Panji Sakti Bab 31 : Penjara Air

Mode Malam
31. Penjara Air

Coa Leng menghela napas, ujarnya dengan rawan: „Lebih dari sepuluh tahun aku seolah-olah sudah mati, tiada memiliki harapan hidup lagi. Tapi sayang kau yang masih muda, harus mengawani aku si wanita buta hidup dalam penjara di bawah tanah. Aku menghela napas karena memikirkan nasibmu

........”

„Mengapa harus berputus asa, kau tak lama lagi tentu ada orang Lam-hay-bun yang datang kemari, masakan aku tak dapat meringkusnya!” Ceng Ih coba membesarkan semangat nyonya yang banyak menderita itu.

Coa Leng hanya menyambutnya dengan tertawa getir saja. Ia menarik anak muda itu untuk melangkah keatas undakan.

„Ceng-siaohiap, coba lihatlah, sudah berapa dalamkah air yang mengalir diterowongan?” tanyanya.

„Lo-cianpwe, airnya belum sampai satu dim!"

„Ho, jangan mengira penjara dibawah tanah ini cukup luas.

Dalam sepeminum teh saja nanti, air akan menggenangi seluruh kamar ini. Sekalipun kau mempunyai kesaktian menembus langit, pun tak nanti dapat lolos dari bencana itu!"

„Apa tiada lain daya pertolongan lagi?"

„Ada sih ada, hanya saja dalam waktu yang begitu singkat, rasanya tak mungkin untuk mengharap datangnya pertolongan. Kalau tiada orang yang memutar alat perkakas dibawah langit meja batu itu. kita tak dapat hidup lagi

...........!”

Tiba-tiba Ceng Ih teringat sesuatu, tanyanya: „Lo-cianpwe, apakah lubang yang satunya juga mengalami nasib serupa dengan kita disini?"

Coa Leng mengiakan. Mendengar itu, Ceng Ih tak kuasa menahan getar napas kesedihannya lagi. Coa Leng heran dan menanyakan sebabnya.

„Lo-cianpwe, aku Ceng Ih adalah ahliwaris angkatan kelima dari Panji Sakti. Panji itu berada padaku. Setelah aku tercelaka, Panji itu tentu dirampas orang, dengan begitu hilang sudah kewibawaan Panji itu beserta penciptanya!" baru Ceng Ih mengucap sampai disini, tiba-tiba dia berganti acara:

„Lo-cianpwe, air cepat sekali datangnya, harap lo-cianpwe lekas mendaki ke undakan atas!"

Begitulah setelah keduanya mendaki ke undakan yang lebih atas. Ceng Ih berkata pula: „Jadi dengan begitu selain kita berdua, pun tiga orang yang berada dalam kamar rahasia yang satunya, pun takkan terhindar dari bahaya air!"

Berkata sampai disini, nada Ceng Ih berobah rawan karena hidungnya mulai mengisak basah. „Ceng-siaohiap, seorang lelaki jangan sembarangan mengucurkan air mata! Empat belas tahun lamanya bertekun menghadapi tembok, batinku mulai terang bahwa mati-hidup itu sudah suratan nasib. Bila memang sudah ditakdirkan mati, kita harus menerima dengan hati tenteram. Ai siapakah

ketiga orang yang berada dalam kamar satunya itu?"

„Lo-cianpwe, air makin meluap naik!" kata Ceng Ih sembari melangkah keundakan nomor tiga, kemudian melanjutkan lagi: „Yang satu adalah puteri dari Bo-ang Sancu yang bernama Tan He Kongcu. Yang satunya lagi ialah sumoayku Wan-ji sedang masih satu lagi yakni puterimu sendiri. Jauh- jauh ia datang ke Ngo-ci-san dengan tujuan hendak membebaskan lo-cianpwe, tapi ternyata impiannya untuk bertemu dengan mamanya kini buyar seperti awan tertiup angin !”

Empat belas tahun lamanya, Coa Leng sudah lepaskan harapannya untuk hidup. Penjara dibawah tanah itu telah menjadikan dia seorang wanita yang berhati beku.

Tapi sedingin-dinginnya, tetap ikatan kasih antara ibu dengan puterinya itu masih tetap ada. Mendengar keterangan Ceng Ih, beberapa tetes air matanya bercucuran, hidungnya berkembang kempis menahan isak tangisnya.

„Dimana Swat-san Lojin sekarang?" akhirnya dia bertanya dengan tangis kering.

„Dia sedang bertempur dengan Lam-hay Ji-lo di lapangan dimuka markas sana!"

Air makin meluas naik, sembari mendaki keatas undakan, kedengaran Coa Leng berkata seorang diri: „Belasan tahun berpisah dengan suami dan anak, sudah cukup tersisa. Lebih mengenaskan lagi, dalam menjelang kematian, tetap tak dapat bertemu muka!"

„Kalau Peng-ji binasa, itu karena dia hendak berbakti kepada mamanya. Tetapi terhadap Ceng-siaohiap bertiga, aku sungguh menyesal sekali," katanya kepada Ceng Ih.

„Jangan lo-cianpwe mempunyai pikiran begitu. Aku dengan adik Peng sudah direlakan menjadi suami-isteri. Untuknya, matipun aku tak menyesal," sahut Ceng Ih dengan tegas.

Terhening sejenak, dia mengusulkan hendak menggempur dinding terowongan itu.

Sehabis mendaki lagi beberapa tingkat, Coa Leng menyahut dengan putus asa: „Percuma saja, nak! Kedua kamar rahasia ini, direncanakan hebat sekali. Selain ada alat perkakas yang mengeluarkan air seperti yang tanpa sengaja kau lakukan tadi, pun masih ada perkakas yang mengeluarkan ratusan ekor ular berbisa dan perkakas yang menghembuskan gas beracun.

Kalau orang dapat meng gempur jebol dinding terowongan ini, berarti usaha Peh-i-siu-su itu gagal!"

Waktu menyebut nama Peh-i-siu-su, wajah Coa Leng yang tenang itu mau tak mau memancarkan kerut kebencian dan kesedihan. Tiba-tiba Ceng Ih memperhatikan bahwa sepasang kelopak mata Coa Leng itu, ternyata hanya tinggal pelapuk (kulit) mata saja, tapi biji matanya sudah hilang.

„Lo-cianpwe, kedua biji mata ”

„Ceritanya amat panjang, kelak kau tentu mengetahui sendiri," tukas Coa Leng sambil melangkah ke undakan sebelah atas lagi. „Adanya aku rela menderita siksaan hidup semacam ini, karena masih mempunyai harapan yang belum terhimpas! Jika Tuhan kasihan padaku, tentu akan memberi berkah padaku lolos dari penjara air sini. Dengan latihan belasan tahun menghadap tembok, aku tentu dapat mencuci bersih dendam kesumat itu. Dan pada waktu itu, sekalipun mati, aku tentu puas ”

Ceng Ih mendongak keatas. Undakan yang terakhir, hanya tinggal beberapa langkah lagi. Harapan hidup, sudah lenyap sama sekali. Namun dia coba untuk bersikap tenang, katanya dengan tertawa: „Setelah melatih diri selama belasan tahun itu, kepandaian lo-cianpwe tentulah sudah mencapai kesempurnaan?”

„Sempurna? Rasanya masih jauh, hanya tambah maju sedikit saja!"

Sifat macam anak yang ingin mengetahui segala apa, masih melekat pada hati Ceng Ih. Sembari melangkah naik, dia bertanya pula: „Bagaimana kepandaian lo-cianpwe kalau dibanding dengan keempat Toa-thian-ong itu?"

„Dahulu mereka berimbang dengan aku!"

„Bagaimana kalau dengan Lam-hay Ji-lo?"

„Ji-lo adalah suhuku, tapi belasan tahun duduk menghadapi tembok itu, aku telah mempersatukan intisari ilmu kepandaian dari Lam-hay-bun dan Swat-san-pay. Setahun yang lalu, karena tak menghiraukan nasehatnya, kedua Ji-lo itu menjadi gusar dan menjajalkan ilmunya yang baru dipelajari kian-gun- ciang kepada diriku. Dalam keadaan kepepet, terpaksa kulawan dengan kekerasan.”

„Kesudahannya?” tanya Ceng Ih dengan tak sabar.

„Aku tidak menderita apa-apa!" „Kau hebat benar, lo-cianpwe! Nyata kau lebih lihay dari Swat-san Lojin dan supehku!"

Saat itu Coa Leng sudah berada ditingkat undakan yang teratas, namun dia merasa terhibur bertemu dengan anak muda yang simpati itu. Sahutnya: „Mungkin hal itu hasil latihanku selama belasan tahun. Namun ilmu silat itu tiada batasnya, mana aku dapat mengungguli Swat-san Lojin?"

„Apakah lo-cianpwe merasa karena mata ”

„Mata adalah pangkal saluran hati, sudah tentu amat penting. Tapi bertahun-tahun ini aku sudah biasa gunakan alat pendengaran sebagai gantinya. Tapi ah, kini harapan untuk hidup, benar-benar sudah ludas!"

Karena tiada tempat menghindar lagi, Coa Leng dan Ceng Ih mulai dirangsang air.

„Aku merasa menyesal sekali karena telah berdosa untuk memusnahkan harapan yang lo-cianpwe kandung bertahun- tahun itu,” kata Ceng Ih dengan nada sesal.

„Nak, kita toh bersama-sama akan mati, mengapa kau sesali dirimu!” kata Coa Leng, „renungan bertahun-tahun itu, telah membuka pikiranku lebih jelas akan hukum sebab dan akibat. Bermula, aku yakin bahwa perbuatan baik dan jahat itu tentu mendapat balas. Tapi kini aku benar-benar kehilangan paham!"

Ceng Ih menghiburnya dengan kata-kata yang membesarkan hati. Orang yang baik tentu selalu mendapat berkah dan orang jahat tentu mendapat hukuman. „Setengah jam berselang, kudengar ledakan hebat dan goncangan bumi, tahukan kau apa sebabnya?" tanya Coa Leng kemudian.

Ceng Ih sebenarnya sudah putus asa. Dia yang mengemban tugas mulia untuk mengembangkan cita-cita Panji Sakti, kini ternyata harus menyerahkan nasib kepada air.

„Tadi orang-orang mengatakan terjadi gempa bumi, tapi anehnya mengapa gempa bumi mengeluarkan letusan hebat?" sahut Ceng Ih.

„Gempa bumi dengan letusan sebenarnya mengeluarkan bunyi gemuruh. Dikarenakan kau terpisah jauh, jadi hanya merasakan getarannya saja. Ngo-ci-san sebuah gunung berapi, mungkin puncak yang disini ini merupakan sumber pusatnya," Coa Leng menerangkan.

„Jadi pusarnya disini, kalau begitu kita semua akan binasa di Ngo-ci-san!" Ceng Ih mengeluh.

Air telah merangsang ke bagian dada Coa Leng, namun wanita yang sudah digembleng dengan penderitaan hidup itu, tampaknya tetap tenang saja. Katanya: „Maut sudah menjemput, tak perlu kita berkeluh kesah. Swat-san Lojin beradat tinggi, berhati dingin. Tapi tindakan untuk menyerahkan Peng-ji padamu kali ini, pantas dipuji!"

Berhenti sebentar Coa Leng menanyakan kalau-kalau Ceng Ih pernah meyakinkan ilmu bik-hou-kang. Sewaktu Ceng Ih mengiakan, Coa Leng segera menyuruhnya: „Lekas tempelkan punggungmu ke tembok, jangan sampai tersedot air ke bawah. Setitik dapat bertahan, setitik itu pula kita masih punya harapan!" Ceng Ih menurut dan airpun sudah merangsang ke arah lehernya. Tiba-tiba terdengar letusan gempar dan punggung Ceng Ih terasa bergetar keras. Air dalam kamar tahanan situ menjadi bergelombang keras.

Belasan tahun Coa Leng membisu dan baru hari itu dia bicara sepuas-puasnya.

„Manusia tentu tak luput dari kematian! Matilah! Kecuali hanya masih mempunyai dendaman yang belum terhimpas, aku tak merasa kecewa atas perjalanan hidupku!" kedengaran ia mengigau seorang diri, kemudian hening ditelan air.

Sekonyong-konyong terdengar letusan yang dahsyat bagaikan halilintar memecah bumi ……...

> ∞ <

Digelanggang pertempuran di halaman muka markas, nyata keadaannya sudah berobah. Setelah melihat kedua Sian-ong dan keempat Cuncia menyelundup kedalam markas, perasaan Bo-ang Sancu amat longgar. Dia permainkan thian-ong muka kuning begitu rupa, seperti seekor kucing yang mempermainkan tikus lebih dahulu sebelum menelannya.

Berkali-kali thian-ong itu mundur saja. Harapan untuk mendapat bantuan sudah lenyap. Hanya dengan nekad saja, barulah dia melayani dengan pontang panting atas serangan lawan yang laksana hujan derasnya itu. Namun itu hanya suatu penundaan waktu saja.

Untuk menjajal sampai dimana kesaktian tok-liong-ciang yang baru diyakinkan itu, diam-diam dia sudah bersiap untuk mencari lubang kesempatan. Begitu thian-ong berani merangsang, segera dia songsong dengan sebuah hantaman. „Bum,” begitu hebat tenaga gempuran yang menghantamnya, hingga seketika itu thian-ong muka kuning rasakan dadanya sesak, darah berhenti beredar dan mulut muntahkan darah segar. Thian-ong itu terpental sampai satu tombak jauhnya.

Sebagai jago yang menang, maka Bo-ang gembar-gembor, lalu bersuit panjang. Kemudian melirik ke partai Chit-Cincu yang masih belum selesai, dia segera apungkan tubuhnya seraya berseru: „Cit-Cincu, minggirlah!"

Selagi masih melayang di udara, dia menghantam dengan ciak-tok-liong-ciang kearah kepala thian-ong muka putih.

Thian-ong muka putih merasa disambar oleh hawa panas. Dalam kejutnya, dia segera menyingkir kesamping. Namun dia masih kurang cepat.

Tubuhnya tersapu dengan hawa panas ciak-tok-liong-ciang, kulitnya berobah merah. Demikianlah keganasan ciak-tok- liong-ciang atau pukulan naga merah beracun!

Kembali Bo-ang perdengarkan ketawa kemenangan. Tanpa menghiraukan thian-ong muka putih, dia memberitahu Chit- Cincu: „Biarkan dia pergi, toh dalam tiga jam, dia bakal diajak malaekat elmaut!"

Habis itu, Bo-ang ajak ketujuh Cincu itu menyaksikan pertempuran partai Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu.

Adalah thian-ong muka putih yang merasa heran mengapa dirinya dilepas begitu saja oleh Bo-ang. Tapi rasa heran segera berobah menjadi kejut besar ketika dia merasa badannya panas, mulutnya kering.

„Celaka!” keluhnya lalu cepat-cepat duduk mengambil napas. Untuk kegirangannya, dia merasa peredaran darahnya masih baik. Lalu dia berbangkit dan berdiri dibelakang tempat Ji-lo bertempur.

Ciak-tok-liong-ciang memang keliwat ganas. Begitu orang coba menyalurkan darah atau terkena siuran angin saja, racun pukulan itu segera akan merangsang dengan cepat. Seorang thian-ong yang bermuka putih, ketika itu sudah berobah merah seperti kepiting direbus, namun dia tak merasa terancam bahaya.

Adalah Lam-hay Ji-lo yang mengetahui hal itu. Ialah ketika dia menghindar dari sebuah serangan Swat-san Lojin, dia mencuri kesempatan untuk melirik ke arah anak buahnya.

Demi melihat perobahan wajah thian-ong muka putih, dia terkesiap kaget.

Buru-buru Ji-lo gunakan lweekang joan-seng-jip-bi mengisiki thian-ong itu: „Kau telah terkena pukulan beracun, mengapa menjublek saja disitu? Lekas pergi ke kamarku dan ambil obat penawar racun!"

Kini baru thian-ong muka putih itu gelagapan. Lebih ketakutan lagi dia demi melihat lengannya memang mulai melonyoh. Sejenak melirik kearah Bo-ang dengan penuh dendam kesumat, segera dia lari kedalam markas.

Sewaktu masuk ke gedung pos nomor dua, dilihatnya majat anak buah Lam-hay-bun bergelimpangan di sana sini. Tapi karena dirinya sendiri tarancam bahaya, dia tak sempat mengurus hal itu, terus lari kearah gedung nomor lima, yakni tempat tinggal Ji-lo.

Tapi betapakah kagetnya demi dilihatnya diruangan situ terdapat enam orang yang tengah mengaduk. Mereka adalah kedua Sian-ong dan keempat Cuncia yang itu waktu tengah membungkuk mencari sesuatu. Karena asyiknya mereka tak mengetahui kedatangan thian-ong muka putih.

Sebenarnya itu suatu kesempatan bagus, tapi thian-ong tak berani bertindak. Dengan keempat Cuncia dia masih dapat melayani, tapi kalau ditambah lagi dengan kedua Sian-ong tentu berat. Apalagi saat itu, dia sedang menderita luka.

Sesaat thian-ong yang bertubuh gemuk itu mendapat akal. Dia segera berhenti, kemudian berseru: „Su-Cuncia, Ji-Sian- ong, cari apa kalian disitu?"

Kaget keenam orang itu seperti orang disambar petir. Demi menurutkan arah datangnya suara dan dapatkan siapa orangnya, keempat Cuncia itu segera cepat-cepat mencabut senjata. Tapi kedua Sian-ong, itu lebih pintar. Demi melihat kulit muka thian-ong itu agak aneh, mereka cepat mengetahui sebabnya.

„Babi gemuk ini rupanya termakan ciak-tok-liong-ciang, dalam waktu singkat jiwanya pasti tak tertolong lagi. Kita belum berhasil menemukan Tan He Kongcu, kedatangan thian-ong itu amat berguna, jadi kita harus menggunakan diplomasi!" bisik Sian-ong kepada rekannya keempat Cuncia.

Keempat Cuncia itu mengiakan. Habis itu, maka bertanyalah kedua Sian-ong itu, „apa maksud thian-ong gemuk itu datang ke situ?”

„Apa maksud kalian berenam mengaduk-aduk kamar ini?" thian-ong itu balas bertanya.

Menyahut Sian-ong dengan tertawa: „Menilik kulit mukamu, rupanya kau telah terkena racun. Asal kau suka memberitahukan tempat beradanya Tan He Kongcu, kamipun tak mau mengganggumu, bagaimana?" 

Thian-ong agak terkesiap. Dia heran mengapa orang-orang Siao-ngo-tay-san tak mengetahui kalau Tan He sudah lolos.

Sekilas dia mempunyai rencana jahat. Rahasia Tan He itu tetap akan pegang teguh, kemudian setelah dia minum obat penawar, ke enam orangnya Bo-ang itu hendak dijebloskan dalam penjara di bawah tanah.

„Sebenarnya Lam-hay-bun dan Siao-ngo-tay-san tak mempunyai permusuhan. Adanya kami menawan Kongcu. hanyalah karena hendak memaksa Ceng Ih menyerahkan Panji Sakti saja. Kalau kalian percaya padaku, silahkan keluar dulu dari kamar itu. Jangan kuatir, nanti tentu kuserahkan seorang Tan He Kongcu yang tak kurang suatu apa.”

Kedua Sian-ong masih merasa sangsi, tapi salah seorang dari Cuncia itu sudah lantas memberi pernyataan: „Baik, asal thian-ong bersungguh hati menyerahkan Tan He Kongcu, kami pihak Siao-ngo-tay-san pasti segera angkat kaki dari Ngo-ci- san sini!"

Girang karena muslihat berhasil, thian-ong muka putih itu segera hendak melangkah masuk kedalam ruangan. Tapi tiba- tiba kedua Sian-ong menanyainya: „Kamar ini amat aneh, mengapa terdengar bunyi air bergemuruh?”

Thian-ong terperanjat dan terhenti melangkah. Serunya:

„Apa? Suara air bergemuruh?"

Dan tanpa menunggu jawaban orang, thian-ong itu segera melirik kearah besi lingkaran dibawah meja batu. Astaga, kiranya alat perkakas itu sudah diputar orang. Dan mengawasi ke arah kaca pengukur air, dilihatnya alat itu mengunjuk bahwa air yang menggenangi kamar dibawah tanah, sudah hampir penuh. „Celaka! Siapa yang memutar alat penjara air itu? Coa Leng sumoay dan gadisnya Swat-san Lojin berada disitu, jangan- jangan sudah mati kelelap. Tapi ah, biarkanlah, lebih baik kulanjutkan rencanaku ini. Makan duluan obat penawar, baru jebloskan ke enam orang itu kedalam penjara tanah!" diam- diam dia merancang dalam hati.

Perobahan wajah thian-ong itu tak terlepas dari pengawasan kedua Sian-ong. Baru thian-ong mengambil botol obat penawar racun, atau kedua Sian-ong itu sudah cepat gerakkan kebut hud-timnya mengancam ke arah tangan thian- ong. Sudah tentu thian-ong itu tak dapat memasukkan obat kemulutnya.

Saking gusarnya, dia menjerit-jerit seperti anjing dipukul.

Selagi dia hendak meronta dari jepitan hud-tim itu, empat buah senjata sekop. dari keempat Cuncia sudah menderu menyerang lambung.

Ruangan disitu hanya setombak luasnya, jadi sempit sekali untuk dijadikan tempat pertempuran. Dalam marahnya, thian- ong gemuk itu gerakkan tubuh menghindar dari serangan sekop, tapi untuk kekagetannya, botol obat itu sudah pindah ke tangan salah seorang Sian-ong.

„Ha, ha, kalau thian-ong menghendaki obat ini, lebih dulu harap memberitahukan tempat Tan He Kongcu!" seru Sian- ong itu dengan tertawa.

Sudah tentu thian-ong muka putih itu tak tahu kemana perginya Tan He. Dilihatnya alat penunjuk diatas meja itu sudah mengunjuk bahwa air sudah menggenangi seluruh kamar dibawah tanah.

„Kasihkan obat itu padaku dulu, baru kuberitahukan tempat Kongcu!" dia balas tertawa sinis. 

Kedua Sian-ong itu yakin bahwa thian-ong tersebut tak nanti dapat lolos. Maka dengan tertawa lepas, dia berseru:

„Baik, terimalah ini, masakan kau dapat terbang ke langit!"

Begitu menerima botol, dengan gopohnya segera thian-ong menelan beberapa butir pil, lalu tertawa girang: „Kongcu telah disekap dalam kamar di bawah tanah. Sayang kamu terlambat datang, rupanya dia sudah mati terendam air!"

Bukan kepalang kejut Sian-ong dan Cuncia itu. Serempak mereka maju menghampiri dan bertanya: „Apakah masih dapat ditolong?"

Thian-ong wajah putih itu menyilangkan kedua lengannya, wajahnya menampilkan keputusan daya, katanya dengan tertawa: „Kebetulan kalian berenam imam dan paderi datang kemari. Simpan senjatamu dan keluarkanlah kitab suci untuk memintakan ampun bagi kedosaan Kongcu!"

„Tring, tring,” demikian terdengar senjata sama dihunus. Ji- Sian-ong dan Su-Cuncia merasa dirinya dipermainkan dan hendak menghajar thian-ong jahat itu. Tapi belum lagi mereka bergerak, tiba-tiba terdengarlah sebuah letusan yang dahsyat,

„bum” ……..

Lantai dan ruangan disitu menjadi bergoncang keras. Belum lagi ketujuh orang yang berada dalam ruangan situ dapat tegak berdiri dari terhuyungnya, atau tiba-tiba mereka merasa lantai yang dipijaknya itu mendadak amblas.

Tak dapat dikuasainya lagi, tubuh mereka turut amblas ke bawah, makin lama makin ke bawah terus …… makin ke bawah makin panas ….. panas sekali …………….
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 31 : Penjara Air"

Post a Comment

close