Panji Sakti Bab 03 : Bo-ang Sancu

Mode Malam
3. Bo-ang Sancu

Ceng Ih tercengang, tampak dia gelisah, katanya: „Supeh, rumah ini dengan tepi telaga hanya beberapa meter saja jaraknya. Musuh sudah di depan mata, kita sudah terkurung, masakan masih ”

„Duduk!" bentak Tiam-lam-ping-siu dengan dingin, „nak muda, duduk sajalah. Biarpun hanya terpisah beberapa meter, tapi bagi mereka berarti ribuan li jauhnya, tahu! Benar pondok ini tiada berdinding, tapi pada hakekatnya dilingkungi dengan tembok beton yang berkerangka besi. Nanti kau akan mengetahui sendiri. Sudah jangan takut, duduklah!"

Ceng Ih masih setengah bersangsi, namun dia duduk juga.

Thian-lam-ping-siu duduk dengan wajah kereng memasang indera pendengarannya. Pada lain saat dia menunjuk kearah tepi telaga, berkata: „Nah, itulah dia si durjana sudah muncul, kau lihatlah!”

Ceng Ih buru-buru mengawasi kearah tepi telaga. Dan apa yang di saksikan betul-betul membuatnya kagum terhadap sang supeh itu. Ternyata pendengaran jago buta itu tak kalah awasnya dengan mata yang melek.

Begitu rombongan Chit Cin-cu turun kedarat, maka keempat gadis dayang yang berdiri dimuka pintu tirai ruang perahu itu, sama berlutut. Dari dalam ruang perahu muncullah seorang yang mengenakan jubah merah bersulam benang emas. Perawakan orang itu gemuk pendek, alisnya berbentuk segi tiga. Wajah biasa tiada mempunyai ciri-ciri yang luar biasa. Itulah dianya, si Bo-ang Sancu, pemimpin dari kawanan gunung Siao-ngo-tay-san! Satu-satunya yang tampak luar biasa, ialah terletak pada kedua matanya yang memancarkan sinar berapi-api. Sinar yang dapat meruntuhkan nyali orang.

Begitu muncul, pemimpin itu mengacungkan kedua tangannya keatas, maka siraplah semua bebunyian seruling, terompet dan harpa. Rombongan anak buahnya yang sudah siap menunggu didarat, sama diam hikmat. Suasana hening lelap seketika

Ceng Ih makin tegang. Dia percaya apa yang diucapkan oleh supehnya tadi. Kalau tidak demikian, masakan pihak musuh menjadi diam, seperti terkejut. Sekalipun begitu, perasaannya tetap gelisah.

„Anak muda, tahukah kau akan asal usul Bo-ang Sancu kembali Thian lam-ping-siu berkata.

Dengan tak lepaskan mata kearah tepi telaga, Ceng Ih menyahut: „Supeh, ketika suhu akan menutup mata, beliau suruh siaotit mengucapkan sumpah, begitu upacara penguburan beliau selesai, siaotit harus bernaung dibawah Panji Sakti untuk menghancurkan Bo-ang Sancu. Siaotit dititahkan mencari supeh untuk menyampaikan pesan beliau: 'Bercerai runtuh, bersatu teguh'. Dengan tandas beliau menyatakan sesal se-besar-besarnya akan kesalahan beliau. serta memesan wanti-wanti agar siaotit jangan sampai mengulangi kesalahan itu lagi, sehingga menjadi orang yang berlumuran dosa seumur hidup!"

Waktu menceritakan tentang kematian suhunya itu. Ceng Ih berlinang-linang air matanya. Dengan terhiba-hiba dia meneruskan ceritanya: „Sewaktu mengucapkan wejangannya itu, suhu sudah payah keadaannya jadi tak sempat menuturkan tentang diri Bo-ang Sancu itu."

Sewaktu Ceng Ih bercerita itu, disana tampak Bo-ang Sancu masih berdiri diburitan perahu. Sepasang matanya berkilat-kilat memancarkan api. Memandang kearah pondok, wajahnya menampilkan kegelisahan. Sesaat kemudian momok itu tertawa nyaring-nyaring, serunya: „Itu hanya permainan siluman dari Ping-kui (setan sakit) saja, harap kalian jangan takut!" — Dan setelah itu, dia segera memberi perintah:

„Ayuh, lekas siap di masing-masing tempatmu!”

Terompet berbunyi diatas batu karang, tubuh berseliweran malang melintang. Warna warni bayangan dari kawanan Chit Cin-cu serempak mengepung pondok itu.

„Wahai Ping-kui, mengapa tak lekas-lekas serahkan Panji Sakti?" seru Bo-ang Sancu dengan nyaring gemerinting.

„Ai, apakah benar-benar durjana itu tak mencari aku, melainkan Panji Sakti? Panji Sakti, dimanakah Panji keramat itu?" Ceng Ih berkata seorang diri.

Pada saat itu diluar pondok sudah rapat dikepung oleh musuh. namun Thian-lam-ping-siu tetap tenang saja, ujarnya:

„Anak muda. teruskan ceritamulah!”

Sikap yang begitu tenang dari jago buta itu, menimbulkan pengaruh kepada Ceng Ih. Katanya dengan terharu: „Ketika siaotit menanyakan tentang nama supeh, suhu sudah tak dapat berkata-kata lagi ”

Mendengar itu, dua butir air mata menitik turun dari sepasang mata yang sudah buta dari jago tua itu.

„Jadi, jadi begitu sajalah dia meninggalkan aku?" ujarnya dengan tergetar.

„Beliau kukebumikan di Thian-lo, setelah itu siaotit mengembara mencari Panji Sakti dan menyirapi tempat tinggal supeh,” kata Ceng Ih, "tapi karena sejak kecil siaotit sudah mengikut suhu di gunung Thian-lo-san, jadi siaotit tak pernah tahu mana-mana. Juga selama di gunung itu, siaotit tak pernah berjumpa barang seorang tetamu dari suhu, pun beliau tak pernah mengomongkan tentang siapa-siapa.

Didalam mencari jejak supeh itu, siaotit hanya menurutkan saja kemana kaki siaotit mengayun langkah!"

Bercerita sampai disini, semangat Ceng Ih meluap-luap, tak lagi dia cemas akan kedatangan Bo-ang Sancu yang sudah berada diambang pintu itu. Dia melanjutkan pula: „Tapi setiap kali siaotit mengemukakan Panji Sakti itu, tokoh-tokoh persilatan yang siaotit ajak bicara itu tentu mengetahui dan mengunjuk sikap menghormat sekali. Mereka mengatakan: 'Panji keramat itu lahir dipertengahan pemerintah Lam Song. Oleh karena suasana negeri kacau balau, kawanan durjana malang melintang menindas rakyat, maka tokoh Hoa-he Hi-hu yang termasyhur budiman dan luhur budi, mengumpulkan para orang gagah. Tujuan persekutuan orang gagah itu ialah untuk membasmi kawanan pengacau dan berjuang membela negara, tapi ternyata malah salah urus. Didalam persekutuan itu telah timbul perpecahan sendiri, akibatnya negara makin kacau, dunia persilatan dilanda banjir darah ” „Mereka terpecah belah, masing-masing mendirikan partai dan golongan. Pertentangan partai dan golongan makin tajam. Lupa sudah mereka bahwa ilmu silat itu sumbernya serumpun, lupa sudah mereka bahwa tujuan ilmu silat itu untuk melindungi diri dari serangan musuh, membela kepentingan rakyat jelata yang tertindas dan menjadi pandu negara yang gigih. Berebut-rebut mereka mencari pengaruh dan kedudukan, sehingga akibatnya kaburlah pandangan mereka dari prinsip utama. Negara terancam bahaya dari musuh luar dan rakyat menjadi makin apatis (ketakutan) dirongrong kekalutan," Thian-lam-ping-siu memberi komentar yang tajam.

Sekeliling pondok sudah dikepung rapat-rapat oleh musuh.

Kedelapan gadis berpakaian putih sama tegak berdiri agak jauh dengan mencekal harpa dan serulingnya. Kedua Ji Sian- ong siap disebelah timur, keempat Cun-cia dibarat, ketujuh Chit Cin-cu dibelakang pondok membelakangi karang. Tegang meregang meliputi sekeliling tempat situ.

Tiba-tiba Bo-ang Sancu tertawa keras. Dengan rangkapan kedua tangan didada dia berjalan mengitari pondok, tapi terpisah kira-kira enam-tujuh tombak jauhnya dari rumah itu. Keempat Hui mengikut dibelakang, Bo-ang Sancu memamerkan kepandaiannya. Setiap tanah yang bekas diinjak, tentu meninggalkan bekas yang dalam dan menimbulkan getaran yang keras. Pondok menjadi gograk (terguncang) dibuatnya. Ceng Ih terperanjat tapi Thian-lam- ping-siu malah tertawa dingin, ujarnya: „Dengan pameran itu, terang durjana itu masih jeri padaku. Anak muda, biarlah dia menjajaki keadaanku, sekarang aku hendak melanjutkan bercerita:

„Hoa-he Hi-hu bukan melainkan hanya seorang tokoh budiman yang gagah perwira, pun dia seorang pemimpin yang berjiwa besar. Untuk mengatasi pertentangan partai dan golongan itu, dia mengundurkan diri dari pergaulan ramai untuk menciptakan suatu ilmu silat yang maha-guna. Dan segala aliran cabang persilatan, diambilnya bagian-bagian yang indah, disatukan, disempurnakan dan dilebur menjadi sebuah ilmu silat saja. Setelah berpuluh tahun meyakinkannya, meskipun hasilnya hanya terdiri dari tiga jurus, namun mempunyai daja-guna yang tiada taranya.

Dahsyat melebihi kerasnya baja, halus melebihi lemasnya ular. Setelah berhasil, dia mengundang pada kaum gagah di seluruh penjuru negeri untuk mengadakan musyawarah besar di gunung Hoasan."

Ceng Ih amat ketarik dengan penuturan itu. Dia menyatakan getunnya karena dulu-dulu tak dilahirkan, jadi tak dapat menyaksikan musyawarah besar itu.

Thian-lam-ping-siu melanjutkan ceritanya: „Mengetahui bahwa dalam musyawarah besar itu nanti akan dibentuk suatu persekutuan penting, maka para ketua dari cabang persilatan sama mengirimkan rombongan utusan pilihan. Benar juga dalam musyawarah itu, telah diputuskan mengangkat pimpinan persekutuan dengan cara adu kepandaian. Siapa yang paling sakti, dialah yang berhak duduk sebagai pemimpin. Ketika perebutan seru itu mencapai klimaksnya, maka tampillah Hoa-he Hi-hu dengan tiga jurus ilmunya silat yang istimewa itu. Alhasil tunduklah semua tokoh-tokoh partai persilatan. Dalam upacara peresmian pembentukan persekutuan besar itu, Hoa-he Hi-hu mengeluarkan sehelai Panji yang berlukiskan sebuah hati berwarna merah diatas dasar putih. Panji itu disebut Tan-sim-ki atau Panji Sakti. Dia mengucapkan ikrar: „Budiperilaku, keperwiraan luhur, kebaktian dan kesetiaan adalah menjadi soko guru dari azas dan susila kaum persilatan. Kesemuanya ini harus dipegang teguh. Kita kaum persilatan harus bersatu dibawah naungan Panji Sakti". Mendengar itu Ceng Ih termangu, tanyanya: „Supeh, ilmu silat itu tentu tak dapat diukur dalamnya. Masakan tokoh- tokoh yang hadir dalam musyawarah besar itu, tiada ada yang sakti dalam ilmu lwekang dan gwakang? Bagaimana kesaktian dari ilmu silat tiga jurus ciptaan Hoa-he Hi-hu itu sehingga dapat menundukkan seluruh gelanggang? Dan setelah Hoa-he Hi-hu menghilang, apakah tiada ahliwarisnya? Apakah ilmu silat tiga jurus itu tiada diturunkan!”

Mendadak alis Thian-lam-ping-siu menjigrak, serunya dengan kereng: „Kai-cu-na-si-mi, sekali muncul dapat menguasai dunia persilatan, perbawanya dapat meriakkan sungai-sungai digunung. Kalau ingin menyaksikan betapa kedahsyatan ilmu silat tiga jurus itu, lihatlah ini!”

Habis mengucap, sekonyong-konyong jago buta itu mengangkat tangan dan mementang kelima jarinya. Belum lagi tangan itu menghantam atau disana terdengar terompet ditiup riuh. Kiranya itulah perintah Bo-ang Sancu yang pada saat itu sudah kembali ketepi telaga. Walaupun bunyi terompet itu menggema diangkasa, namun masih jelas kedengaran seruan nyaring dari pemimpin Siao-ngo-tay-san:

„Ping-kui, kau lekas menyerahkan Panji Sakti, semua- semuanya akan beres. Kalau mengira dengan memiliki ilmu permainan anak kecil semacam itu kau bakal dapat lolos, itulah ngimpi! He, he, kalau malam ini tak kuunjukkan sedikit permainan, tentu kau masih belum mengetahui kelihayanku!”

Pemimpin Siao-ngo-tay-san itu pentang kedua tangannya. lain menghantam kemuka. „Wut, wut, wut.” Tiga kali hantaman beruntun-runtun dia lancarkan.

Ceng Ih buru-buru pasang kuda-kuda, tangan kiri dilindungkan kedada, lalu dengan gugup berkata: „Supeh, ilmu pukulan biat-gong-ciang dari Bo-ang Sancu hebat sekali, dapat dilancarkan dari jarak enam-tujuh tombak! Siaotit pernah jatuh ditangannya!”

Wajah Thian-lam-ping-siu mengerut dalam, serunya:

„Perhatikan baik-baik, inilah yang disebut ilmu kai-cu-na-si-mi itu!”

Kelima jarinya tadi dirapatkan, telapak tangan dimaju- surutkan dan hai pukulan lwekang Bo-ang Sancu yang

begitu dahsyatnya, menjadi sirna seketika!

„Supeh, jadi kau kau mewarisi tiga jurus itu dan memiliki Panji keramat!” seru Ceng Ih kejut-kejut girang.

Mimik wajah Thian-lam-ping-siu riang lepas, disusul dengan gelak terbahak-bahak: „Hoa-he Hi-hu menambahkan amanatnya: 'Sejak ini, suhu wajib mengajar muridnya, orang tua wajib, mendidik putranya. Alami berjalan menurut kodratnya. Cara untuk menyempurnakan tata susila hidup, tak lain ialah dengan kesucian hati!" Setelah berusia lanjut, Hi-hu memilih ahliwaris yang bakal menerima pelajaran ilmu silat tiga jurus itu dan menjaga Panji Sakti. Dalam tiga turunan, akhirnya akulah yang menerima beban itu sekarang! Anak muda, perhatikanlah, inilah yang disebut jurus beng-kun-han- san-ho!”

Dengan mengatakan jurus beng-kun-han-san (ilmu pukulan me ledakkan gunung dan sungai), Thian-lam-ping-siu gerakkan tangan kiri menghantam keatas. Diluar pondok sebelah timur sana segera terdengar letusan macam gunung meletus, dibarengi dengan jerit teriakan yang memecah bumi. Kiranya setelah tiga buah biat-gong-ciang dihancurkan oleh pukulan sakti kai-cu-na-si-mi dari Thian-lam-ping-siu, maka menjeritlah Bo-ang Sancu dengan marahnya. Sekali dia acungkan tangan kanan, maka keempat Cun-cia tadi segera maju menyerang kehalaman pondok itu dengan senjata hong- pian-jannya. Tapi cukup dengan hantamkan tangan kiri dalam jurus beng-kun-han-san-ho tadi, keempat Cun-cia itu terpental jatuh pontang panting!

Bukan kepalang kejut Ceng Ih. Katanya seorang diri:

„Sekalipun ilmu pukulan peh-poh-sin-kun (pukulan sakti pada jarak seratus langkah), tetap tak dapat mengimbangi kedahsyatan dari beng-kun-han-san-ho ini. Benar-benar inilah pukulan yang dapat meledakkan gunung dan menggoncangkan sungai!”

Saat itu Thian-lam-ping-siu kembali gerakkan tangan kanan, serunya: „Apa tidak tahu kalau aku masih mempunyai rasa kasihan? Ayuh, lekas mundur tidak!"

Lemah sekalipun suara jago buta itu, namun kumandangnya jauh menggema sampai puluhan li jauhnya. Ceng Ih leletkan lidah. Ketika itu baru terbuka matanya akan luasnya dunia ilmu silat yang tiada batasnya itu. Mengawasi kearah gerakan tangan supehnya itu, didapatinya disana kedua Ji Sian-ong itu tersurut mundur macam langkah orang mabuk yang gentayangan.

Ji Sian-ong atau dua orang malaekat penjaga gunung Siao- ngo-tay-san, adalah tokoh-tokoh yang tinggi ilmu lwekangnya. Namun menghadapi jurus beng-kun-han-san-ho itu, mereka tetap tak kuat bertahan. Bagaimanakah Ceng Ih tak menjadi girang karenanya? Katanya lagi seorang diri: „Hi, kiranya bukan mustahillah kalau tiga jurus itu dapat menundukkan seluruh tokoh persilatan!"

Sebaliknya Thian-lam-ping-siu kedengaran menghela napas dan pada lain kejap kembali dia kambuh menjadi seperti seorang tua yang berpenyakitan lagi. Biji matanya kembali terselubung warna putih, dia seperti mengenangkan peristiwa yang telah lampau, ujarnya: „Setelah melalui tiga turunan ahliwaris, kini lohu menerima tugas berat melindungi Panji Sakti. Dengan hikmat dan kesujutan hati, lohu menerima warisan ilmu sakti itu. Karena insyaf akan beban yang maha berat itu, lohu selalu bersikap hati-hati sekali, tapi tak terduga

..........”

Mendadak Thian-lam-ping-siu putuskan ucapannya itu dengan rapatkan kedua tangannya kemuka dada, lalu dipentang keluar. Diluar sana kedua Ji Sian-ong dan keempat Cun-cia, kembali rubuh jatuh bangun!

„Anak muda, waktunya sudah tinggal sedikit, dengarkanlah baik-baik,” kata Thian-lam-ping-siu melanjutkan penuturannya. „Tidak nyana, pada masa itu, suhumu yakni suteku yang masih berusia muda, karena kurang pengalaman telah kena diomongi Bo-ang Sancu yang mengatakan bahwa sebenarnya dialah (Bo-ang Sancu) yang berhak menjadi ahliwaris Panji Sakti itu. Aku dituduh menggunakan tipu untuk mengangkangi kedudukan sebagai pemimpin kaum persilatan. Begitu mereka berdua dengan membawa kedua Ji Sian-ong, keempat Cun-cia, dan ketujuh Chit Cin-cu itu sama datang meminta pertanggungan jawab kepadaku. Suhumu, sedikitpun tak mengetahui isi hati Bo-ang Sancu yang culas, maka dengan tak sadar dia dipergunakan Bo-ang Sancu untuk mencelakai diriku, yakni supaja kedua mataku dibikin buta seperti sekarang ini ”

Benar suhunya yang berdosa, namun Ceng Ihpun merasa hina dan malu. Dalam bercerita tadi, Thian-lam-ping-siu tetap gerak-gerakan kedua tangannya untuk menahan arus serangan lawan dengan lwekangnya yang sakti itu.

„Supeh toh sudah mendapat warisan ilmu it-ciang, ji-ci, samkun (satu pukulan, dua tusukan jari dan tiga ilmu silat), mengapa tak mau memukul mereka yang hendak mencelakai supeh itu?” tanya Ceng Ih. 

Diiring dengan elahan napas yang memanjang, menyahutlah jago buta itu: „Pertama aku hendak memberi penerangan pada suhumu, jadi tak tega menurunkan tangan jahat. Juga disebabkan pada masa itu, aku baru saja menerima ajaran ilmu sakti itu jadi belum leluasa menggunakannya. Disamping itu, anak muda, tahukah kau siapa Bo-ang Sancu itu? Dia bukan lain adalah turunan keempat dari Hoa-he Hi-hu sendiri!"

„Keturunan Hoa-he Hi-hu sendiri?" Ceng Ih menegas dengan terkejut.

„Bapaknya seekor harimau tapi anaknya seekor anjing, itu memang tak jarang terjadi. Bo-ang Sancu berilmu tinggi, kedua Ji Sian-ong itu ahli-ahli lwekang yang kenamaan pada jaman itu, keempat Cun-cia itu jago-jago gwakang yang sukar dicari tandingannya, sedang ketujuh Chit Cin-cu itu masing- masing memiliki kepandaian yang istimewa. Setelah kedua mataku terbuta, terpaksa kugunakan ilmu sakti kai-cu-na-si-mi untuk meloloskan diri. Dengan membawa Panji keramat itu, aku lari ke daerah Lam-ciang!"

Serta merta berlututlah Ceng Ih dihadapan jago buta itu, ujar nya: „Akhirnya suhu tentu tersadar kalau dirinya dipergunakan oleh orang jahat, maka dia lalu mengganti nama dan mengasingkan diri tak mau turun selama-lamanya dari gunung Thian-lo-san. Dia sangat menyesal dan mengutuk dirinya sebagai seorang yang berlumuran dosa. Maka ketika menutup mata, suhu telah memerintahkan siaotit untuk mencari supeh dan menyampaikan penyesalannya itu.

Bernaung dibawah Panji Sakti dan hancurkanlah Bo-ang Sancu, demikian amanat beliau!”

Tiba-tiba Thian-lam-ping-siu gerakkan tangan kiri menghantam ke belakang. Ceng Ih kaget dan buru-buru loncat bangun menoleh kebelakang. Dibawah batu karang yang berada dibelakang pondok itu. tampak ada tujuh sosok bayangan berseliweran. Kiranya itu kawanan Chit Cin-cu yang hendak membokong dari belakang. Malah si cinjin yang berjubah wungu sudah angkat tangannya keatas siap hendak menggempur, tapi tiba-tiba tumpukan batu yang berada didekatnya situ, hancur lebur meletus berhamburan!

„Waktu makin mendesak sekali, anak muda, dengarkan lagilah baik-baik!" kata Thian-lam-ping-siu dengan wajah berat. „didaerah Lam-ciang aku menyembunyikan diri dan merawat mataku. Atas berkah cou-su (guru besar), dapatlah aku memahamkan ketiga jurus yang maha sakti itu. Benar Panji Sakti dapat kuselamatkan, tapi keadaanku sudah tak berguna lagi. Kedua mataku buta, tubuhku menderita luka- dalam yang berat dan semangatku makin loyo karena makin tua. Kewajiban berat untuk melindungi Panji keramat itu, rasanya tak dapat kupenuhi lagi. Akhirnya aku ambil putusan dengan membawa Wan-ji, bocah piatu yang kurawat berpuluh tahun yang lalu, untuk kembali ke Leng-san. Tapi takdir telah mempertemukan aku kepadamu, dengan begitu cita-cita kita takkan ludas!"

Nada ucapan Thian-lam-ping-siu makin memburu cepat. Sekonyong-konyong dia berseru keras-keras: „Kawanan iblis tak nanti dapat menangkan kaum putih. Siapakah kau ini, berani mengadu biru kemari!"

Mulut mengucap, tangan bergerak. Beng-kun-han-san-ho dan Si-mi-na-kai-cu, sekali gus dilancarkan. Seruling dan terompet serempak terdengar dibunyikan lagi. Didepan pondok, tampak sosok-sosok tubuh bersimpang siur dari empat jurusan. Letusan terdengar disana sini dan batu-batu susul menyusul mereka hancur. Bo-ang Sancu gerak-gerakkan kedua tangannya. Beberapa batu besar yang dekat disekitarnya sama hancur berantakan terpukul hancur. Dengan tertawa melengking nyaring, berserulah dia dengan suara mengguntur: „Benteng batu dari ping-kui sudah berserakan hancur, ayuh, lekas serbu dan ringkuslah setan buta itu!"

Tapi baru saja dia memberi komando itu, menderulah suatu gelombang tenaga. Sepasang tangan Sancu itu terbalik dan orangnyapun tersurut mundur ............

„Tugas suci akan turun padamu, Ceng Ih. Mengapa kau tak lekas-lekas berlutut!" seru Thian-lam-ping-siu.

Kejut dan girang Ceng Ih tak kepalang. Nyatalah supehnya itu hendak menurunkan warisan Panji Sakti dan ketiga jurus ilmu silat itu, kepadanya. Suatu tugas yang mulia tapi pun bukan main beratnya. Buru-buru Ceng Ih berlutut dihadapan supehnya itu. Saat itu diluar pondok terdengar pula gema letusan yang bergelora menggoncangkan nyali, namun dia tak ambil peduli.

Jago buta itu merogoh keluar sebuah bungkusan warna kuning, bentuknya menyerupai pipa bundar. Sekali dikebutkan, maka keluarlah secarik Panji yang berbentuk pesegi panjang. Warnanya kuning emas, pinggirnya disalut dengan kertas putih. Ditengahnya terdapat sebuah lukisan "hati" berwarna merah. Ditengah lingkar lukisan "hati" itu terdapat 4 buah huruf "su-wi" (4 dasar). Sedang diluar lingkaran lukisan itu tersulam huruf emas “pat-tek" (delapan budi susila). Itulah Panji Sakti, Panji keramat yang menjadi lambang supremasi dunia persilatan.

Dengan kedua tangannya Thian-lam-ping-siu menyongsong Panji keramat itu. Sikap berpenyakitannya, hilang seketika.

Dengan lantang berkatalah dia: „Jalan benar dalam kehidupan, adil dan makmur diseluruh jagad. Su-wi pat-tek, menjadi pedoman yang harus dijunjung. Hati nan merah, pokok utama menuju kesejahteraan!"

Habis mengucapkan amanatnya itu, Thian-lam-ping-siu berkata pula: „Ceng Ih, kau diwajibkan mengemban amanat tugas yang mulia, lekas terimalah Panji keramat ini!"

Dengan penuh kerendahan dan kesungguhan hati, Ceng Ih menyambut Panji keramat itu. Tiba-tiba tiang usuk pondok itu berkeretekan, seolah-olah hendak roboh. Angin menderu-deru membawa arus tekanan tenaga yang dahsyat. Namun kedua supeh dan sutitnya itu tetap tak mengacuhkan. Mereka tengah melakukan timbang terima yang amat penting.

„Dengan menerima Panji keramat ini, berarti kau memasuki keadaan yang penuh bahaya. Musuh-musuhmu selalu tak henti-hentinya mengintai. Namun kesemuanya itu harus kau hadapi dengan tabah dan penuh keyakinan. Jangan kau silau dengan gemerlapan emas, jangan kemaruk dengan pangkat, jangan lemah dengan paras cantik dan jangan tunduk pada ancaman jahat. Nah, sekarang hendak kuturunkan ke tiga jurus ilmu itu. Pelajarilah dengan giat, agar jangan sampai mengecewakan harapan kita!"

Sebelum Ceng Ih sempat mengiakan, Thian-lam-ping-siu sudah lekatkan tangannya kanan keubun-ubun kepala Ceng Ih dan mulutnya menempel ketelinga anak muda itu untuk membisiki rahasia ilmu sakti. Dalam pada itu, ancaman diluar pondok makin bergelombang. Berulang kali Bo-ang Sancu lepaskan hantaman biat-gong-ciang. sehingga batu-batu yang berserakan dihalaman pondok itu hancur rata dengan tanah. Kecemasan wajahnya seperti dikala baru turun dari perahu itu, kini tak tampak lagi. „Sekalipun Cukat Bu-hou (Cukat Liang) hidup lagi, tak nanti kuasa membendung aku". sumbarnya dengan tertawa bangga.

„Jangan ngimpi Barisan pat-tin-tho ini dapat menahan aku. Itu hanya soal waktu saja, biar si setan sakit itu dapat bernapas beberapa menit lagi. Kini lebih separoh bagian dari barisannya sudah hancur. Siang-hui, ikut aku menyerang bagian tengah. Kita langsung menyergap setan sakit itu. Yang lain-lain harus maju dua-dua, menggempur pintu siu, seng, siang, to, king, si, Keng, gui!"

Pat-tin-tho, adalah nama barisan batu yang mempunyai delapan pintu. Nama-nama pintu itu adalah seperti diatas itu. Bo-ang Sancu perintahkan anak buahnya yang berjumlah enam belas orang itu untuk menggempur. Jadi benarlah apa yang diduga Thian-lam-ping-siu, bahwa lawan sudah mengadakan persiapan yang lengkap. Diantara keempat Hui (selir), Siang-huilah yang paling disayang karena paling cantik. Wanita itu segera siapkan pedang dan mengikut. Mendadak Bo-ang Sancu lancarkan pula sebuah pukulan biat-gong-ciang. Setumpuk batu yang berada disebelah muka, hancur berantakan. Setelah itu, Bo-ang Sancu menyerbu maju!

Ketika Thian-lam-ping-siu lepaskan tangannya yang melekat diubun-ubun Ceng Ih itu, tampaknya dia amat lelah sekali. Dengan nada gemetar, dia berkata: „Peyakinanku selama berpuluh tahun itu, telah kucurahkan untuk membuka jalan darah jim-tok-ji-meh dan lubang hian-kwanmu. Itu berarti kau sudah menyelesaikan dasar-dasar pokok untuk meyakinkan ilmu sakti itu. Kini musuh sudah menghancurkan pat-tin-tho, dengan sisa tenaga masih dapatlah kutahan mereka untuk sementara saat. Lekas lakukan penyaluran napas menurut apa yang kuajarkan tadi!"

Dengan masih menyambuti Panji keramat itu, Ceng Ih duduk bersila. Tubuhnya membara panas, pada kedua pilingannya seperti memancarkan uap api. Sementara jago buta itu setelah sejenak mengumpulkan tenaganya, lalu berseru keras-keras dan lancarkan pula sebuah pukulan biat- san-to-hay (menghancurkan gunung membalikkan sungai)!

Bo-ang Sancu menyerang dengan gerak kilat, tapi demi menghadapi pukulan lwekang dari jago buta itu, dia tetap tak berani maju. Setelah kebutkan kedua lengan bajunya untuk menangkis, dia mundur lagi. Tapi dalam pada itu, keempat Cun-cia tadi sudah berhasil membobolkan pintu tho, terus bergelombang menyerang maju dengan senjatanya. Thian- lam-ping-siu balikkan tangannya kiri dan tekuk tangannya kanan. Dibarengi dengan semburan napas, dia pentang kedua tangannya itu. Keempat Cun-cia yang datangnya seperti air pasang dilautan itu, pun tersurut mundur seperti gelombang surut!

Kini kedua Ji Sian-ong berhasil masuk dari pintu king. Dengan memainkan pedangnya kedua orang itu hendak menyerbu masuk. Menyusul itu, Chit Cin-cu dan ketiga Hui (selir), masuk dari pintu-pintu keng, seng, siang, si dan gui. Datangnya serbuan mereka itu seperti serempak dalam satu saat.

„Lekas perhatikan, bagaimana cara mengambil napas dan menggerakkan pukulan Si-mi-na-kai-cu itu. Lihatlah dengan ilmu sakti itu kupukul mundur barisan durjana!" kata Thian- lam-ping-siu kepada Ceng Ih. Habis itu, dia terus lakukan gerakan memukul. Ketiga Hui, kedua Ji Sian-ong dan ketujuh Chit Cin-cu itu seperti ditiup arus tenaga yang tak kelihatan Kuda-kuda kaki mereka seperti tak mempunyai kekuatan lagi, tubuhnya sama sempojongan mau rubuh!

Sesuai dengan petunjuk supehnya, Ceng Ih segera menyalurkan napas dan lwekang. Dan berhasillah dia mempelajari inti sari ilmu sakti itu. Sudah tentu girangnya bukan kepalang. Sebenarnya seketika itu juga dia terus hendak mencobanya kepada musuh, tapi demi mendengar perintah supehnya, buru-buru pasang mata memperhatikan gerakan serangan dari supehnya itu.

Sesaat kemudian, Bo-ang Sancu maju menyerbu lagi. Setelah mengangkat tangan kiri, dengan napas terengah- engah Thian-lam-ping-siu berkata dengan bengis: „Beng-kun- han-san-ho dapat menghan¬curkan gunung dan sungai.

Awas! Demi mengingat Cousu maka sudah beberapa kali aku memberi ampun padamu. Ayuh, lekas enyah sana!”

„Wut,” sekali tangan Thian-lam-ping-siu bergerak, maka diluar pondok batu-batu sama beterbangan. Untung Bo-ang Sancu yang tahu lihay, buru-buru loncat mundur. Tapi Siang- hui yang kurang cepat, telah tersapu dan masuk kedalam tumpukan batu!

Tapi dalam pada itu, tampak kaki Thian-lam-ping-siu itu bergoyang-goyang. Setelah maju selangkah baru dia dapat berdiri jejak.

„Supeh kau kau telah gunakan lwekang membantu

aku, hingga tenagamu habis!" seru Ceng Ih dengan terkejut.

Napas jago tua itu makin memburu, namun dia menggeleng, ujarnya dengan nada makin sember: „Apa yang kau katakan itu hanya sebagian yang benar. Memang penyakitku sudah merasuk ke tulang. Gelaran ‘Ping-sit' itu, memang pada tempatnya. Tugas yang berat itu kuletakkan diatas bahumu, itu si Wan-ji, sudah bertahun-tahun ikut

aku. Selanjutnya kinipun kuserahkan padamu!"

Tiba-tiba dia kedengaran tertawa ngeri, serunya: „Cita-cita sudah tercapai, cita-citaku sudah terlaksana semua, apa yang kuharap lagi!" Setelah berhenti sejenak dia berseru lagi: „Ketika jurus ilmu sakti itu terdiri dari tiga pokok utama. Pukulan na-si-mi-kai-cu, kun (tinju) beng-kun-han-san-ho dan ci (tudingan jari) it-ci- ting-kian-gun (sebuah jari menyusun dunia). Ilmu sakti yang sejati terletak pada yang terakhir itu. Nah, lihatlah kupertunjukkan it-ci-ting-kian-gun itu!"

Thian-lam-ping-siu tegak berdiri. Sekali jari tangannya mencorat-coret seperti menggurat setengah lingkaran, maka meluncurlah beberapa letik sinar keudara dan pecah bergemerontangan bunyinya. Kawanan Chit Cin-cu dan ketiga Hui yang menyerbu lagi dari kelima pintu itu, segera terpental senjatanya! Ini saja karena Thian-lam-ping-siu masih menyimpan rasa kasihan, coba dia berlaku kejam, kelima orang itu tentu sudah kabur jiwanya. Sedemikian dahsyatlah kesaktian it-ci-ting-kian-gun!

Sebaliknja Ceng Ih makin resah gelisah. Karena setelah melancarkan lwekang itu, keadaan supehnya makin lemah. Pada hal kawanan durjana itu masih melakukan tekanannya seperti gelombang dilaut.

„Demi telah menerima tugas berat melindungi Panji Sakti, siaotit bersumpah akan melaksanakan amanat suci itu. Kalau sampai menyeleweng, biarlah siaotit binasa tak berkubur.

Wan-ji akan siaotit anggap sebagai adik sendiri, harap supeh legahkan hati. Tapi entah kemana gerangan perginya anak itu?" kata Ceng Ih.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 03 : Bo-ang Sancu"

Post a Comment

close