Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 14

Mode Malam
Jilid XIV

NAMUN tak urung tangannya terasa kesemutan dan terlepaslah poci itu dari cekalannya.

Si hweshio kebetulan berada disampingnya dan poci itu tepat sekali melayang kearahnya. Meskipun tak tepat mengenai, tak urung ia meringis kesakitan juga karena kecipratan arak. Dengan murkanya ia menghantam. Kini poci itu terbang balik melayang kearah Yak-bwe.

Yak-bwe agak terkesiap, batinnya : "Kedua hweshio jahat itu bermulut besar, tapi ternyata memang mempunyai kepandaian berisi."

Takut tak kuat menyambuti hingga nanti menjadi buah tertawaan buru2 Yak-bwe menghindar saja. Brak, poci itu menghantam kaca jendela, terus melayang jatuh kedalam sungai. Tapi araknya berhamburan ke-mana2, sampai Yak- bwepun turut basah kuyup dengan percikannya.

"Sayang, sayang, poci arak baik terbuang dalam sungai", kedengaran sipemuda desa mengoceh sendirian.

Si hweshio menggerung keras terus hendak mencengkeram Yak-bwe, tapi Yak-bwe cepat menyambutnya dergan totokan sumpit. Krek, supit patah menjadi dua. Kiranya hweshio itu memiliki ilmu kim-ciong-oh dan thian-po-san atau ilmu lindung yang kebal senjata. Sekali pun begitu karena totokan supit Yak-bwe tadi tepat mengenai jalan darah tangannya, meskipun tak sampai rubuh, hweshio itu juga merasa sakit seperti ditusuk jarum. Saking sakitnya ia sempat loncat keatas.

Si imam biasanya selalu tenang. Karena tadi dia menderita kerugian kecil, untuk sementara waktu ia hanya diam mengawasi di samping. Setelah menyaksikan Yak-bwe bertempur dengan kawannya, diam2 ia merasa heran.

Apakah yang menjadi keheranannya itu? Kiranya totokan supir Yak-bwe tadi, belum mengenai lengannya. Ujung sumpit hanya baru menyentuh ujung bajunya, tapi anehnya ia rasakan lengannya sudah kesemutan sehingga tak kuat mencekal poci arak lagi. Dalam ilmu totokan, yang paling liehay sendiri yalah apa yang disebut kek-gong-tiam-hiat atau menotok jalan darah, dari kejauhan. Hanya orang yang sempurna lwekangnya, baru dapat menggunakan jimu totokan itu.

Selain itu, masih ada semacam ilmu totok yang tak kurang liehay, yakni tak usah menutuk tepat tapi dengan gunakan lwekang dapat menutup jalan darah orang. Ia duga Yak-bwe tentu memiliki salah satu dari dua macam ilmu tutuk yang hebat itu. Jarak ujung sumpit Yak-bwe dengan jalan darah dilengan si imam, hanya terpisah selembar kertas tebalnya. Jadi terang bukan termasuk ilmu tutukan kek-gong-tiam-thian.

Suatu keuntungan bagi Yak Bwe bahwa imam itu telah keliru menyangka kalau Yak bwe memiliki kedua macam ilmu tutuk jalan darah yang liehay: kek-gong-tiam-thian dan lwe tat-pit-hiat (lwekang untuk menutup jalan darah). Karena persangkaan itu, si imam sudah tak berani sembarangan turun tangan dan mundur kesamping.

Selama mengawasi permainan Yak-bwe tadi ia telah melihat suatu lubang kelemahannya. Tapi tak urung ia makin keheranan. Jika Yak bwe memiliki ilmu tutuk seperti yang diduganya itu, sekalipun si hweshio memiliki ilmu lindung kim- ciong-oh, pun tak nanti kuat bertahan. Tapi ternyata hwesio itu tak kena apa2, melainkan loncat berjingkrak2, pula sumpit Yak bwepun patah dibuatnya. Jelas dilihatnya gerakan menutuk dari Yak-bwe tadi, meskipun hebat tapi kurang mahir, menandakan Yak bwe itu masih trondol.

Sudah tentu imam itu bingung memikirkannya. Pikirnya: "Bagaimana ini? Apakah memang ia sengaja tak mau keluarkan kepandaiannya sungguh2? Tapi mengapa tadi sekali turun tangan kepadaku ia lantas gunakan ilmu tutuk yang hebat ?" Mari kita tengok kembali si hweshio, Ketika melambung diudara, dengan menggerung keras ia lantas meaghantam dengan ilmu pukulan boh-pny-chiu. Dengan tangkasnya Yak- bwe ber-putar2 menghindar. Brak, bukan Yak-bwe yang kena melainkan meja yang terhantam jungkir balik,

Melihat warung araknya dibuat medan perkelahian, sipemilik ber-kaok2. Pun tetamu lain, buru2 menyingkir. Pukulan hweshio itu dahsyat sekali, Setiap kali ia memukul, anginnya mrnderu2, mangkuk piring pecah berantakan ke- mana2. Tring2, prang, prang, ,

Yak-bwe tetap gunakan ilmu kelincahan, Sebentar loncat keatas meja, sebentar keatas dingklik, menyusup kebawah meja, menyelinap kesana memberosot kesini. Betapapun hweshio itu hendak umbar kemarahannya, namun tak dapat mengapa2kan Yak-bwe, yang nyata, pukulannya itu selalu mendapat sasaran meja, kursi atau mangkuk piring meja,

Setelah mengikuti bagaimana selama bertempur itu Yak- bwe lalu menghindar dan sudah beberapa kali hampir saja termakan pukulan si hweshio, si imam mulai menarik kesimpulan bahwa memang Yak-bwe itu tidak pura2 dan benar2 bukan jago keras, Kini hilang kekuatirannya dan dengan tertawa ia berkata : "Nona Su, berkelahi didalam rumah makan ini, sungguh tak sedap dipandang. Lebih baik kita pergi kelain tempat untuk berunding ."

Ternyata si hweshio dan si imam saat itu sudah yakin bahwa Yak-bwe tentu Su Tiau-ing yang hendak dicarinya itu.

Yak-bwe malu dan gusar sekali. Malah sehabis berkata, si imam sudah menerjangnya. Buru2 ia jumpalitkan sebuah meja untuk menahannya, kemudian segera mencabut pedangnya dan membentak : "Berani maju selangkah lagi, pokiamku ini tak punya mata!"

Si imam tertawa : "Pokiammu tak bermata, tapi aku punya mata." Habis berkata ia tas kebutkan lengan jubahnya untuk menampar pokiam Yak-bwe. Berbareng itu si hweshio dengan menggembor keras sudah pentang kedua tangannya hendak merebut pedang Yak-bwe. Yak-bwe tusukkan pokiamnya ketenggorokan si hweshio. Meskipun si hweshio punya ilmu lindung kim-ciong-toh, tapi tenggorokan adalah bagian yang dapat mematikan. Buru2 ia sambar sebuah dingklik untuk menangkis.

Ternyata tusukan Yak-bwepun tak dilancarkan dengan sepenuh tenaga. Begitu membentur dingklik, ia lantas putar arah menusuk si imam. Melihat gerakan ganti jurus itu dilakukan demikian cepatnya, diam2 si imam merasa kagum. Pikirnya : "Ilmu pedang budak ini jauh lebih hebat dari ilmu tutuknya. Sayang tenaganya masih belum memadai."

Iapun tetap gunakan lengan bajunya untuk menampar, tapi pun tak berani terlalu bernapsu hendak merebut po-kiam Yak- bwe.

Dengan ilmu kelincahannya dan dibantu oleh meja kursi yang malang melintang, ia mainkan pedangnya kian kemari. Dengan cara itu dapatlah ia melawan sampai 10an jurus.

Hweshio itu bertubuh gemuk. Meskipun ia memiliki ilmu gwa-kang yang hebat, namun ilmu lindungnya masih belum sempurna betul. Beberapa kali hampir saja ia termakan pedang Yak-bwe. Akhirnya marahlah hweshio itu. Ia lepaskan jubahnya dan berseru : "To-heng, ayuh, kita tangkap ikan."

Ia mainkan jubahnya. Jubah itu berobah menjadi semacam awan merah yang mencangkup kepala Yak-bwe. Si imam  tetap gunakan sepasang lengan bajunya untuk menampar. Setiap ada kesempatan tentu ia pergunakan sebaik-baiknya untuk melibat pedang Yak-bwe. Kepungan dari kedua orang tersebut memang makin lama makin rapat. Permainan pedang Yak Bwe pun mulai berkurang gayanya. Sekalian tetamu sudah sama ngacir pergi. Sipemilikpun juga sudah bersembunyi dikolong mejanya. Mangkuk piring pecah berantakan. Meja kursi sunggsang sumbal, gederobokan tak henti2nya.

"Ho, hendak lolos kemana kau?" teriak si hwesio. Ia tetap perkeras permainan jubahnya yang mengancam kepala Yak Bwe.

Tiba2 terdengar jeritan mengaduh dan ada seorang mendekap paha si hwesio.

"Aduh, mati aku dipijaknya!" teriak orang itu.

Kiranya diruangan situ masih ada seorang tetamu yang belum menyingkir. Orang itu bukan lain adalah sipemuda desa tadi, Marahlah si hwesio. Ia sepak pemuda desa sekuat2nya sampai jungkir balik. Tapi pemuda itu sudah menggigit pahanya. Meskipun si hwesio punya ilmu lindung kim-ciong- toh, tapi tak urung pahanya kena digigit sampai berlumuran darah.

Yak Bwe menghindari jaringan jubah si hwesio terus balas menusuk. Tusukannya itu tepat mengenai jalan darah ih-gi- hiat diperut si hwesio. Karena tusukan itu memakai tenaga penuh, akibatnya juga lebih hebat dari ilmu tutukan dengan jari. Betapapun hwesio itu seorang otot kawat tulang besi, namun tetap ia tak kuat menahan tusukan itu, Sekali menjerit, rubuhlah ia dilantai.

Sewaktu ditendang jungkir balik tadi, si pemuda desa bergelundungan dilantai. Jatuhnya tepat menggelundung disamping si imam segera angkat kakinya hendak memberi sebuah tendangan, tapi cepat pemuda desa itu mendekapnya sambil berteriak2: "Tolong! tolong!" 

Karena dipeluk se-kencang2nya oleh sipemuda, hampir saja imam itu terjerambab jatuh. Sebenarnya kepandaian imam itu lebih tinggi dari si hweshio. Sekali kakinya diputar, pemuda desa itupan tak kuat mempertahankan dekapannya lagi, terpaksa ia lepaskan. Berbareng itu si imam cepat menendang.

"Pembunuhan, tolong, tolong!" teriak pemuda itu. Tiba2 ia jungkir balik dan terlempar keluar dari jendela.

Sebenarnya tendangan si imam itu belum mengenai. Tapi entah mengapa, sipemuda desa jumpalitan. Pada lain saat terdengar suara gedebuk yang keras. Rupanya pemuda desa itu terbanting jatuh sekeras-kerasnya.

Masih Yak-bwe belum menginsyafi bahwa pemuda desa itu sebenarnya diam2 telah memberi bantuan padanya. Ketika sipemuda menjerit2 minta tolong tadi, Yak-bwe menjadi gugup hendak menolongnya. Cepat ia tusuk si imam.

Tadi beberapa kali pedang Yak-bwe kena disampok terpental oleh kebutan jubah si imam. Tapi kali ini sungguh aneh. Bret, lengan jubah si imam kena dipapas kutung. Dan ketika ujung pedang terus meluncur maju. lengan si imam tergurat luka sepanjang lima dim. Mengapa mendadak sontak si imam tak selihay tadi; Kiranya gigitan sipemuda desa yang menyebabkannya. Karena ujung kakinya digigit sampai terluka, bukan saja gerakan si imam itu tak setangkas tadi, pun tenaganya menjadi berkurang. Jika saat itu Yak-bwe terus menyerang lagi, imam itu pasti binasa atau sekurang- kurangnya tentu terluka berat.

Tapi Yak-bwe tak mau berbuat ganas. Ia hanya bermaksud memberi sedikit hajaran saja. Demi melihat kedua orang agama itu sudah pontang panting tak keruan, diam2 ia sudah merasa senang. Kedua kalinya, ia tetap menguatirkan keadaan sipemuda yang terlempar keluar jendela itu. Maka setelah dapat melukai si imam, ia lantas tarik pulang pedangnya.

"Katamu kau punya mata. tapi kulihat kau benar punya mata tapi tidak punya biji matanya. Jika lain kali berani kujang ajar lagi apabila bertemu aku, tentu akan kukorek keluar biji matamu," kata Yak-bwe. Imam itu tahu kalau kepandaian lawan tak menang dengan dia. Tapi entah apa sebabnya ternyata ia menderita kekalahan. Saking marahnya, dari tujuh lubang inderanya sampai mengeluarkan asap. Namun ia tak berani ber-cuwit lagi. Celaka adalah si hwesio botak. Ternyata ia menderita luka lebih parah. Ia tengah mengerang2 menyalurkan jalan darahnya, sehingga tak dapat berkata-kata lagi.

Baru Yak-bwe hendak melangkah keluar tiba2 sipemilik warung menerobos keluar dari kolong mejanya dan menangis gerung2. Kiranya ia sedih karena menderita kerugian besar, tapi ia tak berani minta ganti kerugian pada Yak-bwe.

"Ciang-kui, sudahlah, jangan menangis. Ni kuganti uang," kata Yak-bwe sembari mengeluarkan uang tembaga dan pecahan perak.

Mendengar itu buru2 sipemilik warung mengusap air matanya. Tapi serta dilihatnya Yak-bwe hanya menyodorkan sejumlah uang tembaga dan pecahan perak, kecewalah ia. Serunya dengan terputus-putus: "Tuan ini, ini "

Setelah mengatakan ini, ini, achirnya ia beranikan diri juga untuk menerangkan bahwa uang Yak-bwe iiu masih belum cukup untuk mengganti kerusakan barang-barangnya.

Diam2 Yak-bwe geli sendiri; "Ah, aku ini benar2 limbung. Kali ini aku hampir merusakan sebuah rumah makan, masakan hanya membayar dengan jumlah rekening makananku tadi!"

Akhirnya ia mengambil uang mas kim-tonya terus dilemparkan dilantai serunya: "Ini emas murni, jangan kuatir kutipu. Cukuplah kiranya" Habis berkata ia lantas loncat keluar jendela. Melihat keroyalan Yak Bwe, imam dan hwesio tadi makin yakin kalau Yak Bwe itu tentulah Su Tiauw-ing.

Tampak pemuda desa tadi tengah berjalan ditepi sungai dengan langkah pincang. Hati Yak Bwe serasa longgar dibuatnya. Ia meneriaki pemuda desa itu. "Hai bung, aku hendak menghaturkan maaf kepadamu. Dalam perkelahian tadi, aku telah membikin susah kau. Apakah kau terluka?"

"Tidak, tidak apa2. Syukur Tuhan masih adil, tidak suruh aku menjadi makanan ikan sungai. Hanya lecet sedikit saja dan terluka dibagian tumit kaki. Apa kau menang? Kiong-hi, Kiong-hi?" sahut sipemuda memberi selamat.

Karena dapat berjalan, Yak Bwe menduga pemuda desa itu hanya terluka sedikit saja tak mau meladeni bicara, terus mengeluarkan perak dan selembar sapu tangan serta obat. katanya: "Ini adalah obat kim-jong-yok yang jempolan, bubuhkanlah pada lukamu. Dalam dua hari saja tentu sudah baik. Dan perak ini terimalah untuk ongkos keperluan."

Mengingat selama dua hari nanti sipemuda tentu tak dapat bekerja, maka Yak-bwe memberinya sedikit ongkos. Ia duga pemuda itu tentu mau menerimanya dengan girang. Tapi diluar dugaan tiba2 wajah pemuda desa itu berubah. Serunya: "Apa maksudmu ini? Apakah aku ini dianggap sebagai pengemis?"

Kemerah2anlah wajah Yak-bwe. Ia merasa serba salah apa mesti menyimpan kembali perak itu atau tidak. Kebetulan sekali saat itu ada seorang pengemis berjalan lalu disitu. Tiba2 pemuda desa itu tertawa: "Ya, sudahlah, mana perakmu itu, biar kuwakilkan kau memberi sedekah padanya."

Diberi sekian banyak perak, pengemis itu melongo. Setelah tersadar, ia tersipu2 menyambutnya dan tak henti2nya menghaturkan terima kasih.

"Perak itu kepunyaan tuan ini. Kau berterima kasihlah kepadanya. Ai, tubuhmu juga penuh dengan luka2, ini obat untukmu. Juga dari tuan itu," kata sipemuda desa.

Yak-bwe tak dapat berbuat apa2 kecuali tertawa meringis, tanpa berkata apa2 ia lantas pergi. Lewat beberapa jenak, keadaan menjadi hening. Tiba2 Yak-bwe teringat sesuatu: "Hai, gerak gerik pemuda desa tadi sungguh luar biasa, pun wataknya juga aneh."

Makin teringat akan pemuda desa itu, makin timbul kecurigaan. Tapi ketika ia berpaling kebelakang, ternyata pemuda desa itu sudah tak tampak bayangan lagi. Sudah tentu Yak-bwe terbeliak kaget. Pikirnya: "Kuejek imam tadi punya mata tapi tak punya biji mata. Ternyata aku sendiri  juga salah lihat pada orang. Jika pemuda desa itu tak punya kepandaian tinggi, masakan ia tak sampai terluka parah dilempar keluar jendela begitu rupa? Ah, tak nyana aku kembali tak sengaja berbuat salah pada orang,"

Memang apa yang disesalkan Yak-bwe itu tepat sekali. Tapi iapun tetap masih belum insyaf bahwa adanya ia dapat memenangkan imam dan hweshio tadi adalah berkat bantuan secara diam2 dari pemuda desa itu.

Tengah hari lewat sedikit, tibalah sudah Yak-bwe dimuka pintu gedung Sip Hong. Penjaga pintu yang sudah tua dengan keheranan mengawasi Yak-bwe. tegurnya:

"Kau hendak cari siapa?"

Yak-bwe tertawa mengikik, sahutnya: "Ong tua apakah kau tak kenal lagi padaku?"

"Ai, kiranya nona Sik. Dalam dandanan begitu, apabila tak kau katakan, sudah tentu aku tak mengenal kau lagi," seru sipenjaga pintu.

Dahulu kedua keluarga Sip dan Sik itu tinggal berdekatan. Sewaktu kecilnya, boleh dikata saban hari Yak-bwe tentu main2 dengan In-nio. Penjaga pintu tua itu sudah bekerja selama berpuluh2 tahun pada keluarga Sip. Ia mengikuti kedua nona itu dari kecil sampai berangkat dewasa. Maka sekali Yak-bwe buka suara, cepat ia sudah mengenalinya. "Lo-ya sedang bepergian, tapi nona ada dirumah sedang berlatih ilmu pedang didalam taman. Mari kuantarkan kau kesana," kata sipenjaga.

"Tak usah, aku dapat kesana sendiri", sahut Yak-bwe.

"Ai, nona Sik dalam dandanan sebagai pemuda, kau benar2 tampak cakap sekali. Aku sampai tak mengenal kau sama sekali. Ah, sayang kau bukan pemuda sesungguhnya. Jika sungguh, merupakan pasangan yang setimpal dengan nona majikanku." kata penjaga tua itu dengan bergurau,

Yak-bwe girang karena penyaruannya itu telah dapat mengelabuhi mata pak tua itu sahutnya: "Jangan kuatir, nonamu itu sudah ada yang punya."

"Nona sudah mendapat jodoh? mengapa aku tak tahu sama sekali ?"

"Sabarlah, nanti sedikit waktu tentu kau bakal tahu sendiri. Sekarang ini aku justru hendak menjadi comblangnya," jawab Yak-bwe terus melangkah.

Tiba ditaman, benar juga In-nio sedang asyik berlatih pedang. Dilihatnya sinar pedang In-nio itu berkelebatan pergi datang dengan cepatnya. Setiap kali pedang itu berkelebat, tentu meninggalkan percikan pedang berbentuk seperti taburan bunga. Ternyata In-nio tengah mainkan jurus hui- hoa-ciu-yap atau bunga bertebaran memburu sang kupu2. Jurus itu sebuah permainan dari ilmu pedang Hian-li-kiam- hwat. Apalagi di latih sampai tingkat sempurna, dapatlah dibuat memapas bunga tanpa merusak tangkainya sedikitpun juga. Dapat memapas sayap seekor kupu2 tapi tanpa menyebabkan kematiannya, In-nio belum dapat mencapai tingkatan itu. Tapi sudah tak banyak terpautnya:

"Permainan pedang yang bagus !" Yak-bwe  memuji sembari menghampiri. Sebat sekali In-nio sudah tarik pulang pedangnya, tapi iapun mengawasi Yak-bwe dengan pandangan yang lain dari biasanya.

"Hai, kau melihat apa saja ? Apa kau juga tak mengenali aku ?" tegur Yak-bwe sambil tertawa.

"Lihatlah sendiri keadaanmu itu. Apakah kau barusan habis berkelahi dengan orang ?" seru In-nio.

Yak-bwe cepat menghampiri ketepi empang teratai. Begitu melongok kepermukaan air, barulah ia tersadar. Katanya: "Ah, makanya tadi pak tua penjaga pintu itu pentang mata lebar lebar memandang aku."

Kiranya rambut Yak-bwe kusut masai, pakaiannya kacau risau, banyak debu yang melekat. Wajahnya tak keruan warnanya, banyak bekas2 noda arak, air kuah, kecap dll, Yak- bwe mendongkol tapi geli juga.

"Hm, pak tua itu memperolok2 aku, Katanya aku seorang pemuda tampan," katanya.

In-nio ambil sapu tangan, setelah dicelup air lantas mengusap noda2 kotoran diwajah Yak bwe. Ujarnya: "Jangan buru2 tukar pakaian dulu. Tuturkan ceritamu itu. Mengapa kau nakal sebelum datang kemari berkelahi dulu dengan orang ?"

"Ho, kau juga hendak meng-olok2 aku ya? Bukan cerita yang baik, tapi menjengkelkan hati," sahut Yak-bwe, ia lantas menutur kejadian yang dialaminya diwarung arak itu.

"Aku tak kenal pada iman hidung kerbau dan si hweshio busuk itu tetapi entah bagaimana mereka itu hendak cari perkara padaku. Coba kau timbang, apakah itu tidak menjengkelkan?" katanya.

In-nio heran dibuatnya, tanyanya: "Masa ada kejadian begitu, apakah kau tak salah dengar? Atau mungkin mereka mengatakan tentang lain orang?" "Mestipun aku tak faham seluruhnya akan bahasa kangow, tapi aku dapat mendengarkannya dengan jelas. Coba pikirkan, mana di atas dunia ini ada seorang budak perempuan she Su yang galang gulung dengan budak laki2 she Toan itu?" bantah Yak-bwe yang lantas mencernakan omongan si imam. Dalam bercerita itu, wajahnya menjadi kemerah2an.

"Ah, hal itu benar aneh. Siapakah yang membocorkan keluar? Mengapa dalam kalangan orang luar yang tak ada hubungannya sama sekali mengetahui bahwa kau tinggalkan rumahmu karena urusan Toan Khik Sia?" In nio tertawa.

"Malah mereka tahu juga akan sumber perguruanku dan tingkat kepandaianku. Tapi memang ada beberapa bagian yang tidak benar," kata Yak bwe. Iapun menerangkan tentang hal2 yang menimbulkan curiga pada In-nio. In-nio memang lebih berpengalaman. Memang ia anggap dalam urusan itu tentu terselip sesuatu, tapi seperti halnya dengan Yak-bwe, iapun juga tak mengetahui tentang adanya seseorang nona yang bernama Su Tiau-ing itu. Maka dugaannya pun, sama dengan Yak-bwe, yakni yang dimaksud si imam dengan budak perempuan she Su itu, siapa lagi kalau bukan Yak-bwe.

Dalam penuturannya itu, Yak-bwe sudah lupa menyebut tentang diri sipemuda desa.

"Ai, kau toh sudah memberi hajaran pada mereka, ini sudah cukup melonggarkan kemendongkolan hatimu. Rupanya mereka itu hanya bangsa kelas 2-3 saja. Masakan mereka berani mencari kau lagi. Sekarang mari kita bicarakan soal Khik Sia. Sebetulnya kalian berdua ini bagaimana, ya ?"

Dengan suara berbisik, Yak-bwe menyahut: "Justru aku headak minta advismu. . ."

Baru ia berkata begitu tiba2 terdengar si penjaga Pintu tadi bergegas mendatangi, serunya .

"Nona Sip, ada tetamu hendak minta bertemu loya. Waktu kuberitahukan kalau loya sedang pergi, ia lantas keluarkan karcis nama suruh aku berikan pada nona. Ia minta keterangan, apakah nona mau menjumpainyakah?"

Waktu menyambuti dan membaca karcis nama itu. In-nio berseru: "Oh, kiranya Sin-ciang chiu Lu Hong-jun. Baik, silahkan dia duduk di ruangan tetamu. Sebentar aku ganti pakaian dulu,"

Yak-bwe tertawa mengikik.

"Hai, mengapa kau tertawa itu ?" tegur In-nio.

"Tahukah kau apa maksud kedatangan Lu Hong-jun kemari

?" Yak-bwe balas bertanya.

"Bagaimana aku mengetahui? Kalau begitu rupanya kau tentu sudah tahu, bukan?"

"Dia hendak menjadi comblang untukmu, Comblang datang, calon yang akan dipinang itu harus menyembunyikan diri tapi sebaliknya kau hendak menjumpainya. Lucu tidak ini

?"

"Kau memang pandai menggerakkan lidahmu. Masakan seorang pendekar muda dituduh menjadi comblang. Biar kutemuinya. Kebanyakan ia datang kemari karena kau. Kau telah menghina adiknya, ia tentu hendak mencarimu." sahut In-nio yang tak percaya akan keterangan Yak bwe,

"Tidak, aku sungguh tak membohongimu. Lu Hong-jun dimintai tolong Thiat-mo-lek untuk melamar bagi Bo Se-kiat. Jika kau tak percaya, dengarkan saja bagaimana omongannya nanti,"

"Sudahlah, jangan berolok2 lagi. Lekas ganti pakaian dan ikut aku menemui tetamu itu." tukas In-nio.

"Ah, aku bukan tuan rumah dan kedua kalinya, jika ada aku, ia tentu tak leluasa bicara." bantah Yak-bwe.

"Apa kau kuatir kalau ia sebenarnya hendak mencarimu? Baik jika kau takut, biarlah aku sendiri yang menyambutnya. Aku tak mau terpengaruh oleh olok2mu tadi hingga sampai melantarkan tetamu." kata In-nio

Yak-bwe tertawa "Ya, Memang, memang jauh2 orang datang hendak menjadi comblang, masakan tak disambut baik-baik."

"Lekas ganti pakaian dan tunggu disini, Nanti aku hendak bikin perhitungan padamu," bentak In-nio.

Setelah pesan seorang budak untuk melayani keperluan Yak-bwe, ia lantai ganti pakaian dan keluar menyambut sang tetamu, Yak-bwe pun lantas mandi dan berganti pakaian In- nio. Ternyata Yak-bwe itu lebih pendek dari In-nio. Bujang segera menyediakan pakaian In-nio yang dibuat pada dua tahun yang lalu. Ternyata ukurannya pas dengan Yak-bwe.

Yak-bwe menunggu didalam taman. Tak berapa lama kemudian, datanglah In-nio. Wajah nona itu agak berbeda dengan tadi. Kiranya benar apa yang dikatakan Yak-bwe kepadanya tadi. Hong-jun telah membicarakan tentang diri Bo Se-kiat, Benar juga secara terang2an, Hong jun tidak menyatakan jadi comblang, tapi ia menuturkan tentang pertemuan dengan Bo Se kiat dan Thiat Mo Lek. Kemudian ia sampaikan salam Se-kiat kepada In-nio. Dalam pembicaraan selama itu, secara samar2 Hong-jun menyatakan sudah mengetahui tentang hubungan Se-kiat dengan In-nio. Pun tahu juga dia (Hong-jun) akan kemungkinan bahwa Sip Hong tak suka Se-kiat. Selanjutnya Hong-jun menyatakan kesediaannya hendak membicarakan hal dari Se-kiat itu kepada Sip Hong.

"Nah bagaimana, Kan aku tidak omong kosong doang ?" tegur Yak-bwe sambil tertawa.

"Heran, bilakah berjumpa dengan Lu Hong jun itu? Mengapa tadi ia tak mengatakan sebaliknya malah menanyakan tentang dirimu ?" kata In-nio. Yak-bwe tetap tertawa saja. "Aku bertemu padanya, tapi ia tak tahu kalau aku. Kejadian itu memang lucu sekali, nanti akan kuceritakan juga padamu. Coba kau tuturkan dulu, apa saja yang ia tanyakan tentang diriku tadi ?"

Kini ganti giliran In-nio yang tertawa : "Dia juga membantu Thiat Mo Lek mencarimu untuk kepentingan Khik Sia, Thiat Mo lek dan Bo Se-kiat juga sangat perhatian akan arusan kamu berdua itu. Kukatakan pada Lu Hong-jun bahwa kau sudah berada disini dengan aku. Mendengar itu girangnya bukan kepalang. Ia mengatakan hendak lekas2 menyampaikan hal itu kepada Khik Sia dan Thiat-mo-lek, agar mereka terbebas dari kecemasan selama ini. Tadi sebenarnya aku berniat hendak memanggil kau keluar. "

"Aku sih tak suka menemuinya," sahut Yak-bwe.

"Itulah. Kutahu sudah bagaimana perangaimu. Menduga kau tentu tak suka menemuinya, akupun tak mengatakan hal itu juga," kata In-nio.

Tiba2 Yak-bwe bertanya: "Apakah ia tahu kalau baru hari ini aku tiba disini."

"Tentang itu tak kuutarakan. Dengan Lu Hong jun baru pertama kali ini aku bertemu muka. Waktu ia menanyakan dirimu, segera beritahukan kau berada disini. Lain2 hal aku tak mau mengatakan lagi,"

"Mendinglah. Kalau ia tahu baru hari ini aku tiba disini, tentu ia menaruh kecurigaan. Diriku yang sebenarnya, tentu akan ketahuan olehnya," kata Yak-bwe.

"Ai, kau mainkan sandiwara apa saja? Mengapa kau takut dirimu ketahuan ?” tanya In-nio

"Tentang diriku menyaru jadi pemuda itu, lho," kata Yak- bwe. "Belum lama ini, aku berjumpa dengan Lu Hong-jun. Kuperhatikan kala itu ia sudah mencurigai diriku, tapi rupanya ia pun masih belum yakin betul bahwa aku ini seorang anak perempuan."

Ia lalu menuturkan pengalamannya selama berpisah dengan In-nio. Bagaimana ditengah jalan terluka parah, bagaimana perkenalannya dengin Tok-ko U serta bagaimana pada suatu hari Lu Hong jun datang berkunjung kerumah Tok- ko U diceritakan semua.

"Aku memakai nama palsu Su Ceng-to, berbohong mengaku salah seorang gagah dari Kim ke-nia. Tak kusangka bahwa sebelum datang kesitu, Lu Hong jun berjumpa dulu dengan Thiat-mo-lek. Mungkin ia tentu merasa keteranganku itu sedikit mencurigakan. Tapi syukur, aku dapat mengatasi kesemuanya itu. Jika tadi ia tahu kalau baru hari ini aku datang kemari, mungkin ia tentu akan menghubungkan dengan diri pemuda Su Ceng-to itu. Dan diriku tentu bakal ketahuan."

Habis mendengar, In-nio tampak kerutkan alisnya. Tegurnya: "Perbuatanmu itu kurasa tidak tepat. Mengelabuhi mata Lu Hong jun itu sih tak mengapa. Tapi masakan kau  juga mau menyelomoti Khik Sia juga?"

"Tidak, siang2 Khik Sia sudah tahu. Setelah Lu Hong-jun pergi, malamnya Khik Sia juga datang kerumah Tok ko U dan bertemu dengan aku." kata Yak bwe.

"Bagus, bagus ! Khik Sia tentu tahu dan apakah kau memberitahukan siapa dirimu itu kepadanya? Kupercaya ia tentu tak mencemburui kau. Kalian sudah berbaik, bukan ?" ,

"Celaka, karena kubikin marah, ia pergi dengan putus asa. Memang kala itu aku masih marah kepadanya, maka akupun tak mau berkata kepadanya."

Waktu mendengar cerita Yak-bwe tentang pertemuannya dengan Khik Sia, In nio banting2 kaki: "Ai, mengapa kau berlaku keliwatan begitu?" Yak bwe menyatakan penyesalannya: "Ya sekarang aku sudah tahu kesalahanku. Jika nanti bertemu lagi, aku akan menghaturkan maaf padanya. Tapi entah sekarang ini dia berada dimana. Enci In, bagaimana advismu? Apa sebaiknya cari dulu dianya, lalu kau katakan padanya."

In-nio tertawa: "Ya, enak saja kau ngomong. Dengan begitu tak perlulah kiranya kau minta maaf lagi kepadanya, bukan? Hanya saja, kau sudah membuat urusan itu kacau balau, dikuatirkannya tidak cukup dengan sepatah dua patah penjelasan dapat membuat mengerti."

Mendengar itu angot pula perangai kaum siocia (gadis orang hartawan atau berpangkat) pada Yak-bwe. Ujarnya : "Ya, aku memang berlaku kelewatan kepadanya, tapi iapun juga berulang kali tanpa suatu alasan, menghina padaku. Kalau ditimbang, dua2nya mempunyai kesalahan. Jika setelah kau nasehati, ia tetap tak mau menerima penjelasanku, akupun tidak mengharap padanya lagi."

In-nio tertawa : "Ah, bukan begitulah. Tapi jawablah pertanyaanku ini. Apakah Tok ko U pernah curigai padamu ?"

"Curiga apa? Curiga kalau aku ini seorang anak perempuankah?"

"Kau tinggal hampir setengah bulan dirumahnya itu, tentunya setiap hari kau berjumpa padanya. Sebagai seorang yang suka berkelana dan banyak pengalaman, masakan ia tak melihat sedikitpun tanda2 yang mencurigakan pada dirimu ?"

Dengan bangga, Yak-bwe menerangkan : "Kepandaian menyaru jadi pemuda, meskipun tak sempurna seperti kau, tapi rasanya lebih dari cukup untuk mengelabuhi mata kedua kakak beradik tersebut. Bukan saja kuberhasil mengelabuhi mereka, malah adiknya yg bernama Tok-ko Ing itu sudah jatuh hati padaku !"

Yak-bwe segera menceritakan tentang Tok ko Ing yang mencintainya itu. Sudah tentu dalam ceritanya itu, ia tambahi dengan bumbu secukupnya hingga In-nio tak kuat lagi menahan gelinya.

Puas tertawa, berkatalah In-nio: "Janganlah kau keltwat melanggar susila. Tidakkah perbuatanmu itu menyebabkan penderitaan seorang gadis?"

"Nanti apabila sudah tiba saatnya, aku tentu akan memberi penjelasan padanya. Tapi pada waktu itupun aku hendak mengolok olok Lu Hong-jun juga. Tahukah kau bahwa Lu Hong jun itu sebenarnya juga akan meminang nona Tok-ko?"

"Itu kan tak ada jeleknya, mengapa kau hendak mengolok- oloknya?"

"Aku tak suka dengan adik perempuan dari Lu Hong-jun. Karena aku sayang akan Tok ko Ing, maka aku tak suka kalau sampai mendapat ipar perempuan semacam itu.

"Gila, gila benar kau ini. ia akan menikah dengan Lu Hong- jun, bukan dengan adik perempuannya. Sekalipun taruh kata kedua ipar itu tak rukun, tokh tak ada sangkut pautnya dengan kau? Apalagi Lu Hong jun itu seorang lelaki yang lapang dada, setidaknya bukan orang busuk."

"Tak usah kau damprat, belakangan aku-pun tahu kesalahanku itu juga. Tadikan telah kukatakan padamu, lambat atau laun aku tentu akan menjelaskan pada Tok ko Ing. Hanya sekarang ini belum tiba saatnya" ujar Yak bwe tertawa.

Sejak kecil In-nio sudah bergaul dengan Yak-bwe, jadi ia cukup kenal perangainya, tertawalah ia: "Saat yang kau pilih itu terus terang saja tentulah setelah kau baik lagi dengan Khik Sia agar jangan belum2 apabila sampai ketahuan dirimu seorang anak perempuan Tok ko ing akan mengutuk kau "

Yak-bwe tertawa : "Terhadap kau aku tak dapat menutup isi hatiku. Itulah makanya aku lekas2 kemari, perlu minta advismu." Dengan suagguh2 In-nio berkata. "Untung lah karena tak melihat penyaruanmu, Tok-ko U tak sampai merayu kau. Tapi hal itu tak mengurangkan cemburunya Khik Sia. Apakah tak memikir sampai disitu ?"

Yak-bwe terkesiap: "Kau maksudkan Khik Sia akan mencemburui aku, aku. "

"Benar, ia mencemburui kau punya hubungan istimewa dengan Tok-ko U," tukas In-nio.

"Kurang ajar ! Kalau ia mempunyai pikiran begitu, tandanya ia berhati serong sendiri," Yak-bwe menyeletuk sengit.

Sebagai puteri dari pembesar tinggi, Yak-bwe biasa memandang segala hal secara subyektip atau menurut anggapannya sendiri. Itulah sebabnya maka ia tak memikirkan kemungkinan Khik Sia akan menaruh persangkaan jelek terhadap tindakannya dirumah keluarga Tok-ko.

"Mengapa menyalahkan Khik Sia? Andaikata aku, pun juga akan menaruh persangkaan begitu. Ketahuilah bahwa Tok-ko U itu termasuk golongan anak muda seperti kita. Dia jauh berlainan dengan putera manis dari Tian peh-peh" bantah In- nio.

"Hm, kau masih mengungkat hal itu. Apa kah tidak karena Tian peh peh hendak memaksa aku jadi menantunya, maka Khik Sia sampai marah2 dan menghina habis2an padaku ? Baik, jika karena peristiwa dirumah Tok-ko U itu ia sampai marah lagi, biarkan sajalah," Yak-bwe makin sengit

In-nio menggeleng kepala, ujarnya: "Apakah kau benar2 hendak membikin dia marah? Kalau begitu, aku tak dapat mengurusi urusan kalian lagi."

Wajah Yak-bwe berobah agak gelisah, katanya: "Kelihatannya ketika ia tinggalkan aku sikapnya amat sedih sekali. Maka, maka kemarahannyapun berkuranglah separoh." Dengan menirukan gaya bicara Yak-bwe itu, In nio berkata: "Maka, maka kaupun lantas minta aku menjadi orang perantaranya."

Yak-bwe tertawa mengikik dan sandarkan diri pada tubuh In-nio. Bisiknya: "Siapakah yang suruh kau menjadi ciciku? Aku sudah tak punya sanak kadang lagi, kalau tak minta tolong padamu habis minta tolong siapa?"

"Ucapanmu yang menyayat hati itu, mau tak mengurus pun terpaksa harus mengurus. Baik bangunlah," kata In-nio. Ia mengatur rambut Yak bwe yang terurai, kemudian berkata pula "Dalam pertengahan bulan ini. Cin Siang akan menyelenggarakan rapat besar kaum enghiong. Tentunya kau sudah mengetahui hal itu. Turuti pendapatku, Khik Sia tentu akan datang untuk melihat2. Taruh kata ia tak datang pun, disana kita tentu dapat bertemu dengan kawan2nya yang bisa memberi keterangan."

"Kau artikan kita akan pergi juga? Tapi aku pernah bertempur dengan tentara negeri, Walaupun Cin Siang telah mengumumkan takkan menangkap orang2 yang pernah melanggar hukum, tapi kitapun tak boleh mempercayainya seratus persen. Dan jangan lupa, bahwa kita ini anak perempuan. Ya, meskipun kita dapat menyaru sebagai anak lelaki dengan bagus, tapi ditempat dimana kaum persilatan yang kasar sama berkumpul, rasanya gerak gerik kita tetap tak leluasa juga." bantah Yak-bwe.

In-nio menertawakan "Tak usah banyak kau kuatirkan. Hal itu telah kupikirkan semua. Aku dapat menjaminmu. Ayahku sekarang sedang pergi ke Gui-pok. Nah, akan kuambil cap kebesarannya dan kucapkan pada sepucuk surat keterangan. Kita akan menyaru jadi opsir sebawahannya yang ditugaskan mengurus suatu pekerjaan ke Tiang-an. Siapa yang berani mengganggu usik pada kita lagi? Di Tiang an ayah mempunyai sebuah pesanggrahan. Kita tak perlu tinggal dihotel, tapi bermalam dipasenggrahan itu saja. Dengan selalu menjauhi kawanan orang persilatan itu, masakan kita takut apa lagi."

Yak bwe kegirangan dan menyetujui rencana itu,

"Jika berjumpa dengan Khik Sia, aku dapat memberi penjelasan padanya. Juga terhadap urusanmu dengan Tok ko Ing, karena akupun kenal dengan kakak beradik she Lu, biarlahku minta bantuan Lu Hongjun untuk menyampaikan halmu kepada Tok-ko Ing. Dengan demikian dapatlah urusanmu itu dibebaskan,"

Yak-bwe makin girang dibuatnya. Mulutnya tak henti2nya menghaturkan terima kasih

"Tahukah kau mengapa ayahku pergi ke Gui-pek ?" tanya In-nio.

"Bagaimana aku tahu ?" sahut Yak-bwe.

"Yalah untuk urusanmu juga. Setelah kotak emas Tian pehpeh kuambil, ia menjadi ketakutan setengah mati. Bukan saja ia batalkan pernikahanmu itu, pun ia berjanji takkan mengganggu wilayah Lu-ciu lagi. Ia menyatakan mau menjadi serekat ayah angkatmu. Kepergian ayahku ke Gui-pok itu, ialah hendak menjadi orang perantara mereka. Ha, adik Bwe, kau sungguh hebat. Peristiwa kau merampas cap kebesaran Tian Peh peh itu, kelak tentu bakal menjadi buah tutur yang indah," kata In-nio.

"Jangan keliwat memuji setinggi langit," Yak -bwe tertawa, "tentang kepandaian, aku tak nempil padamu. Ilmu permainanmu hui-hoa-cu-tiap tadi, sampai membuat aku mengiler benar. Beberapa tahun aku belajar ilmu pedang, tetap tak mampu bermain sedemikian sempurnanya. Cici, dimasa kecil kau sering memberi petunjuk padaku, sekarang aku hendak minta petunjukmu lagi."

Suasana pertemuan dan pembicaraan dengan In-nio itu, telah memberi banyak kegembiraan pada Yak-bwe. Karena hari masih belum gelap, ia lantas cabut pedangnya dan mainkan ilmu pedang hui-hoa-cu-tiap. Ia minta In-nio memberi petunjuk dibagian yang masih kurang baik. Baru bermain sampai 10-an jurus lebih, tiba2 terdengar orang berseru: "Ilmu pedang yang bagus!"

Cepat2 Yak-bwe hentikan permainannya. Dilihatnya didalam taman muncul seorang pemuda. Dan pemuda itu. astaga.....kiranya sipemuda desa yang dijumpainya dirumah makan itu.

Pemuda itu tertawa berkata: "Orang hidup tentu sering berjumpa. Sungguh tak nyana di-sini kita saling berjumpa lagi."

Yak-bwe deliki mata dan membentaknya: "Mengapa kau berani masuk kedalam taman ini?"

"Tadi ketika diluar pagar, kudengar suaramu. Mengingat bahwa kau telah memberi persen aku setahil perak, ya, walaupun uang itu telah kuberikan pada para pengemis, tapi aku tetap merasa menerima sesuatu dari kau. Karena belum menyatakan terima kasih maka aku masuk kemari. He, mengapa kau sekarang berubah menjadi seorang nona?"

Walaupun Yak-bwe masih hijau pengalamannya, tapi pada saat itu, iapun dapat merasa tingkah laku pemuda desa itu bukan pemuda biasa. Cepat ia menghaturkan maaf: "Tadi karena khilaf, aku telah memandang rendah padamu, maafkan. Tapi mengapa kau kenal akan ilmu pedang yang kumainkan tadi?”

Tertawalah sipemuda itu: "Kau memberi persen perak, tetapi malah minta maaf, ini aku tak berani menerimanya. Ha, ha, aku hanya tahu mencangkul sawah saja, tak mengerti apa itu ilmu pedang atau ilmu golok."

"Tapi mengapa kau berseru memuji?" tanya Yak-bwe. "Karena selama hidup aku belum pernah melihat seorang nona bermain pedang. Saking heran, tanpa terasa aku berseru memuji," sahut sipemuda.

Melihat orang berlagak pilon, Yak-bwe menjadi kurang senang: "Aku sudah minta maaf, tapi kau tetap hendak mengolok2." Ia mendamprat dalam hati.

"Kau lancang masuk kemari, tetapi kubiarkan saja. Kau pun jangan meigurusi urusanku," ia menyelutuk. Kata2 itu berarti menyuruh orang pergi. Tapi rupanya pemuda itu bandel  sekali. Bukannya pergi, sebaliknya ia malah beringsut2 menghampiri Yak-bwe, serunya: "Ih, kata2mu itu membingungkan aku. Bilahkah aku mengurusi urusan nona?"

Penyaruannya telah diketahui oleh sipemuda, Yak-bwe sudah kurang senang, tapi ia tak leluasa menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan urusan itu, ialah tentang hal itu. Sesaat hatinya bingung2 jengkel, tapi belum ia sempat meluapkan kejengkelannya itu, sipemuda itu sudah mengoceh seorang diri: "Sebenarnya orang yang suka usil mengurusi urusan, juga bukannya tak baik. Tadi dirumah makan, jika tak ada orang yang suka usilan, kurasa ah, nona ah, belum tentu menang dengan si imam busuk dan sikepala gundul itu."

Tergerak hati Yak-bwe, diam2 ia membatin: "Apakah diam2 dia yang membantu aku? Mengapa aku tak merasa sama sekali?"

Baru ia menimang begitu, tiba2 In-nio kedengaran memaki seraya mencabut pedangnya: "Berani lancang masuk kedalam tamanku, kau sungguh tak punya aturan sekali, ini rasakan pedangku!"

Berbareng dengan berkumandangnya kata2, orangnyapun sudah menyerang sipemuda dengan jurus giok-li-joan-suh atau bidadari menyusup tali, Kejadian itu amat mengejutkan Yak-bwe. In-nio biasanya lebih sabar dari ia. Mengapa tanpa berkata sepatah pun jua ia lantas menyerang orang. Bahkan serangannya itu menggunakan jurus yang berbahaya. Benar Yak-bwe tak senang dengan pemuda itu, tapi ia belum sampai hati untuk menghajarnya sampai binasa. Tanpa terasa ia segera berseru mencegah: "Cici, cici, kau...,."

Belum seruannya selesai, In-nio sudah lancarkan tiga kali serangan, sehingga Yak-bwe tak dapat meneruskan seruannya lagi. Tiga serangan berantai dari In-nio itu dengan indahnya telah dihindari oleh sipemuda, Jelas tampak oleh Yak-bwe, bahwa pemuda itu takkan terancam jiwanya, Diam2 ia membatin; "Kiranya orang ini lihay sekali dan hendak meng- olok2 kita," Pada lain saat ia berpikir lagi: "Biasanya ci In itu sabar, tentu ada sebabnya ia sampai bertindak keras."

Yak-bwe ambil putusan akan melihat dari samping dulu. Tak mau ia mencegah In-nio lagi. dilihatnya setiap kali pedang In-nio menyambar, pemuda itu hanya menghindari dengan gerak langkah beringsut2. Beberapa kali pedang In-nio tampaknya sudah berhasil menusuk, tapi dalam jarak hanya seujung rambut saja selalu dapat dihidari oleh sipemuda,

"Kau berani menghina aku, ayuh loloslah senjatamu!" bentak In-nio.

Habis berseru, tiba2 ia gantikan serangannya dengan jurus Hong-biau-lok-hoa (angin meniup bungi berguguran). Jurus itu terdiri dari tujuh buah serangan berturut2 yang sukar diduga isi kosongnya.

Laksana bunga gugur, sinar pedang berhamburan jatuh menyilaukan kegelapan malam. Justru itu merupakan timpalan dari ilmu permainan pedang hui-hoa-cu-tiap (bunga bertebar mengejar sang kupu2). Diam2 Yak-bwe malu pada dirinya sendiri. Ia pentang mata lebar2 untuk melihat bagaimana sipemuda hendak melayaninya.

"Aduh. celaka!" teriak pemuda itu, Tiba2 ia tergelincir jatuh. Tapi baru Yak-bwe terkesiap kaget, dilihatnya pemuda itu dua kali berputaran ditanah, kemudian loncat berjumpalitan dan jaraknya dengan ujung pedang In-nio hanya sejari saja. Sepintas pandang. ia seperti terpontang panting tapi sebenarnya ia telah mainkan gerak cui-pat-sian atau Delapan dewa mabuk, yang indah sekali.

Sebenarnya Yak bwe jemu dengan pemuda itu, tapi menyaksikan permainannya yang sedemikian luar biasanya, mau tak mau ia berteriak memuji juga.

In-nio juga tak kurang tangkasnya. Begitu tusukannya menemui tempat kosong, ia sudah susuli lagi dengan lain serangan. Rupanya pemuda itu tahu juga akan lihaynya ilmu pedang In-nio. Ia merasa jika melayani dengan tangan kosong, lama2 tentu akan menderita juga akhirnya. Ketika In- nio kembangkan serangannya yang kedua, tiba2 pemuda itu berseru: "Karena tak dapat mengganti pedang dengan golok, terpaksa hendak gunakan kayu untuk melayani. Maaf, aku hendak merusak sebatang dahan pohon itu kepunyaanmu."

Dalam berkata2 itu. ia sudah memotes sebatang dahan liu, terus dimainkan. Dalam rangsangan pedang In-nio, daun2 pada dahan pohon yang dipakai sebagai senjata oleh pemuda itu, berhamburan jatuh. Dalam sekejap saja dahan itu sudah bersih menjadi sebatang tongkat. Anehnya, hanya daunnya saja yang terkupas hilang, sedang batangnya tetap tak kena tabasan pedang In-nio.

Kini pemuda itu mulai kembangkan permainannya. Dahan itu dimainkan dalam jurus permainan pedang. Ditangan sipemuda, dahan kayu itu berobah menjadi senjata hebat perbawanya. Belum In-nio menghabiskan jurus serangan berantainya sudah knra desak kesamping oleh dahan liu sipemuda.

Diam2 heranlah Yak-bwe. Bahwa kepandaian pemuda itu lebih tinggi dari In-nio, itulah sudah terang. Tapi yang lebih mengagumkan lagi, jurus permainan pedang dengan menggunakan dahan pohon itu. juga luar biasa anehnya. Sampai sekian lama memperhatikan barulah Yak-bwe teringat bahwa permainan pedang kayu sipemuda itu serupa dengan pertandingan pedang antara Thiat-mo-lek dengan Bo Se-kiat digunung Kim-ke-nie tempo hari.

Permainan ilmu pedang itu mengutamakan tenaga lwekang yang tinggi baru dapat dikembangkan dengan baik. Walaupun lwekang pemuda itu cukup lihay, tapi terang kalau  masih kalah dengan Thiat-mo-lek,

Tempo hari Thiat-mo-lek gunakan pedang yang berat, sedang pemuda itu kini gunakan dahan pohon yang enteng untuk melawan pedang In-nio yang berat, ini juga bukan suatu hal yang mudah. Oleh karena itu walaupun In-nio kalah dalam hal lwekang, tapi ia mendapat kemurahan dalam hal senjata. Permainan yang dimainkan In-nio, adalah ilmu pedang yang diandalkan. Untuk menghadapi permainan pedang kayu dari si pemuda, ia memerlukan waktu agak lama. Begitulah berselang beberapa saat, kira2 setelah 20-an jurus lewat, pemuda itu mulai kendor permainannya. Berangsur2 mulailah ia kalah angin.

Diam2 Yak-bwe girang: "Kali ini rupanya cici In tentu akan memberi hajaran pada orang itu."

Tapi kegirangannya itu hendak berobah menjadi kekagetan ketika sekonyong2 dalam sebuah gerak menyongsong kemuka, dahan kayu sipemuda itu berhasil medorong pedang In nio kesamping. Kiranya bergerak tamparan dari sipemuda itu juga menggunakan salah sebuah jurus dari ilmu pedang hoa cu tiap.

"Bagus!" In-nio berseru seraya geliatkan pedangnya untuk lolos dari libatan dahan liu. Srt, srt, pedangnya berkilat kian kemari laksana kupu2 menari diantara bunga atau burung denari menyusup kebawah daun. Isi kosongnya serangan itu sukar diduga sekali. Memang itulah jurus yang disebut tiap bu ing hui atau kupu-kupu menari burung kenari terbang. Sambil memuji, pemuda itu putar dahan pohonnya berganti jurus ceng lo siau san, dahan liu dikiblatkan dan kakinya berlincahan. Gerakannya sungguh mirip dengan suasana yang dilukiskan dalam sajak "ceng-Lo-siau-san-boh liu ing" atau goyangkan kipas menangkap kunang-kunang. Indah sekali ia pecahkan serangan In-nio,

Jurus tiap-bu-ing hui itu tak mengutamakan tenaga kekuatan. Dan memang Biau Hui-si-ni telah menciptakan khusus buat wanita. Setiap gerakannya disesuaikan dengan keindahan gerak badan, maka bila dimainkan tak ubah seperti orang menari.

Pemuda yang mengenakan dandanan seperti pemuda desa itu, dengan dahan kayu ikut menari2 untuk menghalau serangan, sudah tentu gerakannya lucu sebali. Tapi dikarenakan luar biasanya jurus yang di mainkan itu, maka dari merasa geli sebaliknya Yak bwe malah mengikuti dengan penuh perhatian.

Pada waktu pertempuran mencapai klimaksnya, tampak bunga2 bertebaran gugur, suatu hal yang lebih menyemarakkan suasana pertandingan. Pada lain saat pemuda itu juga menggunakan permainan ilmu pedang yang serupa dengan In-nio. Pada saat itulah segera terdapat keseimbangan kekuatan. Dahan liu dimainkan tepat seperti sebatang pedang. Sedemikian mahir pemuda itu memainkannya sehingga dapat mengembangkan inti keindahan ilmu pedang, yakni lemah gemelai laksana ujung tangkai liu, bagai burung Hong kaget, Setiap jurus penuh mengandung perobahan2 yang sukar diduga

Yak-bwe tersemsem sekali, ya begitu terpesona sekali ia sampai lupa soal kalah menangnya. Pikirnya: ,Kiranya ilmu pedang dari suhu itu mempunyai banyak perobahan yang indah." Setelah mengikuti sekian lama, tiba2 ia seperti disadarkan: "Aneh, mengapa pemuda itu mengerti akan ilmu pedang itu? Rupanya malah ia lebih faham dari ci In "

Tiba2 pemuda itu tindihkan dahan pohonnya kegigir pedang dan tertawa: "Tak perlu bertempur terus, ya ?"

In-nio tarik kembali pedangnya. "Apakah Pui suheng ?" tegurnya.

Pemuda itu lemparkan dahan kayunya dan lalu memberi hormat: "Ya, memang benar, harap suci berdua memaafkan."

Heran Yak-bwe dibuatnya, pikirnya: "Bilakah suhu menerima seorang murid lelaki? Ha, suheng dari mana ini?"

In-nio segera melambainya segera datang, katanya: "Pui Suheng ini, adalah tit-ji (keponakan) dari suhu. Dia adalah murid Mo Kia lojin."

Memang Yak-bwe tak begitu tahu tentang asal usul suhunya ketika belum menjadi nikoh (rahib). Kiranya Biau Hui Si-ni itu orang she Pui. Ia mempunyai seorang adik lelaki yang sudah meninggal. Adiknya itu mempunyai anak lelaki yang bernama Pui Bik-hu, Biau Hui kasihan pada anak itu. Selain diserahkan pada Mo Kia Lojin untuk belajar silat, ia sendiripun menurunkan kepandaiannya kepada keponakannya itu, In-nio tahu akan hal itu karena ia lama bergaul dengan suhunya. Itulah sebabnya maka In-nio tahu tentang urusan itu sebaliknya Yak-bwe tidak tahu.

"Apakah suhu baik2 saja?" tanya In-nio.

"Bulan yang lalu beliau telah genap berusia 80 tahun.  Beliau ambil putusan akan menutup pintu meyakinkan pelajaran agama selanjutnya tak mau keluar dari dunia persilatan lagi. Beliau menitipkan sepucuk surat padaku supaya diberikan padamu." jawan Bik-hu. 

In-nio melihat tulisan pada sampul itu benar buah tangan suhunya. Setelah memberi hormat, barulah ia membukanya. Ternyata isi surat itu yalah hendak memperkenalkan Bik-hu kepada In-nio. Dikatakan bahwa Bik-hu itu masih hijau baru saja menyelesaikan pelajaran silatnya dan hendak terjun kedunia persilatan. Oleh karena itu, sukalah In-nio memimpinnya sebagai adik dsb.

Surat itu diberikan kepada Yak-bwe juga dan tertawalah In- nio ; "Ah, suhu terlalu sungkan. Kita kan seperti orang serumah, masakan perlu pelayanan khusus ?"

Waktu melihat dalam surat itu tertera hari dan tanggal lahir Bik-hu, tahulah Yak-bwe kalau pemuda itu lebih muda beberapa bulan dari In-nio, tetapi lebih tua setahun lebih dari ia. Diam2 Yak-bwe geli dibuatnya, pikirnya- "Ai, suhu memang banyak ini itu. Cukup mengatakan Pui Bik-hu ini pernah sute dan ci In itu suci-nya, kan sudah jelas. Perlu apa menerangkan hari lahir, seperti orang hendak mencari hari untuk perjodohan,"

Memang Yak-bwe tak tahu kalau Biau Hui sin-ni itu justru bermaksud begitu, Bik-hu itu adalah keponakannya sendiri, sudah tentu ia mengharap agar anak itu mendapat jodoh yang baik. Dua orang anak muridnya, Yak-bwe sudah ditunangkan pada Khik Sia, tinggal In-nio yang masih bebas. Ini sudah diketahuinya. Menurut penilaiannya. In-nio itu lebih masuk pikirannya, perangainyapun mencocoki seleranya (Sik-Hui). Oleh karena itu ia mempunyai minat untuk menjodohan Bik-hu dengan In-nio.

Hanya saja, Biau Huipun tahu juga akan soal pernikahan. Pernikahan harus disadarkan rasa saling suka pada kedua fihak. Jika ia menggunakan kedudukannya juga sebagai suhu menjodohkan mereka, dikuatirkan In-nio tak senang dan mengatakan suhunya itu hendak menggunakan pengaruh untuk memaksanya. Maka dari itu, dalam surat iapun tak mau menjelaskan, melainkan titipan keponakannya itu kepada In nio. Maksudnya tak lain tak bukan, agar supaya kedua anak muda itu bisa berkelana dari dekat dan dapat mengembangkan rasa suka mereka.

In-nio seorang nona yang berhati lapang hatinya sudah terisi oleh Bo Se-kiat. Dalam membaca surat itu, walaupun agak merasa aneh atas sikap suhunya yang begitu sungkan, tapi ia tak dapat merabah maksud suhunya itu.

"Pui sute, kau memiliki ilmu kepandaian dari dua aliran, Aku sebagai suci sungguh merasa malu sekali. Kelak aku tentu akan minta petunjuk dari kau. Ucapan suhu itu seharusnya ditukar balik, baru benar." katanya dengan tertawa.

Yak-bwe pun tertawa. "Kau kau masih punya toa-suheng Thiat-mo-lek, masakan takut tak ada orang yang merawatimu

?"

Muka Bik-hu agak tersipu merah, suhunya: "Markas Kim-ke- nia. dari Thiat suheng dihancurkannya tentara negeri, untuk mencarinya sungguh tak mudah. Maka paling baik kudatang kemari menemui suci berdua dulu."

Kiranya ia sudah tahu maksud dari bibinya (Biau Hui sin-ni). Adanya ia tak mau unjukkan diri dulu dan bertempur dengan In-nio adalah karena ia hendak menjajal sampai dimana ilmu silat In-nio itu. Adakah nona itu layak menjadi pasangan atau tidak.

"Ai, Pui suheng, kau pandai bicara. Sebenarnya kau kan hendak berkunjung pada ci In mengapa diriku turut ter- bawa2? Masakan kau dapat meramalkan bahwa hari ini aku juga datang kemari? Apa lagi aku ini bukan suci mu," Yak-bwe tertawa.

Bik Lu te tawa gelak2, ujarnya: "Kalau begitu aku harus minta maaf padamu. Tadi ketika dirumah arak aku belum mengetahui kalau kau ini sumoayku. Perbuatanku tadi juga kurang pantas, membuat kau marah." "Pui suheng, sekarang aku sedikit jelas. Pertempuran yang kumenangkan itu, tentulah karena mendapat bantuanmu secara diam2. bukan?" kata Yak-bwe pula.

Bik-hu ganda tertawa: "Begitu kau turun tangan, aku segera tahu kalau kau ini tentu murid bibiku. Dan ketika habis menyengkelit ke dua bangsat itu kau meloncat kebawah kejalan raya aku hendak menjelaskan padamu. Tapi karena kulihat kau sedang kegirangan maka akupun tak mau mengganggumu."

Yak-bwe kemerah2an wajahnya. Demi In nio mengetahui peristiwanya, ia tertawa juga.

"Su sumoay mengapa kau mengikat permusuhan dengan kaum Leng-san-pay?" taya Bik hu.

Pertanyaan itu diajukan oleh Bik-hu karena ia mendengar juga percakapan antara kedua imam dan hweshio itu. Ia kira mereka tentu benar hendak menangkap Yak-bwe.

"Aku sendiri juga tak tahu," sabut Yak-bwe. "Hm, apakah Leng-san-pay itu? Pui-suheng, rasanya kau tentu mengetahui tentang mereka itu."

"Aku baru saja keluar didunia kangouw. Orang yang kukenal sedikit sekali. Aku tak tahu asal usul kedua orang itu. Hanya saja, pernah kudengar dari suhu, tentang kaum Leng san-pay itu. Kau telah menggasak mereka, selanjutnya harus ber-hati2," kata Bik-hu.

"Apa ? Apakah mereka itu tak dapat diganggu ? Kulihat, walau kepandaian mereka itu lebih unggul setingkat dari aku, tapi rasanya tidak begitu berlebih2an," Yak-bwe tak puas.

"Dari pembicaraan hweshio itu, menunjukkan kalau ia anak murid Leng-san-pay. Benar dia itu biasa saja kapandaiannya, tapi suhunya yang bernama Leng Cu sangjin, betul2 tak boleh dibuat main2, kata Bik hu. Setelah berhenti sejenak; ia melanjutkan pula: "Leng-san pay adalah salah satu anak cabang dan partai agama Ang-kau di Se-ik (Tibet), Kaucunya, Leng Cu siangjin, itu seorang suicu Han, Murid-murid yang diterimanya campur bawur, ada suku pribumi ada suku Han, ada kaum paderi ada kaum biasa. Kabarnya Leng Cu siang jin itu adalah suheng dari Tian Hui-liong, seorang tokoh persilatan yang termasyhur pada jamannya. Karena tak dapat melaksanakan cita-cita didaerah Tiong-goan, maka ia lantas kabur kedaerah Se ik, mencukur rambut menjadi paderi dan mendirikan sebuah partai."

In-nio terbeliak kaget, serunya: "Apakah Tian Hui-liong itu bukan suami dari Tian toa nio, ayah dari Tian Goan-siu ?"

Bik-hu mengangguk, "Benar, pada masa itu tokoh2 partai- Ceng-ji (baik) telah mengepung Tian Hui-liong, suhu dia bibiku juga turut. Dan dengan ikut sertanya juga Hong-gi Wi Gwat, Se gak sin liong Hang hu Ko dll. Barulah dapat mengalahkan orang she Tian itu,"

"Apalagi Leng Cu siangjin itu suheng dari Tian Hui liong tentunya lebih hebat lagi. Tetapi Leng-san-pay itu jauh sekali di daerah Se-ik. Dan Yak-bwe itu seorang nona tak ternama yang baru keluar didunia persilatan. Sudah tentu ia tak kenal mengenal dengan orang2 Leng-san-pay, tetapi mengapa dapat terikat permusuhan? Baik Bik-hu, In-uio bahkan Yak bwe sendiri tak tahu sebabnya.

"Ah, tak usah kita hiraukan hal itu lagi. Pui suheng, hendak kemana kau?" kata In-nio "Maksudku hendak ke Tiang-an untuk ikut dalam Eng hiong tay hwenya Cin Siang. Ya, agar menambah pengalaman, In suci apakah kalian juga berminat kesana?" kata yang diranya In-nio tahu kalau pembicaraannya dengan Yak-bwe tadi tentu sadah didengar sute baru itu. Pikirnya: "Suhu sudah pesan supaya aku mengurusnya, kalau tak pergi ber-sama2 dia, itu berarti tak memenuhi permintaan suhu." "Ya, memang tadi aku dan Su sumoay sedang merunding tentang kepergian kami ke Tiang-an. Kebetulan Pui sute juga setujuan, jadi kita boleh ber-sama2 kesana," katanya.

Maksud Yak-bwe ke Tiang-an itu yalah hendak menyirapi diri Khik Sia. Sebenarnya ia tak suka pergi bersama Bik hu, tapi karena In nio sudah meluluskan apalagi Bik-hu itu masih saudara sepengaruh, maka iapun tak enak untuk membantah.

Begitulah dalam itu Bik-hu menginap dirumah In-nio. Keesokan harinya, mereka segera berangkat, In-nio dan Yak- bwe menyaru menjadi opsir tentara. Karena menganggap dalam pakaian sebagai pemuda desa itu, Bik-hu tak layak berjalan bersama mereka, maka In-nio niata Bik-hu menyaru menjadi seorang ba-koan pengawal. Dan mengajarinya juga sedikit tentang hal yang patut diketahui dan tingkah laku dari seorang anak tentara.

"Ho, selama ini aku selalu mengikuti suhu menjadi kacung pelayannya, kini tak nyana naik pangkat setinggi langit begini, menjadi anak meliter. Tapi, ah, jadi seorang anak meliter itu begini berabe lebih baik jadi seorang kacung penggosok kaca saja." Bik-hu tertawa geli.

Kini barulah Yak-bwe mengerti bahwa adanya pemuda itu mengenakan pakaian sebagai orang desa, bukan tak ada sebabnya. Ternyata Bik-hu selama itu, ikut pada suhunya Mo Kia lojin mengerjakan pekerjaan tersebut ( gosok kaca ).

Setelah membuat surat dinas yang hendak dihaturkan kepada fihak kerajaan dan membawa sabuk lencana pada Bik- hu, maka In-nio segera ajak kedua sumoay dan Sutenya itu berangkat ke Tiang an. Dalam perjalanan itu, mereka bercakap2 tentang berita dan peristiwa di dunia bulim. In-nio dapatkan, walaupun Bik hu itu baru pertama keluar dari perguruan, tapi apa yang diketahui tentang keadaan diluar itu, tak kalah dengan dia. Kiranya Mo Kia-lojin itu berlainan sekali caranya memberi pelajaran pada muridnya. Bukannya menyuruh murid tinggal digunung belajar silat seperti lajimnya guru2 lain, tetapi ia suruh muridnya itu memikul pikulan dan ikut padanya menjelajahi kota dan desu2. ( Gosok kaca) adalah sebuah mata pencaharian pada jaman dahulu. Pada jaman dulu, orang memakai long-kia (kaca tembaga) bukan kaca gelas, maka lewat beberapa waktu, tentu harus digosok sampai mengkilap, itulah sebabnya maka pengalaman dan pengetahuan Bik-hu, cukup banyak.

Diam2 In-nio menertawai suhunya. Bukan ia yang pantas mengurus Bik-hu, sebaliknya Bik hulah yang tepat mengurusnya. Tapi In nio hanya mengira kalau suhunya itu keliwat sayang pada keponakannya, maka keponakannya itu dikatakan sebagai anak kecil yang tak tahu apa2, harus diurusi orang. Ini menandaskan bahwa sampai Saat itu, In-nio tetap belum mengetahui maksud yang sebenarnya terkandung dalam hati Biau Hui-sin-ni itu.

Karena berkendaraan kuda, dalam tujuh hari saja, tibalah sudah mereka dikota Hin peng, sebuah kota yang ramai. Dari Hin peng ke Tiang an, kalau naik kuda hanya memerlukan waktu dua hari saja. Karena saat itu sudah menjelang petang, mereka bertiga lalu menginap di sebuah hotel yang besar di Hin peng.

Tiba dimuka pintu hotel, tiba2 Yak-bwe mendengus heran. "Hih, dari mana datangnya dua ekor kuda yang begitu

bagus itu!."

Ketika memandang, In nio dapatkan pada tempat penambat kuda yang terletak dihalaman hotel itu, sudah penuh dengan belasan ekor kuda. Diantaranya terdapat dua ekor kuda yang menyolok mata. Yang seekor berbulu merah api, yang seekor putih seperti salju. Sekali pandang, dapatlah diketahui bahwa kedua binatang itu termaksud kuda bagus yang mahal harganya. "Itulah kuda ternama dari jenis keluaran Gong ki. Yang dirampas oleh Bo Se kiat tempo hari. juga sama dengan kuda itu. Aku pernah menunggangi, tapi kurasa tetap tak mampu menandingi keterangan kedua ekor itu." Yak bwe ber-bisik2.

In-nio terkesiap kaget, pikirnya: "Apakah ada bangsa tay lwe ko chiu disini ?" Tay lwe ko chiu artinya jagoan istana yang liehay.

Setelah menambatkan kudanya, In-nio berindap2 menghampiri kedua ekor kuda bagus itu. Setiap kuda yang dipersembahkan untuk raja tentu dicap pertandaan. Tapi kedua ekor kuda itu tak punya noda sama sekali, apalagi cap.

Kuda itu perasa sekali. Begitu ada orang datang dan orang itu selalu mengincarnya saja iapun lantas beringas dan meringkik keras. Kakinya diangkat terus hendak disepakkan, In-nio cepat2 menyingkir. Berbareng itu, terdengar orang membentaknya: "Hai, apa kau mau cari mampus, berani mengganggu kuda tuanmu !"

Dari ambang pintu hotel, seorang melongok keluar, tangan menuding mulut memaki, wajahnya aneh sekali mirip dengan tokoh Ti pat kay dengan dongeng Se Yu. Hidungnya mendongak seperti hidung babi, dahi rata dan rambut berwarna kuning diikat dengan kim-hoan (gelang emas), mirip dengan bangsa thau-to (paderi) daerah Se-ik. Barang siapapun melihat tentu akan merasa muak.

Yak-bwe tak dapat kendalikan kemarahannya lagi, ia segera balas mendamprat: "Kurang ajar, apakah lihat saja tak boleh, mengapa mulutmu memaki2".

In-nio cepat menyetopnya. Ia tertawa menghaturkan maaf.

"Harap taysu jangan marah. Karena selama ini belum pernah melihat kuda sebagus itu, maka tak kusengaja melihatnya beberapa saat." Melihat In-nio dan Yak-bwe dalam dandanan sebagai seorang opsir apalagi In-nio memuji kudanya serta menghaturkan maaf, redalah kemarahan paderi itu. Tapi terhadap Yak-bwe ia masih mendongkol, matanya ber-kilat2 memandangnya.

Ketika keduanya masih saling pencerengan (memandang dengan sorot bermusuhan), muncul pula seseorang yang terus menarik thau-to itu, kata orang itu dengan tertawa; "Wah, tak sembarangan kedua tayjin itu mengagumi kuda kami, suheng, seharusnya kau bergirang."

Orang itu memberi isyarat mata kepada si thau-to. tertegun. Tiba2 ia berobah kegirangan dan angkat tangan memberi hormat: "Maaf, aku memang berangasan sehingga tak tahu kalau tayjin berdua."

Kawan si thauto itu ternyata juga orang Se-ik, tapi mengenakan dandanan sebagai orang biasa. Hidung sebesar seperti singa, mulut lebar macam harimau, sepintas pandang tampaknya lebih gagah dari si thauto tadi. Ciri yang menonjol pada orang itu ialah sepasang Kelopak matanya menyusup kedalam, pertanda kalau dia seorang yang licin. Setelah memandang tajam2 kepada In-nio dan Yak-bwe, ia segera menyampaikan salam perkenalan: "Siapakah nama tayjin berdua yang mulia dan hendak menuju kemana saja ?"

Yak-bwe hendak mendampratnya tapi cepat cepat In-nio menariknya. Dengan sembarangan saja, In-nio memberikan nama palsu kepada orang itu.

"Oh, kiranya tayjin berdua juga akan menuju ke Tiang-an. Beberapa hari lagi, di Tiang an bakal ada Eng-hiong tay-hwe, Beruntung kita tentu dapat kesempatan melihatnya," kata orang itu.

"Benar? Maafkan, kami sedang melakukan tugas, tak dapat bicara banyak2," langsung saja In-nio memutuskan pembicaraan, Terbentur tembok, orang itu meringis dan meloyor pergi. Ketika In nio, Yak bwe dan Bik hu masuk kedalam ruangan dalam, dilihatnya si thau to tadi kembali ribut mulut dengan ciang kui (pengurus), Ciang kui itu kelihatan meminta maap: "Maaf kamar kelas satu sudah ditempat orang. Tapi kamar yang kusediakan untuk taysu itu, juga menghadap kearah selatan. Dibanding dengan kamar kelas satu juga tak banyak bedanya. Baiklah taysu menginap disitu satu malam ini."

"Ngaco!" bentak thauto itu, "Mengapa kau tak berikan kamar kelas satu itu padaku? Hm, kalau ada orangnya suruhlah dia pindah."

Tampak kerut wajah ciang-kui itu menampil kesukaran, ujarnya: "Tetamu itu lebih dulu datangnya."

"Tapi peduli dia datang lebih dulu atau belakangan, kau berani membantah perintah?" bentak paderi itu dengan murkanya,

Tiba2 kedengaran nada seorang gadis melengking: "Sungguh jarang terdapat manusia yang begitu kurang ajar!"

Sekalian orang yang berada disitu terkesiap dan mencari datangnya suara itu, Seorang nona yang amat cantik, sudah tegak dihadapan thauto itu. Thauto itu melongo karena tak menyangka bahwa yang tinggal dikamar kelas satu itu ternyata seorang nona jelita. Begitu kesima ia melihat kecantikan yang gemilang dari gadis itu, sehingga tak dapat marah2 lagi.

"Hm, dengan alasan apa kau hendak mengusir aku dari kamar itu?" tegur nona itu.

Thiuto itu seperti terkancing mulutnya. Coba yang berhadapan seorang lelaki, tentu sudah dilabraknya, Tapi yang berdiri dihadapannya itu seorang jelita yang molek. Sebesar tinjunya namun masih nyalinya tak sebesar itu untuk menjatuhkan pukulannya Siorang hidung besar kawan dari thauto itu memindang dengan tak berkesiap kearah jelita itu. Pada lain saat ia menghampiri si thauto dan mengucapkan beberapa patah kata. Mungkin yang diucapkan itu bahasa daerah Se-ik, jadi tiada seorangpun yang mengerti.

Jelita itu makin meradang, ia mendengus dan menantang: "Hm, kalian kasak kusuk siapa itu? Kalau mau berkelahi, silahkan maju"

Sihidung besar tertawa: "Ah, nona salah mengerti. Aku menasehati suhengku untuk menghaturkan maaf padamu."

Sithau-to agak terkesiap, wijahnya mengernyut aneh. Tapi rupanya ia tak berani membantah perintah sutenya. Benar juga ia lantas memberi hormat kepada nona itu: "Masakan ada orang lelaki hendak hendak meminta kamar yang dipakai wanita ? Tadi karena tak tahu kalau kamarin sudah dipakai nona, maka aku telah mengucapkan kata2 kasar harap nona maafkan."

"Diam"

Yak-bwe geli dibuatnya, pikirnya! "Sepasang suheng dan sute ini, serasi sekali. Yang satu baik yang satu jahat. Rupanya si thauto itu sudah biasa minta maaf pada orang."

Setelah orang menghaturkan maaf, kemarahan jelita itu sudah berkurang, tapi masih mendongkol. Ia hanya ganda tertawa saja, dan tanpa membalas hormat si thauto ia lantas kembali masuk kedalam kamarnya. Sambil melangkah masuk, mulutnya mengomel panjang pendek: "Mau main2 dengan aku, ya? Hm, kurang ajar benar !"

Kamar nona itu terletak diujung gang. Waktu ia melangkah masuk dan menyingkap tirai kebetulan Yak-bwepun mengawasi kesitu. Samar-sama ia seperti melihat ada bayangan orang lelaki yang pernah dikenalnya. Tapi karena jaraknya amat jauh dan gang itu gelap, apalagi begitu masuk si nona lantas menutup pula kamarnya, maka Yak-bwepun tak dapat melihat dengan jelas.

Hanya saja kedengaran lelaki itu rupanya tengah menasehati si nona maka Yak-bwe buru buru pasang telinga. Pembicaraan yang dibagian muka dilakukan perlahan sekali hingga tak kedengaran jelas. Tapi pada akhirnya, karena silelaki agaknya marah, kata2nyapun agak keras, yaitu demikian ”mereka sudah tak mau cari setori, maka kaupun janganlah cari perkara lagi."

Dari pembicaraan itu jelaslah kiranya bahwa si nona bermaksud hendak melanjutkan persetoriannya dengan thauto tadi, tapi silaki anggap tak perlu karena urusan toh sudah selesai sampai disitu.

Waktu dapat menangkap nada suara orang lelaki itu, terbeliaklah Yak-bwe. Ya, tak salah lagi, itulah nada suara Khik Sia. Sudah berulang kali ia bertengkar dengan Khik Sia, maka ia pun tak asing lagi akan nada anak muda itu. Jangan lagi kata2 Khik Sia yang diucapkan terahir itu, dapat didengarnya jelas sekalipun henya samar2 saja, namun ia tetap akan dapat membedakannya sebagai nada suara pemuda itu.

Sekalipun begitu, Yak-bwe belum berani yakin seratus persen. Ia me-nimang2 dalam hati: "Masakan dia itu Khik Sia? Masakan dia berada dalam kamar dengan seorang wanita? Apakah lain orang yang suaranya sama dengan dia? Tapi mengapa begitu persis sekali?"

In-nio tidak ikut pasang telinga, jadi ia tak mendengar suara pembicaraan Khik Sia tadi. Melihat Yak-bwe terlongong2 sepertti orang yang kehilangan semangat, ia segera menertawakannya.

"Nona itu sungguh cantik sekali. Tidakkah kau kesima melihatnya? Ah, sayang ia sudah bersuami. Kalau kau kurang ajar memandangnya dengan lekat, awas, suaminya tentu akan membikin perhitungan padamu. Sudahlah, jangan melamun bereskan dulu kamar kita,"

Baru In-nio hendak menghampiri ciang-kui (pengurus hetel) sihidung besar sudah mendahului. Sambil berdiri disebelah ciang-kui sihidung besar tertawa cekikikan dan berbisik2: "Siapakah nama nona itu tadi? Pemuda itu apanya? Tahukah kau?"

"Peraturan hotel ini yalah, asal membayar saja siapapun boleh menginap. Dan kita tak berhak untuk menanyai keterangan tentang pekerjaan dari tiap2 tetamu. Pertanyaanmu tadi, maaf, aku tak dapat mengetahui," sahut ciang-kui.

"Masakan nama mereka saja kau tak tahu?" tanya sihidung besar.

"Nona itu yang mencatatkan nama padaku, tapi sipemuda tak turut datang," kata ciang-kui.

"Tapi dia justru yang kutanyakan memang nama nona itu.

Sipemuda tak begitu perlu bagiku," ujar sihidung besar.

"Karena kau berasal dari daerah Se-ik, mungkin kau tak begitu jelas tentang adat istiadat d«daerah Tiong-tho (Tiongkok) sini. Apa lagi seorang nona tak lebih dulu mengatakan namanya, kita tak leluasa bertanya padanya."

Sihidung besar kerutkan dahinya, tiba2 ia merogoh keluar sebuah pundi uang. ujarnya: "Cukup aku ketahui she si nona itu saja, uang ini akan menjadi milikmu."

Pundi uang tak kurang dari sepuluh tail beratnya. Seketika berkilatlah mata si ciangkui. Ia garuki kepala, tiba2 berkata "Ah, teringat aku sekarang. Kudengar pemuda itu memanggil si nona, ah, apa itu. oh, ya nona Su."

Si thauto berteriak, matanya dipentang lebar-lebar, kerut wajahnya menampil kaget girang, buru2 sihidung besar menyikutnya. "Bagus, uang ini untukmulah" katanya dengan tertawa. Setelah memberikan uang pada ciangkui, ia lantas ajak suhengnya masuk kenbali kekamarnya.

Melihat sihidung besar menyogok uang kepada ciang-kui untuk menanyakan tentang she dari si nona tadi, heranlah In- nio dibuatnya. Tapi ia tak mempunyai dugaan lebih panjang, berbeda dengan Yak-bwe, yang selain terperanjatpun terlintas dalam pikirannya akan peristiwa diwarung arak tempo hari dimana si imam mengoceh tentang diri Khik Sia.

"Ah, sungguh kebetulan sekali. Nona itu seorang she Su dan tempo hari imam itu mengatakan kalau Khik Sia mempunyai kawan akrab seorang nona apakah bukan nona itu yang dimaksudkan? Tapi imam itu mengatakan kalau Khik Sia tak senang kepada sahabatnya wanita, tetapi mengapa sekarang ia tinggal sekamar dengan nona itu?" Demikian Yak- bwe me-nimang2 dalam hati. Makin memikir makin melantur tak keru an. Ia tak dapat menemukan jawaban yang positip.

Waktu In-nio pesan kamar, ciangkui menjadi gugup dibuatnya. Karena melihat In-nio dan Yak-bwe mengenakan pakaian opsir, ciang kui itu ketakutan. Buru2 ia memberi hormat dan menerangkan bahwa hanya tinggal dua buah kamar yang masih kosong, entah In-nio suka menempatinya tidur.

"Sungguh kebenaran, memang kita menghendaki dua buah kamar. Asal bersih sudahlah. Kami bukan seperti paderi dari Se-ik itu kalau tidak kamar kelas satu tidak mau," sahut In- nio.

Belum pernah ciangkui itu berjumpa dengan orang pembesar militer yang seramah itu.

Girangnya bukan main, Ter-sipu2 ia mengantar In-nio dan Yak-bwe masuk In-nio dan Yak-bwe satu kamar, sedang Bik- hu satu kamar. Lagi2 terjadi hal yang kebetulan. Kamar mereka hanya terpisah satu kamar dengan si nona dan pemuda tadi.

Setelah ciang-kui pergi, maka Bik-hu menghampiri ketempat In-nio katanya: "Gerak-gerik kedua orang Se-ik itu aneh sekali. Malam ini kita harus waspada,"

"Ya, memang kulihat mereka itu bukan orang baik. Tapi kita dalam penyaruan sebagai opsir tentara, rasanya mereka tentu tak berani mengganggu kita."

-od0o-ow0o-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 14"

Post a Comment

close