Panji Tengkorak Darah Jilid 26

Mode Malam
Jilid 26 .

Kini barulah sekalian hadirin percaya bahwa wanita yang tegak di tengah gelanggang itu memang benar Hun-tiong Sin-mo.

Sekonyong-konyong terdengar serangkum gelak tawa yang riuh. Sekalian hadirin gempar. Sesaat kemudian tampak serombongan orang masuk. Yang mengantar adalah beberpa anak buah Thiat-hiat-bun dan Tiam-jong-pay.

Dan ternyata yang diantar adalah rombongan Sin-bu-kiong dan Hek Gak.

Berpuluh-puluh anak buah Sin-bu-kiong dan Hek Gak dengan dipimpin sendiri oelh ketuanya telah tiba!

Jelas bahwa kedua partai itu memang telah bersepakat untuk datang bersama-sama. Dan jelas pula, bahwa kedua partai itu telah bertekad hendak menghadapi Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan Hun-tiong-hu.

Sesaat masuk di ruangan petemuan, ketua Hek Gak dan Sin-bu Te-kun segera memberi salam kepada hadirin. “Karena ada urusan, kami datang terlambat. Harap sekalian saudara memaafkan!”

Ucapan itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin. Karena rata-rata mereka ngeri dan benci melihat keganasan Hun-tiong Sin-mo tadi.

Jenggot perak tertawa gelak-gelak, “Kami kira saudara berdua tak sudi datang. Apabila demikian, sebenarnya kami hendak mengunjungi istana kalian. Siapa tahu ternyata saudara sudi memenuhi undangan kami, sehingga kami tak perlu bersusah payah mengadakan perjalanan lagi!” 

Marah benar Sin-bu Te-kun mendapat sambutan begitu. Serunya, “Menekan kaum persilatan, mengganas partai Ji- tok-kau dan merangkul momok Hun-tiong Sin-mo yang bergelimang darah. Hm, kedatanganku kemari adalah hendak membasmi kuman berbahaya dalam dunia persilatan!”

Jenggot perak melantang, “Memalsukan panji Tengkorak darah, memfitnah orang, membujuk kaum persilatan untuk mencapai tujuan menguasai dunia persilatan, itulah akal busukmu, hai setan laknat!”

“Percuma banyak bicara! Pepatah mengatakan, kalau menang menjadi raja, kalau kalah menjadi buronan. Lebih dulu lenyapkan merka saja. ” tukas ketua Hek Gak.

“Kau benar, saudara Kongsun. ” Sin-bu Te-kun cepat balas memutus omongan. Kemudian ia menuding pada Cu

Giok-bun, “Hun-tiong Sin-mo Teng Ih-hui sudah mampus. Jika saudara Kongsun hendak membalas hinaan dulu, balaslah pada wanita itu!”

“Siapakah dia?” ketua Hek Gak terkesiap.

Sin-bu Te-kun tertawa, “Dia adalah murid pewaris Hun-tiong Sin-mo teng Ih-hui, atau anak perempuan ketua Thiat- hiat-bun!”

Tiba-tiba ketua Hek Gak tertawa mengekeh, “Heh,he, kiranya si tua Teng Ih-hui itu sudah mampus! ” “Kalau dapat membunuh perempuan itu juga sama artinya!” Sin-bu Te-kun tertawa dingin.

Ketua Hek Gak mendengus, “Tentu! Setelah membunuh, aku tetap hendak ke gunung Hun-tiong-san untuk merangket mayat Teng Ih-hui sampai tiga ratus kali. ” tiba-tiba ia menuding pada Cu Giok-bun dan berseru

memberi perintah, “Lekas ringkus perempuan itu dan cincang dagingnya!”

Dua lelaki yang berdiri di belakang, yang satu Bok Sam-pi dan yang satu seorang tua bertubuh kurus, segera melesat maju.

Cu Giok-bun tertawa datar. Menghadapi Bok Sam-pi dan si tua kurus, ia berseru, “Jika kalian tak ingin cari mati, harap tinggalkan tempat ini saja!”

“Mah, hati-hatilah terhadap si gemuk. Dia adalah Ang-tim-gong-khek Bok Sam-pi….” buru-buru Siau-bun memberi peringatan kepada ibunya. “Dia diberi obat bius oleh ketua Hek Gak, hingga lupa ingatan.!”

“Aku sudah tahu, kau urus dirimu sendiri sajalah!” sahut Cu Giok-bun dengan dingin.

Bok Sam-pi tak mau bicara. Diam-diam ia mengerahkan lwekang dan tiba-tiba menghantam. Juga si tua kurus tak bicara. Sepuluh jarinya yang runcing macam cakar segera dicengkeramkan. Gerakan itu menimbulkan angin mendesis-desis. Suatu tanda bahwa ilmu orang kurus itu telah mencapai tingkat yang tinggi.

Cu Giok-bun hanya mendengus. Ia menggunakan telunjuk jari kiri dan pukulan tangan kanan untuk menangkis. Sekaligus ia menyambut dua buah serangan dari tokoh-tokoh sakti.

Tiga tokoh sakti yang berilmu tinggi berbareng adu tenaga. Hadirin sekalian mengira bakal menyaksikan kejadian yang dahsyat. Tetapi alangkah terkejutnya mereka.

Ketika tenaga ketiga orang itu saling berbenturan, di luar dugaan sebagian besar kekeuatan tenaga itu buyar lenyap. Tampaknya gerakan ketiga tokoh itu tidak menggunakan tenaga.

Tetapi dari wajah mereka bertiga yang berobah gelap, terlihat bahwa sebenarnya mereka sedang melakukan pertempuran yang dahsyat. Dibandingkan dengan adu pukulan yang mengeluarkan suara dahsyat, jauh lebih hebat beberapa kali.

Sebagian besar dari hadirin adalah jago-jago silat yang memiliki ilmu lwekang. Serentak mereka berdiri dan memperhatikan dengan seksama pada ketiga tokoh yang sedang adu kekuatan itu.

Sin-bu Te-kun mengekeh sinis, “Lu tua, kau pun jangan menjadi penonton saja. Aku telah mengundang dua sahabat untuk mengadu kepandaian dengan engkau!”

Jenggot perak tertawa, “Karena ada tamu agung, aku tentu akan melayani!”

Sin-bu Te-kun tertawa meloroh, lalu memberi isyarat kepada rombongannya. “Orang tua ini adalah ketua Thiat-hiat- bun. Jika kedua saudara suka, boleh bermain-main dengannya!”

Dua lelaki berwajah buruk seperti siluman, melangkah ke depan. Mereka memberi hormat kepada Jenggot perak, “Sebenarnya hasrat kami dua bersaudara hendak mengukur kepandaian dengan Hun-tiong Sin-mo, demi membalas kematian Wajah seribu. tetapi karena Hun-tiong Sin-mo sudah ada lain saudara yang melayani, maka kami ingin bermain-main dengan saudara saja!” Kedua orang perawakannya sama. Hanya yang satu berpakaian warna putih dan yang satu berwarna hitam. Sepasang mata mereka menonjol keluar, rambutnya terurai sampai ke bahu. Sepintas pandang mirip dengan setan.

Jenggot perak tertawa nyaring, serunya, “Lam-yau dan Pak-koay, sungguh beruntung dapat berjumpa dengan kalian!”

Memang kedua orang berwajah seram itu adalah Lam-yau (siluman selatan) dan Pak-koay (manusia aneh dari utara).

Jenggot perak maju selangkah, ujarnya, “Karena saudara berdua mendapat perintah dari Sin-bu Te-kun, silakan saja. Aku tentu akan melayani dengan gembira!”

Merah wajah kedua orang itu. Serempak mereka melengking. “Ngaco! Cukup dengan mengenal kami berdua kakak beradik saja, masakah dapat diperintah orang!”

Sin-bu Te-kun tertawa nyaring, “Harap saudara jangan pedulikan ocehan yang memanaskan dari setan tua itu. Aku pasti membantu saudara!”

Lam-yau dan Pak-koay saling berpandangan. Pada lain saat merekapun segera menyerang berbareng.

Gaya serangan mereka aneh sekali. Yang satu membentuk jarinya seperti cakar baja. Yang lain tidak meyerang dengan jari atau tinju, tetapi dengan siku lengan. Keduanya mirip dengan orang tolol.

Jenggot perak tak berani memandang remeh. Ia duga mereka tentu menggunakan ilmu silat yang istimewa. Iapun serentak menggerakkan kedua tangannya menyambut kedua lawan.

Dar…. terdengar getaran keras dan ketiga tokoh itu masing-masing mundur tiga-empat langkah. Jelas bahwa kekuatan mereka berimbang.

Lam-yau dan Pak-koay menggembor keras, lalu mengayunkan tubuh menerjang lagi. jenggot perakpun tak mau kalah hawa. Ia juga menggerung keras dan menyongsong.

Saat itu di gelanggang rapat Eng-hiong-tay-hwe telah terjadi dua kelompok pertempuran yang dahsyat. Hun-tiong Sin-mo dikeroyok Bok Sam-pi dan si tua kurus. Jenggot perakpun dikerubut Lam-yau dan Pak-koay. Pertempuran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh itu, lain dari yang lain. Begitu dahsyat dan rapat sehingga sukar dipisah dan dibedakan satu dengan yang lain.

Kesempatan itu tak disia-siakan ketua Hek Gak. Ia segera menghampiri Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay, “Karena tak ada musuh, maka kaulah yang akan kuganyang!”

Kata-kata itu ditutup dengan sebuah pukulan dahsyat. Li Cu-liong tak berani berayal. Ia menyongsong dengan kedua tangannya.

Bum. terdengar letupan keras dan Li Cu-liong terhuyung-huyung ke belakang. Hal itu jelas menunjukkan bahwa

tenga ketua Tiam-jong-pay masih kalah jauh dibandingkan ketua Hek Gak!

Ketua Hek Gak tertawa mengekeh, “Ho, kantong nasi yang tak berguna, lekas serahkan jiwamu!”

Ia membarengi meloncat dengan sebuah pukulan. Pada saat Li Cu-liong terancam maut, sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring dan meluncurnya empat sosok tubuh, yang serentak menangkis pukulan ketua Hek Gak. Keempat orang itu ternyata Thiat-hiat Su-kiat atau empat pahlawan Thiat-hiat-bun.

Betapapun saktinya ketua Hek Gak, namun ia tetap tak mampu menahan tenaga empat jago sakti dari Thiat-hiat-bun. Seketika ketua Hek gak terhuyung-huyung ke belakang, hampir saja ia roboh.

Melihat itu empat orang su-cia dari Hek Gak pun tak tinggal diam. Mereka cepat melompat menerjang empat su-kiat dari Thiat-hiat-bun. Seketika suasana menjadi gaduh dengan pertempuran amuk-amukan.

Sin-bu Te-kun tertawa mengekeh pula. Sekali melambaikan tangan, terdengarlah tambur berbunyi menggemuruh. Ternyata di dalam rombongannyapun terdapat beberapa tokoh yang memiliki Im-in sin-kang ( suara sakti). Delapan orang duduk sambil memukul tambur. Nadanya makin tinggi dan hati setiap orang yang berada di situ seperti dipalu....

Dara Pok Lian-ci yang sejak tadi terlongong-longong mengawasi ribut-ribut itu, tampak gelagapan. Buru-buru ia menjemput tambur kecil di belakang bahunya, lalu ditabuhnya.

Sekalipun hanya sebuah tambur kecil, tapi nadanya hebat sekali. Udara seolah-olah penuh dengan kumandang bunyi tambur dan bumi serasa bergetar-getar.

Kedelapan orang penabuh tambur dari rombongan Hek Gak tadi, segera menghentikan pukulannya. Mereka tak dapat menahan desakan bunyi tambur si dara.

Pertempuran secara massal segera terjadi. Ke tiga puluh enam Tian-kong, tujuh puluh dua Te-sat dari Thiat-hiat-bun segera terjun dalam gelanggang, disambut oleh jago-jago Hek Gak dan Sin-bu-kiong. 

Sekonyong-konyong Sin-bu Te-kun memekik keras. Tubuhnya mencelat ke udara dan dengan gaya Jip-hau-kin-kau ( masuk ke laut menangkap naga), ia meluncur ke arah Bu-song dan Siau-bun.

“Cici Bun, lekas Tui-hong-kiongmu!” seru Bu-song kepada Siau-bun. Dan ia sendiri segera menaburkan tiga batang Hong-thau-kiong (passer berkepala burung Hong).

Siau-bun cepat melakukan seruan si dara. Serangkum passer Tui-hong-kiong ( passer pemburu angin) segera ditaburkan.

Sin-bu Te-kun hanya mengekeh tertawa, “Ho, budak perempuan, hari ini kalian tentu akan mati di tanganku!”

Tubuhnya bergetaran di udara, disusul oleh dering gemerincing dari passer Hong-thau-kiong dan Tui-hong-kiong yang berhamburan jatuh di tanah.

Medan pertempuran kacau seketika. Hadirin serempak bubar. Meja berantakan, hidangan tumpah ruah. Mereka menyingkir karena tak mau ikut bertempur.

Saat itu Bu-song dan Siau-bun pun terkesiap kaget.Untung saat itu pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay segera bertindak menolong. Ia loncat menghantam Sin-bu Te-kun.

Tetapi Sin-bu Te-kun bukan tokoh sembarnagan. Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay terpental sampai setombak lebih jauhnya. Bu-song dan Siau-bun pun meundur belasan langkah.

Sin-bu Te-kun makin merangsak. Ia melepaskan sebuah pukulan lagi kepada kedua nona itu.

Sekonyong-konyong di udara terdengar suara gemboran keras dan sesosok tubuh melayang. Di tengah udara orang itu melontarkan sebuah pukulan kepada Sin-bu Te-kun....

Reuni

Sin-bu Te-kun terkejut.

Yang paling ditakuti ialah Thian-leng. tetapi yang menyerangnya itu seorang yang tak dikenal, maka iapun tak gentar. Diiringi dengan gemboran keras, ia menamparnya.

Lwe-kang yang dimiliki oleh Sin-bu Te-kun sudah mencapai tingkat yang hebat. Jarang orang yang kuat menerima pukulannya. Apalagi pukulannya saat itu dilakukan dengan cepat dan keras. Kalau tak mati atau luka berat, tentulah korbannya akan mencelat beberapa langkah.

Tetapi orang itu hanya tertawa mengejek . Tidak menangkis pukulan, melainkan hanya menghindar dan tetap melayang ke samping.

Sin-bu Te-kun terkejut bukan kepalang. Ilmu pelajaran Im-hu-po-kip, mengutamakan kecepatan. Tak mungkin orang akan dapat menghindar. Tetapi bahwa orang itu dengan mudah dan leluasa dapat menghindar, benar-benar ia tak menyangkanya.

Siau-bun dan Bu-song pun terkejut. Mereka tak kenal siapa pendatang itu. Pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay sebenarnya hendak menegur pendatang itu, tetapi tak jadi.

“Siapa kau?” bentak Sin-bu Te-kun.

“Masakah kau tak dapat menduga!” sahut orang itu dengan nyaring.

Sin-bu Te-kun terbeliak. Ia hendak menjawab, tetapi suasana pertempuran tiba-tiba berobah. Yang pertama meloncat mundur ialah Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun.

Tetapi setelah meloncat mundur, ia hendak menyerang lagi. Tiba-tiba ia bersangsi, berhenti dan berpaling.

Sebenarnya pertempuran antara Bok Sam-pi dan si tua kurus melawan Cu Giok-bun , masih berjalan seimbang. Sebenarnya kedua pengeroyok itu kewalahan. Melihat Cu Giok-bun tiba-tiba mundur, merekapun mendapat kesempatan untuk memulangkan napas.

Wajah Jenggot perak pun berobah. Secepat kilat ia melontarkan tiga buah pukulan untuk mendesak mundur Lam-yau dan Pak-koay, lalu jago Thiat-hiat-bun itu mengenjot tubuhnya ke udara dan melayang ke samping pendatang itu.

Lam-yau dan Pak-koay terkesiap. Merekapun memandang kepada si pendatang dengan tercengang.

Pok Lian-ci juga menghentikan tamburnya. Rombongan penabur dari Sin-bu-kiong sudah tak kuat. Dara itupun tak mau mendesak.

Anak buah Thiat-hiat-bun, Hun-tiong-san,Tiam-jong-pay, Hek Gak dan Sin-bu-kiong yang bertempur, karena melihat pemimpinnya berhenti, merekapun ikut berhenti. Kini seluruh mata ditujukan ke arah pendatang yang tak dikenal itu.

“Thiat-beng. !” tiba-tiba Jenggot perak berseru perlahan. Nadanya rawan, mata berlinang-linang.

Memang orang itu adalah Pok Thiat-beng, si Pedang bebas. Juga Thiat-beng berkaca-kaca menyambut, “Gak-hu….” “Nak, beberapa tahun ini. ”

“Panjang sekali ceritanya, tetapi siau-say ( anak mantu ) memang bersalah… ” tukas Thiat-beng.

Jenggot perak menggoyangkan tangan, “Sudahlah jangan mengungkit hal yang lampau. Asal kau sudah tak kurang suatu apapun, sudahlah…..” ia berpaling memandang Cu Giok-bun. “Apakah kau tahu Giok-bun… ”

“Ya, aku bersalah padanya, aku… ” Thiat-beng tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Sin-bu Te-kun tiba-tiba

mundur selangkah dan menukas. “Oh, kiranya kau Pedang bebas Pok Thiat-beng… !”

“Kau baru tahu sekarang?” Thiat-beng menertawakan.

Sin-bu Te-kun tertawa sinis. “Tahu atau tidak, tidak penting. Aku hanya merasa kasihan padamu!”

“Ki Pek-lam!” bentak Thiat-beng, “Aku tak kenal padamu. Bagaimana si Ma Hong-ing dapat menjadi gundikmu!”

Sin-bu Te-kun tertawa mengekeh. “Itulah yang kukatakan kasihan! Banyak sekali hal yang tak kau ketahui. Sekalipun kau merengek-rengek sampai mati, jangan harap kuberitahukan. ” ia sejenak mengedipkan matanya dan

menyambung pula, “Kasihan puluhan tahun kau telah menderita. ”

“Tutup mulutmu!” bentak Thiat-beng.

“Oh, oh, apakah kata-kataku menyinggung hatimu?” Sin-bu Te-kun mengejek.

Thiat-beng mengerutkan kening, “Asal kau serahkan Ma hong-ing, aku takkan memusuhimu!”

“Seumur hidup aku tak pernah menerima tekanan orang. Bagaimanapun pribadi Ma Hong-ing, tetap ia adalah permaisuri Sin-bu-kiong. Mana dapat diserahkan padamu!”

“Oh, kalau begitu kau hendak bermusuhan denganku!”

“Bukan hanya musuh, tetapi kita harus memutuskan siapa yang harus mati dan hidup. ” ia maju selangkah,

mendengus, “Pok tayhiap. , ayolah mulai!”

Thiat-beng tertawa dingin, “Bukan karena aku tak sudi bertempur denganmu, sebenarnya. ”

Sin-bu Te-kun tertegun, serunya, “Bagaimana? Kecuali kau sudah menyadari bahwa percuma untuk melawan. ”

Thiat-beng tertawa, “Aku kuatir sekali turun tangan nyawamu amblas. Padahal jiwamu hendak kuserahkan pada orang lain. ”

“Pok Thiat-beng, jangan terlalu sombong!” bentak Sin-bu Te-kun dengan murka. Cepat ia menghantam dengan pukulan Hian-im-ciang.

Ilmu pukulan Hian-im-ciang sebenarnya tergolong Im-khi-han-sin-kang ( ilmu sakti lwekang dingin). Sin-bu Te-kun telah mempelajari isi kitab Im-hu-po-kip. Dan ia menggunakan tenaga penuh dalam pukulannya itu. Sekalipun tampaknya tidak begitu dahsyat, tetapi dayanya bukan kepalang. Sekaligus dapat meremukkan sepuluh jago sakti.

Seluas dua tombak, saat itu terbaur oleh oleh hawa dingin yang menusuk tulang, sehingga sekalian orang menggigil kedinginan.

Thiat-beng mengerutkan dahi. Ia tahu bahwa pukulan lawan sukar dihindari. Ia harus menangkisnya. Tetapi sebelum ia bertindak, tiba-tiba terdengar getaran keras dan Sin-bu Te-kun terhuyung-huyung sampai tujuh-delapan langkah jauhnya!

Kiranya serangkum tenaga kuat tiba-tiba meluncur dari udara dan membentur pukulan Sin-bu Te-kun. Itulah tenaga pukulan Hian-im-ciang yang hebat. Datangnya pukulan itu benar-benar tak terduga sama sekali. Sin-bu Te-kun tak mampu mendengarnya. Pada saat menghantam Thiat-beng, ia sudah memperhitungkan bahwa tentu takkan ada orang yang membantu lawan. Bahwa Jenggot perak yang berada di samping Thiat-beng pun tak nanti dapat mengimbangi kecepatan serangannya itu!.

Bukan hanya Sin-bu Te-kun saja, tetapi semua hadirinpun kaget. Mereka menjerit terkejut.

Sesosok bayangan biru meluncur turun dari udara dan tegak berdiri di tengah-tengah Sin-bu te-kun dan Thiat-beng. Kang Thian-leng...... 

“Bu-beng-jin, memang telah kuduga tentu engkau!” teriak Sin-bu Te-kun dengan murka.

Thian-leng telah melayang dari jarak sepuluh tombak jauhnya. Tetapi ia dapat menghantam Sin-bu Te-kun sampai mundur beberapa langkah.

“Aku bukan Bu-beng-jin lagi!” sahut pemuda itu.

“Eh, apakah kau sekarang sudah mempunyai nama? Siapakah namamu?” ejek Sin-bu Te-kun. “Pok Thian-leng!”

“Ha, ha, ha, !” Sin-bu Te-kun tertawa tergelak-gelak, “oh, kiranya begitu. Kau ”

“Memakai nama ayah angkatku, apakah salah?”

“Baik, taruh kata kau Pok Thian-leng, tetapi ayah bunda kandungmu. ”

“Setan tua, kau berani mengoceh tak keruan? Hari ini hendak kucincang tubuhmu sampai hancur-lenur!” bentak Thian-leng dengan bengis, walaupun diam-diam hatinya pedih. Karena apa yang dikatakan Sin-bu Te-kun itu memang nyata. Sampai saat itu ia belum mengetahui asal-usulnya.

Begitu pula Sin-bu Te-kun. Sebenarnya ia juga kebat-kebit, mendengar ancaman Thian-leng. Ia sadar bahwa kepandaiannya sekarang kalah dengan pemuda itu. Begitu pula situasi pertempuran tadi, tak menunjukkan keuntungan apapun bagi pihaknya.

“Rupanya kau mengandalkan ilmu pelajaran It Bi siangjin!” serunya. “Begitulah!” sahut Thian-leng.

“Kalau begitu pukulanmu tadi….”

“Ya, benar! Itulah yang disebut Coan-hun-ciang (pukulan menembus awan). Dalam jarak sepuluh tombak dapat menghantam mati orang. Lain-lain ilmu mungkin kau tak pernah dengar!”

Sin-bu Te-kun terkesiap, tetapi cepat ia tertawa, ”Jangan membual! Sekalipun ilmu pelajaran It Bi siangjin tinggi, tetapi belum tentu sesakti itu…. dan juga paling-paling kau hanya mempelajari beberapa jurus permainan saja!”

“Hm, sejak dahulu kala siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan?” Thian-leng tertawa mengejek. “Ya, memang hanya It Bi siangjin seorang,” Sin-bu Te-kun menghela napas.

Sejenak menyapu pandangan ke sekeliling medan perjamuan, berkatalah Thian-leng, “Aku tak sudi banyak bicara dengan kau. Pertaruhan seratus jurus kita dulu, masih kurang delapan jurus. Sekarang di hadapan para tokoh-tokoh persilatan, seharusnya kita selesaikan!”

Wajah Sin-bu Te-kun berobah, “Dahulu bukankah kaupun pernah meminta-minta supaya diundur, bukan?” “Jika kau minta mundur, akupun tak keberatan!” sahut Thian-leng,”Tetapi sebutkanlah waktu dan tempatnya!” Sin-bu Te-kun tertawa, “Baiklah, nanti sepuluh hari lagi kutunggu kedatanganmu di istana Sin-bu-kiong!” “Dan menyelesaikan sisa delapan jurus itu?”

“Bukan hanya delapan jurus itu saja, juga segala macam kepandaianmu boleh kau keluarkan!” sahut Sin-bu Te-kun dengan garang.

Thian-leng tertawa mengejek, “Baik, kali ini kuampuni jiwamu!” ia melirik tajam kepada lawannya, serunya, “tetapi apakah lain-lain cianpwe mau memberi ampun kepadamu atau tidak, terserah saja, aku tak berani mencampuri!”

Jenggot perak memandang sejenak kepada Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun dan lain-lain, lalu tertawa gelak-gelak, “Dalam hal ini aku dapat memberi keputusan. Kita setuju sepuluh hari lagi ke Sin-bu-kiong, bahkan akupun bersedia menjadi saksi!”

Sekalian orang diam saja.

Thiat-beng dan Giok-bun diam-diam mengerti, bahwa ayah mereka tentu sudah mempunyai rencana.

Pertama supaya mereka segera terangkap sebagai suami isteri lagi. Kedua supaya lekas dapat mencari Ma Hong-ing. Karena hanya dari si bujang wanita yang beracun lidahnya itu dapat diketahui duduk perkara yang sebenarnya.

Dan ketiga, soal Thian-leng dengan Siau-bun dan Bu-song harus segera diselesaikan juga.

Di antara sekalian orang, Bu-songlah yang mempunyai pikiran tersendiri. Setelah mendapat keterangan dari Jenggot perak bahwa Thian-leng mati di tanganBok Sam-pi, bencinya terhadap Bok Sam-pi meluap-luap. Bu-song memutuskan, apabila hun-tiong Sin-mo dapat membunuh Bok Sam-pi, ia hendak mencincang tubuh si gemuk itu. Tetapi andaikata Hun-tiong Sin-mo kalah, BU-song bertekad hendak mengadu jiwa dengan Bok Sam-pi.

Di luar dugaan, Thian-leng telah muncul dengan tak kurang sesuatu apapun, bahkan dengan membawa kesaktian yang mengagumkan, Bu-song sampai terlongong-longong tak dapat berbicara.

Juga Siau-bun tak kurang girangnya. Hampir saja ia tak dapat mengendalikan diri untuk menghampiri pemuda itu. Tetapi karena malu dengan sekian banyak orang, terpaksa ia hanya berdiam diri saja. Paling-paling ia mencuri kesempatan melirik pemuda itu.

“Kalau begitu aku pulang dulu!” dengan gaya garang Sin-bu Te-kun yang licin segera menggunakan kesempatan. Jenggot perak tertawa, “Dari jauh-jauh saudara datang kemari, mengapa terburu-buru hendak pulang?”

Sin-bu Te-kun terbeliak, “Apakah kau hendak mengajukan acara lain lagi?”

Jenggot perak tertawa, “Jangan kuatir, sahabat! Sekali sudah kusetujui pengunduran sepuluh hari itu, tak nanti aku berobah pikiran. ” ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “meskipun medan perjamuan ini sudah morat-marit, tetapi

dalam setengah jam saja dapat diatur rapih lagi. Mengapa saudara tak mau menghadiri perjamuan para ksatria ini?”

Kerut wajah Sin-bu Te-kun agak mengendor, ujarnya, “Terima ksih, tetapi lebih baik aku pulang saja!” tanpa menunggu sahutan orang lagi, segera ia melangkah pergi. Berhenti di depan ketua Hek Gak, ia menggunakan ilmu menyusup suara, “Situasi berobah begini, apakah saudara Kongsun masih mempunyai rencana lain?”

Tiang andalan ketua Hek Gak hanyalah Bok Sam-pi. tetapi ternyata walaupun bok Sam-pi maju bersama si tua kurus, tetap tak dapat mengalahkan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Diam-diam hati ketua Hek Gak sudah gentar. Apalagi Pok Thiat-beng dan Thian-leng berturut-turut muncul, nyali ketua Hek Gak semakin rontok.

Segera ia menyahut dengan ilmu menyusup suara, “Akupun sudah kehilangan paham, harap saudara Ki memberi petunjuk!”

“Saudara masih mempunyai dendam dari enam puluh tahun silam,” Sin-bu Te-kun tertawa, “Nafsu besar tetapi nyali kecil. Jika mempunyai rencana untuk menguasai dunia persilatan, tak boleh kita takut menghadapi kesulitan!”

Merahlah muka ketua Hek Gak, serunya, “Bagaimanakah pendapat saudara Ki!” “Terus terang, aku sudah mempunyai rencana untuk mati bersama-sama mereka!”

Mendengar itu ketua Hek Gak terbelalak, tetapi cepat ia menegas, “Bagaimanakah caranya?”

“Telah dapat kuundurkan pertempuran kita sampai sepuluh hari lagi dan tempatnyapun kupilih di Sin-bu-kiong. Lihat saja apakah mereka nanti dapat keluar dari Sin-bu-kiong dengan masih bernyawa!” sahut Sin-bu Te-kun dengan bangga.

“Apakah saudara bermaksud. ”

“Harap saudara Kongsun jangan mendesak pertanyaan lagi. Maksudku hanya hendak membantu saudara membuka jalan hidup!”

“Terserah pada kebijaksanaan saudara saja!” buru-buru ketua Hek Gak menyambuti dengan nada setengah merintih kasihan.

Sin-bu Te-kun tersenyum, “Asal saudara Kongsun mau meluluskan sebuah syaratku, kutanggung Hek Gak tentu takkan hancur, bahkan akan dapat bangkit kembali untuk menegakkan keharuman nama di dunia persilatan!”

“Jangankan hanya satu. Sepuluh buah permintaanpun aku bersedia menyanggupi!” sahut ketua Hek Gak.

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berganti nada serius, “Asal saudara suka mengajak anak buah saudara berkumpul di Sin-bu- kiong, kutanggung harapanmu tentu terlaksana….,” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Asal kita bersatu, siapakah yang dapat menandingi? Harap saudara Kongsun memberi keputusan!”

Ketua Hek Gak mengerutkan wajah dan menjawab terbata-bata, “Ini..... sebagai ketua Hek Gak aku. ”

Permintaan Sin-bu Te-kun itu berarti menyuruh ketua Hek Gak takluk pada Sin-bu Te-kun. Suatu hal yang terlampau berat bagi ketua Hek Gak.

“Bagaimana? Apakah saudara keberatan!” Sin-bu Te-kun mendesak.

“Ya, ya, setuju, setuju. ” akhirnya dengan wajah meringis, ketua Hek Gak menyahut, “memang seharusnya kubantu kesulitan saudara dalam pertempuran di Sin-bu-kiong nanti!”

Sekalipun kedudukannya terpojok, namun ketua Hek Gak berusaha untuk menjaga gengsi dengan ulasan kata-kata garang.

Tiba-tiba wajah Sin-bu Te-kun mengerut gelap, ujarnya, “Mungkin saudara belum menangkap kata-kataku. Maksudku agar saudara menggabung pada Sin-bu-kiong atau jelasnya supaya Hek Gak masuk menjadi anak buah Sin-bu-kiong. Segala apa harus menurut perintahku. ” ia berhenti sejenak, katanya pula, “tetapi hendaknya saudara Kongsun

jangan cemas. Kesemuanya ini hanya rencana sementara. Begitu sudah berhasil, dunia persilatan akan menjadi di bawah kekuasaan Hek Gak dan Sin-bu-kiong! Aku pasti tak akan. ”

Walaupun di dalam hati benci sekali, namun ia tak berdaya dan terpaksa batuk-batuk, “Ya, ya , aku menurut saja!”

Percakapan yang dilakukan oleh kedua tokoh itu menggunakan ilmu menyusup suara, sehingga orang lain tak mendengar sama sekali. Tetapi karena memakan waktu lama, Thian-leng pun tak sabar lagi, bentaknya, “Kalau tetap tak lekas enyah, jangan menyesal kalau keputusanku berobah menjadi tak menguntungkan dirimu!”

Ia menutup peringannya dengan sebuah tamparan. terdengar deru angin menggelegar dan teriakan kaget dari para hadirin....

Kiranya tamparan yang ditujukan pada Sin-bu Te-kun itu itu tidak langsung ditujukan pada orangnya, melainkan ke sebelahnya.

Seketika tanah seluas dua meter di sisi Sin-bu Te-kun meranggas hangus. Sampai beberapa lama api baru padam. Sekalian orang terkejut bukan kepalang.

Pukulan yang dapat membakar tanah. Di dunia persilatan mungkin tak ada orang kedua yang memiliki ilmu

pukulan semacam itu.

Sin-bu Te-kun mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat seperti kertas. Beberapa saat baru ia dapat menenangkan hatinya. Dengan dengusan mengejek yang disengaja untuk menutupi ketakutannya, segera ia memutar diri dan melangkah pergi.

Tiba-tiba terdengar raung seperti singa. Sesosok tubuh gendut loncat ke muka Thian-leng. Thian-leng terkesiap, serunya, “Locianpwe, apakah kau sudah sembuh?”

Kiranya yang tegak di hadapannya itu ialah Bok Sam-pi, tokoh linglung yang bertubuh gemuk.

“Buyung, ayo kita bertanding sejurus lagi!” Bok Sam-pi menggerung. Walaupun linglung, namun ia masih ingat akan pertempuran di gunung Thay-heng-san tempo hari.

Karena belum memperdalam ilmu ajaran It Bi siangjin, Thian-leng lebih parah lukanya, walaupun begitu Bok Sam-pi pun harus beristirahat lebih dari sebulan untuk memulihkan lukanya.

“Bok cong-hou-hwat!” cepat-cepat ketua Hek Gak meneriaki. “Ya, hamba di sini!” Bok Sam-pi tertegun.

“Sebelum mendapat perintahku, tak boleh bertindak sendiri , mengapa kau… ”

“Dalam kedudukan sebagai guru dan murid, siapakah yang harus mendengar perintah?” di luar dugaan Bok Sam-pi marah.

Jago tua itu selama hidup jarang menderita kekalahan. Bencinya terhadap Thian-leng benar-benar merasuk tulang. Ia tak menghiraukan peringatan ketua Hek Gak lagi.

Ketua Hek Gak semakin gelisah. Ia tahu bahwa kalau Bok Sam-pi menempur Thian-leng, tentu akan kalah. Tiang andalan satu-satunya hanyalah pada Bok Sam-pi. Jika Bok Sam-pi sampai kenapa-napa, ia tentu akan kehilangan tiang andalannya.

“Locianpwe, apakah kau tak ingat pada cucumu Bok Ceng-ceng?” masih Thian-leng bersabar. Dia berusaha hendak menyadarkan ingatan jago tua itu. Mungkin dengan mengemukakan Ceng-ceng, Bok Sam-pi akan pulih kesadarannya.

Di luar dugaan, usaha Thian-leng itu malah menimbulkan kebalikan. Bok Sam-pi marah sekali dan membentak- bentak, “Siapa suruh kau mengatakan anak perempuan itu!” sekoyong-konyong ia menghantam.

Thian-leng tahu bahwa orang tua itu masih hilang ingatannya. Maka ia tak mau menandingi dan hanya menghindar ke samping saja.

Bok Sam-pi terkesiap. Ia kaget menyaksikan kegesitan si anak muda menghindar. Tubuh Thian-leng berputar-putar seperti angin dan tahu-tahu sudah beberapa meter di sebelah kirinya. “Suhu!” kembali ketua Hek Gak meneriaki dengan cemas.

Tetapi Bok Sam-pi tetap tak mau menghiraukan dan membentak Thian-leng, “Buyung, mengapa kau tak berani menyambut pukulanku!”

“Locianpwe, aku tak bermusuhan denganmu. Mengapa locianpwe berkeras hendak membunuh aku?”

Sebenarnya Sin-bu Te-kun sudah melangkah pergi, tetapi begitu Bok Sam-pi menantang Thian-leng, ia menghentikan langkahnya dan mengikuti perkelahian itu.

Ketika melihat ketua Hek Gak gelisah, segera ia menghampirinya.

“Saudara Kongsun, apakah obat pembius sudah punah dayanya?” tegurnya dengan ilmu menyusup suara. Ketua Hek Gak menggeleng, “Tak mungkin! Kekuatan obat itu dapat bertahan sampai petang hari!” “Kalau begitu. ”

Antara suami isteri

“Dengan beberapa patah kata, aku dapat menguasainya!” seru Sin-bu Te-kun. “Apakah saudara Ki bergurau?” ketua Hek Gak menegas girang.

Wajah Sin-bu Te-kun mengerut serius, “Masakah dalam saat seperti sekarang aku bergurau?” “Kalau benar, aku taat dan ikhlas untuk menjadi orang bawahan sin-bu-kiong!”

Sin-bu Te-kun tertawa sinis. Tiba-tiba ia menggunakan ilmu menyusup suara kepada Bok Sam-pi, “Tahukah Bok locianpwe saat ini berada di tempat apa?”

Bok Sam-pi yang sebenarnya hendak melontarkan pukulan lagi, tiba-tiba tertegun mendengar kata-kata Sin-bu Te- kun. Sesaat kemudian ia menyahut dengan ilmu menyusup suara juga, “Apa hubungannya dengan diriku?”

“Banyak sekali locianpwe,” kata Sin-bu Te-kun, “perlukah kukatakan?” “Katakanlah!”

“Kesatu, di hadapan sekian banyak jago-jago dari seluruh penjuru, kemarahan locianpwe untuk bertempur dengan seorang anak muda, dapat menurunkan derajat locianpwe. Kedua, pertempuran di gunung Thay-heng-san antara locianpwe dengan budak liar itu belum banyak yang tahu. Kalau sekarang locianpwe hendak mengulangi lagi, apakah tidak berarti memberitahukan orang-orang?

Ketiga, sepuluh hari lagi budak itu tentu akan datang ke Sin-bu-kiong, akan kuatur supaya cianpwe dapat mengahjarnya dan kusiapkan segala sesuatu agar budak itu jangan sampai lolos.

Dan keempat. ”

Bok Sam-pi yang semula terlongong-longong, tiba-tiba tertawa mengekeh, serunya,“Benar! Benar! Kuterima usulmu. ” kemudian ia berpaling kepada Thian-leng, “Budak, kuberi engkau hidup sepuluh hari lagi!”

Dan tanpa menghiraukan sahutan orang lagi, jago tua itu berputar dan terus melangkah pergi dengan kepala menengadah.

Thian-leng meringis. Sekalipun ia tak tahu apa yang dibicarakan antara Sin-bu Te-kun dan Bok Sam-pi tadi, tapi ia mempunyai dugaan bahwa Bok Sam-pi tentu kena ditipu. Diam-diam ia kasihan dengan locianpwe yang kehilangan pikirannya itu. Sayang ia belum dapat mempelajari ilmu pengobatan dari kitab It Bi siangjin, sehingga tak dapat menolong jago tua itu.

Bok Sam-pi tak menghiraukan semua orang. Dia terus melangkah keluar. Ketua Hek Gak segera memberi isyarat kepada anak buahnya. Seluruh rombogan Hek Gak pun segera mengikuti Bok Sam-pi. Sin-bu Te-kun, Lam-yau, Pak- koay, Bu-ciu su-seng dan rombongan Sin-bu-kiong pun segera angkat kaki.

Karena pemimpinnya tak memberi komando, anak buah Tiam-jong-pay dan Thiat-hiat-bun pun tak berani mencegah mereka.

Saat itu fajar mulai menyingsing. Hanya kurang lebih setengah jam lamanya, Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak datang dengan semangat menyala-nyala, tetapi pergi dengan nyali pecah. Sekalian hadirin menyaksikan kejadian itu, tetapi mereka tak berani bicara dengan mulut melainkan dalam hati. Ada sebagian besar yang masih menganggap bahwa pihak Sin-bu-kiong adalah bintang penolong, yang akan menyelamatkan dunia persilatan Tiong-goan dari kekejaman Hun-tiong Sin-mo dan Thiat-hiat-bun.

Kepergian jago-jago yang mereka harapkan kemenangannya itu, meninggalkan kegelisahan di kalangan hadirin.

Lebih-lebih ketiga cuncia dari Siau-lim-si dan rombongan ke sembilan partai. Mereka kenal Thian-leng. Mereka merasa telah membuat kesalahan pada pemuda itu, yaitu telah melemparkannya ke dalam sungai. Rasa takut segera mencengkam mereka. Biasanya anak muda tentu berdarah panas dan suka mendendam. Apabila pemuda itu akan menuntut balas, ah. ngeri mereka membayangkan.

Tetapi apa yang terjadi, benar-benar di luar dugaan mereka. Thian-leng sama sekali tak menghiraukan rombongan sembilan partai. Tampaknya pemuda itu sudah lupa pada apa yang terjadi di selat Sing-sim-kiap dulu. Dia hanya sibuk berbicara dengan ketua Thiat-hiat-bun saja.

Yang lucu adalah kedua tokoh Im Yang song-sat. Semula kedua orang itu ikut Cu Siau-bun, tetapi ketika Thian-leng muncul, mereka segera terbirit-birit melarikan diri.

Sejenak melayangkan pandangan ke medan perjamuan, tertawalah Jenggot perak, serunya nyaring, “Berhubung ada sedikit keributan, maka sampai mengganggu medan perjamuan. Dalam hal ini kuharap saudara-saudara suka memaafkan!”

Pernyataan ketua Thiat-hiat-bun itu benar-benar melegakan dada hadirin. Mereka tersipu-sipu membalas hormat kepada tuan rumah. Keteganganpun menjadi agak reda.

“Li-ciangbun!” tiba-tiba Jenggot perak berseru kepada Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay. (bersambung ke jilid 27)
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 26"

Post a Comment

close