Panji Tengkorak Darah Jilid 04

Mode Malam
Jilid 4

“Apakah nona yakin tentu menang?” Thian- leng tertawa dingin.

Dara baju kuning itu mendengus: “Meskipun menang-kalah belum ketentuan, tetapi aku tetap menghendaki begitu!” Marahlah Thian-leng: “Terserah, silahkan nona mulai!”

Dara baju kuning tertawa mengikik. Sekali gerakkan pedang, ia menusuk ke arah dada.

Sekalipun ajaran ilmu pedang Toh-beng-sam-kian dari wanita aneh Toan-jong-jin membuktikan kesaktiannya, namun karena tadi si dara dapat menamparnya begitu mudah, maka Thian-leng pun tak berani memandang rendah. Ia biarkan saja sampai ujung pedang si dara hampir mengenai dadanya, barulah ia menangkis. Setelah itu ia hendak gunakan jurus pertama dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam yang disebut Hong-ji-hun-yong (angin meniup awan buyar) untuk secepatnya mengakhiri pertempuran itu. Memang ia tak mau terlibat lama-lama karena perlu lekas- lekas menolong Ki Seng-wan.

Tetapi betapa terkejutnya ketika tangkisannya itu luput. Tusukan si dara itu hanya sebuah gertakan kosong belaka. Thian-leng tercengang. Dua hal yang membuatnya heran. Dalam gebrak pertama, si dara sudah menggunakan jurus kosong. Ini tidak umum. Dan yang paling mengejutkan ialah gerakan si dara yang luar biasa cepatnya. Matanya sampai tak dapat menangkap bagaimana lenyapnya pedang si dara itu tadi.

Rasa kejut membangkitkan kesadaran Thian-leng bahwa yang dihadapinya itu bukan dara sembarang dara, melainkan seorang dara yang lihay sekali. Segera ia mainkan jurus Hong-ji-hun-yong itu dengan sungguh-sungguh. Tetapi baru separoh bagian jurus itu ia kembangkan, tiba-tiba ia rasakan sekujur tubuhnya kedinginan dan hujan sinar pelangipun sudah mencurah ke arah kepalanya.

Ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam memang hebat, tetapi berhadapan dengan ilmu pedang si dara yang luar biasa itu, tak sempat lagi Thian-leng mengembangkan permainannya.

Bret … baju dada Thian-leng telah tergurat robek sampai panjang. Untung dagingnya tak sampai terluka.

“Ah …” Ki Gwat-wan mengeluh putus asa dan tundukkan kepala. Sementara Thian-leng pucat wajahnya, bungkam seribu bahasa.

Sebaliknya si dara itu angkuh menegur: “Bagaimana … apa kau menyerah kalah!” “ya, aku menyerah kalah tetapi masih penasaran dengan kekalahan itu!”

Si dara deliki mata: “Kau hendak menyangkal?”

“Dalam soal kepandaian, aku tak kalah padamu! Tetapi dalam soal siasat licik, kau lebih pintar. Maka sekalipun kau menang, tetapi bukan kemenangan yang gemilang!” 

Saking marahnya alis si dara menjungkit dan berteriaklah ia: “Menggunakan pedang tak ubah seperti mengatur barisan. Keistimewaan terletak pada seni mempedayakan musuh yang tak mudah menduga isi-kosongnya serangan kita. Kau harus malu pada dirimu sendiri yang tak mengerti intisari ilmu pedang!”

“Aku tetap tak puas dengan cara-cara begitu …” Thian-leng mendengus, “aku sudah kalah, silahkan nona bertindak!”

– Ia meramkan kedua mata menunggu kematian dengan ikhlas.

Si dara terkesiap. Pedang di tangan hanya dicekal saja, tak tahu ia bagaimana harus bertindak.

Sebenarnya kegelisahan berkecamuk dalam hati Thian-leng. Benar kekalahan itu dikarenakan pengetahuannya kurang luas, tetapi karena licinnya mulut si dara maka ia membuat pernyataan sebelum bertanding. Mau tak mau ia terpaksa harus mentaati. Tetapi sampai sekian saat tak juga si dara itu turun tangan. Ia membuka mata, ah, dara itu tengah menatapnya dengan penuh perhatian.

“Nona, silahkan turun tangan!” kembali Thian-leng berseru. “Turun tangan bagaimana?”

“Bukankah tadi nona hendak menghukum mati aku? Sekarang silahkan!”

Wajah dara itu sebentar pucat sebentar merah dan akhirnya menggigit bibir keras-keras. “Sebelum kubunuh, hendak kusuruh kau benar-benar menyerah setulusnya!”

Sambil kiblatkan pedangnya, dara itu berseru: “Mari kita bertanding lagi. Silahkan kau mulai dulu!” Thian-leng tertawa menghina: “Jika bertempur lagi, mungkin kau tak dapat menggunakan akalan!” Merah-padam wajah dara itu, lengkingnya: “Jangan banyak mulut, lekas mulai!”

Thian-leng mendongkol sekali atas kecongkakkan si dara. Sambil kiblatkan pedang pendeknya berserulah ia: “Karena nona yang menghendaki, terpaksa aku menurut saja.”

Jurus pertama Hong-ji-hun-yong dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam, segera dilandaskan. Pedangnya yang pendek itu seketika berobah panjang. Hawanya sampai bertebaran seluas satu tombak keliling.

Si dara tak tinggal diam. Iapun kembangkan pedangnya. Tring, tring, tring, dalam sekejap mata terdengarlah tiga kali beradunya pedang mereka. Thian-leng terkejut. Sikap congkak si dara itu ternyata karena mengandalkan kepandaiannya yang sakti. Bukan saja ilmu pedangnya luar biasa aneh, pun memiliki tenaga-dalam yang hebat. Tak jauh terpaut dengan tenaga dalamnya. Pada hal ia (Thian-leng) telah mendapat penyaluran tenaga dalam dari Oh-se Gong-mo dan minum pil Kong-yang-sin-tan.

Dara itu usianya tak lebih dari 18 tahun. Taruh kata sejak lahir ia sudah berlatih, pun tak nanti dapat mencapai kesempurnaan yang sedemikian hebatnya. Apakah dara itu juga mendapat rejeki luar biasa? Demikian Thian-leng bertanya-tanya dalam hati.

Selesainya jurus pertama terus dilanjutkan dengan jurus kedua yang disebut Nok-hay-keng-liong (laut marah mengejutkan naga). Sambaran angin yang menerbitkan lengking tajam segera berhamburan seluas dua tombak.

Rupanya dara itu juga terkedjut, serunya: “Bagus, ternyata boleh juga!” – Ia taburkan pedangnya menjadi gumpalan sinar untuk menahan serangan lawan.

Tiba-tiba Thian-leng tertawa nyaring, serunya: “Hati-hatilah nona!”

Serempak dengan peringatan itu tiba-tiba permainan pedang Thian-leng berganti dengan jurus ketiga yang disebut Liu-hun-ci-thian atau awan berarak menutup langit. Jurus ini jauh berlainan dengan jurus pertama dan kedua tadi. Sinar pedang tiba-tiba melambung naik ke atas, berobah laksana ribuan bintang. Sesaat ribuan bintang itupun mencurah ke arah kepala si dara.

Kali ini benar-benar si dara itu terkejut sekali. Cepat ia loncat mundur. Karena tak bermaksud hendak membunuh, maka Thian-leng tak mau mengejar. Segera ia tarik pedang dan berdiri tegak, serunya sambil tersenyum: “Terima kasih atas kesungkanan nona!” 

Wajah dara itu berobah gelap. Ternyata dua jemput rambut di kanan-kiri keningnya kena terpapas! Thian-leng pun melongo sendiri. Dara itu memang congkak sekali, tetapi memapas rambut seorang anak perempuan adalah perbuatan yang keliwat garis …

Si dara terlongong-longong mengawasi rambutnya yang terkupas tadi. Tiba-tiba ia menutup muka dan menangis …

Thian-leng tak enak sendiri. Setelah menghela napas, ia melangkah menghampiri, ujarnya: “Adalah karena nona suka mengalah maka aku beruntung bisa menang. Harap nona jangan taruh di hati … Maaf, karena ada urusan penting, terpaksa aku mohon diri!”

Dara baju kuning itu tetap menangis tersedu-sedu …

Ketika tertumbuk pada gumpalan rambut si dara yang jatuh di tanah, Thian-leng hentikan langkah. ”Sungguh aku tak sengadja, nona …” ia hendak minta maaf, tetapi tiba-tiba si dara berhenti menangis dan membentaknya: “Jangan jual lagak kau! Jika sungguh mau membunuhmu adalah semudah membalikkan tanganku!”

Thian-leng tertawa kecut. Pikirnya, dara itu benar-benar centil sekali. Masakan ia minta maaf malah diberi semprotan yang menusuk hati! Namun tak mau ia meladeni. Berpaling ia mengajak Ki Gwat-wan pergi. Tanpa diulang, nona itupun segera memanggul Ki Seng-wan. Thian-leng pun segera mengikuti.

Tiba-tiba dara itu taburkan tangannya ke punggung Thian-leng, serunya: “Bu-beng-jin, awas kau!”

Thian-leng tertegun. Punggungnya tersambar angin tajam. Ia tahu si dara tentu gunakan senjata rahasia, namun tak sempat lagi ia menghindar. Senjata rahasia itu meluncur dengan luar biasa cepatnya. Tubuh Thian-leng tergetar.

Rasanya seperti tersusup oleh beberapa batang senjata rahasia! “Kang-siangkong, kau terluka …!” Ki Gwat-wan berseru kaget.

Thian-leng terkesiap. Ia merasa memang telah terkena senjata rahasia, tetapi anehnya ia tak merasa sakit sama sekali. Tetapi ketika memeriksa, kejutnya bukan kepalang. Kedua bahunya kanan-kiri dan punggung, tertancap 3 batang passer (anak panah kecil) yang tangkainya berukir kepala burung hong. Tiga batang passer itu berjajar merupakan bentuk segi-tiga. Yang membuat Thian-leng hampir tak percaya pada penglihatan matanya ialah bahwasanya ke 3 passer itu hanya menancap pada bajunya saja, sedikitpun tak menyentuh kulit. Ilmu kepandaian serupa itu benar-benar mempesonakan sekali!

Setelah mencabut ke tiga passer itu, terlongong-longonglah Thian-leng. Benar-benar ia kehilangan paham kepada dara itu. Seorang dara yang muda-belia, mengapa memiliki beberapa kepandaian yang tiada taranya!

Si dara tertawa mengikik: “Bu-beng-jin, telah kukatakan tadi bahwa kalau hendak membunuhmu adalah semudah membalikkan telapak tangan. Apakah sekarang kau sungguh tunduk?”

Thian-leng mengangguk, sahutnya serta merta: “Ya, sekarang aku tunduk sungguh atas kesaktian nona!”

Ia segera memberi hormat kepada dara itu lalu berputar tubuh dan terus berlalu. Kali ini si dara tak mau merintangi lagi. Dipandangnya si anak muda yang berjalan mengikuti Ki Gwat-wan. Setelah itu ia memungut gumpalan rambutnya yang jatuh di tanah dan menghela napas panjang.

Sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa gelak-gelak.

“Niu-niu, apakah kau setuju dengan budak itu?” menyusul terdengar suara lantang nyaring. Sesosok tubuh melayang turun dari puncak sebuah karang. Seorang lelaki tua yang berambut putih tetapi wajahnya segar kemerah-merahan seperti seorang anak. Usianya lebih dari 70 tahun namun masih tampak gagah.

“Ayah, kembali kau mengoceh yang tidak-tidak!” sambil berpaling si dara melengking manja. “Kurang ajar kau, Niu-niu, berani memaki ayahmu!” bentak lelaki tua itu.

Si dara tertawa mengikik: “Mengapa ayah mengolok aku?”

Lelaki tua tertawa meloroh: “Niu-niu, ayah tahu kau suka padanya. Tetapi caramu tadi dapat menimbulkan salah pahamnya, mungkin …” “Mungkin bagaimana, yah?”

Lelaki tua menggeleng-geleng: “Mungkin malah meletus. Budak itu tampaknya juga keras kepala …” “Peduli dengan dia! Sayang tadi tak kubunuh saja … dia keliwat menghina padaku!”

“Amboi, apakah dia berani menghina puteri kesayanganku?” sengaja nada si lelaki tua dibuat-buat.

Dengan berlinang-linang dara itu berseru manja: “Lihatlah sendiri ini.” Sekali goyangkan bahunya maka berhamburan gumpalan rambutnya yang terkupas tadi.

“Kurang ajar, Niu-niu, tunggulah. Paling lama setengah jam ayah tentu akan menghancurkan kepala budak liar itu!” habis berkata, lelaki tua segera melesat pergi.

“Yah, kau hendak …” tiba-tiba si dara berseru kaget.

Lelaki tua deliki mata: “Ayah hendak membalaskan penasaranmu. Hendak kubunuh budak itu!”

“Seorang budak tak bernama masakan layak kau ajak berkelahi. Sudahlah, yah!” di luar dugaan dara itu mencegah. “Apa? Apa kau hendak berikan rambutmu digunduli olehnya?”

Si dara merah wajahnya. “Kelak kalau berjumpa padanya, tentu kubuat perhitungan!”

Sejenak memandang sang puteri, tertawalah lelaki tua itu: “Kelak kalau kau berjumpa padanya, mungkin dia sudah jadi suami orang … Niu-niu, lebih baik kita kejar dia sekarang saja!”

Sepasang pipi si dara merah jambu. Segera ia susupkan kepalanya ke dada ayahnya: “Yah, kau memang suka mengolok-olok, bagaimana hukumannya?”

Lelaki tua tertawa: “Hukumannya mudah saja, suruhlah aku minum secawan arak kebahagiaanmu!” Tiba-tiba tubuhnya mencelat sampai beberapa tombak jauhnya. Dia hendak mengejar Thian-leng. “Yah, awas kau!” si dara berkaok-kaok seraya menyusul.

Sementara itu Thian-leng dan Ki Gwat-wan yang memanggul adiknya sudah berjalan beberapa li jauhnya. Kala itu sudah hampir terang tanah. Tiba-tiba Ki Gwat-wan menghela napas dan hentikan langkah.

Thian-leng terkejut, serunya: “Ah, karena mendongkol pada anak perempuan tadi, aku sampai lupa membiarkan kau

…” ia ulurkan tangan hendak menyambuti tubuh Ki Seng-wan. Ia kira Ki Gwat-wan letih memanggul. Di luar dugaan Ki Gwat-wan gelengkan kepala: “Mungkin … tak keburu menolongnya lagi!”

Thian-leng kaget dan buru-buru memeriksa. Tampak wajah K Seng-wan pucat seperti mayat, mulut terkancing rapat dan napasnya makin lemah seperti orang yang tengah meregang jiwa.

“Budak itulah yang mencelakai, kalau tidak …” Thian-leng menggeram sedih.

Ki Gwat-wan tertawa hambar: “Thay-gak-san terpisah ribuan li jauhnya. Betapapun cepatnya kita berjalan juga harus memakan waktu lebih dari satu hari padahal adikku yang malang ini hanya mampu bertahan paling lama satu jam saja.”

Thian-leng banting-banting kaki: “Biarlah kusalurkan seluruh tenaga dalamku, mungkin dia dapat bertahan beberapa jam. Asal kita percepat perjalanan, mungkin …”

“Percuma,” Ki Gwat-wan gelengkan kepala, “hawa Im-han telah menyusup ke dalam sumsumnya. jika kau hendak salurkan tenaga dalam, darahnya pasti bergolak dan berarti malah mempercepat kematiannya …” beberapa butir air mata menetes dari mata Ki Gwat-wan. Setelah itu berkata pula: “Di dalam Sin-bu-kiong, kecuali ayah, akulah yang paling mahir dalam ilmu pengobatan. Jika masih ada daya menolongnya masakan aku tak berusaha?”

Thian-leng kucurkan air mata terharu, ujarnya rawan: “Apakah kita berpeluk tangan saja melihat ia meninggal …” “Kita … tak berdaya lagi,” sahut Ki Gwat-wan. Segera ia angsurkan tubuh Ki Seng-wan kepada Thian-leng: “Adikku ini terhadap kau …”

Ki Gwat-wan segera menceritakan bagaimana sang adik telah mengorbankan kesuciannya untuk menolong jiwa pemuda itu. Tetapi baru bercerita sampai separoh bagian, tiba-tiba dari jauh terdengar derap kaki orang berlari-lari mendatangi. Beberapa saat kemudian tampak beberapa sosok bayangan melesat bermunculan. Ki Gwat-wan terkesiap kaget. Buru-buru ia gunakan ilmu menyusup suara kepada Thian-leng. “Celaka, mereka datang kembali …”

Thian-leng segera mengajak bersembunyi di dalam hutan. Diketahui pendatang-pendatang itu ialah rombongan orang Sin-bu-kiong, yakni Te-it Ong-hui Ma hong-ing, Ci-chiu-hoan-thian Ni Jin-hiong, 4 orang dayang wanita dan sejumlah besar jago-jago persilatan yang bermuka bengis.

“Apakah mereka dapat menyusul kemari?” kata Ni Jin-hiong dengan wajah tegang.

Salah seorang rombongan jago silat yang sudah berambut putih segera menjawab: “Lereng Gan-beng-poh biasanya menjadi tempat pertemuan kita, sudah tentu dapat mencari …”

Kata-kata itu diganggu oleh terdengarnya derap kaki yang berlari-lari mendatangi. Seorang lelaki bertubuh kekar muncul terus memberi hormat kepada orang tua itu: “Melapor pada bengcu (ketua), bahwa menurut laporan mata- mata, sampai seluas 30 li belum tampak tanda-tanda jejak musuh!”

Ternjata lelaki kekar itu adalah salah seorang kepala cabang suatu perserikatan partai-partai persilatan. Dan lelaki tua itu ialah Suma Beng, ketua perserikatan partai-partai persilatan dari 13 propinsi. Suma Beng bergelar Tok-bok-sin- tiau atau Kokok-beluk sakti bermata satu.

Entah kapan si Kokok-beluk itu menggabungkan diri pada Sin-bu-kiong.

Tanya Ni Jin-hiong dengan gelisah: “Kalau orang Thiat-hiat-bun belum muncul, apakah kalian menemukan jejak budak she Kang dengan kedua puteri ketua kami … eh, apakah biara tua itu sudah diselidiki?”

Lelaki kekar itu mengatakan bahwa semua tempat dan biara tua tu sudah dijelajahi, tetapi tak menemukan suatu apa. Hanya saja caranya bicara itu tak lancar seperti menyembunyikan sesuatu.

Melihat itu dengan membawa sikap sebagai seorang Ong-hui (ratu), Ma Hong-ing membentak Suma Beng: “Tadi di dalam biara rusak jelas terdapat tanda-tanda munculnya orang Thiat-hiat-bun dan kedua puteri itu juga berada di dalam situ. Mengapa mengatakan tak ada jejak apa-apa. Kalian membanggakan diri sebagai kaum persilatan yang palng pandai mencari berita, mengapa ternyata tak berguna sama sekali?”

Kokok-beluk sakti Suma Beng terbata-bata: “Entah kapankah Ong-hui mengetahui … mengapa …”

Sebenarnya ia hendak menegur Ong-hui, kalau memang tahu mengapa membiarkan mereka lolos. Tetapi ia merasa ucapan itu kurang layak, maka ditelannya kembali.

Merahlah wajah Ma Hong-ing. Ia deliki mata kepada Ni Jin-hiong lalu mendengus. Itulah suatu dampratan halus kepada Ni Jin-hiong yang belum-belum sudah panik karena mengira orang Thiat-hiat-bun muncul.

Ni Jin-hiong pun kerutkan alisnya. Ia menginsyafi gawatnya urusan saat itu. Tentang Kang Thian-leng itu tak menjadi soal, tetapi yang menggelisahkan adalah kedua kakak-beradik Ki itu. Jika kedua nona itu sampai melapor pada ayahnya (Sin-bu-te-kun) tentang hubungan gelap antara Ma Hong-ing dengannya (Ni Jin-hiong), pasti mereka akan dibunuh.

Sejenak merenung, berkatalah Ni Jin-hiong kepada Kokok-beluk hantu Suma Beng: “Tolong Suma-bengcu suka mengirim berita dengan burung, memberi tahukan tokoh-tokoh persilatan yang tinggal di sekitar 100 li jaraknya, agar mengerahkan tenaga untuk mencari jejak kepada kedua puteri ketua kami itu. Begitu tahu, harus segera menyampaikan laporan!”

Suma Beng mengiyakan dan lalu memberi perintah kepada si lelaki bertubuh kekar: “Urusan ini harus kusampaikan sendiri pada cabang di daerah selatan. Kalian harus hati-hati menjaga di sini!”

Jago tua bermata satu itu segera melesat pergi. Ma Hong-ing mondar-mandir dengan gelisah dan Ni Jin-hiong pun cemas sekali.

Thian-leng dan Ki Gwat-wan yang bersembunyi beberapa tombak jauhnya, tak kurang cemasnya. Jarak begitu dekat dan Ni Jin-hiong seorang tokoh yang berkepandaian tinggi. Sedikit gerakan saja pasti diketahuinya. Apalagi Thian- leng saat itu mewajibkan diri untuk melndungi kedua nona Ki. Mereka berdua tak berani bergerak sedikitpun juga.

Berapa lama kemudian, tiba-tiba wajah Ni Jin-hiong mengerut kejut. Ia melirik ke arah Ma Hong-ing dan bibirnya bergerak-gerak, seperti orang menggunakan ilmu menyusup suara.

Ma Hong-ing tegang seketika. Segera ia memberi isyarat kepada ke 4 dayangnya dan beberapa jago-jago persilatan untuk bersembunyi di balik gundukan batu di belakang gerumbul pohon.

Thian-leng pun kaget. Tetapi ia tak mendengar suatu suara apapun. Namun ia percaya Ni Jin-hiong tentu bukan pura- pura. Tentu ada sesuatu yang dicurigai. Thian-leng pun tumpahkan perhatian menanti perkembangan selanjutnya …

Ah, ternyata benar. Tak berapa lama terdengarlah derap kaki ringan dan dari jarak 10 tombak jauhnya muncullah 3 orang imam bertubuh kurus. Begitu kurus hingga mirip dengan orang-orangan bambu yang diberi pakaian jubah.

Punggung mereka masing-masing menyelinap hud-tim (kebut yang dipakai kaum paderi atau imam).

Tak tahu Thian-leng siapa ketiga imam itu. Hanya diduganya tentulah orang dari salah satu 9 partai besar di dunia persilatan.

Secara kebetulan ketiga imam itu melalui tempat persembunyian Thian-leng. Kuatir dipergoki, terpaksa Thian-leng menyandar pada sebatang pohon. Siapa tahu, tubuhnya membentur sebatang ranting kering. Ranting patah dan jatuh berkeresekan …

Ketiga imam itu menghentikan langkah, menyebut doa O-mi-to-hut. Yang di tengah, seorang imam tua berambut puth segera melengking: “Hai, siapakah yang malam-malam bersembunyi di sini?”

Wut, ia kebutkan lengan jubahnya menampar ke arah tempat persembunyian Thian-leng. Saking kaget dan kuatir atas keselamatan Ki Seng-wan yang sudah terluka parah itu, tanpa banyak pikir Thian-leng segera lepaskan pukulan Lui-hwe-sin-ciang. Dar … si imam tua itupun terhuyung-huyung ke belakang Kedua imam lainnya segera mundur ke samping seraya mencabut hud-tim nya. Demikianpun si imam tua yang terhuyung ke belakang tadi.

“Ah, tak nyana di sini aku bertemu dengan orang sakti,” serunya seraya mencabut hudtim. Tetapi seruannya segera mendapat sambutan dari suara orang tertawa gelak: “Ah, kiranya ketiga totiang dari Lo-san …!”

Ketiga imam itu tersirap kaget. Ketika berpaling tampak beberapa sosok tubuh melesat dari balik gerumbul pohon. Heran ketiga orang itu dibuatnya. Tetapi segera imam itu tertawa menegur: “Bukankah sicu ini kepala penjaga istana Sin-bu-kiong?

Memang yang keluar itu adalah Ni Jin-hiong dan rombongannya. Kepala penjaga Sin-bu-kiong ini menjawab: “Sungguh kuat sekali ingatan totiang,” ia keliarkan mata sejenak. “Ah, jika bukan totiang yang kebetulan lewat di sini, mungkin beberapa budak murtad itu dapat mengelabui aku!”

Imam berjenggot putih itu berseru heran: “Ini … ini bagaimana duduk perkaranya?”

Wajah Ni Jin-hiong membesi: “Hendak kuhaturkan pertanyaan pada totiang bertiga. Bagaimanakah sikap totiang bertiga terhadap Sin-bu-kiong …”

“Terus terang saja, kami memang hendak menggabungkan diri pada Sin-bu-kiong!” tukas ketiga imam dari Lo-san itu.

Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Menggabung pada Sin-bu-kiong …”

Imam tua itu menghela napas perlahan, ujarnya: “Walaupun sudah mendekati hari-hari tua, tapi rupanya Hun-tiong Sin-mo itu masih gemar menjagal manusia. Peristiwa pembunuhan ketua kuil Siau-lim-si dan ke delapan paderi tinggi, telah menggemparkan dunia persilatan. Sejak itu dunia persilatan menjadi gelisah. Panji Tengkorak Darah muncul di mana-mana.

Ratusan jiwa telah melayang. Sebenarnya gunung Lo-san merupakan daerah yang suci, tetapi beberapa hari yang lalu Panji Tengkorak Darahpun muncul di situ …”

“Siapakah yang menjadi korban?” seru Ni Jin hiong.

Imam tua menggeram: “Kalau yang dijagal itu kaum persilatan, itu dapat dimengerti …” “Apa? Apakah Hun-tiong Sin-mo membunuh orang yang tak mengerti ilmu silat?” Ni Jin-hiong pura-pura kaget.

“Benar!” imam tua itu makin merah matanya, “beberapa hari yang lalu terdapat dua belas pemburu yang mati dibunuh di bawah puncak Ou-lay-hong. Di samping mayat mereka terdapat panji berlukis tengkorak darah …” – ia berhenti sejenak, katanya pula: “kami dengar para pemimpin sembilan partai besar telah meminta bantuan pada Sin- bu Te-kun dan Te-kun pun sudah menerima baik untuk memimpin gerakan membasmi Hun-tiong Sin-mo. Maka jauh- jauh kami perlukan menuju ke Sin-bu-kiong!”

Serta merta Ni Jin-hiong memberi pujian atas sikap ketiga imam dari Lo-san yang sedia berjoang untuk peri- kemanusiaan. Tiba-tiba ia beralih pembicaraan: “Tetapi baiklah hal itu kita bicarakan lagi setelah menangkap ketiga murid murtad ini …”

Imam tua menatap pada Thian-leng, serunya: “Rupanya budak itu memiliki ilmu pukulan bagus, tenaga dalamnyapun tinggi, tadi kamipun hampir …” teringat akan peristiwa tadi, ia tak jadi lanjutkan kata-katanya. Mukanya merah- padam.

Lo-san Sam-to atau tiga imam dari Lo-san, meskipun bukan termasuk tokoh-tokoh sembilan partai, tetapi juga tergolong tokoh yang dimalui. Beberapa puluh yang lalu banyak juga jago-jago yang dijatuhkan. Maka ia merasa malu, kalau ketahuan orang bahwa dirinya sampai dipukul sempoyongan oleh seseorang anak yang tak terkenal!

Setelah dirinya dipergoki dan mengetahui bahwa ketiga imam itu hendak menggabung diri pada Sin-bu-kiong, terpaksa Thian-leng ambil putusan nekad. Dengan melindungi Gwat-wan yang memondong adiknya, Thian-leng tegak bersiap sambil menghunus pedang pendeknya.

Pada saat itu Ma Hong-ing dengan beberapa jago-jago persilatanpun menyusul datang. Mereka segera mengepung Thian-leng. Thian-leng hanya tertawa dingin saja. Dipandangnya wanita itu dengan tatapan kemarahan dan kekecewaan.

Tiba-tiba Ni Jin-hiong berseru: “Budak, menyerahlah. Jika kau mau membunuh diri sendiri, mayatmu kubiarkan utuh. Tetapi kalau membangkang, hm, aku bukan orang yang suka memberi ampun!”

Namun sekalipun mulut berkata begitu garang, diam-diam hati Ni Jin-hiong cemas juga. Permainan pedang si anak muda yang dapat menggurat robek mantelnya tadi, cukup membuat nyalinya nanar. Maka iapun memberi isyarat mata kepada Ma Hong-ing supaya siap-siap menyerang dari belakang anak itu.

Justru Ma Hong-ing memang mempunyai rencana begitu. Mengisar ke belakang Thian-leng segera ia mengancam Ki Gwat-wan: “Budak hina, mengapa tak lekas menyerah menerima hukuman?”

Karena tengah memondong adiknya maka Ki Gwat-wan tak berdaya melawan. Thian-leng juga tak kurang gelisahnya. Ia tahu seorang Ni Jin-hiong saja sudah cukup berat, apalagi harus melindungi kedua nona itu. Malah keempat pelayan Ma Hong-ing pun menghunus kebutannya. Dan untuk mendirikan jasa pada Sin-bu-kiong, ketiga imam dari Lo-san pun siap dengan tinjunya, Thian-leng diam-diam mengeluh.

Setelah melihat kepungan yang sedemikian rapat tertawalah Ni Jin-hiong mengejek. Tiba-tiba ia memberi perintah: “Serang! – Ia sendiri segera mempelopori dengan sebuah hantaman.

Ia memutuskan untuk membunuh Thian-leng agar jangan menimbulkan bahaya di kemudian hari, maka sekali gebrak iapun lantas gunakan ilmu pukulan Hian-im-ciang yang dilambari dengan tenaga penuh. Ma Hong-ing pun taburkan kelima jarinya. Keempat dayangnya menampar dengan kebutan, sedang ketiga imam dari Lo-san menghujankan pukulan. Tak ketinggalan pula dengan jago-jago silat anak buah Kokok-beluk Suma Beng yang menghujankan pukulan. Situasi berobah ngeri sekali …

Sambil mencekal pedang di tangan kiri, Thian-leng pun siapkan ilmu pukulan Lui-hwe-sin-ciang. Dia siap bertempur mati-matian.

Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa meloroh dan belasan jago-jago yang mengepung Thian-leng itu, menjerit kaget. Tinju mereka yang sudah diluncurkan terpaksa ditarik setengah jalan dan loncatlah mereka mundur …

Thian-leng juga kaget. Ketika mengawasi, kiranya di sebelah muka muncul seorang tua yang jenggotnya menjulai sampai ke dada, bermuka merah, tengah memandang dirinya dengan tertawa.

Kiranya serempak dengan suara ketawa yang menggetarkan urat jantung itu, juga tangan Ni Jin-hiong serta kawannya yang dihantamkan kepada Thian-leng itu, terasa sakit sekali. Tangan mereka masing-masing, tertusuk sebatang passer kecil yang berkepala burung hong. Ujung passer kecil runcing sekali dan tepat menyusup di sela jari. Itulah yang menyebabkan mereka menjerit kaget dan loncat mundur.

Hebat dan luar biasa sekali kepandaian orang yang menimpukkan passer kecil itu. Belasan jago-jago yang menyerang Thian-leng, tidak seorangpun yang mampu menghindar. Bahkan ke empat dayang pelayan Ma Hong-ing pun menderita senjata rahasia itu.

Orang tua itu mengusap-usap jenggotnya yang putih mengkilap seperti perak seraya tertawa terkekeh-kekeh. Rupanya ia gembira sekali.

Ni Jin-hiong cepat mencabut passer kecil yang menancap di punggung telapak tangannya. Demi mengetahui siapa orang tua itu, mukanya pun segera berobah seperti orang dicekik setan. Mulutnya terbata-bata berseru: “Kau … bukankah Gin-hi-sin-soh Lu Liang-ong?” 

Gin-hi-sin-soh artinja Jenggot perak si kurus sakti. Orang tua berjenggot perak itu tertawa: “Selama hidup aku belum pernah masuk ke daerah Tionggoan, mengapa kau kenal padaku!”

Makin pucat wajah Ni Jin-hiong, ujarnya: “Kalau begitu kau lo-ciangbun (pemimpin) perkumpulan Thiat-hiat-bun (Darah besi).”

Orang tua berjenggot perak itu mengangguk tertawa: “Benar, memang aku ini …” – ia keliarkan matanya ke sekeliling, serunya: “Melihat kamu begini banyak mengeroyok seorang anak muda, mataku tak tahan maka tadi kuberi peringatan …”

Ucapan sedap, wajah berseri tertawa. Enak sekali tampaknya orang tua jenggot perak itu bicara seolah-olah menghadapi anak kecil saja.

Sebenarnya dada Ni Jin-hiong sudah seperti mau meledak, tetapi karena mengetahui riwayat ketua partai Darah Besi, terpaksa ia menyumbat kemarahannya. Kemunculan ketua partai Darah Besi itu menimbulkan kecemasan hebat dalam hati Ni Jin-hiong. Ia kuatir suatu peristiwa ngeri tak mungkin dihindari lagi. Segera ia memberi isyarat mata kepada Ma Hong-ing. Kemudian bertanyalah ia kepada Jenggot perak Lu Liang-ong: “Kabarnya Siau-yau-kiam-khek Pok Thiat-beng kembali pula pada partai Thiat-hiat-bun, entah …”

“Siapa kau? Perlu apa kau tanyakan hal itu?” tukas Lu Liang-ong tak lupa dengan ketawanya.

Ni Jin-hiong terkesiap, serunja: “Aku Ni Jin-hong karena mengagumi pribadi Pok-tayhiap, maka ingin mengetahui hal itu!”

Lu Liang-ong tertawa: “Entahlah, aku juga sudah beberapa tahun tak ketemu dengan dia!”

Mendengar itu longgarlah perasaan Ni Jin-hiong. Ia percaya keterangan orang tua berjenggot perak itu tentu benar. Kini berobah nadanya menjadi nyaring, serunya: “Entah apakah maksud saudara berkunjung ke Tionggoan ini?”

Tiba-tiba wajah Lu Liang-ong mengerut bengis: “Apakah Tionggoan ini tanah milikmu? Apakah aku tak boleh datang kemari?”

Tersipu-sipu Ni Jin-hiong dibuatnya, segera ia menyahut: “Saudara sudah melukai orang masih omong besar. Janganlah keliwat menghina orang! Ketahuilah, aku juga bukan bangsa kerucuk tak bernama. Adalah karena mengindahkan nama partai Thiat-hiat-bun maka aku masih menaruh kesungkanan padamu!”

Ketua Thiat-hiat-bun tertawa tergelak-gelak: “Bagus, bagus, jika kau penasaran, silahkan turun tangan saja …” – ia tertegun sejenak lalu berkata pula: “Ya, ya, tiada halangan kuberitahukan padamu bahwa aku memang kekurangan lawan di daerah Lam-hong sehingga tanganku gatal. Kedatanganku ke Tionggoan ini tak lain karena hendak menguji kepandaian dengan datuk-datuk persilatan di sini. Aku ingin sekali berjumpa dengan seorang lawan yang berimbang agar sisa hidupku tak kecewa …”

Lagi-lagi Ni Jin-hiong terperanjat. Tetapi secepat itu ia tutupi dengan tertawa, ujarnya: “Maksud saudara tentu akan mendapat sambutan gembira, tetapi …”

“Tetapi bagaimana?”

Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Melintasi pagar baja harus dipatahkan, apalagi negara Tionggoan adalah kandang naga dan harimau …” 

“Kamipun menghormati partai Thiat-hiat-bun yang termasyhur,” ketiga imam dari Lo-san menyeletuk, “tokoh yang berkepandaian paling tinggi di daerah Tionggoan adalah Hun-tiong Sin-mo! Jika lo-sicu dapat melenyapkan momok itu, semua kaum persilatan daerah Tionggoan …”

Mengetahui betapa tinggi kepandaian ketua Thiat-hiat-bun, ketiga imam dari Lo-san itu hendak gunakan siasat memprovokasi (membakar) hati Lu Liang-ong agar menempur Hun-tiong Sin-mo. Pikirnya, siasat adu domba itu adalah yang paling tepat. Tetapi demi diperhatikan Ni Jin-hiong tak mengajukan siasat itu, maka ketiga imampun tak dapat menahan kesabarannya lagi.

Di luar dugaan Ni Jin-hiong dan Ma Hong-ing berobah wajahnya ketika mendengar ucapan itu. Cepat-cepat Ni Jin- hiong menukasnya: “Jangan … janganlah Lu locianpwe menempur Hun-tiong Sin-mo!”

“Mengapa?” tanya ketua Thiat-hiat-bun.

Ni Jin-hiong menyahut tersekal-sekal, “Karena … karena Hun-tiong Sin-mo itu manusia licik yang banyak muslihatnya. Kini tokoh-tokoh sembilan partai persilatan di Tionggoan sudah bersatu-padu untuk menghancurkan momok itu. Jika saudara menempur Hun-tiong Sin-mo, dikuatirkan malah menganggu rencana sembilan partai persilatan itu …”

“Kalau begitu, aku tak usah pergi saja!” ketua partai Thiat-hiat-bun tersenyum.

Ni Jin-hiong menghela napas longgar. “Tetapi baik kiranya saudara pesiar menikmati alam pemandangan Tionggoan dulu, kemudian …”

“Hm, kau hendak mengusir aku?” dengus orang tua berjenggot perak itu. “Mana aku berani …” Ni Jin-hiong tersipu-sipu menerangkan.

“Eh, masakan kalian tak marah karena kulukai tadi?” Si Jenggot perak tertawa.

Memang mata sekalian jago pada merah, tetapi mereka tak berani berbuat apa-apa. Ni Jin-hiong memaksa tertawa: “Ah, itu hanya sedikit salah paham. Hanya luka tak berarti saja!”

“Eh, tadi pertanyaanku belum terjawab! Mengapa kalian mengeroyok kedua anak itu!” tiba-tiba ketua partai Thiat- hiat-bun berganti pembicaraan.

“Itu juga urusan salah paham!” buru-buru Ni Jin-hiong menjelaskan. Kemudian ia melirik Thian-leng dan Ki Gwat- wan, serunya: “Mereka adalah murid-murid Sin-bu-kiong yang murtad, maka hendak kami tangkap. Kiranya locianpwe tentu tak suka mengurus hal-hal semacam begitu bukan?”

Thian-leng menyaksikan beberapa hal yang tak diduga-duga. Jelas bahwa Ni Jjin-hiong merasa takut dengan orang tua jenggot perak yang sakti itu. Dan nyata pula bahwa orang tua itu bukan tokoh golongan hitam melainkan pendekar yang suka membela kebenaran. Ada titik terang yang memantul dalam harapan Thian-leng.

Tetapi harapan itu juga tercampur kecemasan. Passer kecil berkepala burung hong yang mengenai tangan orang- orang itu, serupa benar dengan passer yang ditimpukkan si dara baju kuning ke padanya. Dan juga caranya menimpuk terdapat persamaan. Apakah si dara dan orang tua berjenggot perak itu sekaum? Karena belum mendapat kesimpulan jelas maka Thian-leng pun hanya diam saja, menunggu perkembangan selanjutnya.

Tetapi ketika mendengar Ni Jin-hiong mengatakan dia murid Sin-bu-kiong yang murtad, tak dapat lagi ia menahan kemurkaannya. “Ngaco! Siapa sudi mengaku guru kepada bangsa penjahat!” bentaknya, lalu berpaling menghadap si Jenggot perak, serunya: “Harap locianpwe jangan percaya omongannya. Aku adalah musuh dari gerombolan Sin-bu- kiong …” – tiba-tiba ia merasa bahwa permusuhannya dengan orang Sin-bu-kiong berbelit-belit, tak dapat sepatah dua patah dapat dijelaskan.

Ni Jin-hiong tertawa sinis: “Meskipun kau bukan anak murid Sin-bu-kiong, tetapi kau telah melarikan kedua puteri Sin-bu Te-kun. Tentunya kau tak menyangkal …” – ia menunjuk pada nona Ki Gwat-wan yang berada di belakang Thian-leng, lalu berkata kepada ketua Thiat-hiat-bun: “Silahkan locianpwe tanyakan, benar tidak?”

Karena tak dapat memberi jawaban, Thian-leng merah-padam mukanya.

Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa: “Aku tak punya tempo mengurusi soal tetek-bengek begitu, tetapi …” ia berhenti sejenak, katanya pula: 

“Anak ini rupanya berjodoh padaku, kalau tidak tentu tak ketemu dengan aku. Sekali bertemu tak dapat kutinggal diam saja …”

Wajah Ni Jin-hiong berobah pucat, buru-buru serunya: “Habis, locianpwe hendak berbuat apa!” “Tinggalkan anak itu!”

Ni Jin-hiong mengeluh tertahan, serunja cemas: “Tetapi … kedua puteri …” “Tinggalkan juga!” tukas Jenggot perak Lu Liang-ong.

“Ini …”

“Apa? Tidak boleh …?”

Ni Jin-hiong meringis seperti kera termakan getah. Ia tertawa menyeringai: “Kalau begitu apakah locianpwe hendak bermusuhan dengan Sin-bu-kiong?”

“Biarlah! Eh apa jabatanmu dalam Sin-bu-kiong?” seru Jenggot perak Lu Liang-ong. “Kepala penjaga istana …”

“Pergi kau beritahukan pada Sin-bu Te-kun, aku akan tinggal di Tionggoan selama beberapa bulan. Di mana dan kapan saja dia boleh mencari aku kalau minta orang!”

Ni Jin-hiong alihkan pandangannya kepada Ma Hong-ing seperti hendak minta keterangan. Tetapi wanita itu hanya kerutkan alis tak dapat berkata apa-apa.

“Pergilah kalian!” tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun membentak seraya menampar.

Ni Jin-hiong serasa terbang semangatnya. Ia hendak menangkis, tetapi, ah, kiranya jago Thiat-hiat-bun itutidak menamparnya melainkan menghantam ke arah sebatang pohon cemara yang beberapa tombak jauhnya!

Pukulannya itu tampak lemah dan tak mengeluarkan deru angin apa-apa. Mengira kalau orang tua itu hanya main gertak, Ni Jin-hiong terlongong-longong, dalam batin ia malu-malu mendongkol.

Tetapi selagi sekalian orang tertegun, tiba-tiba terdengar bunyi benda berhamburan riuh gemuruh. Ketika melihat apa yang terjadi, kejut sekalian jago-jago bukan alang-kepalang!

Daun dari pohon cemara yang sebesar dua pemeluk tangan orang, rontok berguguran akibat pukulan kosong dari jago tua Thiat-hiat-bun. Suara gemuruh tadi berasal dari ribuan daun yang berhamburan ke tanah. Kini pohon cemara itu berobah gundul.

Seluas-luas pengalaman dan sehebat-hebat kepandaian Ni Jin-hiong, namun baru pertama kali itu ia menyaksikan ilmu kepandaian yang luar biasa. Di luar kesadarannya, lidahnya bercekat menelan ludahnya.

“Ho ho, kali ini pukulanku kutujukan pada batang pohon, tetapi lain kali tentu pada orang!” Jenggot perak Lu Liang- ong tertawa meloroh.

Mendengar itu serasa terbanglah semangat jago-jago, baik dari rombongan Sin-bu-kiong maupun anak buah Kokok- beluk bermata satu Suma Beng. Pertama-tama adalah Ma Hong-ing yang angkat kaki diiring oleh ke empat dayangnya, setelah itu menyusul Ni Jin-hiong, ketiga imam dari Lo-san dan berpuluh anak buah Suma Beng, berbondong-bondong tinggalkan tempat itu …

Istana Hantu.

Thian-leng menghaturkan terima kasih atas pertolongan orang tua berjenggot perak itu.

“Memang jitu, tepat! Mata Niu-niu memang tajam sekali … ha, ha, ha!” ketua Thiat-hiat-bun tertawa sambil mengawasi Thian-leng.

Thian-leng tak mengerti apa yang diucapkan orang tua berjenggot perak itu. Sejenak ia berpaling ke arah Ki Seng- wan. Ah, kedua mata nona itu meram. Keadaannya sedemikian parah seperti pelita yang sudah hampir padam sinarnya. Taci-nya bercucuran air mata. Nona itupun menghaturkan terima kasih kepada ketua Thiat-hiat-bun tetapi tak berkata suatu apa.

“Maaf, sekiranya locianpwe tak keberatan, aku hendak mohon … diri!” akhirnya Thian-leng memberanikan diri berkata kepada orang tua itu.

Jenggot perak Lu Liang-ong tiba-tiba mengerutkan wajah, dengusnya: “Nanti dulu …!” “Locianpwe hendak memberi petunjuk apa lagi?”

“Siapa namamu?” tanya si Jenggot perak. Thian-leng tertegun, sahutnya: “Bu-beng-jin!”

“Bu-beng-jin …?” dengus Jenggot perak, “kau tak mau mengatakan namamu atau memang tak punya nama?”

“Masakan aku berani mempermainkan locianpwe? Memang …” Thian-leng tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sukar untuk menerangkan. Beberapa jenak kemudian baru ia berkata pula: “Sedari kecil aku bernasib malang.

Sampai sekarang tak tahu siapa ayah-bundaku, maka …”

“O, kiranya kau bernasib begitu malang!” jago Thiat-hiat-bun mengangguk-angguk. “Locianpwe, sesungguhnya aku perlu sekali harus cepat-cepat menuju ke gunung Gak-san …” “Perlu apa?” tukas Jenggot perak.

“Nona itu,” kata Thian-leng sembari melirik ke arah Ki Seng-wan yang pingsan, “menderita luka parah sekali. Kecuali Thay-gak Sian-ong, siapa lagi yang dapat menolongnya. Maka terpaksa aku harus cepat-cepat ke sana!”

“Pernah apa kau dengan nona itu?” tanya Lu Liang-ong.

“Sebenarnya bukan apa-apa, tetapi lukanya itu karena ia hendak menolong aku, maka akupun harus membalas budi

…”

“Eh, andaikata tadi aku tak muncul, apakah kau mampu melanjutkan perjalananmu ke Gak-san?” Thian-leng tergagap-gagap: “Ini …” – ia tak dapat menemukan kata-kata untuk diucapkan lagi. “Ayo, coba jawablah sebuah pertanyaanku lagi!” kembali ketua Thiat-hiat-bun itu berkata. “Silahkan!”

“Jiwa kalian bertiga, bukankah aku yang menyelamatkan?” “Sudah tentu, budi locianpwe itu takkan kulupakan. Tetapi aku …”

“Aku tak suka berpura-pura. Ada ubi ada talas. Kau sudah hutang budi, sekarang harus membayar!” ketua Thiat-hiat- bun tertawa.

Thian-leng tertegun mendengar ucapan yang tak diduga-duga itu. Cepat-cepat ia menyahut: “Asal locianpwe yang memerintah, aku sanggup menerjang ke dalam lautan api, barisan golok!”

Ketua Thiat-hiat-bun tertawa: “Ah, bukan meminta kau harus menerjang bahaya, hanya …” ia berhenti sejenak lalu berganti nada berat, “kuminta kau meluluskan sebuah hal!”

“Silahkan locianpwe mengatakan!”

Jenggot perak Lu Liang-ong tertawa renyah: “Urusan itu tak memerlukan kau buru-buru melaksanakan, tetapi cukup kau mengatakan janji dulu.”

“Mengapa locianpwe tak mengatakan sejelas-jelasnya?”

“Jadi kau tak mau meluluskan?” nada ketua That-hiat-bun berobah berat. 

“Mana aku berani menolak? Sekalipun locianpwe meminta kepalaku, tentu akan kuberikan. Hanya …” “Hanya bagaimana?” tegas si Jenggot perak.

“Aku merasa heran, mengapa locianpwe tak mau segera mengatakan apakah urusan yang locianpwe kehendaki itu … apalagi aku seorang kelana yang tak punya tempat tinggal menentu. Mungkin kelak sukar berjumpa dengan locianpwe, apakah itu tak akan mengecewakan …”

“Tak usah kau resahkan hal itu. Pokoknya sekarang kau harus menyatakan persetujuanmu dulu.” Thian-leng menimang sejenak, lalu serentak memberi pernyataan: “Baik, aku meluluskan!”

“Belum cukup hanya mengucapkan pernyataan saja, kaupun harus bersumpah pada langit!” seru LuLiang-ong dengan serius.

“Aku seorang yang taat akan janji, kiranya janganlah locianpwe meragukan pernyataanku tadi!” “Selama kau tak bersumpah, tetap aku tak mempercayai!” seru Jenggot perak Lu-liang-ong.

Thian-leng tertawa masam. Ia anggap orang tua sakti itu memang aneh. Namun karena sudah berhutang budi, akhirnya Thian-leng pun segera berlutut dan menyatakan sumpahnya.

“Bagus, sekarang bolehlah kau pergi!” ketua Thiat-hiat-bun tertawa puas sambil mengusap-usap jenggotnya yang putih seperti perak.

“Nona Ki, marilah …” belum habis Thian-leng berkata mengajak pergi Ki Gwat-wan, tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun sudah membentaknya: “Kau sendiri yang pergi, kedua anak perempuan ini tinggalkan padaku!”

“Locianpwe …” Thian-leng berseru kaget.

“Luka budak perempuan itu keliwat parahnya. Sebelum kau dapat mencapai gunung Gak-san, tentu ia sudah mati di tengah jalan!”

“Terserah pada nasibnya, tetapi aku harus berusaha!”

Mendengar itu Ki Gwat-wan segera berlutut meminta pada ketua Thiat-hiat-bun: “Mohon locianpwe suka menolong adikku yang bernasib malang ini!”

Jenggot perak Lu Liang-ong mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuang sebutir pil warna hijau. Segera ia menyusupkan pil itu ke mulut Ki Seng-wan.

Sungguh ajaib, tak berapa lama muka nona itu mulai merah dan napasnya makin deras. Thian-leng dan Ki Gwat-wan girang sekali.

“Rupanya kau juga banyak urusan,” kata ketua Thiat-hiat-bun kepada Thian-leng, “nona itu masih perlu mendapat perawatan. Maka jika kau hendak menyelidiki asal-usul dirimu, silahkan pergi. Jangan kuatir, tinggalkan saja nona itu padaku!”

Sebenarnya Thian-leng memang tak punya perasaan apa-apa terhadap kedua nona kecuali hanya hendak membalas budi. Ucapan orang tua Jenggot perak itu dirasa memang tepat. Dia masih mempunyai beberapa urusan penting mencari tahu asal-usul dirinya dan melaksanakan pesan Oh-se Gong-mo untuk membunuh Song-bun Kui-mo dan merebut kitab pusaka. Tak ketinggalan Cu Siau-bun, pemuda yang baik budi itu …

“Kemanakah locianpwe hendak pergi dan di mana kiranya kelak aku dapat menjumpai?” tanyanya.

“Jangan hiraukan hal itu. Jika aku hendak mencarimu, sekalipun kau berada di ujung langit, setiap saat aku dapat menemukan juga …!”

“Kalau begitu, aku mohon diri,” Thian-leng segera pamit. Melihat itu Ki Gwat-wan seperti kehilangan sesuatu. Buru- buru ia menghampiri pemuda itu dan berbisik rawan: “Harap Kang-siangkong baik-baik menjaga adikku ini …” Tak dapat nona itu melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun melesat di tengah mereka dan memberi isyarat agar Thian-leng segera angkat kaki. Terpaksa anak muda itu melangkah pergi.

Setelah pemuda itu jauh, tiba-tiba ketua Thiat-hiat-bun tertawa keras: “Niu-niu, mengapa kau tak lekas muncul!”

Sesosok tubuh kecil melayang turun dari sebatang pohon yang beberapa tombak jauhnya. Gerakannya gesit seperti burung walet. Sedikitpun tak mengeluarkan suara ketika kakinya menginjak tanah. Itulah si dara baju kuning Niu-niu.

Melihat itu segera Ki Gwat-wan tahu apa sesungguhnya maksud yang tersembunyi dalam percakapan si Jenggot perak tadi. Seketika luluhlah hatinya. Ia membungkuk membisiki ke dekat telinga adiknya yang masih belum sadar, perlahan: “Oh, adikku, malang benar nasibmu …”

“Niu-niu, bagus tidak caraku bekerja tadi!” seru Jenggot perak Lu Liang-ong. “Uh, masih bertanya begitu? Apa ingin aku mati kaku?” dengus Niu-niu. “Mati kaku?” ayahnya melongo.

“Karena kau selalu mengolok saja!”

Lu Liang-ong membelai-belai rambut puterinya, tertawa: “Budak tolol, ayah tahu hatimu. Jangan kuatir, urusan itu tentu beres. Lain kali kau ketemu dengannya, dia adalah milikmu!”

Wajah Niu-niu merah: “Lain kali? Siapa tahu bagaimana dengan lain kali itu …!”

Lu Liang-ong mencekal dagu si dara, tertawa: “Niu-niu, masakan kau begitu terburu-buru?” Niu-niu menampar dada ayahnya: “Yah, kau benar-benar hendak membuat aku mati kaku!”

Lu Liang-ong tertawa tergelak-gelak, kemudian berseru kepada Ki Gwat-wan: “Bawa adikmu dan ikutlah aku. Dalam dua belas jam tanggung adikmu akan waras kembali!”

Ketua Thiat-hiat-bun itu segera ayunkan langkah. Niu-niu melirik kedua saudara Ki, tiba-tiba ia gunakan ilmu menyusup suara berkata kepada ayahnya: “Yah, kedua anak perempuan itu tak boleh dibiarkan!”

Liu Liang-ong kerut alis dan menjawab dengan ilmu menyusup suara juga: “Habis, kemauanmu?” Niu-niu terkesiap, lalu menggeram: “Bunuh saja. Aku benci kepada mereka!”

“Membunuh mereka berarti kau akan kehilangan budak laki itu selama-lamanya …!” ketua Thiat-hiat-bun merenung sejenak, katanya pula: “Ketahuilah Niu-niu. Ayah memang cinta dan sayang sekali padamu. Tetapi pun takkan membiarkan kau melakukan perbuatan yang melanggar undang-undang alam!”

Niu-niu si dara manja, terkejut sekali mendengar kata-kata sang ayah. Biasanya ayah itu tentu suka bergurau dan memanjakannya sekali. Tetapi kali ini sampai berkata dengan nada yang begitu serius dan bengis!

Niu-niu tak berani banyak bicara lagi. Iapun mengikuti saja di belakang ayahnya. Demikianlah keempat orang itu segera lenyap dalam kepekatan malam …

***

Entah berapa jauh sudah, hanya ketika cuaca di ufuk timur sudah mulai terang, Thian-leng pun kendorkan langkahnya. Ia menghela napas panjang. Ia bingung apa yang harus dilakukan lebih dulu.

Ni Jin-hiong tadi menyebut-nyebut tentang Siau-yau-kiam-kek (Pendekar Pedang Kelana) Pok Thian-beng, tetapi ketua Thiat-hiat-bun mengatakan bahwa sudah belasan tahun tak berjumpa dengan tokoh itu. Ah, bukankah Pok Thian-beng itu orang yang wanita tua Toan-jong-jin menyuruh ia mencari? Dari percakapan tadi, jelas bahwa ketua Thiat-hiat-bun bersahabat baik dengan jago pedang itu. Tetapi mengapa Ni Jin-hiong menanyakan orang itu?

Hubungan apakah yang menyelak di antara mereka?

Thian-leng benar-benar tak dapat menganalisa persoalan itu. Dan terutama, asal-usul dirinya sendiripun masih merupakan teka-teki besar …

Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Ya, ia memutuskan untuk menyelidiki istana Sin-bu-kiong di gunung Hun-san saja. Di sana ia akan mendapatkan Ma Hong-ing, wanita yang telah mengaku menjadi ibunya dan memelihara selama tujuh belas tahun. Dan Sin-bu Te-kun ialah Song-bu Kui-mo, orang yang dikehendaki Oh-se Gong-mo untuk dibunuh! Sekali tepuk dua lalat. Dapat menyelidiki asal-usulnya dan membunuh momok itu.

Memang Sin-bu-kiong penuh bahaya maut, tetapi jika tak berani masuk ke sarang harimau, mana ia akan memperoleh anak harimau?

Dengan gunakan ilmu berjalan cepat, pada hari kedua ia sudah tiba di kaki gunung Hun-san. Sebuah gunung yang tinggi penuh dengan tebing curam dan hutan lebat.

Ketika mencapai puncak, bertemulah ia dengan sebuah tempat alam yang strategis sekali. Di atas puncak terdapat sebuah lembah yang empat penjuru dikelilingi karang tinggi. Di tengah lembah terdapat beratus-ratus bangunan gedung. Diam-diam Thian-leng terpaksa memikir-mikir lagi. Istana Sin-bu-kiong yang seolah-olah seperti benteng itu tentu penuh dengan alat-alat rahasia dan penjagaan yang kuat.

Teringat akan rejeki yang diperolehnya selama ini, antara lain mendapat saluran lwekang dari Oh-se Gong-mo, pelajaran ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam dari wanita Toan-jong-jin dan minum pil mujijat Kong-yang-sin-tan dari Sip U-jong, serta ilmu pukulan Lui-hwe-ciang yang sudah hampir sempurna diyakinkan itu, timbullah keberaniannya.

Seketika iapun lari menuju ke gedung Sin-bu-kiong. Cepat sekali ia sudah tiba di kaki tembok istana. Tembok yang memagari istana, tak kurang dari tiga tombak tingginya, terbuat dari tumpukan batu-batu besar. Thian-leng gunakan ilmu Ciam-liong-seng-thian (naga muncul ke atas) untuk loncat ke atas tembok. Ia mencekal pedang dan siapkan pukulan Lui-hwe-ciang pada tangan kiri. Tetapi keadaan di sekeliling, sunyi-senyap saja. Hanya lampu yang menyinari menembus atap gedung-gedung itu.

Ah, apakah penghuni gedung sudah tidur semua? Demikian sambil berjalan di sepanjang tembok, pikirannya bertanja-tanya.

Sekonyong-konyong ia tersentak kaget. Dua sosok tubuh rebah melintang di tanah. Ketika dihampiri, ah, ternyata dua sosok mayat. Dua lelaki berpakaian biru, tangan masing-masing masih mencekal pedang yang menancap pada bahu mereka. Rupanya mereka berusaha hendak mencabut tetapi sudah keburu dihantam lagi oleh musuh.

Dari pemeriksaannya, Thian-leng tak mendapatkan suatu luka apapun di tubuh mereka. Tapi jelas bahwa mereka sudah mati beberapa waktu yang lalu. Thian-leng makin waspada. Ia teruskan langkahnya. Hai … kembali ia bertemu dua sosok mayat yang keadaannya persis seperti tadi. Berturut-turut Thian-leng mendapatkan belasan mayat begitu. Karena baik pakaian maupun cara kematiannya sama, Thian-leng duga mereka tentu rombongan penjaga Sin-bu- kiong. Dengan begitu jelas bahwa telah ada orang yang mendahului masuk ke Sin-bu-kiong. Tetapi siapakah gerangan orang itu? Jenggot perak Lu Liang-ong? Ah tak mungkin! Tetapi kalau bukan dia siapa lagi yang mempunyai kepandaian begitu sakti?

Tiba-tiba Thian-leng dikejutkan oleh munculnya sesosok bayangan orang berkelebat di antara jajaran gedung-gedung. Tanpa berayal lagi, Thian-leng segera loncat memburu. Begitu melayang turun ke tanah, ia dapatkan dirinya berada di sebuah taman kecil.

Taman penuh ditumbuhi pohon-pohon bunga yang harum. Bayangan itupun telah lenyap. Thian-leng terkejut atas kegesitan orang itu. Sejak tadi ia ikuti dengan lekat, tahu-tahu orang itu sudah menghilang di luar pengetahuannya!

Hai … tiba-tiba ia tersirap demi menangkap derap kaki ringan menghampiri. Ah, ternyata seorang bujang perempuan muncul dari pintu dengan membawa pelita tanduk kambing. Bujang itu melalui taman hendak menuju ke ruang besar. Cepat Thian-leng bersembunyi di balik sebatang pohon. Begitu bujang itu lewat, segera ia tutuk jalan darahnya.

“Jangan menjerit nanti kubuka jalan darahmu, mau?” bentak Thian-leng.

Bujang itu mengangguk dan Thian-leng pun segera membuka jalan darahnya. Setelah menghela napas bujang itu berkata terbata-bata: “Kau … kau …”

“Asal kau mau menjawab pertanyaanku, tentu takkan kuapa-apakan!” ancam Thian-leng.

“Silahkan!” sahut budak perempuan itu dengan tenang. Rupanya ia sudah mempunyai pengalaman dalam menghadapi bahaya.

“Apakah Te-it Ong-hui sudah pulang?” tanya Thian-leng. “Sudah, kemarin dulu!” “Dan Te-kun?”

“Te-kun tak pernah pergi, sudah tentu tetap berada di istana.” “Di mana dia sekarang?”

“Di Pek-bong-lo (pagoda seratus impian)!” “Apakah tinggal bersama dengan Ong-hui?”

Budak itu agak mengerut alis, ujarnya: “Sudah tiga hari ini Te-kun tak pernah berkunjung ke ruang Ing-jun-wan. Mungkin Ong-hui akan kesepian.”

“Bawa aku ke sana!” seru Thian-leng.

Semula budak itu terkejut, tetapi sesaat kemudian ia bertanya: “Siapa yang akan kau cari, Te-kun atau Te-it Ong- hui?”

“Te-it Ong-hui dulu!” kata Thian-leng. Ia hendak bicara empat mata dengan Ma Hong-ing untuk menjelaskan teka-teki yang selama ini menyelubungi asal-usul dirinya. Tetapi dia lupa bahwa saat itu ia berada di dalam sarang harimau.

Setiap saat dan setiap sudut merupakan bencana maut.

“Baik, mari kuantarkan!” tanpa bersangsi budak itupun menyahut. Berputar tubuh iapun balik menuju ke pintu tadi lagi. Thian-leng lekatkan ujung pedang di punggung budak itu dan mengancam: “Awas, kalau berani bohong, jiwamu tentu melayang!”

Setelah melalui belasan pintu bundar dan melintasi lorong yang berbelok-belok, tiba-tiba budak itu berhenti. Ternyata mereka tiba di sebuah tempat yang dikelilingi gedung-gedung tinggi berpagar tembok.

“Kemana kau hendak membawa aku?” tegur Thian-leng.

“Bukankah kau hendak ke gedung Ing-jun-wan menemui Te-it Ong-hui?”

Thian-leng malu dalam hati mengapa ia begitu menguatirkan seorang budak saja. Kemudian ia bertanya lebih lanjut: “Apakah masih jauh?”

“Tidak, tetapi kalau berjalan lurus, mungkin kepergok penjaga. Maka lebih baik mengitar saja, meskipun sedikit jauh.” Melihat budak itu ramah-tamah, hilanglah kecurigaan Thian-leng. Demikian mereka meneruskan perjalanan lagi.

Kira-kira dua puluhan tombak setelah membeluk pada sebuah gang kecil dan melintasi sebuah lorong sempit, tibalah mereka pada sebuah gedung yang pintunya tertutup. “Inilah gedung Ing-jun-wan,” kata budak itu.

Gedung itu luas sekali, karena temboknya tinggi maka tak dapat Thian-leng memperkirakan dalamnya. Halaman gedung ditumbuhi pohon cemara yang tinggi-tinggi sehingga menambah seram suasana.

“Benarkah ini Ing-jun-wan?” tegas Thian-leng.

Budak itu mengangguk: “Perlukah kumintakan pintu?”

“Tak usah ...” sahut Thian-leng, “ingat, jangan mengatakan kepada siapapun atau kau …” “Masakan aku sudah jemu hidup,” celetuk budak itu.

Kata-kata budak itu menghilangkan keraguan Thian-leng. Sekali loncat ia melesat ke dalam ruangan, hai … pada saat tubuhnya melayang, tiba-tiba seperti ada suatu tenaga kuat yang menariknya balik. Berbareng itu terdengar suara orang tertahan. Astaga … budak perempuan itu rubuh di tanah tak berkutik lagi!

Kejut Thian-leng bukan kepalang. Segera ia kembali untuk menghampiri. Tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh warna biru tegak berdiri di muka segerombol semak yang tumbuh pada tiga langkah jauhnya. Ketika mengetahui siapa orang itu, bukan main girang Thian-leng. Segera ia lari menghampiri dan berseru perlahan: “Toan-jong-jin locianpwe, kau di sini …!” 

Kiranya orang itu memang si wanita sakti Toan-jong-jin. Wanita itu cepat-cepat gunakan ilmu menyusup suara: “Di sini banyak jago-jago lihay, jangan membikin kaget mereka...”

“Locianpwe, mengapa kau juga …” baru Thian-leng gunakan ilmu menyusup suara bertanya, Toan-jong-jin pun sudah menghela napas: “Aku mempunyai beberapa persoalan yang masih gelap, maka hendak kuselidiki kemari … Kabarnya kau, ketika di lembah Sing-sim-kiap di gunung Thay-heng-san telah di …”

“Mungkin nasibku masih belum ditakdirkan mati,” sahut Thian-leng, “di dalam bahaya selalu mendapat penolong. Untuk mencari asal-usul diriku, maka akupun …”

“Kau benar membereskan hal itu?”

“Locianpwe, ternyata Te-it Ong-hui lah yang memelihara aku selama tujuh belas tahun. Maka aku sengaja kemari hendak …”

“Kau sudah ketemu dengannya?” “Sudah dua kali, tetapi ia …” “Bagaimana?”

“Bukan saja ia tak mau menerangkan asal-usulku, bahkan malah hendak membunuhku. Jika tiada orang sakti yang menolong, mungkin aku sudah binasa di tangannya!”

Toan-jong-jin kerutkan alis: “Betapapun buasnya seekor harimau takkan memakan anaknya. Tetapi mengapa ia …” Thian-leng tergetar hatinya: “Locianpwe, kau maksudkan?”

“Seharusnya ia adalah ibu kandungmu!” “Bagaimana locianpwe tahu?”

“Bukankah ia bernama Ma Hong-ing? Bukankah ayahmu bernama Nyo Sam-koan?” Toan-jong-jin balas bertanya.

Thian-leng mengangguk: “Benar! Ia memang telah mengakui hal itu, tetapi selama selama tahun ia mengaku bernama Liok Poh-bwe dan mengatakan ayahku bernama Kang Siang-liong …”

Toan-jong-jin tertawa getir: “Itu bohong, mungkin karena takut aku nanti mencari mereka!”

Kembali jantung Thian-leng berdenyut keras, serunya: “Locianpwe, sebenarnya apakah kau kenal dengan dia? Mengapa tahu …”

Toan-jong-jin menghela napas: “Nyo Sam-koan dan Ma Hong-ing itu pernah menjadi bujangku selama delapan tahun. Tujuh belas tahun yang lalu baru berpisah.”

Thian-leng mengeluh tertahan. Ia tak menyangka kalau Toan-jong-jin dan Ma Hong-ing mempunyai hubungan sedemikian erat. Tetapi dalam pada itu Thian-leng pun kecewa sekali. Kalau Ma Hong-ing itu benar ibu kandungnya mengapa sedikitpun tak punya kasih-sayang? Mengapa selalu berusaha hendak mencelakainya?

“Tidak, tak mungkin Ma Hong-ing itu ibuku!” akhirnya Thian-leng mengambil kesimpulan dalam hati.

“Locianpwe …” Thian-leng menunjuk ke arah gedung mewah, “‘ibuku’ berada dalam gedung Ing-jun-wan, aku hendak menyelidiki soal itu.” Toan-jong-jin kerutkan kening tertawa hambar: “Itu bukan gedung Ing-jun-wan. Kalau kau masuk, bukan saja kau takkan menjumpai ibumu selama-lamanya, pun kau bakal menjadi setan tanpa kepala …”

Thian-leng seperti disengat kalajengking kejutnya. Baru ia hendak minta keterangan tiba-tiba wajah Toan-jong-jin berobah gelap dan menarik ujung baju Thian-leng untuk diajak bersembunyi di balik gerombolan pohon.

Thian-leng cepat mengikuti tindakan wanita sakti itu. Tetapi sampai beberapa saat, keadaan di sekelilingnya tetap sunyi saja. Karena heran, iapun segera bertanya dengan ilmu menyusup suara: “Tampaknya tidak ada apa-apa, mengapa locianpwe …” “Berapa jauh jarak pendengaranmu?”

“Seluas 50 tombak jauhnya, aku dapat mendengar daun yang rontok ke tanah!” sahut Thian-leng dengan bangga. “Kalau kukerahkan perhatian, dalam lingkaran 10 li jauhnya aku tak kena dikelabui oleh suara apapun juga!”

Hampir tak percaya Thian-leng akan keterangan itu, namun karena tampaknya Toan-jong-jin serius, iapun tak berani menyangsikan hal itu.

“Apa yang locianpwe dengar saat ini?” tanyanya. “Tak lama lagi tentu ada orang datang!”

Than-leng tak mau banyak bicara lagi. Segera ia pusatkan perhatiannya menunggu apa yang akan terjadi …

Sin-bu Te-kun.

Tak lama kemudian, memang terdengarlah derap kaki orang. Pada lain saat muncul serombongan orang. Dua orang yang berjalan di sebelah muka, rupanya menjadi pembuka jalan. Mereka membolang-balingkan pedang ke kanan-kiri dengan sikap yang mengerikan.

Kemudian di belakangnya tampak seorang berjubah merah darah. Tubuhnya pendek sekali, kurus dan kecil. Memelihara segumpal jenggot seperti jenggot kambing. Gerakannya bersemangat, matanya bersinar tajam. Mempunyai perbawa yang memaksa orang menaruh rasa hormat!

Di belakang mengiring Ni Jin-hiong, kepala penjaga istana Sin-bu-kiong yang bertubuh tinggi besar, ia mengepalai serombongan lelaki tua yang mengenakan jubah warna ungu.

Thian-leng menyingkap sebatang ranting kecil. Ketika matanya melihat rombongan orang itu, segera ia gunakan ilmu menyusup suara berkata kepada Toan-jong-jin: “Orang itu tentu …”

“Song-bun Kui-mo, juga Sin-bu Te-kun yang belakangan ini memalsu sebagai Hun-tiong Sin-mo untuk membunuhi jiwa manusia dan meninggalkan tanda Panji Tengkorak Darah!”

Saat itu rombongan Sin-bu Te-kun hanya terpisah satu tombak dari persembunyian Thian-leng.

Darah Thian-leng mendidih. Digenggamnya pedang pemberian Toan-jong-jin erat-erat. Urat syarafnya tegang sekali. Sin-bu Te-kun alias Song-bun Kui-mo ialah musuh dari Oh-se Gong-mo. Sekalipun bukan guru, tetapi Thian-leng berhutang budi besar sekali kepada Oh-se Gong-mo. Saat itu Song-bun Kui-mo berada di hadapannya, apakah hendak ia biarkan saja kesempatan sebagus itu?

Di samping membalaskan sakit hati Oh-se Gong-mo, juga untuk membalas budi kebaikan Hun-tiong Sin-mo. Karena Song-bun Kui-mo telah memfitnah nama baik Hun-tiong Sin-mo.

Dan … dan juga untuk kepentingannya sendiri. Ma Hong-ing menjadi Ong-hui (isteri) dari Song-bun Kui-mo. Jika keterangan Toan-jong-jin tadi benar, Ma Hong-ing itu adalah ibu kandungnya. Relakah hatinya membiarkan sang ibu diperisteri seorang manusia serigala …?

Pikiran Thian-leng melayang lebih jauh … Ya, berobahnya watak ibunya sehingga sampai tega hendak membunuhnya serta perbuatannya berlaku serong dengan Ni Jin-hiong, mungkin karena akibat dijadikan isteri oleh Sin-bu Te-kun. Kalau tidak, mungkin ibunya itu tentu masih hidup bersamanya di lembah Pek-hun-koh yang tenteram.

Mendadak Thian-leng menganggap Song-bun Kui-mo itu sebagai musuh besarnya! Dan cepat sekali Thian-leng mengambil putusan …

Lelaki pendek kurus yang memelihara jenggot kambing itu memang Song-bun Kui-mo yang kini berganti gelar sebagai Sin-bu Te-kun atau raja dari istana Sin-bu-kiong. Tiba-tiba Sin-bu Te-kun berhenti dan memandang ke sekeliling. Jaraknya dengan gerumbul pohon tempat persembunyian Thian-leng hanya 2-3 meter saja. Mayat budak perempuan yang terkapar di muka pintupun hanya dua tombak jaraknya. Sudah tentu Sin-bu Te-kun dan rombongannya tahu. Tetapi di luar dugaan mereka seperti acuh tak acuh.

Tetapi selagi Thian-leng terbenam dalam keheranan, sekonyong-konyong Sin-bu Te-kun memberi isyarat kepada rombongannya: “Singkirkan budak itu!”

Keheranan Thian-leng pecah menjadi rasa kaget. Kiranya Sin-bu Te-kun telah mengetahui mayat si budak. Tetapi mengapa dia bersikap diam saja?

Thian-leng palingkan muka ke arah Toan-jong-jin. Tampak wanita sakti itu tenang sekali. 

Perintah Sin-bu Te-kun segera dilakukan. Dua lelaki berjubah biru menyeret mayat si budak. Sesaat kemudian Sin-bu Te-kun mengusap-usap jenggot kambingnya dengan kelima jarinya yang kurus kering macam cakar. Sekonyong- konyong ia menengadah ke langit dan tertawa nyaring. Orangnya pendek kurus tetapi suara tertawanya ternyata seperti singa meraung. Jantung Thian-leng berdetak keras, darahnya bergolak.

Buru-buru ia kerahkan semangat untuk menenangkan darahnya. Berhenti tertawa, tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru: “Ni Cong-hou-hwat!” Buru-buru Ni Jin-hiong menyahut dengan hormat.

“Sin-bu-kiong telah mempersiapkan diri untuk menguasai dunia persilatan. Tetapi belum lagi pahlawan-pahlawan kita muncul menjalankan tugas, istana kita telah kebobolan musuh. Jika hal ini sampai tersiar …”

Mendengar ucapan itu pucatlah seketika wajah Ni Jin-hiong, ujarnya dengan gemetar: “Hamba telah alpa, mohon Te- kun memberi hukuman.”

“Siapa orangnya itu?” seru Sin-bu Te-kun.

“Hamba telah kerahkan penjagaan kuat, tentu dapat …”

“Apakah sudah kau ketahui berapa jumlahnya dan dari golongan apa mereka itu?” bentak Sin-bu Te-kun dengan gusar.

“Ini … ini hamba segera dapat mengetahui. Segera mereka tentu dapat ditangkap!” Ni Jin-hiong makin gugup. “Seorang saja dari mereka sampai lolos, awas batang kepalamu!” Sin-bu Te-kun berseru bengis.

“Baik, baik …” Ni Jin-hiong terbata-bata.

“Sebelum tengah malam, datang ke Pek-bong-loh terima perintah lagi!” seru Sin-bu Te-kun seraya berputar diri hendak berlalu.

Sekonyong-konyong sesosok tubuh meloncat dari balik gerumbul pohon dan terus menikamnya. Itulah Than-leng yang sudah tak dapat mengendalikan diri lagi. Bukan saja Sin-bu Te-kun, pun Toan-jong-jin juga terkejut melihat tindakan pemuda itu.

Thian-leng telah mengerahkan seluruh tenaganya menyerang. Pukulan kiri melancarkan ilmu Lui-hwe-ciang dan tangan kanan gunakan jurus Liu-hun-ci-thian (awan menutup langit) dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam.

Sin-bu Te-kun terperanjat dan Ni Jin-hiong sekalipun tahu juga, namun karena menurut peraturan Sin-bu Te-kun tak beranilah ia sembarangan bergerak. Maka terpaksa ia diam saja.

Sin-bu Te-kun kebutkan kedua lengan jubahnya, tersebar asap berhamburan. Dalam batin Thian-leng mengejek. Masakan momok Sin-bu-kiong itu mampu menerima sebuah pukulan dan serangan pedang yang dilambari seluruh tenaganya. Ia hendak menjadikan serangan itu sebagai suatu duel mati atau hidup.

Dar … terdengar suara menggelegar perlahan. Thian-leng sepert membentur segumpal tembok keras. Matanya berkunang-kunang, pedang hampir terlepas dan tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah. Untung lwekang-nya cukup kuat, serta lwekang yang dilontarkan Sin-bu Te-kun itu lwekang lunak, sehingga pemuda itu tak sampai menderita luka dalam. Namun sekalipun demikian, cukuplah membuatnya terkejut sekali. Ya, betapa tidak, Sin-bu Te- kun tidak menangkis, melainkan hanya mengebut dengan lengan jubah dan toh cukup untuk membuatnya pusing tujuh keliling …

Ketika memandang ke muka tampak Sin-bu Te-kun tegak seperti karang, wajahnya beringas murka! Setelah memulangkan napas, Thian-leng pun segera menyerang lagi.

“Mohon Te-kun memberi perintah kepada hamba untuk menghajarnya …” bisik Ni Jin-hiong meminta izin. Ia kuatir pemuda itu akan membuka rahasia hubungan gelapnya dengan Ma Hong-ing. Lebih baik dilenyapkan dulu.

“Hendak kubunuh sendiri, kau mundur saja!” dengus Sin-bu Te-kun. Mendengar itu pucatlah wajah Ni Jin-hiong. Keringat dingin membasahi keningnya, namun tak berani membantah. Ia memberi tanda kepada rombongan anak buahnya untuk mundur.

“Kau membawa berapa konco?” tegur Sin-bu Te-kun kepada Thian-leng. “Hanya tuanmu ini seorang!” Thian-leng menyahut nyaring.

Sin-bu Te-kun gusar, segera ia gerakkan jari kanannya untuk menutuk. Ilmu kepandaian yang dibuat andalan Thian- leng ialah pukulan Lui-hwe-sin-ciang dan ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam. Tetapi karena serangan pertama tadi gagal, hampir saja nyalinya menurun. Cepat ia siapkan pedang di tangan kiri untuk menyambut. Melihat itu Sin-bu Te-kun turunkan pula tangannya.

“Siapa namamu?” serunya. “Bu-beng-jin!”

Terkesiap Sin-bu Te-kun mendengar jawaban itu, tetapi pada lain kilas ia tertawa: “Oh, kiranya orang yang tak bernama … Mengapa kau berani masuk ke istana ini?”

“Song-bun Kui-mo, malam ini tuanmu akan mengambil jiwamu!” bentak Thian-leng.

Wut, kemarahan Sin-bu Te-kun telah ditumpahkan dalam tamparannya. Thian-leng segera menyambut serangan itu dengan pukulan dan tebasan.

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun merobah pukulannya, diarahkan ke sebelah kanan. Tampaknya lemah dan tak mengeluarkan suara, tetapi tiba-tiba terdengarlah suara gemuruh. Sebuah paviliun hancur, atapnya berhamburan ke mana-mana. Itulah akibat dari pukulan Sin-bu Te-kun! Di samping itu, akibat lwekang pertahanan diri dari Sin-bu Te-kun, maka kembali Thian-leng tersurut mundur sampai tujuh delapan langkah … Bahkan kali ini, lebih hebat. Bukan saja mata Thian-leng berkunang-kunang, pun tulang-belulangnya terasa sakit, tenaganya serasa lunglai. Buru-buru ia kerahkan tenaga dalam. Lebih baik bunuh diri saja daripada mati di tangan momok jahat itu. Dalam pada itu diam-diam ia heran mengapa Toan-jong-jin tak muncul? Apakah wanita itu marah karena ia bertindak tanpa meminta persetujuan wanita itu? Apakah wanita itu hendak biarkan ia mati di tangan Song-bun Kui-mo? Tetapi mengapa Sin-bu Te-kun pun tak jadi menghantamnya?

Keheranan itu membuatnya memandang kepada Sin-bu Te-kun. Tampaknya momok itu dingin-dingin saja.

“Tadi jika sungguh-sungguh kuhantam, kau tentu sudah jadi gumpalan darah!” beberapa saat kemudian kedengaran Sin-bu Te-kun berseru.

“Tuanmu sudah tak menghiraukan mati-hidup lagi. Hanya aku kecewa kalau mati di tanganmu!” bentak Thian-leng. Wajah Sin-bu Te-kun berseri dan tersenyum, nadanyapun lebih ramah. Serunya: “Kau tak takut mati?”

“Tak ada kata-kata ‘takut mati’ dalam hati tuanmu!”

Sin-bu Te-kun tertawa: “Di dunia tak ada orang yang tak takut mati. Sekalipun mulut mengatakan tak takut mati, tetapi dalam hati tentu takut! Mungkin kau hendak berlagak sebagai ksatria gagah …”

“Setan tua, itu anggapanmu sendiri. Seorang lelaki, mati boleh hiduppun baik. Tidak seperti manusia tak tahu malu macam kau …”

Amarah Sin-bu Te-kun tak terkendalikan lagi. Kelima jarinya segera ditamparkan ke muka Thian-leng. Jaraknya tak begitu jauh dan Thian-leng pun segera menyabet dengan pedang. “Plak “… entah bagaimana, tahu-tahu tangan Sin- bu Te-kun sudah lebih cepat menampar muka Thian-leng. Pipi pemuda itu merah membara, mulutnya mengucur darah.

Thian-leng kaget-kaget marah. Tubuhnya menggigil gemetar dan wajahnya muram membesi. Dengan sisa tenaganya, ia hendak menimpukkan pedang itu kepada lawan.

“Tahan! Tamparan tadi, hanya sebagai hukuman kecil atas penghinaanmu …” Sin-bu Te-kun tersenyum, “sekarang marilah bicara perlahan-lahan.

“Tak sudi aku berunding denganmu!” 

Masih tetap tersenyum Sin-bu Te-kun bertanya: “Kau mempunyai dendam apa sehingga hendak membunuh aku?” “Hm, apakah kau tak mengakui bahwa kau ialah salah seorang dari Su-mo (4 momok)?” tanya Thian-leng.

“Aku tak pernah menyangkal dan semua orang persilatan memang sudah mengetahui!” “Bagaimana hubunganmu dengan Oh-se Gong-mo?”

Sin-bu Te-kun kerutkan alis, namun dengan nada masih ramah ia menyahut: “Bersama-sama menjadi Su-mo dan bersahabat lama, hanya itu …” – ia kerlingkan mata, ujarnya pula: “Perlu apa kau tanyakan hal itu?”

“Agar kau tahu alasanku hendak membunuhmu terpaksa harus menyebut hal itu. Tentunya hal itu mencemarkan kau dan kau tentu menyesal!”

“Kurang ajar, aku tak pernah menyesali apa yang kuperbuat, masakan kau …”

“Kau telah merebut kitab Im-hu-po-kip milik Oh-se Gong-mo Locianpwe secara licik! Beranikah kau menerangkan secara blak-blakan …”

“Apakah kau mempunyai hubungan dengan Oh-se Gong-mo!” tukas Sin-bu Te-kun dengan wajah berobah muram.

“Tidak ada hubungan apa-apa!” sahut Thian-leng, “tetapi di kala Oh-se Gong-mo hendak menutup mata aku, telah mendapat perintahnya supaya membunuh musuhnya dan merebut kembali kitab pusaka itu!”

“Rupanya kau hanya mendengar keterangan sepihak dari dia saja!” – sejenak matanya berkeliaran, serunya, “karena memandang usiamu masih muda sehingga kena dipergunakan orang, maka aku tak mau membunuhmu. Ketahuilah, bahwa aku hendak membangun kesejahteraan bagi umat manusia, sudah tentu aku tak mau melakukan hal-hal yang hina. Jika kau masih berani menghina namaku, awas, akan kubuat mayatmu tiada tempat berkubur lagi!”

Thian-leng tak jeri dengan ancaman itu, dengusnya: “Selain ini, tuanmu ini masih mempunyi lain alasan lagi untuk membunuhmu!”

“Katakanlah!” Sin-bu Te-kun terkesiap heran.

“Dewasa ini di unia persilatan telah terjadi pembunuhan, dan di mana-mana muncullah Panji Tengkorak Darah. Tetapi kesemuanya itu palsu belaka …” Thian-leng berhenti untuk memperhatikan wajah Sin-bu Te-kun, kemudian katanya pula: “Panji Tengkorak Darah itu sumbernya ialah dari istana Sin-bu-kiong ini. Kau bermaksud hendak membangkitkan kemarahan dunia persilatan terhadap diri Hun-tiong Sin-mo agar kau dapat mencapai tujuanmu menguasai dunia persilatan. Karena satu-satunya orang yang kau takuti ialah Hun-tiong Sin-mo. Jika dia lenyap, kau tentu mudah menguasai dunia persilatan dan malang-melintang di dunia. Tetapi kau salah …”

Semula wajah Sin-bu Te-kun marah tetapi akhirnya tenang kembali, malah lalu berseri-seri. “Bagaimana salahnya,” serunya.

Thian-leng tertawa nyaring: “Andaikata Hun-tiong Sin-mo mati, tetapi masih ada lagi Thiat-hiat-bun …!

Sebenarnya Thian-leng belum kenal jelas pada Jenggot perak Lu Liang-ong, tetapi karena menyaksikan kepandaian dan perbawa jago berjenggot perak itu sedemikian hebatnya, maka ia mendapat kesimpulan bahwa partai Thiat-hiat- bun tentulah sebuah partai yang paling lihay sendiri.

Mendengar itu teganglah seketika kerut muka Sin-bu Te-kun. Mulutnya tergagap-gagap: “Thiat-hiat-bun … Thiat … hiat … bun …”

Thian-leng kembali tertawa gelak-gelak: “Dan andaikata Thiat-hiat-bun pun dapat kau lenyapkan, tetap masih ada sebuah benda yang akan menghancurkan kau. Lambat atau cepat, kelak kau pasti akan berlutut di hadapan benda itu

…”

“Apa itu?” bentak Sin-bu Te-kun.

“Bu-lim-ceng-gi!” seru Thian-leng tak mau kalah nyaring. Bu-lim-ceng-gi artinya Demi kebenaran dunia persilatan. “Bu … lim …ceng … gi …” ulang Sin-bu Te-kun tersekat-sekat. Tiba-tiba ia tertawa sekeras-kerasnya. 

Thian-leng tunggu sampai orang berhenti tertawa, baru berkata: “Sejak dahulu sampai sekarang, kecongkakan kesewenang-wenangan, kelicikan dan kejahatan, hanya dapat berjalan sementara waktu. Karena pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang!”

*** Pertaruhan.

“Budak, bukan saja kau bertulang dan berotak bagus, pun kau pandai berdebat, sungguh hebat!” Di luar dugaan Sin- bu Te-kun malah memberi pujian. Hal itu mengejutkan Thian-leng yang bermaksud hendak membikin marah orang. Diam-diam ia maki momok itu sebagai manusia yang licin dan bermuka tebal.

Terlintas dalam benak Thian-leng tentang kedudukannya pada saat itu. Ia berada dalam keadaan serba sukar. Tidak dapat mengalahkan lawan, tetapipun tak mampu lolos. Hanya ada dua pilihan baginya: Menyerah atau bunuh dri!

Diam-diam ia mempersiapkan diri, daripada malu jatuh di tangan musuh, lebih baik ia bunuh diri saja.

Perobahan air muka Thian-leng yang seolah-olah menahan gelombang kemarahan itu, tak luput dari perhatian Sin-bu Te-kun juga. Tiba-tiba ia berputar tubuh dan memandang Ni Jin-hiong dan anak buahnya.

Ni Jin-hiong dan sekalian anak buahnya pucat seketika. Mereka cukup kenal akan perangai tuannya itu. Betapa keganasan Sin-bu Te-kun telah diketahuinya. Maka heranlah mereka mengapa Te-kun begitu sabar terhadap pemuda yang berani memaki-makinya. Namun Ni Jin-hiong tak berani mengatakan apa-apa.

“Kalian keluar dulu dari halaman ini, sebelum mendapat perintah jangan masuk!” tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru.

Tanpa banyak bicara, Ni Jin-hiong pun segera mengajak anak buahnya keluar. Juga Thian-leng sendiripun tak kurang herannya. Namun karena sudah mantap, iapun tak acuh apa yang akan dilakukan oleh si momok. Ia besarkan nyalinya dengan tertawa dingin dan sikap congkak.

Tiba-tiba Sin-bu Te-kun menghampiri. Dengan seri wajah yang ramah, ia berkata: “Lwekang-mu kuat dan ilmu pedangmu luar biasa. Menilik usiamu yang masih muda, tak mungkin hal itu mampu kau yakinkan kecuali kau memperoleh suatu rejeki yang luar biasa!”

“Mungkin!” sahut Thian-leng tawar.

“Apakah kau diterima murid oleh Oh-se Gong-mo?” Sin-bu Te-kun tersenyum. “Tidak!”

Sin-bu Te-kun tertegun, ujarnya pula: “Oh-se Gong-mo pernah meyakinkan ilmu pukulan Lui-hwe-ciang di goa Toan- hun-tong. Dan jelas ilmu pukulanmu tadi …”

“Tuanmu tak perlu bicara banyak dengan kau!” bentak Thian-leng.

Kembali Sin-bu Te-kun terkesiap. Namun secepat itu ia menghapus mukanya dengan tertawa: “Sejak mengangkat nama di dunia, belum pernah ada orang yang berani menghina diriku. Sejak berpuluh tahun baru kali ini yang pertama kalinya …”

Ditatapnya wajah Thian-leng dengan tajam, lalu katanya pula: “Tetapi kupuji juga keberanianmu itu! Meskipun kau telah memperoleh rejeki luar biasa dan kepandaian yang kau miliki itu dapat digolongkan sebagai jago kelas satu, tetapi bagiku hal itu tetap tak berarti apa-apa!”

“Telah kukatakan, aku tak menghiraukan mati atau hidup. Kalah bertempur dan mati, sudah selayaknya. Momok tua, silahkan kau turun tangan!” Thian-leng menantang.

Sin-bu Te-kun geleng-gelengkan kepala: “Tidak, itu tidak adil!”

Thian-leng heran, namun ia tahu bahwa manusia licik yang ganas itu tentu menyembunyikan apa-apa dalam keramahannya. Segera ia berseru: “Bagaimana maksudmu?”

Sin-bu Te-kun tersenyum: “Baik kita mengadakan taruhan!” “Taruhan bagaimana?” 

“Akan kubuat sebuah lingkaran di tanah. Aku berada dalam lingkaran itu untuk menerima 100 jurus seranganmu!” “Cara baru yang menarik!”

“Aku hanya bertahan, tak balas menyerang. Silahkan kau gunakan tinju, pedang, jari atau apa saja. Jangankan kau dapat melukai aku, cukup asal kau mampu membuat aku keluar dari lingkaran itu, kau menang!”

Mau tak mau Thian-leng leletkan lidah. Ia anggap hal itu tak mungkin. Pada lain saat, marahlah ia karena dirinya diremehkan sebagai anak kecil.

“Setan tua, katakan terus terang saja ilmu sulap apa yang hendak kau pertunjukkan di hadapanku!” bentaknya. “Akan kutundukkan hati dan mulutmu!” bentak Sin-bu Te-kun marah, “berani tidak kau?”

Diam-diam Thian-leng menimbang. Sekalipun pertanyaan itu merendahkan dirinya, namun terhadap momok yang begitu jahat, perlu apa ia harus memegang peraturan persilatan lagi? Apalagi momok itu sendiri yang mengatakan.

“Karena kau yang menghendaki sendiri, baik kuterima!” sahutnya. “Kita adakan perjanjian dulu,” Sin-bu Te-kun tersenyum.  “Tuanmu tak punya perjanjian apa-apa. Terserah padamu saja!”

Kata Sin-bu Te-kun: “Kalau dalam 100 jurus kau dapat melukai atau mendesak aku keluar dari lingkaran, aku mengaku kalah dan segera membubarkan istana Sin-bu-kiong. Aku sendiripun akan bunuh diri di hadapanmu. Puaskah kau?”

“Jangan-jangan kau nanti ingkar!” seru Thian-leng yang tak percaya akan ucapan itu.

“Tetapi kalau kau yang kalah, kau harus menyerahkan mati-hidupmu kepadaku. Entah apa yang akan kujatuhkan kepadamu, kau tak boleh membantah!” kata Sin-bu Te-kun lebih lanjut.

“Baik, kuterima!” serentak Thian-leng menyambut.

Sin-bu Te-kun tertawa meloroh: “Tetapi akupun seperti kau tadi, tak dapat mempercayai keteranganmu!” Thian-leng terkesiap: “Apa syarat kepercayaanmu itu?”

Sin-bu Te-kun bergontaian melangkah, sejenak kemudian berseru seenaknya: “Hanya dengan sebuah cara …” “Cara bagaimana?”

“Bersumpah pada Thian!” “Bersumpah pada Thian …?”

Thian-leng menatap tajam pada Sin-bu Te-kun. Ia bingung dibuatnya. Sebenarnya ia tak dapat percaya penuh pada momok itu, namun karena melihat kesungguhannya dan bahkan menurut sumpah, kecurigaannyapun mulai goyah. Ia coba merenungkan apa yang tersirat dalam maksud tuntutan itu. Kemudian tanpa ragu-ragu segera berseru: “Tuanmu menerima tuntutanmu itu!”

Sin-bu Te-kun menyambut dengan gelak tertawa yang gembira. Tiba-tiba ia berteriak memanggil anak buahnya, Ni Jin-hiong muncul dengan dua lelaki baju biru: “Te-kun hendak memberi perintah apa?”

“Siapkan meja sembahyang!” seru Te-kun.

Jin-hiong melongo, tetapi terpaksa ia lakukan perintah juga. Tak lama meja sembahyangpun disiapkan. Setelah dupa disulut maka suasanapun berobah seram. Ni Jin-hiong pun disuruh keluar lagi, Sin-bu Te-kun segera mendahului berlutut di muka meja dan mengucapkan sumpah berat. Thian-leng heran melihatnya. Tiba-tiba Sin-bu Te-kun bangkit dan suruh Thian-leng juga mengucapkan sumpah. Terpaksa Thian-leng menurut juga.

Sesaat kemudian Sin-bu Te-kun menggurat sebuah lingkaran kecil di tanah, lalu melangkah masuk ke dalamnya, serunya: “Pertandingan boleh dimulai sekarang!”

Thian-leng menyeringai. “Kau sendiri yang mengusulkan pertandingan ini, jangan salahkan tuanmu berhati jahat!” “Ha, ha,” Sin-bu Te-kun tertawa menghina, “silahkan tumplak seluruh kepandaianmu, jangan sungkan-sungkan!”

“Baik, hati-hatilah!” seru Than-leng seraya menusuk lurus ke muka. Itulah jurus pertama dari ilmu pedang Toh-beng- sam-kiam yang disebut Hong-jin-hun-yong. Tetapi tusukan itu digerakkan perlahan dan menggunakan 4 bagian tenaganya saja, karena ia hendak menjajaki tenaga lawannya.

Sin-bu Te-kun tegak dengan tenangnya. Begitu ujung pedang hampir menyentuh dada, tiba-tiba ia kempiskan dadanya. Ujung pedang tak dapat mengenai, tetapi tampaknya Sin-bu Te-kun seolah-olah seperti tak bergerak apa- apa. Momok itu tertawa sinis, serunya: “Satu!”

Thian-leng terbeliak. Cara penghindaran Sin-bu Te-kun itu sungguh enak sekali, walaupun sebenarnya amat berbahaya sekali. Karena ujung pedang hanya terpisah selembar rambut dari dada.

Tetapi Thian-leng tak gentar. Serangannya itu hanya percobaan untuk menjajaki tenaga lawan. Apalagi baru satu jurus, masih ada 99 jurus. Ia yakin tentu dapat sekurang-kurangnya melukai lawan.

Nok-hay-keng-liong atau Laut marah mengejutkan naga, jurus kedua dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam secepat kilat segera dilancarkan. Seketika tampak segulung sinar pedang seperti ombak besar, mendampar ke tubuh Sin-bu Te-kun. Dan tenaga yang digunakanpun ditambah menjadi sembilan bagian, sehingga menimbulkan deru angin yang dahsyat …

“Dua!” tiba-tiba terdengar Sin-bu Te-kun berseru hambar.

Kejut Thian-leng bukan kepalang. Segera ia tarik pulang pedangnya. Tak tahu ia bagaimana cara Sin-bu Te-kun menghindar tadi. Tetapi yang jelas momok itu masih tegak berdiri dengan tenang.

Thian-leng menggembor keras dan menyerang dengan jurus ketiga, Liu-hun-ci-thian atau Awan berarak menutup langit. Jurus ini merupakan yang teristimewa dari ilmu pedang Toh-beng-sam-kiam. Seluas tiga tombak keliling, telah diliputi oleh gulungan sinar pedang. Sin-bu Te-kun pun seolah-olah tertelan dalam gulungan sinar pedang. Tetapi heran … gulungan sinar pedang yang tak dapat tertembus air hujan itu, sedikitpun tak dapat menyentuh secarik pakaian Sin-bu Te-kun!

“Tiga!” terdengar Sin-bu Te-kun berseru tawar.

Thian-leng pucat seketika. Mimpipun tidak ia, bahwa ternyata Sin-bu Te-kun itu seorang sakti yang luar biasa. Kedua kakinya tetap terpaku namun mampu menghindari gelombang sinar pedang yang sedemikian gencarnya.

Di lain pihak, Sin-bu Te-kun saat itu tampak berseri-seri memandang kepadanya. Sekonyong-konyong Thian-leng meraung. Laksana seekor harimau kelaparan, ia menerjang lawan.

Kali ini ia menyerang dengan kedua tangannya. Tangan kiri menghantam dengan pukulan Lui-hwe-sin-ciang dan tangan kanan menyerang dengan ilmu pedang Toh-beng-sam-kian. Tinju dan pedang serempak digunakan bersama. Walaupun tubuh Sin-bu Te-kun itu terbuat dari daging baja dan tulang besi, namun tak mungkin ia dapat terhindar dari luka-luka.

“Empat!” tiba-tiba Sin-bu Te-kun berseru pula, ia tampak tegak di dalam lingkaran. Sedikitpun kakinya tak berkisar …

Dapatkah Thian-leng memenangkan pertempuran ini? (Bersambung jilid 5)
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 04"

Post a Comment

close