiga orang berseragam hitam sudah pergi kebelakang si anak muda, untuk menghadang jalan mundur lawan. Siauw Pek melirik mereka itu, terus ia kata pada si baju hijau: "Terima kasih untuk pujianmu. Aku hendak bicara bersediakah kau mendengarnya?"

"Baik Bicaralah"

"Kita tidak kenal satu dengan lain, kita juga tidak bermusuhan, kenapa kamu begitu memusuhi dan mendesak kami, selangkahpun kamu tak mau melepaskannya?"

"Bicara besar" berkata si baju hijau. "Siapakah kau?"

"Kau ingin aku menyebut she dan namaku, itulah tidak sulit.

Hanya, lebih dahulu aku harus ajukan sebuah syaratku"

"Di ini masa, sangat sedikit orang yang berani bicara kepadaku dengan mengajukan syarat" berkata si baju hijau. "Mendengar kata katamu, aku merasa aneh. Baiklah, Kau sebutkan, apakah syaratmu itu?"

"Jikalau aku menyebutkan she dan namaku, kau juga mesti memberitahukan she dan nama serta kedudukanmu" kata  Siauwpek. si baju hijau tertawa, katanya: "Agaknya kau memiliki kepercayaan besar bahwa kau bakal sanggup menerobos kepungan dari pasukan Tiga Warna"

Siauwpek menjawab tawar^ "Mungkin aku beruntung berhasil menerobosnya"

Sinar matanya sibaju hijau berkelebat menatap anak muda didepannya itu. Dia mengawasi orang dari atas hingga kebawah dan keatas pula. dia cerdas dan teliti, suara dan sikap anak muda ini membuatnya curiga dan berpikir. Katanya didalam hati: "Ada pepatah yang mengatakan ^orang yang datang, maksudnya tak baik, orang yang maksudnya baik, tak akan datang.^ Dia bicara besar, dia pasti bukan sembarang orang..."

Dia masih menatap. mengawasi wajah orang, pakaian dan perlengkapannya. Kecurigaannya bertambah setelah dia melihat pedang dan goloknya sipemuda. Tak biasanya orang membekal pedang berikut golok.

Selagi orang memperhatikan dia, Siauwpek pun melirik kesekitarnya. Dia tahu bahwa dirinya sudah terkurung. Melihat lagak sibaju hijau,tak dapat ia mundur, mesti ia menggunakan kekerasan.

"Punco mengerti" kata si baju hijau kemudian Dia mengawasi si anak muda sambil tersenyum.

Didalam hati, siauwpek terperanjat juga .

"Mungkin dia tahu siapa aku?" pikirnya. "Kau mengerti apakah?" ia tanya.

"Bukankah kau sisa mati satu-satunya dari Pek Ho Po, yaitu coh Siauwpek yang dapat melintasi Seng Su Kio?" orang itu balik bertanya.

"Ah, benar benar dia kenal aku" kata siauwpek didalam hati. ia terCengang, tetapi ia menabahkan hati.

"Kalau benar, bagaimana?" tanyanya menantang. "Didalam dunia Rimba Persilatan, keCuali Thian Kiam dan Pa Too, tidak ada lain orang yang selalu membawa pedang dan juga golok model kuno"

"Kau benar Cerdik, tuan" si anak muda mengakui. Mendadak ia menghunus pedangnya, untuk dipakai menangkis kedepan terus kebelakang, hingga bentroklah tiga batang pedang, dan dua yang lain terpental, Itu disebabkan dengan mendadak dua orang musuh mengancam ia dengan pedangnya masing-masing .

"Benar tak keCewa ilmu pedang Thian kiam kie tong" kata sibaju hijau yang tertawa tawar.

"Kau telah dapat menerka, tak usah aku mendustai kau" kata Siauwpek. "Tidak salah, akulah yang kebanyakan orang Rimba Persilatan hendak binasakan, Akulah coh Siauwpek yang kematiannya baru akan membuat tenang hati mereka itu"

si baju hijau mengibaskan tangannya. Segera pasukan baju merah dan bersenjatakan pedang bergerak dalam dua bagian, menuju kearah Liok kah tin Sembari tertawa berkakak, dia pun berkata^ "Empat puluh orang baju merah yang bersenjatakan pedang ini akan menyerang Liok Kah tin" Siauwpek tertawa tawar.

"Jikalau kau cuma meninggalkan dua belas orang, aku khawatir mereka tidak cukup kuat untuk melindungi keselamatan dirimu" katanya.

"orang terlalu banyak cuma akan menambah bahaya saja" berkata sibaju hijau. "Dengan dilindungi dua belas orang ini, aku sudah merasa aman sekali."

siauwpek menyapu dengan sinar matanya kepada sekalian musuh, lalu ia berkata dingin "Kamu harus berhati hati melindungi pemimpin kamu" Habis berkata itu, dengan tiba tiba ia menyerang si baju hijau itu

Sinar golok golok segera berkelebatan. Empat buah senjata bergerak menjaga serangan serangan pedang anak muda itu, empat orang lainnya segera berbaris didepan sibaju hijau. Menyusul itu empat orang berseragam merah, yang mencekal poankoanpit, turut bergerak dari barat dan selatan, untuk mengurung si anak muda. Pengurungan segera diperketat oleh empat orang lainnya yang berseragam putih, yang senjatanya pedang pedang panjang. Siauwpek cerdas.

"Tak dapat aku melayani mereka lambat lambatan," pikirnya.

Karena ia berpikir demikian, pikiran sianak muda berubah dengan tiba tiba. Menuruti rasa hati itu, tangan kanannya segera memindahkan pedangnya ketangan kirinya, kemudian tangan kanan itu meraba gagang goloknya. Tanpa bersangsi pula, ia berkata dengan dingin. "Apakah kamu memikir hendak belajar kenal dengan pengaruhnya Toan Hoan It Too?"

Justru disaat itu sibaju hijau berteriak dengan perintahnya: "Lekas turun tangan. Jangan beri kesempatan dia menghunus golok"

Menyusul itu, segera delapan poankoan pit empat pedang dan empat golok, bergerak serentak. hingga sinarnya berkilau kilau, menyambar si anak muda.

Siauwpek berlaku sebat. Ia memutar pedangnya untuk menangkis dan melindungi dirinya. Maka terdengarlah nyaringnya suara pelbagai alat senjata yang bentrok satu sama lain Belasan senjata lawan itu menyerang dari segala penjuru, rapih caranya, teratur kedudukannya. Nyata mereka sudah terlatih baik. caranya ialah dua pedang mengancam lengan kanan lawan, dua lagi siap menangkis, empat golok untuk keras lawan keras, dan poankoanpit menusuk menotok keatas, tengah dan bawah. Repot juga Siauw Pek melayani kepungan teratur itu.

Selagi pertempuran berlangsung, terdengar si baju hijau berkata nyaring^ "Jikalau aku hidup pada beberapa puluh tahun yang lampau, tak nanti aku ijinkan Kie Tong menjagoi dunia Rimba Persilatan dan tak pernah terkalahkan" Siaue pek tidak menghiraukan suara yang bernada ejekan itu, ia hanya berpikir: "Jikalau aku tetap melayani mereka seCara begini, salah salah aku terancam bahaya."

Kembali terdengar suara nyaring sibaju hijau. "Dua belas orang ini tidak seberapa tinggi ilmu silatnya tetapi mereka pandai bekerja sama Kie Tong memahirkan ilmu pedangnya, tapi dia bukanlah seorang Cerdas. coba sekarang dia masih hidup, melihat begini, dia boleh mati berdiri "

Masih Siauwpek tidak mempedulikan suara itu, ia tetap memperhatikan perlawanannya. Berkat pengalamannya menderita, ia kuat hati dan ulet, sembari bertempur diam diam ia memahami cara berkelahinya kedua belas musuh itu. Ia memang membutuhkan tambahan pengalaman, dan cara musuh itu asing baginya. Ia pula masih bersabar untuk tidak segera menggunakan goloknya. Karena ia menggunakan otaknya ia lalu dapat satu pikiran, bahkan segera dicobanya.

Dengan mendadak anak muda ini menikam Seorang yang bersenjata golok. Karena serangannya itu, dengan Sendirinya iga kirinya lowong. Dua batang pedang musuh segera menyerangnya. Sudah dikatakan, pihak musuh dapat berkelahi dengan rapih sekali. Selagi menyerang itu, terpaksa Siauwpek mengegos mengelit tubuhnya. Berbareng dengan gagalnya pedang, ujung sebuah poankoanpit tepat mengenai sasarannya

Siauwpek terkejut, ia merasa nyeri. Pundak kirinya telah tertusuk luka. Sia sia belaka dia mencoba berkelit. Tapi ia menahan rasa nyerinya, pedangnya bergerak terus Maka menjeritlah musuh yang bersenjatakan golok itu, karena lengannya kutung.

Menggunakan saatnya itu, Siauwpek berseru hebat pedangnya bekerja pula. saking sebatnya, dia menancapkan ujung senjatanya didada musuh yang bergengam poankoanpit itu

Musuh terkejut karena dua orang kawannya terluka itu, cara mengepungnya sendirinya jadi tidak sempurna lagi. Tetap siauwpek menahan nyerinya, sekali lagi ia berseru, pedangnya segera diputar secara hebat. Maka kali ini, saking terdesak. musuh dari tak sempurna lagi menjadi kaget, terpaksa mereka mundur tak keruan

Si baju hijau kaget dan heran menyaksikan barisan istimewanya, yang dia andalkan itu, jadi kacau balau, walaupun demikian, dia masih mempunyai kesabaran akan tetap menonton.

Di lain pihak. barisan pedang berseragam merah sudah menerjang masuk kedalam Liok Kah Tin Maka berisan itu tak dapat diharap bantuannya. Tengah ia berpikir keras, kembali ia mendengar bentakan keras dari siauwpek. Kembali seorang yang bersenjata poankoanpit tertabas roboh, tubuhnya kutung menjadi dua

Siauw Pek telah mengeluarkan banyak darah tahu dia bahwa dia bisa roboh lelah, maka itu sambil berseru, dia terpaksa menggunakan Hoan Uh it Too, merampas jiwa lawan itu.

Pihak lawan sudah kacau balau tapi mereka masih tak sudi kabur, dari itu menyusullah seorang kawannya lagi, yang bersenjata golok. Dia ini roboh sebagai kurban golok ampuh. Habis dia, menyusul pula seorang yang bersenjatakan pedang

Musuh tinggal tujuh, masih mereka mencoba melawan. siauwpek heran. Kenapa mereka itu demikian tak takut mati? Dalam herannya timbullah rasa kasihannya. Tapi justru ia merasa kasihan, paha kanannya kena tergores golok lawan ia merasa nyeri dan kaget, tiba tiba kaki kirinya lemas, terus ia jatuh roboh. Akan tetapi, walaupun ia roboh, tangan kirinya masih dapat menggunakan suatu jurus ilmu pedang Mahakasih, yang istimewa untuk melindungi diri.

Disaat itu, karena gelagat buruk, sibaju hijau kabur dengan kudanya, meninggalkan barisan istimewanya itu.

Siauwpek melompat bangun, Kembali ia menggunakan goloknya. Lagi lagi seorang musuh terbang nyawanya. Barulah disaat itu, sisa musuh kabur. Siauwpek mengeluarkan napas lega, tengah ia mengawas i musuh, mendadak ia roboh terkulai. Ia telah mengeluarkan terlalu banyak darah, ia letih sekali. Inilah pertempuran dahsyat yang baru ia alami dalam masa hijaunya itu. Tapi inilah yang menambah pengalamannya.

"Apakah lukamu parah?" demikian satu suara manis, sedangkan sebuah lengan yang halus menahan lehernya bagian belakang kepalanya.

Si anak muda mendengar suara itu, ia membuka matanya yang tadi terpejam. Ia melihat seraut wajah yang cantik, yang kulitnya halus, wajah yang ayu tercampur roman menyesal, serta sepasang matajeli agak lesu... Itulah Thio Giok Yauw si nona kosen tetap nakal Dengan mendadak Siauwpek bergerak bangun. "Terima kasih, nona" ucapnya.

"Apakah kau terkena racun?" si nona bertanya pula.

"Tidak... cuma pahaku terkena golok dan bahuku tertusuk poankoanpit..."

"Itu toh golok yang berbisa..." kata si nona

Siauwpek terkejut, ia mengawasi pahanya. Lukanya berwarna hitam dan darahnya merah gelap.

"Ah, tak kusangka mereka menggunakan golok beracun..." katanya, menyesal.

"Mungkin kau keracunan hebat, kau mesti lekas dlobati"

Ketika itu terdengar suara halus dari seorang nona lain: "Lekas rebahkan dia ,Darahnya yang beracun harus dikeluarkan dahulu, baru dia bisa dlobati"

Giok Yauw berpaling. Maka ia melihat Soat kun mendatangi dengan perlahan, tangannya berada dibahu adiknya. Siauwpek tersenyum.

"Tidak apa," katanya. "Belum lama aku terluka, sekalipun aku terkena racun, racunnya tentu belum bekerja..." segera Nona Hoan telah datang dekat. Ia berdiri disisi Giok Yauw. "coba lukiskan lukanya," ia minta kepada nona itu.

"Lukanya lebar dua dim, dalamnya setengah dim, tidak terkena otot atau tulang."

"Bagaimana warna darahnya?"

"Darahnya merah tua. darah ditempat luka hitam." "Nona Thio, kau dengar aku."

"Katakanlah"

"Lekas totok tiga jalan darahnya hok touw, hongs ie dan Tiong geng." Giok Yauw menotok dengan Cepat.

"Lalu?" tanyanya.

"GUnakan pedangmu memotong daging pada lukanya, sampai darah keluar, baru berhenti." Nona Thio melongo.

"Itu toh akan menerbitkan rasa nyeri"

"inilah mengenai keselamatan jiwa, nyeri sedikit tak apa. Dijaman dahulu, Kwan in Tiang sampai mesti dikerok tulangnya, sedangkan luka ini belum sampai keotot atau tulang-tulang .

"Nona benar," berkata si nona nakal, yang telah jadi jinak. segera dia bekerja, bahkan sebat kerjanya itu.

Siauwpek menahan nyerinya, hingga dahinya bermandikan peluh. "Telah terlihat darah baru," Giok Yauw memberitahukan-

"Bagus Pondonglah dia pulang kedalam tin-"

Mata jeli sinona Thio memain, mulutnya berkemak kemik tetapi tak keluar suaranya, tubuhnya tak bergerak.

"Waktu ini waktu apa? Tempat ini tempat apa?" tanya Soat kun "Apakah nona masih mengukuhi pantangan pria wanita tak dapat saling menyentuh tangan-..?" Siauw Pek mendengar, dan melihat, dia berlompat bangun. "Tak usah mencapaikan diri, nona Aku masih dapat berjalan " katanya.

Tapi Soat Kun berkata, perlahan dan merdu: "Sebelum dlobati, bengcu tak boleh bergerak atau menggunakan tenagamu. Sekarang ini bengcu ialah siorang sakit dan hambamu tabib, maka wajiblah bengcu mendengar nasehat tabibmu"

Sementara itu sebat luar biasa, bagaikan tanpa diketahui lagi, Soat Gle meluncurkan sebelah tangannya, saling susul dia menotok dua kali pada sianak muda hingga sedetik itu juga robohlah pemuda itu

Thio Giok Yauw menggerakkan kedua tangannya, untuk mencegah tubuh orang jatuh ke tanah, karena itu dengan sendirinya tubuh si anak muda berada didalam rangkulannya

Soat kun segera berkata^ "Didalam tin masih ada sisa musuh, Nona Thio, mari ikut kami "

"Ya," sahut sinona, yang menjadi sangat jinak. Ialalu memeluk erat tubuh siauw Pek untuk dipondong, terus ia berjalan dibelakang kedua nona Hoan, menuju kedalam tin-

siauw Pek telah ditotok tetapi bukannya ditotok pingsan, mata dan telinganya masih dapat bekerja. Maka itu ia bisa mendengar dan melihat. Didalam tin tampak sejumlah musuh yang berseragam merah bersenjatakan pedang itu, semua rebah tak berkutik,  rupanya mereka telah kena tertotok.

"Sungguh hebat tin ini," pikirnya. "Tahu begini, tak usah aku keluar melayani musuh..."

Tiba didalam rumah, Siauwpek melihat satu pemandangan lain siorang bertubuh besar yang berpakaian kuning, yang janggutnya panjang, bersama belasan orang yang berbaju merah dan bersenjatakan pedang, lagi duduk bersila dengan mata menutup dan tubuh menyender pada dinding, nampaknya mereka itu tengah beristirahat. "Sekarang dia boleh turun perlahan," terdengar suara Soat Kun, perlahan. Dengan muka merah, Giok Yauw meletakkan tubuh sianak muda.

Soat Kun berkata pula pada Nona Thio itu: "Sekarang tolong nona pergipada Ban Hu hoat serta saudara saudara Oey Eng dan Kho Kong minta mereka membawa kemari semua musuh yang tertawan hidup itu."

Giok Yauw menurut, ia mengundurkan diri dengan segera.

Sekarang Nona Hoan berkata pada Siauw pek perlahan: "Luka bengcu tidak ringan, hambamu mengharap agar kau suka mendengarkan kata kataku. Tanggung jawab dan tugas bengcu sangat berat, tak dapat bengcu memandang diri terlalu enteng. Ingatlah, sekarang bukan saatnya bengcu mendapat luka, sebab sekarang kita lagi menghadapi musuh tangguh. coba bengcu bukannya bengcu yang agung, dan harus dihormati, pasti hambamu akan mendakwa kau sudah maju berperang tanpa ijin" Tanpa menanti jawaban orang, sinona berkata kepada adiknya: "Soat Gle, kau bebaskan totokanmu itu, segera kau oleskan obat bubuk pemberhenti darah."

Soat Gie melakukan perintah kakak itu. Ia mengmapiri Siauwpek. untuk menotoknya bebas, setelah itu dari dalam sakunya, ia mengeluarkan satu peles kecil dari batu hijau, dari dalamnya dikeluarkan sedikit bubuk warna putih Selesai menyusut membersihkan sisa darah ditempat luka, terus ia mengobati luka itu.

siauwpek berdiam saja, ia merasa sangat malu dan likat. Walaupun ia memikir banyak untuk berkata kata, mulutnya tak dapat dibuka untuk mengutarakan itu.

Tak lama muncullah Ban Liang berempat, tangannya masing masing menenteng atau mengempit dua orang musuh. "Nona Thio?" Soat Kun bertanya.

"Ya, sahut Giok Yauw, "Ban Hu hoat bersama kedua tua Oey dan Kho telah datang melaksanakan perintah . : "Bagus Sekarang tolong bawa masuk semua musuh yang tertawa n itu," sinona manis.

Ban Liang bertiga menyahut, terus mereka bekerja. Mereka mundar mandir, empat lima balik, baru selesai tugas mereka, Ban Liang terus menghitung, lalu melaporkan: "Kecuali yang terbinasa dan luka parah, masih ada tiga puluh enam anggota musuh yang berseragam merah bergegaman pedang."

"Setelah kekalahannya, mungkin musuh tak datang pada hari ini," berkata sinona,

"silahkan Ban Hu hoat menyediakan tiga buah kereta, yang harus disiapkan diluar tin."

Sebenarnya Ban Liang ingin menanyakan sesuatu tetapi ia membatalkan keinginannya, ia terus pergi keluar untuk menjalankan titah itu.

Soat Kun terdengar bicara seorang diri: "Ada tiga puluh enam orang sebagai pembantu, inilah lumayan, dan bagi Kim Too bengcu, ini suatu bantuan semangat "

Oey Eng batuk perlahan dan berkata: "Apakah nona bermaksud memakai tenaga mereka?"

"Tidak salah. Aku membangun tin juga dengan maksud ini." Anak muda ini melongo.

"cara bagaimana mereka nanti mau tunduk kepada nona ?" tanyanya. "Ada caranya buat membuat agar mereka menurut," sahut Soat Kun-Siauwpek yang duduk bercokol heran.

"Inilah hal aneh. Hendak aku lihat sinona menggunakan daya apakah."

Soat Kun segera memberikan perintah kepada Oey Eng dan Kho Kong: "Totok empat jalan darah mereka itu, supaya mereka dapat melihat, dapat mendengar dan dapat dipikir"

Kedua anak muda itu menjalankan perintah itu. Mulanya mereka menotok sipemimpin berbaju kuning, lalu bergantian itu tiga puluh enam orang-orangnya. Dengan begitu sadarlah orang orang tawanan itu.

Nona Hoan segera menghampiri belakang si orang-orang berseragam merah dan bersenjatakan pedang itu.

Oey Eng heran menyaksikan gerak gerik si nona, sampai ingin dia mengajukan pertanyaan, akan tetapi sebelum ia membuka mulutnya si nona cantik manis tak bandingan itu sudah memperdengarkan suaranya yang halus merdu "Berikan mereka masing-masing minuman secawan arak "

Giok Yauw menyahuti, dia muncul dengan sebuah penampan. Oey Eng dan Kho Kong sudah biasa dengar suara menggiurkan dari si nona, mereka hanya merasa kagum, tidak demikian dengan musuh musuh itu berikut pemimpinnya. Mereka kagum beserta heran, hingga hati mereka berdenyutan. Inilah yang pertama kali mereka mendengar suara demikian halus dari seorang anak dara. Semua segera mengawasi dengan kagum terpesona pada nona itu.

Dilain pihak. mereka juga kagum dengan kecantikannya Nona Thio yang menghampiri mereka dengan membawa penampan itu. Mulanya si nona mendekati si orang bertubuh besar berbaju kuning itu, sang pemimpin.

"Mari minum" dia berkata, suaranya lembut.

Tawanan itu mengawasi si nona dengan sinar mata dingin. Dia berdiam saja.

"Jikalau mereka tidak sudi minum, totok saja jalan darah thian kiu-nya" Soat Kun perintah kan-

Oey Eng meng ajukan diri, tanpa berkata apa apa pula, ia menotok pemimpin itu. Giok Yauw menghampiri seorang berbaju merah.

"Minumlah" katanya.

orang itu menggeleng kepala, ia memejamkan matanya. Soat Kun berdiri dibelakang orang itu, walaupun demikian, ia tahu segala sesuatu dari isyarat adiknya. Maka ia lalu berkata dingin: "Terhadap mereka, lebih dulu kita memakai aturan, kalau terpaksa barulah kekerasan Siapa yang tidak sudi minum arak beracun itu, totok saja jalan darahnya "

Ia menyebut pula jalan darah itu : thian kiu.

Oey Eng heran, katanya didalam hati: "Bagus nona Kau menyebut arak beracun, sudah wajar saja jikalau mereka tak sudi meminumnya" Meski ia berpikir begitu, toh bersama Kho Kong ia bekerja terus, menotok setiap musuh itu, semuanya. "Berapakah jumlah mereka semuanya?" Nona Hoan tanya.

"Tiga puluh tujuh," sahut Giok Yauw.

"Baik sekarang siapkanlah tiga puluh tujuh batang jarum beracun, lalu tunggu perintah"

lok Yauw menyahut, ia terus bekerja. Dari sakunya, ia mengeluarkan jarum yang disebutkan itu. Ia meletakkannya diatas penampan

Lalu terdengar pula suara Nona Hoan itu : "orang cuma tahu kalau jalan darah Ngo-im terlukakan, nyerinya seperti laksana semut masuk kedalam hati, mereka tidak tahu lebih hebatnya kalau kena ditusuk jarum yang ada bisanya..." Ia berhenti sejenak. lalu ia menambahkan: "Siapa yang tak sudi minum arak dengan suka rela, tusuklah jalan darahnya, jalan darah hwee im Tusuk satu kali saja. Dari jalan darah hwee im itu, racun akan mengalir kejalan darah kiok kut, Tiong ciu dan kaygoan sampai di thian kiu dan jalan darah. Biarlah mereka merasakan bagaimana hebatnya penderitaan racunku itu..."

Suara itu halus dan merdu bagaikan suara burung bincarung, rambut panjang sinona yang terurai dahulu dan punggungnyapun bergerak gerak. tetapi pada telinganya orang orang tawanan itu, suara itu dingin dan menyeramkan Kembali terdengar suara nona itu, yang menghela nafas: "Tiada jalan lain, inilah terpaksa. Kamu tunggu sekira waktu sehirupan teh, jikalau tetap tidak ada orang yang mau minum arak beracun itu secara sukarela, kamu mulailah menusukkan jarum kepada tubuh mereka"

Siauw pek juga heran seperti Oey Eng dan Kho Kong, sendirinya ia mengawasi kepada sekalian musuh itu.

Semua mata orang orang berseragam merah itu diarahkan kepada cawan arak yang katanya beracun itu, mulut mereka dirapatkan. Terang mereka beragu ragu sekali, sebab mereka memikirkan soal mati dan hidupnya...

Segera kembali terdengar suara halus dari Nona Hoan. "Kamu semua tidak berani membuka mulut untuk berbicara, inilah aku  telah menerka sejak semula. Pastilah kepala atau tuan kamu sudah menggunakan suatu cara kejam terhadap diri kamu yang membuat kamu sangat takut terhadapnya, hingga kamu terkekang, hilang kemerdekaan kamu, takut kamu berkhianat, kamu dicari, untuk dihukum secara hebat. Tapi, itulah urusan kelak dibelakang hari Sekarang kamu menghadapi soal mati hidupnya didetik ini jikalau kamu tidak mau turut kata kataku, kamu bakal mengalami siksaan yang paling kejam dan menyedihkan di dalam dunia ini... Ah, mungkin kamu tidak percaya perkataanku. Nanti aku pilihkan diantara kamu, buat dijadikan contoh, untuk kamu saksikan "

Pikir Siauwpek. "Ancaman begini mana ada hasilnya? Mana merekat takut? jikalau arak beracun itu dapat dipakai membuat orang takluk dan menuruti kenapa mereka tak mau dipaksa dicekoki saja?"

Selagi anak muda itu berpikir, terdengar suara nyaring si nona, suara yang berwibawa. "Bawa kemari orang berbaju kuning itu"

Oey Eng dan Kho Kong segera menyahut, dan segera juga mereka menggusur si baju kuning itu ketengah rumah bilik. Masih Soat kun berada dibelakang orang orang berseragam merah itu akan tetapi ia ketahui segala sesuatu karena isyarat Soat Gie.

"Saudara, maafkanlah" terdengar suara sinona kepada si baju kuning itu. "Kaulah seorang tongcu ketua suatu bagian, diantara orang orang mu ini, kedudukanmu paling tinggi, maka itu paling baik kaulah yang lebih dahulu merasakan sarinya arak beracunmu.."

Mendadak orang itu tertawa.

"Baru satu cawan arak beracun. Apakah artinya?" katanya hambar. "Mari"

"Siapa tahu selatan dialah seorang gagah " berkata si nona. "Berikan dia satu cawan"

Kho Kong maju, untuk mengambil satu cawan dan dibawa kepada orang tawanan itu, bawa cawan keluar kebibir orang itu.

Kecuali Soat kun dan Soat Gle, tak ada seorang lain yang mengetahui apa isi cawan itu. Si baju kuning setelah arak masuk ke dalam perutnya, mendadak paras mukanya berubah, mendadak pula dia tertawa berkakak

"Totok otot gagunya" sinona memerintahkan Oey Eng maju melaksanakan perintah itu.

"Habis apa lagi, nona?" tanya dia. "Biarkan dia rebah tidur dahulu."

Oey Eng dan Kho Kong tidak tahu maksud mereka sinona. mereka menurut. Sibaju kuning lantas direbahkan. Dia tak berdaya. dia diam saja cuma mulutnya seperti mau tertawa. tapi suaranya tak keluar. Totokan membuat dia tak berdaya dan bisu.

Setelah itu terdengar suara sinona: "Sekarang sudah tidak siang lagi. Urusan arak beracun ini suatu urusan kecil, tidak dapat menghalang-halangi usaha kita Nah, kamu siapkan jarum beracun itu, siapa tidak mau minum arak. segera tusuk jalan darahnya hwee imnya tanpa ampun lagi" Oey Eng dan Kho kong menjalankan perintah itu. Karena orang tetap tidak mau minum mereka menusuk jalan darah hwee im dari orang orang berseragam merah itu.

Hanya sebentar, semua orang itu segera mengeluarkan peluh dimukanya masing masing, makin lama makin banyak tetesan peluhnya mengucur jatuh, kemudian disusul basah kuyup pakaian mereka disebabkan bukan main banyak keringat yang keluar dari tubuh mereka

"Mereka mengeluarkan begini banyak peluh tentulah mereka haus sekali," pikir Siauw pek.

Tiba tiba terdengar satu orang berkata: "Mari arak beracun itu..." Suara itu sangat memilukan.

Sekarang ini semua orang itu pada mengeluarkan darah dari mulutnya. Teranglah bahwa mereka sangat dahaga. Mungkin merekapun sangat lapar. Jangan kata orang habis minum racun, baru kelaparan dan kehausanpun dapat membuat orang mengeluarkan darah dari hidung, mulut atau telinganya.

Setelah suara orang yang pertama itu, segera yang lain lainnya turut minta arak beracun hingga suasana menjadi berisik sekali.

Sampai disitu Soat Kun berkata: "Sekarang ini telah sirna kejumawaan mereka, hingga tak lagi ada yang mengentang minum arak beracun. Kasihlah mereka minum, lalu totok otot gagu mereka, terus biarkan mereka tidur"

Oey Eng dan Kho kong menurut, mereka memberikan arak kepada semua orang. Selagi berbuat begitu, mereka tak tahu maksud Nona Hoan juga Giok Yauw heran seperti Siauwpek tak  tahu apa apa. Maka itu mereka hanya menerka nerka.

Habis minum arak dan ditotok. semua orang berseragam merah itu pada tidur nyenyak.

Selama waktu yang diliwati itu Siauwpek merasa tubuhnya segar. saking segarnya, tak dapat ia bersabar lagi. "Nona Hoan," tanya nya "mereka itu tidur demikian nyenyak. adakah itu akibat arak?"

"Bukan Arak cuma membantu lebih nyenyak tidurnya mereka." "Apakah ini usaha nona, supaya habis tidur nyenyak^ setelah

terbangun mereka itu akan bagaikan bertukar isi perutnya dan tulangnya, hingga mereka suka diperintah oleh kita?"

Nona itu berpikir.

"Memang ada apa ilmu yang dinamakan mencuci tulang. Itu adalah ilmu tenaga dalam dari kaum Rimba Persilatan Usahaku ini bukanlah ilmu mencuci tulang itu tetapi hasilnya tak berbeda..."

"oh, begitu" kata siauw Pek kagum.

Soat Kun menghela napas perlahan Ia berkata pula. "Aku telah berusaha, nampaknya baik, entah bagaimana kesudahannya nanti, tak berani aku memastikannya. Kita lihat saja sebentar apabila mereka sudah tersadar..."

"Bagaimana andaikata mereka tak jadi sebagaimana yang kuharapkan?"

"Jikalau gagal, gagal pula ilmu ketabibanku " kata si nona.

"Dan bagaimana apabila nona berhasil sebagaimana rencana nona ?"

"Setelah tidur nyenyak. apabila mereka nanti tersadar, mereka akan sehat walaftat seperti sediakala, karena racun dalam tubuhnya telah dapat dimusnahkan seluruhnya. Waktu itu aku hendak memberi penjelasan dan nasehat kepada mereka, agar mereka sadar, supaya mereka sudi bekerja sama kita, untuk mereka membantu ke bengcu. Dan itu artinya, tenaga kita mulai lumayan " kata si nona.

"Bagaimana andaikata mereka menolak ?" Siauw Pek bertanya pula. Ia selalu ragu-ragu. "Setelah kita berusaha begini rupa tapi masih gagal juga, terpaksa kita mesti binasakan mereka." menjawab si nona. "Membinasakan mereka bukannya berarti berdosa besar. Mereka jahat, mereka tak dapat diperbaiki, kalau mereka dibebaskan, mereka bakal melakukan lebih banyak kejahatan pula. Aku telah memikir, apabila kita gagal, aku mesti pakai satu cara lain lagi, untuk memaksa mereka menuruti kehendak kita."

"Bukankah nona, setelah nona musnahkan racun mereka, lalu nona memasukkan pula lain macam racun kedalam tubuh mereka itu?"

"Begitulah kiranya, Hanya, selain menggunakan racun, masih ada daya lainnya."

"Bagus Sekarang, dalam keadaan seperti kita ini, segalanya terserah kepada nona"

"Hambamu menerima perintah, bengcu." sahut si nona hormat.

Si anak muda melengak.

"Bagus" pikirnya. "Suaranya ini menyatakan bahwa selanjutnya, dalam urusan apa juga, tak usah aku campur tangan lagi..."

Tak berani si anak muda mengutarakan apa yang ia pikir itu. Ia melihat sifat si nona tampak makin nyata, bahwa dia tak selembut semula lagi, bahwa tindakannya makin ketat makin keras.

Ruang sunyi beberapa lama, tapi segera dipecahkan oleh si baju kuning. Dia terbangun untuk terus memperdengarkan tarikan napas panjang serta empat anggota tubuhnya bergerak perlahan.

"Dia mulai tersadar" kata Oey Eng yang waspada, agak terkejut. "Bebaskan totokannya" menitah si nona. Pemuda she Oey itu

melongo dibuatnya.

"Jalan darah apakah?" dia menegaskannya. "Semua jalan darah yang tadi ditotok" Kembali si pemuda melengak. Dia tak mengerti. "Tapi, kalau dia tak sudi tunduk?"

"Tidak apa," berkata si nona menjelaskan, "Didalam waktu setengah jam, dia tak akan mempunyai tenaga untuk berkelahi."

siauwpek mendengarkan pembicaraan itu, ia tidak mau campur bicara, hanya diam diam ia menyiapkan diri, tangan kanannya diletakkan pada gagang goloknya Inilah sebab ia tahu si baju kuning liehay sekali dan Oey Eng berdua Kho Kong bukanlah lawannya. Ia telah mengambil kepastian, asal sibaju kuning mengamuk. ia akan terpaksa menggunakan goloknya guna mencegah risiko yang tak diinginkan. Ia akan melupakan bahwa dirinya tengah terluka parah.

Soat kun telah menunjukkan kewibawaannya. Oey Eng tidak berani menentang perintah itu, ia membebaskan totokan kepada si baju kuning.

Kalau tadi sibaju kuning menggerakkan tubuhnya secara  perlahan sekali, sekarang dia dapat bergerak lebih leluasa, maka juga tampak dia bergerak untuk duduk dan kedua matanya dibuka lebar-lebar, melirik kesekitarnya. Dengan perlahan, ia terus bangkit untuk bangun berdiri.

"cobalah kau kerahkan pernapasanmu, atau tenaga dalammu," Nona Hoan berkata hambar pada orang tawanan itu. "coba lihat, semua racun didalam tubuhmu sudah musnah seluruhnya atau belum..."

si baju kuning sudah berpikir untuk membuka mulutnya berbicara, mendengar suara si nona, ia membatalkan niatnya itu. Segera dipejamkannya kedua matanya dan berdirinya ditegakkan.

"Nona, bagaimana kau ketahui aku telah minum racun?" tanyanya.

si nona menjawab, dingin: "Jikalau aku tidak tahu kau telah minum racun, mana dapat aku memberikan kau obat pemunahnya?"

si baju kuning mengangguk. "Aku tahu sekarang, Arak nona itu bukan arak beracun, itulah justru arak untuk memunahkan bisa" Soat Kun tidak mengiyakan, juga tidak mengangguk. Sebaliknya ia berkata tenang^

"sekarang ini racun jahat didalam tubuhmu sudah dipunahkan dan semua totokan atas dirimu sudah dibebaskan. jikalau kau hendak berlalu dari sini, inilah saatnya yang paiing baik " katanya

si baju kuning melihat kesekitarnya. "Diluar gubuk ini masih ada tin yang luar biasa," ia berkata. "Walaupun aku memikir buat mengangkat kaki, tak tahu aku bagaimana jalannya untuk keluar dari dalam barisanmu ini "

"Kau pandai melihat kenyataan, tuan"

Si baju kuning mengawasi puluhan orangnya yang tengah tidur dengan nyenyak itu.

"Pastilah mereka ini telah kau tawan hidup,hidup setelah mereka menyerbu tin," katanya sambil menunjuk orang-orangnya itu.

Nona Hoan tetap tidak menjawab, hanya dia berkata^ "Tuan, sekarang ini kau masih menghadapi soal mati atau hidupmu, tapi toh kau menanyakan urusan lain orang, takkan kau merasa bahwa kau bertanya terlalu banyak?" Dan si baju kuning melihat pula keempat penjuru, lalu ia tertawa,

"Nona, kau telah memunahkan racun didalam tubuhku kau juga membebaskan aku dari totokan, bukankah itu karena ada maksudmu?" dia bertanya.

"Benar" sahut sinona tawar. Ia pun tertawa.

"Entah dapat atau tidak nona mengutarakan maksud itu untuk kudengar ?"

"sekarang tolong kau beritahukan dahulu she dan namamu " "Jikalau aku beritahukan she dan namaku, mungkin kau tidak

tahu." sahut sibaju kuning. "Itulah urusan dari dua puluh tahun

yang lampau." "Kau sebutkan saja. Asal kau menyebutkan nama orang, pasti loohu kenal semuanya" demikian menyela satu suara yang dalam dan mantap.

Agaknya sibaju kuning terperanjat. Ia segera menoleh, Maka tampaklah Ban Liang tengah mendatangi dengan tindakan lebar.

Setelah mengawasi jago tua itu, si baju kuning berkata dingini "Lo ciu Lao " Itu artinya "ciu situa, siJenjang Kuning."

Sepasang mata si jago tua dipentang lebar lebar, dia menatap muka sibaju kuning itu. Masih agak heran dia bertanya: "Tuan, jadinya kaulah Oey Ho ciu ceng ciu Tayhiap dahulu hari itu ?"

Sibaju kuning menjawab dingin: "Bagaimana ? Apakah kau kurang perCaya ?" Ban Liang menggeleng-geleng kepala.

"syukur orang perCaya," sahutnya.

"Kenapakah ?" tegas sibaju kuning itu, yang bernama ciu ceng, sedang gelarnya ialah Oey Ho, siBurung Jenjang Kuning.

Tay-hiap, orang gagah yang terkenal, adalah kata kata panggilan dari Ban Liang terhadapnya.

Ditanya begitu, si jago tua menjawab: "ciu ceng menjadi orang gagah disatu jaman, didalam dunia Kang ouw, setiap orang menghormatinya, tapi adakah jago tua itu mirip dengan tuan sekarang ini ?"

ciu ceng menjadi tidak senang. Dia gusar. "Pernahkah kau melihat ciu ceng ?" tanya nya keras.

"Belum penah aku bertemu dengannya, tetapi namanya telah kudengar lama "

"Jikalau kau belum pernah melihatnya, kenapa kau berani mengatakan loohu bukannya Oey Ho ciu ceng?" bentak sibaju kuning. sebelum menjawab, Ban Liang tertawa terbahak-bahak.

"Jikalau kau benar ciu ceng jago yang termasyhur itu, kenapa sekarang kau mau diperintah orang hingga kau menerbitkan malapetaka bagi Rimba Persilatan ?" Itulah pertanyaan yang berbau ejekan-Mendadak saja ciu ceng tunduk. mulutnya bungkam. Baru sekarang Oey Eng campur bicara.

"Tak peduli tuan benar Oey Ho ciu ceng atau bukan," katanya tenang, "tetapi melihat sikap tuan sebagai orang gagah, aku heran, kenapa tuan dapat tenggelam didalam kalangan hantu yang sesat itu ?"

ciu ceng tak menjawab sianak muda. Ia hanya mengangkat kepala memandang Ban Liang.

"Kau siapakah tuan?" tanyanya perlahan-

"Seng Su Poan Ban Liang" sahut si jago tua sabar. si baju kuning mengangguk.

"Pernah aku dengar nama tuan itu," katanya.

Soat Kun yang sejak tadi berdiam saja, terdengar menghela napas, lalu disusul dengan kata katanya ini^ "Dalam urusan ini dia tak dapat disesalkan. Dia telah ketahui bahwa dia berbuat karena terpaksa, seorang Kang ouw yang namanya tersohor, mana dia sudi membiarkan dirinya diperintah orang walaupun dia menyembunyikan she dan namanya ?"

ciu ceng bagaikan tak mempedulikan kata kata nona itu, dia memandang pula rombongan seragam merahnya, setelah mana dia menarik napas panjang.

"Tuan tuan, harap kamu tidak memandang ringan kepada jago jago pedang berseragam merah ini," katanya. "sebenarnya sebelum mereka memasuki seng kiong, mereka adalah jago jago berkenamaan ditempatnya masing-masing"

"Itulah urusan mereka sendiri," berkata Soat kun menyela. "Sekarang baik kita bicara dari hal kau sendiri, ciu tayhiap."

Meneladani Ban liang, nona itupun memanggil "tay hiap" kepada orang tawanannya ini. "Aku tak punya urusan apa-apa lagi..." sahut siJenjang Kuning. "sekarang ini tuan berniat melakukan apa?"

"Nona rupanya menjadi pemimpin disini?" tanya dia.

"Tay hiap menerka keliru," berkata sinona, tersenyum. "Aku cuma menjadi pembantu saja. Ketua kami Kim too bengcu, adalah lain orang." Mata ciu ceng memain, melihat kesekeliling.

"Kim too bengcu?" tanyanya agak heran, "Belum pernah aku mendengarnya"

"Ketua kami berhasil mendapatkan ceng Gi kimtoo," Nona Hoan menjelaskan, "maka ia hendak menjalankan keadilan guna melindungi Rimba Persilatan, guna mencegah keambrukan untuk membebaskan rekan rekan seperjuangan maka jikalau kita yang terhitung orang orang Rimba Persilatan, sudah seharusnya kita menunjang dan mendengar perintahnya. Dengan jalan itu kita menolong diri sendiri berbareng menolong orang banyak" Mendengar demikian, mendadak ciu ceng tertawa berkakakan.

"Apakah yang begitu meng gembira kan hingga tayhiap menjadi begini girang dan tertawa lebar?" Soat kun bertanya.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 29"

Post a Comment

close