Panji Tengkorak Darah Jilid 12

Mode Malam
Jilid 12 .

Siau-bun menjulurkan sebuah jarinya dan lilin itupun padam. Keduanya segera mengemasi pakaiannya. “Awas, jaga baik-baik petamu, mungkin orang ini hendak mengarah petamu itu!” bisiknya kepada Thian-leng.

Thian-leng mendorong jendela dan loncat keluar. Dengan sebuah loncatan yang indah ia hinggap di atas penglari rumah. Rumah penginapan seolah-olah terbungkus oleh kegelapan, sunyi dan senyap. 

“Apakah kau melihat sesuatu?” tanya Siau-bun ketika menyusul loncat ke atas rumah. Thian-leng hanya menggeleng. Mungkin waktu berpakaian tadi orang sudah menyingkir pergi. Apa tujuan orang itu? Mengapa ia terus melarikan diri?

Siau-bun pun heran. Ia masih mengenakan pakaian laki-laki, wajahnya yang pucat kini tampak kemerah-merahan. Thian-leng melirik padanya dan tertawa.

“Kau menertawakan aku?” dengus Siau-bun.

“Jangan salah paham, engkoh Cu...eh.....nona Cu. ”

Siau-bun menggumam, “Bagaimanapun pandanganmu terhadap diriku, tetapi kita telah. tidur bersama. Dengan

masih memanggil nona, apakah tidak terlalu. ,” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terisak-isak.

Terpaksa Thian-leng menghiburnya, “Adik Bun, ya..., akulah .... yang salah. ”

“Ah, sudahlah. Yang sudah biarlah lampau. ” sahut Siau-bun rawan.

Sekonyong-konyong terdengar sebuah tertawa mengejek. Thian-leng segera mengenali suara itu seperti suara orang yang mengganggu tadi. Berbareng dengan itu tampak sesosok tubuh melesat keluar dari sudut rumah penginapan dan terus melarikan diri.

“Hai, siapa itu berani mengganggu tak berani berhadapan muka?” Thian-leng berseru seraya loncat mengejar.

“Biarkan saja, jangan kena tertipu….” Siau-bun mencegah. Tetapi Thian-leng yang sudah dirangsang kemarahan sudah terlanjur melambung ke atas wuwungan. Terpaksa Siau-bun pun mengikuti.

Orang itu hebat sekali. Betapapaun Thian-leng lari sekencang-kencangnya, tetapi tetap ketinggalan berpuluh tombak jauhnya. Bisa melihat orangnya tapi tak bisa mendekati.

Mereka sudah berada di luar kota. Orang itu berlari menyusur sepanjang pantai sungai Hongho. Air bengawan yang mengkilap gelap di malam pekat, makin menambah keseraman suasana.

“Pernahkah kau melihat orang itu?” tanya Siau-bun. Thian-leng menggeleng.

Tiba-tiba Siau-bun loncat menghadang di muka, “Sudahlah , tak usah mengejar lagi.!” “Mengapa?” Thian-leng terkejut.

“Kita masih mempunyai urusan. Kalau kau tak tahu siapa orang itu, perlu apa mati-matian mengejarnya? Kemungkinan besar ia hendak gunakan tipu untuk memancing kita!”

Thian-leng menghentikan langkahnya. Ia pikir alasan Siau-bun itu benar. Ya, perlu apa ia harus mengejar orang yang tak dikenal itu?

“Baiklah, mari kita balik ke pondok lagi.” katanya. Tetapi pada saat keduanya memutar tubuh, tiba-tiba terdengar orang itu menggunakan ilmu menyusup suara berseru kepada Thian-leng.

“Bu-beng-jin, bukankah kau hendak mencari tahu asal-usulmu?”

Sudah tentu Thian-leng tersentak kaget dan cepat-cepat memutar tubuh lagi. Orang itu melanjutkan kata-katanya dengan ilmu menyusup suara, “Ketahuilah bahwa aku bermaksud baik. Aku tak punya dendam apa-apa kepadamu, jangan kau menguatirkan diriku. Jika ingin tahu asal-usul dirimu, bebaskanlah dirimu dari libatan kawanmu itu dan ikutlah aku ke dalam sarangku. Jika tak mau, maaf aku tak dapat menunggumu lebih lama lagi. ”

Hati Thian-leng berdebar keras. Hal yang paling menjadi pemikirannya ialah tentang asal-usul dirinya. Apalagi orang itu memang tak bermusuhahn padanya. Ditilik dari caranya menyalakan lilin dari kejauhan dan ilmu lari cepatnya, jelask kalau seorang sakti. Mungkin orang itu memang sungguh-sungguh bermaksud baik hendak memberi petunjuk padanya!

Seketika tergeraklah hati Thian-leng. Ia hendak menurut seruan orang itu. tetapi pada lain saat, timbullah suatu prasangka. Nada suara orang itu memang tak pernah didenagrnya, tetapi mengapa dia tahu tentang riwayat dirinya? Mengapa orang itu begitu menaruh perhatian padanya? Kaki Thian-leng yang sedianya di ayun, kembali terhenti pula. 

“Lekas, mengapa kau ini?” melihat Thian-leng berhenti, Siau-bun menegur heran.

Thian-leng termangu-mangu tak dapat mengambil keputusan. Tiba-tiba orang tak dikenal itu kembali menggunakan ilmu menyusup suara, “Kau mau ikut atau tidak terserah! Tetapi sekarang aku tak dapat menunggu lagi!”

Belum Thian-leng sempat menimbang, tiba-tiba Siau-bun sudah menepuk bahunya, “Hai, mengapa kau ini?”

Thian-leng gelagapan. Dalam gugupnya ia segera mengambil keputusan. Segera ia mengambil keluar peta Telaga zamrud dan diberikan kepada si nona, “Harap adik Bun pulang dulu ke pondok, aku hendak menemui seorang sahabat dulu!”

“Kau kenal dengan orang itu?” tanya Siau-bun. “Tidak, aku tak kenal!”

“Mengapa kau hendak menemuinya? Apakah kau tak kuatir terjebak tipunya?”

Thian-leng menggeleng,”Tidak, aku harus pergi, harap adik Bun jangan kuatir!” tanpa menunggu sahutan si nona lagi, Thian-leng pun segera loncat mengejar orang aneh tadi.

Siau-bun heran atas tindakan pemuda itu. Setelah menyimpan peta ke dalam baju, iapun segera menyusul.

Bayangan hitam itu tetap berada pada jarak dua puluhan tombak. Melihat Thian-leng menyusul, ia tertawa gelak- gelak dan melanjutkan larinya lagi. Betapapun Thian-leng hendak menyusulnya tetap tak mampu.

Tiba di puncak bukit yang sunyi, tiba-tiba orang aneh itu berhenti. Sekeliling bukit itu penuh ditumbuhi huatan pohon Yang dan Siong yang rindang.

Secepat Thian-leng dan Siau-bun tiba, kejut mereka bukan kepalang ketika melihat wajah orang itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar, mata sebesar kelereng, dahinya menonjol, wajahnya mengerikan.

Punggungnya menyelip sebatang kipas besi. Begitu melihat Thian-leng, berserulah orang itu dengan bengis, “Hai, telah ukatkan supaya jangan membawa kawanmu, mengapa… ”

“Sebutkan namamu dulu! Asal kau menerangkan maksudmu mengi=undang dia kemari, tentu aku segera mengundurkan diri sendiri, kalau tidak….” Siau-bun cepat-cepat menyambuti. Sejenak ia melirik ke arah Thian-leng, ia berkata pula, “Kami berdua datang bersama pergi berdua! Betapapun hendak gunakan tipu muslihat memikatnya, tak akan kubiarkan dia termakan tipumu….”

“Ya, aku belum meminta keterangan nama cianpwe?” sambung Thian-leng.

Orang aneh itu tertawa seram, “Aku mempunyai she ganda Tok-ko dan nama Sing. Atas perintah tuanku, aku disuruh mengundang Be-beng tayhiap untuk diberitahukan sebuah rahasia penting!”

Thian-leng tertegun, “O, kiranya cianpwe mempunyai majikan?”

Ia anggap orang itu mempunyai kepandaian sakti dan umurnyapun sudah enam puluhan tahun, masakah masih berhamba pada orang. Kalau orang itu saja sudah dapat digolongkan sebagai tokoh kelas satu, bagaimana dengan majikannya!

“Boleh aku bertanya siapa tuanmu itu?” seru Siau-bun.

Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak,” Tuanku juga mempunyai she ganda Kong-sun dan nama gnda Bu-wi.” Siau-bun mendengus, “Ah, apakah kepala dari Hek-gak (Neraka hitam)?”

Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Hek-gak sudah melenyapkan diri dari dunia persilatan selama enam tujuh tahun. Sungguh tak nyana nona bisa mengetahuinya dengan jelas!”

Siau-bun memandang Thian-leng, “Jangan kena jebakannya, ayo kita pergi saja!”

Kembali Thian-leng ragu. Ia tak tahu siapa yang disebut Hek-gak itu, tetapi dari ucapan Siau-bun yang begitu serius, tentu Hek-gak itu sebuah tempat yang misterius. Tetapi ia tertarik dengan undangan Tok-ko Sing tadi….. 

“Eh, apakah kau masih berkeras tak mau mendengar kata-kataku?” Siau-bun banting-banting kaki.

Baru Thian-leng hendak menyahut, Tok-ko Sing sudah mendahului tertawa sinis, “Apakah nona marah karena aku mengganggu kesenangan kalian tadi sehingga nona melarang dia memenuhi undanganku?”

“Ngaco!” bentak Siau-bun. Wajahnya tersipu-sipu merah. Tak mau ia menghalanagi Thian-leng lagi.

“Karena sudah datang, maka harap cianpwe suka membawa aku ke sana!” akhirnya Thian-leng pun mengambil keputusan.

Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak, “Aha, ternyata kau tak mengecewakan sebagai seorang pendekar muda. Pandangan tuanku itu maha tajam dalam menilai pribadi seorang ksatria….”

Habis berkata orang aneh itupun segera ayun langkah menuju ke dalam hutan.

Thian-leng pun tak ragu-ragu lagi segera mengikutinya. Siau-bun mendengus, tetapi iapun terpaksa mengikuti juga.......

ooooo000000000oooo Neraka Hitam

Tak lama mereka sudah menyusup berpuluh-puluh tombak ke dalam hutan. Saat itu hari

makin malam. Hutan Siong dan jati makin pekat. Sedemikian gelap sehingga tak dapat melihat jari sendiri. Namun karena lwekang Thian-leng dan Siau-bun cukup tinggi, maka dapatlah mereka menembus kegelapan itu. Sejauh beberapa tombak mereka masih dapat melihat jelas. Sekalipun demikian tak urung kedua muda-mudi itu tercekat juga hatinya.

Sambil menarik tangan Thian-leng, berkatalah Siau-bun dengan ilmu menyusup suara, ”Mungkin kita masuk dalam jebakan. Masih keburu jika kita balik keluar!”

“Putusanku telah bulat. Biarpun masuk ke dalam sarang harimau telaga naga, aku tetap tak gentar,” sahut Thian- leng, “sekiranya adik Bun kuatir, baiklah pulang lebih dahulu!”

“Apakah kau anggap aku tega membiarkan kau seorang diri menempuh bahaya?” gumam Siau-bun.

Sederhana kedengarannya ucapan itu, tetapi penuh dengan kasih sayang yang mesra. Mau tak mau tergeraklah nurani Thian-leng.

“Apa katanya kepadamu sehingga kau begitu terpikat?” Siau-bun setengah menyesali. “Aku tak dapat melepaskan kesempatan untuk mencari tahu asal-usul diriku… !”

“O, jadi dia hendak memberitahukan tentang asal-usulmu?” tanya SIau-bun pula. Thian-leng mengiyakan. Siau-bun geleng-geleng kepala, ”Kau termakan tipunya. Tahukah kau tempat apa Neraka Hitam ini?” Thian-leng mengangkat bahu.

“Pemilik dari Neraka Hitam ini ialah Kongsun Bu-wi, seorang durjana besar pada enam tujuh puluh tahun yang lalu. Dia membunuh jiwa manusia seperti membunuh lalat. Tak ada kejahatan yang tak dilakukan… ”

“Tetapi mengapa ia menyembuhkan diri?” tanya Thian-leng.

“Karena waktu itu ia dikalahkan Hun-tiong Sin-mo dan sejak itu kekuasaan dunia persilatan pindah ke tangan Hun- tiong Sin-mo. Kongsun Bu-wi beruntung masih dapat melarikan diri!”

Thian-leng terkejut. Ia tak pernah mendengar tentang peristiwa itu. Sejenak kemudian ia bertanya mengapa Siau-bun tahu tentang hal itu.

Pertanyaan itu membuat Siau-bun tertegun tetapi cepat-cepat ia menyahut, “ Sudah tentu aku hanya mendengar cerita ibuku saja!” “Kalau begitu ibumu itu tentulah seorang pendekar wanita yang ternama?” tiba-tiba Thian-leng mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Siau-bun tertegun.

“Apakah kau benar-benar tak mau merobah keputusan?” cepat-cepat nona itu mengalihkan pembicaraan.

Thian-leng menghela napas, “Hal yang paling menyiksa batin orang ialah kalau tak tahu asal-usul dirinya. Itulah sebabnya maka aku menggunakan nama Bu-beng-jin. Setiap kesempatan mencari tahu hal itu sudah tentu takkan kulepaskan!”

Siau-bun menghela napas, “Soalnya, bukan saja kau tak berhasil mencapai tujuanmu pun bahkan malah terjebak dalam bahaya. Kau tak pernah mendengar betapa keganasan momok Kongsun Bu-wi! Dia lebih ganas daripada Sin-bu Te-kun!”

Thian-leng batuk-batuk, “Selama Hun-tiong Sin-mo masih menguasai dunia persilatan, mengapa Kongsun Bu-wi berani berkutik lagi?”

Siau-bun tertawa getir, “Ilmu kepandaian itu sukar diukur dalamnya. Tiada ujung tiada pangkal kecuali It Bi siangjin seorang, mungkin tiada seorang tokoh lain yang berani membanggakan diri sebagai tokoh lain yang berani membanggakan diri sebagai tokoh tanpa tandingan…….” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pula, “Rupanya dalam persembunyiannya selama enam puluh tahun itu, Kongsun Bu-wi telah meyakinkan suatu ilmu kesaktian untuk menebus kekalahannya yang dahulu. Dikuatirkan tak lama lagi dunia persialtan tentu akan timbul suatu huru-hara hebat!”

Thian-leng anggap ulasan nona itu mendekati kebenaran. Ia tak memberi komentar suatu apa. Dalam pada itu, mereka sudah melintasi berpuluh tombak lagi, namun hutan itu tampaknya tiada berujung.

“Apakah Bu-beng tayhiap tetap hendak bersama dengan sahabatmu itu?” tiba-tiba Tok-ko Sing berhenti dan memutar tubuh.

Sebelum Thian-leng sempat menyahut, Siau-bun sudah mendahului lagi, “Apakah majikanmu tak mau menerima kedatanganku?”

Tok-mo Sing batuk-batuk, “Ini…sekalipun aku tak berani memastikan, tetapi biasanya perintah beliau teramat keras. Karena beliau hanya perintahkan aku mengundang Bu-beng tayhiap, maka tak beranilah aku membawa nona!”

Siau-bun tertawa datar, “Begini sajalah. Aku tak kan menyusahkan kau. Nanti apabila berhadapan dengan majikanmu, akan kukatakan bahwa aku datang sendiri bukan karena ikut kau!”

Tok-ko Sing memandang Siau-bun dengan tajam. Tiba-tiba ia tertawa sinis, “Baiklah, harap nona jangan sesalkan aku!”

“Terserah bagaimana kau hendak mengaturnya,” Siau-bun balas tertawa tak acuh. Kata-katanya juga mengandung berbagai tafsiran.

Segera Tok-ko Sing ayunkan tangannya ke atas. Terdengarlah letupan keras disertai hamburan sinar berkilat di udara. Rupanya utusan Neraka Hitam itu melepaskan api pertandaan.

Beberapa jenak kemudian, terdengarlah tiga kali genderang bertalu. Semula perlahan tetapi lama kelamaan gemanya berkumandang keras.......

Tok-ko Sing tertawa, “Pintu gerbang tengah dalam Neraka Hitam sudah dibuka, menunggu kedatangan tetamu!”

Thian-leng dan Siau-bun segera mengikuti orang itu melintasi gerombol pohon yang lebar. Tiba-tiba mata kedua muda-mudi itu tertumbuk pada selarik sinar penerangan yang melingkar-lingkar dalam warna hijau kebiru-biruan. Ketika mengawasi dengan seksama, terkejutlah kedua anak muda itu. Kiranya lingkaran sinar hijau itu tergantung di atas puncak sebuah gedung dan berbentuk dua buah huruf “ Hek Gak”.

Pada kedua samping tembok pintu, tergantung berpuluh mayat manusia yang perutnya pecah, usus berhamburan keluar dan darah bercucuran!

Thian-leng memekik tertahan dan berhenti.

“Ha, ha, masakah Bu-beng tayhiap takut?” Tok-ko Sing tertawa gelak-gelak. 

Thian-leng mendengus geram, “Sejak lahir, aku tak kenal dengan kata-kata takut!” “Tetapi mengapa Bu-beng tayhiap berhenti?” Tok-ko Sing tertawa mengejek.

“Kuanggap majikanmu kelewat ganas…..” sahut Thian-leng. Menunjuk pada deretan mayat pada tembok, ia berkata,” Orang-orang itu sudah dibunuh begitu kejam, mengapa masih dipaku pada tembok! Kepada manusia yang sedemikian kejamnya, aku akan pikir-pikir dulu untuk menjumpainya atau tidak!”

Kembali Tok-ko Sing tertawa keras. Sedemikian keras, hingga daun-daun di sekeliling bergoyang-goyang. Dan sampai lama sekali baru ia berhenti tertawa.

“Bu-beng tayhiap, kau salah tafsir!” serunya.

“Salah tafsir?” Thian-leng terbeliak, “Apakah mereka bukan dibunuh oleh orang Neraka Hitam? Apakah pembunuhan itu tiada sangkut pautnya dengan majikanmu?”

Tok-ko Sing tertawa,”Sayang indera penglihatanmu itu kurang tajam. Cobalah periksa yang jelas mayat-mayat itu lagi!”

Selama Thian-leng mengadakan percakapan dengan Tok-ko Sing, Siau-bun hanya diam saja. Ia hanya memperhatikan suasana sekeliling tempat itu.

Thian-leng segera menghampiri ke tembok. Ketika dekat, ia menjerit kaget! Ah… kiranya mayat-mayat itu bukan manusia melainkan hanya orang-orangan yang terbuat dari lilin. Adalah karena pembuatannya sedemikian pandai sehingga menyerupai benar dengan manusia.

Diam-diam Thian-leng malu sendiri. Namun masih ia tak mengerti mengapa Kongsun Bu-wi membuat orang-orangan lilin seperti itu. Apakah untuk menambah keseraman nerakanya atau ada lain maksud lagi?

Rupanya Tok-ko Sing mengetahui isi hatinya, ia tertawa, “Bu-beng tayhiap tentu heran melihat orang-orangan itu bukan?”

Thian-leng mengangguk, “Ya, memang aneh!”

Tok-ko Sing tertawa, “Orang-orangan lilin itu ialah sasaran yang hendak dituju majikanku pada saat ia keluar ke  dunia persilatan lagi……” Sambil menunjuk pada mayat lilin yang tergantung di tengah-tengah, ia berkata pula. “Itulah lambang Hun-tiong Sin-mo dan itu Song-bun Kui-mo. Sebenarnya masih ada dua orang-orangan lilin lagi, tetapi karena orangnya sudah mati, maka tak dipasang lagi….”

Memang Thian-leng melihat bahwa ada dua tempat yang kosong. Diam-diam ia menduga bahwa yang diambil itu tentulah orang-orangan lilin lambang Oh-se Gong-mo dan Tui-hun Hui-mo. Karena kedua tokoh itu sudah meninggal.

Kembali Tok-ko Sing menunjuk ke arah kanan, “Tahukah Bu-beng tayhiap siapa orang-orangan itu?”

Thian-leng memperhatikan bahwa yang ditunjuk oleh Tok-ko Sing itu berjumlah sembilan buah orang-orangan lilin terdiri dari lambang paderi, imam, rahib dan ada orang biasa.

“Apakah mereka bukan melambangkan tokoh sembilan partai?” Thian-leng balas menanya.

“Benar!” sahut Tok-ko Sing. Kemudian ia menunjuk ke arah kiri pada empat lima puluh mayat orang-orangan lilin. “Dan yang sana itu lebih banyak lagi jumlahnya, tahukah Bu-beng tayhiap siapa mereka itu?”

“Aku masih hijau, tak mengerti banyak!” Thian-leng agak mengkal menyahut.

“Mereka itu juga tokoh-tokoh yang terkenal, antara lain ketua Thiat-hiat-bun Jenggot Perak Lu Liang-ong, ketua Bu- siong-hwe yang bernama Hun-bin Bu-siong, ketua perkumpulan agama Pek-tok-kau yang bernama Ha-Lui, ketua perkumpulan pengemis Kay-pang….”

Siau-bun hanya ganda tersenyum saja. Sepatahpun ia tak berkata. Tetapi lama-kelamaan

ia tak tahan lagi. Tukasnya dengan tawar, “Sudahlah, tak usah cerita terus. Memang cita-cita majikanmu besar sekali, tetapi sayang ia melalaikan sebuah hal!” “Melalaikan hal apa?” tertariklah perhatian Tok-ko Sing. “Dia tak kenal dirinya sendiri!” Siau-bun tertawa dingin.

Tok-ko Sing tertegun, ujarnya, “Hal ini tak dapat kukatakan. Coba saja buktikan nanti!”

Diam-diam Thian-leng merenung dalam-dalam. Dari pameran mayat-mayat lilin itu dapatlah diketahui sampai di mana ambisi Kongsun Bu-wi. Jelas orang itu hendak menimbulkan pemberontakan dalam dunia persilatan.

“Sekarang terserah pada Bu-beng tayhiap apakah tetap hendak masuk ke dalam Neraka Hitam ataukah mundur…..” kata Tok-ko Sing.

Sambil melirik kepada Siau-bun, berkatalah Thian-leng dengan gagahnya, “Dengan pameran serupa itu masakah dapat menggertak aku. Silakan membawa kami terus!”

Tok-ko Sing tertawa sinis. Segera ia memberi isyarat tangan mempersilakan kedua muda-mudi itu.

Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Serentak dengan gerakan Tok-ko Sing itu maka terdengarlah suara berdrak-derak dari pintu gerbang besi yang terpentang. Thian-leng sejenak termangu tetapi pada lain saat ia segera melangkah masuk diikuti oleh Siau-bun.

Dua deret rombongan penjaga yang mengenakan pakaian ringkas dan senjata lengkap tampak menjaga di sepanjang jalan masuk. Deretan terakhir terdiri dari dua orang bujang perempuan dalam pakaian sederhana. Kedua bujang itu menghadang di tengah dan menyambut kedatanagn sang tetamu, “Selamat datang Bu-beng tayhiap!”

Tetapi kedua bujang itu segera tersirap kaget demi melihat Siau-bun. Heran mereka mengapa Thian-leng membawa kawan.

Tok-ko Sing segera memberi keterangan, “Walaupun berpakaian lelaki, tetapi tamu kita ini seorang nona. Sambutlah mereka berdua ke dalam ruang tamu. !” Kemudian ia menyatakan hendak menemui Kongsun Bu-wi.

Ruangan dalam gedung itu tinggi-tinggi, tetapi semuanya dicat hitam sehingga seram tampaknya. Kedua bujang itu membawa Thian-leng dan Siau-bun masuk.

Selama melalui jalan kecil dan tikungan-tikungan gang, diam-diam Thian-leng mencatat dalam hati. Kira-kira empat puluh tombak jauhnya setelah melintasi dua buah halaman, tibalah mereka di ruang tamu. Sebuah ruangan yang luas, penuh dengan kamar-kamar tetapi sepi-sepi semua. Juga kamar-kamar itu dicat warna hitam, tanpa lampu sama sekali. Tetapi ketika Thian-leng dan Siau-bun dipersilakan masuk ke dalam kamar sebelah utara, kedua bujang itupun menyulut juga sebuah pelita.

Setelah menghidangkan dua cawan the wangi, kedua bujang itupun meninggalkan ruangan. Begitu mereka pergi, Thian-leng cepat-cepat mengunci pintu. Ia periksa seluruh ruangan itu dengan teliti. Di situ terdapat tiga buah kamar. Ruangan dihias indah, tetapi serba sederhana. Sekilas pandang seperti tak ada sesuatu alat rahasia.

“Adik Bun, jangan minum teh itu!” habis memeriksa ruangan, Thian-leng terkejut melihat Siau-bun tengah mengangkat cawan arak.

“Mengapa?” Siau-bun tertawa datar.

“Kita berada dalam tempat berbahaya. Segala tindak tanduk kita harus hati-hati. Kalau teh itu diberi obat, bukankah. ”

“Teh ini tiada racunnya dan ternyata teh dari Liong-keng yang termasyhur. Ayo, kita nikmati saja!” Siau-bun tertawa. “Bagaimana kau memastikan mereka tak menyampuri obat?”

“Sebabnya sederhana saja. Pertama, gedung ini berdinding sangat tinggi, berpintu besi dan penuh alat rahasia. Sekali kau sudah masuk tak nanti kau mampu keluar lagi. Kedua, pemilik Neraka Hitam ini sudah enam-tujuh puluh tahun menyembunyikan diri. Begitu hendak muncul lagi sudah tentu harus menjaga gengsi. Tak nanti mau merendahkan diri membunuh kita dengan racun. Masih banyak lagi alasan-alasannya, tetapi pada pokoknya untuk sementara ini tentu takkan bertindak curang. ”

Thian-leng anggap analisa nona itu tepat, namun ia tetap merasa cemas. Ia masih sangsi akan keterangan Tok-ko Sing bahwa pemilik Neraka Hitam itu akan memberi keterangan tentang asal-usul dirinya. Mengapa Kongsun Bu-wi begitu menaruh perhatian besar kepadanya? Apakah maksudnya....... “Tolol, apa yang kau pikirkan. ?” tiba-tiba Siau-bun menegurnya, “ bagaimana hasil penyelidikanmu tadi?”

Thian-leng mengatakan bahwa tampaknya ruang itu tiada diberi barang suatu perkakas rahasia. “Gila kau!” Siau-bun tertawa hambar, “ruangan ini justru penuh dengan perkakas rahasia.!” “Kalau begitu kita ini berada dalam jebakan mereka?” Thian-leng terkejut. 

“Boleh dikata begitulah. ” Siau-bun tersenyum, ujarnya pula, “Tetapi telah kukatakan tadi, dalam waktu singkat ini

mereka takkan mencelakai kita. Maka untuk sementara ini kita aman, tak usah kuatir apa-apa!” “Bagaimana dengan kata-kata Tok-ko Sing tadi?” tanya Thian-leng.

“Bukankah aku pernah menganjurkan kau supaya jangan ikut padanya?” sahut Siau-bun hambar. “Jadi kau sudah mengetahui kalau dia hendak mengelabui?” Thian-leng terbeliak kaget.

Si nona hanya mengangguk lesu.

Thian-leng tersipu-sipu menundukkan kepala dengan penuh sesal. Tiba-tiba Siau-bun tertawa hambar, ia menjentik dengan sebuah jari memadamkan pelita. Seketika ruangan itupun gelap gulita.

“Ha, apakah adik Bun mendengar sesuatu?” Thian-leng bertanya kaget. “Tidak!”

“Habis mengapa memadamkan pelita?”

Segera Siau-bun menggunakan ilmu mnyusup suara, “Kita toh dapat melihat dlam kegelapan, jadi tak perlu dengan penerangan macam kunang-kunang begitu. Siapa tahu diam-diam ada orang tengah mengawasi gerak-gerik kita. Dalam kegelapan tentu sukarlah dia melakukan pengintaiannya!”

Beberapa kali nona itu telah mengemukakan analisa yang dapat diterima akal. Diam-diam Thian-leng kagum. Mereka segera duduk bersamadi.

Tak berapa lama tiba-tiba Siau-bun berseru dengan ilmu menyusup suara. “Ada orang datang, lekas. !” nona itu

menutup kata-katanya dengan sebuah gerakan loncat ke atas tiang penglari. Tanpa banyak bicara Thian-leng pun segera mengikuti.

Benar juga, sesaat kemudian terdengar langkah kaki seorang berjalan dengan perlahan-lahan. “Aneh, apakah di luar dugaanku?” Siau-bun menggumam heran.

“Apa yang kau duga?”

“Kuduga pemilik gedung ini tentu akan datang sendiri. Dengan menawarkan keterangan tentang asal-usulmu, dia akan minta peta Telaga zamrud. Jika kau menolak, dia akan menggunakan keerasan. Peta direbut dan kau akan dibunuh untuk menghilangkan jejak..”

“Apakah dia sudah tahu peta itu ada padaku?” Thian-leng tersirap kaget. “Kalau tidak masakah dia begitu baik mengundangmu kemari?”

“Kalau begitu soal asal-usul diriku itu….?”

“Hal itu memang berliku-liku, sayang kau mudah tertipu!” tukas Siau-bun.

Thian-leng menghela napas penyesalan. Langkah kaki itu makin dekat tapi makin perlahan. “Apa yang kau maksud dengan di luar dugaan tadi?” Thian-leng bertanya pula.

“Langkah kaki seperlahan itu menunjukkan bahwa orang berjalan dengan penuh hati-hati. Mungkin takut diketahui orang. Apakah di dalam Neraka hitam ini telah kemasukan orang lagi?” 

Mendengar itu Thian-leng makin bingung. Saat itu langkah kaki sudah berada di luar pintu, menyusul terdengar suara ketukan pintu perlahan-lahan dan orang berseru lirih, “Bu-beng tayhiap…..!”

Thian-leng memandang Siau-bun, bagaimana adik Bun, kita bukakan pintu tidak?” Siau-bun merenung sejenak, lalu mengatakan, “Bukalah pintu.”

Dengan sebuah gerakan seperti kucing, Thian-leng loncat turun dan membukan palang pintu. Siau-bun menyiapkan senjata rahasia tui-hong-kiong. Juga Thian-leng telah siap dengan pukulan Lui-hwe-ciang.

Tetapi apa yang muncul hampir membuat si anak muda menjerit kaget. ternyata hanya seoarang dara baju hijau. Wajahnya memancarkan seri kecemasan.

“Nona ini…..?”

“Apakah kau Bu-beng tayhiap?” tukas dara itu dengan berbisik.

Baru Thian-leng mengiyakan. Siau-bun sudah berseru supaya menyuruh dara itu masuk dan segera menutup pintu lagi. ternyata Siau-bun pun sudah loncat turun di belakang Thian-leng.

“Mungkin kau ini nona Cu yang bersama dengan Bu-beng tayhiap?” tanya si dara itu setelah masuk.

“Kau ini sebagai apa di dalam Neraka Hitam? Mengapa tengah malam datang kemari? Mengapa kau tahu kami berdua berada di sini?”

“Di Neraka Hitam ini kedudukanku cukup tinggi. Namanya saja aku ini majikan dari Hong-kiong (istana burung Hong), tetapi sebenarnya tak lebih dari seorang tawanan….kecuali pada saat berada di samping ayahku!”

Ucapan itu membuat Thian-leng dan Siau-bun bingung karena tak mengerti apa maksudnya. “Katkan apa maksud kedatangnmu ini?” seru Siau-bun.

“Hendak mophon bantuan tuan berdua agar menolong kakekku!” sahut si dara.

“Asal kami dapat tentu dengan senang hati membantu nona, “ sahut Thian-leng serempak.

Dara baju hijau itu tertegun, “Kakekku itu tidak dipenjarakan karena dia….. dia bukan saja Cong-hou-hwat (kepala penjaga) Neraka Hitam, juga merupakan guru dari Kongsun Bu-wi…..!”

“Astaga!” Thian-leng mengeluh kaget. Ia memperhatikan lagi wajah nona itu, tetapi nyata kalau nona itu bukan seorang gila. tetapi mengapa ucapannya begitu aneh?

Kakek nona itu menjabat kedudukan yang sedemikian tinggi, perlu apa ia minta pertolongan pada orang asing? Juga nona itu sendiri menjabat sebagai kepala Hong-kiong. Mengapa dia begitu ketakutan dan minta tolong pada lain orang? Secerdas-cerdasnya otak Siau-bun, kali ini benar-beanr ia tak mengerti.

“Maukah nona menceritakan yang jelas? “ segera Siau-bun meminta.

Nona itu menyadari bahwa keterangannya tadi memang membingungkan, maka iapun segera memberi penjelasan. “Ya, ya, memang harus kuceritakan dari awal. Lima tahun yang lalu kakekku itu datang kemari atas undangan kepala Neraka Hitam. Sebelum itu kakek tinggal di gunung Kiu-kong….”

“Kakekmu itu bernama……?” tukas Siau-bun.

“Kami keluarga she Bok. Kakekku itu bernama Bok Sam-pi, bergelar Ang-tim Cong-khek….” “Bok Sam-pi….!” Siau-bun berseru kaget sekali.

(bersambung jilid 13)
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 12"

Post a Comment

close