Panji Tengkorak Darah Jilid 23

Mode Malam
Jilid 23 .

Tetapi di luar dugaan, kini muncul Thiat-hiat-bun. Partai dari luar Tiong-goan ini muncul di wilayah Tiong-goan dan rupanya bersekutu dengan Hun-tiong Sin-mo. Orang sama menduga, bahwa pihak Hun-tiong-hu tentu sudah berada lebih dulu di Tiam-jong-san. Tidak menampilkan muka kepada para tamu, mungkin telah direncanakan oleh hun-tiong Sin-mo dan thiat-hiat-bun. Sekaligus mereka hendak menjaring seluruh tokoh-tokoh silat untuk dilenyapkan.

Apabila sampai pada kesimpulan itu, mau tak mau bergidiklah bulu roma sekalian tamau. Dan yang lebih mencemaskan hati mereka, mengapa sampai detik ini Sin-bu Te-kun dan ketua Hek Gak tak muncul! Takutkah kedua tokoh itu?

Menurut perhitungan, tanpa hadirnya ketua Sin-bu-kiong dan Hek Gak, pasti akan merupakan kehilangan yang besar. Sekalipun seluruh tokoh-tokoh silat yang hadir di tiam-jong-san itu bersatu padu menghadapi tantangan tuan rumah dan Hun-tiong Sin-mo, namun mereka tetap seperti telor beradu dengan tanduk. Pasti mereka akan dihancur - leburkan oleh momok Hun-tiong Sin-mo. Bayang-bayang dunia persilatan bakal dikuasai oleh momok Hun-tiong Sin- mo makin jelas.

Ada lagi sebuah hal yang lebih merontokkan nyali sekalian tamu. Ialah tentang pemuda Bu-beng-jin yang konon telah mendapat ajaran kitab pusaka It Bi siang-jin. Pemuda itu memang sakti sekali. Pernah bertempur belum selesai dengan Sin-bu Te-kun dan bertempur seri dengan sama-sama terluka melawan Bok Sam-pi. Kemanakah beradanya pemuda itu sekarang? Apakah ia sudah mati atau masih hidup?

Demikianlah hal-hal yang menjadi pokok pembicaraan penting di kalangan para tamu. Kebanyakan mereka itu tak tahu jelas bagaimana keadaan pertempuran di gunung Thay-heng-san yang lalu. Karena mereka membenci Hun-tiong Sin-mo, maka simpati merekapun tertuju pada Hek Gak dan Sin-bu-kiong. Karena Bu-beng-jin dianggap bermusuhan dengan Sin-bu Te-kun dan Hek Gak, maka sekalian tamu mengharap agar pemuda itu sudah mati dan jangan muncul lagi di dunia persilatan.

Pemuda itu pernah membunuh orang-orang dari ke sembilan partai persilatan dan ke sembilan partai persilatan menganggap pemuda itu sebagai anak buah Hun-tiong Sin-mo, sehingga dipukul dan dilempar ke dalam sungai. Jelas pemuda itu tentu mendendam. Jika ia muncul lagi di Tiam-jong-san, hebatlah akibatnya bagi kesembilan partai persilatan.

Ramai dan sibuk sekali para tamu memperbincangkan kemungkinan-kemungkina yang bakal mereka hadapi besok pagi. Tetapi pada keseluruhannya, mereka lebih banyak bergelisah dari pada besar hati.

Sampai jauh malam masih terdengar orang bercakap-cakap memperbincangkan hal itu.....

ooo000ooo

P e m b u k a a n

Di bawah naungan kabut rahasia yang penuh teka-teki, tibalah hari pembukaan rapat orang gagah di gunung Tiam- jong-san. Rapat yang sangat dinanti-nantikan dengan penuh perhatian oleh seluruh kaum persilatan.

Jelas sudah bahwa maksud ketua Thiat-hiat-bun menyelenggarakan rapat itu bukan untuk menjamu dalam rangka perkenalannya dengan kaum persilatan daerah Tiong-goan. Apakah maksud ketua Thiat-hiat-bun di balik undangannya itu, belum diketahui jelas!

Di muka halaman markas Tiam-jong-pay, telah dibuat sebuah lapangan seluas berpuluh-puluh bau. Tanahnya dibuat rata sekali dan licin hingga tepat dijadikan gelanggang adu kepandaian.

Gunung Tiam-jong-san seolah-olah bermandikan cahaya lampu warna-warni. Beberapa pos penjagaan didirikan, petugas-petugas yang melakukan ronda keamananpun dilipat-gandakan jumlahnya.

Di balik kesibukan dan ketegangan suasana yang meliputi medan perjamuan, di dalam sebuah kamar rahasia dalam markas Tiam-jong-pay, sedang berlangsung perundingan rahasia juga.

Limapuluh jago-jago Hun-tiong-hu golongan Pek-ih-tiang-hwat ( orang tua jenggot putih berbaju putih). Jangan harap orang dapat mendekati kamar rahasia itu.

Siapakah yang sedang mengadakan perundingan rahasia di situ? Di dalam kamar rahasia terdapat beberapa kursi. Yang duduk di kursi kehormatan ialah si Jenggot Perak Lu Liang-ong, kemudian Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay. Duduk di sebelah Jenggot perak, seorang wanita pertengahan umur, yakni puteri semata wayang dari Jenggot Perak atau isteri yang ditelantarkan oleh pedang bebas pok Thiat-beng, ialah Cu Giok-bun...

Momok hun-tiong Sin-mo yang menggetarkan dunia persilatan itu tak lain tak bukan ialah Cu Giok-bun sendiri. Mengapa Giok-bun memakai she Cu dan mengapa ia menjadi Hun-tiong Sin-mo, memang tak diketahui jelas.

Duduk di samping Cu Giok-bun adalah puterinya, yakni Cu Siau-bun. Selain keempat orang itu tampak juga seorang pengemis tua. Bahwa seorang pengemis tua mendapat kehormatan diajak berunding oleh tokoh-tokoh seperti Hun- tiong Sin-mo dan Jenggot perak, tentulah bukan sembarangan pengemis. Dan memang demikianlah halnya. Pengemis tua itu ialah Thiat-ik Sin-kay atau Pengemis sakti sayap besi, cousu (guru besar) angkatan yang terdahulu dari partai pengemis.

Kiranya sewaktu Thian-leng memerintahkan Lau Gik-siu supaya menjaga di luar lembah Pak-bong-kiap dahulu, Thiat- ik Sin-kay tiba-tiba muncul. Dalam kedudukannya sebagai seorang cousu, ia menyuruh Lau Gik-siu mengajak rombongannya pulang ke markas Kay-pang. Sementara ia sendiri menuju ke Tiam-jong-san.

Perundingan dalam kamar rahasia itu berlangsung dalam suasana yang sepi. Rupanya mereka tengah menghadapi masalah berat. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Li Cu-liong membuka mulut, “Dari regu penyelidik yang pulang melapor, pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak tak memperlihatkan gerakan apa-apa. Kemungkinan besar mereka tak menghadiri rapat ini!”

Jenggot perak menghela napas perlahan, “ Pintar juga tindakan mereka itu, tetapi ia tertawa datar, “mungkin

perhitunganmu itu meleset!” Merahlah wajah Li Cu-liong. “Menurut pendapatku, bukan saja mereka akan datang, juga kedatangan mereka itu tentu dengan tujuan jahat. Mungkin. ” tiba-tiba Cu Siau-bun menyeletuk, tetapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ibunya sudah

memutuskan , “Eh, apakah kau berhak bicara di sini?” Siau-bun bungkam.

“Giok-bun, mengapa kau begitu keras terhadap anak!” Jenggot perak tertawa. kemudian dengan pandangan ramah ia menatap Siau-bun, ujarnya, “Sebenarnya dugaanmu itu tadi benar. Mereka pasti datang dengan berbekal rencana jahat. Tetapi, ..eh, mengapa kau

dapat menduga begitu?”

Siau-bun hendak menyahut, tetapi didahului Lu Bu-song, “Itu mudah saja! Kalau tidak masakah kakek tegang sekali sehingga memerintahkan supaya Tiam-jong-san dijaga seketat ini?”

Kembali Jenggot perak tertawa keras, “Benar, benar jugalah. kalian memang anak perempuan keranjingan. ”

ketika memandang Cu Siau-bun, tiba-tiba Jenggot perak berhenti bicara. Teringatlah ia akan kata-kata Siau-bun ketika berada di gunung Thay-heng-san tempo hari. Ia telah meluluskan untuk menjodohkan Bu-song dengan Bu- beng-jin. Siapa tahu ternyata sebelumnya Bu-beng-jin telah mengadakan hubungan luar biasa dengan Siau-bun. Jenggot perak pedih hatinya atas tindakan Bu-beng-jin yang beriman tipis itu. Bagaimana nanti dengan Lu Bu-song.

Sebaliknya karena dipuji sang kakek, Bu-song girang hatinya. Dengan membusungkan dada ia memandang Siau-bun beberapa saat. Siau-bun pun balas memandang adik misannya itu.

Karena tak tahu apa yang sedang dipikirkan Jenggot perak saat itu, begitu tampak wajah orang tua itu muram, diam- diam Li Cu-liong terkejut. Sejak kecil ia dipungut anak oleh jenggot perak, maka tahulah ia bagaimana perangai ayah angkatnya itu.

Menghadapi persoalan yang bagaimanapun beratnya, selalu Jenggot perak itu tak acuh. Tetapi kalau saat itu tampak begitu gelisah, terang masalahnya genting sekali.

“Sin-bu-kiong dan Hek Gak sudah menderita kekalahan di gunung Thay-heng-san. Kegarangan mereka pun tentu sudah merosot. Maksud gi-hu menyelenggarakan rapat orang gagah ini, selain untuk berkenalan dengan kaum persilatan Tiong-goan, juga hendak membantu mereka melenyapkan kedua momok jahat itu.

Dalam hal ini mungkin pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak sudah mencium itu, maka kemungkinan besar mereka tentu tak datang. ”

“Mereka datang atau tidak, aku tak peduli. begitu perjamuan ini selesai, aku segera mengajak Bu-song pulang ke Ling-lam lagi. ” ia menghela napas, “Dunia persilatan Tiong-goan bakal menjadi bagaimana, aku tak sudi mengurus

lagi!” Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan nada rawan.

Li Cu-liong melongo. Ia tak tahu apa yang dimaksud dalam ucapan ayah angkatnya itu. Suasana kamar rahasia itu diliputi oleh kerawanan.

“Kek,. apa katamu?” teriak Bu-song.

Beberapa bulan yang lalu karena marah-marah, ia berpisah dengan Thian-leng. Tetapi hatinya selalu terkenang pada anak muda itu. Diam-diam ia menyesal atas tingkah lakunya sendiri. Karena tak tahu kemana perginya Thian-leng, terpaksa ia menggabungkan diri dengan kakeknya lagi. Jenggot perak menghibur cucunya dan memeberi jaminan, bahwa Thian-leng pasti akan berkumpul lagi dengan dara itu. Karena mendapat jaminan, barulah dara itu mau ikut ke Tiam-jong-san. Tetapi dalam perjalanan, Jenggot perak telah mengetahui hubungan antara Thian-leng dengan Cu Siau-bun. Sikap Jenggot perak serentak berobah seratus delapan puluh derajat. Hanya saja ia mendapat kesulitan untuk menceritakan hal itu kepada Bu-song.

“Apakah kata-kataku tadi belum jelas?” Jenggot perak menyeringai kepada Bu-song. Bu-song terkejut. Selama ini belum pernah kakeknya bersikap begitu kepadanya.

“Kek, kuminta kau mengatakan lagi!” serunya.

“Besok lusa, kita pulang ke Ling-lam dan takkan datang ke Tiong-goan lagi selama-lamanya!” kata Jenggot perak dengan suara berat.

“Mengapa ..?” wajah Bu-song berobah seketika. “Tidak apa-apa,” kata Jenggot perak dengan suara tetap, “kudapatkan dunia ini kotor palsu, hati manusia banyak yang culas. Aku tak mau keluar ke dunia ramai lagi selama-lamanya!”

“Eh, kek, mengapa hari ini? ” serentak Bu-song bangkit dengan kaget, “apakah yang terjadi? Apakah ... ” cepat sekali dara itu mereka dugaan, jangan-jangan Bu-beng-jin mendapat bahaya. Bukankah tempo hari kakeknya itu pernah mengatakan bahwa pemuda itu lenyap di gunung Thay-heng-san?

Jenggot perak menghela napas pula, ujarnya, “Nak, jangan mendesak pertanyaan. Aku mau pulang ke Ling-lam adalah demi kebaikanmu!”

Bu-song makin bingung. Segera ia menubruk kapada kakeknya dan merajuk,“Kek, kau harus mengatakan yang sebenarnya. Apakah dia. , bagaimana?”

Siau-bun mengulum lidah dan tertawa dingin, “Eh, Adik Song, siapakah yang kaumaksudkan ‘dia’ itu?” Tetapi Bu-song tak menghiraukan, ia tetap menggelendoti bahu kakeknya. “Bilanglah kek, bagaimana dia?” Sejenak Jenggot perak melirik kepada Siau-bun, ingin berkata tetapi tak jadi.

“Kek, aku bukannya anak kecil yang tak tahan menderita siksaan batin. Bilanglah, apakah dia mati?” kembali Bu-song mendesak dengan garang.

Dengan gerakan yang perlahan, Jenggot perak menganggukkan kepala, “Benar, dia. mati!”

Air mata yang sudah mengembang di pelupuk mata Bu-song segera melanda keluar laksana banjir meluap.

Melihat itu hati Siau-bun pilu. Ia menundukkan kepala. Kedukaan kakek dan cucunya itu benar-benar menyayat sanubari.

Tiba-tiba Bu-song mengusap air matanya dan berkata dengan suara gagah. “Lebih baik mati, dia… memang

seharusnya dulu-dulu sudah mati!”

Kata-kata dara itu mengejutkan sekalian orang. Jenggot perak mengelus-elus bahu Bu-song dan berkata dengan lemah, “Nak, kau… ”

“Aku benci padanya. Sebenarnya akan kubunuh , syukur kalau dia sudah mati!” Bu-song tertawa. “Benarkah itu?” Jenggot perak terbelalak.

“Mengapa tidak ? Setelah rapat besok pagi selesai, kita segera pulang saja!” “Bagus, besok lusa kita tentu pulang!”

“Tetapi… siapakah yang membunuhnya?” tiba-tiba Bu-song bertanya.

“Kau toh sudah benci, buat apa menanyakan?” sahut Jenggot perak yang sebenarnya tak tahu bagaimana keadaan Bu-beng-jin .

“Ah, aku hanya ingin tahu saja. Siapa tahu aku akan berterima kasih padanya.”

Terpaksa Jenggot perak memberitahukan, “Bok Sam-pi, tetapi dia sendiripun terluka parah!” “Apakah besok pagi dia datang,” Bu-song tertawa.

Jenggot perak terkejut melihat sikap cucunya yang tak wajar. Ia tertawa getir. “Bok Sam-pi menjabat Cong-hou-hwat dari Hek Gak. Jika pihak Hek Gak berani datang, sudah tentu diapun ikut serta!”

Bu-song mengangguk, “Baik, akupun hanya ingin tahu begitu saja. Sekarang silakan membicarakan hal-hal lain yang penting.” Ia kembali duduk di tempatnya semula. Wajahnya menyungging senyum yang aneh.

Beberapa kali sebenarnya Cu Siau-bun hendak membuka mulut, tapi tak jadi. Sedangkan Thian-ik Sin-kay pun hanya terlongong-longong saja mengawasi Jenggot Perak. Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk perlahan tiga kali….. “Masuk!” seru Jenggot perak.

Li Cu-liong segera bangkit dan membukakan pintu. Seorang anggota rombongan Pek-ih-tiang-hwat (jago-jago Hun- tiong-hu yang berjenggot dan berbaju putih) memberi hormat di ambang pintu.

“Seorang murid Kay-pang mohon menghadap!” serunya. Jenggot perakpun menyuruhnya membawa masuk.

Seorang pengemis melangkah masuk dan setelah memberi hormat kepadanya serta Jenggot perak, lalu berlutut di hadapan Thiat-ik Sin-kay. “Murid Nyo Bu-hiong kepala cabang Liang-ci, mohon menghadap cousu!”

“Lekas katakan berita yang kau bawa kepada Lu lo-cianpwe!” perintah Thia-ik Sin-kay.

Nyo Bu-hiong mengiyakan, lalu menghadapi Jenggot perak, ujarnya, “Kami mendapat berita dari anggota kami yang sedang bertugas… ”

“Katakanlah terus!” seru Jenggot perak

“Pihak Sin-bu-kiong dan Hek Gak telah mulai mengunjukkan tanda-tanda bergerak. Tetapi yang keluar hanya beberapa orang saja…..”

“Ah, dugaanku tak meleset!” Jenggot perak menepuk perlahan-lahan, “mereka akan bergerak secara bergelombang. Apakah mereka itu terdiri dari orang-orang Sin-bu-kiong atau Hek gak semua?”

“Benar, Sin-bu-kiong dan Hek Gak mengeluarkan beberapa jago-jago desa yang sudah lama tak muncul,” sahut Nyo Bu-hiong.

“Apakah mengetahui siapa mereka itu?”

Nyo Bu-hiong menyahut agak gugup, “ Ini….maaf, tecu kurang cermat, sehingga tak menyelidiki asal-usul mereka. Hanya salah satu dikenal sebagai Cian-bin cuncia….”

“Cukup!” tiba-tiba Jenggot perak bangkit lalu mondar-mandir di dalam kamar rahasia. Rupanya persoalan memang genting sekali.

Kecuali Thiat-ik Sin-kay, sekalian orang yang berada dalam kamar rahasia itu sama tercengang. Cian-bin cun-cia atau paderi seribu wajah, memang asing bagi mereka. Namun dari reaksi Jenggot perak, jelas bahwa Cian-bin cuncia itu tentu bukan tokoh sembarangan.

Sampai beberapa lama kemudian barulah jenggot perak menyuruh Nyo Bu-hiong keluar.

“Anak tak kenal siapa Cian-bin cuncia itu Gihu… ” baru Li Cu-liong bertanya begitu Jenggot perak sudah menukas. “Gelar Cian-bin cuncia itu diperoleh karena orang itu benar-benar dapat berobah dalam seribu macam wajah.

Sebentar menyaru jadi pengemis, sebentar imam tua. Jadi pendek kata menyaru jadi orang apa saja dia bisa. Ilmu kepandaian itu benar-benar menyesatkan orang. ”

“Ah, kalau begitu pertempuran besok pagi sudah tentu akan membuat Lu lohiap sibuk sekali,” seru Thiat-ik Sin-kay.

“Tetapi telah kukatakan tadi, begitu rapat besok pagi itu selesai, aku segera kembali ke Ling-lam. Tetapi menilik gelagatnya, Sin-bu-kiong telah berhasil menarik manusia belut itu dalam pihaknya. Siapa tahu rencanaku pulang akan mengalami kegagalan, karen atulang-tulangku yang bangkotan ini bakal terkubur di sini!”

Thiat-ik Sin-kay tertawa, “Ah, ucapan Lu lohiap itu terlalu meremehkan diri sendiri. Jangankan Cian-bin cuncia belum tentu berani menghadapi engkau secara terang-terangan, sekalipun berani tetap takkan menang. Kekuatiran Lu lohiap tak beralasan. ,” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Sekalipun aku si pengemis tak berguna ini, juga

belum tentu begitu mudah menyerah!”

“Tetapi yang aku kuatirkan bukan Cian-bin cuncia itu melainkan mengenai hidup matinya seseorang. Ketahuilah, kalau Sin-bu-kiong berhasil menarik Cian-bin cuncia, mungkin Lam-yau (siluman selatan), Pak-koay (orang aneh utara) Bu Te suseng dan lainnya telah dapat dikuasai Sin-bu-kiong. Jika kawanan pentolan itu bersatu, tentu sukar ditundukkan. Dalam pertempuran besok pagi, tentu akan timbul pertumpahan darah yang hebat ” Thiat-ik Sin-kay pun tegang wajahnya. Apa yang menjadi kekuatiran Jengot perak , memang bukan mustahil. Kawanan Cian-bin cuncia itu merupakan momok-momok termashyur di dunia persilatan. Munculnya mereka tentu akan mempergenting suasana rapat besok pagi.!

Siau-bun diam saja. Wajahnya mengerut, hatinya bergolak. Demikian juga Bu-song. Kedua gadis ini sama gelisah memikirkan Bu-beng-jin.

Tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh suara jenggot perak yang bertanya kepada Li Cu-liong, “Apakah tamu-tamu yang hadir itu telah diketahui asal-usulnya?”

Li Cu-liong tersentak kaget. Serentak ia bangkit, “Setiap tamu tentu membawa undangan. Kebanyakan pemimpin- pemimpin partai persilatan yang terkenal. Sampai sebegitu jauh belum terdapat orang yang mencurigakan. ”

“Apakah kau sudah memeriksa sendiri?” “Ah, ini. ”

“Bagaimana?” desak Jenggot perak.

“Karena banyak pekerjaan, anak sampai tak melakukan hal itu,” wajah Li Cu-liong berobah pucat.

Jenggot perak menghela napas. “Kelalaian sedetik dapat menyebabkan mala petaka seumur hidup. tetapi tak dapat

kusalahkan engkau. Akulah yang lalai..”

“Anak segera akan melakukan pemeriksaan, entah. ”

“Kini para tamu sudah hadir, masakah engkau hendak memeriksanya satu persatu?” tukas Jenggot perak. “Tidak!” Thiat-ik Sin-kay menyeletuk, “hal ini dapat dianggap menghina kaum persilatan. ”

Li Cu-liong bungkam. Memang memreiksa tamu satu persatu, tidak dapat dibenarkan.

Akhirnya Cu Giok-bun menghela napas. Katanya kepada Jengot perak, “Kalau begitu biarlah li-ji (anak perempuan) saja yang melakukan tugas itu!”

Jenggot perak tertawa mengangguk. “Kalau kau yang bertindak itulah bagus. Tetapi ayahmu mempunyai rencana yang lebih bagus!”

“Apakah itu, kek?”Cu Siau-bun menyeletuk.

“Sebaiknya kita pergi beramai-ramai agar mudah menghadapi sesuatu!” sahut Jenggot perak. Cu Giok-bun mngerutkan kening, “Apakah memang berat sekali?”

Jenggot perak mengelengkan kepala, “Mungkin kecurigaanku berlebihan. tetapi tiada jeleknya kita berhati-hati!” Ia bangkit dan menyuruh Li Cu-liong segera membukakan pintu.

Demi melihat pemimpin mereka keluar, rombongan Thiat-ik Sin-kay serentak mengundurkan diri bersembunyi dalam kegelapan malam.

Li Cu-liong menjadi penunjuk jalan. Mereka menuju ke lapangan di luar markas. Walaupun malam gelap tiada bintang, tetapi karena empat penjuru dihias lentera warna-warni, lapangan terang-benderang seperti siang hari.

Dengan ilmu Memandang langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh anak buahnya. Anak buah Thiat-hiat-bun, Tiam-jong-pay dan jago-jago Hun-tiong-hu mengadakan penjagaan dengan ketat. Bangsal penginapan untuk para tamu telah dijaga rapat. Diam-diam jago tua itu mengangguk puas. Dia mengikuti Li Cu-liong menuju ke bangsal penginapan para tamu.

Bangsal penginapan para tamu didirikan tepat di muka markas tiam-jong-pay. Meskipun terbuat dari bambu, tetapi dibuat indah sekali. Dari pintu bangsal, terbentang sebuah jalan panjang yang masuk ke dalam. Di dalam penuh dengan ruangan-ruang untuk para tamu. Meskipun belum larut malam, tetapi pintu-pintu kamar sudah tertutup semua. Keadaan sunyi senyap. 

Kiranya para tamu mempunyai perhitungan sama. Dalam tempat dan suasana yang sedemikian gawat, lebih baik mereka jangan gegabah keluar kemana-mana. Kalau tidak tidur, mereka lebih suka menyekap diri bersemedhi memelihara tenaga.

Kurang lebih setengah jam, rombongan Jenggot perak sudah menjelajahi seluruh kamar-kamar para tamu. Li Cu-liong berhenti di ujung bangsal dan dengan suara berbisik-bisik menanyakan pada Jenggot perak apakah melihat sesuatu yang mencurigakan.

“Selain bangsal ini, apakah tak ada tempat untuk menampung para tamu lagi?” Jenggot perak mengerutkan kening. “Anak hanya menurut semua petunjuk gi-hu. Selain di sini, memang tak ada lain tempat penampungan lagi.”

Jenggot perak tersenyum, lalu berpaling kepada Cu Giok-bun, “Mungkin ayahmu sekarang sudah tua, sehingga tadi tak mendengar dan melihat sesuatu yang menimbulkan kecurigaan. Tetapi entah bagaimana kesanmu?”

Sahut hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, “Li-ji pun tak mendapatkan sesuatu hal yang mencurigakan, hanya ” ia

berhenti sejenak, lalu berkata pula, “li-ji telah menemukan sesuatu hal yang agak aneh!” “Coba katakanlah!”

“Sekarang baru kurang lebih jam sepuluh malam, mengapa tak seorangpun yang keluar? Apakah mereka sudah tidur semua?”

“Mungkin mereka tak mau terlibat hal-hal yang tak diinginkan, maka lebih baik mengeram diri dalam kamar saja. ”

“Akupun semula mempunyai kesimpulan begitu. Memang kalau lain-lain partai berbuat begitu, dapatlah dimaklumi. Tetapi lain halnya dengan Siau-lim-pay. ” tukas Cu Giok-bun. Tetapi belum ia menyelesaikan pendapatnya, Jenggot

perak sudah balas menukas, “Benar! Siau-lim-pay adalah pemimpin dari ke sembilan parta persilatan. Ketiga cuncia Siau-lim-pay pernah mengajak sembilan partai dan mengundang Sin-bu-kiong untuk menempurmu di puncak Giok-li- hong. Seharusnya sekarang ia tak bertindak begini aneh. ”

Jenggot perak merenung sejenak, serunya kemudian, “Apakah kecurigaanmu tertumpah pada kamar Siau-lim-pay?” Belum Cu Giok-bun menyahut, tiba-tiba Cu Siau-bun menyeletuk, “Mungkin tidak!”

Cu Giok-bun memberi isyarat mata kepada puterinya itu, tetapi tak mengatakan apa-apa. “Cobalah terangkan mengapa tidak?” seru Jenggot perak.

Sambil tersenyum kecil, Cu Siau-bun berkata, “Aku tak mengatakan kamar Siau-lim-pay tak boleh dicurigai, melainkan mengatakan bahwa kecurigaan itu dapat ditujukan pada semua kamar tamu!” ia berhenti sejenak, lalu mengedipkan mata. “Kakek seorang cerdik, tentu mengetahui apa sebabnya!”

Senang juga hati Jenggot perak mendapat pujian itu. Dan berbareng itu diapun menyadari. Sambil mengelus-elus jenggotnya, ia tertawa, “Benar, memang Siau-lim-pay patut dicurigai, tetapi lain-lain partai yang tak keluar dari kamar itupun juga harus mendapat perhatian kita. Karena kalau tidak, masakah mereka tak mau keluar semua!”

Meliha tSiu-bun mendapat angin, Bu-song resah hatinya. Segera iapun berseru, “Kek, bolehkah aku buka suara?”

Bu-song mencibirkan bibir, serunya, “Dari segala jenis racun yang beredar di dunia persilatan, kabarnya racun Peh- tok-jong ( kutu beracun) yang paling ganas sendiri. Benarkah itu?”

Jenggot perak terkesiap, tanyanya, “Bukan saja Peh-tok-jong itu merupakan rajanya racun, juga merupakan raja kutu beracun. Tetapi mengapa kau menanyakan hal itu?”

“Bagaiana keganasan kutu itu?”

“Korbannya segera meleleh menjadi cairan darah. Tak ada obatnya lagi!” “Siapa yang pertama mendapatkan kutu itu?” “Raja kutu beracun Coh Sing!”

Bu-song menghela napas, “Agaknya kita telah mendapat ancaman hebat!”

Bukan hanya Jenggot perak, juga Cu Siau-bun terheran-heran memandang Bu-song.

“Nak, mengapa kau main goda dengan kakek? Katakanlah lekas!” Akhirnya Jenggot perak berseru. “Masakah kakek belum tahu?” tanya Bu-song.

Dara itu segera melirikkan matanya ke ujung kamar yang terakhir.

Sekalian orangpun ikut memandang ke sana. Di belakang kamar tamu itu, tampak berserakan selongsong kulit ular, kaki laba-laba, betis tonggeret dan lain-lain. Sayup-sayup seperti terbaur hawa anyir.

“Kamar tamu itu ditempati oleh partai Ji-tok-kau,” Jenggot perak tertawa hambar, “karena kuatir lain tamu tak puas dengan adat kebiasaan Ji-tok-kau, maka kuperintahkan supaya rombongan Ji-tok-kau ditempatkan di kamar yang paling belakang sendiri... apakah hubungannya dengan Peh-tok-jong?”

Bu-song tertawa, “Coh Sing si raja kutu beracun itu mungkin berada di sini!” “Mustahil!” teriak Jenggot perak, “apakah kau tahu sendiri?”

“Sekalipun Peh-tok-jong itu memerlukan ramuan macam-macam binatang beracun, tetapi yang paling penting adalah sejenis Lok-bi-ciat ( kalajengking hijau) dan ular Ang-sian-nio ( ular merah). Bukankah kakek pernah menceritakan hal itu?” kata Bu-song.

“Ya, kakek memang pernah bercerita begitu. ” Jenggot perak mengerang perlahan.

Sekalian orangpun segera menyadari tentang hal yang mencurigakan itu. Kosongan kulit kutu yang berhamburan di tanah itu memang layak dicurigai. Yang paling menarik perhatian ialah selongsongan kulit ular berwarna merah dan seekor kalajengking warna hijau. 

Kedua binatang beracun itu merupakan unsur utama dari racun Peh-tok-jong. Partai Ji-tok-kau termashyur dalam ilmu racun, sudah tentu takkan membawanya kemana-mana!

Jenggot perak merenung, ujarnya, “Nak, kau memang teliti sekali. Kalau tidak, perjamuan besok pagi tentu gagal berantakan!”

“Bersihkan kotoran ini!” Jenggot perak memberi perintah kepada Li Cu-liong. Ketua Tiam-jong-pay itu mengiyakan dan segera hendak keluar.

“Nanti dulu, kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun berseru. “Eh, kau mau apa lagi?”

Siau-bun cebikan bibir tertawa, “Aku hendak unjuk ketololan di hadapanmu, tidak secerdik adik Song. Tetapi cobalah kakek pikirkan. Di dalam perumahan para tamu ini penuh dengan jago-jago ulung yang membawa rombongan anak buahnya. Bagaimana juga gerak-gerik Coh Seng tentu akan ketahuan. Tetapi ada dua hal yang patut menjadi perhatian. ”

“Apakah itu?”tanya Jenggot perak dengan segan.

Siau-bun tertawa, “Pertama, agar kawanan penjaga dapat mempertinggi kewaspadaan. Siapa tahu bakal menghadapi hal-hal yang genting. Kedua, menjaga jangan samapai menimbulkan kesalah-pahaman partai-partai persilatan. ”

“Lalu bagaimnana menurut pendapatmu?” Jenggot perak bertanya.

Siau-bun tertawa pula, “Hanya beberapa anak buah partai Ji-tok-kau dan ditambah seorang Raja kutu beracun Coh Seng, dapat berbuat apa? Asal kita dapat menjaga jangan sampai mereka sempat menggunakan racun, tentulah pertemuan besok dapat diselamatkan. Masakah kakek tak mampu menindak mereka?”

“Baik, biarlah aku sendiri yang turun tangan!” kata Jenggot perak seraya loncat ke udara, melayang ke dalam ruang tamu. Thiat-ik Sin-kay, Li Cu-liong , Cu Giok-bun, Cu Siau-bun dan Bu-song segera mengikuti. Mereka melesat ke tengah ruang tamu.

Tempat mereka omong-omong tadi tak berapa jauh dari ruang tamu. Bagi tamu yang tinggi ilmu lwekangnya, tentulah dapat menangkap pembicaraan Jenggot perak tadi. Tetapi ternyata keadaan sepi-sepi saja.

Bahkan setibanya di dalam ruanga tamu, Jenggot perak sudah disambut oleh bau anyir darah. Dan segera jago tua itu menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Di ruang tamu kamar tengah, tampak empat sosok tubuh manusia tergeletak di lantai.

Ketika dihampiri, kiranya mereka adalah anak buahTiam-jong-pay yang bertugas melayani keperluan para tamu. Wajah mereka menjadi hitam, jelas terkena racun.

“Biadab sekali. ” Li Cu-liong menggertak gigi, lalu menggunakan ilmu menyusup suara kepada Jenggot perak.

“Anak hendak menuntut balas atas kematian merek!”

Sebelum Jenggot perak membuka mulut, Li Cu-liong sudah menggeliat melesat ke ruangan tengah. Jenggot perak terkejut sekali. Buru-buru ia memanggil. “Tahan dulu!”

Tetapi seruannya agak terlambat. Li Cu-liong menghantam daun pintu kamar dan menerobos masuk. Karena kamar-kamar itu terbuat dari bambu, maka sekali hantam dapatlah Li Cu-liong menjebolnya.

Karena dia sendiri yang mengawasi pembuatan bangsal penginapan para tamu, maka pahamlah ia akan keadaan di situ. Setiap ruang terdiri dari empat buah kamar yang di jajar empat jurusan. Di tengah-tengahnya sebuah ruang tamu dan dua buah kamar tidur.

Di luar dugaan, kamar-kamar di situ sunyi senyap saja. Dan ketika ia mendorong pintu sebuah kamar, serangkum asap hitam membaur ke luar. Buru-buru ia menutup pernapasan dan melepaskan sebuah pukulan. Brak. terdengar

suara benda berhamburan jatuh, tetapi anehnya tak seorangpun manusia yang muncul. Pukulan itu menghembus asap hitam ke samping.

Li Cu-liong terkejut. Secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya mencelat kembali ke tengah ruangan. Ia tahu bahwa asap itu tentulah asap beracun. Asal menghentikan pernapasan, tentulah takkan kemasukan racun. Tetapi perhitungannya meleset. Asap beracun itu luar biasa cara kerjanya. Begitu menyentuh tubuh manusia, terus merembes masuk melalui lubang pori-pori.

Terjangannya melalui taburan asap, cukup membuatnya celaka. Begitu berada di luar, seketika ia merasakan sendi- sendi tulangnya sakit sekali, dada sesak dan kepala serasa berputar. Bluk.... jatuhlah ia terkapar di lantai.....

Kagt dan marah sekali Jenggot perak, serunya, “Memang racun Peh-tok-jong! Kau. ”

“Pil Tay-hoan-tan masih tinggal dua butir, untung kubawa!” seru Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Segera Li Cu-liong diberinya minum sebutir. Ketua Tiam-jong-pay itu muntah-muntah dan tersadar.

Suasana di bangsal penginapan para tamu itu sunyi saja. Seolah-olah tak ada orang yang mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan.

Jenggot perak tertawa datar, “Kalau samapai jatuh di tangan tikus kecil itu, kami ayah dan anak tentu mendapat malu besar. Bagaimana dengan pertemuan besok pagi?”

“Mengapa ayah masih bersikap seperti dulu, begitu mengindahkan kepada mereka?” kata Cu Giok-bun.

Jenggot perak mengepal-ngepal tinju seraya menggeram, “Kalau sudah ganas biarlah ganas habis-habisan. Coba saja lihat nanti apakah mereka mampu menerima tinjuku ini!”

Begitu marahnya Jenggot perak saat itu sehingga dari tubuhnya menghambur semacam hawa panas yang mendesis- desis.

“Nanti dulu kek!” tiba-tiba Cu Siau-bun mencegah kakeknya yang bersiap hendak menghantam.

Jenggot perak mengakui kecerdikan kedua anak perempuan itu. Mendengar Siau-bun mencegahnya, iapun berhenti. “Apa lagi?” 

Sahut Siau-bun dengan perlahan. “Gerombolan Ji-tok-kau mahir sekali dalam ilmu racun. Tadi Li ciang-bun telah terkena racun Peh-tok-jong. Ini menandakan bahwa si raja racun Coh Seng tentu berada di sini. Pukulan kakek luar biasa hebatnya. Seluruh isi ruang gerombolan Ji-tok-kau tentu hancur binasa. Tetapi tidakkah dengan begitu racun mereka akan berhamburan kemana-mana. Mereka dapat dibinasakan, tetapi kitapun tentu celaka. ”

“Ah, benar! Tetapi apakah membiarkan saja mereka berbuat sesuka hatinya? Apakah kita rela mengundurkan diri?”

Jenggot perak membantah.

“Tidak, perbuatan merekapun harus mendapat hukuman yang setimpal!” Siau-bun tertawa, “segala jenis racun tak ada yang dapat melawan api. Pukulan Cek-ih-ciang dari mamahku, mungkin ada gunanya!”

Cu giok-bun mendengus, “Hm, budak, kau berani mempamerkan ibumu!” walaupun mulutnya mengatakan begitu tetapi ia segera bertindak.

Tangannya diangkat, seketika menghamburlah serangan sinar merah. Tenaga tamparan segera menghambur ke dalam jendela. Seketika sekeliling tiga tombak terasa panas. Menyusul terdengar bunyi berkeretekan bambu yang termakan api. Susul menyusul jeritan ngeri dari beberapa orang di dalam kamarpun berhamburan mengaduh.

Ruang yang terbuat dari bambu itu terbakar oleh pukulan Cu Giok-bun. Asap mengepul membawa bau daging gosong. Selain bau bangkai manusia, juga tercampur dengan bau anyir dari binatang-binatang beracun yang mati terbakar.

Jenggot perak mengerutkan alis, “Meskipun cara ini baik, tetapi bagaimana pertanggungan jawab kita terhadap sekalian tamu? Bukankah tindakan kita ini akan menjadi buah ejekan dari para tamu besok pagi? Tidakkah mereka akan mengatakan kita sebagai tuan rumah telah menindas tamu?”

Cu Siau-bun mengerutkan kening, “Kakek terlalu baik. Tetapi bukankah setiap kejahatan harus diberantas habis? Jika bangsa manusia ganas semacam ini dibiarkan hidup, dunia akan terancam bahaya! Cara kita tadi, rasanya tepat!”

“Kek, aku mempunyai cara untuk menundukkan sekalian tamu besok pagi!” tiba-tiba Bu-song menyeletuk. Ia melirik Siau-bun.

“Mengapa tak lekas bilang?” dengus Jenggot perak.

Bu-song tertawa mengikik, “Keempat orang Tiam-jong-pay yang menjadi korban itu cukup menjadi bukti. Apabila besok pagi keempat mayat mereka ditunjukkan dalam pertemuan, tentulah mereka akan mengerti dan memaklumi tindakan kita!”

Jenggot perak bertepuk tangan, “Benar, tepat sekali. ayo, lekas pindahkan mayat anggota Tiam-jong-pay itu!”

Li Cu-liong yang sudah sembuh segera memerintahkan anggotanya mengangkut keempat mayat itu keluar. Bangsal penginapan para tamu tetap sunyi-sunyi saja.

Hanya sebuah kamar, yakni tempoat menginap gerombolan partai Ji-tok-kau yang terbakar. Dan sekalian tamu tetap berdiam diri dalam kamar tak berani menjenguk keluar.

Memang dari dalam kamar Ji-tok-kau telah menghambur keluar bau manusia terbakar, tetapi apakah si Raja racun Coh Seng juga turut terbakar, masih belum diketahui.

Api makin menjalar besar. Jika tak dipadamkan tentu akan memakan seluruh abngsal.

“Api ini seharusnya ” baru Siau-bun berseru begitu, Jenggot perak sudah menukasnya, “Api yang menyulut ibumu,

bagaimana kau hendak suruh kakek yang memadamkan?” Sekalipun mulutnya mengatakan begitu, tetapi jago tua itu segera menampar beberapa kali. Serangkum hawa dingin segera menghambur keluar. Api makin lama makin menyurut kecil.

Di dalam kejadian itu, sukar diketahui berapa jumlah korban yang terbakar. Tetapi dengan ilmu Melihat langit mendengar bumi, dapatlah Jenggot perak mengetahui bahwa tak seorangpun yang ada dalam kamar Ji-tok-kau dapat meloloskan diri.

“Bagaimana sekarang?” tanya Li cu-liong kepada Jenggot perak.

“ Terpaksa kita harus minta ibu melepas pukulan lagi, biar seluruh orang ji-tok-kau mati semua!” Cu Siau-bun menyeletuk.

“Ah, tetapi tindakan itu agak terlalu ganas,” Jenggot perak mengerutkan dahi.

Bu-song menyeletuk, “Ganas atau tidak ganas, tak usah dibicarakan dulu. Tetapi dalam hal ini memang masih ada

hal-hal yang mencurigakan. ” ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Tiga buah kamar yang dihuni rombongan Ji-tok-

kau tentulah bukan terdiri dari orang-orang tuli semua. Apakah mereka begitu saja mau menerima kematian tanpa memberi perlawanan apa-apa? Apakah tak ada seorangpun yang mempunyai pikiran untuk lolos?”

“Benar-benar, akupun mempunyai pikiran begitu. ” sambung Jenggot perak, “ruangan penuh orang, tetapi

sedikitpun tak tampak suatu gerakan apa-apa!”

“Kek, bolehkah aku masuk memeriksa salah sebuah kamar mereka?”akhirnya Siau-bun berseru. Jenggot perak tergopoh-gopoh menolak.

Siau-bun tertawa gelak-gelak, “Kek, kecurigaanmu berlebihan. Meskipun aku nanti terkena racun Peh-tok-jong, tetapi ibu masih mempunyai pil Tay-hoan-tan yang mukjijat!” Tanpa menunggu ijin kakeknya, gadis itu sudah mencelat masuk ke dalam sebuah kamar.

“Gadis liar!” bentak Cu Giok-bun yang menyusul puterinya. Jenggot perak sedianya hendak menyusul, tetapi setelah melihat Cu Giok-bun sudah bertindak, ia membatalkan maksudnya.

“Kek, kemarilah lekas!” tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru dari dalam kamar. Ketua Thiat-hiat-bun itu terkejut bukan kepalang. Sekali loncat ia menerjang ke dalam. Thiat-ik Sin-kay, Bu-song dan Li Cu-liong pun mengikuti.

Apa yang mereka lihat di dalam kamar benar-benar membuat mereka tercengang. Di dalam kamar itu tampak tujuh- delapan orang Ji-tok-kau. Sekilas pandang mereka seperti orang yang duduk bersemedhi dengan mata merem melek. tetapi setelah diperhatikan lagi kiranya mereka sudah tak bernyawa lagi.

Seperti telah dikatakan di atas, ketiga ruangan itu khusus ditinggali oleh rombongan Ji-tok-kau. Di luar bangsal dijaga keras oleh para penjaga, baik yang terang maupun yang meronda secara gelap. Ketatnya penjagaan begitu rupa, sehingga umpama lalat terbang masukpun tentu diketahui.

Jenggot perak mengerutkan alis. Selama hidup baru sekali itu menyaksikan perbuatan yang sedemikian kejamnya. “Kek, mereka mati keracunan semua!” kata Bu-song sehabis memeriksa orang-orang itu.

“Kali ini mungkin kau salah raba!” Jenggot perak menggelengkan kepala.

Ternyata korban-korban itu wajahnya seperti biasa, seperti orang yang hanya ditutuk jalan darahnya saja. Baik alis maupun bibir mereka sedikitpun tak tampak tanda-tanda keracunan.

Thiat-ik Sin-kay dan lain-lain yang banyak pengalamanpun, tak dapat memberi komentar apa-apa. Segala sesuatu yang mereka hadapi memang sukar diduga....

“Budak, mengapa kau diam saja?” tegur Jenggot perak kepada Siau-bun.

Nona itu menggelengkan kepala, “Adik Song sudah mengatakan tepat. Mereka memang mati keracunan, apa yang masih harus kukatakan lagi?”

Jenggot perak tercengang, “Mengapa kau juga berpendapat begitu? Kalau memang mati keracunan, mengapa tak ada tanda-tandanya?”

Siau-bun tertawa, “Kek, apakah kau memang berpura-pura hendak menguji kami! Pertama, mereka telah terlatih dan kebal terhadap racun. Begitu kena racun, sudah tentu tubuhnya biasa saja. Kedua, jika tidak mati keracunan, mengapa mereka duduk begitu rapi? Dan ketiga, karena raja racun Coh Seng berada di sini, siapa lagi yang berbuat begitu kalau bukan dia. kakek kaya pengalaman, dalam hal-hal sekecil ini, bagaimana aku dapat mengelabuimu?

Benar atau salahkah kata-kataku ini?”

“Kalau dapat menganalisa sedemikian rinci, mungkin ibumu belum tentu menang. ” Jenggot perak memuji. Siapa

tahu Bu-song mendengus karena Siau-bun mendapat pujian. “Ayo, kaupun juga ikut menyatakan pendapat!” seru Jenggot perak kepada Cu Giok-bun, “Si Raja racun Coh Seng diundang partai Ji-tok-kau untuk membantu meracuni jago-jago yang kita undang. Tetapi mengapa mendadak sontak ia malah meracuni orang-orang Ji-tok-kau sendiri?”

Bu-song tertawa dingin, “Tak usah kakek memuji aku, aku tak secerdas cici Bun...” dara itu agak merajuk, tetapi pada lain kejap ia menyusuli pula, “Itupun sebenarnya sederhana saja. Tentulah kakek mengetahui bahwa sekalipun kutu dengan racun itu berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai kegunaan yang sama. Raja racun Coh Seng memang hebat dalam menggunakan kutu, tetapi ia tak mampu melawan kepandaian orang Ji-tok-kau dalam menggunakan racun. Kalau tidak, tentulah dulu-dulu kedua orang itu sudah bersatu. Mengapa Ji-tok-kau tak mau berdaya menyelidiki penggunaan kutu itu.

Akibatnya undangan Ji-tok-kau kepada Coh Seng itu suatu kesalahan besar. Coh Seng mendapat kesempatan untuk menghancurkan saingannya.

Rombongan partai Ji-tok-kau yang datang kesini antara lain termasuk ketuanya, yakni Ti Bo dan jago-jago pilihan mereka. Apabila dapat melenyapkan mereka, mudahlah bagi Coh Seng untuk menguasai Ji-tok-kau dan mengambil alih partai itu!

Nah, cukup dengan hal-hal yang kusebutkan ini, jelas menunjukkan bahwa kebinasaan orang-orang Ji-tok-kau itu adalah dilakukan oleh Coh Seng.”

(bersambung ke jilid 24)
*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Jangan lupa makan dan tetap jaga kesehatan Gan!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 23"

Post a Comment

close