Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 09

Mode Malam
JILID 9

Kemudian mereka merasa bahwa mereka berjalan naik, seperti mendaki tangga. Ketika mereka tiba ditanah datar lagi, lalu mereka tersampok angin yang adem. Itulah tanda bahwa mereka sudah keluar dari penjara air. Sekarang mereka merasa menginjak sesuatu yang lunak. rupanya rumput.

Mereka berjalan sekira sehirupan teh, kemudian terdengar kembali suara pengantarnya itu. “Tuan tuan, silahkan duduk “

Siauw pek bertiga menurut. Memang, untuk membantahpun sudah tidak ada gunanya.

Setelah mereka duduk. pemuda itu berkata dingin. “Disekitar sini ada berjagajaga tak sedikit orang kosen, mereka juga pada membekal senjata senjata rahasia beracun, jikalau tuan tuan mencoba hendak melarikan diri, tak ampun lagi tuan tuan bakal dibinasakan-” Dia diam sejenak, kemudian menambahkan “Ketua kami bakal segera datang kesini, maka itu, sebentar aku harap sukalah kamu tak usah mengalami siksaan lahir “

Kho Kong sengit, berkata dia: “ Lelaki itu takut mati, apapula segala siksaan-Jikalau dia hingga keleluhur nenek moyangnya “

Gusar si pemuda mendengar ancaman itu. Kata dia bengis. “Asal kau berani mencaci ketua kami dengan sepatah kata saja, aku akan hajar rontok gigimu, dan kubetot lidahmu" “Saudara Kho, sudah diam,” oey Eng membisiki saudaranya itu. Segera setelah itu terdengar tindakan kaki yang pergi jauh.

oey Eng mendekam ditanah, setelah itu, dia tanya Siauw Pek. “Apakah bengcu dapat menyingkirkan jarum dibahu kita ini?" Siauw Pek menghela napas.

“Telah aku coba, tetapi gagal...” “Kalau begitu, aku ada akal...”

“Apakah itu? Lekas katakan “ Kho Kong lantas mendesak.

“Inilah cara sangat sederhana, asal kita dapat bebas dari pengawasan sekalian penilik kita. Mari, bengcu, akan aku cabutjarummu dengan gigiku...”

“Ya, akal sederhana sekali “ kata Kho Kong “Mengapa aku tak dapat memikirkannya?”

siauw Pek baru hendak mendekati kawannya tetapi dia mendadak berkelit kesamping, menyusul sesuatu yang berkelebat dan berhawa dingin menyambar kearah mukanya, jatuh tiga kaki dari dekatnya. Segera ia mendengar suara halus dan merdu serta pujian, “Sungguh ilmu ringan tubuh yang mahir sekali”

Nyatalah pengawas itu mengawasi gerak gerik, oey Eng dan Siauw Pek, maka dia mencegah maksud oey Eng dengan serangan senjata. Terang dia telah mendengar pembicaraan ketiga orang tawanan itu.

siauw Pek bertiga berdiam. Segera mereka mendengar pula suara tadi, suaranya seorang wanita: “Pergilah, kini kamu tak dibutuhkan pula”

Terdengar suara dua orang menyahut: “Ya” disusul suara tindakan kaki mereka itu.

“Kiranya benar tetap ada orang mengawasi kita,” pikir Siauw Pek.

Ketika itu terasa tiupan angin yang halus sekali, tiga orang itu kemudian mencium bunga...

bau wangi dari yanci dan pupur, Siauw Pek bertiga tidak dapat melihat orang tetapi bau itu membuktikan bahwa ada orang yang telah datang dekat sekali kepada mereka.

Hanya sedikit, lalu terdengar pula suara si wanita: “Kamu harus bicara secara terus terang padaku, supaya kamu tak usah dipaksa bicara dengan siksaan-"

'Dalam hal itu, terserah kepada pertanyaanmu,' sahut Siauw Pek. 'Percuma saja kalau hal yang ditanyakan tak kami ketahui.”

”Pasti kamu dapat menjawabnya...'

Agaknya wanita itu ragu ragu, dia diam sejenak, baru dia mulai bertanya: ”Tuan tuan, apa she dan nama kamu yang besar? Dan apa maksud kamu datang kemari?'

'Aku yang rendah Tjoh Siauw Pek.' sipemuda menjawabnya sejujurnya. 'Dan kawanku ini saudara saudara oey Eng dan Kho Kong. Kami datang kemari tanpa maksud apa apa, aku percaya nona tentu telah mengetahuinya.'

'Tetapi, tuan tuan, telah masuk kedalam kuil kami ini,' kata sinona. Dengan telah datang kemari, pasti kamu mengetahui tak sedikit rahasia kami. Karena itu, walaupun kami dapat memikir untuk membebaskan kamu, alasan untuk itu tipis sekali...'

'Habis, kau mau apakah?' siauw Pek tanya,

”Satu yaitu masuk kedalam rombongan Kwan ong Bie kami, yang kedua yaitu kami masukkan kamu pula kepenjara air untuk merendam kamu hingga mati kelelap'

siauw Pek menggumam, lalu menjawab: 'Kalau begitu silahkan nona bawa kami kembali ke penjara air”

Sinona tidak segera mengatakan sesuatu, dia hanya mengawasi oey Eng dan Kho Kong, kemudian menanya “Bagaimana pikiran kami berdua, tuan tuan Kamu mau mati bersama kawanmu ini atau kamu suka masuk kedalam rombongan kami?'

oey Eng menjawab segera: “Kami bertiga telah bersumpah akan sehidup semati, maka itu kami bersedia mengikuti kakak kami pergi ke dunia baka”

”Jikalau kami mati, kami bakal jadi setan setan” kata Kho Kong nyaring. “Kami akan masuk kedalam delapan belas neraka, kemudian kami akan mengamuk dirumah kami hingga kamu serumah tangga tak akan hidup tenteram dan tenang"

Wanita itu tertawa dingin.

“Aku telah membunuh tak sedikit orang, belum pernah aku melihat setan katanya. Jikalau kamu sudi mati bersama sama, baiklah, akan aku penuhkan keinginan kamu itu ' Siauw Pek bangun berdiri.

'Nah, nona, silahkan antar kami ' katanya. Dan ia maju kedepan oey Eng.

oey Eng sudah siap sedia, begitu bahu ketua itu lewat di depan mukanya, ia segera membuka mulut, untuk menggigit ujung jarum. cepat gerakannya itu. Wanita itu telah melihat perbuatan itu, dengan gerakannya yang lebih gesit, dia maju untuk menyampok dengan tangan kanannya. Siauw Pek pun mendengar gerakan si wanita, ia segera menyepak.

“Plok” demikian satu suara nyaring, dan pipi oey Eng kena tergaplok hingga tubuhnya limbung, ketika ia dapat berdiri tetap. pipi kanannya sudah bengap dan merah

Kesebatan si wanita diluar dugaan siauw Pek dan oey Eng, maka gagallah usaha mereka.

Dan wanita itu tidak kena didupak. sebab dia keburu lompat menyingkir. Hanya dia kaget sekali sampai dia mengeluarkan peluh dingin. Hampir dia roboh sebagai kurban dupakan itu. Oey Eng menahan nyerinya.

“Bengcu,” kata dia. “ walaupun kita tidak dapat melihat apa-apa, tidak dapat kita berdiam saja menanti kematian '

“Benar” Kho Kong turut bicara, 'Sedikitnya kita mesti mengadu jiwa “

“Baik “ sahut Siauw Pek. “Mari kamu berdiam di belakangku, supaya kita dapat saling membantu “

Kho Kong menurut, segera ia lompat kebelakang ketuanya.

Baru saja pemuda itu bergerak. tiba tiba sebatang golok menyambar kearahnya.

siauw Pek telah memasang telinga, ia mendengar suata, maka dia menarik kembali serangannya itu.

Tiba tiba si nona tertawa terkekeh.

“Bagus” serunya, memuji. “Sungguh kamu sangat akur satu dengan lain Baiklah, suka aku menerima pengajaran dari kamu “ Kata kata itu ditutup dengan satu serangan pedang.

Dengan matanya tertutup, Siauw Pek cuma mengandaikan telinganya. Maka itu, dalam beberapa gebrak saja, repotlah ia. Ia mesti membela diri sambil melindungi kedua saudaranya. oey Eng pandai berpikir. Ia tahu waktu tidak dapat dibiarkan berlarut larut. Karena itu ia menjadi nekad. Kalau mesti mati, ia mesti mati sesudah berdaya. Maka ia lalu mencoba pula. Ia memasang telinganya. Ia tunggu sampai pedang menyambar, mendadak ia berseru: “Bengcu, awas” serentak dengan itu, ia melesat maju. Dan ia merasai iganya sakit, karena tusukan pedang.

Siauw Pek menendang, untuk menolong saudara itu. “Kau terluka, saudara oey?” tanya dia.

oey Eng tidak menjawab. Kalau ia membuka mulut, ia kuatir tak dapat ia bertahan diri. Sekarang ia bisa mempertahankan terus tenaga dalamnya. Bahkan ia melompat kebelakang ketuanya, ia membuka mulutnya dan menggigit kebelakang leher siketua, mencabut jarum beracun yang liehay itu

Tepat orang gagah ini berhasil, ia memperdengarkan suaranya “Ya, aku telah terlukakan pedang” dan ia terus roboh terguling.

Sementara itu Siauw Pek telah bebas, dapat ia menggunakan tangan kanannya. Dengan sebat ia menyingkirkan tutup matanya, sedangkan kakinya dilayangkan guna menolong oey Eng dari tikaman susulan Menyusul itu ia mencabut jarum dipunggung kirinya, sehingga dua-dua tangannya merdeka. Dengan tangan kirinya ia menyambar tubuhnya oey Eng untuk dipondong, sedang tangan kanannya, ia cabut j a rum pad a pundak Kho Kong, ketika itu datang pula serangan ia berkelit.

Disaat yang sangat berbahaya itu, walaupun ia bertangan kosong, Siauw Pek dapat menggunakan dua jurus tipu muslihat pedang Tay Pek Kiam Hoat. Ia pakai kedua jeriji tangannya sebagai pengganti pedang. Dengan begitu ia bisa menolong diri serta kedua kawannya itu.

Setelah jarum dipundak kirinya tercabut, Kho Kong segera bisa menggunakna tangannya, sambil berteriakn dia menyingkirkan  tutup matanya. Tepat waktu itu Siauw Pek bertiga mendengar seruan yang nyaring halus: “Sungguh hebat luar biasa” Menyusul itu, tak ada lagi pedang menyambar-nyambar.

Baru sekarang siauw Pek dapat memandang kearah lawannya. Dan didepannya sejarak setombak lebih, ia melihat ada berdiri seorang nona usia delapan atau sembilan belas tahun yang mengenakan baju hijau, yang tangannya mencekal sebilah pedang. Tampaknya nona itu terkejut dan kagum.

Kho Kong sendiri segera menghampiri oey Eng. “ Luka mu parah, saudara oey?” ia tanya. oey Eng membuka matanya. “Aku tak bakal mati” sahutnya. segera Kho Kong menghadapi sinona.

“Apakah kau yang melukai kakakku ini?" dia menegur, bengis. “Tidak salah “ menjawab sinona, mengangguk.

“Bagus” seru nya dengan gusar sekali. 'Perhitungan kita masih belum selesai Sebelum aku gempur Kwan ong Blo kamu ini, itu belum dikata bahwa aku telah selesai menuntut balas'

Siauw Pek mencegah saudaranya maju. Terus dia menghadapi si nona, dengan sikap gagah ia tanya: 'Pedangmu beracun atau tidak

?”

“Tidak “ sahut si nona menggelengkan kepala.

“Kau mempunyai obat luka atau tidak ?” Siauw Pek tanya pula. “Ada” sahut nona itu yang merogoh sakunya lalu melemparkan

sebuah kantong sulam.

Siauw Pek menyambut, meletakkan tubuhnya oey Eng, setelah itu baru ia buka kantong itu dimana terdapat obat bubuk warna putih. Ia memeriksa dahulu obat itu, sesudah merasa bahwa itu bukan racun, baru ia buka baju saudaranya itu, untuk segera mengobatinya. Sambil berbuat begitu, dengan perantaraan Toan lm Tjie sut, ia berkata pada Kho Kong: 'Awasi nona itu, jangan dibiarkan dia pergi Sekarang kita masih belum bebas dari bahaya ' Kho Kong mengerti. Ia segera melihatnya kesekitarnya. Ia mendapatkan mereka berada di dalam sebuah pendopo besar, cuma d is ini tak ada patungnya seperti pendopo tadi. Ketika ia mengawasi si nona, nona itu masih berdiri tenang, dan pandangannya yang tadi diangkat naik, perlahan lahan diturunkan-

sebat Siauw Pek mengobati saudaranya, terus ia kata perlahan pada Kho Kong: "Baik baik kau jaga saudara oey, aku hendak pergi mengambil senjata kita,” Habis berkata, ia bertindak menghampiri si nona. Kho Kong menaati kata-kata ketuanya itu.

Si nona melihat pemuda itu mendatangi, dia tak memperlihatkan sikap bermusuhan-

Siauw Pek memperhatikan nona itu, lalu ia berhenti dihadapannya. Ia menanya: “Apakah nona hendak menggunakan akal muslihat buat mencelakakan kami bersaudara? Aku katakan terus terang, aku sendiri tidak biasa berbuat curang.

Nona itu balik memandang, ia berkata: “Kau dapat meloloskan diri dari tikaman pedangku, dari jurus Twie IHunTji Kiam, itulah bukti ilmu silatmu memang jauh daripada ilmu silatku Biasanya aku paling bangga dengan ilmu pedangku ini, tapi sekarang bertempur dengan kau, nyata kepandaianku tidak berarti. Ah, nyatalah bahwa mereka itu, yang setiap memuji-muji aku, mengangkat-angkat aku, mereka hanya memperdayakan “ Pedang si nona Toan Hun Tjie Kiam ialah pedang “Memutus roh”.

Siauw Pek heran, hingga ia melengak.

“sebenar siapakah kau?” ia bertanya. “Dan apakah hubunganmu dengan kuil ini ?”

“Akulah ketua dari Kwan ong Bio ini. Mereka itu mengangkat aku sebagai pengganti ketua yang lama. Tapi mulai saat ini, tak sudi aku menerima pengangkatan itu ' Kembali Siauw Pek heran-'Memang kenapa, nona.” 'Kau bertangan kosong, aku bersenjatakan pedang,'jawab nona itu, 'Toh aku tidak sanggup melayani kau Bagaimana aku mempunyai muka buat terus menjadi ketua mereka ?"

'Oh, begitu ? Nona, sejak kapan kau menjadi ketua kuil ini ?” “Sejak setahun yang lampau, ketika kakekku mau meninggalkan

Kwan ong Blo, dia memanggil aku, dia sudah memikir buat mengangkat aku sebagai penggantinya. Dan ketika kakek mau pergi, dia berpesanpadaku, seandainya didalam waktu satu tahun dia tetap belum kembali, aku mesti langsung menggantikannya. Kwan ong Blo ini adalah sebuah partai yaitu Kwan Ong Bun.”

Siauw Pek heran dan kagum terhadap nona ini. Nyata dialah seorang jujur dan polos, yang tak licik. Pikirnya: 'Kalau begitu, kakeknya ialah ketua kuil ini. Aneh orang tua itu Kenapa dia angkat cucunya sendiri menjadi ketua ? Apakah disini bukan terselip suatu rahasia ?” Karena herannya, ia bertanya : “Nona, kemana perginya kakekmu itu ?”

Si nona menggelengkan kepala.

“Aku tidak tahu, kakek cuma berkata dia pergi untuk memenuhkan janji seseorang sahabatnya, siapa tahu sudah satu tahun lebih kakek pergi, ia masih belum kembali.”

Siauw Pek melihat kesekitarnya. “Apakah kakekmu itu kakek benar ?"

“Ya.”

Pemuda itu mengerutkan alis. Tak habis ia berpikir. “Apakah ayah bunda nona masih ada ?”

Dengan matanya yang jeli, nona itu menatap tajam pemuda didepannya ini. Dia agak tak sabar. “Kau aneh “ katanya. “Pertanyaanmu ini sungguh tidak pantas Kalau kakekku masih ada, pasti ayah bundakupun masih hidup “ Siauw Pek tidak mau bertanya melit lagi, tak ingin ia berbantah mulut. “Nona, benarkah kau mengakui bahwa kau bukanlah lawanku

?” ia tanya sabar.

”Ya, aku memang tak dapat melawanmu.” si nona mengaku jujur.

“Nona, walaupun kau telah melukai kawanku, tetapi karena laki laki sejati tak pantas melayani seorang wanita, aku tidak ingin menariknya panjang.” kata sipemuda kemudian-”Hanya nona, aku minta supaya kau serahkan dahulu pedangmu kepadaku.”

Siauw Pek bersikap begini karena ia kuatir nanti datang orang lain kependopo itu hingga tanpa senjata, ia dan kawan kawannya akan mendapat kesulitan lagi.

Nona itu segera menjawab, sebaliknya dia menatap anak muda didepannya ini. Dia agaknya memikirkan permintaannya itu. Tapi hanya sejenak. ia lalu memberikan jawabannya: “Kau tunggu saja sebentar disini, aku akan ambilkan alat senjata kami,” Habis berkata, ia memutar tubuhnya.

Siauw Pek bertindak maju, akan menghalangi orang pergi.

“Tidak usah “ katanya, tawar, “Nona pinjamkan saja pedangmu, itu saja saja “

Nona itu mundur dua tindak.

“Inilah pedang istimewa milikku, mana dapat aku berikan kepadamu ?' katanya.

”Kau pinjamkan sebentar saja, nona. Setelah nona mengembalikannya.'

Sabar bicara pemuda ini, tapi tangannya diulurkan, sambil menyambar tangan orang yang kanan yang memegang pedang. Geakan itu hebat luar biasa, sedangkan sinona tidak bersedia dan tangannya sudah tercekal, maka pedangnya terus terampas

Secepat dia bersenjatakan pedang, Siauw Pek membulang balingkannya dua kali, hingga cahaya pedang berkelebatan. Setelah itu dia menanya dingin : 'Nona, apakah nona orang yang tadi memeriksa kami ?”

Si nona terperanjat, tapi dia sadar. “Benar Mengapa ?” ia balik bertanya.

siauw Pek tertawa dingin. Dia menatap. “Nona bicara halus dan polos, terang nona belum berpengalaman,” katanya. “Sebaliknya, yang tadi memeriksa kami, dialah seorang Kang ouw kawakan. Hanya di dalam sekejap. kamu berdua telah bertukar orang, sungguh aku tidak tahu apakah artinya ini Tapi mata kami ditutup, kami tidak dapat melihat apa apa, akan tetapi suaramu, nona, suaramu tak dapat memperdayakan telingaku “

'orang itu akulah adanya ' si nona memastikan ”Jikalau kau tidak percaya, tak ada dayaku lagi.' Siauw Pek tetap percaya.

'Mungkin nona menjadi salah seorang yang turut hadir tadi,' katanya pula ia mengancam dengan pedangnya pada tubuh nona itu. 'Ke mana perginya nona tadi itu? Lekas katakan “

Dengan perlahan si nona mundur dua tindak.

“Dia sudah pergi...” ujarnya perlahan sekali, hingga mungkin dia sendiri tidak mendengarnya .

siauw Pek berpikir cepat: “Benar-benar nona ini belum berpengalaman, dia masih polos sekali. Ternyata nona yang pertama itu sengaja memakai orang sebagai ganti dirinya. Hanya entah sikakek itu, dia sebenarnya orang macam apa. Kalau aku ketahui she dan namanya, mungkin tak sulit mencarinya tentang asal usul nona ini.” Berpikir begitu, ia tanya pula: “Apakah kau ketahui jalan untuk meninggaikan tempat ini?"

"Tahu “ sahut si nona sambil tunduk.

Dengan pedang ditangannya, si pemuda mengancam punggung nona itu. ia berkata: Jikalau kau dapat membawa kami meninggaikan tempat ini dengan selamat, aku tidak akan ganggu sekalipun selembar rambutmu, nona. Tetapi jikalau sebentar terjadi sesuatu, jangan kau sesaikan aku “ Tanpa banyak bicara lagi, sinona bertindak pergi. Tak pernah ia menoleh kebelakang. “Saudara Kho, lekas pondong saudara oey” siauw Pek kata pada kawannya. ikut aku

sejarak lima atau enam tindak. supaya mudah aku bergerak andaikata ada rintangan ditengah jalan-

Kho Kong menyahuti, kemudian dipondongnya oey Eng, untuk dibawa berjalan.

siauw Pek menggerakkan pula pedangnya sampai ujung pedang menembusi baju sinona. Kata ia dingin.

“Aku tahu Kwan ong Blo kamu ini mempunyai banyak pesawat rahasia, tapi walaupun demikian, aku mengharap nona tidak timbul niatan jahat dalam hatimu dan nona akan mengantarkan kami dengan tak kurang suatu apa meninggaikan tempat ini ' Tetap si nona tidak mau bicara. ia menuju kesebuah pojok.

Masih Siauw Pek mengancam dengan pedangnya, hanya sekarang, dengan tangan kiri, cekal lengan kiri si nona. Dengan suara yang sengaja dikeraskan, ia berkata:

“Aku tahu, hati manusia sangat sukar diterka, karena itu nona... maafkan aku... tolong nona menemani kami berjalan bersama sama “

Nona itu masih tidak membuka mulutnya, ia juga tidak meronta. ia membiarkan anak muda itu memegangi lengannya.

Sampai di situ Siauw Pek pun bungkam. Tapi ia tetap curiga, dan bahkan semakin keras kecurigaannya itu. ia hanya pikir, bila bahaya sudah dilalui, baru ia hendak menanya pula si nona.

Segera mereka tiba di pojok tembok. Mendadak nona itu menggunakan tangan kanannya menekan pada tembok itu.

“Apakah ini pintu rahasia ?” akhirnya Siauw Pek menanya jug a. “Kau sudah tahu, buat apa kau tanya ?” balas si nona, dingin. “Aku hendak memperingatkan kepada kau, nona” kata Siauw Pek pula, 'yang benar kau jangan mikir yang tidak tidak Kau ketahui sendiri, asal masih ada kesempatan, walaupun sedikit, dapat aku ambil jiwa”

Hampir serentak dengan kata kata sipemuda mereka mendengar suara keras dan berisik sekali. Mendadak saja pada tembok tidak ada bekas dan tandanya itu muncul sebuah pintu

si nona tunduk. la mau melewati pintu itu. Tapi, baru ia bertindak satu kali, siauw Pek sudah menariknya kembali.

“Pintu rahasia ini menembus kemana ?” tanya si anak muda. Si nona agaknya mendongkol. ia seperti diperbuat penasaran-

“Kau begini bercuriga, mana dapat aku bekerja benar?” katanya, dingin. “Andaikata pintu ini tembus ke neraka, aku toh akan menemani kamu pergi kesana “

siauw Pek merasa kulit mukanya panas. Dia jengah sekali. Tapi malu atau tidak. ia berkata:

“Aku tidak takut mati, meskipun demikian, aku tidak membiarkan kedua adikku turut binasa”

Nona itu tertawa dengan tiba tiba.

“Aku menerka usia mereka itu jauh terlebih tua daripada usiamu, bagaimana kau mengakui dirimu kakak Tidak malukah kau?” demikian dia mengejek. Siauw Pek mengelak.

“Ini urusan kami bersaudara, tak usah kau turut campur, nona” “Siapa usil kepada kami” nona itu membaliki. ”Kaulah yang

menarik tanganku dan tak mau melepaskannya “

siauw Pek melengak. Kembali ia jengah sendirinya. Memang ia masih memegangi erat erat tangan lunak nona itu. Lekas lekas ia melepaskannya. “oh.. Maaf, nona “ katanya. Tiba-tiba nona itu tertawa pula. Tapi dia tidak berkata apa apa. Lagi sekali dia tunduk untuk kemudian masuk kepintu rahasia itu, yang tak terlalu tinggi.

'Saudara Kho, hati hati ' pesan Siauw Pek yang terus menelad si nona melewati pintu rahasia itu.

Berada disebelah dalam pintu itu, yang gelap. Siauw Pek tidak merasa pepat napas. Itu ruang dalam tanah, yang buatnya sempurna. ia tetap berlaku waspada. Asal si nona main gila ia pasti akan segera membunuhnya.

Jalan sejauh empat atau lima tombak. mereka mulai menanjak. bertindak d ia nak tangga batu Baru jalan beberapa undak. mendadak si nona berhenti dan memasang telinganya. Siauw Pek turut merandak juga. Hanya sejenak. mereka berjalan pular

si anak muda heran, tetapi la terus menutup mulut. Mereka naik dua belas undakan-Tiba tiba saja si nona mengangkat kedua belah tangannya, untuk menolak keras, hanya sekejap. terlihat sinar terang langit.

'Sudah sampai ' begitu si nona membuka mulutnya. “Nah, naiklah


Kho Kong mempercepat tindakannya, dan hingga ia berada dekat

si nona. ia menatap nona itu. 'Tempat apa ini?' tanyanya.

'Itu disana pintu belakang dari Kwan ong Bio,' menjawab si nona, 'tempat ini tanah belukar, amatjarang orang lalu lalang disini.Jangan kuatir apa apa, pergilah '

siauw Pek mengeluarkan kepalanya, melihat sekelilingnya. ia mendapatkan tempat itu benar sunyi. Lalu ia menolak tubuh Kho Kong buat membantu dia naik membawa oey Eng. ia naik paling belakang, tapi sebelumnya ia memberi hormat seraya berkata: 'Nona, kau musuh atau kawan, inilah aku tak tahu pasti, walaupun demikian, kebaikanmu hari ini akan kuingat baik baik, di belakang hari, akan aku coba membalasnya.' Nona itu bergumam.

'Sekarang ini, di tempat ini, tak dapat kita bicara banyak,” katanya. “ Lekas kamu berangkat Di belakang hari, apabila ada perlunya, dapat aku pergi mencarimu”

“Tapi senjataku, yang menjadi hadiah guruku, perlu aku ambil kembali”. berkata Siauw Pek. “Maukah nona menolongnya ?”

Nona itu berpikir.

“Di saat aku pergi mencari kami, aku akan bawa senjatamu itu,” sahutnya

“Apabila nona tidak pergi mencari kami ?” tegaskan Siauw Pek. Alis lentik si nona berkerut.

Jikalau sampai terjadi begitu, terpaksa buat sementara senjata itu dibiarkan di sini dahulu,” jawabnya. Kho Kong mendongkol, dia berkata dingin:

“Kali ini kami tidak bersiap siaga, kami dapat dirugikan, tapi lain kali, apabila kami datang pula, tak dapat tidak. akan kami beri rasa kepada sekali Siauw Pek sebaliknya berlaku tenang.

”Jikalau kau tidak mencari kami, nona...” katanya sabar, “aku minta nona tolong simpan saja senjataku itu. Di dalam waktu satu bulan aku akan datang pula kemari untuk mengambilnya “

“Baiklah, begini janji kita” kata si nona. “Silahkan berangkat” “Semoga    kita    akan    bertemu    pula”    Siauw    Pek   masih

mengucapkan  Lalu,  dengan  satu  kali  mengapungi  diri,  ia  telah

berlompat naik keatas.

Si nona baju hijau, sebaliknya, dengan cepat menutup pula pintu rahasia itu.

Siauw Pek memperhatikan pula sekelilingnya, terutama pintu rahasia itu, yang dari atas tampak merupakan sepotong batu persegi lima kaki ketika ia mencoba memegang dan menggesernya, batu itu tidak berkutik. Teranglah pintu itu telah dirantai mati dari bawah.

Lagi sekali ia memperhatikan sekelilingnya, barulah ia mengajak Kho Kong meninggalkan tempat itu.

Ketika itu fajar. Makin lama, langit akan makin terang.

Siauw Pek mencari sebuah tempat sunyi dimana ia mengajak Kho Kong berhenti. Ia periksa luka oey Eng, parah tetapi tak membahayakan karena tidak mengganggu otot dan tulang. Ia lalu menotok beberapa jalan darah, agar darah kawan itu tersalurkan rapi. Memang tadi, selagi memberi obat, ia telah totok kawan itu, guna mencegah dia mengeluarkan terlalu banyak darah yang mana berbahaya.

Hanya sebentar, oey Eng membuka matanya, lalu mengeluarkan napas lega, kemudian ia menggerakkan tubuhnya, terus bangun duduk. “Terima kasih, bengcu “ katanya, bersyukur.

“Diantara saudara, jangan kita berlaku sungkan,” kata siauw Pek. “Apakah kau tak merasa nyeri lagi?”

oey Eng melompat bangun, ia menggerakkan seluruh tubuhnya. “jangan kuatir, bengcu “ katanya, “ luka ku tidak mengganggu

otot dan tulang igaku."

Hati Kho Kong lega, tapi mendadak dia menghela napas dan berkata: “Aku tidak mengerti, bahkan makin lama, aku menjadi makin bingung...” Siauw Pek pun lega hatinya. Si nona tadi telah memberikan obat yang tepat. “Kau bingungkan apa, saudara Kho? ia bertanya kepada si tabiat keras.

“Pihak Kwan ongBun bukan musuh kita, kenapa dia kurung kita didalampenjara airnya itu?” kata saudara itu. “Ada waktu bagi mereka membunuh kita tetapi mereka tidak lakukan itu, dan si nona bahkan membebaskan kita Mengapa ? Nampaknya seperti musuh tetapi bukan musuh, bagaikan sahabat tapi bukan kawan Tidakkah ini membingungkan ?" “Memang aneh mereka bersikap bermusuh, lalu bersahabat, kata Siauw Pek. “Nona tadipun luar biasa. Dia dapat ditaklukkan dengan kepandaian, hingga dia suka membebaskan kita Didalam hal ini mesti ada sebab musababnya.

“Biarlah, setelah aku sembuh, kita nanti pergi pula kesana,” berkata oey Eng.

“Sekarang disaat belum terang tanah, mari kita menjenguk dahulu kampung halamanmu bengcu, untuk memberi hormat kita kepada almarhum ayah bundamu.”

Lukamu belum sembuh, mungkin tak leluasa buatmu melakukan perjalanan, kata Siauw Pek. oey Eng tertawa.

”Jangan kuatir bengcu,” katanya, “luka tak berarti ini tak usah dipikirkan “ Habis berkata, kawan ini lantas memutar tubuh untuk berangkat mendahului

Hati Siauw Pek lega, ia segera mendahului untuk jalan didepan sebagai pengantar. Tujuannya ialah langsung ke Tjoh Kee Po.

Perjalanan ada belasan lie tetapi dengan mereka bertiga berjalan cepat, dalam waktu yang pendek. mereka sudah tiba didusun keluarga Tjoh itu. Hanya setibanya, Siauw Pek menampak dusun telah berubah. Tembok gempur disana sini, rumput tumbuh lebat tak teratur, suasana dusun sangat sunyi bahkan menyedihkan. Disekitar tiga lie, Tjoh Kee Po tidak ada penghuninya, sebab penduduk telah pindah, kedua daun pintu besar catnya sudah luntur rusak.

Masih ada kesannya Siauw Pek mengenai rumahnya itu, mengenai peristiwa tiga belas tahun yang lalu, karenanya ia menjadi ingat kesengsaraannya selama delapan tahun, bagaimana ayah bunda dan saudara saudaranya dibasmi musuhnya. Ia jadi sangat bersedih sehingga air matanya tidak dapat dicegah mengucur keluar.

oey Eng dan Kho Kong berdiri diam disisi ketua itu. Mereka tahu kedukaan siketua, mereka tidak dapat membujuk dan menghibur. Lama Siauw Pek memandangi rumahnya, lama ia berdiri bagaikan tonggak. baru ia mengangkat tangannya dan menepas air matanya, kemudian ia membuka tindakannya untuk menuju kerumahnya yang telah runtuh itu.

Setelah pintu besar, yaitu pintu terdepan, di dalam situ tampak sebuah pekarangan yang luas. Ia ingat pekarangan yang dulu terawat b arik tetapi kini penuh dengan rumput, dan tinggi sebatas lutut. Ia maju hingga menaiki undakan tangga tujuh tingkat, sampai dipintu yang kedua. Disinipun penuh dengan daun-daun, bahkan tembok juga telah berlumutan.

oey Eng memperhatikan rumah besar itu, tak terawat tapi masih ada pengaruhnya bekas sebuah gedung besar.

Siauw Pek bertindak dilantai batu hijau, untuk masuk terus kedalam, kebelakang, disana ada sebuah ruang terbuka tempat Tjoh Kam Pek mengajari siat pada anak anak dan muridnya. Disitu, dikiri kanan ada para-para alat senjata yang telah rusak tidak karuan Disebelah timurnya ada sebuah kuburan tinggi dan besar, penuh ditumbuhi rumput.

Menunjuk kepada kuburan besar itu, sambil menghela napas Siauw Pek berkata: “Seratus lebih jiwa penghuni Tjoh Kee Po, semua terkubur didalam situ.”

Mendadak oey Eng memutus kata-kata ketuanya. Dia terkejut dan berseru : “Bengcu, lihat disana “

Siauw Pek terperanjat, ia segera menoleh kearah yang ditunjuk kawan itu. Maka ia melihat dua orang yang dandanannya rapi, tengah berlutut disisi kuburan, lagi menghunjuk hormat dengan hikmad. Ia heran hingga ia melengak.

“Ayah bundaku dimusuhi delapan belas partai besar hingga dikejar-kejar, siapa mereka ini yang datang menyambangi dan berbela sungkawa?” tanyanya.

'Mari kita hampiri mereka' kata Kho Kong yang terus bertindak maju. Ditempat seperti itu, tindakan kaki si aseran dapat terdengar nyata, apalagi dia diikuti Siauw Pek dan oey Eng. Walaupun begitu, selagi mereka mendekati, dua orang itu tetap berlutut, mereka tidak tahu atau tidak menghiraukan-Kho Kong sengaja berbatuk-batuk.

'Sahabat-sahabat, apakah gerangan she dan namamu yang besar?' menyapa si aseran ini, 'Sudi kiranya aku menerima hormat kami '

Teguran itu tidak mendapat jawaban, sekalipun Kho Kong telah mengulanginya beberapa kali.

'Tak usah memanggil mereka terlebih jauh, saudara Kho,” berkata oey Eng, yang telah mengawasi tajam kedua orang itu, “Menurut terkaanku dua orang ini pasti telah tidak ada nyawanya lagi...”

“Sudah mati?” seru Kho Kong heran ia melompat kesisi dua orang itu, dan dengan kedua tangannya ia menyambar pundak mereka, untuk membalik tubuh mereka itu.

Benar seperti terkaan oey Eng, dua orang itu adalah mayat mayat dengan masing-masing dadanya bagian tempat yang berbahaya, tertancap pedang pendek yang melesak sampai dibatas gagangnya Siauw Pek mengerutkan alisnya. “coba cabut pedang pendek itu dan periksa” katanya. Kho Kong mencabut kedua pedang pendek itu.

Waktu itu matahari mulai naik diufuk timur, cuaca sudah terang benderang. Maka kedua senjata itu dapat dilihat dengan tegas, ketiga pemuda itu jadi kaget sekali. Sebab pada masing masing pedang terukir empat hurf besar bunyinya : “Kiu Heng cie Kiam”, Pedang sakit Hati dan Penasaran-

”Hebat seru si anak muda. “ Kembali Kiu i Heng cie Kiam Pemilik pedang itu liehay sekali, dia tak dapat dipandang ringan Mendadak ia memutus kata katanya itu, karena ia ingat sesuatu. Ia lalu berpikir keras. “Bengcu, apakah bengcu menyangka pemilik kiu heng cie kiam ini ada hubungannya dengan peristiwa Pek HoBun dahulu?” oey Eng tanya ketuanya, perlahan-

siauw Pek tidak segera menjawab, hanya ia berkata pada Kho Kong: “Saudara Kho, coba periksa, sudah berapa lama mereka itu mati ?" Kho Kong memeriksa nadi dua orang itu

“Belum ada dua jam,” ia memberitahukan-

”coba periksa lagi, mereka mengerti silat atau tidak ?”

Kho Kong meraba-raba tubuh kedua mayat itu, “Ya, mereka pernah belajar silat,' ia memberitahukan pula .

Baru setelah itu, Siauw Pek berpaling pada oey Eng.

'Tidak dapat aku pastikan ada hubungannya atau tidak, tapi terang ini adalah satu soal baru,' ia berkata. Ia menghela napas perlahan, kemudian menambahkan 'Sejak ayah bundaku dimusuhi sembilan partai besar dan konco-konconya itu, negara begini luas tidak ada satu pojoknya dimana kami dapat mendiamkan diri, dimana-mana terdapat musuh musuh kami, dimana mana kami disebut. Dua orang ini aneh Lainlah orang kita, bersembunyipun

sulit, tapi mereka ini justru datang kemari untuk menunjukkan bela sungkawa Aneh pula pemilik Kiu Heng cie Kiam senjatanya luar biasa bahkan juga diukirkan huruf huruf “

”Jikalau ini bukannya jebakan, mestinya kiu heng cie kiam ada hubungannya dengan keluarga Tjoh,” kata oey Eng. Ia mengawasi ketuanya, lalu menambahkan-

“Tak mungkinkah dialah salah seorang murid Pek HoBun yang dahulu dapat meloloskan diri ?”

“Aku rasa itu tak mungkin,” kata Siauw Pek menggelengkan kepala.

“Segala sesuatu sukar diterka, baik hal ini tak usah bengcu terlalu pikirkan,' oey Eng kemudian menghibur. 'Nanti saja kita menyelidikinya dengan perlahan-lahan-' Baru saja oey Eng menutup mulutnya, tiba tiba mereka mendengar satu siulan panjang yang datang dari tempatjauh. Dengan ia mengambil kedua batang pedang dari tangannya Siauw Pek sambil menyerahkan itu pada Kho Kong, ia kata 'Saudara, lekas kembalikan pedang ini ditubuhnya si korban, lebih baik tetap di tempat lukanya'

Kho Kong menyambut pedang, dengan cepat ia mengembalikannya ditubuh kedua mayat itu. 'Mari kita bersembunyi, supaya orang tak dapat melihat kita ' oey Eng mengajak.

Disekitar itu banyak gombolan rumput tinggi, mudah saja tiga pemuda itu mencari tempat sembunyi

Tak lama tampaklah dua orang dengan pakaian hitam sedang mendatangi. Selagi mendekati, terdengar orang yang disebelah kiri berkata. 'Aku lihat bahwa hari ini tak seperti biasanya...'

'Apakah yang luar biasa?" tanya orang yang di kanan-

'Aku melihat roman pangcu kurang wajar, ia rada tegang sendirinya.'

“Benar Dengan menyebut ini kau membuat aku ingat sesuatu. Tanpa sebab tanpa alasan mendadak pangcu mau datang ke Pek Ho Po ini Lihatlah suasana sunyi dan suram disini, ini bukanlah alamat baik”

Sekonyong konyong orang yang dikiri itu merendak.

“ Lihat disana, saudara Sun” kata dia, terperanjat. Lihat itu dua orang yang berlutut didepan kuburan Aneh atau tidak ?”

orang yang disebelah kanan, yang dipanggil “saudara Sun” itu agak terperanjat. Dia segera mengawasi kearah kuburan.

“Ya, aneh, katanya. Kenapa tubuh mereka kaku mirip mayat.”

Teranglah dua orang itu adalah orang orang Kang ouw yang berpengalaman maka mereka bisa segera menerka bahwa kedua orang dipinggir kuburan itu bukan orang hidup, “Saudara Sun, kauberjagajaga” kata orang dikiri itu. Aku hendak pergi melihat.' Begitu berkata ia berlari lari, terus dia berlompat kedepan  dua mayat itu.

Sekarang Siauw Pek dapat melihat tegas orang ini berusia kurang tiga puluh tahun dan pada bahunya tergemblok sebatang golok. Dia segera memegang bahu kedua mayat, tetapi segera dia menjadi kaget, mukanya menjadi pucat, sambil berteriak. dia melompat mundur. 'Kenapa, saudara Kim?' tanya si orang she Sun-si orang she Kim masih gugup. 'Kembali Kiu Heng Tjie Kiam...” jawabnya tak tegas.

si orang she Sun melompat menghampiri, goloknya dihunus, matanya memandang sekelilingnya. Ini yang keberapa kalikah kita melihatnya,” ia bertanya.

"Yang ketiga kali “ sahut si orang she Kim. “Aku kuatir ketegangan pangcu disebabkan ini golok Kiu I Heng Tjie Kiam...”

“Kau benar, saudara Kim. Tempat ini sangat sunyi. Lebih baik  kita lekas berlalu dari sini.”

Nyata kedua orang itu rada jeri.

orang she Kim menyusut peluh dimukanya.

“Tapi pangcu akan segera datang kemari kita tunggu saja.”

si orang she Sun memb alingkan pedangnya yang sinarnya jadi berkelebat menyilaukan-Agaknya dia hendak membangunkan semangatnya.

“Aku dengar kuburan ini kuburannya keluarga Tjoh yang terdiri dari seratus jiwa lebih dan karenanya, keluarga itu lenyap dari dunia ini. Benarkah ?”

“Tentang kuburannya benar, tetapi menurut apa yang aku dengar, ada dua orang anggota keluarga itu yang lolos dari bencana kemusnahan, yaitu anaknya lelaki dan perempuan-Katanya si anak lelaki berhasil menyeberangi jembatan maut Seng Su Klo, dan si anak perempuan telah ditolong seorang rahasia yang tak diketahui she dan namanya, yang membawanya lari.”

“Sungguh aneh” si orang she sun berseru. “ Kabarnya Seng Su Klo telah memendam entah berapa banyak roh roh penasaran. dan selama beberapa puluh tahun belum pernah ada orang yang sanggup melintasinya, maka heran kenapa bocah itu berhasil menyeberanginya?”

Kho Kong gusar mendengar kata kata dua orang itu. Pikirannya: “Dua manusia ini kurang ajar? Kenapa mereka berani menghina begitu? Dia mesti diajar adat” lalu ia mau terbangkit hendak lompat menghampiri dua orang itu.

“Saudara Kho, jangan sembrono”, oey Eng berbisik, menasehati, dan tangannya mencekal untuk menarik tangan kawan itu. Sambil berkata begitu, ia menoleh kepada ketuanya. Ia menjadi terharu.

Siauw Pek tengah menangis, airmatanya meleleh turun dengan deras. Rupanya kesedihannya dibangkitkan oleh kata kata kedua orang she Sun dan she Kim itu.

”Ya, itu justru yang paling mengherankan”, terdengar si orang she Kim berkata pula. ”Kabarnya keluarga Tjoh itu dikejar kejar beberapa puluh jago silat, yang hendak membasminya habis habisan Beberapa jago, yang liehay luar biasa, menyusul  anak lelaki itu menyeberangi Seng Su Kic Aneh anak itu, dia dapat melintas dengan tidak kurang suatu apa, sebaliknya para pengejarnya, semua roboh terguling kekolong jembatan maut itu...”

“ Kenapa anak itu tidak turut jatuh ?”

“ Entah lah. Kalau dia jatuh, tentu tak ada cerita kita ini “

Selagi dua orang itu bicara sampai disitu, di sana terdengar suara tindakan kaki mendatangi. Mereka terkejut, lalu mereka berdiam. Siauw Pek bertigapun mendengar suara itu, mereka lalu menoleh.

Semua mata lantas diarahkan kejurusan dari mana suara tindakan itu datang. Disana tampak dua orang tengah mendatangi. Merekalah orang orang yang tubuhnya kate, yang mengenakan baju hijau. Yang luar biasa, baju mereka yang panjang dipakai begitu rupa sampai menutupi kepala mereka, hingga terlihat seperti manusia manusia tak berkepala...

Si Sun dan si Kim memang sudah jeri, melihat dia orang baru ini, hati mereka menjadi terkejut. Tapi si orang she Sun toh mengangkat goloknya, dia lalu menegur keras : “Siapa kamu? Kenapa kamu berlagak begini rupa? Ketahui olehmu, akulah Sun Djle ya kamu Telah aku menjelajah kedua Sungai Besar di Selatan dan Utara telah aku mengalami angin besar dan gelombang dahsyat, semua itu tidak membikin gentar hatiku Apakah kamu mau mencari penyakitmu sendiri ?”

Dua orang kate yang aneh itu tidak menghiraukan suara orang. tetap mereka berjalan kearah orang orang she SUn dan Kim itu.

Si orang she Kim pun menjadi nekad, dia menghunus goloknya, lalu dengan berdiri berendeng dengan kawannya, dia memas ng mata, mengawasi dua orang kate itu.

Masih saja dua orang itu berjalan terus. Mereka sudah mendekati si Sun dan si Kim sampai tiga atau empat kaki lagi, tetap mereka belum mau menghentikan tindakan kaki mereka. Agaknya mereka mau melanggar dua orang itu.

Si orang she Sun habis sabar, mendadak dia maju dan membacok Dia segera diikuti kawannya

Benar benar aneh dua orang kate itu. Mereka sudah diserang, bukan mereka mundur, hanya mereka berkelit, setelah itu kembali maju lagi, merangkak ke tubuh lawan

Hanya segebrakan itu, tubuh si orang she Kim menjadi limbung, sebelum dia bisa berdiri tegak. dia sudah roboh terguling. Karena ia rebah terlentang, didadanya tampak menancap sebuah pedang pendek.

Si orang she Sunjuga tidak bergebrak lama. Dia roboh seperti kawannya dan dadanyapun tertikam pedang pendek Setelah itu kedua orang kate aneh itu lalu bekerja, mayat mayat si Sun dan si Kim diatur berlutut seperti dua mayat yang semula. Selesai bekerja mereka mengundurkan diri, terus berlompat pergi, dan menghilang cepat bagaikan angin Kho Kong menentang matanya, dan kagum sekali.

“Sungguh orang orang yang sehat” dia memuji setelah menghela nafas kagum. Tubuh mereka juga sangat ringan '

oey Eng sebaliknya. Dia tampak suram. Ketika dia menoleh pula kepada Siauw Pek, ketua itu sedang tertegun mengawasi arah dimana kedua orang berbaju hijau itu lenyap. Dilihat dari wajahnya, ketua ini tengah berpikir keras.

Selagi tiga orang ini berdiam, kembali mereka mendengar siulan, panjang seperti tadi, hanya kali ini, siulan bukan datang dari satu arah, melainkan disambut tiga arah lainnya. hingga empat arah menjadi saling sahutan-

'Entah siapa mereka itu?” berkata Kho Kong mengerutkan alis. “Agaknya mereka liehay sekali '

Tiba tiba terdengar Siauw pek ngoceh seorang diri: 'Aneh Aneh Siapakah kedua orang berbaju hijau itu? Tapi kecuali aku, siapakah anggota Pek HoBun yang masih hidup?'

Siulan terdengar terus, makin lama datang makin dekat, sampai akhirnya tampak dua belas orang dengan dandanan ringkas muncul dari tiga arah selatan, barat dan utara. Mereka bertubuh besar dan semua membawa Kwie tauw too, golok golok yang dinamakan 'golok kepala hantu,' Mereka datang dengan berlari lari.

oey Eng hendak menyapa ketuanya tapi ia batal sendirinya, sebab orang telah datang semakin dekat. Dia segera menarik tubuh Kho Kong seraya membisik: “Lekas, sembunyi' Ketika itu Kho Kong telah memunculkan kepalanya.

Dlantara dua belas orang itu, salah satunya berkata dengan nyaring: 'Saudara saudara apakah kamu telah melihat? Lihatlah empat orang yang berlutut dimuka kuburan itu' 'Ya, aku melihat' menjawab seorang, suaranya parau. Bahkan dia melompat maju, dengan mengulur sebelah tangannya, dia mau menjambak punggung satu diantara empat sosok mayat itu.

”Jangan sembrono' berseru orang yang pertama. 'Sebelum pang cu datang, kita mesti membiarkan keadaan dan suasana disini seperti sediakala. angan kita ganggu sebatang pohon atau selembar rumputjuga'

Kembali orang ini menyebut nyebut 'pangcu” seperti dua orang yang lain, yang baru terbinasakan itu. Sengcu ialah ketua, atau kepala rombongan, atau kaum. orang yang maju kemuka itu menyahut, kemudian mundur pula.

Sekarang maju orang yang memberikan peringatan itu, dia ditemani kawan kawannya. segera setelah mereka mendekati keempat mayat, semuanya kaget serentak mereka mengundurkan diri, rata rata mereka mengeluarkan seruan tertahan.

oey Eng mengintai, ia melihat dua belas orang itu berkumpul menjadi satu, satu dengan lain berkasak kusuk.

Siauw Pek melihat kedua saudaranya, ia berbicara dengan saluran Toan Im cie sut: 'Kecuali orang memergoki kita, jangan kita sembarang a n bergerak”

Kho Kong memungut dua buah batu besar, bersiap untuk menyambut serangan-

Kecuali Siauw Pek, yang merampas pedang sinona, oey Eng dan sahabatnya bertangan kosong. Senjata mereka masih tertinggal didalam kuil.

Tak berapa lama mereka menanti, didengarnya seruan: “Pengcu datang” Kemudian dua belas orang itu membagi diri sebuah tim barisan rahasia, semua menghadap ke arah kuburan besar, golok mereka melintang didepan dadanya masing masing, golok mereka itu dihiasi runce, yang bergerak gerak diantara tiupan angin-

Hanya sebentar kemudian semua orang itu menurunkan golok mereka sambil menjura. Itulah karena terlihat datangnya seorang tua umur kira-kira lima puluh tahun, yang mendatangi dengan tindakan perlahan. Dia berbaju hijau. Dibelakangnya turut seorang kate umur lebih kurang empat puluh tahun. kumisnya pendek, sudah kate, diapun kurus kering. Berdua mereka itu bertangan kosong. Mereka diiringi empat anak muda umur kira kira dua puluh tahun yang pakaiannya sings at, punggungnya menggondol busur, pinggangnya tergantung kantung anak panah, bahunya tertancapka n pedang dengan rumbai merah. “Hm, dia mirip seorang agung” berkata Kho Kong didalam hati. Sebab dia melihatnya. si orang tua mengawasi keempat sosok mayat, matanya bersinar tajam. “Apakah empat orang itu telah melayang jiwanya?” bertanya dia.

“Mereka sudah mati lama," menjawab seorang diantara dua belas orang yang merupakan tim itu. Dengan segera dia menambahkan: "Kami telah menjaga tempat ini hingga tidak ada terjadi perubahan apa jug a. Sila h ka n bengcu memeriksanya' orang tua itu mengerutkan alisnya.

“Apakah mereka itu terbinasakan pedang Kiu I Heng Tjie Kiam?” dia tanya pula.

“Dada mereka masing masing tertancapkan golok pendek,” sahut orang tadi. 'Teetju tidak berani mencabut senjata itu. Melihat dari bentuknya, senjata itu memang mirip Kiu I Heng Tjie Kiam”

Dia membahasakan dirinya “tee-cu”, itu artinya dialah murid siorang tua. Orang tua itu mengangguk perlahan. “coba cabut, biar aku lihat” perintahnya.

Laki laki itu mencabut, dia menghampiri keempat sosok mayat. Dengan sebat dia cabut keempat senjata maut itu, yang benar benar berukiran masing masing empat huruf “Kiu I Heng Tjie Kiam” “Pedang sakit hati dan penasaran singkatnya 'pedang sakit hati'. Si orang tua tidak menyambut keempat buah pedang itu, yang diangsurkan kepa dainya.

'Simpan saja,' katanya seraya menghela napas. Dia berlaku sabar, tetapi dia toh lalu berkata-kata seorang diri: Jikalau begini, tidak kelirulah terkaanpunco. Teranglah pada pihak Pek IHoBun ada anggotanya yang belum mati danperbuatan ini adalah perbuatan sisa dari rombongan celaka ini '

si kate kurus kumis pendek menggunakan dua buah jarinya, jempol dan telunjuk, mengurut kumisnya yang pendek itu. kedua matanya bersinar tajam, mengawasi keempat sosok mayat itu, setelah kata-kata ketuanya itu, dia tertawa dan kata: 'Sangcu menerka jitu bagaikan malaikat Memang tidak salah bahwa sisa-sisa celaka dari Pek IHoBun telah muncul pula di dalam kalangan sungai Telaga...' Dia diam sejenak. kemudian menambahkan: 'sebelum kita disini, kukira telah ada orang lain yang sudah sampai disini '

Mendengar itu, Siauw Pek heran.

"Si kate kurus ini liehay," pikirnya. "Terang dia licin dan cerdas serta pandai berpikir."

Si orang berbaju hijau bertanya: “Bagaimana kau dapat menerka demikian?” si kate batuk-batuk.

“Apakah Sangcu tidak memperhatikan luka keempat orang ini?” dia balik bertanya. Kedua hio-clo kita itu, darahnya masih segar, maka jelaslah sudah bahwa mereka menemui ajalnya belum lama. Tidak demikian dengan darah dua orang yang lainnya, darah mereka sudah berubah dan beku, bahkanpedang mereka juga pernah ada yang pegang. inilah sebab kenapa aku menerka demikian-Jelasnya sebelum kedua hiocu tiba d is ini, orang telah cabut kedua pedang itu, kemudian dia menaruhnya pula secara terburu ketika mendengar suara kita mendatangi...”

Kembali siauw Pek kagum sekali, ia bahkan terperanjat. orang bicara seperti dia manyaksikan peristiwa dengan matanya sendiri.

“Benarlah manusia tak dapat dilihat dari romannya saja, sebagaimana dalam air laut tak dapat diduga,” pikirnya. Dia kurus kering, dia katetok. tetapi dia sangat cerdas dan pandai berpikir.”

slorang tua mengangguk-angguk,

”sianseng, keteranganmu ini menambah pengetahuan punco bukan sedikit,” dia memuji. Ketua ini membahasakan diri punco”, kata kata halus merendah pengganti “aku” sebagai seorang ketua partai (pang) dilainpihak dia memanggil “sianseng”, suatu istilah menghormati terhadap seorang yang dihormati atau dipandang tinggi.

'Pengcu terlalu memuji,” berkata sikate kurus merendah. 'Mengenai orang yang telah datang terlebih dahulu dari pada kedua hlo cu kita itu, jikalau aku tidak menerka salah, mungkin sekali dia, atau mereka, masih belum berlalu mungkin mereka sedang bersembun diantara rujuk rumput disekitar ini”

“Si kate menyebut nyebut “hlo cu”, itu berarti bahwa kedua kurban yang belakangan itu adalah anggota pengurus dari partai mereka, dan mereka berdua menjadi kepala sesuatu bagian dari partainya.

Kembali siauw Pek bertiga terkejut. I Hebat sikate kurus ini, dia dapat menerka dengan jitu.

“si kate ini liehay sekali,” kata Kho Kong di dalam hatinya. “Dia dapat menebak sebagai seorang dewa”

Si orang tua berbaju hijau lalu menoleh ke empat penjuru.

“Asal mereka tidak ada hubungannya dengan Kiu I Heng cee Kiam, tak usah kita cari mereka,” katanya. “Sekarang ini jam berapa?” si kate mengangkat kepalanya melihat langit.

Kira-kira jam Sin sie,” sahutnya.jam Sin-sie itu antara jam 7-9 pagi.

Terdengar siorang tua berbaju hijau berkata pula: “Kita telah menjanjikan pertemuan dengan ketua Pat Kwa Bun, waktunya hampir tiba, mari kita berangkat,” Lalu dia mendahului memutar tubuh berjalan pergi.

si kate kurus memesan kepada orang yang berbicara tadi, setelah itu dia menyusul siorang tua.

Dibelakangnya, mengikuti empat peng iringnya . Kedua belas orang yang bersenjatakan golok membungkuk kepada ketua mereka, setelah si orang tua pergi jauh, lalu mereka menghampiri keempat mayat, untuk dipondong dan dibawa pergi sambil berlari lari keras sekali, hingga dilain detik tempat kuburan itu sudah menjadi sunyi seperti semula tadi.

Baru sekarang siauw Pek bangkit berdiri, matanya mengawasi kearah dimana siorang tua berbaju hijau dan kawan kawannya menghilang. Kemudian, ia berpaling kepada dua saudaranya.

“Saudara saudaraku, tahukah kamu mereka itu dari partai apa ?" ia bertanya. oey Eng dan Kho Kong menggelengkan kepala.

“Mereka tidak membawa atau memakai tanda apa apa, sulit untuk mengenalnya,” kata oey Eng.

“Penyerbu penyerbu Pek I HoBun terdiri dari Pay besar, empat Bun, tiga hwee dan dua Pang,” kata pula Siauw Pek. “tadi orang itu menyebut dirinya pangcu, mungkin dialah salah seorang biang keladi penyerbuan “

“Tidak apa kita tidak ketahui dia dari pang yang mana,' kata Kho Kong. “Telah kita ketahui wajah mukanya, mudah untuk mencarinya nanti '

'Kita baru memasuki dunia Sungai Telaga tidak mudah kita mengenal pelbagai partai, karena itu aku pikir, kita harus berusaha untuk mereka satu demi satu, oey Eng berkata.

siauw Pek menghela napas, ia mengangguk banyak partai, tapi aku tak mau memusuhi

semua orang Rimba Persilatan-” katanya. “Buatku cukup asal aku cari dan bunuh mereka yang menjadi kepala atau biang keladinya “

“Bengcu bijaksana sekali, pasti bengcu akan memperoleh berkah Tuhan “ berkata oey Eng.

siauw Pek lalu menjura tiga kali kepada kuburan besar itu, terus dia mengacak kedua saudaranya meninggaikan Pek I Ho Po. Mereka kembali kekota Gakcin (Gakyang) dimana mereka lebih dahulu mencari rumah penginapan Lalu s i pemuda memeriksa luka oey Eng, lalu berkata : “ Luka mu ini sudah tidak berbahaya, tetapi kau masih perlu beristirahat beberapa hari lagi. Setelah kau sembuh, kita kembali ke Kwan ong Blo untuk minta kembali senjata kita, kemudian baru kita berangkat kegunung Slong Lan-” “Kita pergi ke kuil Siauw Lim Sie ?” Kho Kong menegasi, gembira.

“Benar” Aku hendak cari ketua Siauw Lim Pay, untuk menanya Pek I HoBun telah melakukan pelanggaran besar apa terhadap dunia Kang ouw maka semua kaum Rimba Persilatan memusuhi dan membasminya, hingga seratus jiwa lebih terbinasakan secara kejam dan mengerikan “

“Bagus Bagus” Kho Kong tertawa seraya bertepuk tangan “Sudah lama aku mendengar siauw Lim Sie sebagai tanah suci kamu persilatan, sudah lama aku merindukannya, sekarang aku bisa berkunjung kesana, dapat nanti aku membuka mataku “

“Hus, jangan bicara keras keras “ oey Eng tegur saudara itu. Kemudian dia berkata kepada ketuanya: “ ingin aku bicara, bengcu, tapi harap bengcu memaafkan dahulu jikalau kata kataku kurang menggembirakan. Tidak puas hatikujikalau aku tidak mengutarakan apa yang kupikir ini.”

“Silahkan, saudaraku,” berkata Siauw Pek. “Kamu telah mengangkat aku sebagai bengcu, aku bersyukur. Sebenarnya malu aku menerima kedudukan ketua ini. Baiklah selanjutnya kita berkakak adik saja.”

“Bukan begitu, bengcu,” kata oey Eng. “Aturan tidak dapat dirobah. Tapi,jika bengcu setuju, baiklah selanjutnya kami memanggil toako menjadi ketua kami, hal itu tak usah membuat toako malu. Toako pandai silat, jauh melebihi kami berdua, dan diatas itu kebijaksanaan toako tak sanggup kami melampaui.” Siauw Pek hendak merendah tetapi Kho Kong memegatnya. “Sudah cukup, toako “ berkata si tak sabaran. Jangan toako menampik lagi '

oey Eng tersenyum, dia kata pula. 'Kalau nanti toako berhasil mengetuai dunia Rimba Persilatan, maka kami berdua akan turut menikmati kemuliaannya " 'Itulah diluar harapanku,” berkata Siauw Pek

“Sekarang, toako, tentang niat kepergian kita ke Siauw Lim Sie di Slong Kan,” kata oey Eng pula. “Siauw Lim Sie termashut, pendetanya tak kurang dari pada seribu orang, mereka juga liehay semuanya, sedangkan kita cuma bertiga, sulit untuk kita menghadapi mereka semua. Dan maksud kita yang utama ialah memecahkan rahasia keluarga toako. Adalah berbahaya sekalijikalau seluruh kaum Rimba Persilatan menjadi musuh kita. Menurut pikiranku, lebih baiklah kita membuat penyelidikan secara diam diam dahulu, setelah nanti kita berhasil, baru kita umumkan siapa siapa itu si biang keladi yang menjadi musuh utama kita, baru toako memperkenalkan dirimu yang sebenarnya. Sampai waktu itu, masih belum terlambat untuk kita nanti mengadakan sembahyang besar buat arwahnya Tjoh Lootjianpwee”

Siauw Pek mengangguk. la menyetujui pikiran ini.

'Sayang Laue Lootjianpwee telah dibinasakan orang,' katanya kemudian “Barang barang titipan ayahku telah diperdayakan orang dan dibawa pergi, bagaimana kita harus mencarinya?”

“Sabar, toako. Menurut apa yang kita saksikan tadi, aku percaya Pek I Ho Po belum musnah seluruhnya, masih ada satu atau lebih anggotanya yang tinggal. Bukankah pedang Kiu I Heng Tjie Kiam itu membuktikan bahwa orang mengandung penasaran besar? Baiklah kitapun mencoba mencari tahu siapa orangnya si Pedang Sakithati itu...” Siauw Pek tersadar.

“Benar, saudara oey. hampir aku lupakan Kiu I Heng Tjle Kiam.” Sampai d is itu, mendadak Kho Kong bangkit.

“Toako, saudara oey “ katanya. ”Silahkan menanti disini, aku hendak keluar guna melakukan penyelidikan, buat mencari kabar”

orang she Kho ini tak sabaran tetapi kadang-kadang otaknya terang, dapat dia mengingat sesuatu, hanya dia tetap polos. Begitulah, sehabis berkata, dia lalu lari keluar, menghilang diluar kamar. Siauw Pek mau mencegah tetapi sudah tidak keburu. oey Eng tersenyum.

”Jangan kuatir, toako,” katanya. Saudara Kho sembrono tetapi teliti, ”dia pasti kembali dengan tidak kurang suatu apa.”

Selagi dua saudara ini berbicara, Kho Kong sudah berada dijalan besar dimana dia mengawasi yang berlalu lintas. Dia berdiri diam, untuk berpikir bagaimana dia harus mulai dengan penyelidikannya. Kemudian dia jalan sejalannya saja, melewati beberapa lorong dan gang. Ia baru merandak ketika didepannya tampak sebuah kedai teh yang besar dan ramai. Di situ berkumpul banyak macam orang: Yang berbaju panjang, yang berbaju pendek, yang terpentang dadanya. Suara mereka itupun berisik, sangat membisingkan.

“Disini berkumpul orang dari segala golongan,” pikir si anak muda, "baiklah aku mampir sebentar untuk mendengar kata2 mereka,” lalu ia bertindak kedai teh itu, terus ia mencari tempat duduk d iba g ia n yang paling ramai.

“ Did a la m kota Gakyang kita ini,” terdengar seorang yang suaranya parau berkata, “tidak lama lagi kita bakal menyaksikan suatu pertunjukan yang menarik hati Lihat saja, selama beberapa hari ini tak hentinya terjadi perkara jiwa, bahkan yang tersangkut semua orang orang kenamaan kaum Sungai Telaga. Begitulah tadi malam, kabarnya jago dari kota Barat telah dibunuh, dengan golok nancap didadanya, bahkan golok itu berukiran huruf huruf Kiu Kiam...”

“Kau maksudkan Kiu I Heng Tji Kiam ' 'Ya, ya, benar Kiu I Heng Tji Kiam .

'Peristiwa itu hebat” kata orang yang kedua. “Kabarnya Kang Toaya menjadi sangat gusar hingga dia mengirim orang orang kosen buat mencari pembunuh itu"

“Kabarnya,” kata orang yang ketiga, peristiwa itu ada hubungannya dengan Pek I Ho Po dikota timur belasan tahun yang lampau, sayang kemusnahannya Pek I Ho Po. Semasa hidupnya ketua Pek I Ho Po bun itu, kota Gakyang dan sekitarnya seratus lie belum pernah mendapat gangguan apapunjuga...”

Seorang turut campur bicara, katanya: “ Dahulu itu aku tinggal didekat Pek I Ho Po, sering aku bertemu dengan ketuanya, coh Pocu. Ketika penyerbuan terjadi, kebetulan aku turut menyaksikan oh, sungguh sangat hebat Sinar golok dan pedang berkelebatan, darah dan daging bermuncratan ...

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 09"

Post a Comment

close