Panji Sakti Bab 09 : Siapa Hoa Tan Kongcu?

Mode Malam
9. Siapa Hoa Tan Kongcu?

Diketahuinya bahwa sekalipun terputus hubungannya dengan Hoa Tan, namun dia menjurus kearah yang dikehendaki. Dan lebih girang pula dia, demi diketahui perjalanan sehari itu ternyata jauh lebih cepat dari dua hari yang lalu. Diam-diam dia membatin, dengan menempuh perjalanan secara begitu, walaupun kini waktunya hanya tinggal dua puluh enam hari, namun dapat juga kiranya mencapai Swat-san dan pulang tepat pada waktunya.

Seorang diri Ceng Ih masuk kekota Bun-hi-koan situ, Kala itu rumah-rumah penduduk sudah sama menyalakan lampu. Dia merasa amat lelah sekali. Benar perjalanan hari itu, dilakukan dengan cepat sekali, namun kalau beberapa hari berjalan secara begitu, rasanya dia tentu akan mati konjol. Dari cepat sebaliknya dia malah akan merayap.

Memikir sampai disitu, dia merasa gemas dengan gadis pencuri kuda itu, ujarnya dalam hati: „Aku tak mempunyai suatu permusuhan padanya, mengapa dia membikin susah diriku. Ah, entah dimana adanya Hoa Tan siangkong itu, jangan-jangan diapun berada dalam kota ini!”

> ∞ < Adalah pada saat dia memikirkan diri pemuda she Tan itu, ternyata pemuda itupun Baru saja langkahkan kakinya masuk kedalam kota situ. Tiba-tiba ditempat gelap, berkelebat sesosok bayangan yang lari dengan amat pesatnya. Kuatir kalau tubrukan, Hoa Tan mundur selangkah, Tapi anehnya ketika melalui dimuka Hoa Tan, orang itu hentikan larinya. Dia awasi Hoa Tan dari ujung kaki sampai keatas kepala. Hoa Tan diam-diam bersiap-siap. Sekali lirik dia tahu kalau orang itu mengerti ilmu silat.

Orang itu tampak anggukkan kepala, ujarnya: „Rasanya hanya seorang siangkong macam begini yang layak memiliki kuda bagus itu!"

„Apa katamu?” buru-buru Hoa Tan bertanya.

Orang itu tertawa gelak-gelak, serunya: „Bukankah hengtay kehilangan seekor kuda bagus? Mari ikut aku!"

Orang itu bersikap aneh, namun Hoa Tan tak jeri. Sekali Loncat dia hadang orang itu, serunya: „Berhenti, harap omong yang jelas dahulu!”

Orang itu agak terkesiap melihat kelincahan Hoa Tan, namun pada lain saat dia tertawa, katanya: „Apa-apaan ini. Aku bermaksud baik mengajakmu mencari kuda, masakan kau salah paham?"

Nada ucapan orang itu sangat berkesan sekali, maka dengan agak sungkan Hoa Tan menyambut: „Atas kebaikan hengtay itu, aku percaya penuh. Tapi kudaku itu dicuri orang bukannya sendiri. Kita belum pernah berkenalan, tapi mengapa hengtay tahu kalau aku kehilangan kuda, tentunya ada orang lain yang memberitahukan!" Kembali orang itu tertawa lebar, ujarnya: „Benar, dugaanmu itu tepat sekali! Memang ada orang yang memberitahukan padaku, kata orang 'tak sampai sepeminum teh lamanya, tentu ada seorang siangkong kemari, memakai kain kepala yang berhiaskan batu permata, mengenakan pakaian sutera dan wajahnya seperti seorang gadis' ”

Selebar warna merah memenuhi wajah Hoa Tan. Tapi demi melihat sikap orang itu bersungguh-sungguh, dia cepat-cepat berseru: „Harap bawa aku kesana!"

Orang itupun segera ayunkan langkah masuk kedalam kota.

Ketika menikung dua buah jalan, timbullah kecurigaan Hoa Tan. „Berhenti!" serunya sembari hentikan langkah.

Orang yang berjalan disebelah muka itu menoleh. Dengan tertawa dia berseru: „Siangkong tentunya bercuriga bukan? Aku telah menyanggupi permintaan seorang yang jujur. Kalau siangkong bersangsi, itulah bukan salahku. Sesungguhnya aku tak berani menelantarkan urusan siangkong yang penting itu!"

Mendengar itu, Hoa Tan cepat hilangkan keraguannya. Dia tahu orang itu mencurigakan sekali, namun dia tak gentar.

Untuk menyelidiki keadaan orang itu, biarlah dia turut barang kemana dibawanya.

„Sudah tentu aku tak berani mensia-siakan kebaikanmu itu, silahkan terus berjalan lagi!" katanya dengan tertawa kecil.

Orang itu bergelak, serunya: „Bagus itulah yang kuharapkan. Nah, disebelah muka itu adalah rumahku. Kuda istimewa milik siangkong itu, berada dalam istal belakang!"

Menurut arah yang dituding, Hoa Tan melihat pada sebelah utara jalan ada sebuah gedung. > ∞ <

Adalah pada saat Hoa Tan diajak masuk kota orang aneh itu, disana Ceng Ihpun mengalami peristiwa yang aneh.

Karena letihnya, dia ingin sekali mencari tempat penginapan. Sembari berjalan, dia mencari-cari sebuah penginapan.

Mengawasi kearah utara jalan, didapatinya disitu ada sebuah rumah hotel besar dengan tiga buah pintu. Tetamunya amat banyak, penerangannya pun terang benderang. Tiga buah huruf yang menghias papan dimuka hotel itu berbunyi „Sun An Ki.”

Baru Ceng Ih melangkah masuk, tiba-tiba ada seseorang menyongsong datang. Orang itu mengawasi tajam-tajam pada Ceng Ih. Saking kagetnya, Ceng Ih menyurut selangkah.

Namun orang itu member: hormat dengan sepasang tangannya, ujarnya: „Yang datang ini bukankah Ceng-ya (tuan Ceng)?"

Dalam herannya mengapa orang itu kenal namanya, buru- buru Ceng Ih mengiakan pertanyaan orang itu. Maka orang itu tampak berkilat, katanya: „Sungguh kebenaran sekali, aku dapat tepat menyambut. Silahkan Ceng-ya masuk kedalam!"

Dalam berkata itu, orang tak dikenal itu menunjuk kearah hotel Sun An Ki. Namun Ceng Ih tak mau angkat kakinya, melainkan ajukan pertanyaan lebih dahulu: „Tunggu dahulu. Kita belum saling kenal, maka tentu ada sebabnya mengapa hengtay menyambut kedatanganku ini Harap mengatakan yang jelas!!"

Kembali orang itu tertawa menggelak, ujarnya: „Itulah apa! Kalau aku tak mau bilang, tentu Ceng-ya akan salah mengerti. Ya, ya, cobalah lihat apa itu!" Menuruti arah yang ditunjuk orang itu, Ceng Ih dapatkan diluar hotel sana tampak ada seekor kuda berbulu emas ditambatkan pada tiang.

„Kuda say-cu-hoakah?" serunya dengan kegirangan. Benar dia belum melihat sendiri bagaimanakah keadaan kuda yang disebut say-cu-hoa itu. Namun karena berkali-kali mendengar Siang-hui dan Hoa Tan bicara kelihayan kuda berbulu kuning emas itu, dia segera percaya kalau kuda berbulu kuning emas itu tentulah say-cu-hoa adanya.

„Benarlah kuda say-cu-hoa. Itulah kuda yang ditinggalkan untuk diberikan pada Ceng-ya!" menerangkan orang itu.

„Tentulah pemuda she Hoa itu yang menyediakan untukku,” pikir Ceng Ih. Dengan berseri girang dia bertanya:

„Entah dimanakah beradanya Hoa Tan siangkong itu sekarang?"

Kini tampak orang tak dikenal itu terbeliak. Dengan gelengkan kepala dia menyahutnya: „Apakah yang kaumaksudkan orang yang meninggalkan kuda itu disini? Orang itu kecuali bukan seorang siangkong pun bukan seorang pria!"

Ceng Ih tertawa besar, ujarnya: „Memang telah kuduga dia itu bukan seorang pria, melainkan seorang gadis yang menyaru. Tolong tanya, dimanakah dia sekarang ini?

Orang itu kembali gelengkan kepala menyahut: „Peristiwa aneh, sungguh aneh! Harap Ceng-ya suka ikut padaku!" Habis berkata dia terus memutar tubuh. Tapi dia tak masuk kedalam hotel melainkan menghampiri ketempat kuda itu. Dari pelana kuda, diambilkan segulung kertas kecil, katanya: „Silahkan Ceng-ya baca sendiri, tentu akan mengetahuinya!" Setelah menyambuti, Ceng Ih buru-buru membukanya, Baru sang mata melekat pada surat itu, wajahnya mengunjuk seri kegirangan besar. Buru-buru dia memberi hormat kepada orang itu, serunya: „Terima kasih, aku hendak berangkat sekarang juga!"

Begitu menuntun kuda keluar, dia segera menceplaknya dan terus dilarikan balik! Jadi bukan menuju kebarat daja

melainkan kembali kearah timur lagi. Dengan meringkik laksana seekor naga, kuda say-cu-hoa itu mencongklang keras. Karena tak bersiap, hampir saja Ceng Ih tersentak jatuh, buru-buru dia dekap tali kendali erat-erat dan oleh sebab itu secarik kertas tadi jatuh ketanah. Hal ini tak dirasa oleh Ceng Ih karena kuda mencongklang keras.

Orang yang tak dikenal tadi memungut kertas itu. Ketika dibuka, ternyata berisi tulisan berbunyi sebagai berikut:

'Ketololan yang menggelikan, tak dapat memperbedakan laki perempuan. Sejak dahulu yang cantik itu adalah Hoa (bunga), dibawah bunga Tan (bo-tan) ada He (embun). Dia ditawan orang, lekas menuju balik.’

Enam baris syair itu ditulis dengan huruf yang indah.

> ∞ <

„Silahkan!" kata Hoa Tan sementara itu menyilahkan seorang lelaki berjalan, demi mereka saling berpapasan.

„Kongculah yang kami persilahkan!" sahut orang itu sembari tertawa.

Wajah Hoa Tan berobah kaki menyurut selangkah, tangannya dilintangkan kedada, bentaknya: „Siapa kau ini!" Orang itu kembali bergelak-gelak, ujarnya: „Cara kongcu mengubah nama, memang amat cerdik sekali. Namun dari dahulu sampai sekarang, bunga itu nanti tetap cantik adanya. He, he, kongcu, betapapun kau hendak menyamar, tetap takkan dapat mengelabuhi mata kaum persilatan tua. Lihatlah, berapa banyak orang yang sudah menanti disini!"

Kata-kata itu disusul dengan berkelebatnya sosok bayangan. Hai, itulah Chit-Cincu! Kini Tan Hoa sudah jelas akan persoalannya. Segera dia mencabut kain kepalanya. Seuntai rambut yang gampyok memanjang, segera menjulai keatas bahunya. Seketika hilanglah perwujudannya sebagai seorang siangkong. yang ada kini adalah seorang nona yang cantik.

„Benar, memang aku Tan He kongcu, kalian mau apa?" tanya nya menantang ke tujuh Cincu yang sudah menghunus pedang itu.

Tersapu oleh sorot mata Tan He yang cantik, ketujuh Cincu itu tersurut mundur selangkah. Benar Tan He kongcu kesalahan besar karena sudah menolong Ceng Ih dari tahanan Han-tham hingga menerbitkan kemarahan Bo-ang Sancu, namun mengingat kongcu itu adalah puteri kesayangan pemimpinnya, jadi biar bagaimana ke tujuh Cincu itu tetap enggan juga.

Sebagai seorang nona yang cerdas. Tan He tahu juga apa yang dikandung dalam hati ketujuh orang bawahan ayahnya itu, Katanya dengan tertawa dingin: „Nah, kalian hendak bagaimana?"

Membarengi orang terpikat perhatiannya, secepat kilat Tan He Kongcu gerakan tangannya hendak lolos. Namun sekalipun sungkan mendesak, ketujuh Cincu itu tetap menjaganya rapat- rapat. Dua orang bang berada dibelakangnya, cepat hadangkan pedangnya mencegatnya, Tan He terpaksa mundur kembali.

Seorang Cincu tua yang berada dihadapannya, memberi hormat berkata: „Untuk kesalahan kongcu itu, Sancupun sudah tak marah lagi. Seorang Ciam-kim kongcu, mana boleh lama-lama berkelana didunia persilatan? Silahkan ikut kami pulang ke Siao-ngo-tay-san saja!"

„Walaupun mendapat perintah, tetapi kami masih merasa sungkan, maka harap kongcu ikut pulanglah!" keenam Cincu lainnya turut membujuk.

Tan He cukup kenal siapa dan betapa kelihayan ke tujuh Cincu itu. Kalau pedang mereka bertujuh bersatu padu, jangan harap dia dapat loloskan diri. Namun iapun cukup yakin, bahwa ketujuh Cincu itu tentu takkan melawan keras-keras padanya. Diiring oleh tertawa sinis, ia cabut pedangnya dan menyerang beberapa kali ke kanan kiri, muka belakang.

Beruntun-runtun sepuluh kali dia lancarkan serangannya.

Namun ke tujuh Cincu ternyata tak bernama kosong.

Serempak mundur berbareng, mereka lalu ber-putar-putar seperti sebuah poros. Tujuh bilah pedang merupakan lingkaran pagar yang tak tertembuskan. Lihay sekalipun serangan Tan He, namun selalu terbentur dengan pedang lawan. Dan karena lwekang ketujuh Cincu amat tinggi, tangan Tan Hepun menjadi kesemutan. Apa boleh buat, terpaksa ia menarik pulang pedangnya lagi. Ketujuh Cincu itupun tak mendesak, mereka hanya tetap lintangkan pedangnya menjaga.

Salah seorang dari mereka yang berusia tua dan mengenakan jubah merah, berkata dengan tersenyum- senyum: „Sukalah kiranya kongcu pertimbangkan nasehat kami tadi. Biarpun kami takkan mencelakai kongcu, namun kongcupun jangan harap dapat meloloskan diri!"

Tan He hanya dapat mengertak gigi saking geramnya.

Orang yang pertama menghadangnya tadi, dilihatnya berdiri pada jarak dua tombak disebelah sana. Orang itu tampak tertawa-tawa dengan puasnya. Kini Tan He hendak tumpahkan kemarahannya kepada biangkeladi itu. Begitu memutar tubuh, ia timpukkan pedangnya kearah orang itu.

Sekedar untuk menilai kepandaian Tan He kongcu, dapatlah digambarkan begini. Kalau bersatu, memang ia tak sanggup melawan ke tujuh Cincu. Tapi jika satu lawan satu, jangan harap ke tujuh Cincu itu dapat menang. Memang dibawah asuhan Bo-ang, ia telah menjadi seorang pendekar wanita yang lihay.

Timpukannya tadi, selain menggunakan seluruh tenaganya juga dilancarkan dengan amat cepatnya. Adalah karena Tan He dihadang oleh dua orang Cincu, jadi orang itu merasa aman. Maka dia menjadi gugup setengah mati, demi pedang sudah datang menyambar. Cepat dia berusaha mengindar, tapi tak urung pundaknya termakan, darah memancur keluar.

„Aduh,” orang itu berteriak kesakitan.

„Tak terduga, kiranya kaupun seorang lelaki keras!” ejek Tan He dengan mendengus tawar.

Kaki orang itu goyah, namun tubuhnya tetap tegak.

Sekalipun pundaknya terluka, dia malah tertawa gelak-gelak.

„Ayuh, berangkat. Aku akan ikut kalian pulang, coba saja hendak mengapakan diriku!" tiba-tiba Tan He mengucap dengan kerengnya. Sewaktu Tan He menyerang orang tadi, ke tujuh Cincu itu tetap lingkarkan pedangnya. Mereka terkesiap waktu mendengar ucapan Tan He yang tak terduga-duga itu. Tadi bersikap keras, mengapa kini berobah haluan secara tiba-tiba.

> ∞ <

Kita tinggalkan dahulu mereka untuk mengikuti perjalanan Ceng Ih. Diatas punggung kuda say-cu-hoa, Ceng Ih rasakan seperti terbang diatas awan. Kala itu haripun sudah gelap.

Pesatnya lari kuda itu, menyebabkan pohon-pohon yang dilaluinya bagaikan bayang-bayang hitam yang lari mundur.

„Sejak dahulu yang cantik itu hanyalah bunga, dibawah bunga Bo-Tan, terdapat tetesan He. Ah, memang aku sudah mempunyai dugaan akan hal itu. Hoa Tan siangkong itu, kiranya memang Tan He kongcu sendiri,” demikian Ceng Ih melamun seorang diri. Karena girang dengan penemuan itu, dia berbalik menjadi gelisah sekali.

Tiba-tiba dia hentikan kudanya karena mendengar ada derap kaki kuda dari kejauhan. Dari suaranya, terang kalau terdiri dari beberapa ekor kuda yang dilarikan dengan amat pesatnya.

„Ha, kiranya benar apa yang diperhitungkan oleh orang yang memberi kisikan padaku itu. Tapi siapakah orang yang diam-diam mengisiki itu? Sigadis yang mencuri kuda say-cu- hoa inikah?” kata Ceng Ih seorang diri.

Oleh karena derap kuda itu makin dekat, buru-buru dia perintah kudanya bersembunyi dibalik pohon. Berselang sepeminum lamanya, tampak ada delapan ekor penunggang kuda lari mendatangi. Mereka ialah rombongan Chit-Cincu, tiga dimuka dan empat orang dibelakang. Ditengahnya adalah Tan He kongcu. Baik ke tujuh Cincu yang siap menghunus pedang itu, maupun Tan He yang mengunjuk kejengkelan hati, sama membisu.

Tiba-tiba kuda yang berada dimuka sendiri meringkik sembari angkat kakinya keatas. Cincu yang menunggangnya itu cepat menyerukan kawan-kawannya supaya awas. Cepat dua orang Cincu yang menunggang kuda dibelakangnya, maju kekanan dan kiri sementara dua Cincu yang berada dibelakang segera maju kedepan. Dalam sekejap saja, mereka mengepung Tan He.

Sesaat ke tujuh Cincu itu menjaga keras Tan He, tiba-tiba terdengarlah suara seorang tua berseru dengan nada parau:

„Tujuh babi kotor, aku siorang tua ini malas turun tangan. Jangan banggakan kepandaianmu berbaris macam begitu. Malam ini ada lain orang yang menggantikan aku memberesi kalian. Buyung, keluarlah!"

Ke tujuh Cincu itu masing-masing memiliki kepandaian tinggi. Berbareng dengan kudanya menjadi terkejut tadi, Cincu yang menunggangnya segera melihat ada sesosok bayangan melesat. Namun begitu cepat bayangan itu berkilat, hingga dia tak sempat melihat jelas. Sebagai seorang persilatan kawakan, cepat-cepat dia menyerukan kawan-kawannya supaya siap sedia.

Namun demi mendengar suara orang yang tak ketahuan arah datangnya itu, kejut mereka bukan olah-olah. Cepat Cincu yang kudanya binal tadi memberi isyarat dengan pedang dan mereka bertujuh segera loncat turun dari kudanya. lalu siap palangkan pedang kemuka dada. Sebaliknya dengan tertawa tawar, Tan He tetap duduk diatas kudanya.

„Ceng Ih berada disini!” sekonyong-konyong ada seorang penunggang kuda muncul menghadang. Munculnya anak muda itu secara mendadak, makin membuat kejut ketujuh Cincu menjadi-jadi. Benar yang bersuara tadi seorang tua dan bukan anak muda itu. namun ketujuh Cincu itu pernah merasakan kelihayan dari ilmu sam- ciau si anak muda. Tanpa merasa, ketujuh Cincu itu sama kedengaran mengeluh.

Sebaliknya Ceng Ih tumpahkan pandangannya kearah Tan He saja. Sembari angkat tangan memberi hormat, dia berseru tersenyum: „Harap kongcu maafkan Ceng Ih yang tak bermata ini. Baru kini kuketahui bahwa Hoa Tan siangkong itu adalah kongcu sendiri adanya!”

Tan He tundukkan kepala kemalu-maluan.

„Mengapa tak turun tangan, Buyung, apakah kau sudah limbung?” sekonyong-konyong dari atas sebatang pohon yang tumbuh ditepi jalan kedengaran ada seorang berseru mangkal.

Berbareng dengan seruan itu, Ceng Ih rasakan bahunya didorong orang, hingga dia tersurung kemuka. Ceng Ih terkejut. Dengan perpaduan ketujuh pedang itu, dia bersangsi apakah dapat menjebolkannya. Namun karena didorong maju, cepat juga dia lancarkan pukulan kay-cu-na-si-mi. Begitu pukulan dilancarkan, begitu tubuhnya loncat kesamping.

Walaupun sudah melakukan formasi barisan Chit-sing (tujuh bintang), namun pukulan kay-cu-na-si-mi itu teramat saktinya, maka kuda-kuda kaki ketujuh Cincu itu menjadi tergempur. Formasi tujuh bintang itu, menjadi kacau balau. Tapi berbareng pada saat itu, Tan He larikan kudanya menyerbu kesebelah kanan, masuk kedalam lingkaran samberan pukulan Ceng Ih tadi.

Pada saat itu sebenarnya Ceng Ih sudah hendak susuli lagi dengan pukulan tangan kiri, tapi demi tampak Tan He masuk kedalam lingkaran, dia cepat tarik pulang serangannya itu. Dan ini berarti suatu kesempatan bagus hilang dengan sia-sia.

Baru Ceng Ih tarik pulang serangannya, tiga Cincu yang berada disebelah kanan sudah cepat menutup lubang barisannya yang jebol tadi Ceng Ih tertawa keras dan terus hendak gerakkan tangan kanan. Tapi tiba-tiba kedengaran Tan He meneriakinya dengan cemas: .,Lekas mundur, jangan sampal kena dikepung mereka!"

Ceng Ih tersadar. Teringat dia akan pertempuran ditepi telaga tempo hari itu. Walaupun itu waktu dia sudah mendapat warisan ajaran sam-ciau namun sukar juga untuk mengundurkan ketujuh Cincu itu. Memang ilmu perpaduan pedang dari ketujuh Cincu itu, tak boleh dipandang enteng.

Tapi dikarenakan dia agak berayal merenungkan hal itu, ketujuh Cincu itu sudah bergerak dengan lincahnya. Tiga Cincu sudah menyelinap loncat kebelakang, sementara yang empatpun menyusul siap menurut posisinya masing-masing. Mereka bergerak secara serentak, cepat dan tepat.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Musuh Dalam Selimut (Hui Hong Tjiam Liong)] akan diupload pada pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 09 : Siapa Hoa Tan Kongcu?"

Post a Comment

close