Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 04 : Dua sempoa

Mode Malam
BAB 4 Dua sempoa

Pejabat kota Xia Guan, Long Jian (Pedang naga) yang bernama Ning Zhi Qiu, memiliki 4 orang murid dan juga anak buah yang setia. Mereka sedang berpatroli melewati gang-gang kecil dan memasuki jalan raya. Selesai berpatroli di dekat rumahnya, dia melihat ada beberapa orang yang berdiri di sana. Setelah melihat dengan jelas Ning Zhi Qiu mengetahui jumlah mereka ada 7 orang, dan dia sudah mengerti maksud kedatangan mereka. Kabar datang dengan sangat cepat! Lebih cepat dibandingkan dengan kedatangan tujuh pembunuh itu. Tapi bila jujur dikatakan, gerakan ketujuh orang itu memang cepat, tadi sewaktu dia sedang berpatroli dia mendapatkan laporan dari mata- mata bahwa mereka akan kedatangan 7 orang pembunuh. Dia segera pulang untuk mengatur orang-orangnya setelah itu baru menemui Pendekar Huai Bei, Long Zhai Tian untuk merundingkan masalah ini. Tidak disangka ketujuh orang itu sekarang sudah berada di rumahnya.

Tampak Pangeran Jin mengangguk, Xi Wu Hou menyipitkan matanya» dan bertanya, "Apakah Tuan adalah si Pedang Tunggal, Pejabat Ning?"

Ning Zhi Qiu mengangguk.

Wajah Xi Wu Hou berubah. Dia mengambil panji Song kemudian diletakkan di tanah dan diinjak-injak, matanya dengan dingin menatap Ning Zhi Qiu.

Ning Zhi Qiu tidak bergeming, dia mendengar suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya, empat orang anak buah Ning Zhi Qiu pada saat itu ternyata sudah mencabut pedang mereka masing- masing. Hal ini dilakukan secara berbareng maka tampak seperti satu kali melakukannya. Setelah itu mereka lari ke depan rumah.

Ning Zhi Qiu membentak, "Jangan gegabah!"

Dengan tangannya dia menghalangi gerakan dua orang anak buahnya tapi kedua orang lainnya sudah terlanjur keluar, bentakan Ning Zhi Qiu membuat kedua orang itu terpaku. Pada saat mereka terpaku datang dua orang Mongolia dan anak buah Ning Zhi Qiu bentrok dengan mereka. Terdengar suara seperti tulang patah!

Ning Zhi Qiu tampak melotot, alisnya terangkat, dia segera mencabut pedangnya, dengan nada marah berkata, "Kau harus ganti dengan nyawamu!" Lalu dengan suara perlahan dia berkata pada dua anak buahnya, "Cepat, suruh Tuan Xin datang untuk menolongku!"

Dua anak buah Ning Zhi Qiu segera mengiyakan dan Ning Zhi Qiu sudah melayang ke depan mereka. Pedangnya seperti pelangi emas, terus mengarah pada Hu Shang Ge!

Hu Shang Ge tidak berani langsung menghadapi ilmu pedang Ning, dia tidak tahu

harus berbuat apa. Dia hanya bisa meraung dengan suara besar. Telapak tangannya yang sebesar kipas dikibaskan, dia ingin membuat Ning Zhi Qiu terpental dari sana!

Kedua anak buah Ning Zhi Qiu dengan cepat mundur dari sana, tapi Xi Wu Hou sudah mencium gelagat ini.

Begitu kedua anak buah Ning Zhi Qiu mau mundur, Xi Wu Hou sudah bergerak seperti sehelai kertas, terbang ke depan mereka  dan mencegah mereka pergi dari sana.

Salah satu dari mereka berkata, "Lao Qi (tujuh), cepat pergi dari sini!" Dia sudah mengangkat pedangnya dan menyerang Xi Wu Hou. Kesempatan ini dipergunakan oleh salah satu dari mereka melarikan diri!

Xi Wu Hou melayangkan tangannya, pedang itu sudah terpental, dia berbalik lagi dan mengejar anak buah Ning Zhi Qiu yang sudah melarikan diri dari sana.

Tapi anak buah Ning Zhi Qiu yang satu lagi sudah mendekatinya, dengan sekuat tenaga dia memeluk dengan erat tubuh Xi Wu Hou dan tidak memberikan kesempatan kepada Xi Wu Hou mengejar temannya. Orang yang bernama Lao Qi sudah berlari sampai ke dekat pintu, Xi Wu Hou sangat marah Tangannya menampar, anak buah Ning Zhi Qiu yang memeluknya dipukul sekeras-kerasnya. Organ tubuh anak buah Ning Zhi Qiu hancur karena pukulan keras Xi Wu Hou. Darah muncrat dari mulutnya mengenai wajah Xi Wu Hou. Tapi dia tetap tidak melepaskan pelukannya. Lao Qi yang sudah melarikan diri, kebetulan saat itu dia menoleh kebelakang, tujuannya ingin membantu saudaranya, tapi temannya yang masih memeluk Xi Wu Hou berteriak, "Jangan kembali, cepat pergi dari sini, cepat! Pejabat Ning lebih penting!"

Ning Zhi Qiu sudah mengangkat pedangnya, di tengah udara dia berhasil menghindari satu kali serangan, sekarang pedangnya berada di atas kepala Hu Shang Ge, baru saja dia ingin menusuk tidak disangka telapak tangan yang besar itu sudah memegang ujung pedangnya, ternyata yang memegang pedangnya adalah Hu Shang Ke.

Begitu Hu Shang Ke mencengkram pedang Ning Zhi Qiu dia segera menarik ke belakang!

Ning Zhi Qiu segera mengambil keputusan, dia melepaskan pedangnya dan menyentil! saat yang sama Hu Shang Ke membalikkan tubuhnya sambil menonjok!

Ning Zhi Qiu melepaskan pedangnya dan berhasil menghindari tonjokan itu, di tengah udara kakinya menendang, dan tendangannya mengenai nadi Hu Shang Ge!

Karena sakit Hu Shang Ge berteriak, kedua kakinya merapat, dia sudah tertendang sebanyak 6-7 kali. Karena sakit Hu Shang Ge terus mundur dan pedangnya direbut lagi oleh Ning Zhi Qiu! Tadi setelah Hu Shang Ke berhasil merebut pedang Ning Zhi Qiu dia merasa sangat senang, tidak disangka lawan malah berani melepaskan pedangnya, karena tubuhnya yang tidak seimbang, dia menjadi oleng dan mundur hingga 7-8 langkah, sekarang tampak kembali seberkas sinar pedang sudah sampai di hadapannya dan pedang itu ditusukkan ke perutnya, kulit Hu Shang Ke keras seperti tembaga, pedang itu hanya bisa menembus sedalam 3 inchi, setelah itu pedang tidak bisa menembus lebih dalam lagi.

Dalam keadaan bahaya ini, Ning Zhi Qiu telah berhasil melukai dua orang, dan dia berdiri dengan tegak, Da sudah melayang ke depan Xi Wu Hou!

Ternyata karena anak buah Ning Zhi Qiu tidak melepaskan pelukan pada Xi Wu Hou, dia benar-benar marah dan ingin menangkap anak buah Ning Zhi Qiu yang melarikan diri itu, sempoa besinya dipukul ke kepala orang yang memeluknya hingga pecah dan orang itu mati seketika. Walaupun kepala orang itu  sudah pecah dan dia sudah tidak bernyawa, tapi pelukannya tetap sangat erat.

Anak buah Ning Zhi Qiu yang melarikan diri tampak menendang pintu, Xi Wu Hou takut kalau pangeran merasa tidak senang, dengan sempoa besinya dia menyapu dan memotong tangan yang masih memeluknya. Bersamaan waktu itu dia melepaskan dua butir biji sempoanya.

Ning Zhi Qiu melayang ke atas, dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, dia menjepit biji sempoa itu, tapi dia hanya sanggup menahan satu butir, sedangkan satu butir lainnya tetap melesat dan masuk ke punggung anak buah Ning Zhi Qiu.

Anak buahnya berteriak kesakitan, tubuhnya limbung tapi dia berusaha untuk keluar dari pintu!

Xi Wu Hou masih berniat untuk mengejar tapi terdengar suara CTEK, Ning Zhi Qiu menyentil kembali biji sempoa itu!

Terpaksa Xi Wu Hou mengangkat sempoanya untuk menahan serangan itu. Terdengar suara TANG, dan biji sempoa itu berhasil ditahan Xi Wu Hou dan terjatuh.

Xi Wu Hou berpikir, "Orang yang melarikan diri tidak dapat kubunuh, aku merasa malu, tapi kalau aku bisa membunuh Ning Zhi Qiu, Pangeran Jin pasti akan senang!"

Xi Wu Hou mulai menyerang Ning Zhi Qiu, hanya dalam waktu singkat dia sudah menyerang sebanyak 13 jurus, sempoanya bercahaya hitam, membuat mata menjadi silau, Ning Zhi Qiu membalas dengan menyerang 3 jurus.

Suara biji sempoa dibunyikan.

Setelah bertarung 23 jurus, mereka berpisah dengan cepat. Xi Wu Hou marah, "Kau cari mati!" Ning Zhi Qiu menanggapi, "Pengkhianat!"

Xi Wu Hou mendekat lagi dan menyerang sebanyak 17 jurus, sempoanya digoyang dengan cepat menimbulkan suara yang tidak enak dan bersatu dengan suara yang panjang. Setelah 17 jurus berlalu, tapi Ning Zhi Qiu masih belum bisa roboh, Karena dia tidak memegang pedang setelah lewat ratusan jurus, dia berada dalam posisi berbahaya.

Pangeran Jin dengan santai melihat ke atas, kemudian melihat ke bawah, sekarang dia baru memperhatikan orang yang sedang bertarung, wajahnya tampak datar tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

Xi Wu Hou berkata dengan dingin, "Kalau kau tidak mau menyerah, kau akan mati!"

Ning Zhi Qiu pun menjawab dengan dingin, "Di negara Song  tidak ada putra Song yang gampang menyerah begitu saja!"

Xi Wu Hou mendekat lagi, tapi di langit tampak ada cahaya berwarna kuning yang mendatanginya. Cahaya itu tiba diiringi dengan suara bentakan. Sosoknya terlihat ada di langit kemudian berubah menjadi cahaya yang berkilauan yang sangat menyilaukan mata. Cahaya ini terus menyorot Xi Wu Hou, Xi Wu Hou tidak bisa melihat siapa yang datang, dia hanya tahu kalau orang yang datang memiliki senjata kotak dan bercahaya kuning. Karena itu dia hanya bisa sekuat tenaga menahan serangan itu!

0-0-0

WUSH!

Xi Wu Hou dengan cepat mundur, setelah mundur dia baru tahu ternyata sempoa besinya telah terpapas, tangannya tergetar hingga mati rasa.

Orang itu mendarat turun, usianya sekitar 40 tahun, tidak memiliki janggut ataupun kumis. Wajahnya tampan, tangannya memegang sempoa berwarna kuning, dia berdiri di sisi Ning Zhi Qiu, dengan penuh perhatian bertanya, "Anda tidak apa-apa, Pejabat Ning?"

Ning Zhi Qiu menegakkan tubuhnya dan menjawab, "Kakak Ketiga datang tepat pada waktunya!"

"Setelah mengirim kabar bahwa Anda mendapat kesukaran, Lao Qi langsung meninggal," kata orang itu.

Wajah Ning Zhi Qiu tampak berubah, Xi Wu Hou yang berdiri di sisi sebelah sana tampak marah dan berkata, "Jin Suan Pan (sempoa emas)."

Orang itu dengan dingin berkata, "Aku adalah Xin Wu Er, selalu percaya diri dan tiada duanya."

"Kau tidak pantas ikut campur dalam masalah ini!" kata Xi Wu Hou.

"Di dunia persilatan yang terkenal dengan sempoanya hanya ada 3 orang, di antara ketiga orang itu yang tidak berguna hanya kau! Tapi kau selalu menjadikan sempoamu sebagai papan reklame!" kata Xin Wu Er.

"Aku ingin tahu berapa lama kau masih bisa memegang sempoamu?" seru Xi Wu Hou.

Kemudian dia membunyikan sempoanya sebanyak 32 kali!

Tanpa suara Xin Wu Er memasuki arena pertarungan, sejurus demi sejurus dia mematahkan serangan Xi Wu Hou, tapi kedua sempoa itu tidak pernah beradu. Setelah lewat 32 jurus, Xin Wu Er baru balik menyerang, dia memainkan sempoanya dengan cepat, karena cepatnya sampai sempoanya tidak mengeluarkan suara apapun, hanya terlihat ada cahaya emas berkilau dari sempoanya.

Tiba-tiba Xi Wu Hou mundur, beberapa rambutnya tampak terlepas dari ikatannya, nafasnya terengah-engah.

Mata Pangeran Jin terlihat seperti kagum, dengan santai dia berkata, "Lumayan."

Xia Hou Lie dengan tenang memerintah pada Wan Yan Zhu, "Giliranmu!"

Dengan sikap hormat dia berkata, "Siap!" Dia meloncat lurus, dan dia sudah berada di antara Xi Wu Hou dan Xin Wu Er. Tangannya segera terulur, dia ingin mencengkram Xin Wu Er.

Tapi sempoa Xin Wu Er malah memukul nadi Wan Yan Zhu, Wan Yan Zhu membalikkan tangan dan dia sudah mencengkram sempoa emasnya dan menarik sempoa itu!

Xin Wu Er melihat lawannya hanya dengan satu jurus bisa mencengkram senjatanya, dia tidak berani bersikap lengah lagi, dia menarik nafas dan sempoa yang masih berada di tangannya tidak akan dilepaskan begitu saja!

Wan Yan Zhu mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya mencoba merebut sempoa itu, walaupun kepalanya sudah mengeluarkan asap putih, dia masih ngotot merebutnya, dengan mengadu kekuatan penuh dan saling tarik, kaki mereka sudah masuk ke dalam tanah, mereka saling melotot, tidak terlihat siapa yang menang atau kalah.

Sempoa yang terbuat dari emas karena ditarik dengan kekuatan besar terlihat memanjang.

Ning Zhi Qiu keluar dari arena pertarungan, dia mencoba memukul Hu Shang Ke, tapi Hu Shang Ke menahan serangan Ning Zhi Qiu dengan tangannya, tiba-tiba Ning Zhi Qiu melayangkan kakinya, dengan cepat Hu Shang Ke menahan menggunakan tangannya, tiba-tiba Ning Zhi Qiu menarik serangannya, dan bersiap menyerang Xi Wu Hou. Tapi di depannya terlihat sekelebat bayangan merah yang menghalanginya. Ternyata dia adalah Budha hidup dari Tibet, Ge LaTu.

Kedua mata biksu itu melotot pada Ning Zhi Qiu.

Ning Zhi Qiu merasa tubuhnya bergetar, gerakan tangannya sedikit melambat, saat itu butiran kalung tasbih kayu milik Ge La Tu yang berwarna merah tampak berputar-putar mendatanginya!

Ning Zhi Qiu menahan dengan pedangnya, tapi butiran kayu itu berputar dan mengikat pedangnya, kemudian La Ma itu menarik dengan tenaga penuh!

Ning Zhi Qiu sadar kalau pedang itu kena ditarik oleh La Ma itu, maka dia akan mati karena telapak tangan La Ma itu. Karena tidak berhasil menarik pedang itu, tampak La Ma itu dengan marah melihat Ning Zhi Qiu, Ning Zhi Qiu tidak sadar bahwa La Ma itu sedang menggunakan ilmu hipnotis kepada dirinya. Hanya melihat mata La Ma itu sekali, mata Ning Zhi Qiu terasa pedas. Tenaganya menjadi berkurang, tubuhnya mulai tertarik selangkah demi selangkah mendekati Ge La Tu.

Xin Wu Er yang sedang bertarung di sebelah sana, melihat keadaan berubah seperti itu. Dia tahu kalau sekarang ini Ning Zhi Qiu berada dalam keadaan berbahaya, tapi dia sendiri tidak bisa banyak membantu, karena dia harus berkonsentrasi dalam menghadapi Wan Yan Zhu.

Diapun merasa tenaganya semakin terkuras, bagaimana mungkin dia bisa menolong Ning Zhi Qiu?

Xi Wu Hou yang tadinya berada di pinggir sekarang sudah berada di belakang Xin Wu Er, dia mengangkat sempoa besinya dan ingin memukul kepala Xin Wu Er.

Karena saat itu Xin Wu Er sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi Wan Yan Zhu, dia tidak mau konsentasinya terpecah dan Wan Yan Zhu dengan mudah akan menggetarkannya, saat itu dia tidak mungkin bisa menghindari serangan Xi Wu Hou!

0-0-0

Pada saat keadaan sangat berbahaya ini tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang yang bicara, suaranya berat, seperti suara orang tua tapi nadanya sangat tinggi.

"Lao Di (adik)! Ternyata di sini ada orang yang berkelahi juga." Suara lainnya terdengar lebih muda dan bertenaga berkata,

"Coba kita lihat ke sana!" suara itu semakin mendekat.

Terlihat bayangan orfuig, yang satu berpakaian hitam yang satu lagi berpakaian abu. Yang mengenakan baju hitam adalah seorang pemuda beralis tebal dan bermata besar. Sedangkan pak tua berbaju abu itu terlihat wajahnya masih muda tapi rambutnya  sudah memutih. Tangannya memegang kail ikan dan di punggungnya tergantung keranjang untuk menaruh ikan hasil pancingan.

Xi Wu Hou mengerutkan dahinya, Hu Shang Ke dan Hu Shang Ge sudah maju menghampiri kedua orang itu.

Orang tua itu ternyata adalah Tai Hu Shen Diao, Shen Tai Gong.

Dia bertanya, "Kita harus membantu siapa ya?"

Pemuda itu ternyata adalah Wo Shi Shui, dia menjawab, "Aku lihat lebih  baik kita memukul yang licik itu saja!" Tiba-tiba dia  sudah berlari mendekati Xi Wu Hou dan mencengkram sempoa besinya, kemudian menendangnya sampai 7 jurus,  begitu  serangan dilancarkan Xi Wu Hou tidak menyangkanya. Dengan terpaksa dan cepat Xi Wu Hou meladeni 7 jurus Wo Shi Shui. hingga dia mundur 8 langkah, terdengar Wo Shi Shui berkata, "Aku paling benci ada orang yang diam-diam menyerang dari belakang, kalau ingin berkelahi, ya berkelahi secara jantan, kalau mati juga tidak apa-apa, mengapa harus menyerang dari belakang?"

Sambil berkata seperti itu dia mencengkram bagian tengah sempoa emas yang sedang di pegang oleh dua orang yang sedang bertarung dan bertanya, "Milik siapa ini? Untuk apa sampai diperebutkan?"

Xin Wu Er terpaku, tapi dia tahu kalau pesilat tangguh yang berasal dari Zhong Yuan tidak boleh dipandang remeh, dia menarik nafas dan berkata, "Sempoaitu milikku."

"Baiklah, aku akan mengembalikannya padamu," kata Wo Shi Shui.

Dengan tenaga cukup Wo Shi Shui menarik sempao itu, Wan Yan Zhu tanpa sadar sudah terbawa maju 4 langkah, tapi dia masih mencengkram dengan erat tidak mau melepaskan sempoa emas itu. Tiba-tiba Wan Yan Zhu melihat ada sempoa lain mendekatinya, karena salah melihat tangan kirinya mencengkram sempoa yang mendekat dan tangan kanannya sedikit melonggar. Akhirnya sempoa emas dapat ditarik dan diambilnya, setelah berhasil mendapatkan sempoa emasnya, Xin Wu Er meloncat menjauh.

Wan Yan Zhu terpaku, dia melihat sempoa yang masih dipegangnya ternyata milik Xi Wu Hou dan sempoa emas milik Xin Wu Er telah berhasil direbut kembali olehnya. Wo Shi Shui sedang menatapnya dengan tertawa, terlihat kalau Wo Shi Shui sangat senang melihat Wan Yan Zhu, Wo Shi Shui berkata, "Kalau kau marah, itu sangat bagus, aku tidak menyangka wajah sepertimu, wajah seperti papan peti mati, bisa juga tampak ada ekspresi."

Kemarahan yang melanda dirinya membuat seluruh tulang di tubuh Wan Yan Zhu berderak, wajah Wo Shi Shui tampak mulai serius, karena dia mendengar suara derak tulang, itu membuktikan kalau orang itu menguasai ilmu cakar elang latihan selama 30 tahun, dan tidak boleh «embarangan menghadapinya.

Lawan tanding yang paling senang dihadapi oleh Wo Shi Shui adalah lawan yang berbobot, semakin kuat lawannya maka dia semakin tertarik menghadapinya, karena itu setiap kali  dia bertarung dengan pesilat tangguh, dia merasa senang malah menjadi tergila-gila.

Tapi sebaliknya dengan Shen Tai Gong, semakin lihai lawan, dia malah semakin senang mempermainkannya, karena dia masih senang bermain-main. maka semakin banyak variasi dan jurus aneh yang akan dikeluarkannya supaya bisa memenangkan pertarungan.

Sewaktu Hu Shang Ke dan Hu Shang Ge berlari ke arahnya, diapun berlari sambil berteriak ke arah dua orang Mongolia itu. Mereka hampir bertabrakan dan apakah nasib Shen Tai Gong akan sama seperti Cai Bu Pin terjepit mati oleh dua raksasa itu?

Tapi tiba-tiba Shen Tai Gong bergerak, secepat kilat dia sudah berada di belakang mereka dan senar kail ikannya sudah mengait celana pendek bagian belakang Hu Shang Ke, dia menariknya sambil terus berlari sambil berteriak, "Aku  mendapatkan  ikan besar, ikan besar sudah terpancing!" Walaupun perawakan Shen Tai Gong pendek, kurus, dan kecil tapi kalau sudah berlari dia seperti sebuah anak panah. Hu Shang Ke ditarik oleh Shen Tai Gong terpaksa dia berjalan mundur, kail itu mengait celananya dan hal ini membuatnya merasa malu, tubuhnya yang besar tidak dapat berbalik untuk menyerang Shen Tai Gong. Dia benar-benar seperti seekor kura-kura yang batoknya berada di bawah dan tidak sanggup berbalik.

Hu Shang Ge ingin menolong saudaranya, dia berlari mengejar Shen Ta

Gong, tapi Shen Tai Gong selalu lari dengan berbelok-belok, tubuh besar Hu Shang Ge dibuat berkeringat oleh Shen Tai Gong. Tapi dia tidak bisa menolong saudaranya.

Mereka marah-marah dengan menggunakan bahasa Mongolia, berusaha mencengkram tangan Shen Tai Gong tapi Shen Tai Gong berhasil menghindar, cengkraman Hu Shang Ge tidak berhasil mengenainya, malah kaki seseorang yang tercengkram. Karena marah dia segera membanting dengan cara gulat Mongolia.

Orang itu menendang pundaknya, Hu Shang Ge dengan bahasa aneh hanya mengatakan, "Wu Wu Wa Wa." Dan dia sudah melayang jauh.

Ternyata dia telah mencengkram kaki Ge La Tu!

0-0-0
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 04 : Dua sempoa"

Post a Comment

close