Panji Sakti Bab 32 : Kemurkaan Alam

Mode Malam
32. Kemurkaan Alam

Sementara keempat tokoh yang masih bertempur dengan sengitnya di lapangan itu, tetap belum ada kesudahannya.

Hanya saja perasaan mereka saling berlainan. Kalau Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu girang akan hasil dari kawannya yang lain, adalah sebaliknya Lam-hay Ji-lo menjadi gelisah.

Anak muridnya yang paling diandalkan yakni keempat thian-ong itu, sudah keok. Beberapa anak buah pihak lawan sudah menyerbu ke dalam markas. Kedua lawan yang tangguh ~Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu~ tetap belum terkalahkan, bahkan kini Bo-ang Sancu dan ketujuh Cincu sudah turut mengepung di pinggir gelanggang. Dan yang lebih membingungkan mengapa dari dalam markas tiada tampak sama sekali barang seorang anak buahnya yang

keluar. Adakah mereka itu sudah terbasmi semua oleh musuh?

Lam-hay Ji-lo sudah berpuluh tahun menikmati kemasyhuran nama sebagai tokoh yang dimalui dalam dunia persilatan. Memikirkan bahwa jerih payah selama berpuluh tahun untuk membangun partai Lam-hay-pay, ternyata dalam waktu beberapa jam saja sudah dimusnakan orang, kemarahannya meluap-luap. Tak mau mereka pikirkan keadaan markas dan anak buahnya lagi. Pikirannya kini dipusatkan untuk menghadapi kedua lawannya yang tangguh itu. Karena kenekadannya itu, jalannya pertempuranpun berobah. Lam-hay Ji-lo yang tadinya sudah keteter, kini dapat mengimbangi lagi permainan lawan.

Menuruti wataknya yang sombong, sebenarnya Bo-ang tak sudi disuruh menjadi penonton saja. Tapi dia mempunyai rencana sendiri. Kalau dua ekor harimau saling berkelahi, tentu ada salah satu yang bonyok atau mungkin dua-duanya binasa. Bo-ang menghendaki keempat tokoh lihay itu sama- sama gugur semua, dengan begitu akan hilanglah rintangan yang menghalangi menuju ke jalan menjadi pemimpin dunia persilatan.

Bo-ang mengawasi dengan penuh perhatian akan jalannya pertempuran. Bagi orang persilatan, menyaksikan suatu pertempuran yang bermutu tinggi itu, amat bermanfaat sekali. Bo-ang bernafsu besar untuk menelan semua tipu pukulan lihay yang dipertunjukkan oleh keempat tokoh itu. Pun ketujuh Cuncia itu, juga demikian. Hanya saja saking indah dan luar biasanya gerak pukulan yang dimainkan oleh keempat tokoh itu, jadi mereka hanya dapat memandangnya dengan melongo keheran-heranan!

Letusan ketiga dari Ngo-ci-san yang menggoncang seluruh pulau itu, telah membuat keempat tokoh dan ke delapan penontonnya, sama terkejut dan berobah wajahnya.

Sampaipun kedua Ji-lo yang tinggal berpuluh tahun dan kenal betul akan sifat gunung di pulau situ, menjadi heran sekali melihat hebatnya letusan kali ini. Gunung laksana pecah, bumi goncang dan lapangan yang terbuat dari marmer itu sama amblong disana sini, sukar dibuat jalan lagi.

Tanpa diminta lagi, Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu sudah sama loncat keluar dari gelanggang. Orang-orang yang berada di situ, saling berpandangan satu sama lain tanpa mengucap sepatah kata jua ………….

Gunung Ngo-ci-san yang menjulang megah, kini tampak seperti sebuah perahu yang terapung diatas air. Sembarang waktu, gunung itu dapat ambruk.

„Bum, bum,” kembali terdengar serentetan letusan dan tiba-tiba sebuah tanah di dekat markas Lam-hay-bun menjadi amblong sampai seluas beberapa tombak. Gedung yang indah dan pagar dinding yang kokoh, sama ambruk menjadi tanah datar. 

Tanah melekah itu asalnya dari puncak yang di tengah, tapi terus menjalar turun sampai melintasi gelanggang pertempuran tadi, lalu menuju ke bawah. Tanah bengkah itu mengganas setiap rumah dan pohon yang dijumpainya. Pulau Lam-hay-to seolah-olah mengalami bombardemen yang hebat!

Swat-san Lojin menjadi gentar juga melihat Ngo-ci-san mengamuk itu. Cepat dia ajak Thian-lam-ping-siu tinggalkan gelanggang itu. Setua itu usianya, baru sekali itu dia saksikan bencana alam yang dahsyat. Pakaian sampaipun jenggotnya yang serba putih, saat itu menjadi warna kelabu bermandikan hujan abu.

„Tu lihat orang yang hendak mengangkangi dunia, ternyata ketakutan setengah mati melihat alam mengumbar kemarahan!" seru Thian-lam menunjuk kearah Bo-ang dan ketujuh Cincu yang lari terbirit-birit.

Melihat keadaan ketujuh Cincu yang tubuh dan rambutnya terbungkus abu itu, Swat-san Lojin menjadi geli juga, ujarnya:

„Kini aku sendiri pun baru melek dan insyaf akan kesombongannya ingin menang sendiri itu. Orang mengatakan kau buta, tapi ternyata hatimu lebih awas!"

Saat itu Bo-ang pun sudah lari menyusul dekat. Dia segera menanyakan kalau Swat-san Lojin mengetahui beradanya Tan He.

"Tan He Kongcu?" Swat-San Lojin mengulangi pertanyaan orang. Karena adanya bencana alam yang begitu dahsyat, pikiran Lojin itu sampai limbung. Waktu Bo-ang menanyakan puterinya, Lojin itu seperti orang disadarkan. Sekilas terbayang dipelupuknya diri Peng-ji. Bukan menyahut pertanyaan Bo-ang, sebaliknya dia malah mengajak Thian- lam-ping-siu: „Sampai sekarang Peng-ji dan Coa Leng tiada ketahuan beritanya. Ceng Ih anak itupun tak muncul. Ayuh, kita berdua kembali lagi mencarinya!”

„Akupun menjadi kacau balau pikiranku karena kejadian sehebat ini. Sudah agak lama Ceng Ih masuk ke dalam markas, jangan-jangan dia dapat dicelakai Lam-hay Ji-lo!" kata Thian-lam-ping-siu seraya bergerak lari.

Swat-San tiba-tiba tertegun berhenti, lalu membisiki Thian- lam: "Ji-lo si setan tua itu tentu juga kebingungan. Kau mempunyai ilmu pendengaran thian-thong-ji-kang-lat, nah dengarkanlah dulu apa yang mereka kerjakan saat ini!"

Kiranya saking, ngeri dan masgul, Ji-lo termangu-mangu memandang keadaan markasnya yang dihancur berantakan oleh bencana alam. Dari tanah amblong itu, masih bergolak- golak menyemburkan api dan asap, suaranya bergemuruh memekakkan telinga. Saking terlongong-longong, sampai- sampai kedua Ji-lo itu tak mengetahui bahwa Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu diam-diam sudah sembunyi dibelakangnya.

Karena memiliki ilmu thian-thong-ji-kang-lat atau alat pendengaran yang dapat menembus langit, Thian-lam-ping-siu tidak menjadi kacau dengan suara gemuruh itu. Dia dapat mendengarkan jelas pembicaraan kedua Ji-lo itu. Kedengaran kedua pemimpin Lam-hay-to itu tukar pembicaraan,

„Sebelum mendirikan pangkalan disini, kitapun sudah mengetahui bahwa pulau ini termasuk daerah gunung berapi. Tapi yang amat mengherankan, mengapa sampai terjadi tanah bengkah yang begitu hebat ”

„Aku sendiripun tak mengerti. Tapi kalau direnungkan dalam-dalam, mungkin ada hubungannya dengan pembuatan penjara dibawah tanah oleh Peh-i-siu-su itu!” 

„Apa hubungannya?"

„Gunung berapi tentu mencari lapisan tanah yang tipis untuk memuntahkan magma (lahar). Tetapi markas ini termasuk tanah yang tipis, tapi Peh-i-siu-su tetap berkeras membuat penjara di bawah tanah seluas lima-enam tombak. Kalau tiba-tiba menjadi amblong, itu tidak mengherankan!"

„Uh, itu memang beralasan. Hai di penjara bawah kan

masih ada orang tawanannya!"

„Hiante, kita sendiri belum ada ketentuannya, mengapa memikirkan lain orang? Kelak kemana kita hendak menetap

……..?”

„Ke Holam! Lian Hoa Kaucu tentu akan menerima kita!"

„Kemana saja Peh-lian thian-ong, mengapa dia tak kelihatan?"

„Dia terkena pukulan ciak-tok-liong-ciang, mungkin dia sudah meninggal. Ayuh, kita lekas pergilah!"

Demikianlah pembicaraan kedua Ji-lo yang didengar oleh Thian-lam-ping-siu, siapa lalu memberitahukannya kepada Swat-san Lojin. Alis putih dari Lojin itu tampak menjungkat. Baru kedua Ji-lo berputar tubuh, Swat-san Lojin segera loncat kehadapannya.

„Kalian berdua telah menjebloskan Coa Leng dan Peng-ji di bawah tanah. Kalau dalam bencana alam ini mereka selamat tak kurang suatu apa, ja tak mengapa. Tapi kalau mereka sampai apa-apa, jangan lagi ke Kong-tong, sekalipun kalian hendak bersembunyi ke ujung langit, tetap akan kukejar!" Munculnya Lojin itu, telah membuat kedua Ji-lo terperanjat.

Tapi karena Lojin hanya mendamprat tanpa melakukan tindakan apa-apa, Ji-lo itupun tak mau cari perkara. Setelah saling memberi isyarat mata, keduanya segera ayunkan tubuh lari turun dari Ngo-ci-san!

Thian-lam-ping-siu tahu betapa kedukaan yang diderita Swat-san Lojin karena kehilangan anak isteri itu. Buru-buru dia menghiburnya: „Orang baik tentu dilindungi Allah, jangan Lojin keliwat berduka. Ih-ji bukan anak tolol, dia tentu dapat menolong Peng-ji dan mamanya!"

Lojin hanya ganda tersenyum. Dia segera ajak Thian-lam berdiri ditempat yang aman untuk memeriksa tanah amblong itu. Dari tanah amblong itu api menyala-nyala, panasnya terasa menyelubungi sekeliling tempat situ. Saat itu Bo-ang Sancupun sudah menyusuli dan berada di belakang kedua tokoh tua itu, Setelah batuk-batuk, baru dia menghampiri ke dekat mereka.

„Bekerjanya gunung Ngo-ci-san kali ini benar-benar mendadak sekali. Siao-ngo-tay-san paling banyak menderita kerugian sendiri. Selain Tan He belum ketahuan tempatnya, pun keempat Cuncia dan kedua Sian-ong sampai sekarangpun tidak kelihatan. Kemungkinan besar mereka tentu celaka!" kata Bo-ang Sancu dengan rawan. Pemimpin Siao-ngo-tay-san itupun terpukul keras perasaannya.

Swat-san Lojin tak menghiraukan, dia sedang merenungkan kesedihannya sendiri. Adalah Thian-lam-ping-siu yang menyahut: „Siao-ngo-tay-san hanya kehilangan enam orang anak buah, tapi apakah kau mengetahui kalau isteri dan anaknya Swat-san Lojin terjerumus dalam tanah bengkah ini?”

Bo-ang melihat setitik harapan, tanyanya: „Apakah ping-siu sudah mengetahui anakku?" 

„Sudahkah Sancu mengetahui urusan anakmu dengan Ceng Ih?" Thian-lam balas bertanya.

„Apa maksud ucapan ping-siu itu?” menegas Bo-ang.

Teringat akan janjinya kepada Tan He, Swat-san Lojin segera campur mulut: „Maukah Sancu mendengarkan sepatah kata lohu?''

Heran atas sikap kedua tokoh tua itu, buru-buru Bo-ang menyatakan: „Swat-san Lojin menjagoi dunia persilatan, setiap kata-katanya tentu amat berharga. Orang mencap diriku orang sombong, tapi jika Lojin tak memandang rendah, Bo-ang dengan kesungguhan hati menerima petunjuk!”

„Jangan keliwat menyanjung. Lihat ni kedahsyatan alam, jangan kita manusia suka membanggakan diri. Lohu si tua yang suka menyombongkan diri ini, pun pada satu saat akan musnah menjadi abu tanah. Anak isteriku terjerumus dalam lubang api ini, entah bagaimana nasibnya, Lohu hendak menyatakan sedikit usul, usul yang telah kusanggupi!"

Bo-ang tak sabar menunggu orang main ulur waktu, cepat dia menyelutuk: „Apakah Lojin hendak membicarakan soal anakku dengan Ceng-siaohiap ……?”

Lojin mengangguk dan menanyakan pendapat Bo-ang.

Bo-ang menceritakan bahwa tempo hari Ceng Ih dan Peng- ji pernah datang ke Siao-ngo-tay-san guna mintakan kebebasan mengurus diri sendiri dari Tan He Kongcu, untuk itu dia (Bo-ang) pun sudah menyetujuinya. „Tapi kini kesemuanya itu tak berguna lagi, Tan He pun terjerumus dalam tanah bengkah, nasibnya belum ketentuan!" kata Bo-ang kemudian.

Lojin mengurut jenggotnya yang putih, tenang-tenang dia mengajukan pertanyaan lagi: „Dimisalkan puterimu nanti beruntung lolos dari bahaya, apakah Sancu juga masih memegang janji itu?"

Bo-ang tertawa jumawa: „Meskipun jelek, Bo-ang juga anak keturunan dari Hoa-he Hi-hu, yang tetap menjunjung setiap janji!"

Thian-lam merasa simpati akan sikap Bo-ang yang sekarang, katanya: „Lam-hay Ji-lo adalah biangkeladi dari segala bencana ini, maka sudah layak kalau mereka menerima ganjaran semacam ini. Tapi kedua orang itu memang kejam, tanpa menghiraukan lagi anak buahnya, mereka terus pergi.

Sancu, dapatkah aku meminjam barang seorang anak buahmu?"

Sewaktu Bo-ang tanya untuk apa, kiranya Thian-lam-ping- siu hendak menyuruh orang itu ke hotel memberitahukan pada Wan-ji dan Tan He supaya lekas menyusul ke Ngo-ci- san. Thian-lam dan Swat-san Lojin bermaksud hendak tinggal beberapa hari di pulau situ, sampai segala urusan menjadi jelas.

“Ping-siu, jadi anakku berada dihotel?” teriak Bo-ang kejut- kejut girang.

Sewaktu kedua tokoh itu mengangguk, Bo-ang seperti menemukan gunung emas girangnya. Cepat dia menyuruh ketujuh Cincu dan kedelapan pat-yok-li itu turun lebih dulu dari Ngo-ci-san. „Entah siapakah yang telah menolong Tan He itu?" tanya Bo-ang dengan tertawa riang.

Swat-san Lojin menghela napas, ujarnya: „Sikapmu itu menunjukkan betapa kasih sayangmu kepada anak. Hatiku makin tersentuh pedih. Ketahuilah bahwa yang menolong Tan He Kongcu itu adalah anakku Peng-ji. Sebaliknya kini Peng-ji dan Ceng Ih terjerumus dalam tanah bengkah, apakah hatiku tidak menjadi tersayat!"

Teringat Bo-ang akan peristiwa di gunung Siao-ngo-tay-san tempo hari, dimana Peng-ji telah kena terpukul ciak-tok-liong- ciang. Bayang-bayang gadis itu terkilas pula dilubuk ingatannya. Sebagai seorang ayah, diapun dapat menyelami bagaimana perasaan Swat-san Lojin. Demikian ketiga tokoh itu terbenam dalam lamunannya masing-masing.

Pemandangan di sekeliling situ, amat merawankan. Puncak bagian tengah dari gunung Ngo-ci-san yang pecah dan menyusur sampai kebawah itu, ada beberapa bagian tempat yang sudah merapat lagi. Tapi markas Lam-hay-bun masih diamuk api dan lubang besar yang amblong didekatnya itu, pun masih menyala-nyala ……...

Sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melesat kehadapan Bo-ang. Kiranya dia adalah tojin jubah merah, pemimpin dari Chit-Cincu, yang diutus untuk membeli makanan dan mengabari Tan He Kongcu. Tojin itu membawa sebuah bungkusan besar yang terisi makanan. Oleh karena sehari semalam tak kemasukan nasi, mereka segera menyerbu hidangan itu.

Adalah Thian-lam-ping-siu yang walaupun buta matanya, tapi telinganya amat tajam sekali. Dari gerak gerik si tojin jubah merah, dia merasa ada sesuatu yang tidak wajar.

Sambil menyuap hidangan, dia bertanya: „Apakah totiang sudah berkunjung ke hotel itu?"

„Oh ……., Kongcu dan nona Wan tidak berada disitu. Turut keterangan jongos, tak lama sesudah lo-cianpwe pergi, kedua nona itupun segera mengikuti keluar!” jawab si tojin.

„Apakah totiang masuk kedalam hotel?” menegas Thian- lam.

„Sudah semua. Dengan diantar oleh jongos aku telah memeriksa kamar-kamar mereka, tetapi tak menjumpainya. Terpaksa pinto pesan pada jongos supaya menjaga baik kuda say-cu-hoa dan lain-lain barang yang berada dalam kamar itu. Dua tiga hari lagi, lo-cianpwe berdua tentu kembal!”

Walaupun kaget sekali, namun tak lupa Thian-lam menghaturkan terima kasihnya. Habis itu dia menerangkan pada Swat-san Lojin, kemungkinan besar kedua nona itu tentu diam-diam menyusul ke Ngo-ci-san.

“Tentu begitu. Wan-ji itu memang keras kepala, suka usilan. Waktu kausuruh dia tinggal dihotel menemani Kongcu, tampaknya dia sudah kurang puas!" kata Swat-san Lojin.

„Kalau begitu, kemungkinan iapun turut kecebur dalam kawah api juga. Aneh, mengapa Ceng-siaohiap yang memiliki kepandaian tinggi, tak dapat melepaskan diri dari kepungan orang-orang Lam-hay-bun?” akhirnya turut pula Bo-ang menyatakan pendapatnya dengan didahului oleh elahan napas.

Swat-san Lojin membenarkan. Cuncia jubah merah itu mengutarakan kecurigaannya: „Selain Ceng-siaohiap dan ketiga nona yang lihay-lihay itupun kedua Sian-ong dan keempat Cuncia yang melakukan penyerbuan itu, tergolong jago-jago yang kuat. Kecuali mereka kejeblos dalam perkakas rahasia, tentu mereka dapat meloloskan diri dari ancaman tanah amblong itu ………”

Selama itu Thian-lam-ping-siu, hanya diam membisu dengan renungan yang dalam. Orang tua itu jarang menangis, apalagi seorang tokoh macam jago buta itu. Namun dalam menghadapi peristiwa yang amat mengoyahkan sanubari itu, beberapa butir air mata bertitikan keluar dari mata jago itu.

Suasana menjadi hening, sekalian orang terlongong-longong dalam kedukaan. Hidangan yang sudah tersaji itu, tetap tiada orang yang menjamahnya.

Singkatnya saja, dua hari dua malam keempat tokoh itu menunggu disitu, namun sekalipun api dalam kawah (tanah amblong) itu tidak merangsang hebat seperti bermula, juga tetap belum padam. Dan entah kapankah api dalam kawah itu akan padam.

Akhirnya Swat-san Lojin mengajak sekalian orang berlalu saja, toh percuma menunggu disitu.

„Lojin hendak kembali ke Swat-sankah?” tanya Thian-lam.

„Perlu apa aku pulang kesana? Daripada si tua bangka ini menjadi mayat tak berteman di gunung Swat-san, lebih baik mengadu jiwa dengan kedua Ji-lo itu!” sahut Swat-san dengan tegas. Pun waktu ditanya oleh Thian-lam-ping-siu, Bo-ang Sancu menyatakan ingin turut ke Holam. Demikianlah keempat tokoh itu segera tinggalkan Ngo-ci-san.

> ∞ <

Mari kita lihat bagaimana keadaan yang sebenarnya dari Ceng Ih. Waktu air merayap naik ketenggorokan, Ceng Ih sudah pasrah nasib. Usahanya menempelkan punggung ke dinding dengan ilmu bik-hou-kang itu, hanyalah suatu penundaan saja. Tapi diapun menaati nasehat Coa Leng tadi yakni setitik dapat bertahan berarti setitik masih mempunyai harapan.

Tiba-tiba terdengar letusan keras dan menyusul bumi bergoncang hebat. Begitu hebat getaran itu hingga Ceng Ih merasa seperti akan jatuh kebawah. Dengan kuatnya, Ceng Ih bertahan. Beberapa dinding dibagian belakang sana sudah rontok dan menjatuhi kepalanya. Tapi asal tidak seluruh dinding kamar itu ambruk, dia yakin tentu masih dapat bertahan.

Sekonyong-konyong batu undakan yang dipijaknya itu amblong ke bawah, bik-hou-kangnya cukup kuat, hingga dia masih dapat bertahan walaupun kakinya bergelantungan.

Kembali terdengar letusan besar. Kali ini Ceng Ih merasa dirinya tergeser kesamping, kejutnya bukan kepalang. Tapi yang lebih mengherankan lagi, air dalam kamar situ tiba-tiba menyurut dengan cepat sekali. Dalam sekejap saja, ruangan penjara itu sudah kering dari air .......

Namun hal itu bukan berarti Ceng Ih sudah terlepas dari bahaya. Air benar menyurut habis, tapi gerakan yang membawa dirinya ke belakang itu masih tetap terasa. Dinding batu yang dibuat tempelan itu, ada sebagian sudah rontok juga, jadi dia terpaksa mati-matian bertahan.

Akhirnya gerakan bumi yang luar biasa anehnya itu, berhenti! Ceng Ih menghela napas longgar, tapi demi dia membuka mata, semangatnya serasa terbang!

Kini tak lagi dia berada dalam penjara di bawah tanah, melainkan menempel pada sebuah batu karang yang curam. Gantinya ruang penjara itu adalah sebuah jurang. Beberapa tombak disebelah muka, tampak pula sebuah karang curam. Dan waktu melongok kebawah, ngeri sekali dia. Begitu dalam lubang itu sehingga tak kelihatan dasarnya. Dan yang lebih menyeramkan, dasar lubang itu penuh mengeluarkan api dan asap. Ceng Ih merasa seperti bermimpi buruk!

Tiba-tiba dia mendengar suara orang berseru: „Ceng- siaohiap, apa kau mendengar kata-kataku ini? Apa kau tidak terluka ”

Ceng Ih segera mengenal nada suara itu sebagai Coa Leng. Buru-buru dia berpaling kearah suara itu. Kira-kira empat-lima meter jauhnya, tampak Coa Leng pun bergelantungan menempel dinding. Keadaannya persis seperti dirinya.

„Aku tak kena apa-apa, sebaliknya bagaimana dengan lo- cianpwe?" serunya dengan girang-girang tawar.

„Kalau kau masih dapat bergerak, lekas menuju ke tempatku sini. Tapi harus bergerak dengan cepat, kalau asap besar sudah membubung keatas, apipun tentu turut menyembur, maka jangan sampai terlambat!"

Ceng Ih tak berani berayal. Dengan gunakan bik-hou-kang, dia menggeser ke tempat Coa Leng. Kemudian keduanya lalu menggeser masuk ke dalam sebuah karang sebelah bawah.

Karang itu bermula berasal dari dinding batu, karena terguncang gempa, menjadi ambrol dan merupakan karang cekung. Karena berada ditempat cekung, Coa Leng dan Ceng Ih dapat terhindar dari ancaman asap dan api.

Ceng Ih keluarkan dua butir pil siok-beng-tan pemberian dari Swat-nia-koay-siu tempo hari. Satu ditelannya dan yang lain diberikan pada Coa Leng. Setelah duduk bersamedhi beberapa saat, bukan saja tenaga mereka pulih, pun daya tahan terhadap panasnya api, bertambah besar. 

Menatap kearah Ceng Ih, Coa Leng tertawa: „Selama berpuluh tahun tinggal di Ngo-ci-san, baru sekali ini aku mengalami gempa bumi yang sangat dahsyat. Sayang aku tak beruntung melihatnya "

Ceng Ih menghiburinya. Saat itu asap tebal bergulung- gulung naik memenuhi lubang kawah. Mata sukar menembus keadaan disekeliling situ.

„Lo-cianpwe, apakah kiranya adik Peng bertiga dapat ketolongan?" tanyanya.

„Kamar di bawah tanah yang mereka masuki itu, tentu sama halnya dengan kamar kita. Hanya dapatkah mereka ketolongan, itu tergantung pada nasib mereka!" Coa Leng menyahut dengan nada penuh kegetiran.
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 32 : Kemurkaan Alam"

Post a Comment

close