Misteri Lukisan Tengkorak Bab 26 : Selamat Tinggal Sin-wi

Mode Malam
26. Selamat Tinggal Sin-wi.

Walaupun hujan turun dengan derasnya, bahkan disertai hembusan angin yang sangat dingin, meski pakaian yang dikenakan opas muda itu sudah basah kuyup bahkan kelihatan mulai kedinginan, namun ia tetap menahan diri sambil berdiri tegap.

"He, anak muda, kenapa tidak berteduh dulu dari terpaan air hujan?" seru Raja opas lembut.

"Terima kasih," jawab Kwan Siau-ci, si opas muda itu cepat, "Aku sedang menjalankan tugas, selesai bertugas kita bicara lagi."

"Kalau tak mau masuk kemari, cepatlah pulang!" kata Raja opas lagi sambil tertawa.

"Kalian berdua ikut aku pulang ke kantor."

Raja opas tertawa. Tiba-tiba ia menggerakkan tangannya, mencabut pedang milik Leng-hiat yang tersoreng di pinggang lalu ...

"Sreet, sreet, sreeet", setelah mengebasnya tiga kali, pedang itu sudah tersoreng kembali di pinggang Leng-hiat.

Dalam waktu singkat dia sudah melepaskan tiga bacokan kilat menembus asap tipis di atas hio, tampak asap masih mengepul ke angkasa, meskipun baru saja dilalui tiga bacokan kilat, asap itu seolah sama sekali tak goyang, sama sekali tak terputus.

Serangan pedang yang dilancarkan Li Hian-ih seakan tidak disertai desingan angin bahkan cepatnya tak terlukiskan dengan kata. Hal ini membuat Leng-hiat sendiri pun terkesiap, pikirnya, "Jika serangan Li Hian-ih itu tertuju ke tubuhku, mampukah aku menerima ketiga jurus serangannya?"

Dalam pada itu Raja opas sambil tersenyum sedang mengawasi opas muda itu.

Terlihat paras muka opas muda itu berubah hebat.

Dia hanya tahu datang ke situ untuk menangkap dua orang tawanan. Sejak menyaksikan ketujuh delapan belas orang petugas keamanan itu mundur sambil lari terbirit birit, dia pun tahu lawannya bukan seseorang yang gampang dihadapi, tapi dia tidak menyangka kalau salah satu di antaranya memiliki kepandaian silat yang sedemikian hebatnya.

"Ilmu pedang yang hebat!" terpaksa dia manggut-manggut perlahan.

"Sekarang pulanglah!" bujuk Raja opas lagi lembut. "Sreett!", mendadak opas muda itu melolos goloknya,

sambil dilintangkan di depan dada serunya lagi, "Kalian harus ikut aku balik ke kantor!"

Leng-hiat kembali saling bertukar pandang dengan Raja opas, kedua orang ini mulai kehabisan daya untuk menghadapi pemuda yang keras kepala ini.

Leng-hiat segera melejit ke udara, sebuah serangan dilancarkan ke atas golok yang berada dalam genggaman opas muda itu.

Siapa sangka tiba-tiba opas itu melejit pula ke tengah udara lalu dari atas menuju ke bawah secara beruntun dia melancarkan tiga buah bacokan kilat, semuanya tertuju ke sepasang bahu lawannya.

Leng-hiat berseru tertahan, ia melolos pedangnya.

Begitu Leng-hiat mencabut pedangnya, serangan yang dilancarkan opas muda itupun seketika buyar, tapi bukannya mundur, opas itu malah merangsek maju, sambil menerobos ke balik cahaya pedang, ia berniat menangkap lawannya.

Leng-hiat tak ingin membunuh opas muda ini, dia pun tak ingin melukainya, untuk sesaat dia menjadi bingung dan tak tahu bagaimana mesti menghadapi opas muda itu, empat jurus berlalu dengan cepat.

Akhirnya dengan menggunakan gagang pedangnya Leng- hiat menyodok lambung opas muda itu dengan keras, opas itu menjerit kesakitan, jatuh terduduk ke tanah dan mulai muntah-muntah.

"Kembalilah," kata Leng-hiat kemudian, "kau masih bukan tandingan kami."

Sambil mengertak gigi opas muda itu merangkak bangun, sambil mengayunkan kepalan dan kakinya kembali dia melancarkan serangan.

Leng-hiat tidak menyangka kalau orang itu begitu keras kepala, sambil berkelit hardiknya, "Jangan paksa aku membunuhmu!"

"Aku tahu bukan tandinganmu, tapi aku tetap akan menangkapmu!" tanpa merasa takut atau jeri sedikitpun opas muda itu menerjang lebih nekad, "bila aku mati, akan muncul beribu orang opas lain menangkapmu!"

Leng-hiat menghela napas panjang, gumamnya, "Aaai, seandainya semua opas bersemangat macam kau, keadaan pasti akan aman sentosa."

Dan sorot mata opas Tiuda itu tiba-tiba ia teringat sepak terjang sendiri di masa muda dulu.

"Kwan Siau-ci!" tiba-tiba Raja opas berkata, "kalau kami tidak bersalah, mau apa kau menangkap kami berdua?" Walaupun dia berbicara dengan lemah lembut, namun di tengah deru angin dan hujan yang deras, setiap patah katanya dapat terdengar oleh Kwan Siau-ci dengan jelas.

Tampak Kwan Siau-ci melengak, sambil menghentikan serangannya dia berseru, "Jadi kalian bukan orang yang melukai petugas keamanan?"

Raja opas tertawa. "Kau punya lencana, aku pun punya!" katanya sambil memperlihatkan lencana emasnya.

Begitu membaca tulisan yang tertera di atas lencana emas itu, Kwan Siau-ci nampak sangat kaget, jeritnya tertahan, "Jadi... kau adalah Li... Li ”

"Aku bukan bernama Li Li, namaku Li Hian-ih!"

Seketika itu juga semua keberanian dan kejantanan yang dimiliki Kwan Siau-ci lenyap, seakan sedang memandang idolanya, ia bergumam, "Kau sangat termashur!"

"Di kemudian hari kau pun akan termashur juga!" jawab Raja opas hambar, kemudian sambil menuding ke arah Leng- hiat, lanjutnya, "Dia jauh lebih tersohor, Leng-hiat, salah satu anggota empat opas kenamaan adalah dia."

Kwan Siau-ci jadi gelagapan sendiri, "Kau ... kau ... dia ...

dia ... aku tidak tahu kalau kalian berdua adalah ”

"Kami pun hanya manusia biasa," tukas Leng-hiat, "kami tetap harus taat pada hukum dan peraturan, tapi dalam peristiwa ini, Ong-suya telah melanggar hukum, maka kami pun memberi sedikit pelajaran kepadanya."

"Sekarang kau sudah tahu duduk masalahnya," sambung Raja opas sambil tertawa, "saudara cilik, bersediakah kau melepaskan kami berdua?"

"Boleh, boleh ” sahut Kwan Siau-ci cepat begitu teringat

status sendiri, katanya lagi dengan serius, "Terus terang saja, andai kalian berdua benar-benar telah melanggar hukum, sekalipun aku bukan tandingan kalian berdua, aku tetap akan mengadu jiwa membekuk kalian, cuma ... aku percaya penuh dengan apa yang kalian ucapkan."

Raja opas saling bertukar pandang dengan Leng-hiat sambil tertawa, ujar Leng-hiat kemudian, "Setelah hujan berhenti nanti, aku ingin minta tolong engkoh cilik untuk menjadi petunjuk jalan, aku hendak menyelidiki sebuah kasus."

"Kalian ingin kemana?" tanya Kwan Siau-ci sambil garuk- garuk kepala.

"Perusahaan Sin-wi-piau-kiok!"

"Sin-wi-piau-kiok?" seru Kwan Siau-ci seperti terperanjat. "Hahaha ... bagus, bagus, akhirnya Thian membuka matanya juga!"

"Ada apa?" tanya Raja opas tercengang.

"Akhirnya kalian muncul juga untuk membersihkan nama Sin-wi-piau-kiok dari tuduhan, fitnahan dan korban kambing hitam orang lain!"

"Fitnah? Korban kambing hitam?" Raja opas saling bertukar pandang sekejap dengan Leng-hiat.

"Benar!" kata Kwan Siau-ci kegirangan, "Sin-wi-piau-kiok dituduh membegal barang kawalannya hingga seluruh anggota perusahaan dijebloskan ke dalam penjara, masakah ini bukan fitnah?"

"Hubunganmu dengan ... Sin-wi-piau-kiok ...?” tanya Leng- hiat.

Sambil membusungkan dada sahut Kwan Siau-ci, "Hidup sebagai anggota Sin-wi, mati pun sebagai setan Sin-wi, walaupun aku hanya petugas rendahan dalam perusahaan, tapi budi yang diberikan Sin-wi-piau-kiok kepadaku lebih berat dari bukit karang, selama hidup aku tak akan melupakannya!" "Jadi kau ... kau masuk Lak-san-bun setelah kantor Sin-wi- piau-kiok disegel pemerintah?" selidik Raja opas.

"Benar!" jawab Kwan Siau-ci dengan suara lantang, "jika Sin-wi-piau-kiok masih ada, buat apa aku keluar dari perusahaan? Ko-kokcu, Tong-piauthau, ayahku ... mereka semua mengenaskan...”

Bicara sampai di sini, seakan teringat sesuatu serunya, "Kalian ... kalian bukan datang untuk menangkap orang bukan?"

"Kami datang untuk ... untuk menyelidiki kasus ini," jawab Leng-hiat sambil membasahi bibirnya yang kering.

Kwan Siau-ci segera berpaling ke arah Raja opas. Usia Raja opas yang sudah lanjut membuat ia merasa lebih dapat dipercaya.

Raja opas berdehem beberapa kali, kemudian katanya, "Dalam kasus ini ... aku harus melakukan penyelidikan lagi, ayahmu adalah...”

"Apa lagi yang harus diselidiki?" teriak Kwan Siau-ci sambil mencak-mencak, "sudah jelas ini fitnah! Sudah jelas ada orang mengkambing hitamkan mereka, apa lagi yang perlu dilacak? Apalagi yang perlu diselidiki? Kalian ... kalian datang untuk mencelakai Sin-wi-piau-kiok!"

"Jangan bilang begitu," bentak Leng-hiat cepat, "aku mau menerima tugas menyelidiki kasus ini, alasan yang utama adalah karena mendapat perintah dari Cukat-sianseng untuk menyelidiki kejadian yang benar! Cukat-sianseng adalah sahabat karib Sik Hong-sian, Sik-thayjin, sementara Sik-thayjin punya hubungan akrab dengan Ko Jut-sik, Lokokcu perusahaan Sin-wi-piau-kiok, kau sebagai orang Sin-wi, tentunya sudah pernah mendengar kejadian ini bukan!" Kena dihardik, Kwan Siau-ci berdiri tertegun, lama kemudian baru ia bergumam, "Benar juga perkataanmu, tapi...”

"Tak perlu tapi-tapian!" tukas Leng-hiat lagi, "untuk membersihkan nama dari segala tuduhan dibutuhkan bukti dan fakta yang jelas, cepat bawa kami ke sana, dengan begitu kita baru bisa menyingkap kejadian yang sebenarnya!"

Kwan Siau-ci membelalakkan matanya lebar-lebar, mendadak ia menjatuhkan diri berlutut.

Segera Leng-hiat membangunkan dirinya, tapi Kwan Siau-ci menolak untuk berdiri, katanya lagi, "Aku menjadi opas bukan lantaran ingin naik pangkat atau menjadi kaya, aku hanya berharap suatu saat fitnah yang dialamatkan ke Sin-wi-piau- kiok bisa dicuci bersih ... Toaya berdua, kalian adalah idola setiap opas di kolong langit, semoga kalian bisa meneliti kembali kasus ini serta memutuskan secara bijaksana, hamba merasa berterima kasih sekali, terima kasih sekali bila kalian bisa menuntaskan kejadian ini”

Raja opas menghela napas panjang. "Aaai, seandainya benar-benar difitnah orang dan dijadikan kambing hitam, kami pasti akan menegakkan keadilan dan kebenaran”

Sambil menggendong tangan dia mengawasi air hujan yang masih turun dengan derasnya, lanjutnya, "Siapa membunuh orang, dia harus membayar dengan nyawanya, siapa berhutang, dia harus membayar dengan uang, bila ada yang mencelakai nyawa mereka, aku pun akan membalaskan dendam "

Butiran air mulai muncul di ujung matanya, entah air mata, entah air hujan?

Tentu saja Kwan Siau-ci tidak mengerti apa yang dia maksudkan.

Leng-hiat sendiri pun tidak mengerti. Dia hanya merasa di balik perkataan si Raja opas terselip arti lain, masalah apa artinya dia tak tahu, dia sama sekali tak bisa membongkar simpul tali kecurigaan itu.

Ting Tong-ih, Tong Keng maupun Ko Hong-liang melanjutkan perjalanan dengan menyaru.

Mereka telah terbiasa melakukan perjalanan dalam dunia persilatan. Ting Tong-ih yang bergabung dalam sindikat Bu- su-bun memang sudah terbiasa menyamar, baginya penyamaran bukan sesuatu yang aneh. Sementara Ko Hong- liang serta Tong Keng pun seringkah menerima order melindungi 'barang rahasia', jadi bagi mereka berdua menyamar bukan sesuatu yang aneh.

Kali ini Ting Tong-ih menyamar menjadi seorang Tokou (tosu wanita).

Ko Hong-liang menyamar jadi petani, topi caping bambunya dikenakan rendah sehingga menutupi separoh bagian wajahnya.

Yang paling hebat adalah Tong Keng, atas saran Ting Tong-ih, dia menyamar menjadi seorang wanita desa yang sedang hamil tua.

Sewaktu membantunya menyaru, Ting Tong-ih tertawa tiada hentinya, begitu selesai membantu, kembali perempuan itu tertawa cekikikan, lama kelamaan Tong Keng jadi mendongkol, teriaknya jengkel, "Sudah, aku tak mau menyamar lagi!"

"Penyamaran pun sudah selesai, mana mungkin kau bisa berubah pikiran?" jawab Ting Tong-ih sambil tertawa.

"Kenapa kau selalu menertawakan orang!" protes Tong Keng makin jengkel. Mendengar itu, Ting Tong-ih tertawa makin terpingkal, serunya, "Coba kau lihat, tak perlu menyamar pun cara bicaramu sudah mirip”

Tong Keng semakin jengkel, Ting Tong-ih tahu dia tak boleh menertawakan lebih jauh, maka sambil menahan rasa gelinya dia berkata, "Padahal penyamaranmu semakin mirip, keselamatan kita semua makin aman, kenapa kau malah mendongkol."

"Sudah, jangan bergurau lagi," tukas Ko Hong-liang kemudian, "sebentar hujan akan turun, ayo kita berangkat, aku berharap sebelum hujan turun sudah tiba di kantor perusahaan."

Mendengar itu, dengan berat hati terpaksa Tong Keng bangkit berdiri, kembali Ting Tong-ih menyerahkan sebuah saputangan, katanya sambil menahan tertawa, "Ikatkan di atas lehermu, supaya orang tidak melihat bijimu itu ”

Kata bijimu! tak sanggup diucapkan lagi, sebab dia sudah keburu tertawa cekikikan.

Tong Keng menerima saputangan itu dengan jengkel, padahal dalam hati kecilnya dia sama sekali tak marah.

Walaupun ia mengenakan pakaian agak kasar, namun di balik baju itu dia memakai pakaian dalam milik Ting Tong-ih yang terbuat dari sutera, nyaman sekali ketika dikenakan.

Apalagi sewaktu terbayang bagaimana pakaian dalam itu pernah dikenakan Ting Tong-ih, satu ingatan aneh segera melintas dalam benaknya.

Tak lama setelah mereka meninggalkan gardu, hujan pun turun dengan derasnya.

Padahal tak lama setelah hujan turun, Li Hian-ih dan Leng- hiat baru tiba di gardu itu. Kehidupan manusia terkadang memang begitu, hanya terlambat satu langkah, segalanya bisa berubah.

Hujan turun sangat deras, bangunan gedung Sin-wi-piau- kiok yang di masa lalu tampak mentereng dan megah, kini terasa sepi, kusam dan kotor.

Mengawasi pintu gerbang perusahaannya, sepasang mata Ko Hong-liang berubah merah.

Di tempat itu bukan saja merupakan tempat tinggalnya, di situlah kehidupannya berkembang, dia telah mengorbankan seluruh pikiran dan tenaganya untuk perkembangan perusahaan, tapi pada akhirnya bukan kehormatan yang diperoleh, melainkan penghinaan dan kenistaan.

Tak heran hatinya bergolak setelah muncul di depan rumah, ia merasa darah dalam tubuhnya bergelora, dia seakan-akan terbayang kembali masa jayanya di waktu silam.

Begitu pula dengan Tong Keng.

Semua peristiwa, semua kejadian yang pernah dialaminya di tempat itu satu per satu melintas kembali dalam benaknya, semua kegembiraan, kesedihan, rasa bangga berkecamuk menjadi satu....

Mendadak seseorang menarik tubuh mereka berdua, ternyata Ting Tong-ih yang menarik mereka.

"Tempat ini kelewat sepi," bisik Ting Tong-ih sambil menggeleng kepala.

Suasana di sekeliling Sin-wi-piau-kiok memang terasa hening dan sepi, kecuali suara hujan, gonggongan anjing pun tak terdengar.

Saat itu mereka bersembunyi di balik sebuah dinding rumah di ujung jalan. "Bukan cuma suasana piaukiok yang sepi, seluruh jalanan ini seakan jalanan mati saja, sesosok bayangan manusia pun tidak nampak," sambung Tong Keng.

"Setelah tahu begini, kau masih tetap akan ke sana!" kata Ting Tong-ih sambil menatapnya dengan menggunakan sepasang matanya yang jeli.

"Kalau memang seluruh kota berada dalam keadaan hening dan bukan cuma kantor piaukiok saja yang sepi, apa lagi yang mesti kita takuti!"

"Setelah bersusah payah melarikan diri dari dalam penjara, memangnya kau ingin ditangkap kembali?"

Tiba-tiba Tong Keng terbayang kembali masa kehidupannya sewaktu berada dalam penjara, masa yang susah, begitu tersiksa bagai hidup dalam neraka.

Lama sekali dia termenung, kemudian baru bertanya, "Maksudmu di sekitar sini ada jebakan?"

"Kemungkinan besar."

Tong Keng segera tertawa dingin. "Masa pihak pejabat negara telah mengosongkan daerah seluas tiga empat buah jalanan hanya untuk menghadapi kita bertiga?"

"Memangnya tidak mungkin?" Ting Tong-ih balik bertanya sambil menatapnya tajam.

Ketika merasa tempat yang paling ingin disinggahi ternyata berada dalam pengawasan pihak lawan, timbul perasaan gusar bercampur mendongkol dalam hati Tong Keng, katanya lagi, "Masa di tengah hujan sederas inipun ada orang yang mengawasi tempat ini?"

"Seandainya kau sebagai mereka, dalam keadaan seperti ini kau pergi tidur atau justru meningkatkan kewaspadaan dan penjagaan?" "Tidur, maknya anjing!" umpat Tong Keng gusar, "aku tidak takut pada mereka, aku akan ke sana, bila kau takut, tunggu saja di sini!"

Ting Tong-ih sama sekali tidak gusar, ia hanya mencibirkan bibir sambil tertawa dingin.

"Apa yang dikatakan nona Ting tepat sekali!" tiba-tiba Ko Hong-liang ikut menyela.

Tong Keng melengak, ia segera menyadari akan kecerobohan serta kekasaran sikapnya barusan, dengan perasaan menyesal diliriknya Ting Tong-ih sekejap, tampak paras muka perempuan itu putih dan sangat pucat, wajahnya nampak sangat murung.

Tiba-tiba muncul sesuatu perasaan di dalam hati Tong Keng, suatu perasaan yang sangat aneh.

Perasaan itu memang aneh sekali ... perasaan aneh yang pernah dirasakan ketika pada suatu malam yang dingin, berada di sebuah dusun kecil dan sepi, membuat api unggun sambil menghangatkan sepoci arak.

Tong Keng agak tersipu, bisiknya tergagap, "Nona Ting, aku ... aku... barusan...”

Waktu itu mereka bertiga bersembunyi di sebuah lekukan dinding tembok rumah yang sempit sehingga tubuh mereka saling berdempetan.

Ting Tong-ih tertawa, dengan tangannya yang halus ia betulkan letak saputangan yang menutupi jakunnya, membetulkan topi lebar yang dikenakan Ko Hong-liang sambil berbisik, "Tak ada salahnya untuk lebih berhati-hati bukan."

Meskipun apa yang dilakukan perempuan itu barusan tak lebih hanya membetulkan dandanan mereka, namun bagi Tong Keng hal itu justru membuatnya terharu, hampir saja ia tak mampu mengendalikan diri. "Sekalipun harus berhati-hati, toh kita tak bisa berdiri menderita terus menerus di bawah curahan hujan deras!" kata Ko Hong-liang.

"Tentu saja tak akan menderita selama hidup," Ting Tong- ih tersenyum, "aku yakin dan percaya kalian tak bakal ketimpa kemalangan."

"Kau punya akal?" bisik Ko Hong-liang ketika menyaksikan wajah murung perempuan itu.

"Kalian berdua tetap nekad pulang meski tahu di sini ada ancaman bahaya besar, yang satu demi menengok rumah, yang lain demi mengatur anggota keluarganya, dua tujuan yang sangat mulia, dengan membawa perasaan semacam ini, mana mungkin kalian tertimpa bencana?"

Tong Keng merasa hatinya amat lega setelah mendengar perkataan itu, dia mengangguk berulang kali.

Sementara Ko Hong-liang merasa berterima kasih sekali atas dukungan perempuan itu, pikirnya, "Tapi bagaimana pula dengan Kwan Hui-tok? Bukankah Kwan-toako pun berjuang demi kebenaran dan keadilan? Bahkan selain cerdas, kungfunya sangat hebat, tapi ... bukankah pada akhirnya dia pun tertimpa nasib malang?"

Dengan penuh rasa terharu Tong Keng mengawasi wajah Ting Tong-ih.

Dalam pada itu Ko Hong-liang telah bergumam, "Hujan telah berhenti, rasanya semakin sulit menyusup ke dalam. Nona Ting, mungkin gara-gara urusan ini kami menyeret dirimu ke dalam keadaan yang serba tak pasti”

“Kedatangan ku toh bukan melulu ingin menemani kalian," sela Ting Tong-ih sambil tertawa, "aku pun sedang mencari seseorang”

"Siapa yang sedang kau cari?" "Sebenarnya di kota ini terdapat berapa banyak perusahaan ekspedisi?" tanya Ting Tong-ih dengan kening berkerut.

Sebelum Ko Hong-liang sempat menjawab pertanyaan itu, mendadak terdengar Tong Keng berseru, "Aaah, aku punya akal! Aku punya akal”

oooOOooo
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 26 : Selamat Tinggal Sin-wi"

Post a Comment

close