Misteri Lukisan Tengkorak Bab 27 : Hujan Membasahi Daun Pisang

Mode Malam
27. Hujan Membasahi Daun Pisang.

Baru saja Tong Keng berteriak setengah jalan, Ko Hong- liang telah menutupi mulutnya dengan tangan, lalu sambil berkerut kening tegurnya, "Apa-apaan ini? Kenapa berkoar- koar dengan suara keras? Memangnya mau mengundang perhatian lawan? Kalau sampai ketahuan, biar kau punya akal pun percuma."

Sesaat kemudian baru ia menarik kembali tangannya yang menyumbat mulut rekannya itu.

Tersipu-sipu Tong Keng berbisik, "Maaf ... maafkan aku” "Apa akalmu?" tanya Ting Tong-ih kemudian.

"Teringat aku sekarang, dulu ketika sedang bermain dengan Siau-sim dan Siau-tan-kong (ketapel cilik), kami pernah minta bantuan paman kedua Seng Ji-siok untuk membuatkan sebuah lubang besar, rencananya ingin digunakan untuk bersembunyi selama beberapa hari sambil menakut-nakuti orang dewasa, kemudian secara diam-diam kami melanjutkan penggalian gua itu hingga berhubungan dengan sumur kering di belakang gunung-gunungan halaman belakang rumah”

Bicara sampai di situ ia berhenti sejenak, kemudian dengan penuh semangat lanjutnya, "Asal kita bisa menyusup ke belakang dan masuk ke dalam kebun pohon pisang, maka secara diam-diam kita bisa masuk ke halaman belakang piaukiok!"

"Bagaimana ceritanya? Kenapa secara tiba-tiba kau teringat akan hal ini?" tanya Ting Tong-ih sambil berpaling.

"Ketika memandang wajahmu tadi, aku jadi teringat akan dirinya...” tiba-tiba ia menutup mulut dan menghentikan perkataannya.

Rupanya sewaktu Tong Keng menyaksikan raut muka Ting Tong-ih yang basah oleh air hujan, tanpa terasa dia terbayang kembali kenangannya di masa lalu.

Waktu itupun hujan sedang turun dengan derasnya, selewat dua hari dia akan mengikuti Kokcu pergi mengawal barang.

Siau-sim sambil memainkan kuncirnya tiba-tiba bertanya, "Engkoh Tong, setelah kepergianmu, apakah kau akan selalu teringat akan diriku?"

Sejak kecil Tong Keng bermain bersama Siau-sim, dia tak menyangka akan menghadapi pertanyaan seperti itu, maka sahutnya sambil tertawa, "Tentu saja akan selalu teringat, bahkan teringat setengah mati!"

"Sekarang saja kau belum pergi, darimana tahu kalau sepanjang jalan masih akan teringat diriku?"

Tong Keng tertegun, dia sudah terbiasa bermain dengan gadis ini sehingga kurang begitu paham apa yang menjadi pikiran gadis itu, katanya kemudian, "Siau-sim, aku selalu menganggap kau sebagai adik kandungku sendiri, tentu saja aku akan selalu merindukan dirimu."

Siau-sim segera melepaskan tangannya, dengan uring- uringan dia berseru, "Aku bukan adik kandungmu, aku tak mau kau hanya menganggap aku sebagai adikmu saja” Siapa tahu perkataan itu benar-benar telah melukai perasaan Tong Keng, sebab sejak kecil dia memang hidup menumpang dalam perusahaan Sin-wi-piau-kiok, meskipun saat ini jabatannya sudah naik menjadi seorang piauthau, namun ia selalu merasa rendah diri, merasa status dan posisinya tidak sebanding dengan status putri seorang Kokcu, tidak pantas mengangkat saudara dengan putri kesayangannya.

Karena itu setelah mendengar perkataan itu, jawabnya cepat, "Aku tahu, aku memang tak sesuai untuk menjadi saudaramu, lain kali kau tak perlu datang mencariku lagi."

Dengan gelisah bercampur cemas Siau-sim segera menghentakkan kakinya sambil berseru, "Aduuh ... kenapa sih orang ini?"

Ia segera berputar ke hadapan Tong Keng, dengan wajah bersemu merah katanya lagi, "Usia kita berdua sudah tidak kecil lagi ..."

Bisikannya semakin lirih dan akhirnya tenggelam ditelan suara hujan.

Tong Keng semakin tak senang. "Ya, betul, usia kita memang sudah tak muda lagi, aku memang tidak sepantasnya berkumpul terus denganmu."

Dengan semakin jengkel Siau-sim mendepakkan kakinya ke tanah, keningnya berkerut kencang. "Bagaimana sih kamu ini, aku kan cuma bertanya kepadamu, kenapa kau malah bersikap kasar kepadaku?"

"Tapi aku toh bersikap sangat baik kepadamu!" seru Tong Keng tidak habis mengerti.

"Kenapa kau tidak mencari ayahku dan bicara terus terang dengannya," bisik Siau-sim kemudian dengan setengah berbisik. "Bicara? Apa yang dibicarakan?" Tong Keng semakin termangu.

"Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan!" seru Siau- sim sambil mengerling sekejap ke arahnya.

Seakan baru menyadari akan sesuatu. Tong Keng segera berseru, "Ooh, kau maksudkan persoalan itu...”

Setelah berhenti sejenak, ujarnya lagi, "Tapi ayahmu sudah tahu kalau hubungan kita lebih akrab daripada hubungan persaudaraan."

"Dasar bodoh”

"Aku memang bodoh, tapi aku...” sambil menggeleng kepala berulang kali Tong Keng akhirnya bertanya, "sebenarnya kau suruh aku membicarakan masalah apa dengan Kokcu?"

Siau-sim menghela napas sedih, gadis ini selalu bersikap gembira dan lincah, ketika melihat secara tiba-tiba nona itu menghela napas sedih, Tong Keng merasa hatinya makin tercekat, tapi rasa bingungnya juga semakin bertambah.

Akhirnya sambil menunjuk ke halaman bagian belakang, Siau-sim berkata lagi, "Di sana ada sebuah gua yang tembus ke dunia luar, gua itu kita gali bersama”

"Si ketapel kecil juga turut ambil bagian sela Tong Keng cepat.

Kembali Siau-sim mengerling sekejap ke arahnya sambil menghela napas sedih, saat itulah Tong Keng ikut merasakan hatinya tercekat.

"Jika kau jahat kepadaku, melupakan aku, tanah itu akan mengubur tubuhku seorang, aku akan terkubur selamanya di situ."

Selesai berkata dia pun beranjak pergi meninggalkan Tong Keng yang masih berdiri termangu. Sejak hari itu Tong Keng tak pernah berjumpa lagi dengan Siau-sim. Suatu saat ia mendengar istri Kokcu berkata kepada Seng Yong, paman Seng, "Entah kenapa belakangan ini Siau- sim selalu bersembunyi di dalam kamarnya sambil menangis?"

Mendengar pembicaraan itu dia semakin tak berani mencari gadis itu lagi, namun perasaannya terasa masgul, murung dan sangat tersiksa.

Dan sekarang setelah menyaksikan wajah Ting Tong-ih yang putih, melihat hujan yang turun dengan derasnya, tanpa terasa ia teringat akan Siau-sim dan dia pun teringat dengan gua bawah tanah itu.

Dalam pada itu Ting Tong-ih hanya membungkam, wajahnya masih senyum tak senyum sehingga sukar untuk menilai apakah ia sedang bergembira atau tidak.

"Mari kita coba melalui lubang gua itu," terdengar Ko Hong- liang berkata kemudian.

Dengan menerjang hujan deras, ketiga orang itu menerobos ke dalam kebun pisang yang berada di kebun bagian belakang.

Ketika air hujan jatuh menimpa di atas daun pisang, bergemalah suara dentingan nyaring, bila didengarkan dengan seksama, suara itu mirip sekali dengan sebuah irama lagu yang merdu.

"Merdu amat suaranya," tiba-tiba Ting Tong-ih berbisik. "Dulu aku pun seringkah menikmati suara ini," sahut Tong

Keng tanpa sadar.

"Menikmati bersama siapa?"

Tong Keng terperanjat, dia tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu, segera dia berpaling memandang wajah Ting Tong-ih, untung perempuan itu tidak menunjukkan perasaan gusar. "Ada dimana gua itu?" terdengar Ko Hong-liang bertanya pula.

"Ada di sana!" sahut Tong Keng sambil menunjuk ke depan sana.

Beruntung gua itu meski banyak yang sudah runtuh namun masih bisa dilalui, kecuali beberapa ekor cacing, di sana tak nampak bayangan apapun, jangan kan manusia, tikus tanah pun tak ada yang kelihatan.

Setelah merangkak di dalam gua yang lembab, akhirnya mereka bertiga muncul di sebuah sumur kering, di atas sumur terdapat sebuah penutup.

Baru saja mereka bertiga menyingkirkan penutup sumur itu dan berusaha merangkak keluar, mendadak tampak seseorang berdiri di tepi sumur sambil mengangkat kapaknya dan siap dibacokkan ke bawah.

Orang itu mengawasi mereka dengan mata melotot besar, seolah-olah baru saja melihat setan.

Sementara mata kapaknya bagaikan selapis awan hitam menyelimuti angkasa, membuat orang susah untuk menghindar.

Di antara ketiga orang itu, ilmu silat dari Ko Hong-liang terhitung paling tangguh, dia pula yang pertama kali muncul di mulut sumur kering itu.

Tatkala orang itu mengayunkan kapaknya melancarkan bacokan, dengan cepat ia sambar sebiji batu bata dari samping sumur dan menangkisnya.

"Kraaaak!", batu bata itu terbelah menjadi dua sedang mata kapak masih melanjutkan bacokannya ke bawah.

Ko Hong-liang segera menggerakkan potongan batu bata yang ada di tangan kiri dan kanannya untuk menangkis sekuat tenaga, batu bata itu segera menyelinap melalui kedua sisi mata kapak kemudian menjepitnya dengan kuat.

Begitu mata kapak terjepit, senjata itu tak sanggup digerakkan lagi.

Terdengar orang itu membentak gusar, dari pinggangnya kembali ia melolos sebilah kapak yang lain dan siap dibacokkan ke bawah.

Dalam pada itu Tong Keng sudah melihat jelas siapa penyerang itu, segera teriaknya tertahan, "Paman Yong!"

Agaknya orang itupun telah melihat jelas siapa yang datang, segera gumamnya, "Setan?"

"Kami bukan setan," kata Ko Hong-liang sambil menghembuskan napas panjang, "Yong-sute, aku yang datang."

Sambil merintih tertahan Yong Seng membuang kapaknya ke tanah dan mulai mengucurkan air mata, air mata yang berbaur dengan air hujan, dia peluk Ko Hong-liang, memeluknya erat-erat dan mulai terisak dengan suara keras.

Di bawah bimbingan Yong Seng, Ko Hong-liang sekalian memasuki sebuah ruang samping untuk bertukar pakaian, sepanjang jalan Yong Seng pun menceritakan kisah perusahaan Sin-wi-piau-kiok sepeninggal mereka.

"Setelah terjadi peristiwa itu, ada sebagian anggota yang meninggalkan perusahaan karena kuatir terlibat, kemudian setelah pihak petugas keamanan datang memeriksa serta menyegel perusahaan, lagi-lagi ada sebagian orang yang mengundurkan diri."

"Mereka tak bisa disalahkan," kata Ko Hong-liang sambil menghela napas, "bencana ini datang secara mendadak, siapa sih yang mau terlibat dalam musibah semacam ini?" "Puluhan hari kemudian, sekawanan piausu setia pun mau tak mau harus pergi meninggalkan perusahaan, mereka didesak oleh kebutuhan kehidupan sehingga mesti berusaha mencari pekerjaan lain. Yang paling keparat adalah Li- piauthau, dia menghubungi sisa anak buah kita, merampok uang simpanan yang tersisa dalam perusahaan, kemudian dengan menyandang nama Hau-wi-piau-kiok, dia mulai membuka usaha ekspedisi di lain tempat, selain itu dia pun mulai menyiarkan fitnah, katanya kau ... katanya kau...”

"Dia mengatakan aku kenapa?" Ko Hong-liang tertawa getir, "sudahlah, dia suka bicara apa, biarkan saja dia bicara sepuasnya."

"Dia bilang kau adalah orang yang suka mencari menangnya sendiri, tak bisa diajak bicara, keras kepala dan semau gue, dia pun menuduh kau hidung bangor, suka main perempuan, suka berjudi bahkan bersekongkol dengan kaum bandit untuk melakukan kejahatan”

Mendengar sampai di sini Ko Hong-liang tak kuasa menahan diri lagi, serunya, "Aku adalah penanggung jawab perusahaan ini, kenapa aku tak boleh mengambil keputusan sepihak jika menghadapi urusan penting? Untuk keperluan negosiasi dengan orang, demi menjalin hubungan dengan langganan, apa salahnya aku menjamu mereka dengan segala macam hiburan? Kalau hanya berdasarkan beberapa hal ini lantas menuduh aku adalah manusia berdosa, hmmm”

"Maka dari itu anggota perusahaan pun ada yang pergi, ada pula yang membubarkan diri”

"Mana hujin? Bagaimana dengan Siau-sim dan Sin-pak” tanya Ko Hong-liang tegang.

"Mereka semua sehat-sehat saja," bisik Yong Seng lirih. Begitu mendengar jawaban itu, Ko Hong-liang serta Tong

Keng segera merasa sangat lega. "Bagaimana dengan si ketapel cilik?" tanya Tong Keng kemudian.

Yong Seng mendengus dingin. "Bajingan ini benar-benar tak tahu diri," katanya, "dalam keadaan seperti ini, dia malah justru bekerja sebagai seorang petugas keamanan pengadilan."

Sekilas perasaan kecewa segera melintasi wajah Tong Keng. Segera Ko Hong-liang berkata, "Setiap orang punya cita-cita dan tujuan hidup yang berbeda, kita tak boleh memaksakan kehendak, biarkan saja dia menentukan pilihan sendiri."

Walau begitu tak urung muncul juga perasaan kehilangan dalam hati kecilnya. Sebab dia pun menyukai pemuda yang bernama 'ketapel cilik' ini, bahkan berniat menjodohkan putrinya kepada orang itu.

Tiba-tiba terdengar Ting Tong-ih menyela, "Sewaktu melihat kemunculan kami pertama kali tadi, kenapa sikapmu macam bertemu dengan setan saja?"

Yong Seng memperhatikan sekejap wajah ketiga orang itu, kemudian sahutnya sambil tertawa getir, "Beberapa hari belakangan, di luaran sana tersiar berita yang mengatakan kalian ... kalian sudah mati terbunuh di dalam penjara”

Seseorang yang dikabarkan telah mati terbunuh secara tiba-tiba muncul di halaman yang sepi, di tengah hujan yang sangat lebat, bahkan muncul dari bawah sumur kering, bayangkan sendiri, siapa yang tak terperanjat dibuatnya?

"Dalam beberapa hari belakangan, Li-piausu dengan membawa tiga empat orang datang membuat keonaran, mereka makan minum semaunya sendiri di sini, Oh-piautau coba membujuk mereka, bukan saja bujukannya tak digubris, dia malah mati terbunuh secara mengenaskan, selain itu Siau- kim, dia ..." "Kenapa dengan Siau-kim?" tanya Tong Keng cemas. Siau- kim adalah teman bermain Siau-sim ketika masih kecil dulu.

"Dia ... dia telah dinodai oleh beberapa orang manusia berhati binatang itu," kata Yong Seng sedih.

"Binatang!" bentak Ko Hong-liang penuh amarah.

"Sstt, jangan keras-keras” cegah Yong Seng cepat, "saat ini mereka masih berada dalam ruang loteng sebelah timur."

"Mau apa dia datang kemari?" tanya Ko Hong-liang gusar. "Dia memaksa Hujin untuk menyerahkan Sin-wi-piau-kiok

kepadanya, selain itu dia pun memaksa Hujin untuk

mengawinkan Siau-sim dengannya, dia bilang dengan begitu nama perusahaan Sin-wi-piau-kiok pasti akan berjaya kembali seperti sedia kala”

"Dia berani!"

"Tentu saja dia berani. Selama ini dia memang selalu berbuat begitu. Bahkan dia memaksa Hujin untuk menyerahkan suatu benda kepadanya”

"Benda apa?"

"Aku sendiri pun kurang jelas," sahut Yong Seng dengan wajah tak mengerti, "kelihatannya mereka sedang mencari... mencari selembar kain, selembar kain pembungkus mayat."

"Kain pembungkus mayat?" Ko Hong-liang ikut bingung dibuatnya.

"Kelihatannya seperti kain pembungkus jenazah Suhu."

Perlu diketahui, Yong Seng dan Ko Hong-liang berasal dari satu perguruan yang sama, Suhu mereka tentu saja adalah pendiri perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau-kiok, Ko Hway-sik.

"Mereka ... buat apa mereka mencari kain pembungkus mayat itu?" tanya Ko Hong-liang keheranan. "Aku sendiri pun kurang tahu, cuma ... kelihatannya mereka sangat tergesa-gesa ingin mendapatkannya, bahkan tanpa segan menggunakan segala cara untuk mencari dan menggeledah, bukan hanya lemari saja yang dibongkar, tanah pun ikut digali, konon mereka bersumpah tak akan berhenti mencari sebelum menemukan kain itu."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya, "Sebenarnya terdapat rahasia apa sih dalam kain pembungkus mayat Suhu? Kenapa Li Siau-hong dan para petugas keamanan mencarinya dengan serius?"

"Aku sendiri pun kurang tahu."

"Jadi ada pihak pembesar yang datang menanyakan soal kain pembungkus mayat itu?" tiba-tiba Ting Tong-ih bertanya.

Yong Seng mengangguk membenarkan.

"Setiap kali pertanyaan itu selalu diajukan oleh pembesar negara, kemudian datang seseorang bermarga Lu, konon dia adalah pembesar karesidenan, dia mulai memeriksa orang dengan menggunakan alat siksaan, tapi kami semua memang tak tahu, bagaimana mungkin bisa menjawab? Terakhir kelihatannya dia percaya kalau kami memang tidak tahu dan membebaskan kami semua."

"Kenapa di luaran sana kelihatan amat sepi macam kuburan saja, seorang manusia pun tak terlihat?" kembali Ting Tong-ih bertanya.

"Padahal di luar sana selalu dijaga orang secara ketat, biasanya mereka bersembunyi di suatu tempat yang sangat rahasia sehingga sulit diketahui orang lain, mengenai anggota yang lain”

Dia tertawa sedih, setelah menarik napas panjang lanjutnya, "Besok adalah saat menyerahkan uang pajak untuk kedua kalinya, dari sepuluh rumah ada sembilan di antaranya yang tak sanggup membayar pajak, bagaimana mungkin suasana tidak sepi? Penduduk kota mulai melimpahkan semua kekesalannya kepada perusahaan kita, mereka menuduh gara- gara ulah kita maka semua orang tertimpa sial. Maka begitu kami muncul di jalan, orang-orang pun mulai menimpuk kami dengan batu Sekali lagi” Ko Hong-liang menghela napas panjang.

Yong Seng memandangnya sekejap, lalu ujarnya lagi, "Tadi Li Siau-hong masih berada dalam ruang utama, dia sedang memaksa Hujin untuk mengawinkan Siau-sim dengan dirinya”

"Kau ... kenapa tidak kau katakan sejak tadi?" seru Ko Hong-liang sambil mencengkeram kerah bajunya.

Yong Seng sama sekali tidak meronta, dia pun tak nampak emosi atau melakukan sesuatu.

Perlahan-lahan Ko Hong-liang mengendorkan kembali tangannya, ia berkata, "Jisute, kau sudah berubah!"

Yong Seng hanya tertawa, dia sama sekali tidak menyangkal maupun membantah.

"Dulu kau adalah orang yang paling setia, paling emosi dan berangasan," kata Ko Hong-liang sedih, "tapi sekarang kau berubah jadi dingin, hambar dan sama sekali tanpa emosi."

"Tapi aku tetap tinggal di sini, sama sekali tidak mengkhianati dirimu," kata Yong Seng hambar, "ketika kau diburu pasukan keamanan, kemudian tersiar berita tentang kematianmu, banyak saudara kita yang putus asa dan pergi meninggalkan perusahaan, tapi aku tetap tinggal di sini, dibandingkan dengan mereka aku toh tetap jauh lebih baik”

"Aku tahu," Ko Hong-liang menundukkan kepala, "sekarang kita sudah tak mungkin berjaya lagi seperti dulu, tiada kebanggaan, tiada kehormatan ... sekarang ... sekarang aku tak lebih hanya seorang narapidana yang sudah divonis hukuman mati!" Tiba-tiba Yong Seng menggenggam tangannya erat-erat, sepatah demi sepatah ujarnya, "Toasuheng, selama beberapa hari belakangan, betul aku memang sangat kecewa, sangat putus asa, tapi aku tak pernah melepaskan niatku, tak pernah melepaskan harapanku, itulah sebabnya aku masih tetap bertahan di sini menanti kedatanganmu, aku tahu tak ada gunanya hanya mengandalkan kekuatanku seorang, tapi paling tidak masih bisa membuat Li Siau-hong, Lu Bun-chang merasa keder, merasa ragu berulah semau sendiri!"

Setiap patah katanya dia ucapkan dengan tulus dan jujur, dari situ bisa dilihat betapa setianya orang ini pada perusahaan.

Dengan sangat terharu Ko Hong-liang mengawasinya, air matanya kembali jatuh berlinang.

"Sudah saatnya kita tengok keadaan Ko-hujin," bisik Ting Tong-ih tiba-tiba.

Ko Hong-liang dan Yong Seng segera tersentak kaget dan menuju ke ruang tengah.

Tong Keng mengikut di belakangnya, sinar tajam memancar keluar dari matanya, setajam sinar bintang di teneah malam.

Sahabat, hanya di saat bersama mereka baru merasa gembira, merasa bersemangat, lalu kenapa terkadang harus berpisah, harus berselisih paham?

oooOOooo
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 27 : Hujan Membasahi Daun Pisang"

Post a Comment

close