Panji Sakti Bab 30 : Isteri Swat-san Lojin

Mode Malam
30. Isteri Swat-san Lojin

Pukulannya berhasil, Bo-ang tambah bersemangat. Dia segera mencari tahu mana-mana anak buahnya yang perlu dibantu.

Cepat dia melangkah kearah partai Ji-Sian-ong. Sembari maju menghantam, dia suruh kedua Sian-ong itu mundur untuk mencari Tan He Kongcu.

Karena thian-ong muka hijau yang menjadi pemimpinnya kalah, ketiga thian-ong lainnya segera pecah nyalinya. Yang paling menyolok, adalah thian-ong muka merah yang menjadi lawan ketujuh Cincu dan thian-ong muka kuning yang kini sedang hendak diganyang Bo-ang Sancu. Sedang thian-ong muka putih, walaupun dikerubut oleh keempat Cuncia, namun masih dapat bertahan.

Ketujuh Cincu hendak membalas kekalahan mereka di Hin- peng-kwan tempo hari. Untuk merebut kemenangan dengan cepat, mereka gunakan permainan barisan pak-tou-ce.

Thian-ong muka merah itu, segera menjadi kalang kabut. Sekali dia berayal, empat batang pedang segera menabur tubuhnya. Tanpa dapat berkutik lagi, thian-ong muka merah itu segera terkapar putus jiwanya!

Melihat itu, Bo-ang Sancu tertawa bangga, serunya: "Chit- Cincu, lekas gantikan Su-Cuncia agar mereka dapat menyusul Ji-Sian-ong mencari Kongcu!” Ketujuh Cincu itu cepat memburu thian-ong muka putih yang menjadi lawan keempat Cuncia, siapapun lantas loncat keluar gelanggang terus menyusul kedua Sian-ong yang sudah menyerbu kedalam markas musuh.

Diantara kawanan Toa-thian-ong, kedua thian-ong muka putih dan kuning itu adalah yang paling lemah kepandaiannya.

Berhadapan dengan Bo-ang dan ketujuh Cincu sudah tentu nasib mereka tinggal tunggu saat saja. Kedua Ji-lo pun mengetahui hal itu, namun mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Sesaat kemudian, dari arah markas sana terdengar hiruk pikuk orang bertempur. Anak buah markas Lam-hay-bun kocar kacir tak keruan diserbu oleh tiga buah rombongan musuh yang lihay. Lam-hay-bun yang didirikan dengan jerih payah selama berpuluh tahun. dalam sekejap saja tampaknya akan hancur berantakan!

Selagi kedua Ji-lo itu resah gelisah memikirkan nasib markasnya, tiba-tiba terdengarlah suara ledakan yang teramat dahsyat, bumipun terasa bergoncang. Saking gemparnya, jago- jago yang tengah bertempur itu sama terhenti. Baru setelah ledakan itu reda, mereka mulai bertempur lagi mati-matian

.............

> ∞ <

Dengan beberapa loncatan, tibalah Ceng Ih bertiga dimuka markas Lam-hay-bun. Menyerbu kedalam pos kesatu, tiada tampak perlawanan sama sekali. Mereka terus melangkah kehalaman pos kedua. Rupanya disitu adalah tempat anak buah Lam-hay-bun bermusyawarah. Gedungnya besar, ruangannya luas, alat perabotannya terbuat dari kayu jati yang halus. Tapi disitupun tiada tampak barang seorangpun jua. „Tidak kunyana kalau markas Lam-hay-pay sedemikian megahnya. Kalau mencari dengan cara begini, mana kita dapat menemukan adik Peng?" kata Ceng Ih.

Wan-ji jebikan bibir lalu menarik tangan Tan He diajak masuk terus, katanya: „Aku tak percaya kalau disini tak ada orangnya sama sekali. Ayuh, kita tangkap salah seorang dari mereka untuk diperiksa keterangannya!"

Baru ia berkata begitu atau dari luar sana segera muncul seratusan lebih orang lelaki. Mereka kebanyakan hanya murid angkatan ketiga dari Lam-hay-pay. Dengan rapi mereka mengepung Ceng-Ih bertiga, terus mencabut senjata hendak menyerang.

„Rupanya mereka bukan bangsa lemah, biar kupersen dulu dengan sebuah hantaman. Kalian berdua boleh merebut dua buah senjata dan membekuk salah seorang. Paksa dia supaya memberi keterangan!" kata Ceng Ih.

Ratusan anak buah Lam-hay-bun itu memecah diri dalam empat jurusan. Waktu melihat rombongan dari sebelah kiri sudah maju paling dekat, Ceng Ih tekuk tangannya kiri dalam gerak beng-kun-han-san-ho.

„Trang, trang,” senjata berkerontangan dan tujuh-delapan orang segera rubuh menggelepar ketanah sambil merintih kesakitan.

Laksana gerak kucing menerkam tikus, Tan He dan Wan-ji cepat menyambar dua buah senjata dari orang-orang yang terkapar rubuh itu. Malah Wan-ji yang tangkas, sudah dapat menyeret salah seorang yang terluka itu. „Cici He, ayuh kita menyingkir ketempat yang sepi dulu untuk mengorek keterangan dari orang ini. Engkoh Ih, kau tetap bertahan disini saja!" seru nona itu.

Sepuluhan orang coba mengejar Wan-ji dan Tan He, tapi Ceng Ih segera memberi persen lagi dengan sebuah tinju beng-kun. Mereka pontang panting rubuh disana sini.

Anak buah Lam-hay-bun yang terdiri dari seratusan orang itu jeri melihat kedahsyatan tinju si anak muda. Mereka tak berani mendesak rapat, melainkan mengepung dan berteriak-teriak.

Saat itu, kedua Sian-ongpun datang, Ceng Ih terkejut. Pikirnya, Tan He tak boleh bertemu dengan kedua Sian-ong itu karena tentu dibawanya pulang. Juga kedua Sian-ong itu bercekat demi melihat Ceng Ih. Tapi baru mereka hendak ngacir, Ceng Ih sudah membentaknya: „Tahan!"

Dan dengan teramat gesitnya, Ceng Ih sudah loncat kemuka mereka. Kedua Sian-ong itu terpaksa meringis dan menghias bibir dengan kata-kata ramah:

„Ai, kebenaran sekali! Kami belum keburu membantu Ceng siaohiap, maafkan !”

„Kini kita bersatu menolong Kongcu. Orang-orang ini kuserahkan pada kalian, maaf, aku hendak mengerjakan yang penting!" seru Ceng Ih seraya terus melesat kedalam gedung.

Karena jeri, kedua Sian-ong itu hanya melongo saja. Celakanya, anak buah Lam-hay-bun segera menyerangnya, terpaksa kedua Sian-ong itu mengamuk. Untung keempat Cuncia lekas datang dan terus membantunya Diamuk oleh kedua Sian-ong dan keempat Cuncia, ratusan anak buah Lam- hay-bun itu menjadi kocar kacir.

> ∞ <

Seperti dituturkan diatas, sewaktu Swat-san Lojin dan Thian- lam-ping-siu tengah bertempur dengan Lam-hay Ji-lo, mereka terpaksa berhenti karena kaget mendengar ledakan dahsyat. Hal itupun dirasakan juga oleh kedua Sian-ong dan keempat Cuncia itu. Begitu hebat ledakan itu, hingga gedung situ tergetar keras seperti mau roboh, pintu dan jendela-jendela sama berkereotan mau copot. Yang dikeroyok dan yang mengeroyok sama tertegun berhenti. Tak tahu mereka apa yang telah terjadi.

Sementara Ceng Ih yang sudah lepas dari kepungan segera menerobos kedalam gedung. Tiba-tiba Tan He Kongcu bersama Wan-ji lari keluar dari ruang ketiga. Tan He segera menyeret tangan Ceng Ih seraya berseru dengan gopoh:

„Lekas, lekas! Cici Peng berada dikamar rahasia dibawah tanah. Orang itu tadi mengatakan bahwa ledakan dahsyat itu adalah dari perut gunung. Ngo-ci-san adalah gunung berapi, tiap tahun tentu meletus beberapa kali. Sebelum terjadi ledakan besar, kita harus sudah dapat menolong cici Peng!"

„Dimana kamar rahasia itu?" tanya Ceng Ih.

Wan-ji yang lari disebelah muka segera menyahut bahwa kamar rahasia di bawah tanah itu berada di ruang kelima.

Ceng Ih cepat mengikuti kedua nona itu. Melintasi ruang keempat, mereka tiba disebuah tempat yang luas penuh ditumbuhi bunga dan pohon-pohonan. Bahkan ada juga air sumber dan batu-batu aneh. Sungguh sebuah tempat pertapaan yang suci. Dengan dipelopori oleh Tan He, Ceng Ih dan Wan-ji masuk kedalam pintu yang kedua.

Gedung nomor lima itu, adalah tempat tinggal Lam-hay Ji-lo. Keadaannya amat bersih. Ruangannya hanya seluas satu tombak lebih. Meja tulisnya penuh dengan buku-buku, vas bunga dan lukisan-lukisan yang indah. Dua helai dampar (permadani bundar) terbentang dilantai, rupanya tempat untuk bersemadhi.

Ceng Ih keisengan. Dibuka-bukanya buku-buku itu satu persatu. Tiba-tiba dia mendapatkan segulung surat undangan warna merah. Waktu dibacanya, dia tertawa lalu menyimpannya kedalam baju.

Tan He dan Wan-ji tengah membungkuk memeriksa kaki sebuah meja batu. Rupanya mereka tengah mencari sesuatu. Ceng Ih menanyakan apa sebabnya.

„Jangan ribut, kita tengah mencari alat perkakas kamar rahasia

itu!"

„Apa? Jadi markas Lam-hay-bun sini dipasangi alat rahasia?" Ceng Ih menegas dengan kaget.

Saat itu tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat lagi. Bahkan kali ini lebih gempar dari yang tadi, dan lebih lama juga. Ruangan situ menjadi goncang, bumi seolah-olah bergetar, sehingga saking kagetnya Ceng Ih jatuh terduduk diatas dampar.

Tapi untuk kegirangannya, Tan He kedengaran berseru dengan

riangnya: „Ini disini!" Ceng Ih cepat loncat menghampiri. Ternyata dibawah permukaan meja batu itu terdapat sebuah besi lingkaran yang besarnya hampir sama dengan kepalan tangan. Ceng Ih menggerakkannya dan seketika terdengar bunyi alat perkakas berderekan.

Ceng Ih mengawasi kesekeliling dan wajahnya tampak berobah. Dua buah dampar tadi dengan cepatnya bergerak menyibak kesamping. Dua buah lubang bundar segera tampak dilantai situ.

„Hai, dibawah terdapat titian (undak-undakan) batu, terang disitu terdapat jalan terowongan!" teriak Ceng Ih seraya menghampir ke lubang yang sebelah kiri.

„Yang inipun ada undakan dan terowongannya juga!" seru

Wan-ji yang memeriksa lubang sebelah kanan.

Tan He mengeluh, karena bingung hendak turun ke lubang yang mana. Tapi Ceng Ih segera mengusulkan supaya mereka berpencaran menuruni kedua lubang itu. Karena tak ada lain jalan, Tan He menyetujuinya.

Begitulah Tan He dan Wan-ji turun kedalam lubang sebelah kanan, sementara Ceng Ih kelubang yang kiri.

Baru turun dua puluhan tingkat, tiba-tiba terdengar bunyi berderetan dan penerangan dimulut lubang menjadi padam, gelapnya bukan kepalang. Terpaksa Ceng Ih harus menyulut korek dan kembali mendaki keatas.

Astaga kiranya mulut lubang dari mana dia masuk tadi,

kini tertutup oleh papan besi yang tebal. Dia coba mendorong sekuat-kuatnya, namun papan besi itu sedikitpun tak bergeming.

„Ah, aku telah tertutup dalam lubang rahasia ini, entah bagaimana dengan mereka berdua. Kalau mereka berdua dapat keluar, tentu dapat juga membuka alat penggerak lubang disini," pikirnya. Karena tiada lain pilihan, Ceng Ih terpaksa turun lagi dan menyusur jalan terowongan dibawah situ.

> ∞ <

Bagaimana dengan Tan He dan Wan-ji. Merekapun mengalami nasib seperti Ceng Ih. Untung Wan-ji membawa korek.

Merekapun terpaksa turun kebawah. Kira-kira tujuh puluhan tingkat, barulah mereka sampai di tanah datar.

„Ayuh kita maju terus, barangkali cici Peng disekap dalam terowongan sini!" kata Wan-ji.

Sembari meraba-raba barangkali terdapat sesuatu alat rahasia, Tan He menyahut: „Bagaimana kita ini? Kalau tiada orang yang menolongi, mungkin kita akan binasa disini. Mudah- mudahan engkoh Ih tidak tertutup dan dapat melepaskan,

........hai?"

Tiba-tiba Tan He berseru kaget demi melihat di ujung terowongan sana, tampak ada penerangannya. Berlarian mereka memburu dan serempak berteriaklah mereka dengan kaget-kaget girang: „Cici Peng!”

Memang disitu terdapat sebuah ruangan berdinding terali besi dan penghuninya bukan lain memang Peng-ji. Waktu Tan He dan Wan-ji pertama kali masuk kedalam terowongan dan saling bicara tadi, Peng-ji pun mendengarnya, namun dia tak menghiraukan karena mengira yang datang itu adalah kawanan penjaga. Maka betapa girangnya demi melihat siapa yang datang itu.

„Adik Wan, bila kau datang ke Lam-hay? Dimana ayahku

sekarang?” tanyanya.

Wan-ji coba menarik terali besi yang sebesar jempol tangan itu, tapi sedikitpun tak bergoncang.

„Mengapa terali besi ini begini kokohnya? Habis bagaimana ni?" serunya dengan gelisah.

„Anak tolol! terali itu terbuat dari baja, sudah tentu kau tak

mampu menggoyahkannya!" sahut Peng-ji.

„Habis, bagaimana daya kita sekarang?" Tan He pun

menyatakan kekuatirannya.

Peng-ji menunjuk pada sebuah lingkaran besi yang berada sekira dua meter dari terali besi situ, ujarnya: „Mungkin itulah alat penggeraknya, coba saja kalian putar!"

Dengan cekatnya, Tan He segera memutar lingkaran besi itu dan berbareng dengan bunyi berderek-derek, maka pintu terali yang menutup Peng-ji tiba-tiba naik keatas. Bagai seekor kelinci, Peng-ji cepat melesat keluar.

„Ayuh, kita keluar dari neraka sini!'' serunya menarik lengan

kedua nona.

Wan-ji tertawa kecut, sahutnya: „Ai, mau pergi kemana? Mulut lubang terowongan ini sudah ditutup dengan papan besi. Kecuali tunggu saja sampai nanti engkoh Ih membukanya, tak

nanti kita dapat keluar dari sini!”

„Dimana dia sekarang?" seru Peng-ji dengan kegirangan.

Tan He segera menuturkan dengan singkat pengalamannya tadi. Mendengar itu Peng-ji berjingkrak kegirangan, serunya:

„Karena hendak menolong mama, aku telah keliru masuk kelubang yang sebelah kanan sehingga dapat ditawan Lam-hay Ji-lo. Engkoh telah mengambil jalan yang benar, entah bagaimana nanti mama jika melihatnya ”

Tiba-tiba dia tertegun seperti teringat sesuatu, kemudian bertanya pada Wan-ji dengan gelisah: „Alat perkakas dimeja batu dalam ruangan atas, siapa yang menemukan?"

Wan-ji menunjuk pada Tan He Kongcu.

„Apakah kau yang menggerakkan alat perkakas itu?” tanyanya

kepada Tan He.

„Yang menemukan memang aku, tapi yang memutar adalah engkoh Ih," sahut Tan He. Nona ini merasa heran mengapa Peng-ji tampak begitu gelisah.

„Cara bagaimana dia memutarnya itu?" Peng-ji menegas pula.

„Dia memutarnya kesebelah kanan dan tiba-tiba kedua dampar itu menyiak kesamping!"

„Hanya begitu, tiada lain gerakan lagi ?” Peng-ji makin

gugup.

„Ti .... dak ,” sahut Tan He tak kurang kejutnya. Seketika wajah Peng-ji tampak berobah pucat.

„Celaka! Celaka! Kalian hanya main putar saja tak mau menyelidiki dulu yang jelas. Tahukah kalian apa akibatnya? Selain kita tetap akan tersekap disini selama-lamanya, pun mamaku akan mengalami nasib yang ngenas karena tak dapat lolos dari rendaman air yang kalian lepaskan itu ”

„Air? Air apa?" serempak Tan He dan Wan-ji berseru kaget.

Dengan nada rawan, Peng-ji menerangkan bahwa karena Ceng Ih hanya memutar ke satu arah, maka lantai kamar itu menjadi terbuka kemudian menutup lagi. Gerakan lantai itu justeru menyentuh lain alat perkakas yang menguasai terowongan air.

„Tiada sampai sepeminum teh lamanya, air pasti akan masuk kesini dan kelubang yang dimasuki engkoh Ih. Biarpun kita berlima mempunyai kepandaian menembus langit, tapi tak nanti dapat lolos dari penjara air ini" katanya.

Tan He dan Wan-ji baru mengerti persoalannya dan menjadi gelisah juga.

„Bagaimana kita sekarang ini? Ayah dan Swat-san Lojin masih bertempur dengan kedua Ji-lo, tak nanti dalam waktu singkat mereka akan depat datang kemari!" Wan-ji mengeluh.

Tiba-tiba Tan He berteriak dengan kaget: „Lekas, lekas naik

keatas undakan, air sudah mulai mengalir masuk!"

Ketiga nona itu bergerak dengan cepatnya untuk lari ke arah undakan, tapi rupanya air lebih cepat lagi. Waktu mereka dapat mendaki ke undakan, tak urung sepatunya pun kena kejilat air juga. Begitu pesat datangnya arus air itu, seolah-olah seperti dicurahkan dari dinding terowongan. Terowongan yang tadinya dijadikan tempat tahanan Peng-ji, kini sudah penuh dengan air.

Setingkat demi setingkat ketiga nona itu mendaki keatas undakan, namun arus airpun dengan cepatnya selalu mengejar naik. Dari tujuh puluh tingkat, kini mereka sudah mendaki sampai tingkat yang ke enam puluh lima–enam puluh enam, jadi tiga-empat tingkat lagi, mereka akan sudah menyundul langit papan besi yang menutup mulut lubang.

Keadaan makin tegang. Air tetap tak berkurang keganasannya. Sesenti demi sesenti, air terus membubung naik. Mula-mula kaki mulai terendam, lalu perut dan tak lama lagi tentu akan sampai kebatas dada. Ketiga nona itu rasakan tubuhnya ringan sekali, seperti orang mabuk arak .........

Peng-ji melirik kearah kedua kawannya. Didapatinya dalam wajahnya yang pucat itu, Tan He dan Wan-ji coba menguasai rasa ketakutannya dengan mengertak gigi. Peng-ji pun insyaf, bahwa mereka tak nanti dapat lolos dari air maut itu.

„Kita bertiga kakak beradik, walaupun tidak dilahirkan pada waktu yang sama, namun dapat meninggal dalam waktu yang sama. Marilah kita saling berpelukan, bersatu hati menghadapi kematian. Untuk hidup terang tak .... ada ...... harapan !"

Berpelukan ketiga nona itu dengan mesranya. Mereka sama meramkan mata seolah-olah sudah rela serahkan diri pada sang air. Air dengan tak kenal kasihan, tetap meluap naik. Habis menggenangi bagian dada, airpun terus merayap keatas leher. Habislah segala harapan .......... Tiba-tiba terdengarlah letusan yang hebat dan bumipun bergoncang. Gunung Ngo-ci-san kembali bekerja. Pulau Lam- hay-to diserang gempa bumi!

> ∞ <

Diceritakan, ketika Ceng Ih menyusur turun dari undakan, dia melihat di ujung terowongan sana tampak ada penerangan remang-remang.

„Ah, benar adik Peng dikurung disana!" pikirnya dengan lega.

Tiba disana, dia berhadapan dengan pagar dari terali besi. Dan ketika mengawasi kedalamnya, dia tegak membisu terlongong- longong.

Seorang wanita sekira berusia empat puluhan tahun, duduk bersila dilantai. Dia mengenakan pakaian serba hitam, rambut kusut masai, sepasang matanya pudar dan tubuhnya kering ringkai. Yang paling menggoncangkan perasaan Ceng Ih adalah wanita itu wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan Peng-ji!

„Ini tentulah mamanya Peng-ji, kuharus menanyai dan berusaha menolongnya!" secepat Ceng Ih berpikir begitu, terus dia coba mendorong terali besi itu. Tapi jangankan goyah, bergeming sedikitpun tidak. Dicobanya lagi menggempur sekuat-kuatnya, namun tetap sia-sia, kecuali hanya menerbitkan suara mendering saja.

„Anak muda, kau mau apa?" tiba-tiba wanita itu membuka mulut. Nadanya amat dingin. Rupanya dia merasa terganggu dengan gerak gerik Ceng Ih itu. „Maaf, bukan aku hendak mengganggu, melainkan hendak

mohon bertanya!" sahutnya.

„Tanya apa?" tegas wanita itu.

„Apakah lo-cianpwe ini bernama Coa Leng?" tanya Ceng Ih. Wajah wanita itu tampak tergetar sedikit, kemudian tertawa

mengikik: „Siapakah yang tak tahu aku bernama Coa Leng?

Rupanya kau ini orang baru!"

Tiba-tiba dia berhenti tertawa, biji matanya yang kering mengicup, lalu mengajukan pertanyaan: „O, kau tadi menyebut aku lo-cianpwe. Siapakah kau ini, anak muda?"

Dugaannya benar, Ceng Ih amat girang. Tergopoh-gopoh dia memberi keterangan: „Aku she Ceng dan datang bersama Swat-san Lojin ke Lam-hay sini. Sukalah lo-cianpwe segera memberi petunjuk bagaimana menggeser pagar terali besi ini."

Wajah Coa Leng yang tadinya sedingin es, kini tampak berseri. Cepat dia berbangkit dan menunjuk kearah besi lingkaran yang terpisah kira-kira dua meter dimuka terali besi itu, katanya

„Asal kau putar lingkaran itu, pagar besi ini akan menyingkap

keatas!"

Ceng Ih lakukan petunjuk itu dan benar juga terali besi segera menyingkap keatas. Coa Leng melangkah pelahan-lahan keluar. Tiba-tiba dia bertanya dengan nada gelisah: „Ceng .....

siaohiap, apakah mulut lubang rahasia ini sudah tertutup lagi dengan papan baja?"

Ceng Ih mengiakan dan mohon petunjuk pula. 30. Isteri Swat-san Lojin

Pukulannya berhasil, Bo-ang tambah bersemangat. Dia segera mencari tahu mana-mana anak buahnya yang perlu dibantu. Cepat dia melangkah kearah partai Ji-Sian-ong.

Sembari maju menghantam, dia suruh kedua Sian-ong itu mundur untuk mencari Tan He Kongcu.

Karena thian-ong muka hijau yang menjadi pemimpinnya kalah, ketiga thian-ong lainnya segera pecah nyalinya. Yang paling menyolok, adalah thian-ong muka merah yang menjadi lawan ketujuh Cincu dan thian-ong muka kuning yang kini sedang hendak diganyang Bo-ang Sancu. Sedang thian-ong muka putih, walaupun dikerubut oleh keempat Cuncia, namun masih dapat bertahan.

Ketujuh Cincu hendak membalas kekalahan mereka di Hin- peng-kwan tempo hari. Untuk merebut kemenangan dengan cepat, mereka gunakan permainan barisan pak-tou-ce.

Thian-ong muka merah itu, segera menjadi kalang kabut.

Sekali dia berayal, empat batang pedang segera menabur tubuhnya. Tanpa dapat berkutik lagi, thian-ong muka merah itu segera terkapar putus jiwanya!

Melihat itu, Bo-ang Sancu tertawa bangga, serunya: "Chit- Cincu, lekas gantikan Su-Cuncia agar mereka dapat menyusul Ji-Sian-ong mencari Kongcu!”

Ketujuh Cincu itu cepat memburu thian-ong muka putih yang menjadi lawan keempat Cuncia, siapapun lantas loncat keluar gelanggang terus menyusul kedua Sian-ong yang sudah menyerbu kedalam markas musuh.

Diantara kawanan Toa-thian-ong, kedua thian-ong muka putih dan kuning itu adalah yang paling lemah kepandaiannya. Berhadapan dengan Bo-ang dan ketujuh Cincu sudah tentu nasib mereka tinggal tunggu saat saja. Kedua Ji-lo pun mengetahui hal itu, namun mereka tak dapat berbuat apa- apa.

Sesaat kemudian, dari arah markas sana terdengar hiruk pikuk orang bertempur. Anak buah markas Lam-hay-bun kocar kacir tak keruan diserbu oleh tiga buah rombongan musuh yang lihay. Lam-hay-bun yang didirikan dengan jerih payah selama berpuluh tahun. dalam sekejap saja tampaknya akan hancur berantakan!

Selagi kedua Ji-lo itu resah gelisah memikirkan nasib markasnya, tiba-tiba terdengarlah suara ledakan yang teramat dahsyat, bumipun terasa bergoncang. Saking gemparnya, jago-jago yang tengah bertempur itu sama terhenti. Baru setelah ledakan itu reda, mereka mulai bertempur lagi mati- matian .............

> ∞ <

Dengan beberapa loncatan, tibalah Ceng Ih bertiga dimuka markas Lam-hay-bun. Menyerbu kedalam pos kesatu, tiada tampak perlawanan sama sekali. Mereka terus melangkah kehalaman pos kedua. Rupanya disitu adalah tempat anak buah Lam-hay-bun bermusyawarah. Gedungnya besar, ruangannya luas, alat perabotannya terbuat dari kayu jati yang halus. Tapi disitupun tiada tampak barang seorangpun jua.

„Tidak kunyana kalau markas Lam-hay-pay sedemikian megahnya. Kalau mencari dengan cara begini, mana kita dapat menemukan adik Peng?" kata Ceng Ih.

Wan-ji jebikan bibir lalu menarik tangan Tan He diajak masuk terus, katanya: „Aku tak percaya kalau disini tak ada orangnya sama sekali. Ayuh, kita tangkap salah seorang dari mereka untuk diperiksa keterangannya!"

Baru ia berkata begitu atau dari luar sana segera muncul seratusan lebih orang lelaki. Mereka kebanyakan hanya murid angkatan ketiga dari Lam-hay-pay. Dengan rapi mereka mengepung Ceng-Ih bertiga, terus mencabut senjata hendak menyerang.

„Rupanya mereka bukan bangsa lemah, biar kupersen dulu dengan sebuah hantaman. Kalian berdua boleh merebut dua buah senjata dan membekuk salah seorang. Paksa dia supaya memberi keterangan!" kata Ceng Ih.

Ratusan anak buah Lam-hay-bun itu memecah diri dalam empat jurusan. Waktu melihat rombongan dari sebelah kiri sudah maju paling dekat, Ceng Ih tekuk tangannya kiri dalam gerak beng-kun-han-san-ho.

„Trang, trang,” senjata berkerontangan dan tujuh-delapan orang segera rubuh menggelepar ketanah sambil merintih kesakitan.

Laksana gerak kucing menerkam tikus, Tan He dan Wan-ji cepat menyambar dua buah senjata dari orang-orang yang terkapar rubuh itu. Malah Wan-ji yang tangkas, sudah dapat menyeret salah seorang yang terluka itu.

„Cici He, ayuh kita menyingkir ketempat yang sepi dulu untuk mengorek keterangan dari orang ini. Engkoh Ih, kau tetap bertahan disini saja!" seru nona itu.

Sepuluhan orang coba mengejar Wan-ji dan Tan He, tapi Ceng Ih segera memberi persen lagi dengan sebuah tinju beng-kun. Mereka pontang panting rubuh disana sini. Anak buah Lam-hay-bun yang terdiri dari seratusan orang itu jeri melihat kedahsyatan tinju si anak muda. Mereka tak berani mendesak rapat, melainkan mengepung dan berteriak- teriak.

Saat itu, kedua Sian-ongpun datang, Ceng Ih terkejut.

Pikirnya, Tan He tak boleh bertemu dengan kedua Sian-ong itu karena tentu dibawanya pulang. Juga kedua Sian-ong itu bercekat demi melihat Ceng Ih. Tapi baru mereka hendak ngacir, Ceng Ih sudah membentaknya: „Tahan!"

Dan dengan teramat gesitnya, Ceng Ih sudah loncat kemuka mereka. Kedua Sian-ong itu terpaksa meringis dan menghias bibir dengan kata-kata ramah:

„Ai, kebenaran sekali! Kami belum keburu membantu Ceng siaohiap, maafkan !”

„Kini kita bersatu menolong Kongcu. Orang-orang ini kuserahkan pada kalian, maaf, aku hendak mengerjakan yang penting!" seru Ceng Ih seraya terus melesat kedalam gedung.

Karena jeri, kedua Sian-ong itu hanya melongo saja.

Celakanya, anak buah Lam-hay-bun segera menyerangnya, terpaksa kedua Sian-ong itu mengamuk. Untung keempat Cuncia lekas datang dan terus membantunya Diamuk oleh kedua Sian-ong dan keempat Cuncia, ratusan anak buah Lam- hay-bun itu menjadi kocar kacir.

> ∞ <

Seperti dituturkan diatas, sewaktu Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu tengah bertempur dengan Lam-hay Ji-lo, mereka terpaksa berhenti karena kaget mendengar ledakan dahsyat. Hal itupun dirasakan juga oleh kedua Sian-ong dan keempat Cuncia itu. Begitu hebat ledakan itu, hingga gedung situ tergetar keras seperti mau roboh, pintu dan jendela- jendela sama berkereotan mau copot. Yang dikeroyok dan yang mengeroyok sama tertegun berhenti. Tak tahu mereka apa yang telah terjadi.

Sementara Ceng Ih yang sudah lepas dari kepungan segera menerobos kedalam gedung. Tiba-tiba Tan He Kongcu bersama Wan-ji lari keluar dari ruang ketiga. Tan He segera menyeret tangan Ceng Ih seraya berseru dengan gopoh:

„Lekas, lekas! Cici Peng berada dikamar rahasia dibawah tanah. Orang itu tadi mengatakan bahwa ledakan dahsyat itu adalah dari perut gunung. Ngo-ci-san adalah gunung berapi, tiap tahun tentu meletus beberapa kali. Sebelum terjadi ledakan besar, kita harus sudah dapat menolong cici Peng!"

„Dimana kamar rahasia itu?" tanya Ceng Ih.

Wan-ji yang lari disebelah muka segera menyahut bahwa kamar rahasia di bawah tanah itu berada di ruang kelima.

Ceng Ih cepat mengikuti kedua nona itu. Melintasi ruang keempat, mereka tiba disebuah tempat yang luas penuh ditumbuhi bunga dan pohon-pohonan. Bahkan ada juga air sumber dan batu-batu aneh. Sungguh sebuah tempat pertapaan yang suci. Dengan dipelopori oleh Tan He, Ceng Ih dan Wan-ji masuk kedalam pintu yang kedua.

Gedung nomor lima itu, adalah tempat tinggal Lam-hay Ji- lo. Keadaannya amat bersih. Ruangannya hanya seluas satu tombak lebih. Meja tulisnya penuh dengan buku-buku, vas bunga dan lukisan-lukisan yang indah. Dua helai dampar (permadani bundar) terbentang dilantai, rupanya tempat untuk bersemadhi.

Ceng Ih keisengan. Dibuka-bukanya buku-buku itu satu persatu. Tiba-tiba dia mendapatkan segulung surat undangan warna merah. Waktu dibacanya, dia tertawa lalu menyimpannya kedalam baju.

Tan He dan Wan-ji tengah membungkuk memeriksa kaki sebuah meja batu. Rupanya mereka tengah mencari sesuatu. Ceng Ih menanyakan apa sebabnya.

„Jangan ribut, kita tengah mencari alat perkakas kamar rahasia itu!"

„Apa? Jadi markas Lam-hay-bun sini dipasangi alat rahasia?" Ceng Ih menegas dengan kaget.

Saat itu tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat lagi. Bahkan kali ini lebih gempar dari yang tadi, dan lebih lama juga.

Ruangan situ menjadi goncang, bumi seolah-olah bergetar, sehingga saking kagetnya Ceng Ih jatuh terduduk diatas dampar.

Tapi untuk kegirangannya, Tan He kedengaran berseru dengan riangnya: „Ini disini!"

Ceng Ih cepat loncat menghampiri. Ternyata dibawah permukaan meja batu itu terdapat sebuah besi lingkaran yang besarnya hampir sama dengan kepalan tangan. Ceng Ih menggerakkannya dan seketika terdengar bunyi alat perkakas berderekan.

Ceng Ih mengawasi kesekeliling dan wajahnya tampak berobah. Dua buah dampar tadi dengan cepatnya bergerak menyibak kesamping. Dua buah lubang bundar segera tampak dilantai situ.

„Hai, dibawah terdapat titian (undak-undakan) batu, terang disitu terdapat jalan terowongan!" teriak Ceng Ih seraya menghampir ke lubang yang sebelah kiri. 

„Yang inipun ada undakan dan terowongannya juga!" seru Wan-ji yang memeriksa lubang sebelah kanan.

Tan He mengeluh, karena bingung hendak turun ke lubang yang mana. Tapi Ceng Ih segera mengusulkan supaya mereka berpencaran menuruni kedua lubang itu. Karena tak ada lain jalan, Tan He menyetujuinya.

Begitulah Tan He dan Wan-ji turun kedalam lubang sebelah kanan, sementara Ceng Ih kelubang yang kiri.

Baru turun dua puluhan tingkat, tiba-tiba terdengar bunyi berderetan dan penerangan dimulut lubang menjadi padam, gelapnya bukan kepalang. Terpaksa Ceng Ih harus menyulut korek dan kembali mendaki keatas.

Astaga kiranya mulut lubang dari mana dia masuk tadi,

kini tertutup oleh papan besi yang tebal. Dia coba mendorong sekuat-kuatnya, namun papan besi itu sedikitpun tak bergeming.

„Ah, aku telah tertutup dalam lubang rahasia ini, entah bagaimana dengan mereka berdua. Kalau mereka berdua dapat keluar, tentu dapat juga membuka alat penggerak lubang disini," pikirnya. Karena tiada lain pilihan, Ceng Ih terpaksa turun lagi dan menyusur jalan terowongan dibawah situ.

> ∞ <

Bagaimana dengan Tan He dan Wan-ji. Merekapun mengalami nasib seperti Ceng Ih. Untung Wan-ji membawa korek. Merekapun terpaksa turun kebawah. Kira-kira tujuh puluhan tingkat, barulah mereka sampai di tanah datar. „Ayuh kita maju terus, barangkali cici Peng disekap dalam terowongan sini!" kata Wan-ji.

Sembari meraba-raba barangkali terdapat sesuatu alat rahasia, Tan He menyahut: „Bagaimana kita ini? Kalau tiada orang yang menolongi, mungkin kita akan binasa disini.

Mudah-mudahan engkoh Ih tidak tertutup dan dapat melepaskan, hai?"

Tiba-tiba Tan He berseru kaget demi melihat di ujung terowongan sana, tampak ada penerangannya. Berlarian mereka memburu dan serempak berteriaklah mereka dengan kaget-kaget girang: „Cici Peng!”

Memang disitu terdapat sebuah ruangan berdinding terali besi dan penghuninya bukan lain memang Peng-ji. Waktu Tan He dan Wan-ji pertama kali masuk kedalam terowongan dan saling bicara tadi, Peng-ji pun mendengarnya, namun dia tak menghiraukan karena mengira yang datang itu adalah kawanan penjaga. Maka betapa girangnya demi melihat siapa yang datang itu.

„Adik Wan, bila kau datang ke Lam-hay? Dimana ayahku sekarang?” tanyanya.

Wan-ji coba menarik terali besi yang sebesar jempol tangan itu, tapi sedikitpun tak bergoncang.

„Mengapa terali besi ini begini kokohnya? Habis bagaimana ni?" serunya dengan gelisah.

„Anak tolol! terali itu terbuat dari baja, sudah tentu kau tak mampu menggoyahkannya!" sahut Peng-ji.

„Habis, bagaimana daya kita sekarang?" Tan He pun menyatakan kekuatirannya. 

Peng-ji menunjuk pada sebuah lingkaran besi yang berada sekira dua meter dari terali besi situ, ujarnya: „Mungkin itulah alat penggeraknya, coba saja kalian putar!"

Dengan cekatnya, Tan He segera memutar lingkaran besi itu dan berbareng dengan bunyi berderek-derek, maka pintu terali yang menutup Peng-ji tiba-tiba naik keatas. Bagai seekor kelinci, Peng-ji cepat melesat keluar.

„Ayuh, kita keluar dari neraka sini!'' serunya menarik lengan kedua nona.

Wan-ji tertawa kecut, sahutnya: „Ai, mau pergi kemana? Mulut lubang terowongan ini sudah ditutup dengan papan besi. Kecuali tunggu saja sampai nanti engkoh Ih membukanya, tak nanti kita dapat keluar dari sini!”

„Dimana dia sekarang?" seru Peng-ji dengan kegirangan.

Tan He segera menuturkan dengan singkat pengalamannya tadi. Mendengar itu Peng-ji berjingkrak kegirangan, serunya:

„Karena hendak menolong mama, aku telah keliru masuk kelubang yang sebelah kanan sehingga dapat ditawan Lam- hay Ji-lo. Engkoh telah mengambil jalan yang benar, entah bagaimana nanti mama jika melihatnya ”

Tiba-tiba dia tertegun seperti teringat sesuatu, kemudian bertanya pada Wan-ji dengan gelisah: „Alat perkakas dimeja batu dalam ruangan atas, siapa yang menemukan?"

Wan-ji menunjuk pada Tan He Kongcu.

„Apakah kau yang menggerakkan alat perkakas itu?” tanyanya kepada Tan He. „Yang menemukan memang aku, tapi yang memutar adalah engkoh Ih," sahut Tan He. Nona ini merasa heran mengapa Peng-ji tampak begitu gelisah.

„Cara bagaimana dia memutarnya itu?" Peng-ji menegas pula. „Dia memutarnya kesebelah kanan dan tiba-tiba kedua dampar itu menyiak kesamping!"

„Hanya begitu, tiada lain gerakan lagi ?” Peng-ji makin

gugup.

„Ti .... dak ,” sahut Tan He tak kurang kejutnya.

Seketika wajah Peng-ji tampak berobah pucat.

„Celaka! Celaka! Kalian hanya main putar saja tak mau menyelidiki dulu yang jelas. Tahukah kalian apa akibatnya? Selain kita tetap akan tersekap disini selama-lamanya, pun mamaku akan mengalami nasib yang ngenas karena tak dapat lolos dari rendaman air yang kalian lepaskan itu ”

„Air? Air apa?" serempak Tan He dan Wan-ji berseru kaget. Dengan nada rawan, Peng-ji menerangkan bahwa karena

Ceng Ih hanya memutar ke satu arah, maka lantai kamar itu menjadi terbuka kemudian menutup lagi. Gerakan lantai itu justeru menyentuh lain alat perkakas yang menguasai terowongan air.

„Tiada sampai sepeminum teh lamanya, air pasti akan masuk kesini dan kelubang yang dimasuki engkoh Ih. Biarpun kita berlima mempunyai kepandaian menembus langit, tapi tak nanti dapat lolos dari penjara air ini" katanya.

Tan He dan Wan-ji baru mengerti persoalannya dan menjadi gelisah juga. 

„Bagaimana kita sekarang ini? Ayah dan Swat-san Lojin masih bertempur dengan kedua Ji-lo, tak nanti dalam waktu singkat mereka akan depat datang kemari!" Wan-ji mengeluh.

Tiba-tiba Tan He berteriak dengan kaget: „Lekas, lekas naik keatas undakan, air sudah mulai mengalir masuk!"

Ketiga nona itu bergerak dengan cepatnya untuk lari ke arah undakan, tapi rupanya air lebih cepat lagi. Waktu mereka dapat mendaki ke undakan, tak urung sepatunya pun kena kejilat air juga.

Begitu pesat datangnya arus air itu, seolah-olah seperti dicurahkan dari dinding terowongan. Terowongan yang tadinya dijadikan tempat tahanan Peng-ji, kini sudah penuh dengan air.

Setingkat demi setingkat ketiga nona itu mendaki keatas undakan, namun arus airpun dengan cepatnya selalu mengejar naik. Dari tujuh puluh tingkat, kini mereka sudah mendaki sampai tingkat yang ke enam puluh lima–enam puluh enam, jadi tiga-empat tingkat lagi, mereka akan sudah menyundul langit papan besi yang menutup mulut lubang.

Keadaan makin tegang. Air tetap tak berkurang keganasannya. Sesenti demi sesenti, air terus membubung naik. Mula-mula kaki mulai terendam, lalu perut dan tak lama lagi tentu akan sampai kebatas dada. Ketiga nona itu rasakan tubuhnya ringan sekali, seperti orang mabuk arak .........

Peng-ji melirik kearah kedua kawannya. Didapatinya dalam wajahnya yang pucat itu, Tan He dan Wan-ji coba menguasai rasa ketakutannya dengan mengertak gigi. Peng-ji pun insyaf, bahwa mereka tak nanti dapat lolos dari air maut itu. „Kita bertiga kakak beradik, walaupun tidak dilahirkan pada waktu yang sama, namun dapat meninggal dalam waktu yang sama. Marilah kita saling berpelukan, bersatu hati menghadapi kematian. Untuk hidup terang tak .... ada ...... harapan !"

Berpelukan ketiga nona itu dengan mesranya. Mereka sama meramkan mata seolah-olah sudah rela serahkan diri pada sang air. Air dengan tak kenal kasihan, tetap meluap naik.

Habis menggenangi bagian dada, airpun terus merayap keatas leher. Habislah segala harapan ..........

Tiba-tiba terdengarlah letusan yang hebat dan bumipun bergoncang. Gunung Ngo-ci-san kembali bekerja. Pulau Lam- hay-to diserang gempa bumi!

> ∞ <

Diceritakan, ketika Ceng Ih menyusur turun dari undakan, dia melihat di ujung terowongan sana tampak ada penerangan remang-remang.

„Ah, benar adik Peng dikurung disana!" pikirnya dengan lega.

Tiba disana, dia berhadapan dengan pagar dari terali besi.

Dan ketika mengawasi kedalamnya, dia tegak membisu terlongong-longong.

Seorang wanita sekira berusia empat puluhan tahun, duduk bersila dilantai. Dia mengenakan pakaian serba hitam, rambut kusut masai, sepasang matanya pudar dan tubuhnya kering ringkai. Yang paling menggoncangkan perasaan Ceng Ih adalah wanita itu wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan Peng-ji! „Ini tentulah mamanya Peng-ji, kuharus menanyai dan berusaha menolongnya!" secepat Ceng Ih berpikir begitu, terus dia coba mendorong terali besi itu. Tapi jangankan goyah, bergeming sedikitpun tidak. Dicobanya lagi menggempur sekuat-kuatnya, namun tetap sia-sia, kecuali hanya menerbitkan suara mendering saja.

„Anak muda, kau mau apa?" tiba-tiba wanita itu membuka mulut. Nadanya amat dingin. Rupanya dia merasa terganggu dengan gerak gerik Ceng Ih itu.

„Maaf, bukan aku hendak mengganggu, melainkan hendak mohon bertanya!" sahutnya.

„Tanya apa?" tegas wanita itu.

„Apakah lo-cianpwe ini bernama Coa Leng?" tanya Ceng Ih.

Wajah wanita itu tampak tergetar sedikit, kemudian tertawa mengikik: „Siapakah yang tak tahu aku bernama Coa Leng? Rupanya kau ini orang baru!"

Tiba-tiba dia berhenti tertawa, biji matanya yang kering mengicup, lalu mengajukan pertanyaan: „O, kau tadi menyebut aku lo-cianpwe. Siapakah kau ini, anak muda?"

Dugaannya benar, Ceng Ih amat girang. Tergopoh-gopoh dia memberi keterangan: „Aku she Ceng dan datang bersama Swat-san Lojin ke Lam-hay sini. Sukalah lo-cianpwe segera memberi petunjuk bagaimana menggeser pagar terali besi ini."

Wajah Coa Leng yang tadinya sedingin es, kini tampak berseri. Cepat dia berbangkit dan menunjuk kearah besi lingkaran yang terpisah kira-kira dua meter dimuka terali besi itu, katanya „Asal kau putar lingkaran itu, pagar besi ini akan menyingkap keatas!"

Ceng Ih lakukan petunjuk itu dan benar juga terali besi segera menyingkap keatas. Coa Leng melangkah pelahan- lahan keluar. Tiba-tiba dia bertanya dengan nada gelisah:

„Ceng siaohiap, apakah mulut lubang rahasia ini sudah

tertutup lagi dengan papan baja?"

Ceng Ih mengiakan dan mohon petunjuk pula.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 30 : Isteri Swat-san Lojin"

Post a Comment

close