Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 41

Mode Malam
JILID 41

"Aku tak bakal mati" sahut si anak muda singkat. "Apakah Siecu perlu bantuan loolap untuk berjalan?" "Terima kasih, tak usah"

Berkata begitu, Siauw Pek memegang tangan Ban Liang. Ia bangkit dengan perlahan sekali untuk berdiri.

"Dimanakah letak penjara itu?" ia bertanya, "tolong antarkan kami."

Su Kay memutar tubuhnya.

"Silahkan Siecu turut kami," katanya, "penjara itu berada didalam ruangan Kay Sie Ih."

Siauw Pek beramai mengikuti kedua pendeta itu.

Su Ie berjalan paling belakang. Mereka melintasi dua buah halaman dalam, baru mereka tiba diruang Kay Sie Ih. Di muka pintu terlihat papan mereknya yang berhuruf besar dan diberi warna air emas. Disini Su Kay mendahului bertindak memasuki pintu, untuk menuju kebagian belakang.

"Itulah dia rumah batu" berkata ia sambil menunjuk sebuah bangunan. "Itulah penjara batu dari kuil kami."

Siauw Pek mengawasi tajam, terus ia memandang Su Kay. "Aku mohon bantuan taysu" katanya.

"Asal yang loolap sanggup, Siecu."

"Selama kami berdiam didalam rumah batu ini, kami minta taysu tolong menyediakan keperluan bersantap dan minum kami."

"Jangan kuatir, Siecu. Akan loolap pesan tukang masak." Siauw Pek memberi hormat.

"Terima kasih" katanya. Lalu terus ia mendahului memasuki rumah batu itu. Han In taysu semua mengikuti ketuanya itu.

Su Kay menutup pintu, lalu ia menekan pesawat dibagian luarnya, maka jatuhlah sebuah batu besar menghadang dimuka pintu itu. Keras suara jatuhnya batu itu. Didalam kamar, Siauw Pek melihat kesekitarnya. Kecuali daun pintu, semua dinding terdiri dari batu hijau.

"sekarang baik baiklah kita beristirahat" berkata Soat Kun. Semua orang kemudian memilih tempat untuk duduk bersemadhi. Sesudah lelah habis bertempur, inilah kesempatan untuk memelihara diri. cuma Han In seorang yang tak terganggu keletihan, karena tenaga dalamnya telah mencapai puncak kemahiran.

Berselang kira kira satu jam, Siauw Pek yang sadar paling  dahulu. Ia memandang keseluruh ruang.

Ban Liang orang yang kedua yang menyusul tersadarnya ketuanya itu.

"Menurut kata nona Hoan"jago tua itu kata pada si anak muda, suaranya sangat perlahan, "bengcu telah bertaruh dengan para tiangloo dan telah kalah, benarkah itu?"

"Benar" Sahut Siauw Pek Selang sedetik.

"Thian Kiam dan Pa Too menjadi ilmu Silat yang luar biasa istimewa, mungkinkah pendeta pendeta dari siau Lim Sie dapat memecahkannya?" tanya pula si jago tua.

Pertanyaan itu menyulitkan Siauw Pek. Ia berdusta untuk menolong mUka Siauw Lim Sie. Kalau ia mengiakan Ban Liang, ia membuka rahasia, percuma ia berpura pura. Kalau ia menyangkal, tak puas ia terhadap dirinya sendiri. Dilain pihak, ia mau menerka, kecuali Su Kay, juga Su Khong tentulah sudah bercuriga atau mencurigai kekalahannya itu. Dan yang terutama, ia malu sekali kalau ia meruntuhkan nama besar Kie Tong dan Siang Go, kedua gurunya itu.

Tengah anak muda ini bersangsi, ia mendengar suara berkelotek pada pintu. Segera ia mengangkat kepala, disitu ia mendapatkan lubang kecil persegi. Ia segera mendengar suara Su Kay Taysu

"Siecu sekalian, inilah barang santapan Loolap sendiri yang memiliki koki memasaknya dan loolap juga sudah mencicipinya. Silahkan makan, jangan kuatir apa apa." "Terima kasih" berkata Siauw Pek, yang terus ingat Ciu ceng, maka segera ia berkata: "Taysu, ada satu urusan buat mana aku mohon pertolonganmu."

"Apakah itu, Siecu?"

"Diantara kawanku ada seorang bertubuh besar yang telah terkena racun. Dia berjanggut bajunya kuning, romannya gagah, karena terkena racun, dia tak sadarkan diri, tetapi dia belum putus jiwa. Kalau bisa, aku mengharap bantuan taysu melihat dan menolongnya."

"Tentang itu, loolap tidak tahu," sahut Su Kay. "Nanti loolap cari tahu dahulu, baru loolap akan memberi kabar."

"Terima kasih taysu" Siauw Pek mengucap pula. Ia menyambut barang makanan itu, untuk terus bersantap bersama-sama.

Su Kay baru berlalu sesudah orang makan cukup dan ia membawa pergi sisanya. Ia menutup pula liang dipintu itu, yang berupa seperti jendela. Sebagai seorang berpengalaman, Ban Liang bisa melihat sikap su Kay itu. Maka ia berkata pada ketuanya.

"Siauw Lim Sie itu memperhatikan keperluan kita, mungkin ada sebabnya."

Mendengar kata kata jago tua itu Siauw Pek berkata didalam hatinya. "Aku mengalah, aku berbuat baik terhadap kesembilan tianglo, mungkin kebanyakan dari mereka itu telah mengerti duduk halnya."

Ban Liang tidak memperoleh jawaban, ia berkata seorang diri: "Pendeta pendeta dari Siauw Lim Sie ini lihay akan tetapi aku sangsi mereka dapat bertahan dari golok Pa Too dari Slang Go, walaupun dalam satu gebrak saja Atau paling sdikitnya mesti ada beberapa diantaranya yang terbinasa dan terluka. "

Siauw Pek menguasai dirinya, ia tidak menjawab.

Ban Liang batuk batuk perlahan, terus dia berkata pa da Han in Taysu "Taysu, kalau diantara beberapa tiangloo Siauw Lim Sie itu ada satu saja yang terbinasakan Thian Kiam atau Pa Too, tak nanti mereka perlakukan kita begini baik "

Ketua Ngo Bie Pay itu cuma tersenyum, dia tidak menjawab. Han in Taysu bercacat kaki dan muka, roman mUkanya tak sedap untuk dipandang, bahkan suaranya juga tidak "merdu", akan tetapi sesudah orang berkumpul sekian lama dengannya dan mengetahul sifatnya, semua orang menyukai dan menghargainya. Semua orang berkesan baik terhadapnya. Soat Kun mendengarkan pembicaraan itu, atau lebih benar pembicaraan Ban Liang seorang diri, dan Siauw Pek terus tidak menjawab, ia mengerti si anak muda berada didalam kesulitan, maka itu, ia segera memperdengarkan suaranya: "Siauw Lim Sie berlaku baik pada kita mungkin disebabkan mereka menghormati kegagahan kita serta kepandaian bengcu. Didalam pertempuran didalam ruang Hud kok itu walaupun bengcu kalah tetapi dia kalah dengan terhormat."

"Nona, sudikah kau menuturkan kepadaku jalannya pertempuran itu?" tanya Ban Liang, yang hatinya tetap penasaran. "Sungguh aku si orang tua tidak percaya kalau pihak Siauw Lim Sie dapat memecahkan Thian Kiam dan Pa Too, tanpa ada salah satu orangnya yang terbinasa atau terluka. "

"Sayang  aku  tidak  dapat  melihat  jalannya  pertempuran  itu. "

sahut Soat Kun. Ia diam sejenak. baru ia menambahkan. "Karena bengcu mengaku sudah kalah dan kitapun telah masuk kedalam penjara ini, aku pikir, baiklah perkara itu tak usah dipersoalkan lagi."

Kata kata itu dapat membuka hati Ban Liang, tidak demikian dengan Oey Eng dan Kho Kong, juga Giok Yauw. Mereka ini tetap curiga.

"Kenapa bengcu mengaku kalah?" tanya sinona yang hatinya keras. Dia "nakal" tetapi jujur, dia bisa menguasai dirinya sendiri. Soat Kun tersenyum.

"Sudahlah, kita jangan bicarakan pula soal itu....." katanya. Ia berhenti sebentar, lalu ia melanjutkan. "Pihak Siauw Lim Sie mengurung kita disini, bagi kita, itu mungkin ada untungnya tidak ada ruginya."

"Bagaimana begitu?" tanya Nona Thio heran. "Apakah nongkrong didalam penjara ada suatu hal yang menggembirakan?"

"Memang bukan hal yang menggembirakan, tetapi kita harus memikir kefaedahannya," Soat Kun menjawab.

Siauw Pek batuk batuk. ia tertawa perlahan. Lalu katanya: "Baiklah kita jangan bicara seenaknya saja. Penjara ini tempat  Siauw Lim Sie mengurung murid muridnya yang bersalah. Siapa tahu kalau didalam sini dipasang juga pesawat rahasia, untuk mendengarkan pembicaraan orang2 tahanan? Baiklah kita membatasi diri."

"Itu benar" berkata Giok Yauw keras. "Nah mari kita periksa" Ia pun segera berlompat bangun, untuk lompat kesebuah pojok. Siauw Pek tersenyum.

"Tak usahlah kita periksa" katanya. "Kita membatasi diri saja."

Mendengar kata kata si ketua, Han In Taysu mengawasi muka orang. Ia kagum terhadap anak muda ini, yang hatinya terbuka. sebab didalam kurungan dia tetap gembira.

Dalam heningnya semua orang, Siauw Pek berkata pula: "Nona Hoan, bukankah kau telah mengatakan bahwa menggunai saat ketika beristirahat ini, kau berniat mengajari beberapa rupa ilmu warisan guru nona kepada saudara saudara kita?"

"Memang demikianlah pikiranku," sahut Soat Kun.

"Kesempatan sebagai ini jarang terdapat, kenapa nona tidak mau mengajari kepada kami?" kata pula sianak muda, yang mendesak secara halus.

"Bengcu benar," sahut sinona. Kho Kong terbangun alisnya. "Benarkah nona hendak mengajarkan ilmu kepada kami?"

tanyanya. Dia bagaikan menagih. Nona Hoan tersenyum, dia mengangguk. Katanya: "Siapa menanyakan ilmu, ada yang datang lebih dahulu, ada yang datang belakangan segalanya terserah kepada ketekunan saja. Dan ilmuku ini. "

Tanpa menanti orang bicara habis, Oey Eng sudah melompat bangun, dia terus memberi hormat kepada sinona seraya berkata: "Nona jangan sungkan, Marilah Oey Eng mohon petunjukmu"

"Tak dapat kau sendiri, saudaraku" seru Kho Kong yang juga lompat berjingkrak. Dia memang tak sabaran. Nona Hoan tertawa.

"Siapa belakangan, siapa duluan, sama saja" Katanya sabar. Ia tunduk berpikir, kemudian ia berkata pula "Aku mempunyai dua jurus ilmu pedang. Mari aku ajari dahulu Oey Huhoat, Kho Huhoat, silahkan bersabarlah sebentar"

Kho Kong menurut, akan tetapi didalam hatinya ia berkata "Ah, cuma dua jurus terlalu sedikit" Terus ia pergi kepojok untuk duduk bersila. Soat Kun bangkit.

"Oey Huhoat, tolong pinjamkan pedangmu"pintanya. Oey Eng menghunus pedangnya, dengan kedUa belah tangannya, ia mengangsurkan. Ia berlaku hormat walaupUn sinona tak melihatnya. nona Hoan menyambuti pedang sambil terus berkata: "Namanya saja ilmu pedangku dua jurus sebenarnya cuma satu. Bedanya ialah selain dapat maju menyerang dan mundur menjaga, diantaranya terdapat perubahannya."

Mendengar itu perhatian Oey Eng jadi semakin tertarik. Ia berpikir, kalau hanya satu jurus, tentulah perubahannya istimewa. Beda dari Kho Kong yang berpikir pendek. ia tidak menyayangi akan sedikit jurus itu. Soat Kun segera mencekal erat erat pedang dengan tangan kanannya dan tangan kirinya diletakan diatasnya, sesudah itu, ia memasang kuda kuda, untuk mulai bersilat, hanyalah gerakannya sangat perlahan.Mulanya ia menggerakkan pedangnya kearah timur selatan. "Ingat, inilah gerakan yang pertama" katanya.

"Aku ingat nona," sahut pemuda. Soat kun menarik kembali pedangnya, untuk mulai lagi.

"Ingat baik baik" katanya. Sekarang dia mulai bersilat, pedangnya dinaikkan dan diturunkan-

"Aku ingat" si anak muda menjawab pula.

Nona itu lalu bersilat terus, sabar dan tenang. Hanya kemudian, mendadak sinar pedangnya berkeredepan cepat.

"Bagus" Siauw Pek berseru ketika ia melihat perubahan gerakan itu.

SEdangkan tadinya ruang sunyi senyap sebab semua perhatian diarahkan kepada si nona serta gerak geriknya.

Soat Kun berhenti bersilat, sambil tersenyum ia berkata kepada Oey Eng. "Huhoat, inilah perubahan yang kedelapan. Ingatkah kau?"

"Mungkin," sahut si anak muda yang bermandikan peluh pada dahinya. orang lain yang bersilat, ia yang berkeringatan. Itulah sebab ia menaruh perhatian sepenuhnya, dia menggunakan mata dan otaknya.

Ban Liang yang kagum seperti Siauw Pek menanya "Nona,  berapa banyakkah jumlah perubahannya ilmu pedang ini?"

"Menyerangnya enam belas perubahan" sahut nona Hoan, "dan pembelaannya dua puluh satu. Tentang kefaedahannya itu tergantung kepada latihan."

"Jikalau orang telah melatihnya sempurna, inilah ilmu pedang yang istimewa," berkata pula Siauw Pek. "Penyerangannya hebat, pembelaannya kokoh kuat."

Soat Kun tersenyum.

"Nona," berkata Oey Eng, "aku hendak mulai berlatih, aku kuatir aku nanti lupa."

Kembali si nona tersenyum. Ia mengangsurkan pedang ditangannya. "Terima kasih nona" berkata Oey Eng yang menyambut dengan hormat, seperti tadi diwaktu menyerahkannya.

Soat Kun lalu mundur, maka anak muda itu terus menggantikannya.

Oey Eng bergerak dengan perlahan, sebab ia sambil mengingat ingat, meski begitu diwaktu menikam, menabas atau menangkis, ia menggunakan tenaganya, hingga pedangnya itu memperdengarkan hembusan anginnya.

Nona Hoan mengawasi "murid" itu dengan bantuan telinga serta kisikan Soat Gie. Dari hembusan angin ia bisa tahu gerakan keliru atau kurang tepat.

Maka itu, beberapa kali ia memberitahukan si anak muda dimana kekeliruannya.

Dengan banyak susah, dengan meminta waktu, akhirnya Oey  Eng bisa juga menjalankan delapan perubahan itu dengan baik, hingga hatinya menjadi lega.

Nona Hoan puas, katanya "Kau belajar cukup cepat. Oey Huhoat.

Selanjutnya, itu bergantung kepada latihanmu"

"Banyak terima kasih, nona" si anak muda mengucap pula. "Apakah ilmu pedang ini ada namanya?"

"Ada, nama lengkapnya adalah Hong Lui It Kiam." sahut si nona. "Penyerangannya disebut Lui Tiam Kauw Kee dan pembelaannya Hong In Su Hap."

Sampai disitu, Kho Kong mengajukan diri.

"Nona, sekaranglah giliranku" katanya sambil ia mengunjukkan hormat.

Soat Kun tersenyum. ia berpaling kepada Oey Eng dan berkata: "Hari ini sampai disini dulu. Pergilah kau beristirahat. Baik kalau kau dapat menggunakan pikiranmu memahami pelbagai perubahannya itu." "Baik nona" kata Oey Eng. "Semoga aku tak menyia nyiakan harapanmu ini."

Habis berkata, anak muda ini mengundurkan diri.

"Nona," berkata Kho Kong, "senjataku ialah sepasang poan koan pit, apakah nona dapat mengajari aku sesuatu yang hebat?"

Ban Liang tersenyum. ia anggap sisembrono jenaka.

"Nona Hoan sudah mengijinkanmu, mustahil ia akan menarik kembali kata katanya?" katanya. "Kenapa kau begini tak sabaran? Biarkanlah nona Hoan beristirahat dahulu"

Kho Kong tertawa.

"Locianpwe benar" katanya. Maka ia mundur pula, untuk duduk kembali. Siauw Pek menoleh kepada Oey Eng. ia mendapatkan anak muda itu duduk diam, matanya dipejamkan tetapi mulutnya kemak kemik, sedangkan dahinya penuh peluh. Teranglah pemuda itu tengah mengingat ingat ilmu silatnya yang baru itu.

"Nona. " berkata ketua ini perlahan.

"Ya bengcu, Ada apakah titahmu?" si nona menyahut, perlahan juga.

"Hong Lui It Kiam bagus sekali nona, dan tak kalah dari Tay Pie Kiam hoat," kata ketua itu. "Guru nona lihay luar biasa, sayang ia tak panjang usianya, coba ia masih hidup, mestinya dialah orang gagah yang utama"

"Bengcu memuji terlalu tinggi," kata sinona merendah. "Memang kepandaian guruku tak kecewa, tetapi suhu sendiri pernah mengatakan kepadaku bahwa bakatnya ada batasnya, hingga ia tak dapat maju lebih jauh."

"Tapi nona telah mewarisi dengan baik sekali, nona dapat melanjutkan cita citanya, sehingga tak usahlah guru nona merasa kecewa."

Tapi nona itu menggeleng kepala. "Sayang kamipun tidak dapat berbuat apa apa," katanya pula. "Kami mempunyai cacat sendiri sendiri. "

"Tak usah menyesal atau kecewa, nona. Sejak dahulu tak kurang orang pandai yang bercacat juga. "

"Bengcu benar akan tetapi keadaan kami lain Memang pernah suhu mengajari kami ilmu silat, tetapi kemudian, ia tukar itu dengan ilmu surat, tentang pengobatan dan siasat perang. Kalau toh kadang kadang kami bersilat juga, suhu tidak mencegah. Inilah sebab ilmu silat kami sangat terbatas. Suhu pernah menghiburi agar kami tidak kecewa. Katanya, langit itu ada waktunya jernih dan suram, dan rembulan ada bundarnya ada sisirnya. Demikian seorang manusia, tak dapat dia sempurna sepenuhnya "

"Jikalau demikian nona" turut bicara Ban Liang, yang sejak tadi berdiam saja, "asal nona suka mengingat ingat, kau tentu dapat memahami satu atau lebih ilmu silat lainnya."

"Bicara sejujurnya, locianpwe, benarlah seperti kata loocianpwe itu," Nona Hoan mengakui. "Kelemahanku ialah aku tidak dapat ingat lagi semua ajaran suhu kecuali kalau akupunya waktu untuk memikirkannya."

"Apakah Hong Lui It Kiam itu baru saja teringat?" tanya Siauw Pek.

"Tidak. Aku ingat itu sejak lama."

"Nona, sungguh hebat gurumu itu" Han in taysu yang turut bicara juga.

"Dengan demikian, dialah ahli surat yang juga ahli silat yang lihay"

"Memang benar demikian, taysu. suhupun pernah merundingkan tentang Thian Kiam dan Pa Too. "

"Apakah kata gurumu itu, nona?"

"Suhu berkata dua dua kepandaian itu lihay, hanyalah cacat Tay Pie Kiam hoat terlalu lunak. lemah mirip hati wanita." "Inilah benar," pikir Siauw Pek. "Thian Kiam dapat melayani lawan sedikit atau banyak tetapi sulit memutuskannya."

"Dan Pa Too," si nona meneruskan. "suhu bilang itu terlalu keras, andaikata ada orang yang dapat berkelit dari serangannya, mungkin serangan pembalasannya tak dapat ditangkis lagi atau dielakkan."

"Ah, inilah lain," pikir si anak muda." Belum pernah aku mengalami kegagalan Pa Too." Lalu ia utarakan kesangsiannya itu.

"Bagaimana dengan pandangan bengcu?" tanya si nona.

"Pa Too hebat dan tak memungkinkan orang menentangnya." "Ada kemungkinannya, Bengcu. Suhu pernah membicarakan

kemungkinan itu."

"Benarkah itu nona?"

"Jikalau bengcu tidak percaya, suhu pernah mengajari aku bagaimana harus melawannya."

"Kalau begitu, bagaimana andaikata aku ingin mengetahuinya?"

Siauw Pek jadi tertarik hati, ia bangkit. "Benar nona ingin mencoba?"

Soat Kun bangkit perlahan lahan, iapun tersenyum. "Kepandaianku sangat terbatas, harap bengcu menaruh belas

kasihan," katanya.

Segera setelah ia berlari dan mengucapkan kata katanya itu, Siauw Pek menyesal. Kenapa ia mau melayani sinona, ahli pemikir dan penunjangnya itu. Sekarang sudah terlanjur.

Ban Liang, Oey Eng dan Kho Kongpun tertarik perhatiannya tetapi berbareng khawatir, mereka pernah menyaksikan sendiri keampuhan Pa Too dari Siang Go itu, asal golok dihunus dan dipakai menyerang, pasti lawan terbinasa "Harap bengcu tak bersungguh sungguh," akhirnya sijago tua bilang. Siauw Pek mengangguk kepada jago tua itu, terus ia mencekal gagang goloknya.

"Nona, berhati hatilah" pesannya.

Soat Kun mengangguk. Kalau tadinya tangan kanannya selalu berada dibahu adiknya, sekarang ia menolak tubuh adiknya, ia berdiri seorang diri. la mengangkat dan merangkap kedua belah tangannya seraya berkata: "Silahkan mulai, bengcu"

Semua mata segera diarahkan kepada tangan ketua mereka. Mata Han in taysu tidak terkecuali. Seingatnya, belum pernah ia mendengar siang Go gagal dengan goloknya. Mau atau tidak, ia khawatir buat nona Hoan-sedetik itu, sunyi senyaplah penjara batu itu.

Sampai sekian lama unutk herannya banyak orang itu Siauw Pek tak menggerakkan tangannya. ia mencekal gagang golok, tetapi tangan itu berdiam, seperti tak bergemingnya tubuhnya.

"Bengcu" tanya Soat Kun "kenapa bengcu belum menghunus golokmu?"

Ketua itu menghela napas perlahan-

"Jikalau aku berkata nona, mungkin kau tidak percaya..." sahutnya.

" Kenapa kah bengcu?"

"Rasanya aku tak berdaya menghunus golokku ini...." Si nona berpikir.

"Mungkinkah bengcu kuatir melukai aku?" "Bukan, bukannya begitu pikiranku."

"Nah, cobalah bengcu pikirkan, apakah sebabnya itu. Mungkin disinilah terselip atau terbenam kemurniannya ilmu silat Siang Loocianpwe..." "sekarang ini nona" Siauw Pek mengakui, "aku bagaikan dianjurkan desakan gelombang untuk menghunus golokku ini, akan tetapi selagi aku memandang nona, tak ada dayaku untuk menghunusnya..."

Soat Kun berdiam, lalu dia mengangguk.

"Baiklah kalau begitu," katanya kemudian. "Sekarang tak usah kita lanjutkan percobaan kita ini."

Maka semua orang lalu pada duduk pula. Setiap orang memikir, tetapi tak ada yang membuka mulut. PAda pihak pria, semua mengagumisi nona, yang bagaikan mempunyai pengaruh luar biasa.

Satu hal diingat Siauw Pek, ketika dahulu ia diajari ilmu goloknya itu, Siang Go membuatnya bersemangat dan gusar, gusar seperti ia tengah menhadapi musuh besar atau orang jahat, sedangkan kalau ia tidak berkobar kobar kemurkaannya, tak dapat ia menggunakan senjatanya yang luar biasa itu. Sinona bukan musuh, juga bukan orang jahat, bahkan dialah seorang nona lemah lembut, inilah kemungkinan yang menyebabkan ia tak sanggup, tak mampu untuk turun tangan.

Semua orang duduk mengitari kedua nona Hoan-

"Nona, dapatkah kita berbicara?" kemudian Siauw Pek bertanya. ia berpikir keras, ia merasa heran, maka akhirnya tak sanggup ia berdiam saja terus terusan.

"Dalam hal apakah, bengcu?" tanya sinona. "Apakah bengcu heran aku yang lemah hendak mencoba Pa Too? Adakah bengcu menerka sesuatu?"

"Benar nona. Ada yang aku tidak mengerti."

"Ketika suhu hendak menutup mata, suhu pernah omeng pula tentang Thian Kiam dan Pa Too" berkata sinona. "Suhu mengatakan, Thian Kiam Lie Tong dengan ilmu pedangnya itu telah mengangkat namanya, sedang Pa Too dengan goloknya yang ampuh telah mengagetkan dan menggetarkan Bu Lim, dunia Rimba Persilatan Setiap orang Bu Lim mengharap harap Thian Kiam dan Pa Too bertemu dan bentrok. untuk mengetahui mana yang terlebih lihay, tetapi harapan itu sia sia belaka, Thian Kiam dan Pa Too selalu menghindarkan diri satu dari yang lain, keduanya tak suka melakukan pertempuran-"

"Itulah benar," berkata Ban Liang, "Loohu juga pernah memikir demikian-Bukankah kedua jago sama sama hidup disatu jaman? Kenapa mereka dapat tak bentrok? Maka itu selama puluhan tahun, itulah keanehan dunia Kang ouw"

"Hanya ada satu hal yang kaum Bu lim tak tahu," berkata sinona. "Sebetulnya Kie Tong dan Siang Go itu satu kali pernah bertempur juga..."

Mendengar itu, semua orang heran tak terkecuali Han In Taysu. "Bagaimana kau ketahui itu nona?" tanya Ban Liang setelah

hilang herannya.

"Duduk soalnya begini loocianpwee" sahut Soat Kun. "Pada suatu hari Thian Kiam Kie Tong datang berkunjung dan ia yang bicara sendiri dengan suhu. Kedua orang tua itu berbicara semalam suntuk. Suhu pernah menerima baik permintaan Kie Tong untuk memikirkan ilmu guna memecahkan Pa Too, hanya untuk itu Kie Tong diminta menjelaskan segala perubahan ong Too Kiu  Kiam serta kemahiran Toan Hun It Too yang asal dihunus pasti akan membinasakan lawan-"

"Apakah guruku mengatakannya kepada gurumu nona?" tanya Siauw Pek.

"Demikian adanya pastilah nona ketahui jelas rahasia Thian Kiam dan Pa Too itu."

"Garis besarnya susah, hanya bagian bagiannya yang tersembunyi, itu harus dipahamkan dengan seksama dengan ketekunan luar biasa."

"Karena nona telah mengenl baik Thian Kiam dan Pa Too, bersediakah nona menjelaskan sesuatu?" "PErintahkan saja bengcu"

"Tolong nona terangkan diantara Thian Kiam dan Pa Too, yang mana yang lebih bagus dan yang mana yang lebih buruk?"

Nona itu berpikir. "Sulit untuk menjelaskannya bengcu, karena masing masing memiliki rahasia kemahirannya sendiri sendiri. Suhu kata, Thian Kiam, Pa Too mempunyai kesempurnaannya separuh masing masing. Kekurangan Thian Kiam ialah kelebihan Pa Too, demikian juga sebaliknya. Suhu belum sampai menjelaskan pengaruh Pa Too saat dihunusnya, karena Pa Too dapat bersatu padu dengan hati sanubarinya orang yang memakai untuk menyerangnya."

Siauw Pek belum puas. Ia ingin tahu kepastiannya.

"sebenarnya siapa yang lebih tangguh. Thian Kiam atau Pa Too?" tanyanya pula.

"Sukar untuk mengatakannya bengcu. Ketika Siang Go menyerang, Kie Tong tidak binasa diujung goloknya itu. Tapi ketika Kie Tong menyambut serangan, dia bermandikan keringat, dia terluka didalam. Katanya luka parah sekali. Lalu anehnya, Kie TOng tidak tahu cara bagaimana dia menyambutnya, menangkis serangan golok ampuh itu. Ketika Siang Go melihat ia tidak mampu melukai Kie TOng, iapun tidak tahu Kie Tong telah terluka, ia menganggap ia sudah kalah, segera ia mengangkat kaki dan berlalu. Nah, dalam pertandingan itu, siapakah yang menang dan siapakah yang kalah?"

Siauw Pek tercengang, "melihat duduknya kejadian, nona Pa Too adalah yang lebih unggul."

"Jadinya menurut kalian Pa Too lebih lihay daripada Thian Kiam?" tanya si nona.

"Demikianlah juga pendapat loohu" Ban Liang turut bicara. "Mungkin kalian melupakan satu hal", berkata sinona, "serangan

Pa Too biasa dengan satu jurus. Dengan satu jurus, Kie Tong tidak terlukakan, jangan kata terbinasakan Itu artinya Siang Go sudah menggunakan seluruh tenaganya, toh ia tidak berhasil. Mengenai ini, aku mempunyai pendapatku. Bukankah kita cuma tahu Kie TOng terluka? Tapi bagaimana dengan Siang GO? Kenapa dia habis menyerang, karena kegagalannya itu lalu kabur pergi? APakah sebabnya? Aku melihat dua alasan "

Siauw Pek semua mengawasi nona itu.

"Aku menerka satu diantara dua: Pertama tama mungkin Siang Go telah mendapat luka dalam tubuh yang melebihi parahnya luka Kie Tong, dan yang

kedua tentunya Siang Go menganggap Kie Tong mempunyai kemampuan mengalahkan goloknya, dari itu dia buru buru mengangkat kaki."

Ban Liang mengangguk. "Pandanganmu luas nona" ia mengakui.

Soat Kun berkata lebih jauh. "Menurut suhu ong Too Kiu Kiam tentu mempunyai salah satu jurus yang dapat memecahkan Toan Hun It Too, atau sedikitnya yang dapat merintanginya. Hanya tentang itu, Kie Tong sendiri tidak mengetahuinya.Apa ang Kie Tong lakukan, selama bertanding itu, ia cuma membela dirinya, lalu tanpa merasa ia telah menggunakan jurusnya yang paling lihay itu memusnahkan serangan maut dari Pa Too."

"Itulah mungkin nona. Memang pada saat kematian, ada kalanya orang mendapatkan pikiran yang murni yang membuatnya diluar kesadarannya memperoleh daya untuk menghindarkan diri dari kematiannya itu."

"Itulah bukan soalnya taysu"

"Nah, bagaimanakah pendapat nona?" tanya Han in.

"Suhu pernah merundingkan soal ini, Kie Tong sangat menghargai suhu, setelah pembicaraan semalaman suntuk itu, kekagumannya terhadap suhu meluap luap. maka dengan jelas ia menuturkan tentang segalanya mengenai ilmu pedangnya itu. Sayangnya megenai Pa Too, ia tidak bisa memberi penjelasan yang memuaskan-"

"Bagaimana kemudian guru nona ketahui rahasia atau caranya memecahkan keampuhan Pa Too?" tanya Han in pula.

"Memikirkan soal itu, suhu menggunakan waktu tiga bulan ia sampai membuat peta dari gerak gerik ong Too Kiu Kiam diatas dinding tembok. Pada akhirnya suhu mendapatkan satu kemungkinan."

"Kemungkinan bukan satu kepastian nona"

"Itulah sebabnya taysu, karena aku masih ingat kemungkinan itu, baru aku minta bengcu mencoba menyerang aku. Maksudku tidak lain, hanya untuk mendapatkan bukti. Kalau aku berhasil itu juga hasilnya suhu, artinya telah kesampaian usaha suhu mencari jurus penakluknya Pa Too. Seumpama kemudian aku bisa bertemu dengan Kie Loocianpwe, dapat aku menyampaikan hasil percobaanku ini."

Siauw Pek berpikir, ia berdiam.

Tengah orang berdiam itu, hingga penjara menjadi sangat sunyi, dari luar terdengar pujian

"Amitabha Budha" Lalu liang jendelanya terbuka, Mulanya orang terkejut, baru kemudian hati mereka lega. Di mulut jendela tampak wajah tenang dari Su Kay Taysu.

"Ada apakah taysu?" Siauw Pek menyapa.

"suheng su Khong ingin bicara dengan Siecu beramai," sahut pendeta itu.

"Apakah bengcu dapat membagi waktu kalian yang berharga?" "Kami semua sedang terkurung, kami bagaikan daging ditempat

gantungannya" berkata si anak muda, "apakah kami bukan tinggal

menanti saja untuk dipotong diiris iris?" Su Kay menghela napas perlahan. "suhengku itu serta loolap sudah mengerti persoalannya," katanya.

"Bengcu, undanglah mereka datang..." kata Soat Kun perlahan.

Siauw Pek menatap Su Kay, tanya dia:

"Taysu berdua yang sudi datang kemari atau kami yang mesti pergi menerima pengajaran?"

Kembali pendeta itu menarik napas.

"Tentu saja suhengku yang akan datang menerima pengajaran disini" sahutnya

"Kalau begitu, tolong taysu mengundangnya"

Su Kay menurunkan penutup jendela, maka putus pula hubungan antara luar dan dalam penjara itu.

Kho Kong gusar atas datangnya sipendeta. ini disebabkan ia justru ingin sangat menerima pelajaran silat dari Soat Kun. ia bagaikan mengira melihat Oey Eng sedang rajin berlatih.

"Hai, pendeta bau" teriaknya. "Pagi tidak muncul, malam tidak datang, sekali nongol kau cuma mengganggu aku"

Siauw Pek semua tahu hati kawan itu, mereka pada tersenyum.

Nona Hoan berkata perlahan pada ketuanya:

"Su Khong Taysu menjadi pendeta tua dan beribadat, walaupun demikian tak dapat ia merusak nama baik Siauw Lim Sie, tetapi karena kau telah melindungi mukanya itu, maka sekarang ia mendapat perasaannya ini. ia sadar. Mau ia datang kemari, pasti ia akan membicarakan urusan mengenai rimba persilatan seumumnya. Karena itu bengcu, berhati hatilah kau melayaninya bicara."

Siauw Pek mengangguk.

"Kalau ada kata kataku yang kurang tepat, tolong nona ingatkan," pintanya. "sebenarnya aku ingin mengurangi bicara" berkata si nona. "Kalau bengcu menghadapi soal penting sekali, cobalah berpikir dengan seksama".

Baru habis mereka bocara, pintu penjara batu sudah terpentang. Kedua daun pintu terbuka dengan memperdengarkan suara keras dipintu, Su Khong muncul ditemani Su Kay. Perlahan tindakan kaki mereka itu. Siauw Pek bangkit, menyambut hormat.

"Taysu berdua silahkan duduk" undangnya. Su Khong membalas hormat.

"Maaf untuk perlakuan kami ini," sahutnya. Terus ia duduk bersila.

Su Kay duduk dibelakang kakak seperguruannya itu.

Siauw Pek mengawasi pendeta tua itu, ia mau bicara tapi bataL  ia sangsi akan mengucapkan apa. Dengan begitu, kedua belah pihak berdiam saja sekian lama.

Akhirnya Su Khong yang mulai membuka mulut. Langsung ia membicarakan persoalannya. Katanya: "Loolap telah memikir beberapa soal yang mencurigakan, maka itu loolap sengaja datang kemari untuk memohon pengajaran."

"Maaf taysu" sahut Siauw Pek merendah.

"Ada titah apakah dari taysu? Silahkan sebutkan, kami akan mencuci telinga kami untuk mendengarkannya baik baik"

Su Khong memandang kepada Han in Taysu. "Taysu ini. "

katanya.

Siauw Pek menyela pendeta ini "inilah Han in Taysu ketua terdahulu dari Ngo Bie pay"

Terperanjat ketua tiangloo dari Siauw Lim Sie itu, hingga dia mementang lebar lebar kedua matanya menatap ketua Ngo Bie Pay itu. Memang dia bermata tajam, maka juga matanya itu bercahaya terang. Sampai lama dia masih mengawasi. Han in Taysupun berdiam saja. ia duduk tenang sejak tibanya pendeta dari Siauw Lim Sie itu. la tak memperdulikan kata kata Siauw Pek dan tak menghiraukan sikap tiangloo.

Siauw Pek heran, hingga ia habis sabar.

"Taysu" tegurnya, "apakah taysu tak percaya aku?"

Su Khong tidak memperdulikan ketua Kim Too bun itu, orang yang dia datangi untuk diajak bicara, terus dia menatap Han in Taysu mengawasi tajam mukanya. Hanya sejenak kemudian, mendadak ia meluncurkan sebelah tangannya kearah ketua Ngo Bie Pay itu, melakukan pukulan angin ke dada orang. sebagai ketua Siauw Lim Sie, dapat dimengerti betapa lihay pendeta ini, maka itu dapat dimengerti pula hebatnya serangan mendadak itu. Tapi luar biasa juga Han in Taysu, dia duduk bersila tenang tenang saja, membiarkan serangan tak diduga duga itu.

"Pukulan loolap ini ialah yang dinamakan Hui Poat Tong ciong." berkata Su khong. Baru sekarang dia bicara pula.

"Hui Poat Tong ciong" berarti "cecer terbang menghajar genta."

Mendengar keterangan itu, dengan sabar Han in Taysu menjawab, "Loolap ingat beberapa puluh tahun yang lampau pernah loolap menggunakan jurus Hwa Liong Tiam ceng untuk memecahkannya"

Su Khong tetap belum mau percaya. Katanya "Peristiwa itu saja belum cukup untuk membuktikan tentang dirimu"

Dengan sabar Han in menjawab. "Taysu boleh tak percaya. Loolap tidak berminat memaksa memohon orang mempercayainya"

Su Khong mengangguk. ia berkata pula, "melihat awan putih berubah menjadi anjing abu abu berubah ubah luar biasa" mendadak dia bungkam.

Atas itu, Han in Taysu membaliki, "Rumah sunyi pada pokoknya tak pantangannya, karena Sang Buddha berada didalam hati." Mendengar itu, Su Khong Taysu merangkap kedua belah tangannya, sambil memberi hormat ia berkata. "Maaf, loolap sudah berlaku kurang hormat."

Han in Taysu menjawab. "inilah urusan yang tak selayaknya diherankan."

Kemudian Su khong Taysu bertanya. "Dahulu hari itu dipuncak Yan in Hong digunung Pek Ma San, ketua keempat partai telah menemui bencana kebinasaanya, mengapa kau sendiri sekarang bagaikan pelita padam hidup pula, bagaikan roh yang menjelma kembali"

Han in menjawab, "meninggalkan si mayat mengganti si mati melulu untuk mengacaukan telinga dan mata orang, harus disayangi orang orang Rimba persilatan semua telah kena diperdayakan"

Masih Su Khong Taysu bertanya "keempat ketua partai mempunyai masing masing kepandaian silatnya yang istimewa, kenapakah mereka dapat dianiaya secara serentak?"

Berkata Han in Taysu "Itu dia yang dikatakan, bencana mulai dari tirai dindin, berubah menjadi bencana ketiak dan sikut, atau penjahat didalam rumah sukar dijaganya."

Jelas kata kata Han in itu, penghianatan sukar dihindarkan-sekian lama kedua pendeta tua ini, duduk berhadapan dan berbicara satu dengan lain, sebegitu jauh Su Khong tidak mau mengenal atau mengenali, Han It Taysu, akan tetapi setelah tanya jawab mereka yang terakhir ini mendadak pendeta dari Siauw Lim Sie itu bangkit, kemudian merangkap kedua belah tangannya terhadap pendeta dari Ngo Bie pay itu untuk menanya: "Jadinya Taysu adalah Han in Tooheng?"

Han in tak bangkit untuk membalas hormat, hanya dengan tenang, sabar ia menjawab:

"Dulu loolap dikurung dalam kamar rahasia, sukur loolap dapat ditolong oleh ketua dari Kim Too Bun dan rombongannya akan tetapi sekarang ini, kawanan murid murtad celaka dari Ngo Bie pay masih belum dapat ditumpas dibersihkan, maka itu seam sebelum itu, tak berani loolap menyebut diriku Han in".

Su Khong mengangkat kepalanya, dia menarik napas panjang. "Sungguh bencana hebat dan menyedihkan kaum rimba

persilatan yang sebelumnya belum pernah terjadi," katanya berduka, "hingga ratusan ribu orang kena dipermainkan, hingga sekarang sisa gelombangnya belum juga reda, sekarang setelah lewat belasan tahun, hingga selama itu, seratus lebih orang mesti terbinasa konyol dan sia sia belaka. Sungguh jahat, sungguh mengharukan. Amitabha Buddha"

Baru sampai waktu itu nona Hoan turut bicara.

"Taysu" tanyanya, "setelah sekarang taysu ketahui peristiwa  yang sebenarnya entah bagaimanakah taysu hendak bertindak?"

"Tidak ada jalan lain daripada perkara harus diurus" menjawab Su Khong Taysu, "awan tebal gelap itu mesti disapu bersih, supaya langit dan matahari dapat dilihat kembali terang benderang"

"Taysu benar", berkata sinona. "Tindakan itu harus tindakan guntur"

"Terima kasih atas petunjukmu Siecu" pendeta Siauw Lim Sie mengucap. Lalu berpaling kepada Su Kay Taysu, adik sepergUruannya itu untuk memesan: "Sutee, kau berdiam disini menemani para Siecu itu, aku hendak pergi lebih dahulu."

Begitu berkata, begitu pendeta tua itu memutar tubuh dan berlalu.

"Silahkan suheng" kata Su Kay sambil bangkit memberi hormat. Lalu selekasnya kakak seperguruannya itu sudah tak nampak bayangannya lagi, ia menolak daun pintu penjara, kemudian menoleh kepada Coh Siauw Pek seraya berseru "Coh bengcu. "

"Ya taysu Ada perintah apakah?" Siauw Pek tanya.

"sekarang ini kakak seperguruanku sudah mengerti jelas," berkata pendeta itu. "seberlalunya dari sini, ia tentu akan menghimpunkan Tiang Loo Hwee guna memperbincangkan urusan ini. "

"Soal sudah jelas, apakah yang harus diperbincangkan pula?" Soat Kun bertanya.

"Aturan kami keras, dunia mengetahuinya", Su kay memberi keterangan. "Ketua kami berkedudukan tinggi, walaupun ada Tiang Loo Hwee, tak dapat tiangloo hwee sembarangan mengambil keputusan dan melaksanakannya. Apalagi disamping itu, pendapat para anggota Tiang Loo Hweejuga tak menyeluruh."

"Jikalau demikian adanya taysu, walaupun kakak seperguruan taysu telah mengetahui jelas duduk perkara, itu masih belum ada faedahnya yang langsung "

"Bukan begitu bengcu" berkata Su Kay menggeleng kepala. "Suheng Su khong itu bukan saja dihormati Tiang Loo Hwee, juga semua anggota partai kami sangat menghargainya, cuma karena urusan ini besar luar biasa, ia harus bertindak sabar, terutama untuk terlebih dulu membuat para tiangloo sadar dan berpihak kepadanya."

"Menurut taysu, apakah suheng kalian itu akan berhasil dengan usahanya ini?" tanya si nona Hoan-

"Mudah mudahan nona. Hanya ini bukanlah kerjaan dari setengah hari saja. "

"Jikalau seorang enghlong sejati, putusan getas," berkata pula nona Hoan-"Dimana sekarang perkara sudah sangat jelas, apa perlunya akan menggoyang dan menggoyangkan lidah lagi?"

Dengan enghlong, orang gagah disini Soat Kun artikan laki laki sejati.

"Didalam Tiang Loo Hwee nona, ada beberapa tiangloo yang menghargai nama baik Siauw Lim Sie secara luar biasa sekali" Su Kay menjelaskan pula. ia bicara dengan sangat perlahan dan mendadak ia menghentikan kata katanya itu. Nona Hoan menghela napas.

"Taysu telah tiba saatnya utnuk taysu mengundurkan diri", katanya. "Perlu taysu pergi membantu kakak seperguruanmu itu."

Mendengar kata kata si nona, tak ada lagi orang Kim Too Bun yang membuka suara, walaupun sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin ditanyakan. Su Kay mengangguk.

"Para Siecu, beristirahatlah dengan tenang", katanya. "Didalam tempo dua hari pasti loolap akan menyampaikan kabar baik kepada Siecu semua"

Habis berkata, ia memberi hormat, terus ia berlalu.

"Hmm" Kho Kong memperdengarkan suara dihidungnya. "Kenapa sih pendeta ini bicara ayalan? orang Bu Lim siapa yang tidak menghargai nama? Apakah cuma Siauw Lim Sie?"

"Dia belum bicara habis, dia berhenti secara tiba tiba", berkata Giok Yauw, "entah apakah maksudnya?"

"Jangan persalahkan dia, dia memang sulit membuka mulutnya" Soat Kun menerangkan.

"Kenapa begitu nona?" Nona Thiopun bertanya.

"Tadi dia menyebut bahwa diantara Tiangloo ada beberapa yang sangat menghargai nama partainya" berkata Soat Kun. "itu artinya dia tak ingin kita membeberkan rahasia mereka itu. Sebenarnya Siauw Lim Sie terancam keruntuhan dan itu harus dapat dicegah."

"Katanya Tiang loo hwee terdiri dari pendeta yang berusia lanjut, beribadat dan bijaksana" kata Kho Kong pula. "tetapi kenapa kini sulit mengambil keputusan? Apakah mereka hendak menanti sampai api membakar alis mereka?"

"Sebenarnya mereka sudah insyaf tetapi mereka tak ingin dunia mengetahuinya. Mereka pula tak ingin meminjam tenaga bantuan kita." "Toh hal telah kita ketahui" Kho Kong masih mendesak. "Sekalipun mereka tak sudi minta bantuan kita, mereka tetap tak dapat membungkam mulut kita..."

"Mungkin masih ada soal lainnya.^.." Soat Kun berkata pula. Tiba tiba ia menghentikan kata katanya itu, ia mengangkat tangannya untuk merapihkan rambutnya. Habis itu baru ia menyambungi. "Kho hu hoat apakah kau sudi menerima dua jurus pelajaran dari aku?" 

Sebenarnya sisembrono masih penasaran, masih ia mau menanyakan lebih jauh, tetapi mendengar sinona bicara dari hal pelajaran silat, kegirangannya meluap luap hingga sejenak itu ia lupa pada urusan yang membuatnya penasaran itu.

"Pasti nona" sahutnya nyaring. Nona Hoan tersenyum. "Bukankah huhoat menggunakan poan koanpit?" tanyanya.

"Benar nona. Tapi kalau perlu, suka aku menukarnya dengan pedang. "

"SEmua delapan belas rupa alat senjata ada masing masing keistimewaannya" berkata nona Hoan. "Hanyalah bakat dan tenaga orang yang berlainan, dari itu berlainan pula hasil yang diperolehnya..... Aku telah mengajari Oey Huhoat sejurus tipu silat pedang, kau akan mendapatkan tiga jurus poan koan pit".

"Terima kasih nona" kata Kho Kong girang luar biasa. Terus ia menjura.

"Jangan memakai ada peradatan, huhoat."

"Nona mau mengajari ilmu silat padaku, mana dapat aku tidak menjalankan aturan diantara murid dan guru?" kata siorang sembrono yang tahu aturan itu.

Noba Hoan menggoyang goyang kepala.

"Aku cuma mengajari hafalannya saja" katanya "bagaimana hasilnya nanti, itu tergantung kepada huhoat sendiri, kepada ketekunanmu. inilah beda  daripada  cara  guru  mengajari muridnya " Berkata begitu, sinona bangkit. "Kho huhoat, dapatkah kau meminjamkan pitmu?" tanyanya.

Kho Kong mengeluarkan poan koanpitnya, dengan hormat ia mengangsurkannya. Soat Gie menyambuti senjata berupa alat tulis itu, untuk diteruskan kepada kakaknya.

Setelah mencekal senjata itu, nona Hoan berkata perlahan "Kho huhoat, perhatikanlah"

"Akan aku perhatikan nona" sahut sianak muda hormat. Soat Kun mengangkat senjatanya.

"Inilah jurus pertama Ho Gak Tiam ciang" bilangnya.

"Nama jurus yang bagus", kata Siauw Pek yang terus memasang mata.

Dengan perlahan Soat Kun mengangkat tangannya, lalu dengan perlahan juga ia menurunkan lagi, tetapi tiba ditengah jalan, mendadak ia menusuk dan menangkis berulang ulang bagaikan kilat sebatnya.

"Kho huhoat telah kau lihat jurus pertama ini?" tanya sinona. "Aku lihat nona, hanya kurang jelas."

"Siapakah yang lainnya yang telah melihat jelas?" sinona tanya. Semua orang berdiam, tiga kali sinona mengulangi pertanyaan, tidak ada jawabannya. Maka ia tanya Han in,

"apakah taysu melihatnya?"

"Gerakan Siecu cepat luar biasa, loolappun belum melihat tegas" sahut ketua Ngo Bie Pay itu.

"Sayang kami terbatas bakatnya, tak dapat kami mempelajari silat hingga sempurna" berkata sinona. "Maka itu walaupun suhu lihay tapi kami tidak dapat menuruninya."

"Kenapa Siecu berkata begitu?" tanya Han in "Bukankah jurus tadi lihay sekali?" "Itulah sebab tenagaku kurang dan aku tak dapat melukai orang" sinona akui.

"Aku menyesal" berkata Ban Liang, "Aku bersahabat kekal dengan gurumu nona, tetapi aku tidak tahu ia selihay ini, kalau tidak aku pasti sudah minta ia suka mengajari aku barang beberapa jurus."

"Tentang itu, suhupun pernah omong kepadaku loocianpwe" berkata sinona. "Kalau loocianpwee menyetujui dapat aku mewarisi barang satu atau dua jurus."

Jago tua itu menghela napas.

"Dalam usiaku ini, nona" katanya masgul. "loohu adalah umpama lilin yang sisa apinya tinggal padamnya saja, jadi tak usahlah nona mewariskan kepandaian sahabatku itu kepadaku, tidak demikian dengan beberapa pemuda ini. Harap nona mewarisi kepada mereka agar tak sia sialah kepandaiannya sahabatku itu, supaya kepandaiannya itu tak hilang terpendam"

Soat Kun mengangguk.

"Loocianpwee" katanya. Jikalau loocianpwee merasakan sesuatu yang kurang sehat, tolonglah beritahukan kepadaku. Mengenai ilmu pengobatan, guruku telah ada keyakinannya yang mendalam. Tak dapat suhu mengatakan ia bisa menghidupkan pula orang yang telah mati, akan tetapi sedikitnya ia dapat mendayakan untuk mencegahnya, buat membantu memperpanjang umur. Berkat warisan suhu itu, aku mengerti juga sedikit."

Mendengar kata kata si nona, Ban Liang tertawa terkekeh. "Walaupun loohu telah merasakan ketuaanku tetapi aku belum berkenan akan kematianku" katanya gembira dan jenaka.

"Memelihara diri juga sama dengan belajar silat loocianpwee. Disini perlu juga orang menyediakan payung sebelum hujan turun" Kembali sijago tua tertawa nyaring.

"Kakak Hoanku itu" katanya, "dia pandai melebihi kebanyakan orang, dia cerdas luar biasa, dia toh tak sanggup mencegah kematiannya sendiri. Karena itu buat apa aku situa jeri akan ajalku? Buatku sekarang ini, yang aku harap ialah kabut tebal dan gelap dunia Bu Lim dapat disapu bersih, supaya langit menjadi terang benderang pula"

Han in menghela napas mendengar kata kata sijago tua. "Sungguh Ban Sie cu seorang gagah sejati" pujinya kagum.

"Loocianpwee, aku cuma mau menunaikan tugasku, lain tidak." Soat Kun bilang.

Selagi orang berbicara itu, Kho Konh seorang diri tengah berkutat dengan jurus poan koanpitnya yang pertama itu. ia terus mencoba mengingat ingat, perhatiannya tak dialih kan kearah mana juga.

Sementara itu sang waktu berjalan terus tanpa menghiraukan urusan manusia. Lekas rasanya, lima hari sudah lewat, selama mana Siauw Pek mendekam didalam penjara batu itu. Selama itu tak terlantar barang santapan mereka, selalu Su Kay Taysu yang meniliknya sendiri. Maka juga, walaupun terkurung, karena mendapat waktu sebaik itu, lenyaplah lelah letih mereka selama setengah bulan melayani musuh musuh terus terusan. Sekarang ini mereka semua sehat walafiat seperti sediakala.

Kho Kongpun girang sekali. Selewatnya lima hari, berhasil juga ia memahami tiga jurus ilmu silat poan koanpit ajaran nona Hoan-

Thio Giok Yauw juga tidak melewatkan hari hari senggang itu dengan begitu saja, ia memperoleh hasil yang menggirangkannya. Karena ia gemar dengan senjata rahasia, tanpa sungkan ia minta Soat Kun suka mengajarinya dan untuk kebahagiaannya nona Hoan menerima baik permintaannya itu. Maka ia dapat mewariskan kepandaian Hoan Tiong Beng almarhum. Sambil beristirahat itu, Siauw Pek juga tidak menganggur. Seandainya ia memahamkan ilmu pedang Tay pie kiam hoat serta Toan hun It Too, ia mencari cari kelebihan dan kekurangan kedua ilmu itu. Sampai sebegitu jauh ia masih belum juga berhasil. Akan tetapi untuk kegembiraannya, latihannya menambah kemahirannya dalam ilmu pedang dan golok yang istimewa itu. Pada hari keenam, tengah hari muncullah Su Khong taysu dan Su Kay dan Su Ie. Mereka datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mereka memperlihatkan diri secara mendadak.

Dan pendeta tua itu dengan merangkap kedua belah tangannya itu, dengan cara yang hormat berkata sabar kepada sekalian tamunya. "Siecu maaf, loolap telah membuat kalian menderita selama beberapa hari..."

Siauw Pek lekas lekas membalas hormat.

"Untuk keselamatan sesama kaum Bu Lim" katanya, "bagi kami kaum Kim Too Bun, penderitaan beberapa hari ini tak ada artinya sama sekali. Yang penting ialah taysu percaya akan kata kata kami atau tidak?"

Anak muda ini bicara jujur tanpa tedeng aling aling lagi, dia langsung tiba pada titik soal.

Dengan sikapnya yang agung sabar seperti semula, su Khong berkata "Setelah kami menerima petunjuk Siecu sekalian, timbullah kecurigaan kami, cuma karena urusan sangat besar dan penting, sebelum kami memperoleh bukti yang kuat, kami masih diganggu oleh keragu raguan, kami baru setengah percaya "

Soat Kun menghela napas mendengar kata kata jujur pendeta tua itu.

"Taysu, katanya sabar, tahukah taysu mengapa kami beramai sudah melakukan perjalanan melewati gunung dan sungai serta juga menerjang bahaya mendatangi kuil Siau Lim Sie dari taysu beramai ini? untuk apakah itu?"

"PAra Siecu, loolap menghargai usaha dan jerih payah kalian ini" menjawab pendeta itu, "Siecu beramai sudah datang kemari guna menyampaikan kabar untuk kebaikan Siauw Lim Sie, untuk itu kami sangat bersyukur dan berterima kasih."

Aneh pendeta tua ini, pikir Ban Liang. Dia telah ketahui duduk peristiwanya mestinya dia telah mempercayainya penuh, tetapi kenapa dia masih tak sudi mengakuinya terus terang? Nona Hoan berkata pula: "Sekarang ini separuh dari pengaruh jahat sudah meliputi dunia Bu Lim, maka itu sekarang juga saat  atau kesempatannya yang terakhir. Jikalau kita tidak bertindak tegas sekarang ini hanya berayal ayalan hingga mereka itu tumbuh sayap pepak lengkap. pastilah celaka kita semua. Dengan perlengkapannya itu, orang dibelakang layar itu yang menjadi penggerak utama, asal dia memaklumkan perintahnya melakukan penyerangan umum, pasti dunia Bu Lim seluruhnya akan terjatuh dibawah pengaruhnya. Hingga walaupun tiga puluh tahun, tak nanti kita dapat bangun pula. Dan partai kamu yang mulia taysu, yang biasa memegang tampuk pimpinan, kali ini kami harap semoga dapat bertindak pula, supaya dunia Kang ouw disadarkan agar pengaruh iblis dapat ditumpas habis"

Mendengar suara sinona, Su Kay menghela napas panjang. Ngo Kwie Toan Hun Ciu Ban Liang pun turut bicara. Katanya "Sejak sembilan partai besar menggabung pelbagai partai menyerang dan membasmi Pek Ho Bun, aku situa sudah merasa curiga, maka juga telah kuberniat mencari tahu duduk hal yang sebenarnya, syukuriah usaha kami tidak sia sia belaka karena Hong Thian telah memberkahinya"

"Mengenai urusan ini loolap sudah berunding lama dengan adik seperguruanku," su Khong berkata pula: "Kesulitan kami ialah kami masih belum mempunyai bukti untuk dijadikan pegangan kuat. Sekarang setelah para Siecu tiba disini, untuk mendapat kepastian, sudikah para Siecu datang keruang Tay Jiak Ie kami untuk berunding lebih jauh bersama kami?."

Siauw Pek menerima baik undangan itu

Soat Kun ingat akan Ciu ceng, ia lalu bertanya kalau kalau kawannya itu yang menjadi kurban racun masih hidup atau sudah meninggal dunia.

"Kami telah menempatkan dia di Tat Mo Ie" menjawab Su Kay. "Kami telah memberikan dia obat tetapi hasilnya tidak ada, obat kami bagaikan tenggelam lenyap didalam laut besar." "Jikalau obatnya tidak tepat, memang tidak dapat dia ditolong", kata nona Hoan.

"Apakah nona dapat menolong dia?" Su Kay tanya.

"Aku tidak dapat menolong dia, tetapi aku ketahui caranya," menyahut sinona. "Dia sebenarnya ada sangkutpaut dengan ketua kalian".

"Nona, apakah nona telah ketahui sipemimpin yang masih menjadi orang rahasia itu?" Su Kay menanya menegasi.

"Aku tidak tahu", menjawab si nona. "Nah, mari kita berangkat"

Dengan berpegangan pada adiknya, nona ini segera membuka langkah kakinya
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 41"

Post a Comment

close