Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 27

Mode Malam
JILID 27

"Eh, mereka juga memperlahankan lari kuda mereka," berkata Siauw pek. yang terus mengawasi kearah penunggang kuda dibelakang mereka itu.

Lalu terdengar pula si nona: "Mereka menyusul kita secara terbuka, inilah kembali diluar sangkaku. Dilihat dari siini, orang yang memimpin rombongan itu bukan seorang yang cerdik."

"Kecuali mereka sudah mengatur rencana sempurna atau mereka pasti akan menang, tak akan mereka lancang turun tangan." Si  nona berhenti sebentar, lalu dia bertanya: "Apakah ada tempat berhenti disekitar tempat ini?"

"Diarah timur, lagi satu lie, ada tanah pegunungan," menyahut Ban Liang. "Mungkin disana ada tempat yang baik..."

Perkataan jago tua ini terputus mendadak disebabkan terdengarnya satu siulan yang nyaring dan lama. Maka ia menambahkan. "Agaknya kita sudah masuk kedalam perangkap mereka itu..."

Soat Kun terdengar menghela napas.

"Bagaimana letak tempat dikiri kanan kita ini?" ia tanya.

"Tanah tegalan tanpa persawahan." Si nona menyingkap tenda kereta.

"Apakah diantara pengejar ada juga kereta kuda?" ia bertanya pula.

"sebegitu jauh yang tertampak. tidak..."

Menyusul jawaban sijago tua, dari arah depan dan belakang lalu terdengar suara roda roda kereta.

Jago tua itu lalu melihat kesekelilingnya.

"celaka nona" ia berkata. "Kita sudah terkurung Didepan dan belakang benar ada kereta kereta yang mendatangi"

"Lekas kita berlindung," berkata si nona "Jangan sampai kereta kita bertabrakan dengan kereta kereta itu"

Nona itu menarik kembali tangannya yang menyingkap tenda, untuk dipakai memegangi kedua tangan adiknya, setelah mana keduanya melompat turun dari kereta, untuk terus lari ketegalan yang disebut sijago tua.

"Nanti aku membuka jalan" berkata Ban liang, yang segera lompat turun, untuk lari disebelah dengan kedua nona itu, lari ketegalan.

"Aku akan Cepat dibelakang" berkata Siauw Pek. "Jietee, shatee, menjaga sayap kiri dan kanan"

Ketua itu segera menghunus pedangnya.

Oey Eng dan Kho kong menurut perintah, mereka kemudian melindUngi kedua nona dikiri dan kanan mereka itu. Kereta kereta didepan itu kabur keras sekali, hanya sebentar, tiba sudah mereka ditempat dimana kereta Soat kun ditinggalkan Maka juga, dalam waktu sekejap itu terdengarlah suara riuh hebat dari ringkik kuda, dari tabrakan kereta dengan kereta.

Tapi yang hebat adalah suara ledakan yang menyusulnya, disusul pula dengan sinar api berlalu dan berkobar, lalu kereta kereta itu berikut kudanya rubuh bergundukan diantara pengempang darah semua kuda itu

Teranglah kereta kereta yang datang dari depan dan belakang itu bermuatkan obat pasang dan minyak, hingga setelah tabrakan dan meledak. apinya menyala terus, membakar ketiga buah kereta itu

"Sungguh telengas" berkata Kho kong ketika dia menoleh, melongo, mengawasi kurban ledakan itu. Tubuh kuda hancur berhamburan

Hoa nsoat kun, yang memperoleh bislkan tangan Soat Gie, menarik napaspanjang dan berseru^

Hati Ban liang giris, tak perduli segala ragam pengalamannya. Katanya "Sudah puluhan tahun loohu menjelajah dunia Kang ouw, baru sekarang loohu menyaksikan ketelengasan semacam ini "

"Setelah mendengar hal munculnya kereta kereta dari depan dan belakang, aku segera menerka akan maksud jahat musuh," berkata sinona yang kembali menghela napas. "Nyatalah terkaanku tidak meleset. Melihat contoh itu, rupanya disebelah depan kita ini tak akan luput dari pertempuran pertempUran dahsyat. "

"Itulah mUngkin, keponakanku. Keempat penunggang kuda tadi, yang sekarang menghilang telah melihat kita meninggalkan kereta, tentu mereka pulang untuk memberi laporan, hingga tak tahulah, mereka akan mempergunakan tipu daya macam apa lagi..."

"Ketelengasan mereka justru membeber kelemahan mereka," berkata si nona kemudian "Mereka tidak berani menempur kita secara terang terangan " Siauw Pek menyimpan pedangnya. Ia melihat, benar keempat musuh itu sudah tidak tampak sama sekali. Ia lalu berkata^ "Sudah terang musuh mengincar aku, maka itu, kalau nona sekalian tidak berada bersama sama aku, kamu tidak akan menghadapi ancaman malapetaka hebat ini..." Mendengar itu, Soat Kun tertawa manis.

"Sekarang ini," berkata dia, merdu suaranya, "kita semua telah menjadi incaran mereka bersama, karena itu, walaupun tidak ada kau, saudara coh, tak akan mereka melepaskan kami"

"Keponakanku benar" Ban Liang turut bicara. "Kejadian ini memperingatkan kau untuk selanjutnya berlaku waspada."

"Nah, Cukuplah," berkata sinona kemudian. "Yang sudah lewat, jangan kita bicarakan pula"

"Sungguh dia pintar dan tabah," pikir Kho kong terhadap si nona. "Benar benar sayang, matanya berCaCat..."

"Kita harus berjalan terus," kata Ban Liang. "Sekarang kita menuju kemana?" Soat kun berpikir.

"Sekarang ini, yang perlu, pertama tama kita harus memperkUat diri kita," berkata dia. "LooCianpwee semua gagah, tetapi untuk kalian melindungi kami berdua, itu berarti tenaga kamu harus dipecah..."

"Benar. Hanya, keponakanku, disaat semaCam ini, dimana kita mesti mencari tenaga tenaga bantuan?"

"Ya, ini memang sulit, apa pula buat mencari mereka yang sehaluan dengan kita dan besar keberaniannya. Buat sementara perlulah kita menaklukkan sejumlah sesama kaum Rimba Persilatan..." Ban Liang berdiri diam.

"Sulitnya kita sekarang seperti lagi terkurung," katanya,  perlahan "Kalau orang orang Rimba Persilatan yang berada dekat disekitar mereka, mereka itu mungkin sudah terpengaruh oleh pihak lawan..." "Bagaimana kalau kita pakai tenaga musuh untuk melawan musuh?" si nona tanya setelah dia berpikir sesaat.

"Bagaimana itu bisa terjadi, keponakanku?" Ban Liang bertanya heran. Nona manis itu tersenyum.

"Tak tahu aku apa namanya daya upaya ini." sahutnya. "Kalau toh mau dinamakan juga , ini dia daya kejam lawan kejam..."

"Baik keponakanku. Nah, bagaimanakah cara diwujudkannya itu?"

"Mengenai tipudaya itu, semasa hidupku suhu pernah membicarakan dengan kami. Sudah kukatakan, sebab bakatnya berbatas suhu tidak dapat belajar silat sempurna. Dilain pihak suhu cerdas sekali, mungkin sukar lain orang menyainginya. Suhu pernah memberitahukan aku suatu cara meminjam tenaga lawan-.." Ban Liang tertawa.

"Memang aku telah menerka bahwa kakak Hoan sudah mewariskan semua kepandaiannya kepada nona nona?" berkata ia, girang.

"Suhu pernah memahamkan yoga, lalu dari situ ia berhasil menciptakan semacam ilmu yang menggunakan jari jari tangan Dengan itu kita dapat menotok beberapa jalan darah yang menyebabkan orang lupa akan dirinya sendiri, hingga kita dapat menyuruhnya melakukan apa yang kita perintahkan-.. Yang menyukarkan ialah mataku tidak dapat melihat ilmu silatku sangat rendah hingga aku tidak sanggup melawan jago jago Rimba Persilatan, sedangkan untuk itu kita perlu menawan musuh kita."

"Mengalahkan musuh mudah, menangkap hidup sulit," kata Siauw Pek.

"Asal kita bisa membekuk delapan atau sepuluh musuh, buat sementara cukup sudah," berkata si nona.

Mendengar itu, Siauw Pek bcrpikir. "cuma delapan atau sepuluh orang manusia, tidakkah itu berlaku kesombongan?" Lalu ia berkata: "Buat mengalahkan musuh, cukup asal kita menang seurat..." "Buat menangkap hidup?" tanya si nona. "Kita mesti lebih pandai berlipat ganda."

"Jikalau begitu, tak dapatkah kita memasang perangkap supaya musuh datang menghantarkan diirnya sendiri?"

"Kembali berbau kesombongan, nona," pikir pula si anak muda. Tapi ia berkata. "Nona, aku rasa nona tentu sudah memikirkan sesuatu..." Soat kun tertawa perlahan.

"Dayanya ada beberapa rupa, katanya. Untuk itu kita tinggal memilih tempatnya serta mengaturnya."

"Tempat bagaimanakah yang cocok, nona?" Ban Liang bertanya. "Yang paling cocok tempat yang membelakangi gunung, yang

ada airnya, umpama sebida tanah yang rendah asal ada dua jalannya yang bisa dilalui "

"Tempat begitu sukar dicari..."

"Itulah tempat yang utama. Kalau tidak, kita cari yang keduanya.

Tolong nona lukiskan tempat yang kedua itu" Ban Liang minta.

"Itulah sebuah tanah datar yang sekitarnya tak ada rumah rumah orang. Di tengah tengah itu kita membangun satu rumah yang kokoh kuat, lebih lebih rumah yang tak takut air atau api."

"Tempat demikian tak sukar dicari. Hanya rumahnya pembangunannya itu tak rampung dalam waktu satu hari..."

"Karena itu, aku pikir kita perlu mengambil jalan lain..." "Bagaimana nona?"

Nona itu diam, setelah itu dia memperlihatkan wajah sungguh sungguh. Dia berkata: "Musuh pastitak mau berhenti sampai disini saja, kalau kita melanjutkan perjalanan kita, yang jauh, pasti kita akan menghadapi ancaman bencana lainnya. Seperti kita ketahui, jumlah kita sedikit, musuh sebanyak banyak. tak dapat kita mengandalkan tenaga kita saja. celakanya musuh juga tidka memilih cara lagi." "Nona benar. Akupun piklr, tak dapat kita berdiam disatu tempat saja tempat yang musuh dapat satroni dari empat penjuru..." berkata Ban Liang.

Si nona mengangkat kepalanya, berpaling kepada empat orang itu.

"Tuan tuan dengan tenaga kamu berempat saja, dapatkah kamu melawan musuh musuh diseluruh kolong langit ini?" dia bertanya.

"Sangat sukar, nona. malam tadipun beruntung saja kita memperoleh kemenangan. Sedangkan kali ini, kalau bukan nona yang duduk kereta, pastilah kita sudah tumpas ditangan musuh lihay dan kejam itu."

"Maka itu, perlu kita memperkuat dahulu kedudukan kita." Sijago tua menjadi tidak mengerti.

"Bagaimana maksud nona?" dia tanya. "Tolong nona jelaskan dulu"

"Maksudku lebih dahulu kita mengumpulkan kekuatan kecil, baru perlahan lahan kita perbesar. cita-cita kita ialah menjunjung keadilan Suhu pernah mengatakan kepada kami bahwa memang sulit mengamankan dunia Kang ouw..." Siauw Pek kagum. Selama waktu dua hari ini, dia semakin mengenal si nona.

""Nona, apakah dayamu untuk menegakkan keadilan?" ia bertanya. "Untuk itu, aku suka maju dimuka, bersedia akan menyerbu api sekalipun "

"Sekarang ini kita harus melihat selatan. Kita sekarang mau pergi kesiauw lim atau bu tong kedudukan kita ditempat terang, musuh sebaliknya berada ditempat yang gelap. Karena itu, kita menjadi senantiasa bisa terancam kerugian Maka juga paling dulu kita mesti dapat menempatkan diri, supaya dengan jumlah sedikit dapat kita melayani jumlah yang banyak."

"Itulah justru yang tak dapat pikir pemecahannya." "Dalam keadaan kita ini, loocianpwee, buat sementara terpaksa kita mesti mengandalkan pada ajaran suhu. Kami berdua saudara pernah diajari ilmu pembangunan sebuah tin, yaitu barisan istimewa yang dinamakan Liok Kah tin Perubahan tin itu dapat membuat kacau penglihatan musuh. Sulit buat kami menerangkan sejelas jelasnya tetapi cukup buat mengatakan bahwa kita dapat bekerja berenam saja, ialah loocianpwee berempat di empat penjuru dan kami berdua saudara ditengah tengah. Kita akan mengandalkan perubahan dari bergerak geraknya tin kita itu."

Si nona tampak gembira. Dengan tenang ia membereskan rambutnya yang bagus.

"Buat sementara kita membutuhkan tempat terbuka luas beberapa batu, disitu kita akan membangun sebuah kota istimewa kedalam mana kita nanti memancing musuh datang masuk untuk kita tangkap dan nanti gunakan tenaganya. Sesudah kita mendapat tambahan tenaga, baru kita pergi ke Siauw Lim sie. Buat pergi kesana kita tak usah kesusu, bukan ?" Ban Liang mengawasi Siauw Pek.

"Baiklah, nona. Kami bersedia mengiringmu" jago tua ini memberikan janjinya.

"Sayang aku tidak bisa melihat hingga aku tidak mampu mencari tempat yang kita butuhkan itu," berkata si nona. "Dalam hal ini aku minta bantuan loocianpwee sekalian. Aku cuma bisa menunjukkan saja..."

"Asal nona dapat menjelaskan, mungkin kami sanggup mencarinya," berkata Ban Liang.

"Jikalau kita tidak bisa mendapatkan tempat yang dapat mengandalkan dinding gunung dan air, cukup sebidang tanah datar asal disitu tumbuh pepohonan dan rumput, lebih baik lagi kalau ada tumpukan tumpukan batu serta sebuah rumah yang kokoh kuat..."

Ban Liang berpikir. "Kedengarannya mudah buat mencari tempat semacam itu tapi kenyataannya sulit juga . Kita memerlukan waktu bukan cuma satu atau setengah hari," berkata ia.

"Tak usah kita terburu buru." kata si nona. "Kita cari sambil kita melanjutkan perjalanan kita ini."

Sampai disitu, mereka mulai berangkat lagi Tanpa kereta, kedua nona terpaksa mesti berjalan kaki, soat Kun tetap berjalan berendeng dengan saudaranya. Ban Liang berempat selama itu selalu memperhatikan tempat disekitarnya.

Dua jam lamanya rombongan ini berjalan, tibalah mereka disuatu tempat yang sisi jalanannya merupakan pepohonan lebat.

"Tempat ini mirip dengan lukisan nona, cuma tidak ada rumahnya," berkata Ban Liang

"Asal tempatnya cocok, tak apa tak ada rumahnya," berkata si nona.

"Baik, nona. Maukah nona mendengar perihal letaknya tempat ini?"

"Paling baik loocianpwee mengajak aku jalan mengelilinginya sekalian loocianpwee menceritakan kepadaku tentang keadaan kaum Kang ouw selama ini."

"Bagus, nona, loohu akan menemani kau." Soat kun meraba bahu adiknya.

"silahkan jalan, loocianpwee," katanya.

"Baik, nona," sahut si orang tua, didalam hatinya berpikir: "cocok benar kakak-beradik ini, yang satu buta yang lain gagu. Entah jalannya, dia bisa cepat atau tidak..."

Untuk menguji Ban Liang berjalan lebih cepat daripada biasanya. Ia melintasi rimba, jalan diatas rumput, saban saban, secara diam diam, ia perhatikan kedua nona. Ada alasan baginya untuk sering menoleh kebelakang. Hanya sebentar, kagumlah jago tua. Walaupun dia memegangi bahu adiknya, Soat Kun dapat berjalan cepat seperti penunjuk jalannya. Tak usah disebutkan si nona bisu, yang matanya dapat melihat. "Heran," kata jago tua itu didalam hatinya.

"Loocianpwee," kata si nona kemudian, "dengan jalan lekas lekas begini mungkin kita sukar memperhatikan keadaan disekitar kita..." Ban Liang menghentikan tindakannya dengan segera.

"Apa nona ingin aku memberi penjelasan tentang letak tempat ini serta keadaan disekitanya?" dia bertanya.

"Tak usah, loocianpwee, adikku telah melukiskannya." "oh..." orang tua itu heran hingga ia menatap si bisu.

"Nona," ia bertanya soat Gie saking herannya, "kita berjalan cepat tapi bagaimana nona bisa memberikan keterangan kepada kakakmu itu?"

Berkata begitu, mendadak jago tua ini melengak. Tiba tiba ia ingat bahwa orang gagu, mana bisa dia menjawabnya.

Soat Gie tersenyum, dengan sabar ia menyingkap rambutnya disamping telinganya.

Mendengar demikian, Soat Kun segera berkata^ "Loocianpwee, adikku minta tolong ia memberikan jawaban Sebenarnya adikku telah memberikan aku segala keterangan dengan jalan sentilan jari2 tangannya kepadaku. " Ban Liang kagum.

Ketika itu diwaktu malam terang bulan, memandang si nona bisu, jago tua ini bisa melihat tegas Soat Gie cantik, kulitnya halus, wajahnya manis sekali. Dia tampak lebih menggiurkan karena rambutnya yang panjang lepas, memain diantara hembusan sang angin. Kemudian ia berkata^ "Nona, aku tidak heran kamu berdua dapat berbicara dengan tanda-tanda atau isyarat saja. Yang aku tidak mengerti ialah bagaimana kamu dapat mengerti satu dengan lain Kita toh tidak berjalan lambat lambat hanya cepat cepat..." "Kami berdua hidup bersama semenjak kecil," berkata soat Kun, yang mengetahui orang kagum dan heran "Karena kami masing masing bercacat, kami mengatur cara tak dapat berhubungan satu dengan yang lain, kecerdasan kami membantu sehingga kami mudah saling mengerti seperti berbicara saja." Masih Ban Liang berkata didalam hatinya:

"Dua bersaudara ini benar benar luar biasa. Sikakak buta tapi ia cantik dan ototnya kuat sekali, sebab ia berhasil mewarisi kepandaian kakak Hoan. Si adik juga cantik, tapi ia bisu. Tetapi diapun cerdas, dia dapat memetakan, atau melukiskan segala sesuatu hanya dengan gerak gerik jemari tangan. juga heran kakak Hoan Dialah seorang tabib pandai sekali, kenapa dia tidak sanggup menyembuhkan kakak beradik ini? Jika dia tidak mampu, siapa lagi didalam dunia ini yang dapat mengobati mereka? Sungguh sayang"

Sambil berpikir, Ban liang berjalan terus, tak memperhatikan letak tempat, guna sinona tuna netra memeriksanya. Di akhirnya mereka selesai memutari tanah kosong itu, merekapun kembali ketempat tadi.

"Bagaimana pandangan loocianpwee mengenai tempat ini?" Soat Kun bertanya sambil mengeluarkan sapu tangan untuk menyusut muka.

"Tempat yang sunyi," sahut si orang tua. "Pohonpohonnya tumbuh kacau dengan semak semaknya disana sini." si nona tertawa.

"Aku setuju tempat ini," ia beritahu.

"Akupun hendak memberikan nama yang menarik hati, ialah Hong Goan Gi kiong Istana Tegalan Belukar Setuju?"

"Istana Tegalan Belukar" Kho Kong mengulangi kata kata itu Si nona tertawa pula. Ia berkata manis:

"Ya, pepohonan kacau dan semak semak ini kita pandanglah sebagai lauwteng, dan dengan tinggal disini, kita berkhayal, menganggapnya sebagai tempat yang indah, rasa pahit bagaikan tempat yang manis Tidakkah nama itu cocok?"

"oh begitu seru sipolos.

"Apa benar keponakanku setuju tempat ini?" Ban Liang menegaskan.

"Karena waktunya tak banyak lagi, mungkin sukar mencari tempat yang terlebih baik daripada ini"jawab sinona.

"Jika begitu baiklah Sekarang silahkan nona perintahkan apa yang kami harus lakukan."

"Aku berniatan membuat tanah tegalan ini menjadi semacam kota yang menakutkan, agar orang orang rimba Persilatan tertarik hati dan mereka pada datang kemari"

"Sungguh ringan sinona ini memandangnya," pikir Kho kong "Secara mudah tetapi bagaimana harus membuatnya hingga kaum Rimba persilatan sudi datang kemari?" Walau ia heran, pemuda ini membungkam, tak berani dia bertanya sesuatu.

Tidak demikian dengan Ban Liang. "Bagaimana kita membuatnya, ponakanku?"

"Istana Tegalan Belukas mesti dapat orang datangi tanpa orang bisa pergi lagi, artinya siapa sudah masuk kesini,jangan harap bisa meninggalkan pula," berkata sinona, tertawa.

"Perbuatannya sangat sederhana. Kita memerlukan beberapa batang pohon bambu serta beberapa ikat rumput. Membangunnyapun dengan waktu yang singat sekali."

"Berapa lama waktu singkat itu, keponakanku?" sijago tua tanya. "Kira-kira dua atau tiga hari."

Jago tua itu menghela napas. "Diwaktu mendengarnya, aku menyangka itulah sebuah bangunan sangat besar," katanya. "bahwa kita membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun atau lebih..." Nona Hoan tersenyum. "Sekarang kita jangan lambat lambatan lagi, mari kita mulai bekerja," katanya.

"Baklah" seru sijago tua, "Tolong kau sebutkan bahan bahan yang diperlukan"

"Buat sekarang, tolong tebang sejumlah batang bambu serta mengumpulkan beberapa tumpuk batu, untuk membangun kota pembelaan dahulu. Nanti baru kita bangun istananya."

Mendengar ketarangan si nona, Kho Kong tertawa dalam hati. "GUbuk tetap gubuk, bilang saja gubuk, buat apa dipakai nama yang mentereng? Istana Oey"

Ban Liang mengangguk. Ia berkata pada Siauw Pek. "Saudara kecil, kau berdiam disini untuk menemani kedua nona. Aku akan pergi bersama saudara Oey dan Kho."

Siauw Pek mengangguk sambil mengiyakan. "Harap loocianpwee lekas pergi dan lekas kembali"

Soat kun berpesan. "Jangan khawatir, keponakanku " berjanji Ban Liang yang segera berangkat. Oey Eng dan Kho Kong turut orang tua itu

Seberlalunya ketiga orang itu, Soat kun duduk mendeprok ditanah jemari tangannya yang halus menggurat-gurat tanah didepannya itu. Ia agaknya sedang menghitung-hitung. Siauw pek pergi duduk ditanah yang berumput.

Belum lama, mendadak saja siputeri malam sinar cahaya yang indah, hingga sang jagat menjadi gelap.

si anak muda mendongakkan kepalanya melihat kelangit Kiranya awan hitam menutupi sang rembulan. Ia lalu memikir sang hujan-

"Bila air langit turun, kuyuplah kita semua" pikirnya. "Disini tidak ada tempat untuk melindungi diri dari air hujan-.."

Dan baru saja ia berpikir begitu, pipi sianak muda sudah kejatuhan beberapa tetes air hujan, hingga tanpa merasa ia berkata "baru saja aku akan khawatir akan turunnya hujan, sekarang dia turun sekali" Ia berpaling kepada soat kun-Nona itu masih sama menghitung-hitung.

Siauw pek bangkit berdiri dan bertindak perlahan menghampiri si nona,

"Nona, hujan..." sapanya perlahan-Nona itu mengangkat mukanya, halus gerakannya.

"Aku tahu," sahutnya, juga perlahan, suaranya tetap merdu. Dia tersenyum manis.

"Aku kuatir hujan menjadi besar dan tak mudah berhenti..." kata pula sipemuda. Nona itu menghela napas.

"Apakah kau takut hujan?" dia bertanya.

Siauw Pek melengak. "Aku hanya khawatir nanti nona..." "Terima kasih buat kebaikan hatimu. Tak apa hujan turun..."

Berkata begitu, si nona tunduk. untuk menggurat-gurat lagi ditanah. Siauw Pek mengundurkan diri. Ia kagum sekali, katanya didalam hati: "Nona ini meskipun tak sempurna anggota tubuhnya, tetapi dia sangat tenaga dan bersemangat, tak mirip dia dengan seorang tanpa daya. Sungguh hebat"

Kekhawatiran si anak muda terbukti dengan segera. Sekonyong koyong kilat berkelebat, lalu air hujan turun bagaikan dituang-tuang. Maka, hanya sebentar, Tegalan itu sudah mulai tergenang air.

Si anak muda menoleh kepada si nona, Aneh nona itu duduk tak bergeming, jeriji tangannya tetap menggaris gariskan tanah... sekarang bukan tanah lagi, hanya air

Dan Soat Gie, sang adik, menatap kakaknya itu, terlihat kadang kadang dia tersenyum manis...

"Sungguh luar biasa," berkata si anak muda didalam hati, heran dan kagum.

"sudah mereka cerdas sekali, mereka juga begini mantap semangatnya..." Hujan sementara itu tak mau segera berhenti, bahkan turunnya makin besar, hingga kedua nona yang duduk mendeprok itu, telah terendam air kira kira sebatas lutut...

Baru lewat sesaat pula, tiba tiba terdengar Soat Kun menghela napas, lalu dia bang kit berdiri, untuk menengadah langit, kemudian memuji.

"oh, Hong Thian Hong Thian katanya. "Selewatnya lima hari ini, masih dapatkah engkau membantuk kepadaku, hambamu ini?"

seorang diri si nona memohon kepada Hong Thian, Langit Tertinggi (Tuhan).

Karena nona nona itu berdiam saja, siauw Pek pun turut berdiam, tak mau dia mengganggu. Hanya kemudian, ketika ia menoleh sekelilingnya, ia melihat jagat berwarna abu-abu disebabkan disekitarnya air melulu...

Tepat selagi si anak muda menoleh kepada kedua nona itu, mendadak Soat Gie bangkit, kedua tangannya dipakai menyambar kepinggang Soat Kun

Ia terkejut, segera ia melompat berlari menghampiri. "Apakah nona kurang sehat?" tanyanya kuatir.

"Tidak, tidak apa apa." sahut Soat Kun. "sebentar juga baik..."

"Disekitar kita tak ada tempat berlindung apapun juga ..." kata si anak muda masgul.

"Tak usah kita mencarinya," berkata si nona. "Hujan ini bakal segera berhenti."

Siauw pek mendongak, melihat langit. Katanya dalam hati. "Awan masih begini tebal, jagat masih gelap sekali, lagi dua jam, belum tentu air langit redam turunnya..."

Si nona sementara itu berkata: "barisan istimewa Liok Kah Tin masih belum kurencanakan sempurna, hendak aku percepat menghitungnya, kalau loocianpwee bertiga kembali bersama bambu dan batu, kita akan segera bekerja membangunnya." Siauw pek mengangguk.

"Semasa aku mengikuti suhu belajar ilmu pedang," katanya kemudian, "pernah aku mendengar suhu bicara tentang pelbagai  tin, umpama Pat kwa tin, kiu kiong tin, atau Ngo heng tin akan tetapi karena kebodohanku, belum pernah aku dengar ada Liok kah tin-Apakah tin nona ini sama atau mirip dengan pelbagai tin itu? Diwaktu senggang begini, kalau suka, tolong nona menjelaskan kepadaku."

"Hampir tak ada bedanya, saudara," sahut si nona.

"Bolehkah kalau aku menanyakan sesuatu?" tanya si anak muda pula.

"Kau sungkan, saudara coh," sahut si nona "Jikalau ada sesuatu pengajaran dari kau, silakan sebutkan. Segala apa yang aku tahu, aku akan beritahukan-"

"Nona membutuhkan bambu dan batu, apakah semua itu hendak digunakan sebagai pengganti manusia."

"Ya, benarlah itu."

"Bagaimana segala bambu dan batu itu dapat dipakai menentang musuh? Bukakah semua itu benda benda tak bergerak?" Soat kun menepas air hujan pada rambutnya.

"Itulah pertanyaan yang sukar dijelaskan, saudara. Itulah sebenarnya ada hubungan dengan khayalan saja. Hati atau mata khayal kita, akan melihat maCam benda, akan tetapi apabila diraba tak terasa dipegang."

Sianak muda menggeleng kepala, ia menarik napas perlahan "Benar tak dapat dimengerti," katanya.

"Liok kah tin, atau Ngo Heng tin, sama saja," berkata sinona pula. "Itulah khayalan berhitung. Siapa memasuki tin, perlu dapat menghitung tindakan kakinya, untuk dia bergerak ke kiri atau kekanan. Siapa bisa menghitung tepat dia seperti juga memasuki suatu tempat kosong. Tidak demikian apabila dia salah bertindak salah jalan, maka muncullah khayalan, lalu dia seperti masuk kedalam thian lo tee bong jaring langit atau jalan bumi, walaupun dia berjalan sampai letih, tak akan mampu dia keluar lagi."

"Hebat" seru sianak muda. "Hampir sukar dipercaya"

"Dari suhu, pernah aku mempelajari ilmu ini, akan tetapi, belum pernah aku gunakan," sinona memberi keterangan, "maka itu, aku cuma tahu hafalannya saja, tidak kenyataan, bagaimana hasilnya, aku tak tahu juga ..."

"Nona sangat pintar," berkata pula sianak muda. "Lain waktu ingin sekali aku menerima lebih banyak pengajaran."

"Kau memuji saja, saudara, tak berani aku menerimanya," sinona merendahkan diri, "justru kamilah yang hendak memohon saudara mengajari kami ilmu silat."

Ketika itu tiba tiba cuaca terang sekali, hingga pembicaraan itu terputus seketika juga .

Siauw pek melengak ketika dia dongak melihat langit, lekas juga dia mengawasi Soat Kun.

Sejenak itu hujan berhenti dengan segera, angin tak bertiup-tiup lagi, dengan lenyapnya awan tebal, siputri malam muncul pula dengan indah gemilangnya

"Aneh Sungguh aneh" anak muda ini berkata..

"Apakah rembulan muncul pula?" tanya sinona tunanetra. Kembali Siauw pek melengak.

"Hebat..Mata dia buta, kenapa dia tahu rembulan bersinar pula?"pikirnya. Hanya kali ini ia segera berkata pula: "Nona aku kagum untuk perhitunganmu. Tadi langit gelap. hujan besar berjatuhan tapi sekarang didalam waktu yang pendek sekali mega lenyap. hujan berhenti dan si Putri Mlaam muncul dengan cahaya yang terang luar biasa" Nona itu tertawa. "Aku sebenarnya cuma menduga-duga," sahutnya merendah.

"Kalau kau dapat melihat," kata siauw pek didalam hatinya, "mungkin kau tidak berani menerka begini..."

Tengah si anak muda bagaikan ngelamun, telinganya mendengar suara sinona itu, yang ditujukan kepadanya. "Saudara coh, baiklah kau gunakan kesempatan ini untuk beristirahat sebab mungkin sebentar, setelah terang tanah, bakal terjadi pertempuran yang dahsyat. Aku sendiri hendak melanjutkan berhitung."

Sejak itu sianak muda sudah menaruh keperCayaan besar terhadap sinona, maka ia menerima anjuran itu. Ialalu duduk bersemadhi untuk menjalankan pernapasannya.

Berapa lama ia sudah beristirahat, Siauw Pek tidak perhatikan, ketika ia mendengar suara nona Hoan yang sulung itu: "Saudara coh, lekas bersembunyi, Ada orang mendatangi."

Ia lalu membuka matanya dan menoleh kearah yang ditunjuk sinona. samar sama ia melihat empat sosok tubuh lari mendatangi. Tak ada waktu untuk bertanya, bahkan tanpa bangkit ia menggulingkan tubuh kebelakangnya dimana ada semak-semak rumput. Disitu ia bersembunyi.

Empat sosok tubuh itu berlari keras, segera juga mereka sampai ditempat dimana tadi Siauw Pek berkumpul bersama kedua nona Hoan-

siauw pek mengintai. ia melihat empat orang berseragam hitam, bahunya masing masing tergemblok golok. Yang luar biasaialah perut mereka itu besar-besar, hingga ia berpikir: "Mereka bertubuh besar tetapi tidak gemuk. kenapa perut mereka gendut semua?" Maka ia mengawasi lebih jauh. Iapun berlaku hati-hati, supaya kalau terpaksa, tak usah ia muncul.

Lama lama terlihat lebih tegas, perut mereka itu besar bukan disebabkan gendut, hanya ada benda yang dibawanya, entah benda apa maka juga dibawanya secara begitu aneh. "Apakah kau tidak keliru melihat?" terdengar orang yang dikiri tanya salah seorang kawannya. Mereka berdiri terpisah dua tombak satu dari yang lain-

"Tak salah" menjawab orang yang dikanan. "Aku berada diatas pohon aku melihat jelas sekali. Tadi ada dua orang disini..."

"Sinar rembulan kurang terang, tak dapat disamakan dengan siang hari, mungkin kau melihat samar-samar" kata orang yang ketiga.

"Tak peduli dia salah lihat, mari kita periksa dahulu" berkata orang yang keempat. Hati Siauw Pek guncang.

"Kedua nona lagi menyembunyikan diri di dekat sini, kalau mereka kepergok, sulit untuk melindunginya," pikir sianak muda. "Baik aku muncul guna memancing musuh pergi dari sini."

Selagi si anak muda berpikir, keempat orang serba hitam itu sudah mulai bekerja. Mereka telah menghunus goloknya masing masing. Mereka mencari dengan berpencar, tetapi jaraknya satu sama lain cuma empat tindak.

Begitu berpikir, siauw Pek bekerja untuk mewujudkan pikirannya itu. ia menjemput sebutir batu, dengan itu ia menimpuk perut salah seorang diantaranya.

Tepat timpukan itu, mereka berdua juga terpisah cuma satu tombak lebih, perut orang itu kedua terhajar, sampai bajunya robek sebab batunya kebetulan berujung tajam. Habis menimpuk. sianak muda melompat keluar dari tempat persembunyiannya, untuk  berlari pergi.

Si serba hitam itu kaget merasa sedikit nyeri. Ketika dia melihat orang muncul untuk terus lari, dia lompat mengejar, begitupun ketiga kawannya Tadi Siauw pek melihat tegas, perut gendut itu hanya sebuah buntal seperti holow atau cupu cupu.

siauw pek khawatir orang tidak mengejarnya, ia lari tidak keras, ia membuat jarak antara kedua pihak cuma satu tombak lebih. Nyatanya ia disusul terus, sampai jauh kira kira empat lie. "Berhenti" tiba-tiba ia membentak sambil menghentikan tindakannya dan memutar tubuh guna menghadapi keempat orang itu. Iapun menghunus pedangnya.

Empat orang itu berhenti berlari, tapi mereka bersikap mengurung, semua bertindak mendekati. Selama itu sianak muda terus memperhatikan perut lawannya.

Satu kali sianak muda mengawasi muka lawan, ia heran "Kenapa wajah mereka ini bersemangat sekali, bagaikan orang yang maju ke medan perang dengan tujuan mati? Kenapa?"

Lalu orang yang diarah timur berkata: "Kami telah menerima budi besar sekali dari tongcu kami, hendak kami membalasnya dengan kematian "

"Kami lebih suka jadi kemala yang hancur daripada menjadi batu yang utuh" menimpali yang diselatan-

"Kalau nama tersohor ribuan tahun, apakah artinya mati?" berkata yang dibarat.

"Kita akan mati bersama, untuk bertemu lagi disurga" berseru yang diutara. Mendengar orang bagaikan bersumpah, Siauw Pek heran.

"Apakah maksud mereka berkata begini ?" tanyanya  didalam hati.

Empat orang itu merapat terus, sampai mereka datang dekat sekali. Melihat demikian, sianak muda tak sudi didahului, ia lalu menerjang.

Empat orang itu menangkis, habis mereka membalas menyerang. Mereka mengarah setiap anggota tubuh yang berbahaya, dila in pihak, mereka tidak mencoba melindungi diri. Nampak mereka nekad.

"Aku menerka mereka berkelahi mati-matian, tetapi apa sebabnya?" Siauw pek berpikir tak habis mengerti. Selagi ia berpikir serangan lawan datang bertubi-tubi, maka terpaksa ita menyampok golok musuh hingga terpental

Meskipun begitu, bukannya musuh musuh itu lekas memperbaiki diri, mereka justru maju serentak. semuanya lompat menerjang sambil mengajukan tubuh mereka.

Hampir sianak muda tercengang bahaya herannya. Tanpa ayal lagi, ia lompat mencelat tubuhnya terapung tinggi, melewati salah seorang lawan Sambil berlompat itu, ia menusuk kearah depan, dimana ada sebuah pohon pek yang tinggi dan besar, tepat ujung pedangnya nancap di batang pohon, hingga tubuhnya bagaikan tergantung dipohon itu

Keempat musuh yang menerjang dari empat penjuru itu, tidak menyangka lawan bisa meloloskan diri. Karena mereka berlompat dengan keras, tidak dapat mereka menahan diri, serentak mereka saling tubruk. Sebagai kesudahan dari tubrukan hebat itu terdengarlah ledakan yang nyaring bercampur jeritan-jeritan dari kesakitan yang terputus dengan mendadak. dan tampak api menyala seperti kilat, disusul dengan mengepulnya asap menaik tinggi

siauw Pek diatas pohon mendengar suara itu, sempat pula ia melihat ledakan, sambil menoleh kebelakang ia mencabut pedangnya, berlompat turun. sekarang ia melihat satu pemandangan yang sangat mengiriskan hati

Keempat musuh mati dengan tubuh mereka hancur tangan dan kaki terpisah dimana-mana tulang-tulang berserakan. Tak lagi dapat dikenal wujud mereka semua.

"Sungguh kejam..." pikir si anak muda, yang hidungnya mencium bau wewirang dan sengit. ia menghela napas. Tanpa berkata kata, ia bertindak kembali ketempat dimana dia berkumpul bersama kedua nona Hoan Nona nona itu tengah menantikannya.

"Kau tidak kurang suatu apa, saudara coh?" tanya Soat Kun, si nona menghela napas. "Syukur aku tidak kurang suatu apa..." sahut pemuda itu menarik napas panjang, "sungguh suatu cara penyerangan yang kejam sekali..."

"Sebenarnya mereka menggunakan akal kuno," sahut si nona. "Pada tubuh mereka, mereka menyembunyikan obat pasang . . . "

Siauw Pek heran-"Bagaimana nona ketahui itu?"

"Sederhana saja Bukankah mereka telah gagal menabrak kereta kita? Baru saja kami mendengar suara ledakan, mudah menerka itu bukan?" Siauw Pek kagum.

"Diantara orang Rimba Persilatan, tak kurang mereka yang berani mati," berkata ia, "tetapi yang nekad seperti mereka itu berempat itulah langka. Jikalau aku tidak lompat mengapungi diri, ah, pasti aku tak luput dari bencana hebat itu..." Giris si anak muda mengingat kehebatan yang baru saja terjadi itu.

"Diantara pemimpin rombongan itu mesti ada seorang yang pandai menggunakan bahan peledak." berkata Soat Kun. "Sebaiknya lebih dahulu kita menyingkirkan dia itu..."

"Itulah benar, nona, cuma sulitnya, kita tak tahu siapa kah pemimpinnya itu?"

"Sekarang ini saudara coh, haruslah kau bersabar. Baik kita tunggu sampai kita sudah berhasil mengumpulkan tenaga tenaga, baru kita tempur mereka perhadap hadapan."

Selagi mereka bicara itu, mereka mendengar tindakan kaku berlari mendatangi, segera mereka berpaling. Maka mereka melihat Ban Liang yang bersama Oey Eng dan Kho Kong, yang masing masing memanggul seikat besar bambu.

"Kamu tidak kurang suatu apa, bukan?" tanya Ban Liang, yang menarik napas lega. ia dan kedua kawannya itu memandang si nona nona dan anak muda. "SyUkurlah, looCianpwe," menjawab Soat Kun tersenyum, "saudara coh telah melindungi kami. ia telah memancing musuh musuh pergi jauh dari sini. Tapi, saudara coh kaget juga ..."

"Syukur aku lolos dari bahaya," kata Siauw Pek.

"Kami lagi mengumpul bambu ketika mendengar suara ledakan, maka kami segera lari pulang," berkata sijago tua. "Sekarang hati kami lega."

"Apakah loocianpwee dapat mengumpul banyak?" tanya si nona. "Rasanya cukup banyak, keponakanku, hanya entahkah, cukup

atau tidak. Batunya sukar diangkut, maka itu tadi aku telah menyewa dua buah gerobak." Mulut si nona berkemak-kemik.

"Bambu dan batu telah tersedia," kata ia sesaat kemudian, "tinggal waktu untuk membangun tin Kita membutuhkan waktu satu malam. Itulah saat yang sangat berbahaya. Aku mengharap sangat bantuan tuan tuan Kami harus memecahkan diri menjadi dua rombongan, yang dua membantu kami bekerja, yang dua lagi bertugas melindungi, yaitu untuk berjaga jaga kalau musuh datang menyerbu. Sebelum tin rampung, faedahnya tidak ada..."

"Tempat kita ini telah diketahui musuh, yang menyerang," berkata Ban Liang.

"Benar. Besok adalah saat tergenting. Tempat ini belukar dan luas, paling mudah untuk diserang, paling sulit buat membelanya. Aku juga khawatir tak keburu kita merampungkan pembuatantin  kita ini..." Ban Liang berdiam, pikirannya bekerja keras. Ia heran pula.

"Si nona ini ketahui tempat ini terbuka, kenapa dia memilih ini?

Musuh banyak, kita sedikit, apakah kita nekad mengadu jiwa?..."

Setelah berdiam sejenak, si nona berkata pula, halus suaranya^ "Selama pertempuran di rumah kami, aku tak jelas akan pihak musuh, begitulah kita terancam bahaya besar. Sekarang ini aku lain Kini aku sudah mulai mengerti mengenai musuh, bahwa makin lama sang waktu berlarut, makin buruk keadaan kita. Musuh dilain pihak berhasrat keras untuk menumpas kita..."

"oleh karena itu, nona, perlu kita mempunyai daya yang sempurna untuk menentang mereka," berkata sijago tua.

"Itulah maksud utama dari aku, loocianpwee. Kalau kita pergi ke Siauw Lim sie, yang hasilnya masih muram, kita justru seperti mengundang musuh dari dua jurusan..." Si nona mengangkat kepala, menengadah langit. Ia mengeluarkan napas lega.

"Disini Jikalau kita bertempur dan memperoleh kemenangan, nama kita bakal segera tersiar luas," ia berkata pula. "Dengan tidak langsung, penyerbuan mereka itu juga akan membeber rencana busuk mereka sendiri..."

"sekarang bagaimana, nona?" Ban Liang tanya.

"Bagaimana pikiran saudara coh, saudara saudara Oey dan Kho?" si nona balik bertanya.

"Kami menurut nona saja," sahut Siauw Pek. Dia mewakili kedua saudaranya.

"Tuan tuan begini perCaya aku, baiklah.. Mari kita mulai bekerja" "Tiga ikat bambu ini berjumlah empat ratus batang lebih, entah

sudah cukup atau belum?" tanya Ban Liang.

"Lebih malahan," berkata si nona. "Aku membutuhkan tiga ratus enam puluh batang saja.

^Nona, mengenai Liok Kah Tin, kami asing," Ban Liang berkata pula, "karena itu, bagaimana caranya kami dapat membantumu?"

"Mudah saja, loocianpwee, kamu ikut aku, dimana aku tunjuk. disitu kamu menancapnya."

"Benar benar sangat sederhana" seru Kho Kong.

"Hanya ingat," memesan si nona sambil tersenyum^ "selekasnya kamu menancap.jangan kamu berdiam lama-lama disitu" "Baik, nona. Silahkan nona jalan dimuka" Berkata begitu, Ban Liang memanggul bambunya.

Soat Kun mengangguk. lalu dengan sebelah tangan memegangi bahu adiknya. Ia mulai berjalan Ditangan kanan dia membawa sebatang bambu kecil. Ban Liang mengikuti, diam diam dia perhatikan gerak gerik si nona.

Soat Kun merandak setiap enam langkah, dengan bambunya, ia terus menggurat membuat beberapa bundaran ditanah, habis itu, ia berkata^ "Tancapkanlah bambu ditengahnya jangan diluar bundaran"

Ban Liang berempat melakukan tugasnya dengan baik, belum ada satu jam, habis sudah mereka menancapkan tiga ratus enampuluh batang bambu itu semua. Ketika mereka mengawasi, mereka heran, bambu ratusan itu nampak seperti hampir seribu batang.

"Mungkin benar bambu ini ada keanehannya," pikir sijago tua.

Lalu terdengar suara sulung: "Adik coba kau lihat, apa yang kurang pada bambu itu?"

Soat Gie, siadik mengawasi keseluruh tin, kemudian ia lari masuk kedalamnya, untuk membetulkan dua batang.

Kho kong heran, hingga hatinya berdenyutan Ialah yang sengaja menancapkan salah kedua batang bambu itu, sebab ia pikir, apa artinya hanya dua batang, siapa sangka sinona bungsu melihatnya.

Balik kepada kakaknya, Soat Gie memegang tangannya dua kali.

Segera alls sinona berkerenyit. Katanya. "Adikku mengatakan bahwa dua batang bambu tertancap kearah barat kira kira satu dim mencongnya. Nampaknya bambu itu ditancap salah bukan tanpa sengaja."

Ia menarik napas duka. "Ini dia yang dikatakan, beda sedepa, salah seribu lie Sekarang silahkan tuan-tuan lihat, setelah letak dua batang diperbaiki, apakah masih ada yang kurang rapi?" Disaat itu rembulan bercahaya terang sekali, semua orang bisa melihat dengan tegas. Ban Liang melihat ada sesuatu yang beda dari saat tadi dan sekarang, hanya tak dapat ia menjelaskan perbedaan itu.

"Karena salah tancapnya kedua batang bambu itu bukankah tampaknya kurang pengaruhnya?" tanya si nona

Ban Liang berempat mengawasi terus. Setelah mendengar suara sinona itu, barulah mereka melihat, benar ada suatu perbedaan, suasananya lain sifatnya. Jago tua itu batuk perlahan-lahan.

"Jikalau nona tidak menyebutnya, benar kami tidak melihat apa," katanya.

"Sungguh luar biasa"

"ikalau sudah ditambahi dengan batu, suasana ini akan berubah jauh," berkata pula sinona.

"Tin akan nampak keren sekali." Ban Liang mengangguk berapa kali.

"Apakah nona berniat berdiam disini?" tanya sijago tua.

"Sukar buat memastikan, loocianpwee. Buat sementara baiklah kita berdiam disini setengah atau satu bulan..."

"Nona, dapatkah kau menjelaskan lainnya, supaya kami mengetahui segala sesuatunya lebih terang?" Siauw Pek minta. "Mungkin penjelasanmu ada faedahnya buat kewaspadaan kami..."

"Kita cuma berenam, kita sebisanya mesti mendapat tambahan tenaga," kata Soat Kun-

"Bukankah, seperti nona pernah katakan, nona mau pakai tin ini untuk mendapatkan tambahan tenaga itu?" sijago tua bertanya pula. Nona itu mengangguk.

"Walau bagaimana, tin ini adalah benda mati. Maka itu, perlu sekali bantuan tenaga manusia untuk membuatnya menjadi hidup," "Bagaimana kami harus membantunya, nona?" Siauw Pek pun tanya. "kami tidak mengerti."

Nona Hoan tersenyum. "Jangan bingung, saudara coh," katanya, "Seperti telah kukatakan, tin ini sangat sederhana."

"Nona," Ban Liang bertanya. "bagaimana andaikata musuh tak mau memasukinya?"

"Dugaanku sebaliknya, loocianpwee. Pasti musuh akan menerjangnya. Yang perlu sekarang ialah lekas lekas kita merampungkannya."

"Baik, nona. Loohu akan segera mengangkut batunya " "Sekarang ini," Soat Kun memperingatkan, "setiap detik kita

dapat diserbu musuh, karena itu, baiklah loocianpwee menetapkan suatu isyarat guna satu dengan yang lain saling memberitahukan, supaya kamu dapat bantu membantu."

"Nona benar," kata sijago tua.

Kho Kong tiba-tiba merangkap kedua belah tangannya. "Nona," katanya, "ada sesuatu yang mengganjal dikerongkonganku, tak dapat aku tak mengeluarkannya..." Soat Kun mengawasi.

"Bukankah kau mau bicara tentang pelatok bambu?" tanyanya. "kau toh yang sengaja menancap salah?"

"Benar, nona," si polos mengakui, "Aku menyangsikan pelatok bambu dapat menolak musuh, aku sengaja menancap salah itu untuk mencoba coba nona dapat melihat atau tidak..."

"sekarang kau percaya atau tidak?"

"Sekarang akupercaya betul. Aku bersedia ditegur nona..."

Dan sikap si nona menjadi sungguh-sungguh hingga dia nampak keren.

"Menegur kau, itulah aku tidak berani," katanya, "akan tetapi, ada beberapa kata kataku yang tak dapat aku tidak mengeluarkannya " "Silahkan bicara nona, kami bersedia mendengarnya," berkata Siauw Pek, yang turut bicara, bahkan dia merangkap kedua belah tangannya.

soat kun tidak bisa melihat, Soat Gie tidak bisa bicara, tetapi, seperti sudah diketahui, mereka senantiasa dapat berhubungan satu dengan lain. Asal ia mendengar, si sulung dapat mengerti segala sesuatu, Dan si bungsu, asal ia melihat dan memberi isyarat kepada kakaknya lalu si kakak mengetahui apapun dengan jelas. Demikian, nona nona itu melihat, mendengar dan mengetahui segala sesuatu disekitarnya.

Soat Kun bangkit berdiri, kemudian membungkuk, guna membalas hormat.

"Saudara coh terlalu merendah," katanya. "Mengenai kita ini, aku hendak mengatakan, ular tanpa kepala tak dapat berjalan, burung tanpa sayap tak dapat terbang. PerbUatan saudara Kho sengaja salah menancapkan bambu membuat aku berpikir. Kesalahan itu tak usah diperpanjang, tetapi selanjutnya itulah harus dicegah. Bagaimana andaikata tenaga kita berhasil ditambah? Bukankah kita tidakpunya kepala perang dan undang undang tentara? Umpamanya tenaga ktia jadi besar, bukankah itu hanya segerombolan saja? Bagaimana mereka bisa dipakai menghajar musuh?"

"Itu benar" berkata Ban Liang. "Akupun telah memikirkannya.

Sekarang, bagaimana kita harus mengaturnya?"

"Itulah sebabnya, loocianpwee," berkata si nona, "aku memikir tak lebih dulu memilih dan mengangkat pemimpin, lalu mengadakan aturan untuk mengatur rombongan kita..."

"Aku memilih nona" berkata Siauw Pek. Soat Kun menggeleng kepala.

"Untuk memikir, mengatur sesuatu, mungkin aku sanggup," katanya, "akan tetapi buat memimpin apa pula guna mengepalai dunia Rimba Persilatan, itulah tidak" Ia diam sejenak, lalu menambahkan. "Tuan tuan jangan lupa bahwa akulah orang yang bercacad mata satu, yang tak dapat melihat segala sesuatu..." Kata kata terakhir ini diucap pelan sekali.

"oleh karena nona menolak. baiklah Ban Loocianpwee saja yang diangkat," Siauw Pek mengusulkan.

"Tidak dapat" Ban Liang menggeleng kepala. "Dunia Kang ouw begini kacau dan loohu sudah tua, tak sanggup aku memegang pimpinan. Aku cuma bisa turut turutan saja..."

Terus dia menatap putera coh Kampek almarhum dan menambahkan : "Menurut aku, paling baik adalah saudara coh yang memegang tampuk pimpinan"

"Ya, ya, akupun memikir sama dengan loocianpwee"  berkata Soat Kun. "Saudara coh adalah yang paling tepat"

Pemuda itu hendak menolak usul Ban Liang ketika si nona memegatnya berbicara, maka ia mesti menanti nona itu bicara habis, setelah itu:

"Tidak. tidak," katanya. "Aku masih terlalu muda, aku masih belum tahu apa apa..."

"Toako, terimalah tugas ini" berkata Oey Eng dan Kho Kong serentak. "Kami sedia menerima segala perintah dari toako" Ban Liang tertawa lebar.

"Suara terbanyak berarti harapannya orang banyak pula" katanya. "Saudara kecil, Jikalau kau menolak. kau membuat kami merasa sulit"

"Tapi... tapi..." kata sianak muda menarik napas.

"Mulai saat ini kami mengangkat kau menjadi Sim Too Bengcu" berkata Soat kun-

"Kim Too yaitu golok emas dari ceng Gi loojin, menjadi lambang kita Nanti, sesudah pengaruh kita besar, akan kita maklumkan ini kepada dunia Rimba Persilatan, agar umum mengetahuinya Biarlah ceng Gi kim Too Golok Emas Keadilan tersiar luas" "Aku yang begini muda, bagaimana mungkin aku membuat dunia Rimba Persilatan mau tunduk dihadapanku?" tanya sianak muda.

"cita Cita atau semangat tidak bergantung kepada usia muda, saudara kecil." berkata Ban liang. "Nah, marilah SengCu menerima hormatku"

"Mana... mana dapat?" kata Siauw pek gugup

Akan tetapi sijago tua sudah mendahului menunduk berlutut memberi hormatnya.

Amat sibuk Siauw pek. Ia menjatuhkan diri berlutut juga , mendekam untuk membalas hormat, setelah mana ia membangunkan orang tua itu.

Oey Eng dan Kho kong segera turut memberi hormat, diturut oleh soat kun dan Soat Gie Karena mereka bukan tengah bergurau, mereka berlutut mengangguk angguk berulang ulang. Hingga kembali pemuda she coh itu repot untuk membalasnya.

Paras muka siauw pek merah karena malu terhadap kedua nona itu Adat istiadat melarang ia menyentuh tangan orang untuk membangunkan mereka itu. Ia cuma bisa berkata: "Tak berani, tak berani aku menerima hormatmu nona..."

Setelah bangkit, Soat Kun berkata sungguh sungguh^ "Sejak saat ini kaulah bengcu yang dihormati, bahkan mungkin lagi tiga atau lima bulan, kau akan memimpin rombongan dari beberapa ratus jago Rimba Persilatan, guna menjunjung keadilan, buat menyapu bersih hawa busuk dunia Kang ouw Kami berdua bercacat tetapi kami akan lakukan apa yang bisa untuk menunjangmu, setelah jiwa kami habis barulah kami puas..." Itulah kata kata berat, maka juga berat Siauw pek menerima budi itu.

"Dalam hal menerka musuh dan mengambil keputusan, kami berdua saudara bersedia bertanggung jawab," kemudian berkata pula Soat Kun sambil menyingkap rambut disisi telinganya

"Untuk memerintah, untuk menghadapi musuh, itulah tugas bengcu, dapat bengcu mengambil tindakan sendiri" "Baiklah, nona" katanya akhirnya. "Aku akan lakukan segala apa dengan setakar tenagaku, hidup atau matiku, tak kupikirkan pula"

"Nona, Jikalau ada titahmu untukku, keluarkanlah" Ban Liang berkata kepada Soat Kun yang sekarang ia sangat hormati, "Langkah orang pintar seperti kau, baru beberapa hari, kau telah perlihatkan kepandaianmu yang luar biasa "

"Suhu Almarhum barulah orang cerdik pandai," berkata si nona merendah, "Sayang suhu lekas sekali mendahului kami pergi, hingga kami ditinggalkan tanpa daya. Pelajaran yang kami dapat, dalam sepuluh, baru tiga atau empat bagian..."

Berkata begitu, wajah si nona lesu dan suram, pertanda bahwa ia sangat menyesal dan berduka. Kemudian ia menambahkan: "Semoga arwah suhu akan memberkahi dan melindungi kedua saudara, supaya kami dapat melakukan sesuatu untuk kebaikan khalayak ramai..."

Kemudian lagi, dengan suara perlahan, ia memohon, "Ban Loocianpwee bertiga, tolong kamu lekas bawa kemari batu batu itu, supaya dapat tiba disini besok sebelum tengah hari, supaya segera kita dapat merampungkan tin kita ini."

"Baik, nona, menyahutBan Liang. Kami pergi sekarang " Dengan segera, sijago tua itu mengajak Oey Eng dan Kho Kong berlalu.

Besoknya, dibawah petunjuk Nona Hoan, dengan dibantu Siauw Pek, Ban Liang bertiga bekerja keras membangun barisan rahasianya itu, yang memang rampung disaat matahari mulai naik tinggi Setelah itu, si nona memberi petunjuk bagaimana orang harus masuk dan keluar dalam tin itu, agar mereka nanti harus melayani musuh

Ditengah tengah tin, dibangun juga sebuah rumah atap yang bertingkat, untuk menjadi pusat barisan istimewa.

Selama itu terjadilah hal yang diluar dugaan. Selama dua hari tak tampak musuh muncul, jangan menyerbu, mengintaipun tidak. Di hari ketiga, tengah hari, Ban Liang habis sabarnya. "Nona Hoan, loohu ingin sekali mengutarakan sesuatu"

"Mungkinkah itu urusan selama dua hari musuh tak kunjung tiba?" bertanya nona.

"Benar begitu, nona "

"Itulah tidak heran, loocianpwee. seperti telah kukira, diantara musuh ada salah seorang pemimpinnya yang pandai, yang mengatur segala sesuatu. Begitulah maka gerak gerik musuh sering ada yang diluar dugaan Walaupun demikian, aku rasa kesabaran mereka tetap tidak muncul mungkin besok..."

"Jikalau mereka bakal datang, tak apa mereka datang terlambat satu hari," kata sijago tua. "Aku hanya mengkhawatirkan mereka benar benar tidak datang Itu berarti tidak sia-sia saja kita bersusah payah membangun tin kita ini..." Nona Hoan tetap tenang sikapnya.

"Barang kali, loocianpwee mereka itu sudah mengirim mata matanya mengawasi gerak gerik kita," katanya. "Mereka hanya bekerja secara menggelap dan mereka pula sengaja tidak segera datang, guna menguji kesabaran kita. Rupanya mereka mengharap harap. karena habis sabar, kita nanti pergi mengangkat kaki dari sini. Jikalau aku menerka tepat, pasti sudah mereka telah mengatur pasukan bersembunyi diempat penjuru kita, setelah habis sabar kita, sendirinya kita masuk kedalam perangkap mereka itu. maka itu sengaja aku membangun gubuk kita yang bertingkat ini. Kita harus tunjukkan kepada mereka bahwa kita mau berdiam lama disini..."

"Bagaimana dengan rangsum kita, nona? Sekarang ini persediaan paling juga buat dua hari. Selewatnya, musuh datang atau tidak, kita toh harus keluar dari sini"

Sinona berdiam sejenak "Loocianpwee apakah masih juga loocianpwee meragu-ragukan aku?" tanyanya kemudian "Apakah loocianpwee masih tak jelas mengenai kedudukanku?"

"Nona..." Ban Liang melengak. "Loocianpwee," berkata pula sinona, suaranya dingin, inilah tak biasanya: "didalam rombongan kita ini, kecuali bengcu, tidak ada yang memikul tanggung jawab lagi, yang memegang kekuasaan, maka itu, kalau ada sesuatu yang hendak diajukan, silahkan laporkan kepada bengcu"

Soat Kun lekas lekas membungkuk, membalas hormat itu. "Boanpwee hendak menegakkan aturan, tak dapat boanpwee tak

bersikap begini," katanya. "harap loocianpwee suka memaafkanku."
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 27"

Post a Comment

close