Panji Tengkorak Darah Jilid 30 (Tamat)

Mode Malam
Jilid 30 (Tamat)

Sin-bu Te-kun terkesiap. Adalah karena Thian-leng tak kelihatan, maka ia berani mengatakan seperti tadi. Tetapi mengapa Jenggot peraka menolak. Ditelitinya ke arah rombongan tamu. Ah, tak salah lagi. Thian-leng tak berada di antara mereka.

Hatinyapun tenang. Serunya dengan tertawa, “Apakah pemuda itu sudah datang?” “Belum!” sahut Jenggot perak dengan tegas.

“Apakah Lu lohiap tak membawanya datang?” Sin-bu Te-kun coba-coba menyelidiki lebih lanjut. “TIdak!”

“Hai, mengapa dia tak memenuhi perjanjian? Mungkin dia sudah lebih berpengalaman tentang keadaan Sin-bu-kiong, sehingga dipikir-pikir lebih baik megnundurkan diri saja!” kata Sin-bu Te-kun.

“Jangan takabur!” bentak Jenggot perak, “anak muda itu bukan manusia yang ingkar janji. Kecuali mendapat halangan besar, tentu dia akan datang tepat pada saatnya!”

“Ah, langit memang sukar diukur tingginya. Orang yang sakti masih ada yang lebih sakti lagi. Meskipun dia sudah mendapat ilmu warisan dari It Bi siangjin, tetapi kemungkian dia ketemu dengan batunya, seorang yang lebih sakti lagi. kemungkinan dia dikalahkan dan bahkan.....sudah amblas nyawanya. ”

“Mati hidup, kaya miskin, sudah suratan takdir,” seru Jenggot perak dengan nada serius, “andaikata dia bernasib seperti yang kau katakan, itulah sudah ditentukan oleh takdir. Aku tak kecewa. ”

“Dengan begitu pertandinganku seratus jurus dengannya itu sudah dapat dianggap selesai!”seru Sin-bu Te-kun. “Tetapi dia datang atau tidak, belum ada kepastiannya!”

Apabila sampai jam lima pagi dia tetap tak muncul, maka pertandingan ini kuanggap selesai!” seru Sin-bu Te-kun. Jenggot perak tertawa lebar, “Tetapi sekarang toh baru jam sepuluhan!”

Percakapan itu menimbulkan berbagai tafsiran di dalam hati Sin-bu T-kun. Dari kata-kata Jeggot perak, ia benar- benar tak jelas tentang keadaan yang sesungguhnya dari rombonagn tamunya. Benarkah Pok Thian-leng mendapat kesukaran? Kalau tidak,mengapa ia tak ikut serta?.

Tetapi sikap dan kata-kata Jenggot perak yang selalu dihias senyuman, menimbulkan kecurigaan. Jangan-jangan Thian-leng memang sengaja disimpan supaya jangan muncul dahulu.

Ruang Thiau-hui-thia memang dibuat oleh ahli bangunan Cakar langit Cukat Ji. Dia memasang alat-alat rahasia di bawah tanah. Asal rombongan Jenggot perak dapat dibujuk masuk, tak nanti mereka mampu keluar lagi.!

Pada waktu memasang alat-alat perangkap itu, penjagaan dilakukan sedemikian kerasnya. Hanya beberapa anak buah Sin-bu-kiong saja yang mengetahui. Sudah tentu Jenggot perak sukar juga untuk melakukan penyelidikan. Memang Jenggot perak seekor rase tua yang licin. Tak mudah memikatnya masuk jebakan. Dan dengan terbongkarnya rahasia Thiau-hui-thia itu, berarti pihak Sin-bu-kiong sudah menderita kekalahan setengah bagian…..

Bagi Sin-bu Te-kun, saat itu hanya ada dua harapan. Pertama, ia mengharap agar thian-leng benar-benar bertemu dengan lawan yang lebih sakti. Anak muda itu dapat dikalahkan, syukur terbunuh mati.

Harapan kedua, mengandalkan tenaga jago-jago lihai sepeti Mo-pak sam-cat dan mengerahkan alat-alat rahasia dalam istana Sin-bu-kiong untuk menghancurkan musuh. Tetapi harapan itu hanya harapan. Boleh diharap tetapi tak dapat dipastikan.

Sin Bu Te-kun gelisah. Wajahnya pucat pasi. Rupanya isi hati Sin-bu Te-kun diketahui jenggot perak yang dapat melihat perobahan air muka orang.

“Engkau mempunyai cita-cita menguasai dunia persilatan, menjagoi kaum persilatan. Apakah kau sudah mempunyai pegangan untuk melaksanakan cita-cita itu. Jika tak salah, engkau....

Baru Jenggot perak mengatakan sampai di situ, Sin-bu Te-kun cepat mendengus, “Kepergianku dari Tiam-jong-san memang sengaja hendak menantang Thian-leng agar melanjutkan sisa pertandingan yang belum selesai itu. Tetapi oleh karena dia belum datang, terpaksa akupun tak dapat menerima kunjungan lain tamu. Maafkan, aku tak dapat menemani kalian lebih lama lagi. ” ia terus berputar dan hendak masuk ke dalam.

Memang Sin-bu Te-kun sudah mempunyai rencana. Dengan alasan karena Thian-leng tak datang, maka dia hendak masuk ke dalam istana. Jika Jenggot perak tak merintangi, nanti ia hendak mengajak Mo-pak-sam-cat dan lain- lainnya merundingkan rencana mereka lagi. 

tetapi kalau Jenggot perak merintangi, dapatlah ia menjebak mereka supaya masuk kedalam istana. Biarlah mereka hati-hati supaya jangan tersesat memasuki ruang Thiau-hui-thia, tetapi lain-lain tempat dalam istananya penuh dengan alat-alat rahasia yang cukup mampu untuk menangkap mereka.

Tetapi untuk kesekian kalinya, Sin-bu Te-kun terkejut. Baru ia hendak melangkah, tiba-tiba terdengar orang berseru dan melesat menghadang jalannya.!

Makin terkejut Sin-bu Te-kun ketika mengetahui siapa penghadangnya itu. Pok Thiat-beng si Jago pedang bebas dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, sepasang suami isteri yang pernah menggegerkan dunia persilatan!

Di belakang kedua suami isteri itu tampak pula Pok Lian-ci, si dara tambur sakti dan Cu Siau-bun. Dua saudara tunggal ayah lain ibu.

Tujuh belas tahun sepasang suami isteri itu berpisah atau lebih tepat dipisahkan oleh mulut berbisa. Kini mereka telah bersatu padu pula dan tegak mencegat di hadapan Sin-bu Te-kun. Wajah mereka serius.

Thiat-beng melintangkan pedangnya. Cu Giok-bun menyiapkan jarinya. Walaupun tampaknya tenang-tenang saja, tetapi jelas bahwa kedua suami isteri itu sedang mengerahka seluruh perhatiannya. Sekali bergerak tentu dahsyat sekali.....

Mau tak mau Sin-bu Te-kun tergetar juga hatinya. Namun ia paksakan tertawa.

“Ah, aku turut prihatin atas nasib kalian berdua. Tujuh belas tahun berpisah, kini dapat bersatu pula. Aku turut merasa bersyukur sekali. ”

“Song-bun Kui-mo Ki Pek-lam!” seru Pedang bebas Pok Thiat-beng dengan nyaring, “Aku tak perlu mendapat simpatimu. Hanya satu hal yang hendak kutanyakan padamu. Mengapa Ma Hong-ing menjadi isterimu? Cukup kau jelaskan dengan jujur dan kuhabiskan semua kesalahanmu!”

Saat itu Thiat-beng dan Cu Giok-bun bediri di tengah-tengah Sin-bu Te-kun dengan rombongan Mo-pak-sam-cat dan ketua Hek Gak dan lain-lainnya.

Posisi yang diambil oleh kedua suami isteri itu memang berbahaya. Tetapi justru karena tindakan yang luar biasa beraninya itu, Mo-pak-sam-cat dan kawan-kawannya tergetar nyalinya. Mereka tak berani betindak sembarangan dan hanya termangu melihat saja..... 

Sin-bu Te-kun seorang yang pandai melihat gelagat. Sejenak memperhatikan suasana, tahulah ia apa yang harus dilakukan. Melihat Pok Thiat-beng dan Cu Giok-bun menggunting di tengah dan toh Mo-pak-sam-cat, ketua Hek Gak dan lainnya tak bertindak apa-apa, Sin-bu Te-kun tersinggung. Namun dia juga seorang rase tua yang licik, dipaksanya sang mulut tertawa....

“Karena Pok Tayhiap tetap ingin tahu hal itu, dengan segala kerendahan hati aku akan memberitahukan,” katanya, “sebelumnya aku tak pernah mempunyai ikatan apa-apa dengan Ma Hong-ing, waktu kuambil ia sebagai Te-it ong-hui ( permaisuri). Kesemuanya itu adalah atas perkenalan Cong-hou-hwat Ni Jin-hiong yang mengaturnya. ”

“Jadi kau tak mabuk oleh kecantikannya?” tegur Pok Thiat-beng.

Sin-bu Te-kun tertawa menyeringai, “Sudah tentu ti. sebenarnya aku sudah mempunyai delapan isteri. Jadi dia

termasuk isteri yang ke sembilan. Tetapi karena ia. ”

“Tak usah kau lanjutkan. !” tiba-tiba Jenggot perak menukas. 

“Mengapa tidak?” sahut Jenggot perak nyaring.

“Ma Hong-ing adalah budak tersayang dari Thiat-hiat-bun, sudah tentu ia tahu banyak sekali tentang rahasia partai itu. Oleh karena itu maka kau tak segan-segan mengangkatnya sebagai permaisuri, yaitu agar kau dapat menyelidiki rahasia partai Thiat-hiat-bun. Jadi jelaslah bahwa kau memang sudah lama mengidamkan rencana untuk menindas Thiat-hiat-bun!”

Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “He,h, heh, boleh juga kau mau mengatkan begitu. Tetapi masih ada sebab-sebab lain lagi!“

Jenggot perak mengelus-elus jenggotnya dan tertawa, “Aha, dalam hal ini perlukah kuminta petunjuk padamu!”

Mata Sin-bu Te-kun berkilat-kilat, serunya, “Ceritanya harus dijelaskan sejak permulaan. Pada masa Pok Tayhiap mengembara ke daerah selatan, diam-diam kuperhatikan gerak-geriknya. Dengan keluarga Pok yang termashyur dan nama Pok tayhiap yang menggetarkan seluruh dunia persilatan, aku merasa mendapat rintangan. Bagiku mereka adalah duri dalam benak ”

“He, ternyata kau juga suka bercerita secara jujur. Sungguh patut dipuji!” Seru Jenggot perak.

Sin-bu Te-kun hanya tertawa dingin, ia melanjutkan ceritanya, “Pada waktu itu juga, aku pun mengutus orang untuk mengikat persahabatan dengan tokoh-tokoh daerah. ”

“Iblis tua, kau tak malu menceritakan urusan itu lagi!” tiba-tiba Thiat-beng membentak bengis. Rupanya Sin-bu Te-kun sudah membulatkan hati. Biarlah ia dihina atau dicaci, tak mau ia marah.

“Tetapi waktu itu Pok Tayhiap berkeras menolak uluran tanganku. Sedikitpun ia tak tertarik menggabungkan diri dalam persekutuan yang kubentuk itu. Tetapi sekalipun begitu, aku tak pernah berputus asa untuk mengambil hatinya. Pada waktu akhirnya Pok Tayhiap menikah dengan nona Lu, aku benar-benar seperti mendapat tamparan yang hebat. ”

“Ki tua, kiranya peristiwa itu kaulah yang merencanakan !” teriak hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun yang tak dapat

mengendalikan kemarahannya lagi. Gerahamnya sampai berkeretekan.

Sin-bu Te-kun menggelengkan kepala, “Aku belum menyelesaikan ceritaku. Janganlah memutus dulu!” “Lekas lanjutkan!” bentak Hun-tiong Sin-mo.

Sin-bu Te-kun tertawa tawar. Ia segera melanjutkan penuturannya.

“Pada saat pikiranku ruwet untuk mencari jejak Pok tayhiap, kudengar bahwa Pok Tayhiap suami isteri menetap di daerah Secuan. Ni Jin-hiong, cong hou-hwat kami yang dulu, telah memberi usul supaya memikat budak perempuan dari Pok tayhiap saja. Berulang kali kutandaskan bahwa usul semacam itu pada hakekatnya tentu akan gagal.

Tetapi Ni Jin-hiong tetap yakin pasti berhasil. Akhirnya kusetujui dengan menandaskan bahwa Ni Jin-hionglah yang harus melaksanakan. Diapun sanggup, tetapi di luar dugaan. ”

Sejenak Sin-bu Te-kun menghentikan penuturannya. Ia mengedipkan mata, lalu berkata, “Akhirnya Ni Jin-hiong dapat melaksanakan dengan berhasil. Tetapi ternyata dalam peristiwa itu terselip sesuatu. ”

Jenggot perak tiba-tiba tertawa, “Sungguh terperinci sekali ceritamu kali ini.Tetapi di antaranya kau telah melewatkan sedikit. Perlukah kuperingatkan kepadamu. Memang Ni Jin-hiong berhasil memikat budak perempuan itu dengan cara merayunya.

Walaupun usia mereka terpaut jauh, tetapi nyatanya Ni Jin-hiong itu adalah kekasih dari Ma Hong-ing sendiri. Kau ambil Ma Hong-ing sebagai Te-it ong-hui, berarti kau dikelabui secara terang-terangan. ha, ha, ha,” Jenggot

perak tertawa mencemooh.

Seketika wajah Sin-bu Te-kun pucat pasi.

“Akupun sudah mencium tentang itu. Apakah kalian masih suka mendengarkan lanjutan ceritaku ini?”

Jenggot perak tertawa, “Kau mau melanjutkan atau tidak, pada hakekatnya serupa saja. Tak begitu penting artinya. Karena andaikata kucegah kau bercerita, toh kau tentu berkeras melanjutkan juga. Karena kau memang hendak menggunakan siasat mengulur waktu, agar anak buahmu sempat mengatur persiapan-persiapan dalam istana!”

Kembali wajah Sin-bu Te-kun berobah. Namun ia masih memaksakan diri untuk tertawa.

“Terserah kau hendak mengatakan apa saja! Tetapi karena aku sudah berjanji hendak menceritakan, maka tentu akan kuceritakan sampai jelas. Ma Hong-ing rela menikah dengan Nyo Sam-kui agar dapat ikut pada nona Lu, guna melaksanakan rencana membalas dendam. ”

Yang dimaksud nona lu di atas ialah Cu Giok-bun. Seperti diterangkan terdahulu, Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun itu adalah puteri dari Lu Liang-ong ketua Thiat-hiat-bun. Tetapi karena Giok-bun dipungut anak oleh tabib sakti Cu Thian-hoan, maka ia mengganti she dengan she Cu. Sahut Cu Giok-bun, “Sebagai permaisurimu, kau tentu mengetahui apa sakit hati Ma Hong-ing kepadaku itu?”

Mata Sin-bu Te-kun berkilat, ujarnya, “Tiada halangan untuk memberitahukan hal itu kepadamu sekarang. Eh, apakah kau masih ingat akan seorang yang bernama Ma Beng-seng?”

Cu Giok-bun merenung beberapa saat.

“Apa itu Ma Beng-seng!” serunya heran, “rasanya aku belum pernah mendengar nama itu. Apakah hubungan Ma Beng-seng dengan Ma Hong-ing? Apakah ia. ”

Tiba-tiba Jenggot perak bertepuk tangan, “Benar, aku ingat sekarang. ”

“Yah, bagaimana?” seru Cu Giok-bun serentak.

“Ma Beng-seng adalah salah seorang dari rombongan tiga puluh enam Thian-kong partai Thiat-hiat-bun. Karena dia bersekongkol dengan gerombolan Ngo-tok-bun dan hendak berkhianat pada partai Thiat-hiat-bun ”

“Ya, ya, sekarang aku ingat,” tukas Cu Giok-bun, “Ma Beng-seng berkhianat kepada Thiat-hiat-bun. Dosanya tak terampunkan. Sebenarnya kala itu ayah tak mau memperbanyak dosa, tetapi akulah yang kelepasan omong sehingga akhirnya Ma Beng-seng dijatuhi hukuman tumpas seluruh keluarganya yang terdiri dari empat belas jiwa. Kalau

tak salah peristiwa itu terjadi pada dua puluh tahun yang lalu, bukan?”

Sin-bu Te-kun menyela, “Benar! Sudah dua puluh lima tahun yang lalu. Ma Hong-ing adalah anak ketiga dari Ma Beng-seng. Pada saat keluarganya dibunuh, dia kebetulan sedang berada di tempat neneknya, sehingga tak turut terbunuh. Pembunuhan keluarganya itu, benar-benar menghancurkan seluruh jiwa raganya. Ia bertekad untuk melakukan pembalasan. Diam-diam ia masuk dalam partai Thiat-hiat-bun, menjadi pelayanmu. Sudah tentu tiada seoarangpun yang tahu siapa dirinya. ”

Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menggertak giginya dan berkata seorang diri. “Hm, tak heran kalau ia mendendam sekali padaku. Tetapi anaknya itu. ”

“Sayang Pok Thian-leng bukan puterinya!” Sin-bu Te-kun tertawa tajam.

“Eh, tahukah kau bagaimana hubungan antara Pok Thian-leng dengan Ma Hong-ing itu?” Cu Giok-bun gugup. “Tentang itu maaf, aku tak dapat mengatakan,” sahut Sin-bu Te-kun.

“Kau tak mau mengatakan?” teriak Cu Giok-bun.

“Aku tak tahu. ” teriak Sin-bu Te-kun dengan nyaring. Kemudian ia menghela napas lalu berkata pula, “Hal itu telah

terikat dalam perjanjian kita. Ni Jin-hiong membawa keterangan bahwa Ma Hong-ing mau menerima kedudukan sebagai Te-it Ong-hui dengan syarat, ia memeinta tinggal di lembah Pek-hun-koh di gunung Lu Liang-san untuk merawat anak lelaki yang bukan anaknya itu hingga besar. ”

“Apakah sama sekali ia tak pernah kelepasan omong tentang anak itu?” Cu Giok-bun mendesak. Sin-bu Te-kun menggelengkan kepala.

“Sampai saat ini, tiada gunanya aku berbohong padamu. Syarat Ma Hong-ing itu kuterima. Selama ia dapat mengatur rencana menceraikan kalian, apapun syarat yang diajukan aku sanggup meluluskan!”

“Rencana keji!”

“Untuk mencapai tujuan, segala jalan harus ditempuh. Inilah menjadi pendirianku!” sahut Sin-bu Te-kun. ooo000ooo

Detik penentuan

Jenggot perak menatap Sin-bu Te-kun dengan tajam, serunya, “Barangsiapa menepuk air di dulang, tentu terpercik muka sendiri! Rencanamu untuk menceraikan rumah tangga mereka, agar menghilangkan duri dalam dagingmumemang semula tampaknya lancar. Tetapi ketahuilah! Barangsiapa yang mencelakai orang lain, tentu akan celaka sendiri. Sekarang nyata kau sendiripun harus mengenyam buah perbuatanmu!”

Sin-bu Te-kun mendengus, “Tak lama setelah itu akupun mengetahui tentang peristiwa yang mengejutkan!” “Benar!” tukas Cu Giok-bun, “tentu peristiwa nona Lu… ”

Sin-bu Te-kun batuk-batuk, lalu melanjutkan, “Meskipun Ma Hong-ing berhasil memisahkan kalian, namun aku belum tenteram. Pok Tayhiap yang lenyap ke luar perbatasan, tak kuketahui jejaknya. Tetapi gerak-gerik nona Lu tetap tak terlepas dari pengawasanku…..”

Sejenak ia berhenti untuk memandang ke arah Cu Giok-bun, katanya, “Kau menderita luka parah yang hampir membawa ajalmu. Kemudian beruntung bertemu tabib sakti Cu Thian-hoan dan akhirnya diambil murid oleh Hun- tiong Sin-mo Theng Ih-hui, telah kuketahui semua….”

“Hm, rencana Ma Hong-ing untuk membesarkan Thian-leng agar melakukan pembalasan padaku, tentu keluar dari rencanamu juga!” seru Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun.

Sin-bu Te-kun tertawa, “Boleh dikata begitu, boleh dikata tidak…” “Apa artinya?” teriak Cu Giok-bun.

“Bersumpah memelihara Pok Thian-leng sampai besar agar melakukan pembalasan padamu, adalah rencana Ma Hong-ing sendiri. Tetapi tentang Hun-tiong Sin-mo pada saat hendak menutup mata mengambil engkau sebagai murid, adalah sesuai dengan rencanaku yang kuberitahukan pada Ma Hong-ing!”

“Cukup! Mana perempuan hina itu!” teriak Cu Giok-bun dengan murka.

Sin-bu Te-kun tertawa, “Sudah tentu berada dalam istana Sin-bu-kiong ini!”

“Serahkan perempuan hina itu kepadaku dan segala dendam permusuhan antara kita, akan kuhabiskan sampai di sini!”

Sin-bu Te-kun tertawa sinis, “Ini… ”

“Mengajukan usul begitu, seperti menyulitkan kau tampaknya. ” tiba-tiba Jenggot perak menyeletuk. Ia berpaling

memandang Cu Giok-bun, serunya, “Menurut pendapatku, hal mencari perempuan hina itu kita tangguhkan nanti saja. Sekarang. ”

“Terserah bagaimana ayah hendak mengatur!” cepat-cepat Cu Giok-bun menanggapi.

Jenggot perak tertawa meloroh, serunya, “Ki Pek-lam, dalam pertemuan di Tiam-jong-san, meskipun kau dapat meloloskan diri, tetapi rapat besar itu tidak lantas bubar!”

Sin-bu Te-kun terkesiap, “Apakah kalian bermaksud hendak melanjutkan lagi?”

Jenggot perak mengangguk tertawa, “Benar, dan masih ada lagi suatu penyelesaian yang memuaskan!”

“Penyelesaian bagaimana?” Sin-bu Te-kun mengerutkan dahi. Diam-diam hatinya kebat-kebit. Ada satu hal yang menghiburnya. Dalam rapat di Tiam-jong-san tempo hari, jelas bahwa partai-partai persilatan masih menaruh respek pada Sin-bu-kiong dan tak senang kepada Thiat-hiat-bun, serta Hun-tiong Sin-mo. Kesemuanya itu harus dijaga dan ditumbuhkan. Kalau rahasia Sin-bu-kiong sampai dibongkar di depan sekalian kaum persilatan, hebat sekali akibatnya bagi kehidupan Sin-bu-kiong!

“Hal itu sepantasnya bukan aku yang mengatakan. ” Jenggot perak tertawa lalu berpaling kepada rombongannya,

“harap saudara-saudara masuk!”

Memang percakapan antara tuan rumah dan rombongan tamu itu terjadi di depan pintu gerbang Sin-bu-kiong. Rombongan Jenggot perak sebagian masih berada di luar pintu. Maka tak dapatlah Sin-bu Te-kun mengetahui berapa besar jumlah rombongan yang dibawa Jenggot perak saat itu!

Serentak dengan seruan Jenggot perak, rombongan yang berada di luar pintu itu segera bergerak masuk.

Sin-bu Te-kun terbeliak kaget. Kiranya dalam rombongan itu ikut serta ke sembilan partai dan semua partai persilatan yang hadir di Tiam-jong-san.

Bahwa partai-partai persilatan ternyata mau ikut pada Thiat-hiat-bun, terang tentu takkan menguntungkan Sin-bu- kiong. Namun Sin-bu Te-kun masih dapat menahan diri dan memaksa tertawa memberi selamat datang kepada para tamu itu.

Tetapi alangkah kaget Sin-bu Te-kun ketika sambutannya itu mendapat tanggapan dingin dari sekalian partai persilatan. Sepatahpun mereka tak mau bicara.

Tiba-tiba seorang imam berambut putih loncat dari tengah rombongan dan berseru lantang, “Ki sicu, betapa pahit derita yang telah kurasakan dari kebohonganmu!”

Sin-bu Te-kun kenal imam itu sebagai Ki Tim totiang, ketua dari partai Hoa-san-pay. Di belakangnya ikut serta empat tothong (imam kecil) yang memanggul pedang.

“Apakah maksud totiang?” tegur Sin-bu To-tiang. Ki Tim menghela napas panjang, “Jika Lu lohiap dari Thiat-hiat-bun tak membongkar rahasia itu, entah bagaimana jadinya kami sekalian akibat perbuatanmu. ” ia berhenti sejenak menyapukan mata ke sekeliling, lalu berkata

pula, “Kami sekalian sekarang sudah mengetahui kedokmu. Kiranya yang menimbulkan hujan darah dan menyamar menjadi Hun-tiong Sin-mo bukan lain adalah pihak Sin-bu-kiong sendiri!”

Berobahlah wajah Sin-bu Te-kun seketika.

“Di depan sekalian saudara persilatan totiang berani menghina padaku, apakah maksud totiang?”

“Aku adalah seorang ketua partai yang terang. Tidak seperti engkau yang suka mencelakai orang secara menggelap. Bukti sudah nyata, tak mungkin kau menyangkal lagi!” seru si imam dengan sengit.

Sin-bu Te-kun tertawa sinis.

Ki Tim mendengus, “Bukan hanya mewakili ke sembilan partai, tetapi mewakili seluruh kaum persilatan yang menjunjung kebenaran. ”

Imam itu berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Dalam pertemuan di Tiam-jong-san, atas kepercayaan seluruh kaum persilatan, aku telah diangkat menjadi Bu-lim bengcu!”

“Bu-lim bengcu?” Sin-bu Te-kun menegas. Bu-lim bengcu artinya kepala atau pemimpin kaum persilatan. Sin-bu Te- kun hampir tak percaya pendengarannya. Sungguh ia tak dapat mempercayai pendengarannya. Sungguh-sungguh tak dapat dipercaya. Kedudukan pemimpin dunia persilatan yang siang malam diimpikan, ternyata direbut oleh

sebuah partai kecil seperti Hoa-san-pay.

Disapunya seluruh rombongan itu dengan tatapan mata yang tajam. Jelas sikap sekalian orang gagah menunjang pernyataan imam Ki Tim. Sampai beberapa detik Sin-bu Te-kun terpaku diam.

Cita-citanya yang dikandung beberapa tahun dan hampir menjadi kenyataan, kini telah buyar laksana awan ditiup angin. Bahkan yang lebih mengerikan, saat itu keadaan Sin-bu Te-kun dalam bahaya. Siasatnya telah terbongkar, kedoknya terbuka. Apakah Sin-bu-kiong yang berpuluh tahun didirikan akan hancur dalam sekejap mata saja?

“Menjadi Bu-lim bengcu bukan suatu kebanggan, tetapi suatu beban kewajiban yang maha berat. Sebenarnya aku berat menerimanya,” kata imam Ki Tim, “sepak terjangmu menghina dunia persilatan dan mencelakai jiwa manusia, merupakan bencana bagi dunia persilatan. Di antara satu beban berat dari Bu-lim bengcu adalah memberantas kejahatan semacam yang kau lakukan selama ini. Di bahuku kini terletak kewajiban melenyapkan gerombolanmu!”

Masih Sin-bu Te-kun tak dapat bicara apa-apa. Hanya air mukanya yang sebentar pucat sebentar gelap. Tiba-tiba ia berpaling kepada Mo-pak sam-cat dan Bu-cui suseng, serunya, “Suasana malam ini sudah jelas. Siapa kuat menang, yang kalah menjadi buronan. Karena saudara-saudara sudah sedia membantu tenaga padaku, kumohon saudara suka berjoang mati-matian!”

Sin-bu Te-kun telah membulatkan tekad. Bersama-sama orang undangannya, antara lain Mo-pak sam-cat, Bu-cui suseng dan lain-lain, ia hendak mengadu jiwa dengan Thiat-hiat-bun dan imam Ki Tim. Maka sehabis berkata, ia lantas menyambar Ki Tim.

“Tahan!” sekonyong-konyong terdengar bentakan keras. Nadanya menggeledek memecahkan telinga.

Bukan hanya Sin-bu Te-kun saja yang serentak menghentikan cengkeramannya, juga sekalian jago-jago yang berada di situ terbeliak kaget mendengar suara mengguntur itu.

Sesosok bayangan biru, tahu-tahu sudah tegak berdiri di hadapan Sin-bu Te-kun.

“Ki Pek-lam, perjanjian sepuluh hari telah tiba. Tuan mudamu sekarang telah datang!” seru bayangan itu. Serasa terbanglah semangat Sin-bu Te-kun demi mengetahui siapa yang berada di hadapannya itu.

“Kau....kau. ” ia berseru tersendat-sendat. Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lebih jauh. Karena tak tahu apa

yang harus dikatakan lagi. Rencana menjebak musuh dalam ruang Thiau-hui-thia telah dibongkar. Pemuda yang paling ditakutipun sudah muncul. Habis, habislah sudah segala harapannya...........

Pemuda yang menggetarkan nyali Sin-bu Te-kun itu bukan lain adalah Thian-leng sendiri. “Aku datang memenuhi janji!” seru Thian-leng.

Setelah menenangkan semangat, barulah Sin-bu Te-kun dapat berkata, “Aku hendak mengusulkan pengunduran waktu lagi. Pertempuran yang sedianya berlangsung hari ini, dibatalkan!”

Thian-leng tertawa dingin, “Memang, memang kau tentu akan mengundurkan pertempuran lagi. Aku tak keberatan, tetapi. ” ia berhenti sejenak untuk mengedipkan mata, lalu berkata pula, “Tetapi selain untuk pertempuran itu,

akupun memang hendak mencarimu untuk suatu hal!” “Soal apa lagi?”

“Tak lain tak bukan adalah untuk meminta ganti rugi jiwa atas kematian Oh-se gong-mo, Tui-hun-hui-mo dan Sip U- jong locianpwe!” seru Thian-leng.

Sin-bu Te-kun terkejut bukan kepalang, sehingga ia sampai menyurut mundur beberapa langkah.

Thian-leng tertawa hambar. “Kuberi engkau dua jalan. Terserah kau hendak memilih yang mana. Pertama, kau boleh mempertahankan diri melawan aku mati-matian. Kita bertempur sampai ada salah satu yang mati. Kedua, kita lanjutkan lagi sisa pertandingan yang kurang delapan jurus itu. Setelah pertempuran itu selesai, akan kuanggap habis dan tak akan mengungkit-ungkit lagi atas kematian beberapa cianpwe yang kusebutkan tadi!”

Mata Sin-bu Te-kun memancarkan sinar iblis. Ujarnya, “Setelah kita bertempur, apakah ayah angkatmu dan yang lainnya tetap hendak mencari perkara padaku?”

Thian-leng mendengus, “Kata-kata ‘cari perkara’ itu tidak tepat digunakan. Lebih tepat kalau disebut ‘membasmi kejahatan’. Baik, mungkin ayah angkatku tentu suka menghentikan gerakannya membersihkan Sin-bu-kiong… Dan

lagi dalam menyelesaikan sisa delapan jurus itu, akupun hendak meniru perbuatanmu. Aku hendak membuat garis lingkaran di sekelilingku, kau boleh menyerang dan aku tetap bertahan saja!”

“Hai,…. sungguhkah itu!” Sin-bu Te-kun tertegun.

Thian-leng membentak, “Di hadapan para cianpwe dan jago-jago dunia persilatan, masakah tuanmu hendak menipu!” Sin-bu Te-kun mengusap mukanya dan batuk-batuk, “Baik, aku menurut saja!” ujarnya.

Wajah Thian-leng tampak serius. Ia berpaling menghadap ke Jenggot perak, Pok Thiat-beng , Cu Giok-bun dan lain- lain, lalu memberi hormat, ujarnya, “Apakah para cianpwe sekalian mengijinkan aku unjuk kecongkakan kepadanya!”

Jenggot perak tertawa meloroh, “Tampaknya kau memperoleh kemajuan lagi. Kalau tidak masakah kau berani begitu garang!”

Thian-leng agak merah mukanya. Segera ia membuat garis lingkaran di sekelilingnya. Setelah itu lalu berseru nyaring, “ Iblis tua, ayo mulailah… ! Meskipun hanya tinggal delapan jurus, tetapi kalau kau belum puas, kau boleh

melanjutkan seranganmu sampai berapa saja yang kau kehendaki. Aku sedia menerimanya. Tetapi ingat setelah delapan jurus, terpaksa aku akn menggunakan tenaga tolakan untuk menghancurkan urat-uratmu!”

Sin-bu Te-kun seperti orang yang disadarkan. Mau tak mau ia terkesiap melihat kegarangan pemuda itu. “Apakah benar kau memiliki kesaktian yang berlebih-lebihan?” tegurnya.

Sin-bu Te-kun menganggap ilmu dalam kitab Im-hu-po-kip yang telah dipelajarinya itu, benar-benar sakti tanpa tandingan. Walaupun ilmu ajaran It Bi siangjin sakti sekali, tetapi ia tak percaya kalau Im-hu-po-kip kalah sampai begitu jauh dengan ajaran It Bi siangjin.

Thian-leng tertawa dingin, “Sekali meludah, tak kan kujilat kembali. Jika aku sampai kalah, segera aku bunuh diri!” “BAgus!” seru Sin-bu Te-kun dengan girang, “aku hanya menurut saja. Awas, hati-hatilah!”

Kata-kata itu ditutup dengan sebuah pukulan dahsyat. Ia bermaksud sekali pukul dapat menghantam mati anak muda itu, maka seluruh tenaganya telah dilampirkan dalam pukulannya itu. Pukulan dengan tenaga Im-han ( lwekang dingin) dapat membuat orang yang terpisah beberapa tombak gemetar kedinginan.

Namun Thian-leng tetap tegak dengan tenangnya. Dengan sebuah gerakan yang bergaya melindungi tubuh, ia dapat melenyapkan pukulan Im-han dari lawan.

“Satu jurus!” serunya.

Hati Sin-bu Te-kun seperti disayat. Hanya dalam waktu yang singkat, ternyata pemuda itu telah memiliki kepandaian yang sedemikian sakti. Dengan tubuh gemetaran, ia menghentikan serangannya.

“Masih ada tujuh jurus!” seru Thian-leng. Terdengar Sin-bu Te-kun menghela napas kecil.

Sekonyong-konyong ia merangsek dengan jari. Cepat sekali enam jurus telah dilancarkan. Ilmu cengkeraman jari kepala Sin-bu-kiong itu memang hebat bukan kepalang. Sekalian orang gagah yang menyaksikan serasa kabur pandangannya. Yang tampak hanya bayangan berhamburan. Tubuh Sin-bu Te-kun sudah tak kelihatan bentuknya lagi.

Keenam jurus ilmu jari yang dilancarkan Sin-bu Te-kun itu adalah jurus yang paling ganas dari pelajaran dalam kitab Im-hu-po-kip. Semenjak ia menjadi ’raja’ Sin-bu-kiong, belum pernah ia menggunakannya. Karena belum sampai menggunakan, musuh tentu sudah kalah. 

Sin-bu Te-kun tak menyangka sama sekali, bahwa ilmu yang paling diandalkan ternyata tak dapat berbuat apa-apa terhadap Thian-leng. Padahal pemuda itu hanya menangkis, tak balas menyerang...

Sin-bu Te-kun menghentikan serangannya. tampak Thian-leng tetap dalam lingkaran dengan sikap tenang. Sepasang kakinya seperti terpaku di tanah.

Bergetarlah jantung Sin-bu Te-kun. Ia menyadari, satu jurus lagi akan menentukan nasibnya. Thian-leng akan melancarkan tenaga tolak untuk menghancurkan urat-uratnya.

“Sudah tujuh jurus, masih tinggal sejurus lagi. Ayo, mengapa tak lekas menyerang!” seru Thian-leng. Sin-bu Te-kun menatapnya tajam-tajam.

“Aku hendak mengucapkan beberapa kata terakhir yang akan kukatakan sejelas-jelasnya!” Thian-leng terkesiap, “Pesan terakhir…..? Kau sudah tahu akan mati?”

“Aku tak mau mengingkari janji. ” ia tertawa kecut, tetapi kemudian mengekeh, “Meskipun aku mati, tetapi aku

tak penasaran….”

Thian-leng mengerutkan dahi, “Asal kau dapat merobah jalan hidupmu yang sesat, aku tak keberatan membiarkan kau hidup!”

Sin-bu Te-kun menolak dengan tangannya, “Bukan karena aku tak mau menerima kebaikanmu, tetapi dahulu jika bukan karena aku suka pada bakatmu dan berminat menerimamu sebagai murid, tentu aku takkan menerima nasib seperti saat ini. ”

Mau tak mau tergeraklah hati Thian-leng. Memang apa yang dikatakan momok itu benar. Pertama kali ditawan pihak Sin-bu-kiong, kepandaiannya kalah jauh dengan Sin-bu Te-kun. Kalau saat itu Sin-bu Te-kun mau, tentu sudah dapat membunuhnya.

“Sejak berhasil memiliki kesaktian,” kata Sin-bu Te-kun pula, “aku telah malang melintang di dunia persilatan dengan mendapat kehormatan dan nama yang gilang-gemilang. Matipun aku tak penasaran, tetapi. ” ia berhenti sejenak,

lalu berkata pula, “Aku tak punya anak yang dapat meneruskan cita-citaku. Maka aku hendak mengajukan permintaan padamu!”

“Silakan!” seru Thian-leng.

Lenyapnya awan

“Carikan aku pewaris yang dapat melanjutkan kebangkitan Sin-bu-kiong!” seru Sin-bu Te-kun dengan nada rawan.

Thian-leng tertegun. Beberapa saat ia tak tahu bagaimana harus menjawab. Sin-bu Te-kun tetap tak menyesal atas perjalanan hidupnya selama ini. Tetapi dalam saat-saat seperti itu Thian-leng tak sampai hatinya.

“Hal itu serahkan saja kepadaku. Kau tak usah sibuk memikirkan!” tiba-tiba Jenggot perak berseru kepada Thian- leng.

Sin-bu Te-kun terbeliak. Tiba-tiba ia memberi hormat kepada ketua Thiat-hiat-bun. “Bagaimana hendak kau atur hal itu?”

Jenggot perak menyahut dengan nada bersungguh-sungguh, “Sin-bu-kiong tetap takkan diganggu. Anak buah Sin-bu- kiong boleh memilih. Yang ingin tinggal, boleh tinggal. Yang mau pergi silakan pergi. Akan kupilih orang yang boleh dipercaya untuk melanjutkan usahamu ini. Sin-bu-kiong takkan lenyap, ilmu pelajaran Im-hu-po-kip takkan hilang….”

Sebelum Sin-bu Te-kun membuka mulut, Thian-leng sudah mendahului, “Tetapi almarhum Oh-se gong-mo telah memberi pesan kepadaku untuk mengambil kembali kitab itu. Karena kitab itu sebenarnya menjadi miliknya, tetapi direbut secara licik oleh Song-bun Kui-mo Ki Pek-lam ini… ”

Jenggot perak tertawa, “Sayang Oh-se gong-mo sudah meninggal dan tak mempunyai pewaris. Lalu perlu apa menghendaki kitab itu?”

“Sekurang-kurangnya harus dikubur dalam liang kuburnya!” seru Thian-leng.

“Ah, cara yang tolol!” Jenggot perak tertawa pula, “ketahuilah bahwa maksud Oh-se gong-mo waktu itu, tak lain tentu menghendaki supaya kau yang memiliki kitab itu. Tetapi kini kau sudah memiliki ilmu ajaran It Bi siangjin. Perlu apa mempelajari Im-hu-po-kip lagi?”

“Terserah saja bagaimana locianpwe hendak mengatur,” akhirnya Thian-leng mengalah. “Bagus, keputusan seperti itu saja,” Jenggot perak tertawa. 

Sin-bu Te-kun mengerutkan alis, “Tentang siapa yang akan menjadi pewarisku itu, sebelum mati ingin aku mendengar namanya!”

Jenggot perak tertawa, “Tak usah kau kuatir. Sebelumnya memang sudah kusiapkan untukmu!” “Siapa?” seru Sin-bu Te-kun.

“Ki Gwat-wan! Puaskah kau?”

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun mengucurkan air mata, serunya terharu, “Anak angkatku itu, dia….apa masih hidup?”

“Bukan saja masih hidup dan sehat, juga masih ada lain hal yang perlu kuberitahukan padamu. Adiknya, Ki Seng- wan……”

“Adiknya itu bagaimana? Apakah dia… ” Sin-bu Te-kun menukas cemas.

Menunjuk pada Thian-leng, berkatalah Jenggot perak, “Dia adalah suaminya!”

Hampir pingsan Sin-Te-kun mendengar keterangan itu. Tetapi bagaimanapun halnya, ia kejut-kejut girang.

“Kalau begitu, aku Ki Pek-lam takkan mati penasaran lagi.” ia menghela napas. Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya menampar ubun-ubun kepalanya sendiri.

“Ki Pek-lam, jangan setolol itu!” Mo-pak-sam-cat berteriak kaget, “apakah kedatangan kami ini kau undang untuk menyaksikan kau bunuh diri?”

Ketiga tokoh dari padang pasir itu serentak loncat untuk menghalangi, tetapi Sin-bu Te-kun bergerak terlalu cepat. Plak… batok kepalanya hancur serempak dengan hamburan otak. tubuhnyapun terkulai roboh.

Seorang durjana besar yang menggemparkan dunia persilatan, akhirnya harus menerima kematian dari tangannya sendiri…..

Thian-leng tak sampai hati menyaksikan kejadian yang sedemikian tragis. Ia melengos ke belakang.

Orang mengira dengan kematian Sin-bu Te-kun, ramai-ramai akan selesai. Tetapi di luar dugaan ketegangan tetap tak mereda. Mo-pak-sam-cat, ketua Hek Gak dan lainnya, tak puas dengan kekalahan begitu. Serempak mereka mengamuk, menyerang dengan dahsyat!

Pertempuran pecah, hiruk-pikuk teriakan perintah menyerang berhamburan memekakkan telinga. Ketua Hek Gak menyuruh Bok Sam-pi menyerang Jenggot perak. Melihat itu Thian-leng pun tak mau berpeluk tangan. Ia mendahului menyerang Mo-pak-sam-cat.

Pok Thiat-beng dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun pun ikut bagian. Si dara Lian-ci juga tak mau ketinggalan menabuh tamburnya. Suasana penuh ketegangan, penuh hawa pembunuhan.

Tetapi amuk-amukan itu tak berlangsung lama. Hanya dalam beberapa kejap saja sudah sirap kembali.

Kekalapan Mo-pak-sam-cat dan ketua Hek Gak untuk mengadu jiwa, tidaklah dapat membalikkan keadaan. Thian- leng, Pok Thiat-beng, Hun-tiong Sin-mo, Jenggot perak dan kawan-kawannya dapat menumpas mereka.

Mo-pak-sam-cat mengandalkan kepandaiannya, mengira tentu tak ada yang mampu melawan. Tetapi begitu beradu dengan Thian-leng, barulah diketahui kalau terpaut terlalu jauh. Jago-jago padang pasir itu menyesal dan hendak meloloskan diri, tetapi sudah terlambat.

Tiga buah jeritan ngeri terdengar. Dua orang Mo-pak-sam-cat roboh binasa dan seorang lagi terluka!

Ketua Hek Gak menerima kematian yang lebih mengerikan. Separoh dari tubuhnya yang memang sudah tak utuh, terbakar hangus oleh pukulan Ceng-koay-ciang ( pukulan lwekang panas) dari Hun-tiong Sin-mo.

Seruling besi dari tokoh pelajar Bu-cui- su-seng telah dibungkam oleh gema tambur si dara Lian-ci. Kemudian dada pelajar itu ditembus oleh ujung pedang Pok Thiat-beng.

Sebenarnya Lam-yau Pak-koay dan Mo-pak-sam-cat hendak serempak menyerbu Thian-leng. tetapi gerakan anak muda itu terlalu cepat. Sekali hantam ia membinasakan dua anggota Mo-pak dan melukai yang seorang. Setelah itu ganti menghantam kedua Lam-yau dan Pak-koay.

Lam-yau Pak-koay serentak menangkis. Mereka yakin tenaga gabungan dua orang, walaupun tidak menang tapi sekurang-kurangnya tentu dapat melindungi diri dan kemudian kabur. Tetapi begitu terjadi benturan, kedua Lam-yau Pak-koay menjerit ngeri. Tubuh mereka laksana layang-layang putus talinya, berhamburan jatuh tak bernyawa lagi!

Yang paling beruntung adalah Bok Sam-pi. Dia mendapat lawan Jenggot perak. Karena melihat serangannya sedemikian dahsyat, Jenggot perak terpaksa menghindar. Tetapi ia tak mengira bahwa pengemis sakti Thiat-ik Sin- kay berada di belakangnya. Karena ia menghindar, maka Thiat-ik Sin-kay lah yang menjadi sasaran Bok Sam-pi.

Thiat-ik Sin-kay tak keburu menghindar lagi. Dalam gugupnya terpaksa ia menangkis. Sebenarnya kekuatan kedua tokoh itu tak terpaut jauh. Thiat-ik Sin-kay tak sampai binasa karena adu pukulan itu. Tetapi di luar dugaan ketika tangan saling bertemu, ia merasakan siku lengannya seperti ditusuk jarum…. Itulah tipu muslihat ketua Hek Gak dan Sin-bu Te-kun. Bok Sam-pi sengaja diberi pakaian jubah gedombrongan. Bagian ujung lengan, bawah kaki, dada dan punggung pakaiannya, diberi berpuluh-puluh jarum beracun. Asal lawan tertusuk jarum itu, dalam waktu setengah jam saja racun itu pasti akan mengganyang tubuhnya. Tiada obat yang dapat menolong lagi………

Seketika Thiat-ik Sin-kay merasakan lengannya nyeri sekali dan separoh tubuhnya kesemutan. Tahu dirinya kena racun, cepat-cepat ia mundur beberapa langkah.

Si linglung Bok Sam-pi sama sekali tak menghiraukan perobahan apa yang terjadi di sekelilingnya. Apakah kawan- kawannya sudah mati atau masih bertempur, ia tak ambil peduli. Pokoknya menyerang Thiat-ik Sin-kay lagi.

Tetapi baru ia hendak bergerak, tiba-tiba terdengar jeritan melengking dari seorang dara, “Kek!”

Bok Sam-pi tertegun. Cucu perempuannya Bok Ceng-ceng muncul dari pintu gerbang. Di belakangnya ikut serta seorang tua berambut putih.

“Hai, budak, mengapa kau kemari?” tegur Bok Sam-pi. Jelas bahwa ia masih terpengaruh obat bius. “Ah, kek, mengapa kau masih begitu?” lengking si dara.

Bok Sam-pi deliki mata. Sekonyong-konyong ia mengangkat tinjunya. “Aku tak sudi dengan anak perempuan yang berkhianat!”

Ucapan itu ditutup dengan ayunan tinju, tetapi tiba-tiba orang tua berambut putih mengayunkan lengan bajunya. Segulung asap putih menyembur ke arah Bok Sam-pi. Sebenarnya Thian-lengpun sudah siap menolong si dara, tetapi kalah cepat dengan hembusan asap itu.

Aneh. begitu tersembur asap, tubuh Bok Sam-pi seperti balon karet yang kempes. Serentak ia jatuh terduduk di

tanah.

Orang tua berambut putih itu menghela napas. “Muridku, lekas kasih dia minum rumput Liong-yan-coh-kuo!”

Bok Ceng-ceng mengiyakan. Ia mengambil pil merah dari dalam bajunya dan disusupkan ke mulut sang kakek. Bok Sam-pi serta merta membuka mulutnya menelan. Beberapa saat kemudian, perut Bok Sam-pi berkeruyukan keras. Tak lama ia mengucurkan airmata dan memandang sekelilingnya. Bagai orang bangun dari tidur, ia mengeluh kaget. Tangannya merangkul Ceng-ceng. Ceng-ceng menjerit terharu dan menyusupkan kepala ke dada sang kakek.

Karena pertempuran sudah berhenti, maka semua mata ditujukan pada Bok Sam-pi dan cucunya.

Di kala suasan hening sunyi, dua sosok tubuh langsung menerobos dari luar pintu. Kemunculan dua orang itu menimbulkan bisikan gempar.

Kedua orang itu bukan lain Bu-song dan Siau-bun. Ternyata kedua gadis itu bersembunyi di luar Sin-bu-kiong. Siau- bun tahu bahwa Thiat-hiat-bun telah mengerahkan rombongan besar menuju ke Sin-bu-kiong. Ia memutuskan lebih baik menunggu di luar istana saja. Apabila ada anak buah Thiat-hiat-bun atau Tiam-jong-pay atau Hun-tiong-hu yang dijumpainya, ia hendak menyuruhnya membawa surat kepada Jenggot perak.

Ia hendak merangkai cerita bahwa ia dengan Bu-song telah dicelakai orang. Apabila Jenggot perak dan rombongannya datang, ia hendak merangkai cerita palsu. Mengatakan kalau dicelakai oleh kedua taci beradik Ki. Ia hendak mendesak kakeknya supaya menekan Thian-leng, agar membatalkan perkawainannya dengan Ki Seng-wan.

Siau-bun menganggap rencananya itu tentu memberi hasil baik. Dan apabila Thian-leng tak ikut serta dalam rombongan Thiat-hiat-bun, juga tak apa-apa. Setidaknya rencana itu sudah berhasil separoh bagian.

Di luar dugaan, sampai setengah hari menunggu, tetap tak berjumpa dengan seorangpun anak buah Thiat-hiat-bun. Yang dijumpai malah Bok Ceng-ceng dengan orang tua berambut putih. Siau-bun pernah menolong Ceng-ceng sebelumnya, tetapi karena kuatir Ceng-ceng bergaul rapat dengan Thian-leng, ia menyuruh dara itu menuju ke Hun- tiong-san saja. Mudah-mudahan dara itu tertangkap oleh salah satu penjaga Hun-tiong-hu.....

Tetapi dara yang hendak dicelakai itu ternyata beruntung berjumpa dengan si orang tua berambut putih. Orang tua itu bukan lain adalah Ko Gwat lojin, juga seorang tokoh sakti yang mahir dalam ilmu pengobatan. Ia setingkat dengan tabib sakti Cu Thian-hoan yang pernah menolong jiwa Cu Giok-bun.

Ko Gwat lojin senang dengan Ceng-ceng dan mengangkatnya sebagai murid.

Setelah mendengar cerita Ceng-ceng tentang peristiwa rapat di Tiam-jong-san dan perjanjian di Sin-bu-kiong, Ko Gwat lojin segera mengajak muridnya menuju ke Sin-bu-kiong. Tujuannya hendak mengobati Bok Sam-pi.

“Hai, budak perempuan, kalian memuaskan diri bermain-main kemana saja?” tegur Jenggot perak kepada Siau-bun dan Bu-song.

Dengan sikap manja Bu-song segera memeluk dada kakeknya, “Kek, aku dihina orang. Ayo, tolong kakek yang menyelesaikan!”

“Siapa berani menghinamu?”

“Kedua taci beradik she Ki.! Mereka telah mencelakai kami berdua dengan racun!” Berobahlah airmuka Jenggot perak seketika, “Apa katamu?” ia menegas.

Belum sampai Bu-song merangkai cerita, Thian-leng sudah tampil ke hadapannya dan memberi hormat kepada Bu- song dan Siau-bun, “Lebih dulu aku hendak mengaturkan maaf kepada adik berdua. Sukalah mendengar sepatah kataku……”

Bu-song mencibirkan bibirnya, “Huh, apa yang hendak kau katakan lagi? Bukankah kau sudah tahu ia hendak mencelakai kami berdua?”

Siau-bun merah wajahnya. Ia tak mau ikut bicara.

Akhirnya Jenggot peraklah yang menengahi, “Baik, ceritakanlah!” katanya kepada Thian-leng.

Thian-leng tersipu-sipu memberi hormat lagi. Kemudian ia bercerita tentang pengalamannya selama beberapa hari itu.

Ketika ditawan Hok-mo-tong-cu dan dibawa ke gunung Thay-heng-san. Seperti yang diperkirakan oleh Siau-bun, di sana It-bi-cu berhasil mengalahkan momok dari Hok-mo-tong itu. Momok itu tidak dibunuh, tetapi ilmu kepandaiannya dilumpuhkan selama-lamanya dan kemudain dilepaskan pergi.

Karena teringat akan kedua dara yang masih tertawan di kuil tua, Thian-leng bergegas kembali ke puncak Ceng-liong- nia. Terdorong oleh rasa tanggung jawabnya, Thian-leng mengerahkan seluruh kepandaiannya. Perjalanan yang sedemikian jauh dapat ditempuh hanya dalam waktu dua hari saja.

Tetapi yang dijumpai dalam kuil itu bukan Bu-song dan Siau-bun, melainkan kedua kakak beradik Ki yang digantung di tiang penglari. Kedua taci beradik itu menuturkan apa yang telah terjadi.

Mengingat bahwa waktu perjanjian di Sin-bu-kiong hanya tinggal dua hari saja, maka Thian-leng menyuruh kedua nona itu beristirahat, sedangkan ia sendiri segera menuju ke Sin-bu-kiong.

Semua kejadian telah dituturkan dengan jelas, kecuali bagian Siau-bun dan Bu-song menyiksanya di dalam biara tua. Sekalipun demikian Jenggot perak dan sekalian orang tua juga tahu. Atas desakan Jenggot perak, Thian-leng tak mampu menghindar lagi. Terpaksa ia menceritakan juga.

“Budak, kakeklah yang merusakmu. Perbuatanmu itu memang keterlaluan sekali!” Jenggot perak menegur Bu-song. Si dara hanya mengucurkan air mata.

Juga Hun-tiong Sin-mo menegur puterinya, “Nak, bagaimana mamah mendidikmu?” “Mah, aku merasa salah!” Siau-bun merintih. Hun-tiong Sin-mo menghela napas.

Dalam kedudukan sebagi Bu-lim Bengcu, imam Ki Tim segera bertindak. Ia menyuruh supaya mayat-mayat dikubur sebagai mana mestinya. Kepada anak buah Sin-bu-kiong dan Hek Gak diberi penjelasan. Yang ingin pulang boleh pulang, yang tetap hendak tinggal, pun tak dilarang.

Boleh dikata tokoh-tokoh durjana telah tersapu. Tetapi dalam rombongan Jenggot perakpun terdapat seorang korban, yakni pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay. Walaupun Ko Gwat lojin sudah meminumkan beberapa pil mukjijat, tetapi karena racun sudah menyusup ke dalam darah, tak dapatlah pengemis itu ditolong lagi.

Sewaktu hendak menghembuskan napas terakhir, Thiat-ik Sin-kay memberi pesan kepada Thian-leng supaya berusaha mengembangkan perhimpunan Kay-pang.

Untuk menenteramkan hati jago tua yang hendak berangkat ke alam baka itu, Thian-leng pun bersumpah selama ia masih hidup tentu akan bekerja keras untuk kepentingan kay-pang.

Bok Sam-pi yang sudah pulih kesadarannya, menangis di hadapan jenasah Thiat-ik Sin-kay. Kemarahannya hendak ditumpahkan kepada ketua Hek Gak yang selama ini telah menjadikan dirinya seperti boneka hidup. Tetapi sayang ketua Hek Gak pun sudah mati. Ia kalap karena tak dapat menumpahkan amarahnya. Akhirnya ia kena juga dibujuk oleh cucunya Bok Ceng-ceng.

Jenggot perak berkata, “Karena aku sudah meluluskan permintaan Ki Pek-lam, maka istana Sin-bu-kiong takkan kuhancurkan. Tetapi alat-alat rahasia dalam istana ini harus dibongkar. Sayang sukar mencari siapa….”

Sesosok tubuh kurus meloncat keluar dari dalam istana dan menghampiri Jenggot perak, ujarnya, “Aku si orang tua, sanggup melakukan pembongkaran itu!”

“Siapakah saudara………” baru Jenggot perak hendak bertanya, orang itu sudah menyahut, “Aku si Cakar langit Cukat Jin!”

“Ya, akupun sudah menduga,” Jenggot perak tertawa.

Dengan wajah merah, Cukat Jin menerangkan bahwa ia terpaksa membuat alat-alat rahasia itu karena ditekan oleh Sin-bu Te-kun. Jenggot perakpun tak mempersalahkan. Segera ia menyerahkan pembongkaran itu kepada Cukat Jin. Cukat Jin lalu membawa rombongan mereka ke dalam istana.

Pok Thiat-beng dan Cu Giok-bun sudah baik kembali. Setelah meninggalkan Tiam-jong-san dengan perasaan mendongkol karena tersinggung oleh ucapan anak tirinya ( Lian-ci), tetapi ketika tiba di Hun-tiong san, diam-diam Cu Giok-bun menyesal. Tak seharusnya ia bertindak demikian seperti anak kecil.

Tiga hari kemudian ia berangkat kembali menggabungkan diri dengan Jenggot perak. Beramai-ramai mereka segera menuju ke Sin-bu-kiong di gunung Ceng-hun-san.

Di antara suami isteri Thiat-beng dan Giok-bun masih ada sebuah ganjalan. Ialah tentang diri Nyo Sam-kui dan Ma Hong-ing. Dari kedua orang itulah mereka hendak mencari keterangan yang sejelas-jelasnya, tentang apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini. Keterangan itu dapat membuka semua kesalah-pahaman yang terjadi.

Thian-leng tak kurang tegangnya. Ia benar-benar hendak mengetahui asal-usul dirinya. Maka begitu masuk Sin-bu- kiong, ia terus mencari bagian penjara.

Cukat Jin membawa mereka ke penjara. Tiba di muka pintu, mereka sudah disambut bau amis dan rintihan seram. Dan begitu masuk, mata mereka disuguhi oleh tulang-belulang yang digantung. Setiap korban tentu digantung sampai menjadi tengkorak.

Penjara itu cukup luas. Dengan hati kebat-kebit Thian-leng segera masuk. Tiba-tiba……….

Penyelesaian

Thian-leng mendengus dan lari memburu ke muka .

Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun serta Jenggot perak dan rombongannya terkejut. Mereka segera menyusul Thian-leng.

Pada tiang batu yang terletak di bagian belakang penjara itu, terdapat dua orang yang diikat tubuhnya dengan rantai besi. Mereka ialah Nyo Sam-kui dan Ma Hong-ing.

Hal itu memang telah diduga oleh sekalian orang. Tetapi yang mengejutkan hati mereka ialah, wajah Nyo Sam-kui dan Ma Hong-ing berwarna hitam. Beberapa bagian dari wajah mereka sudah rusak dan mengalirkan nanah busuk.

Jelaslah sudah. Sebelum diikat di situ, mereka telah diberi racun oleh Sin-bu Te-kun. Racun yang bekerja secara perlahan, agar kedua orang itu mati tersiksa secara perlahan.

Thian-leng segera memutuskan rantai mereka. Tetapi Nyo Sam-kui sudah mati dan Ma Hong-ing hanya tinggal menunggu saatnya saja.

Betapapun kebencian Ma Hong-ing kepada Thian-leng, tapi jerih payah selama tujuh belas tahun memelihara anak muda itu, telah menumbuhkan akar kasih sayang yang dalam.

Thian-leng terharu melihat keadaan wanita yang pernah mengaku sebagai ibunya itu!

Ternyata kesadaran Ma Hong-ing masih terang dan dapat melihat jelas kedatangan Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun dan rombongan yang lain.

“Ma Hong-ing, masih kenalkah kau akan diriku?” seru Jenggot perak dengan mengerutkan wajah.

Pipi Ma Hong-ing yang sudah peyot tampak bekernyit. Sahutnya dengan suara lemah, “Kenal….kau adalah

……..majikan tua… ”

Jenggot perak menghela napas dalam-dalam, “Apa sebabnya kau sampai menjadi seperti begini?”

Ma Hong-ing menghela napas. Tiba-tiba dengan bersemangat ia menyahut, “Aku tak dapat bercerita panjang lebar, lekas....” ia menunjuk kepada Thian-leng, “Aku hendak berkata beberapa patah kata kepadamu ”

Buru-buru Thian-leng berjongkok ke dekat wanita yang sedang meregang jiwa itu. Sahutnya dengan rawan, “Mah, bilanglah. !”

Ma Hong-ing menghela napas panjang, “Ah, janganlah memanggil aku mamah. Ayah bundamu yang sebenarnya, adalah. ” “Siapa. ?” Thian-leng tegang sekali.

Sekali lagi Ma Hong-ing mengangkat tangannya dan menunjuk pada Pedang bebas Pok Thiat-beng dan Hun-tiong Sin- mo Cu Giok-bun, “Merekalah. ”

Pernyataan itu disambut dengan rasa kaget oleh semua orang. Pok Thiat-beng dan Cu Giok-bun serempak menjerit kaget.

“Apa katamu?” Thian-leng menegas.

Ma Hong-ing menghela napas lagi, “Ketika kau dilahirkan, aku segera mengganti lain bayi. Kau kubawa pergi dan

bayiku kutinggal........ Siau-bun adalah anakku yang sebenarnya. Tahi lalat merah pada tengkukmu. menjadi bukti

yang nyata!”

Kata-kata dari seorang yang tengah meregang jiwa, tentu sesungguhnya. Apalagi kata-kata itu diucapkan dengan nada yang ramah. Tiada seorangpun yang tak percaya atas keterangan yang diucpkan Ma hong-ing itu.

Sambil memutar tubuh, berserulah Thian-leng kepada Pok T”hiat-beng dan Hun-tiong Sin-mo, “Yah,… mah…!” nadanya penuh haru, dan tersekat putus oleh isak tangis ….. Cu Siau-bun….

Memang Siau-bun telah mendapat firasat bahwa ia bakal mendapatkan hal-hal yang tak baik. Tetapi entah kapan dan bagaimana kejadian malang itu, tak tahulah ia. Bahwa kemalangan itu ternyata sedemikian tragisnya, benar-benar ia tak menduganya sama sekali.

Dengan kalap ia menerkam tubuh Ma Hong-ing dan menggoncang-goncangkannya, “Ngaco, jangan bohong!”

Airmata Ma Hong-ing mengucur deras. Ujarnya dengan rawan, “Nak, telah kupertimbangkan semuanya itu. Kita harus berani menghadapi kenyataan, betapapun pahitnya kenyataan itu bagi kita. Jangan kau coba menghindar. Aku segera akan berangkat ke alam baka, mengapa aku harus menambah dosa membohongi engkau? Nak, kau memang anak kandungku sendiri !”

Tiba-tiba Siau-bun seperti tersadar dari impian. Yubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi. “Dan siapakah ayahku. ?”

“Ni........... Jin-hiong tetapi dia tak tahu!” sahut Ma Hong-ing dengan nada gemetar.

“Oh, Thian! Mengapa nasibku begini mengerikan?” serentak menjeritlah Siau-bun tersedu-sedu. “Dimana sekarang dia?” sejenak kemudian Siau-bun bertanya.

Keadaan Ma Hong-ing benar-benar ibarat pelita yang sudah kehabisan minyak. Dengan nada setengah berbisik ia menyahut, “Dia telah mati dibunuh Sin-bu Te-kun, mayatnya dibuang!”

Suasana dalam penjara maut itu hening sesaat.

Tak seorangpun yang dapat mengucapkan apa-apa. Sunyi senyap sehingga suara orang bernapas pun terdengar.

Ma Hong-ing menghela napas, katanya, “Nak, jika kau mau memaafkan aku, panggillah aku dengan sepatah kata ‘mamah’!”

Siau-bun hanya diam bagaikan patung. Hanya kelopak matanya yang mengucurkan air mata berderai-derai. “Nak, apakah kau tak mau memaafkan aku?” dengan penuh harap Ma Hong-ing menanti.

Siau-bun tetap membisu.

Air muka Ma Hong-ing semakin gelap. Sinar matanya makin redup. Jelas bahwa jiwanya hampir mendekati akhirnya. Betapapun semasa hidupnya ia telah melakukan berbagai kejahatan dan dosa yang mengerikan, tetapi keadaannya pada saat itu benar-benar mengetuk rasa kasihan orang…..

Ditatapnya wajah Siau-bun bagaikan musafir yang mengharapkan tetesan air….

Akhirnya terketuklah hati nurani Siau-bun. Betapapun muaknya kepada wanita itu, tetap dia adalah ibunya. Ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Dan ibu itu kini hampir menutup mata. Apakah dia masih ngotot membencinya?

Tiba-tiba Siau-bun mengulurkan tangannya dan dijabatnya tangan Ma Hong-ing erat-erat. Dengan perlahan penuh keharuan, ia memanggil, “Mamah…”

Tubuh Ma Hong-ing menggigil keras. Matanya yang sudah redup tampak berkilat-kilat memancarkan sinar lagi. Wajahnya tampak berseri tenteram….

tetapi ibarat pelita yang hampir padam, pancaran terang itu merupakan pancaran yang terakhir. Begitu pula Ma Hong-ing, hanya sekejap ia menghamburkan cahaya hidup. Cahaya yang merupakan ujung kehidupannya. Setelah itu mengatuplah kedua matanya perlahan-lahan. Mengatup selama-lamanya…….

Siau-bun menangis tersedu-sedu.

Melihat itu, tak sampailah hati Thian-leng. Dihampirinya nona itu dan dipanggilnya dengan halus, “Adik Bun! Adik Bun…”

Tetapi Siau-bun seolah-olah tak menghiraukan apa-apa lagi. Ia menumpahkan seluruh kedukaan hatinya dengan tangis yang melimpah ruah. Setelah suaranya parau, barulah ia berhenti dan mengusap air matanya.

Ia menghampiri Hun-tiong Sin-mo dan menjatuhkan diri berlutut, “Gibo….. atas budi kebaikanmu merawat aku selama tujuh belas tahun, sungguh aku tak dapat membalasnya meski dengan jiwa ragaku. Tetapi karena sekarang asal-usulku telah diketahui, tak layak lagi aku bernaung pada Gibo. Sejak saat ini…….”

Ia tersekat oleh rasa haru yang mencengkam perasaannya. Namun dipaksakannya juga untuk melanjutkan, “Sejak saat ini, anak bersumpah hendak mengembara. Mudah-mudahan pada suatu hari nanti, anak dapat membalas budi gibo yang sebesar lautan itu!”

Habis berkata, tanpa menunggu sahutan lagi, ia segera bangkit berdiri. “Nak, apa katamu?” Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun mengerutkan alis. “Anak hendak pergi!” sahut Siau-bun sambil menunduk.

“Pergi? Kau hendak pergi kemana?”

“Entahlah, anak tak tahu, tetapi….dunia yang begini luas tentu akan kuperoleh tempat meneduh yang sesuai bagiku!”

Cu Giok-bun menghela napas, “Nak, janganlah kau teruskan niatmu yang tak tepat itu…. apapun yang terjadi, bagiku kau tetap sama. Akan kuanggap dan kuperlakukan seperti anakku dahulu. Ingatlah Siau-bun, kau tetap anakku….”

Air mata Siau-bun membanjir seperti air bah. Rasa haru yang meluap-luap menyebabkan Siau-bun segera memeluk Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Rintihnya, “Mah, kau kuanggap sebagai ibuku yang kucintai segenap hati!”

Cu Giok-bun membelai-belai rambut gadis itu. Tiba-tiba tangannya menyambar Lian-ci dan didekapnya juga. “Nak, kaupun serupa juga...!”

“Mah…..” Lian-ci pun menangis tersedu-sedu.

Hun-tiong Sin-mo mengulum senyum. Tetapi dari sudut matanya ia mengucurkan air mata.....

Sejenak merenung, berkatalah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun dengan ilmu menyusup suara, “Yah, ada kesulitan!”

“Benar, memang kesulitan itu sudah beberapa waktu timbulnya,” sahut Jenggot perak dengan ilmu menyusup suara juga.

“Aku mempunyai rencana yang sekali dayung tiga tepian tercapai,” kata Cu Giok-bun. “Sekali dayung tiga tepian?” ulang Jenggot perak.

“Ya,” sahut Cu Giok-bun, “Thian-leng sudah memperisteri Seng-wan, tapi Bu-song dan Siau-bun mencintainya. Satu- satunya jalan ialah menikahkan mereka menjadi satu. ”

“Apa?” Jeenggot perak mengulang, “kau hendak menikahkan Siau-bun dan Bu-song kepada budak itu juga?” “Benar!” Cu Giok-bun mengiyakan.

“Ini. ”

“Apakah ayah anggap tak layak?”

Tiba-tiba Jenggot perak tertawa lebar, “Tepat, sungguh tepat sekali, tetapi aku seorang tua yang paling takut

menghadapi kerewelan. Sebaiknya urusan ini kuserahkan padamu sajalah!” “Baik, aku bersedia mengurusnya!” Hun-tiong Sin-mo mengiyakan.

Jenggot perak mengelus-elus jenggotnya dengan gembira. Kemudian ia berpaling kepada Thian-leng, “Ayo, katakanlah, bagaimana rencanamu di kemudian hari?”

Thian-leng merenung beberapa saat.

“Terlebih dahulu aku hendak kembali ke goa Giok-ti-tong di gunung Thay-heng-san, untuk melanjutkan pelajaran dalam kitab It Bi siangjin. Setelah berhasil barulah kulaksanakan pesan mendiang Thiat-ik Sin-kay cianpwe, menyempurnakan partai Kay-pang, mengemban tugas sebagai ketua partai itu. Kemudian… ”

“Uruslah hal yang kau anggap penting itu dulu, baru kau nanti pulang ke Hun-tiong-san, maukah kau?” tukas Hun- tiong Sin-mo Cu Giok-bun.

Serta merta Thian-leng menyahut, “Sudah tentu anak akan mengunjukkan bakti kepada ayah ibu berdua. Setelah urusan-urusan itu selesai, aku tentu akan segera pulang ke Hun-tiong-san!”

Cu Giok-bun tersenyum, “Baiklah, sekarang kau boleh berangkat. ingat, harus lekas-lekas pulang!”

Walaupun agak heran, namun Thian-leng tak mau banyak bertanya lagi. Setelah memberi hormat kepada sekalian orang tua, ia segera meninggalkan Sin-bu-kiong.

Puas mengantar keberangkatan sang cucu dengan pandangan mata, Jenggot perak tertawa keras. “Kira-kira sebulan lagi, aku si orang tua bakal minum arak kegirangan, ha, haa, ha. !” serunya.

Melihat Thian-leng pergi, sebenarnya Bu-song gelisah sekali.

“Kek, mengapa kau begitu girang?” tegurnya kepada Jenggot perak.

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Nanti pada waktunya kau tentu akan tahu sendiri!” sahut Jenggot perak. Kemudain ia berpaling dan membisiki telinga mantunya.

“Apa? Bu-song dan Siau-bun henak dinikahkan kepadanya?” Pok Thiat-beng terbelalak. Tiba-tiba ia tertegun karena merasa telah kelepasan omong. Namun hal itu cukup didengar oleh Bu-song dan Siau-bun. Merah padam wajah kedua gadis itu. Tetapi mereka berdua memang cerdik, pura-pura tak mendengar.

Jenggot perak tertawa, tegurnya kepada Cu Hiok-bun, “Eh, Hun-tiong-hu melulu sebuah kuburan, tak tepat dijadikan tempat pesta kawin. Baiklah aku kembali dulu ke Tiam-jong-san. Kau tunggu Thian-leng di Hun-tiong-san. Begitu dia pulang, kalian segera menuju ke Tiam-jong-san. ”

Tanpa menunggu jawaban Cu Giok-bun, Jenggot perak kembali memberi perintah kepada Li Cu-liong, ketua Tiam- jong-pay, “Seorang tamu tak mau merepotkan dua orang tuan rumah. Kali ini adalah pesta perkawinan yang meriah. Ayo, kita lekas pulang membuat persiapan!”

Walaupun tak mengerti, tetapi Li Cu-liong hanya menurut saja.

Yang terakhir, Jenggot perak berkata kepada Ki Tim totiang, “Totiang, sebagai Bu-lim beng-cu, kuserahkan urusan di sini kepada totiang!”

Ki Tim tersipu-sipu mengiyakan.

“Sudah tentu ini menjadi kewajibanku. Silakan Lu lohiapsu mengurus keperluan Lu lohiapsu sendiri. Setelah urusan di sini selesai, akupun tentu beramai-ramai akan mengunjungi Tiam-jong-san untuk minta arak kegirangan dari lohiapsu!”

Jenggot perak menggerutu seorang diri, “Ai, memang aku ditakdirkan untuk menjadi tukang urus orang. Setelah urusan Thian-leng selesai, masih ada Ki Gwat-wan yang harus menerima warisan istana Sin-bu-kiong ”

Jago tua itu segera mengajak Bu-song, Li Cu-liong serta Im Yang songsat, Bok Sam-pi dan Ceng-ceng serta rombongannya menuju ke Tiam-jong-san.

Pok Thiat-beng dengan isterinya Cu Giok-bun serta kedua gadisnya Siau-bun dan Lian-ci berangkat ke Hun-tiong-san. Pada saat mereka keluar dari Sin-bu-kiong, fajarpun memancarkan sinarnya yang gemilang.

Dunia persilatan mulai dengan lembaran baru lagi.....

T a m a t
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 30 (Tamat)"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close