Payung Sengkala Jilid 10

Mode Malam
Walaupun tadi Lam Kong Pak duduk semedi untuk menyembuhkan lukanya, namun pendengarannya sama sekali tidak tertutup dalam keadaan setengah sadar setengah tidak ia dapat menangkap seluruh pembicaraan dengan sangat jelas.

Ia mendengar perempuan itu bergelar si Malaikat  Payung sengkala dan bernama Coe Hong Hong, berhubung mendengar sebutan Payung sengkala tanpa sengaja ia tidak menghubungkan tiga jurus ilmu silat Payung sengkala kepadanya, lagi pula dari mulut Coe Hong Hong sendiri mengakui kalau sian Yen ping adalah suaminya. dus berarti perempuan ini bukan lain adalah ibu kandung coe Lie Yap.

Detik inilah Lam Kong Pak baru tahu pada sepuluh tahun yang lalu si Malaikat Payung sengkala Coe Hong Hong dicelakai oleh Pemilik Pegadaian Bu-lim, tetapi secara bagaimana pula Coe Lie Yap terjatuh kedalam mulut kawah gunung berapi? sedang oei Ci Hu jatuh kedalam selat buntu? beberapa soal yang membingungkan hatinya ini membuat ia jadi kebingungan-

setelah kini mengerti bahwasanya Perempuan she Coe itu adalah bakal mertuanya, ia semakin gelisah. ia harus memberitahu bakal mertuanya kalau si Pemilik Pegadaian Bu-lim adalah seorang manusia keji. manusia licik. tak boleh satu kali lagi ia kena tertipu.

Disamping itu Lam Kong Pak pun merasa menyesal terhadap peristiwa yang menimpa oei Ci Hu, ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk membalas budi tersebut.

Berada pada saat yang demikian kritisnya bisa ia tidak turun tangan dalam hati rasanya sangat tidak tenteram.

Namun Pek Li siang sedang mengatur pernapasan berada dalam keadaan seperti ini ia tak bisa meninggalkan dirinya begitu saja. Kurang lebih setengah jam kemudian Pek-li siang baru selesai bersemedi, mereka berdua segera menerobos keluar dari mulut naga.

Ketika itu walaupun suasana dalam gua sangat gelap. tetapi secara lapat2 masih bisa membedakan barang disekitarnya, karena fajar telah menyingsing.

seorang nenek tua berambut putih, bermata satu, lengan kiri putus hingga ketiak dan raut Mukanya mirip iblis sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan pemilik Pegadaian Bu-lim, keadaan yang mengerikan itu mungkin hasil perbuatan pemilik Pegadaian Bu-lim tempo dulu.

Pertempuran berjalan amat seru, angin pukulan men deru2 membuat lumpur berhamburan memenuhi angkasa.

Mendadak Pemilik Pegadaian Bu-lim membentak keras: "Ini hari sebelum salah satu diantar kita menemui ajalnya pertarungan tidak akan berhenti ayoh pergi, kita teruskan pertarungan ini ditempat luaran" selesai bicara ia enjotkan badan dan berlalu dari situ

si Naga Pengasingan tidak mau memperlihatkan kelemahannya, iapun enjot badan membuntutinya dari belakang.

"Siang moay mari kita ikuti mereka, bila perlu kita bantu loocianpwee itu."

"Engkoh Pek. siapakah perempuan tua itu?"

Lam Kong Pak segera menceritakan secara garis besarnya.

sementara mereka bicara, si Naga Penasaran serta Pemilik Pegadaian Bu-lim sudah lenyap tak berbekas.

Diantara celah2 batu hanya teringgal noda darah, mayat bergelimpangan di-mana2, mereka kebanyakan adalah anak buah dari Tiga miskin empat kaya serta seorang pegadaian Bu-lim.

suasana disekeliling bukit sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, daun berguguran angin gunung bertiup sepoi2 pemandangan semacam ini menambahkan kepedihan dalam tubuh setiap manusia,

"Siang moay, ayoh kita turun kebawah me-lihat2" "Bukankah kita hendak menguntit mereka itu?"

"Mereka sudah berada puluhan li jauhnya dari sini, dikejarpun percuma. walaupun kitab pusaka terjatuh ketangan Pemilik Pegadaian Bu-lim, namun coe Cianpwee masih berkemampuan untuk merebutnya kembali, mari kita pergi memeriksa naga bertanduk itu lagi."

Mereka berdua masuk kembali melalui celah batu, saat inilah mereka baru melihat jelas makluk itu panjangnya empat, lima puluh tombak. kasar tubuhnya sepuluh lingkaran dari batang pohan mulutnya yang besar terbuka lebar cukup dimasuki satu orang dengan badan tegak.

seluruh tubuhnya bersisik. setiap sisik besarnya sekepalan keras dan alot memancarkan cahaya tajam.

Lam Kong Pak meloncat naik keatas kepala naga, menjumpai sepasang tanduk yang tajam memancarkan cahaya ke-emas2an, segera ujarnya kepada Pek -Li siang:

"Siang moay, menurut catatan dalam kitab pengetahuan makhluk laut serta telaga disebutkan tanduk naga bisa digunakan sebagai senjata, kuat dan atosnya luar biasa, sepasang tanduk ini panjangnya empat depa dan besarnya selengan, mengapa kita tidak berusaha untuk mengambilnya?" "Baik agaknya kuat dan tajamnya luar biasa, hanya tidak tahu bisa dicabut keluar tidak?"

"Biarlah kucoba "

Ia berdiri diatas kepala naga, sepasang tangannya mencekal sebuah tanduk kencang2, dengan salurkan tenaga sebesar delapan bagian diiringi bentakan keras dicabutnya keatas,

Tenaga betotan sebesar tujuh, delapan bagian tenaga murni ini melebihi kekuatan seribu kati, terdengar suara rekahan yang amat keras, sisik besar diatas kepala naga itu retak dan muncat keempat penjuru, namun tanduk itu masih belum berhasil dicabut keluar.

Timbul rasa ingin menang dalam hati Lam Kong Pak. dengan tenaga murni sebesar delapan bagian sekali lagi ia dorong telapaknya kearah tanduk naga tersebut.

"Braaak" tanduk naga masih tidak bergeming. sebaliknya Lam Kong Pak terdesak turun dari kepala naga, lengan kanannya jadi linu dan kaku. sakitnya luar biasa.

Tanpa sadar mereka berdua berseru kaget. sadarlah bahwasanya tanduk naga itu betul2 kuat dan atos dan merupakan mustika yang jarang didapatkan dalam kolong langit, dengan kejadian ini niat untuk memperoleh tanduk naga itu semakin besar.

"seandainya kita memiliki sebilah golok mustika maka semuanya akan beres. " Ujar Pek-li siang.

"Kita bisa babat putus bersama akar-akarnya"

"Kalau memang mustika biasa dapat membabatnya hingga putus, tanduk naga ini tidak terhitung barang mustika dalam kolong langit, biarlah siauw-heng mencoba sekali lagi " Lam Kong Pak segera salurkan tenaga murninya hingga mencapai dua belas bagian, kemudian sekuat tenaga dicabutnya keatas,

"Phluuuuk...." bersama dengan dagingnya tanduk tadi tercabut lepas, tapi dengan kejadian ini ia tak bisa menahan keseimbangan lagi, badannya tidak ampun terjatuh kedalam pangkuan Pek-li siang.

Ambil kesempatan itu Lam Kong Pak mengirim sebuah ciuman keatas pipi, Pek-li siang kena dicium jantung gadis itu berdetak semakin keras, ia memeluk pemuda itu tak berkutik, sebaliknya malahan mendorong bibir kecilnya kedepan-

"Tjiiiittt....tjjjjtttt..." ciuman yang nyaring bergema tiada henti hingga lama sekali Pek-li siang baru melepaskan pelukannya sembari berkata:

"Engkoh Pak. jangan terlalu tamak minta ciuman terus, ayoh cepat cabut sekalian tanduk yang lain"

"Kali ini cukup dengan tenaga murni delapan bagian sudah bisa mencabut keluar tanduk tersebut Karena beberapa kecupan tersebut sudah cukup menambah tenaga serta semangat siaw-heng"

"Kau jahat. aku tak mau memperdulikan dirimu lagi"

Kembali Lam Long Pak meloncat naik ke atas kepala naga dan mencabut tanduk kedua ini, sembari membersihkan daging yang menempel ditanduk kemudian mengobat-abitkan senjata tadi, pujinya tiada habis:

"senjata ini betul2 seimbang, bahkan tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek persis sekali dengan senjata pedang berkait Jie Ih Kouw Kiam" hanya senjata ini betul2 kuat dan atos. sungguh luar biasa" Dua orang masing2 mencekal sebatang tanduk kemudian sekuat tenaga dibentrokan satu sama lainnya

"Traaaaang...." suara amat nyaring berdentang bagaikan pekikan naga sekalipun begitu senjatanya sendiri sama sekali tidak rusak maupun gumpil. Mereka berdua jadi kegirangan setengah mati. ujar Lam Kong Pak:

"Benda ini sungguh luar biasa bahkan tidak berada dibawah keampuhan delapan belas macam senjata tajam lainnya, sejak ini kita bisa berkelana didalam dunia persilatan dengan membawa sebuah senjata lebih hebat"

Mendadak dari atas celah berbatu berkumandang datang suara dengusan dingin, bahkan suara itu berasal dari suara seorang gadis muda belia, mereka berdua tersentak kaget dan ber-sama2 enjotkan badan melayang keatas.

Ketika sinar mata dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi, tampak sesosok bayangan manusia yang kecil mungil dengar amat gesit meloncat diatas dinding tebing kemudian lenyap tak berbekas.

serentak ingatan berkelebat dalam benak Lam Kong Pak, ia kenali bayangan tubuh orang itu sangat mirip Coe Lie Yap. lagi pula gadis itu pernah berkata tidak lama kemudian akan munculkan diri dalam dunia persilatan, mungkinkah semua pemandangan yang dilakukan tadi dapat dilihat semua olehnya?

Timbul perasaan malu dalam hati Lam Kong Pak. ia tahu gadis itu tentu salah paham. dia harus dan berkewajiban memberikan penjelasan kepadanya, segera ia membentak: " Cepat kejar"

Ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan, laksana kilat badannya mencelat keluar dari celah berbatu dan melakukan pengejaran. = = ooo OOOOO ooo = =

sejak memperoleh hawa murni 'Yen Ing cing Khie' dari oei Ci Hu, tenaga lweekangnya memperoleh kemajuan pesat.

sekali berkelebat tubuhnya mencapai puluhan tombak. dalam dua tiga kali loncatan saja sebuah tebing setinggi ratusan tombak sudah dilalui, tampak sesosok bayangan tubuh yang kecil mungil bagaikan sambaran kilat meluncur turun dari atas tebing Beng Gwat Cang. "Adik Yap. dengarkan dulu penjelasan siauw-heng "

sembari berteriak Lam Kong pak mengejar terus kebawah puncak, namun bayangan tubuh yang lari didepannya sedikitpun tidak berhenti, malahan kecepatan gerakannya berlipat ganda.

"Adik Yap. adik Yap dengarkan dulu ucapanku. "

"Hmmmm"

Gadis didepan mendengus dingin, ia tetap tidak berhenti berlari. tubuhnya berkelebat bagaikan anak panah terlepas dari busur ketempat semak2.

Walaupun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Lam Kong Pak sangat bagus, namun ia tak sanggup menyandak gadis tadi,, ditambah pula gadis itu tidak mengambil jalan besar, sebaliknya berkelit kekiri bersembunyi kekanan, sengaja mencari tempat2 yang sulit untuk melarikan diri,

Kejar mengejar selama satu jam lebih, namun belum berhasil juga menyandak gadis tadi.

Ketika pemuda itu berpaling kebelakang. bayangan Pek li siang sudah lenyap tak berbekas, hatinya sangat berduka. namun ia tahu tenaga lweekang yang dimiliki Pek-li siang tidak lebih rendah seberapa jika dibandingkan dengan kepandaian coe Lie Yap. jago lihay pada umumnya masih bukan tandingan dara manis itu. oleh sebab itu ia melanjutkan pengejarannya kedepan.

Ketika senja telah tiba mereka sudah ratusan li meninggalkan daerah pegunungan Thay-san, dan tiba di Kie Hu tempat kelahiran Kong Hu-cu, Teringat bagaimanapun coe Li Yap tak berhasil kecandak. ia lantas ambil keputusan untuk menginap dikota itu, sementara menanti kedatangan Pek-li siang.

Karena itu ia berganti pakaian dan masuk kekota Kie Hu, setelah mendapatkan sebuah rumah makan terbesar ia berjalan masuk cari tempat pesan sayur serta arak dan mulai bersantap.

"Tok...tok...tok...."^ dari mulut tangga muncul tiga orang, sekilas pandang Lam Kong Pak segera tertawa dingin dan melengos kesamping.

Kiranya orang pertama adalah seorang lelaki berperawakan kurus kering bagaikan bambu memakai baju warna biru, membawa kantung uang dipundak, kantung depan berisi pit serta bak dan kantong belakang berisi sie poa besar, dia bukan lain adalah si Loo-toa sepasang manusia jelek dari Hay Thian itu si Catatan mati hidup Pak Bee.

Manusia kedua berkepala seperti Waluh pinggangnya besar. panca indera kecil dan. mukanya putih seperti tembok, memakai baju kembang2 perlente. dia adalah si Wang wee berhati hitam Coe sim.

orang ketiga berperawakan tinggi besar sembilan depa, pinggangnya amat kekar bagaikan sampan kecil, telapak tangannya besar bagaikan kipas. telinganya memakai dua gelang besar yang beratnya ada setengah kati, tubuhnya memakai kulit macan. mata sebesar lonceng. Walaupun ia naik keatas loteng dengan langkah hati2, namun cukup menimbulkan goncangan keras seakan loteng tadi diserang gempa bumi. orang ini adalah 'Toa Lek sin' atau si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen.

sejak semula Lam Kong Pak sudah menaruh simpatik terhadap orang ini, saat ini walaupun wajahnya menghadap keluar jendela tetapi secara diam2 ia memperhatikan terus tingkah laku ketiga orang itu,

setelah mereka bertiga ambil tempat duduk. sang pelayan berjalan kedepan namun tidak berani terlalu dekat dengan mereka bertiga, se-akan2 ia takut ambil ia digigit dan ditelan oleh tiga manusia ganas itu.

"Tuan-tuan sekalian kami persilahkan memesan sayur" Ujar pelayan itu sambil mengangsurkan daftar makanan ketangan si Wang wee berhati hitam Coe sini

Karena pelayan ini pandai melihat orang ketika dilihatnya si Wangwee berhati hitam mempunyai perawakan gemuk dengan telinga lebar mirip seorang hartawan kaya, ia lantas mengangsurkan kartu tanda memesan makanan kepadanya.

" Keparat cilik" kontan saja si Wangwee berhati hitam memaki "Kau tidak punya mata. kurang ajar coba lihat potonganku apakah aku yang lebih patut memesan sayur?"

selama hidup si Wangwee Berhati hitam tak pernah mendermakan uangnya dengan sia2, apalagi ia tahu si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen memiliki kekuatan makan yang luar biasa.

sementara kali ini paling sedikit akan menghabiskan uang tidak kurang dari puluhan tahil perak.

Pelayan itu tertegun. laksana patung mendengar kata2 orang itu. Kembali ia menyapu sekejap wajah ketiga orang itu. Akhirnya ia angsurkan daftar makanan tadi ketangan Loo Liang Jen.

si Malaikat raksasa tidak mengenal tulisan, sembari menuding kearah daftar menu tadi segera serunya kepada sang pelayan,

"Coba kau keparat cilik saja yang bacotkan untukku dengar"

"Bebek panggang, daging goreng, cah ayam, ikan kakap masak kecap. burung dara goreng Loo Liang Jen-..."

Mendengar pesanan dari kawannya itu lalu membentak keras-

"Apa?" sepasang mata simalaikat raksasa melotot bulat2 mungkin mulut cawanpun tak akan sebesar itu.

"Loo Liang Jen" kembali pelayan itu mengulangi, namun begitu ia mundur juga selangkah kebelakang saking kagetnya.

"Keparat kurang ajar kau keparat cilik berani memaki aku Loo Toa-ya?"

"Hamba mana berani memaki kau orang tua, dalam rumah makan kami memang ada nama sayur yang disebut Liang Jen Leo bahkan merupakan masakan terkenal dari kami "

"Coba katakan sayur macam apa yang dinamakan Liang Jen Loo?"

"sayur ini dibuat oleh koki tersohor kami dalam kota luar kota tak seorangpun yang tidak mengenalnya."

"Cepat katakan" teriak Lop Liang Jen sambil menelan ludah, . "Untuk membuat sayur ini diperlukan daging ayam yang gemuk dan besar, ayam itu kita cekoki dulu obat usus agar binatang tadi buang seluruh kotoran dalam perutnya, setelah itu tidak diberi makan maupun minum selama tiga hari, nah pada saat itulah perut ayam itu sudah kosong dan bersih."

Pada saat ini bukan saja sepasang manusia jelek dari Hay Thian tertegun, sekalipun Lam Kong Pak yang kebetulan ikut mendengarpun keheranan dibuatnya. Terdengar pelayan itu meneruskan kembali kata2nya:

"Setelah perut serta usus ayam itu dicuci bersih, maka ayam itu kita beri minum kuah jinsom."

"Apa? kuah jinsom?" teriak si catatan mati hidup sambil menjulurkan lidahnya.

"Benar toa-ya dalam kuah jinsom yang diberikan kepada ayam itu dicampuri pula dengan bumbu obat rahasia kami agar seluruh bagian tubuhnya saling berhubungan sehingga kuah jinsom tadi terhisap seluruhnya, kemudian kita beri lagi dengan beberapa macam obat2an terkenal."

"Apakah rumput2 obat tersohor...." si Catatan mati hidup tidak dapat menahan sabar dan menukas.

"Toa-ya kalau dicekoki dengan rumput obat2an biasa, sayur Liang Jen Loo tidak dapat dikatakan sebagai suatu masakan yang mahal dan tersohor dimana2"

Air liur mulai menetes keluar dari mulut si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen.

sambil memperlihatkan jari tangannya, pelayan itu meneruskan kembali keterangannya:

"Pertama kami menggunakan bunga merah dari daerah si Kiang, kedua, jinsom seribu tahun, ketiga tulang naga, Keempat tanduk rusa yang masih muda. kelima bubuk mutiara. keenam 'Ci Hoo Cha', ketujuh cakar naga emas kedelapan Hu Khie Nya kesembilan Ayam emas berdiri disatu kaki. kesepuluh bumbu Chiet Li siang yang ber sama2 kami cekok kepada ayam itu, kemudian kita bunuh, bulu kita bersihkan dan kepala dibuang, sedang daging babi di-potong2 sampai Hancur. Bersama sayur laut. ikan kakap. sirip ikan dicacah dan memenuhi rongga badan ayam tersebut, kemudian dikukus selama sehari satu malam dengan beras ketan, akhirnya digoreng selama setengah jam dengan minyak"

"Sudah habis?" tanya Loo Liang Jen sambil menelan air liur,

"Belum, belum setelah diangkat dari kuali, dengan minyak pelumas masakan selama tiga hari tiga malam lamanya,"

"Kali ini tentu sudah selesai bukan?" sela si Wangwee berhati hitam itu agaknya keheranan,

"Belum selesai, belum selesai kau jangan terburu napsu. untuk membuat resep masakan ini kurang semacam saja seluruh masakan hancur berantakan tiada keruan rasanya, maka rumah makan kami sudah terkenal diseluruh wilayah kota, sudah berpengalaman lama tak mungkin bisa salah berbuat barang sedikit pun. "

"Lalu harus diapakan lagi masakan itu?" jelas si cacatan mati hidup mulai tidak sabarkan diri lagi.

"Ada setelah dikukus selama tiga hari tiga malam, masakan itu diberi minyak wijen serta kecap. lalu dikukus lagi selama tiga jam, menanti masakan itu sudah menguning kemudian dengan " "Apakah masih belum selesai?" si malaikat raksasa rada mendongkol, sebab perutnya sudah mulai keroncongan-

"Sudah hampir....sudah hampir....Toa-ya, kau jangan cemas dulu bagaimana pun juga kurang satu macam cara saja masakan itu bakal gagal, rumah makan kami sudah pengalaman lama, kepercayaan sudah terjamin, tak akan menipu para langganannya"

= = ooo ooooo ooo = =

"KAU pingin mati? ayoh cepat katakanlah segera" si Catatan Mati Hidup pun mulai dibikin mendongkol.

"Benar Toa-ya, setelah dikukus tiga jam didinginkan ditempat yang banyak anginnya kurang lebih tiga lima hari kemudian dicoreng sekali lagi dan dikukus seperminum teh lamanya, setelah itulah dengan tangan memisahkan masakan tadi dua tingkat, dibawah berisikan sayur laut, ikan kakap. sirip ikan serta daging, sedang dibagian atas berisi beketan yang telah dicampuri dengan puluhan macam bumbu sayur kenamaan, karena itu beras ketanpun berubah menguning. Nah pada saat itulah masakan tadi baru bisa dimakan"

"Masakan inikah yang dinamakan Liang Jen Loo atau loteng dua Tingkat?...." tanya si wangwee berhati hitam sambil menghela napas, "Berapa tahil harga sayur ini?"

IA MENGIRA beberapa tahil perak sudah cukup mahal harganya, siapa sangka pelayan itu mendadak tertawa, namun ia sadar dihadapan tamu tak boleh kehilangan rasa hormat.

segera sambil menahan gelak tertawa sahutnya serius: "Toa-ya, untuk membeli salah satu macam bahan obat

yang mahal, uang beberapa tahil perak tidak cukup," "Lalu berapakah harga sayur itu?" tak kuasa si Catatan mati hidup bertanya.

"Selamanya rumah makan kami tidak terlalu menitik beratkan soal untung banyak asal harga itu pantas. sebenarnya harga masakan Loteng dua tingkat itu seratus lima puluh tahil. Namun dipotong dengan korting sekarang sekarang harganya tinggal seratus dua puluh tahil."

"Apa?...." hampir2 saja si Wangwee berhati hitam tidak percaya dengan telinga sendiri, sekalipun jiwanya dicabutpun ia tak akan memesan masakan semahal itu,

"Seratus dua puluh tahil" kata pelayan itu lagi sambil tersenyum.

"Aku pesan satu" tanpa berpaling Lam Kong pak berseru hambar, ia segera mengeluarkan enam batang perak lantakan dan diletakkan keatas meja.

Air liur si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen mengetes semakin deras, sepasang manusia jelek dari Hay Thian pun dengan pandangan kaget melirik sekejab tubuh pemuda itu.

"Baik siauw-ya hamba segera akan menghidangkan masakan itu"

sesudah menghitung uang itu tepat seratus dua puluh tahil, pelayan tadi buru2 lari turun dari atas loteng.

Tidak selang beberapa saat kemudian pelayan tadi telah menghidangkan masakan loteng dua tingkat tersebut, tampaklah disebuah baki besar terletak seekor ayam gemuk yang berwarna kekuningan dan menyiarkan bau harum semerbak yang amat menusuk hidung.

Lam Kong pak segera merobek Loo Liang Jen tadi jadi dua bagian seketika bau harum memenuhi seluruh ruangan. Dengan bagitu nikmat pemuda tadi merasakan kelezatan masakan tersebut.

setelah meneguk tiga cawan arak Kong pak memuji tiada hentinya:

"Sungguh lezat sungguh nikmat masakan ini benar2 luar biasa. benar2 luar biasa"

sepasang manusia jelek dari Hay Thian saling bertukar pandangan. masing2 menelan ludah, terutama sekali si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen sepasang matanya melototi masakan 'Liang Jen Loo' dihadapan Lam Kong pak bulat2, sedang perutnya bunyi gemerutukan tiada hentinya.

Dengan ilmu menyampaikan suara Lam Kong pak berseru kepada si Malaikat raksasa itu:

"Loo-heng, kalau kau tidak pandang dirimu sebagai orang luar, silahkan datang kemari untuk bersantap ber sama2, siauw-te suka menjamu dirimu. "

si malaikat raksasa adalah seorang kasar yang dungu, selama hidup ia paling mementingkan perut belaka, mendengar ada orang mengundang ia makan tanpa pikir panjang lagi segera berjalan menghampiri

"Loo-te, benar2 kau hendak menjamu diriku?" serunya bersamaan dengan ucapan tadi tanpa sungkan2 tangannya menyambar separuh bagian masakan 'Liang Jen Loo' dan mulai dikunyah dengan lahap.

"Tentu saja Loo-heng tak usah sungkan-" Lam Kong tak berpaling dan teriaknya kepada sang pelayan "sediakan lima ekor lagi. setelah selesai nanti rekening boleh ditagih keseluruhannya " Mendengar tamunya hendak pesan lima ekor lagi. pelayan itu tertegun. Peristiwa ini benar2 luar biasa dan tak pernah terjadi sepanjang hidup para hartawan kaya pada umumhya bisa makan seekor saja sudah sangat luar biasa, tak disangka Lam Kong Pak memesan lima ekor.

sepasang mata si Malaikat Raksasa melotot semakin bulat lagi, sembari makan serunya:

"Loo-te. kau benar2 royal dan berlapang dada. sejak ini aku Loo Liang Jen sudah ambil keputusan untuk mengikat persahabatan dengan dirimu"

"Mana, mana. hanya sedikit maksud tak perlu dianggap terlalu serius. seandainya kegemaran terhadap soal makan. bergaul dengan siauw-te tak bakal salah lagi. sebab siauw-te adalah seorang manusia rakus akan masakan dan semua persoalan tak perlu kupandang serius asalkan perut selalu kenyang dan mulut bisa mencicipi perbagai masakan "

"Baik. loo-te. aku Loo Liang Jen ambil keputusan untuk bergaul dan mengikuti dirimu terus."

"siauw-ya bagaimana kalau kau bayar dulu harga lima ekor Liang Jen Loo tersebut?" Bagaimana pun juga pelayan itu rada tidak percaya Lam Kong pak dapat membayar harga itu,

Dari sakunya Lam Kon pak segera ambil keluar sebutir mutiara dan diangsurkan ketangan pelayan itu,

"sana, tanyakan kepada Chiang-kwee kalian mutiara ini bisa ditukar dengan berapa ekor Liang Jen Loo?"

Membawa mutiara itu pelayan tadi lari turun loteng, tidak selang beberapa lama kemudian sudah muncul kembali dengan wajah penuh senyuman. "Ujar ciang-kwee kami mutiara tadi dapat ditukar dengan lima belas ekor"

"Bagus, sekarang kuborong lima belas ekor yang sepuluh ekor dibungkus "

Pelayan itu belum pernah menjumpai hartawan seroyal ini, buru2 mengiakan dan menghidangkan lima ekor 'Liang Jen Loo' keatas meja dan membungkus kesepuluh ekor lainnya dengan kertas minyak kemudian diletakkan diatas meja.

Lam Kong pak yang menghabiskan separuh saja sudah kenyang. Loo Liang Jen sekaligus menghabiskan lima ekor setengah, setelah membersihkan mulut dan meneguk sepoci arak ujarnya

"Loo-te, sepanjang hidup, kurasakan baru kali ini benar2 aku merasa gembira dan makan sampai puas, mengikuti mereka berdua selamanya tidak pernah kenyang, ayoh berangkat sejak ini kau boleh panggjl aku sebagai Loo-loo, bagaimanapun kau bisa memuaskan selera makanku maka berarti kau adalah majikanku. Ayoh berangkat" Lam Kong pak pun bangun berdiri

sementara mereka hendak turun loteng. tiba2 sepasang manusia jelek dari Hay Thian tertawa seram dan menegur:

"Mutiara yang kau keluarkan tadi paling idak bernilai seribu tahil perak. jelas kau bukan manusia sembarangan, tahukah kau siapakah yayamu berdua ?"

Lam Kong pak sengaja memperlihatkan sikap terkejut, "Selamanya siauw-seng berkelana dan tidak kenal jago2

lihay.  namun  ditinjau  dari  dandanan  kalian  berdua serta

wajah yang agung, telah mengingatkan siauw-seng akan dua orang jago lihay." "Heeee...heeeee...bisa mengenali yayamu berdua, terhitung kau masih memiliki sedikit pengetahuan"Lam Kong pak tersenyum.

"Bukankah kalian berdua adalah sepasang manusia bagus dari Hay Thian yang tersohor dalam dunia persilatan?"

seketika sepasang manusia jelek tertegun dibuatnya. "Walaupun  kami  tidak  bagus,  namun kau  keparat cilik

bisa mengubahnya ini pertanda kau masih pandang tinggi

yaya berdua. Demikian saja. asalkan kau suka mengundang kami makan dua ekor masakan 'Liang Jen loo' maka kami tak akan menyusahkan dirimu"

"Boleh, boleh. kalian berdua terlalu sungkan-sungkan Nah ambillah"

Dari bungkusan kertas minyak itu Lam Kong Pak ambil dua ekor 'Liang Jen Loo' dan diangsurkan kedepan.

Ketika si Wangwee berhati hitam hendak menerimanya, tiba2 Lam Kong Pak menariknya kembali sambil berseru:

"Siauw-seng ingin menyerahkan sendiri kepada Toa-ya " si Catatan Mati Hidup jadi kegirangan setengah mati.

segera ujarnya^

"Agaknya kau keparat cilik pandai sekali membuat hati orang jadi gembira, lain kali kalau ada kesempatan aku ingin mengangkat dirimu menjadi putera angkatku"

sembari bicara tangannya segera diangsurkan untuk menerima masakan tadi, siapa nyana Lam Kong pak dengan suatu gerakan yang amat cepat laksana kilat jari tangannya sudah berkelebat mencengkeram urat nadinya.

si Catatan Mati Hidup tentu saja menjerit kesakitan "Kau masih ingin merasakan masakan Liang Jen Loo?" jengek Lam Kong Pak sambil tertawa dingin.

si Wangwee berhati hitam terkesiap. tiba2 ia teringat sesuatu segera bentaknya:

"Apakah kau adalah keparat cilik yang menyaru sebagai majikan kecil kami sisasterawan bertangan keji suma Ing dan menyelonong masuk kedalam istana Naga"

"Tidak salah, kalian dua orang manusia tak berguna lebih baik kurangi permainan kasar dihadapanku. ini hari asalkan kalian suka memberitahukan dimanakah letak sarang sipemilik pegadaian Bu-lim, siauw-ya segera membuka satu jalan hidup buat kalian, kalau tidak, Hmmmm... aku segera akan mengirim kalian untuk segera berangkat melakukan perjalanan jauh"

Kendati si Wangwee berhati hitam tahu bahwasanya ilmu silat yang dimiliki Lam Kong Pak luar biasa hebatnya. namun ia tidak ingin digertak orang lain dihadapan umum.

sambil tertawa seram tubuhnya yang bulat bagaikan bola bergerak kedepan melancarkan satu serangan.

Lam Kong pak tentu saja tidak pandang sebelah  matapun terhadap dirinya, ia tetap berdiri tak berkutik, tangan laksana kilat berkelebat kedepan mengusap wajah si Wangwee berhati hitam keras2.

Ucapannya ini berakibat sangat luar biasa, si Wangwee berhati Hitam menjerit kesakitan kemudian mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan, seluruh wajahnya penuh dengan noda, hidungnya kena terusap datar sedang giginya ada berapa biji kena tergetar lepas,

si Catatan Mati Hidup jang melihat kejadian itu jadi terkejut dan berdiri dengan mata terbelalak. mulut melongo, ia tidak menyangka seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahunan bisa memiliki kepandaian silat sedemikian dahsyatnya.

Lam Kong pak sangat membenci kedua orang mahkluk aneh ini. karena merekalah yang menculik pencuri sakti Pek-li Gong dan dibawa kedalam istana naga sehingga tidak beruntung menemui ajalnya. peristiwa ini sepanjang hidup membuat hatinya tidak tenteram,

"Kalian mau bicara tidak?" bentak Lam Kong pak dengan suara berat.

"Kau keparat cilik kalau benar2 punya nyali ayoh jagal sekalian diri kami, suruh kami bicara jujur....Hmmm sama artinya bermimpi disiang hari bolong"

Lam Kong pak turun tangan laksana kilat menotok jalan darah si catatan mati hidup, diikuti sang tubuh bergerak mendesak kesisi si Wangwee berhati hitam.

si Wan-gwee berhati hitam ada maksud melakukan perlawanan. siapa nyana tenaga lweekang yang dimiliki Lam Kong Pakpada saat ini sudah amat luar biasa, jangan dikata mereka sekalipun si Pemilik Pegadaian Bu-lim sendiripun mungkin masih ketinggalan jauh.

Pandangan mata terasa jadi kabur. sebelum ia sadar apa yang telah terjadi tahu2 dirinya sudah kena dicekal,

Melihat dalam kedainya terjadi pertempuran, pelayan itu ketakutan sehingga seluruh tubuhnya gemetar keras.

"Kau tak usah takut" hibur Lam Kong Pak dengan suara ringan. "siauw-yamu tak akan mendatangkan kerepotan buat rumah makan kalian-"

Ia lantas berpaling kepada si Malaikat raksasa Loo Liang Jen dan terusnya "Loo loo, gotong kedua orang manusia laknat ini dan mari kita pergi"

Pada saat ini si Malaikat Raksasa benar2 sudah takluk seratus persen terhadap diri Lam Kong Pak, ia mengiakan dan bagaikan mencengkeram ayam kecil saja ia menenteng tubuh sepasang manusia jelek dari Hay Thian dan berlalu.

sekeluarnya dari rumah makan tersebut mereka meneruskan perjalanan kearah selatan, malam harinya mereka sudah berada di Phu Yang perbatasan karesidenan Li Auw,

Mendadak terdengar suara derak kaki kuda berkumandang datang. Lam Kong pak serta Loo Liang Jen buru2 menyingkir kesamping, dua ekor kuda dengan meninggalkan debu yang memeruhi angkasa berkelebat lewat dari sisi mereka.

secara lapat2 Lam Kong pak dapat menangkap penunggang kedua ekor kuda itu adalah gadis muda berbadan langsing dan montok. namun ia tidak ambil perhatian serius.

siapa sangka kedua ekor kuda itu belum jauh telah putar haluan dan berlari kembali untuk kemudian berhenti tepat dihadapan sang pemuda. Lam Kong pak  tercengang, setelah angkat kepala ia baru berseru tertahan-

Kiranya ialah satu diantara kedua orang gadis berbaju ungu itu bukan lain adalah adik perempuan dari Liuw Hauw siang itu Poocu dari benteng Hwie Him Poo yang disebut Tiauw san tangan beracun Liuw Hwie Yen, gadis kedua berdandan seorang dayang namun kepandaian menunggang kudanya hebat juga.

Pada dasarnya wajab Liuw Hwie Yen memang cantik molek. kini ia mengenakan pakaian ringkas berwarna ungu. pupurpun amat tipis dengan pinggang serta potongan badan yang langsing namun berisi padat. mendatangkan suatu perasaan yang aneh bagi yang melihat.

Ketika ia menjumpai Lam Kong Pak ada disana, laksana seseoreng yang menemukan sumber mata air ditengah gurun pasir buru2 ia meloncat turun dari atas kudanya sembari berseru:

"Kiranya Lam Kong siauw-hiap, kau berkelana kesana kemari sebenarnya hendak pergi kemana ?"

Lia Kong Pak menghela napas panjang ia tidak ingin menceritakan persoalan yang menyangkut tentang coe Li Yap. karena itu buru2 katanya:

"sewaktu berada dirumah makan tadi aku berhasil menangkap dua orang anak buah pemilik pegadaian Bu lim, menanyakan sarang mereka kedua orang keparat ini tak mau bicara, terpaksa aku hendak mencari suatu tempat untuk mengopas mereka. "

"Seandainya Lam Kong Pak sauw-hiap tidak menolak. bagaimana kalau mampir dibenteng kami?" dengan cepat Liuw Hwie Yen menawarkan jasa baiknya, sementara sepasang biji mata mengerling indah.

"Mengganggu ketenangan benteng kalian membuat hati kami merasa kurang enak, aku pikir lebih baik mencari sebuah penginapan saja didepan sana,"

"Rumah kami terpaut baberapa li saja dari sini. Lam Kong sauw-hiap kebetulan lewati sini kalau tidak hampir. "

Dayang cilik ini adalah dayang pribadi Liuw Hwie Yen sejak semula ia sudah mengerti maksud hati nonanya, pada saat ini ia segera menimbrung dari samping: "Nona orang lain adalah Beng-cu dari pertemuan besar para jago dewasa ini, orang agung tak akan menginjak tempat yang jelek buat apa kau bersikap keras?"

"Mana. mana kalau kau bicara begini cayhe tidak kuat menerimanya "

"kalau benar tiada bermaksud demikian, nona kami mengundang dengan tulus hati mengapa kau tidak ingin menerimanya ?"

"Siauw Hong, jangan kurang ajar." Liuw Hwie Yen segera menegur dayang ciliknya ini. "Lam Kong siauw-hiap tak bakal menolak tawaran kita ini"

Mereka bicara yang lain menyambung, membuat Lam Kong pak jadi serba salah. alasannya tidak ingin mengganggu tentu saja bohong. yang genting ia tidak ingin mendekati perempuan cantik lagi sebab dewasa ini beberapa orang gadis yang dikenalnya sudah cukup membuat ia pusing tujuh keliling dan serba susah menghadapinya.

"Ayoh berangkat kudaku ini kuberikan untukmu" kata Liuw Hwie Yen sambil angsurkan tali les kudanya kepada sang pemuda..

"Hal ini mana boleh jadi, kuda milik nona mana boleh kutunggangi ?"

"ooouw sungguh tak kusangka seorang pendekar besar yang lihay dan gagah perkasa ternyata begitu malu2 dah bersikap seperti perempuan." goda Liuw Hwie Yen sambil tertawa genit. "Kudaku mengapa tak boleh kau tunggangi?"

"Benar yang kau tunggangi adalah kuda milik nona dan bukannya suruh kau menunggangi."

Saking girangnya hati dayang Siauw Hong hampir2 saja ia salah bicara. "Siauw Hong, kau berani bicara ngaco-belo sekali lagi hati2 kurobek selebar bibirmu."

Beberapa patah kata dari Siauw Hong tadi seketika membuat wajah Liuw Hwie Yen maupun Lam Kong Pak berubah merah padam bagaikan kepiting rebus.

"Lam Kong Sauw-ya " teriak si malaikat raksasa pula dengan suaranya yang serak berat. "Setelah mereka memaksa kau untuk menunggang. kau tunggangilah bagaimanapun juga sebelum kau tunggangi mereka tak  akan merasa puas"

Sebelum pipi Lam Kong Pak berubah semakin memerah lagi. namun mereka tahu Loo Liang Jen adalah manusia tolol, selamanya kalau bicara tak pernah dipikir dalam otak. karena itu mereka pada membungkam

Terdengar Siauw Hong tertawa cekikikan ia menandang Lam Kong Pak serta Liuw Hwie Yen bergantian-

Walaupun Liuw Hwie Yen pada waktu itu menundukkan kepalanya rendah2 namun jantungnya berdebar keras.

Sejak semula ia sudah kenal dengan Lam Kong Pak. hanya saja pemuda itu tidak kenal dengan dirinya.

Sewaktu Lam Kong Pak menyelundup masuk kedalam perkampungan Toa Loo San-cung dengan jalan menyaru, mereka kakak beradik sudah tahu.

Karena itu ketika Lam Kong Pak menjumpai cioe ci Kang ia segera turun tangan menolong selembar jiwanya.

Dan sejak ia mendapatkan pertolongannya. Timbul perasaan simpatik dan menghormat dalam hati Lam Kong Pak. "Ayoh berrangkat" akhirnya Liuw Hwie Yen berseru. "kuda ini gunakanlah, aku akan menunggang seekor kuda bersama Siauw Hong^"

"Tidak usah, lebih bilk, aku berjalan kaki saja"

"Aaaah tidak. kau tidak mau menunggang kuda berarti tidak mau kasih muka untukku"

"cepatlah ditunggangi Sauw-ya, kalau gadis itu tidak ditunggangi lagi ia tentu akan marah."^ Tukas Loo Liang Jen pula.

"Lo Loo Kau jangan ngaco belo lagi kalau tidak aku tak akan memperdulikan makan minum lagi"

"Baik Sauw-ya, aku Lo Loo tak akan bicara lagi, asaikan kau membiarkan aku makan aku pasti akan menuruti perkataanmu"

= oo = = ooo ooo ooo = = oo =

LIUW HWIE YEN serta Siauw Hong sama2 tertawa, pada saat inilah mereka baru melihat Loo Liang Jen mengempit dua orang.

"Lam Kong Sauw-hiap. siapakah kedua orang itu ?" tanya Liuw Hwie Yen kemudian-

"Anak buah pemilik pegadaian Bu-lim. manusia jelek dari Hay thian "

"Aaaaaah kiranya mereka berdua, aku dengar kepandaian silat mereka berdua luar biasa"

"Tidak seberapa lihay, padahal dalam kenyataan sepasang pusaka hidup ini tidak lebih hanya termasuk barang kelas dua kelas tiga diantara anak buah Pemilik Pegadaian Bu-lim lainnya." "Lalu siapakah si manusia raksasa ini?" tanya Siauw Hung.

"Simalaikat raksasa Loo Liang Jen " , "Apa? namanya Loo Liang Jen?" "Tidak salah"

Liuw Hwie Yen serta Siauw Hong kontan tertawa cekikikan tiada hentinya,

"Walaupun nama ini kedengaran aneh dan istimewa namun sangat cocok sekali dengan kenyataan" kata Liuw Hwie Yen sambil menahan rasa gelinya.

"Kalau berdiri ia memang mirip Liang Jen Loo atau Loteng dua tingkat "

Lam Kong Pak segera meloncat naik keatas kuda itu, sedangkan Liuw Hwie Yen serta siauw Hong naik satu kuda dan melarikan-nya kearah benteng beruang terbang, sementara si Malaikat Raksasa dengan langkah lebar mengikuti dari belakang, sekali langkah sebelas dua belas tombak telah dilalui, ia sama sekali tidak ketinggalan-

Setibanya di Benteng Hwie Him Poo, per-tama2 Siauw Hung turun dari kuda dan masuk kebenteng lebih dahulu, sedangkan Lam Kong Pak memperhatikan benteng tersebut dengan perasaan kagum.

Membicarakan soal keangkerannya tidak dibawah keangkeran perkampungan Toa Loo San cung, tembok benteng tinggi melebihi lima tombak. diatas loteng pintu benteng terpancang sebuah bendera besar diatas bendera tadi bersulamkan kata2 "Hwie Him-Poo" dengan tulisan besar.

Baru saja mereka meloncat turun dari atas kuda, si Wie Luo berwajah kumala telah muncul dari dalam dan saling menyapa dengan penuh kehangatan, kemudian membawa Lam Kong Pak berdua menuju keruang tengah.

"Koko. kau temani dulu Lam Kong Sauw-hiap, aku akan pergi kebelakang sebentar" Liaw hwie Yen mengerling dan tertawa manis kearah Lam Kong Pak kemudian mengundurkan diri dari ruangan tersebut,

Lam Kong Pak segera memperkenaikan si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen kepada mereka serta beritahu bahwa kedua orang yang berhasil ditawannya adalah sepasang manusia jelek dari Hay Thian, anak buah sipemilik pegadian Bu-lim.

"LiuW-heng" ujar Lam Kong Pak, "Siauw-te telah membawa anak buah pemilik pegadaian Bu-lim kedalam benteng anda, kemungkinan besar akan mendatangkan bencana buat benteng kalian, hal ini membuat tidak tenteram"

"Kenapa Lam Kong-heng pandang kami seperti orang luar?" teriak Liuw Hauw Siang keras-, "Kami semua bersumpah tidak akan berdiri bersama dengan sipemilik pegadaian Bu-lim, kami tidak mencari gara2 dengan mereka, kemungkinan besar mereka tak akan melepaskan kita, kali ini didalam pertemuan pera jago Lam Kong-heng berhasil merebut kedudukan Bengcu, hal ini sama arti telah membalaskan rasa mangkel kami selama ini, asalkan Lam Kong-heng tidak menyalahkan Siauw-te suka cari urusan, Siauw-te rela menjadi anak buah heng-thay"

"Mana-mana. Liuw-heng sudah lama tersohor dalam

dunia persilatan, banyak persoalan aku masih menantikan petunjukmu"

"Lam Kong-heng bermaksud menyeleaikan kedua ekor makhluk aneh ini secara bagaimana?" "Siauw-te ingin mengetahui dimanakah letak sarang sipemilik pegadaian Bu-lim?"

"Lam Koang-heng pada beberapa waktu ini siauw-te telah berhasil menemukan suatu organisasi rahasia yang tingkah lakunya sangat aneh serta misterius, ilmu silat mereka Sangat lihay, agaknya tidak berada diatas kepandaian si pemilik pegadaian Bu-lim. Lam Kong-heng kau harus ber-hati2 terhadap mereka "

"Tentang berita ini siauw-te sama sekali tidak tahu", seru Lam Kong Pak dengan hati tergetar keras. "Entah dimanakah letak organiiasi rahasia ini? dan apa namanya ?"

"Seandainya kami bisa tahu seorang dari organisasi rahasia ini maka persoalan tak bisa dikatakan sangat misterius, sedangkan mengenai namanya siauw-te pun kurang tahu, namun satu hal yang menyolok yaitu setiap anggota organisasi ini tentu mempunyai ciri khas yang sama. setiap orang berambut warna hijau dan panjangnya sepundak-"

"Eeeei. . . .benarkah dikolong langit ada manusia berambut hijau ?"

"Aku pikir mereka tentu mempolesi rambut mereka dengan sesuatu saat sehingga warnanya berubah."

Mendadak terdengar suara ting tang ting tang yang nyaring, dari balik horden muncul seorang gadis, dia bukan lain adalah Liuw Hwie Yen hanya saja pada saat ini ia sudah ganti pakaian ala keraton berwarna kuning, wajahnya bermake-up dan kelihatan jauh lebih cantik lagi.

Bau harum ciri khas seorang gadis berhembus memenuhi ruangan membuat orang terpesona dibuatnya. Ia duduk disamping Lam Kong Pak. dan ujarnya: "Lam Kong sauw-hiap. coba kau lihat bagaimana dengan pakaian yang siauw moay kenakan ini?"

"Terlalu bagus, hampir2 saja aku tidak mengenalnya kembali "

Senyuman manis menghiasi seluruh wajah Liuw Hwie Yen, jantungnya berdebar keras. Suatu pujian yang merupakan kata2 biasa daLam pandangannya melebihi sanjungan setinggi langit.

Tidak selang beberapa lama kemudian meja perjamuan telah dipersiapkan, bahkan dipasang pula beberapa batang lilin besar sebagai penerangan sehingga membuat seluruh ruangan itu terang benderang seperti disiang hari bolong saja.

Ketika si Malaikat raksasa Loo Liang Jen melihat bakal ada makan minum ia kegirangan, serunya: "Sauw-ya, aku Loo-loo sudah tahu asal ikuti dirimu dimana saja pasti ada makan dan minum. bahkan nona2 cantik semuanya suka kepadamu. Sejak semula aku sudah ada maksud mengikuti dirimu, hanya sayang baru sekarang kita baru berkenalan .

."

Bicara sampai disitu tanpa sungkan2 lagi ia meneguk beberapa cawan arak dan membuka bungkusan ayamnya, sekali gigit dalam sekejap seekor ayam telah disikat habis.

Lam Kong Pak ada maksud memberi peringatan kepadanya agar sedikit tahu sopan santun, namun perbuatannya ini kena dicegah oleh Liuw Siang kakak beradik.

"o, Saudara ini berlapang dada berjiwa terbuka. ia jujur dan polos, dalam hatinya sama sekali tidak dikotori oleh segala macam kelicikan mau makan mau minum berbuat sesuka hati, seandainya orang2 Bu-lim seperti dia semua jujur dan polos maka peristiwa pembunuhan tak bakal terjadi di-mana2"

"Aku hanya takut kalian berdua mentertawakan dirinya "

"Mana mungkin siauw-te paling suka orang dengan memiliki watak kasar tapi jujur dan polos semacam Loo heng "

"Lam Kong sauw-hiap. aku hormati secawan arak untukmu " ujar Liuw Hwie Yen kemudian sambil angkat cawannya,

"Nona Liuw, kau jangan memanggil aku dengan sebutan sauw-hiap. sauw-hiap terus menerus, aku benar2 tak berani menerimanya"

"Lalu kau sendiripun kekanan dan kiri selalu nona Liuw. apakah aku berani menerimanya ?"

"Soal ini. " Lam Kong Pakjadi gelagapan dibuatnya.

Liuw Hauw Siang yang melihat adiknya membuat tetamu mereka jadi gelagapan segera mengedipi matanya memberi peringatan-

"Agaknya kita diantara sesama tingkatan tak perlu terikat oleh segala peradatan kau panggil dia sebagai engkoh Pak saja "

"Engkoh Pak " seru Liuw Hwie Yen, namun dengan cepat ia telah berganti nada,

"Adik Pak"

"Nona Liuw apakah kau lebih besar dariku?" bantah Lam Kong Pak.

"Tahun ini aku berusia dua puluh satu tahun coba katakan aku lebih tua tidak dari usiamu?" "Eeeei. . . kalau begitu aku harus memanggil kau dengan sebutan enci"

"Kalau begitu yang jadi adik harus menghormati encinya dengan secawan arak."

"Enci Liuw, aku hormati secawan arak untukmu" kata Lam Kong Pak.

"Enci ya enci kenapa harus ditambahi dengan kata Liuw lagi?" bagaimanapun juga Liuw Hwei Yen adalah seorang jago kawakan berada dihadapan engkohnya ia sama sekali tidak memusingkan soal peradatan, dalam kenyataan sejak kecil mereka hidup ber-sama2 diantara mereka berdua sudah tiada rahasia yang disembunyikan daam hati sendiri.

"cici, siauw-te menghormati secawan arak untukmu terima kasih pula atas bantuanmu sewaktu berada didalam perkampungan Toa Loo San cung tempo dulu."

"Menghormati arak yaa menghormati arak kenapa harus mengungkap peristiwa tempo dulu lagi. kalau kau ingin membalas budi tersebut kami dua bersaudara harus membalas pula kepadamu budi pertolongan "

"Siauw-te mana berani menerima penghormatan sebesar ini ?"

"Kau sudah lupa akan perbuatanmu menolong kami dua bersaudara sewaktu berada didalam pertemuan para jago tempo dulu ?"

"Perbuatan sampingan tak perlu diingat selalu, mari, kita habiskan secawan arak"

MEREKA bertiga meneguk secawan demi secawan, puluhan cawan arak dihabiskan, sementara Loo Liang Jen membungkam dalam seribu bahasa, ia ribut dengan perutnya sendiri. Tidak lama berselang sayur yang dihidangkan dimeja perjamuan sudah tinggal tidak seberapa. Melihat hal itu Liuw Hauw Siang segera berteriak untuk menambahi sayur yang lain, tentu saja Loo Liang Jen kegirangan setengah mati. Lam Kong Pak sendiripun tak pernah merasakan kegirangan seperti ini hari.

"Dimana enci siauw Hong?" tiba2 Lam Kong Pak teringat akan diri Siauw Hong karena selama setengah harian lamanya tidak kelihatan ia munculkan diri.

"Ia berada didalam dapur membuat sayur, seluruh sayur yang dihidangkan saat ini adalah hasil kerjanya"

"Sungguh tak kusangka enci Siauw Hong memiliki kepandaian sedemikian hebatnya"

"Kalau adik sangat suka dengan kepandaiannya ini, kau janganlah buru2 pergi, selama beberapa hari ini suruh dia buatkan sayur untukmu, tanggung selamanya kau tak akan bosan"

"Nona, kau lagi sanjung2 soal apa tentang dirimu?" Diiringi dengan ucapan tadi Siauw hong munculkan diri dari balik horden-

"Enci Siauw Hong, kepandaianmu memasak sungguh luar biasa, siauw-te benar2 merasa kagum dan kenyang"

"Aiaaaaai. . . .Lam Kong Sauw-ya, ini masih belum seberapa" seru Siauw Hong dengan nada genit, "Asalkan nona bisa menahan dirimu selama beberapa hari disini, aku siauw Hong akan keluarkan seluruh kepandaian memasakku untuk buatkan sebuah "Liang Jen Loo" untuk kalian cicipi. tanggung loteng dua tingkat yang kubuat tidak kalah rasanya dengan masakan yang kau cicipi barusan-"

"Apa. . . .loteng dua tingkat. " Si malaikat raksasa Loo Liang Jen yang sedang makan minum tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan, ia masih mengira orang2 itu sedang membicarakan soal dirinya.

"cepatlah makan orang tolol" goda Siauw Hong sambil tertawa cekikikan "kalau tidak cukup didalam dapur masih ada sebuah kepala babi yang sangat besar serta panggangan ayam"

"Enci kau sangat baik. kalau setiap hari ada masakan seenak ini. Lam Kong Pak sauw-ya mau pergipun aku Loo Liang Jen tidak akan mau pergi "

Mereka semua tertawa ter-bahak2, sementara waktu sudah menunjukkan kentonan kedua tengah malam.

Mendadak lilin2 raksasa yang ada didalam ruangan bergoyang kencang kemudian makin mengecil dan akhirnya mati, suasana seketika gelap gulita bagaikan berada didalam neraka.

Air muka Liuw Hauw Siang kakak beradik berubah hebat, mereka terkesiap dan siap2 bangun namun segera dihadang Lam Kong Pak.

"Permainan setan macam begini buat apa diurusi, biarlah saja, mari kita lanjutkan minum arak."

Melihat sikap pemuda itu tenang2 saja se-akan2 tidak pernah terjadi sesuatu apapun, terpaksa Liuw Hauw Siang kakak beradik menurut dan duduk kembali, sekalipun begitu hati mereka sangat tidak tenang.

Tiba-tiba jilatan api diatas lilin yang telah mati muncul kembali,titik api berkedip seperti kacang kedelai besarnya, suasana masih tetap gelap ditambah pula suasana amat menyeramkan Lam Kong Pak telah mempersiapkan hawa murninya disepasang telapak. sambil angkat cawannya kepada Liuw Hauw Siang berdua ujarnya: "Mari-mari. aku hormati secawan arak buat kalian berdua, setelah kalian meneguk habis isi cawan masing2. siauw-te akan memperlihatkan sedikit kepandaian menangkap setan, namun kalian berdua jangan mentertawakan. "

Mereka ber-sama2 meneguk habis isi cawannya, sementara itu si Malaikat Raksasa Loo Liang Jen pun telah kenyang. menjumpai peristiwa aneh itu la tertegun dan memandang di kegelapan dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

"Jikalau dia memang setan maka ia tak akan berani menjumpai manusia" seru Lam Kong Pak keras2.

Hawa murni yang telah dipersiapkan, segera disalurkankan kedalam mulut dan ditiup keras2 kearah batang lilin raksasa itu, ujarnya kembali: "coba kalian lihat, masih ada api setan tidak disekitar sini ?".

Beberapa batang lilin yang apinya sudah mengecil itu tiba2 pulih kembali seperti sedia kala, suasana dalam ruangan seketika terang benderang kembali.

Walaupun ilmu silat Liuw Hauw Siang kakak beradik masih terpaut sekali kalau dibandingkan dengan kepandain silat yang dimiliki Lam Kong Pak. namun sewaktu melihat lilin mereka tertiup sekecil itu se-olah2 terhembus oleh angin taupan, mereka sadar kalau ada orang yang secara diam2 main setan disana.

Kini melihat Lam Kong Pak memperlihatkan juga ilmu silat yang demikian dahsyat, bahkan diri mereka berlatih dua abad lagi pun belum tentu berhasil, mereka semakin kagum lagi terhadap pemuda kita ini. "Sauw-ya bukankah kau hendak menangkap setan?" Teriak si Malaikat raksasa kegirangan karena dalam pandangannya Lam Kong Pak adalah majikan mudanya, Lam Kong Pak menunjukkan kepandaian silat yang demikian dahsyatnya dengan tanpa sengaja telah memberikan muka pula kepadanya. ,

"Tunggu sebentar, kemungkinan besar masih ada permainan lain, lebih baik tunggu mereka tunjukkan kepandaian dahulu baru itu turun tangan menangkap setan " kata Lam Kong Pak.

Sementara LiuW Hauw Siang kakak beradik masih setengah percaya setengah tidak, mendadak segulung hawa dingin yang sangat menusuk tulang berhembus datang api lilin seketika bergoyang kencang, namun tidak sampai padam.

Tanpa kuasa Liuw Hauw Siang berdiri mengkirik. bulu kuduk pada bangun berdiri dan merah dibikin terkesiap.

Lam Kong Pak tertawa dingin,jengeknya: "Dengan andaikan permainan seperti itu sudah berani datangi benteng Hwie Him Poo untuk unjukkan kejelekan, sungguh tidak tahu diri."

Sebelum ia selesai bicara tangannya segera diayun kedepan. beberapa batang lilin yang ada didalam ruangan lambat2 melayang keatas dan berhenti diatas kepala masing2. Lam Kong Pak segera angkat empat cawan arak kemudian serunya: "Kalian berempat datang dari tempat kejauhan, kalau tidak kuhormati dengan secawan arak kalian tentu akan menganggap kami sebagai tuan rumah tidak tahu diri. Nah. arak wangi berusia ratusan tahun. silahkan kalian berempat mencicipi."

Begitu ucapan selesai diutarakan empat cawan arak segera meloncat keatas udara dan berhenti diujung jilatan api keempat batang lilin tersebut, benda2 itu tidak naik juga tidak tidak turun. sedang arak dalam cawan sama sekali tidak tumpah.

Dengan andaikan hawa murni memaksa cawan bergerak ditengah udara mungkin bukan satu soal sulit. namun membuat empat cawan arak berhenti tak berkutik d iatas jilatan api lilin, kepandaian seperti ini betul2 luar biasa.

Tidak selang beberapa saat kemudian arak didalam cawan yang berada diatas lilin itu. sudah memanas dan memperdengarkan suara mencicit yang keras, sepasang tangan Lam Kong Pak bergerak keempat cawan arak tadi laksana kilat meluncur keluar dari pintu.

Terdengar suara galak tertawa dingin yang amat menyeramkan berkumandang dari arah luar ruangan disusul suara hancurnya cawan arak itu.

"Siapa anda?" Seru seorang itu. "Kalau bukan anggota benteng Hwie Him Poo harus tahu diri cepat mengundurkan diri dari sini, aku akan membuka satu jalan buat kau keluar."

Setelah mendengar suara pihak lawan, diam2 Lam Kong Pak pun menggerutu karena ia sadar tenaga lweekang yang dimiliki orang ini benar2 luar biasa dan setanding dengan sipemilik pegadaian Bu lim.

Iapun segera tertawa lantang. "cayhe adalah putera tetamu angin geledek Lam Kong Liuw anak murid Siauw Yau sianseng "Lu ih Beng"

= = ooo  ooo = =

"cittt. . .Cttttt. . . .etitt. . . Aku kira keturunan jago lihai dari mana. Hmm kendati Hong Loei Khek atau siJagoan Angin Geledek serta Siauw Yauw sianseng bangkit kembalipun, aku orang takpandang sebelah matapun dihati. Hey anjing kecil, lebih baik cepat munculkan diri untuk menerima kematianmu."

Lam Kong Pak meloncat bangun, telapak tangan didorong kedepan melancarkan sebuah serangan dahsyat, beberapa batang lilin kontan terpukul padam disusul munculnya lima sesosok bayangan manusia.

Lam Kong Pak sudah punya rencana masak dalam hatinya. ia ingin mempamerkan kepandaiannya, Setelah menerobos keluar dari ruangan, dengan busungkan dada ia berjumpalitan ditengah udara, setiap langkah ia mumbul lima tujuh tombak keangkasa. hanya lima enam langkah belaka ia sudah mencapai tiga puluh tombak jauhnya. kemudian berhenti dan berdiri tegak diangkasa,

Angin malam berhembus datang mengibarkan jubah panjangnya, pemuda itu mirip sekali seperti dewata yang baru turun dari kahyangan-

Ilmu meringankan tubuh yang maha dahsyat ini bukan saja membuat keempat orang iblis itu tercekat. sekalipun dua bersaudara she Liuw beserta "Toa Lek Sin" sekalipun dibikin melengak.

Pemimpin dari keempat orang gembong iblis itu tertawa dingin, jelas ia tidak dibikin jeri oleh demonstrasi itu. serunya ^ "Hmmm ? Ilmu hitam dari aliran sesat tidak berharga dipamerkan dihadapan Loo cauwmu"

Lam Kong Pak maju selangkah lebar kedepan dan melayang turun keatas permukaan tempat berdiri  dihadapan keempat orang gembong iblis itu. setelah diamatinya beberapa saat ia melihat pemimpin keempat iblis tersebut mempunyai wajah yang sangat mengerikan rambutnya hijau dengan alis warna hijau, wajahnya merah membara bagaikan api, jubahnya mentereng dengan sulaman naga di belakang pungguug tertancap sebuah panji besar.

orang kedua memiliki perawakan tinggi besar. tubuhnya mencapai ketinggian delapan depa. jika dibandingkan dengan si Malaikat raksasa Loo Liang Jen hampir seimbang. Dipunggungnya menggembol papan besi kira kira ratusan kati beratnya.

orang ketiga menggembel senjata sapu terbuat dari baja, sedangkan orang keempat menggembel golok besar.

Tak usah ditanya lagi keempat orang ini luar biasa dan memiliki tenaga dahsyat, bahkan kelihatan sekali bukan sipemilik Pegadaian Bu-lim.

"Malam2 kalian berempat mendatangi benteng Hwie Him Poo kami, entah apa maksud kalian ?" Tegur Lam Kong Pak dengan suara berat.

"Loo cauw mendapat perintah dari pang cu kami untuk menawarkan menyerah buat Liuw bersaudara." jawab pemimpin empat manusia iblis yang menyebut diri sebagai Loo cauw,

"Perkumpulan kami menawarkan kedudukan Tong-cu buat kalian berdua, Tapi jikalau kalian tak mau menyerah. maka benteng ini akan kami sapu rata dengan tanah"

"Tolong tanya kalian berasal dari perkumpulan mana. . .

."

"Liok Mao Pang"

(Liok Mao Pang artinya Perkumpulan Bulu Hijau). "Aaaaah Liuk Mao pang? belum pernah cayhe dengar

akan nama perkumpulan tersebut"

"Bukankah sekarang kau sudah mendengarnya? bukan saja perkumpulan kami akan menguasai seluruh dunia persilata. Pegadaian bu-lim yang tersohorpun akan kami basmi habis kecuali mereka rela menyerah kepada kami "

"Dimanakah alamat perkumpulan kalian?"

"Keparat cilik. terlalu banyak yang kau tanyakan hanya saja memandang diatas kepandaianmu yang dahsyat seumpama kau ada maksud menyerah kepada perkumpulan kami, Loocauw bisa jadi perantaramu untuk mintakan kedudukan Tong cu untukmu."

"Dapatkah cayhe mengetahui nama besar anda ?"

"Tong-cu sebelah Utara dari Perkumpulan Bulu Hijau, Shia Bian Loo cauw atau sikakek moyang berwajah kepiting Pi Hoo "

"Ehmmmm bagus sekali nama ini hanya saja kendati kulitnya tebal ( Pi Hoo) sayang tak kuat menahan sebuah jotosanku "

Dalam pada itu Liuw bersaudara tercekat hatinya, mereka tahu pada tiga puluh tahun berselang si Kakek Moyang berwajah kepiting Pi Hoo ini sudah tersohor akan kekejiannya, waktu itu Tiga manusia Miskin empat Manusia kaya belum terjun kedalam dunia Kangouw. 

"Kau berani menghina Loohu?" Hardik Kakek Moyang berwajah Kepiting gusar.

Lam Kong Pak tidak menggubris dirinya. ketiga orang lainnya ia berseru: "Harap kalian bertiga suka memperkenalkan diri, jadi kalau kugebah pergi nanti namamu sudah tercatat lebih dahulu"

"Tong-cu ruang sebelah barat Thiat Pan atau si Bangku Besi Auw Put Kay "

"Siang cu ruang Timur Thiat Sauw co si Sapu Besi Kiem Kioe " "Siang cu ruang Barat Boe Siang To" atau Tanpa Tandingan Hong Guan "

"Heee. . .heeeee. . .heee. . . kiranya prajurit2 tak bernama semua." Jengek Lam Kong Pak sambil tertawa dingin.

Buru-buru Liuw Hwie Sen menowel ujung baju pemuda tersebut dan melirik sekejap kearahnya, Lam Kong Pak mengerti maksudnya. jelas gadis itu sedang memberi kisikan kepadanya kalau orang itu bukan manusia tak bernama, mereka mempunyai asal usul yang besar

Lam Kong Pak sudah menjajal kekuatan mereka sewaktu masih berada dalam tadi, dapat mengetahui apabila kepandaian silat dari Kakek moyang berwajah kepiting ini kendati lumayan, tetapi masih terpaut sangat jauh darinya.

Kemudian ia meninjau pula situasi yang tertera didepan mata, ia merasa tidak seharusnya mengulur waktu terlalu banyak. Sebab mereka belum tahu sudah kedatangan beberapa musuh pada saat itu, seandainya cuma empat manusia yang ada didepan mata saja, kepadaian Liuw bersaudara ditambah Siauw Ang serta Si Malaikat raksasa sudah cukup untuk merobohkan keempat orang ini, lain hal jikalau ditempat kegelapan masih banyak orang.

oleh sebab itu pemuda kita segera ambil keputusan untuk menyelesaikan pertarungan ini secepat mngkin ujarnya: "Aku Lam Kong Pak sekarang berada disini, kalian berani datang cari gara2 ini sama artinya sedang memusuhi diriku. Hmmm Jikalau kalian berempat bisa mengundurkan diri dari Benteng ini dalam keadaan selamat chayhe. "

"Haaaaa. . . .haaa^. . . .haaaa. ..." si Kakek Moyang Berwajah kepiting mendongak tertawa tergelak. "Keparat cilik lebih baik kurangi impianmu disiang hari bolong, kalau aku Loo cauw tidak datang sih tidak mengapa sekarang sudah tiba disini, , sebelum benteng Hwie Him Poo menyerah tak akan mengundurkan diri. Aku lihat baik kau ikuti saja Loo-cauw"

Sembari berkata orang itu melepaskan panji besar yang tersoreng dipunggungnya.

Tiang bendera itu panjangnya lima depa dengan besar selengan bocah. cahaya keemas memancar keluar menyilaukan mata, jelas terbuat dari baja yang susah dicari dikolong langit,

cukup ditinjau dari senjata aneh yang digunakan, membuktikan kalau si Kakek Moyang berwajah kepiting ini bukan manusia sembarangan-

Ketika itu, tiga orang gembong iblis lainnya telah meloloskan senjata tajamnya.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Payung Sengkala Jilid 10"

Post a Comment

close