Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 06

Mode Malam
Jilid VI

SETELAH tersadar dari termenungnya, sekalian orang gagah sama membatin: "Ya, dari kedudukannya itu, jika karena kealpaan kecil sampai menyebabkan kekalahannya, sudah tentu Thiat Mo Lek sungkan untuk melanjutkan pertempuran. Sebagai seorang ksatrya ia tentu mengaku kalah."

Lama sekali para orang gagah itu sama merasa gegetun atas kekalahan Thiat Mo Lek.

Malah ada juga yang penasaran, mengapa Thiat Mo Lek sampai gunakan jurus yang begitu tololnya. Tapi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Thiat Mo Lek sudah mengaku kalah dan pengangkatan Se Kiat menjadi Beng cu itu sudah pasti.

Suasana sunyi yang meliputi gelanggang pertempuran itu, tiba-tiba dipecahkan oleh hiruk pikuk dan sorak sorai yang gempar. Rombongan Kay Thian Ho dan rombongan Li Thian Go sama berbondong-bondong datang memberi selamat kepada Se Kiat. Fihak rombongan Kim ke Nia walaupun masgul, tapi atas dorongan dari Thiat Mo Lek, pun maju untuk memberi selamat kepada anak muda itu. Melihat itu, diam-diam Thiat Mo Lek bergirang dalam hati. Pikirnya: "Pengalahanku itu ternyata tepat. Jika aku yang menjadi Bengcu, tak mungkin segenap hadirin akan memberi selamat dengan tulus hati sebagaimana sekarang terhadap Se Kiat."

Toan Khik Siapun tak ketinggalan maju memberi selamat. Se Kiat segera mengembalikan pokiam kepadanya sambil menghaturkan terima kasih. Kemudian Bengcu baru itu berkata: "Toan-hiante, ada dua orang sahabatmu juga datang kemari. Apakah kau sudah menjumpai mereka?"

"Belum. Tapi entah sahabat yang mana?" Khik Sia balas bertanya.

Berbareng dengan kata-katanya itu, Ang-ih-li-hiap Lu Hong Jiu ikut pada Shin Thian Hiong datang memberi selamat kepada Se Kiat. Memandang sejenak kepada nona baju merah itu, tiba-tiba terkilas sesuatu dalam hati Se Kiat.

"Sungguh tak kunyana sama sekali bahwa aku bisa berhasil menjadi Bengcu. Dan sekalian kawan-kawan sama memberi dukungan. Mereka begitu hiruk pikuk kacau. Entah dimanakah kedua sahabatmu tadi? Tapi jangan gelisah, sebentar mereka berdua tentu akan mencarimu juga!" kata Se Kiat kemudian kepada Khik Sia.

Disana Yak Bwe sedang berbisik psrlahan-lahan kepada In Nio: "Cici In, kiong-hi, kiong-hi!"

Kiong-hi artinya memberi selamat. Sudah tentu muka In Nio menjadi merah dibuatnya, Ia berseru: "Kiong-hi untuk apa?"

"Si 'dia' telah menjadi Bengcu tanpa merusak perhubungan dengan Thiat-sioksiok. Apakah ini tak layak kuberi kiong-hi?" sahut Yak Bwe.

"Kiong-hi, kiong-hi juga kepadamu!" In Nio balas menghaturkan selamat. "Apa yang kau kiong-hikan itu?" tanya Yak Bwe dengan keheranan.

"Kiong-hi untuk pergabungan kalian berdua pada hari ini. Itu lihatlah, 'dia'mu juga sedang memberi selamat pada Se Kiat. Mengapa kau tak lekas-lekas menjumpai dia kesana?" kata In Nio.

Tapi waktu Yak Bwe arahkan matanya kesana, dilihatnya sinona baju merah tengah berdiri merapat pada Khik Sia. Yak Bwe segera, jebikan bibir dengan marahnya.

"Aku tak sudi kesana!" serunya dengan banting-banting kaki.

In Nio tertawa: "Kau adalah tunangannya yang sah, yang resmi, mengapa takut pada nona itu?"

"Siapa bilang aku takut padanya!" Yak Bwe menggeram. "Habis mengapa kau tak berani menemui dia?" kata In Nio

dengan setengah mengejek setengah membakar hatinya.

Benar juga Yak Bwe kena dibikin panas hatinya. Ia biarkan saja ditarik berjalan oleh In Nio.

"Nona Lu itu berhati lapang, ramah terhadap orang. Belum tentu ia mempunyai 'apa-apa' dengan Khik Sia. Harap kau jangan terburu ngambek dulu," kata In Nio pula sambil tertawa.

Saat itu ditengih gelanggang sudah ramai sekali. Penuh dengan orang yang mondar mandir kian kemari mengelilingi Se Kiat. Belum In Nio dan Yak Bwe berhasil mendekati ketempat Se Kiat, tiba-tiba terdengar ada orang berseru: "Hai, cuaca begini cerah, dilangit tiada awan sama sekali, mengapa mendadak ada suara guntur?"

Kedua nona itu turut mendengarkan. Benar juga lapat-lapat seperti ada guntur menggelegar. "Tidak, itu bukan suara guntur tapi seperti bunyi genderang tentara negeri!" tiba-tiba Hiong Ki Gwan, jago tua yang menjadi juri dalam pertandingan babak terakhir tadi menyeletuk. Dia seorang veteran (jago kawak) yang kenyang dengan pengalaman bertempur melawan tentara negeri.

Baru saja ia berkata begitu, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Segempal asap yang berwarna hitam kebiru- biruan melayang keudara. Datangnya bola asap itu dari kaki gunung. Itulah Coa Yam Cian atau panah ular. Api yang dilepas oleh kawanan liaulo (anak buah) dari gunung Kim Ke Nia. Coa Yam Cian itu diperuntukkan memberi tanda jika ada bahaya datang.

Selagi sekalian orang menduga-duga, dua orang thaubak (kepala liaulo) berlari-lari datang sambil melambai-lambaikan bendera merah.

"Celaka, pasukan tentara negeri menyerbu kemari!" teriak mereka.

Seketika gemparlah orang-orang gagah digelanggang itu. Mereka sama mengertek gigi dengan marah. Disana sini segera terdengar orang memaki-maki.

"Tentu ada pengkhianat yang membocorkan tentang rapat kita ini!" seru seorang.

"Jahanam, mereka hendak mengadakan razia untuk menangkap kita!" ada seorang lain yang mendamprat.

"Bagus, kebetulan sekali mereka datang! Kita cincang mereka sampai hancur lebur untuk selamatan hari pengangkatan Bengcu kita!" terang lagi dengan gagahnya.

Se Kiat segera meredakan mereka: "Harap saudara-saudara jangan panik. Kita lihat dulu keadaan mereka, baru nanti kita atur perlawanan!"

Sementara itu genderang berbunyi memecah angkasa. Bendera berkibar-kibar seperti lautan pelangi. Tentara negeri bagaikan air bah sudah menyerbu datang. Se Kiat dan Thiat Mo Lek memperhatikan dengan seksama. Tentara yang datang itu ternyata bukan serdadu biasa. Mereka sama mengenakan baju perang yang lengkap. Garang dan tegap- tegap tampaknya. Jelas mereka itu terdiri dari empat buah pasukan. Mereka melakukan penyerangan dalam formasi mengurung bersama. Pasukan mereka amat rapi, bergelombang datangnya, tapi tidak kacau. Pimpinannya tentu seorang yang mempunyai bakat tay-ciang (jenderal) cemerlang.

Sekalian orang gagah yang berkumpul diatas gunung Kim Ke Nia itu memang rata-rata mempunyai kepandaian silat tinggi, pun sudah beberapa kali bertempur dengan tentara negeri. Tapi rasanya mereka belum pernah menghadapi gelombang serangan dari pasukan tentara negeri yang begitu besar jumlahnya dan bagus disiplinnya. Walaupun ada beberapa orang yang masih gembar-gembor mencaci maki, tapi diam-diam mereka itu sebenarnya gentar juga.

"Kawan-kawan yang hadir sekarang benar gagah berani, tapi mereka hanya mengandalkan keberanian saja. Kebanyakan belum pernah mendapat pelatihan kemiliteran. Dikuatirkan sukar menghadapi serangan tentara negeri seperti kali ini," diam-diam Se Kiat membuat aaalisa dalam hati.

Baru ia membayangkan hal itu, tentara negeri sudah makin maju. Kini mereka sudah berhasil mencapai setengah bagian gunung. Thiat Mo Lek terbeliak kaget.

Pasukan yang datang dari sebelah utara-dan selatan itu, yang satu membawa bendera bertuliskan huruf "Cin" dan yang lain membawa bendera berhuruf "Ut-ti". Nyata kedua pasukan itu adalah pasukan Gi Lim Kun (istana) yang dipimpin oleh Cin Siang dan Ut-ti Pak.

Diam-diam Thiat Mo Lek mengeluh. Dahulu sewaktu ia masih bekerja sebagai Wi-su (pengawal istana), ia bersahabat baik sekali dengan Ut-ti Pak dan Cin Siang. Siapa nyana kini ia harus berhadapan dengan mereka sebagai musuh.

Se Kiat kerutkan alis. Ujarnya kepada Thiat Mo Lek: "Ah, ternyata mereka itu adalah pasukan Gi Lim Kun dari Tiang An. Menilik gerakan mereka yang sedemikian besarnya itu, Pastilah ada pengkhianat yang membocorkan pertemuan kita kepada fihak kerajaan."

Anak muda itu berhenti sejenak lalu menyambung pula: "Karena musuh dipersiapkan rapi, menurut pendapatku lebih baik kita mundur saja. Meskipun dengan berbuat begitu kita akan korbankan markas Shin-toako disini, tetapi kekuatan induk kita masih dapat diselamatkan. Setelah nanti kekuatan kita tersusun kuat, kita akan gempur mereka lagi. Bagaimanakah pendapat Toako?"

Thiat Mo Lek juga mempunyai pikiran begitu. Ia menyatakan persetujuannya. Tapi belum kata-katanya selesai, pasukan musuh dari arah timur dan barat sudah menyerbu datang. Pasukan dari sebelah timur itu bukan pasukan Gi Lim Kun. Pemimpinnya seorang tua yang berwajah merah, itulah Yo Bok Lo, musuh besar dari Thiat Mo Lek. Ayah Thiat Mo Lek di bunuh oleh orang she Yo itu. Sementara pemimpin pasukan dari sebelah barat adalth Gou Beng Yang, Thong-Jeng atau pemimpin pasukan Gwe Thok Lam dan Tian Seng Su.

Jika bertemu musuh besar, orang tentu menjadi beringas. Walaupun setuju untuk mundur, namun begitu melihat Yo Bok Lo. Thiat Mo Lek menjadi lupa segalanya. Serentak ia memburu maju dan berseru: "Bagus, bangsat tua, kiranya kau belum mampus! Aku Thiat Mo Lek memang hendak mencarimu!"

"Thiat-toako, kembalilah!" dengan terkejut Se Kiat buru- buru memanggilnya. Tapi Thiat Mo Lek tak mau menghiraukan lagi. Yang tiba lebih dahulu ternyata pasukan berkuda dari Cin Siang. Kuda mereka kuda pilihan, maka dapat mendaki naik dengan cepat. Begitu tiba, mereka maju menghambat jalannya Thiat Mo Lek.

Kedatangan Cin Siang kesitu, sebenarnya bukan atas kehendaknya sendiri. Tian Seng Su me mengirim laporan rahasia kepada fihak kerajaan, mengatakan bahwa pada hari itu benggolan benggolan perampok dan penyamun dari berbagai aliran akan mengadakan pertemuan digunung Kim Ke Nia. Hal itu merupakan suatu ketika baik untuk merazzia mereka. Agar gerakan razzia itu berhasil bagus, Tian Seng Su minta fihak kerajaan suka mengirimkan pasukan Gi Lim Kun untuk membantunya.

Fihak kerajaan terpaksa meluluskan. Pertama, untuk merebut hati Tian Seng Su, seorang, "war-lord" (panglima daerah yang berkuasa besar). Kedua, karena kawanan penyamun itu merupakan pengganggu keamanan negeri. Dengan mengadakan pertemuan besar, mereka tentu akan mengadakah gerakan rahasia yang membahayakan negara. Dengan pertimbangan itu, mau tak mau fihak kerajaan lalu mengirim pasukan pilihan, Gi Lim Kun.

Dan memang jalannya kehidupan manusia itu serba aneh. Seperti sudah suratan nasib, Cin Siang dan Ut-ti Pak yang diwajibkan untuk memimpin pasukan Gi Lim Kun itu. Sudah hampir 10-an tahun, Cin Siang tak pernah bertemu dengan Thiat Mo Lek. Maka mereka tak menyangka sama sekali kalau bakal berjumpa lagi dalam keadaan yang begitu. Keduanya sama merasa tak enak hatinya.

Dengan suara perlahan, Cin Siang berseru: "Thiat-hengte, mengapa kau menyiksa diri di dalam kawanan penyamun? Kini kawanan dorna sudah dibersihkan dalam kalangan kerajaan. Lebih baik kau ikut aku kembali ke Tiang An lagi. Dengan segenap jiwa raga, aku sanggup melindungi dirimu." Sahut Thiat Mo Lek: "Masing-masing orang mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Maaf, Siau te tak dapat meluluskan titah Toako itu. Apa bila Toako suka mengingat akan persaudaraan kita yang lalu, harap Toako suka beri jalan pada Siaute. Nanti bila Siaute sudah dapat melakukan pembalasan sakit hati, Siaute rela menyerahkan diri untuk memenuhi harapan Toako."

Saat itu Yo Bok Lo sudah tampak mendatangi. Masih jauh ia sudah berteriak: "Bangsat itu adalah kepala penyamun Kim Ke Nia, Thiat Mo Lek. Cin-towi, jangan lepaskan dia, aku segera datang!!"

Apa boleh buat terpaksa Cin Siang pura-pura marah, bentaknya: "Baik, karena kau tolak nasehatku yang baik, lihatlah senjataku!" Pemimpin Gi Lim Kun itu segera ayunkan sepasang "kan", senjata gada bersegi banyak. Waktu Thiat Mo Lek. menangkis, barulah ia mendusin bahwa sahabatnya itu sebenarnya tak bermaksud menyerang sungguh-sungguh. Nyata Cin Siang hanya gunakan lima bagian dari kepandaiannya saja.

Thiat Mo Lek juga bukan orang yang lupa sahabat. Ia tak mau menyerang sungguh-sungguh. Hatinya merasa gundah. Pun Cin Siang serupa perasaannya. Ia tak kurang sulitnya. Tak mau melepaskan Thiat Mo Lek, juga tak ingin melukainya. Sungguh suatu kedudukan yang serba sulit.

Dalam pada itu, Ut-ti Pak, saudara Ut-ti Lam, sedang congklangkan kudanya mendatangi. Sembari angkat pian, ia berseru: "Kepada penyamun yang merampok kuda negara berada disana. Ha, Cecu dari Kim Ke Nia juga di sana. Cin- toako, ringkus bangsat itu!"

Siberangasan Ut-ti Pak itu ternyata bukan orang tolol. Dalam saat-saat yang genting, dapat juga ia menemukan akal. Dengan seruan itu, ia kasih jalan pada Cin Siang agar Thiat Mo Lek bisa bebas. Rupanya Cin Siang tahu Juga akan maksud siberangasan itu.

"Ya, ya, kita lebih penting tangkap tawanan itu. Yo lo- siansing, kuserahkan orang ini kepadamu supaya kau mendapat pahala."

Ia pura-pura hantamkan senjatanya, lalu bersama Ut-ti Pak maju kemuka, menerjang barisan penyamun.

Kini Thiat Mo Lek mendapat kesempatan untuk berhadapan dengan musuh besarnya. Dengan menggerung keras, ia menyongsong Yo Bok Lo dengan serangan jurus "Lat Bik Hoa San" atau menghantam sekuat-kuatnya gunung Hoa San. Sebenarnya jurus "Lat Bik Hoa San" itu merupakan jurus ilmu permainan golok. Bahwa "Thiat Mo Lek sudah gunakan pedang dengan jurus ilmu golok, adalah karena ia sangat bernafsu sekali untuk menyerang musuh itu.

Yo Bok Lo menghadapinya dengan tangan kosong. Sekali kakinya berputar, ia lantas mainkan ilmu pukulan "Chit Poh Tui Hun Ciang Hoat". Tangan kiri merangsang untuk menampar golok lawan, berbareng tangan kanan menghantam dada Thiat Mo Lek. Jika senjata orang tertampar, Yo Bok Lo sedianya terus akan gunakan "Gong Chiu Jip Peh Jin", dengan tangan kosong merebut senjata lawan.

Tapi serta tenaga keduanya saling beradu, tangan Yo Bok Lo segera berdarah. Dan sekali ujung pedang Thiat Mo Lek diputar, kembali telapak kaki Yo Bok Lo tergurat luka. Untung tadi pedang Thiat Mo Lek sedikit condong karena kena ditampar lawan, jadi posisi pedangnyapun mendoyong. Jika tidak, telapak kaki orang she Yo itu tentu sudah kutung.

Dahulu sudah beberapa kali Yo Bok Lo bertempur dengan Thiat Mo Lek. Dan setiap kali tentu dialah yang menang angin. Maka mimpipun tidak dia bahwa dalam gebrak pembukaan saja ia sudah menderita luka. Kaget orang she Yo itu tak terkira. "Beberapa tahun tak berjumpa, ternyata kemajuan anak ini bertambah pesat sekali!" iiam-diam ia harus mengakui.

Tapi Thiat Mo Lek juga tak kurang gentarnya: "Bangsat tua ini umurnya sudah mendekati 70-an tahun, tapi ia sanggup menyambut serangan pedangku dengan tangan kosong. Jika iku tak menang dari tenaga kemudaanku, mungkin aku benar- benar bukan tandingannya!"

Waktu bertempur lagi, keduanya sama-sama tak berani memandang rendah. Karena menderita luka lebih dulu, Yo Bok Lo tetap yang rugi. Waktu Gou Beng Yang datang dengan pasukannya, ia lantas membantu Yo Bok Lo. Betapapun lihaynya Thiat Mo Lek, namun karena musuh banyak jumlahnya, jadi ia tetap terkepung.

Tadi Se Kiat sudah keluarkan perintah untuk mundur. Tapi karena melihat Thiat Mo Lek terkepung, orang-orang sebawahan lama dari keluarga Tou dan anak buah Kim Ke Nia, tak mau berpeluk tangan. Dengan gagah berani mereka menyerbu tentara negeri.

Tapi anak buah pasukan Gi Lim Kun itu sama mengenakan baju perang dari besi. Pula mereka itu sudah terlatih baik untuk berperang secara massal (gelombang besar). Sebaliknya kawanan orang gagah dari Lok-lim itu hanya mahir dalam ilmu silat perseorangan. Sekalipun setiap orang sanggup melawan sepuluh musuh, namun menghadapi gelombang serangan dari empat jurusan, mereka tetap kewalahan juga.

"Toan-hiante, lekas bantu Thiat-sioksiokmu keluar dari kepungan. Minta dia supaya suka memikirkan keadaan keseluruhannya dan lekas turut kita mundur!" buru-buru Se Kiat meneriaki Khik Sia.

Habis itu ia berseru keras: "Selama gunung masih menghijau, masakah takut tak memperoleh kayu bakar! Tang- locianpwe, To-toasiok, harap kalian pimpin kawan-kawan dari lain-lain tempat dan mundur kebelakang gunung. Shin cecu, pimpinlah anak buah Kim Ke Nia melawan dibagian tengah. Kay Thian Ho, kau dan aku yang memotong dibagian belakang!"

Sekalian orang gagah yang mendengar perintah itu, sama taat. Mereka anggap komando Bengcu baru itu tepat sekali. Tetapi masih ada beberapa orang yang bawa maunya sendiri, bertempur secara perseorangan. Lebih-lebih anak buah dari gunung Hui Hou San, Yan San Ce dan Kim Ke Nia. Mereka baik sekali dengan Thiat Mo Lek, seperti saudara sehidup semati. Mereka hanya curahkan perhatian untuk menolong Thiat Mo Lek. Perintah Se Kiat tadi di anggapnya sepi saja.

Melihat itu hati Se Kiat merasa kecewa dan girang. Kecewa karena ia masih kalah berwibawa dengan Thiat Mo Lek. Ya, maklum, karena baru saja menjabat Bengcu. Girang sebab ia mengetahui ciri kelemahan Thiat Mo Lek, yakni kekurangan 'toleransi' (kesabaran). Thiat Mo Lek masih  mudah dipengaruhi oleh rasa sentimen kemarahan. Ini bukan martabat dari seorang pemimpin besar. Selintas timbul dalam hati Se Kiat untuk melepas budi, maka begitu mencemplak seekor kuda tegap, ia lantas menerjang maju.

Anak buah Kim Ke Nia saat itu tengah di kepung pasukan Gi Lim Kun. Mereka dicerai-beraikan oleh tentara kerajaan itu sehingga tak dapat saling bantu membantu. Kesitulah Se Kiat menyerbu. Pakaian baja dari Gi Lim Kun berat dan tak tembus senjata tajam, tapi dengan permainan pedang yang lihay, Se Kiat selalu dapat menusuk tepat kebagian tenggorokan mereka yang tak terlindung itu. Dalam beberapa kejap saja robohlah berpuluh-puluh anggota Gi Lim Kun. Dengan begitu dapatlah Se Kiat menolong anak buah penyamun yang sudah tercerai berai itu.

"Bukankah kau ini Bo Se Kiat yang merampas kuda milik kerajaan?" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras. Menyusul seekor kuda putih menerjang tiba. Penunggangnya seorang opsir bermuka hitam. Orang dengan kudanya, merupakan suatu warna yang amat kontras sekali. Opsir itu bukan lain ialah kakak dari Ut-ti Lam, Liong-ki-to-wi Ut-ti Pak.

Serta saling merapat, Ut-ti Pak segera ayunkan piannya menyabet. Se Kiat berseru memuji dan balas menusuk dengan pedang. Waktu Ut-ti Pak hendak menangkis, secepat kilat Se Kiat putar arah pedangnya, menusuk kuda putih lawan. Jurus serangan itu disebut "Li Kong Sia Ciok" (Li Kong memanah batu). Ujung pedang menusuk kepala kuda.

Tapi Ut-ti Pakpun bergerak sebat sekali. Hampir pada waktu berbareng, iapun sudah balikkan pian menampar leher kuda Se Kiat, Kuda terjungkal roboh dan Se Kiat terlempar. Kini keduanya sama-sama tak berkuda lagi.

"Sayang, sayang! Kepandaianmu begitu hebat, mengapa mau jadi penyamun?" teriak Ut-ti Pak.

"Memang aku tak berhasratkan pangkat. Hal itu pernah kukatakan kepada adikmu!" sahut Se Kiat.

"Ya, pertempuranmu dengan adikku digunung Pak Bong San telah kuketahui. Terima kasih atas kemurahan hatimu kepadanya. Menurut kepantasan, seharusnya aku lepaskan kau, tapi aku masih ada sedikit ketidak puasan. Tempo hari dengan tangan kosong kau dapat merebut senjata pian adikku. Maka kini jika aku tak menempur kau sampai  beberapa puluh jurus, kau tentu menganggap ilmu permainan pian dari keluarga Ut-ti hanya sebegitu saja!" kata Ut-ti Pak.

Se Kiat mengucapkan beberapa kata merendah. Segera Ut- ti Pak mainkan piannya untuk mengurung tubuh Se Kiat. Terpaksa Se Kiat melayani dengan hati-hati. Ternyata permainan ilmu pian dari Ut-ti Pak itu jauh lebih lihay dari adiknya. Kalau sewaktu berhadapan dengan Ut-ti Lam. Se Kiat dapat menang dengan hanya memakai tangan kosong. Tapi sekarang walaupun menggunakan pedang, namun ia hanya dapat bermain seri saja melawan Ut-ti Pak. Kedua jago itu bertempur dengan, serunya. Kalau Ut-ti Pak beringas dan tangkas, adalah Se Kiat bermain dengan tenangnya. Sinar pedangnya seperti mata rantai yang melingkar-lingkar laksana hujan deras. Keduanya sama kuat dan gagah. Melihat jalannya pertempuran itu, diam-diam Se Kiat menjadi sibuk sendiri.

Disana Toan Khik Siapun mengamuk laksana banteng ketaton. Ia berlincahan dengan ginkangnya yang hebat. Menusuk kesana, menabas kesini. Pagar berlapis yang merupakan pasukan musuh itu, tak dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda itu. Setempo ia menyelinap masuk diantara barisan tentara, lain waktu ia berloncatan melampaui kepala para opsir musuh. Dalam beberapa kejap saja ia sudah berhasil menerjang masuk kedalam kepungan tentara yang memagari Thiat Mo Lek itu.

Didalam barisan yang mengepung Thiat Mo Lek itu terdapat Yo Bok Lo, Gou Beng Yang dan belasan busu kelas satu yang menjadi orang sebawahan Tian Seng Su. Menurut penilaian, pasukan pengepung itu jauh lebih kuat dari pasukan Gi Lim Kun.

Dalam suatu kesempatan waktu Toan Khik Sia melambung keudara, ia segera gunakan jurus "Gin Ho Sia Ing" atau Bima Sakti (sungai bintang) meluncurkan bayangan. Ujung pedangnya langsung mengancam Yo Bok Lo. Waktu Yo Bok Lo menghindar kesamping, terdengarlah dua kali jerit ngeri. Dua orang Busu yang berada dikanan-kiri Yo Bok Lo, sudah tembus tenggorokannya. Kiranya jurus Gin Ho Sia Ing itu mempunyai tiga gerakan, berisi tenaga penuh. Sinar pedang berobah menjadi lingkaran jaring yang tertebar. Dalam lingkaran seluas satu tombak persegi, musuh tentu akan termakan binasa. Lihaynya bukan kepalang.

Yo Bok Lo menggeram marah. Sekaligus ia menghantam kedua pelipis Khik Sia dengan sepasang tangan. Saat itu Khik Sia baru saja turun ketanah. Sudah tentu Thiat Mo Lek menjerit kuatir, cepat ia hantamkan pedangnya ketengah untuk menahan pukulan Yo Bok Lo itu.

Tapi ternyata Khik Sia dapat bergerak luar biasa sehatnya. Ia sudah secepat kilat menyerang tiga kali. Angin sambaran pedangnya menampar kemuka lawan. Tapi ternyata Yo Bok Lo itu seorang jago kawak yang kenyang pengalaman. Dergan tenang sekali, ia gerakkan kedua tangannya untuk membela diri dan menyerang. Dalam sekejap saja ia sudah dapat memecahkan serangan Khik Sia tadi.

Gou Beng Yang buru-buru menghampiri. "Lo Chiu Poan Kin" atau pohon tua melingkarkan akar, adalah jurus yang dimainkan Gou Beng Yang untuk menyapu kaki Khik Sia. Tetapi dengan berlincahan macam anak kecil main loncat tali, tiga kali serangan pian beruntun dari Gou Beng Yang itu selalu hanya menyambar lewat dibawah sepatu Khik Sia saja, Dalam pada itu Khik Sia telah berputar diri dan membentaknya: "Bagus, kau benar-benar kaum budak yang ganas, biar kubunuhmu dulu!"

Cik Ci Thian Lam atau lurus menuding ke arah langit selatan, adalah jurus yang ditusukkan Khik Sia. Ujung pedangnya menyusup kedalam lingkaran pian dan terus menusuk ke muka orang.

Gou Beng Yang tersipu-sipu gunakan gerak "lengkungkan pinggang menanam pohon liau". Sembari tekuk pinggang ia gelincirkan kakinya. Dengan susah payah barulah ia dapat lolos dari tusukan Khik Sia, Namun bagaikan bayangan melekat, Khik Sia memburu dan menyusuli puia dengan serangan yang bertubi-tubi. Beng Yang menjadi sibuk bukan buatan.

Sebagai Thong-leng dari pasukan Gwe Thok Lam, sudah tentu Beng Yang mempunyai kepandaian silat yang tinggi. Hanya karena pernah kecundang satu kali oleh anak muda itu, maka belum-belum ia sudah mempunyai rasa takut terhadap Khik Sia. Rasa takut merupakan halangan besar bagi orang yang tengah bertempur. Karena takut, permainannya menjadi tak wajar. Terhadap serangan Khik Sia itu, ia hanya dapat menangkis, sama sekali tak mampu balas menyerang.

Melihat itu Yo Bok Lo Buru-buru berteriak: "Gunakan Te Tong To dan Liu Sing Jui untuk menghadapinya!"

Te Tong To artinya ilmu permainan golok dengan bergelundungan ditanah. Sedang Liu Sing Jui adalah senjata bandringan yang di ikat dengan rantai. Te Tong To khusus untuk membabat kaki orang, sedang Liu Sing Jui menyambar- nyambar diudara untuk menghantam batok kepala musuh.

Ternyata dalam rombongan Busu itu, ada empat orang murid Yo Bok Lo. Berkat dilatih Yo Bok Lo, ada dua muridnya yang, mahir dalam ilmu Te Tong To dan dua orang lagi yang pandai menggunakan Liu Sing Jui. Terhadap musuh yang lihay ginkangnya, kedua senjata itu paling cocok digunakan.

Tapi ginkang Khik Sia terlalu tinggi untuk diserang oleh kedua senjata itu. Dari bawah golok tak dapat mengenai kakinya, dari atas Liu Sing Jui tak mampu menghantamnya. Tapi sekalipun begitu, Khik Sia terpaksa harus menjaga diri. Dan karena itu tekanan yang diderita Gou Beng Yang menjadi kendur juga.

Kini rasa takut Beng Yangpun mulai hilang. Tiang-pian atau ruyung panjang segera dikembangkan dengan hebat. Dibawah teriakan dan bantuan para Busu, kini ia berbalik menjadi menang angin.

Tiba-tiba dibarisan tentara negeri terbit kekacauan. Dua orang pemuda menerjang maju. Menyusul terdengar suara kelintingan. Seorang nona baju merah tampak berlarian datang. Itulah Lu Hong Jiu. Orangnya belum tiba, senjata rahasianya sudah melayang. Seperti telah disebutkan diatas, senjata rahasianya itu berupa kelintingan emas yang besarnya hanya seperti jari telunjuk. Jika tak digunakan, dipasang pada ujung bajunya sebagai perhiasan. Kini ia timpukkan kelinting- kelinting emas itu sebagai senjata rahasia. Suaranya berkelintingan menusuk telinga.

Timpukan Lu Hong Jiu bukan sembarang timpukan, melainkan mengarah jalan darah orang. Seketika beberapa orang Busu sudah bergelimpangan roboh.

"Celaka, Sip Hun Leng dari keluarga Lu!" beberapa Busu yang kenal akan kelintingan istimewa itu, segera berteriak kaget.

Mendengar itu paniklah barisan Busu. Mereka desak mendesak lari kian kemari untuk menyelamatkan diri.

Pada lain kejap, kedua pemuda tadipun sudah menerjang datang. Kiranya mereka bukan lain ialah Yak Bwe dan In Nio yang menyaru sebagai lelaki. Yak Bwe yang tiba lebih dulu, segera membabat kebawah. Salah seorang yang menyerang Khik Sia dengan ilmu golok Te Tong To tadi, segera tak berkutik lagi. Kini setelah berkurang tekanannya, Khik Sia segera kisarkan kaki dalam gerak "Ih Hing Hoan Wi" (pindah bentuk ganti tempat). Begitu sang kaki melangkah, orang satunya yang menyerang dengan Te Tong To tadi ikut terpijat remuk tulang punggungnya.

"Terima kasih!" Khik Sia berpaling kearah Yak Bwe seraya berseru. Dan saat itu Yak Bwe pun tengah memandangnya. Empat mata saling beradu.....

Khik Sia terkesiap. Rasanya ia seperti sudah pernah bertemu dengan "pemuda" itu, tapi lupa-lupa ingat ia dimana. Apalagi dimedan pertempuran yang dahsyat seperti kala itu, tak sempat lagi ia menggali ingatannya.

"Wut, wut," tiba-tiba terdengar bandringan menyambar kepala Khik Sia. Walaupun sekarang ia tak perlu kuatir lagi, namun tak boleh ia tinggal diam saja. Ia enjot tubuhnya keatas untuk menyambar rantai Liu Sing Jui. Sudah tentu orang itu tak dapat menandingi tenaga Khik Sia. Sekali dibetot, Liu Sing Jui itu terlepas dari tangannya. Setelah merebut Liu Sing Jui musuh, Khik Sia segera timpukkan kearah Liu Sing Jui musuh kedua yang tengah menyambar datang. "Trang," saking kerasnya hantaman Khik Sia, orang kedua yang menyerang dengan Liu Sing Jui itu sampai jungkir balik. Begitu merangkak bangun, cepat-cepat ia lantas ikut jejak kawannya untuk melarikan diri.

In Nio dan Yak Bwe lintangkan pedang untuk menyambuti sebatang pian Beng Yang. Dengan begitu dapatlah Khik Sia kesempatan untuk menghajar kedua penyerangnya yang menggunakan Liu Sing Jui tadi. Kemudian anak muda itu berputar diri dan menyerang Beng Yang kembali. Satu persatu saja sebenarnya Gou Beng Yang itu bukan tandingan Khik Sia, apa lagi ditambah dengan In Nio dan Yak Bwe berdua.

Cret, pantat Beng Yang termakan sebuah tusukan pedang. Tanpa banyak pikir lagi, orang she Gou itu segera angkat kaki seribu.

"Bagus, Toan-siauko, ilmu pedangmu sungguh hebat. Jurus Kim Cian Tok Kiap tadi indah sekali!" tiba-tiba Lu Hong Jiu kedengaran memuji. Ternyata nona itupun sudah dapat menerjang kedekat Khik Sia.

Tadi waktu pertama kali mendengar mulut Khik Sia mengucapkan terima kasih kepadanya, perasaan hati Yak Bwe seperti dimabuk sarinya madu. "Apakah ia belum mengetahui diriku? ahh, kali ini kau tentu tahu betapa kesetiaan hatiku kepadamu!" pikirnya.

Tapi kini demi Lu Hong Jiu muncul kedekat Khik Sia dan bahu merapat bahu bertempur melawan musuh, sejenakpun Khik Sia tak mau berpaling kemari lagi. Hati Yak Bwe mendongkol sekali.

"Bagus, kau pura-pura tak kenal padaku!" diam-diam ia mendamprat. Namun saat itu masih dalam pertempuran,  maka Yak Bwepun tak dapat menumpahkan kemarahannya dan terpaksa hanya mengikut dibelakang anak muda itu untuk menggempur musuh.

Hong Jiu kembali memetik 3 buah kelinting emas. Sekali ayunkan tangan, ketiga kelinting itu segera melayang merupakan bentuk huruf "V". Yang atas menghantam jalan darah Thay Yang Hiat dipelipis Yo Bok Lo, yang ditengah mengarah jalan darah Hian Ki Hiat didadanya dan yang bawah mengancam jalan darah Hoan Thiam Hiat diujung paha orang itu.

Tetapi iblis she Yo itu hanya tertawa dingin saja: "Ha, mutiara sebesar biji beras, masakah dapat memancarkan sinar terang!"

Dua buah jari tangannya dijentikkan,  kakinya ditendangkan, dua buah kelinting yang melayang kearah pelipis serta paha segera terpental balik. Sedang kelinting yang menghantam kedadanya dibiarkan saja.

Tring, kelinting itu membentur dada tapi bukan Yo Bok Lo yang roboh melainkan kelinting itu sendiri yang membal balik. Kiranya Yo Bok Lo telah meyakinkan ilmu lindung Kim Ciong Toh. Jangan kata hanya sebuah ketinting kecil, sekalipun pedang dan lain-lain senjata tajam, tak nanti mampu melukai dirinya.

Kalau tadi Hong Jiu mengirim ketiga buah ketintingnya dalam bentuk huruf V (satu di atas, dua dibawah), pun kini Yo Bok Lo mengirimnya kembali juga dalam bentuk huruf tersebut. Tapi bedanya, timpukan Hong Jiu tadi hanya mengeluarkan bunyi kelintingan, adalah sekarang tamparan  Yo Bok Lo itu sampai menbuat kelinting-kelinting itu bersuara riuh sekali. Entah berapa kali lipat kerasnya dari timpukan sinona tadi.

Selagi Hong Jiu masih meragu tak berani lekas-lekas menyambuti kelinting itu, dengan tangkas sekali Khik Sia sudah ulurkan tangannya dan menyanggapi terus diterimakan kepada yang empunya. Wajah Hong Jiu kemerah-merahan, serta merta ia berbisik mengucapkan terima kasih.

Yak Bwe yang mengikuti dibelakang mereka, tahu akan kejadian itu. Ia merasa girang tapi agak kecut hatinya. Girang karena Hong Jiu sudah memperlihatkan 'isinya' yang sebenarnya. Nyata kepandaian nona itu tak jauh bedanya dengan dirinya. Tapi mendongkol karena Khik Sia telah menolong nona itu dengan mesranya.

Sebenarnya senjata rahasia kelinting emas dari Lu Hong Jiu itu termasuk golongan kelas satu. Tapi celakanya, kali ini ia bertemu dengan Yo Bok Lo. Ilmu Kim Ciong Toh yang diyakinkan orang she Yo itu merupakan ilmu penunduk dari senjata rahasia termasuk yang dimiliki Hong Jiu itu.

Namun walaupun tak takut akan senjata kelinting dari Hong Jiu, Yo Bok Lo tetap gentar akan serangan pedang Thiat Mo Lek. Disaat ia bergerak untuk menghalau serangan kelinting tadi. Thiat Mo Lek sudah membarengi dengan sebuah  tabasan. Hampir saja ia kena tertabas. Adalah setelah pontang panting berjungkir balik sampai tiga kali, barulah ia dapat menyelamatkan diri.

Thiat Mo Lek hendak mengejarnya tapi Khik Sia segera meneriaki: "Thiat-toako, Se Kiat menyuruhmu kembali. Jika kau tak mau balik, saudara-saudara kita tak mau mundur!"

Thiat Mo Lek tersadar, serunya: "Ya, benar, tak boleh karena diriku seorang sampai membikin celaka semua saudara-saudara!"

Ia berputar diri untuk membuka jalan ke luar. Karena Yo Bok Lo dan Gou Beng Yang sudah menyingkir, tak ada lain orang lagi yang mampu menahan terjangan Thiat Mo Lek. Dalam beberapa kejap saja, kepungan dari kawanan Busu itu telah menjadi bobol. Pada saat itu, Se Kiat dan Ut-ti Pak telah bertempur sampai 30 jurus lebih. Melihat Thiat Mo Lek sudah meloloskan diri, Se, Kiat menjadi sibuk. Ut-ti Pak selalu mendesaknya dengan seru.

"Awas, terimalah pianku!" bahkan tiba-tiba Ut ti Pak itu membentak keras seraya menyerang hebat. Ternyata ia mainkan salah satu jurus yang paling ganas dari ilmu permainan pian Cui Mo Pian Hwat, yakni yang disebut Pat Hong Ih Hwe Tiong Ciu atau hujan dan angin dari delapan penjuru bertemu di Tiong Ciu. Ribuan sinar pian, benar-benar seperti badai menderu, gelombang mendampar.

"Bagus!" seru Se Kiat. Ujung pedang dijung katkan keatas, tiba-tiba ia melambung keudara dan gunakan jurus Tiau Thian Cu Hiang atau mendongak kelangit membakar dupa.

Sinarnya segera berobah menjadi seperti rantai, memagut- magut kedalam sinar pian. Krak... bret.....terdengar dua kali suara. Lengan baju Se Kiat robek terkena pian, sedang leher baju Ut-ti Pakpun berlubang termakan pedang Se Kiat. Dua- duanya menderita kerugian alias seri.

Ut-ti Pak tertawa gelak-gelak, serunya: "Kau benar-benar lihay. Lain kali kita bertempur lagi sampai 300 jurus!"

Kiranya karena tahu Thiat Mo Lek sudah lolos, maka Ut-ti Pakpun tak mau melibat anak muda itu. Karena Cin Siang dan Ut-ti Pak sengaja mengalah, maka dapatlah Se Kiat daa Thiat Mo Lek bergabung menjadi satu lagi. Beberapa kelompok anak buah penyamun yang masih terkepung, dapat juga ditolong mereka.

Sekalipun diam-diam Cin Siang dan Ut-ti Pak memberi kelonggaran pada Thiat Mo Lek, namun mereka tak kuasa mencegah pasukan Gi Lim Kun yang menggempur barisan penyamun. Anak buah penyamun itu tidak menerima didikan kemiliteran, mereka bertempur sambil mundur. Digempur hebat oleh pasukan Gi Lim Kun, barisan penyamun itu berceceran kalang kabut. Tidak lagi mereka merupakan suatu formasi kesatuan, melainkan masing-masing sama lari pontang panting menyelamatkan jiwanya sendiri-sendiri. Untung masih ada Thiat Mo Lek dan beberapa tokoh lain yang melindungi, hingga kerusakan yang dideritanya tidak begitu besar.

Pada saat itu kawanan liaulo dari markas Kim Ke Nia sudah menghilang semua. Sebelum mundur, dengan memimpin beberapa anak buahnya, Shin Thian Hiong membakari belasan tempat didalam dan diluar markasnya. Api cepat berkobar dengan hebatnya. Thian Hiong mempunyai dua maksud dengan melepas api itu. Pertama, jangan sampai tentara negeri mendapatkan barang-barang yang berada dimarkas. Kedua, kebakaran itu akan dapat menghalangi serbuan mereka.

Thiat Mo Lek, Se Kiat dan lain-lainnya bertugas untuk melindungi anak buahnya. Setelah anak buah mereka sudah sama lolos, barulah mereka mundur. Thiat Mo Lek memandangi api yang berkobar-kobar itu dengan hati kecewa.

"Akulah yang menjadi gara-garanya hingga markas Shin- toako menjadi korban," katanya.

Se Kiat menghiburinya: "Api perjuangan kita takkan padam. Begitu angin musim semi meniup tentu akan berkobar lagi. Asal kita dapat bersatu padu, masakah kelak dikemudian hari kita takkan punya pangkalan yang lebih megah lagi. Mengapa toako lekas berputus asa?"

Thiat Mo Lek mengiakan.

Saat itu api makin besar dan menjalar luas. Hutan yang terletak dimuka markas itu, dalam beberapa kejap tentu akan terjilat. Itu berarti jalanan akan putus. Tiba-tiba mata Thiat Mo Lek tertumbuk akan pemandangan yang mengejutkan. Jago tua Ban Liu Tong bersama 7-8 muridnya masih terkepung tentara negeri. Tempat mereka bertempur itu ialah disebuah tikungan gunung, maka tadi Thiat Mo Lek dan kawan- kawannya tak melihat mereka.

Ban Liu Tong menggunakan senjata Hou Thau Jiang (tombak berkepala harimau) yang beratnya tak kurang dari 50-an kati. Usianya sudah hampir tujuh puluhan tahun, namun masih begitu gagah sekali. Sudah belasan serdadu Gi-lim-kun yang binasa ditangan jago tua itu. Melihat itu Cin Siang menjadi murka. Segera ia keplak kudanya menghampiri,

"Celaka!" Thiat Mo Lek mengeluh kaget. Cepat ia menyambar busur besi dari seorang thaubak, terus lari kesana.

Kuda tunggangan Cin Siang itu pesat sekali. Dalam sekejap saja, sudah tiba ditikungan. Belum lagi orangnya tiba, sepasang 'kan'-nya sudah menghantam. Ban Liu-tong coba menangkis dengan tombaknya. Cin Siang juga memiliki tenaga pembawaan yang luar biasa kuatnya. Tenaganya tak dibawah Thiat Mo Lek. Sudah tentu jago tua she Ban itu tak kuat menahannya. Krak, begitu berbentur, ujung tombak segera putus. Kan ditangan kiri Cin Siang didorongkan dan senjata ditangan kanan menghantam lagi.

"Jangan mencelakai jiwa Ban lo-enghiong!" tiba tiba terdengar Thiat Mo Lek berteriak keras. Menyusul ia lepaskan sebatang anak panah. Anak itu menderu-deru menerobos ditengah tengah tombak dan Kan. Itu berarti seperti melerai mereka.

Cara ilmu memanah yang liehay disertai tenaga yang luar biasa hebatnya itu, telah menimbulkan kegemparan. Sampaipun kawanan tentara negeri turut bersorak memuji.

Melihat lawan tua, yang sudah beruban itu masih dapat menyambut serangannya, Cin Siangpun tak tega membunuhnya. Apalagi Thiat Mo Lek turut meminta kelonggaran, maka ia memutuskan untuk sekali lagi 'membeli hati' sahabatnya ( Thiat Mo Lek ) itu. Cin Siang pura-pura hendak menunjukkan bahwa kudanya kaget karena bidikan panah tadi, maka ia lantas jepitan kedua kakinya keras-keras kepinggang kuda. Binatang itu sudah terlatih baik. Begitu pinggangnya dijepit oleh sang tuan, ia lantas berputar dan mencongklang keras kelain jurusan. Dengan begitu, Ban Liu- torig dan muridnya terhindar dari kehancuran.

Kini jago tua itu bersama anak muridnya segera berjuang keras untuk mengundurkan anak buah pasukan Gi-lim-kun. Tapi celakanya dari arah belakang, pasukan  Gwe-thok-lam dari Tian Seng-supun menyerang, pasukan itu dipimpin oleh tangan kanan Gou Beng-yang yang bernama Pek Siat.

Ban Liu-tong menjadi beringas. Tombaknya yang kutung separoh tadi, kini digunakan sebagai toya (tongkat). Sepasang golok dari Pek Siat kena dihantam jatuh. Tapi tiba-tiba jago tua itu menguak, Ia muntahkan segumpal darah segar. Kiranya sewaktu menyambuti hantaman Cin Siang, ia sudah terluka dalam. Beberapa anak muridnya buru-buru menyanggapinya. Sudah tentu Tiat Mo Lek tak dapat berpeluk tangan mengawasi kejadian yang mengenaskan lu. Untuk kedua kalinya, ia kembali menerjang masuk kedalam barisan tentara negeri.

Dalam medan pertempuran, yang masih berlangsung hanyalah partai Ban Liu tong yang terkepung itu saja. Lain-lain rombongan penyamun ada yang sudah mundur kebelakang gunung, ada yang lolos dari kejaran musuh. Di sana sini tampak orang berserabutan lari kian kemari. Suasana digunung situ jauh berlainan dengan sebelum pasukan negeri menyerbu keatas.

"Toan-hiante, silahkan kau berangkat dulu. Aku hendak menyongsong Ban lo-enghiong. Nanti aku segera menyusul!" kata Se-kiat.

"Aku mau ikut!" sahut Khik-sia. "Ah, kawan kita masih terkepung hanya beberapa orang saja. Tak usah kita banyak buang tenaga. Lu lihiapdan beberapa saudara itu baru pertama kali ini datang ke Kim-ke- nia, mereka tentu tak faham jalanan disini. Silahkan kau pimpin mereka meloloskan diri dulu. Jangan kuatir, Toan hiante, sekalipun musuh berjumlah besar tetapi belum tentu mereka mampu menghadang aku dan Thiat toako!" kata Se- kiat.

Mendengar itu, terpaksa Khik-sia mengiakan: "Baiklah, kutunggu kalian sebelah muka sana."

Didalam lautan api yang menggenangi puncak Kim-ke-nia itu Khik-sia pimpin kawan2nya untuk mencari jalan keluar. Dengan mengitari lautan api itu, ia ajak rombongannya kebelakang gunung. Pasukan Gim-lim-kun coba mengejar, tapi dibikin kocar kacir oleh senjata rahasia yang ditimpukkan Lu Hong-jiu. Pohon-pohon didalam hutan yang termakan api itu, tumbang bergelundungan bebawah. Ini merupakan rintangan bagi musuh. Ditambah pula dengan api yang meranggas maju, pasukan Gi-lim-kun itu terpaksa hentikan pengejarannya.

Setelah terlepas dari pengejaran, rombongan Toan Khik-sia tiba disebuah selat yang terletak dibagian belakang dari gunung itu. Waktu menoleh kebelakang, dilihatnya api menjulang kelangit, tetapi hiruk pikuk teriakan orang sudah tak kedengaran lagi:

Memandang sejenak kepada rombongannya Hong jiu tertawa: "Ha, ha, kita semua berubah menjadi setan hitam ini!"

Kiranya karena menerobos disebelah lautan api. muka orang orang itu menjadi hitam terkena asap. Kebetulan didekat situ ada sebuah aliran sungai. Khik-sia segera ajak kawan2nya:

"Ayuh, kita cuci muka dulu kesana, kemudian kita tunggu kedatangan Thiat toako dan Bo-heng disini!" Disungai situ terdapat dua buah batu yang dapat digunakan untuk tempat membasuh muka. Dasar anak perempuan, maka Hong-jiu ih yang lantas membersihkan mukanya.

Khik-sia duduk diatas salah sebuah batu dan melambaikan tangannya kepada In-nio dan Yak bwe. "Ai, disini masih ada tempat. Siapa diantara kalian yang mau kemari, silahkan, jangan sungkan. Kita semua adalah kaum lelaki, tak usah rikuh2."

Ternyata kedua batu itu saling berdekat. Jadi kalau orang duduk membasuh muka, tentu akan duduk saling merapat. Karena itu Khik-sia tadi tak mau bersama cuci muka dengan Hong-jiu.

"Fui, berapakah usiamu, berani kau memberi ceramah tentang pergaulan wanita pria? Kuanggap kau ini hanya seorang adik kecil saja. Tetapi sebaliknya kau tak berani bersama aku mencuci muka!" Hong-jiu mendengus tertawa.

"Bukannya tak berani, melainkan biar kau lebih leluasa. Mengapa kau tak berterima kasih kepadaku?" bantah Khik-sia.

"Huh, selalu kau ini mengatakan aku masih kecil saja. Toh kalau berdiri, aku lebih tinggi setengah kepala dari kau!"

Yak-bwe hanya tertawa dingin mendengar pembicaraan mereka itu.

"Hai, saudara yang itu! Muka kita semua seperti pantat kuali, jangan mentertawakan orang. Ayuh, sini lekas cuci mukamu?" Tiba tiba Khik sia meneriaki Yak-bwe.

Khik-sia baru berusia tujuh belas tahun, jadi sifat kekanak- kanakannya masih belum hilang. Ia kira Yak-bwe tadi menertawakan orang orang,

Sebaliknya telinga Hong-jiu yang tajam, dapat menangkap nada tertawa Yak-bwe tadi agak aneh. Ia menjadi kurang senang dan deleki mata kepada Yak-bwe. Yak-bwe merasa mendongkol terhadap Khik sia, In-nio buru2 membisikinya: "Itu Khik-sia memanggilmu, pergilah!"

"Pergi ya pergi, masakah aku takut kepadanya!" jawab Yak- bwe dengan aseran.

Khik-sia mendengar juga ucapan Yak-bwe itu. Diam-diam ia merasa heran: "Omongan orang ini aneh benar. Kusuruh cuci muka bersama aku, masakah mengigau tidak takut segala?"

Hanya karena dalam medan pertempuran tadi pemuda itu membantu sekuat tenaganya, apa lagi ia belum mengetahui siapakah sebenarnya pemuda itu, maka Khik-sia hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat baru saja. Walaupun hatinya merasa heran, namun ia sungkan untuk meminta keterangan juga.

Begitulah kedua anak muda itu duduk berjajar dibatu itu. Sambil cuci muka, Khik-sia bertanya. "Terima kasih atas bantuan saudara tadi. Tapi maaf, aku belum mengetahui nama saudara yang mulia ini? Dan saudara ini dari golongan mana?"

Saat itu muka mereka sudah tercuci bersih. Kecantikan Yak-bwe tampak memancar jelas. Saking kagetnya Khik-sia sampai melonjak-

"Kau adalah "

Tak tahu Khik-sia hendak mengucapkan sebutannya. Maka sampai pada kata-kata adalah mulutnya hanya ternganga saja. Jantungnya berdetak keras, darahnya mengalir kencang.

"Siapakah dia?" buru-buru Hong-jiu bertanya.

Cepat cepat Khik-sia katupkan mulut lalu berseru keras: "Dia adalah toa siocia dari Sik Ko, ciat-to-su Lo-ciu. Dia menjadi menantu kesayangan dari Gui pok ciat to su Tian Seng-su!" Hong-jiu itu seorang nona yang beradat keras. Begitu mendengar keterangan itu, segera naik pitam. Bentaknya: "Hem, kiranya kaulah perempuan hina ini yang menjadi cumi2 dalam selimut!"

Kejadian yang tak terduga itu hampir saja dada Yak-bwe meledak. Kontan ia balas mendamperat: "Kau sendirilah perempuan hina yang tak tahu malu!"

Wut, ia serentak menampar mulut Hong-jiu. Tapi ternyata tenaga Hong-jiu lebih kuat. Sekali ia dorongkan kedua tangan, Yak bwe terhuyung2 kebelakang sampai tiga langkah. Hampir saja tergelincir jatuh kedalam sungai.

Tring, Hong jiu cepat mencabut liu yap to (pisau belati  yang tipis seperti daun pohon liu), lalu memaki pedas: "Pengkhianat yang bernyali besar, jika kau tidak dibunuh sungguh membikin kecewa saudara-saudara kita yang gugur dalam pertempuran tadi!"

Yak bwe tertawa mengejek: "Ya, kalian begitu bernapsu hendak mengambil jiwaku supaya cita cita kalian dapat terkabul, bukan? Hemm tidak semudah itu kawan?"

Tring, iapun segera melolos pedang untuk menyambut serangan Hong-jiu. Yak-bwe sudah mewarisi seluruh ilmu pedang dari Biau Hui sin-ni. "Sret, sret, sret" tiga kali serangan di lancarkan berturut-turut. Dirangsang oleh api kemarahan, serangan Yak-bwe itu luar biasa dahsyatnya.

Kepandaian istemewa dari Hong-jiu ialah terletak dalam ilmu menggunakan senjata rahasia. Sekalipun dalam ilmu permainan golok ia juga tak lemah, namun tetap kewalahan juga menghadap serangan Yak-bwe yang sedahsyat itu! Seketika situasinya menjadi berobah. Dari fihak penyerang, kini Hong-jiu menjadi fihak yang diserang. Hampir saja ia tergelimpang jatuh kedalam air karena didesak Yak bwe. "Toan Khik-sia, mengapa kau diam saja? Terhadap seorang pengkhianat, mengapa kau masih tetap memegang peraturan Kang ouw?"

Nyata ia telah salah sangka. Melihat Khik sia hanya diam saja tak mau memberi bantuan padanya, ia kira anak muda itu enggan main keroyok.

Khik sia gelisah bukan main. Waktu mendengar teriakan Hong jiu tadi, ia gelagapan. "Ya, kali ini kenapa pasukan Gwe tok lam dan Tian Se.ng-su dapat bergabung dengan pasukan Gi lim kun menyerang kemari? Dengan mata kepala sendiri aku pernah melihat ia tengah bergandengan tangan dengan mesra sekali bersama lelaki Tian Sengsu. Hm, hari ini ia berani menyelundup ke Kim ke nia. Jika bukan seorang cumi2, paling tidak ia itu seorang musuh juga! Tali pertunangan siang2 sudah ku putuskan perlu apa aku harus memberatkannya lagi?"

Berpikir sampai disitu, Khik sia segera mengambil ketetapan. Tepat pada saat iiu, terdengar suara "bret". Baju Hong jiu kena tertembus oleh ujung pedang Yak bwe. Kini nona yang tersebut dimuka itu ongkang2 dengan satu kakinya ditepi sungai, tubuhnya bergoyang goyang hendak jatuh. Yak bwe tak mau kasih hati. Waktu ia hendak melancarkan serangan lagi untuk mendesak jatuh kedalam sungai, tiba tiba ada serangkum angin keras menyambar. Kiranya Khik sia sudah lantas loncat maju. Dengan gong chiu jip peh jim (tangan kosong) merebut pedang Yak bwe.

Yak bwe makin berkobar amarahnya.

"Bagus Toan Khik sia, bunuhlah aku!" teriaknya. Dengan kalap ia menusuk anak muda itu.

Kepandaian Khik sia sebenarnya jauh lebih lihay dari nona itu. Tetapi karena serangan Yak Bwe itu keliwat dahsyatnya, Khik Sia terpaksa tak dapat memilih lain jalan lagi. Ia harus melukai Yak Bwe atau ia akan gagal merebut senjatanya. Akhirnya ia terpaksa keraskan hati dan gunakan Kim Kong Ciang (pukulan tenaga raksasa) untuk menampar. Jika sampai kena, Yak Bwe pasti akan terluka parah.

Tangan Khik Sia sudah menempel pada kulit Yak Bwe. Sewaktu hendak melancarkan lwekangnya, tiba-tiba pikiran Khik Sia terlintas.

"Benar, aku telah putus tunangan dengannya, tapi ayahnya telah melepas budi besar kepada keluargaku. Jika aku sampai melukainya, di alam baka ayahku tentu akan menyesali perbuatanku."

Secepat berpikir begitu, secepat itu pula ia sedot kembali lwekangnya. Sekalipun begitu, angin pukulannya tadi telah membuat tubuh Yak Bwe terhuyung juga. Saat itu Hong Jiu sudah dapat memperbaiki posisinya. Sret, ia mengisar maju dan ayunkan goloknya. Karena saat itu Yak Bwe sedang terhuyung, jadi ia tak sempat lagi untuk menangkis. Untung dalam detik-detik berbahaya itu, dengan sebat sekali Khik Sia segera loncat kemuka, tepat menghadang ditengah tsngah kedua nona itu. Disatu fihak ia menahan serangan golok Hong Jiu, di lain fihak ia mendorong perlahan-lahan hingga Yak Bwe tertolak mundur beberapa langkah.

Caranya ia menolong Yak Bwe itu pintar sekali. Loncat sembari gerakan tangan tadi, dilakukan berbareng. Sepintas pandang tampaknya sembari memburu Yak Bwe dan menghantamnya. Sudah tentu Hong Jiu tak melihat akal si anak muda yang liehay itu. Pun ia tak menyangka sama sekali, bahwa Khik Sia akan melindungi nona yang dianggapnya sebagai cumi-cumi itu.

Salah faham digedung Tian Seng-su tempo hari itu, hanya Khik Sia sendiri yang mengetahui. Dan salah faham itu hanya anggapannya sendiri saja. Yak Bwe sama sekali tak merasa, bahwa tindakannya untuk menolong anak muda itu, malah dianggap menyakitinya. Kalau Yak Bwe sendiri saja tak merasa, apa lagi In-nio. Melihat perobahan sikap Khik Sia yang tak terduga itu, In-nio menjadi kelabakan seperti semut diatas kuali panas.

"Ia sudah mengenali adik Bwe, tapi mengapa berbalik muka? Apakah ia sungguh sudah berbalik hati kepada adik Bwe?" pikirnya dengan cemas.

Baru ia berpikir begitu, disana kedengaran Yak Bwe berseru marah. "Sungguh bagus perbuatanmu! Baiklah, aku mengalah supaya kalian dapat melaksanakan idam idamanmu. Mulai saat ini, aku tak sudi melihat tampangmu seorang yang tak kenal budi itu!"

Begitu berputar tubuh, Yak Bwe lantas lari pergi......

"Yak Bwe, Yak Bwe! Ai, kalian seharusnya bicara baik-baik, mengapa bertengkar begitu?" In-nio terkejut dan cepat-cepat meneriakinya.

"Bukankah kau sendiri melihat, dia begitu tipis budinya, perlu apa banyak bicara lagi? Ayuh kita pergi saja!" sahut Yak Bwe.

In-nio menjadi serba salah. Ia tak mampu menasehati tapipun enggan ikut Yak Bwe. Ia percaya diantara kedua anak muda itu terjadi suatu kesalahan fahaman. Tapi dalam saat- saat itu iapun bingung, jadi tak dapat memberi penjelasan pada Khik Sia.

Waktu mendengar kata-kata yang terakhir dari Yak Bwe tadi, Hong Jiu menjadi jengah dan gusar.

"Hai, perempuan siluman, kau mengaco belo apa itu?" bentaknya dengan marah sekali. Lalu diambilnya dua buah kelinting lalu mengejar Yak Bwe dan terus menimpuknya.

"Sudahlah, sudahlah, biarkan dia pergi!" seru Khik Sia seraya lontarkan dua buah Thiat Lian Cu. Dengan tepat sekali Thiat Lian Cu itu dapat menghantam jatuh kedua kelinting Hong Jiu. Hong Jiu tertegun, serunya: "Hai, mengapa kau malah hendak mengeloni seorang pengkhianat?"

Seorang thaubak yang kebetulan berada didekat situ, waktu mendengar suara ramai2 tangkap pengkhianat, buru- buru putar kudanya mengejar Yak Bwe. Tanpa banyak bicara, ia lantas tusukan tombaknya.

Yak Bwe saat itu sedang dirangsang kemarahan. Ia sambar tombak thaubak itu terus digelandangnya kebawah. Begitu thau-bak itu jatuh, Yak Bwe segera enjot tubuhnya loncat kepunggung kuda. Kuda itu adalah salah seekor kuda milik Gi Lim Kun yang dirampas Se Kiat dahulu. Begitu duduk dipunggung kuda, Yak Bwe lantas mencongklang pesat. Waktu Hong Jiu memburu datang, Yak Bwe sudah jauh sekali.

Sekalipun Hong Jiu itu gampang naik darah tapi ia seorang nona yang cerdas. Saat itu kemarahannya sudah mulai reda. Seketika timbullah sesuatu dalam pikirannya, tanyanya: "Toan hiante, bilanglah terus terang. Bukankah nona tadi mempunyai hubungan denganmu?"

Wajah Khik Sia menjadi merah, lidahnya terkait tak dapat berkata, untung In-nio menghampiri dan tertawa tawar: "Kau tanyakan hubungan mereka? Mereka hanya baru berjumpa dua tiga kali saja, maka hubungannyapun tak begitu erat. Tetapi mereka itu sejak kecil sudah dijodohkan!"

Kejut Hong Jiu tak terkira. Ia membelalakan matanya memandang Khik Sia.

"Lu cici, jangan percaya omongannya!" Khik Sia membantah dengan gugup.

In-nio tertawa mengejek. "Kecewalah kau sebagai puteranya Toan tayhiap, peribudimu begitu tipis! Apa salahnya Yak Bwe? Mengapa kau tak mengakuinya?" "Jangan mengoceh tak keruan! Ia sudah jadi menantu perempuan dari keluarga Tian, dengan aku tak ada hubungan lagi!" Khik Shia berjingkrak.

In-nio marah juga, ia balas mendamprat: "Kau sendiri yang ngaco belo! Bilakah ia jadi menantu keluarga Tian!"

"Bingkisan kawin dari keluarga Tian, akulah yang merampasnya. Siapakah orang loklim yang tak mengetahui peristiwa itu?" Khik Sia tak mau kalah.

Jawab In-nio: "Hal itu adalah urusan Sik Ko dan Tian Seng- su, tetapi Yak Bwe tak setuju. Yang hendak dinikahkan Sik Ko ialah puterinya yang bernama Sik Hong Sian, tapi kini Sik Hong Sian itu sudah tak ada lagi. Yang ada sekarang adalah Su Yak Bwe, puteri mendiang dari Su Ih Ji! Su Yak Bwe bukanlah Sik Hong Sian. Apakah kau masih belum jelas?"

Kini Khik Sia menjadi bimbang. Ditatapnya In-nio dan bertanyalah ia.

"Siapa kau?? Apakah kau tahu akan urusan ini?"

"Tak perlu kau tanya siapa aku ini. Lebih dulu jawablah pertanyaanku, kau mau mengakui atau tidak bakal isterimu itu?" In-nio balas bertanya.

Tiba2 Hong Jiu menyeletuk: "He.. mengapa kau begitu jelas akan urusan orang? Calon isteri Khik Sia, mengapa kau diberitahukan segala2nya? Mungkin hubunganmu baik sekali dengan dia, bukan?"

Pada saat itu In-nio masih menyaru jadi seorang pria. Bukan saja Hong Jiu, pun Khik Sia juga curiga. Tapi In-nio memang sengaja hendak mempermainkan mereka, Ia menyahut sambil tertawa: "Sudah tentu aku erat sekali hubungannya dengan dia. Paling sedikit tak kalah dengan hubunganmu dengan Khik Sia!" Selama Hong Jiu mengangkat nama didunia persilatan sebagai seorang lihiap (pendekar wanita), belum pernah dia diejek orang seperti itu. Serentak marahlah ia

"Bagus, karena kau baik sekali dengan dia, coba jawablah. Ia seorang anak perempuan dari Ciat-to-su, apa perlunya menyelundup kedalam sarang penyamun? Kau seharusnya tahu akan hal itu. Toan siau hiap, apakah kau masih perlu minta keterangan lagi tentang perbuatan khianat itu?"

In-nio marah sekali: "Memang pertama kali membuka mulut, kalian sudah mencap orang sebagai cumi2, nah, perlu apa minta penjelasan lagi?"

Saat itu Khik Shia tak tahan lagi, ia berseru: "Siapa kau?

Jika tetap tak mau mengaku, aku, aku. "

"Kau mau apa?" tukas In-nio dengan sikap menantang.

Baru Khik Sia hendak mengatakan bahwa ia nanti terpaksa akan bertindak, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda riuh mendatangi. Ternyata yang datang adalah Thiat Mo Lek dan Se-kiat. Malah masih jauh, Se-kiat sudah kedengaran berteriak: "Hai mengapa kalian ribut-ribut itu?"

Setelah berhasil menolong Ban Liu Tong, kedua jago itu terpaksa harus berjalan memutari lautan api dan rintangan- rintangan yang malang melintang dijalanan. Maka saat itu barulah mereka dapat tiba ditempat Khik Sia menunggu.

Khik Sia tersentak girang. Cepat ia lari menyongsong.

"Bo toako, kau adalah seorang bengcu. Urusan ini kuserahkan padamu!" serunya.

"Urusan apa?" tanya Se-kiat.

"Ada dua orang yang kami curigai sebagai cumi-cumi musuh. Yang seorang sudah melarikan diri, yang seorang masih disini. Ini, inilah orangnya. Apakah kau ingin menanyainya?" kata Khik Sia. Se-kiat terkesiap, serunya: "Yang mana melarikan diri? Astaga! Jadi kau tak mengetahui siapa dia itu? In-nio, adik Yak Bwe tentu sungkan mengatakan, mengapa kau tak mau mewakilinya menjelaskan?"

"Sudah kuberitahukan tetapi mereka tak mau mengakui perjodohan itu, apa dayaku?" In-nio membuat pembelaan.

Mendengar itu kini Se-kiat mendamprat Khik Sia: "Toan hiante, kiranya kaulah yang salah. Mengapa kau tak mau mengakui dia?"

Khik Sia menjadi gelagapan, ia menjerit:

"Bo toako, kau tak tahu, dia bukan orang golongan kita.

Bagaimana aku dapat menerimanya?"

Tadi sewaktu mendengar Se Kiat memanggil nama In-nio, Thiat Mo Lek merasa tidak asing lagi. Tapi sama sekali ia tak teringat bahwa In-nio itu adalah puteri dari Sip Hong. Ia menghampiri nona itu dan bertanya:

"Siapakah nama saudara? Dimanakah kita pernah berjumpa?"

"Ya, benar, bukankah kemarin kita sudah berjumpa? Ingatkah bahwa aku sudah memberitahukan namaku?" sahut In-nio.

"Tidak! Kemarin kau memakai lain nama. Dan kemarin kau katakan dahulu kita belum pernah bertemu muka. Rupanya jika bukan kau yang berbohong, akulah yang jelek ingatanku. Saudara, apakah kau tak mau menganggap Thiat Mo Lek sebagai saudara?" kata Thiat Mo Lek.

In-nio tertawa mengikik. Sret, cepat ia mencabut kain pembungkus kepalanya dan seuntai rambut hitam segera menjulai terurai.

"Ong toako, lupakah kau padaku?" serunya. Khik-sia dan Hong Jiu terbeliak kaget. Mereka tak mengira sama sekali bahwa pemuda ang mengajak berbantah tadi ternyata seorang gadis. Dan lebih terperanjat lagi mereka demi mendengar nona itu memanggil 'Ong toako' kepada Thiat Mo Lek.

Jika Khik Sia dan Hong Jiu termangu keheranan, adalah Thiat Mo Lek kedengaran tertawa gelak-gelak. Serunya: "Oho, makanya kau masih ingat pada Ong Siong-hek. Kiranya kau saudara kecil yang nakal itu kini sudah sedemikian besarnya. Jika kau tak memanggil Ong toako, sungguh mati aku tak kenal padamu! Apakah ayahmu sehat-sehat saja? Mengapa kau datang kegunung sini?"

"Akulah yang membawa mereka berdua kemari. Aku tak tahu bahwa Thiat toako adalah kenalan lama dengan mereka," kata Se-kiat de ngan tertawa.

"Ia adalah puteri kesayangan dan Sip Hong ciangkun. Meskipun Sip-ciangkun itu menjadi pembesar negeri, tapi dia seorang lelaki jantan. Dahulu aku pernah menerima budinya. Toan hiante, ketika ayahmu dahulu masih hidup, ia juga bersahabat baik sekali dengan Sip cingkun. Ayub, kalian berdua lekas menyambutnya lagi," seru Thiat Mo Lek kepada Khik Sia

"Ya, ketika aku mengaduk gedung Tian Seng su, diam-diam Sip-ciangkun juga memberi bantuan kepadaku, untuk itu aku belum menghaturkan terima kasih. Cici In, sudilah kau sampaikan ucapan terima kasihku kepada beliau," kata Khik Sia sambil menjura.

Dengan kerutkan alis In-nio menyahut: "Ah tak berani kami menerima hormatmu itu. Cukup asal kau tak menuduh lagi aku dan adik Bwe sebagai cumi-cumi, aku sudah berterima kasih sekali!"

Kini Hong Jiulah yang meringis. Apa boleh buat terpaksa ia hampiri In-nio dan menghaturkan maaf; "Karena salah faham, aku telah berlaku kurang adat pada cici, harap cici suka memaafkan!"

Kemarahan In-nio sudah reda. Kini ia merasa suka dengan nona itu. Ujarnya: "Karena aku bersama adik Bwe menyaru jadi lelaki datang kemari, apalagi mengingat adik Bwe itu adalah puteri dari seorang Ciat To Su, maka sudah selayaknya menimbulkan kecurigaan kalian tadi."

"Ho, kiranya yang kabur tadi adalah puteri dari Sik Ko! Apakah ia sudah mengetahui asal-usul dirinya?" menyeletuk Thiat Mo Lek.

"Benar, memang siang-siang ia sudah berganti lagi dengan namanya yang aseli Su Yak Bwe!" sahut In-nio.

"Khik Sia, ketika ayah bundamu gugur untuk negara, itu waktu aku tak berada disitu. Tapi kutahu mereka mempunyai pesan terakhir sewaktu mereka menutup mata, pesan itu telah diberikan kepada bibi Lam (He Leng-siang) agar supaya apabila kau sudah dewasa supaya disampaikan padamu. Apakah bibi Lam belum memberitahukan padamu?" tanya Thiat Mo Lek.

Khik Sia tundukkan kepala, jawabnya: "Bibi He sudah mernberitahu padaku!"

"Kalau begitu ceritakanlah padaku," kata Thiat Mo Lek pula. "Aku diharap menjadi seorang lelaki yang berguna untuk

nusa dan bangsa," sahut Khik Sia. "Selain itu?" Thiat Mo Lek menegas.

Selebar wajah Khik Sia berwarna merah, kemudian baru ia berkata dengan suara rendah: "Minta aku supaya dengan membawa tusuk kondai berukir Liong ini, mencari anak perempuan Su-peh-peh!"

"Untuk apa?" desak Thiat Mo Lek. "Dengan tusuk kondai itu sebagai barang pertandaan, mengambil nona Su sebagai isteri!"

Memang sengaja Thiat Mo Lek maukan supaya Khik Sia mengatakan hal itu dengan mulutnya sendiri. Setelah itu barulah ia berkata dengan nada keras: "Cepatlah! Kiranya kau tak lupa akan pesan ayah bundamu, tetapi mengapa engkau tak mau mengakui nona Su sebagai bakal isterimu?"

Didesak begitu, Khik Sia memberi reaksi juga, serunya: "Dia adalah seorang puteri dari Ciat To Su, diriku tidak sepadan!"

"Jangan kau bicara keras dihadapanku. Sebaliknya, karena ia hanya puteri dari seorang Ciat To Su maka tak sepadan menjadi isterimu seorang hohan (Jantan) yang termashur bukan?" ujar Thiat Mo Lek.

"Aku bukannya memandang rendah padanya tetapi dia bukan segolongan denganku," bantah Khik Sia.

"Kau keliru. Sik Ko itu hanya ayah angkatnya saja. Ayah bundanya yang aseli adalah manusia utama, setia kepada negara luhur budi pekertinya. Siapa orangnya yang tak taruh perindahan pada mereka? Jika orang tuanya manusia yang begitu macam, masakan anaknya akan menyeleweng kelain jurusan? Bilang saja sekarang ini tidak segolongan, tapi jika sudah menikah apakah tak ikut pada suaminya Tapi celakalah, rupanya siang-siang kau sudah takut akan bayanganmu sendiri!" Thiat Mo Lek menindas bantahan anak muda itu.

Khik Sia diam tak dapat menyahut.

"Apalagi walaupun ia menjadi puteri angkat dari Sik Ko, tapi sejak kecil dipelihara oleh ibu kandung sendiri. Aku pernah tinggal dirumah keluarga Sip. Kala itu keluarga Sip bertetangga dengan keluarga Sik. Kutahu ibu kandungnya itu menjadi inang pengasuh dalam keluarga Sik. Tiap hari ibunya itu mengajarkan ilmu sastera padanya. Sejak kecil nona itu sudah lain perangainya dengan Sik Ko. Menurut penilaianku, nona itu seorang gadis yang mencocoki idaman seleraku. Jangan kuatirlah!"kata Thiat Mo Lek pula.

Khik Sia masih tundukkan kepala berdiam diri.

Thiat Mo Lek agak marah. Dengan kerutkan wajah ia berkata lagi: "Bukankah kau bercita cita hendak menjadi lelaki jantan yang termashur? Tidak menurut pesan orang tua, tidak memegang janji suami isteri, tidak mengingat tali persaudaraan, itulah yang dibilang tidak berbakti, tidak berbakti dan tidak berbudi! Pantaskah seorang hohan berbuat begitu? Ayah bun damu sudah menutup mata, urusanmu aku tak dapat tinggal diam saja. Katakanlah, apa alasanmu hendak merobek janji perkawinanmu itu?"

Ayah angkat dari Thiat Mo Lek adalah kakak dari ibu Khik Sia. Dengan begitu Thiat Mo Lek masih terhitung kakak misan (piauko) dengan Khik Sia. Khik Sia sudah sebatang kara, ia tak mempunyai sanak famili lagi kecuali kakak misannya itu. Maka kakak misannya (Thiat Mo Lek) itu ia anggap sebagai engkoh kandungnya sendiri. Dalam hubungan itulah maka Thiat Mo Lek berani mengata2i kepadanya.

Karena didamperat habis-habisan oleh Thiat Mo Lek, Khik Sia menjadi bingung tak keruan. Semestinya ia masih mempunyai rahasia yang sungkan dikatakan. Tapi kini apa boleh buat ia terpaksa menerangkan juga. Dengan suara terkait-kait ia berkata: "Toako kau tak tahu. Sewaktu digedung Tian Seng-su, dengan mata kepala sendiri, kulihat nona Su itu, ia.."

"Dia mengapa?" tanya Thiat Mo Lek.

"Dia dengan anak lelaki Tian Seng-su sangat mesra. "

Thiat Mo Lek belalakan sepasang matanya yang bundar dan menegas: "Benarkah itu?"

"Hai, bilang yang jelas sedikit! Bagaimana yang kau anggap mesra itu?" In-nio menyela. "Kelihatannya mereka itu bergandengan tangan.." "Kelihatannya? Jadi nyata kau tidak melihat jelas dan hanya

kelihatannya, saja, bukan? Berada dimanakah waktu itu?" tanya In-nio.

"Aku berada didalam kebun Tian tengah bertempur mati- matian dengan Yo Bok-lo. Di bawah sorak-sorai dan lindungan dari kawanan para busu, nona Su dan putera Tian Seng-su saling bergandengan tangan keluar dari ruangan. Ya, mataku tak salah lihat lagi. Nona In, coba kau pikirkan. Belum lagi keluarga Tian menyambutnya, ia sudah lari kerumah  mempelai lelaki. Mengapa? Tentulah karena ia sudah mengetahui bahwa aku bakal mengganggu pada keluarga Tian, maka sebelum dijemput ia sudah datang kerumah bakal mertuanya untuk memberi khabar. Timbanglah saja, ia begitu setia kepada keluarga Tian, apakah aku harus disuruh mengakui sebagai isterinya lagi?" Khik Sia memberi penjelasan panjang lebar.

In-nio mendongkol tapi iapun merasa geli juga. Ujarnya: "Ho, mengapa kau menilai begitu rendah pada nona Su? Untung waktu itu aku juga berada disitu. hingga semua kejadian itu dapat kusaksikan dengan jelas. Jika tidak, hm, nona Su tentu akan hancur hatinya karena kau bikin penasaran!"

"Terang kulihat sendiri masakah bisa keliru?" bantah Khik sia.

"Ia, memang tak salah malam itu ia berjalan keluar bersama putera Tian Seng-su. Tetapi mereka bukan bergandengan tangan, melainkan nona Su menyembunyikan sebilah pisau belati dilengan bajunya dan belati itu dilekatkannya pada punggung anak lelaki Tian Seng su. Nona Su bermaksud hendak menolongmu, sebaliknya kau anggap kebaikannya itu sebagai suatu kenistaan, cis, kurang ajar betul!" Mendengar itu Khik Sia tertegun diam seperti terpaku.

Berkata pula In-nio: "Kau tahu apa sebabnya malam itu ia pergi kerumah keluarga Tian? Kepergiannya itu tak lain dan tak bukan karena hendak membatalkan perkawinan itu!"

Ia lalu menuturkan tentang riwayat Yak Bwe sejak tinggalkan rumah Sik Ko lalu pergi kegedung Tian Seng-su, mengambil kotak emas ciat-to-su itu hingga dia (Tian Seng- su) tak berani mengganggu daerah Lo-ciu lagi dan terpaksa membatalkan pernikahan puteranya dengan Yak Bwe. Kesemuanya itu satu persatu diuraikan dengan jelas oleh In- nio.

Karena In-nio dapat menuturkan kejadian malam pertempuran digedung Tian Seng-su dengan lancar, mau tak mau Khik Sia harus percaya semuanya.

"Bagus, nona Su itu ternyata seorang gadis idaman setiap pria. Ia berani dan cerdik, setia dan berbudi! Khik Sia, apa katamu lagi sekarang?" seru Thiat Mo Lek.

Khik Sia malu dan menyesal. Sejenak kemudian barulah ia dapat membuka mulut: "Aku merasa salah, aku berdosa terhadap nona Su."

"Cukupkah kesalahanmu itu kau tebus dengan sepatah kata pengakuan saja?" tanya Thiat Mo Lek.

Jawab Khik Sia: "Aku akan mencarinya sampai ketemu dan menghaturkan maaf padanya. Hanya saja. "

Thiat Mo Lek tahu apa yang dikandung Khik Sia. Serentak ia mengerat omongan anak muda itu: "Urusan ini, tak usah kau pikirkan. Patah tumbuh hilang berganti. Kim-ke-nia hilang kita masih mempunyai lain pangkalan lain lagi. Gi-lim-kun takkan lama tinggal disni. Ada Bo bengcu dan sekalian saudara2 disini, masakan tentara negeri dapat mencelakai kita? Lekas cari nona Su dan bawalah kemari, nanti akulah yang meresmikan perjodohan kalian!" Selebar wajah Khik Sia merah padam, Katanya: "Usia siauwte masih muda urusan perkawinan boleh ditunda dahulu. Tetapi perintah toako tadi tentu akan kulaksanakan. Nona Su tentu akan kuajak pulang."

Bagaikan awan tersapu angin, kini segala kesalah fahaman sudah terang. Sekalian orang merasa girang, hanya seorang yang akan merasa masgul yakni Lu Hong Jiu.

"Kedatanganku kepertemuan orang gagah kali ini, tiada dengan setahu engkohku. Mungkin ia sedang sibuk mencariku maka aku terpaksa hendak minta diri pulang. Harap bengcu suka memaafkan," akhirnya ia menemukan jalan keluar.

"Ah, harap nona jangan kelewat sungkan. Tolong sampaikan hormatku kepapa engkoh nona!" sahut Se-kiat.

Karena sewaktu menundukkan lima jagoan hong-ho-ngo- pah pernah mendapat bantuan nona itu, maka Khik Sia pun segera tampil kemuka dan menghaturkan terima kasih kepada Hong Jiu.

"Ah, masak aku membantumu? Malah aku merasa membikin sukar kau saja, asal kau tak menyalahkan aku, itu sudah cukup baik," sahut Hong Jiu.

"Aku sendiri yang limbung, taci tak ada sangkut pautnya. Taci kau berdua dengan engkohmu, mempunyai pergaulan luas didunia persilatan. Aku hendak mohon bantuanmu untuk satu urusan," kata Khik Sia.

"Tak usah kau katakan, aku sudah mengerti. Begitu ada kabar tentang diri nona Su, tentu akan segera kusuruh orang menyampaikan padamu. Kau hendak minta tolong tentang urusan itu, bukan?" tanya Hong Jiu.

Khik Sia hanya tertawa ganda saja selaku mengiakan. Sebaliknya Hong Jiu mengulum kepahitan. Kiranya ia hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Khik Sia. Selama dalam perjalanan dengan anak muda itu, ia memang mulai menaruh hati. Untung ia seorang nona persilatan yang berjiwa lapang. Setitik bayangan dalam hatinya dapatlah segera dihapus dengan tanpa meninggalkan luka apa-apa!

"Ah, akupun hendak pulang juga karena sudah lama keluar, Bo toako, terima kasih atas kebaikanmu membawa kami kepertemuan besar ini. Kelak bila toako lewat dikotaku, ijinkanlah aku menjamu," In-nio juga mengatakan maksudnya akan pulang.

Se-kiat tertawa: "Ah, kini aku benar2 menjadi kepala penyamun. Jika keluargamu tidak takut kedatangan tetamu penyamun, tentu aku senang datang berkunjung."

Hati In-nio terasa getar, wajahnya tampak rawan namun ia paksakan menghias senyum: "Ayahku gemar sekali bersahabat dengan kaum enghiong. Dan beliaupun amat sayang padaku. Silahkan kalian datang, kutanggung tak akan mencelakai kalian."

Walaupun mulut mengucap begitu, namun bukan tak tahu In-nio bahwa kini ayahnya itu sudah menjadi ponggawa kerajaan. Orang atasannya ialah Tian Seng-su, tokoh yang paling dibenci dan membenci kawanan penyamun. Se-kiat kini menjadi kepala penyamun. Betapa ayahnya itu mencintai dirinya, namun paling banyak ia tentu hanya akan berusaha supaya jangan sampai bentrok dengan Se-kiat itu saja. Jika melangkah kesoal pernikahan, ayahnya itu tentu takkan mengijinkan ia menikah dengan seorang kepala penyamun,

"Khik Sia, antarkanlah nona In dan nona Lu. Setelah itu kau harus mencari nona Su. Jangan bertemu aku jika belum membawa nona Su pulang!" kata Thiat Mo Lek.

Setelah tiba diselat lembah, Hong Jiu segera minta diri menuju kebarat. Sementara Khik Sia dan In-nio masih meneruskan perjalanannya.

"Bagaimana rencanamu untuk mencari adik Bwe?" tanya In-nio, Dengan masgul Khik Sia menyanut: "Entahlah. Dalam dunia yang begini luas, kemana hendak kucarinya? Kupasrahkan saja pada nasib."

"Ia tiada sanak keluarga, pun belum pernah berkelana keluar. Jika sementara waktu kau tidak berhasil mendapatkannya, datanglah kerumahku untuk menanyakan khabar. Hubunganku dengan Yak Bwe sudah seperti saudara kandung. Jika tak pergi kelain tempat, kebanyakan ia tentu kerumahku," kata In-nio pula.

Khik Sia haturkan terima kasih.

-od0o-ow0o-
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 06"

Post a Comment

close