Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 06

Mode Malam
JILID 6

"Karena itu, kau harus sabar dan tenang, kau mesti pandai berpikir.Jangan sampai kau dapat dipermainkan oleh kecantikan dan kegenitan Han Lian Jie "

Berpikir demikian, Siauw pek lalu mengambil ketetapan. Ia menuju dulu ke pek Hopo kampung halamannya di kota Gak yang. Ia ingin menyaksikan reruntuhan rumah tanggan yang hancur itu. Mungkin reruntuh rumahnya akan membuatnya ingat sesuatu. Setelah itu mau pergi ke Jie Sie Wan untuk menjenguk Lauw Hay itu si buta, guna meminta pulang barang barang titipan ayahnya. Itulah warisan yang tertinggal untuknya.

Setelah dia mengambil ketetapan ini, harinya menjadi lebih lega.

Ia membuka tindakan lebar, untuk melanjutkan perjalanannya.

Sore itu, ditengah jalan tak tampak lain orang. Hanya sang angin yang menghembus-hembus bajunya. Tetapi ia tak merasa kesepian Baginya sudah biasa hidup menyendiri. Tengah ia berjalan, sekonyong-konyong Siauw Pek mendengar suara napas orang. Berat suara itu, seperti suara orang sakit parah. Ia heran hatinya menjadi tertarik, ingin ia ketahui, siapa orang itu.

Berjalan maju, pemuda ini mengitari sebuah tempat yang lebar dengan pepohonan Ia mendapatkan tanah datar yang ditumbuhi rumput. Ketika itu binatang binatang sudah keluar, dan dibawah cahaya bintang, ia melihat dua orang yang berpakaian serba hitam tengah bertarung seru. Mereka itulah yang mengeluarkan suara napas yang berat itu.

"Heran mereka itu," pikirnya. "Apakah ada permusuhan besar diantara mereka berdua sehingga mereka berkelahi mati hidup ditempat belukar ini? Mengapa mereka mencari waktu malam seperti ini ?" Sambil berpikir, Siauw Pek bertindak dengan perlahan, hingga setelah datang lebih dekat ia dapat melihat tegas kedua orang itu, yang masing-masing baru berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, yang satu bersenjatakan sepasang poan koan-pit, senjata yang berupa seperti pit, alat tulis, yang lain bergeman sebatang pedang panjang. Hanya ketika itu, senjata mereka itu diletakkan ditanah sejauh satu tombak lebih, mereka sendiri berkelahi dengan tangan kosong, untuk mengadu kekuatan Mungkin ini disebabkan mereka telah kewalahan bertarung dengan memakai senjata.

Dua orang muda itu berdiri berhadapan, sama sama memasang kuda kuda, dan mengeluarkan tangan mereka masing masing, untuk ditempelkan menolak satu pada lain-Itulah pertanda mereka sedang menguji tenaga dalam masing masing. Rupanya mereka sudah beradu lama, hingga kaki mereka melesak ke dalam tanah. Anehnya, mereka sama tangguhnya.

Dahi dua orang muda itu sudah bermandikan peluh. Dilihat dari roman dan suara napasnya nyata mereka sudah kehabisan tenaga, hanya untuk menghentikan pertempuran, agaknya mereka segan-..

"Tentunya mereka akan berhenti sendiri sesudah mereka kehabisan tenaga..." pikir siauw Pek.

"Itulah berbahaya, sebab ada kemungkinan napas mereka akan turun berhenti juga. Dapatkah aku berdiam saja dan tidak menolong mereka ?"

Sejenak anak muda ini berdiam, buat berpikir mengambil keputusan Setelah itu, ia bertindak maju menghampiri dua orang itu. Ia maju sambil dekat sekali, diantara keduanya. Diam diam ia mengerahkan tenaga dalamnya, kedua tangannya diangsurkan. Lalu tiba tiba ia berseru, kedua tangannya ditempelkan diantara dua orang itu, untuk menanggapi, seraya maju ke tengah tengah mereka sambil menolak kekiri dan kekanan.

Dua orang itu terpisah, mereka sama sama mundur. Mereka tidak dapat mempertahankan diri lagi dua duanya lalu roboh. Hanya begitu roboh cepat mereka bangun pula, untuk duduk bersemadhi, guna mengatur napasnya masing masing. Mereka menutup mata, tidak ada orang yang mengawasi orang yang memisahkannya. Siauw Pek mengerti sebabnya itu. Itulah daya guna mencegah luka dalam.

"Tuan tuan," kata anak muda ini, " kepandaian kamu berimbang, jikalau bertempur terus, kamu bakal sama sama celaka. Paling benar ialah kau jangan berkelahi lebih jauh "

Setelah berkata, siauw Pek membalikkan tubuhnya hendak berjalan pergi. Ia tidak menantikan jawaban la tahu, tak mudah kedua orang itu lekas lekas menyahuti. Akan tetapi dugaannya meleset. Baru ia jalan belasan tindak dari belakangnya terdengar satu seruan lemah : "Berhenti "

Lemah itu suara tapi nadanya penuh hawa amarah. Siauw Pek heran, ia menghentikan tindakannya.

Segera terdengar suara yang lainnya : "Jikalau kau seorang laki laki, tunggulah kami barang satu jam "

Anak muda itu memandang langit.

"Baiklah " katanya sabar. "Akan aku tunggu kamu selama satu jam." Untuk menantikan itu, ia terus duduk numprah ditanah.

Benar saja selang kira-kira satu jam, si baju hitam disebelah selatan sudah bangkit lebih dahulu. Lantas yang disebelah utara pun menyusul berlompat bangun. Mereka itu saling memandang, terus keduanya berjalan menghampiri pemisahnya tadi. Melihat sikap orang mengancam, Siauw Pek bangkit.

"Kamu menyuruh aku menanti, tuan-tuan, ada petunjuk apakah dari kamu kepadaku ?" ia tanya sabar.

"Siapa suruh kau campur tangan ?" bentak pemuda yang dikiri, bengis.

"Memang " kata yang dikanan. "Kami berdua berkelahi, ada sangkut pautnya apakah denganmu? Kenapa kau pisahkan kami?" "Maksudku baik, tuan-tuan Aku lihat tenaga kamu bisa mati berdua. Sudah nyata kamu sama tangguhnya, buat apa kamu berkelahi terus ?"

"Kamu benar, tetapi kamu telah merusak sumpah kami " berkata yang dikiri. "Bahkan kamu membikin kami celaka. sebab kami mesti berkelahi dari mulai lagi "

Yang dikananpun berkata dingin "Kami sudah berkelahi selama tiga bulan, tak juga ada kesudahannya, kekuatan kami selalu seimbang, tidak ada yang menang atau kalah, maka malam ini kami berjanji akan berkelahi terus sampai mati. Siapa sangka, selagi akan tiba saatnya kematian, kau datang mengacau. Maka kaulah yang harus bertanggung jawab "

siauw Pek mengawasi tajam kedua orang itu. Usia mereka ditaksir belum lewat dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun. Ia heran, maka ia bertanya: "Tuan-tuan, kamu masih muda, kenapa kamu bermusuhan begini hebat, hingga kamu mau berkelahi sampai mati ? Sudah berkelahi tiga bulan, kamu tetap seri, bukankah itu bukti dari batas kepandaian kamu ? Apakah kebaikannya andaikata kamu berkelahi terus ?"

"Sebenarnya kami tidak bermusuhan," sahut yang dikiri. "Tetapi, tak dapat tidak kamu mesti berkelahi "

Lalu kata yang dikanan: "Bukan saja kami tak bermusuhan, bahkan kami saling mengasihi, tapi kami terikat oleh sumpah, maka salah satu dari kami mesti mati " Siauw Pek heran berbareng tertarik hati. Ia jadi ingat akan nasibnya sendiri.

"Aneh, tuan-tuan," katanya. "Kamu sendiri tidak bermusuhan, tapi kamu mau berkelahi hidup atau mati. Mungkinkah ada permusuhan mengenai pembunuhan ayah kamu?"

"Bukan permusuhan disebabkan pembunuhan ayah, hanya guru " kata yang kiri, dingin-"Hanya guru sama dengan ayah, bukan? Maka itu pun musuh besar " "Dan kami telah bersumpah didepan arwah guru kami untuk menuntut balas. Begitulah sulit buat kami hidup bersama didalam dunia ini " Siauw Pek dapat mengerti, ia mengangguk.

"Bicaramu beralasan, tuan-tuan Coba katakan kepadaku, kenapa guru kamu bermusuhan satu dengan lain ? Siapakah sebenarnya yang bersalah diantara mereka itu ?"

"Inilah permusuhan yang kami, sebagai murid tak dapat menjelaskannya," jawab yang di kiri. "Urusan kami tak dapat diberitahukan orang luar. Yang benar ialah guruku terbinasa ditangan guru dia. Mana bisa sakit hati ini tidak dibalaskan ?"

"Gutuku juga terbinasa ditangan guru dia " kata yang dikanan, dingin " Urusan tetua kami mesti kami yang muda yang membereskannya "

"Bagaimana, eh?" tanya Siauw Pek heran "Jadi guru kamu telah saling bunuh ?" Orang yang dikanan mengangguk.

"Mereka sama-sama terkena satu pukulan tangan, lantas mereka sama-sama mati." Mendengar itu, siauw Pek menarik napas.

"Kalau begitu, tuan-tuan bakal mengulangi lakon guru kalian itu " katanya. "Kamu bakal jadi seperti batu kemala yang sama-sama hancur lebur Tuan-tuan, maukah kamu mendengar nasihatku, berhentilah berkelahi, supaya kalian mengikat persahabatan saja ?" orang yang dikiri menghela napas.

"Kau benar," katanya. Tapi tak dapat aku turuti nasehatmu ini." "Kalau kata-kataku benar, kenapa tak dapat dituruti ?" tanya

Siauw Pek.

"Aku juga tak dapat menerima," kata yang di kanan "Kecuali...?" "Kecuali apa ?"

"Sebab sumpah kami itu " menjelaskan yang dikanan. "kecualinya yaitu ada orang yang dapat mengalahkan kami berdua, kami berdua serentak akan melawan satu orang " "Mengapa sumpah itu begini aneh ?"

"Jikalau dia dapat mengalahkan kami, itulah bukti keliehayan dia," kata yang dikanan "Jikalau kami tidak mendengar nasehat dia, andai kata dia mau, mudah saja dia membunuh salah satu dari kami, kalau salah satu dari kami mati, mana dapat kami. kami ialah yang masih hidup dapat menuntut balas." Siauw Pek heran, tapi didalam hati dia mau tertawa:

"Kamu aneh" katanya, "toh salah satu diantara kamu mesti mati

?"

"Sudah" Kata yang dikiri, "kau memisahkan kami, kau cari

kesulitanmu sendiri"

"Jangan kau sesalkan kami."

Siauw Pek menatap orang itu, dia mengangguk.

"Baiklah kalau begitu," katanya, terpaksa. "Ingin mencoba coba kamu barang satu dua jurus. Tapi perlu aku jelaskan, tiada niatku merampas kemenangan atau untuk bersombong maksudku hanya ingin memisahkan kami, supaya kamu akur satu sama lain Nah, majulah "

"Kami berdua mengepung kau seorang, itulah tidak adil," kata yang kiri. "Sekarang begini saja : Kau boleh pilih pakai tangan kosong atau senjata "

Siauw Pek berpikir : "Aku belajar silat, kebanyakan aku mengatakan senjata tajam, Guru Kie mengatakan kepadaku, ong Too Kiu Kiam dapat dipakai melawan kepungan, baiklah sekarang aku mencoba..." Segera ia menghunus pedangnya, ia berkata pula : "Baiklah, mari kita main main dengan senjata tajam "

Orang yang dikiri melompat, dan memungut senjatanya : pedang.

Orang muda yang dikananpun menjemput pegangannya :poan koan pit. Lantas keduanya bersikap mengurung. "Awas " berseru orang yang memegang pedang, yang terus menikam, dengan tipu silat " Kebakaran hutan membakar hutan-" Siauw Pek mengalah, dia berkelit.

Justru orang berkelit, pemuda yang memegang poan koan pit, maju menusuk. karena dia menggunakan tipu "Kuda hutan membiak suri," senjatanya mengarah kekedua jalan darah.

Tepat pada waktu itu, pemuda berpedang itu menikam pula, kali ini dengan tikaman "Burung belibis terbang turun di pasir datar."

Maka dengan begitu, segera serulah Siauw Pek dikepung dua lawan itu.

Setelah bertarung beberapa lama tetap Siauw Pek terkurung kedua musuhnya. Ia bisa mendesak mereka itu mundur, tetapi kembali dia dirapatkan Ia terkepung tetapi ia tak terdesak. Dengan mudahnya ia menghalau setiap serangan, pembelaan dirinya rapat sekali. 

Oleh karena putera Tjoh Kam Pek kena dikurung, tanpa merasa, mereka sudah bertempur dua puluh jurus lebih. Mulanya Siauw Pek rada risi setelah itu, hatinya mantap. permainan silatnya menjadi tenang dan rapi, dilain pihak, serangannya terus bertambah membahayakan lawan-

Lagi sepuluh jurus dilewatkan, tengah serunya mereka bertempur, mendadak pemuda yang bergegaman pedang melompat keluar kalangan Sambil memberi hormat, dia berkata : "Saudara, ilmu pedangmu lihay, aku menyerah kalah" Iapun terus melemparkan senjatanya. Pemuda yang lainnya turut mundur.

"Terima kasih buat belas kasihanmu, saudara," katanya sambil melemparkan poan koan pitnya untuk memberi hormat juga. Siauw Pek heran. Ia melihat orang orang itu belum kalah.

"Tuan tuan mengalah saja," katanya.

Pemuda yang bersenjata pedang itu memberi hormat pula, ia berkata : "Saudara, akulah oey Eng. Bolehkah aku mengetahui she dan besar dari saudara ?" "Aku Tjoh Siauw Pek," sahut Siauw Pek singkat.

"Aku Kho Kong," berkata pemuda yang bersenjata poan koanpit sambil menjura.

"Syukur saudara saudara suka berdamai," kata Siauw Pek. "Terima kasih, itu tandanya saudara saudara sudi memberi muka padaku. Nah, sampai ketemu pula "

Berkata begitu, anak muda ini menyimpan pedangnya, ia memberi hormat, kemudian bertindak pergi. Iasudahjalan empat atau lima lie tatkala ia mendengar suara orang berlari lari dari arah belakangnya. Ia heran, maka ia menoleh. Ternyata oey Eng dan Kho Khong tengah berlari cepat ke arahnya, mereka sambil saban saban memanggil padanya. Ia lalu berhenti berjalan, untuk menantikan-

"Kami mengagumi kepandaian silatmu, saudara Tjoh," kata oey Eng. "kami juga kagum akan kebaikan hatimu. Kau amat mulia sekali Saudara, aku menyusul kau untuk bermohon jikalau anda tidak mencela kebodohan kami, agar kami diijinkan menemanimu di sepanjang jalan, agar sewaktu waktu kami dapat menerima petunjukmu, supaya kami mendapat tambah kemajuan-"

"Kami berdua adalah sama sama anak yatim piatu yang dipelihara dan dididik guru kami masing masing," Kho Kong pun berkata. "Itulah sebabnya mengapa kami sangat menyintai dan menghormati guru kami, sehingga kami suka membelanya mati matian Aku kagum terhadap kau, saudara Tjoh. Kau telah memisahkan kami dan membuat akur satu dan yang lain Saudara tahu, kami tidak punya rumah tangga, kami hidup dalam perantauan Ketika dulu guru kami berkelahi, mereka cuma perebutkan nama kosong. Mereka menutup mata karena sama sama terluka, tak sempat mereka memberi penjelasan atau memesan Kami berkelahi hanya disebabkan ingin menuntut balas, lain tidak. Tadinya habis setiap berkelahi, karena letih, kami beristirahat, selama itu, selalu kami sadar bahwa kami inilah anak anak piatu..."

Siauw Pek menghela napas. "Nasibku juga sama dengan kamu, saudara saudara," katanya, yang lantas menghentikan kata katanya, sebab mendadak ia ingat, tidak selayaknya ia menuturkan riwayatnya. "Bagus kamu insaf akan keadaan diri kami. Bukankah kamu tak akan berkelahi pula, bahkan sebaliknya, akan bersahabat?"

"Itulah putusan kami, saudara Tjoh," sahut oey Eng. "Dulupun guru kami tidak memesan buat kami menuntut balas hingga hidup dan mati. Bahkan sekarang kami menyesal, kami pun menyesalkan sumpah kami itu, yang keterlaluan-"

"Sebenarnya," Kho Kong turut bicara pula, "guru kami ada juga meninggalkan pesan tetapi itu tidak mengenai sebab musababnya mereka bertempur, hanya mengenai soal pembalasan Pesan itu ialah: Kalau kelak dikemudian hari ada orang yang memisahkan kami, kami berdua mesti kepung dia, jika kamu kena dikalahkan, pembalasan harus dilunaskan-"

"Baru guru kami berkata begitu, mereka sudah menutup mata. Tadi kami kena dikalahkan, saudara Tjoh, hati kami jadi tertarik, maka kami berdamai untuk mengikuti kau..."

Tak dapat Siauw Pek menerima permintaan itu. Ia mempunyai urusan sendiri.

"sukur kamu akur satu sama lain," katanya "saudara saudara, aku mempunyai urusan sendiri yang penting, maaf, tak dapat aku menemui kamu lama lama, selamat tinggal "

"TUnggu dulu saudara Tjoh " Kho Kong memanggil sela gi pemuda itu mengangkat kaki.

"Tolong dengar dulu kataku..."

"Saudara Tjoh," oey Engpun berkata, "kau bagaikan penolong jiwa kami, karena itulah, suka kami mengawanimu, untuk mengiringimu."

"Terima kasih, saudara saudara. Dengan sebenarnya, tak dapat kamu mengikuti aku. Aku mempunyai musuh besar, sekarang aku lagi mencarinya, entah di mana, tetapi setiap saat, mungkin aku ini akan bertempur mati hidup.Jikalau kamu berdua turuti aku, bukankah itu dapat menyusahkan kamu? Yang benar kita bersahabat saja Nah, sampai bertemu pula"

"Saudara Tjoh mari dengar dahulu" kata oey Eng, yang telah saling mengerdipi mata dengan Kho Kong. "Sebenarnya kami menyusul saudara sebab kami melihat saudara agaknya mempunyai urusan penting..."

"Bukannya aku menolak kalian, saudara saudara, yang benar ialah kedudukan aku sangat berbahaya. Memang sekarang aku tak kurang suatu apa, siapa tahu dilain waktu? Sekarang ini orang belum tahu tentang kemunculanku"

"Seorang laki laki binasa untuk orang yang mengenalnya, demikian sebuah pepatah." berkata oey Eng. "Pepatah itu tepat sekali. Kami takluk kepadamu, saudara Tjoh, maka itu kami bersedia menyerahkan diri kami untuk mengikutimu, supaya kami dapat membalas sedikit budimu. Dalam hal ini kami tidak menghiraukan soal mati hidup"

"Jiwa kami telah kau tolong, saudara Tjoh," kata Kho Kong, " karena itu mana dapat kami tidak membalasnya dengan jiwa kami juga?"

"Kamu baik sekali, saudara saudara. Hanya..."

oey Eng tertawa nyaring dan lama, kata katanya Siauw Pek terputus karenanya. Tertawa itu mengagumkan dan mengharukan, sebab keluar dari hati yang tulus.

Habis tertawa, oey Eng bersikap tenang sekali. Katanya sabar: "Saudara Tjoh, kami tahu sebabnya saudara menampik kami. Itulah karena ilmu silat kami tidak berarti, hingga kau kuatir kami hanya akan menjadi bandulan saudara, bahwa kami cuma akan menyusahkanmu saja... Nah, saudara, karena itu, ijinkanlah memohon diri" Berkata begitu, pemuda ini memberi hormat, terus memutar tubuh. Kho Kong melihat kawannya pergi, dia menarik napas panjang. "Kami berlaku setulusnya, sesungguh hati siapa tahu saudara Tjoh menolak kami," katanya masgul. "Baiklah, saudara, akupun bermohon diri..." Ia memberi hormat, lalu pergi menyusul oey Eng.

Siauw Pek tergugah, hingga ia ternganga mengawasi dua orang itu. ia menghela napas, hatinya tidak enak.

"saudara oey, Saudara Kho" ia lalu memanggil. "Saudara saudara maukah kamu dengar dahulu kata kataku?"

oey Eng berpaling, dia tertawa sedih.

"Kepandaian kami tidak berarti, sukar buat kami bersahabat dengan kau, saudara Tjoh..." katanya, menyesal.

"Saudara-saudara, kamu baik sekali, akupun mengerti," kata Siauw Pek. "Hanya aku mohon supaya kami juga mengerti aku. Aku mempunyai kesulitan sendiri. Tapi, saudara-saudara, jikalau kamu tidak kuatir nanti kena terembet rembet olehku baiklah, suka aku terima tawaran kamu ini. Lebih dahulu, terimalah rasa syukurku"

Berkata begitu, ia memberi hormat. oey Eng girang, dia tertawa. "Jikalau saudara memang benar sudi menerima kami," katanya,

"kami berjanji akan dengan sekuat tenaga kami membantu saudara

membuat pembalasan" Kho Kong juga, memberikan janjinya Siauw Pek menghela napas. Wajahnya tampak guram.

" Kedua saudaraku, tahukah kamu siapa itu musuhku?"

"Kami tidak tahu, saudara sudi kiranya anda menjelaskan," minta Kho Kong.

"Musuhku itu bukan cuma satu, bahkan banyak." Siauw Pek menerangkan "Merekalah kesembilan partai besar serta sembilan partai lainnya merabalah sembilan pay, empat bun, tiga hwee dan dua pang."

Mendengar itu, oey Eng dan Kho Kong melengak. Itulah mereka tidak sangka. Hingga beberapa lama mereka tak dapat berkata kata. "Nah, sekarang tentulah saudara saudara sudah ketahui," Siauw Pek menambahkan.

"Kalau tentang diriku ini, terutama tentang niatku untuk menuntut balas, diketahui oleh pihak luar oleh musuh musuhku, segera juga aku akan terancam bahaya besar. Pasti mereka itu akan mencariku, guna turun tangan lebih dahulu. Dengan begitu, saudara saudara, hanya karena aku seorang, kamu pun jadi dimusuhi oleh banyak musuh Maksudku, oleh dunia Rimba Persilatan-.."

"Ya, Saudara," tanya oey Eng kemudian, "kau baru berusia lebih kurang dua puluh tahun bagaimana caranya sampai kau jadi bermusuhan dengan delapan belas partai itu ?"

"Ya, saudara, apakah sebabnya itu ?" Kho Kong pun bertanya. "Panjang ceritanya, saudara saudaraku," sahut Siauw Pek,

tenang. "sakit hati ini dimulai oleh keluargaku setingkat diatas. inilah dendam kesumat pembunuhan ayahku beserta penasaran kebinasaan seluruh keluarga dan kampung halaman " Kho Kong heran.

"Saudara Tjoh," katanya, "toh tak dapat kau membalas dendam kepada semua orang Rimba Persilatan ?"

Siauw Pek mengangguk.

"Benar," sahutnya. "Kata pepatah penasaran ada penyebabnya, utang ada piutangnya. Demikian juga sekalian orang Rimba Persilatan yang telah memusuhi keluargaku itu. Pertama tama hendak aku membuat penyelidikan yang seksama, untuk dapat tahu sebab musabab yang sebenarnya, setelah itu, ingin aku cari dia atau mereka yang menjadi biang keladinya. Tak kupikir buat ganggu mereka yang main ikut ikutan saja. Akan aku bunuh musuh atau musuhku yang utama, guna menghibur arwah ayah bunda serta saudara saudaraku di alam baka."

oey Eng mengerti, ia mengangguk angguk. Selanjutnya, ia memperlihatkan roman sungguh sungguh. "Ada sesuatu yang hendak kutanyakan, saudara," katanya, "Mungkin ini pertanyaan yang tak seharusnya. Aku minta saudara tidak menjadi kecil hati."

" Katakanlah, saudara oey " kata Siauw Pek cepat. "Aku bersedia mendengarnya."

"Jikalau seorang orang dituduh oleh ribuan orang, pasti semua orang mengatakan dia bersalah," kata oey Eng. "Dia itu tentulah ada sebabnya. Sekarang mengenai sakit hatimu, saudara. inilah perumpamaan saja. Seandainya setelah saudara membuat penyelidikan tetapi kenyataannya ayah saudaralah yang bersalah, bagaimana nanti sikap dan tindak tanduk saudara ?"

"Pertanyaanmu tepat, saudara oey." jawab Siauw Pek, yang tidak menjadi kurang senang "Jikalau hasil penyelidikanku benar seperti terkaanmu ini, aku bersedia menghadapi orang banyak untuk mengaku bersalah buat menebus dosa " oey Eng kagum, dia menunjukkan jempolnya.

" Dengan mengandaikan kepada kata katamu ini, saudara Tjoh " katanya, sungguh sungguh " bersedia aku untuk mengikuti kau, untuk memberikan seluruh tenagaku kepadamu "

"Aku juga " seru Kho Kong, yang tidak kurang kagumnya, hingga dia memberikan janjinya seketika.

Siauw Pek terharu, ia menghela napas.

"Kamu baik sekali, kedua saudaraku, aku sangat bersyukur kepada kamu," katanya. Dengan sebenarnya, seorang diri saja, aku menghadapi kesulitan dalam usahaku menuntut balas ini. Syukur, didalam perantauan aku bertemu dengan kamu berdua yang bersedia membantuku. Mungkin ini disebabkan arwah ayah danibusaya yang sudah meninggal dunia itu telah memberkahikuputra tunggalnya. Nah, kedua saudara, terimalah hormat dan terima kasihku "

Berkata begitu, Siauw Pek lalu memberikan hormat sambil berlutut, menjura. oey Eng dan Kho Kong menjadi repot, dengan tersipu sipu mereka menjatuhkan diri di tanah guna membalas hormat itu.

"Tidak berani kami menerima hormat ini," kata mereka.

Bertiga mereka saling memberi hormat, lalu sambil berpegangan tangan, mereka berbangkit berdiri. oey Eng puas, dia tersenyum.

"Sejak saat ini, kami akan turut segalanya perintahmu, kakak Tjoh," kata dia setulusnya. "Di dalam dunia Rimba persilatan tidak ada si tua dan si muda, yang ada hanya si gagah dan si pintar, karena itu, saudara, justru kau terlebih lihay daripada kami berdua, kaulah kakak kami " Tapi Siauw Pek menolak.

"Itulah tak dapat, saudara oey. Kita bersahabat, mesti ada yang usianya lebih tua..."

"Bukan begitu, kakak Tjoh," Kho Kong pun berkata. "Ular tanpa kepala tidak dapat berjalan, burung tanpa sayap tidak dapat terbang demikian juga kita. Kami berdua sangat mengagumi saudara, karenanya kami memohon persahabatanmu. Saudara, untuk mewujudkan cita citamu, tenaga kita bertiga masih belum cukup. Maka itu, menurut pikiranku untuk usaha kita ini, baik kita membangun suatu ikatan dan yang menjadi bengcu, kepala ataupun pemimpinnya, ialah kau sendiri. Setelah ini, kita akan cari dan menerima kawan kawan yang sepaham dengan kita. Secara begini, disamping kita bisa membalas dendam, sekalian kita juga bisa membasmi mereka yang busuk dan jahat, supaya kaum Rimba Persilatan mengangkat pula namanya yang bersih."

"Bagus, bagus," oey Eng memuji. "Inilah pikiran yang baik sekali. Menurut aku, tak usah sulit sulit kita mencari nama, baik pakai saja Rombongan Tjeng Gi pang "

"Apakah nama itu tidak terlalu agung?" tanya Siauw Pek. "ceng Gi berarti "keadilan", dan "Pang" ialah "Kawanan". "Menurut aku, sekarang baiknya kiga jangan membangun ikatan dahulu, sebab kita belum membuat penyelidikan dan hasilnya belum ketahuan-Jikalau nanti yang bersalah adalah ayahku, tidakkah kita merusak kesucian kata kata Tjeng Gi itu?" oey Eng menarik napas kagum. " Kakak Tjoh, kau ini sungguh bijaksana " ia memuji. "Sekarang baiknya begini saja. Ikatan kita jangan dibangun dahulu, tetapi kau tetap menjadi bengcu yaitu pemimpin kami."

"Ya, ya kakak Tjoh menjadi bengcu" kata Kho Kong, "Nah, bengcu, apakah tindakan permulaanmu? Kemana kita pertama pergi?"

"Ketika ayahku masih ada," sahut Siauw Pek "beliau pernah memberitahukan bahwa beliau telah menitipkan beberapa rupa barang pada seorang sahabatnya, maka itu sekarang aku memikirkan buat pergi mengambil barang barang itu, yang mestinya penting sekali. Dari sana baru kita mulai membuat penyelidikan tentang urusan ayahku."

"Jikalau demikian, mari kita berangkat sekarang," mengajak oey Eng.

"Satu hal harus diperintah," Siauw Pek pesan "Sebelum kita berhasil mencari keterangan baiknya aku menyembunyikan diri dulu, agar musuh tidak datang mengganggu. Artinya kita membuat penyelidikan secara rahasia."

"Itu benar" oey Eng dan Kho Kong setuju.

Lalu mereka itupun berjalanlah. Inilah yang pertama kali putera Tjoh Kam Pek mendapat kawan Dan, pada suatu tengah hari, mereka tiba di Ji Si Wan, kota Gak yang bagian selatan-

Jie Sie Wan adalah sebuah dusun kecil, yang penduduknya hanya beberapa puluh keluarga, kebanyakan petani yang sederhana.

Tiba didesa itu Siauw Pek bertiga berpakaian sebagai orang orang desa juga. senjata mereka disimpan dalam bungkusan, untuk tidak mendatangkan kecurigaan Lebih dahulu mereka berpura-pura mengitari desa, baru berjalan memasuki.

Seorang tua, yang sedang berangin sambil mengipasi diri, tampak sedang duduk dibawah sebuah pohon, Siauw Pek menghampiri orang tua itu, untuk memberi hormat kepadanya sambil menanya kalau-kalau desa itu benar desa Jie Sie Wan "Benar," sahut orang tua itu, "Tuan tuan hendak mencari siapakah ?"

"Ada seorang tuna netra yang dipanggil Lauw Hay tju, benarkah dia tinggal disini?" tanya Siauw Pek.

sebelum menjawab, orang tua itu memandangi si anak muda dahulu.

"Lauw Hay tju ?" dia mengulangi. "Dia tinggal disebelah barat sana, di sebuah rumah bilik. Mudah mencarinya, sebab rumahnya itu mencil sendirian."

"Terima kasih " kata Siauw Pek seraya memberi hormat pula, terus ia mengajak kedua kawannya bertindak kearah barat.

Selagi berjalan, tiga orang ini masih mendengar orang tua itu berkata kata seorang diri : "Aneh Sudah empat atau lima tahun, tak pernah ada seorang jua yang mencari Lauw Hay tju, tetapi selama beberapa hari ini, tak hentinya orang datang menjenguknya..."

Siauw Pek terperanjat. Karena ini, segera ia mempercepat tindakannya.

Disebelah barat itu ada sebidang tanah persawahan dan kebun, benar disana tampak sebuah rumah kecil, yang dikelilingi pohon pohon bambu hijau.

"Tentu itulah rumahnya," kata oey Eng, perlahan. "Mari kita hampiri."

Begitu ia melihat rumah cilik itu, Siauw pek merasakan tindakannya menjadi berat. Disebabkan hatinya tiba-tiba menjadi tidak tenang, dan ia lalu menerka nerka : Adakah barang titipan ayahnya masih ada ? Apakah barang titipan itu ada sangkut pautnya dengan urusan sakit hatinya? Sebenarnya si tuna netra itu orang macam apa? Kenapa ayahnya menitipkan barangnya kepada orang buta itu?

Selagi ia masih berpikir, tahu tahu Kauw-Pek telah tiba di depan rumah orang. Pintu rumah tertutup. Didepannya tergantung sebuah papan merk, bunyinya: Lauw Hay tju, Mo Kut Tam Siang. Artinya "Lauw Hay tju si akhli nujum dengan meraba tulang."

Segera Siauw Pek mengetuk pintu. "Apa ada orang di dalam ?" tanyanya.

Dari dalam terdengar jawaban yang parau. "Apakah orang yang ingin di ramalkan? Silahkan masuk "

Siauw Pek menolak daun pintu. Ia melihat ruang depan yang penuh rumput dan daun daun, tandanya ruang itu tak kenal sesapu. Ia menerka tentulah tuan rumah tinggal seorang diri saja.

Disitu, Kho Kong mendahului masuk keruang dalam. Segera dilihatnya seorang buta yang sedang duduk dibelakang sebuah meja, orang itu sudah tua, rambutnya panjang dan kusut,

bajunya telah pecah disana sini, sedang janggutnya ubanan dan meroyot turun kedadanya. Kedua matanya sudah buta. Mengawasi orang bercaCad itu ia heran ia tidak mengerti mengapa Tjoh Kam Pek dapat menitipkan barangnya kepada orang buta semacam ini.

Tuan rumah rupanya telah tahu tetamunya sudah masuk. ia bangkit secara mengundang: "Silahkan duduk dikursi bambu didepanku ini." Sementara itu Siauw Pek dan oey Eng mengikuti Kho Kong.

Walaupun buta matanya, Lauw Hay tju terang pendengarannya.

Ia dapat membedakan orang dari tindakan kakinya saja.

" Ketiga tuan, silahkan duduk" ia mengundang pula. "Mataku tidak dapat melihat, maaf, aku tak dapat meninggalkan tempat dudukku untuk menyambut kedatangan tuan tuan."

"Maaf, lotjianpwee, aku mengganggu ketenteramanmu," kata Siauw Pek. Ia menyebut "lootjianpwee" orang tua tingkat lebih atas karena dialah sahabat, bahkan orang kepercayaan ayahnya.

"Sama sekali tidak. tuan," kata tuan rumah. "Aku hidup dari hasilnya ramalanku, aku menyambut girang setiap kunjungan, lebih banyak tetamu lebih baik lagi, jikalau tiada orang datang, bukankah aku mati kelaparan ?"

Diam-diam Siauw Pek mengawasi tajam si tuna netra. Ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa, yang mencurigakan-

"sebenarnya kami datang bukan untuk minta diramalkan," katanya kemudian perlahan-Mendadak Lauw Hay-tju menjadi heran.

"Habis kamu datang mau apa ?" tanyanya, suaranya segera berubah.

"Bengtju kami datang untuk mencari keterangan," oey Eng turut bicara. "Jikalau kau dapat memberi penjelasan, kami akan beri banyak uang kepadamu, hingga selanjutnya tak usah kau hidup dari ramalanmu lagi."

" Walaupun kedua mataku sudah buta, aku masih mempunyai semacam kepandaian." berkata si buta. " Dengan hasil kepandaianku itu, dapat aku melewatkan hari-hariku. Mengenai uang yang tak ketahuan asal usulnya, maaf, tak dapat aku menerimanya."

"Lotjianpwee memang seorang berilmu," kata Siauw Pek. "Aku yang muda..."

"Aku menujumkan orang untuk penghidupanku," memutus si orang tua, "aku harap tuan tuan jangan mengangkat tinggi-tinggi padaku." Siauw Pek menghela napas perlahan-

" Lotjianpwee, ingin aku menyebut satu nama mungkin lotjianpwee mengenalnya," katanya sabar.

"Tidak. aku tidak kenal " kata siorang cepat. " Kecuali orang orang yang datang meramalkan kesini, aku tidak kenal siapa juga "

Mendengar suara orang itu, hati Siauw Pek lega, kemudian ia berkata perlahan sekali : "Lotjianpwee, apakah barang titipan sahabatkmu dari kaum Pek Ho Bun masih ada?" Ditanya begitu, Lauw Hay-tju kaget, hingga tubuhnya gemetar.

"Sekarang jam berapa ?" tanyanya cepat. "sudah lohor magrib matahari sore merah," sahut Siauw Pek.

Kembali tubuh siorang buta bergemetar. Dia berkata lagi: "Dijalan ketempat baka tak ada penginapan-.."

Siauw Pek kemudian menimpali: "Tetamu datang dari Tanah Barat tempat hati Buddha."

Tiba-tiba Lauw Hay-tju menggerakkan tangannya menyambar tongkat bambu yang disandarkan dikursinya.

"Kau siapa ?" dia bertanya keras.

"Boanpwee Tjoh Siauw Pek," sahut sianak muda sabar.

Mendadak pula tangan kanan Lauw Hay tju bergerak. dengan tongkatnya itu dia menusuk kedada sianak muda. Tongkat itu bergerak bagaikan kilat. Siauw Pek kaget sekali.

"Lotjianpwee" ia berseru sambil berkelit. Kho Kong kaget, dia segera menyiapkan senjatanya.

Hebat orang tua itu, dia buta tetapi sangat gesit. Baru tetamunya berkelit, tusukannya yang kedua sudah menyusul.

Melihat betapa liehaynya si orang tua, Siauw Pek kagum. Katanya didalam hati: "Hebat ilmu silat tongkat ini, sungguh gagah, juga tenaga dalamnya mahir sekali." ia berkelit pula.

Kali ini Kho Kong menangkis. "Tahan, lotjianpwee " dia berseru. "Aku situa tidak takut kamu kabur" kata orang tua itu, yang terus

mundur kesamping, sedang tongkatnya ditarik kembali.

Boanpwee Tjoh Siauw Pek, ia berkata pula. "Ayahku ialah Tjoh Kam Pek dari Pek Ho Bun." Lauw Hay tju menyela dengan tertawa dingin.

"Apakah kau menghinaku sebab aku buta tak melihat apa-apa, tidak melihat kau ?" tanyanya.

Siauw Pek heran, hingga dia tercengang. "Sebelum ayahku melihat bencana, ayah telah memesan boanpwee." ia menerangkan "Ayah bilang, andaikata boanpwee dapat hidup, supaya boanpwee pergi mencari lotjianpwee disini untuk meminta barang-barang yang dititipkan ayah. Syukur boanpwee tidak mati maka itu sekarang boanpwee datang kemari..."

Mata situan rumah buta tetapi toh mencilak hingga tampak putihnya. "Kalau begitu sungguh aneh " serunya.

"Kenapa, lotjianpwee ?" bertanya Siauw Pek. Iapun heran, hatinya bercacat. "Apakah jawaban boanpwee tidak tepat ?" Lauw Hay-tju tidak menjawab dia hanya bertanya. "Bukankah kau telah datang kemarin ?"

sekarang Siauw Pek yang ganti terkejut. "Apa ?" tanyanya. "Kemarin datang seorang pemuda kepadaku," berkata Lauw Hay-

tju. "Katanya dialah anak piatu dari Tjoh Kam Pek. Tepat jawaban

dia tak salah sepatah katapun juga, kata-kata rahasia itu hanya diketahui kami berdua, ayahmu dan aku. Kalau dia tahu kata-kata rahasia itu, dia pasti bukan si orang palsu "

Siauw Pek bingung dan menyesal, berkali kali dia membanting kakinya.

"Siapakah orang itu ?" tanyanya berulang ulang. "Siapakah dia ?

Bagaimana dia dapat mengetahui kata kata rahasia itu ?" Tiba tiba terdengar tawa dingin dari Kho Kong.

"Lotjianpwee" dia menyela, "kedua matamu itu benar benar buta atau hanya berlagak buta ?"

"Bicara sebenarnya, tuan tuan," sahut orang tua itu, " mata ku ini bukan buta seluruhnya, cuma lamur saja. Aku dapat melihat jauh empat atau lima kaki, dengan samar samar."

oey Eng campur bicara.

"Locianpwee," katanya, "kalau loocianpwee cuma lamur, tentu loocianpwee berkesan mendalam mengenai anak muda yang kemarin itu. Apakah loocianpwee bisa menunjukkan sesuatu yang istimewa ?" orang tua itu berdiam.

"Andaikata aku tahu, akupun tidak dapat menjelaskan kepada kamu," sahutnya dingin. "Kalau dikatakan dia itu palsu, mana bisa aku percaya bahwa kamu bukannya yang palsu juga."

"Tetapi loocianpwee," kata Siauw Pek, yang tetap bingung sekali, apakah kata-kata rahasiaku ada yang salah ?"

"Tidak Sepatah katapun tidak "

"Jikalau sepatah katapun tidak ada yang salah, kenapa loocianpwee masih tak mau percaya aku ?"

Kho Kong menyela: "Dikolong langit ini, semua orang dapat dipalsukan, tetapi tidak ada orang yang sudi mengaku menjadi anak orang lain "

"Tapi kata kata rahasia orang itu, sepatah juga tidak salah," berkata si orang tua. "kata kata rahasia itu hanya diketahui oleh aku dan sahabat Tjoh Kam Pek serta isterinya. Jikalau bukan Tjoh Kam Pek yang memberi tahu, bagaimana orang lain itu?" Siauw Pek menghela nafas.

"Loocianpwee, coba tolong ingat ingat pula, ia minta: Benarkah taksalah sepatah kata jua timpalan orang muda kemarin itu?"

"Tidak. tidak salah sama sekali. Kata kata itu telah aku hafal belasan tahun, jangankan orang itu salah, dia beragu ragu pun pasti curiga dan aku dapat mendedasnya "

"Apakah loocianpwee tanya she dan namanya ?"

"Itulah tidak, anak. Adalah perjanjian diantara aku dan sahabatku Tjoh Kam Pek untuk tak usah menanyakan she dan nama orang yang minta barang titipan itu. Pesan ayahmu itu pasti adalah hasil dari pemikiran yang dalam. Ayahmu merantau keseluruh negara, pasti ada orang yang memperhatikan dan mengintainya. Pasti orangpun akan mencurigai setiap orang yang ada hubungan dengannya. Aku menerima pesan aku mesti berlaku jujur dan setia terhadap pesan itu, jadi aku tidak tanyakan she dan nama anak muda itu." Siauw Pek menyesal sekali. Kembali ia menarik nafas.

"Boanpwe datang dari ribuan lie, tak sangka karena terlambat satu hari, urusan jadi gagal secara hebat begini..^" katanya. Si orang buta dengan perlahan duduk pula dikursinya.

"Anak." ia menegaskan, "apakah kau benar benar putera Tjoh Kam Pek sahabatku itu?"

"Jikalau loocianpwee masih menyangsikan aku, nanti aku terangkan segala apa yang aku masih ingat perihal ayahku itu."

"Segala sesuatu dahulu itu." kata Lauw Hay cu, " walaupun aku tidak tahu jelas tapi aku rasa masih ada yang aku ingat. Asal aku memperoleh kepastian kaulah anak sahabatku itu, akan aku tuturkan segala apa yang aku tahu kepadamu."

"Bagaimana caranya loocianpwee percaya aku?" Siauw Pek bertanya.

"Semasa hidupnya, ayahmu itu sangat terkenal, dia telah merantau luas," kata si orang tua "karena itu tidak ada orang yang tidak mengenalnya, jadi buat melukiskan roman wajahnya itulah tidak sulit."

"Kalau begitu sungguh sukar buat boanpwee" Siauw Pek mengaku.

"Jangan bersusah hati dulu, anak. Aku masih punya satu cara." "Tolonglah jelaskan, loocianpwee."

"Dalam ilmu silat Pek Ho Bun, ada tiga jurusnya yang istimewa yang dapat dipakai menyelamatkan diri dari ancaman bahaya," berkata Lauw Hay-tju, "sekarang dengan tongkatku ini, aku hendak mengujimu. Mataku lamur, aku tidak dapat melihat tegas, tetapi asal kau gunakan itu, dapat aku merasakannya." Berkata begitu, dia lalu menjemput tongaktnya. "Mari kita coba" katanya pula. Siauw Pek bingung, dia mengeluh didalam hati. "Lootjianpwee," katanya, "walaupun cara ini sempurna tetapi bagiku sulit sekali. Aku tidak mengerti ilmu silat Pek Ho Bun. Mana bisa aku melayani lootjianpwee bersilat ?"

Lauw Hay tju menunda tongkatnya, dia heran.

"Ngaco " bentaknya. "oh, hampir aku kena diperdayakan  olehmu

"

Baru  saja  dia  membentak.  orang  tua  itu  sudah  menyerang

dengan hebat, dia menggunakan tipu silat "Menyapu tentara seribu jiwa."

Ruang itu tidak luas, itulah berbahaya bagi Siauw Pek. Iapun tidak berniat melayani tuan rumah itu. Terpaksa ia melompat mundur, untuk menyingkir keluar. Kho Kong menjadi tidak puas, dia gusar.

"oh, tua bangka tidak pakai aturan" bentaknya. "Bengcu kami tidak sudi melayani kau, karena itu dia senantiasa mengalah. Apakah kau sangka dia takut padamu." Sementara itu, Siauw Pek sudah tiba diluar, ia diikuti oey Eng.

Kho Kong mendongkol, akan tetapi iapun tidak melayani. ia berkelit, terus menyingkir ke sudut.

Mata Lauw Hay tju tidak berguna, tapi tidak demikian dengan telinganya. Ia tahu masih ada satu orang dalam ruangan itu dan juga di mana orang itu berada, ia maju untuk menyerang Kho Kong. Kali ini dengan menggunakan jurus "Naga emas mengulur kuku."

Pemuda itu telah menyiapkan sepasang senjatanya, sambil menangkis dan membalas menyerang. ia menusuk dengan jurus "cecer terbang membentur lonceng."

Lau Hay tju berkelit, terus dia menyerang pula, empat kali beruntun Semua serangan berat dan berbahaya. Kho K^ong membela diri dengan menjaga dan menangkis, dan ketika ia hendak membalas menyerang, tiba-tiba sibuta menggunakan tongkatnya menyingkap tirai, kemudian lompat menyelinap dibelakangnya. Ia menyingkir kedalam kamar. Kho Kong heran, dia mengerutkan alis.

"Saudara oey, jaga jendela belakang," teriaknya setelah dia ingat sesuatu. "Jangan biarkan situa buta lolos"

oey Eng menyahut. Sambil menghunus pedang ia lari kebelakang.

Sesaat lamanya itu Siauw Pek berdiam saja. Ia heran dan bercuriga. Pikirnya: "Dia lihay, kenapa dia suka tinggal menyendiri ditempat sesunyi ini, hidup belasan tahun sebagai tukang tenung ? Sayang ayah tak pernah menceritakan dia pandai silat..."

Ketika itu suara Kho Kong : "TUa b angka buta, ada apakah kesulitanmu? Lekas beri tahu terus terang. Tak nanti kami paksa dan mengganggumu.Jikalau kau tetap bersembunyi, awas akan aku bakar gubukmu ini"

Menyusul ancaman itu, Lauw Hay tju menyingkap tirai dan muncul. Ditangan kanannya tambah sebuah pisau belati. Dia berkata dingin.

"Siapakah yang menyembunyikan diri? Kamu tahu, Lauw Hay tju juga seorang lelaki sejati sayang mataku bercacat, hingga tak sanggup aku membalaskan sakit hati Tjoh Toako, hingga aku mesti menahan malu hidup menyendiri disini, supaya aku dapat melindungi barang titipannya. Aku tidak tahu titipan itu barang apa tetapi aku percaya itu pastilah barang berharga sekali. Karena itu, aku tak dapat mati. Tapi sekarang lain Sekarang ini titipan Tjoh Toako telah diambil oleh ahli warisnya, kalau aku mati, aku tidak menyesal, maka sekarang, mari kita mengadu jiwa sebagai ganti membalaskan sakit hati Tjoh Toako "

Berkata begitu, orang tua ini berhenti sejenak, kemudian meneruskan "Biar kamu menggunakan akal apa juga, jangan mengharap aku membuka rahasia sedikitpun. Mataku gelap tetapi tidak hatiku. Baik akujelaskan terlebih dahulu, Pisau belatku ini ada racunnya yang jahat, asal pisau ini melukai tubuh orang, racunnya akan bekerja menutup kerogkongan. Pisau belati ini aku simpan spesial untuk membalaskan sakit hati Tjoh Toako, maka itu, justru kamu datang kemari, inilah bagus sekali. Andaikata aku tidak dapat melawan kami, maka senjata ini akan kupakai membunuh diri " Mendengar begitu, Siauw Pek makin curiga.

"Lootjianpwee, tunggu " ia berkata. "Letakkan dulu senjata lootjianpwee, supaya kita dapat berbicara secara terus terang."

"Tak perlu kita bicara lagi," kata orang tua itu. "Telah kuketahui siapa kamu "

Siauw Pek semakin heran orang lamur, tapi kata katanya demikian pasti. " Lootjianpwee, tahukah kau siapa kiranya aku ini ?" ia bertanya.

"Aku tak tahu, namamu, tetapi aku tahu kamu termasuk rombongan apa haha. Kau ingin mengorek keterangan dari mulutku si buta ? Hm Jangan harap " Kho Kong gusar.

"Baiklah, tua bangka buta" teriaknya. "Belum pernah aku menemui orang dungu semacam kau Mari "

Kawan ini mau maju menyerang, tapi Siauw Pek mencegahnya. "Sudah, saudara Kho, kita jangan mendesaknya. Mari kita pergi " Lauw Hay tju mendengar itu, dia tertawa dingin-

"Pergilah kamu, pergi, untuk mengundang lebih banyak kawan " dia menantang. "sekalipun kamu datang beratus atau beribu orang, tetapi aku tak jeri Hm Tak lebih tak kurang, jiwaku cuma satu "

Kho Kong gusar dan mendongkol. tetapi dia bertindak keluar. Dia mesti taati kata kata pemimpinnya itu.

Maka bersama-sama bertiga mereka mengundurkan diri.

Tiba ditegalan, Kho Kong mengeluh. "Tua bangka buta itu benar benar gila. Dia tetap tidak percaya kau, bengtju Dia tidak mau pikir dikolong langit ini dimana ada orang yang memalsukan anak orang "

"Kalau mendengar kata katanya itu, tak heran dia mencurigai kita," kata Siauw Pek, sabar. "Mestinya dia bersahabat sangat erat dengan almarhum ayahku. Dia menerima pesan, sudah seharusnya dia bersetia kepada pesan itu. Aku tidak mengerti ilmu silat Pek Ho Bun, ilmu silat partaiku, tidak heran dia menjadi curiga."

"Kalau begitu, apakah kita berhenti sampai disini saja?" tanya Kho Kong, penasaran-Siauw Pek menghela nafas.

"Sayang dia telah menganggap kita sebagai musuh besar," katanya. "Sukar sekali bagi kita merebut kepercayaannya.Jangankan dialah sahabat karib ayahku, walaupun dia seorang tidak dikenal oleh ayahku itu, tak dapat kita memaksakan kematiannya. Aku menyesal sebab kelambatan satu hari saja, gagallah perjamuanku ini..."

"Kau berpikir besar, bengtju," oey Eng turut bicara. "Tapi hati manusia itu sukar dijajaki. Siapa tahu mungkin dia sedang menggunakan tipu daya? Dia toh dapat berpura pura."

Lagi lagi Siauw Pek menarik nafas.

"Melihat gerak geriknya itu, tak mungkin dia sedang menggunakan tipu," katanya. "Sekarang baik kita mencari akal..." Kho Kong tetap penasaran-

"Menurut aku, dia pasti berpura pura " katanya sengit. "Dia licik sekali "

"Dunia Sungai Telaga penuh dengan akal bulus, tak dapat kita menjaganya," kata Siauw Pek, tetapi mengenai Lauw Hay tju, aku percaya dia bukanlah seorang licik,"

Pengalaman pahit getir membuat anak mdua ini dapat memikir jauh. Ia menjadi beda dengan orang orang dewasa seumurnya. Kho Kong bertabiat keras, tetapi dia juga dapat berpikir.

"Ya, sayang kita terlambat," katanya kemudian "Barang titipan itu mestinya penting sekali. Apakah kita berhenti sampai disini? Menurut aku, sekarang baik kita menyembunyikan diri ditempat ini, untuk secara diam diam kita intai gerak gerik si buta itu. Setelah itu barulah kita menetapkan rencana kita..." oey Eng yang berdiam saja sejak tadi, turut bicara. "Pikiranmu ini baik, saudara. hanya pelaksanaannya meminta terlalu banyak waktu," katanya. "Menurut aku, baiklah kita melenyapkan dahulu tenaga perlawanannya, yaitu kita tangkap dia hidup hidup, kemudian baru kita berdaya membuatnya mau menuturkan segala galanya. Kalau kita sudah bekuk dia, dia mau matipun tidak bisa." Kho Kong menunjukkan jempolnya.

"Bagus Bagus" pujinya. "Pikiran yang bagus." Tapi, mendadak ia mengerutkan alisnya. "oh, tidak, tak dapat kita lakukan ini" ia menambahkan. "Tadi aku menempur dia, dia lihay."

"Kita berdua bersaudara oey, tak sanggup kita membekuknya. Bengcu liehay, tetapi bengcupun sukar menotok jalan darahnya dalam satu serangan-"

"Memang, dia memang liehay," oey Eng akui "sekarang bagaimana ? Titipan barang ayah bengcu penting sekali, perlu kita dapatkan itu. Bagaimana kalau kita sekarang istirahat dahulu, nanti aku selesaikan dia ? Kita masuk ke gubuknya dengan berpencar, lalu kita tunggu kesempatan untuk membokong menotok jalan darahnya."

"Didalam pertempuran, tak ada halangannya  orang menggunakan pelbagai macam tipu muslihat," kata Siauw Pek. "Hanya dialah sahabat kekal almarhum ayahku, mana pantas kau membokong dia. Lagi pula dia bertabiat sangat keras, andaikata dia membandel menutup rahasia bagaimana, apa yang dapat kita perbuat."

oey Eng berpikir.

"Jikalaujalan keras tak dapat. Terpaksa kita mesti ambil jalan halus," katanya. "Terpaksa kita mesti mengalah dan mengabdi kepadanya." Siauw Pek berdiam. Belum bisa ia mengambil keputusan-

"Sayang dahulu ayah tidak mengajariku ilmu silat Pek Ho Bun hingga aku tidak mengerti tiga jurus ilmu itu," katanya. "Tak heran orang tua itu mencurigai aku karenanya." "Soalnya memang sukar," kata Kho Kong. "Tua bangka itu kukuh sekali"

Tiba tiba oey Eng menarik tangan Siauw Pek. "Ada orang" bisiknya. Mari kita bersembunyi."

Memang ketika itu mulai terdengar tindakan kaki kuda, maka ketiga pemuda itu lalu mendak diantara gerombolan pohon.

Segera juga tampak mendatang seekor kuda putih tinggi besar, yang berjalan dengan perlahan, penunggangnya ialah seorang  muda yang berpakaian mewah, usianya ditaksir baru dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, mukanya putih, matanya jeli. Pada pelana tergantung sebatang pedang panjang, yang dihiasi runce merah, yang berkelebat kelebat ditiup angin.

Tiba didepan rumah Lauw Hay-tju, kuda itu dihentikan, penunggangnya mengawasi rumah serta sekitarnya, setelah itu dia melompat turun dan menghampiri pintu.

"Dialah seorang pemuda hartawan, buat apa dia mengunjungi Lauw Hay-tju?" berbisik oey Eng, mari kita lihat.

"Memang dia mencurigakan," kata Siauw Pek aku menerka dia pandai silat. Kalau kita dekati mungkin dia bercuriga."

"Jangan ragu, bengcu," kata Kho Kong, "dengan selalu ragu, kita bakal gagal. Mari kita dekati dia, kalau dia mempergoki kita, tidak apa. Siapa tahu dialah pemuda yang telah menipu Lauw Hay tju, yang telah mengambil barang titipan ayah bengcu ?"

"Baiklah," Siauw Pek berkata, "sekarang kamu tunggu disini, aku hendak pergi melihat dia, seandainya aku kepergok dan jadi bertempur, jangan sekali-sekali kamu membantu aku, tugas kalian ialah pergi mencari tahu tempat mondoknya orang itu."

"Baik," jawab oey Eng. "Bersama saudara Kho, aku nanti memisah diri untuk menguntit dan menyelidikinya."

Siauw Pek keluar dari tempat sembunyinya, kemudian bertindak menuju kerumah Lauw Hay tju, ia berjalan dengan perlahan. segera setelah ia mendekati pagar pekarangan, ia melompat untuk bersembunyi diantara pagar itu, guna menghampiri bilik rumah. Ketika itu si tetamu muda dan Lauw Hay tju tengah berbicara sambil berdiri. ia lalu memasang telinga.

"Barang titipan sudah diserahkan, buat apa paman masih menjaga terus rumah gubuk ini?" demikian terdengar sianak muda bertanya.

"Seseorang mempunyai pikirannya sendiri, tak dapat dipaksa," sahut sibuta. "Tolong sampaikan kepada gurumu bahwa aku sehat walafiat "

"Tetapi," kata pula sianak muda, "apabila hal ini tersiar diluaran, mungkin semua orang Rimba Persilatan bakal memusuhimu" orang tua itu menggoyang kepala.

"Gurumu baik, aku berterima kasih," katanya. "Tapi aku sudah jadi biasa dengan penghidupan sunyi ini, jikalau aku dipaksa berlalu dari sini, itulah tidak baik."

Pemuda itu masih hendak bicara, tapi ia telah ditolak tubuhnya oleh tuan rumah sampai diluar, setelah itu, brak maka daun pintu telah digabruki di belakangnya.

Untuk sejenak. pemuda itu bengong mengawasi daun pintu, lalu ia menarik napas masgul, kemudian dengan lesu ia menghampiri kudanya, segera mencengklaknya dan berlalu pergi. Kalau tadi datangnya perlahan lahan, kini cepat sekali perginya. Sekali dikaburkan, kudanya segera membawanya larat dan lenyap dari pandangan mata

Siauw Pek heran. Sampai disitu, ia ingin berlalu, tetapi mendadak ia mendengar suara pintu dibuka, lalu tampak Lauw Hay-tju muncul, bertindak perlahan keruang luar.

"Rupanya ada maksud tertentu mengapa orang tua ini lebih suka tinggal menyendiri disini," pikirnya.

"Entah siapa anak muda itu? Dia tidak mirip sembarang orang Kenapa Lauw Hay-tju tak sungkan sungkan lagi terhadapnya ?" Lauw Hay-tju berhenti berjalan, nampak dia memasang telinga.

Siauw Pek terperanjat, lekas lekas ia menahan napas.

Beberapa saat lamanya si buta memasang telinga, terus dia menarik napas panjang kemudian dia berjalan mundar mandir di pekarangan yang penuh daun rontok itu Teranglah pikirannya sedang kacau, rupanya dia tak dapat memutuskan sesuatu. Hingga dia menjadi tidak tenang.

Mendadak. Siauw Pek mendapat satu pikiran : "Kenapa aku tidak mau mencuri masuk ke dalam kamarnya. Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu mengenai barang titipan ayahku... Perbuatan ini tidak baik, tapi terpaksa. Kita pun sudah salah paham "

Hanya sedetik, anak muda ini mengambil putusan. Sambil menahan terus napasnya, dia bertindak melintas kebelakang, untuk kedalam rumah.

Lauw Hay-tju sedang terbenam dalam pikirannya, ia tidak mendengar sesuatu.

Dengan cepat Siauw Pek langsung masuk ke kamar tidur si tuna netra. Sebuah kamar sederhana luar biasa. Tidak ada lain perabotan kecuali bale bale yang dijadikan pembaringan, di atasnya bertumpuk kacau beberapa potong pakaian tua dan rombeng. Sebuah selimut bututpun numpuk diujung pembaringan itu.

Dengan berhati hati, Siauw Pek menghampiri pembaringan ia telah mengulur tangannya, tetapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh satu bentakan : "Siapa?" Lekas lekas ia menarik kembali tangannya itu, tubuhnya ditempelkan kebilik dimana ia berdiam sambil menahan napas, sedang matanya segera mengawasi ke arah suara itu.

Di saat itu terdengarlah satu suara yang nyaring "Amida Buddha Loo lap Su Kay datang mengganggu Lauw Sietju."

Tiba tiba Siauw Pek ingat si pendeta bertubuh tinggi besar yang terlibat di dalam pertempuran mati hidup d imuka jembatan maut Seng Su Kio Dia itu menggunakan goat gee san, senjata yang mirip sekup dan berkilauan. Pendeta itu sangat mengesankan kepadanya.  sekarang ia mendengar orang menyebut nama sucinya, mendadak dadanya bergolak. darahnya mendidih panas. "Loo lap" berarti "Pendeta Buddha tua", biasanya dipakai untuk menyebut diri sendiri.

Atas kata kata pendeta itu, terdengar jawaban tuan rumah : "Tay su datang berkunjung ke gubukku yang buruk ini, apakah hendak membuat ramalan seumur hidup ?"

Terdengar pula suaranya si Pendeta, yang terlebih dahulu menghela napas panjang : "Lauw Sie tju, kau sungguh seorang yang luar biasa. Telah beberapa tahun loo lap mengembara selama beberapa bulan aku mencarimu, baru sekarang ini loolap berhasil menemukan siecu disini. Siecu, maksud kedatanganku ini ialah untuk berbicara dengan siecu mengenai suatu peristiwa dalam Rimba Persilatan beberapa tahun yang lampau..." Istilah "taysu" itu ialah panggilan menghormat untuk seorang pendeta. Mendengar  itu, Lauw Hay tju tertawa dingin.

"Aku situa adalah orang yang kedua matanya tak dapat melihat apa apa," berkata tuan rumah pula, "aku hidup sebagai tukang meramalkan, dan mengenai urusan kaum Rimba Persilatan tak tahu menahu. Mungkin taysu telah keliru mencari alamat."

-ooodwooo-
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 06"

Post a Comment

close