Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 02

Mode Malam
Jilid II

SETELAH memeriksa nadi pernapasannya si tabib memberi keterangan bahwa pembesar itu tidak apa-apa, hanya yang disebut "golakkan hawa panas penyerang ulu hati". Tetapi harus beristirahat secukupnya. Kemudian tabib itu menulis resep.

Sik-hujin lega hatinya mendengar keterangan tabib itu. Ia segera suruh orang2 berlalu dan hanya tinggalkan seorang budak perempuan untuk menjaga suaminya. Setelah itu ia berkata kepada Hong-sian: "Pergi kekamar, aku hendak bicara padamu!"

Dengan hati tak tenteram. Hong-sian mengikut Sik-hujin lalu bertanya dengan pelahan : "Apa yang dikatakan oleh putera Toan Kui-ciang kepadamu tadi?"

Hong-sian menerangkan: "Banyak sekali yang dikatakan kepadaku, tapi kata2nya itu aneh2 seperti orang gila. Mah, lebih baik kau jangan dengarkanlah,"

"Tidak, karena toh urusan sudah berlarut. aku tak takut mendengarnya ya, apa katanya?" kata Sik-hujin.

Apa boleh buat, Hong-sian menuturkan. "Ia bilang ayah dan mamah ini bukan orang tuaku yang asli. Ayah dan ibu kandungku sudah meninggal didunia Mah, apakah hal itu benar?"

Sik-hujin menggigit bibir wajahnya tampak gelap. Sekonyong2 ia pegang tangan Hong-sian untuk menjaga kalau dirinya jatuh, kemudian dengan suara berat berkata. "Memang benar !"

Kejut Hong-sian tak terkatakan dan menjeritlah ia. "Apa benar? Mah, mengapa dulu2 kau tak memberitahukan padaku? Siapakah orang tuaku asli, bilamana mereka meninggal?"

Sik-hujin mulai dapat menenangkan hati. Katanya dengan pelahan: "Akan kuberitahukan padamu, tapi kau harus lebih dulu kasih tahu padaku apa lagi yang dikatakan Toan-kongcu tadi?"

Mendengar Sik-hujin berganti bahasa menyebut. "Toan- kongcu", keheranan Hoa-sian makin menjadi2. Pikirnya: "Ia memukul ayah. tetapi mengapa mamah masih begitu mengindahkannya?, Ah, disitu tentu tersikap sesuatu!"

Sekalipun saat itu sudah tahu bahwa Sik Ko dan isterinya itu bukan ayah bunda kandungnya, namun Hong-sian masih tetap membahasakan ”ayah-mamah" kepada mereka.

Setelah merenung sejenak, Wajah Hong-sian tiba2 memarah, katanya: "Nah, ia memaki aku. "

"Hai, ia memaki padamu? Memaki apa saja?" tanya Sik- hujin.

"Ia memaki aku......memaki aku menanti2 menjadi nyonya mantu Ciat-toat su Mah, apakah benar2 ayah hendak menjodohkan aku dengan putera Tian-peh-peh?"

Hong-sian seorang nona yang memiliki ilmu silat, jadi nyalinya besar. Namun membicarakan tentang masalah perkawinan, tak urung wajahnya merah kemalu-maluan juga. Sebelum menjawab, lebih dulu Sik-hujin menghela napas, ujarnya: "Oh, makanya Toan kongcu begitu marah, memang ayahmu telah berbuat salah. Untung kita belum menerima panjar dari keluarga Tian."

Mendengar didalam kata-kata Sik-hujin itu ada sesuatu hal, Hong-sian bertanya pula: "Mah, aku masih belum berniat kawin. Tetapi ada sangkut paut apa dengan orang she Toan itu."

"Apakah ia belum menceritakan padamu?" Sik-hujin balas bertanya dengan heran.

"Menceritakan hal apa?" Hong-sian mengembalikan pertanyaan itu.

Berkata Sik-hujin seakan-akan pada diri sendiri: "Ya, maklumlah, ia lahir pada hari yang sama dengan usianya baru 17 tahun, kulit mukanya masih tipis (pemalu), maka tak heran walaupun banyak sudah ia berkata2 kepadamu, namun mengenai urusan besar itu, ia tetap tak berani mengatakan."

Hong-sian makin gugup, ia mendesak mamanya : "Mah, sebenarnya bagaimanakah halnya ?"

"Hal itu ada sangkut pautnya dengan Toan kongcu. Toan kongcu itu adalah bakal suamimu yng sesungguhnya !"

Kalau ada halilintar berbunyi ditengah hari mungkin tidak begitu mengejutkan hati Hong-sian daripada waktu mendengar kata2 Sik-hujin itu. Malu, gugup, gundah dan

.....berbagai perasaan berkecamuk dalamnya, Saking tegang urat syaraf hampir saja ia jatuh pingsan.

"Celaka dia, dia suamiku dan tadi aku memakinya sebagai maling kecil" pikirnya.

Sik hujin tampak tersenyum, ujarnya : "Sian ji, setelah kau bertemu dengan dia, apakah kau menyukainya ?" "Mah, saat ini aku tak ingin membicarakan soal itu. Mohon kau memberitahukan aku lebih dulu, siapakah sebenarnya ayah bunda kandungku itu ?"

Berkata Sik-hujin dengan tenang dan pelahan : "Baiklah, sekarang tiba saatnya memberitahumu. Ayahmu orang she Su bernama Ih-ji, seorang Cin-su kenamaan kerajaan Tong. Dan ibumu, bukan lain ialah orang yang memberi air susu ketika kau masih bayi dan kemudian memberi pelajaran surat kepadamu, ialah Lu-ma itu!"

Girang dan sedih hati Hong-sian mendengar keadaan dirinya. Sedih karena belum pernah melihat wajah ayahnya dau girang karena Lu-ma yang begitu sayang padanya itu ternyata adalah ibu kandungnya sendiri.

"Ah, makanya Lu-ma begitu menyayang padaku, tapi kalau toh ia itu ibu kandungku, mengapa selalu mengelabui aku? Ini.... ini. " serunya.

"Ia mengelabui kau, itulah untuk kepentinganmu. Ehmm, mana tusuk kondai pusaka peninggalan ibumu itu?" tukas Sik- hujin.

"Lu.... ah, tusuk-kondai pusaka pemberian ibuku itu, kupakai disanggul kepalaku, apa kah kau tidak mengenalinya?" kata Hong-sian.

"Mana, berikan padaku?" kata Sik-hujin.

Setelah menerima tusuk kondai kemala itu, Sik-hujin gunakan jari kelingkingnya menyungkil bagian paruh dan ukiran burung Hong itu dari situ tercungkil keluar segulung kertas kecil.

"Oh, kiranya tusuk-kondai kemala itu dibuat sedemikian cermatnya, didalamnya terdapat alat perkakas yang halus!" seru Hong-sian.

Kata Sik-hujin: "Mataku sudah tak begitu awas lagi, coba kau lihat pulung kertas itu. Itu ditulis oleh ibumu sendiri, disitu dipaparkan tentang riwayatmu. Jika ada yang kurang mengerti, nanti kujelaskan! "

Dan membacalah Hong-sian,........

Berketes-ketes air mata membasahi pipinya. Tulisan diatas kertas kecil sekali hurufnya bunyinya amat sederhana. Sebagian besar ia sudah mengerti maksudnya. Sik-hujin memberi tambahan untuk mnjelaskan apa yang tak tertulis diatas kertas itu. Hanya bagian dimana Sik Ko mendapat perintah dari An Lok-san untuk menangkap ayah Hoan-sian tidak diterangkannya.

Dalam beberapa detik saja, Hong-sian mengetahui banyak sekali macam-macam hal. Toan Kui-ciang bukan seorang perampok, melainkan seorang Tayhiap. Ayahnya sendiri, Su Ih-ji ternyata seorang lelaki jantan yang lurus, suci dan perwira, ibu kandungnya seorang wanita cantik yang memegang teguh kesuciannya. arif dan cerdas, demi untuk kepentingan puterinya (Hong-sian) ibunya rela mengenyam getir derita, hina dan sudi menjadi nyama (mak-inang) digedung keluarga Sik. Ia benar-benar seorang wanita yang berbakti kepada negara dan setia kepada suami. Sekarang Hong-sian tahu juga, bahwa namanya yang asli yalah Su Yak- bwe.

Kesemuanya itu merupakan rangkaian kejadian aneh tapi nyata dalam kehidupan manusia. Hong sian atau selanjutnya kita sebut sebagai Yak bwe, kini baru mengetahui bahwa didunia ternyata terdapat manusia yang luhur dan manusia2 itu tarayata masih dekat sekali hubungannya dengan dirinya. Kini matanya terbuka lebar, rongga dadanyapun serasa longgar. Ia berduka, tapipun bangga, bangga akan ayah bundanya dan kedua mertuanya. Dan untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya merasakan dirinya amat kecil.

"Ah, makanya dia telah memaki aku sebagai anak yang tak berbakti!" diam2 ia teringat akan ucapan Toan Khik-ya. Ia menghapus air matanya, memaki tusuk kundai kemalanya lagi terus berjalan keluar. Sik-hujin menghela napas dalam2. Ia insaf bahwa sejak itu ia bakal kehilangan seorang anak yang sudah dianggapnya sebagai puterinya sendiri. Tapi iapun merasa terhibur karena sejak saat itu hatinya bebas dari kutukan liangsimnya (nurani) sendiri!

oood0wooo

TAK berapa lama Sik Ko pun tersadar dari pingsannya. Begitu membuka mata ia segera memapak puterinya Yak-bwe berdiri didepan tempat tidurnya.

"Apakah penjahat tadi sudah lari! Bagaimana mamahmu?" "Mamah berada dikamar belakang. Ayah, anak tidak

berbakti, maafkanlah aku tak dapat merawatmu," kata Yak- bwe.

Sik Ko berjengat kaget dan loncat bangun: "Apa... apa katamu?"

"Kali ini anak sengaja datang menghaturkan selamat tinggal!"

Mendengar itu naiklah darah Sik Ko.

"Kau mau ikut pada maling kecil itu? Dia bilang apa padamu? Sian-ji, jangan sekali2 kau percaya  pada ocehannya!"

Tenang Yak-bwe menjawab: "Janganlah ayah marah. Anak sekali2 takkan ikut padanya, Tapi yang benar, dia itu bukan maling atau penjahat. Yah, semuanya anak sudah tahu, jangan kau sembarangan memaki orang."

Saking gusarnya tubuh Sik Ko sampai menggigil. Tapi ia insaf, bahwa kedudukannya hanya tergantung pada puterinya itu. Ia berusaha untuk menekan kemarahannya, katanya densan nada gentar: "Sian-ji, apa saja yang telah kau ketahui itu?"

"Yang sudah lampau, janganlah kita bicarakan lagi. Yah, kutahu kau sedang meresahkan sesuatu hal. kau takut Tian- pehpeh akan merampas daerah Lo-ciu ini bukan?"

"Oh, jadi mamahmu sudah memberitahukan padamu tentang urusan pernikahanmu? Tak mengapalah. Sian-ji, meskipun kau bukan anak kandungku, tapi sejak kecil kau kuperlalukan sebagai darah dagingku sendirikan? Sekarang aku sedang dalam kesulitan. Diatas pundakmu hendak kuletakkan sebagian beban kesulitan itu. Dengan menikah pada keluaga Tian, pertama bubungan kedua keluarga menjadi baik yang berarti juga akan lenyapnya ancaman itu. Kedua, bagaimanapun ada baiknya. Baik buruk Tian Seng-su hu juga seorang Ciat-tok su. Suamimu adalah puteranya yang tunggal.. Setelah nanti Tian Seng-su mengundurkan diri, sudah tentu kedudukannya akan diserahkan puteranya itu. Pada waktu itu kau tentu menjadi It-bin-hujin (nyonya agung). Kekayaan dan keagungan, akan kau miliki semua. Sian ji jangan kau bimbang2 lagi!"

Yak bwe tahankan amarahnya untuk mendengarkan ceramah Sik Ko. Setelah itu barulah ia bicara: "Apakah karena hendak membalas budi ayah terhadap diriku selama  bertahun2 itu. maka aku sengaja datang kemari untuk turut memikul beban kesusahanmu."

Girang Sk Ko bukan buatan. Beium Yak-bwe habis bicara ia lantas menyeletuk. "Jadi dengan begitu, berarti keu setuju akan pernikahan itu, Bagus, kau benar2 puteriku manis!"

"Yah, membantu kesukaran dengan utusan pernikahan adalah dua perkara. Ayah boleh legakan pikiran, aku aku mempunyai daya untuk membuat Thian-peh peh tak berani mengganggu Lo-ciu. tapi untuk itu aku perlu pinjam cap kebesaran Ciat-tok-su." Sik Ko kembali tersentak kaget, serunya : "Perlu apa kau pinjam capku itu? Sian-ji, aku tak memperlakukan kau buruk..."

Yak-bwe mengambil keluar sepucuk surat, katanya: "Adalah karena bendak membantu kesukaran ayah, maka aku hendak pinjam cap itu untuk dibutuhkan pada surat ini."

"Surat apa itu?" tanya Sik Ko.

"Dengan mencontoh gaya ucapan ayah, aku telah menyiapkan sepucuk surat kepada Tian-peh-peh. Surat ini surat biasa saja. isinya hanya menanyakan urusan kewarasan Tian peh peh. Apakah ayah kepingin kubacakan?"

Sik Ko terheran2, tanyanya: "Apa artinya itu? Tak hujan tak angin mengapa menanyakan kewarasannya?"

"Memang surat biasa itu tak ada artinya jika diantar oleh seorang pegawai kita. Tapi akan berobah makanya, jika aku sendiri yairg akan mengantarkannya." kata Yak-bwe.

Sik Ko berasal dari kalangan Lok-lim. Segera ia mengetahui persoalannya "Hm, jadi kau mau menggunakan siasat kirim golok meninggalkan surat !"

"Hanya meninggalkan surat tuk perlu menitipkan golok. Tapi cukup mematahkan nyali Thian-peh peh juga. Hanya saja bila ayah masih menganggap kurang cukup, biarlah nanti kuunjukkan sedikit gaya padanya !"

Tersipu2 Sik Ko goyangkan tangannya: "Jangan, masih belum perlu ! Kau, kau. "

Sebenarnya Sik Ko hendak mengatakan kau sudah menjadi anggauta keluarga Tian. Tapi dengan wajah membaja Yak- bwe sudah lantas menukasnya: "Kau anggap rencanaku itulah baik, tidak pun boleh. Tapi yang pasti, tak nanti aku menikah dengan keluarga Tian. Kini aku sudah mengetahui bagaimana asal usul keturunanku, bagaimana kelak seharusnya aku menjadi manusia, aku sudah mempunyai pendirian sendiri, tak usah ayah kesal2 memikirkan diriku lagi."

Sik Ko cukup faham akan puterinya itu, Pikirnya : "Jika ia memaksa akan pergi, apa dayaku untuk menghalanginya ? Bahwa ia datang mengajak berunding padaku, itu membuktikan bahwa ia masih tak melupakan budiku, ia masih menganggap aku sebagai ayah. Tapi dengan rencananya itu, terang akan menyalahi keluarga Tian. Jika caranya melaksanakan kurang pandai tentu akan menimbulkan bencana.”

Ia merenung sebentar, pikirnya pula : "Tapi jika tak menurut kehendaknya, ia tentu mengambek dan tinggal pergi. Kalau sampai fihak keluarga Tian datang menjemput mempelainya bagaimana akan kujawabnya? Ini juga dapat mengundang bahaya. Ah... celaka, kabarnya bingkisan keluarga Tian sudah berada dalam perjalanan, kukuatir dalam 2-3 hari ini tentu sudah datang."

Selagi Sik Ko dalam kebingungan tiba2 diluar terdengar suara orang ribut mulut. Ketika didengarkannya ternyata salah seorang pegawainya yang menjabat Koan su (pengurus rumah tangga) tengah ribut dengan bujang perempuan yang menjaga kamar situ.

"Aku hendak melaporkan suatu urusan penting pada Tayhwe, mengapa kau menghalangi?" kata Koan-su itu.

Jawab sibudak perempuan : "Malam ini Tayswe mengalami kaget, harus beristirahat. Jangan keras2 bicara nanti membikin kaget Tayswe pula."

Mendengar itu Sik Ko berseru keras2 : "Aku sudah bangun, ada urusan apa itu, suruh dia masuk !"

Kemudian ia membisiki Yak-bwe : "Coba kau bersembunyi dibelakang pintu angin sana dulu." Koan-su malam2 datang melapor, tentu ada kejadian yang buruk. Demikian Sik Ko menimang2 dalam hati. Saat itu masukkah si Koan-su. Setelah memberi hormat, ia melapor: "Sebenarnya hamba tak berani mengganggu Tayswe, tapi karena sebuah urusan yang luar biasa pentingnya, jadi terpaksa datang kemari juga!"

Sik Ko kerutkan keningnya lalu memberi perintah: "Jangan banyak ini itu, lekas ceritakan!"

Dengan nada gemetar koan-su itu berkata:

"Barang bingkisan yang dikirimkan Tian-ciang kun, ditengah jalan telah dirampas orang!"

Sik Ko terbeliak kaget, serunya, "Dimana?" "Dalam daerah Lo-ciu!"

"Siapa yang merampasnya?" tanya Sik Ko.

Koan-su menerangkan. "Kabarnya adalah gerombolan penyamun dari gunung Kim ke-san dan seorang pemuda yang menurut desas-desus puteranya Kui-ciang. "

Sik Ko marah sekali. "Hemm, lagi2 maling kecil itu!" ia menggeram.

Si koan-su melongo, ia melanjutkan laporannya: "Tian ciangkun mengutus orangnya kemari memberi tahukan bahwa perampasan itu terjadi dalam daerah kekuasaan kita, maka Tian ciangkun minta Tayswe menangkap penjahatnya. Tian- ciang-kun mengatakan pula, apabila Tayswe kekurangan tenaga, ia mau kirimkan pasukannya yang disebut Gwe-thok Tam yang terdiri dari tiga ribu orang, untuk membantu Tayswe!"

Wajah Sik Ko berobah membesi. Ia memberi isyarat tangan pada Koan-su itu: "Ya, aku sudah mengerti, kau boleh pergi!"

Mengapa tiba2 wajah Sik Ko berobah membesi itu? Kiranya pasukan Gwe-thok Tam itu, memang khusus dibentuk Tian Seng-su untuk menyerang daerah Lo ciu. Kebetulan terjadi peristiwa pembegalan barang bingkisan. Dengan alasan hendak membantu Sik Ko, Tian Sengsu akan mengirim pasukan itu ke Lo-ciu. Ini berarti mengundang harimau kedalam rumah, Sik Ko menginsafi hal itu. Maka ia marah tapi pun keder juga.

Begitu Koansu pergi, Yak-bwe lantas keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan muka berseri girang ia berseru: "Yah, ini kebetulan sekali!"

Sik Ko makin gusar, geramnya: "Bencana bakal datang, mengapa kau katakan kebetulan! Apa kau tak dengar laporan Koansu tadi yang mengatakan bahwa Tian Seng-su akan mengirim pasukannya Gwe thok-Tam?"

Yak-bwe tertawa.

"Barang lamaran itu dirampas orang, apakah itu bukan kebetulan? Dengan tak menerima antarannya, tentu mudahlah kelak kau membatalkan urusan pernikahan itu. Tanpa repot2 mengangkut barang itu kesana-sini dan aku dapat pergi dengan leluasa."

Sik Ko meringis dibuatnya. Sampai beberapa saat baru ia berkata : "Sian-ji, kau tak suka menikah dengan keluarga Tian, tak usah kau mengucapkan kata2 begitu. Coba kau pikirkan saja, setelah batang antarannya hilang, mana ia merasa puas padaku? Ia mengatakan hendak membantu aku membekuk penjahatnya tapi itu hanya alasan kosong. Menangkap penjahat itu hanya pelabu saja. yang benar ia hendak menduduki daerah Lo ciu kita ini. Nah, bagaimana kau mau suruh aku menghadapinya?"

"Justru karena hal itulah, maka ayah tak usah takut menyalahinya. Mengapa kau tak ijinkan aku mencoba rencanaku tadi siapa tahu kalau bencana akan dapat dilenyapkan." Sekarang barulah Sik Ko mulai tergerak hatinya, pikirnya. "Ya, ia benar. Jika berhasil, Tian Seng-su tentu dapat dipaksa tak berani mengganggu Lociu. Kalau gagal, pun paling2 hanya mengorbankan jiwa seorang Hong-sian saja, toh anak itu bukan anak kandunganku sendiri."

Habis mengambil ketetapan, ia segera mengeluarkan cap Ciat-toksunya, Namun ia pura2 perhatian, ujarnya: "Sian-ji gedung Tian Seng su itu dijaga kuat sekali, kau harus hati2, jika ada lain daya, sungguh aku tak merelakan kau pergi kesana!"

Yak-bwe membubuhkan cap itu keatas suratnya, katanya: "Aku dapat menyesuaikan gelagat, harap ayah lepaskan pikiran. Atas budi kebaikan ayah yang sudah memelihara aku sampai sekian besar ini, sudilah ayah menerima sembah baktiku!"

Habis memberi hormat, Yak-bwe terus tinggalkan gedung Ciat-tok-su. Sik Ko seperti kehilangan sesuatu. Ia tahu bahwa sejak saat itu, sang puteri tentu tak kembali lagi. Tapi iapun merasa terhibur juga:

"Anak itu cukup berbakti. Sudah tahu akan asal-usulnya, namun toh ia masih tak lupa untuk membalas budiku."

Dalam renungannya, tiba2 ia teringat akan perbuatannya yang lampau. Sungguh ia menyesal demi teringat akan perlakuannya terhadap ayah bunda Yak-bwe dahulu....

Sekeluarnya dari gedung Ciat-tok-su. Yak bwe rasakan dirinya bebas dialam raya. Girang dan terkenang juga akan bayangan2 kehidupannya yang lampau.

"Sejak ini, akupun juga seorang gadis dunia persilatan," pikirnya sesaat terlintas bayangan Toan Khik-ya dalam kalbunya, pikirnya pula: "Kelak apa bila berjumpa lagi, mungkin ia tak memandang rendah diriku lagi!" Teringat ia akan Sik-hujin yang menanyai apakah ia menyukai calon suaminya itu? Kala itu ia elakan pertanyaan dengan menjawab masih belum memikirkan soal perkawinan. Pada hal sejak mengetahui bahwa Toan Khik-ya itu adalah bakal suaminya, sesaatpun pikirannya tak pernah lepas pada anak muda itu!

Sebentar ia bergirang, sebentar gelisah, pikirnya: "Ia seorang pemuda yang baik peribadinya, berilmu silat tinggi dan gagah serta cakap parasnya, Pemuda seperti itu sungguh jarang terdapat didunia."

Tiba pada renungan bahwa pemuda itu ternyata menjadi calon suaminya, muka Yak-bwe menjadi merah. Diam2  hatinya bergirang. Tapi demi mengingat dalam perjumpaan pertama itu ia sudah bertengkar dengan pemuda itu, ia kuatir pernikahan mereka akan gagal. Mau tak mau Yak-bwe merasa gundah hatinya.

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh hari, tibalah Yak-bwe diwilayah Gui-pok (sekarang Tay-beng-koan dipropinsi Hopek). Dalam masyarakat kerajaan Tong pada masa itu pergaulan pria dan wanita bebas, tidak kolot seperti sesudah ahala2 belakangan, (menurut penyelidikan akhli sejarah Tan In-kho: Lian Yan pendiri ahala Tong itu, berakal dari keturunan suku Ih. sebuah suku yang tak terlalu kukuh pada adat istiadat. Terjadinya aliran kolot yang membuat adat istiadat feodal, baru dimulai pada ahala Song).

Pada jaman Tong itu, terurama didaerah utara, soal kaum pria bergaul dengan wanita dan berkelana diluaran, adalah sudah jamak. Bagitupun Yak-bwe yang kala itu menyaru sebagai kaum kelana, setibanya didaerah Gui-pok pun tak menimbulkan parhatian sama sekali.

Malamnya Yak-bwe ganti pakaian ringkas lalu menuju kegedung Ciat-tok su. Ia seorang nona yang memiliki Gin- kang sempurna dan ilmu pedang lihay. Sekalipun begitu karena baru pertama kali itu berkelana, tak urung hatinya berdebaran juga.

"Aku telah menepuk dada dihadapan ayah. Kalau sampai pulang dengan hampa tangan, wah, malulah!" demikian pikirnya. Kemudian ia merasa geli sendiri: "Beberapa hari yang lalu, ia (Toan Khik-ya) secara diam2 masuk ke gedung ayah dan aku memakinya sebagai pencuri kecil. Ai, tak nyana kalau sekarang akupun juga memasuki gedung Tian-pehpeh diam2 dan menjadi pencuri kecil juga,"

Seteluh melewati tembok, masuklah ia ke halaman belakang dari Ciat-tok-su. Ternyata di-bagian taman situ sunyi senyap keadaannya tampak barang seorang penjaganya sama sekali. Ia menunggu beberapa saat. Jangankan kawanan penjaga, sedangkan kentongan rondapun tak kedengaran bunyinya.

"Konon kabarnya Ciak tok-bu Tian-pehpeh itu di jaga kuat sekali. Tiga ribu anak buah pasukan Gwe-thok-lam, tiap2 malam begiliran menjaga gedung ini. Tapi mengapa tak ada apa2nya? Apakah kabar2 itu hanya kabar bohong belaka? Jika begini naga2nya penjagaan di gedung ayah itu lebih baik dari sini!" pikirnya. Nyali Yak-bwe menjadi besar. Dan taman itu, ia terus masuk kedalam. Belum berapa saat ia berjalan, tiba2 ia menampak ada dua orang Bu-su berdiri disamping sebuah gunung2an palsu. Satu dipinggir sini, satu disana. Mereka tegak berdiri seperti patung sedikitpun tak bergerak.

Sekalipun tidak gugup, namun Yak-bwe juga berjaga2. Tiba2 ia ragu2 apa lebih baik menyergap dan menutuk jalan darah mereka atau menghindari mereka? Beberapa jenak kemudian perhatiannya tergugah, Sikap kedua Bu-su uu mencurigakan sekali. Posisi mereka sejak tadi tidak berobah yang satu tengah mengacungkan tombak dan yang satunya lagi mengangkat pukul besi. Sikapnya seperti orang2an batu yang dibuat menghiasi gunung2an palsu disitu. "Manusiakah atau orang2an saja?" tanya Yak bwe dalam hati. Ia tabahkan hati dan maju menghampiri. Astaga, kiranya mereka itu memang benar manusia hidup, hanya saja tak berkutik karena sudah tertutuk jalan darahnya. Diam2 Yak- bwe terkejut dan girang.

"Oh, ternyata ada lain orang yang lebih dulu dari aku masuk kemari. Siapakah dia?" tanyanya pada diri sendiri.

Dari situ ia maju terus. Dan kembali ia melihat pemandangan yang serupa. Ada 18 orang Bu su tak berkutik karena tertutuk jalan darahnya, Yak-bwe makin bertambah herannya Pikirnya:

"Jika semua ini dilakukan oleh satu orang saja, wah hebat sekali dia! Suhu sering mengatakan sepandai2 orang masih ada yang lebih panpai lagi. Ucapan itu benar sekali. Rupanya orang itu memusuhi Tian-pehpeh, tentu takkan mengganggu aku. Ah. tak perduli siapakah dianya, lebih baik kukerjakan urusan ku sendiri!"

Gedung Ciat-tok hu dari Tian Seng-su itu lebih luas dari gedung Sik Ko. Kamarnya berderet2 tinggi rendah sedikitnya ada beberapa ratus buah. Selagi Yak-bwe bingung bagaimana akan mencari kamar Tian Seng-su, tak terduga2 ia telah mendapatkan apa yang dicarinya tanpa harus berjeri payah lagi.

Bermula ia naik ketengah wuwungan, dari situ ia memandang keempat penjuru. Tiba2 ia mendengar suara "harr hurr", yang aneh Yak bwe segera menghampiri ketempat datangnya suara aneh itu. Ia tiba disebuah gedung besar yang terusan dengan halamannya. Waktu memandang kebawah, kembali ia merasa mengkal dan geli lagi.

Apa yang disaksikan disebelah bawah itu, adalah sebuah pemandangan yang aneh dan lucu. Pada kedua samping serambi dari halaman itu, bertumpukan beberapa sosok tubuh dari kawanan Bu-su yang tidur pulas. Sana setumpuk sini setumpuk. Suara aneh tadi, ternyata adalah suara dengkuran dari kawanan Bu-su yang menggeros seperti babi.

"Ah, ini tentu perbuatan orang itu lagi. Tapi entah ilmu apa yang digunakannya hingga kawanan Bu-su itu dapat dibikin tidur pulas seperti orang mati ? Dengan adanya kawanan Bu- su yang begitu banyak jumlahnya, tentunya disini adalah tempat kediaman Tian-pehpeh." demikian ia membatin.

Yak-bwe ambil putusan untuk turun kebawah. Ia melayang turun, menyelinap kian kemari uatuk menghindari kawanan Bu-su dan akhiinya berhasillah ia mendapatkan kamar Tian Seng-su itulah sebuah kamar yang besar, tapi pemandangan didalam kamai itu menggelikan sekali. Lilin masih memancar2, perapian dupa mengepul2, disana sini dayang2 tegak berpencaran. Adegan disitu mirip dalam sandiwara. Belasan bujang2 perempuan itu melakukan posenya masing2, ada yang menyandar ke dinding, ada yang tengah mengipas2, ada yang tundukkan kepala terkulai dan ada pula yang menengadah kebelakang. Mereka sama tidur mendengkur dengan pulasnya......

"Hm, benar2 nikmat sekali hidup Tian-pehpeh itu, masakan tidur saja diladeni oleh sekian banyak bujang gadis2. Manusia yang begitu mesum, seharusnya diberi sedikit pengajaran ?" diam2 Yak bwe membatin.

Yak-bwe ingin sekali mengetahui bagaimana keadaan Ciat- tok-su itu. Melesat masuk, ia lantas menyingkap kain kelambu. Diatas ranjang yang hiasannya itu, berbaringlah Tian Seng-su, Ciai-tok-su dari Daerah Gui pok. Bantalnya di sulam indah dengan benang emas, dimuka bantal itupun menonjol sebatang pedang Chit-sing-kiam dan tampak dimuka pedang itu menggeletak sebuah kotak emas yang tutupnya terbuka. Didalamnya terdapat tulisan dari nama para malaekat Pak-tou- sm. Kiranya Tian Seng-su itu amat takhayul sekali. Ia percaya dengan Hu yang bertulisan mantra2 malaekat itu akan dapat mengusir segala bahaya, selain itu, terdapat juga wangi2an dan permata2 yang indah permai.

"Biar ku ambil kotak ini untuk kuberikan pada ayah (Sik Ko) selaku bukti”, akhirnya Yak-bwe mendapat pikiran. Diambilnya kotak itu sebagai gantinya ia letakan sampul suratnya yang sudah dibubuhi dergan cap Sik Ko.

Setelah habis melakukan itu, ia terus hendak berlalu. Tapi tiba2 matanya tertumbuk pada sebuah sampul surat yang terletak diatas meja. Surat itu dilekatkan dengan sebilah belati kecil, Yak-bwe terkesiap, pikirnya: "Oh, kiranya orang itu juga serupa tujuannya dengan aku yakni hendak mengirim golok meninggalkan surat."

"Mengirim golok meninggalkan surat" adalah sebuah latihan dunia persilatan yang berarti memberi ancaman pada penerimanya.

Terdorong oleh rasa kepingin tabu, Yak-bwe menghampiri meja itu dan lantas mencabut belati pemaku surat. Waktu membaca surat itu, girangnya bukan kepalang.

Ia terloyong-loyong seperti orang kehilangan semangat!

Kiranya pada surat itu hanya tertuliskan enam kalimat yang terdiri dari dua puluh empat huruf. Bunyinya ialah. "Semuanya mengambil kas negara, menghamburkan untuk bingkisan kawin, harta yang tidak halal, segala orang boleh mengambilnya. Jika coba menyelidiki, batang kepalamu akan kuambil."

Susunan kalimatnya bagus, maksudnya jelas. Tapi yang lebih mengejutkan Yak-bwe, ialah tanda tangan yang dibubuhkan dibawahnya. Ke 3 huruf tanda tangan yang mendebarkan jantung Yak-bwe itu, bukan lain berbunyi: "Toan Khik ya" "Hai, kiranya dia! Apakah ia sudah berlalu dari sini? Baik aku menjumpainya atau tidak?" demikian Yak bwe bertanya pada dirinya sendiri.

Selagi ia masih terbenam dalam pikiran, tiba2 ia dikejutkan oleh suara tiupan terompet. Menyusul terdengar suara orang berteriak2: "Celaka, ada penjahat menyelundup masuk!"

Dalam beberapa saat kemudian, suara orang makin berisik sekali. Ada yang berseru: "Hai, ada dua kawan yang tertutuk jalan darahnya, lekas undang suhu kemari!"

Ada yang menjerit: "Astagafirulah! Ada setan! Mengapa orang2 ini semua pada tidur, dibangunkan tak mau bangun? Tolol mereka kena dupa bius bintang!"

"Biarkan dulu mereka cepat lindungi Tayswe!"

Diam2 Yak-bwe mengambil putusan untuk lolos saat itu juga. Sembari putar pedang, ia menerobos keluar dari jendela. Kawanan Bu-su yang tengah mendatangi itu serempak berseru: "Penjahatnya datang, penjahatnya datang!"

Ada yang segera lari masuk kedalam kamar untuk melindungi Tayswe mereka (Tian Seng-su) ada yang mengejar Yak-bwe. Paser, huipiau dan bermacam-macam senjata rahasia berhamburan melayang kearah Yak-bwe. Tapi Yak- bwe gunakan gin-kang pat-poh-kam-sian, dalam beberapa loncatan ia sudah dapat melampaui tiga buah gunung- gunungan palsu, Jangankan kawanan busu itu sedangkan segala macam senjata rahasia yang menghujaninya dari belakang tak dapat menyentuh tubuh nona itu.

Dibawah sinar rembulan remang, kawanan Bu-su itu hanya menampak sesosok bayangan hitam lari seperti angin puyuh, Dalam sekejap mata, bayangan itu sudah lenyap ditelan kegelapan. Dengan begitu kawanan Bu-su itu tak dapat melihat jelas keadaan penjahat yang di burunya itu. "Penjahat lari kesana. penjahat lari kesana!" hiruk pikuk mereka berkaok kaok sendiri,

Diam-diam Yak bwe geli dalam hatinya: "Ha. pasukan Gwe thok lam yang dibentuk Tian peh peh itu ternyata hanya kawanan gentong nasi belaka!"

Baru berpikir sampai disitu, tiba2 terdengar orang berseru, "Penjahatnya berada disini!"

'Wut'

mendadak sebatang hui-piau menyambar kearah Yak-bwe.

Yak-bwe dapatkan desing hui-piau ini jauh berlainan perbawanya dengan hui-piau yang dilepas kawanan Bu-su tadi. Ia tak berani memandang rendah, terus putar pedang menyampoknya jatuh. Tapi hui piau yang kedua dan ketiga berturut-turut menyusul datang. Yak-bwe mendongkol hatinya: "Hem, jika tidak di beri hajaran, tentu kamu tidak kapok!"

Ia mengisar kesamping untuk menghindari hui-piau yang kedua. Tapi untuk hui-piau yang ketiga, ia ulurkan tangan untuk menyambarnya, lalu kontan timpukkan kepada pengirimnya. Orang itu sudah siap hendak melepaskan hui- piau keempat, tapi tahu2 ada benda berkilat menyambar. Ia keburu menghindar, ujung keningnya termakan sampai keatas kepala. Kepalanya segera mengucurkan darah. Untung kalau ia hanya terluka begitu karena Yak-bwe memang tak bermaksud melukai orang. Coba nona itu mau mengganas, masakan dia masih bernyawa!

"Penjahat amat lihay, Suhu, lekas datang! Disini ia disini!" seru orang itu.

Menyusul dengan itu terdengar susra orang menyahut : "Kalian jangan takut, aku segera datang!"

Bermula suaranya masih jauh, tapi berbareng dengan selesainya berkata2, orang itupun sudah dekat sekali. Nada suaranya gerontang seperti logam dipalu dan memekakkan telinga.

Yak bwe terkesiap kaget, pikirnya : "Mengapa iblis tua itu berada digedung Tian-pehpeh ? Celaka, aku bukan tandingannya !"

Ternyata Yak-bwe cukup faham akan suara itu. Orang yang ber-gegas2 mendatangi itu bukan lain ialah seorang  benggolan besar yang tenar sekali namanya didunia persilatan. Beberapa tahun lamanya, ia pernah menjadi "Tay- Iwe-cong-koan (pemimpin pengawal istana) dari An Lok-san. Namanya Yo Bok-lo, digelari orang sebagai Chit-poh-tui-nun atau tujuh langkah memburu nyawa.

Bukan melainkan tahu namanya saja, pun Yak-bwe pernah merasakan kelihayan Yok Bok lo itu. Peristiwa itu terjadi ketika Yak-bwe berusia 10 an tahun. Pada masa itu ayah pungutnya (Sik Ko) masih menjadi salah seorang panglima dari An Lok- san. Pada suatu hari. An Lok-san telah mengadakan perjamuan besar di-istananya Li-san-heng-kiong.

Yang diundang dalam perjamuan itu ialah menteri2, panglima2 dan utusan2 daerah. Sik Ko dan Huciangkun (wakil panglima) Sip Hong juga mendapat undangan. Yak-bwe dengan kawannya, yakni anak perempuan Sip Hong yang bernama Sip In-nio, ikut serta dengan menyaru sebagai anak lelaki. Pun anak perempuan dari Ong Peh-thong Lok lim-beng ciu (ketua perserikatan penyamun) pada masa itu, ikut sang ayah menyelundup kedalam istana. Bocah perempuan yang kepingin melihat keramaian itu bernama Yan-ik.

Ditengah perjamuan berlangsung, Thiat-mo-lek, seorang pendekar besar, telah menimbulkan kegaduhan. Thiat-mo lek berhadapan dengan Yo Bok lo dan Ong Yan ik membantu Thiat-mo-lek untuk mengeroyok jagoan istana itu. Dasar bocah, Yak-bwe dan Sip In-nio tak mau berpeluk tangan, mereka membantu Ong Yan ik, Ketiga anak perempuan itu berhasil melukai beberapa wisu (pengawal istana) An Lok san, tapi hampir saja mereka celaka didalam tangan Yo Bok lo yang ganas itu. Akibat dan peristiwa itu. Sik Ko menjadi ketakutan dan terpaksa membalikan muka pada An Lok san takluk kepada kerajaan Tong.

Waktu Yak bwe mencium gelagat akan datangnya Yo Bok lo, ia sudah merasa gentar: "Jika kesamplokan dengan iblis itu. sukarlah aku meloloskan diri."

Di muka tergencet, dari belakang dikejar. Dalam keadaan yang terjepit itu. tiba2 timbullah pikiran Yak-bwe. Sebelum Yo Bok-Io datang, ia buru2 loncat melampaui sebuah tombak lalu bersembunyi dalam sebuah kamar.

"Gedung Ciat-tok-su itu luas sekali, kamarnya beratus  buah, masakan mereka dapat menggeladah semuanya. Untuk sementara, biar aku bersembunyi dulu untuk menunggu kesempatan," pikirnya :

Tiba2 dalam kamar terdengar suara seorang wanita berkata: "Toa-kongcu mengapa kau tak lekas2 bangun? Coba dengarkan, diluar begitu ributnya tentu terjadi apa2!"

Seorang lelaki yang suaranya kemalas2an menyahut: "Perduli apa dengan ribut2 itu ? Kau temani aku tidur lagilah, kita jarang sekali berkumpul."

"He, celaka ! Dengarkan mereka berteriak-teriak akan menangkap penjahat !" kembali wanita itu berseru.

Sebaliknya silelaki malah tertawa : "Jika ada kebakaran mungkin aku akan cemas. Kalau ada penjahat atau pencuri, perlu apa takut ? Ayah ku mempunyai pasukan Gwe-thok lam yang terdiri dari tiga ribu orang dan akhir2 ini telah mengundang Chit-poh tui-hun Yo Bok-lo kemari. Ai. nona manis, ibu tercinta, kasihanilah pada diriku. Baru hendak kupeluk, kau lantas suruh aku bangun?"

"Fui", demikian wanita itu menyemprot, katanya dengan genit; "Ah, memang sudah di takdirkan rupanya dalam penghidupanku ini mesti selalu kau recoki saja. Jika kawanan pengawal menggeledah kemari, hendak kutaruh dimanakah mukaku nanti? Apabila ayahmu sampai mengetahui, lebih celaka kita. Kau panggil aku sebagai ibu, aku sungguh keberatan. Namun baik atau buruk aku memang juga seorang Ih niomu (ibu tiri)."

"Kau takut ketahuan mereka? lekas sembunyi dalam sini. Ih-nio yang baik, jangan kuatir, jika aku yaug melarangnya, siapa yang berani masuk kemari?" kembali lelaki itu tertawa.

Mendengar ini merah padamlah selebar muka Yak bwe. Ia baru mengetahui siapa kedua laki perempuan adalah gundiknya Tian Seng Su, sedang silelaki bukan lain ialah putera Tiang Seng Su yang manis. Tian-toakongcu yang dipuji setinggi langit oleh Sik Ko.

"Mereka adalah sepasang anjing laki perempuan yang tak tahu malu. Cis, untung aku keburu mengambil putusan sendiri hingga tak jatuh dalam perangkap mereka. Jika sampai menikah dengan manusia semacam binatang itu lebih baik mati saja." bisik batin Yak Bwa dengan muaknya.

Dalam pada itu kedengaran siwanita lagi tertawa genit. "Oh. anakku, tambatan hatiku, sekarang kau begitu tergila2

padaku tetapi setelah nanti mempelaimu datang, apakah kau

masih ingat padaku?"

"Jika sampai lupa padamu, biarlah aku mati dengan sengsara. Akupun bukan seorang lelaki yang takut pada bini," sahut silelaki.

"Ha, jangan buru2 menyatakan janji dulu! Ketahuilah, calon mempelaimu itu adalah puterinya Sik ciat-tok-su!"

"Apa yang luar biasa dengan puteri seorang Ciat tok su?

Aku pun puteranya seorang Ciai tok su juga," jawab silelaki, "Kabarnya puteri dari Sik ciat tok su itu memiliki kepandaian silat yang tinggi. Kau tentu kau bukan tandingannya!"

"Ngaco! Jangan pandang rendah diriku aku pun seorang Bun bu coan cay (mengerti ilmu surat dan silat). Mungkin karena merdapat pelajaran sedikit ilmu pedang dari ayahnya orang2 lalu menyohorkan nama itu lihay. Aku tak percaya sama sekali seorang nona lemah seperti itu benar2 lihay ilmu silat. Baik, kau boleh lihat sendiri, begitu nona melangkah masuk pintu kita, aku segera akan menyambutnya dengan sebuah pukulan!"

Wanita itu tertawa: "Ha, kau ini, masakan hari pertama sudah mau menghajar isterimu?"

"Ya, lihat sajalah! Jika tak dapat menghajarnya sampai meratap minta ampun, jangan panggil aku seorang lelaki, seorang jantan!"

Mendengar itu Yak-bwe mendongkol dan geli, pikirnya: "Jika tak kuberi hajaran, sepasang anjing itu tentu menggonggong tak keruan dan terus menghina diriku!"

Segera ia sabet putus palang jendela, terus loncat masuk. Karena Tian Seng Su itu asalnya dari seorang penyamun besar, jadi puteranya itupun mengerti juga beberapa jurus ilmu silat. Tapi mana mampu menandingi Yak-bwe? Baru pemuda itu berteriak kaget dan hendak loncat bangun dari tempat tidur ia sudah dibikin tak berdaya oleh Yak-bwe yang menutuk jalan darahnya.

"Kongculah yang memaksa aku, bukan kemauanku sendiri," demikian wanita itu segera meratap. Karena gelap, ia kira perbuatan mesum mereka telah tertangkap basah dan menyangka Yak-bwe orang suruhan Tian Seng-su.

"Supaya jangan berteriak." Yak-bwe segera menutuk jalan darah wanita itu. Tapi dia jadi kaget dan gusar demi jarinya menyentuh tubuh siwanita yang ternyata tak memakai barang selembar pakaianpun.

"Benar2 sepasang anjing yang tak tahu malu!" dampratnya sembari tendang wanita itu kebawah kolong ranjang.

Baru Yak-bwe hendak memberi giliran pada anak Tian Seng-su, tiba2 diluar terdengar suara teriakan Yo Bok-lo: "Bangsat, hendak lari kemana kau?"

Heran Yak-bwe dibuatnya.

"Apakah matanya dapat menembus tembok sehingga dapat melihat aku disini?" tanyanya dalam hati.

Tiba2 terdengar suara gelak tertawa dan seorang anak muda.

"Bangsat tua, sebenarnya aku hendak berlalu, tapi karena kau berada di sini, aku sengaja berhenti! Bangsat tua pentanglah matamu lebar2 masih kenalkah padaku?"

Darah Yak-bwe tersirap jantungnya melonjak girang. Suara itu adalah suara Toan-Khik ya. Segera anaknya Tian Seng-su didorongnya roboh lalu diinjaknya dipakai ancik2 untuk melongok keluar jendela.

Ia lihat dua sosok bayangan laksana dua ekor burung yang terbang dari dua jurusan, saling berbentur, bum.... yang dari sebelah kanan berperawakan tinggi besar dan terhuyung- huyung beberapa langkah kebelakang. Sebaliknya yang dari sebelah kiri bertubuh kurus dan terpental keudara dan berjumpalitan kemudian turun ke bumi dengan gaya yang indah sekali.

"Bagus, bangsat kecil she Toan, aku justeru sedang mencarimu!" seru bayangan hitam yang tinggi besar, itulah Yo Bok lo adanya.

Ternyata benggolan itu memang matanya buta satu. Tujuh tahun berselang ia pernah bertempur dengan Toan Kui-ciang dan puteranya (Toan Khik-ya). Dalam pertempuran itu Toan Khik-ya telah mencukil sebuah biji mata Yo Bok-lo. Bertemu dengan musuh lama, sudah tentu mata Yo Bok-lo jadi merah membara.

"Hai bangsat tua, jika kau ingin buta kedua matamu, majulah!" Toan Khik-ya menantangnya.

"Jangan kurang ajar. serahkan jiwamu!" Yo Bok-io menggerung sambil menerjang dengan kedua tinjunya. Tapi ia bukannya menyerang secara kalap, karena dalam benturan tadi, ia dapatkan tenaga sianak muda sudah jauh lebih maju dari dulu.

"Ho, mungkin kau tak mampu berbuat begitu, coba lihat saja siapa yang akan menyerahkan jiwanya!" sahut Khik-ya dengan dingin. Ia melangkah dalam posisi tiong-kiong dan tusukkan pedangnya kejalan darah hian-ki hiat didada si iblis.

Dalam ilmu pelajaran silat ada sebuah dalil: "golok berjalan keputih, pedang berjalan kehitam". Artinya golok itu harus digunakan untuk membacok dari sebelah muka dan pedang untuk menyerang dari samping. Tapi Toan Khik-ya sangat mengandalkan akan ilmunya ginkang. Apalagi dalam tubrukan tadi, ia merasa tak kalah. Nyalinyapun semakin besar. Sekali serang ia merapat maju se-olah2 lawannya tak dipandang sebelah mata.

Julukan Yo Bok-lo yalah Chit-po-tui-hun, sebuah julukan yang tak kosong karena dalam ilmu pulkulan dan gerakan kaki memang ia memiliki keistimewaan. Pun dalam hal tenaga, sebenarnya ia lebih tinggi setingkat dari Toan Khik-ya. Mengapa dalam tubrukan tadi Toan Khik-ya sampai tak menderita apa2 itulah karena ia mengandalkan ilmu gin-kang yang lihay. Dalam serangan saat itu. Yo Bok-lo gunakan siasat menyerang sambil menjaga diri. Bagaimana reaksi lawan, tetap akan dapat diikutinya. Sebuah siasat yang mudah berobah tapi sukar diduga perobahannya. Serangan merapat maju dari Toan Khik-ya, justru itulah yang diharapkan. Ia mundur selangkah dan menarik tangannya untuk melindungi dada. Saketika Toan Khik-ya merasa ujung pedangnya itu tertumbuk dengan sebuah tenaga keras yang tak kelihatan. Ujung pedang hanya terpisah satu2 senti saja dari ulu hati Yo Bok lo, tapi macet tertahan kekuatan aneh itu. Karena macet, permainan pedang Toan Khik-ya tak kapat berkembang lagi.

Inilah saat yang di nanti2 Yo Bok-lo, sekonyong2 ia menggerung keras, kedua tangannya didorong kemuka sekuat-kuatnya. Perbawanya seperti gunung roboh menimpa lautan !

Saat itu sejumlah besar kawanan Bun-su dan bujang2 Ciat tok-hun sudah datang dengan membawa obor. Mereka beramai2 hendak melakukan pengeledahan. Dari jendela tadilah Yak-bwe, meskipun tak jelas sekali, dapat melihat jalannya pertempuran antara Toan Khik ya dan Yo Bok lo. Sewaktu Khik ya seenaknya maju merapat, diam2 Yak bwe sudah mengeluh. Dan pada saat pedang sianak muda macet, Yak bwe kaget sekali. Lebih2 ketika Yo Bok lo memukul dengan kedua tinjunya, hampir saja Yak bwe menjerit.

Untung ia tak melakukan hal itu karena dalam saat2 yang berbahaya itu, Toan Khik ya telah menunjukkan suatu gerakan ginkang yang luar biasa indahnya. Anak muda itu mencelat keudara dan loloslah dia dari lubang jarum, "Plak" menghantam Toan Khik-ya.

Pukulan Yo Bok-lo itu telah mendapat sasaran batu, sebuah batu besar segera hancur lebur. Kepingan batu itu muncrat ke-mana2, ada beberapa anggota pasukan Gwe-thok-lam terluka karena kecipratan. Kawanan Bu-su itu menjadi jeri dan sama menyingkir jauh2.

Diudara toan Khik-ya gunakan gerak Kok cu-hoan-sin (burung merpati membalik tubuh). Ia berjumpalitan dan sambil melayang turun ia sudah jujukan ujung pedang kearah beberapa jalan darah dibelakang batok kepala siiblis. Yo Bok- lo pun bukan jago empuk. Sebat sekali ia berputar tubuh dan tutukan tiga jarinya ke pergelangan tangan sianak muda. Bret, lengan baju iblis itu terpapas kutung tapi pedang Toan Khik-ya pun menjadi mencong arahnya. Yo Bok-lo kehilangan secarik lengan baju Toan Khik-ya gagal mendapat sasaran.

Untuk menghindari tutukan lawan. Toan Khik ya terpaksa melayang kesamping. Setiba kakinya diianah ia rasakan pergelangan tangannya agak sedikit sakit. Diam2 ia berjengit dalam hati: "Pukulan iblis itu benar2 lihay tak boleh kupandang rendah,"

Waktu bergebrak lagi. Khik Ya keluarkan ilmu pedang Wan kong-kiam-hoat ajaran suhunya, Ia bergerak dengan lincah dan gesit. Menyerang maju seperti seekor kera menerobos semak pobon. mundur laksana ular menurut ke dalam lubang, melayang keudara bagaikan garuda membubung kelangit dan loncat menerjang seolah2 harimau menerkam. Maju menyerang mundur bertahan berputar2 seperti angin, setiap gerakannya serba cepat seperti kilat. Empat perjuru se-olah2 penuh bayangannya

Yo Bo -lo menang dalam tenaga, tapi kalah dalam ilmu gin- kang. Ia dapat memukul serangan pedang menjadi mencong tapi tak mampu mengenakan tubuh sianak muda. Kekuatan mereka tampak berimbang. Karena Yo Bok-lo dengan pukulan sakti itu tak dapat mengapa-apakan lawan, maka dalam penilaian, Toan Khik yalah yang berada diatas angin. Ialah yang memegang inisiatif penyerangan. Ini hanya penilaian saja karena kenyataannya anak muda itupun tak dapat membobolkan pertahanan diri dari iblis yang kukuh bagai benteng baja itu.

Menyaksikan pertempuran itu, terbukalah hati Yak-bwe, pikirnya : "Usianya sebaya dengan aku tapi sudah sedemikian lihaynya, ah, sungguh membuat orang kagum sekali !" Dan melayanglah pikirannya pada malam pertemuan dengan anak muda itu: "Ah, kiranya sewaktu bertempur dengan aku, ia masih mengalah. Paling2 ia hanya mengeluarkan separuh kepandaiannya saja. Ah, sayang aku keliwat ceroboh dan hanya tahu memaki2nya saja!"

Berpikir sampai disini ia merasa girang dan menyesal. Girarg karena calon suaminya ternyata seorang jago muda, menyesal sebab ia telah salah memperlakukannya: Karena terpengaruh oleh getaran perasaannya, tanpa terasa ia keraskan injakannya. Putera Tian Seng-su itu terkutuk jalan darahnya jadi walaupun kesakitan sekali ia tak dapat menjerit, paling2 mulutnya hanya ngosngosan seperti kerbau hendak disembelih.

Tiba2 di sebelah luar tedengar kawanan Bu-su berteriak?- "Go thong-leng datang, hura Go thong-leng datang!"

Segera kawanan Bu-su itu menyibak kesamping dan muncullah seorang lelaki tegar kemuka. Kepalanya bundar besar macam kepala harimau kumbang, tubuhnya besar dan langkahnyapun lebar. Kiranya orang itu yalah thong-leng (pemimpin) dari pasukan Gwe-thok-lam yang bernama Go Beng-yang. Datangnya sang pemimpin itu telah disambut dengan penuh harapan oleh kawanan Bu-su. Malam itu mereka sakit hati karena dihajar Toan Khik ya dan dipandang rendah oleh Yo Bok-lo, maka begitu sang pemimpin datang, sekarang Bu-su segera sengaja berseru: "Go thong-leng, bangsat kecil itu lihay benar, Yo-losiansing mungkin tak mampu mengatasinya!"

Go Beng-yang mendengus, serunya: "Seorang maling kecil yang bisanya cuma mengunakan obat-bi-hiang, sampai dimana lihaynya, menyingkir kalian, lihat caraku meringkusnya."

Dengan lagak macan lapar, ia tampil kedepan dan berseru nyaring: "Yo lo-siansing, jangan kuatirlah, aku datang membantumu!" Memang apa yang dikatakan oleh Thon-leng Gwe-thok-lam itu benar. Toan khik ya memang menggunakan dupa bi-hiang untuk membikin pulas kawanan penjaga digedung Ciat-tok-hu situ. Ia mempunyai dupa pembius itu karena diberi oleh Suhengnya,Gong-gong-ji.

Gong-gong-ji adalah maling mahaguna nomor satu diduma persilatan. Dupa bi-hiang yang dibuatnya sendiri, juga merajai seluruh dupa-bius yang terdapat didunia persilatan. Di banding dengan dupa-bius yang banyak digunakan oleh kaum persilatan yakni dupa Ke-hing-ing-ko-han hun-hiang, dupa bi- hiang dari Gong-gong-ji itu jauh lebih hebat beberapa kali.

Kedudukan Yo Bok lo berserta ke 7 orang muridnya itu adalah sebagai jago undangan dari Tian Seng su, jadi mereka tak bertugas melakukan penjagaan malam. Itulah sebabnya maka mereka tak terkena dupa bius itu. Yang memergoki Toan Khik ya dan Yak bwe, lebih dulu adalah murid2 dari Yo Bok lo, setelah itu baru anggauta pasukan Gwe thok lam dan kawanan bujang. Jadi seluruh anggauta2 Gwe thok lam yang bertugas jaga malam itu, kecuali Go Beng yang, semuanya telah tertidur pulas.

"Kau maki aku sebagai bangsat kecil yang melakukan perbuatan rendah! Hm, jika aku mau berbuat begitu masakan kau masih bernyawa? Apa kau tahu mengapa kugunakan bi hiang! Hm: kusayangkan karena kalian makan gajih dari Tian Seng su, lantas kalian akan jual jiwa padanya. Jika kalian tidak dibikin tidur, karena sungkan pada majikan, kalian tentu menempur aku. Pedangku ini tak bermata, salah2 tentu melukai kalian. Tapi sayang seorang tolol sebagai kau ini tak dapat mengerti kebaikan orang, bahkan masih membanggakan diri sebagai Hohan. Sebenarnya kau boleh berpura2 tidur seja, mengapa cari sakit ingin menemani siiblis tua Keakhirat? Hm, sungguh goblok benar!"

Toan Khik-ya baru berumur tujuh belas tahun, jadi sifat kekanak kanakannya masih belum hilang. Hatinya ingin mengatakan sesuatu, kontan sang mulut lantas menumpahkan. Sudah tentu Go Beng yang berjingkrak seperti orang yang pantainya tertusuk jarum.

"Ha, ha, bocah yang bermulut besar, berani benar kau menghina orang? Apa yang kau andalkan untuk melawanku? baiklah, akupun tak mau buru-buru mencabut jiwamu, tetapi akan kuberikan tiga ratus kali gebukan dulu!"

Habis berkata ia maju dan menyerang dengan ilmu silat Hun-kin-jo kut-chiu. Sebagai ahli silat ternama, bukan ia tak tahu bahwa permainan pedang Toan Khik-ya itu luar biasa indahnya, tapi dikarenakan ia terlalu yakin akan ilmunya Hun- kin jo-kut-chiu yang tiada tandingannya didunia dan lwekang Khun-goan-it-bu-kang yang sudah dilatih sempurna, maka lapun tak gentar. Memang selama ini, ia belum pernah kalah dalam setiap pertandingan.

Disamping itu, iapun mempunyai alasan lain mengapa hendak mengunjuk kegagahan dihadapan Yo Bok-lo itu. Ia merasa iri hati akan nama Yo Bok-lo yang lebih tenar dari ia sendiri dan merasa tak puas karena Tian Seng su lebih menghargai orang she Yo itu. Diam diam ia merasa kuatit kedudukannya akan direbut oleh Yo Bok-lo.

Justeru Yo Bo-lopun mengandung pikiran yang sama dengan Go Beng-yang. Ia mendongkol sekali mendengar ucapan besar dari orang she Go tadi,

"Hm, orang macam apa kau ini Go Beng-yang, berani memandang rendah padaku ? Baik, biar kumenyingkir kesamping, untuk melihat bagaimana ia hendak unjuk aksi."

Memang beginilah mentalnya kaum budak. Coba mereka berdua bersatu padu untuk mengerubut Toan Khik ya- sekalipun tak dapat manangkap hidup2 anak muda itu, sekurangnya dapat juga memenangkan pertandingan ini.

Oleh karena akan melihat kepandaian Go Beng-yang maka Yo Bok-lo pun tak mau menyerang sungguh2. Ini berarti memberi kemurahan pada Toan Khik-ya. Sebaliknya Khik ya juga panas mendengar kecongkakan orang.

"Bagus !" serunya demi Beng yang mulai meyerang. Ia tabaskan pedang dan tinju kirinya menyusul menghantam.

Ternyata Beng yang tak bernama kosong. Miringkan tabuh kesamping, ia sepeta mencengkeram bahu sianak muda. Sebenarnya tulang pipeh dibahu orang itu, adalah bagian yang paling sukar untuk dilukai. Sekali bagian di bahu dicengkeram, tentu orang menjadi tak berdaya lagi. Tapi kepandaian yang di miliki Toan Khik ya itu berasal dari partai Ciang-leng-cu, Ilmu silat dari Ciang-leng-cu itu berbeda sama sekali dengan aliran ilmu silat di Tionggoan. Lwekang dari Ciang-leng-cu itu dapat dilatih sampai kebagian bahu, sehingga bahu berobah menjadi keras seperti baja. Itulah sebabnya mengapa waktu jari Beng- yang menyentuh bahu Toan Khik ya seperti membentur dinding baja. Jari terpental dan sakitnya bukan buatan.

Baik Beng yang maupun Khik-ya sama2 bergerak dengan cepatnya. Bersamaan waktunya ketika jari Beng-yang membentur bahu Toan Khik-ya, pun tinju kiri Khik ya sudah membentur tangan lawan juga. Bluk, masih Beng yang coba menyelamatkan diri dengan sebuah gerak jungkir balik, tapi bagaikan bayangan yang selalu mengikuti orang, pedang Khik ya sudah merangsangnya,

"Kena!" berbareng mulut pemuda itu berseru. Ujung pedangnyapun sudah memakan paha lawan.

Masih untung anak muda itu merasa kasihan, jadi ia hanya mengguratnya saja. Coba ia mau berlaku kejam, Beng yang pasti sudah kehilangan sebelah pahanya. Sekalipun begitu, diam2 Khik ya juga terperanjat. Ia dapatkan orang she Go itu juga lihay sekali. Jika bertempur satu sama satu, walaupun berkat Ginkangnya kemungkinan besar ia dapat menang, tapi kemenangan itu pun tak mudah diperolehnya. Mengapa dalam sekali gebrak saja Toan Khik-ya sudah dapat melukai lawan adalah karena: kesatu. Go Beng-yang memandang rendah lawan: kedua, Yo Bok-lo sengaja berpeluk tangan: ketiga, termakan tipu sianak muda yang sengaja membiarkan bahunya dicengkeram: ke empat, karena pemusatan tenaga Beng-yang di pencar dalam Hun kin jo kut chiu dan Khun goan it bu kang. Karena pemencaran tenaga itu, maka sekali pukul dapatlah Toan Khik ya menghantam dan menusuknya.

Musuh yang sebenarnya dari Toan Khik Iya yalah Yo Bok lo. Maka demi Beng yang roboh, ia segera alihkan serangannya pada orang she Yo itu, Baru Yo Bok lo girang melihat sitemberang Beng yang mandapat hajaran tahu2 pedang sianak muda sudah merangsangnya.

"Entah bagaimana luka Go Beng yang itu, biar bagaimana juga ia adalah orang tuanku sendiri. Karena menuruti kemendorgkolan hati, bangsat cilik ini mendapat kemurahan besar!" diam2 Bok lo menyesal telah membiarkan kepala Gwe thok lam itu roboh.

Go Beng yang dalah pemimpin dari pasukan istimewa Gwe thok lam. Dihadapan Yo Bok lo sakali gebrak ia dibikin jungkir balik oleh Toan Khik-ya walaupun dia tahu bahwa anak muda itu cukup bermurah hati, namun ia tetap marah sekali, menggerung seperti harimau terluka ia jungkir balik dengan gerak le hi ta-ting (ikan lele berjumpalitan), lalu menyerang sianak muda lagi.

Kali ini ia tak berani gegabah merapat si anak muda. Ia menyerang dengan ruyung Ca-liong-piannya, itulah senjata ysng paling diandalkan. Ruyung itu lebih dari satu tombak panjangnya ujungnya penuh dipasangi duri kecil2 macam rambut, gunanya untuk menggaruk kulit orang. Itulah maka diberi nama Ca liong-pian atau pian berewok naga.

Karena gemas, dia serentak menyerang dengan dia jurus hwe-hong-soh-liu atau angin puyuh menyapu pohon liu. Ruyung itu menderu hebat seperti angin puyuh. Tapi Khik-ya tetap andalkan ginkangnya yang lihay untuk melayani. Laksana kupu2 ia menari2 diantara taburan hujan ruyung. Tampaklah seperti kena padahal masih terpisah satu dim.

Tapi ini kali Yo Bok-lo tak mau tinggal diam lagi. Pada waktu Toan Khik-ya menghindari ruyung cepat dia menerkam kedua siku lengan Toan Khik-ya dengan gerakan jong ing-tian- ki (garuda pentang sayap). Untung Khik-ya waspada. Tak kalah cepatnya ia berputar dan mainkan tinju serta pukulannya dalam gerak hiat-koa-tan pian. Tinju kirinya dibuat menghantam tangan Yo Bok lo sedang pedangnya dipakai menangkis pian Go Beng yang.

Tapi bagaimanapun juga Yo Bok lo dan Go Beng-yang itu jago2 kelas satu, Mereka memiliki kepandaian istimewa. Dengan mengandalkan keunggulan gin kang, memang Khik ya dapat melayani tapi hanya untuk dua tiga jurus saja. Selewatnya, tenaganyapun mulai berkurang, gerakannya mulai kendur, daya tahannya berkurang.

Sekaligus Yo Bok lo telah mendapat kemenangan moral yaitu dapat mengembalikan serangan pada Toan Khik ya dan dapat menghancurkan kecongkakan Go Beng yang. Itulah sebabnya walaupun masih ada ganjelan dengan orang she Go, tapi saat itu ia 'ngeplah' betul2 untuk menyerang Toan Khik ya. Beberapa kali Toan Khikya hendak mematahkan bagian penyerangan musuh yang lemah, yaitu Go Beng Yang, tapi selalu dihadang oleh Yo Bok lo.

"Bagus, Go beng, teruskan siasatmu itu, kita tak usah terlalu peras tenaga. Kita boleh bergantian maju merapat, bangsat kecil itu tentu tak dapat lolos!" seru Yo Bok-lo.

Pada saat itu barulah Go Beng-yang melek bahwa kepandaian Yo Bok-lo itu memang lebih unggul setingkat dan dirinya. Iapun tak mau membawa kehendaknya serdiri, tak ingin pula untuk merebut jasa. Serta merta ia turuti perintah Yo Bok-lo. ia mainkan piannya menyerang dari jarak dua tombak. Benar ia lebih lemah dari Yo Bok-lo, tapi ilmu permainan Ca liong pian hoatnya yang terdiri dari delapan belas jurus itu, juga bukan main hebatnya. Cepatnya seperti angin, kerasnya seperti baja dan gencarnya bagai hujan lebat. Tubuh Toan Khik ya seolah2 diselubungi bayangan pian.

Yo Bok lo pun juga lantas keluarkan ilmu pukulannya Chit poh tui hun ciang hoat (pukulan maut dari tujuh langkah), Bagaikan bayangan, pukulannya selalu membayangi sianak muda yang diarah selalu bagian berbahaya.

Melihat jalannya pertempuran itu, Yak bwe menjadi gelisah. Tiba2 terdengar orang berseru: "Bagus, Sip ciangkun datang! Biarpun bangsat kecil itu mempunyai tiga kepala dan enam tangan mana ia bisa lolos!"

Segera seorang yang mengenakan pakaian pembesar militer lengkap dengan pedang dipinggang muncul Kemuka. Melihat Ciangkun itu, Yak-bwe berobah girang. Kiranya jenderal itu bukan lain yalah Sip Hong adalah adik misan dari Sik Ko. Ia menjabati in siu-su dari kota Pok-ong yang terletak ditengah perbatasan Gui pok dengan Lo ciu. Untuk mengambil hati Tian Seng Su. Sik Ko rela menyerahkan kota Pok-ong itu kedalam kekuasaan Tian Seng Su. Disamping itu dapatlah Sik Ko menggunakan adik misannya itu untuk memata2i gerak gerik Tian Seng Su. Dengan begitu dapatlah Sik Ko memasang sebuah pion dalam pemerintahan Tian Seng Su.

Kali ini karena urusan perkawinan keluarga Tian dan Sik. Tian Seng su telah memanggil Sip Hong. Mengingat Sip Hong masih ada ikatan famili dengan fihak mempelai perempuan, maka Tian Seng su hendak minta dia mengantar puteranya ke Lo ciu menjemput mempelai perempuan.

Sebelum menjadi Ciat to su, dulu Sik Ko itu bertetangga dengan Sip Hong. Anak perempuan Sip Hong yang bernama Sip In nio akrab sekali dengan Yak bwe seolah2 seperti saudara sekandung. Sejak kecil sama2 memain dan sama2 belajar ilmu silat. "Ilmu pedang Sip piau siok itu lihay sekali jika ia turun tangan, ah jiwanya (Toan Khik ya) pasti terancam!" pikir Yak bwe

Kemudian ia menimbang pula : "Apakah enci In nio ikut juga? Sip piau siok seorang baik, enci In-nio lebih baik lagi terhadap aku. Jika kutemui dan minta mereka dengan memandang mukaku supaya melepaskan dia, rasanya meresa tentu meluluskan......tapi bagaimana aku hendak membuka mulut? Dihadapan sekian banyak orang, bagaimana aku akan mengakuinya sebagai bakal suami?"

Selagi Yak-bwe masih terbenam dalam keraguan, Sip Hong sudah tiba di "gelanggang" pertempuran. Melihat Toan Khik-ya yang baru berumur 16-17 tahun dapat melayani Yo Bok-lo dan Go Beng-yang heranlah Sip Hong dibuatnya. Ia hentikan langkah dan bertanya : "Hai, siapa kau dan siapa ayahmu ? Mengapa menyelusup kegedung liau-tayjin sini?"

Dari bibi He, Khik-ya sudah mendapat keterangan tentang pribadi Sip Hong. Duhulu Sip Hong iiu bersahabat baik dentan ayahnya. Segera ia menjawab : "Ayahku bernama Toan Kui Ciang dan aku Toan Khik-ya. Karena Tian Seng-su suka memeras rakyat dan menggunakan uang negara untuk mas kawin, maka lantas kurampasnya. Dan malah ini sengaja kudatang untuk mengirim golok meninggalkan surat. Konon kabarnya sebagai pembesar kau berkelakuan baik. masakan kau hendak membantu padanya?"

Sip Hong terbeliak kaget, pikirnya: "Ai, kiranya putera dari Toan Kui ciang, Toan-tayhiap adalah seorang yang membaktikan hidupnya untuk rakyat dan negara, bagaimana aku tega untuk mencelakai puteranya? Tapi kalau aku diam berpeluk tangan, apakah tidak akan dituduh membelakangi Tian Seng-su? Ya, bagaimanakah dayaku untuk diam2 membantu anak muda ini?"

Dalam batin Ciangkun itu timbul pertentangan sendiri antara budi dan kewajiban. Karena itu untuk beberapa saat ia tampak kebingungan. Saat itu Yak-bwe sudah berniat hendak loncat keluar, tapi lagi2 ada orang berteriak: "Masih ada orang penjahat lainnya yang berada didalam taman! tayswe  memberi perintah jangan sampai mereka dapat lolos!"

Yang dimaksud dengan Tayswe itu, bukan lain yalah Tian Seng-su. Ternyata ia sudah ditolong oleh orang sebawahannya. Setelah tersadar per-tama2 yang dilihatnya yalah surat, yang ditaruh Yak-bwe diatas bantalnya Kemudian didapatnya peti emaspun lenyap sudah tentu ia terkejut sekali. Karena surat itu memakai stempel Sik Ko jadi ia menduga kalau Sik Ko mengirim Ko-chiu untuk menyampaikan. Sedikitpun ia tak mengira bahwa yang membawa surat itu yalah Yak-bwe.

Sesaat kemudian orang sebawahannya telah melihat surat Toan Khik-ya yang dipaku dengan belati pada meja. Surat berikut belati itu segera dihanturkan pada Tian Seng su. Lagi2 Ciat-tok-su itu tersirap kaget. Ia tahu kalau putera Toan Kui- ciang itu berrama Toan Khik-ya karena Yo Bok-lo pernah menceritakannya,

"Tulisan dalam kedua surat ini berbeda gayanya entah apakah dibuat oleh seorang saja? Menurut keterangan Yo Bok- lo. Toan Khik-ya itu memiliki kepandaian silat tinggi. Jika ia merampas barang2 kirimanku itu dalam kedudukan sebagai Kepala penyamun, kemudian datang kemari hendak memberi ancaman padaku itu masih dapat dimemengerti. Tapi apabila ia menjadi kaki-tangan Sik Ko, ini tak boleh dibuat main2".

Mengapa Tian Seng-su mempunyai dugaan begitu bukan tidak ada sebabnya. Ia sendiri merancang rencana begitu jadi ia kuatir orang lainpun begitu terhadap dirinya. Dan kalau dugaannya itu benar terang kalau Sik Ko itu sudah mulai mengumpulkan tenaga2 kosen dan bersiap2 hendak menyerangnya (Tian Seng-su),

Pada lain saat datanglah Bu-su melaporkan bahwa penjahat sudah kepergok ditaman dan tengah dihantam Yo Bok-lo dan Go Beng-yang. Menurut gelagatnya, penjahat itu tentu dapat tertangkap. Mendengar itu Tian Seng-su agak lega. Tapi karena ia menduga Sik Ko tentu mengirim bukan melainkan seorang Ko-chiu saja, maka ia segera perintahkan orang2nya mencari lagi kalau penjahat itu masih ada kawannya yang lain.

Tian Seng-su teah menetapkan keputusan : Jika kawanan penjabat dari Sik Ko itu dapat dikalahkan oleh orang2nya, ia segera menuntut pertanggungan jawab dari Sik Ko. Namun kalau orang yang dikirim Sik Ko itu ternyata lebih kuat dari jago2nya, terpaksa ia akan minta damai dengan Sik Ko.

Kembali pada Yak-bwe yang masih bimbang mengambil keputusan baik keluar atau tidak, se-konyong2 didengarnya derap kaki yang riuh kedalam halaman. Sesaat kemudian diluar pintu kamar tempat sembunyi Yak-bwe itu, terdengar orang berseru : "Toa-kong-cu, kita kemasukan pembunuh gelap, kau jangan keluar, kami akan menjaga diluar kamarmu

!"

Karena Toa-kongcu mereka tak berkutik dibawah injakan kaki Yak-bwe, jadi tak dapat menyahut. Ini menimbulkan keheranan serdadu itu. "Diluar begitu gaduh, mengapa Toa kongcu masih enak2 tidur!!" demikian mereka itu ramai memperbincangkan.

Tiba2 pintu diketuk dan Yak-bwe pun segera bertindak. Diangkatnya putera Tian Seng-su itu dan serentak dibukanyalah pintu kamar-

"Siapa yang berani menghampiri maju, Kongcu ini tentu kubunuh !" teriaknya sambil acungkan ujung pedang kepunggung putera Tian Seng su.

Diantara serdadu pengawal itu, ada seorang yang sudah ber-tahun2 ikut pada Tian Seng-su. Sewaktu masih sama menjadi orang sebawahan An Lok-san, Tian Seng-su dan Sik Ko itu sering kunjung-mengunjungi. Itulah sebabnya maka serdadu tua itu mengenali Yak bwe.  "Kau......apakah kau ini bukan toa-siocia keluarga Sik ?" serunya dengan nada gemetar.

"Benar lekas bilang pada Tian Seng-su supaya perintahkan Go Beng-yang dan Yo Bok-lo mundur, jika tidak puteranya tentu akan kubunuh !" kata Yak-bwe.

"Hai, nona Sik, mengapa kau berbuat begitu ? Bukankah bulan muka ini kau bakal menjadi menantu keluarga Tian sini

?" seru serdadu tua itu.

Dengan gusar Yak bwe membentaknya : "Jika kau masih mengoceh tak keruan, jiwamu akan segera aku cabut pula!"

Semangat orang itu serasa terbang. Ia lari terbirit2 untuk melapor kepada Tian Seng-su.

"Toh aku sudah terlanjur kepergok, takut apa!" selekas menetapkan keputusan begitu Yak bwe lantas berseru: "Ayuh menyingkir!" Habis itu ia lantas menggusur putera Tian Seng- su keluar.

Digelanggang sana setelah tertegun beberapa saat, tiba2 Sip Hong lantas mencabut pedangnya dan berseru: "Bocah she Toan, jangan coba-coba mengadu domba! Aku Sip Hong hanya taat pada orang atasanku. Jika kau unjuk kegarangan dilain tempat, aku tidak peduli. Tapi karena kau berani mengamuk digedung Tian tayjin sini, aku tak dapat tinggal diam!"

"Hm, beginilah mentalnya manusia. Jika sudah menjadi pembesar orang baik-pun menjadi jahat!" demikian Khik-ya berkesan di dalam bati.

Melihat Sip Hong menghampiri dengan menghunus pedang, Toan Khik-ya dapat mengendalikan marahnya lagi.

"Hm, mendiang ayah ku sudah keliru menilai orang!" katanya dengan dingin. Dengan gerak poan liong sian poh ia menghindari pukalan Yo Bok lo, lalu menusuk Sip Hong. Melibat kesempatan itu, Go Beng-yang ayunkan piaunya menyerang dari kiri. Dengan begitu terkepung Toan Khik ya dari tiga jurusan . Di sebelah muka ada Sip Hong sebelah kanan ada Yo Bok lo dan dari sebelah kiri diserang Go Beng yang. Betapapun lihaynya, tetap sukar bagi Toan Khik ya untuk melayani ketiga lawannya yang lihay itu.

Meskipun serangan Toan Khik-ya tadi cukup keras, sebenarnya Sip Hong masih dapat menangkis. Tapi entah bagaimana, orang she Sip itu sudah lantas menjerit kaget dan buru menyurut mundur. Dan seperti disengaja, gerakannya mundur itu tepat seperti menyongsong pian yang dilayangkan Go Beng yang. Sudah tentu pemimpin pasukan Gwet thok lam itu terperanjat sekali. Kuatir akan melukai Sip Hong, Go Beng yang buru2 menarik pulang piannya. Dan memang dalam ilmu permainan pian, orang she Go itu sudah dapat menguasai gerakan pian menurut sesuka hatinya.

Dalam pertempuran antara jago2 yang di sebut Ko chiu, segala hanya gerak terjang selalu dilakukan dengan serba cepat. Menang atau kalah hanya tergantung dalam sekejapan mata saja. Sedikit ragu2 atau berayal, itu berarti kehilangan kesempatan untuk menang. Demikianlah yang terjadi pada saat itu, Go Beng yang menarik kembali piannya itu sebenarnya hanya berlangsung dalam sekejap mata saja, namun keayalan jtu sudah cukup besar artinya bagi Toan Khik ya untuk merebut kemenangan.

Berbareng orang menarik piannya, Khik yapun sudah enjot tubuhnya melampaui kepala Sip Hong. Sebelum Go Beng-yang sempat memainkan piannya lagi, tahu2 matanya sudah disilaukan oleh taburan sinar gemerlap. Dan sebelum ia tahu apa yang harus dilakukan, ujung pedang Toan Khik ya sudah membuat tujuh liang luka pada tubuhnya.

Keruan Yo Bok-lo terbeliak kaget dan buru buru melancarkan tiga kali pukulan berturut-turut kearah Toan Khik ya, Pertolongan itu berhasil menahan serangan sianak muda dan tertolonglah jiwa Go Beng yang. Pemimpin pasukan Gwet thok lam itu buang dirinya bergelundungan ditanah sampai beberapa tombak jauhnya. Anak buahnya segera cepat2 mengangkatnya. Walaupun bukan pada bagian yang mematikan, namun tujuh liang luka itu cukup membuat Go Beng yang merintih2 kesakitan Sampai Yo Bok lo yang mendengarnya, turut terkesiap kaget.

Sip Hong telah melakukan peranannya dengan bagus sekali. Sampai seorang benggolan kawakan macam Yo Bok lo yang kenyang dengan segala macam tipu muslihat, tak dapat mengetahui perbuatan Sip Hong. Paling2 orang she Yo itu hanya dapat memaki dalam hati pada Sip Hong yang dianggap sebagai bernyali kecil sehingga bukan saja mereka telah menghilangkan suatu kesempatan bagus, pun sebaliknya membikin celaka kawan sendiri.

Tapi Toan Khik-ya yang cerdas cukup mengerti akan kebaikan Sip Hong tadi. Diam ia menyesal mengapa tadi sudab memakinya.

"Karena terikat oleh kewajiban, jadi ia harus pura2 bersikap memusuhi aku. Karena kurang pikir, maka aku telah memakinya, ah, sungguh tolol !" pikir Khik-ya.

Setelah tahu maksud Sip Hong, Toan Khik ya segera bertindak. Ia segera keluarkan ilmu pedang simpanannya. ia serang Yo Bok-lo dan Sip Hong oengan gencar sekali. Tampaknya memang tiada perbedaan, tapi ternyata yang dilancarkan kearah Ssp Hong itu hanya serangan kosong, sedang yang ditaburkan pada Yo Bok-lo itu serangan sungguh. Karena serangan itu dilakukan serba cepat, kecuali fihak yang diserang itu sendiri yang dapat merasakan, orang2 yang melihatnya tak tahu sama sekali. Dan karena Yo Bok-lo pontang-panting membela diri, jadi ia tak sempat lagi untuk meninjau sandiwara yang dimainkan anak muda itu.

Karena beberapa kali hampir kena, mau tak mau tergetarlah hati Yo Bok lo. Pikirnya "Ai. sungguh tak nyana kalau bocah ini sedemikian lihay. Malam ini aku sukar mendapat kemenangan!"

Tapi dalam pada itu, diam2 ia merasa heran juga. Tadi sewaktu bertempur satu lawan satu, anak muda itu tak dapat merangsek. Kini setelah Sip Hong turut membantu, musuh malah dapat mendesaknya. Tapi ia tak dapat mengetahui 'rahasia' permainan Toan Khik-ya, ia hanya dapat menarik kesimpulan bahwa tadi sianak muda belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan masih bersikap simpan tenaga. Karena mempunyai kesimpulan begitu, rasa takut Yo Bok-lo makin besar.

Selagi Khik-ya gembira dengan permainannya itu, tiba2 dari ruangan disebelah muka, berbondong2 keluar beberapa orang. Jumlah mereka ternyata banyak juga. Menyusul dengan itu kawanan Bu-su yang sedang menyaksikan pertempuran itu, semua minggir. Mereka sama berbisik2 seraya menuding-nuding. Suasana jadi berisik sekali. Samar samar Toan Khik-ya mendengar salah seorang dari Bu su itu berseru; "Hai, bukankah itu puteri dari Sik Ciak-tosu?"

"Ia belum menikah, mengapa berada bersama Kongcu?" "Amboi,  kapan  ia  datang  dari  Lociu?  Mengapa  kita  tak

mengetahui?"  Demikian  kasak-kusuk  kawanan  Bu  su  itu.

Sebenarnya Yak bwe menggusur putera Tian Seng-su itu dengan mengancam pedang di panggung orang. Tapi karena didahului oleh kawanan penjaga dan obor2 yang dibawa kawanan Bu su itu tak cukup terang, jadi sepintas pedang Yak-bwe itu dikira jalan bergandengan tangan dengan Kongcu mereka. Mereka tak melihat ujung pedang yang diancam oleh Yak bwe.

Sebenarnya mata Toan Khik ya lebih tajam dari orang biasa. Tapi karena ia tengah sibuk melayani Yo Bok lo, jadi ia tak sempat memperhatikan dengan seksama. Bagaimana mimik wajah putera Tian Seng su yang diungsur seperti orang tawanan itu, iapun tak dapat melihat jelas. Reaksi pertama yang terbit dalam hati Toan Khik ya ialah gusar dan sedih. Padang belantara tubuh rumput busuk, didalam tanah emas tentu bercampur pasir. Demikian ia teringat akan sebuah pepatah dan diam2 mengakui kebenarannya. Ia pikir tunangannya itu di besarkan dalam keluarga Ciat to su, sudah tentu tetap menjadi orang mereka, Apakah aku masih dapat mengharapnya?

"Sebelum dijemput oleh bakal suaminya ia sudah datang sendiri, tentulah karena kuatir jangan2 perkawinan itu akan rewel setelah bingkisan perkawinannya kurampas. Ya teqtulah begitu. Tanpa malu2 lagi, ia lantas datang kemari untuk memberitahukan peristiwa itu. Kalau tidak, masakan setelah mempunyai pasukan Gwe-thok-lam, Tian Seng-su masih perlu mengundang seorang Ko chiu macam Yo Bok lo lagi?" demikian pikir Khik ya.

Sebenarnya Toan Khik ya itu seorang pemuda cerdas, tapi dikarenakan ia sudah mempunyai purbasangka terhadap Yak bwe, jadi pandangannya selalu menjurus kesalah faham. Dan jeleknya ia tak mau meninjau lagi anggapannya itu, Karena terpengaruh oleh kejadian itu, hati Khik ya pun gemetar.

Pantangan dalam pertempuran yalah bercabang hati. Kepandaian Toan Khik ya itu berimbang dengan Yo Bok lo, malah dalam hal tenaga dalam orang she Yo itu lebih unggul setingkat dari dirinya, Sedikit keayalan dari pemuda itu sudah lantas dipergunakan sebaik baiknya oleh Yo Bok lo untuk merobah posisi pertempuran. Dari diserang kini jagoan itu berganti melakukan tekanan. Sedikit Toan Khik ya urung cepat bergerak, bahunya kena dicengkeram lawan, untung ia dapat cepat-cepat menghindar. Sekalipun begitu, tak urung bajunya kena dicengkeram robek juga.

Melihat sianak muda hampir celaka, tanpa disadari menjeritlah Yak bwe. Tapi bersamaan waktunya juga, para busu sama bersorak memuji suhunya, dengan begitu suara Yak-bwe pun terbenam. Betul nada seorang gadis itu berbeda dengan nada kaum lelaki, tapi karena teriakan Yak-bwe itu bernada kaget, jadi sepintas lalu hampir menyerupai dengan orang bersorak.

Kembali hal itu menambah salah-faham Toan Khik-ya. mendengar dalam sorakan itu terdapat suara Yak-bwe, makin besarlah kedukaan dan kemarahan pemuda itu.

"Karena ia begitu senang, maka ia bersorak kegirangan Yo Bek-lo dapat memukul aku!" ia menggeram.

-o0odwo0o-
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 02"

Post a Comment

close